• Save
Acei sebagai reno protektor
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Acei sebagai reno protektor

on

  • 2,226 views

 

Statistics

Views

Total Views
2,226
Views on SlideShare
2,226
Embed Views
0

Actions

Likes
3
Downloads
1
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Acei sebagai reno protektor Acei sebagai reno protektor Document Transcript

  • Penggunaan Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor pada Terapi Hipertensi dan Sebagai Renoprotektor Maimun Syukri Divisi Ginjal-Hipertensi Bagian/SMF Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Syaiah Kuala/RSUD Dr. Zainoel Abidin, Banda AcehPendahuluan Hipertensi merupakan suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140mmHg atau tekanan diatolik di atas 90 mmHg serta menjadi faktor resiko utama penyebabcoronary artery disease (CAD), gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Prevalensi terjadinyahipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Tabel Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan JNC (Joint National Committe ) VII Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Normal < 120 < 80 Prehipertensi 120 – 139 80 – 89 Hipertensi stage 1 140 – 159 90 – 99 Hipertensi stage 2 ≥ 160 ≥ 100 Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah di sekitar kategori prehipertensi dansebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Diagnosis hipertensi sejak dinidapat mencegah resiko penyakit kardiovaskuler serta mengurangi resiko morbiditas danmortalitas. Pemeriksaan dini terhadap hipertensi dapat dilakukan dengan pengukuran tekanandarah secara berkala, pemeriksaan target organ damage akibat hipertensi (otak, mata, jantung,ginjal dan sistem sirkulasi darah perifer). Sasaran terapi dalam pengobatan hipertensi adalah tekanan darah. Tujuan terapiantihipertensi adalah menurunkan tekanan darah ke tekanan darah yang disarankan oleh JNCVII, yaitu di bawah 140/90 mmHg (pasien hipertensi); di bawah 130/80 mmHg (pasienhipertensi dengan komplikasi diabetes melitus); dan di bawah 130/80 mmHg (pasien hipertensidengan komplikasi gagal ginjal kronis). Strategi terapi dapat dilakukan dengan terapinonfarmakologi maupun terapi farmakologi.
  • Terapi nonfarmakologi dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup pasien hipertensi.banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak dapat menurunkantekanan darah. Pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika overweight;membatasi konsumsi alkohol (< 30ml/hari untuk pria dan <15ml/hari untuk wanita); berolahragateratur (30-45 menit/hari); mengurangi konsumsi garam (< 100 mmol/hari atau 6 gram NaCl);mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium yang cukup (± 90 mmol/hari); danberhenti merokok. Terapi farmakologi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antihipertensi yangberupa golongan diuretik, Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor, β-adrenergicblockers, Angiotensin Receptor Blockers (ARB), Calcium Channel Blockers (CCB). ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapatditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala,takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness(ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering,hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagaiobat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengandiuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator,terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular dysfunction, myocardial infarction, dandiabetes melitus. ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensinII. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan (Na+ dan H2O) yang dapatmenyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan periferakan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akanterbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerjajantung. ACE inhibitor dikontraindikasikan untuk wanita hamil karena ACE inhibitor dapatmenembus plasenta. ACE inhibitor dihubungkan dengan fetal hypotension, oliguria sertakematian pada manusia, dan fetotoxicity pada hewan uji. Informasi yang perlu diketahui pasienhipertensi terhadap ACE inhibitor antara lain tetap menggunakan ACE inhibitor walau sudahmencapai tekanan darah normal karena hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. ACEinhibitor tidak dapat menyembuhkan hipertensi, akan tetapi hanya dapat mengontrol hipertensi
  • dengan terapi jangka panjang. Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensiantara lain Benazepril, Captopril, Enalapril, Fosinopril, Lisinopril, Moexipril, Perindropil,Quinapril, Ramipril, Trandolapril. Beberapa Guideline baiknasional maupun internasional menganjurkan untuk memakaiangiotensin-converting-enzymme inhibitors (ACEIs) sebagi terapi anti hipertensi lini pertamauntuk penderita diabetik nefropati maupun penderita non-diabetik nefropati Dari meta analisadisimpulkan bahwa tekanan darah sistemik sangat berkaitan dengan progresifitas kerusakanginjal dan mengendalikan tekanan darah akan mencegah penyakit ginjal. (Casas et al, 2005,O’hare et al, 2009). Pada sejumlah pasien, hipertensi sering bersamaan dengan penyakit ginjal kronik (PGK)baik sebagai penyebab primer ataupun penyebab sekunder. Data epidemiologi menunjukkanbahwa tekanan darah berkaitan erat dengan PGK, dan penyebab kematian akibat penyakit ginjal.Penderita dengan proteinuria yang superimposed dengan PGK mempunyai tekanan darah yanglebih