KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR
DAN KEMAMPUAN PENALARAN FORMAL
SERTA PENGARUHNYA TERHADAP HASIL
BELAJAR MATEMATIKA
PADA K...
ABSTRAK
Penelitian ini bersifat korelasional dan bertujuan untuk
mengetahui : (1) seberapa besar hasil belajar Matematika ...
PENDAHULUAN
Pendidikan dan pengajaran adalah suatu
proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat
diartikan sebagai suatu usaha un...
Salah satu faktor yang mempengaruhi
prestasi siswa adalah motivasi. Lemahnya
motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan
...
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran
pada setiap jenjang pendidikan, baik jenjang
pendidikan formal maupun jenjang...
Mengingat pentingnya peranan matematika
di bidang teknologi tadi, maka pelajaran
matematika di SMA perlu mendapatkan
perha...
KAJIAN TEORI
Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya
penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan
kegiata...
Dalam belajar, motivasi punya peranan yang
penting. Dalam membicarakan macam-macam
motivasi belajar, ada dua macam sudut
p...
Pentingnya motivasi belajar bagi siswa yaitu: (1)
Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses,
dan hasil akhir, (2) Me...
Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Menurut Piaget, tahap perkembangan
inteluektual anak secara kronologis terjadi 4
t...
Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun)
Tahap sensorimotor ini ada pada usia antara
0 - 2 tahun, mulai pada masa bayi ketika ia
m...
Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun)
Dikatakan praoperasional karena pada tahap ini
anak belum memahami pengertian operasion...
Tahap Operasional Konkrit (7 - 11
Tahun)
Tahap operasional konkrit dapat
digambarkan pada terjadinya perubahan positif
cir...
Tahap operasi formal (umur 11/12 ke atas)
Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis,
abstrak, dan logis. Pada tahap ini,...
Keterampilan penalaran dalam tahap
ini mengacu pada mental proses yang terlibat
dalam generalisasi dan mengevaluasi argume...
Evaluasi melibatkan menggunakan kriteria
menilai kecukupan solusi masalah. Evaluasi
mengarah ke merumuskan hipotesis tenta...
Kemampuan Penalaran Formal
Santoso (1993: dalam Tawil, tt ),
mengemukakan bahwa penalaran merupakan
suatu proses berpikir ...
Nur (1991 dalam Tawil, tt), mengemukakan
bahwa ada lima operasi penalaran ,yaitu (1)
penalaran proporsional, (2) pengontro...
1. Penalaran Proporsional
Menurut Piaget ( Nur, 1991 dalam Tawil, tt)
mendefinisikan penalaran proporsional sebagai
suatu ...
2. Pengontrolan Variabel
Perkembangan kemampuan pengontrolan
variabel merupakan indeks per kembangan
intelektual. Menurut ...
3. Penalaran Probabilistik
Penalaran probabilistik terjadi pada saat
seorang menggunakan informasi untuk
memutuskan apakah...
4. Penalaran Korelasional
Didefinisikan sebagai pola berpikir yang
digunakan seorang anak untuk menentukan
kuatnya hubunga...
5. Penalaran Kombinatorial
Penalaran kombinatorial adalah
kemampuan untuk mempertimbangkan
seluruh alternatif yang mungkin...
Bila seorang anak dihadapkan kepada
suatu masalah, ia dapat mengisolasi faktor-
faktor itu untuk sampai kepada penyelesaia...
Manusia dalam hidupnya senantiasa ingin
mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di
alam sekitarnya, dalam arti manusia...
Setiap individu pada waktu mengalami
(mengenal) peristiwa (benda) di dalam
lingkungannya, menemukan cara untuk
menyatukan ...
2. Tingkat Ikonic (gambar, bayangan)
Individu mengubah, menandai, dan
menyimpan peristiwa atau benda dalam
bentuk bayangan...
3. Tingkat simbolik
Individu kemudian dapat
mengutarakan bayangan mental
tersebut dalam bentuk simbol dan bahasa.
Apabila ...
Pada tingkat ketiga atau tingkat
simbolik, individu mampu memikirkan
sesuatu yang abstrak. Dengan
kemampuan yang abstrak i...
