Skripsi onwardono rit riyanto (pengembangan tes matematika online dengan lms moodle)

  • 362 views
Uploaded on

SKRIPSI ONWARDONO: …

SKRIPSI ONWARDONO:
"PENGEMBANGAN TES MATEMATIKA BERBASIS ONLINE DENGAN MENGGUNAKAN LMS MOODLE PADA SEKOLAH MENEGAH PERTAMA".

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
362
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
21
Comments
1
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi (dalam pengajaran) merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara kesinambungan. Evaluasi bukan hanya kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan selama program berlangsung.1 Evaluasi matematika di SMP Negeri 7 Kota Cirebon. Penulis masih menemukan siswa yang belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimum dan masih ada siswa yang bekerjasama dalam mengisi jawaban tes atau ujian. Bahkan tes masih menggunakan sistem konvensional dimana masih menggunakan media kertas dan siswa harus menunggu koreksian jawaban selesai agar untuk mengetahui nilai mereka. Pembelajaran dan evaluasi matematika pokok bahasan garis singgung lingkaran diperlukan keaktifan dan keefektifan siswa seperti banyak membaca teori dan berlatih soal latihan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai matematika siswa diperlukan media atau alat tes matematika yang efektif dan efesien penggunaanya oleh siswa. Salah satu alternatif dalam mengatasi masalah tes matematika adalah dengan mengembangkan evaluasi tes matematika yang berbasis Online dengan menggunakan teknologi internet. Pada hakikatnya teknologi pembelajaran adalah suatu disiplin yang berkepentingan dengan pemecahan masalah belajar dengan berlandaskan pada serangkain prinsip dan menggunakan berbagai macam pendekatan atau teori komunikasi dan teknologi komunikasi.2 1 Ngalim Purwantoa . 1992. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Rosdakarya, hal. 3 2 Bambang Warsita. 2008. Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. hal. 95 1
  • 2. 2 Salah satu teknologi pembelajaran adalah e-learning. Menurut Sulistyoweni Widanarko dalam blog Tri Fitri Nasution menjelaskan bahwa E- learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara sistematis dengan mengintegrasikan semua komponen pembelajaran, termasuk interaksi pembelajaran lintas ruang dan waktu, dengan kualitas yang terjamin. Setelah penggunaan teknologi sudah tidak awam lagi maka diperlukannya suatu sistem guna memperoleh hasil evaluasi yang baik sistem tersebut dinamakan sistem informasi manajemen atau disingkat SIM. James AF Stoner dalam buku Sistem informasi manajemen pendidikan karangan Eti Rochaety menyatakan pengertian sistem informasi manajemen, yaitu metode yang formal yang menyediakan bagi pihak manajemen sebuah informasi yang tepat waktu, dapat dipercaya, untuk mendukung proses pengambilan keputusan bagi perencanaan, pengawasan dan fungsi operasi sebuah organisasi yang lebih efektif.3 Salah satu pengembangan SIM adalah pembuatan produk yang berbasis teknologi, baik berupa hardware maupun software. Dalam hal ini peneliti mecoba mengembangakan SIM berbasis software dengan bantuan penggunaan perangkat lunak yang disebut Learning Management System (LMS) Moodle. LMS Moodle salah satu aplikasi e-learning yang berbasis open source. Moodle adalah paket software yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan web. Moodle pertama kali dikembangkan oleh Martin Dogiamas. Dia yang mempertahankan Moodle sebagai paket e-learning yang open source (terbuka programnya).4 Dari latar belakang diatas permasalahan yang ada adalah kurang maksmimalnya proses tes matematika dan penggunaan teknologi yang ada sebagai media evaluasi sehingga perlu dikembangan pengembangan tes matematika. Apakah pengembangan tes matematika berbasis Online menggunakan LMS Moodle dapat meningkatkan hasil belajar siswa? 3 Eti Rochaety, dkk. 2008. Cetakan ketiga. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. hal. 13 4 Surya Lesmana, dkk. 2013. 2 Jam Bisa Bikin Web E-Learnig Gratis dengan Moodle. Jakarta: Smart. Hal. 1
  • 3. 3 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka muncul permasalahan dalam evaluasi pembelajaran matematika yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana identifikasi kelemahan evaluasi dengan menggunakan tes biasa? 2. Bagaimana mengembangan evaluasi ketuntasan belajar? 3. Bagaimana hasil ujicoba lapangan evaluasi ketuntasan belajar yang dikembangkan? 4. Apakah dengan pengembangan evaluasi ketuntasan belajar dapat meningkatkan pemahaman materi yang sudah disampaikan? 5. Apakah sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah mampu mengembangkan evaluasi ketuntasan belajar? 6. Apakah penggunaan internet mampu mengembangkan evaluasi ketuntasan belajar sekaligus meningkatkan pemahaman materi? 7. Bagaimana efektivitas evaluasi berbasis website terhadap hasil belajar siswa? C. Pembatasan Masalah Setelah membaca dan memahami latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas maka demi menjaga pembahasan tidak meluas maka perlu adanya pembatasan masalah. Maka dari itu berikut ini adalah diberikan beberapa batasan masalah dalam peelitian ini, diantaranya sebagai berikut: 1. Evaluasi berbasis website menggunakan LMS Moodle adalah suatu sistem evaluasi ketuntasan belajar dengan bantuan situs website untuk melaksanakan evaluasi belajar matematika siswa mulai dari pelaksanaan tes hingga penentuan penilaian (Grade) pelajaran matematika. 2. Hasil belajar matematika yang diukur adalah tingkat kemampuan belajar siswa bukan hanya dari ketercapaian standar kompetensi serta menilai
  • 4. 4 dengan objektif tentang seberapa jauh siswa memahami materi saat proses belajar dikelas. 3. Evaluasi yang digunakan adalah dalam bentuk tes formatif dengan memakai soal pilihan ganda. 4. Materi pokok bahasan yang akan dijadikan tes dalam penelitian ini adalah materi matematika di kelas VIII semester II. 5. Penelitian ini akan diterapkan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 7 kota Cirebon. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah diuraikan diatas maka pokok permasalahan adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana karakteristik tes matematika berbasis Online dengan menggunakan LMS Moodle pada SMP kelas VIII yang dikembangkan? 2. Bagaimana keefektifan tes matematika berbasis Online dengan menggunakan LMS Moodle pokok bahasan garis singgung lingkaran yang telah dikembangakan dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa? 3. Bagaimana respon siswa setelah diterapkan tes matematika berbasis Online? E. Tujuan Penelitian Berawal dari pembatasan dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menghasilkan pengembangan tes matematika berbasis Online berupa produk website . 2. Mendeskripsikan keefektifan pengembangan tes matematika berbasis Online dengan menggunakan LMS Moodle melalui hasil belajar siswa mata pelajaran matematika pokok bahsan garis singgung lingkaran.
