• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Sayap bidadari
 

Sayap bidadari

on

  • 3,172 views

 

Statistics

Views

Total Views
3,172
Views on SlideShare
3,137
Embed Views
35

Actions

Likes
2
Downloads
49
Comments
1

3 Embeds 35

http://readoll.blogspot.com 33
https://twitter.com 1
http://readoll.blogspot.tw 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Sayap bidadari Sayap bidadari Document Transcript

    • Sayap BidadariSebuah cerita fiksi yang ditulis oleh Bois, penulis copoyang masih harus banyak belajar. Cerita ini hanyalahsarana untuk mengilustrasikan makna di balikkehidupan semu yang begitu penuh misteri. Perluanda ketahui, orang yang bijak itu adalah orang yangtidak akan menilai kandungan sebuah cerita sebelumia tuntas membacanya.e-book ini gratis, siapa saja dipersilakan untukmenyebarluaskannya, dengan catatan tidak sedikitpunmengubah bentuk aslinya. Jika anda ingin membaca/mengunduh cerita lainnya silakan kunjungi : www.bangbois.blogspot.com www.bangbois.co.ccSalurkan donasi anda melalui:Bank BCA, AN: ATIKAH, REC: 1281625336 1
    • SATU Benih CintaT in! Tin! Tin! Suara klakson bersautan di tengah macetnya jalan yang melintasi pasar, anginsepoi-sepoi pun terus bertiup dibawah naungan senjayang teduh. Saat itu seorang gadis tampakmelangkah—menyusuri ramainya jalan yang melintasiarea pertokoan. Gadis itu tampak anggun, melangkahdengan gaya bak seorang model di atas catwalk—memperagakan u can see putih, berpadu jeans biruketat yang sangat serasi dan begitu pas melekat ditubuhnya yang aduhai. Rambutnya pun tampakbagus—panjang sebahu dan dibiarkan tergerai.Sesekali gadis itu tersenyum, teringat akan kenanganmanis yang begitu indah. Kini gadis itu sedangmenaiki sebuah angkot yang akan mengantarnyamenemui seorang teman lama. Maklumlah, sudahhampir setahun ini dia tak menjumpainya, dan semuaitu dikarenakan kesibukannya yang membosankan, 2
    • bahkan seringkali membuatnya marah, sedih, dantentu saja kesepian. Apa lagi kalau bukan rutinitasnyasehari-hari yang bercampur dengan perkara cintayang tak kunjung ada kepastian. Di dalam perjalanan, mata gadis itu sempatmenangkap kemesraan yang ditunjukkan olehsepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.Sungguh tampak membahagiakan dan membuatnyabetul-betul iri, bahkan di benaknya terbayang sudahbagaimana bahagianya jika dia yang dipeluk, dicium,dan dibelai oleh sang Pujaan Hati. Lama gadis itu larutdalam angan yang membuai hingga akhirnya dia tibadi tempat tujuan. Kini gadis itu tampak turun dariangkot dan langsung melangkah menuju rumahtemannya. Ketika melintasi sebuah warung, tiba-tiba"Angel!" seru seorang pemuda memanggilnya. Seketika gadis itu menoleh, bersamaan dengan itusenyumnya pun mengembang, memperlihatkan gigiputihnya yang bagaikan untaian mutiara. "Raka!"pekiknya gembira seraya buru-buru menghampiripemuda yang dilihatnya tampak begitu santai, duduk 3
    • di depan warung yang lumayan sepi. "Apa kabar?"tanya Angel seraya menjabat tangan pemuda itu. "Baik?" jawab Raka singkat. “Eng… kau sendiribagaimana?” Raka balik bertanya. "Masih sama seperti dulu, Kak. Bete…” “Kau itu, masih saja tidak berubah. Eng... Kaudatang ke sini betul-betul mau belajar komputer kan?”tanya Raka kemudian. “Iya, Kak. Belakangan ini aku memang sedangkursus komputer, dan masih ada pelajaran yangbelum aku mengerti. Maklumlah, gurunya terkadangmemang kurang jelas saat memberi pelajaran.” jawabAngel. “Eng… Kalau begitu, yuk langsung ke kamarku!"ajak Raka kemudian. “Ka-Kamar!” ucap Angel terbata, seketika ituingatannya langsung tertuju ke masa lalu--dimana dikamar itu dia pernah dibuat menangis. “Ayo, An! Apa yang kau tunggu?” tanya Rakamembuyarkan ingatan Angel. “I-iya, Kak.!” 4
    • Lantas kedua muda-mudi itu segera melangkahke kamar yang dimaksud, dan tak lama kemudiankeduanya sudah tiba di tempat tujuan. Sejenak Angelmemperhatikan sekekeliling ruangan, dilihatnyatempat tidur Raka yang senantiasa bersih, jugaberbagai pernak-pernik hiasan yang indah dan tidakbanyak berubah. Di atas sebuah meja belajar,dilihatnya sebingkai foto yang tampak kosong. Lamajuga angel memperhatikan bingkai foto yang kosongitu, hingga akhirnya Raka pun ikut memperhatikanbingkai foto itu seraya berkata. “Tahukah kau? Hinggasaat kini aku belum menemukan gadis yang pantasmengisi bingkai itu?” kata pemuda itu seraya dudukditepian tempat tidurnya. “Eng… Sa-sabarlah Kak! Aku yakin, suatu harinanti Kakak pasti akan menemukannya,” ucap Angelterbata. “Entahlah… Aku tidak terlalu yakin. Eng… Biarlahwaktu yang akan menjawabnya. O ya, bagaimanakalau kita mulai belajarnya sekarang!” ajak Rakakemudian. 5
    • “Yuk, Kak.” Timpal Angel seraya duduk didepankomputer. Bersamaan dengan itu, Raka pun segera dudukdisebelahnya dan langsung terlibat didalam aktifitasbelajar mengajar. Namun, belum juga lima belasmenit berlalu, tiba-tiba "Kak, sudah dulu ya belajarnya!Kepalaku mulai pusing nih. Eng… Bagaimana kalausekarang kita ngobrol saja!" ajak Angel kepada Raka. "Lha...?" ucap Raka heran seraya mengerutkankeningnya, kemudian dia pun cengar-cengir merasalucu sendiri. Sungguh pemuda itu tidak tahu kalautujuan Angel yang sebenarnya adalah bukan maubelajar, melainkan mau curhat mengenai cintasejatinya. Tak lama kemudian, keduanya sudah larut didalam perbincangan yang begitu hangat, hinggaakhirnya. "Kak, baca deh ceritaku ini! Terus terang,aku mau tahu pendapat Kakak," pinta Angel serayamemperlihatkan kisah nyatanya yang ditulis dengansepenuh hati. 6
    • "Wah, maaf ya, An! Terus terang, aku tidak punyawaktu. Maklumlah, cerita temanku saja belum sempatkubaca," tolak Raka. Saat itu Angel langsung kecewa, sungguh apayang diharapkan mengenai kisah nyatanya samasekali tidak terwujud. Namun kekecewaan itu takberlangsung lama, kini dia justru tertarik dengan ceritayang dikatakan Raka tadi. "Eng... Ngomong-ngomong,cerita temanmu itu tentang apa, Kak?" tanya Angelpenasaran seraya menutup buku catatannya. "Mana aku tahu, aku kan belum sempatmembacanya. Tapi, sepertinya sih tentang cinta," jelasRaka sambil memperhatikan Angel yang kini tampaktertunduk dengan jemari yang menepuk-nepuk bukucatatannya. "Eng, kisah nyata bukan?" tanya Angel lagi serayamemandang Raka dengan pandangan yang membuatpemuda itu langsung teringat kembali akan kenanganindah yang pernah mereka alami. "Mmm… Mungkin juga. Kalau begitu, sebentarya!" pinta Raka seraya beranjak mengambilkan 7
    • naskah temannya dan memberikannya pada Angel."Nih, kau lihat saja sendiri!" pinta pemuda itukemudian. Angel pun segera menanggapi naskah itu danmelihat bentuk fisiknya. "Hmm... Tebal juga," katanyadalam hati seraya membaca judul yang ada di covermuka. "Hmm... Demi Cinta Sejati, apa maksudnyaya?" tanya Angel dalam hati seraya memperhatikangambar sepasang muda-mudi yang tampak menghiasicover, keduanya tampak begitu mesra—berbaring ditempat tidur. "Hmm... Cover ini bagus juga," pujinyadalam hati seraya membaca nama penulisnya."Hmm... Namanya Bobby. Eng... Ganteng tidak yaorangnya?" tanya Angel lagi dalam hati seraya mulaimembaca sinopsisnya. Tak lama kemudian, "Bagaimana, An?" tanyaRaka tiba-tiba. "Sekilas, cerita ini tampak menarik Kak," katagadis itu mengomentari "Eng... Apa kau mau membacanya?" tanya Rakaserius. 8
    • "Kalau boleh sih, tentu saja mau," jawab Angel takkalah serius. "Baiklah… Kalau begitu, biar kau saja yangmembacanya!" kata Raka setuju. "Benar nih?" tanya Angel hampir takmempercayainya. "Eng... Ngomong-ngomong, KakBobby mengizinkan tidak?" tanyanya kemudian. "Dia pasti mengizinkan. Sebab, sebelumnya diapernah bilang kalau siapa saja boleh membacanya." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, siapa yangmembuat cover cerita ini?" tanya Angel lagi serayakembali memperhatikan cover yang menarik hatinya. "Ya, dia sendiri," jawab Raka singkat. Seketika Angel terdiam, "Hmm... Bagaimana yajika cover ceritaku dibuat sebagus ini?" tanya gadis itudalam hati seraya membayangkan cover ceritanyayang tampak bagus. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong,mau tidak ya dia membuatkan cover untuk ceritakuini?" tanyanya kemudian. "Wah, aku juga tidak tahu. Eng… Bagaimanakalau kau tanyakan saja langsung pada orangnya! 9
    • Hmm... Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahnya,sekalian berkenalan dengan dia?" "Eng... Oke deh. Tapi, sekalian antar aku pulangya!" "Beres, Non. Ayo…!" ajak Raka seraya melangkahmenuju ke sepeda motornya. Tak lama kemudian, keduanya sudah berangkatmenuju ke rumah Bobby. Sementara itu di sebuahkamar yang agak berantakan, seorang pemuda barusaja mengenakan pakaian seadanya. Maklumlah, diaitu baru saja mandi dan memang tidak berniat kemana-mana. Kini pemuda itu sudah di depan TVsambil menikmati segelas teh manis dan sepiring rotisumbu. Saat itu dia tampak begitu santai, menikmatikesendiriannya yang tengah asyik berhayal menjaditokoh utama di dalam kisah Butterfly Effect yangdisaksikannya. "Assalamu’alaikum!" ucap seseorang di luarrumah tiba-tiba. Mendengar itu, Bobby segera mengintip lewatjendela, "O... Si Raka. Mau apa ya dia datang malam- 10
    • malam begini?" tanya pemuda itu seraya melangkahmenemuinya. Tak lama kemudian, Bobby sudah bertatap mukadengan Raka, bersamaan dengan itu dia punlangsung diperkenalkan dengan Angel—seoranggadis yang entah kenapa tiba-tiba membuatnya jadisalah tingkah. Apa mungkin karena dia itu seorangjomblo yang baru saja menemukan belahan jiwanya.Pada saat yang sama, Angel tampak sedangmemikirkan pemuda itu. "Hmm... Ternyata diamemang pemuda yang tampan." "Yuk, masuk!" ajak Bobby tiba-tiba membuyarkanpikiran Angel. Lantas dengan agak terkejut, Angel pun segeramerespon, "Bi-biar di sini saja, Kak," ucapnya terbata. "Ayolah, jangan malu-malu! Anggap saja rumahsendiri," ajak Bobby lagi. "Iya, An. Yuk, masuk!" ajak Raka menimpali. Lantas dengan malu-malu, akhirnya Angel maujuga melangkah masuk dan duduk di kursi teras. KiniBobby dan Angel sudah duduk berdampingan. Pada 11
    • saat yang sama, Raka langsung ke ruang tengahguna menemui adik Bobby yang kebetulan barupulang dari luar negeri. Maklumlah, Raka memangsudah lama tidak bertemu dan mau mengetahuikabarnya, juga sekalian mau minta oleh-oleh. Karena ditinggal berdua, Bobby pun semakinsalah tingkah. Saat itu, berbagai hal yang berkenaandengan Angel seketika kembali terlintas di benaknya,"Aduh... Kenapa dengan diriku? Kenapa perasaankutiba-tiba jadi tidak karuan kayak gini. Hmm… Apamungkin aku telah mencintainya?" tanya Bobby dalamhati. "Kakak penulis, ya?" tanya Angel tiba-tibamembuyarkan pikiran pemuda itu. "Eng… Se-sebetulnya bukan. Menulis bagikuhanyalah media untuk menumpahkan perasaan,sedangkan profesiku sebenarnya adalah seorangpengacara, alias pengangguran banyak acara.Hehehe… Sebetulnya saat ini aku sedang belajarmenjadi seorang graphic designer, dan dengankemampuanku membuat program permainan, maka 12
    • aku pun berniat merintis sebuah studio kreatifperangkat lunak yang islami." "O, jadi benar kalau cover ini Kakak yang buatsendiri." "Iya, betul. Memang kenapa?" "Terus terang, menurutku cover ini bagus sekali,Kak." "Benarkah bagus?” tanya Bobby serayatersenyum, “Padahal, aku sendiri tidak yakin kalaucover itu betul-betul bagus. Sebab, aku memang tidaksepenuh hati saat mengerjakannya,” sambungnyakemudian. "Wah, tidak sepenuh hati saja bisa sebagus itu.Bagaimana jika Kakak mengerjakakannya dengansepenuh hati tentu akan jauh lebih bagus. Tapi jujursaja, walaupun aku tidak mengerti akan makna yangterkandung di dalamnya, namun menurut pandanganmataku cover yang Kakak buat itu memang tampakbagus. Eng, bukankah karya seni itu bersifat relatif,dan bagus tidaknya sangatlah tergantung dari seleradan sudut pandang orang yang melihatnya. " 13
    • "Eng, kalau begitu terima kasih atas penilaianmu,"ucap Bobby tulus. Angel pun tersenyum. “O ya, Kak. Kembali ke soaltulis-menulis, sebetulnya aku ini juga suka menulisloh. Ketahuilah! Ketika Raka memperlihatkan naskahKakak, lantas aku pun jadi tertarik. Karenanyalah kiniaku datang kemari agar bisa mengenal Kakak lebihjauh. Barangkali saja Kakak mau mengajarikubagaimana caranya menjadi menulis yang baik." "Wah, sebetulnya aku pun masih belajar. Terusterang, aku merasa belum pantas untuk itu. Selamaini kan tulisanku belum diakui publik, dan karenanyaaku tidak tahu apakah tulisanku itu baik atau tidak.Karenanyalah, apakah pantas jika akumengajarkannya padamu?" "Kak, tadi aku sempat melihat-lihat naskah Kakaksedikit, dan sepertinya tulisan kakak itu sudah bagusdan pantas dinikmati sebagai sebuah karya sastra.Menurut penilaianku, kakak itu sudah pastas untukmengajariku. Sebab, jika dibandingkan dengankaryaku, jelas karya Kakak itu jauh lebih baik. 14
    • Karenanyalah, jika Kakak mau mengajariku tentu akuakan senang sekali." "Wah, aku betul-betul merasa tersanjung.Sungguh aku tidak menyangka, kalau kau akanmenilai karyaku seperti itu. Baiklah… Jika kaumemang menilaiku demikian, sungguh tidaksepantasnya jika aku sampai menolak. Terus terang,aku merasa berdosa jika sampai tak mau berbagi ilmudenganmu." "Terima kasih, Kak." "Kembali kasih. O ya, ngomong-ngomong...Selama ini kau sudah menulis berapa judul?" "Ya, lumayanlah, Kak. Tapi semua itu cumasebatas cerpen. Sedangkan untuk menulis novel barukumulai beberapa bulan yang lalu, dan itu pun dimulaidengan kisah nyataku. O ya, Kak. Ngomong-ngomong, ini dia kisah nyataku," kata Angel serayamenyodorkan buku catatannya yang baru diambilnyadari dalam tas. Pada saat itu, Bobby tampak diam. Jangankanuntuk membaca, menyentuh saja sepertinya enggan. 15
    • Karena itulah Angel langsung kecewa dan segeramenyimpan buku catatannya kembali. Dalam hati,gadis itu langsung menghakimi Bobby sebagaipemuda yang tidak berperasaan, pemuda yang tidakbisa menghargai karya orang, walau pun hanyasekedar saja. "Huh, dia sama sekali tidak tertarikdengan ceritaku. Jika begitu, bagaimana mungkin diamau membuatkan cover-nya." Begitulah Angel, jadiberpikiran yang tidak-tidak. Padahal dalam benaknya,Bobby ingin sekali membaca cerita yang katanyakisah nyata itu. Sebab dengan demikian, tentunya diabisa mengenal karakter Angel lebih jauh, yaitu melaluirentetan cerita yang ditulisnya. Namun karena saat itudia sedang tidak mood membaca, lantas dia punmemilih untuk tidak menghiraukannya. Maklumlah,saat itu dia memang lebih tertarik untuk terusmemperhatikan kecantikan Angel. Karena mengetahui Angel kecewa, Bobby punsegera memberi alasan. "Eng, ceritamu itu belumselesai kan? Terus terang, rasanya agak sulit bagikuuntuk memberikan penilaian terhadap sebuah karya 16
    • yang belum selesai. Sebaiknya kau selesaikan sajadulu, jika sudah selesai pasti aku akan membacanya,"jelas Bobby seraya tersenyum pada Angel. Karena alasan itulah, akhirnya Angel kembaliceria. Namun tak lama kemudian, keduanya sontakterdiam, merasakan getaran aneh yang begitu tiba-tiba—terasa begitu syahdu, bagaikan duduk di tepiantelaga yang tampak tenang, di temani oleh mendunyasimfoni alam dan pesona keindahan bunga warna-warni yang tumbuh di atas hijaunya hamparan rumput.Sungguh sangat membahagiakan dan begitumembuai sukma. Begitulah perasaan dua insan yangkini sedang dilanda asmara, merasakan indahnyacinta yang terus tumbuh berkembang dengan begitucepat. Akibatnya, mereka pun jadi tidak konsentrasi,hingga akhirnya mereka tak mampu lagimengungkapkan berbagai hal yang sebetulnyamenarik untuk dibicarakan. "Hmm... Sungguh dia memang manis sekali.Andai saja dia mau jadi pacarku... tentu aku akanbahagia sekali," ungkap Bobby dalam hati. "Tapi..." 17
    • seketika Bobby teringat dengan seorang gadis yangdijodohkan dengannya. Dialah Wanda, gadis manisyang menjadi pilihan orang tuanya. "Duhai Allah...Kenapa mesti dia? Mungkinkah aku bisa mencintaigadis yang selama ini hanya kulihat fotonya dankudengar suaranya saja. Jika aku boleh memilih, akulebih suka jika Angel yang menjadi pendampingku." "Kak Bobby, aku pulang ya!" pamit Angel tiba-tibamembuyarkan pikiran pemuda itu. "Pu-pulang? Bu-bukankah kau belum lama di sini.O, iya... Aku betul-betul lupa untuk menyuguhkanmuminum. Maaf ya, An! Sungguh aku benar-benar lupa,soalnya aku terlalu asyik berbincang-bincangdenganmu," ucap Bobby yang baru menyadari kalaudia memang belum menyuguhkan minum. Sungguhsaat itu Bobby tidak menghendaki jika Angel pergi darisisinya, yang kini sudah membuatnya begitu syahdu. "Kak... Sebetulnya aku mau pulang bukan karenaitu, tapi justru karena saat di rumah Raka aku sudahkebanyakan minum." 18
    • "Benarkah…? Jika begitu kenapa tidak bilang daritadi? Aku kan bisa menunjukkan kamar kecilnya." "Tidak usah deh, Kak. Terima kasih. Lagi pula,bukankah sekarang sudah terlalu malam." "Eng, baiklah… Kalau begitu, tunggu sebentar ya!Biar kupanggilkan Raka," pinta Bobby serayamemanggil Raka dan memberitahukan keinginanAngel. Maklumlah, saat itu Bobby menyadari kalauAngel adalah tamunya yang harus dihormati,bukannya pacar yang bisa ditahan dengan rayuangombal. Kini Bobby, Raka, dan Angel sudah kembalibertatap muka. "Kok cepat sekali ngobrolnya, An?"tanya Raka heran, padahal dia sendiri masih mauberlama-lama mendengar cerita adik Bobby soalpengalamannya di luar negeri. "Sudah cukup, Kak." jawab Angel tak maumengatakan hal yang sebenarnya. "O, ya. Bagaimana soal cover-nya, sudah belum?"tanya Raka lagi. "Nanti saja deh, kapan-kapan," jawab Angel. 19
    • Akhirnya Raka dan Angel pamit meninggalkanrumah Bobby. Pada saat yang sama, Bobby tampakmemperhatikan kepergian mereka dengan penuhperasaan rindu. Saat itu dia cuma bisa berharap,semoga dia bisa segera berjumpa lagi dengan gadisyang kini sudah melekat di hatinya. Setelah kedua tamunya kian menjauh, Bobby punsegera melangkah masuk. Kini pemuda itu sudahberada di atas tempat tidurnya, kedua matanya yangbening tampak memandang ke langit-langit, sedangpikirannya terus melayang—memikirkan gadis yangtelah mencuri hatinya. Sungguh saat itu dia sudahdimabuk cinta, sehingga perasaan rindu terusmendera dan membuatnya serba salah. Pada saatyang sama, Angel yang sudah tiba di rumah jugasedang memikirkan Bobby. Sungguh perasaan anehyang dirasakannya kini telah membuatnya betul-betulbingung. "Hmm... Apakah aku telah mencintainya?"tanya gadis itu dalam hati. "Sebab di-dia... Tidak...!!!Aku tidak boleh mengkhianati cinta sejatiku, sampaikapan pun aku akan terus mencintainya," kata Angel 20
    • yang tiba-tiba teringat kembali dengan cinta sejatinya."Ya, Tuhan... Sungguh aku merasa sangat berdosakarena hampir menghianati cinta sejatiku? Sungguhaku tidak mengerti, kenapa aku bisa sampai sepertiitu. Apakah itu lantaran kami tidak mungkin bersatu?Ya, Tuhan… Sungguh aku tidak mengerti, kenapahanya perbedaan lantas kami tak bisa bersatu?Padahal, kami begitu saling mencintai danmenyayangi. Sungguh aku tidak mengerti, kenapaEngkau membiarkan saja keinginan orang tuanyayang merasa berhak memisahkan kami?" tanya Angellagi seraya kembali teringat dengan berbagai kejadianyang begitu meresahkan hatinya. Malam itu, Angeldan Bobby sempat bertemu di dalam mimpi. Sungguhsebuah mimpi yang membuat keduanya seolah sudahbegitu dekat, hingga membuat cinta mereka kiantumbuh bersemi. 21
    • Esok paginya, Angel tampak sedang membacanaskah milik Bobby. Sungguh dia tidak menyangkakalau apa yang sedang dibacanya itu ternyata miripdengan apa yang dialaminya, yaitu mengenai cintasejati yang tak mungkin bisa bersatu. Dalam cerita itu,sang tokoh utama yang seorang pemuda tampanmemutuskan untuk melupakan cinta sejatinya. Hinggaakhirnya pemuda itu memutuskan untuk menikahigadis yang bukan cinta sejatinya lantaran alasanibadah. Walau pada mulanya gadis itu bukan cintasejatinya, namun pada akhirnya dia bisa mencintainyadengan sepenuh hati—layaknya dia mencintai cintasejatinya. Begitulah cinta, tumbuh karena terbiasa.Saat kekurangan bisa diterima dan perbedaanbukanlah masalah, maka manusia tak bisa mengelakdari cinta, cinta yang begitu membahagiakan danmembuat perasaan syahdu kala bersama orang yangdicintainya. "Ah, akhirnya selesai juga aku membacanya.Hmm… Menarik juga cerita ini, walaupun alurnyaagak sedikit berbelit-belit dan membuatku bingung. 22
    • Hmm... Ini pasti kisah nyata yang bercampur dengankisah fiktif. Entah yang mana yang nyata dan yangfiktif, tetapi aku yakin tokoh utamanya itu adalahpenulisnya sendiri. Hmm... Jadi, dia itu orang yangmudah jatuh cinta," pikir gadis itu mencurigai. Laludalam sekejap, perasaan cinta yang semula bersemimendadak mati begitu saja. "Tidak, aku tidak mungkinmencintai orang seperti dia, yang begitu mudahnyajatuh cinta. Sungguh dia tidak seperti cinta sejatikuyang selalu setia," pikir Angel lagi seraya menyimpannaskah yang baru dibacanya. "Tapi... Bukankah akujuga seperti dia, begitu mudahnya jatuh cinta," kataAngel lagi ketika dia kembali teringat denganperasaannya malam itu. Kini gadis itu tampak mengambil buku catatannyadan mulai membaca kisah nyata yang dialaminya, dansetiap kali dia membaca kisah itu, setiap kali itu puladia teringat akan kenangan indah yang pernahdialaminya. Duhai belahan jiwaku tercinta... Duhaipujaan hatiku tersayang.... Ketahuilah! Kalau akusangat mencintaimu, dan aku sangat menderita tanpa 23
    • kehadiranmu. Maafkanlah aku yang hampirmengkhianati cintamu!" Angel terus terlena di dalam lamunannya yangbegitu membuai jiwa. Sementara itu di tempat lain,Bobby tampak sedang memikirkan gadis yang kinisudah mengisi relung hatinya. Bahkan setiap usaisholat dia selalu berdoa agar Angel bisa menjadiistrinya yang shalehah dan kelak bisamembahagiakannya, hingga akhirnya pemuda itutersadar, kalau apa yang dicita-citakannya bisa sajatidak terwujud, dan itu semua karena dia menyadarikalau apa yang diinginkannya itu belum tentu sesuaidengan keinginan Tuhan. Karena itulah, dia punmenjadi lebih waspada untuk tidak sampai terjeratoleh jerat cinta yang membutakan dan tetap berusahamembuka diri untuk bisa mencintai yang lain. Sekilas dugaan Angel memang benar, kalauBobby memang orang yang mudah jatuh cinta. Tapisayangnya, gadis itu tidak menyadari kalau Bobbyjatuh cinta karena dia telah menangkap sinyal kimiayang telah dilepas Angel saat pertama kali mereka 24
    • berjumpa. Cinta Bobby sebetulnya bukan karena diamudah jatuh cinta, namun dia menjadi jatuh cintakarena Angel telah mengirim sinyal kimiakepadanya—yang tanpa disadari sudah terlepasketika dia menilai kalau Bobby adalah pemuda yangtampan. Jadi, sebetulnya Bobby itu bukanlah mudahjatuh cinta, namun mudah untuk mencintai. Sekilaskeduanya tampak sama, namun sebetulnya berbeda.Mudah jatuh cinta karena nafsu yang membutakan,yang mana berlandaskan hanya kepada kesenangansemata. Namun, mudah mencintai karena fitrahkemanusiaan, yang mana berlandaskan cintanyakepada Tuhan. "Duhai Allah... Jadikanlah dia sebagai istriku yangshalehah, istri yang bisa membahagiakanku di alamfana ini. Amin..." pinta Bobby yang lagi-lagi berdoakepada Tuhan setiap kali dia usai sholat. "Tapi...Bagaimana dengan gadis yang hendak dijodohkandenganku itu? Menurut ibuku, dia itu gadis yang baik,anak seseorang yang juga dari keluarga baik-baik.Bahkan Agustus nanti dia sudah diwisuda, dan itu 25
    • artinya sudah tidak ada kendala lagi untuk pernikahankami. Tidak seperti Angel yang statusnya belum jelassama sekali, apalagi dia itu masih sangat muda danmungkin belum ada pikiran untuk menikah. DuhaiAllah... Kenapa harus seperti ini? Kenapa aku harusmencintai gadis yang belum jelas itu. Apakah dia itumemang cinta sejatiku, sehingga aku begitumudahnya jatuh cinta. Padahal, aku sendiri belummengenalnya dengan baik." Pemuda itu terusmemikirkan pujaan hatinya, hingga akhirnya diatertidur dan bertemu dengannya di dalam mimpi. 26
    • DUA Cinta buta dan cinta sejatiT ut! Nat! Net! Not! Nat! Net! Not! Di hari minggu yang cerah, di sebuah telepon umum,seorang gadis tampak asyik berbincang-bincang.Rupanya Angel sedang menelepon Raka gunamengabarkan perihal naskah yang sudah dibacanya.Tak lama kemudian, “Nah, begitulah Kak. Tanpaterasa, akhirnya cerita itu selesai juga kubaca ," kataAngel mengabarkan. "Gila... Cepat juga kau membacanya," komentarRaka kagum. "Iya dong. Memangnya Kakak, biarpun sudahbulukan dan dimakan rayap tak akan pernahmembacanya." "Eit, jangan salah! Itu hanya berlaku untukkarangan penulis lain, tapi kalau untuk karanganBobby tentu ada pengecualian. Dia itu kan sahabatbaikku, dan aku merasa berkewajiban untuk bisa 27
    • menyelesaikannya walaupun dengan waktu yang agaklama." "Benarkah?" "Tentu saja. Ketahuilah! Selama ini Bobby sudahbegitu sering membantuku, bahkan dia rela untukmengalahkan kepentingannya sendiri. Sungguh dia itusahabat yang baik, dan tidak sepantasnya akumembalasnya dengan menyakiti perasaannya.Karenanyalah, biarpun aku tidak hobi membaca, tapiaku tetap berusaha untuk menyelesaikannya. Ya,seperti yang aku bilang tadi, walaupun dengan waktuyang agak lama. Tapi untunglah, Bobby bisamemahamiku sehingga dia pun tidak merasa kecewakarenanya." "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, aku bacalanjutannya dong! Sebab, kata Kak Bobby adalanjutannya." "Lanjutan apa?" "Lanjutan dari cerita yang kubaca ini. Kalau tidaksalah, judulnya Demi Buah Hatiku" "Lha... Naskah itu sih tidak ada padaku." 28
    • "Lantas, naskah yang ada pada Kakak itu apa?" "Yang ada padaku itu, Menuai Masa Lalu." "Ya... Bagaimana dong?" "Telepon dia saja!" "Aduh, Kak. Aku kan baru kenal. Masa sihlangsung menelepon dia." "Mmm... Bagaimana ya?" Raka tampak berpikirkeras. "Aduh, telmi amat sih nih kepala. Masamasalah begitu saja tidak bisa mikir," kata Rakaseraya melangkah berputar-putar sambil terusmenggenggam telepon selularnya. "Eng… Nanti sajadeh, An. Biar aku pikirkan dulu," kata Raka menyerah. "Iya, deh. Nanti kalau sudah kabari aku ya!" Setelah berkata begitu, Angel pun langsungmemutus sambungan dan melangkah pergi—meninggalkan telepon umum yang hanya berjaraklima meter dari rumahnya. Kini gadis itu sudahmerebahkan diri di tempat tidur. Kali kini dia tidakmemikirkan soal perasaannya kepada Bobby,melainkan lebih kepada lanjutan cerita dari naskahyang sudah dibacanya. "Hmm... Lanjutannya seperti 29
    • apa ya? Kata Kak Bobby waktu itu sih soal anak-anakdari tokoh utama yang sudah remaja dan menginjakdewasa. Pasti ceritanya akan lebih seru dari ceritayang baru kubaca itu, dan isinya pun tentu mengenaicinta anak remaja yang masih seumuran denganku." Angel terus memikirkan itu, hingga akhirnya diapun kebelet pipis. Sementara itu di tempat berbeda,Bobby tampak sedang memikirkan gadis yang maudijodohkan dengannya. Siapa lagi kalau bukanWanda. "Hmm... Kata ibuku, dia itu gadis yang patuhkepada orang tua. Dan katanya lagi, dia itu tidakmungkin menolak jika orang tuanya memang setuju.Aku heran, pada zaman modern ini masih ada sajagadis yang seperti itu. Dan aku sendiri, mau sajadijodoh-jodohkan. Hmm... Apakah itu karena akusudah putus harapan karena tak mampu mencarisendiri? Dan itu karena aku yang senantiasa berkatajujur, bahwa aku akan langsung menikahi gadis yangkucintai. Dan akibatnya, kebanyakan wanita justrumerasa takut karena belum siap, atau merasa takutkalau segala yang kukatakan adalah sebuah 30
    • kebohongan. Apalagi jika mereka tahu kalau akuadalah salah seorang yang mengerti dan setujudengan poligami, maka akan semakin menjauh sajamereka. Padahal mengerti dan setuju itu kan belumtentu akan menjadi pelakunya. Justru karenakemengertianku soal poligamilah yang membuatkujustru merasa takut untuk berpoligami. Sebab, bagiorang yang mengerti kalau berpoligami itu tidakmudah, tentu dia akan lebih mencari selamat, yaitudengan hanya beristri satu. Hmm... Bagaimana dengan Angel? Apakah diajuga akan seperti itu? Ya... Aku rasa dia pun sepertiitu. Kalau begitu, memang tidak ada salahnya jika akudijodohkan oleh orang tuaku. Aku sadar, kini akusudah semakin bertambah usia, dan orang tuakutentu sangat mengkhawatirkan aku yang hingga kinibelum juga menikah. Padahal, hampir semua temansebayaku sudah membina mahligai rumah tangga,malah dari mereka ada yang sudah dikarunia tigaorang anak. Mungkin juga orang tuaku sudah tidaksabar ingin menggendong cucu—anak dari buah 31
    • hatinya tercinta. Tapi... Bisakah aku bahagia bersamagadis pilihan orang tuaku itu tanpa dasar cinta samasekali. Terus terang, aku takut membina hubungantanpa didasari cinta. Beruntung jika kelak akumencintainya, kalau tidak... Bukankah itu akanmenimbulkan masalah." Bobby terus memikirkan perihal perjodohan itu,hingga akhirnya dia merasa pusing sendiri. BegitulahBobby yang senang sekali mendramatisasi keadaansehingga membuat kepalanya semakin mau pecah.Maklumlah, dia itu kan seorang penulis yang biasamendramatisir peristiwa yang biasa saja menjadiperistiwa yang luar biasa. Dan memang hal sepertiitulah yang dituntut bagi seorang penulis agar bisamenghasilkan karya sastra yang bagus dan bisadinikmati oleh pembacanya. Dua hari kemudian, Bobby menelepon Rakalantaran dia sudah sangat merindukan sang Pujaan 32
    • Hati. Maklumlah, selama dua hari ini dia selalumemimpikan Angel dan membuatnya merasa perluuntuk terus mencintainya. "Eh, nanti malam dia mau main ke rumahku,” jelasRaka mengabari. “Eng… Katanya, dia juga mau kerumahmu untuk mengembalikan naskah kemarin danmau membaca cerita lanjutannya.” "Benarkah?” tanya Bobby hampir takmempercayainya. “Benar, Bob. Tapi sayangnya, saat ini motorku lagiada masalah, dan karenanyalah aku tidak mungkinmengantarnya sampai ke rumahmu." Mengetahui itu, Bobby pun segera merespon,“Eng... Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana.” “Baiklah, Bob. Kalau begitu, kami akanmenunggumu di warung tempat biasa. ” “Iya, Ka. Sampai nanti malam ya. Bye..." pamitBobby dengan perasaan senang bukan kepalang.Maklumlah, nanti malam rindunya tentu akan segeraterobati. 33
    • Kini pemuda itu tampak duduk di ruang tamusambil memikirkan perihal pertemuannya malamnanti. Ketika sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba ibunya datang menemui. "Bob, Ibu mau bicara,"kata sang Ibu seraya duduk di sebelahnya. "Soal apa, Bu?" tanya Bobby seraya berusahamenerka dalam hati. "Begini, Bob. Tadi, ibu baru pulang dari rumahWanda, dan Ibu kembali berbincang-bincang perihalniat lamaran itu. Sungguh ibu tidak menduga, kalaukedatangan ibu telah disambut dengan begituberlebihan. Sampai-sampai mereka membuat kuespesial segala hanya demi menyambut kedatanganibu. Sungguh saat itu Ibu merasa tidak enak, belumapa-apa mereka sudah menyambut seperti itu.Bagaimana jika nanti ibu datang melamar, pastimereka akan menyambutnya dengan begitu meriah. Oya, Bob. Kata ibunya Wanda, sebelum Ayah dan Ibudatang melamar sebaiknya kau dan Wandadipertemukan dulu. Sebab katanya, pernikahan itubukanlah perkara main-main. Setelah menikah, kalian 34
    • tentu akan hidup bersama untuk selamanya—salingsetia dalam mengarungi bahtera rumah tangga hinggaajal memisahkan. Karenanyalah, agar tidak menyesalnantinya, kalian harus saling mengenal lebih dulu.Karena itulah, mereka sangat mengharapkankedatanganmu. Ketahuilah, Bob! Malam Kamis besokmereka mengundangmu untuk datang menemuiWanda," jelas sang Ibu panjang lebar. "Tapi, Bu..." "Sudahlah… Tidak ada tapi-tapian! Soalnya tadiIbu sudah berjanji, kalau kau akan datang MalamKamis besok. Malah Ibu sudah memberitahu, kalaukau itu anak yang berbakti pada orang tua dan tidakmungkin mau menolak keinginan kami yangmenghendaki Wanda menjadi istrimu," potong sangIbu tak mau mendengar alasan Bobby. "Jadi, itu artinya Bobby memang harusmenemuinya?" "Tentu saja, memangnya kini kau sudah tidak mauberbakti kepada orang tuamu lagi. Lagi pula, apa lagi 35
