Your SlideShare is downloading. ×
0
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Ascaris lumbricoides
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Ascaris lumbricoides

6,562

Published on

1 Comment
8 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
6,562
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
8
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide
  • Fertilized eggs are rounded, have a thick shell, with an external mammillated layer that is often stained brown by bile.
  • Above: Two fertilized eggs from the same patient, where embryos have begun to develop (this happens when the stool sample is not processed for several days without refrigeration).  The embryos in early stage of division (4 to 6 cells) can be clearly seen.  Note that the egg in Right has a very thin mammillated outer layer. Below: Left; Egg containing a larva, which will be infective if ingested.Right; Larva hatching from an egg.
  • Unfertilized eggs are elongated and larger (up to 90 µm in length); their shell is thinner; and their mammillated layer is more variable, either with large protuberances or practically none, these eggs contain mainly a mass of refractile granules.
  • This worm is a female, as evidenced by the size and genital girdle (the dark circular groove at bottom area of image).
  • A bolus of adult worms may cause bowel obstruction (usually near the ileocaecal valve), intussusception, volvulus, or perforation, which may be fatal. One study in Nigeria reported intestinal obstruction in 1:1000 infected children.
  • A bolus of adult worms may cause bowel obstruction (usually near the ileocaecal valve), intussusception, volvulus, or perforation, which may be fatal. One study in Nigeria reported intestinal obstruction in 1:1000 infected children.
  • Transcript