  • 5. 5 3. Untuk mengidentifikasi respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan penegembangan tes formatif menggunakan website. F. Manfaat Penelitian Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah untuk: 1. Teoritis Untuk menambah pengetahuan mengenai pengembangan evaluasi tes formatif berbasis web menggunakan LMS Moodle terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Dan bagi peneliti, sebagai pengalaman yang sangat berharga dan dapat dijadikan sebagai bekal dalam penyusunan karya ilmiah selanjtunya. 2. Praktis a. Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan sistem penilaian tes dalam mata pelajaran disekolah. b. Penelitian ini memberikan kontribusi positif bagi guru matematika untuk membuat penilaian yang bisa menumbuhkan kejujuran dan kemampuan pemahaman siswa. c. Memberikan kontribusi pembelajaran keprofesionalan para guru dan / atau menyempurnakan perubahan dalam suatu pengaturan sepesifik bidang pendidikan. d. Penelitian ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran matematika.
  • 6. 6 BAB II TEORI PENGEMBANGAN TES MATEMATIKA BERBASIS ONLINE DENGAN LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS) MOODLE A. Deskripsi Teoritik 1. Konsep Sistem Informasi Manajemen Sistem informasi dalam suatu pemahaman yang sederhana dapat didefinisikan sebagai satu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa.5 Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi tidak semua hasil dari pengolahan data tersebut bisa menjadi informasi, hasil pengolahan data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfat bagi seseorang bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut.6 Menurut Diphusodo, manajemen merupakan proses terpadu dimana individu-individu sebgai bagian organisasi dilibatkan untuk memelihara, mengembangkan, mengendalikan dan menjalankan program-program yang kesemuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditetapkan dan berlangsung terus menerus seiring dengan berjalannya waktu.7 Davis memberikan suatu pengertia bahwa SIM adalah sebagai sistem manusia atau mesin yang terpadu untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, manajemen dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.8 5 Nurharyanto, Dkk. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Edisi ke empat. 2007. Sistem Informasi Manajemen. Bogor. Hal. 7 diunduh dari http://pusdiklatwas.bpkp.go.id/namafile/258/KT_SIM.pdf pada 10 Januari 2014 pukul 10.17 6 Deni D dan Kukun N.F. 2013. Sistem Informasi Manajemen. Bandung: Remaja Rosdakarya. hal. 2 7 Ibid. 8 NN. http://staff.uny.ac.id. Diunduh pada tanggal 10 januari 2014 pukul 10.22. hal. 9 6 6
  • 7. 7 Sedangkan McLeod, Jr., mengatakan SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang serupa.9 Sistem Informasi Managemen (SIM) merupakan upaya organisasi pertama yang tujuan utamanya adalah menyediakan informasi bagi managemen (karena itu dinamakan sistem informasi manajemen). Ternyata dalam praktiknya SIM pada suatu organisasi menyediakan juga informasi bagi orang-orang selain para manajer.10 Sistem informasi manajemen (manajemen information system atau sering dikenal dengan singkatannya MIS/SIM) merupakan penerapan sistem informasi didalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. SIM dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari interaksi sistem-sistem informasi yang bertanggungjawab mengumpulkan dan mengoah data untuk menyediakan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen didalam kegiatan perencanaan dan pengendalian.11 Dari beberapa pengertian SIM diatas maka dapat disimpulkan bahwa SIM merupakan suatu sistem yang terorganisir berbasis komputer yang mengeluarkan informasi guna untuk mencapai suatu tujuan organisasi tertentu dalam mengembangkan program-program yang sudah ditentukan. 9 McLeod, R., Jr. 1995. Manahement Information System. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice-Hall.Inc. hal. 327 10 Nurhayanto. Op.Cit., hal. 18 11 Danu Wira Pangestu. Teori Dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM). 2007. Hal. 9 Diunduh pada 16 Januari 2014 Pukul 12.55
  • 8. 8 Sistem informasi memiliki 5 komponen utama pembentuk yaitu12 : 1. Komponen Perangkat Keras (Hardware) 2. Komponen Perangkat Lunas (Software) 3. Komponen Sumber Daya Manusia (Brainware) 4. Komponen Jaringan Komputer (Netware) 5. Komponen Sumber Daya Data (Dataware) 2. Konsep evaluasi Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi , dimana suatu tujuan telah dapat dicapai. Definisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.13 Dikutip dari Ngalim Purwanto bahwa dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran. Norman E. Grounlund merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut: “Evaluation ... a systematic process of determining the extent to which intructional objectives are archieved by pupils”. (Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah tercapai oleh siswa.14 Definisi lain yang berkaitan dengan proses pengukuran hasil belajar siswa yaitu evaluation is a process of making an assessment of a student’s growth. Evaluasi merupakan proses penilaian pertumbuhan siswa dalam proses belajar mengajar.15 12 Deni D, Kunkun N.F. Op.Cit., hal. 27 13 M. Sukardi MS. 2009. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, hal. 1 14 Ngalim Purwantob . 2000. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Rosdakarya. Hal. 3 15 M. Sukardi MS. Op.Cit., hal. 2
  • 9. 9 Setelah dijelaskan beberapa pengertian evaluasi maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu proses yang sudah direncanakan demi memperoleh gambaran pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang sudah disampaikan oleh guru sehingga dapat dilihat apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai. Michael Scriven merupakan seorang ahli didalam penelitian evaluasi telah mengemukakan pentingnya penelitian evaluasi. Ahli ini mencoba mengidentifikasi fungsi penelitian evaluasi dan dikemukakan fungsi evaluasi formatif berikut: Evaluasi formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. Data hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk ‘membentuk’ dan memodifikasi program kegiatan. Jika pada pertengahan kegiatan sudah diketahui hal-hal apa saja yang negatif dan para pengambilan keputusan sudah dapat menentukan sikap tentang kegiatan yang sedang berlangsung maka terjadinya pemborosan yang mungkin akan terjadi dapat dicegah.16 Terdapat dua jenis evaluasi pembelajaran yaitu evaluasi sumatif dan formatif. Evaluasi formatif bertujuan untuk memperoleh informasi yang diperlukan oleh seorang evaluator tentang siswa guna menentukan tingkat perkembangan siswa dalam satuan unit proses belajar menajar. Evaluasi formatif dilakukan secara periodik melalui blok atau unit-unit dalam proses belajar mengajar.17 Evaluasi belajar biasanya mennggunakan instrument tes. Tes adalah prosedur sistematik yang dibuat dalam bentuk tugas-tugas yang distandarisasikan dan diberikan kepada individu atau kelompok untuk dikerjakan, dijawab atau direspon, baik dalam bentuk tertulis, lisan maupun perbuatan.18 16 Suharsimi Arikunto. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. hal. 222 17 M. Sukardi. Op.Cit., hal .58 18 Nasehuddien. 2011. Metodologi Penelitian (Sebuah Pengantar).Cirebon: Nurjati Press. Hal. 88