    • yang masih kau pikirkan, Bob? Wanda itu jelas gadisyang manis, baik, dan juga patuh kepada orang tua." "Bu... Se-sebenarnya. Bo-Bobby..." pemuda itutampak menggantung kalimatnya, "Eng... Bobby maludatang ke sana, Bu," lanjut pemuda itu tak maumengungkap hal yang sebenarnya, kalau dia itu sudahmempunyai gadis pilihannya sendiri, dialah Angel—gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. "Kau tidak perlu malu, Bob! Atau... Kalau perlu Ibuakan menyuruh Randy untuk menemanimu." Saat itu Bobby tak mempunyai pilihan lain yangterbaik, tampaknya dia memang harus datang kerumah Wanda demi baktinya kepada orang tua."Duhai Allah... Kenapa harus seperti ini? Padahal kiniaku sudah begitu mencintai Angel, seorang gadisyang menurutku baik dan bisa mengerti aku.Entahlah... Ini cinta buta atau bukan, yang jelas akusudah mempertimbangkannya dengan matang dansudah menerima apa pun kekurangannya. Jikademikian adanya, benarkah itu cinta buta, bukannya 36
    • cinta sejati yang tumbuh karena bertemu sangBelahan Jiwa?" ratap pemuda itu membatin. Sungguh pemuda itu sedang dilandakebingungan, apakah ia benar-benar telah terjeratoleh cinta yang membutakan sehingga ia pun menjadibegitu gegabah dalam memberikan penilaian.Padahal, dia sendiri belum mengenal Angel denganbaik. Sungguh mengherankan, kenapa dia bisasampai seperti itu? Bukankah banyak orang yangselalu menolak cinta lantaran belum saling mengenal,tapi dia justru malah sebaliknya—mengobral cintanyakepada orang yang baru dikenal. Benarkah itu cintabuta? Namun, bagaimana jika itu memang cintasejati? Malam harinya, Bobby segera memenuhi janjiuntuk mengantarkan naskah yang akan dibaca Angel.Setibanya di warung tempat Raka biasa nongkrong,dilihatnya Angel tampak duduk menunggu. Saat ituBobby langsung menghampiri dan duduk disebelahnya. "Hi, An. Apa Kabar?” sapa Bobby. 37
    • “Baik, Kak,” jawab Angel. “O ya, An. Ngomong-ngomong, Raka ke mana?"tanya Bobby yang tidak melihat kehadiran sahabatnya. "Dia lagi mengikuti pengajian rutin, Kak. Mungkinjam sepuluh nanti dia baru kembali. "O, begitu ya,” ucap Bobby seraya sekilasmemperhatikan wajah Angel yang manis. ”Aneh...Kenapa aku tidak merasakan perasaan seperti malamitu? Kenapa kini aku jadi biasa saja, tidak merasakangetaran cinta sama sekali?" tanya Bobby dalam hatimerasa heran. Wajar saja saat itu Bobby merasaheran, sebab saat itu dia tidak tahu kalau Angel takmelepaskan sinyal kimia lantaran dia lebih mencintaicinta sejatinya, dan dia sudah mengganggap Bobbyhanyalah sebagai teman biasa. Begitu pun denganBobby yang kini sedang bingung mengenaiperasaannya pada Angel, apakah yang dirasakannyaitu cinta buta atau bukan. Karena itulah, saat itukeduanya tidak bisa merasakan getaran emosionalyang biasa dirasakan jika mereka saling melepaskanzat kimia. Karena saat itu mereka tidak sedang 38
    • dipengaruhi oleh perasaan emosional, maka merekapun bisa berbincang-bincang dengan tanpa kendala. Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincangmengenai topik yang mereka minati, yaitu perihal tulis-menulis yang kini sudah semakin jauh berkembang.Disaat kebersamaan itu, hanya sesekali merekasempat merasakan getaran cinta, yaitu ketika matamereka saling beradu pandang. Namun hal itu tidakberlangsung lama, sebab keduanya selalu berusahaberpaling dan membuat getaran cinta itu kembalipadam. Kedua muda-mudi itu terus ngobrol hinggaakhirnya malam pun semakin larut. Namun ketikaRaka sudah pulang mengaji, saat itulah Angel mintadiantar pulang. Karena saat itu Raka tidak mungkinmengantarnya pulang, maka Bobby pun langsungmenawarkan diri. Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi itutampak sudah melaju menyusuri jalan yang mulaisepi. Di dalam perjalanan, Bobby kembali merasakangetaran cinta sama seperti yang dirasakannya malamitu. Begitu pun dengan Angel, saat itu dia tidak bisa 39
    • membohongi hatinya sendiri yang memang mencintaiBobby. Kini kedua anak manusia itu sudah kembalisaling mencintai, bahkan mereka sudah kembali bisaberkomunikasi dengan cara menebarkan zat kimiayang ditangkap oleh sensor khusus sehinggamembuat mereka merasa betul-betul syahdu. Selamadalam perjalanan, tak ada yang dipikirkan olehkeduanya selain cinta dan cinta, dan tak ada perasaanlain yang dirasakan selain bahagia dan bahagia. Danakibatnya, tidak sedikit para pengguna jalan yangmenjadi kesal lantaran ulah Bobby yang tampakmengusai jalan. Saat itu, sepertinya motor yangdikendarai Bobby berjalan dengan sendirinya, miripsekali dengan si mobil pintar yang bernama Kit dalamfilm Knight Rider, yang memang bisa berjalan sendirikarena telah dilengkapi dengan program pemanduotomatis. Tampaknya saat itu Bobby pun sedangmenggunakan pemandu otomatis yang berasal darialam bawah sadarnya, bahkan perjalanan yanglumayan jauh itu seperti sekejap saja dilewati, tahu-tahu kini mereka sudah berada di ujung sebuah gang. 40
    • Saat itulah, tiba-tiba Angel tersadar dan memintanyaberhenti. "Stop, Kak! Stop...! Sudah, Kak. Sampai disini saja!" pintanya kepada Bobby. Seketika Bobby tersadar dan segeramenghentikan laju sepeda motornya. "A-apa? Sampaisini saja?" tanya Bobby seraya memperhatikan kesekelilingnya. "Eng... Kau yakin aku tidak perlumengantarmu sampai ke rumah?" tanyanyakemudian. "Iya, Kak. Aku tidak mau merepotkanmu. Rakapun biasa mengantarku hanya sampai di sini. Sebab,rumahku kan masih cukup jauh, biarlah aku naikangkutan umum saja. Lagi pula, helm Kakak kancuma satu, nanti jika ada razia, Kakak pasti akan kenatilang." "Hmm... Kalau begitu baiklah. O ya, An. Kalausudah selesai membaca naskahku, jangan lupatelepon aku ya!" pinta Bobby kepada gadis itu. "Iya, Kak. Kalau sudah aku pasti akanmeneleponmu," janji Angel seraya turun dari motor 41
    • dan menatap pemuda itu. "Terima kasih ya, Kak! Kausudah mau mengantarku," ucapnya kemudian. "Sama-sama, An," balas Bobby seraya tersenyum. "Sudah ya, Kak! Aku pulang," pamit Angel. "Hati-hati ya, An!" pesan Bobby serayamemperhatikan kepergiannya. Tak lama kemudian, pemuda itu sudah kembalimelaju dengan sepeda motornya. Saat itu Bobbybegitu senang lantaran sudah bertemu dengan sangPujaan Hati. Dalam perjalanan, dia tak henti-hentinyamembayangkan wajah Angel yang begitu manis.Sungguh terasa menyejukkan jiwa, dan juga membuathatinya begitu berbunga-bunga. Sungguh dia tidakhabis pikir, kenapa perasaan itu bisa hadir kembali—perasaan yang sama seperti malam itu, yang manaterasa begitu syahdu karena telah berkali-kali diterpaoleh dasyatnya sinyal kimia yang ditebarkan Angel. Setibanya di rumah, Bobby langsung merebahkandiri di tempat tidur. Saat itu, ingatannya langsungmenerawang ke berbagai peristiwa yang barudialaminya. Sungguh semuanya itu adalah kenangan 42
    • terindah yang membuatnya betul-betul bahagia."Hmm... Angel memang betul-betul gadis yang manis.Candanya... Tawanya... Tatapannya... dan jugakeluguannya... Sungguh betul-betul membahagiakan.Oh, Angel… Aku sangat mencintaimu. Andai saja kaupunya telepon atau HP, tentu aku akan langsungmenghubungimu sekarang. Terus terang, baru jugakita berpisah, namun entah kenapa aku sudah begitumerindukanmu?" Bobby terus melamunkan Angel, hingga akhirnya,"Hmm... Dua hari lagi dia pasti sudah menghubungiku.Sebab, aku yakin sekali kalau dia akanmenyelesaikannya dalam waktu dua hari," dugaBobby seraya memejamkan kedua matanya karenasudah sangat mengantuk, hingga akhirnya pemuda itubetul-betul terlelap bersama mimpi indahnya. Sungguhsebuah mimpi yang begitu membahagiakan danmembuatnya betul-betul yakin kalau Angel-lah cintasejatinya. 43
    • Esok paginya Bobby sudah terbangun, dia dudukdi tepian tempat tidur sambil terus mengingat mimpiindahnya semalam. Di dalam mimpinya, Bobby danAngel sudah menjadi sepasang kekasih dan tengahberlibur dengan sebuah kapal pesiar. Lalu tanpadiduga-duga, kapal yang mereka tumpangi dihantambadai yang begitu dasyat, hingga akhirnya mereka punbisa menyelamatkan diri dengan sebuah sekocipenyelamat yang terus terapung-apung dan akhirnyamendekati sebuah pulau perawan. Sungguh indahnian pulau yang terpampang di hadapan mereka.Nyiur berjajar di sepanjang pantai, dan di belakangnyatampak bukit kecil yang menjulang—indah menghijau.Tak lama kemudian, sekoci yang mereka tumpangitampak merapat di tepian pantai berpasir putih, yangsaat itu terlihat laksana karpet yang membentangbersih. Lantas, keduanya pun melompat di atasnya,dan dengan kedua kaki yang sedikit terbenam—mereka tampak menyeka peluh di kening masing-masing. Maklumlah, cuaca saat itu memang sedang 44
    • cerah-cerahnya, dan itu semua lantaran sang Mentariyang sedang bergembira ria, membiaskan cahayanyadengan tanpa aling-aling. Sebagai ganti rasa panasyang menyengat itu, langit pun memberikankeindahan yang membahagiakan. Di atas kepalamereka, terlihat warna biru yang indah dengan hiasanawan putih yang berarak. Bersamaan dengan itu,beberapa burung camar tampak lincah menunggangiudara, bernyanyi riang dengan diiringi debur ombakyang menerpa pantai. Kini kedua muda-mudi itu tampak melangkahkankaki menuju teduhnya nyiur yang melambai. Saat itu,Bobby sempat mendongak melihat teriknya sinarmentari yang dengan sangat perlahan terus menurunmenuju horizon di ufuk barat. Setelah menikmati airkelapa yang dipetik Bobby, keduanya tampak dudukberdampingan sambil menikmati hembusan anginsepoi-sepoi yang terus bertiup. Sungguh terasa begitusejuk, sesejuk air kelapa yang baru saja menyegarkankerongkongan mereka. Tak terasa waktu begitu cepatberlalu, saat itu senja sudah tiba dengan 45
    • menyuguhkan panorama yang begitu menakjubkan.Betapa indahnya sang Mentari yang tengah kembalikeperaduan, sinarnya yang keemasan tampaksemakin mempesona oleh hiasan lembayung merahjingga, sungguh suasana saat itu terasa benar-benarbegitu romantis. Saat itulah Bobby dan Angel salingberciuman, dan ketika Angel hendak membukakancing baju Bobby, seketika itu pula Bobby langsungmenahannya dan mengatakan kalau perbuatan yangakan mereka lakukan itu adalah dosa. "Heran...? Kenapa dalam mimpi aku masih takutmelakukan itu? Padahal itu kan cuma dalam mimpi,tentu tidak berdosa jika aku sampai melakukannya,"kata Bobby menyesali dirinya yang sudah bertindakbodoh di dalam mimpinya. "Hmm… Lain kali, jika akubermimpi seperti itu, aku akan berusaha untuk tidakakan takut lagi. Sebab, hanya itulah kesempatankuuntuk bisa menikmati perbuatan dosa dengan tanpaberdosa," gumam Bobby asal seraya berkemas untukmandi. 46
    • Beberapa menit kemudian, Bobby sudah duduk didepan komputer dan menulis apa yang dialami didalam mimpinya. Dia sengaja menulis pengalaman didalam mimpinya sebagai bahan cerita yang kelakakan digarapnya. Apalagi kejadian seperti itu memangsangat jarang dialami, kebanyakan yang seringdialaminya adalah pertarungan melawan pocong,kuntilanak, ular, atau penjahat yang inginmembunuhnya. Dalam pertarungan itu, terkadang iamenang dan terkadang ia juga kalah dan matiterbunuh. Atau juga mimpi yang sangat mengerikan,seperti mimpi hujan meteor yang membuatnya betul-betul bisa merasakan kepanikan seperti yang pernahdisaksikannya pada film Armagedon. Atau juga perihalkehidupan setelah terjadinya perang nuklir, saat itu diamati dan dibangkitkan di padang masyar, di manabanyak orang yang mengantri menunggu giliran. Ataujuga mimpi aneh yang membingungkan, seperti saatdia mati dan akhirnya menjadi cahaya yang terbangmenembus jagad raya. Dan mimpi yang belum lamadialaminya adalah ketika dia menjadi salah satu 47
    • korban bom "teroris". Anehnya saat itu dia justrumerasa senang, bahkan disaat kematiannya diasempat tersenyum seraya mengucap dua kalimatsyahadat, dan bersamaan dengan itu rohnya punkeluar perlahan dari jasadnya. Saat itulah diamenyadari kalau dirinya sudah mati. Dan bukan itusaja, bahkan dia sempat menyaksikan teman dankerabatnya tampak berduka di saat pemakamannya.Bobby pun sangat senang dengan kematiannya itu.Sebab, dia bisa mengetahui kalau apa yangdilakukannya semasa hidup adalah benar. Buktinyasaat itu dia bisa bertemu dengan orang-orang yangsemasa hidup telah berjuang menegakkan kebenaran,dan dia pun telah dinyatakan mati syahid walaupunsaat itu kematiannya karena disebabkan oleh bom"teroris". Intinya adalah, siapapun dia, dan bagaimanapun cara kematiannya, jika selama hidupnya ditujukanuntuk berjuang di jalan Allah, maka matinya adalahsyahid fisabillillah, dan hal itulah yang sebenarnyamembuat dia begitu senang dengan kematiannya. 48
    • Sungguh semua mimpi Bobby itu terjadi karenadia mempunyai hobi nonton berbagai jenis film danmembaca beragam jenis bacaan. Akibat dari semuayang telah disaksikan, didengar, dan dibacanya itutentu akan terekam di memorinya, dan semua itusewaktu-waktu bisa keluar dalam bentuk mimpi,walaupun dia tahu kalau mimpi tak sekedar bungatidur namun ada juga yang merupakan pesan dariTuhan dan godaan setan. Karena semua itu keluardalam bentuk mimpi, maka Bobby pun bisa lebihmenjiwai karena saat itu dia memang betul-betulmengalaminya, yaitu di dalam mimpinya. Bobby punseringkali memanfaatkan mimpinya itu sebagai bagiandari proses kreatifnya dalam menulis cerita fiksi. "Nah selesai sudah... Judul cerpennya Terdampardi Teluk Biru. Cerita ini tentu akan menjadi menarikjika ternyata di pulau yang mempunyai teluk biru itudihuni oleh monster buas yang penuh misteri. Kalaubegitu aku akan mencoba untuk menulisnya," kataBobby seraya mulai menulis buah pikiran yang baru 49
    • tercipta di kepalanya, yaitu guna mengembangkancerpennya yang terinspirasi dari alam mimpi. Mendadak aku dikejutkan oleh suara yang begitumenyeramkan, sebuah raungan panjang yangterdengar begitu memilukan. “Hmm… Suara hewanapakah itu?” tanyaku dalam hati. Tiba-tiba suarahewan itu kembali terdengar, lantas aku pun mencobauntuk mendengarkannya dengan penuh seksama.Sungguh terdengar begitu menyeramkan, suaranya itukadang seperti lolongan memilukan dan terkadangseperti raungan amarah yang meluap-luap. Kini akuberdiri dari dudukku, lantas kupadangi bukit yangdipenuhi kabut. Lagi-lagi suara itu kembali terdengar.Saat itu keadaan memang sudah semakin gelap,namun begitu, sekilas aku sempat melihat sekelebatsinar merah yang menembus di kegelapan malam.Deg…kuterkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja sinaritu sudah mengarah kepadaku, bentuknya pun tampaksudah semakin jelas, yaitu menyerupai mata yangtampak begitu buas memandangku. Seketika aku 50
    • bergidik dan segera merapatkan tubuhku di sebatangpohon nyiur, tak jauh dari kekasihku yang kini sedangterlelap. Sejenak kuperhatikan kekasihku yangmungkin saja sedang bermimpi indah, dan ketika akukembali memandang ke arah sepasang mata ituberada, ternyata sepasang mata itu telah menghilang.Saat itu aku berniat untuk membangunkan kekasihku,namun... "Hmm... apa lagi ya?" tanya Bobby berusahamemikikan kejadian selanjutnya. Pemuda itu terus asyik dengan fantasinya, apalagisaat itu dia sedang berfantasi terdampar bersamagadis yang dicintainya. Sementara itu di tempatberbeda, Angel tampak sedang duduk termenung.Rupanya gadis itu sedang memikirkan Bobby,seorang pemuda tampan yang akan menjadi salahsatu tokoh dalam novel kisah nyatanya. Tak lamakemudian, gadis itu sudah mengambil pena dansegera menuliskan kisah yang dialaminya, yaitu dariawal pertemuannya dengan Bobby hingga akhirnya 51
    • dia jatuh cinta. Gadis itu terus menulis dan menulis,bahkan setiap kali dia mengingat semua itu, setiap kaliitu pula rasa cintanya kian tumbuh bersemi.Maklumlah, apa yang dialaminya bersama Bobbymemang hal-hal yang menyenangkan hatinya. Entahsuatu hari nanti, mungkin dia akan menangis setiapkali akan menggoreskan pena hitam miliknya. 52
    • TIGA Dering KegelisahanK RIIING…! KRIIING...! KRIIING...! terdengar dering telepon yang begitu menyebalkan.Sungguh bunyi itu telah mengganggu kenyamananBobby yang saat itu sedang serius menyimakperbincangan di televisi. KRIIING...! KRIIING...!KRIIING...! Telepon kembali berdering, namun tak adaseorang pun yang mau mengangkatnya. Mengetahuiitu, akhirnya Bobby terpaksa mengangkatnya sendiri."Ya, hallo!" sapanya kepada orang di seberang sana. "Eng, bisa bicara dengan Pak Dullah!" pinta orangdi seberang sana. "O, tunggu sebentar!" Pinta Bobby serayamengecek keberadaan ayahnya, dan tak lamakemudian dia sudah kembali. "Hallo!" sapanyakemudian. "Ya, Hallo." "Maaf, Pak. Pak Dullahnya baru saja pergi." 53
    • "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Eng... Tolong bilang sama Pak Dullah, agarsegera menghubungi Pak Saman, Penting!" "Iya, Pak. Akan saya sampaikan." "Kalau begitu, terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... "Aduh, pesan lagi," keluh Bobby karena terpaksadia harus terus mengingat amanat itu. Sebab jikatidak, dia pasti lupa. Maklumlah, Bobby itu memangpelupa, dan dia benar-benar merasa terbebani olehberbagai hal yang berhubungan dengan ingat-mengingat. Tadinya sih dia mau mencatat pesan itu,namun karena ballpoint yang biasanya ada di dekattelepon menghilang lagi, terpaksa Bobby jadi harusterus mengingat. Kini Bobby sudah kembali duduk di depan TV.Namun baru saja dia duduk sebentar, tiba-tibaKRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi teleponberdering dan membuat tensi Bobby menjadi naik.Kali ini Bobby tidak mempedulikannya, hingga 54
    • akhirnya ibunya yang baru saja selesai sholat buru-buru mengangkatnya. Begitulah keadaan setiap harinya, betul-betulmembuat Bobby merasa jengkel. Maklumlah, ayahBobby adalah seorang pejabat daerah tingkat rendah,dan ayahnya itu juga berkecimpung di dalam jaringanperdagangan benda antik maupun benda gaib, yangrelasinya adalah para kolektor dan juga para mafiabenda antik. Setiap harinya, ada saja orang mencariayahnya dan menitipkan pesan macam-macam,sehingga membuat Bobby terpaksa sering menjadisekretaris dadakan ayahnya. Esok harinya. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!lagi-lagi terdengar bunyi dering telepon yang begitumenyebalkan. Namun entah kenapa kali ini Bobbyburu-buru mengangkatnya, padahal semula diatampak begitu serius membaca buku. Sungguh sikappemuda itu lain dari biasanya, dia tampak begitu 55
    • bersemangat, bahkan rasa sakit akibat lututnyaterkena tepi meja tak dipedulikannya lagi. "Ya, hallo!"sapanya dengan hati berdebar. "Hallo! Bisa bicara dengan Pak Dullah!" pintaorang di seberang sana. "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby dalamhati seraya merasakan sakit di lututnya. "SebentarPak!" Pinta Bobby seraya mengecek keberadaanayahnya dengan agak terpincang-pincang. Tak lamakemudian, dia sudah kembali. "Hallo!" sapanyakepada si Penelpon. "Ya, Hallo." "Maaf, Pak. Pak Dullah tidak ada." "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Emm... Tolong bilang sama Pak Dullah agarsegera menghubungi Pak Dudung, Penting." "Iya, Pak. Insya Allah akan saya sampaikan." "Kalau begitu, Terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... 56
    • "Pesan lagi, pesan lagi..." keluh Bobby karenaterpaksa harus mengingat lagi. "Hmm... kenapa Angelbelum juga menghubungiku?" tanya Bobby serayakembali ke tempat duduknya. "Masa sih dia belumjuga selesai. Aku saja membaca dua naskahku sendirihanya membutuhkan waktu 6 jam, masa hingga kinidia belum juga selesai. Hmm... Apa dia sedang begitusibuk sehingga tidak sempat membacanya? Hmm...Apa dia malas untuk membacanya? Tidak...! Dia itugadis yang baik, dia pasti punya rasa tanggung jawabuntuk segera membacanya. Seperti halnya diriku,yang mana setiap kali diminta seorang teman untukmembaca naskahnya pasti langsung segerakuselesaikan. Sebab, aku yakin temanku itu tenturesah jika menunggu terlalu lama, tentunya waktubegitu berharga buat dia, sehingga jika aku sampaimenunda-nunda sama saja dengan menzoliminya.Aku yakin, Angel tidak akan mau menzolimiku, sebabdia itu gadis yang baik dan penuh tanggung jawab.Hatinya pun begitu lembut—selembut sutra, bahkansangat penyayang dan begitu perhatian. Hmm... kira- 57
    • kira kesibukan apa yang telah menghambatnyahingga dia tidak dapat menyelesaikan kewajibannya.Ah, sudahlah... Tentu kesibukannya itu lebih pentingdaripada harus membaca naskahku. Aku rela, jikakesibukan itu memang lebih penting. Biarlahnaskahku itu agak terlambat dari jadwal yang sudahkutentukan, asalkan dia bisa senang dan bahagiadengan segala urusannya." Kini Bobby sudah kembali membaca. Namun barusaja dia menyelesaikan satu halaman, tiba-tiba…KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi terdengardering telepon yang membuat pemuda itu buru-burumengangkatnya. "Ya Hallo!" sapanya kemudian. "Eng... Bisa bicara dengan Pak Dullah!" "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby lagi-lagikecewa. "Maaf, Pak. Pak Dullah tidak ada." "Eng... Kalau begitu bisa titip pesan!" "Ya, silakan!" "Emm... Tolong bilang sama Pak Dullah, agarsegera menghubungi Pak Manap, Penting." "Iya, Pak. Insya Allah akan saya sampaikan." 58
    • "Kalau begitu, Terima kasih ya... Permisi..." TUT... TUT... TUT... "Pesan lagi, pesan lagi..." keluh Bobby karenaterpaksa harus mengingat dua pesan yangmenjengkelkan itu. Kejadian serupa terus berlanjut, hingga akhirnyaBobby memutuskan untuk tidak mempedulikan deringtelepon berikutnya. Ketika Bobby baru selesaimenuntaskan bacaannya, tiba-tiba KRIIING...!KRIIING...! KRIIING...! lagi-lagi terdengar deringtelepon yang begitu menyebalkan. "Ah, biar ibuku sajayang mengangkatnya. Sekarang lebih baik kau nontonTV saja. " KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon kembaliberdering, namun ibu Bobby tak jua mengangkatnya."Hmm... bagaimana kalau itu telepon dari Angel. Jikatidak ada yang mengangkatnya bisa-bisa diamenyangka di rumah tidak ada orang. Kalau begitu,aku harus segera mengangkatnya," pikir Bobbyseraya mengangkat telepon yang terus berdering itu."Ya, hallo!" sapanya kemudian. 59
    • "Eng... Bisa bicara dengan Bobby!" "Aduh, ternyata bukan dia," keluh Bobby lagi-lagikecewa karena yang bicara itu bukan seorang gadis."Siapa, nih?" tanya Bobby kemudian. "Ini aku, Bob. Parhan." "O, kau Han. Ada apa?" "Emm... Kau mau beli tinta printer?" "Wah, tintaku masih banyak tuh." "O, kalau begitu ya sudah. O ya, Bob. Kalau sudahhabis telepon aku ya!" "Insya Allah, Han..." "Sudah ya, Bob. Bye..." "Bye..." TUT... TUT... TUT... "Duhai Allah... Kenapa harus seperti ini? Kenapadia belum juga meneleponku. Padahal, aku sudahbegitu merindukannya." Kini Bobby tampak terduduk lesu dengan keduamata yang memandang ke layar kaca. Saat itu, filmkartun Sponge Bob yang biasanya membuatnya 60
    • terpingkal-pingkal kali ini tidak berpengaruh samasekali. Hari demi hari telah berlalu, dan setiap deringtelepon yang didengar Bobby sungguh membuatnyaresah dan gelisah. Entah bagaimana dia harusbersikap terhadap dering telepon yang sering kaliberbunyi itu, haruskah dia mengangkatnya karenakhawatir Angel yang menelepon, atau tetap didiamkankarena dia tak mau dibebani lagi oleh berbagai pesanyang menyebalkan. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!tiba-tiba dering kegelisahan kembali berdering.Karena merasa khawatir, lantas Bobby pun segeramengangkatnya. "Hallo! Assalamu’alaikum...!" sapaorang yang ada di seberang sana. Saat itu hati Bobbybegitu senang bukan kepalang karena yangdidengarnya barusan adalah suara seorang gadis. "Ya, Wa’allaikum salam...!" sapa Bobby senang. 61
    • "Eng... Bisa bicara dengan Ibu Haji!" pinta gadisitu. "O, ini dari siapa?" tanya Bobby agak kecewa. "Dari Wanda, anak Bu Haji Endah." "Wanda?" Bobby agak terkejut karena gadis yangmenelepon itu ternyata gadis yang hendak dijodohkandengannya, dan gadis itu pun ternyata telahmengecewakan hatinya itu. Maklumlah, terakhir kalimereka bicara—mereka sempat bertengkar lantaranberpedaan pendapat. "Eng... Tunggu sebentar!" pinta Bobby serayamemanggil ibunya. Tak lama kemudian, Bobby sudah datangbersama ibunya. Saat itu Bobby langsung dudukmenonton TV, sedangkan sang Ibu langsungberbincang-bincang dengan Wanda. "O, begitu... Baiklah, nanti malam Ibu akan kesana. O ya, ngomong-ngomong kau mau bicaradengan Bobby?" tanya Ibu Bobby kepada Wanda."Tidak apa-apa, dia lagi tidak sibuk kok," jelas Ibu 62
    • Bobby melanjutkan, "Tunggu sebentar Ya!," pintanyakemudian. "Bob, ini Wanda mau bicara denganmu," katasang Ibu seraya menyerahkan telepon yang adadigenggamannya. "Ya, Hallo!" sapa Bobby kepada gadis itu. Saat itu Winda diam saja. "Kenapa kau hanya diam, Wan? Bicaralah…!"pinta Bobby kepada Wanda yang belum juga bicara. "Eng... Apa kabar, Kak?" tanya Wanda kepadaBobby. "Baik," jawab Bobby singkat seraya menunggukata-kata Wanda selanjutnya. "Kak... Ayo dong bicara!" pinta Wanda. "Lho, bukankah kau yang mau bicara?" "Aku bingung, Kak. Terus terang, aku tidak tahuharus bicara apa? Hmm... Enaknya bicara apa ya?" "Entahlah... Aku juga tidak tahu?" "Kak, kenapa sih sekarang Kakak jadi berubah?Kemarin-kemarin, Kakak begitu pandai bicara. 63
    • Kenapa sekarang jadi lain?" tanya Wanda yangmerasakan ada perubahan pada diri Bobby. "Entahlah... Mungkin karena sekarang aku lagitidak mood saja." "Eng.. Kalau begitu, kita bicaranya lain kali sajadeh, kalau Kakak sudah mood." "Maaf ya, Wan!" ucap Bobby yang mengetahuikekecewaan Wanda. "Tidak apa-apa, Kak. Kalau begitu sudah ya. O ya,salam buat Ibu. Wassalamu’alaikum..." "Wa’allaikum salam..." ucap Bobby serayamenutup telepon dan kembali duduk menonton TV. Kini Bobby kembali teringat dengan perbedaanpendapat waktu itu, yaitu perihal wanita karir yangtelah menjadi cita-cita Wanda. Oleh karena itulah,Bobby pun merasa tidak cocok jika menikah denganWanda. Maklumlah, Bobby memang tidakmenghendaki mempunyai istri yang seorang wanitakarir. Apalagi saat itu Wanda mengatakan kalau diasudah bertekad untuk menjadi wanita karir, walau apapun yang terjadi. Sejak mengetahui itulah, Bobby 64
    • memutuskan untuk menjauhi Wanda dan memilihAngel sebagai pendampingnya. Bahkan dia sudahyakin sekali kalau Angel akan menjadi ibu rumahtangga yang baik. Selain itu, dia pun mulai meyakinikalau Angel itulah cinta sejatinya yang sengajadipertemukan Tuhan demi untuk membahagiakannya. Kini Bobby sudah tidak memikirkan Wanda lagi,melainkan memikirkan Angel yang hingga kini belumjuga menelepon. "Ya, Tuhan... Aku bisa gila jika harusterus menunggu dan menunggu. Sampai kapan akuakan dibuat gelisah oleh setiap dering telepon yangberbunyi di rumah ini? Duhai Allah... Aku betul-betulresah dan gelisah..." Bobby terus memikirkan Angel. Sungguhperasaannya kini sudah menjadi tidak karuan. Segalakerinduan dan dering kegelisahan yang disebabkanoleh dampak pertemuannya dengan Angel betul-betulmembuatnya ingin mati saja. Begitulah cinta, yangdengannya manusia bisa menjadi serba salah.Terkadang bisa membuatnya bahagia dan terkadang 65
    • bisa membuatnya menderita. Sungguh cinta sebuahmisteri yang sulit untuk dipecahkan. Hari berikutnya, Bobby tampak sedangmelanjutkan kerangka karangan yang sedangdibuatnya. "Hmm... apa lagi ya?" tanya Bobby serayaberpikir keras mengenai peristiwa apa lagi yang akanditulis. "Hmm... Pada Bab Delapan ini harus adaperistiwa baru yang pembuka masuknya karakter Liadi dalam kehidupan Irfan. Hmm... Tapi peristiwa apaya yang enak untuk mempertemukan kedua karakterini?" tanya Bobby lagi-lagi berpikir keras. "Hmm... Liaitu kan sahabat Wina—gadis yang Infan cintai.Selama ini, Winalah yang telah memberikan saranuntuk Lia agar meninggalkan Irfan, sebab Lia menilaiIrfan hanyalah seorang buaya darat yang cuma maumempermainkan Wina. Selama ini Lia mengetahuiperihal Irfan cuma dari Lia, dan Lia sendiri memangbelum mengenal Irfan secara langsung. Begitu pun 66
    • dengan Irfan, dia malah tidak tahu kalau ada sahabatWina yang bernama Lia. O ya, bukankah Wina itupunya hobi chatting. Bagaimana jika merekaberkenalan di chat room saja, dan sejak perkenalanitulah mereka akhirnya akrab, dan Lia pun akhirnyamencintai Irfan yang saat itu menggunakan namasamaran Handi. Lia mencintai Handi karena Liamenilai Handi adalah pria yang baik dan penuhperhatian, apalagi ketika mereka saling bertukar Foto,maka semakin cintalah Lia karena Handi memangseorang pemuda yang tampan. Begitu pun denganHandi, lantaran dia sudah putus dengan Wina, dia punberniat menjadikan Lia sebagai pacar barunya. Hinggaakhirnya, jadilah mereka sepasang kekasih. Namunpada suatu ketika, Wina, Lia, dan Handy bertemu.Dan... Bingo!" Seru Bobby gembira seraya buru-burumenulis berbagai kejadian dramatis yang tiba-tiba sajatercipta di dalam benaknya. "Ah, akhirnya... Bisa jugaaku menemukan sebuah konflik yang justru membuatWina semakin mencintai Irfan! Dan itu karenakejujuran Lia yang memberikan penilaian siapa Irfan 67
    • itu sebenarnya. Dulu, Lia telah menganjurkan Winauntuk meninggalkan Irfan, namun karena Lia sudahmengenal Irfan, maka dia pun merasa berdosa jikatak berusaha mempersatukan mereka kembali.Hmm… Jika aku berhasil menutup cerita ini dengansebuah ending bahagia yang mengharukan, tentuceritaku ini akan menjadi cerita cinta yang menarik,"pikir Bobby penuh percaya diri. Setelah menemukan endingnya, akhirnya Bobbymulai menyelesaikan kerangka karangannya yangdiberi judul Keluguan dan Praduga. "Hmm... Tapikapan ya aku bisa mulai mengembangkan kerangkaini. Sungguh sekarang-sekarang ini aku sedang tidakmood menulis. Tapi..." tiba-tiba Bobby teringat denganartikel berjudul Sure! Kita tidak butuh Mood, Kok!Sebuah artikel yang bersumber dari Dunia Kata. Ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Salah satu berhala yang banyak dipuja olehpenulis—apalagi penulis fiksi—adalah mood. Merekabisa menulis dengan baik kalau sedang mood. 68
    • Sebaliknya, mereka akan berhenti menulis kalau lagitidak ada mood. Lama-lama mereka dikuasai mood.Mereka menulis atau tidak, bergantung pada moodatau suasana hati. Saya tidak tahu sejak kapan penulis sangatbergantung pada mood. Begitu bergantungnya padamood sampai-sampai mereka percaya mood sangatmenentukan lancar tidaknya menulis. Padahal, kitalahyang seharusnya menentukan diri kita sendiri. Kalaukita membiasakan diri untuk menulis apa saja; dalamsuasana gaduh atau tenang, dalam suasana penuhsemangat atau dingin tak bergairah, kita akan lebihproduktif sekaligus melahirkan tulisan yang lebihberbobot. Satu hal yang harus kita pompakan, menuliskarena memang ada yang harus kita sampaikan.Kalau mood sedang tidak bersahabat dengan kita,jangan dikasih hati. Tetaplah menulis. Insya Allah, kitaakan terbiasa sehingga dapat menulis dengan bagusanytime, anywhere, kapan saja, dan di mana saja. Pipiet Senja adalah contoh luar biasa. Dalamdirinya bergabung ketekunan, kerja keras, dan 69
    • kemampuan menulis kapan saja, di mana saja. Tidakbergantung pada mood. Pipiet Senja bisa menulissaat sakit, ketika harus terbaring di rumah sakit, atauketika sedang menghadapi beratnya persoalan hidup.Ia menulis dari zaman Remy Silado, ketika saya barubelajar membaca, sampai sekarang ketika penulis-penulis muda yang bersemangat sedang tumbuh. Adakemauan belajar yang luar biasa. Ada semangat yangsangat dahsyat untuk bisa senantiasa produktifmenulis kapan saja. Sekali lagi, kapan saja tanpabergantung pada mood. Ibu kita yang memiliki nama asli Etty HadiwatiArief ini sekarang sudah menghasilkan tidak kurangdari lima puluh lima buku, terdiri dari 25 buku ceritaanak dan 30 novel. Belum lagi ratusan cerpen yangtersebar di berbagai media massa dan belum sempatdibukukan. Luar biasa! Begitulah isi artikel yang membuat Bobby kembalibersemangat untuk menulis walaupun sedang tidakmood. Namun di lain sisi, dia pun merasa berat jika 70