Bilamana individu yang tingkat
intelektualnya sudah berada pada tingkat
simbolik, diharapkan dengan simbol-simbol
matemati...
Dengan memperhatikan
pengertian penalaran formal,
maka jelas bahwa seorang siswa
yang ingin berhasil dalam suatu
pelajaran...
Pada mata pelajaran matematika sangat
dibutuhkan kemampuan penalaran formal,
karena ilmu matematika adalah bagian dari ilm...
Kemampuan penalaran sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar matematika yang pada
umumnya bersifat tidak nyata yang perlu...
Hasil Belajar
Secara implisit, ada dua faktor yang
mempengaruhi hasil belajar anak, yaitu
faktor internal dan faktor ekste...
▫ Faktor psikologis
yaitu yang mendorong atau
memotivasi belajar. Faktor-faktor
tersebut diantaranya:
▫ Adanya keinginan u...
b. Faktor Eksternal
1. Faktor yang berasal dari orang tua
Cara orang tua mendidik anaknya
berpengaruh terhadap hasil belaj...
2. Faktor yang berasal dari sekolah
Faktor yang berasal dari sekolah, dapat
berasal dari guru, mata pelajaran yang
ditempu...
3. Faktor yang berasal dari masyarakat
Anak tidak lepas dari kehidupan
masyarakat. Faktor masyarakat
bahkan sangat kuat pe...
Selain beberapa faktor internal
dan eksternal, faktor lain yang
mempengaruhi hasil belajar adalah
sebagai berikut:
▫ Minat...
BAHAN DAN METODE PENELITIAN• Hipotesis Penelitian
Bertitik tolak dari kajian teori tersebut, maka
kami mencoba mengemukaka...
• Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Alkhairiyah
2 Cilegon, beralamat di jalan penghubungTol
Cilegon Barat,...
• Populasi dan Sampel
Sampel penelitian di ambil secara
sederhana dengan mengundi, yaitu Kelas XI
IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 ...
• Metode Penelitian
1. Variabel
Penelitian ini mengenal dua macam variabel yaitu :
(1) penalaran formal sebagai variabel b...
HASIL PENELITIANNo Nama Tingkat
Motivasi
Tes soal
MTK
Nilai Hasil
Ulangan
1 Ahmad Oman Cukup 0 50
2 Amrizal Cukup 1 50
3 A...
No Nama Tingkat
Motivasi
Tes soal
MTK
Nilai Hasil
Ulangan
11 Masduki Cukup 1 10
12 Masruroh Sangat rendah 1 20
13 Munifah ...
Keterangan :
Sangat
Tinggi
Tinggi Cuku
p
Renda
h
Sangat
Rendah
Iya 17 – 21 17 – 21 12 – 16 12 – 16 < 12
Kadang-
kadang
- 1...
Hasil Penelitian
Hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan
terhadap 25 orang siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkh...
Hasil belajar matematika melalui nilai
ulangan harian bab limit fungsi siswa
kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2
Cilegon
Berd...
Pembahasan
Hasil penelitian pada siswa kelas XI IPA 2 SMA
Alkhairiyah 2 Cilegon menunjukkan bahwa, tingkat
motivasi siswa ...
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian, dapat
disimpukanbahwa pada umumnya siswa kelas XI SMA
Al...
2. Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian dan
simpulan yang telah dikemukakan di atas, maka
untuk meningkatkan hasil bela...
2. Siswa kelas XI SMA Alkhairiyah 2 Cilegon,
agar lebih giat belajar matematika diluar
jam pelajaran di sekolah, mengingat...
Pertanyaan dan Jawaban
1. Rahayu Anggraeni
Kelompok Anda tadi mengatakan bahwa motivasi
mempengaruhi penalaran formal dan ...
2. Ayu Soraya
Bagaimana implementasi 3 prinsip Ki Hajar Dewantara yang
harus dilakukan oleh orangtua dan guru?
Jawab :
Imp...