  • 10. 10 Dari penjelasan diatas maka peneliti menggunakan evaluasi tes formatif dalam penelitian kali ini. Karena evaluasi formatif dilakukan secara berulang ketika usai beberapa pertemuan dikelas guna untuk mengetahui sejauh mana pengembangan tes formatif berbasis web menggunakan LMS Moodle dapat berjalan efektif. Dalam proses evaluasi ini menggunakan tes pilihan ganda. Item tes pilihan ganda merupakan jenis tes objektif yang paling banyak dilakukan oleh para guru. Tes ini dapat mengukur pengetahuan yang luas dengan tingkat domain yang bervariasi. Item tes pilihan ganda memiliki semua persyaratan sebagai tes yang baik, yakni dilihat dari segi objektifitas, reliabilitas dan daya pembeda antar siswa yang berhasil dengan siswa yang gagal atau bodoh.19 Selain itu juga item tes pilihan ganda memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah tes pilihan ganda memiliki karakteristik yang baik (lebiih fleksibel dan efektif), tepat untuk mengukur pengusaan informasi para siswa, dapat mengukur kemampuan intelektual atau kognitif siswa, jawaban siswa dapat dikoreksi dengan mudah.20 3. Pembelajaran berbasis Website Pembelajaran berbasis web (tes Online) merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs (website) yang bisa diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran tes Online atau yang dikenal juga “web based learning” merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik (e-learning).21 Victor Jeurissen dalam artikel “IBM tackles learning in the workplace” yang ditulis oleh B. Moeng, mengemukakan definisi e- learning yang lebih umum. Ia mendefinisikan e-learning sebagai pengaplikasian teknologi dan model pembelajaran inovatif untuk 19 Ibid., hal. 125 20 Ibid., hal. 126 21 Rusman, dkk. 2011. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Rajawali Findo Persada, hal. 263
  • 11. 11 mengubah cara individu atau organisasi dalam mengakses ilmu pengetahuan dan memperoleh keterampilan baru.22 Dalam salah satu publikasi disitus about-learning.com, Himpunan Masyarakat Amerika untuk kegiatan pelatihan dan pengembangan (The American societ for training and development/ASTD) (2009), mengemukakan defenisi e-learning sebagai berikut23 : “E-learning is a broad set of applications and processes which include web-based-learning, computer-based-learning, virtual and digital classrooms. Much of this is delivered via the internet, intranets, audio and videotape, sattelite brodcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-learning varies depending on the organization and how it is used but basically it is involves electronic means communication, education and training”. Definisi tersebut menyatakan bahwa e-learning merupakan proses kegiatan dari kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (web-based-learning), pembelajaran berbasis computer (computer based learning), kelas virtual (virtual classroms) dan/atau kelas digital (digital classroms). Materi-materi alam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, video tape atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif serta CD-ROM. Definisi ini juga menerangkan bahwa definisi e-learning itu bervariasi tergantung dari penyelenggara kegiatan e- learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.24 E-learning merupakan suatu teknologi informasi yang relative baru di Indonesia. E-learning terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘electronic’ dan ‘learning’ yang berarti 22 Fajar. 2010 Konsep E-Learning [Online] tersedia: http://fajargm.net/files/konsep-e-learning.pdf 23 Ibid. 24 Ibid.
  • 12. 12 ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Karena itu, maka e-learning sering juga disebut pula dengan ‘Online course’. Dengan demikian maka e-learning atau pembelajaran melalui Online adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmits satelit atau komputer.25 Kesimpulan dari penjelasan diatas bahwa E-learning merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan website sebagai media belajar/ evaluasi belajar dilakukan secara Online oleh siswa dimanapun dan kapanpun melalui media internet. Dalam e-learning, daya tangkap peserta didik terhadap materi pembelajaran tidak lagi tergantung kepada instruktur/pengajar, karena peserta didik mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalaui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interface aplikasi e- learning. Riyana dalam blog menyebutkan kelebihan-kelebihan e- learning sebagai berikut: a. Interactivity (Interaktifitas); terjadinya jalur omunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu. b. Independency (Kemandirian); fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning) c. Accessibility (Aksesibilitas); sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian dijaringan internet dengan 25 Dewi Salma P. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hal.197-198
  • 13. 13 akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional. d. Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangka teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi. Web Course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.26 Adapun model-model e-learning adalah sebagai berikut27 : a. Web-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Web) Pembelajaran berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009: 231). Dalam pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara Online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web tersebut. b. Computer-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer) Secara sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan sebuah sistem komputer. Rusman mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis komputer merupakan “... program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software 26 Ibid., hal. 291 27 Fajar. Op.Cit
