• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Enterobius vermicularis
 

Enterobius vermicularis

on

  • 6,165 views

 

Statistics

Views

Total Views
6,165
Views on SlideShare
6,160
Embed Views
5

Actions

Likes
5
Downloads
0
Comments
0

1 Embed 5

http://elearning.unsyiah.ac.id 5

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment
  • Cross-section of human appendix containing Enterobius vermicularis eggs .
  • Anterior end of Enterobius vermicularis adult worm
  • Enterobiasis may also be acquired through surfaces in the environment that are contaminated with pinworm eggs (e.g., curtains, carpeting). Some small number of eggs may become airborne and inhaled. These would be swallowed and follow the same development as ingested eggs.
  • Alternatively, anal swabs or "Swube tubes" (a paddle coated with adhesive material) can also be used. Eggs can also be found, but less frequently, in the stool, and occasionally are encountered in the urine or vaginal smears.

Enterobius vermicularis Enterobius vermicularis Presentation Transcript

  • HELMINTHOLOGY dr. DEWI SAPUTRI,MKT
  • HELMINTHOLOGY
    • Asal kata, helminth (yunani)  cacing
    • Helminth  Org yg tdr dr byk sel  membangun suatu jaringan tubuh & organ yg kompleks.
    • Tdr atas 4 phylum
    • Phylum nematoda
    • Phylum platyhelminthes
    • Phylum acanthocephala
    • Phylum nematomorpha
    • Yang hidup sbg parasit pd tubuh manusia hanya dua phylum  Nematode dan platyhelminthes
  • HELMINTHOLOGY
    • NEMATODA
    • Asal kata, nema  benang dan eidos  bentuk.
    • Nematoda  hewan yg berbentuk spt benang.
    • Ciri-ciri nematoda
    • a. Tbh menyerupai cacing tanah namun tdk bersegmen.
    • b. Memiliki mulut,esofagus, usus dan anus.
    • c. Dikenal jenis jantan dan betina
    • d. Bereproduksi scr oviparous (bertelur) atau larvi parous ( menghasilkan larva).
    • e. Menginfeksi manusia dengan telur atau larva yg terkontaminasi pd makanan, penetrasi larva ke mll kulit, mll vektor penularan.
  • HELMINTHOLOGY
    • NEMATODA
    • Cacing dewasa hidup di saluran cerna
    • T. trichiura, C. philippinensis, S. stercoralis, A.duodenale, N. americanus, E. vermicularis, A. lumbricoides.
    • Cacing dewasa hidup dlm darah atau sal. limfe atau Di jar. Subkutan.
    • W. bacrofti, B. malayi, B. timori, O. volvulus, Loa-loa, D.medinensis, mansonella streptocerca, M. perstan, M. ozzardi.
    • Stadium larva yg menyebabkan kelainan pd byk jaringan.
    • T. spiralis, A. cacinum, A. brazileinse, T. cati, T. canis, Gnathostoma spinigerum.
  • ENTEROBIASIS dr. DEWI SAPUTRI,MKT
  • Agen Penyebab
    • Nematoda Enterobius vermicularis (dulu bernama Oxyuris vermicularis ) juga disebut cacing kremi. 
    • Hospes E. vermicularis  manusia
  • Distribusi
    • Tersebar luas di seluruh dunia, infeksi sering terjadi pada anak usia sekolah dan pra sekolah dan di daerah yg padat penduduk.
    • Enterobiasis sering dijumpai pada daerah panas dari pada daerah tropis.
    • Infeksi cacing yang paling banyak di USA (kira2 40 jt org terinfeksi).
  • Morfologi
    • Dewasa betina : 8 to 13 mm
    • Dewasa jantan : 2 to 5 mm, ekor melengkung
    • Memiliki cephalic alae
    • Telurnya bentuk lonjong asimetris, berdinding tebal berisi larva
  • Telur Enterobius vermicularis
  • Telur Enterobius vermicularis
  • Enterobius vermicularis ( cephalic alae )
  • Siklus hidup
    • Telur diletakkan dilipatan perianal .
    • Self-infection terjadi mell pemindahan telur infektif ke mulut dgn tangan yg telah menggaruk area perianal
    • Person-to-person transmission dapat terjadi mll pengunaan pakaian yg terkontaminasi atau sprei.
  • Siklus Hidup
    • Waktu yg diperlukan dari semenjak menelan telur infektif sampai cacing betina meletakkan telur adalah 1 bulan.
    • Usia cacing dewasa kira-kira 2 bulan.
    • Cacing betina gravid bermigrasi pd malam hari keluar anus dan meletakkan telur pada kulit di daerah perianal.
  • Siklus Hidup
    • Larva berkembang di dalam telur,telur menjadi infektif dalam 4-6 jam pada kondisi yg optimal.
    • Retroinfeksi , atau migrasi larva yg baru menetas dari kulit anus kembali ke dalam rektum bisa terjadi, tetapi seberapa sering hal ini terjadi tdk diketahui.
  •  
  • Gejala Klinis
    • Biasanya asimptomatis.
    • Gejala yang paling khas pruritus ani, khususnya pd malam hari, yg dapat menyebabkan tjdnya ekskoriasi dan superinfeksi bakteri.
    • Kadang-kadang, invasi cacing betina ke saluran genital dpt menyebabkan vulvovaginitis dan granuloma pelvis atau peritonium
    • Gejala lain: anoreksia, irritabilitas dan nyeri perut.
  • Diagnosis
    • Identifikasi telur yg dikumpulkan di daerah perianal secara mikroskopis merupakan metode yg dipilih
    • Hal ini harus dilakukan pada pagi hari, sebelum defekasi dan mandi, dengan menekan pita adhesiv transparan/ transparent adhesive tape ("Scotch test", cellulose-tape slide test) pada kulit perianal dan kemudian memeriksa pita tsb diatas sebuah slide
  • Diagnosis
    • Cacing dewasa jg dpt didiagnosis, ketika ditemukan di daerah perianal, atau selama pemeriksaan anorektal atau vagina.
  • Pengobatan
    • Mebendazole diberikan dgn dosis 100 mg PO, diulang sekali atau dua kali 2-4 mgg kemudian
    • Pyrantel pamoate digunakaan single dose 10 mg/kg, juga diulang sekali atau dua kali 2-4 mgg kemudian
    • Albendazole diberikan sebagai dosis tunggal 400 mg untuk dewasa dan anak > 2 tahun, diulang setelah 7 hari
    • Untuk mencegah reinfeksi, higiene perorangan dan pencucian pakaian harus dilaksanakan pada kasus dimana infeksi mengenai anggota keluarga yg lain.