    • 1. HELMINTHOLOGY dr. DEWI SAPUTRI,MKT
    • 2. HELMINTHOLOGY
      • Asal kata, helminth (yunani)  cacing
      • Helminth  Org yg tdr dr byk sel  membangun suatu jaringan tubuh & organ yg kompleks.
      • Tdr atas 4 phylum
      • Phylum nematoda
      • Phylum platyhelminthes
      • Phylum acanthocephala
      • Phylum nematomorpha
      • Yang hidup sbg parasit pd tubuh manusia hanya dua phylum  Nematode dan platyhelminthes
    • 3. HELMINTHOLOGY
      • NEMATODA
      • Asal kata, nema  benang dan eidos  bentuk.
      • Nematoda  hewan yg berbentuk spt benang.
      • Ciri-ciri nematoda
      • a. Tbh menyerupai cacing tanah namun tdk bersegmen.
      • b. Memiliki mulut,esofagus, usus dan anus.
      • c. Dikenal jenis jantan dan betina
      • d. Bereproduksi scr oviparous (bertelur) atau larvi parous ( menghasilkan larva).
      • e. Menginfeksi manusia dengan telur atau larva yg terkontaminasi pd makanan, penetrasi larva ke mll kulit, mll vektor penularan.
    • 4. HELMINTHOLOGY
      • NEMATODA
      • Cacing dewasa hidup di saluran cerna
      • T. trichiura, C. philippinensis, S. stercoralis, A.duodenale, N. americanus, E. vermicularis, A. lumbricoides.
      • Cacing dewasa hidup dlm darah atau sal. limfe atau Di jar. Subkutan.
      • W. bacrofti, B. malayi, B. timori, O. volvulus, Loa-loa, D.medinensis, mansonella streptocerca, M. perstan, M. ozzardi.
      • Stadium larva yg menyebabkan kelainan pd byk jaringan.
      • T. spiralis, A. cacinum, A. brazileinse, T. cati, T. canis, Gnathostoma spinigerum.
    • 5. ASCARIASIS dr.DEWI SAPUTRI,MKT
    • 6. Agen Penyebab
      • Ascaris lumbricoides  nematoda terbesar ( roundworm)  parasit di usus manusia.
      • Spesies cacing yg paling sering menginfeksi manusia.
      • Distribusi
      • Tersebar luas di seluruh dunia.
      • Prevalensi infeksi tertinggi di daerah tropis dan daerah2 dengan sanitasi yg tidak baik.
    • 7. Morfologi
      • Telur
      • Telur fertil  bulat, memiliki dinding yg tebal, dgn external mammillated layer yg sering terwarnai coklat oleh empedu.
      • Pada beberapa kasus, lapisan luar hilang (telur dekortikasi). 
      • Ukuran: berdiameter ± 60 µm bila berbentuk bulat, dan mencapai 75 µm bila berbentuk oval.
    • 8. Morfologi
      • Telur
      • Telur infertil  memanjang dan > besar (panjangnya sampai 90 µm); dindingnya > tipis; dan lapisan mammillated-nya lebih bervariasi, juga bisa terdapat benjolan-benjolan yang besar, telur ini terutama mengandung massa granul-granul refraktil.
    • 9. Telur Ascaris Lumbricoides
      • Fertilized Ascaris egg, still at the unicellular stage
      Fertilized egg.  The embryo can be distinguished inside the egg
    • 10. Telur Ascaris lumbricoides
    • 11. Telur Ascaris lumbricoides
      • Unfertilized egg with no outer mammillated layer (decorticated).
      • Unfertilized and fertilized eggs (left and right, respectively).
    • 12. Morfologi
      • Cacing Dewasa
      • Ujung seperti pita.
      • Cacing jantan ekor melingkar, memiliki 2 spikula.
      • Cacing betina ekor lurus.
      • Mulut terdiri atas 3 buah bibir 
    • 13. Ascaris lumbricoides
    • 14. Siklus hidup
      • Cacing dewasa hidup di lumen usus halus.
      • Cacing dewasa dapat hidup selama 1-2 tahun
      • Seekor cacing betina dapat mengproduksi 200,000 telur/hr yg dikeluarkan mll tinja
      • Telur infertil bila tertelan tidak infektif.
      • Telur fertil mengandung embrio dan menjadi infektif setelah 18 hari s/d beberapa mgg, tergantung pd kondisi lingkungan (optimum: basah, hangat, dan tertutup tanah).
    • 15.  
    • 16. Patologi dan Gejala Klinis
      • Kebanyakan infeksi  asimptomatik.
      • Pada infeksi berat gejala yg timbul sesuai dgn banyaknya jumlah cacing, khususnya pada anak:
      • Migrasi larva :
      • 4-16 hari stlh infeksi, larva dapat memicu reaksi hipersensitif yg disertai dgn batuk, wheezing, eosinophilia, dan tampak bercak-bercak infiltrat pd X-ray (Löffler's syndrome).
    • 17. Gejala Klinis
      • Cacing dewasa:
      • - Infeksi ringan biasanya asimptomatik tetapi bisa menyebabkan ggn abdomen, dispepsia
      • - Infeksi yg lbh berat (khususnya pd anak) bisa menyebabkan anemia dan malabsorbsi vitamin A dan C, protein, karbohidrat.
      • Sering dijumpai terjadi kemunduran pertumbuhan dan kegagalan fungsi kognitif.
      • Bolus cacing dewasa dapat menyebabkan obstruksi usus.
    • 18. Gejala Klinis
      • Cacing tersebut juga dapat masuk ke saluran empedu, saluran pankreas, atau appendiks, yang memicu timbulnya gejala2 obstruktif dan infeksi bakteri.
      • Telur2 yg dilepaskan ke dalam peritoneum dapat menyebabkan granuloma dan peritonitis kronis yang menyerupai peritonitis TB.
      • Demam tinggi atau paparan zat anastesi dapat menyebabkan migrasi cacing dewasa ( spt ke lambung).
    • 19. Gejala Klinis
      • Cacing-cacing sering dimuntahkan oleh pasien yg demam. Walaupun infeksi dapat menyebabknan gangguan pertumbuhan, cacing dewasa biasanya tdk menyebabkan gejala akut.
      • Jumlah cacing yg tinggi bisa menyebabkan nyeri abdomen dan obstruksi intestinal.
      • Migrasi cacing dewasa bisa menyebabkan timbulnya gejala oklusi saluran empedu atau ekspulsi mll mulut.
    • 20. Diagnosis
      • Identifikasi telur secara mikroskopis pd tinja merupakan metode yang paling sering digunakan dalam mendiagnosis ascariasis intestinal.
      • Prosedur pemeriksaan yang dianjurkan adalah sbb:
      • 1. Mengumpulkan spesimen tinja
      • 2. Fiksasi spesimen dalam formalin 10%.
      • 3. Periksa sediaan basah dgn mikroskop.
    • 21. Diagnosis
      • Untuk penilaian infeksi secara kuantitatif, dapat digunakan sejumlah metode spt metode Kato-Katz.
      • Larva dpt diidentifikasi di sputum atau pada bahan yg diperoleh dari aspirasi lambung selama fase migrasi paru.
    • 22. Pengobatan
      • Obat pilihan untuk pengobatan ascariasis adalah albendazole,mebendazole, dan pyrantel pamoate.
      • Semua obat tersebut efektif dan dgn efek samping sangat kecil.
    • 23. Pengobatan
      • Albendazole 400 mg PO sebagai dosis tunggal (½ dosis jika <3 th) dapat membunuh cacing dewasa.
      • Sebagai alternatif pada orang dewasa/ anak usia > 1 th:
      • - Mebendazole 500 mg PO dosis tunggal atau 100
      • mg dua kali sehari selama 3 hari.
      • - atau pyrantel pamoate 11 mg/kg PO dosis tunggal (max 1 g).
    • 24. Pengobatan
      • Pengobatan Loeffler's syndrome dgn prednisolone , diikuti dgn albendazole 2-3 minggu kemudian utk membunuh cacing dewasa.
      • Obstruksi usus dan saluran empedu sebaiknya dilakukan penanganan secara konservatif (pemberian analgesia, NG tube, antispasmodik, cairan IV, larutan paraffin) disertai pengobatan dgn antithelmintik dosis tunggal setelah fase akut.

    ×