  • 14. 14 komputer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.” c. Virtual Education (Pendidikan Virtual) Berdasarkan definisi dari Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video. Peserta didik menerima mater- materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama. d. Digital Collaboration (Kolaborasi Digital) Kolaborasi digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama dalam sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi internet. 4. Learning Management System (LMS) Learning Management System (LMS) atau Course Management System (CMS), juga dikenal sebagai Virtual Learning Environment (VLE) merupakan aplikasi perangkat lunak yang digunakan oleh kalangan pendidik, baik universitas/perguruan tinggi dan sekolah sebagai media pembelajaran Online berbasis internet (e-learning). Dengan menggunakan LMS, dosen/guru/instruktur dapat mengelola program/kelas dan bertukar informasi dengan siswa. Selain itu, akses terhadap materi pembelajaran yang berlangsung dalam kurun waktu yang telah ditentukan juga dapat dilakukan.28 28 Amiroh. 2012. Membangun E-Learning dengan Learning Management System Moodle. Sidoarjo: Genta Group Production, hal.1
  • 15. 15 Fitur-fitur yang tersedia dalam LMS untuk institusi pendidikan adalah sebagai berikut29 : a. Pengelolaan hak akses pengguna (user) b. Pengelolaan course c. Pengelolaan bahan ajar (resource) d. Pengelolaan aktivitas (activity). e. Pengelolaan nilai (grades). f. Menampilkan nilai (score), dan transkip. g. Pengelolaan visualisasi e-learning, sehingga bisa diakses dengan web browser. Jadi, Learning Management System membuat siswa dan guru / dosen masuk ke dalam ruang “kelas digital” untuk saling berinteraksi (berdiskusi, mengerjakan kuis Online, dsb) serta mengakses materi- materi pembelajaran dimana saja dan kapan saja selama terkonesi dengan internet.30 5. Mengenal LMS Moodle Moodle merupakan program open source yang paling terkenal diantara program-program e-learning yang ada, misalnya ATutor, eLeap Learning Management System dan seterusnya. Aplikasi Moodle ini dikembangkan pertama kali oleh Martin Dougiamas pada Agustus 2002 dengan Moodle versi 1.0.31 Karena bersifat open source, maka Moodle dapat diunduh secara gratis dari situs resminya http://www.Moodle.org dan dapat dimodifikasi oleh siapa saja dengan lisensi GNU (General Public License).32 Moodle juga mendukung pendistribusian paket pembelajaran dalam format SCORM (Shareable Content Object Reference Model). SCORM adalah standar pendistribusian paket pembelajaran elektronik 29 Ibid. 30 Ibid. 31 Ibid. 32 Ibid.
  • 16. 16 yang dapat digunakan untuk menampung berbagai macam format materi pembelajaran, baik dalam bentuk teks, animasi, audio, dan vieo. Dengan menggunakan format SCORM maka materi pembelajaran dapat digunakan pada aplikasi-aplikasi e-learning lainnya yang mendukung SCORM. Dengan berbagai kelebihan dan kemudahan diatas, sudah saatnya sistem pembelajaran berbasis kelas digital dengan menggunakan Moodle diterapkan sebagai pendamping sistem pembelajaran berbasis kelas konvensional yang telah dilakukan selama ini.33 Activity (Aktivitas) pada Moodle adalah seluruh kegiatan siswa dalam kurun waktu yang sudah ditentukan oleh guru/dosen. Banyak jenis aktivitas yang bisa dimanfaatkan untuk menguji kompetensi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menggunakan e-learning Moodle.34 Quiz merupakan salah satu aktivitas dalam course berupa pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan oleh guru.35 Banyak hal yang membuat Moodle berbeda dengan yang lain, diantaranya36 : a. Sederhana, efesien dan ringan serta kompatibel dengan banyak browser. b. Instalasi yang sangat mudah c. Dukungan berbagai bahasa termaasuk Bahasa Indonesia d. Tersedianya manajemen situs untuk melakukan pengaturan situs secara keseluruhan, perubahan modul dan lain sebagainya e. Terseduanya manajemen pengguna (user management) f. Tersedianya manajemen courses yang baik 33 Ibid,. hal. 3 34 Ibid., hal. 67 35 Ibid., hal. 75 36 Ibid., hal. 2
  • 17. 17 g. Tersedianya modul chat, modul polling, modul forum, modul untuk jurnal, modul untuk kuis, modul untuk workshop dan survei, serta masih banyak lagi. Berikut adalah tingkatan pengguna (user level) pada e-learning Moodle37 : a. Administrator Merupakan pengguna yang mempunyai hak akses tertinggi yang dapat melakukan seluruh fungsi administrasi e-learning Moodle. b. Course Creator Merupakan pengguna yang mempunyai hak akses untuk membuat course baru . c. Teacher Sebagai guru, merupakan pengguna yang dapat melakukan seluruh fungsi course termasuk menambah / mengubah aktivitas dan memberi nilai. d. Non-Editing Teacher Mirip seperti tugas seorang asisten guru / dosen, merupakan pengguna yang dapat mengajar pada course tetapi tidak bisa menambah / mengubah aktivitas. e. Student Merupakan pengguna yang mempunyai hak untuk mengakses sebuah course tertentu, tetapi tidak berhak melakukan perubahan terhadap course tersebut. f. Guest Merupakan pengguna yang mempunyai hak akses sangat terbatas, tergantung ada pengaturan Moodle untuk jenis pengguna ini. 37 Ibid., hal.3
  • 18. 18 Instalasi Moodle pada server komputer (localhost) membutuhkan spesifikasi komputer sebagai berikut38 : a. Hardware 1. Hardisk dnegan kapasitas minimal 160 MB. 2. Memory 256 MB, direkomendasikan 1GB. b. Software 1. Sistem operasi windows XP/2000/2003/, Solaris 10 (Sparc and x64), Mac OS X atau Netware 6 2. Web server Apache atau IIS. 3. PHP minimal versi 5.3.2. 4. Database a. MySQL – versi minimun 5.0.25 b. MSSQL – versi minimun 9.0. c. PostgreSQL – versi minimum 8.3. d. Oracle – versi minimum 10.2 e. Sqlite – versi minimum 2.0. 6. Efektivitas dan Hasil belajar Menurut pandangan Handayaningrat sebagaimana telah dikutip oleh Ningzul fatimatun39 bahwa efektivitas merupakan “Pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Sedangakan menurut Mulyasa bahwa efektivitas adalah “Bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya alam sebagai usaha untuk mewujudkan tujuan operasionalnya”. Lanjut menurut Effendy40 efektivitas yaitu: ”Komunikasi yang prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan 38 Ibid., hal. 5 39 Ningzul Fatimun. 2012. Pengembangan Penilaian Kinerja Siswa (Performance Assessment) pada LKS Mata Pelajaran Matematika kelas VIII SMP N 1 Ciwaringin. SKRIPSI. Tidak diterbitkan. Cirebon: IAIN Syekh Nurjati., hal. 20 40 NN.http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/487/jbptunikompp-gdl-muhamadalf-24330-2-babii.pdf, Diunduh 26 September 20013 jam 9:15 WIB