tinggi dibandingkan dengan non-proteinuria PGK. Mekanisme tekanan darah meningkatpada penderita penyakit ginjal karena beberapa faktor seperti : retensi garam, aktivitas renin-angiotensin system, dan sistem saraf simpatik (Nangakau 2009) Sejak tahun 1990an, konsensus evidence base telah melaporkan efek renoptotektif olehACEIs dan angiotensin receptor blocker (ARBs) dengan menurunkan tekanan darah pada pasiendiabetik nefropati atau non diabetik nefropati yang disertai hipertensi maupun tanpa disertaihipertensi. Casas dkk dalam meta analisisnya menyimpulkan bahwa ACEIs dan ARBsmempunyai efek renoprotektif dalam beberapa penilitian placebo-control akibat menurunnyatekananan darah terutama pada pasien diabetesPatogenesis Progresifitas PGK Tekanan darah merupakan faktor risiko utama dalam progresifitas penyakit ginjal.Peningkatan tekanan intra glomeruler (PGC) menyebabkan dilatasi arteriol aferen lebih lebar daridilatasi arteriol eferen. Vasokontriksi relatif dari arteriol eferen akibat efek vasokontriksi dariangiotensin II (AngII). AngII mempunyai peranan utama dalam patogenesis dari hipertensiglomeruler sedangkan ACEIs menyebabkan dilatasi arteriol eferen dan mengurangi tekananintra glomeruler. Pada binatang percobaan, peningkatan tekanan kapiler intraglomeruler akanmengurangi fungsi barier permiabilitas glomeruler dan menyebabkan ultrafiltrasi glomeruler. View slide
  • Bertani dkk mengatakan bahwa filtrasi protein yang melewati dinding kapiler glomerulerakan menyebabkan toksik intrinsik terhadap ginjal sehingga ginjal menjadi cepat rusak. Dalamkeadaan normal protein melewati dinding kapiler glomeruler dalam jumlah yang besar dankembali kedalam darah dengan mekanisme transtubuler di sel tubulus proksimal. Inflamasi dan vasoaktif yang berlebihan di tubulus proksimal akan disekresi kekompartmen basolateral dari sel dan akan meninbulkan reaksi inflamasi di intersitium yangakan menjadi pencetus terbentuknya scar pada ginjal. Proses akan dipacu oleh sitokin yangberasal dari sel epitel tubulus dan oleh sel inflamasi yang berada di intersitium ketikan proteinjuga ada ditempat tersebut. ACEIs dan ARBs dapat menghambat progresifats dari PGK melaluiefek anti inflamasi dan antifibrotik pada ginjal.Efek Renoprotektif Sistim Renin-Angiotensin Dari penelitian REIN dilaporkan, bahwa pengendalian tekanan darah pada pasienproteinuria > 3 g/24 jam yang mendapat terapi ACEI dapat menurunkan risiko peningkatan kadarkreatinin serum atau gagal ginjal tahap akhir dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapianti-hipertensi konvesional. Ramipril dapat mengurangi ekskresi proteinuria, mengurangipenurunan fungsi ginjal dan mengurangi insiden penyakit ginjal tahap akhir. Pada pasien hipertensi dan insufisiensi ginjal kronik, peningkatan kreatinin serum tidakakan meningkat bila tekanan darahnya rendah. Kreatinin serum dan kadar potassium harusdiperiksa 1 minggu setelah mulai pengobatan pada pasien yang mengalami peningkatan kreatininsebelumnya. Penurunan fungsi ginjal akan mempengaruhi hemodinamik ginjal, Bila didapatkanpeningkatan kreatinin 30% atau lebih dari base line selama 2 bulan pemberian maka ACEI danARB dianjurkan untuk tidak diteruskan Pengobatan hipertensi adalah hal yang penting dalam pengobatan pasien PGK , tidakhanya untuk mencegah komplikasi kardiovaskuler tetapi juga untuk proteksi ginjal sendiri. Meta-regresion analysis menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah 50 % dapat mencegahpenurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) dan tiap penurunan 10 mmHg mean arterial pressure(MAP) dapat menjaga preservasi LFG 3,7 – 5 ml/min/tahun. View slide
  • Daftar PustakaAppel,LJ , Wright JT, and Greene T et al (2010). Intensive Blood-Pressure Control ionHypertensive Chronic Kidney Disease. N Engl J Med :363;918-29.Casas JP, Chua W, Loukogeorgakis S, Hingorani AD and MacAllister RJ (2005). Effect ofinhibitiors of the rennin-angiotensin system and other antihypertensive drugs on renal outcomes :systematic review and meta-analysis. Lancet 366:2026-33Griffin KA and Bidani AK (2006).Progression of Renal Disease : Renoprotective Specificity ofRenin-Angiotensi System Blockade. Clin J Am Soc Nephrol 1 : 1054-65Nangaku M, Ohse T, Tanaka T, Kojima I and Fujita T (2005). Renoprotection with Anti-Hypertensives : Reduction of Proteinuria and Improvement of Oxygenation via Inhibition of theRenin-Angiotensin System. Current Hypertension Review 1: 67-76O’Hare AM, Kaufman JS, Covinsky KE, Landefeld CS, McFarland LV and Larson EB (2009).Current Guideline for Using Angiotensin-Converting Enzym Inhibitors and Angiotensin II-Receptor Antagonist in Chronic Kidney Disease : Is the Evidence base relevant to Older Adults?Ann Intern Med 150:717-24Onuigbo MA (2009). Analytical Review of the Evidence for Renoprotection by Renin-Angiotensin-Aldosteron System Blockade in Chronic Kidney Disease – A call for Caution.Nephron Clin Pract, 113;c63-c70Onuigbo MAC (2009). Reno-prvebtion vs. reno-protection : a critical re-appraisal of theevidence-base from the large blockade trials after ontarget-a call for more circumspection. Q J M1019:1-13Remuzzi G,Ruggement P and Perico N (2002). Chronic Renal Diseases : RenoprotectiveBenefits of Renin-Angiotensin System Inhibition. Ann Intern Med 136:604-15Turgut F, Balogun RA, and Abdel-Rahman EM (2010). Renin-Angiotensin-Aldosterone SystemBlockade Effects on the Kidney in the Ederly : Benefits and Limitations. Clin Am Soc Nephrol 5:1330-39.