3. Avianty Permata
Mungkin atau tidak anak yang motivasinya cukup
tinggi berubah menjadi rendah karena keadaan
lingkungan ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

korelasi antara motivasi belajar dan kemampuan penalaran formal serta pengaruhnya terhadap hasil belajar matematika)

4,678 views
4,421 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
4,678
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
45
Comments
1
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

korelasi antara motivasi belajar dan kemampuan penalaran formal serta pengaruhnya terhadap hasil belajar matematika)

  1. 1. KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN PENALARAN FORMAL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA KELAS XI IPA SMA AL-KHAIRIYAH 2 CILEGON Oleh : Afiatul Latifah, Olivia Annisa T. , Siti Ulfah, Tri Budi S. , Zulia Nelvi Y. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan PMIPA, FKIP, Untirta
  2. 2. ABSTRAK Penelitian ini bersifat korelasional dan bertujuan untuk mengetahui : (1) seberapa besar hasil belajar Matematika siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon; (2) apakah motivasi dan kemampuan penalaran formal mempunyai pengaruh positif terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas XI IPA 2 SMA Al- Khairiyah 2 Cilegon tahun ajaran 2012/2013, sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 25 siswa. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah soal-soal matematika berdasarkan kriteria kemampuan pada anak tahap operasi formal, angket sikap siswa dan hasil belajar matematika. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh : (1) kemampuan penalaran formalnya siswa masih termasuk dalam tahap awal formal, (2) hasil belajar Matemtika siswa masih tergolong rendah, dan (3) motivasi dan kemampuan penalaran formal berpengaruh positip terhadap hasil belajar matematika. Kata kunci : penalaran formal, hasil belajar
  3. 3. PENDAHULUAN Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar tujuan. Tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan siswa setelah melaksanakan pengalaman belajar. Tercapai tidaknya tujuan pengajaran salah satunya adalah terlihat dari prestasi belajar yang diraih siswa. Dengan prestasi yang tinggi, para siswa mempunyai indikasi berpengetahuan yang baik.
  4. 4. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah motivasi. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan, sehingga mutu prestasi belajar akan rendah. Motivasi belajar yang dimiliki siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu.
  5. 5. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran pada setiap jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan formal maupun jenjang pendidikan non formal dipandang memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, diperlukan adanya kemampuan bernalar yang baik di setiap diri siswa. Manusia mampu menalar artinya berpikir secara logis dan analitik. Karena kemampuan menalarnya dan karena mempunyai bahasa untuk mengkomunikasikan hasil pikirannya yang abstrak, maka manusia bukan saja mempunyai pengetahuan melainkan juga mampu mengembangkannya.
  6. 6. Mengingat pentingnya peranan matematika di bidang teknologi tadi, maka pelajaran matematika di SMA perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam kaitan dengan hal ini maka walaupun banyak faktor yang dapat mempengaruhui hasil belajar matematika di SMA, namun dibatasi hanya pada faktor-faktor yang berkaitan dengan motivasi dan kemampuan bernalar. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah motivasi dan kemampuan penalaran formal terhadap hasil belajar matematika. Faktor ini akan diselidiki pengaruhnya terhadap hasil belajar matematika siswa SMA Al-Khairiyah 2 Cilegon.
  7. 7. KAJIAN TEORI Motivasi Belajar Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai
  8. 8. Dalam belajar, motivasi punya peranan yang penting. Dalam membicarakan macam-macam motivasi belajar, ada dua macam sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang yang biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”. Setiap anak harus memiliki motivasi belajar agar dapat tercapainya sesuatu atau hasil sesuai yang diharapkan.
  9. 9. Pentingnya motivasi belajar bagi siswa yaitu: (1) Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir, (2) Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, bila dibandingkan dengan teman sebaya, (3) Mengarahkan kegiatan belajar, (4) Membesarkan semangat belajar, (5) Menyadarkan tentang pentingnya perjalanan belajar. Pentingnya motivasi belajar bagi guru yaitu: (1) Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil, (2) Motivasi belajar siswa di kelas bermacam-macam, dan (3) Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu di antara bermacam-macam peran seperti sebagai penasehat, fasilitator, instruktur, penyemangat, dan guru pendidikan.