  • 19. 19 jumlah personil yang ditentukan”. Menurut Sondang P. Siagian Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya secara maksimal, saran - prasarana dan komunikasi yang berperan sebagai usaha untuk mencapai tujuan yang direncanakan dengan waktu, biaya dan personil yang sudah ditetapkan sebelumnya. Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Nana Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencangkup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Dimyanti dan Mudjiono (2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.41 Sedangkan menurut Horwart Kingsley sebagimana dikutip oleh Nana Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita. Masing-masing hasil belajar dapar diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne sebgaiman dikutip oleh Nana Sudjana42 mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni : (1) informasi verbal, (2) kecakapan intelektul, (3) strategi kognitif, (4) sikap dan (5) keterampilan motoris. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan 41 http://eprints.uny.ac.id/9829/2/bab2.pdf. diunduh pada 18 Oktober 2013 pukul 14.19 42 Ibid., hal.21
  • 20. 20 hasil belajar yaitu : ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.43 Dari dua paragraf diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan suatu proses akhir yang dialami oleh siswa dalam kegiaan pembelajaran yang telah diikutinya bersama seorang guru sebagai pengajar. Sehingga dengan melihat hasil belajar siswa setidaknya mendapat kesimpulan mengenai keberhasilan belajar siswa. B. Tinjauan Hasil Penelitian Yang Relevan Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti telah menelusuri beberapa hasil penelitian skripsi terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Berikut hasil penelitian terdahulu yang ditemukan oleh peneliti dengan menggunakan media internet: 1. Pengembangan mobile learning (M-Learning) berbasis Moodle sebagai daya dukung pembelajaran fisika di SMA yang dilakukan oleh Nopita Setiawati Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Pendidikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir sarjana dengan hasil penelitian: Kualitas Mobile Learning (M-Learning) Berbasis Moodle Sebagai Daya Dukung Pembelajaran Fisika Di SMA yang telah dikembangkan adalah sangat baik (SB) berdasarkan penilaian ahli media dengan presentase keidealan 90,62%; ahli materi 80,55% dan guru fisika SMA 90,83%. 44 Respon peserta didik terhadap mobile Learning (M- Learning) berbasis Moodle sebagai daya dukung pembelajaran fisika di SMA yang telah dikembangkan pada ujicoba lapangan 43 Nana Sudjana.1995.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 22 44 Nopita Setiawati. 2012. Pengembangan Mobile Learning (M-Learning) Berbasis Moodle Sebagai Daya Dukung Pembelajaran Fisika di SMA. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga tersedia di http://koleksi.pustakaskripsi.com/dl.php?f=2188.pdf diunduh pada 21 September 2013 Jam 12.15
  • 21. 21 skala kecil termasuk kategori setuju (S) 71,05%. Pada ujicoba lapangan skala besar termasuk kategori sangat setuju (SS) 76,01%. Hal ini menunjukan bahwa Mobile Learningyang dikembangkan dapat diterima peserta didik dan layak digunakan sebagai salah satu sumber alternatif media pembelajaran mandiri.45 2. Pengembangan bahan pembelajaran mandiri komputasi fisika dengan menggunakan Moodle secara Online di jurusan fisika universitas negeri Semarang oleh Agung Purnomo Jurusan Fisika Fakultas Pendidikan Tahun 2006 Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir sarjana dengan hasil penelitian: Bahan pembelajaran komputasi Fisika yang dikembangkan oleh penulis mempunyai tingkat keterbacaan teks sebesar 83,5%, hal ini berarti bahan pembelajaran tersebut termasuk ke dalam kategori mudah dipahami. Bahan pembelajaran komputasi fisika yang dikembangkan oleh penulis mempunyai tingkat ketertarikan user terhadap bahan pembelajaran sebesar 78,2% termasuk kategori baik. Bahan pembelajaran dapat digunakan sebagai sarana untuk belajar mandiri. Telah dihasilkan sebuah bahan pembelajaran komputasi fisika menggunakan Moodle secara Online di jurusan fisika Universitas Negeri Semarang.46 3. Efektivitas penggunaan media pembelajaran e-learning berbasis web pada pelajaran teknologi informasi dan komunikasi terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 kalasan oleh Mawar Ramdhani jurusan teknik informatika fakultas pendidikan teknik informatika tahun 2012 Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir sarjana dengan hasil 45 Ibid. 46 Agung, Agung. 2006. Pengembangan Bahan Pembelajaran Mandiri Komputasi Fisika dengan Menggunakan “Moodle” Secara Online di Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang. Skripsi. Tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Negeri Semarang tersedia di http://koleksi.pustakaskripsi.com/dl.php?f=2188.pdf diunduh pada 3 September 2013 Jam 15.41
  • 22. 22 penelitian: Hasil uji hipotesis posstest dengan uji t P (0,006) < α (0,05) sehingga H0 yang berbunyi “ Efektifitas penggunaan media pembelajaran e-learning berbasis web sama dengan media pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Kalasan pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi” diterima. Perhitungan nilai gain ternormalisasi antara kelas eksperimen juga lebih tinggi dari pada kelas kontrol, yaitu nilai gain ternormalisasi kelas eksperimen g = 0,54 dan pada kelas kontrol g = 0,30.47 4. Pengembangan model pembelajaran Matematika berbasis website oleh Rismaningsih Jurusan Matematika Fakultas Pendidikan Tahun 2010 UIN Syarif Hidayatullah. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir sarjana dengan hasil penelitian: berdasarkan hasil tes belajar siswa diperoleh rentang nilai mulai dari 3,81 sampai 100 dengan rata-rata 79,39, median 83, modus 85,23, varians 261,333 dan simpangan baku 15,166. Siswa memiliki respon yang positif terhadap website pembelajaran matematika, sehingga siswa termotivasi dalam mempelajari matematika. Hal ini dapat dilihat bahwa dengan 95 siswa menyatakan bahwa website perlu digunakan dalam pembelajaran matematika.48 Dari beberapa hasil skripsi diatas, memiliki pembahasan yang sama yaitu tentang pengembangan pembelajaran berbasis web atau penggunaan LMS Moodle dalam pembelajaran atau evaluasi, namun peneliti dalam hal ini mengembangakn sistem evaluasi belajar siswa menggunakan Moodle. 47 Mawar Ramadhani. 2012. Efektivitas Penggunaan Media Pembelajaran E-Learning Berbasis Web Pada Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kalasan. Skripsi. Tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta tersedia dihttp://eprints.uny.ac.id/6803/1/08520241028_Mawar%20Ramadhani_Skripsi.pdf diunduh pada 3 September 2013 jam 15.37 48 Rismaningsih. 2010. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Berbasis Website. Skripsi. Tidak diterbitkan. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah tersedia di http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/2504/1/98424-RISMANINGSIH- FITK.pdf diunduh pada 5 September 2013 Jam 15.18
