Riba

6,389 views
6,163 views

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,389
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
425
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Riba

  1. 1. RIBA<br />
  2. 2. TEMA<br />Materi yang akan kita bahas hari ini adalah materi tentang RIBA. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah 275:<br />Ayat diatas telah menjelaskan secara terang dan tegas bahwa Allah SWT telah mengharamkan riba<br />...padahal Allah telah menghalalkan jual beli <br />dan mengharamkan riba<br />
  3. 3. PERMASALAHAN<br />Pertanyaanya, jika Allah SWT telah mengharamkan riba, mengapa ummat Islam saat ini masih juga mempraktikannya?<br />Mengapa ummat Islam masih juga mengamalkanya?<br />Bahkan, hampir tidak ada aktivitas ekonomi sekarang ini yang terhindar dari riba<br />Jawaban : yang paling mudah barangkali adalah mungkin karena ummat Islam itu belum faham apa yang dimaksud dengan riba<br />Ini adalah jawaban yang husnuzon, mencoba untuk berprasangka baik terhadap ummat Islam<br />Nah, sekarang yang akan kita ungkap adalah: apa yang dimaksud dengan riba itu?<br />
  4. 4. Apa yang dimaksud dengan Riba?<br />Kita dapat membaca dari salah satu dari hadis Nabi SAW :<br />Adanya manfaat itu berarti adanya tambahan yang diberikan dalam utang-piutang tersebut<br />Sebagaimana makna riba secara bahasa adalah ziyadah atau tambahan<br />Sedangkan secara syar’i, makna riba adalah setiap tambahan atau keuntungan yang diambil terhadap suatu pinjaman sebagai imbalan karena masa menunggu<br />Riba jenis ini dalam kitap fiqh biasa disebut dengan istilah riba nasi’ah<br />“Setiap pinjam-meminjam yang menghasilkan manfaat adalah riba”<br />
  5. 5. RIBA NASH’IAH<br />Apa yang dimaksud dengan riba nash’iah?<br />Untuk menjelaskanya, kita dapat memahaminya dari banyak hadist, diantaranya adalah:<br />Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: <br />Jika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain, janganlah ia menerima hadiah (darinya) (HR Bukhari)<br />Jika seseorang dari kamu memberi pinjaman dan peminjam menawarkan kepadanya makanan, janganlah kamu menerimanya dan jika peminjam menawarkan tungganganya, janganlah menerimanya, kecuali apabila sudah terbiasa dengan menukar yang demikian (HR Baihaqi)<br />
  6. 6. Apakah bunga sama dengan Riba?<br />Setelah kita memahami penjelasan riba dari berbagai Hadist diatas, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah:<br />Apakah yang dimaksud riba itu sama dengan bunga seperti yang dipraktekkan sekarang ini?<br />Jawabanya: jika kita benar-benar memahami makna riba sebagaimana penjelasan dari hadist diatas....,<br />Maka kita bisa menyimpulkan, yang dimaksud dengan riba itu adalah sama dengan bunga atau anakan yang dikenakan pada transaksi utang-piutang<br />
  7. 7. Oleh karena itu, kita yakin bahwa dimana-mana akan kita temukan praktik riba ini<br />Dikota-kota, dikampung-kampung, didesa-desa, hampir tidak ada yang terhindar dari praktik riba<br />Baik praktik itu melalui lembaga keuangan, maupun yang dilakukan antar individu<br />Baik lembaga keuangan itu besar dan mentereng seperti lembaga perbankan<br />Maupun yang kecil-kecil ditingkat desa, seperti : koperasi simpan pinjam, atau bahkan sekelas arisan ibu-ibu di tingkat RT<br />Hampir tidak ada yang terbebas dari praktik riba ini<br />Benar tidak?<br />
  8. 8. BAGAIMANA SELANJUTNYA?<br />Sekarang yang menjadi masalah adalah, jika sudah tahu atau paham terhadap makna riba, apakah kemudian ummat Islam mau segera meninggalkannya?<br />Termasuk saudara sekalian, apakah akan dengan ikhlas untuk segera meninggalkan praktik ini?<br />Bagaimana?<br />Bersedia tidak?<br />Wah tampaknya kok berat sekali ya, untuk menjawabnya?<br />