  10. 10. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Menurut Piaget, tahap perkembangan inteluektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut: • Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun) • Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun) • Tahap Operasional Konkrit (7 - 11 Tahun) • Tahap operasi formal (umur 11/12 ke atas)
  11. 11. Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun) Tahap sensorimotor ini ada pada usia antara 0 - 2 tahun, mulai pada masa bayi ketika ia menggunakan pengindraan dan aktivitas motorik dalam mengenal lingkungannya. Tindakannya berawal dari respon refleks, kemudian berkembang membentuk representasi mental. Menurut Piaget, perkembangan kognitif selama stadium sensorimotor, intelegensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik.
  12. 12. Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun) Dikatakan praoperasional karena pada tahap ini anak belum memahami pengertian operasional yaitu proses interaksi suatu aktivitas mental, dimana prosesnya bisa kembali pada titik awal berfikir secara logis. Manipulasi simbol merupakan karakteristik esensial dari tahapan ini. Menurut Piaget, pemikiran pada tahap ini khas bersifat egosentris, anak pada tahap ini sulit membayangkan bagaimana segala sesuatunya tampak dari perspektif orang lain. Karakteristik lain dari cara berfikir praoperasional yaitu sangat memusat (centralized). Berfikir praoperasional juga tidak dapat dibalik (irreversable).
  13. 13. Tahap Operasional Konkrit (7 - 11 Tahun) Tahap operasional konkrit dapat digambarkan pada terjadinya perubahan positif ciri-ciri negatif tahap preoprasional. Menurut Piaget, anak pada tahap ini mengerti masalah konservasi karena mereka dapat melakukan operasi mental yang dapat dibalikan (reversable).
  14. 14. Tahap operasi formal (umur 11/12 ke atas) Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif sintifik, dan abstrak reflektif. Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Pemikiran induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman.
  15. 15. Keterampilan penalaran dalam tahap ini mengacu pada mental proses yang terlibat dalam generalisasi dan mengevaluasi argumen logis (Anderson, 1990) dan termasuk klarifikasi, penyimpulan, evaluasi, dan penerapan. Klarifikasi mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur masalah, yang memungkinkan mereka untuk menguraikan informasi yang diperlukan dalam memecahkan masalah.
  16. 16. Evaluasi melibatkan menggunakan kriteria menilai kecukupan solusi masalah. Evaluasi mengarah ke merumuskan hipotesis tentang peristiwa masa depan, dengan asumsi masalah seseorang pemecahan adalah benar sejauh ini. Aplikasi melibatkan siswa menghubungkan konsep-konsep matematika untuk kehidupan nyata situasi.
  17. 17. Kemampuan Penalaran Formal Santoso (1993: dalam Tawil, tt ), mengemukakan bahwa penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Selanjutnya ciri-ciri penalaran sebagai berikut: 1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas disebut logika. 2. Proses berpikirnya bersifat analitik.
  18. 18. Nur (1991 dalam Tawil, tt), mengemukakan bahwa ada lima operasi penalaran ,yaitu (1) penalaran proporsional, (2) pengontrolan variabel, (3) penalaran probabilistik, (4) penalaran korelasional dan (5) penalaran kombinatorial.
  19. 19. 1. Penalaran Proporsional Menurut Piaget ( Nur, 1991 dalam Tawil, tt) mendefinisikan penalaran proporsional sebagai suatu struktur kualitatif yang memungkinkan pemahaman sistem-sistem fisik kompleks yang mengandung banyak faktor. Sebagai contoh pemahaman sistem fisik kompleks adalah pemahaman yang berkaitan dengan proporsional dan ratio. Berdasarkan pendapat di atas, maka siswa yang telah tergolong tahap operasional formal akan dapat memahami dan menjawab dengan benar soal-soal yang berkaitan dengan masalah proposisi dan rasio, yang meskipun mereka belum pernah diajar tentang hal itu. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa siswa yang telah memasuki operasi formal akan mempunyai kemampuan penalaran proporsional.