  • 23. 23 Oleh karena itu, penelitian dengan judul “Pengembangan Evaluasi Berbasis Web Menggunakan Moodle Pada Kelas VIII SMPN 7 Kota Cirebon” layak dilakukan karena masalah yang akan diteliti bukan merupakan tiruan dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. C. Kerangka Pemikiran Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru telah dirancang dalam bentuk rencana mengajar yang biasanya dalam bentuk perangkat pembelajaran. Proses evaluasi kegiatan belajar mengajar sudah termasuk didalamnya. Dengan demikian evaluasi adalah suatu proses kegiatan yang sudah direncanakan dalam pembelajaran guna untuk mengukur sejauh mana keberhasilan proses belajar yang telah dilakukan Evaluasi dilakukan oleh seorang guru agar mengetahui kemampuan dari siswanya sebagai peserta didik. Evaluasi yang dianggap memiliki syarat objektivitas adalah dalam bentuk tes. Tes adalah alat bantu yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur kemampuan siswa setelah belajar. Saat ini banyak sekali pengembangan evaluasi pembelajaran yang dilakukan disekolah-sekolah ataupun lembaga pendidikan lainnya. Salah satu pengembangan evaluasi tes kemampuan belajar siswa adalah melalui media internet atau kita sering sebut tes Online. Tes Online merupakan proses evaluasi yang dilakukan melalui media internet sehingga siswa dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun mereka sempat. Learning Management System (LMS) Moodle merupakan program open source untuk membuat situs website evaluasi tes secara Online. Moodle memiliki banyak fitur yang sangat menunjang proses evaluasi berlangsung hingga menilai hasi evaluasi yang telah dilakukan. Dengan penggunaan model sebagai program evaluasi berarti mengurangi kecurangan dalam tes dan juga membantu memelihara bumi (Go Green) agar tetap lestari.
  • 24. 24 D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan latar belakang diatas dan beberapa teori yang dikemukakan penulis merumuskan hipotesis adalah “Dengan dikembangkannya tes matematika berbasis Online dengan LMS Moodle maka hasil belajar siswa efektif”.
  • 25. 25 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 7 Kota Cirebon yang beralamat di Jalan Ciremai Raya Nomor 65 Perumnas Kota Cirebon.. Adapun alasan peneliti memilih tempat di SMP Negeri 7 Kota Cirebon adalah antara lain: a. Memiliki sarana dan prasarana yang cukup seperti tersedianya laboratorium komputer dan hotspot wifi internet. b. Belum diterapkan tes matematika berbasis online dalam pembelajaran di sekolah. 2. Waktu Penelitian Adapun waktu penelitian yang digunakan sekitar empat bulan terhitung mulai februari hingga juni dengan rincian kegiatan dalam tabel dibawah ini. 25
  • 26. 26 Tabel 3.1 Jadwal Penelitian B. Prosedur Penelitian Research and Development Metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya research and development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.49 Penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk tertentu untuk bidang administrasi, pendidikan dan sosial lainnya masih rendah. Padahal banyak produk tertentu dalam bidang pendidikan dan sosial yang perlu dihasilkan melalui research and development.50 Menurut Sugiyono langkah-langkah penelitian dan pengembangan ditunjukkan pada bagan berikut: 49 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Αbeta, hal 297 50 Sugiyono. Op.Cit. hal 298 No Nama Kegiatan Februari Maret April Mei Juni 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 1 Perencanaan website tes matematika Online dan instrumen 2 Penyusunan Desain website tes matematika Online 3 Penyusunan instrumen penelitian 4 Validasi website 5 Ujicoba terbatas 6 Analisis data dan revisi website 7 Ujicoba luas 8 Analisis data hasil ujicoba luas 9 Penyusunan laporan
  • 27. 27 Gambar 3.1 Langkah-langkah Penelitian dan Pengembangan Berdasarkan langkah-langkah penelitian dan pengembangan tersebut, maka tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah: 1. Potensi dan masalah Potensi atau masalah adalah sesuatu yang apabila didayagunakan akan memiliki nilai tambah (Emzir, 2007: 271). Suatu hal akan menjadi sebuah masalah atau potensi tergantung dari sudut pandang subyek yang menilainya. Informasi tentang masalah atau potensi dalam penelitian dan pengembangan bisa berdasarkan laporan penelitian orang lain, wawancara, observasi dan dokumentasi laporan kegiatan. Potensi dan Masalah Pengumpulan Informasi Masalah Desain Produk Ujicoba Pemakaian Validasi Desain Revisi Produk Ujicoba Produk Perbaikan Desain Revisi Produk Tahap Akhir Produksi Massal
  • 28. 28 2. Mengumpulkan informasi Setelah diketahui adanya masalah atau potensi maka selanjutnya adalah mengumpulkan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan dasar perencanaan produk yang akan dibuat dan diharapkan mampu mengatasi masalah yang ditemukan. 3. Desain website tes matematika berbasis Online Berdasarkan hasil pengumpulan informasi, tahap selanjutnya adalah membuat desain dari produk yang akan dikembangkan. Dalam tahap ini penulis membuat website tes matematika Online dengan menggunakan moodle. Hasil akhir dari tahap ini adalah berupa desain produk baru yang lengkap dengan spesifikasinya. 4. Validasi desain website tes matematika berbasis Online Validasi desain merupakan proses penilaian rancangan produk yang diakukan dengan memberi penilaian berdasarkan pemikiran rasional, tanpa ujicoba di lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkan beberapa ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai rancangan produk yang telah dibuat. 5. Perbaikan desain website tes matematika berbasis Online Setelah desain website divalidasi melalui penilaian para ahli, maka akan diketahui kekurangan selanjutnya peneliti melakukan perbaikan terhadap desain website berdasarkan beberapa saran dari para ahli. 6. Ujicoba terbatas website tes matematika berbasis Online Tujuan dari ujicoba produk diantaranya untuk menentukan sukses atau tidaknya produk yang dirancang dan guna menyempurnakan informasi dari pengguna. Tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan ujicoba website tes matematika berbasis Online. Ujicoba ini dilakukan pada 7 orang siswa yang diambil secara acak, ujicoba terbatas ini berguna untuk mengetahui efektivitas dari website yang dirancang.