    • harus menulis sedangkan pikirannya sedang tidakkonsentrasi lantaran memikirkan sang Pujaan Hati.Apalagi soal perjodohannya itu, sungguh membuatnyabetul-betul tertekan. Untuk saat ini, dia merasa yangenak itu bukan mengembangkan kerangka karanganyang baru diselesaikannya, melainkan hanya menulispuisi cinta mengenai perasaannya kepada sangBelahan Jiwa. "Hmm... Apakah kini aku sedang diperdaya olehbisikan setan yang menyesatkan, sehingga akumenjadi terlena dengan cinta yang membutakan.Padahal, masih banyak sekali hal penting yang bisaaku kerjakan. Bukankah aku ini diciptakan untukmenjadi khalifah, minimal untuk diriku sendiri, danbukan hanya memikirkan soal cinta yang justrusemakin membuatku tidak produktif. Tapi... Bisakahaku tetap produktif tanpa seorang pendamping yangmen-support aku, dan bisakah aku bertahan hiduptanpa perhatian dan kasih sayang dari orang yangmencintaiku. Bukankah sewaktu masih di surga, NabiAdam juga merasa kesepian karena tidak ada wanita 71
    • yang mendampinginya. Dan karena rasa kesepiannyaitulah lantas Allah menciptakan Hawa untuknya. Disurga saja Nabi Adam merasa seperti itu, apalagi akuyang hanya tinggal di dunia, yang di dalamnya penuhdengan duri-duri yang menyakitkan. Hmm…Tampaknya cintaku kepada Angel hanyalah cintabuta, sebab akibat dari cinta itulah kini aku menjadidemikian. Bukankah cinta sejati itu adalah cinta yangmembuat manusia justru semakin bersemangat dalammengisi kehidupannya." KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon tiba-tibakembali berdering. "Ah, sudahlah... Biarpun dia ituAngel atau hanya orang sakit jiwa yang mau mencaribenda magis aku tidak perlu mengangkatnya.Pokoknya kini aku sudah tidak peduli, dari padanantinya aku dipusingkan dengan berbagai pesanyang tak penting—pesan yang sebetulnya malas akusampaikan karena membuatku ikut terlibat denganurusan yang kuanggap berdosa itu, yaitu mengenaiperdagangan benda magis. 72
    • Sungguh aku sangat menginginkan ayahku itumau sadar, kalau apa yang dilakukannya selama ini—memperdagangkan jimat atau benda magis adalahsalah. Namun saat ini aku memang tidak bisa berbuatbanyak, soalnya ilmu agamaku hanya sedikit,sedangkan ilmu agama ayahku yangmemperbolehkan kepemilikan jimat atau benda magissudah sangat beliau kuasai. Kata ayahku, kalausebenarnya jimat atau benda magis secara khususmemang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAWsehingga tidak masuk ke dalam Syariat Islam yangdiajarkan olehnya. Sebab firman Allah terbagi menjadidua bagian, yaitu yang tersurat berupa Al-Quran danyang tersirat yaitu segala kemahakuasaan Allah SWTyang tampak di mata dan hati manusia. Sungguhsebuah pendapat yang betul-betul membingungkanku.Tapi, ya sudahlah... Aku tetap pada keyakinankusendiri, dan biarlah ayahku dengan keyakinannyapula, yang penting buatku adalah aku tidak mau ikutcampur dan terlibat dengan segala urusannya yangtak sejalan denganku. Kini yang bisa aku lakukan 73
    • hanyalah berdoa agar beliau mau kembali ke jalanyang lurus, amin…" ucap Bobby penuh harap. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! telepon kembaliberdering, saat itu Bobby masih tak maumenghiraukannya. KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...!telepon masih terus berdering, namun Bobby masihtak menghiraukannya, saat itu dia malah asyikmenulis sebuah puisi kerohanian. Pada saat yangsama, di seberang sambungan, di sebuah teleponumum yang sepi, seorang gadis tampak berdiri resah."Hmm... Kenapa belum juga diangkat?" tanya Angelgelisah. "Mmm... Apa mungkin di rumahnya sedangtidak ada orang. Tapi... Bukankah kata Raka, Bobbyitu jarang pergi ke mana-mana. Apa lagi ibunya, yangsetiap hari selalu ada di rumah. Hmm... Apa mungkinsaat ini aku sedang sial? Sebab, bisa saja saat inimereka memang sedang pergi. Kalau begitu,sebaiknya aku telepon lain waktu saja," pikir Angelseraya menutup telepon dan segera melangkah pergi. Malam harinya, Angel kembali menelepon Bobby.Namun saat itu masih tak ada seorang pun yang 74
    • mengangkatnya. "Hmm... kalau begitu besok sajakutelepon dia," kata Angel yang masih bisa bersabar.Sungguh Angel tidak tahu, kalau sebetulnya Bobbysudah melepas line telepon lantaran kesal danmerasa terganggu oleh dering telepon yang di rasakanbegitu menyebalkan. 75
    • EMPAT pertemuanC esss! Cesss! Cesss! Harum minyak wangi tercium hampir di sekujur tubuh Bobby.Rupanya di malam Kamis yang mendebarkan ini,Bobby terpaksa datang menemui Wanda gunamemenuhi keinginan orang tuanya. Dia sengajadatang sendiri lantaran tidak mau jika perjodohannyasampai tersebar luas dan menjadi gosip tak sedapyang beredar di kampungnya. Maklumlah,sebelumnya Bobby juga pernah dijodohkan denganseorang gadis manis. Belum juga mereka salingbertemu, ternyata gosip sudah merebak hingga kepelosok kampung. Kontan Bobby dan gadis itumenjadi malu dibuatnya, apalagi setelahpertemuannya waktu itu, yang membuat Bobbyterpaksa menolak si Gadis lantaran tak mencintainya.Akibatnya, mereka pun terpaksa menanggung maludua kali lebih berat lantaran batalnya perjodohan. 76
    • Bobby tak mencintai gadis itu lantaran dia terlaluserius, bahkan tingkahnya pun terlalu kaku dan sukadibuat-buat. Padahal, Bobby lebih suka kepada gadismanja yang bertingkah apa adanya. Maklumlah, dia ituseorang pekerja keras yang sering bergelut denganurusan serius. Karenanyalah, dia mendambakanseorang wanita yang tidak terlalu serius dan bisamenghiburnya dengan segala tingkahnya manjanya.Saat itu Bobby betul-betul kasihan dengan gadis yangterpaksa menanggung malu lebih berat dari yangdipikulnya. Sebab, gadis itu sempat cerita kepadabeberapa temannya kalau Bobby adalah calon suamiyang sangat dicintainya. Karena pengalaman itulah,akhirnya Bobby lebih berhati-hati dan tak mau sampaimengulangi untuk yang kedua kali. Setibanya di rumah Wanda, Bobby langsungdipersilakan duduk dan segera dipertemukan dengangadis yang selama ini hanya dilihat fotonya dandidengar suaranya saja. "Hmm... Ternyata dia lebihmanis daripada fotonya, dan jika dibandingkan 77
    • dengan Angel jelas dia itu lebih manis," ungkap Bobbydalam hati. "Kok diam saja, Kak?" tanya Wanda kepadaBobby. "Aku bingung, Wan," jawab Bobby singkat. "Kalau bingung, kenapa tidak pegangan saja,Kak?" Mengetahui anjuran itu Bobby langsungmembatin, "Heran...? Memangnya tidak ada kalimatyang lain, apa? Kenapa harus kalimat itu yang dipakaiuntuk anjuran orang yang sedang bingung?" "Kenapa, Kak?" tanya Wanda heran karena Bobbytak merespon kelakarnya. "Tidak... Aku cuma heran saja. Kita ini kan barubertemu, tapi kenapa kau justru menganjurkankuuntuk memegang tanganmu," jawab Bobby asal. Mendengar itu Wanda langsung merespon, "Enaksaja... Bukan pegang tanganku, tahu. Tapi apa sajayang bisa dibuat pegangan." "Apa coba. Memang di dekatku ada yang bisadibuat pegangan selain tanganmu itu?" 78
    • "Hmm... Memangnya Kakak sering berpikirannegatif ya?" "Negatif? Bukannya kau yang berpikiran begitu,masa baru bertemu sudah memintaku untukmemegang tanganmu." "Sudah ah, Kak! Aku tidak mau membahas soalitu. Lebih baik kita bicara yang lain saja!" "Hmm… Enaknya bicara apa ya?" tanya Bobbybingung. "Eng... Apa ya…? O ya, kenapa Kakak mau sajadijodoh-jodohkan? Memangnya Kakak tidak bisa carisendiri ya?" “Enak saja tidak bisa cari sendiri. Eh, Wan? Kalaukau mau tahu, sebenarnya…” Bobby tidakmelanjutkan kata-katanya. “Sebenarnya kenapa, Kak?” tanya Wandapenasaran. "Mmm... Sebenarnya aku mau dijodoh-jodohkankarena aku percaya kalau pilihan orang tuaku-lahyang terbaik. Ya benar, kalau itu memang yang 79
    • terbaik, kenapa tidak. O ya, ngomong-ngomong… Kausendiri kenapa mau saja dijodoh-jodohkan?" "Aku ini kan anak yang berbakti kepada orang tua,Kak. Jadi, apa pun yang menurut mereka baik, tentubaik untukku." "Kok jawabannya nyontek sih?” “Tidak kok, memang begitu kenyataannya.” “Benarkah begitu? Eng… Sekarang aku tanyapadamu. Seandainya kau itu bukan dijodohkandenganku, namun dengan seorang lelaki separuhbaya yang jelek. Apa kau tetap mau berbakti?" "Kak... Orang tuaku tidak mungkinmenjodohkanku dengan lelaki seperti itu." "Lho, kenapa tidak mungkin? Jika orang tuamumeyakini kalau orang itu baik dan bisa membuatmubahagia, kenapa tidak?" "Jelas saja tidak… Sebab, mana mungkin akubisa bahagia dengan orang seperti itu." "Apa kau sudah pernah mencobanya?" "Belum sih... Tapi kan, aku sudah bisamemprediksi." 80
    • "Prediksi? Itu artinya kau masih ragu, dankeraguan itu tidak bisa dijadikan sebuah pegangan." "Kau betul, Kak. Itu memang tidak bisa dijadikanpegangan. Tapi, bukankah yang terbaik itumeninggalkan sesuatu yang masih meragukan.Soalnya hal itu kan berisiko tinggi. Beruntung jika akubisa bahagia. Kalau tidak, bagaimana coba?" "Kau benar. Jawabanmu itu memang tepat sekali.Andai saja kau bisa menerapkan hal itu dalam urusanakhirat, tentu kau akan menjadi wanita yangberuntung." "Lho... Apa hubungannya?" "Begini, Wan. Bukankah sekarang ini banyakorang yang berani melakukan hal-hal yang masihmeragukan. Misalkan pacaran, dusta putih, bungabank, dan masih banyak lagi. Bukankah hal seperti itumasih meragukan karena adanya berbedaanpendapat, bahkan kini sudah menjadi polemik yangterus berkepanjangan. Ketahuilah…! Hal seperti itujelas sangat berisiko untuk urusan akhirat. Bukankahkau bilang, yang terbaik itu meninggalkan sesuatu 81
    • yang masih meragukan, dan hal itu pulalah yangmenjadi salah satu penyebab aku tidak mau pacaran.Ketahuilah…! Selama ini, setiap kali aku mencintaiseorang gadis, maka aku akan berusaha untuk segeramenikahinya. Namun karena mereka memang tidaksiap, akhirnya aku pun terpaksa terus menjomblo.Karena itulah, akhirnya orang tuaku tidak sabar lagidan berusaha menjodohku dengan pilihan mereka.Dan karena aku tidak mempunyai pilihan terbaik,terpaksa aku menurut saja, itung-itung demi baktikupada mereka. Lagi pula, aku percaya kalau orangtuaku tidak akan membuatku menderita, mereka pastimencarikan gadis yang terbaik untukku. Bukankahkau juga demikian, mempercayai kedua orangtuamu?" "Ya, aku pun begitu, Kak. Karenanyalah, aku puntidak menolak ketika dijodohkan dengan Kakak.Hingga akhirnya, malam ini kita sengaja dipertemukanagar bisa lebih saling mengenal." "Ya, kau benar. Semoga kita bisa saling mengenaldengan cara yang benar, yaitu tidak berkembang 82
    • menjadi proses pacaran yang di luar batas kesusilaan,seperti yang selama ini dilakukan oleh kebanyakanorang. Akibatnya, banyak sekali wanita yang menjadikorban, yaitu hamil di luar nikah. Bahkan tidak sedikityang menjadi pembunuh lantaran tidak menghendakianak yang dikandungnya. Sungguh semua itu adalahbukti kalau pacaran sangatlah berbahaya. Beruntungbagi mereka yang masih mempunyai iman, kalau tidaktentu akan bernasib sama." "Kak… Aku pun tidak mau jika pertemuan ini akanberkembang menjadi seperti itu. Karena itulah, akuharap Kakak mau jujur dalam mengungkap jati diriKakak yang sebenarnya. Setelah itu, aku pun akanmelakukan hal yang sama. Jika kita sudah salingmengenal, walaupun cuma sebatas kulitnya, lalu mauberkomitmen untuk menerima berbagai hal yang kitasepakati bersama, tentunya tidak ada alasan bagi kitauntuk tidak segera menikah. Namun, jika ternyata kitatidak bisa berkomitmen karena adanya perbedaanyang sangat prinsipil, tentunya tidak ada alasan pulabagi kita untuk terus melanjutkannya." 83
    • "Ya, aku setuju. Sekarang pun aku akan memulaidengan memberitahu beberapa sifatku yang mungkintidak kau sukai. Ketahuilah! Aku ini orang yang agakkeras kepala dan pemarah. Tapi kau jangan khawatir,kekerasan kepalaku dan kemarahanku itu adalahInsya Allah sesuatu yang tidak bertentangan denganAl-Quran dan Hadits Rasul, atau boleh dikatakan akumemegang teguh prinsipku dalam upaya menegakkankebenaran. Sebab manusia yang tidak mempunyaiprinsip itu bagaikan air di daun talas, yang tidakmempunyai pendirian yang kuat sehingga bisa mudahterombang-ambing oleh pengaruh lingkungan." "Ya... Sepertinya memang begitu. Dari semula akusudah bisa menduga, kalau Kakak memanglah orangyang demikian. Ketahuilah, Kak! Aku pun sebenarnyaorang yang seperti itu. Dan bukan itu saja, aku jugaseorang yang kekanakan dan bisa membuat kesalbanyak orang. Sesungguhnya yang memberikanpenilaian begitu bukanlah aku, tapi orang tua dan jugateman dekatku yang selama ini sudah begitumengenalku." 84
    • "Benarkah demikian?" Wanda mengangguk. "Eng... Apa menurut Kakak,aku ini bisa menjadi pendamping yang baik buatKakak?" "Kenapa tidak. Jika kau memang mau mengikutipetunjuk Al-Quran dan Hadits aku percaya kau pastibisa menjadi pendamping yang baik untukku." "Eng… Kalau ternyata aku tidak mau mengikutipetunjuk kedua kitab itu, bagaimana?" "Lho... Bukankah kau itu orang Islam. Sebagaiorang Islam, kau wajib untuk mengikuti petunjukkeduanya. Kalau tidak, tentu keislamanmu itu perludipertanyakan. Ketahuilah! Dulu aku ini termasukorang yang tidak mau mengikuti petunjuk Al-Qurandan Hadits. Namun begitu, aku tidak mau menyerahkalah. Karenanyalah aku terus belajar untuk menjadilebih baik, dan aku akan terus berusaha untuk bisamenyempurnakannya, yaitu dengan berpegang teguhkepada ajaran Rasulullah, yaitu hidup hari ini haruslebih baik dari hari kemarin. Dan ukuran lebih baik itubukanlah materi, melainkan takwa dan keimanan. 85
    • Itulah kenapa manusia dikaruniakan dengan akalpikiran, yang dengannya manusia dituntut untuk terusbelajar dan belajar sehingga ia bisa memahami tujuanhidup yang sesungguhnya. Ketahuilah! Hidup itu adalah memilih takdir, danjika manusia memilihnya berdasarkan Al-Quran danHadits Rasul, maka nilainya adalah ibadah. Namunjika tidak, maka nilainya adalah durkaha. Buah dariibadah adalah pahala, dan buah dari durkaha adalahdosa, maka hasil timbangan dari keduanya itulah yangakan menentukan takdir manusia masuk surga atauneraka. Untuk lebih jelasnya aku akanmenggambarkan sebuah diagram yang berhubungandengan hal itu. Kalau boleh, bisakah akumeminjamkan ballpoint dan selembar kertas!" "Kalau begitu tunggu sebentar ya, Kak!" kataWanda seraya melangkah ke kamar. Tak lamakemudian, dia sudah kembali. "Ini, Kak," kata Wandaseraya menyerahkan selembar kertas dan ballpointkepada Bobby. 86
    • "Terima kasih, Wan. Sekarang coba kauperhatikan baik-baik diagram yang kugambar ini!"pinta Bobby seraya menggambarkan sebuah diagramsederhana. Saat itu Wanda tampak memperhatikandengan penuh seksama. "Nah... Selesai sudah. Kiniaku akan menjelaskannya padamu. MANUSIA & JIN DI DUNIA BERBAGAI TAKDIR TAKWA DURKAHA TIMBANGAN AMAL SURGA KEPUTUSAN ALLAH NERAKA Lantas, Bobby pun mulai menjelaskannya,"Ketahuilah! Kalau manusia dan jin itu dipersilakanuntuk memilih berbagai takdir yang sudah tersediadan tertulis jelas pada kitab Lauhul Mahfuzh. Kitab ituadalah "Listing Program" kehidupan manusia dan jindi Jagad Raya, dan juga keadaan Jagad Raya itusendiri. Sebab, dari awal penciptaan hingga 87
    • kematiannya, segala tingkah laku dan perbuatanmanusia memang sudah ditentukan di dalam kitabtersebut, baik itu segala yang baik maupun segalayang buruk, bahkan segala potensi yang dimilikinyapun sudah tertulis dengan jelas. Begitu pun dengankeadaan Jagad Raya ini, yang dari awalpenciptaannya adalah bermula dari sebuah ledakanDahsyat (Big Bang) hingga akhirnya menjadi Jagadraya yang sempurna dan terus mengikuti HukumSunatullah (Hukum ketentuan Allah) yangkesemuanya sudah ditentukan pada kitab LauhulMahfuzh. Bahkan dari partikel debu hingga keadaanJagad Raya seluruhnya, semua sudah ditentukan.Juga dari sebuah huruf hingga ensiklopedia,semuanya juga sudah ditentukan. Subhanallah...Coba kau bayangkan! Sebuah daun kering yangsedang gugur! Daun kering itu tampak terbangmelayang dengan berliuk-liuk, kemudian jatuh di atasaliran sungai, lalu hanyut bersama aliran air yang terusmengalir, hingga akhirnya daun itu tenggelam di dasarsungai, kemudian membusuk dan terurai. Sungguh 88
    • semua peristiwa itu—dari mulai gugurnya daun hinggasampai mengurainya sudah tertulis jelas di kitabLauhul Mahfuzh. Lantas untuk bisa memilih dengan baik, Allah punmenurunkan kitab suci dan juga para rasul yang bisadijadikan teladan oleh umat manusia. Bukan hanyamanusia, tapi juga oleh bangsa jin yang hidup di alamgaib. Untuk lebih jelasnya, aku pun akanmenggambarkan diagram berikut ini," kata Bobbyseraya kembali menggambar sebuah diagram. "Nah...selesai sudah. Sekarang Coba kau perhatikan baik-baik!" pinta Bobby kepada Wanda. Mengetahui itu, Wanda pun segeramemperhatikan diagram itu dengan penuh antusias.Diperhatikannya alur takdir yang sama sekali belumdimengertinya, dahinya pun tampak berkerut penuhtanda tanya. Pada saat itu, kepalanya pun langsungpening tujuh keliling. Namun begitu, dia tidak maumengungkap hal itu kepada Bobby lantaran takutmembuatnya tersinggung. Karenanyalah, Wanda punterus memperhatikan diagram itu sambil terus 89
    • berusaha memahami maksudnya. "Maaf, Kak. Akumasih belum mengerti. Bisakah Kakakmenjelaskannya padaku!" pinta gadis itu menyerah. "Eng... Baiklah... Aku akan menjelaskannyapadamu. Kalau begitu, tolong perhatikan baik-baik!"kata Bobby seraya mulai menjelaskan diagram yangtelah membuat kepala Wanda jadi pening. ALLAH ADAM & HAWA KITAB SUCI DUNIA MANUSIA & JIN DI DUNIA BERBAGAI TAKDIR TAKWA DURKAHA TIMBANGAN AMAL SURGA KEPUTUSAN ALLAH NERAKA "Ketahuilah! Sebelum manusia, Allahmempercayakan kalau dunia yang diciptakan-Nyaagar ditempati, dinikmati, dan dirawat baik-baik olehbangsa jin. Namun ternyata bangsa jin justru 90
    • merusaknya dan tidak mau menikmatinyasebagaimana mestinya, yaitu menikmatinya sesuaidengan keinginan Allah. Karena itulah lantas Allahmembuat sebuah skenario baru, yaitu agar manusiabisa menggantikan peran jin di dunia. Untuk tujuanitulah lantas Allah menciptakan Adam dan Hawa yangdengan perantara Iblis akhirnya harus tinggal di dunia.Penciptaan Adam pun sebetulnya juga sebagai ujianuntuk golongan jin, apakah mereka memang masihpantas menyandang gelar kekhalifahan di muka bumi.Namun ternyata, bangsa jin memang sudah tidakpantas lagi. Terbukti, saat itu jin yang paling taat danpaling cerdas di antara golongannya ternyata malahmembangkang ketika disuruh melakukan sujudpenghormatan kepada Adam, dan itu akibat darikesombongannya. Dialah jin yang bernama Iblis,pemimpin dari golongan jin yang memang tak pantasmenyandang gelar khalifah lantarankesombongannya. Coba kau bayangkan!Pemimpinnya saja sudah seperti itu, lantasbagaimana dengan yang dipimpinnya? Sungguh 91
    • mereka memang sudah tidak pantas lagi untukmenjadi khalifah di muka bumi. Begitulah cara Allah bekerja, yaitu denganmenciptakan berbagai takdir yang harus dipilih olehmakhluk ciptaan-Nya. Lantas agar manusia bisamemilih dengan baik, Allah pun membekali manusiadengan akal dan hati nurani agar bisa melindungimanusia dari pilihan yang salah. Karena kedua hal itumasih belum cukup, lantas Allah pun menurunkanNabi dan Rasul yang membawa pesan kebenaran.Hingga akhirnya pesan kebenaran itu menjadi kitab-kitab suci yang kita kenal sekarang, yaitu Zabur,Taurat, Injil, dan yang telah disempurnakan yaitu Al-Quran, yang diturunkan sebagai Mukjizat untuk Rasulyang paling dicintai-Nya yaitu Muhammad SAW. Ketahuilah! Sewaktu di alam roh, setiap jiwasudah menandatangani kontrak perjanjiannya denganAllah, yaitu manusia bersedia untuk menjadi khalifahdi muka bumi ini—yaitu untuk menjadi seorangpemimpin yang bisa membuat kehidupan di duniamenjadi seperti keinginan Allah. Jika setiap jiwa tidak 92
    • melanggar perjanjian itu, maka ia akan dihadiahkanSurga. Namun jika dia melanggar, tentu saja dia akanmendapat sangsinya, yaitu Neraka. Itulah salah satuhakikat tujuan diciptakannya manusia, yaitu menjadikhalifah yang bertakwa kepada Allah—TuhanSemesta Alam, yang senantiasa menyembah danberibadat hanya kepada-Nya." "Benarkah begitu?" tanya Wanda ragu. "Ya begitulah yang selama ini telah kupelajari, dansemua itu memang ada di dalam Al-Quran." "Tapi kenapa aku tidak ngeh." "Mungkin itu karena selama ini kamu cumamembacanya saja, namun tidak menghayatinyadengan sepenuh hati." "Wajar saja aku cuma bisa membacanya, aku kantidak mengerti bahasanya." "Lho bukankah Al-Quran terjemahan BahasaIndonesia yang dilengkapi dengan tafsir sudah banyakberedar. Dan jika kau masih bingung, kau pun bisamenanyakannya kepada orang yang kau anggappandai. Ketahuilah! Jika orang memang bersungguh- 93
    • sungguh mau belajar, aku yakin… dengan kuasa-Nya,Allah akan membukakan pintu taufik dan hidayahkepada hamba-Nya yang memang mau bersungguh-sungguh. Dengan begitu, orang itu pun akan semakingiat untuk mau belajar dan belajar, hingga akhirnyadia bisa menemukan apa yang sedang dicarinya, yaitukebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan kebahagiaanitu sendiri bersifat relatif, tergantung bagaimana iabisa menyikapinya. Kaya, sederhana, maupun miskinbukanlah ukuran dan tidak bisa menjamin seseorangakan bahagia. Sebab, biarpun kaya, jika manusiatidak bersyukur, maka ia akan menderita. Tapi,biarpun miskin, namun jika ia senantiasa bersyukur,maka ia pun akan bahagia. Untuk lebih jelasnya, akuakan menggambarkan sebuah diagram lagi untukmu,"jelas Bobby seraya mulai menggambar. "Nah selesaisudah. Sekarang coba kau perhatikan baik-baik!"pinta Bobby kepada Wanda. "Lagi-lagi diagram," keluh Wanda dalam hatiseraya menuruti apa yang Bobby katakan. 94
    • Kini gadis itu tampak memperhatikan diagram itudengan penuh keterpaksaan, dan karenaketerpaksaan itulah, akhirnya Wanda menjadi tidakikhlas mendengar semua perkataan Bobby. "Nah... Sekarang kau akan menjelaskannyapadamu," kata Bobby seraya mulai menjelaskanmaksud diagram itu. MANUSIA EGO AKAL NURANI KAYA SEDERHANA MISKIN Bahagia Menderita Bahagia Menderita Bahagia Menderita "Ketahuilah! Pada awalnya, takdir manusia sudahdi tentukan sama. Namun akan menjadi berbedasetelah dia mulai memilih. Manusia hidup kaya bisabahagia dan juga bisa menderita, manusia hidupsederhana bisa bahagia dan juga bisa menderita,manusia hidup miskin bisa bahagia dan juga bisamenderita. Semuanya tergantung kepadapamahaman manusia itu sendiri tentang agama dan 95
    • juga nilai ketakwaannya kepada Allah. Itulah yangakan menentukannya akan hidup bahagia atau tidak.Sebab dengan adanya pemahaman agama yang baikdan juga nilai ketakwaan yang baik, maka manusiabisa mengambil putusan dengan cara yang baik danbenar pula. Pemahaman agama yang baik bergunauntuk bahan pertimbangan akal, sedangkan takwaberguna untuk membersihkan nurani. Takwa ituadalah mau mengamalkan semua perbuatan baik(Perintah Allah) dan mau menjauhi semua perbuatanburuk (Larangan Allah). Akal manusia membutuhkanyang namanya petunjuk, dan petunjuk yang lurus ituadalah Al-Quran dan Hadits. Nah, untuk lebih jelasnyaaku akan menggambarkan sebuah diagram lagi. SETAN AL-QURAN & HADITS ALLAH EGO AKAL NURANI PUTUSAN 96
    • Pada mulanya akal bertanya, manakah yangterbaik dari ketiga pilihanku ini. Lantas akal segeramenimbangnya. "Hmm... yang mana ya?" tanya akalbingung. Saat itulah Ego bermain, ia menganjurkanakal untuk memilih berdasarkan kesenangan dunia.Mengetahui itu, Nurani pun tidak tinggal diam, iamenyarankan untuk memilih berdasarkanpertimbangan akhirat. Saat itulah Ego dan Nuranisemakin gencar bertarung membenarkanpendapatnya masing-masing, dan dari pertarunganpendapat antara Ego dan Nurani itulah, akhirnya akalkembali melakukan penimbangan. Dan disaatmenimbang itulah dibutuhkan petunjuk yangberdasarkan kepada Al-Quran dan Hadits. Jika saat itu nilai ketakwaan manusia masihkurang, maka akal akan lebih condong menuruti ego.Namun jika saat itu nilai ketakwaan manusia baik,maka akal akan lebih condong menuruti nurani. Jikamanusia menuruti ego risikonya lebih besar ketimbangmenuruti nurani. Sebab jika menuruti ego karenabisikan syetan tentu ia akan celaka, namun jika 97
    • menuruti ego dan masih dilindungi oleh Allah tentu iamasih bisa selamat. Karenanyalah, lebih aman adalahdengan mengikuti nurani. Namun sayangnya,kemampuan nurani dalam upaya memberi petunjuktergantung kepada kebersihannya. Ia bisa diibaratkandengan gelas bening yang berisi air jernih yang secaraotomatis bisa menjadi kotor. Jernih dan kotornya airdalam gelas tergantung tingkat ketakwaaanseseorang. Semakin tinggi nilai ketakwaan manusia,maka akan semakin jernih air dalam gelas. Begitu punsebaliknya, semakin rendah nilai ketakwaan manusia,maka akan semakin kotor air dalam gelas. Jika airdalam gelas sangat jernih, maka setitik pasir pun akanmudah terlihat. Namun jika air dalam gelas kotor,maka segenggam batu pun tak mungkin terlihat. Karenanyalah, orang yang nuraninya bersih akanmudah untuk membedakan, mana perbuatan baik danmana yang buruk, mana yang menguntungkan danmana yang merugikan, mana yang jujur dan manayang bohong, mana yang jahat dan mana yang baik.Begitu pun sebaliknya, jika nurani kotor maka dia akan 98
    • sulit untuk bisa membedakan. Jika sudah begitu,nurani tidak bisa diandalkan untuk memberitahukanakalnya. Hanya kasih sayang Allah saja yang bisamenyelamatkan manusia dari nurani yang kotor, yaituAllah menundukkan ego dan memberi kesempatanpada nurani agar mau menasihati akal guna mencarihidayah-Nya. Nah... Begitulah proses akal manusia menentukanpilihan. Jika manusia tidak mau menggunakanakalnya dengan baik dan benar jelas ia akan tersesat.Karenanyalah, jika manusia yakin kalau ia bisamenjadi kaya tanpa menghalalkan berbagai cara dandengan tujuan yang mulia untuk membantu sesama,maka ia boleh menjadi kaya. Namun jika sebaliknya,maka kaya bukanlah sebuah pilihan yang baik.Begitupun dengan pilihan miskin, jika ia miskin danmenyusahkan orang lain maka pilihan miskin punbukanlah yang terbaik. Dan sebaik-baiknya pilihanadalah hidup sederhana, sebab Rasullullah punmemang menganjurkan demikian. Sebaik-baiknyapilihan adalah yang pertengahan. Ketahuilah, jika 99
    • suatu saat ia sudah siap menjadi orang kaya, maka iaakan menjadi orang kaya yang bertakwa dan sangatdermawan. Kenapa bisa begitu? Sebab biarpun diamemiliki harta yang berlimpah ruah, ia tetap akanmemilih untuk hidup sederhana dan bersahaja. Lalusecara otomatis harta yang berlebihan itu tentu akania hambur-hamburkan untuk tujuan yang mulia.Begitupun jika suatu saat dia sudah siap untukmenjadi orang miskin, maka ia akan menjadi orangmiskin yang zuhud, yang senantiasa bertakwa kepadaAllah dan tidak pernah menyusahkan orang lain,” jelasBobby panjang lebar. “Hmm… Jadi, menjadi orang kaya, sederhana,atau miskin itu adalah pilihan takdir? Dan itu artinya,kita sendiri yang menentukan kita mau kaya,sederhana, atau miskin.” Komentar Wanda seakanmengerti. “Benar sekali, sebab Allah menghargai setiapusaha yang manusia lakukan. Karena itulah sistemtakdir yang sudah Allah tetapkan adalah, setiapmanusia yang mau berusaha memilih takdir dengan 100
    • baik, maka akan mendapat hasil yang baik pula. Tapijangan lupa, bahwa pilihan seseorang jugadipengaruhi oleh pilihan orang lain. O ya, ada sebuahcontoh lagi mengenai pilihan, yaitu seandainyadihadapanmu ada dua buah jembatan gantung yangmelintasi jurang, yang satu masih baru dan tampakkokoh, sedangkan yang satunya lagi sudah lama dantampak lapuk. Nah, dari kedua jembatan itu manakahyang kau pilih untuk diseberangi?” tanya Bobbymenambahkan. “Tentu saja jembatan yang baru itu pilihanterbaik,” jawab Wanda. “Hmm… Jika kau mengira demikian, makapilihanmu kurang tepat. Sebab, apa yang tampak baiklewat pandangan manusia, belum tentu baik di mataAllah. Coba kau pikirkan, bagaimana jika jembatanyang menurut pengelihatanmu itu kokoh ternyatamenyimpan sebuah kelemahan, ada pengikat tali yangkendor, atau dibuat dengan bahan berkualitas rendahmisalnya, sehingga saat jembatan itu dilewati, bisasaja tali jembatan itu terlepas dan akhirnya 101
    • membuatmu celaka. Dan siapa yang mengira kalaujembatan yang tampak sudah lapuk ternyata justrumasih kuat lantaran dibuat dengan bahan yangberkualitas tinggi. Karena itulah, sebaiknya tidakmenilai sesuatu dengan mengandalkan perangkatindra manusia saja, namun yang terbaik adalah jugadengan berdoa, memohon petunjuk Allah agar bisamemilih dengan baik. Sesungguhnya sikap kehati-hatian itu tidaklah menjamin manusia akan selamat,namun petunjuk dan pertolongan Allah-lah yang bisamembuatnya selamat. Begitulah takdir. Sebenarnya semua pilihan yangpositif sama saja. Lantas kenapa semua itu bisamenjadi begitu sulit dan membuat kepala jadi pusingtujuh keliling. Sebab, manusia terkadang memanglebih condong kepada ego dan lebih sukamenyombongkan diri. Aku pun terkadang masihseperti itu, sebab pemahamanku tentang agamamemang masih jauh dari sempurna, dan juga nilaiketakwaanku pun masih jauh dari sempurna. Namunbegitu, lagi-lagi aku akan terus berusaha untuk bisa 102
    • menyempurnakannya, yaitu dengan berpegang teguhkepada ajaran Rasulullah, yaitu hidup hari ini haruslebih baik dari hari kemarin. Karena itulah, aku akanberusaha untuk lebih berhati-hati dalam memilih! Danaku pun sudah semakin yakin kalau sebaik-sebaiknyapilihan adalah yang berdasarkan petunjuk dari Allah,yaitu Al-Quran dan Hadits. Selain itu, aku pun terusberusaha untuk selalu bertakwa kepada Allah agarnurani senantiasa bersih sehingga ia mampu menjadipenasihat akal yang bisa diandalkan. Terakhir, akuberusaha untuk selalu berdoa memohon petunjuk dankeselamatan hanya kepada Allah, kemudianbertawakal hanya kepada-Nya,“ jelas Bobby lagipanjang lebar. "O ya, Kak. Ngomong-ngomong, dari ketiga pilihanitu, mana yang Kakak pilih?" "Jelas aku lebih memilih menjadi orangsederhana, sebab aku khawatir jika aku terobsesimenjadi orang kaya bisa-bisa aku menghalalkanberbagai cara, dan jika sudah menjadi orang kayabisa-bisa malah terlena dengan kekayaanku. 103
    • Karenanyalah kini aku hanya berniat untuk membukasebuah usaha kecil yang halal lagi berkah. Semogadengan begitu, aku pun bisa hidup sederhana dantidak menjadi orang miskin yang menyusahkan oranglain—menjadi penjahat kelas teri demi untuk sesuapnasi misalnya." "Kak, terus terang aku salut akan keputusanmuitu." "Terima kasih, Wan. Alhamdulillah... Itu karenaaku mau memilih takdirku dengan berpedomankepada Al-Quran dan Hadits. Tanpa itu, mungkin kiniaku sudah menjadi orang yang suka menghalalkanberbagai cara." "Hmm... Sepertinya kini aku sudah mulai bisamemahami perihal takdir. Dan sepertinya, hal itu sulituntuk bisa direalisasikan. Sebab jika melihat kondisisekarang, dimana orang-orang lebih condong untukmenghalalkan berbagai cara. Hal itu sama jugadengan melawan arus. Dan jika kita melawan arus,bukankah itu berarti menyulitkan diri sendiri?" 104
    • "Ya, aku akui. Hal itu memang tidak mudah.Namun sebagai manusia, kita wajib untuk berusaha,dan apa pun hasilnya kita pasrahkan kepada sangPencipta." "Wah, sungguh sulit bisa kubayangkan kalau akuakan hidup susah lantaran melawan arus. Dan akupun tidak yakin, apakah aku bisa tahan melalui semuaitu?" "Percayalah! Kalau Allah sudah mengukurkemampuan setiap manusia. Bahkan denganpetunjuk-Nya, Insya Allah manusia akan mampumelalui semua itu. Karenanyalah, Allah pun telahmenjanjikan surga untuk mereka yang mau berjuangmengikuti kemauan-Nya. Sebab surga itu sendiriadalah sebuah pilihan yang membuat orang awammenjadi termotifasi untuk berbuat baik. Jangan kansurga, jika kau mau mewujudkan impianmu meraihkesenangan dunia, maka kau pun tentu harus bekerjakeras untuk bisa mewujudkannya, sekalipun dengancara menghalalkan berbagai cara. Terkadang akusuka heran, kenapa untuk kesenangan dunia yang 105