  9. 9. Mengapa umat Islam tetap tidak mau meninggalkannya?<br />Jika ummat sudah tau dan sudah paham, tetapi mengapa tetap saja tidak mau meninggalkannya?<br />Mungkin dibenak umat masih memiliki segudang alasan<br />Barangkali masih ada yang menganggap bahwa riba ini adalah masalah kecil<br />Kalaupun haram dan berdosa, barangkali dosanya hanya kecil saja<br />Apalagi riba yang diambil tidak banyak, alias ringan, mungkin dianggap tidak berdosa<br />
  10. 10. Bagaimana dengan bunga yang kecil?<br />Jika ummat Islam masih memahami bahwa bunga atau riba yang kecil itu tidak haram<br />Maka, kita harus melihat kembali penjelasan dari Hadist diatas, bahwa tidak ada batasan apapun terhadap riba<br />Yaitu setiap tambahan yang diambil dari proses utang-piutang, semuanya dianggap sebagai riba<br />Untuk menjelaskan hal ini, kita dapat melihat kembali ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT<br />Yaitu, bagi mereka yang ingin bertaubat dari mengambil riba, syaratnya adalah dengan cara mengembalikan pokok hutangnya saja<br />Hal itu dapat dilihat pada firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah 279:<br />
  11. 11. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.<br />Dari pemahaman ayat di atas, kita mengetahui bahwasanya tambahan yang diberikan dalam utang-piutang berapapun besarnya tetap tidak diperbolehkan<br />Itulah persyaratan taubat dari mengambil riba yang ditentukan Allah SWT<br />Berarti besar dan kecil itu tidak ada bedanya, semuanya dianggap riba oleh Allah SWT<br />
  12. 12. Permasalahanya bukan besar atau kecil<br />Penjelasan diatas ternyata tetap tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap sikap umat Islam<br />Mengapa?<br />Sebab, masalahnya memang tidak disitu<br />Permasalahanya bukan pada perbedaan bunga kecil atau bunga besar<br />Permasalahanya karena umat Islam telah menganggap permasalahan riba itu permasalahan yang kecil atau sepele<br />Kalaupun dosa, dosanya dianggap kecil saja<br />Bukan permasalahan yang besar, yang harus ditakuti oleh umat Islam<br />
  13. 13. ANCAMAN 1<br />Oleh karena itu, jika permasalahannya adalah masalah riba dianggap masalah sepele, masalah kecil, dosanya pun kecil<br />Maka, marilah kita mulai dengan melihat dan merenungkan kembali ancaman yang telah disampaikan oleh Allah dan Rosulnya melalui berbagai ayatnya<br />Mari kita mulai lihat, bagaimana Allah SWT telah berfirman dalam awal ayat Al Baqarah 275:<br />
  14. 14. Orang-orang yang makan (mengambil) riba [174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila<br />Ada penjelasan dari Rasulullah SAW berkaitan dengan ayat diatas. Rasulullah SAW bercerita:<br />Pada waktu aku dimi’rajkan ke langit, aku memandang ke langit dunia, ternyata disana banyak orang yang memiliki perut seperti rumah-rumah yang besar dan telah doyong perut-perut mereka. Mereka dilemparkan dan disusun secara bertumpuk diatas jalur yang dilewati oleh para pengikut Firaun. Mereka diberdirikan didekat api neraka setiap pagi dan sore hari. Mereka berkata: Wahai rabb kami, janganlah pernah terjadi hari kiamat, Aku tanyakan, Hai Jibril, siapa mereka? Jawabnya, mereka adalah para pemakan riba dari kalangan umatmu yang tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran penyakit gila<br />
  15. 15. Ada hadist lain senada dengan Hadist diatas berbunyi:<br />Bagaimana?<br />Masih belum merinding?<br />Pada waktu aku dimi’rajkan, tatkala telah sampai ke langit ketujuh, aku melihat kearah atasku, ternyata aku menyaksikan kilat, petir dan badai. Lalu aku mendatangi sekelompok orang yang memiliki perut seperti rumah, didalamnya banyak terdapat ular berbisa yang dapat terlihat dengan jelas dari luar perut mereka. Aku tanyakan, Hai Jibril, siapa mereka? Dia menjawab, mereka adalah para pemakan riba<br />