  • 29. 29 7. Revisi website tes matematika berbasis Online Setelah dilakukan ujicoba terbatas terdapat masukan berupa kelemahan atau kekurangan dari pengguna, maka peneliti harus memperbaiki website sesuai saran yang diterima agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. 8. Ujicoba luas Ujicoba luas dilakukan pada kelas VIII B untuk mengetahui efektivatas website yang dikembangkan dan memperoleh masukan untuk melakukan revisi website tahap akhir. Efektifitas website akan diukur melalui instrumen tes. Tes hasil belajar yang akan dibandingkan dengan tes kemampuan awal siswa sebelum produk diujicobakan dan juga dibandingkan dengan kelas VIII D dengan tes tidak menggunakan website (konvensional). 9. Evaluasi pemakaian Setelah melakukan ujicoba luas dan produk dinyatakan efektif, maka peneliti melakukan evaluasi dari penggunaan website tes matimatika berbasis onlin. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap website setelah melakukan coba luas dengan cara pengisian angket respon. 10. Kesimpulan Peneliti tidak melakukan produk massal dikarenakan keterbatasan waktu dan sumber daya yang dimiliki peneliti. Oleh karena itu, penelitian ini hanya sampai tahap ujicoba luas setelah itu membuat kesimpulan tentang kelayakan dan keefektivan dari website yang dibuat. C. Subjek Penelitian Subjek penelitan dan pengembangan tes matematika berbasis Online adalah kelas VIII B sebanyak 52 siswa. Penulis menentukan kelas VIII B sebagai subjek penelitian dengan cara random sampling. Adapun populasi keseluruhan kelas VIII SMP Negeri 7 Kota Cirebon adalah:
  • 30. 30 Tabel 3.2 Populasi kelas VIII SMPN 7 Kota Cirebon No Urut Kelas Jumlah Siswa VIII A 53 VIII B 52 VIII C 53 VIII D 53 VIII E 55 VIII F 52 VIII G 55 VIII H 51 VIII I 51 Sumber : Data SMP Negeri 7 Kota CirebonTahun Ajaran 2013/2014 D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengmpulan data merupakan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Umumnya cara pengumpulan data dapat menggunakan tes dan angket juga observasi. 1. Definisi Konseptual a. E-Learning atau pembelajaran melalui Online adalah pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmits sateli tatau computer. Learning Management System (LMS) atau Course Management System (CMS), juga dikenal sebagai Virtual Learning Environment (VLE) merupakan aplikasi perangkat lunak. Jadi, Learning Management System membuat siswa dan guru / dosen masuk ke dalam ruang “kelas digital” untuk saling berinteraksi (berdiskusi, mengerjakan kuis Online, dsb) serta mengakses materi-materi pembelajaran dimana saja dan kapan saja selama terkonesi dengan internet.
  • 31. 31 b. Efektivitas pengembangan tes berbasis Online dapat diketahui melalui hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa adalah perubahan tingkah laku siswa mencangkup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. 2. Definisi Operasional a. Penilaian Otentik Penilaian otentik dalam penelitian ini adalah bentuk pengambilan keputusan atau penilaian langsung, sistematis dan berbasis keseluruhan bersifat kualitatif bertujuan mengukur keseluruhan kemampuan hasil belajar siswa dan dilengkapi rubrik holistik sebagai kriteria yang harus dicapai oleh siswa. b. Hasil Belajar Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa dan kemampuan-kemampuan siswa akibat dari proses pembelajaran meliputi ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. 3. Instrumen Penelitian dan Pengembangan Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, yaitu: a. Seperangkat website tes Online yang telah dikembangkan mata pelajaran matematika di kelas VIII SMPN 7 kota Cirebon b. Lembar validasi tes berbasis Online. c. Pedoman observasi, untuk mengungkapkan aktivitas siswa pada penerapan tes berbasis Online berupa angket yang diberikan kepada siswa untuk menilai penerapan tesi berbasis Online dalam proses evaluasi pembelajaran. d. Tes. Menurut Nurul Zuriah tes ialah seperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi penetapan skor angka.51 Dalam penelitian ini digunakan tes pilihan 51 Nurul Zuriah. 2006. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 184
  • 32. 32 ganda dengan empat alternatif jawaban, untuk mengungkap hasil belajar ketiga ranah tersebut . E. Teknik Analisis Data 1. Data Kualitatif Data kualitatif dalam penelitian diperoleh berdasarkan angket respon tes matematika berbasis Online yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai pengembangan tes berbasis Online. Angket yang digunakan adalah angket dengan skala likert seperti ketentuan tabel dibawah ini: Tabel 3.3 Skor Angket Skala Likert Alternatif Jawaban Skor Tiap Jawaban Pernyataan Positif Pernyataan Negatif Sangat Setuju (SS) 5 1 Setuju (S) 4 2 Ragu-ragu (R) 3 3 Tidak Setuju (TS) 2 4 Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5
  • 33. 33 Angket yang sudah didapat selanjutnya dihitung berdasarkan rumus dibawah ini: Tabel 3.4 Rumus perhitungan angket No Item Skor F Jumlah Skor Rata- rata Prosentase Nomor pernyataan SS (5) skor x F jml skor SS : jml skor x 100 S (4) skor x F jml skor S : jml skor x 100 RR (3) skor x F jml skor R : jml skor x 100 TS (2) skor x F jml skor TS : jml skor x 100 STS (1) skor x F jml skor STS : jml skor x 100 Jumlah jml F jmlh skor jumlah prosentase Skor Maksimal 5 x jml siswa x jml item Prosentase Rata-rata jml skor : skor maks x 100 Tabel 3.5 Kriteria Indikator Angket No Prosentase (%) Kriteria 1 0 – 20 Sangat Lemah 2 21 – 40 Lemah 3 41 – 60 Cukup 4 61 – 80 Kuat 5 81 – 100 Sangat kuat Sumber: Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Αbeta, hal. 137