    • hanya sementara orang mau mati-matian untuk bisamendapatkannya, namun untuk kesenangan akhiratyang kekal orang malah enggan untuk meraihnya." "Itu karena urusan akhirat tidak bisa langsungdirasakan kenikmatannya. Berbeda dengan urusandunia, yang jelas-jelas memang bisa langsungdirasakan." "Siapa bilang seperti itu? Ketahuilah! Bagi orangyang betul-betul sudah bisa memahami artikehidupan, maka ia bisa langsung merasakankenikmatannya, sekalipun masih hidup di dunia. Danmotifasinya berbuat baik dunia pun bukanlah lagikarena menginginkan surga, melainkan lebih karenarasa cintanya kepada Allah." "Hmm... Apakah Kakak sendiri sudah bisamerasakan itu?" "Jujur saja, belum. Mungkin semua itu karena akuyang selalu gagal pada setiap ujian, sebab akumemang belum sepenuhnya bisa istiqamah." Mengetahui jawaban itu, Wanda langsungmembatin. "Huh, sok alim sekali dia. Dari tadi sok 106
    • menasihati aku, padahal dia sendiri juga belum apa-apa," keluh Wanda dalam hati. "O ya, Kak. Jikamemang benar demikian, kenapa Kakak bisa yakin?" "Sebab, aku memang sudah membaca riwayatorang-orang yang sudah mengalami hal itu. Lagi pula,apakah kita harus merasakannya dulu, baru setelahitu percaya. Itu sama saja dengan merasakannikmatnya makanan tanpa melalui proses masuknyamakanan ke dalam mulut. Sungguh sesuatu yangmustahil bisa dilakukan manusia, kecuali ia sedangbermimpi." "Maaf ya, Kak. Ngomong-ngomong, aku sudahmengantuk sekali, nih. Lagi pula, apa Kakak tidakcapek karena dari tadi terus menceramahiku?" "Menceramahimu? Ketahuilah, aku ini diciptakanadalah untuk menjadi khalifah, dan karenanya akumerasa perlu untuk menyampaikan apa yangmenurutku perlu untuk disampaikan. Sekarang akutanya padamu, apakah menurutmu aku salah karenamenunaikan kewajibanku untuk menyampaikan nilaikebenaran. Apakah menurutmu aku harus 107
    • meninggalkan kewajibanku itu dan menjadi berdosakarenanya? Padahal jelas-jelas kita ini diperintahkanuntuk menyampaikan kebenaran walaupun cuma satuayat." "Lho... Kenapa Kakak malah marah padaku?" "Ti-tidak… Aku tidak marah. Eng… Aku hanyamerasa kecewa pada diriku sendiri, kalau ternyataaku belum mampu untuk menyampaikan nilaikebenaran dengan cara yang tepat dan efektif.Terbukti segala apa yang kusampaikan tidak terserapsesuai dengan harapan. Aku pun merasa kau pastimenilaiku sebagai orang yang sok alim yang kata-katanya tak patut untuk didengarkan, apalagi diikuti.Padahal, sesungguhnya kebenaran itu tetaplahkebenaran walaupun nilai kebenaran itu disampaikanoleh seorang penjahat sekalipun. Dan aku merasa,nasihat-menasihati sesama saudara seiman masihdianggap sesuatu yang menyakitkan. Sungguh akutidak mengerti, kenapa masih ada orang yangmenganggap kalau nasihat itu hanya pantas disampaikan oleh seorang Da’i atau Alim Ulama saja, 108
    • padahal sebetulnya tidak demikian. Intinya adalah,siapa pun dia selama yang dikatakannya itu sebuahkebenaran maka kita wajib mendengarkan danmentaatinya. Aku tanya padamu. Apakah kau lebih senang jikaaku bersikap masabodo dengan tanpa menyampaikannilai kebenaran padamu. Perlu kamu ketahui juga, sokalim itu adalah sebuah bentuk kesombongan karenamanusia merasa sudah berbuat baik. Dan apakah akumemang orang yang seperti itu, padahal akumenyadari betul kalau aku ini hanyalah makhluklemah yang menggantungkan hidup hanya kepadaAllah (dalam hal apa saja, termasuk kebaikan, yaitutaufik dan hidayah), dan aku telah diberikan tugasuntuk mematuhi segala perintah-Nya. Pantaskah akumenjadi sombong jika aku menyadari hal yangdemikian. Ketahuilah, aku ini makhluk yang tak mungkin bisamulia jika tanpa mempedulikan kemuliaan manusialain. Tanpa itu, manusia tak mungkin sempurnakemuliannya, tak lengkap nilai kemanusiaannya yang 109
    • sudah ditugaskan untuk menjadi khalifah di mukabumi ini. Jika tidak melakukan tugas mulia itu, aku inisama saja seperti hewan yang diciptakan hanyasekedar untuk berkembang biak dan memenuhikebutuhan hidupnya, bahkan ada hewan yang samasekali tidak peduli dengan hewan lain yang menjadimangsa atau pemangsa, sebab yang terpenting bagihewan adalah bagaimana ia bisa mempertahankankehidupannya sendiri dengan tanpa mempedulikankehidupan hewan lain. Karenanyalah, aku tidak mauseperti hewan. Aku ini manusia yang sudahdikaruniakan akal pikiran, yang dengannya aku bisamenjalani kehidupanku sebagai manusia. Namunbegitu, aku tidak akan memaksakan nilaikemanusiaanku kepada orang lain. Sebab aku sadar,kalau kewajibanku hanya menyampaikan dan harusbelajar hidup dari kesalahan dan kekurangan manusialain. Sekali lagi aku bertanya padamu, apakah yangkulakukan ini salah?" "Maaf, Kak! Bukan maksudku menilai Kakakseperti itu. Dan kalau aku boleh jujur, sebetulnya aku 110
    • belum siap mendengar ceramah Kakak itu. Ups!Maksudku, mendengar pesan kebenaran yang Kakaksampaikan itu. Terus terang saja, aku pusing Kak." "Hmm... Baiklah kalau itu yang kau inginkan, dankalau kau memang sudah mengantuk sebaiknya akumemang harus mohon diri. O ya, tolong sampaikansalamku untuk kedua orang tuamu. Sudah ya, Wan.Assalamu’alaikum!" "Wa’allaikum salam!" balas Wanda serayamemperhatikan kepergian pemuda itu. Setibanya di rumah, Bobby tidak langsung tidur.Tapi dia malah memikirkan kata-kata Wanda yangmembuatnya semakin yakin kalau dia memang bukancinta sejatinya. "Hmm... Ternyata dia memangbukanlah gadis yang baik untukku. Buktinya dia belumsiap dan merasa pusing dengan pesan kebenaranyang kusampaikan, dan itu artinya dia belummendapatkan taufik dan hidayah dari Allah sehinggaapapun pesan kebenaran yang kusampaikan justrumenjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya.Sungguh sangat berbeda dengan Angel, yang justru 111
    • sangat senang jika aku berbicara hal-hal yangmenyangkut kerohanian. Hmm... Sepertinyaperjodohan ini pun tidak akan berlangsung lama,sebab aku memang masih sulit untuk bisa mencintaiwanita seperti itu. Semula aku sempat mengira kalauia adalah gadis yang baik, sebab dari kata-katanyamemang sangat meyakinkan. Namun setelah akuberbicara lebih lanjut, akhirnya sifat aslinya pun mulaikelihatan, kalau dia memang bukanlah gadis yangbaik seperti anggapanku semula. Lagi pula kini akusudah menyadari, kalau berbakti kepada orang tua itutidak berarti harus mentaati kemauan mereka yangjelas-jelas tak sesuai dengan hati nuraniku." Begitulah Bobby menilai Wanda hingga akhirnyadia memutuskan untuk tetap mencintai Angel—Gadisyang diyakini sebagai cinta sejatinya. 112
    • LIMA Penantian yang menjemukan rum! Brum! Bruuummm! Bobby tampak melajuB dengan sepeda motornya menuju ke rumahRaka. Kini dia sudah kembali melakukan aktifitasnyasebagai manusia yang mempunyai kesibukan, bahkankini dia sudah tidak terlalu memikirkan Angel danWanda. Maklum, belakangan ini kehidupannya jaditerbengkalai cuma gara-gara memikirkan soal jodoh. "Ka, kau sudah bertemu dengan Aldo?" tanyaBobby. "Belum, memangnya kenapa?" Raka balikbertanya. "Tidak... Aku cuma tahu saja mengenai naskahterakhirnya. Soalnya belum lama ini dia datang kerumahku dan memperlihatkan sebuah kerangka ceritaanak-anak. Jika kulihat dari kerangkanya sepertinyaseru juga, yaitu mengenai petualangan lima oranganak yang kesemuanya berbeda agama. Aku jadi 113
    • penasaran, seperti apa ya jadinya? Sekarang kita kerumahnya yuk!" "Wah, Sorry nih. Satu jam lagi aku harus sudahberada di warnet. Biasa… Ada masalah denganjaringan," tolak Raka. "Ya sudah kalau begitu. Eng… Bagaimana jikasetelah membetulkan jaringan saja kita ke sana?" "Eng, kalau kau memang mau menunggu sih tidakapa-apa. Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!" Lantas ke dua pemuda itu pun berangkat menujuwarnet. Setibanya di tempat tujuan, Raka langsungmelakukan tugasnya membetulkan beberapakomputer yang jaringannya sedang bermasalah. Padasaat yang sama, Bobby tampak asyik berbincang-bincang dengan seorang penulis senior yang memangsering berkunjung ke warnet itu. Maklumlah, penulissenior itu sengaja datang ke warnet lantaran diagaptek alias gagap teknologi. Seperti waktu itumisalnya, ketika dia hendak memindahkan data dariPDA terbarunya ke komputer, saat itu dia betul-betulbingung dengan berbagai fitur yang ada. Namun 114
    • karena di tempat itu ada operator warnet yang sudahmengusai, maka dia pun menjadi terbantu. "Lagi upload naskah baru, Pak?" tanya Bobby. "Iya, nih. Soal kerusakan situs bersejarah karenagempa tempo hari. O ya, sekarang lagi menulis apa?" "Biasa, Pak. Masih cerita fiksi." "Good! Teruskan saja! O ya, yang lalu sudah terbitbelum?" "Belum, Pak. Masih proses. Tapi sepertinya sihbakal ditolak lagi." "Huss! Jangan fesimis begitu. Itu artinya kau tidakyakin kalau karyamu itu bagus. Padahal kesuksesanseorang penulis itu dikarenakan dia meyakini betulkalau karyanya itu memang bagus. Kau kan tahukalau penerbit bukan cuma satu, tapi ada banyak. Jikakau sudah tidak yakin dengan karyamu sendiri,bagaimana mungkin kau percaya diri untukmengajukannya ke penerbit yang lain. Iya kan?" "Bapak betul. Enam karyaku yang dulu ditolak kinicuma jadi konsumsi teman-teman dekatku, dan itulantaran aku sudah memfonis kalau karyaku itu 115
    • memang tidak pantas terbit. Maklumlah, sebab pihakpenerbit mengatakan kalau karyaku itu belummemenuhi standard. Dan karenanyalah, aku jadi tidakyakin kalau karyaku akan diterima oleh penerbit lain.Terus terang saja, saat ini aku memang masih belummengerti tentang standard yang harus dipenuhi padasetiap penerbitan. Andai saja pihak penerbit maumengemukakan alasannya dengan lebih jelas,mungkin akan lebih membantu." "Anak muda... Ketahuilah! Standard setiappenerbit itu berbeda-beda, dan itu tergantung dari visidan misi mereka dalam menerbitkan sebuah buku.Jika karyamu ditolak karena tidak sesuai denganstandard mereka, itu artinya karyamu tidak sejalandengan visi dan misi mereka. Karenanyalah... Kauharus mencari penerbit lain yang mempunyai visi danmisi sama sepertimu. Jika tidak... Itu artinya kau cumamembuang-buang waktu." "O, jadi begitu... Berarti, penerbit yang selama inikupercaya, ternyata tidak mempunyai visi dan misiyang sama denganku. Dan itu artinya, mereka tidak 116
    • sejalan dengan perjuanganku dalam upayamenegakkan kebenaran." "Tepat, begitulah kira-kira... Maklumlah, bukankahsetiap manusia itu mempunyai ideologi yang berbeda-beda, dan karena itu pulalah yang menyebabkankaryamu dinilai tidak pantas karena mungkin sajabertolak belakang dengan ideologi mereka." "Wah, itu artinya aku harus berjuang keras untukmenemukan penerbit yang mempunyai ideologi samadenganku." "Tepat, begitulah kira-kira... Sebab, ideologi yangdianut itu bisa mempengaruhi mereka dalammenentukan penerbitan sebuah buku. Maklumlah,terkadang ada saja penerbit yang takut untukmenerbitkan sebuah buku lantaran takut akandampaknya, yaitu karena bisa menjadi kontroversidikalangan masyarakat. Beruntung jika mayoritasmasyarakat mendukung, namun jika tidak, tentu bukuitu akan ditarik dari peredaran. Dan itu artinya, merekaharus menanggung kerugian. Jika penerbit yangorientasinya mencari keuntungan tentu hal itu sangat 117
    • menakutkan. Lain halnya dengan penerbit yangmemang betul-betul mau memperjuangkanideologinya, mereka akan berani menanggung apapunrisikonya. Karenanyalah, kau memang harus mencaripenerbit yang mempunyai ideologi sama sepertimu,sehingga mereka bersedia menerbitkan karya-karyamu demi sebuah perjuangan." "Wah, repot juga kalau begitu. Ideologi dalam satuagama saja bisa sangat beragam, apalagi di negeriini, yang mempunyai beragam agama, tentu ideologiyang ada akan semakin banyak saja. Dan itu artinya,peluang untuk menemukan penerbit yang cocoksangatlah kecil." "Ya... Sepertinya memang begitu. Sebab, biarpunkau itu orang Islam, belum tentu penerbit yangmengaku islami mau menerbitkan karyamu.Maklumlah, jika idologimu tidak sejalan denganmereka, atau karena alasan lain, tentu merekaenggan untuk menerbitkannya. Dan itu artinya, kauharus mencari penerbit professional yang jugamempunyai visi dan misi dalam upaya memperbaiki 118
    • ahklak bangsa. Penerbit yang seperti itu tidak terlaludipusingkan oleh masalah ideologi, pokoknya apapunideologi seorang penulis, selama penulis itu membuatkarya sastra yang baik dan bertujuan untuk mengajakorang agar berbuat baik, tentu mereka akan memberikesempatan untuk menerbitkannya." "Ya... Sepertinya aku harus mencari penerbit yangseperti itu. Sebab, aku juga seorang penulis yangtidak terlalu memusingkan masalah ideologi oranglain. Pokoknya apa pun agama, suku, dan bangsaorang itu, selama dia baik dan mau memperjuangkanajaran Tuhan, aku pasti akan bersedia bekerja sama.Sebab aku percaya, orang seperti mereka adalahmitra yang baik dalam memperjuangkan kebenaran.Begitu pun sebaliknya, jika orang itu mau merusakakhlak bangsa ini, maka dia adalah musuh yang nyatabagiku. Dan aku berkewajiban untuk memeranginya,sekalipun orang itu mengaku satu keyakinandenganku. Sebab aku ini bukanlah orang yang melihatsesuatu dari status belaka, melainkan dari apa yangdiperbuatnya. Aku ini seorang muslim, dan aku lebih 119
    • menghormati seorang non muslim yang memberiminum seekor anjing daripada seorang yang mengakumuslim tapi justru menyiksanya." "Wah, wah...! Good good... Memang begitulahseharusnya sifat manusia sejati. Dia tidak melihatkepada status belaka, tapi melihat kepada apa yangdiperbuatnya. Pokoknya selama yang diperbuatnya itutidak bertentangan dengan nurani kemanusiaannya,maka dia akan membelanya. Namun jikabertentangan, maka dia akan melawannya. Good...good... teruskan saja apa yang sudah menjadikeyakinanmu itu!" Kedua orang itu terus berbincang-bincang hinggaakhirnya Bobby kehabisan kata-kata. Begitupundengan penulis senior itu, yang kini lebih banyakterdiam karena tak tahu harus berbicara apa. Padasaat itulah Bobby mulai merasa kesal lantaran Rakabelum juga selesai dengan tugasnya. "Aduuuh...Kenapa Raka lama sekali sih? Sungguh aku merasajenuh berada di tempat ini," keluh Bobby dalam hati. 120
    • Tapi untunglah, sebelum kekesalannya itumemuncak, Raka sudah datang menghampiri. "Yuk,Bob! Kita berangkat sekarang!" ajaknya kepadaBobby. Mengetahui itu, Bobby pun lantas mohon dirikepada penulis yang sangat dihormatinya. "Pak Ari,aku permisi dulu ya!" pamitnya kepada penulis itu. "O, silakan.. Silakan...! Jangan lupa untukmembaca naskah yang baru ku-upload di blog-ku iniya!" "Insya Allah, Pak!" ucap Bobby, "Yuk, Ka!" ajaknyakepada Raka. Tak lama kemudian, Bobby dan Raka tampaksudah melaju menuju ke rumah Aldo. Dalamperjalanan, kedua pemuda itu tampak asyikberbincang-bincang. "O ya, ngomong-ngomong kenapa tadi lamasekali?" tanya Bobby dengan nada kesal. "Maaf, Bob. Selain menangani masalah jaringan,tadi aku juga sempat mengurusi virus Tobatyuk yangmembuatku benar-benar pusing tujuh keliling. 121
    • Maklumlah, varian barunya itu memang bandel sekali.Sungguh aku kagum dengan pembuat virus lokal yangsuka membawa pesan moral itu." "Hehehe... Ternyata pembuat virus itu masih kuatuntuk memperjuangkan cita-citanya? Padahal selamaini virusnya itu sudah sering diserang oleh berbagaianti virus yang sudah mengetahui kelemahannya. Akuyakin, selama pembuat virus itu masih merasatertantang maka dia akan terus membuat varianbarunya. Hanya ada beberapa hal yang bisamembuatnya menghentikan pembuatan virus itu.Pertama, cita-citanya itu memang sudah terwujud.Kedua, dia sudah lelah dan menyadari kalau caranyaitu memang sia-sia belaka. Ketiga, dia sudahkehabisan akal untuk bisa mengakali celah-celahsistem operasional yang selama ini menjadi andalandalam menyebarkan dan mengaktifkan virusnya." "Wah, jika ketiga hal itu tak terjadi, bisa-bisapekerjaanku akan semakin bertambah berat sajadibuatnya. Bayangkan saja, selama ini pelanggan diwarnet milik temanku itu seringkali mengeluh lantaran 122
    • kegiatan mereka jadi terganggu, dan ujung-ujungnyaaku juga yang repot karena harus bisa menanganivirus itu." "Hehehe...! Sebetulnya itu karena salahmu juga.Coba kalau kau mau menuruti apa yang diinginkanoleh virus itu, yaitu membuat komputer di warnet itubersih dari hal-hal yang negatif dan tidakmenggunakan software-software yang menjadimusuhnya tentu virus itu tidak akan terlalumengganggu. Ketahuilah, selama dirinya merasaterancam maka virus itu akan berusaha untukmembela diri, salah satunya adalah dengan caramerestart komputer. Atau jika virus itu mengetahuiuser menjalankan software atau web site yang takdihendakinya maka ia pun akan merestart komputer.Tujuannya adalah melindungi user dari hal-hal yangbisa membahanyakan dirinya. Misalkan ada user dibawah umur yang mau membuka web site porno,maka si virus akan buru-buru merestart komputer.Nah... bukankah itu melindungi namanya." 123
    • "Memang sih. Tapi kan, repot juga jika harusmengikuti apa yang dinginkan oleh virus itu. Itu kankomputer warnet, Bob. Bukannya komputer pribadiku.Bagaimana mungkin aku bisa membatasi gerak parapelanggan yang mau menggunakan komputer di situ.Hmm... Sepertinya aku ini memang harus mau dibuatrepot oleh virus yang menjengkelkan itu." "Itu sih terserah kepada keputusanmu. Sebab akumenyadari, kalau setiap perjuangan memang perluada yang dikorbankan. Jika kau mau berjuang untukmemberikan kebebasan kepada pelanggan di warnettemanmu itu, maka kau harus rela menjadi repotlantaran ulah virus itu. Begitupun dengan pembuatvirus, dia harus mengorbankan perasaannya yangmungkin saja merasa sangat berdosa karena sudahmenyusahkan orang-orang sepertimu. Ya... Begitulahhidup, penuh dengan pengorbanan. Bukankahprototype site blocker buatanku yang kini terpasang diwarnet temanmu itu juga terpaksa harusmengorbankan user wanita karena kata kunci yangkugunakan adalah kata-kata yang berhubungan 124
    • dengan bagian tubuh wanita. Bukankah selama iniada saja wanita yang mengeluh lantaran web siteyang mau mereka dibuka jadi ikut-ikutan diblokir,padahal web site yang mereka mau buka itu bukanweb site porno melainkan web site tentang kesehatan.Namun karena alamat web site itu mengandung katakunci terpaksa jadi ikut-ikutan diblokir." "Kau betul, Bob. Habis mau bagaimana lagi,tujuan kita memasang site blocker itu kan untukmelindungi pelanggan warnet yang masih di bawahumur. Maklumlah, di warnet temanku itu terkadangmemang suka ada Adware nakal yang memunculkanweb site porno. Dan kalau hal itu tidak dicegah,kasihan pelanggan yang masih dibawah umur itu kan." "Yang kau katakan itu memang betul itu, Ka.Walaupun pemerintah sudah berusaha untukmemberikan perlindungan dengan memblokirnyapada tingkat provider tapi masih saja ada orang yangbisa mengakalinya.” "Sungguh membingungkan hidup di era teknologiyang canggih ini ya, di satu sisi teknologi jelas bisa 125
    • sangat bermanfaat, namun di lain sisi juga bisa sangatmerusak?" "Ya begitulah..." Kedua pemuda itu terus melangkah, hinggaakhirnya mereka tiba di rumah kediaman Aldo. Kinimereka sudah saling bertatap muka dan sedangbercakap-cakap dengan si penulis kocak yang seringmembuat Bobby terpingkal-pingkal. "Hahaha! Kau itu memang suka asal, Do,"komentar Bobby menanggapi anekdot Aldo yangberhasil membuatnya terpingkal-pingkal. "Satu lagi nih, Bob. Di sebuah kerajaan entahberantah..." KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! tiba-tiba sajatelepon berdering. "Tunggu sebentar ya! Aku harus menerimatelepon dulu," pamit Aldo seraya melangkah masuk. Pada saat yang sama Bobby kembali teringatdengan Angel yang hingga kini belum ada kabarnya."Ka, ngomong-ngomong... Kenapa Angel belum jugamemberi kabar ya?" 126
    • "Itu biasa, Bob. Dia itu memang suka begitu.Selama ini saja aku sudah dicuekin hampir selamasetahun. Dan belakangan ini dia baru datang karenakatanya mau belajar komputer, tapi anehnyabukannya serius belajar komputer, eh malahmembahas kisah nyatanya. Semula aku sempat ragukalau dia memang serius mau menjadi seorangpenulis, sebab dia itu memang suka semangat padaawalnya saja. Namun setelah aku mengenalkan diapadamu, aku semakin bertambah yakin kalausebenarnya dia memang serius untuk menjadiseorang penulis. Bahkan tujuannya belajar komputeritu pun jelas sekali ada hubungannya dengan kegiatanmenulisnya, yaitu bisa menulis dengan menggunakankomputer. Hmm… Mungkin saja saat ini dia sedang sibukmenulis atau juga sedang resah menunggu hasil ujiannasional yang menentukan lulus tidaknya dia dariSMA. Dan karena itulah dia menjadi lupa denganorang-orang di sekitarnya. Begitulah dia, terkadangmemang suka tidak peduli dengan orang-orang yang 127
    • merasa khawatir dengan keadaannya. Karenanyalah,kau harus bisa bersabar menghadapi orang sepertidia." "A-apa! Ja-jadi... Angel itu baru mau lulus SMA.Sungguh tidak kusangka, semula aku pikir dia itusudah kuliah, sebab dari penampilannya sama sekalitidak menunjukkan kalau itu baru mau lulus SMA." "Dia itu memang pernah tidak naik setahun, Bob.Selain itu, dia itu juga seorang gadis yang bongsor.Bayangkan saja, selama ini dia justru akrab denganteman-teman kakaknya daripada temannya sendiriyang sebaya. Karena itulah terkadang dia agak soktua dan tidak canggung untuk ngobrol dengan priaseusia kita." "O, pantas saja kalau begitu," kata Bobby serayasenyam-senyum sendiri. "Kenapa, Bob?" tanya Raka heran melihat Bobbysenyam-senyum seperti itu, padahal yang barusandikatakannya itu tidaklah lucu. "Tidak... Aku cuma ingat kata-kata Angel waktuitu, yaitu ketika aku memberi tahu kalau aku kesulitan 128
    • menggarap cerita tentang kehidupan berumah tangga.Katanya, wajar saja kalau orang seusia kita kesulitan,sebab kita kan belum pernah berumah tangga.Hehehe....! ‘orang seusia kita’ Sepertinya dia itumenganggap aku ini masih seusia dengannya.Padahal kan usiaku jauh lebih tua darinya." "Wah, lagi ngobrolin apa nih? tampaknya serusekali," tanya Aldo yang kini sudah kembali bergabungbersama mereka. "Biasa… Soal wanita," jawab Raka terus terang. "Asyik tuh. Aku boleh ikutan tidak?" "Tidak boleh, kau itu masih bau kencur tahu,"jawab Bobby mencandai Aldo yang usianya memanglebih muda lima tahun darinya. "Betul kata Bobby, Do. Sebaiknya kau janganmemikirkan soal wanita lagi deh, sebab kau itu belumsiap mental. Buktinya, waktu itu kau sempat menangistersedu-sedu dan mau gantung diri lantaran patahhati. Iya kan?" "Itu kan dulu, Ka. Sekarang kan aku sudah lebihdewasa dan lebih matang." 129
    • "Benarkah begitu, lalu kenapa pada cerpen yangberjudul Kristal Air Mata, tokoh Boy lagi-lagi menangisdan mau gantung diri?" tanya Raka perihal cerpen 8halaman yang belum lama dibacanya. "Aduh, aduh...! Boy itu bukan aku, tahu. Cerita itumurni hasil karanganku dan bukan pengalamanpribadiku." "Ah, aku tidak percaya. Bukankah dulu kau pernahmenulis kisah nyatamu dengan menggunakan namayang sama," kata Raka memojokkan. "Terserah kau deh. Sebab aku memang sulituntuk membuktikannya." "Sudahlah, Ka. Jangan mentang-mentang Aldopernah menulis kisah nyatanya, lantas kau bisamenilai kalau karyanya itu adalah kisah nyata.Ketahuilah! Terkadang penulis memang sukamenuliskan kisah nyatanya, namun terkadang pulayang ditulisnya itu memang murni hasil fantasinya.Tapi kebanyakan penulis lebih suka mencampurpengalaman pribadinya dengan kisah fiktif yangmembuat membaca terkadang bingung untuk bisa 130
    • membedakan. Maklumlah, terkadang memang adasaja pembaca yang suka menilai kalau tokohutamanya adalah penulisnya sendiri. Seperti yang kaulakukan barusan ketika menilai kalau tokoh utamapada kisah Kristal Air Mata adalah si Aldo. Sebabyang bisa mengetahui itu kisah nyata atau bukan,hanyalah Aldo sendiri atau tokoh-tokoh lain yang jugaterlibat di dalamnya. Memangnya pada cerita itu adatokoh yang mirip denganmu?" "Tidak sih. Tapi biarpun begitu, aku tetap yakinkalau itu adalah kisah nyata. Sebab karakter Boydalam cerita itu memang persis sekali dengan Aldo." "Hehehe...! Kalau memang begitu, berarti itumemang kisah nyata. Maaf ya, Do. Bukannya akumendukung pendapat Raka. Namun karena Rakamemang sudah mengenal karaktermu, dia memangtidak mudah untuk bisa dibohongi." "Baiklah... Aku mau mengaku. Itu memang kisahnyataku. Belum lama aku memang sempat putusdengan pacarku, namun sekarang kami sudah baikan 131
    • dan sudah menyambung kembali jalinan cinta kamiyang sempat terputus itu." "Kau beruntung, Do. Seandainya dia tidak maukembali padamu, mungkin saat ini kau sudah tinggalnama karena nekat gantung diri. Iya kan?" tanya Rakaasal. Aldo tidak menjawab, sepertinya saat itu dia kesalsekali dengan perkataan Raka yang memang sukasekali memojokkannya. "O ya, Do. Sebetulnya kedatanganku kemari maumengetahui perihal perkembangan naskah ceritaanak-anak yang sedang kau tulis itu. Kalau bolehkutahu, cerita itu sudah selesai berapa persen?" tanyaBobby perihal tujuan utamanya datang ke tempat itu. "Wah, baru 65%, Bob. Maklumlah, pengetahuankusoal agama lain kan memang sangat terbatas. Jaditerkadang aku masih sulit untuk bisa membuat kelimaanak-anak yang berbeda agama itu tetap rukun dankompak. Maklumlah, terkadang ada saja budaya dankebiasaan mereka yang saling berbenturan. Dansebagai penulis, aku pun harus pandai-pandai 132
    • menengahi masalah itu sehingga kelima anak itu bisatetap kompak. Misalnya ketika mereka sedangberpetualang ke Pulau Dewata, saat itu mereka yangsudah sangat kelaparan akhirnya mendapat bantuandari seorang wanita yang baik hati. Sayangnya saatitu, Rangga yang seorang muslim tidak mungkin bisamemakan makanan itu lantaran mengandung Babi.Haruskah keempat anak lainnya membiarkan Ranggakelaparan seorang diri. Tentu saja tidak, keempatanak lainnya harus bisa menyelesaikan persoalanyang sedang mereka hadapi itu. Begitu pun ketikaGusti merasa tidak nyaman lantaran keempat anaklainnya sedang memakan daging sapi. Dan setelahmengetahui itu, lantas keempat anak lainnya yangsedang memakan daging sapi itu pun terpaksa buru-buru menghentikannya dan menyingkirkan dagingsapi itu jauh-jauh dari Gusti. Hingga akhirnya,keempat anak itu harus rela makan dengan seadanya,padahal daging sapi yang semula mereka makan itusangatlah lezat. Begitulah Bob, salah satu kendala 133
    • yang sedang kuhadapi untuk bisa menyelesaikancerita itu." "Hehehe...! Menyatukan dua karakter yangberbeda agama saja sudah cukup repot lantaranadanya perbedaan budaya dan kebiasaan. Apalagicerita yang kau tulis itu, sampai lima agama sekaligus.Ditambah lagi anak-anak itu merupakan anak-anakyang cerdas dan taat pada agama masing-masing.Sungguh bukan perkara yang mudah, sebab jika kausampai salah karena kurangnya ilmu pengetahuanmusoal agama lain bisa-bisa kau diprotes banyak orang." "Bob, ada SMS dari Angel," kata Raka tiba-tiba. "Apa katanya?" tanya Bobby penasaran. "Katanya, kini dia sudah lulus SMA." "Benarkah? Syukurlah kalau memang begitu. Oya, apa dia bicara mengenai naskahku?" "Tidak, Bob. Dia hanya memberi tahu soalkelulusannya. Sabar saja, Bob! Kalau dia sudahselesai membaca naskahmu dia pasti akanmengabari." 134
    • "Angel...?" kata Aldo tiba-tiba. "Hmm… Sepertinyaaku mengenal gadis itu," sambungnya kemudian. "Ka-kau kenal dengan dia, Do?" tanya Bobbypenasaran. "Tentu saja, kalau tidak salah dia itu..." Belum sempat Aldo melanjutkan, tiba-tiba Rakasudah memberi kode agar Aldo diam. "Kenapa tidak kau lanjutkan, Do?" tanya Bobbyyang tidak mengetahui Raka sudah memberi kode."Ayo dong, Do. Cepat katakan! Dia itu... Dia itu apa?"tanya Bobby semakin tambah penasaran. "Eng... Dia itu kan perempuan, Bob. Hehehe.... Iyakan?" jawab Aldo asal. "Brengsek kau, Do. Aku kira kau betul-betulmengenalnya," ungkap Bobby dengan nada kecewa. Kini ketiga pemuda itu sudah tidak lagimembicarakan soal itu, melainkan membicarakanperihal Pacar Aldo yang katanya sudah mendesaknyauntuk minta segera dilamar. Padahal saat ini Aldobelum siap lantaran dia merasa belum mapan.Memang ada-ada saja kendala yang dihadapi oleh 135
    • ketiga pemuda itu, yang satu ingin buru-buru menikahsedang yang satunya lagi malah takut untuk menikah.Sedangkan Raka sama sekali tidak mau dipusingkanoleh kedua perkara itu lantaran suatu sebab yangenggan ia ceritakan. Esok sorenya, Bobby terlihat sangat rapi. Diamengenakan kemeja biru tua kotak-kotak yangberpadu dengan jeans biru muda yang terlihat sangatmatching. "Mmm... Senang rasanya ketikamengetahui Angle telah lulus dari SMA. Sungguh tidaksia-sia usaha dan kerja kerasnya selama ini, yangtelah berusaha menuntut ilmu demi masa depannyayang gemilang," ungkap Bobby dalam hati. Sungguh Bobby merasa bangga dengan Angelyang bisa lulus walaupun dengan peringkat yang tidakmemuaskan. Maklumlah, nilai ujian nasional yangharus dicapainya memang terlalu tinggi, apalagi Angelitu seorang yang mudah pusing dan sedikit error. 136
    • Karenanyalah, biarbagaimanapun juga, Bobby merasakalau semua itu merupakan berkah yang memangpatut disyukuri. Sebab, gadis yang diketahuinyamudah pusing dan sedikit error itu ternyata bisa lulusjuga. Bahkan untuk mengungkapkan rasagembiranya, ingin rasanya pemuda itu segera bertemudan mengucapkan selamat padanya, sekalianmelepaskan rasa rindunya yang sudah taktertahankan. Lantas dengan segera Bobby berkemas danberangkat ke tempat kursus Angel, bahkan sampai-sampai dia lupa mematikan komputer yang sempatdinyalakan. Maklumlah, semula dia begitu asyikmendengarkan tembang manis yang berjudul SMS—tembang yang selalu membuatnya berhayal tentangAngel—yang dengan suara manjanya menanyakanperihal SMS yang membuat dirinya cemburu. Di dalamangannya, Bobby tampak berusaha menjelaskankalau itu adalah memang SMS dari seorang temannyayang iseng, dan Bobby tampak begitu senang jikaAngel masih juga tidak percaya. Terbayang sudah raut 137
    • cemburunya yang membuat Bobby begitu inginmembelainya dengan penuh kasih sayang—memberinya pengertian kalau dia memang tidaksedang berdusta. Sungguh Bobby sudah terlenadengan tembang yang satu itu, yang selama ini seringmemancingnya untuk semakin jauh berhayal danberhayal. Sungguh lagu itu memang sudah berhasilmeracuninya, bayangkan… saking populernya, laguitu tidak hanya terdengar di TV atau radio, tapi juga didiputar di berbagai area pertokoan, di acara hajatan,bahkan juga terdegar di jalan-jalan. Secara otomatislagu itu pun terekam di memorinya, bersamaandengan segala peristiwa indah yang dialaminya. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.30akhirnya Bobby tiba juga di depan Departement store,tak jauh dari tempat Angel kursus. Kini Bobby sedangberdiri di antara para penjual yang berjajar disepanjang bahu jalan. Kedua matanya tak bergemingmemandang ke arah bangunan tempat Angel kursus,menanti sang belahan jiwa. Lelah sudah matanyakarena terus memandang ke tempat kursus yang 138
    • membosankan itu, yang dia lihat hanyalah spandukwarna kuning yang tulisannya sudah berulang kali diabaca. Kini Bobby memperhatikan sebuah metro miniyang biasa ditumpangi Angel. Saat penumpangnyaturun, segera diperhatikannya satu per satu—berharap salah satu dari mereka adalah Angel. Bobby memang agak nekad, sebab dia tidak tahudengan pasti kapan Angel datang maupun pulang daritempat kursusnya. Saat itu dia hanya bisa berharapkalau dugaannya mengenai Angel yang akan pulangpukul 17.00 adalah benar. Namun setelah pukul 17.00lewat, ternyata Angel belum juga kelihatan batanghidungnya. Lantas Bobby pun menduga kalau Angelpasti pulang pukul 17.30 atau 18.00. Lalu dengan kakiyang semakin pegal, Bobby terus menunggu danberharap waktu cepat berlalu. Hingga akhirnya, sudahcukup banyak juga bis metro mini yangpenumpangnya selalu diperhatikannya satu per satu. Kini Bobby tampak memperhatikan tubuh seksiyang mirip dengan Angel, sejenak hatinya gembirakarena mengira dia adalah Angel. Namun setelah dia 139