  20. 20. 2. Pengontrolan Variabel Perkembangan kemampuan pengontrolan variabel merupakan indeks per kembangan intelektual. Menurut Inhelder &Piaget ( Nur, 1991 dalam Tawil, tt ) pemikir formal dapat menetapkan dan mengontrol variabel-variabel tertentu dari satu masalah. Kemampuan mengontrol variabel merupakan salah satu ciri penalaran formal.
  21. 21. 3. Penalaran Probabilistik Penalaran probabilistik terjadi pada saat seorang menggunakan informasi untuk memutuskan apakah kesimpulan berkemungkinan benar atau berkemungkinan tidak benar. Perkembangan penalaran ini dimulai dari perkembangan ide peluang (kira- kira pada usia 7-10 tahun). Konsep probabilitas sepenuhnya dikuasai anak pada tahap operasi formal.
  22. 22. 4. Penalaran Korelasional Didefinisikan sebagai pola berpikir yang digunakan seorang anak untuk menentukan kuatnya hubungan timbal-balik atau hubungan terbalik antara variabel. Dengan demikian seseorang yang tergolong dalam operasi formal akan dapat mengidentifikasikan apakah terdapat hubungan antara variabel yang ditinjau dengan variabel lainnya. Penalaran korelasional melibatkan pengidentifikasian dan pengverifikasian hubungan antara variabel.
  23. 23. 5. Penalaran Kombinatorial Penalaran kombinatorial adalah kemampuan untuk mempertimbangkan seluruh alternatif yang mungkin pada suatu situasi tertentu. Pada saat memecahkan suatu masalah, individu operasi formal akan menggunakan seluruh kombinasi atau faktor yang mungkin yang ada kaitannya dengan masalah.
  24. 24. Bila seorang anak dihadapkan kepada suatu masalah, ia dapat mengisolasi faktor- faktor itu untuk sampai kepada penyelesaian masalah tersebut. Dengan demikian siswa yang tergolong dalam operasi formal bila dihadapakan pada suatu masalah maka akan mampu menyusun seluruh kemungkinan yang mungkin dari semua variabel yang disediakan.
  25. 25. Manusia dalam hidupnya senantiasa ingin mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya, dalam arti manusia ingin memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh akibat interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
  26. 26. Setiap individu pada waktu mengalami (mengenal) peristiwa (benda) di dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyatukan kembali peristiwa (benda) tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa (benda) yang dialaminya (dikenalnya). Selanjutnya dikemukakan bahwa hal tersebut dilakukan menurut urutan tersebut di bawah ini. 1. Tingkat enactive (kegiatan) Individu mempunyai benda atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya.
  27. 27. 2. Tingkat Ikonic (gambar, bayangan) Individu mengubah, menandai, dan menyimpan peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental. Dengan kata lain individu dapat membayangkan kembali (dalam 18 pikirannya) peristiwa (benda) yang telah dialami (dikenalnya) walaupun peristiwa itu tidak lagi berada di hadapannya.
  28. 28. 3. Tingkat simbolik Individu kemudian dapat mengutarakan bayangan mental tersebut dalam bentuk simbol dan bahasa. Apabila menjumpai simbol tersebut, bayangan mental yang ditandai oleh simbol itu dapat dikenalinya kembali. Tingkatan-tingkatan tersebut menggambarkan tingkat perkembangan intelektual individu yang berlangsung
  29. 29. Pada tingkat ketiga atau tingkat simbolik, individu mampu memikirkan sesuatu yang abstrak. Dengan kemampuan yang abstrak ini individu dapat menyusun hipotesis dan dapat meramalkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kemampuan ini disebabkan karena manusia mampu melakukan penalaran.
  30. 30. Bilamana individu yang tingkat intelektualnya sudah berada pada tingkat simbolik, diharapkan dengan simbol-simbol matematika yang abstrak dapat diterimanya dalam pikirannya, karena adanya kesesuaian antara kematangan individu dengan kedudukan objek matematika tersebut. Dengan dikuasainya pengetahuan tentang obyek matematika oleh individu dimungkinkan hasil belajar matematika dapat dicapainya dengan baik.