  • 34. 34 2. Data Kuantitatif a. Validitas Item Soal Ujicoba instrumen tes dilakukan untuk mengetahui apakah instrumen tes yang akan digunakan oleh peneliti layak dipakai atau tidak. Instrumen tes yang sudah dibuat akan divalidasi oleh expert judgement berupa analisis ketepatan isi tes secara empirik atau logika untuk membuat penafsiran skor hasil tes. Hasil penelitian dari expert jedgement diolah dengan menggunakan Content Validity Ratio (CVR) sebagaimana yang diungkapkan oleh Lawshe dengan rumus52 : = − 2 2 = 2 − 1 Keterangan: CVR : Content Validity Ratio N : Banyaknya validator Ne : validator yang menyatakan setuju No. No. Of Panelist Minimum Value 1. 2 1 2. 5 0,99 3. 8 0,75 4. 9 0,78 5. 10 0,62 6. 15 0,49 7. 25 0,37 Tabel 3.6 Minimum Values of CVR 52 C.H, Lawse. 1975. A Quantitative Approach to Content Validity. Indiana: Bowling Green State University
  • 35. 35 b. Reliabilitas Suatu instrumen harus reliabel, mengandung arti bahwa instrumen tersebut cukup dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik.53 Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan teknik KR-20 (Kuder Richardson). Rumusnya adalah: r11 =                 ks xkx k k 2 )( 1 1 Dengan r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir soal = Standar deviasi ̅= Varians total Kriteria reliabilitas adalah sebagai berikut: 54 0,00 < rxy≤0,20 Reliabilitas sangat rendah 0,20˂rxy≤0,40 Reliabilitas rendah 0,40˂rxy≤0,60 Reliabilitas sedang 0,60˂rxy≤0,80 Reliabilitas tinggi 0,80˂rxy≤1,00 Reliabilitas sangat tinggi Tabel 3.7 Kriteria Reliabilitas 53 Ibid. 54 Erman Suherman dan Yaya Sukjaya K. 1990. Petunjuk Praktis Untuk Melaksanakan Avaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijaya Kusumah. hal. 176
  • 36. 36 c. Uji Daya Pembeda Rumus yang digunakan adalah :55 = − × 100% Keterangan : DP = Daya Pembeda SA = Jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah SB = Jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah IA = Jumlah skor ideal kelompok (atas/bawah) pada butir soal yang diolah Dengan kriteria daya pembedanya adalah56 : Tabel 3.8 Kriteria Daya Pembeda 0% - 9 % Sangat Buruk 10% - 19% Buruk 20% - 29% Agak Baik 30% - 49% Baik 50% ke atas Sangat Baik d. Uji Indeks Kesukaran Rumus yang digunakan menurut Karnoto adalah :57 = + + × 100% Keterangan : TK = Tingkat kesukaran = Jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah = Jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah = Jumlah skor ideal kelompok atas pada butir soal yang diolah 55 Karnoto. 1996. Mengenal Analisis Tes. Bandung: Jurusan Psikologi pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung, hal. 15 56 Ibid., 57 Ibid.,hal. 16
  • 37. 37 = Jumlah skor ideal kelompok bawah pada butir soal yang diolah Dengan kriteria tingkat kesukarannya58 adalah : 0 % - 15 % Sangat Sukar 16 % - 30 % Sukar 31 % - 70 % Sedang 71 % - 85 % Mudah 86 % - 100 % Sangat Mudah Tabel 3.9 Kriteria Tingkat kesukaran Setelah analisis ujicoba instrumen maka langkah selanjutnya adalah uji hipotesis dari data yang diperoleh dari hasil jawaban soal yang sudah tersaring dalam analisis ujicoba instrumen. Namun sebelum melakukan uji hipotesis peneliti melakukan uji prasayarat hipotesis sebagai berikut: a. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk menentukan apakah sampel yang dipilih berdistribusi normal atau tidak. Rumus uji normalitas yang digunakan pada penelitian ini yaitu rumus Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut59: D = | S(X) – f0(X) | Keterangan: D = Deviasi maksimum S(X) = Fungsi distribusi frekuensi komulatif sampel F0 = Fungsi distribusi frekuensi komulatif teoritis 58 Emha Ainun Najib. 2013. Pengaruh Penerapan Pemberian Tugas Berupa Soal-soal Tes Standar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa di MTs An-Nur Kota Cirebon. Skripsi. Tidak diterbitkan. Cirebon: IAIN Syekh Nurjati Cirebon. hal. 23 59 Millatul Khaniifah. 2010. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Siswa Siswa dalam Pemecahan Masalah matematika Di Kelas X MAN 2 Cirebon. Skripsi. Tidak diterbitkan. Cirebon: IAIN Syekh Nurjati. Hal. 67
  • 38. 38 b. Uji Homogenitas Dua Varians Uji homogenitas dua varians adalah rumus yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian ini homogen atau heterogen. Adapun rumus yang digunakan adalah rumus Levene Test sebagai berikut60: = − ∑ ( − ) − 1 ∑ ∑ ( − ) Keterangan: L = Nilai levene hitung W = Jumlah bobot keseluruhan data T = Rata-rata grup ke-i k = Banyaknya grup ni = Banyaknya data dari grup ke-i Wij = Bobot ke-j dari grup ke-i Xij = Nilai ke-j dari grup ke-i c. Uji Mann Whitney Uji Mann Whitney merupakan uji non parametik yang tidak mensyaratkan distribusi data normal. Uji Mann Whitney digunakan untuk menguji apakah ada perbedaan anatara dua kelompok sampel independen. Uji ini sering digunakan sebagai alternatif pengganti dari uji T 2 sampel bebas (Independen Samples T Test) jika data tidak normal atau digunakan untuk menguji perbedaan jika datanya berskala ordinal.61 60 Ibid. Hal. 69 61 Duwi Priyatno. 2011. Buku Saku SPSS. Yogyakarta: MediaKom. hal. 309
  • 39. 39 Rumus Uji Mann Whitney adalah sebagai berikut: = + ( + 1) 2 − Keterangan: U = Nilai uji Mann Whitney N1 = Sampel 1 N2 = Sampel 2 Ri = Ranking ukuran sampel