    • amati dengan seksama ternyata gadis itu bukanlahAngel, apalagi setelah dia melihat gadis itu membawatas yang berwarna kuning cerah. Maklumlah, hinggakini Bobby masih ingat betul tas milik Angel, daribentuk hingga warnanya. Bukan hanya tas, wajahAngel pun masih diingatnya dengan jelas, wajahnyaitu tampak begitu manis dan tak pernah membuatnyajemu. Ya, pokoknya hanya manis dan manis saja yangdiingatnya. Sungguh saat itu dia begitumerindukannya. Merindukan wajah manis dan telahmembuatnya ingin sekali menciumnya. Ketika waktu kira-kira sudah menunjukkan pukul17.30, lalu lintas yang agak macet mulai menghalangipandangan Bobby. Karena khawatir Angel keluar takterlihat olehnya, Bobby pun pindah posisi di tempatmetro mini biasa ngetem menunggu penumpang, yaitupada jalur yang berlawanan. Dia menduga, jika Angelpulang nanti dia pasti akan naik metro mini di tempatitu. Kini Bobby sudah kembali menunggu, satu persatu gadis seksi yang melangkah menuju metro minidiamatinya dengan penuh seksama. Berbagai paras 140
    • manis, cantik, dan juga kurang cantik, tak luput dariamatannya. Namun sayangnya, wajah-wajah itu tidakada yang serupa dengan wajah manis yang ada didalam ingatannya. Sungguh kini Bobby sudah lelahmenunggu, bahkan kedua kakinya sudah semakinsangat pegal saja dibuatnya. Ingin rasanya dia duduksejenak di halte yang ada di depan DepartementStore, namun saat itu dia takut Angel menjadi luputdari pandangannya. Sebab dari tempat itupandangannya memang tidak begitu jelas karenaterhalang lalu lintas yang padat. Bobby masih terus menunggu dan menunggu,hingga akhirnya di kejauhan terdengar azan magribyang berkumandang. Saat itulah Bobby langsungmenyerah kalah, sungguh dia merasa kalau apa yangdilakukannya hanyalah sebuah penantian yangmenjemukan. Lagi pula, memang tidak mungkinrasanya kalau Angel belum pulang, sebab saat itu haritampak sudah semakin gelap. Bobby menduga, saatitu bisa saja Angel sudah pulang dan luput daripengamatannya, apalagi setelah Bobby ingat kalau 141
    • waktu itu, ketika Angel main ke tempat Raka waktumemang sudah magrib. Ya, rasanya memang tidakmungkin jika saat itu Angel belum juga pulang. Karenaitulah, akhirnya Bobby memutuskan untuk segerapulang. Sambil menunggu angkot yang akanditumpanginya, Bobby masih saja memikirkan Angel.“Hmm… Apa mungkin Angel tidak pergi kursuslantaran sakit? Duhai Allah... Jika dia memang sedangsakit, aku mohon sembuhkanlah!" ucap Bobby yangtiba-tiba saja mengkhawatirkannya. Hari itu Bobbybetul-betul sangat kecewa lantaran gagal menjumpaiAngel, gadis yang begitu dicintai. Dalam hati diasempat berharap, Jumat depan kiranya Tuhan bisamempertemukannya dengan Angel. "Duhai Allah...Aku sudah begitu merindukannya... pertemukanlahkami... ikatlah kami dalam sebuah ikatan cinta yangsuci—ikatan cinta yang Engkau ridhai... yang akanmembawa kami kepada kebahagiaan yang Engkauridhai pula. Amin..." ucap Bobby seraya menaikisebuah angkot. 142
    • ENAM Ungkapan hatiT uk! Tuk! Tuk! Suara jemari Angel terdengar mengetuk-ngetuk balai kayu yang didudukinya.Saat itu dia tampak gelisah, pikirannya menerawangjauh – memikirkan Bobby dan juga naskah yang akandikembalikannya. Sesekali gadis itu tampakmemperhatikan Raka yang duduk disebelahnya, inginrasanya dia mengatakan sesuatu pada pemuda itu,namun entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu. “Kau kenapa, An? Dari tadi aku lihat kau sepertiorang kebingungan,” tanya Raka heran. “Ti-tidak apa-apa, Kak,” jawab Angel terbata,“Eng… Bagaimana kalau kakak saja yangmengembalikan naskah ini? Biar aku menunggu sajadi sini," lanjutnya kemudian. "Lho, kau ini bagaimana sih? Bukankah diamemintamu membaca lantaran mau tahu 143
    • pendapatmu. Kalau aku yang menyerahkannya, terusaku harus bilang apa?" "Kak... Se-sebenarnya..." Angel tidak melanjutkankata-katanya, saat itu dia tampak begitu berat untukmengatakannya. "Sebenarnya ada apa, An?" tanya Rakapenasaran. “Ti-tidak, Kak. Aku tidak mau mengatakannya.” “Hmm… Jadi begini sikapmu sekarang, kau tidakmau berterus terang lagi padaku? Baiklah… Akusadar kalau aku ini memang hanya teman biasa.” “Kak… Baiklah, aku akan mengatakannya terusterang. Eng... A-aku mencintai Kak Bobby, Kak." "A-apa??? Ka-kau mencintainya?" tanya Rakadengan keterkejutan yang tak terkira. "Betul, Kak. Bukankah Kakak pernah bilang, kalauaku boleh memilih selain diri Kakak. Dan itu karenakita memang tidak mungkin bisa bersatu." Sejenak Raka terdiam, raut wajahnya punberubah sedih, dan tak lama kemudian dia kembaliberkata, "Iya, An. Kau betul. Hingga saat ini orang 144
    • tuaku memang masih belum bisa merestui hubungankita. Eng... Jika kau memang betul-betulmencintainya, aku rela kau menjadi miliknya." Usaimengatakan itu, Raka pun kembali terdiam, saat itudikejauhan sayup-sayup terdengar tembang manisdari Nadin yang berjudul "My Heart", yang kebetulanmemang sedang tayang di TV. "Angel... bisakah kitamencintai yang lain," ucap pemuda itu kemudian. "Kak... Bukankah tadi Kakak sudah merelakannya.Percayalah padaku! Kita pasti bisa, kak." "Ya, semoga saja begitu," ucap Raka berharap. "Oya, An. Bukankah kau mencintainya. Lalu, kenapa kaujustru seperti enggan bertemu dengannya?" "A-aku takut, Kak. Bagaimana kalau diamenanyakan perihal keterlambatanku membacanaskahnya. Selain itu, aku juga malu, Kak. Lihat sajapenampilanku sekarang! Beda sekali kan?" "Kau sih pakai potong rambut segala. Padahal,kau itu lebih cantik dengan potongan kemarin. Sebab,potongan sekarang ini seperti..." Raka tidakmelanjutkan kata-katanya. 145
    • "Seperti apa, Kak...?" "Tidak, Ah. Aku tidak mau bilang." "Cepat bilang, Kak! Awas, ya! Kalau tidak bilangaku marah nih," ancam Angel. "Kau tidak pernah berubah juga. Selalu sajamemaksakan keinginanmu. Kau itu seperti anak kecil,tahu." "Biarin... Ayo cepat bilang! Seperti apa?" "Baiklah... Potongan rambutmu itu seperti tante-tante." "Tuh, iya kan. Tadi kakakku juga bilang begitu.Makanya aku malu bertemu Kak Bobby, nanti diamalah tidak suka padaku." "An... Bobby tidak akan seperti itu, dia tidak akanmenilai seseorang berdasarkan penampilannya.Sebab aku kenal betul siapa dia." "Benarkah begitu?" "Iya, An. Masa sih aku bohong padamu." "Terus, bagaimana kalau dia marah perihalnaskahnya?” 146
    • “Tidak akan, An. Aku saja yang membacanyalebih lama dari kamu tidak pernah dimarahi, apalagikamu.” “Eng, baiklah... Kalau memang begitu, ayo kitaberangkat sekarang!" ajak Angel bersemangat. Lalu tanpa buang waktu, mereka pun segeraberangkat menuju rumah Bobby. Setibanya di tempattujuan, keduanya segera menemui Bobby danberbincang-bincang di teras muka. "Maaf ya, Kak. Kalau aku terlalu lamamengembalikan naskah Kakak," ungkap Angelkepada Bobby. "Sudahlah! Aku maklum kok. Kau pasti sibuk, iyakan?" "Iya, Kak. Maklumlah, setiap kali aku maumembaca naskah Kakak, ada saja temanku yangdatang dan memintaku untuk mendengarkan keluhkesahnya. Bukankah kau pernah bilang kalau aku initempat penampungan keluh-kesah teman-temanku.Dan tampaknya mereka memang tidak mau mengerti,kalau aku sendiri juga sedang punya banyak masalah 147
    • yang terkadang membuatku bingung—kepada siapaharus menumpahkannya. Tapi untunglah, Tuhanselalu memberi jalan agar aku bisamenumpahkannya. Seperti yang belum lama initerjadi. Ketahuilah! Sebetulnya sudah lama sekali akutidak pernah menghubungi Raka. Maklumlah, selamaini aku sibuk menuntut ilmu. Semula aku berniatmenemuinya karena aku sedang kursus komputer,dan karena aku ingat Raka jago komputer lantas akupun berniat minta diajarkan olehnya. Maksudnya sih,biar nilai kursusku jadi bagus. Eh, ujung-ujungnya akubukan belajar tapi malah curhat sama dia. Hihihi...!Semula dia sih sempat marah padaku, katanya akudatang cuma lagi butuh saja. Tapi untunglah, dia itumemang teman yang baik—biarpun begitu dia tetapmau mendengarkan keluh-kesahku," jelas Angelpanjang lebar. Mendengar itu, Raka langsung komentar. "Yanamanya juga anak kecil. Kalau tidak dituruti pastingambek. Ketahuilah, Bob! Jika Angel sudah 148
    • ngambek bisa membuat orang di sekelilingnya jadipusing tujuh keliling. " "Bohong, Kak," ucap Angel seraya memasangtampang galak pada Raka. "Kak Raka! Kau ini apa-apaan sih," kata Angel seraya mencubit pinggangpemuda itu. "Nah, lihat sendiri kan, Bob. Dia itu memang sukabegini," komentar Raka lagi. Saat itu Bobby cuma cengar-cengir melihatkelakuan Angel yang demikian. "O ya, ngomong-ngomong bagaimana pendapatmu soal naskahku?"tanya Bobby mengalihkan pembicaraan. "O ya, Kak. Sebetulnya aku sudah menulispendapatku itu pada buku catatanku. Tapi, aku belumsempat menyalinnya. Nanti ya, jika sudah pasti akankuberikan pada Kakak." "Ya sudah kalau begitu. Tapi, kau kan bisamengemukakannya secara singkat." "Iya, Kak. Secara garis besar cerita itu sudahcukup bagus. Namun menurutku masih ada beberapabagian yang masih perlu diperbaiki." 149
    • "O ya, apa itu?" "Wah, aku lupa, Kak. Pokoknya semua itu ada dibuku catatanku." "Baiklah... Aku mengerti, kok. O ya, ngomong-ngomong… Bagaimana dengan kursus komputermu?" "Aku sudah tidak pernah datang lagi, Kak. Habiswaktu itu kalian mentertawakan aku sih," jawab Angel. "Tuh, iya kan, Bob,” kata Raka tiba-tiba, “Akuyakin, dia pasti ngambek karena waktu itu kita telahmentertawakannya. Dia itu memang suka begitu, Bob.Makanya kalau bicara sama dia itu harus hati-hati!Sebab, kalau tidak kau tahu sendiri akibatnya kan?" "Hmm... Pantas saja waktu itu aku tidak bertemuAngel,” kata Bobby mencoba menceritakan perihalpenantiannya yang menjemukan. “Kalian tahu tidak,waktu itu aku sempat menunggu Angel di tempatkursusnya sambil terus berdiri di pinggir jalan. Akubaru tahu kalau menunggu selama itu, selainmenjemukan ternyata juga bisa membuat keduakakiku jadi pegal, pegaaal sekali rasanya." 150
    • “Ka-Kau menunggu Angel sampai seperti itu,Bob?” tanya Raka hampir tak mempercayainya. “Ya, tapi sayang... Ternyata usahaku itu sia-siabelaka lantaran orang yang kutunggu sedang mogokbelajar.” "Ma-mafkan aku, Kak. Aku tidak menyangka kalaukakak sampai datang ke tempat kursusku danmenungguku selama itu," ucap Angel tulus. "Kau tidak perlu minta maaf, An. Semua itu karenakebodohanku yang tidak sabar ingin bertemudenganmu dan mengetahui perihal naskahku.” “Tidak, Kak. Aku tetap merasa bersalah. Andaisaja aku bisa lebih cepat membaca naskah itu, tentutidak akan seperti itu kejadiannya.” Bobby tersenyum, “Baiklah… kalau kau memangmerasa bersalah, mau tidak mau aku memang harusmemaafkannya,” ucapnya kemudiam. Dalam hatipemuda itu menyesal juga lantaranketidakterusterangannya, kalau dia menunggu Anggelbukan saja ingin mengetahui soal naskahnya, namunyang lebih utama karena dia ingin mengucapkan 151
    • selamat atas kelulusan Angel sebagai wujudperhatiannya, dan yang tak kalah penting karena diasudah sangat merindukannya. “O ya, An. Ngomong-ngomong, benarkah hanya karena kami telahmenertawakanmu lantas kau jadi mogok belajar?"tanya Bobby kemudian. "Ya, pokoknya itu karena kalian telahmentertawakan aku. Terus terang, aku malu sekali,Kak. Orang-orang sudah pada jago menggunakanWord Processor, eh aku baru mulai belajar. Akubenar-benar menyesal, kenapa saat masih di SMPaku tidak mau mengikuti pelajaran komputer. Cobawaktu itu aku masuk di sekolah yang mewajibkanpelajaran itu, tentu kini aku sudah mahir." "An... Bukankah waktu itu kau pernah bilang, lebihbaik terlambat dari pada tidak sama sekali. Apa kautidak lebih malu jika betul-betul tidak bisa?" "Sudahlah, Kak. Mending bicara yang lain saja.Terus terang, aku pusing nih." "Iya kan, Bob. Dia memang selalu begitu, kalaudia tidak bisa menjawab pasti jawabannya pusing..." 152
    • "Biarin... Memang nyatanya aku suka pusing kok,"bela Angel dengan wajah cemberut. Ketiga muda-mudi itu terus berbincang-bincang,hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pukulsembilan malam. "Kak, aku pulang ya! Sudah terlalumalam nih," pamit Angel. "Iya, An. Sepertinya memang sudah waktunya kaupulang. Tapi sebelum itu, aku akan memberikansesuatu padamu." "Apa itu, Kak?" tanya Angel penasaran. "Tunggu sebentar ya!" pinta Bobby serayamelangkah masuk. Tak lama kemudian, dia sudahkembali dengan membawa amplop besar berwarnacoklat. "Ini, ada naskah baru. Dibaca ya!" "Aduh... Naskah lagi. Maaf deh, Kak. Belakanganini aku lagi banyak masalah, nanti saja jika semuanyasudah beres. Terus terang, aku takut kalau akanterlalu lama membacanya," "Santai saja, naskah ini untukmu kok. Kau tidakperlu mengembalikannya, sebab aku sengaja menulisini agar kau bisa memahami berbagai gaya menulis 153
    • yang bisa digunakan. Maklumlah, sebenarnya naskahini adalah kumpulan cerpen yang kutulis denganberbagai gaya kepenulisan. Dengan begitu, kau akanmenemukan gaya mana yang sesuai dengankaraktermu." "Betul ini untukku?" Bobby mengangguk. "Kalau begitu terima kasih ya, Kak. Kau sudahmau repot-repot menyediakan semua ini untukku." Saat itu Bobby hanya tersenyum saja. "O ya,ngomong-ngomong aku ikut dengan kalian ya!" "Mau apa, Kak? Ini kan sudah malam." "Aku cuma mau tahu rumahmu kok. Jika aku adanaskah baru, kau kan tidak perlu repot-repot datangkemari. Biar aku saja yang mengantarnya hingga kerumahmu." "Betul, An. Biarkan Bobby ikut. Lagi pula, jikakelak kau terlalu lama membaca naskahnya, dia kanbisa langsung menemui dan memarahimu.Hehehe...!" 154
    • Mengetahui itu, Angel langsung merespon, "Kalaubegitu, aku tidak akan mau jika disuruh membacanaskah Kak Bobby lagi," ancam Angel dengan wajahserius. "Tidak kok, An. Tadi itu aku cuma bercanda.Percayalah! Bobby tidak akan seperti itu. Sebetulnyaaku cuma kasihan saja sama dia, jangan sampai diamenunggumu lagi di suatu tempat seperti yangdiceritakannya tadi." "Kau kan bisa mengantarkan Bobby ke rumahku,Kak." "Iya, kalau aku lagi ada di tempat. Kalau tidakbagaimana?" "Betul itu, An. Lagi pula, aku tidak mau jika sampaimerepotkan Raka," timpal Bobby memberi alasan. Karena alasan Bobby masuk akal, akhirnya Angelsetuju juga. "Eng... Kalau begitu, baiklah... Kakakboleh ikut," katanya mengizinkan. "Nah begitu dong," kata Bobby bersemangatseraya buru-buru mengeluarkan sepeda motornya. 155
    • Tak lama kemudian, ketiga muda-mudi itu sudahmelaju ke rumah Angel. Saat itu Raka yangmemboncengi Angel tampak melaju lebih dulu,sedangkan Bobby tampak membuntutinya. Setibanyadi rumah Angel, Bobby sempat terheran-heranlantaran rumah Angel ternyata tidak begitu jauh darigang tempatnya dulu mengantar. Lantas dalam hatipemuda itu langsung membatin, "Hmm... Kenapawaktu itu Angel bilang rumahnya jauh? Padahal, darigang itu cuma butuh waktu dua menit untuk bisasampai ke sini,” tanya Bobby seraya memperhatikankeadaan rumah Angel yang kecil dan tidak terawat.“Mmm… Apa betul ini rumahnya Angel?" tanya Bobbylagi hampir tak mempercayainya. Rumah kecil itu bertingkat dua, bagian dasarnyaterbuat dari batu bata yang kokoh, namun bagianatasnya terbuat dari kayu yang tampak lapuk. KamarAngel berada di lantai atas, di sampingnya terdapatbalkon sederhana yang juga terbuat dari kayu danlangsung terhubung dengan tempat menjemurpakaian. "Hmm... Apa mungkin karena ini yang 156
    • membuatnya tidak mau diantar sampai ke rumah?Bahkan, tadi pun dia begitu keberatan jika aku ikut kesini. Hmm… Apakah karena hal ini pula yangmembuatnya tidak bisa bersatu dengan cintasejatinya?" tanya Bobby dalam hati sambil terusmemperhatikan keadaan rumah Angel yang ternyatabukan orang berada. "Yuk masuk dulu, Kak!" ajak Angel kepada keduapemuda itu. Karena ajakan itulah, lantas Bobby dan Raka tidaklangsung pulang. Kini mereka justru asyik melanjutkanperbincangan sewaktu di rumah Bobby. Saat itumereka ngobrol di teras muka, di atas sebuah kursibambu yang beralaskan bantalan yang cukup empuk.Bantalan itu terbuat dari sponge bekas berlapis kainyang terbuat dari kantong terigu. Bobby, Raka, dan Angel terus berbincang-bincanghingga akhirnya... "Huaaahh...!" Raka menguap lebar."Aduh...! Aku sudah mengantuk sekali nih. Kita pulangyuk, Bob!" ajaknya kemudian seraya melihat jam di 157
    • HP-nya. "Gila...! Sudah hampir pukul dua belas,"katanya lagi dengan agak terkejut. "Benarkah? Perasaan kita baru sebentar berada disini," komentar Bobby yang sebetulnya masih inginberlama-lama di tempat itu—merasakan kebahagiaanbersama gadis yang dicintainya. Mendengar itu, Raka langsung membatin, "Hmm...Tampaknya Bobby pun menyukai Angel, buktinya diasampai tidak menyadari kalau waktu sudah berlalubegitu lama. Aku menduga saat ini dia tentu masihingin berlama-lama dengan Angel. Hmm... Bagaimanaya?" Sejenak Raka memikirkan perihal itu, hinggaakhirnya dia bisa juga mengambil putusan. "An! Akupulang ya. Terus terang, aku sudah tidak kuat lagi.Maklumlah, belakangan ini aku memang kurang tidur,"pamit pemuda itu. "O ya, Bob. Jika kau masih betah,biar aku pulang sendiri saja." Mengetahui itu, Bobby lekas merespon, "Tidak ah.Enak saja kau tinggalkan aku sendiri. Ketahuilah…!Jika aku pulang sendirian, bisa-bisa aku malahnyasar? Bukankah jalan ke sini sangat berliku, bahkan 158
    • aku tidak yakin kelak aku masih ingat jalan menuju kesini." Angel yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bicara."Kak Bobby! Sebetulnya jalan ke sini mudah kok. Tadiaku sengaja meminta Raka lewat jalan tadidikarenakan jalan yang biasa kulewati sedang dipakaihajatan. Tapi bukankah sekarang sudah jam segini,aku rasa pesta itu sudah bubar." "Tapi, biar pun katamu mudah kalau aku belumpernah lewat jalan itu bagaimana aku bisa tahu.Karenanyalah, sebaiknya aku pulang bersama Rakasaja. An, aku pulang ya!" "Eng.. Iya deh. Kalian hati-hati di jalan, ya!" Tak lama kemudian, Bobby dan Raka tampaksudah melaju dengan sepeda motornya masing-masing, hingga akhirnya mereka menghilang dikejauhan. Sementara itu, Angel yang kini sudahberada di kamar tampak sedang berkemas untuktidur. Namun belum sempat dia merebahkan diri, tiba-tiba ingatannya langsung tertuju kepada naskah yangbaru diberikan Bobby. Karena penasaran, lantas gadis 159
    • itu pun berniat melihat-lihatnya sejenak. "Eh, apa ini?"tanya Angel heran ketika melihat sepucuk surattampak terjatuh di pangkuannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja Angel sudah tidak tertarik lagi dengannaskah yang hendak dilihatnya, namun dia lebihtertarik dengan sepucuk surat yang membuatnyabegitu penasaran. Kini gadis itu sudah merobek aplopsurat dan segera membaca isinya. Hi, Angel sayang...! Semoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Angel sayang... Ketahuilah... Kalau aku sangatmencintaimu, dan aku sangat sayang padamu. Akutahu kau sudah mempunyai pujaan hati, namunbukankah kau pernah berkata kalau kalian sulit untukbisa bersatu. Angel sayang... Berilah aku kesempatanuntuk bisa membahagiakanmu. Kau tidak perlumelupakan cinta sejatimu, biarlah ia tetap berada dihatimu... Sebab, aku hanya mendambakan bisamencintaimu. Sesungguhnya dengan itu saja sudah 160
    • cukup buatku untuk bisa membahagiakanmu.Sejujurnya aku tidak peduli apakah kau bisamencintaiku atau tidak, yang terpenting buatku adalahaku bisa mencintaimu dan mencurahkan kasihsayangku dengan sepenuh hati. Kalau kau mau tahu,kenapa aku mau bersikap demikian? Sebab hinggakini aku masih mempercayai, kalau cinta itu adalahmau memberi dan melayani orang yang dicintainya,dan bukannya mengharap imbalan dari orang yangdicintainya. Angel sayang... Ketahuilah… Semula aku sempatragu apakah kau memang pantas menjadi kekasihku.Maklumlah, usia kita memang cukup jauh berbeda.Namun setelah aku ingat kalau istri Nabi Muhammadyang bernama Siti Aisyah ternyata juga mempunyaiperbedaan usia yang cukup jauh, malah bisa dibilangsangat jauh. Toh keduanya bisa menjadi pasangansuami-istri yang serasi, dan bahkan sangat harmonis.Karena itulah, akhirnya aku pun tidakmempermasalahkan usia lagi. Bagiku kau adalahbelahan jiwaku, dan aku tidak akan menuntut banyak 161
    • darimu. Aku hanya mau kau bisa menerimaku apaadanya, dan juga mau mendengar segala nasihatkuyang tak menyimpang dari Al-Quran dan Hadits,semata demi untuk kebaikanmu. Angel sayang... Terus terang, sebetulnya akusangat berharap kau mau menerima cintaku ini! Danaku akan bahagia sekali jika kau mau menerimanya.Andai pun tidak, izinkanlah aku untuk selalu bisamencintai dan menyayangimu. Biarlah nanti aku turutisaja keinginan orang tuaku yang menginginkan akumenikah dengan gadis pilihan mereka, yaitu gadisyang tak aku cintai. Bahkan aku sendiri tidak yakinapakah aku bisa membahagiakannya, sebab dia itumemang bukan gadis yang aku cintai. Ketahuilah!Syarat utama untuk bisa menjadi pemimpin adalahseorang pemimpin harus mencintai orang yangdipimpinnya. Karena itulah takdir wanita itu dipilih danbukan memilih, sebab wanita itu bukanlah seorangpemimpin di dalam rumah tangga. Ketahuilah… Priaitu adalah pemimpin yang senantiasa berpikir secararasional dan terkadang memang suka bentrok dengan 162
    • pola pikir wanita yang rumit dan sangat emosional.Itulah kenapa aku memilihmu daripada wanita pilihanorang tuaku sendiri, sebab aku sangat mencintaimu.Dan aku percaya, dengan cinta itulah, Isya Allahseorang suami tidak akan tega untuk menceraikanistrinya, walau bagaimanapun buruknya konflik rumahtangga. Berbeda jika seorang pria menikahi wanitatanpa didasari cinta, bisa-bisa dengan begitumudahnya dia akan menjatuhkan talak perceraian. Angel sayang... Ketahuilah…! Setelah sekian lamaaku mencari tambatan hatiku, hanya kaulah yangbegitu kucintai sama seperti ketika dulu aku mencintaicinta sejatiku. Cerita "Demi Cinta Sejatiku" 75%adalah kisah nyata. Tokoh Irfan itu adalah aku, danThufa adalah gadis yang betul-betul aku cintai. KiniThufa telah menikah dengan tambatan hatinya sendiri,dan karenanyalah aku tak mempunyai harapan lagi.Kini hanya kaulah gadis yang kucintai dengansepenuh hatiku. Percayalah…! Kau itu bukanlahpelarian cintaku, sebab cintaku padamu sebesarcintaku kepada cinta sejatiku. Jika bukan karena itu, 163
    • untuk apa aku menulis semua ini, yang sejujurnyaadalah merupakan ungkapan perasaanku.Percayalah…! Ini bukan cinta buta, sebab akusemakin bertambah cinta padamu setelah mengetahuikalau kau itu begitu menyukai berbagai hal yangmenyangkut kerohanian, yang dengannya kau bisamenjadi gadis yang shalihah. Seorang gadis yangsuatu hari kelak bisa menjadi istri idaman, yangbersama suaminya bisa bersama-sama mengarungidunia yang fana ini dalam upaya membekali diri gunameraih kebahagiaan di kehidupan selanjutnya, yaitusurga Allah SWT. Demikianlah Angel sayang... Aku sengajamengungkap ini agar kau tahu kalau aku benar-benarmencintaimu. Kutunggu jawaban darimu. Bye... Angel sayang...! Sekali lagi aku doakansemoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Salam sayang selalu dari aku yang begitumencintaimu... Bobby 164
    • Setelah membaca surat itu, Angel tampak senangbercampur heran. "Dia panggil aku dengan sebutan‘Sayang’? Huh, gombal sekali. Benarkah semua yangdikatakannya ini. Jangan-jangan... Ah, dia pasti cumamau mempermainkanku. Mmm... Tapi, bagaimanajika dia memang betul-betul mencintaiku. Aduh, kiniaku benar-benar jadi bingung. Tidak kupungkiri, akumemang sudah jatuh hati padanya. Tapi... Prosesnyakan tidak harus secepat ini. Lagi pula, aku kan belummampu untuk melupakan Raka. Hmm... BenarkahKak Bobby bisa menerimaku jika aku menduakancintanya. Sungguh mengherankan, dia itu kan laki-laki. Tidak mungkin lelaki mau diduakan cintanya. Ya,aku rasa memang begitu. Maksud Kak Bobby bicarabegitu pasti cuma alasan saja demi mendapatkancintaku. Sungguh gegabah sekali dia, apa jadinya jikakelak ternyata dia tidak mau aku duakan. Lagi pula,dia kan tidak tahu cinta sejatiku. Kalau saja dia tahu,mungkin dia akan berpikiran dua kali untukmenyatakan cintanya. Kalau begitu, aku harusmembicarakan masalah ini pada Kak Raka." 165
    • Malam itu Angel jadi susah tidur. Lama dia terusmemikirkan perkara yang memusingkan itu hinggaakhirnya dia baru tidur setelah waktu sudahmenunjukkan pukul 2 dini hari. Sore harinya, Angel langsung menemui Raka.Saat itu dia langsung menumpahkan segalakebingungan yang menimpanya, yaitu segala hal yangberkenaan dengan surat yang dibacanya semalam. "Lho... Memangnya kenapa? Bukankahseharusnya kau itu senang?" "Tapi, Kak. Ini kan terlalu cepat. Terus terang, akubelum siap. Aduh, Kak... Sungguh hal ini telahmembuatku bertambah pusing. Satu persoalan belumselesai, eh sudah ditambah persoalan baru. Kak…Sepertinya aku ingin mati saja." "Ya, sudah. Kalau kau memang mau mati, apaperlu aku belikan tambang sekarang, biar kau cepatbisa gantung diri." 166
    • "Kak Raka... Ka-kau... Kau betul-betul ingin akumati?" "Habis, aku sudah lelah memberitahumu. Kau itukan sudah dewasa, cobalah berani sedikit mengambilsikap, jangan seperti anak kecil begitu. Kalau kaumemang masih mencintaiku, bukankah kau bisamenolaknya. Namun jika tidak, ya kau tinggalmenerimanya. Berapa kali aku harus bilang kalau akubisa merelakannya. Kupikir waktu itu kau sudahmemahaminya, tapi ternyata..." "Iya, aku ini memang masih seperti anak kecil,dan aku benar-benar bingung mengambil sikap.Ketahuilah, Kak… Jika aku jawab tidak, aku takut diaakan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya.Namun jika aku jawab iya, aku kan belum begitumengenalnya." "Ya, Bobby memang ada-ada saja. Seharusnyakepada gadis sepertimu jangan menyatakan cintanyabegitu cepat. Seharusnya dia itu berusaha untukpendekatan lebih dulu." 167
    • "Kau benar, Kak. Seharusnya memang seperti itu,aku tuh maunya pendekatan lebih dulu." "Tapi, aku mengerti kenapa Bobby bersikapdemikian. Sebab, dia itu pasti sudah didesak olehorang tuanya untuk segera menikah. Dan sebagaianak yang berbakti kepada orang tua, tentu dia inginsegera membahagiakan kedua orang tuanya. O ya,An... Aku ingin tahu lebih pasti, apakah benar kau itumemang benar-benar mencintai Bobby?" "Iya, Kak. Sepertinya aku memang benar-benarmencintainya." "Kok sepertinya?" "Eh, Iya… Iya... Aku memang benar-benarmencintainya." "Eng, baiklah.... Jika kau memang benar-benarmencintainya, aku akan berusaha untukmembantumu." "Nah begitu, Dong. Kata-kata itulah yang sejaktadi kutunggu-tunggu. Kak Raka, janji ya kalau Kakakmau membantuku menyelesaikan masalah ini! Eng,kini apa yang sebaiknya aku lakukan?" 168
    • "Mmm... Mudah saja. Kau jangan sampaimengatakan isi hatimu padanya!" "Iya, aku juga tahu. Tapi bagaimana jika diamenanyakannya?" "Usahakanlah jangan sampai bertemu dengandia." "Duh, Kakak ini bagaimana sih? Dia itu kan sudahtahu rumahku, dia pasti akan datang mencariku." "I ya, An. Aku mengerti. Tapi untuk sementara,kau kan bisa tinggal di rumah saudaramu, atausahabat perempuanmu." "Hmm… Sepertinya itu ide yang bagus, Kak.Untuk sementara ini, sebaiknya aku memang harusmenghilang." Kedua muda-mudi itu terus membahas masalahitu lebih lanjut. Sementara itu di tempat berbeda,Bobby tampak sedang memikirkan perihal surat yangdiberikannya pada Angel. "Mmm... Angel pasti sudahmembaca suratku. Lalu, kenapa hingga kini dia belumjuga memberikan jawaban. Mmm… Kenapa ya? Apadia sedang pikir-pikir dulu? Baiklah… Jika memang 169
    • benar demikian, aku akan memberinya waktu hinggasatu minggu. Namun jika ternyata dia masih belumjuga memberi kabar, terpaksa aku harusmenemuinya." 170
    • TUJUH Demi cinta dan persahabatanD redep! Dredep! Dredep! Suara jemari Bobby yang meniru derap langkah kuda terdengarmenemani lamunannya. Saat itu dia sedang berbaringdi atas tempat tidur sambil terus memikirkan Angelyang sudah dua minggu belum pulang ke rumah.Sungguh semua itu telah membuat kekhawatiranBobby tampak semakin menjadi-jadi, hingga akhirnyadia memutuskan untuk kembali mengirim surat untukAngel. Maklumlah, saat itu Bobby menduga kalausurat cinta yang diberikan waktu itulah yang menjadipenyebabnya, atau mungkin juga Angel takutmenemuinya lantaran dia tidak mau diminta tolonguntuk membaca naskahnya. Karena itulah, akhirnyaBobby merasa perlu untuk mengirim surat lagi demimendapat jawaban yang pasti. "Nah... Selesai sudah. Aku harap, dia maumemberikan jawaban yang sebenarnya. Dengan 171
    • begitu, aku pun tidak khawatir lagi dan juga tidakberpikiran macam-macam mengenainya," kata Bobbydalam hati seraya mencetak surat yang baru ditulisnyadengan menggunakan printer tua yang selama inimenjadi andalannya. Kini pemuda itu tampak sudah siap berangkatuntuk menitipkan surat itu kepada kakak Angel yangbernama Nadia, dialah yang selama ini selalumemberi kabar mengenai keberadaan Angel, bahkanbelum lama ini dia sempat mengabarkan kalau Angelpernah pulang, namun hanya untuk mengambilpakaian. Karenanyalah, Bobby yakin sekali kalauAngel pasti akan pulang untuk mengambil pakaianlagi, lalu pada saat itulah suratnya bisa sampai ketangan Angel. Sementara itu di tempat berbeda, disebuah ruangan yang tampak nyaman, Angel tampaksedang memikirkan Bobby. "Kak Bobby, maafkanlahaku. Sungguh aku tidak menyangka, kalau aku akanmembuat Kakak begitu kerepotan mencariku. Bahkanhampir semua sahabatku sudah Kakak telepon demimengetahui keberadaanku. Akibatnya, mereka pun 172
    • jadi ikut-ikutan mengkhawatirkanku. Semalam, limaorang sahabatku telah datang bersama-sama demiuntuk mengetahui keadaanku. Mereka tidak percayakalau aku dalam keadaan baik-baik saja, dankarenanyalah mereka memaksa untuk datangmenemuiku di tempat persembunyianku ini. Sungguhaku tidak menduga, kalau kau dan juga sahabat-sahabatku ternyata begitu perhatian padaku," tiba-tibaAngel meneteskan air matanya. Sungguh dia merasaterharu akan segala perhatian yang telah diberikankepadanya. "Oh... Kak Bobby... Aku sangatmencintaimu. Bahkan saat ini aku ingin sekalimenemuimu dan mencurahkan segala kerinduanku.Namun, aku tidak bisa... Aku belum siap..." Saat ituAngel hanya bisa menangis sambil memeluk eratguling yang sejak tadi menemaninya. Pada saat yangsama, di sebuah rumah yang cukup besar, di dalamsebuah kamar yang tertata rapi, seorang pemudatampak sedang mendengarkan tembang sedih dariCaffeine. Dialah Raka, pemuda yang selama inisangat mencintai Angel. Seiring dengan bergulirnya 173
    • tembang dari Caffeine itu, airmatanya pun menetesmeresapi setiap lirik yang begitu menyentuh hatinya. Kau... di hatiku... selalu menjadi pujaannku Kau... di jiwaku... mengalir di dalam darahku yang... terdalam... yang sama pernah kurasakan yang... terindah... yang tak kan kulupakan Tapi tak kan kumiliki... semua cinta di dirimu Karena kau telah memilih... satu cinta teman baikku Ku... tak ingin... hancurkan rasa di hatimu Ku... tak ingin... hancurkan persahabatanku Kau... memulai... dua cinta yang kau jalani Dan... tak akan... kuharapkan cintamu Aku tak kan memiliki... semua cinta di dirimu Karena kau telah memilih... satu cinta teman baikku Semua kan jadi kenangan... yang tersimpan dalam hidupku Yang tak kan pernah terjadi... saat cinta seperti dulu Aku tak kan memiliki... 174
    • "Angel... Biarpun aku sangat mencintaimu, namunaku tak mau menghancurkan rasa di hatimu, dan akutak ingin menghancurkan persahabatanku. Kini akutak akan mengharapkanmu lagi, sebab kau telahmemilih satu cinta teman baikku," ungkap Rakabertekad untuk tidak mengharapkan cinta Angel lagi. Tiga hari kemudian, di dalam sebuah kamar milikseorang sahabat Angel yang baik hati. Angel terlihatsedang memandangi sepucuk surat yangmencantumkan nama Bobby. Saat itu jantungnyaberdebar keras, khawatir kalau isinya bisa sajamenyakiti perasaannya. Namun karena penasaran,akhirnya gadis itu terpaksa membacanya juga. Hi, Angel sayang...! Apa kabar? Semoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... 175