  31. 31. Dengan memperhatikan pengertian penalaran formal, maka jelas bahwa seorang siswa yang ingin berhasil dalam suatu pelajaran tertentu atau ingin memperoleh hasil belajar yang baik, tentu saja harus memiliki kemampuan tertentu, terutama kemampuan penalaran formal.
  32. 32. Pada mata pelajaran matematika sangat dibutuhkan kemampuan penalaran formal, karena ilmu matematika adalah bagian dari ilmu pengetahuan alam atau sains yang memuat berbagai konsep,ide-ide, hukum serta simbol- simbol yang abstrak, begitu juga proses yang tidak dinyatakan dengan jelas bahkan membutuhkan pemecahan yang bermacam- macam dengan menggunakan kemampuan penalaran formal.
  33. 33. Kemampuan penalaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar matematika yang pada umumnya bersifat tidak nyata yang perlu penalaran formal untuk memahaminya. kemampuan penalaran formal yang dimiliki oleh siswa memegang peranan penting dalam penguasaan konsep-konsep matematika secara optimal.
  34. 34. Hasil Belajar Secara implisit, ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor Internal ▫ Faktor fisiologis Yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi- fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau melatar belakangi aktivitas belajar.
  35. 35. ▫ Faktor psikologis yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar. Faktor-faktor tersebut diantaranya: ▫ Adanya keinginan untuk tahu ▫ Agar mendapatkan simpati dari orang lain. ▫ Untuk memperbaiki kegagalan ▫ Untuk mendapatkan rasa aman.
  36. 36. b. Faktor Eksternal 1. Faktor yang berasal dari orang tua Cara orang tua mendidik anaknya berpengaruh terhadap hasil belajar anaknya. Cara atau tipe mendidik yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan tipe-tipe yang lainnya adalah kepemimpinan pancasila (ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani). Motivasi, perhatian, dan kepedulian orang tua akan memberikan semangat untuk belajar bagi anak.
  37. 37. 2. Faktor yang berasal dari sekolah Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang menyangkut kepribadian guru dan kemampuan mengajarnya. Terhadap mata pelajaran, karena kebanyakan anak memusatkan perhatiannya kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
  38. 38. 3. Faktor yang berasal dari masyarakat Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut mempengaruhi.
  39. 39. Selain beberapa faktor internal dan eksternal, faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut: ▫ Minat ▫ Kecerdasan ▫ Bakat ▫ Motivasi
  40. 40. BAHAN DAN METODE PENELITIAN• Hipotesis Penelitian Bertitik tolak dari kajian teori tersebut, maka kami mencoba mengemukakan hipotesis, yakni “Terdapat pengaruh antara motivasi dan kemampuan penalaran formal terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI SMA Alkhairiyah 2 Cilegon tahun ajaran 2012/2013“.
  41. 41. • Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMA Alkhairiyah 2 Cilegon, beralamat di jalan penghubungTol Cilegon Barat, desa Kotasari, Kec. Grogol Kota Cilegon, Banten. Siswa yang bersekolah disini mayoritas adalah siswa sekitar sekolah yang mempunyai kondisi ekonomi rata-rata menengah kebawah yang tingkat pendidikan masyarakatnya adalah hanya lulusan SMP ataupun paling tinggi SMA.
  42. 42. • Populasi dan Sampel Sampel penelitian di ambil secara sederhana dengan mengundi, yaitu Kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon. Populasinya adalah siswa kelas XI IPA SMA Alkhairiyah 2 Cilegon.