  16. 16. ANCAMAN KE 2<br />Jika belum, sesungguhnya masih banyak hadist yang memberi peringatan yang sangat keras terhadap para pemakan riba<br />Rasulullah SAW bersabda:<br />Kita semua tentu sudah faham bahwa zina itu adalah termasuk kategori perbuatan dosa besar<br />Namun ternyata memakan riba itu dosanya jauh lebih besar dosanya dari perbuatan zina<br />Bahkan berlipat-lipat lagi dosanya <br />Nah ini kan ancaman yang ditujukan untuk para pemakan riba, bukan untuk para pemberinya?<br />Bagaimana dengan para pemberinya?<br />Satu dirham yang didapatkan seseorang melalui riba lebih besar tingkat dosanya disisi Allah daripada tiga puluh enam kali perbuatan zina yang dilakukan seseorang. Sedang riba yang paling parah adalah yang berasal dari harta seorang muslim<br />
  17. 17. PARA PEMBERI RIBA<br />Bagaimana terhadap orang yang tidak memakan tetapi hanya memberi riba?<br />Ternyata keadaanya sama<br />Hadist muslim dan perawi lain meriwayatkan Hadist yang berbunyi:<br />Nah, ternyata mereka semua itu sama bukan?<br />Masih tetap tidak berpengaruh?<br />Masih tetap tidak takut?<br />Mari kita lihat ancaman berikutnya....<br />Rosulullah SAW mengutuk orang yang memakan riba, orang yang memberinya, juru tulisnya dan kedua saksinya. Rasulullah SAW menegaskan, mereka semua sama<br />
  18. 18. ANCAMAN KE 3<br />Ada ancaman yang lebih berat lagi terhadap para pemakan riba, yaitu apabila perbuatan mengambil riba itu telah dilakukan secara menyeluruh diseluruh negeri<br />Rosulullah SAW telah memberi peringatan dengan sangat keras melalui sabdanya:<br />Apa yang telah diperingatkan oleh Rosul SAW tersebut jika kita kaitkan dengan kondisi perekonomian negeri ini sesungguhnya benar-benar telah terjadi<br />Krisis moneter yang pernah melanda negeri ini dengan dasyatnya, jika dirunutkan akan berujung kepada perilaku pengambilan riba ini<br />Riba yang terkait dengan krisis moneter tersebut adalah riba dalam jenis riba fadhl<br />Apabila perbuatan zina dan riba telah merajalela disuatu negeri, berarti penduduknya telah mengijinkan turunya azab dari Allah atas diri mereka<br />
  19. 19. APA RIBA FADHL ITU?<br />Riba fadhl adalah tambahan atau keuntungan yang diperoleh dari transaksi tukar-menukar atau jual beli barang-barang tertentu<br />Sedangkan yang masuk dalam kategori barang-barang tertentu tersebut adalah mata uang, yang di jaman Rosul SAW menggunakan emas dan perak<br />Rosulullah SAW bersabda:<br />Nah saat ini kita bisa menyaksikan bahwa praktik jual beli mata uang asing di bursa valuta asing benar-benar tidak ada yang kontan dan berada d tempat<br />Berarti di negeri ini telah terjadi berbagai transaksi yang mengandung riba fadhl<br />Yang lebih mengerikan adalah, transaksi di bursa itu nilainya sangat besar<br />Bahkan jauh lebih besar dari transaksi di sektor riil, yaitu sektor perdagangan itu sendiri<br />Menjual emas dengan perak akan mengandung riba kecuali bila kontan (HR Bukhari,Muslim)<br />
  20. 20. APA DAMPAKNYA?<br />Dampaknya sungguh amat mengerikan<br />Akibat dari transaksi itu, telah menyebabkan terjadinya kegoncangan nilai tukar rupiah terhadap dollar<br />Yang akhirnya berujung kepada terjadinya krisis moneter<br />Yang berlanjut kepada krisis ekonomi, krisis sosial, krisis politik,...<br />Dan, puncaknya adalah krisis kemanusiaan<br />Sebuah azab di dunia yang teramat pedih,<br />Yang telah dirasakan bersama oleh segenap rakyat Indonesia ini<br />Nah, apakah masih belum kapok juga?<br />