    • Angel sayang... Ketahuilah... Aku sudah begitumerindukanmu, aku sudah begitu ingin bertemu. Inginkulihat lagi kecerahan wajahmu yang manismenggemaskan, ingin kupandang kedua matamuyang bening bersinar, dan ingin kulihat lagi tawa dancandamu yang membahagiakan. Angel sayang... Aku haus perhatianmu, aku hauskasih sayangmu, dan aku sangat mendambakancintamu. Siang dan malam kau selalu terbayang,membuat hati ini resah dan gelisah, dan membuatkujadi serba salah. Angel sayang.... Kenapa kau tak menghiraukanaku? Kenapa kau takut padaku? Apakah aku telahmenyakiti perasaanmu sehingga kau begitumembenciku? Jika benar demikian, aku minta maaf.Bukan maksudku untuk kurang ajar padamu danbukan pula untuk menyakiti perasaanmu. Perlakuankupadamu semata-mata karena aku begitumencintaimu. Tidak bolehkah aku mencintai gadisyang begitu kusayang? 176
    • Angel sayang... Apakah kau takut kuminta tolonguntuk membaca naskahku? Jika benar demikian, akumohon janganlah kau takut. Andai cerita "Demi BuahHatiku" waktu itu tidak kau baca sekalipun aku tidakakan marah. Percayalah Angel… Naskahku samasekali tidak berarti apa-apa jika dibanding dengandirimu yang begitu kusayang. Angel sayang... Apakah kau takut karena kaumungkin menganggap aku ini orang yang aneh, ataumungkin kau menganggap aku ini orang yang begituterobsesi denganmu. Apa kau mungkin menganggapaku ini cuma bercanda dan hanya main-main, sebabdalam waktu begitu singkat aku sudah begitumencintaimu. Percayalah Angel! Aku tidak sepertianggapanmu selama ini. Aku mencintaimu karena akusudah lebih memahami arti kehidupan, dan jugasudah memahami tujuan hidupku yang sebenarnya.Bahkan aku sudah siap menerima apapun yang bakalterjadi, sebab semua itu memang sudah merupakanketentuan Tuhan yang harus aku jalani. 177
    • Angel sayang... Aku menjalani kehidupan inibagaikan air yang mengalir. Hidupku hanya untuk hariini, dan aku tidak mau dipusingkan dengankehidupanku besok. Pokoknya aku tidak mau ambilpusing dengan segala perkara yang akan kujalaninanti, perkara yang sama sekali belum aku ketahuidampaknya. Sesungguhnya yang terpenting bagikuadalah aku akan senantiasa berusaha untukberpegang kepada ajaran Rasulullah, yaitu hidup hariini harus lebih baik dari kemarin. Angel sayang... Janganlah kau menilai dirikumelalui karya-karyaku, sebab itu sama sekali tidakmewakili pribadiku sesungguhnya. Aku menulis danmenciptakan tokoh-tokohnya hanyalah untukbercermin dan mengenali diriku sendiri. Siapasebenarnya aku, dan untuk apa aku diciptakan.Apakah aku ini orang baik, atau barangkali saja aku iniorang yang jahat. Apakah aku ini orang yangbertakwa, atau malah seorang pembangkang. Apakahaku seorang yang jujur dan terpercaya atau barangkalihanya orang yang munafik. Dengan terciptanya 178
    • berbagai karakter di ceritaku, aku terus bercermin,dan akhirnya aku mencoba meneladani segalakebaikan mereka. Terus terang, aku takut sekalimenjadi orang yang munafik, dan karenanyalah mautidak mau aku memang harus mengamalkan segalapesan baik yang kusisipkan di setiap cerita yangkutulis. Angel sayang... Sekali lagi aku mohon. Berilah akukesempatan untuk lebih mengenalmu, kalau kaumemang tidak bersedia menjadi kekasih, aku rela jikakau hanya menjadi sahabatku, atau kalau boleh kaubisa menjadi adikku. Kau tahu kan kalau aku tidakmempunyai adik perempuan, dan jika kau memangmau menjadi adikku tentu aku akan bahagia sekali. Angel sayang... Janganlah kau merasa takut akanmemberikan harapan padaku, sebab aku bukanlahorang yang berpikiran sempit dan "keras kepala". Akuini sudah dewasa dan sudah sering mengalamiberbagai hal yang menyakitkan. Aku pasti bisamengerti dan memahami apapun segala putusanmu,asalkan kau mau mengatakannya dengan terus 179
    • terang. Selama ini aku selalu menjadikan pengalamanpahit sebagai pelajaran yang penuh hikmah, darinyaaku belajar memahami arti kehidupan, sehingga akupun menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana.Karenanyalah karya terbaruku yang berjudul "MenuaiMasa Lalu" yang juga telah kutitipkan bersamaandengan surat ini adalah buah dari segala pengalamanhidup yang kutuangkan ke dalam sebuah cerita.Dengan menulis cerita itu, pikiranku pun semakinterbuka dan lebih memahami arti kehidupan. Angelsayang... Kalau kau tertarik dengan cerita itu, kauboleh membacanya. Kalaupun tidak, aku tidak akanmemaksa, dan aku tidak akan marah. Percayalah...! Demikianlah Angel sayang... Aku berharap kaumau lebih terbuka padaku. Percayalah...! Apa pun itu,aku pasti akan menerimanya dengan lapang dada.Janganlah kau sungkan padaku, perlakukanlah akuseperti kau memperlakukan sahabatmu Raka. Jikakau memang tak mencintaiku, bersikaplah wajar.Anggaplah aku ini sebagai seorang kakak yangmencintai dan menyayangi adiknya. 180
    • Bye... Angel sayang...! Sekali lagi aku doakansemoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Salam sayang selalu dari aku yang begitumencintaimu... Bobby "Aduuh...! Kenapa sih dia berkeras inginmengetahui perasaanku yang sebenarnya. Jikabegitu, percuma saja aku terus menghindar. Sebab,dia pasti akan terus mengejarku demi sebuahjawaban. Hmm... Kini aku semakin bertambahbingung. Bagaimana ini, hingga saat ini aku masihbelum mampu untuk mengungkapkannya. Hmm...Kalau begitu, baiklah... Agar dia puas aku akansegera memberikan jawaban. Namun aku tidak akanmemberikan jawaban yang sebenarnya, melainkanjawaban yang juga sesuai dengan keinginannya, yaitumenjadi adiknya. Bukankah dengan begitu aku bisa 181
    • dekat dengannya dan bisa mengetahui segala tindak-tanduknya. Tapi, bagaimana jika..." Saat itu Angel betul-betul bingung untukmengambil putusan, sebab keputusan yang akandiambilnya itu bisa saja berdampak tidak sesuaidengan harapannya. "Ah, sudahlah... Biar kulihat sajananti. Pokoknya apa pun itu, aku harus siapmenghadapinya. Lagi pula, kata-kata di suratnyaseolah dia itu tak begitu mencintai danmengharapkanku. Jika memang benar demikian,pantaskah aku mencintai pria yang tampaknya kurangbersungguh-sungguh demi mendapatkan cintanya?Masa begitu mudahnya dia merelakan aku begitusaja. Keputusanku ini adalah juga sebuah ujianuntuknya, jika ia memang benar-benar mencintaikudia pasti tidak akan mau menerimanya, dia pasti akanberusaha untuk bisa mendapatkanku, yaitu denganbersabar menunggu jawaban yang sejujurnya," pikirAngel berusaha meyakinkan diri agar beranimemberikan jawaban. 182
    • Lantas dengan penuh kebimbangan, akhirnyagadis itu berani juga menulis surat untuk Bobby. Katademi kata dirangkainya dengan penuh perasaan dansedikit pertimbangan, hingga akhirnya gadis itu bisajuga menyelesaikan suratnya. Beberapa hari kemudian, di malam yang cerah,surat yang di tulis Angel akhirnya tiba di tangan Bobby.Kini pemuda itu tampak memandangi sepucuk suratyang baru diterimanya. Saat itu hatinya langsungberdebar kencang, berbagai praduga seketikaberkecamuk mengguncang hatinya. Ingin rasanya diasegera membaca isi surat itu, yang mana telahmembuatnya betul-betul penasaran. Sebab, Rakayang mengantarkan surat itu sempat bilang kalauBobby akan mendapat jawaban yang memuaskan.Bahkan kata Raka, Angel sendirilah yang memintanyauntuk mengatakan itu. "Hmm... ‘jawaban yangmemuaskan’. Apakah itu artinya dia mencintaiku? Jika 183
    • benar demikian, aku tentu bahagia sekali. Namun...jika maksud ‘jawaban yang memuaskan’ itu tidaksesuai dengan harapanku, apakah aku bisa tabahmenerimanya. Bodohnya aku, kenapa aku menulissurat seperti itu, yang isinya seolah aku ini orang yangtegar dan tidak terlalu mengharapkan cintanya.Padahal sesungguhnya, aku ini sangat mengharapkancintanya. Namun karena saat itu aku tidak mempunyaipilihan terbaik, mau tidak mau aku memang harusmenulisnya begitu. Sebab jika tidak, aku khawatir diaakan semakin menjauh dariku lantaran takutmemberikan harapan. Beruntung jika saat itu diamemang mencintaiku, namun jika tidak, tentukekhawatiranku itu akan menjadi kenyataan." Bobby terus memikirkan perihal isi surat yangbelum dibacanya itu, dan setelah merenungkannyaagak lama, akhirnya pemuda itu berani juga untukmembaca dan siap menerima apa pun jawabanAngel. Saat itu, Bobby memang sudah betul-betul siapdan bisa menjadi orang yang tegar seperti apa yangtertulis pada suratnya. 184
    • Dear, kakakku. Semoga Kakak selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Maafkanlah kalau adikmu ini baru bisa balas suratKakak sekarang. Ketahuilah, Kak. Sebetulnya selamaini Angel bukan bermaksud menghindar dari Kakak,atau Angel tidak mau membaca naskah Kakak lagi.Selama ini Angel pergi dari rumah karena Angelsedang ada masalah keluarga. O ya, Kak. Angelsudah baca surat Kakak yang mengungkapkanperasaan Kakak pada Angel. Sebetulnya Angel inginsegera membalas surat itu, tapi karena selama iniAngel sedang ada masalah terpaksa Angel baru bisamembalasnya sekarang. Itu pun karena Kakak sudahmengirim surat lagi dan ingin segera mengetahuiperasaan Angel yang sebenarnya. Kak... Angel yakin kalau kakak pasti sudah tahujawabannya. Namun begitu, biar kakak lebih yakinAngel akan mengatakannya lagi. Kak, ketahuilah…Kalau menurut Angel, kakak itu tidak pantas mencintaiAngel. Bukan apa-apa, Kak. Kakak kan belum tahu 185
    • sifat Angel yang sebenarnya. Kak... Kakak ituorangnya baik, dewasa, pengertian, dan tidak pernahberpikiran sempit. Bahkan kakak sudah biasamenghadapi berbagai masalah yang besar danmenyakitkan. Kakak kan tahu kalau Angel masihseperti anak kecil, dan menurut Angel yang pantasmenjadi kekasih kakak itu adalah gadis yang jugasudah dewasa seperti kakak. Maaf ya, Kak. Angelbukan bermaksud membicarakan soal usia kita yangjauh berbeda. Biarpun usia kita sama, namun jika sifatAngel masih seperti sekarang, Angel merasa tetaptidak akan pantas menjadi kekasih Kakak. Saat iniAngel hanya merasa pantas dianggap adik samaKakak. Nah... Tentu sekarang Kakak senang karenakini sudah mempunyai adik perempuan, yaitu Angel.O ya, Kak. Kalau boleh adikmu ini kasih saran,bagaimana kalau Kakak menerima saja pilihan orangtua kakak itu. Percayalah, Kak...! Orang tua Kakaktidak mungkin memberikan sesuatu yang terburukuntuk anaknya. Satu lagi, Kak. Bukankah cinta itutidak harus memiliki, dan Kakak tentu akan bahagia 186
    • jika melihat Angel bahagia. Bukankah Kakak sendiriyang bilang begitu? Nah... Kakakku yang baik, Angel rasa kinisemuanya sudah jelas. Tak lupa Angel ucapkanterima kasih untuk semuanya, dan Angel tidak akanpernah bosan untuk membaca naskah cerita Kakakselanjutnya. Terima kasih juga karena Kakak maumengerti jika Angel belum sempat bisa membacanaskah terbaru Kakak lantaran kesibukan Angel.Bukankah Kakak sendiri yang bilang kalau Kakak relajika Angel lebih mendahulukan sesuatu yang lebihpenting daripada harus membaca naskah Kakak? Sudah dulu ya, Kak. Sekali lagi Angel doakansemoga Kakak selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Adikmu yang akan selalu menyayangimu Angel Sungguh Bobby tidak menyangka kalau jawabanAngel akan seperti itu, dan dia sungguh tidak mengira 187
    • kalau Gadis itu bisa menolaknya dengan cara yangdemikian. Sungguh isi surat itu sudah membuatnyabenar-benar patah hati dan membuatnya malas untukhidup, bahkan saat itu dia merasa Tuhan tidak lagimenyayanginya. Padahal saat itu Bobby yakin betulkalau Tuhan sudah mengetahui tujuannya mencintaiAngel adalah untuk beribadah, namun anehnyakenapa Tuhan justru tidak mengabulkannya. Sungguhsaat itu yang diinginkan Bobby hanyalah kematian,mati minum racun, gantung diri, atau ditabrak keretaapi misalnya. Namun karena dari awal dia sudahmempersiapkan diri dan menyadari betul kalau bunuhdiri itu adalah perbuatan dosa, akhirnya dia segeramengembalikan apa yang dirasakannya itu kepadasang Pencipta. Setelah kepasrahannya itulah akhirnyadia mendapat jawaban yang membuatnya yakin untukterus berprasangka baik kepada Tuhan, bahwa Tuhantidak menghendakinya menjadi kekasih Angel bukanlantaran tidak sayang padanya, namun karena justruTuhan sayang dan tidak menghendaki Bobby jadimenderita jika bersama gadis yang dicintainya itu. 188
    • Kini perasaan Bobby sudah menjadi lebih tenang,dan dia pun mulai bisa berpikir kembali dengan jernih."Hmm... Ini benar-benar membingungkan. KataAngel... Dia tidak pantas menjadi kekasihku lantaranmerasa belum dewasa. Tapi jika dicermati dari isisuratnya, sepertinya dia itu justru lebih dewasa dariku.Malah dia gunakan kata-kataku sendiri untukmenasihati aku. Pintar sekali dia. Hmm... Jika diamemang tak mencintaiku, ya sudah. Aku kan sudahberusaha, jika ternyata gagal berarti dia memangbukan jodohku. Kini aku semakin bertambah yakin,Tuhan tidak menghendaki hal itu lantaran Tuhan tahukalau Angel bukanlah pendamping yang baik untukku.Hmm... Aku rasa cintaku padanya memang karenacinta buta, dan itu karena aku hendak melarikan diridari kenyataan karena sudah tak sanggupmenghadapi tekanan dari berbagai pihak, yaitu orangtua, teman dan keluarga besar. Kalau memang begitukenyataannya, berarti aku memang harus menikahdengan pilihan orang tuaku. Kini aku semakin mantapmau menikah bukan karena cinta buta atau cinta 189
    • sejati, tapi demi baktiku kepada kedua orang tua yangselama ini sudah bersusah payah membesarkanku.Ya... Sepertinya aku memang harus mau menerimaWanda sebagai istriku. Mungkin saat ini aku belumbisa mencintainya, namun siapa tahu suatu saat nantiaku bisa sangat mencintainya." Begitulah, akhirnya Bobby mau juga menerimapilihan orang tuanya dan mencoba untuk senantiasaberpikir positif terhadap takdir yang sudah digariskankepadanya. Dua minggu kemudian, Angel dan Raka datangmenemui Bobby. Saat itu mereka datang karenahendak mengembalikan naskah yang berjudul"Menuai Masa Lalu". Kini ketiga muda-muda itutampak sedang berbincang-bincang di teras depan,dan ketika Raka pamit untuk membeli rokok, saatitulah Bobby menceritakan perihal pertemuannyadengan Wanda. Bahkan dia sempat menceritakan 190
    • kalau sifat Wanda ternyata tidak jauh berbeda denganAngel, apalagi saat itu dia juga sempat menangkapsinyal suka dari Wanda, yang akhirnya membuatBobby tak kuasa lagi mengelak. Sungguh dia merasakalau gadis itu adalah belahan jiwanya yang selamaini dia cari—cinta sejatinya yang hakiki. Apalagisetelah dia tahu, kalau Wanda bersedia berkorbanuntuk tidak menjadi wanita karir, maka semakin besarsaja cintanya kepada Wanda. "Benarkah itu?" tanya Angel hampir takmempercayainya. "Eng... Selamat ya, Kak. Aku betul-betul bahagia mengetahuinya, dan semoga keinginanKakak untuk segera menikah bisa terlaksana." "Terima kasih, An. Kau memang adikku yangbaik... O ya, jangan bilang-bilang Raka ya! Sebab akutidak mau hal ini sampai tersebar luas." Angel mengangguk. Pada saat itulah dia melihatRaka sudah kembali dari membeli rokok. "Kak Raka,kita pulang yuk!" ajak gadis itu tiba-tiba. 191
    • "Pulang?" tanya Bobby terkejut. "Lho, kenapaterburu-buru? Bukankah kalian belum lama di sini,bahkan aku belum sempat menyuguhkan minum." "Iya, nih. Kita kan belum lama berada di sini,"timpal Raka heran. "Please, Raka. Aku ke mari kan cuma maumengembalikan naskah. Lagi pula, pukul sembilannanti temanku mau datang menginap, katanya diamau curhat denganku," jelas Angel memberi alasan. "Lho sekarang kan baru pukul setengah delapan,"unjuk Raka. "Memang sih. Tapi bagaimana jika dia datanglebih awal?" tanya Angel. "Tidak akan... Lagi pula, salah sendiri jika diadatang lebih awal," jawab Raka asal. "Aduh, Kak Raka. Kau itu tidak pengertian sekalisih. Pokoknya aku mau pulang sekarang, titik." "Angel... Setengah jam lagi saja ya!" pinta Bobbymencoba menahan. Angel tidak berkata-kata, dia hanya menggeleng-geleng dengan tingkahnya yang seperti anak kecil. 192
    • Sungguh saat itu Bobby merasa senang dengantingkahnya yang demikian, ingin rasanya dia menciumwajahnya yang manis dan menggemaskan itu,kemudian memandangi dan membelainya denganpenuh kasih sayang. Raka yang saat itu sependapat dengan usulBobby juga mencoba menahannya, "Iya, An...Setengah jam lagi saja! Please..." kata pemuda itumemohon. "Tidak mauuu, pokoknya pulang sekaraaang!"pinta Angel dengan nada manjanya. Mengetahui itu, Raka langsung menarik nafaspanjang. "Wah, kumat deh. Eng... sebetulnya apa sihyang sudah terjadi di antara kalian?" tanya Raka yangkini sudah bisa membaca situasi. "Tidak ada apa-apa kok," jawab Angel berusahameyakinkan. "Ayo dong, Kak. Kita pulang!" ajaknyaseraya menarik lengan Raka dengan penuhkemanjaan. Saat itulah Raka bisa merasakan tangan Angelyang begitu dingin. "Iya.. iya... Kita pulang," kata Raka 193
    • yang menyadari kalau dia memang tidak seharusnyamenahan Angel lebih lama lagi di tempat itu. "Maaf ya,Bob. Angel memang seperti ini, kalau tidak diturutibisa-bisa tambah parah," katanya kemudian. "Iya, iya... Aku mengerti kok," jelas Bobby. "Sudah ya, Bob. Aku pamit sekarang.Assalamu’alaikum..." ucap Raka "Wa’allaikum salam..." balas Bobby serayamemperhatikan kedua muda-mudi itu menaiki sepedamotor dan akhirnya menghilang di kejauhan. Kini Bobby sudah berada di ruang tamumemikirkan peristiwa barusan. "Hmm... sebenarnyaapa yang telah terjadi? Kenapa setelah Angelmengetahui mengenai hubunganku dengan Wandadia malah jadi seperti itu. Ja-jangan-jangan..." KRIIING...! KRIIING...! KRIIING...! tiba-tibaterdengar dering telepon yang membuyarkan pikiranBobby. Semula Bobby enggan mengangkatnya,namun karena dia menduga telepon itu berasal dariAngel atau Raka yang ingin menjelaskan kejadianbarusan maka dengan segera Bobby mengangkatnya. 194
    • "Ya Hallo!" sapa Bobby kepada orang di seberangsana. "Bisa bicara dengan, Bobby." "Ya, ini aku sendiri. Siapa nih?" "Hi, Bob. Ini aku, Aldo." "O, kau Do. Ada apa?" "Begini, Bob. Naskah cerita anak-anak yangkutulis kan sudah selesai. Kau mau kan membantuuntuk mengoreksinya?" "Tentu saja aku mau, Do. Memangnya selama iniaku pernah menolak bila kau meminta bantuanku." "Iya sih... Tapi sekarang kan kita sudah jarangbertemu. Karena itulah aku tidak tahu apakah kau lagitidak mood atau tidak." "Ketahuilah, Do! Sebetulnya aku justru sangatpenasaran ingin membacanya." "Benarkah?" "Lho, bukankah waktu itu aku sempat main kerumahmu dan menanyakan perihal itu?" "Hehehe...! Iya, ya Bob. Eng, baiklah... Kalaubegitu, besok aku akan mengantarnya ke rumahmu." 195
    • "Oke, Do. Aku akan menunggumu." "Kalau begitu sudah dulu ya, Bob. Bye..." "Bye..." Kini Bobby kembali memikirkan peristiwa yangmembuatnya terus bertanya-tanya. Hingga akhirnyadia memutuskan menulis surat untuk Angel yangisinya mempertanyakan hal yang membingungkan itu. Beberapa hari kemudian. Di sebuah kamar,seorang gadis tampak duduk bersandar di atastempat tidurnya. Jemarinya yang lentik tampakmembuka sampul surat yang baru diterimanya. Laludengan hati berdebar, gadis itu pun mulaimembacanya. Hi, Angel adikku sayang. ..! Apa kabar? Semoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... 196
    • Adikku sayang... Belum reda rasa rindukupadamu, kenapa malam itu kau begitu cepatmeninggalkanku—kakakmu yang malang ini,sehingga kembali dilanda sepi yang menyiksa.Ketahuilah...! Selama ini aku sudah begitu menantikankehadiranmu. Siang dan malam aku selalumemikirkanmu, hatiku senantiasa dirundungkeresahan dan kegelisahan karena aku begitumengkhawatirkanmu—apa kiranya yang sedangmembebani hatimu sehingga membuatku terusbertanya-tanya. Adikku sayang... Bukankah kau itu adikku, namunkenapa sikapmu seperti itu. Sungguh kelakuanmu itutidaklah seperti seorang adik kepada kakaknya,namun seperti sesesorang yang seperti dilanda cintaterpendam. Dan setelah aku mencermati kembali isisuratmu dalam-dalam, di dalam surat itu aku punmenangkap sesuatu yang sengaja kau sembunyikan,sesuatu yang berat untuk kau ungkapkan. Adikku,janganlah kau membuat hatiku resah dan gelisahkarena kesalahpahaman! Dan janganlah kau 197
    • membuatku jadi terus bertanya-tanya danberprasangka yang tidak-tidak! Karenanyalah, akumohon kau mau mengungkap hal itu dengan sebenar-benarnya! Dengan demikian, aku pun tentu akan bisamengerti dirimu. Percayalah… Seburuk apapun itu,aku akan berusaha untuk bisa menerimanya denganlapang dada dan juga berusaha menyikapinya denganpenuh bijaksana. Sampaikanlah kebenaran itu,walaupun akan pahit akibatnya! Baik hanya untukku,hanya untukmu, maupun untuk kita berdua. Sekali lagiaku mohon, jika kau memang mempunyai masalahceritakanlah padaku, mungkin dengan begitu aku bisamembantumu. Ketahuilah adikku sayang... Setiap kali akumenulis surat dan mengungkapkan kegundahankupada siapa saja, maka aku pun menjadi lebih baik,dan dadaku terasa benar-benar lapang karena tidakharus menyimpan kegundahan terus-menerus.Karenanyalah, tulislah surat padaku denganmenumpahkan semua kegundahan yang ada dihatimu sehingga kau pun akan menjadi lebih baik 198
    • karenanya. Kau tidak perlu malu mengungkap itukepada orang yang baru kau kenal sekalipun, sebabitu bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja yangmembacanya. Mungkin selama ini kau hanyamelakukannya dengan curhat kepada sahabatmu,namun itu kurang maksimal karena terkadang adasaja yang lupa dan bahkan malu untukmengungkapkannya secara langsung. Aku tanyapadamu, bagaimana rasanya setelah kau menuliscerita kisah nyatamu? Kau merasa lebih baik bukan?Teruslah menulis, baik itu hanya berupa surat, puisi,ataupun cerpen! Kalau bisa, buatlah sebuah novelfiksi yang sampai selesai alurnya! Sebab, dari suratmuitu aku yakin kau itu mempunyai bakat menulis.Jangan terpaku dengan kisah nyatamu saja! Sebab,hal itu bisa diselesaikan sambil jalan. Janganlahmenjadikan kegiatan menulis dengan tujuan mencariuang atau demi mencari ketenaran semata, namunjadikankah sebagai media untuk menumpahkanperasaanmu sehingga kau pun bisa mendapatmanfaat dari kegiatanmu itu! Sebab, jika tujuanmu 199
    • menulis semata-mata untuk mencari uang maupunketenaran, kau bisa frustasi lantaran karyamu ditolakmentah-mentah oleh penerbit. Akibatnya,kemungkinan besar kau bisa berhenti menulislantaran putus asa. Juga jangan takut kalau karyamuakan di nilai jelek, sebab tidak mungkin orang bisalangsung menulis bagus. Semua pasti ada prosesnya,seperti bayi yang kau lihat pandai berjalan. Tidakmungkin pada awalnya bayi bisa langsung berjalan,namun ada prosesnya, yaitu dari terlentang lantasmulai tengkurap, kemudian merangkak dan akhirnyamulai berjalan dengan tertatih-tatih, bahkan berkali-kali dia harus terjatuh pula. Ketahuilah, pertama kalimenulis, aku melakukannya seperti yang kau lakukanselama ini, yaitu di buku catatan. Alhamdulilllah…Tanpa terasa, akhirnya aku mampu menyelesaikandelapan karya dan sekarang mau yang ke sembilan. Ketahuilah! Walaupun semua karyaku itu belumada yang terbit, namun aku sudah cukup senangkarena dengan menulislah hidupku bisa menjadi lebihbaik. Ketahuilah! Menulis itu adalah kegiatan berpikir, 200
    • dan dengan berpikirlah otak kita tidak menjadi beku.Bahkan kita pun bisa menghasilkan suatu pemikiranyang bermanfaat karena konflik yang kita ciptakanjelas-jelas menuntut kita untuk bisa menyelesaikannyadengan baik, terkadang jika kita buntu dalammenyelesaikan suatu konflik, maka kita pun mau tidakmau harus membaca buku-buku sebagai referensiguna bisa menyelesaikan konflik yang kita ciptakanitu. Dengan begitu, wawasan kita pun akan semakinberkembang. Kau jangan terpaku dengan segalapesan moral yang harus ada pada sebuah karyasastra! Sebab, pesan moral itu bisa timbul sendiriketika kau menyelesaikan sebuah konfllik. O ya, kaujangan terpaku dengan masalah teknis kepenulisan!Sebab, itu bisa dipelajari sambil jalan. Ketahuilah...Saat pertama menulis tanda baca yang kugunakanbegitu kacau balau, bahkan sekarang pun terkadangmasih suka begitu. Sering kali kata yang kugunakantidaklah pas, kalimatnya pun masih tidak beraturan,dan masih banyak lagi. Namun akhirnya semua itusedikit demi sedikit bisa kuperbaiki, walaupun hingga 201
    • kini masih jauh dari sempurna. Namun begitu, akutidak minder. Jika ada orang yang sampai mengkritiktulisanku, maka aku justru semakin terpacu untukmenjadikannya lebih baik lagi. O ya, kau janganterpaku untuk bisa mengetik dengan komputer. Sebabpenulis tidak dituntut untuk bisa mengetik, hal itu bisadipelajari sambil jalan. Hingga saat ini, aku saja masihbelum bisa mengetik dengan tanpa melihat tombol(Blind Tust). Kadang 11 jari, kadang 8 jari, 6 jari, 4 jari,tapi terkadang juga bisa 10 jari loh. Pokoknya seenakjariku saja, sebab ketika menulis kan tidak ada yangmelihat, dan yang terpenting adalah karyaku bisaselesai dan bisa dibaca orang. Hehehe...! Mungkinada orang yang mengira aku ini pandai mengetik,padahal sebenarnya payah sekali. Untung saja akupakai komputer, kalau pakai mesin tik pasti banyaktambalannya di sana-sini. Adikku sayang... Sebaiknyakau tetap menulis dengan menggunakan tangan saja,seperti yang kau lakukan selama ini, kecuali jika kaupunya komputer sendiri! Lalu setelah selesaisemuanya, barulah kau salin dengan komputer atau 202
    • dengan mesin tik. Dengan begitu, kau pun bisamembuat sebuah karya dengan tanpa menungguhebat mengetik dulu, atau pandai bahasa dulu.Apalagi jika harus punya komputer dulu. Kapan mulaimenulisnya? Pokoknya, jika kau sudah bisa membuatsebuah karya sastra, apa pun jenisnya, dan walaupundengan tulisan yang bak ceker ayam sekalipun, hal ituadalah sebuah prestasi yang sangat membanggakan.Lalu mengenai bagus tidaknya terserah orang maumenilai apa, yang penting dengan menulis kita bisahaaapppyyy... Kalau ada orang yang mengkritik,namun kritikannya tidak membangun alias cuma maumengejek, biarkan saja. Cuek bebek saja, toh belumtentu orang itu bisa menulis sebaik yang kita lakukan.Karenanyalah, jangan sampai kau berhenti menulis!Terus terang, aku sedih jika hanya karena hal sepertiitu lantas kau berhenti menulis. Aku pun sengajamengungkap soal menulis ini agar kau bisamemahami kalau dengan menulis Insya Allah bisamembuat kehidupanmu menjadi lebih baik.Karenanyalah, setelah membaca surat ini, segeralah 203
    • ambil ballpoint dan buku catatanmu, kemudiantumpahkan segala kegundahanmu dengan menulis. Sudah dulu ya Angel adikku sayang, lain kalimungkin akan kusambung lagi, tentunya setelah akumendapat jawaban darimu. Sekali lagi aku doakansemoga Angel selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Salam sayang selalu dari aku yang begitumenyayangimu... Bobby Setelah membaca surat itu Angel sepertisemangat kembali untuk menulis. Namun karenasuatu sebab, akhirnya dia hanya bisa merenung. "Kaubenar, Kak. Dalam suratku waktu itu memang adasesuatu yang aku sembunyikan. Andai kau tahu kalauaku sudah begitu mencintaimu tentu kau akanmengerti. Itulah kenapa malam itu aku ingin segerapulang, sebab saat itu aku tak kuasa jika terus 204
    • bersamamu, sedang kau itu tidak mungkin bisamenjadi milikku," ucap Angel dalam hati serayamenitikkan air matanya. "Ini memang benar-benarsulit, kau telah menuntutku untuk mengungkapkan halyang begitu berat untuk kuungkap. Baiklah, Kak. Jikamemang itu keinginanmu, aku akan berusaha untukmenyampaikannya. Sepertinya aku memang harusmenyampaikan kebenaran itu, walaupun akan pahitakibatnya! Baik hanya untukku, hanya untukmu,maupun untuk kita berdua," ungkap gadis itu kembalimembatin. Sungguh kabar yang diketahuinya itu, yaitu perihalBobby yang telah menjalin cinta dengan Wandaadalah sebuah ujian yang berat untuknya, karena lagi-lagi dia harus menerima takdir yang sudah digariskanTuhan. Bagi Angel, hal itu memang tidak mudah untukditerima begitu saja, namun sangat diperlukankeimanan yang kuat agar tidak sampai putus asa.Karena itulah, lantas gadis itu segera memohonkepada Tuhan agar senantiasa menguatkan dirinya 205
    • sehingga tak mudah termakan oleh bujuk rayuansyetan. Kini dengan air mata yang masih berlinang, Angeltampak berusaha menulis surat balasan untuk Bobby.Kata demi kata dirangkainya demi untukmengungkapkan isi hati yang sebenarnya.Tampaknya saat itu dia memang sudah pasrah danharus mau menerimanya, bahkan dia sudahmenyadari kalau dirinya tidak mungkin bisamemaksakan sesuatu yang di luar kemampuannya. Esok malamnya, Raka datang ke rumah Bobbydan langsung memberikan surat dari Angel. Dear, kakakku . Semoga Kakak selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amin... Duhai Kakakku yang baik... Ketahuilah! Setelahmembaca surat Kakak, Angel betul-betul bingung 206
    • harus bersikap bagaimana. Namun karena Kakaksudah meyakinkan Angel kalau Kakak akan berusahauntuk bisa menerimanya dengan lapang dada danjuga berusaha menyikapinya dengan penuh bijaksana,akhirnya dengan berat hati Angel beranimengungkapkannya. Ketahuilah, Kak! Memang betul di dalam suratyang Angel tulis untuk Kakak ada sesuatu yang Angelsembunyikan, yaitu mengenai perasaan Angel kepadaKakak dan juga mengenai perasaan Angel kepadapria yang selama ini Angel sayangi dan Angel cintai,yaitu sahabat Kakak sendiri, dialah "Raka" cinta sejatiAngel. Ketahuilah, Kak…! Semenjak Angel kenalsama Raka, Angel sangat menyayangi dan inginmemilikinya. Namun karena orang tua Raka tidaksetuju, akhirnya kami hanya bisa mengharapkansebuah keajaiban. Semula Angel tidak yakin kalauAngel bisa mencintai yang lain, namun setelahmengenal Kakak anehnya hati Angel justru bisaberpaling ke Kakak. Entahlah... Angel sendiri tidaktahu kenapa Angel bisa seperti itu. Mungkin cinta 207
    • Angel kepada Kakak itu karena cinta buta, ataumungkin juga hanya sekedar pelarian saja. Entahlah...Angel betul-betul tidak mengerti. Tapi yang jelas, saatini Angel sudah begitu mencintai Kakak. Karena itulah,setelah kakak mengatakan sudah jadian denganWanda, Angel pun begitu sulit untuk menerimanya.Bahkan untuk saat ini, Angel ingin sekali menghilangdari kehidupan Kakak, sebab Angel tidak sanggupuntuk terus berada dekat dengan Kakak. Dulu, hal inipun pernah Angel lakukan pada Raka, hinggaakhirnya Angel bisa menerima semua itu sebagaitakdir yang harus Angel jalani. Mungkin juga suatusaat nanti, Angel akan bisa seperti itu, namun untuksaat ini keputusan kakak itu masih sulit Angel terima.Andai saja Kakak mau bersabar untuk tidakmemaksakan keinginan Kakak, mungkin tidak akanseperti ini jadinya. Sebab, jika Kakak memang betul-betul mencintai Angel, seharusnya kakak itu maubersabar dan tidak menerima perjodohan itu begitusaja.Demikianlah yang bisa Angel sampaikan padaKakak, semoga Kakak bisa mengerti kenapa Angel 208
    • sampai bersikap demikian. Akhir kata, Angel doakansemoga Kakak selalu dalam lindungan Allah SWTyang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang di Duniadan Akhirat. Amin... Wassalam... Adikmu Angel Setelah membaca isi surat itu, Bobby tampaktertunduk dengan air mata berlinang. Sungguh diatidak menyangka kalau Angel ternyata sangatmencintainya, bahkan dia sama-sekali tidakmenyangka kalau Angel adalah cinta sejatinya Raka."Angel... Kau mudah bicara begitu. Andai saja kaubisa mengerti akan posisiku yang selalu mendapattekanan untuk segera menikah, tentunya kau tidakakan bicara begitu. Selain mendapat tekanan darikedua orang tuaku, aku pun takut tidak mampu lagimenjaga kesucianku karena pengaruh lingkungan.Jika aku mengabaikan kebahagiaan orang tuaku, dan 209