  43. 43. • Metode Penelitian 1. Variabel Penelitian ini mengenal dua macam variabel yaitu : (1) penalaran formal sebagai variabel bebas dan angket sikap siswa, dan (2) hasil belajar matematika sebagai variabel terikat. 2. Rancangan Penelitian Penelitan ini adalah penelitian yang bersifat korelasional dengan rancangan penelitiannya. X Y Keterangan : X= variabel kemampuan penalaran formal dan sikap siswa Y = variabel hasil belajar matematika
  44. 44. HASIL PENELITIANNo Nama Tingkat Motivasi Tes soal MTK Nilai Hasil Ulangan 1 Ahmad Oman Cukup 0 50 2 Amrizal Cukup 1 50 3 Ana Rosdianawati Rendah 1 50 4 Asep Anwar Rendah 1 10 5 Asep Sudrajat Cukup 1 35 6 Diki Afriwal Sangat rendah 0 10 7 Hawariyah Sangat rendah 1 30 8 Irfan Iswanto Rendah 0 0 9 Jamaludin Rendah 1 10 10 Kunaeni Cukup 1 75
  45. 45. No Nama Tingkat Motivasi Tes soal MTK Nilai Hasil Ulangan 11 Masduki Cukup 1 10 12 Masruroh Sangat rendah 1 20 13 Munifah Sangat Rendah 1 20 14 Nursofyati Cukup 1 80 15 Putri Iani Rendah 1 35 16 Qurrotul Uyun Cukup 1 50 17 Romli Cukup 0 50 18 Rudiman Sangat Rendah 1 35 19 Siti Yasaroh Rendah 1 30 20 Sulyanah Cukup 1 50 21 Sunatul Alawiyah Cukup 1 75 22 Supardi Sangat rendah 1 25 23 Tuti Handayani Cukup 1 75 24 Umroh Cukup 1 50 25 Wiwin Winarsih Cukup 1 50
  46. 46. Keterangan : Sangat Tinggi Tinggi Cuku p Renda h Sangat Rendah Iya 17 – 21 17 – 21 12 – 16 12 – 16 < 12 Kadang- kadang - 1 – 5 6 – 12 6 – 12 >12 Tidak 4 (u/ no 8, 10,11,20) 1 - 4 (u/ no 8, 10,11,2 0) 1 - 4 (u/ no 8, 10,11,2 0) 0 – 3 (selain no 8, 10,11,20 ) >3 (selain no 8, 10,11,20)
  47. 47. Hasil Penelitian Hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan terhadap 25 orang siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon, dapat diuraikan sebagai berikut. Angket perilaku siswa : Berdasarkan pengisian angket yang dilakukan, tingkat motivasi siswa kelas XI IPA 2 Alkhairiyah 2 Cilegon tergolong masih rendah, karena lebih dari 50 % siswa menjawab kadang-kadang dalam perilaku belajar yang baik, dan sekitar 10 % masih menjawab tidak dalam perilaku baik dalam belajar. Pengerjaan soal-soal Matematika yang sesuai kriteria penalaran formal sebagai variabel bebas Kami menyediakan 9 soal matematika dengan kriteria penalaran formal pada tahap operasi formal. Semua siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon hanya bisa menjawab 1 soal nomor 9 yang tingkat kesulitannya masih rendah. Adapun beberapa siswa yang tidak bisa menjawab 9 soal sama sekali.
  48. 48. Hasil belajar matematika melalui nilai ulangan harian bab limit fungsi siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon Berdasarkan hasil belajar yang kami dapatkan dari Guru matematika yang bersangkutan, hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon masih tergolong sangat rendah karena hanya 4 orang siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM yaitu 70.
  49. 49. Pembahasan Hasil penelitian pada siswa kelas XI IPA 2 SMA Alkhairiyah 2 Cilegon menunjukkan bahwa, tingkat motivasi siswa masih sangat rendah. Siswa mengerjakan soal matematika yang sesuai dengan kriteria tahap operasi formal yang menggunakan penalaran formal. Hasilnya pun jauh dari yang diharapkan, rata-rata siswa hanya menjawab 1 soal dari 9 soal yang kami berikan. Hasil belajar matematika yang kami dapatkan dari Guru matematika yang bersangkutan, menunjukkan tingkat hasil belajar matematika masih jauh dari standar yaitu 70. Hanya beberapa siswa yang mendapatkan nilai diatas 70. Dari hasil penelitian yang kami dapatkan adalah, hasil belajar matematika di pengaruhi oleh tingkat kemampuan penalaran formal dan motivasi. Semakin rendah tingkat motivasi dan kemampuan bernalar, maka semakin rendah pula hasil belajar matematika. Begitu pula sebaliknya, Semakin tinggi tingkat motivasi dan kemampuan bernalar, maka semakin tinggi pula hasil belajar matematika.