  21. 21. ANCAMAN KE 4<br />Nah, kalau belum juga bergetar, mari kita lihat, bagaimana dengan ancaman di akhirat?<br />Berhati-hatilah...<br />Jika ingin tahu bagaimana ancaman di akhirat terhadap para pedagang mata uang yang suka main-main dengan riba fadhl tersebut<br />Ath-thabrani telah meriwayatkan dari Al Qasim bin Abdullah Al Warraq, dia berkata:<br />Bagaimana?<br />Belum juga takut dengan neraka?<br />Aku pernah melihat Abdullah bin Abi Aufa di pasar mata uang. Dia berkata, hai para pedagang mata uang bergembiralah. Mereka menjawab, Allah SWT telah memberimu kabar gembira dengan surga, maka tentang apakah engkau memberikan kabar gembira kepada kami hai Abu Muhammad. Dia menjawab, Rosulullah SAW bersabda kepada para pedagang mata uang, Bergembiralah dengan neraka<br />
  22. 22. ANCAMAN KE 5 (Klimaks)<br />Jika dengan ancaman demi ancaman yang telah disampaikan diatas tetap tidak membuat bergeming<br />Maka ada puncak ancaman yang sudah tidak ada tandinganya, ancaman yang paling berat<br />Ancaman yang akan membuat pingsan bagi orang yang mendengarkannya<br />Ancaman tersebut dapat kita lihat di penghujung ayat Al Baqarah 275<br />
  23. 23. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya<br />Ayat diatas menjelaska, bahwa bagi mereka yang sebelumnya tidak tahu, kemudian mau berhenti dari mengambil riba, maka apa yang telah dilakukanya dahulu inys Allah akan diampuni..<br />Bagaimana dengan yang tidak?<br />Ada ancaman yang sangat berat<br />Yaitu, akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya.<br />
  24. 24. Ancaman masuk neraka selama-lamanya<br />Ancaman ini hanya tertuju kepada orang yang sudah tahu, sudah paham<br />Namun, dia tetap mengulang-ulang mengambil riba<br />Ancamannya ini sungguh amat berat<br />Tidak ada dosa yang lebih berat, yang melebihi dosanya orang yang akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya<br />Dosa yang hanya setara dengan azab yang akan ditimpakan kepada orang-orang kafir kepada Allah SWT<br />Kita sungguh tidak akan membayangkan, bagaimana seorang muslim yang taat beribadah..<br />Dia rajin sholat..,<br />Dia rajin ke masjid...,<br />
  25. 25. Dia rajin berpuasa...,<br />Dia juga gemar bershodaqoh..,<br />Dia senantiasa membayar zakat...,<br />Bahkan, dia sudah menunaikan ibadah haji..,<br />Namun ia harus masuk ke neraka..,<br />Dan, dia kekal berada didalamnya..,<br />Hanya gara-gara mengulang-ulang mengambil riba,<br />Padahal dia sudah tahu bahwa riba itu haram hukumnya..<br />Naudzubillah min dzalik..<br />
  26. 26. PENUTUP<br />Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang masuk neraka selama-lamaya<br />Hanya karena mengulang-ulang mengambil riba<br />Sekali lagi jangan sampai..dan jangan sampai...<br />Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk terlepas dari ancaman itu adalah kita harus segera bertaubat kepada Allah SWT, dengan taubatan nasuha<br />Bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu<br />
  27. 27. Taubat yang sesuai dengan ketentuan Allah dalam urusan riba, yaitu dengan jalan mengembalikan pokok hutangnya saja<br />Sebagaimana yang telah dijelaskan Allah dalam surat Al Baqarah 279 di atas<br />Sebagai penutup, marilah kita renungkan kembali sabda Nabi SAW:<br />Sungguh akan datang kepada manusia itu suatu masa, tidak tersisa seorangpun dari mereka kecuali memakan riba. Dan siapa yang tidak memakanya pasti terkena debunya<br />Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita kekuatan untuk senantiasa berada dijalan-Nya<br />Dan senantiasa dihindarkan dari cengkeraman riba<br />
  28. 28. Wassalamu’alaikum wr.wb<br />Referensi : Dwi Condo Triono, Ilmu Retorika untuk Menggunjang Dunia, Irtikaz 2009<br />
  29. 29. JazakallahuKhairan<br />Suwartono SIP<br />Owner : mabdaislam.com<br />Bergabung segera di program <br /> E-PSQ Training Online<br />mabdaislam.com<br />

×