    • juga salah jalan dalam memenuhi hasrat biologiskutentu menunggumu bukanlah sebuah jalan yangterbaik. Jika aku seperti itu, berarti aku mencintaimukarena cinta buta. Sebab, mengabaikan kedua halpenting itu menurutku adalah dosa. Lagi pula,bukankah kau sendiri yang menganjurkan untukmenerima pilihan orang tuaku. Aku rasa cintamukepadaku adalah karena pelarian, namun akhirnyaberkembang menjadi cinta buta. Jika cintamu karenacinta yang suci, seharusnya saat itu kau menerimacintaku dan memohon untuk segera melamarmu. Kiniaku yakin, ternyata memang Wanda-lah cinta sejatiku.Buktinya belakangan ini aku memang mulai bisamencintainya dengan sepenuh hati. Lagi pula, kau ituadalah gadis yang dicintai oleh sahabatku, dan akutidak tega jika harus melukai hatinya. Aku yakin,sebenarnya memang Raka itulah cinta sejatimu.Seandainya orang tua Raka setuju, mungkin kausudah menikah denganmu. Namun karena keegoisanorang tua Raka yang tak memahami ajaran agamalahpenyebabnya." 210
    • Malam itu, Bobby kembali memimpikan Angel.Namun mimpinya kali ini tak seperti bisanya, dia justrumembuat gadis itu menangis. Sungguh saat itu Bobbytak kuasa melihatnya, kemudian dengan segera diamendekapnya erat dan membelainya dengan penuhkasih sayang. Di dalam dekapannya itu, Angel terusmenangis dan menangis—sungguh dia merasa sulituntuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Ketikamendekap Angel, Bobby pun merasakan kalauhatinya terasa begitu pilu. Tapi kepiluan itu bukanlahkarena rasa sayangnya kepada Angel sebagaiseorang kekasih, namun karena rasa sayang kepadaadiknya yang begitu dicintai. 211
    • DELAPAN Sayap bidadariT rinting! Trinting! Trinting! Suara genta nada yang dipasang di ambang jendela terdengarmerdu. Saat itu di sebuah meja belajar yang sudahtampak kusam, Angel terlihat sedang melanjutkankisah nyatanya. Saat itu pena hitam miliknya tampaklincah—menari-nari di atas lembaran bukucatatannya. Rupanya gadis itu sedang menceritakanprilaku Raka yang kini sudah jauh berbeda.Kini dia tampak begitu dingin dan kaku, bahkan tanpatawa dan canda. Jika kubertemu, dia membisu.Sepatah kata tak terucap, hanya tatap dan senyummenggoda. Mencuri pandang dan melamun saja. Tulis Angel mengakhiri Bab Tujuh kisah nyatanya.Kini gadis itu tampak merenggangkan persendiansambil memperhatikan jam tua di dinding kamarnya. 212
    • "Hmm... Sudah jam empat sore rupanya," gumamgadis itu seraya melangkah menuju ke balkonrumahnya. Balkon itu terbuat dari papan dan tampaksudah lapuk termakan usia. Di atas balkon reot itulahgadis itu berdiri dengan anggun sambil memandangke arah sungai yang tak begitu jauh. Air di sungai itutampak keruh, di sepanjang tepiannya tampakditumbuhi oleh semak belukar, rumpun bambu yanglebat, dan beberapa pohon kerai yang sebagiandaunnya tampak menyentuh permukaan air.Walaupun air sungai itu tampak keruh, namun karenabanyak pepohonan lebat membuat pemandangan disekitar sungai itu menjadi tampak indah. Lama juga Angel memperhatikan pemandanganindah itu sambil terus merasakan hembusan anginsepoi-sepoi yang membuat rambut dan gaun coklatberenda yang dikenakannya tampak berkibar-kibar."Kak Bobby...” ucap Angel tiba-tiba serayamenyingkap helaian rambut yang sempat menutupipandangannya. Saat itulah dari kedua matanyatampak mengalir air mata kesedihan. “Kak… Terus 213
    • terang, aku betul-betul tidak mengerti akan sikapmu.Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau memilihdia? Itukah yang kau katakan cinta, dan itukah yangkau katakan sayang? Sungguh aku tidak menyangka,ternyata begitu mudah dan cepatnya kau berpalingdari orang yang kau cintai dan kau sayangi. Akusendiri saja butuh waktu setahun untuk bisa berpalingdari Raka dan akhirnya mencintaimu, bahkan kini akusulit untuk bisa melupakanmu." Angel terus larut dalam kesedihan, hinggaakhirnya lembayung senja yang indah pun perlahanmulai hilang dari pandangan. Saat itulah Angelmemutuskan untuk masuk ke kamar, berjalan di ataspapan balkon yang senantiasa berderit-derit saatdilewati. Malam harinya, cuaca tampak cerah. Di sebuahteras rumah yang di sekitarnya banyak ditumbuhi 214
    • tanaman hias, sepasang muda-mudi tampak sedangberbincang-bincang mengenai masa depan mereka. "O, jadi... Itu rencanamu setelah menikah?" tanyaBobby perihal niat Wanda yang tidak konsistendengan perkataannya tempo hari, yaitu dia tetap inginmenjadi wanita karir. "Betul, Kak. Ketahuilah, aku ingin membalas jasakedua orang tuaku. Bukankah dengan menjadi wanitakarir itu artinya aku bisa menjamin masa depanmereka. Ketahuilah, Kak... mereka itu kan sudahsemakin tua, dan aku ingin mereka bisa menikmatimasa tuanya dengan penuh kebahagiaan dan tanpaperlu bekerja keras lagi." "Ya, tujuanmu itu sangat mulia sekali, Sayang...Tapi, apakah harus dengan jalan menjadi wanitakarir? Ketahuilah! Kelak orang tuamu adalah orangtuaku juga, dan aku pun merasa berkewajiban untukbisa membahagiakan mereka. Oleh karena itu,biarkan aku saja yang bekerja keras untuk bisamewujudkannya. Kau tahu kan kalau sekarang akusedang merintis sebuah usaha, dan jika kelak 215
    • usahaku itu sudah maju tentu cita-cita mulia itu bisakuwujudkan dengan mudah." "Tapi, Kak... Sebetulnya bukan itu saja tujuankumenjadi wanita karir, melainkan aku juga inginmengembangkan potensi diriku. Jika tidak demikian,apa gunanya aku sekolah tinggi-tinggi jika padaakhirnya sekedar menjadi ibu rumah tangga," "Sudahlah…! Aku tidak mau mendengar alasanmulagi. Kini terserah padamu saja. Jika kau memangingin menjadi wanita karir, aku sudah tidak akanmenghalangi," potong Bobby dengan nada kecewa. "Kakak marah ya?" "Tidak... Untuk apa aku marah." "Tapi, nada bicaramu itu..." "Sudahlah, Sayang...! Aku tidak maumemperpanjang masalah ini. Jika kau masih jugamau membicarakannya, jelas aku bisa marahbetulan," ancam Bobby tidak main-main. Mendengar itu, Wanda pun tidak berkata-kata lagi.Kini gadis itu hanya bisa terdiam dengan wajahtertunduk kecewa. Mengetahui itu, Bobby pun lekas 216
    • berkata. "Maafkan kata-kataku barusan, Sayang...!Bukan maksudku untuk menyakiti perasaanmu,namun aku hanya belum siap untuk menjawab semuaitu." Kini Wanda tampak menegakkan kepalanya dansegera memandang Bobby dengan pandangan penuharti. "Kak, ketahuilah! Sebetulnya aku ini belum siapmenikah. Sebab aku sadar kalau wanita yang sudahmenikah pasti tidak akan bisa sebebas mereka yangmasih sendiri. Ketahuilah, sebetulnya aku menerimaperjodohan ini lantaran terpaksa, yaitu aku tidak maumengecewakan kedua orang tuaku. Kalau aku bolehmemilih, aku lebih suka memilih karir ketimbang harusmenikah denganmu." "Benarkah begitu?" Wanda mengangguk. Mengetahui itu, Bobby langsung membatin."Sungguh aku tidak menyangka, ternyata Wandamasih juga belum bisa memahami arti kehidupan,yaitu kenapa Tuhan menciptakannya. Jika saja diatahu aku yakin dia justru ingin segera menikah, sebab 217
    • jika seorang wanita yang sadar kalau umurnya ditangan Tuhan, tentu dia tidak akan menyia-nyiakankesempatan yang ada, yaitu bisa segera menikah.Sebab dengan begitu, seorang wanita bisa mudahmasuk surga karena ketaatannya kepada suami,bahkan seorang wanita mendambakan bisa matisyahid disaat melahirkan. Seperti halnya para priayang sangat mendambakan mati syahid dalam perangfisik berjihad karena Allah, sebab hanya dengan caraitulah orang bisa masuk surga dengan mudah. Orang-orang beriman adalah orang yang lebih mencintaikehidupan abadi di akhirat ketimbang mencintai duniayang fana ini. Hmm… Sepertinya untuk saat ini akumemang tidak mungkin menjadikan Wanda menjadiseperti keinginanku yang semata-mata karena Allah.Hanya taufik dan hidayah Allah saja yang bisamenyadarkannya dari pola pikirnya yang keliru,"ungkap Bobby dalam hati. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bobbymengutarakan isi hatinya kepada Wanda. "Sayang...Ketahuilah! Kalau boleh aku memilih, sebetulnya aku 218
    • juga tidak menghendaki perjodohan ini. Semua inijuga kulakukan demi baktiku kepada orang tuaku yangbegitu mengkhawatirkanku. Karenanyalah, kini akusudah memutuskan untuk tidak mau ambil pusing,dan aku akan berusaha menerimamu apa adanya.Pokoknya apa pun yang akan terjadi nanti, aku akanberusaha untuk menyikapinya dengan penuhkeikhlasan. Aku sadar, kalau aku memang harusmengalah. Sebab untuk saat ini kau itu memangmasih sulit menjadi wanita seperti yang kuinginkan.Namun begitu aku tidak fesimis, sebab aku percayasuatu hari kelak kau tentu bisa memahami kalausegala keinginanku itulah karena aku mencintaimu." "Benarkah kata-katamu itu? Sungguh aku tidakmenyangka, kalau Kakak ternyata bisa juga menjadiorang yang tidak keras kepala. Ketahuilah, Kak. Akusangat mendambakan pria yang demikian, yaitu priayang mau mengerti aku dan mau menerimaku apaadanya." Kedua muda-mudi itu terus berbincang-bincanghingga akhirnya Bobby memutuskan untuk pamit 219
    • pulang. Setibanya dirumah, pemuda itu langsungmenuangkan isi hatinya ke dalam buku harian. Sungguh… Kehidupan ini terkadang memangmembuatku stress. Namun begitu, aku tidak mudahuntuk menjadi putus asa, sebab aku masihmempunyai yang namanya Tuhan. Dialah yang selalumembimbingku untuk selalu tabah menjalani hidup ini.Aku menyadari kalau hidup bukanlah untuk disesali,tapi untuk dijalani. Menjalaninya pun tidak perlu repot-repot, tinggal menuruti saja apa yang sudah diajarkanRasullullah. Maka dengan demikian, aku tidak lagimerasakan yang namanya susah, gundah, dan resahgelisah. Persoalan harta dan tahta bisa mudahkulewati... Namun, kalau sudah memikirkan yangnamanya wanita bisa jadi lain ceritanya. Sungguhhingga kini hal itu memang sulit untuk bisadipecahkan. Sebab, hal itu merupakan fitrah yangmemang sudah digariskan, kebutuhan yang memangditujukan untuk regenerasi umat manusia. Dicaridengan cara haram pastilah tidak akan membawa 220
    • kebahagiaan, namun bila dicari dengan cara halalternyata tidak mudah juga. Kenapa bisa demikian,jawabnya adalah karena semakin bertambahbanyaknya wanita yang tak memahami akan artikehidupan. Bahkan di era globalisasi ini banyak sekaliwanita yang memilih berkarir ketimbang menjadi iburumah tangga yang baik, dan hal itulah yangmenyebabkan rusaknya sendi-sendi peradabanmanusia. Dimana regenerasi sudah tidak seperti dululagi. Bahkan di negara-negara yang katanya maju,wanita tidak lagi membutuhkan yang namanya suami.Maklumlah, semua itu karena mereka merasa bisamempunyai keturunan dengan tanpa perlu menikah,sebab mereka memang bisa memanfaatkan jasabank sperma untuk mendapatkan seorang anak. Dansemua itu bisa terjadi karena adanya laki-laki yangmau saja menjual spermanya untuk urusan tersebut.Sungguh semua itu tanda-tanda kiamat sudah dekat.Hari ini pun aku terpaksa mengalah pada kekasihkudemi untuk bisa menikahinya. Sebab jika akumemaksakan sesuatu yang belum mampu ditangkap 221
    • akalnya adalah perbuatan yang sia-sia. Biarlah untuksementara kuikuti kemauannya hingga suatu saatnanti—di saat pola pikirnya sudah semakinberkembang dan sudah bisa lebih bijaksana, tentu diaakan lebih mudah untuk bisa memahami segala apayang kusampaikan. Usai menulis semua itu, Bobby lantas berkemasuntuk tidur. Kini pemuda itu sudah terlentang di atastempat tidurnya sambil memikirkan berbagai haltentang arti kehidupan. "Hmm... untuk mendapatkancinta sejati memang tidak mudah. Salah satunyaadalah aku memang harus mengalah, sebabmengalah itu bukan berarti kalah. Aku ini adalahseorang pemimpin, dan pemimpin sejati adalah orangyang bisa membaca keadaan dan tidak memaksakankehendaknya kepada orang yang dipimpinnya.Bahkan dengan rasa cintaku, aku diharapkan untuksenantisa bersabar hingga saat untuk membalikkeadaan itu tiba, yaitu disaat keadaan itu memangsudah memungkinkan atau memang sudah tak bisa 222
    • dikendalikan lagi. Oh, Wanda... Kini aku sudah begitumencintaimu, dan dengan rasa cintaku ini semogaAllah memberiku kekuatan untuk bisa menjadikanmusebagai istri yang shalihah, istri yang senantiasabertakwa kepada Tuhan dan mau berbakti kepadasuaminya. Amin..." Setelah berdoa demikian, lantas pemuda itusegera berbaring di atas lambung kanannya serayaberdoa dengan wajah yang menghadap kiblat. Malamitu pemuda itu bermimpi lain dari biasanya, yaitu diabermimpi sedang berada di daerah Mekah yang saatitu sedang dikunjungi oleh Nabi MuhammadRasullullah. Namun sayangnya dia tak berhasilmelihat wajah Rasulullah karena pada saat itu beliausedang dikerumuni oleh orang banyak. Esok paginya, Bobby tampak sedang duduktermenung memikirkan perihal mimpinya semalam.Saat itu dia betul-betul merasa cemas dan gelisah. 223
    • "Duhai Allah... Apa maksud dari mimpiku itu. Apakahitu artinya kelak aku tidak akan bertemu denganbeliau, dan apakah itu juga pertanda kalau kelak akuakan masuk Neraka? Ya Allah Tuhanku,ampunkanlah segala dosa-dosaku, janganlah apayang kutakutkan itu kelak akan menjadi kenyataan." Sebetulnya saat itu Bobby ingin sekalimenanyakan perihal mimpinya, namun karena iamerasa khawatir kalau hal itu justru bisamenyesatkannya maka ia pun mengurungkan niatnya."Mmm... Bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi MahaPenyayang. Jika aku sudah berusaha untuksenantiasa bertakwa kepada-Nya apakah aku tetapakan dimasukkan-Nya ke dalam Neraka? Tidak... Itutidak benar. Tuhanku adalah Tuhan yang Maha Adildan Maha Bijaksana yang tidak akan menzolimiseorang hamba yang senantiasa berusaha bertakwakepada-Nya. Kalau begitu, mulai hari ini aku haruslebih bersungguh-sungguh dalam usahaku untukmeningkatkan kualitas beribadahku. Bahkan akuharus mau untuk belajar agama lebih banyak lagi 224
    • sehingga aku pun bisa lebih mudah untuk bisamembedakan mana yang benar dan yang salah. YaAllah tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalan yangEngkau ridhai. Tunjukkanlah segala kekeliruankuyang tak kusadari karena kurangnya ilmu. Berilah akutaufik dan hidayah-Mu agar aku tidak tersesat didalam mencari kebenaran yang hakiki, jauhkanlah akudari segala bisikan syetan yang senantiasamemperdayaku dengan berbagai hal yang kuanggapbaik. Kuatkanlah imanku agar senantiasa bisamenggunakan akalku berdasarkan kitab suci yangsudah Engkau turunkan dan bukan atas dasar nafsukeinginan pribadiku." Setelah berdoa demikian, akhirnya Bobby sudahtidak merasa cemas dan gelisah lagi karena mimpinyasemalam. Kini pemuda itu tampak sudah berkemasuntuk mandi, dan setelah beberapa menit kemudiandia sudah selesai dan langsung berpakaian rapi.Rupanya pemuda itu berniat menemui Angel yangternyata betul-betul menghilang dari kehidupannya.Sungguh pemuda itu merasa khawatir kalau gadis 225
    • yang sudah dianggapnya sebagai adik itu menjadiputus asa lantaran cinta butanya. Sementara itu ditempat berbeda, Angel tampak berbaring di tempattidurnya sambil melamunkan Bobby. Lama sekaligadis itu melamun hingga akhirnya Bobby tiba dirumahnya. "Maaf, Bu! Apa Angel ada?" tanya Bobby kepadaibunya Angel. "Ada tuh, lagi tiduran di kamar. Ayo silakanmasuk, Nak!" tawar sang Ibu mempersilakan Bobbyuntuk menunggu di ruang tamu. Setelah itu sang Ibulangsung naik ke lantas atas hendak memberitahuAngel. Tak lama kemudian, Angel sudah menurunitangga dan langsung menemui orang yang dikirateman mainnya. Namun ketika dia sudah bertatapmuka, "Ka-Kak Bobby...!" Seru Angel terkejut lantaranorang yang hendak menemuinya adalah Bobby."Aduuuh...! Kenapa Kakak datang kemari sih?" tanyaAngel yang saat itu tampak blingsatan sepertibelatung nangka. 226
    • "Sini, An. Duduk dekatku!" pinta Bobby kepadagadis itu. "Tidak mau...! Kenapa sih Kakak datang kemari?Kan aku sudah bilang akan menghilang darikehidupan Kakak." "Aku mengkhawatirkanmu, An. Sini dong, akumau bicara padamu!" pinta Bobby lagi kepada gadisitu. "Pokoknya aku tidak mau...!" tolak Angel yangsaat itu masih saja tampak blingsatan seperti belatungnangka. "Huh, biarin deh aku seperti anak kecil.Pokoknya, biarin... biarin...!" kata Angel lagi yangmenyadari sikapnya memang seperti anak kecil. Melihat itu, Bobby hanya tertawa dalam hati.Sungguh dia tidak menduga kalau kedatangannya kaliini akan membuat sikap Angel menjadi demikian. "Aduuuh... Kakak ini tidak pengertian sekali sih.Ayo dong, Kak! Lebih baik Kakak pulang saja! Kakaktidak perlu mengkhawatirkan aku, sebab aku akanberusaha untuk selalu dalam keadaan baik-baik saja. 227
    • Justru jika ada Kakak di sini, aku malah jadi pusiiingnih," kata angel lagi dengan nada manjanya. "An... Aku ini baru saja sampai, aku ini masihlelah. Belum juga dikasih minum, masa disuruhpulang." "Iya, aku ini memang jahat, dan aku ini gadis yangtidak bisa menghargai tamu. Tolonglah, Kak! Terusterang saja aku stress. Ayo dong, Kaaak! CepatKakak pulaaang! Kalau tidak, aku teriak nih," ancamAngel tidak main-main. Karena Bobby tidak mau pulang juga. Angel punakhirnya teriak dengan sekeras-kerasnya,"AAAAAA....! AKUUU... STRESSS!" "Angel...!!!" seru sang Ibu tiba-tiba. "Kau ituperempuan atau bukan sih? Masa teriak begitukerasnya," kata sang ibu yang memarahinya darikamar sebelah. "Tuh, kan. Aku deh yang jadi dimarahi. Kakak sihtidak mau pulang." Saat itu Bobby benar-benar tidak menyangkakalau Angel akan berteriak sekeras itu, bahkan dia 228
    • jadi tidak enak dengan orang tua Angel lantaranulahnya. "Hmm... Baiklah, aku akan pulang.Ketahuilah! Sebetulnya selain mengkhawatirkanmu,aku juga mau membicarakan perihal Raka." "Ra-Raka...? Memangnya kenapa dengan dia,Kak?" "Dia itu sedang sakit, An. Ketahuilah! Semula akuingin mengajak dia agar bisa bersama-sama main kemari. Namun ketika aku mampir ke rumahnya,ternyata dia itu sedang sakit." "Ra-Raka sakit…? Sakit apa, Kak?" "Entahlah... Sepertinya cukup parah. Cepatlah kautengok dia, barangkali saja dengan kehadiranmu bisamembuatnya lebih baik. Aku yakin, dia sakit lantaranterlalu memikirkanmu, yang mungkin saja telahdiketahui telah mencintaiku karena cinta buta." "Be-benarkah yang kakak katakan itu? A-akumencintaimu karena cinta buta, dan… Raka sakitkarena hal itu?" "Entahlah... Itu kan baru dugaanku. Tapi, apa punpenyebabnya, sebagai orang yang pernah dekat di 229
    • hatinya seharusnya kau itu mau lebih prihatin. Sebab,biar bagaimanapun juga, kalian kan pernah sama-sama saling mencintai. O ya, sebetulnya aku datangjuga mau memberitahumu kalau tidak lama lagi orangtuaku akan segera melamar Wanda untukku. Mungkindalam waktu yang tidak lama lagi, yaitu satu atau duabulan ke depan. Dan itu artinya, kami akan segeramenikah. "Be-benarkah yang Kakak katakan itu?" tanyaAngel terkejut. "Benar adikku sayang. Karenanyalah aku sengajadatang untuk memberi tahumu, kalau Raka itulahcinta sejatimu. Cintamu kepadaku hanyalah cintabuta, dan kau tidak layak untuk mempertahankannya,"kata Bobby seraya mengutarakan isi hatinya samapersis seperti yang pernah dipikirkannya malam itu. "Be-benarkah…? Eng… Jika itu memang benar,berarti Wanda itu memang cinta sejati Kakak. Dan ituartinya, Kakak sungguh beruntung, ternyata Kakakbisa bersatu dengan gadis yang Kakak cintai, cintasejati Kakak yang hakiki. Tidak seperti aku, yang kini 230
    • masih harus terus menunggu Raka. Hanya ada duakemungkinan yang bisa mengakhiri waktumenungguku itu, yaitu dia menikah dengan gadis lain,atau jika orang tuanya mau merestui hubungan kami,"ungkap Angel seraya meneteskan air matanya. Sebetulnya saat itu Angel menangis bukan karenaia harus menunggu cinta sejatinya, melainkan karenadia mengetahui kalau Bobby yang kini sudah semakinlekat di hatinya ternyata betul-betul akan menjadi milikWanda. Seketika gadis itu pun langsung membatin,"Kak... Sesungguhnya saat ini aku sudah sangatmencintaimu. Sungguh aku tidak menduga kalau taklama lagi kau akan menjadi suami Wanda. Dan ituartinya, aku tak mungkin bisa memilikimu. " Angel terus menangis dengan derai air mata yangsemakin bertambah deras. Melihat itu, Bobbylangsung prihatin. Bahkan dia kembali teringat denganmimpinya waktu itu, yaitu ketika dia membuat gadisyang sempat mampir di hatinya itu menangis."Bersabarlah duhai adikku tercinta, bidadarikutersayang. Terbanglah yang tinggi dengan sayap 231
    • bidadarimu untuk meraih cinta sejatimu yang hakiki.Jangan pernah berhenti untuk mengepakkan sayapbidadarimu yang kokoh dan penuh kelembutan itu,sayap bidadari yang senantiasa akan membawamumenuju kebahagiaan, yaitu keyakinan akan cintasejatimu yang hakiki—cinta yang tumbuh atas dasarcintamu kepada Tuhan, dan bukan karena cintabutamu semata. Jika kau sampai menyerah kalah,maka kau akan jatuh ke dalam jurang penderitaanyang begitu menyakitkan," saran Bobby kepada Angelyang dikira sedang sedih lantaran sulit bersatu denganRaka. Saat itu, Bobby pun segera mendoakannyaagar dia mendapatkan kebahagiaan seperti yangdicita-citakannya. Begitulah cinta, yang dengankekuatannya mampu membuat pemuda itu begitupeduli terhadap orang yang pernah singgah di hatinya. 232
    • SEMBILAN Cinta sejatiT rinting! Ting! Ting! Ting! Suara denting piano dari lagu melankolis yang sengaja diputar,terdengar merdu menemani sepasang muda mudiyang kini sedang duduk berhadapan di sebuah ruangtamu yang kecil. Rupanya di Minggu yang cerah, Rakayang sudah sembuh dari sakitnya sengaja datangmenemui Angel untuk memberi kabar perihal orangtua Bobby yang minggu depan akan melamar Wanda. "An... Aku betul-betul bingung. Sebenarnya adaapa antara kalian berdua? Kenapa tiba-tiba Bobbymemberi tahu kalau orang tuanya akan datangmelamar gadis yang bernama Wanda?" tanya Rakayang selama ini memang tidak mengetahui hubunganBobby dengan Wanda. "Kakak tidak usah bingung! Sebab, sudah lamaaku mengetahui mengenai hubungan mereka. Jikaorang tua Bobby memang berniat melamar Wanda 233
    • dalam waktu dekat ini, aku rasa itu adalah hal yangwajar." "A-apa??? Ja-jadi... Selama ini kalian tidakpacaran?" "Tidak, Kak. Sesungguhnya semua itu karenasalahku juga. Bobby menjadi kekasih Wanda karenamengikuti anjuranku. Semula aku pikir dia tidakmungkin bisa berpaling dariku karena dia begitumencintaiku. Tapi, ternyata aku salah duga. Dia samasekali tidak mau menungguku, seperti halnya yangpernah kulakukan saat menunggumu lantaran akubegitu mencintaimu." Kini kedua muda-mudi terdiam, di hati masing-masing muncul beragam perasaan dan dugaan yangmembuat keduanya bimbang untuk mengutarakan isihati masing-masing. Lama keduanya saling membisuhingga akhirnya Raka memutuskan untuk pulang.Dalam perjalanan, pemuda itu terus memikirkan Angelyang sepertinya masih bisa dimiliki. Sungguh sebuahharapan yang menggembirakan, walaupun diamenyadari kalau harapan itu sangatlah tipis. Raka 234
    • memang seorang pemuda yang sabar, dan dia sangatpercaya, jika Tuhan memang menghendaki makatidak ada yang bisa menghalangi niatnya untuk bisabersatu dengan Angel. Kini pemuda itu tampak berdiridi atas sebuah jembatan sambil memperhatikan riakair yang keruh, juga pepohonan lebat yang tumbuh disekitarnya. Saat itu perasaannya betul-betul sejuklantaran melihat keindahan yang telah memikathatinya, bahkan keindahan itu sempatmembangkitkan angannya yang selama initerpendam. Dalam benaknya, pemuda itu benar-benarterlena dengan khayalan indah yang diciptakannya,yaitu khayalan mengenai dirinya yang sudah menjadisuami Angel. Lama juga Raka berdiri di tempat itu,hingga akhirnya dia mendengar suara azan magribyang berkumandang. Sejenak diperhatikannyalembayung merah yang sudah kian memudar,kemudian dengan penuh semangat pemuda itumelangkah menuju ke Mushola yang tak jauh daritempatnya melamun tadi. 235
    • Esok harinya udara terasa panas sekali, saat itu dikamar Angel yang tak ber-AC jadi ikut-ikutan panas.Angel yang saat itu sedang asyik menulis benar-benarmerasa tidak nyaman, bahkan peluhnya tampakbercucuran dan masuk mengenai bola matanya.Seketika gadis itu terpejam merasakan perih,kemudian berkedip sebentar dan kembalimemandang ke arah kata-kata yang sedangditulisnya. Ingin rasanya saat itu dia menghentikankegiatannya sejenak dan melanjutkannya di berandadepan yang terasa lebih sejuk lantaran dinaungipepohonan rindang. Namun karena merasa tanggungdan juga khawatir kalau buah pikirannya akan hilang,lantas gadis itu meneruskan kegiatan menulisnya ditengah panas yang terus mendera. "Huff...! Akhirnya Bab Sembilan ini bisakuselesaikan juga," kata Angel lega serayamelangkah menuju beranda. Kini di tempat itulah Angel kembali membacabagian yang baru ditulisnya tadi, beberapa kata yangmenurutnya tidak pas segera diganti dengan kata baru 236
    • yang lebih baik. Pemilihan kata itulah yang seringkalimembuatnya agak kesulitan, apalagi jika ada kalimatyang dirasanya janggal, bisa lama sekali diamembulak-balik setiap kata yang ada di kalimat ituagar lebih enak dibaca. Bahkan jika ada kalimat yangpada mulanya dianggap bagus, namun ketika dibacakembali mendadak berubah jelek dan sama sekali takenak dibaca. Begitulah beberapa kendala yangdihadapi Angel dalam upayanya menjadi seorangpenulis yang baik. Terkadang dia merasa tidakberbakat menjadi seorang penulis lantaran susahnyamelewati proses itu. Maklumlah, bukankah bagustidaknya sebuah kalimat itu sangat relatif—tergantungdari mood dan juga nalar orang yang membacanya.Begitu pun ketika seorang penulis sedang membacanaskahnya sendiri, sewaktu menulis dia merasakalimat yang ditulisnya sudah bagus lantaran mood-nya memang lagi sesuai dengan apa yang ditulisnya,namun ketika dibaca kembali tiba-tiba berubahmenjadi jelek lantaran mood-nya saat itu tidak samadengan mood-nya sewaktu menulis. Begitu pun 237
    • sebaliknya, kalimat yang semula dianggap jelek,namun ketika dibaca kembali justru menjadi bagus. "Aduh, kok jelek sekali sih. Begini salah, begitujuga salah. Hmm... Bagusnya bagaimana ya?" tanyaAngel dalam hati ketika menemukan sebuah kalimatyang dirasanya janggal. "Ah, masa bodolah.Pusiiing...! Sebaiknya biar kutulis begini saja. Jikakelak naskah ini disetujui, biar editornya saja yangmemperbaiki." Gadis itu terus membaca dan merefisi setiapkalimat yang tak berkenan di hatinya, hingga akhirnyadia bisa menyelesaikan pekerjaan itu dan mulaimenyalinnya ke dalam buku catatan yang sebenarnya.Usai menyalin, gadis itu segera kembali ke kamar danduduk di tepi tempat tidur. Saat itu udara di dalamkamar sudah terasa lebih sejuk lantaran sang Mentarisudah semakin condong ke Barat. Kini gadis itutampak mengambil surat cinta pertama dari Bobbydan membacanya kembali. Usai membaca, airmata Angel langsung berderai,mengalir di pipi, kemudian menetes dan meresap di 238
    • sela rajutan bajunya. "Bodoh...! Kenapa aku barumenyadarinya sekarang? Kak Bobby... Aku inimemang gadis yang malang. Entah kenapa setelahsemuanya terlambat baru aku menyadari, kalausebenarnya kaulah cinta sejatiku yang hakiki.Bukankah kau pernah berkata kalau kau mencintaikukarena cintamu kepada Tuhan, dan kau mau menikahkarena kau ingin beribadah. Ketahuilah... Sebetulnyakini aku mencintaimu pun karena hal itu. Aku merasakau itu adalah pria yang bisa membimbingku menjadiwanita shalihah, dan jika aku bisa bersamamu, tentuaku bisa menjalani hidup sesuai dengan tuntunanagama. Perasaan cintaku ini berbeda denganperasaan cintaku kepada Raka, sebab aku mencintaiRaka karena sekedar ingin mendapatkan kesenangandunia. Selama menjalin cinta bersamanya aku tidakpernah berpikir soal tujuan pernikahan sebenarnya,yang terpikirkan hanya berupa hal-hal indah yangjustru membutakan mata hatiku." Begitulah Angel, yang baru menyadari danmeyakini kalau cinta sejatinya yang hakiki adalah 239
    • Bobby. Namun karena dia sudah mengetahui perihallamaran itu, maka dia pun merasa tidak mempunyaiharapan lagi. Sebagai ungkapan ataskekecewaannya, Angel pun segera menumpahkan isihatinya ke dalam buku harian. Ketika cinta menoreh luka, bahagiaku menjadiduka. Hampa sudah asa di dada, sirna pula cita mulia.Sungguh... Karena kebodohankulah aku jadi begini.Cinta sejatiku seakan menari di atas lukaku, seakantertawa menutup tangisku. Sungguh membuat hatikusakit tiada terkira, bagai dihujam jarum neraka.Sungguh malang tiada diduga, petaka datang begitusaja. Menenggelamkan anganku, menenggelamkanharapanku, harapan akan sebuah kebahagiaan. Derai air mata Angel kembali mengalir, terbayangsudah cinta sejatinya yang tengah bersanding denganwanita lain di atas singgasana cinta yangmembahagiakan. Hanya kepasarahan dankeikhlasanlah yang bisa meredakan kegundahan 240
    • dihatinya, kegundahan yang ditimbulkan oleh takdiryang telah dipilihnya sendiri. Sementara itu di tempatberbeda, Bobby yang baru saja pulang dari rumahtemannya agak heran karena saat itu kedua orangtuanya terlihat kompak ingin membicarakan sesuatuyang penting. Kini mereka sudah duduk bersama,membicarakan perihal lamaran yang ternyatadibatalkan. Mengetahui itu, Bobby langsung terkejutdan segera menanyakan sebab musababnya. "Memangnya apa yang telah terjadi, Ayah... Ibu...?Kenapa kalian membatalkan lamaran itu?" tanyaBobby dengan nada kecewa. "Wanda hamil, Bob," jelas sang Ibu kepadanya. “Wa-Wanda hamil…?” Bobby tersentakmendengarnya. "Be-benarkah yang Ibu katakan?"tanya bobby sulit untuk mempercayainya. "Yang dikatakan ibumu itu betul, Bob,” jawab sangayah menimpali, ”Begitulah yang orang tua Wandakatakan. Namun kami percaya bukan kaulah yangmenghamilinya, sebab tidak mungkin kau beranimelakukan perbuatan yang terkutuk itu. Karena itulah 241
    • kami terpaksa membatalkan lamaran itu. Sebab, Ayahtidak mau kau menjadi penanggung aib orang lain." Setelah mengetahui itu, Bobby pun langsungsedih. Namun begitu, dia masih tidak mau percayabegitu saja. Karena itulah, dia segera pamit untukmenemui Wanda di rumahnya. Sesampainya di sana,dilihatnya Wanda dan ibunya sedang bercakap-cakapdi teras muka. Begitu melihat kedatangan Bobby, siibu segera beranjak menghampirinya. "Nak Bobby…Bagaimana mungkin kau masih mau datang kemari?" Bobby tidak menjawab, saat itu pandangannyaterus tertuju kepada Wanda yang masih saja terduduklesu di kursi teras. Diperhatikannya wajah wanita itudengan penuh seksama, saat itu di wajahnyatergambar jelas sekali akan suasana hatinya yangsedang dilanda kesedihan. Sungguh Bobby merasabetul-betul iba melihatnya, bahkan dia bisa merasakanapa yang sedang dirasakan Wanda. Kini pandangan pemuda itu sudah beralihmenatap wajah sang Ibu, "Eng… Memangnya apayang telah terjadi, Bu? Ceritakanlah kepadaku! Sebab, 242
    • aku benar-benar ingin mengetahui perkarasebenarnya," pinta Bobby demi untuk mendapatjawaban yang lebih meyakinkan. Saat itu sang Ibu tidak menjawab, dia malahmenatap mata pemuda itu dengan mata yangberkaca-kaca "Bukankah kau sudah mengetahuinya,Nak. Lebih baik, kau bicara saja padanya!" Kini Bobby kembali menatap Wanda yang saat itumasih terduduk lesu tak kuasa menyembunyikanwajah murungnya. Lalu, dengan perlahan pemuda itumenghampiri Wanda dan duduk di sisinya. Saat itu,Wanda tampak menatapnya dengan mata yangberkaca-kaca, dan hal itu semakin membuat Bobbybertambah sedih. "Wanda… ceritakanlah padaku!"pinta Bobby kepada wanita yang masih dipercayasebagai cinta sejatinya. Lantas dengan air mata berderai, Wanda punsegera menceritakan peristiwa yang telahmenimpanya. "Kak… Ketahuilah! Sebetulnya akubukanlah wanita baik-baik yang seperti yang Kakakduga selama ini. Terus terang, selama ini diam-diam 243
    • aku sudah terlibat dengan bergaulan bebas yangakhirnya menjurus ke… ke arah seks bebas? Dankarena itulah, ki… kini aku harus menanggung semuaakibatnya." Seketika Wanda tertunduk, saat itupenyesalan yang amat sangat tampak terpancardiwajahnya, dan isak tangisnya pun terdengar kianmemilukan. Pada saat yang sama, Bobby tampak terpaku,kedua matanya pun langsung berlinang, dan tak lamakemudian sebulir air mata tampak meluncur jatuh disebelah pipinya. Sungguh penuturan Wanda yangsangat menyedikahkan itu telah membuat hatinyabegitu tersayat, dan segala gambaran indah mengenaimasa depan yang semula begitu indah, hidupberdampingan dengan Wanda yang dipercayasebagai gadis yang baik dan sholehah seakan sirnasektika. Dalam hati, pemuda itu langsung membatin,"Duhai Allah... Kenapa disaat aku sudah menerima diadi hatiku, lantas kini aku dihadapkan dengan pilihanyang semakin sulit? Apakah pilihanku yang bersediadijodohkan oleh orang tuaku adalah salah sehingga 244