  50. 50. SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan Berdasarkan dari hasil penelitian, dapat disimpukanbahwa pada umumnya siswa kelas XI SMA Alkhairiyah 2 Cilegon pada tahun ajaran 2012/2013, tingkat motivasi siswa tergolong rendah dan kemampuan penalaran formalnya masih berada pada tahap awal formal, dilain pihak seharusnya mereka sudah termasuk dalam tahap formal dan hasil belajar matematikanya masih tergolong rendah Demikian pula siswa perlu diberikan latihan-latihan soal matematika yang berhubungan dengan kemampuan formal, karena kemampuan tersebut berpengaruh baik terhadap hasil belajar matematika.
  51. 51. 2. Saran Berdasarkan dari hasil penelitian dan simpulan yang telah dikemukakan di atas, maka untuk meningkatkan hasil belajar matematika di SMA Alkhairiyah 2 Cilegon diajukan saran sebagai berikut. 1. Guru-guru bidang studi matematika didalam mengelola proses belajar mengajar hendaknya dapat memeberikan latihan-latihan soal matematika yang dapat mengembangkan daya nalar siswa
  52. 52. 2. Siswa kelas XI SMA Alkhairiyah 2 Cilegon, agar lebih giat belajar matematika diluar jam pelajaran di sekolah, mengingat keterbatasan waktu, perhatian yang dimiliki guru untuk memberikan semua konsep matematika yang harus dikuasai 3. Perlu dilakukan penelitian-penelitian lanjutan mengenai hal ini dalam sampel lebih besar, sehingga dapat diharapkan hasil yang lebih umum lagi.
  53. 53. Pertanyaan dan Jawaban 1. Rahayu Anggraeni Kelompok Anda tadi mengatakan bahwa motivasi mempengaruhi penalaran formal dan hasil belajar, mengapa pada hasil penelitian Anda ada yang motivasinya cukup, tapi nilainya lebih rendah dari yang motivasinya rendah? Jawab : Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, motivasi memang mempengaruhi kemampuan penalaran formal dan hasil belajar. Namun, benar yang dikatakan saudari Anggi, ada yang motivasinya cukup, tapi nilainya lebih rendah dari yang motivasinya rendah. Mungkin itu disebabkan karena faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi, misalnya lingkungan belajar atau suasana belajar, atau yang lainnya. Namun, faktor-faktor lain tersebut tidak ikut kita teliti dalam penelitian ini.
  54. 54. 2. Ayu Soraya Bagaimana implementasi 3 prinsip Ki Hajar Dewantara yang harus dilakukan oleh orangtua dan guru? Jawab : Implementasi 3 prinsip Ki Hajar Dewantara: 1. Ing karsa sung tulodo : Jadi saat kita di depan, kita harus memberikan contoh dan panutan yang baik. Karena setiap perilaku kita akan dinilai oleh peserta didik. 2. Ing madyo mangun karso : Jadi ketika kita di tengah-tengah, kita harus mampu membangkitkan semangat para peserta didik, terutama apabila semangat mereka mulai kendor. 3. Tut wuri handayani : Jadi ketika di belakang, kita harus mampu memberikan dorongan serta mengawasi dengan baik. Kita memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk berkembang sendiri, dan kita juga harus mampu membantu siswa tersebut saat sedang mengalami kesulitan.
  55. 55. 3. Avianty Permata Mungkin atau tidak anak yang motivasinya cukup tinggi berubah menjadi rendah karena keadaan lingkungan yang kebanyakan motivasinya rendah? Jawab : Hal tersebut mungkin saja bisa terjadi, karena bagaimana pun tinggi rendahnya motivasi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Jika lingkungannya baik, maka motivasi kita pun cenderung tetap tinggi. Oleh karena itu, para siswa sangat membutuhkan peran orangtua dan guru untuk senantiasa memelihara bahkan meningkatkan motivasi tersebut.

×