    • aku harus dihadapkan dengan perkara yang sesulitini?" Kini Bobby berusaha untuk menerima takdir yangsudah digariskan kepadanya, dan pilihan berikutnyatentu bukanlah pilihan yang mudah. "Sudahlah, Win…Tabahkanlah hatimu," ucap Bobby kepada gadis yangtetap lekat di hatinya. Wanda pun menangis tersedu-sedu serayamemandang Bobby dengan air mata yang terusberderai, "Kak… A-apakah Kakak masih mencintaiWanda, dan a-apakah Kakak masih mau menikahiWanda?" tanyanya dengan suara yang terdengarbegitu pilu. Bobby terdiam, saat itu hatinya betul-betul beratuntuk mengatakan hal yang sebenarnya. Kalausesungguhnya dia memang tidak mau menikahiWanda, sebab dia percaya kalau menikahi wanitapezina adalah perbuatan yang dilarang agama.Namun di lain sisi, pemuda itu sudah sangat mencintaiWanda. Sungguh hal itu adalah pilihan yang sangatsulit, dan jika tanpa ilmu pengetahuan yang cukup 245
    • tentu ia bisa terjerumus pada pilihan yang salah.Namun begitu, Bobby berusaha untuk bisamenemukan jalan keluar yang baik. Setelah berpikirkeras, akhirnya dia menemukan sebuah jalan keluaryang diyakininya baik. "Wan... Apakah kau maubertobat dan menjalani hukuman sesuai denganSyariat Islam, yaitu disebat rotan sebanyak 100 kalidan diasingkan selama setahun. Jika kau bersedia,maka aku akan berusaha meyakinkan kedua orangtuaku kalau kau itu memang pantas untuk kunikahi,"ungkap Bobby mencoba mencarikan jalan keluar.Sebab, dia percaya kalau wanita yang sudah bertobatdengan cara demikian, maka ia tidak lagi menyandangstatus sebagai seorang pezinah, dan wanita yangseperti itu tentu layak untuk dinikahi. Namun karena saat itu keimanan Wanda masihsangat lemah, maka dia pun sulit untuk memberikanjawaban. Maklumlah, saat itu Wanda memang masihmerasa berat untuk bisa menjalani hukuman yangbaginya terlalu ekstrim. Karena itulah, akhirnya Bobbysemakin mantap untuk mengambil putusan yang tak 246
    • menyimpang dari tuntunan agama, yaitu tidakmenikahi wanita pezina seperti Wanda. Sepulang dari rumah Wanda, Bobby langsungmerebahkan diri di tempat tidur dan merenungkansemuanya. "Hmm… Sepertinya aku memang sudahtidak bisa mengharapkannya lagi, biarpun aku sangatmencintainya, bukan berarti aku harus nekadmenikahinya, itu sama saja aku telah cinta butakepadanya. Hmm… siapa sesungguhnya yang akanmenjadi pendampingku?” tanya pemuda itu membatin.Entah kenapa, tiba-tiba saja pemuda itu teringatkepada seorang gadis yang lekat dihatinya, siapa lagikalau bukan Angel—gadis manis yang diduganyatelah cinta buta kepadanya. “Eng… A-apa mungkinjodohku yang sebenarnya itu Angel, sebab sejaksemula aku telah percaya kalau dia memang bisamembahagiakanku. Lagi pula, bukankah dia itu jugamencintaiku, sekalipun aku tahu kalau cintanyakepadaku hanyalah cinta buta. Namun begitu, akuyakin suatu hari kelak dia pasti bisa mencintaikukarena cintanya kepada Allah. Tapi... Dia itu kan cinta 247
    • sejatinya Raka. Walaupun kutahu mereka itu sulitbersatu, tapi harapan untuk itu akan selalu ada.Sungguh aku bisa merasakan bagaimana sedihnyaRaka jika gadis yang dicintainya ternyata memangtidak bisa dimiliki. Kini aku semakin yakin, kalauselama ini Raka tidak mau pacaran, itu karena diasedang menunggu kesempatan untuk bisa menikahiAngel. Dan itu artinya, dia masih mengharapkannya.Ya, tidak salah lagi. Di hatinya tentu masih ada sedikitharapan kalau suatu hari kelak orang tuanya akansetuju, dan jika saat itu Angel belum menikah tentuAngel bisa menjadi istrinya. Duhai Allah... Haruskahaku menyakiti hati sahabatku sendiri demi untukkebahagiaanku," ungkap Bobby dalam hati karenapilihan berikutnya memang bukanlah perkara yangmudah. Seharian ini Bobby terus memikirkan perihalAngel. Sungguh kini dia sedang kesulitan untuk bisamenentukan takdirnya sendiri. Di kepalanya, ego dannurani terus bertarung membenarkan pendapatnyamasing-masing. Dan semakin sengitnya pertarungan 248
    • itu, maka semakin pusing saja kepala Bobbydibuatnya. Saat itu ingin rasanya dia naik ke puncakgunung dan berteriak keras demi untukmenumpahkan segala beban pikiran yang terusmendera. Namun karena hal itu dirasa menyulitkan,akhirnya dia pun menggunakan cara yang lebihmudah, yaitu dengan banyak-banyak mengucapkanistigfar dan memohon ampun atas segala dosa yangpernah diperbuatnya. Bahkan, dia pun memohonpetunjuk Tuhan untuk bisa menentukan takdir yangharus dipilihnya. Setelah melakukan itu semua,lambat-laun hati Bobby pun mulai tenang kembali,hingga akhirnya dia betul-betul bisa berpikir jernih. "Hmm... Entah kenapa, kini aku merasa yakinkalau Angel-lah cinta sejatiku. Eng... Tapi bagaimanajika Angel sudah tak mencintaiku lagi? Bagaimana jikadia ternyata sudah melaksanakan anjuranku untukmengejar cinta sejatinya. Duhai Allah, kenapasemuanya bisa menjadi serumit ini? Dan kenapa pulaaku baru menyadarinya sekarang, kalau Angel itumemanglah cinta sejatiku? Dasar aku ini memang 249
    • bodoh, selama ini aku mengira kalau cintaku kepadaAngel adalah cinta buta. Namun ternyata, dia itumemang cinta sejatiku. Ya, aku ini memang bodohsekali. Bukankah dulu aku pernahmengungkapkannya di surat pertamaku, kalau akumemang mencintainya karena-Mu. Sebab, akumemang betul-betul serius ingin segera menikahinya.Bukankah dengan menikahinya, itu artinya cintakupadanya adalah benar-benar cinta yang suci, cintasejati yang hakiki. Sebab dengan menikahinya, tentuaku bisa terhindar dari hal-hal yang membahayakan.Dan yang terpenting, menikah itu adalah Sunah Rasuldan membuat imanku menjadi lebih sempurna. Malahbisa menjadi sebuah sarana ibadah yang menjanjikan,sebab jika ternyata pernikahan itu tidak sesuai denganharapan maka hal itu bisa menjadi ladang amal yangmelimpah karena pelakunya sabar dalam menghadapiberbagai konflik, dan jika pernikahan itu ternyatasesuai dengan harapan, maka pelakunya pun akanmendapat pahala yang banyak karena salingmembahagiakan. 250
    • Terima kasih duhai Allah, kini aku yakin kalauAngel adalah cinta sejatiku, dan aku pun percayakalau Engkau akan menitipkan dia padaku karenaEngkau mempercayaiku, yaitu agar aku bisamembinanya menjadi wanita yang shalehah.Bukankah aku ini sudah tahu tabiatnya, dia itu keraskepala, cemburuan, gampang marah, dan kalausudah ngambek bisa membuat kepala ini jadi pusingtujuh keliling. Selain itu, aku juga tahu kalau dia itupemalas dan sangat egois. Dan semua itu karena sifatmanja dan kekanakannya yang memang sudahbawaan lahir. Sungguh semua sifatnya hampir samapersis dengan aku, ya... Bukankah dia itu bagian daridiriku juga. Aku sudah kenal siapa diriku, dan akutentu kenal siapa dirinya. Lagi pula, sekarang kan akusudah bisa mengendalikan semua sifat buruk itukarena Engkau memang telah mengaruniakankesabaran padaku. Dan karenanyalah aku percaya,jika kami bersatu maka kami akan bahagia bersama.Sebab dengan kesabaranku, aku tentu dituntut untukbisa menghadapi berbagai kecenderungan negatif 251
    • yang dimilikinya dengan penuh bijaksana. Intinyaadalah, aku ini memang sudah siap menerima apapun yang bakal terjadi, sekalipun hal itu akanmembuatku menderita. Dan dengan kesiapanku itu,tentu rumah tangga kami akan terbina dengan baikdan kami pun akan senantiasa hidup rukun hinggakehidupan baru," ungkap Bobby saat berdialogkepada Tuhannya. Sungguh apa yang ada di benak Bobby saat itutampaknya agak naif dan tidak masuk akal. Apa iyakedua sifat yang parah itu bisa klop satu sama lain?Jangan-jangan malah seperti kucing dan anjing yangkalau bertemu bisa saling menggigit. Tapi, entahlah...Terkadang akal manusia memang tidak bisadigunakan untuk menjawab setiap pertanyaan yangada. Lagi pula, bukankah terkadang ada juga anjingdan kucing yang bisa rukun. Dan bukankah hal itumembuktikan kalau sifat bawaan lahir ternyatamemang bisa berubah. Bahkan di dalam sebuahriwayat hadits, salah satu istri Nabi Muhammad SAWada yang pernah mengaku kalau dia adalah seorang 252
    • wanita yang cemburuan dan mudah marah, namunapa kata beliau. Insya Allah, semua sifat buruk ituakan hilang. Kenapa bisa begitu, sebab jika manusiasudah mengikuti ajaran Al-Quran dan Hadist Rasul,maka semua bawaan lahir akan hilang dan bergantidengan sifat yang jauh lebih terpuji. Nah, jika merekaberdua memang mempunyai komitmen yang sama,dan mau konsisten mengikuti petunjuk kedua kitabtersebut, tentu mereka akan bahagia selalu. Lantas,bagaimana jika salah satunya tidak mau mengikutiitu? Jawabnya mudah, bukankah manusia itu sudahdikaruniakan dengan akal pikiran, yang dengannyamanusia dituntut untuk bisa memecahkan setiappersoalan yang ada. Karena itulah, sebagai mahlukyang senantiasa harus belajar, manusia tentu harusmau berpikir dan selalu berusaha keras untuk menjadilebih baik, kemudian menyerahkan semuanya kepadaSang Pencipta. Mengenai apa pun keputusan-Nya, ituadalah yang terbaik buat manusia. Intinya adalahmanusia harus berusaha keras memilih takdir dengansebaik-baiknya, dan mengenai apa yang akan terjadi 253
    • nanti adalah konsekwensi atas segala pilihannya,yang sejak awal memang telah digariskan oleh yangSang Pencipta. Kini Bobby tampak sedang berpikir keras. "Hmm...Entah kenapa aku merasa PD sekali, kalau kelak akubisa menjadi suami idaman Angel. Padahal, akusendiri tidak yakin apa aku ini bisa terus konsistenatau tidak dalam menjalani ajaran agama. DuhaiAllah… Apakah aku ini memang betul-betul sudahmenjadi orang yang penyabar sehingga kelak aku bisatahan menghadapi segala tingkah lakunya yang takberkenan?" gumam Bobby meragukan dirinya sendiri."Ah, sudahlah... Aku kan belum menjalaninya. Jikaaku memang berniat baik dan memang maubersungguh-sungguh dalam upaya membinanyamenjadi wanita yang shalihah. Insya Allah, dengansifat kasih sayang-Nya, Allah tentu akanmembantuku." Begitulah Bobby, akhirnya menyadarikalau Angel adalah cinta sejatinya, walaupun saat itudia menyadari kalau iman manusia akan senantiasamengalami pasang surut. Karena itulah dia bertekad 254
    • untuk bisa menjaga iman itu agar tetap selalu pasang,yaitu dengan cara berusaha untuk mengikuti berbagaibimbingan rohani. Seperti dengan mengikuti pengajianrutin di TV, Musholah, atau dimana saja. Atau bisajuga dengan membaca buku-buku agama danmembaca berbagai hal keagamaan di internet.Bahkan jika dia dan Angel memang berjodoh, makadia akan bertekad untuk lebih rajin beribadah dansenantiasa berdoa. Sebab dia percaya kalau ibadahdan doa adalah sesuatu yang bisa melancarkanusahanya. 255
    • SEPULUH Kepakan sayap bidadariW uss! Wuss! Wuss! Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa rambut Bobby yangsedang duduk di sebuah bangku taman sambilmemandang air mancur yang menari-nari. Rupanyadia berniat menemui Angel dan mengutarakanmaksud hatinya, yaitu niat untuk segera menikahinya.Bahkan sebuah cincin tanda keseriusan telahdibelinya, dengan tujuan agar Angel yakin kalau diamemang betul-betul ingin menikahinya. Kini diasedang bingung memikirkan rencana selanjutnya."Hmm... Bagaimana jika nanti dia menolakku? Apakahaku akan bisa tabah menerimanya. Ah, sudahlah...Aku kan belum tahu jawabannya, jadi tidak adagunanya jika aku terus memikirkan perkara yangbelum pasti itu. Sungguh... Biarpun dia menolakkudengan alasan yang macam-macam, Insya Allah akutidak akan marah padanya, dan aku pun tidak akan 256
    • kecewa dengan segala keputusannya. Malah, akuakan senantiasa mendoakan dia agar berbahagiaselalu bersama pria pilihannya. Sebab, dia itu adalahcinta sejatiku, yang kebahagiaannya adalahkebahagiakanku juga. Namun, andai dia maumenerimaku, tentu aku akan bahagia sekali. Bahkanaku akan berusaha untuk selalu membahagiakannyadan selalu menjaga perasaannya. Selain itu, apa punyang dimintanya—selama hal itu memang tidakmenyimpang dari tuntunan agama, Insya Allah akuakan senantiasa menurutinya, dan apa pun cita-citanya tentu akan kudukung dengan sepenuh hati.Bukankah dia itu bagian dari diriku. Jika dia sakit,maka aku pun akan sakit, dan jika dia bahagia, tentuaku akan bahagia. Lagi pula, aku percaya.... Jika diasudah menyadari kalau aku adalah cinta sejatinya,maka dia pun akan bersikap sama. Tapi... Bagaimana jika dia justru marah padakukarena tidak konsisten dengan perkataanku mengenaisayap bidadari itu. Malah bisa-bisa dia menganggapaku pria yang tak tahu diri karena telah berusaha 257
    • memiliki cinta sejati sahabatnya sendiri. Bukankahwaktu itu dia pernah berkata padaku, kalau dia sudahbertekad untuk terus menunggu Raka. Tidak! Akutidak mau dianggap seperti itu, walaupun aku berniatmengatakan maksud hatiku ini karena perkataanku itujuga, yaitu aku mau berjuang meraih impianku.Bukankah dia itu cinta sejatiku, salahkah aku jikaberusaha bisa mendapatkannya. Hmm... Ini memangsulit, dan aku betul-betul telah dibuat bingung.Sepertinya aku ini memang orang yang egois karenaingin beribadah dan mendapat kebahagiaan di ataspenderitaan sahabatku sendiri." Bobby kembali termenung. Lama juga pemuda ituberpikir keras hingga akhirnya dia bisa mengambilputusan, "Hmm... Kalau begitu, biarlah aku menunggusampai Raka menikah. Biarlah aku menunggu sepertikeinginan Angel pada suratnya, dan juga mengikutiapa yang sedang Angel lakukan sekarang. Sebab, jikaRaka sudah menikah, tentunya Angel bisa menerimacintaku. Lagi pula, bukankah aku ini memang pernahsinggah di hatinya. Selain itu, aku kan tidak tahu 258
    • kapan orang tuaku akan menjodohkan aku lagi.Mungkin kini mereka sudah trauma lantaranmenyadari kalau ternyata ada juga buah yang jatuhterlalu jauh dari pohonnya. Jika memang benardemikian, memang tidak ada salahnya jika aku terusmenunggu Angel hingga kepasrahanku ini mendapatjawaban dari Allah yang Maha Pengasih lagi MahaPenyayang." Bobby terus merenung dan berusaha menegarkanhatinya yang telah bertekad untuk mempasrahkansemuanya kepada Sang Pencipta. Saat itu anginsepoi-sepoi terus berhembus menemaninya,membuat pemuda itu semakin betah saja berlama-lama di tempat duduknya. Terkadang beberapaburung gereja tampak hinggap di tepian kolam airmancur, layaknya sedang bergembira ria bersama.Sungguh semua pemandangan itu telah menghiburhati pemuda yang kini sedang dilanda kebingungan.Sementara itu di tempat berbeda, Angel terlihatsedang merenung di teras depan rumahnya. Diaduduk di atas sebuah kursi bambu yang beralaskan 259
    • bantalan yang cukup empuk. Kedua kakinya tampakmenyilang dan terkadang saling bergesekan, sedangkedua tangannya tampak bertumpu di atas bukucatatan yang dipangkunya. Rupanya saat itu diasedang memikirkan Bobby yang diketahui malamnanti akan melamar Wanda. "Ya, Tuhan... Aku tidak tahu, apakah aku harusmengepakkan sayapku untuk meraih impian bisamemiliki seorang suami sepertinya. Seorang suamiyang bisa membimbingku menjadi wanita yangshalihah—wanita yang tahu tujuan hidupnya, yaituwanita yang senantiasa mau bertakwa kepada-Mudengan penuh keikhlasan?" tanya Angel dalam hati. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Angel bertekaduntuk segera menemui Bobby. "Ya, sepertinya akumemang harus berjuang untuk itu, yaitu untukmendapatkan cinta sejatiku yang hakiki," kata Angelbertekad dalam hati. Kini Angel sudah menjadi seperti yang sudahdisarankan Bobby waktu itu, yaitu dia tidak bolehmenyerah kalah, minimal dia harus bisa 260
    • mengungkapkan isi hatinya kepada pria yang diyakinisebagai cinta sejatinya—walaupun saat itu dia sendiritidak yakin kalau Bobby akan menerima cinta sucinyaitu. Maklumlah, hingga kini Angel memang masihbelum mengetahui kalau Bobby sudah putus denganWanda. Kini gadis itu tampak membuka buku catatannya,kemudian dengan perlahan dia mulai menulisberbagai hal yang berkenaan dengan perasaannya.Hingga akhirnya, goresan lembut pena hitam miliknyaitu kini tampak semakin memenuhi halaman. Seiring dengan doa, kini aku bulatkan tekad untukmengepakkan sayap bidadariku demi sebuah cita-citayang mulia. Sebuah cita-cita yang akan mengikatdiriku menjadi seorang pendamping pria yangkupercaya bisa membimbingku dalam mengarungikehidupan di dunia ini dan kelak akan menjadibidadara untukku di surga-Mu. 261
    • Begitulah akhir dari rentetetan kalimat yang baruditulisnya, sebuah ungkapan hati untuk melengkapinovel kisah nyatanya yang dia sendiri tidak tahuapakah akan berakhir dengan kebahagiaan. Kini gadisitu tampak beranjak menuju ke kamar dan segeraberkemas untuk melaksanakan niatnya. Tak lamakemudian, Angel sudah keluar dengan mengenakankaos u can see merah muda berstel celana jeans birumuda yang ketat dan bisa membuat pria yangmelihatnya jadi berpikiran yang tidak-tidak. BegitulahAngel, masih juga belum bisa menyadari kalau apayang dikenakannya itu bisa menimbulkan fitnah.Dalam hati dia hanya ingin terlihat cantik dan seksi,dan dia sangat yakin kalau apa yang dikenakannya itutentu bisa membuat pria menjadi senang melihatnya.Bahkan dia merasa hal itu justru sebuah ibadahlantaran dia menilai apa yang dilakukannya itu adalahuntuk menyenangkan hati kaum pria. Sungguhsebuah pemikiran yang sangat gegabah. Beruntungjika orang yang melihatnya hanya merasa senangsaja, namun jika orang itu terpancing birahinya dan 262
    • menjadi gelap mata lantaran melihat keindahantubuhnya, bukankah hal itu bisa berbuntut denganterjadinya memperkosaan terhadap dirinya sendirimaupun orang lain, dan bukankah itu yang dinamakanfitnah karena bisa menimbulkan hal-hal yangmembahayakan/menganiaya dirinya sendiri maupunorang lain. Kini gadis berkaos merah muda itu tampak sudahtiba di ujung gang tempat pangkalan ojeklangganannya berada, juga tempat yang sama disaatBobby mengantarnya waktu itu. Dan karena saat itutukang ojek yang menjadi langganannya tidak ada ditempat, lantas Angel pun jadi bingung dibuatnya.Maklumlah, selama ini hanya tukang ojek itulah yangbiasa mengantarnya hingga ke mana-mana. Sebabmemang hanya tukang ojek itulah yang memahamibetul keadaannya yang bukan orang berada, dankarenanyalah dia mau saja jika dibayar denganseparuh harga, bahkan jika Angel lagi tidak punyauang, dia mau saja mengantarkan Angel dengantanpa dibayar. Sungguh tukang ojek itu tidak sampai 263
    • hati jika melihat Angel sampai berjalan kaki lantarantidak punya uang. Selama ini saja, tukang ojek itusering membantu orang tua Angel yang terkadangmemang suka meminjam uang demi melunasi uangSPP sekolahnya atau untuk biaya kursus komputernyawaktu itu. "Hmm... Ke mana ya Pak Salim, kenapa sudahselama ini belum datang juga?" tanya Angel resah. Angel terus menunggu dan menunggu, hinggaakhirnya gadis itu terpaksa harus mengambilkeputusan. "Hmm... Mungkin Pak Salim sedangmengantar penumpang ke tempat yang jauh. Jikabegitu, terpaksa aku memang harus berjalan kaki,"kata Angel seraya melangkah pergi. Kini gadis itu tengah menyusuri jalan yang menujuke rumah Bobby. Di dalam perjalanan, berkali-kaligadis itu mendapat godaan dari para pemuda yangmemang menyukai penampilannya. Saat itu, Angeljustru senang karena telah menjadi pusat perhatiandan membuat para pemuda itu menjadi senangdengan penampilannya. Untunglah para pemuda itu 264
    • menggodanya hanya dengan suitan dan dengan kata-kata yang masih terbilang sopan. Sebab jika tidak,bisa saja Angel menjadi korban pelecehan seksual,yaitu dengan menyentuh bagian tubuhnya yangmemang mengundang. Gadis manis berkaos merah muda itu masih terusmelangkah, berlenggak-lengkok bak seorang modelyang memamerkan keindahan busananya yang jelasmenggoda. Dan karena atribut menggoda itulah,tubuhnya yang memang sudah indah kian bertambahindah saja. Pada saat itu, seorang pemuda yangbelum lama menikah, tiba-tiba langsung bergegasmenemui sang Istri lantaran dia begitu bergairahmelihat penampilan Angel yang demikian. Bukanhanya pemuda beristri itu saja yang menjadibergairah, tapi juga dua orang pemuda yang saat itusedang meledak-ledak libodonya lantaran ulah siklusbiologis. Saat itu, seorang pemuda yang taat agamaburu-buru mengucapkan istigfar sebanyak-banyaknya,kemudian dengan segera dia bergegas mencarikegiatan yang bisa menyibukkan diri sehingga bisa 265
    • melupakan apa yang baru dilihatnya. Sedangkanseorang pemuda lainnya, yang memang kurang ilmuagama tampak pusing tujuh keliling, bahkan diasempat berpikiran untuk memperkosa anak tetanggayang memang sering main di rumahnya. Tapiuntunglah, saat itu anak tetangganya sedang tidakbermain di rumahnya. Kalau saja niat mesum itusempat terlaksana, tentu Angel bisa dituntut lantaranmenjadi pemicu terjadinya pemerkosaan. BukankahAllah sudah menurunkan ayat hijab, yang jelas-jelastelah diwajibkan kepada kaum perempuan demi untukmelindungi kaum perempuan juga. Jadi, tidak adapeluang bagi perempuan untuk dapat berkelit darituntutan yang dialamatkan kepadanya. Sungguhkasihan Angel, akibat dari pemikirannya yang sangatgegabah itu, ternyata justru dapat menyebabkan diadituntut dikemudian hari. Andai saja dia mau belajardengan sungguh-sungguh dalam upayanyamembekali diri dengan pemahaman ilmu agama yangbenar, yaitu memahami ayat hijab dengan sebenar- 266
    • benarnya, tentu dia tidak akan berani berpenampilanbegitu. Maklumlah, biarpun selama ini Angel menyukaihal-hal kerohanian, namun dia masih berat untuk bisamengamalkan ilmu agama yang didapatnya. Hal itudikarenakan kurangnya pemahaman danpenghayatan dari setiap ilmu yang sudahdipelajarinya, dan karena itu pulalah kini dia mauberubah, yaitu dengan mencari seorang pendampinghidup yang bisa membimbingnya, mendorongnya,mendoakannya dengan penuh rasa cinta, sehinggakelak dia bisa lebih memahami ajaran Islam dan bisamengamalkannya dengan penuh kesungguhan. Angelpercaya, jika kelak dia dan Bobby sudah dalam ikatanyang suci, dan mereka sudah sama-sama bisamemahami ajaran Islam dengan lebih sempurna,tentu mereka akan senantiasa saling mengingatkandan saling menguatkan. Bahkan dengan perasaancinta dan kasih sayang dari keduanya, yang semata-mata karena Allah, maka tidak mustahil mereka akanlebih mudah untuk melewati setiap rintangan yang 267
    • menghadang dan bisa tabah dalam menerima segalaujian yang diberikan Tuhan. Sementara itu di taman, Bobby tampak sudahsemakin mantap untuk membatalkan niatnya, yaitu diaakan membiarkan Angel untuk mengejar cintasejatinya sendiri. Bahkan pada saat itu beban dihatinya sudah kian mereda, pertanda kalau diamemang sudah mengikhlaskannya. Kini kedua matapemuda itu tampak memperhatikan dedauan yanggugur terhempas angin yang kecang. Pada saat itu diangkasa langit sudah semakin gelap, pertanda kalausebentar lagi bumi memang akan diguyur hujan.Namun saat itu Bobby sama sekali tidak khawatirkalau dia bakal kehujanan, baginya hujan adalahberkah yang tak patut ditakuti. Benar saja, akhirnyahujan gerimis pun turun dan semakin lama berubahmenjadi hujan yang begitu lebat dan membuatnyabasah kuyup. Kini Bobby tampak tertunduk dengankedua mata yang terpejam, merasakan kesejukan airhujan yang sudah lama sekali tak menyiram persada.Sungguh terasa sejuk, sejuk sekali—sesejuk hatinya 268
    • yang kini sudah menerima sebuah ujian dari Tuhan.Ujian perihal cinta yang harus disikapinya denganpenuh keikhlasan dan kesabaran, yang mana akanmembuatnya bisa lebih memahami akan makna cintaitu sendiri. Pada saat yang sama, di dalam sebuahgardu tua, seorang gadis tampak sedang berlindungdari siraman hujan yang begitu lebat. Dialah Angelyang kini sedang resah menunggu hujan itu berhenti.Namun sayangnya, hujan itu tak mungkin berhentidalam waktu singkat. Sungguh saat itu Angel betul-betul bingung, bahkan di kedua matanya terlihatkecemasan yang amat sangat. Dengan penuh kecemasan, Angel terusmemperhatikan keadaan di sekitarnya. Saat itusuasana tampak sudah semakin gelap lantaranterhalang tirai hujan yang begitu lebat, ditambah lagisaat itu hari memang sudah mulai senja. "Ya Tuhan...Kenapa hujan harus turun disaat aku ingin segerabertemu dengan belahan jiwaku? Sepertinya, hujanlebat ini akan lama berhenti. Mungkin akan berhentiselepas Isya nanti—disaat orang tua Bobby mungkin 269
    • sudah berangkat melamar Wanda. Dan itu artinya,aku tidak mungkin mendapat kesempatan untukmengungkapkan perasaanku. Ya Tuhan... Apakah inisebuah ujian dari-Mu, agar aku tak boleh menyerahkalah oleh hujan yang selebat ini. Apakah itu artinyaaku harus terus melangkah kakiku di bawah lebatnyasiraman hujan yang mungkin saja bisa membuatkusakit. Hmm... Sakit..? Lebih baik aku sakit atau matisekalian, dari pada aku hidup sehat namun tak bisabersanding dengan Bobby. Lagi pula, bukankah sakitkarena kehujanan tidaklah seberapa jika dibandingkandengan sakit lantaran patah hati. Ya... Aku harusmeneruskan perjalananku, walau apapun yang akanterjadi," kata Angel seraya keluar dari gardu danmelangkah di bawah siraman hujan yangmembuatnya langsung basah kuyup. Angel terus melangkah dan melangkah,menyusuri jalan yang seolah dilapisi oleh hamparankabut putih. Sesekali kilat membias dan diikuti olehbunyi halilintar yang mengejutkan. Saking takutnyatersambar petir, setiap kali dia melihat kilat yang 270
    • membias, buru-buru gadis itu berjongkok sambilmenutup kedua telinganya. Bukan hanya petir yangmembuatnya khawatir, namun juga angin yangterkadang bertiup sangat kencang sehingga membuatdahan pepohonan yang tubuh di sepanjang jalanbergoyang-goyang saling bergesekan. Sungguh gadisitu sangat mengkhawatirkan jika salah satu dahan itusempal dan menimpanya. Benar saja, baru juga dia melangkah kakibeberapa meter, tiba-tiba sebuah dahan yang cukupbesar sempal dan jatuh tepat di atas kepalanya.Mengetahui itu, Angel langsung panik dibuatnya.Namun bukannya berlari menghindar, gadis itu malahtiarap dengan kedua tangan yang berusahamelindungi kepalanya. Alhasil, ranting sedang daridahan besar itu telah menimpa kakinya. "Aaacch...!Ya Tuhan... Apakah ini artinya aku memang harusmenyerah? Dan apakah ini artinya, Engkau memangtidak menghendakiku menjadi pendamping Bobby?"tanya Angel membatin sambil terus merintih—merasakan sakit pada kakinya. 271
    • Sementara itu di taman, Bobby masih belumbergeming. Saat itu tubuhnya tampak sudah menggigilkedinginan, bahkan bibirnya sudah semakin pucatsaja. Namun begitu, pemuda itu masih terus bertahan.Lalu dengan kepala yang masih tertunduk, keduamata pemuda itu lantas terpejam, kemudian dengankhusuk dia memohon kepada Tuhannya. "Duhai Allah,seandainya dia memang bukan jodohku. Aku mohoncarikanlah pengganti yang jauh lebih baik darinya. Kiniaku hanya bisa pasrah menunggu takdirkuselanjutnya, takdir yang harus kujalani demi takwakukepada-Mu. Duhai Allah, Tuhanku yang MahaPengasih lagi Maha Penyayang... Kuatkanlah imankuagar peristiwa ini tak menjadikan aku kufurkepadamu, namun jadikanlah peristiwa ini sebagaihikmah yang justru menambah rasa cintaku kepada-Mu." Dalam siraman hujan yang begitu lebat itu, Bobbytampak menangis haru. Betapa dia sangat bersyukurkarena Tuhan telah mengajarkan kepadanya akansebuah makna cinta, yaitu makna cinta sejati yang 272
    • hakiki. Bahkan kini makna cinta itu bukan hanyadipahami, namun juga bisa dihayati dengan sepenuhhati. "Duhai Allah, perasan inikah yang dinamakancinta sejati, yaitu perasaan akan rasa cintaku kepada-Mu, dan rasa syukur yang membahagiakan inikahjawaban dari kecintaanku kepada-Mu." "Kak, Bobby!" panggil seorang gadis tiba-tiba. Mendengar itu, seketika Bobby langsungmenengadah dan membuka kedua kelopakmatanya—memandang seorang gadis yang kinisedang berdiri dihadapannya. "Angel...!" seru Bobbyterkejut seraya memperhatikan wajah gadis yang kinitampak memandangnya dengan tatapan penuh harap. "Kak... Ke-ketahuilah! Te-ternyata... Rakabukanlah cinta sejatiku. Kaulah cinta sejatiku. Akumencintai Raka karena sekedar mau mendapatkankesenangan dunia. Berbeda ketika aku mencintaimu,sebab aku mencintaimu atas dasar cintaku kepadaTuhan, yang aku percaya dengan perantaramu bisamembimbingku menjadi seorang wanita yangshalehah. Kak, Bobby.... Ka-kaulah cinta sejatiku, dan 273
    • aku harap kau mau segera menikahiku," ungkapAngel seraya berlutut di hadapan pemuda itu. Mengetahui itu, Bobby laksana mendengarnyanyian bidadari yang teramat indah, bahkan sakingsenangnya pemuda itu hampir tak mampu lagiberkata-kata. "Be-benarkah yang kau katakan itu?"tanyanya hampir tak mempercayainya Angel mengangguk, kemudian gadis itu tertundukresah menunggu apa yang hendak Bobby katakan. "Angel..." ucap Bobby dengan suara yang begitulembut. Saat itu jantung Angel langsung berdegupkencang sekali, sungguh saat itu dia benar-benarhampir tak mengusai dirinya. "A-aku mencintaimu, An. Ketahuilah... Kini akusudah berpisah dengan Wanda," ungkap Bobby. Sungguh saat itu Angel tak kuasa lagi untukmembendung air matanya, gadis itu menangisbahagia. "Be-benarkah itu, Kak?" tanyanya seakan takpercaya dengan kata-kata Bobby yang baru sajadidengarnya. 274
    • "Sungguh, An. Ternyata memang kaulah cintasejatiku. Malah kini aku semakin bertambah yakin,sebab apa yang telah kau ungkapkan itu adalah buktibahwa kau sudah betul-betul memahami akan artikehidupan. Tapi, An..." "Ta-tapi apa, Kak?" "Bagaimana dengan Raka? Dia itu kan sahabatku,An?" "Kak… Sejak awal, Kak Raka memang sudahmengikhlaskannya. Aku yakin sekali, kalau diabukanlah pria egois yang tega membiarkan gadis yangdicintainya hidup menderita. Ketahuilah, Kak! JikaRaka sudah mengetahui kalau aku mencintainyalantaran cinta buta, tentu dia pun akan segeraberpaling. Aaacch...!" tiba-tiba Angel merintih,merasakan sakit pada kakinya. "Angel...! Kau kenapa?" tanya Bobby khawatir. "Ti-tidak... Aku tidak apa-apa," jawab Angelmerahasiakan. "Betul kau tidak apa-apa?" tanya Bobby masihsaja khawatir. 275
    • Angel menggangguk, sedang di bibirnya tampaktersungging sebuah senyum kebahagiaan. Saat itulahBobby langsung memakaikan Angel cincin tandakeseriusannya. Setelah itu, keduanya lantasberpegangan tangan dengan erat dan salingberpandangan. Sebetulnya saat itu keduanya inginsekali berpelukan dan berciuman, namun karenamereka tidak mau terlalu menodai cinta mereka yangsuci dengan hal-hal yang tak dikehendaki Tuhan,akhirnya mereka pun bisa menahannya. Maklumlah,saat saling berpandangan dan berpegangan tangansaja sudah membuat keduanya merasa begituberdosa, apalagi jika sampai berani berpelukan danberciuman. Sungguh mereka akan merasa sangatsangat sangat berdosa. Selama ini saja, merekahanya berani melakukan hal itu cuma dalam mimpi,yang jelas-jelas tidak akan membuat mereka berdosa. Begitulah… Akhirnya Angel bisa mendapatkancinta sejatinya, dan itu karena kepakan sayapbidadarinya yang teramat kuat, yaitu cita-cita untukmeraih impian agar bisa bersanding dengan cinta 276
    • sejatinya yang hakiki dengan berdasarkan petunjukTuhan. Sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki ituadalah buah dari segala pilihan takdir yang dipilihdengan berdasarkan petunjuk Tuhan, yaitu Al-Qurandan Hadits Rasul. 277
    • Assalam…. Mohon maaf jika pada tulisan ini terdapatkesalahan di sana-sini, sebab saya hanyalah manusiayang tak luput dari salah dan dosa. Saya menyadarikalau segala kebenaran itu datangnya dari Allah SWT,dan segala kesalahan tentulah berasal dari saya.Karenanyalah, jika saya telah melakukan kekhilafankarena kurangnya ilmu, mohon kiranya teman-temanmau memberikan nasihat dan meluruskannya.Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasihbanyak. Akhir kata, semoga cerita ini bisa bermanfaat buatsaya sendiri dan juga buat para pembaca. Amin…Kritik dan saran bisa anda sampaikan melalui e-mailbangbois@yahoo.com Wassalam… [ Cerita ini ditulis tahun 2006 ] 278