Jurnal gandrung vol2 no1 (e jurnal)

  • 1,477 views
Uploaded on

Diterbitkan oleh GAYa NUSANTARA

Diterbitkan oleh GAYa NUSANTARA

More in: Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
1,477
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
22
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Daftar IsiEditorialDédé Oetomo 4ArtikelAri Setyorini Performativitas Identitas Gender dan 7 Seksualitas pada Weblog Lesbian di IndonesiaBen Murtagh Coklat Stroberi: Sebuah Roman Indonesia 45 dalam Tiga RasaIrwan M. Hidayana Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan 73 Pasangan SeksualnyaIskandar P. Nugraha Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok 99& Maimunah Munir LSL di Jayapura PapuaNgerumpiMaimunah Munir & Ahmad Zainul Hamdi 125ResensiMichael G. Peletz, Gender Pluralism: Southeast Asia Since Early 139Modern TimesKathleen Azali Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 3
  • 2. 4 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 3. Editorial Dédé Oetomo Pemimpin Redaksi Sesudah 1½ tahun vakum, Jurnal Gandrung Vol. 2 No. 1 inipun tampil di hadapan anda peminat dan pengaji studi gender danseksualitas. Permintaan maaf sedalam-dalamnya saya ajukan ataskevakuman itu. Kami tim pengelola jurnal ini berusaha hal ini tidakakan terjadi lagi, sesuatu yang akan menjadi lebih mudah kalau andamenyumbangkan tulisan bijak bestari anda untuk nomor-nomorjurnal ini berikutnya. Dalam menyiapkan volume kedua ini, pekerjaan awalnyadipimpin oleh Soe Tjen Marching, namun karena alasan pribadimaupun kelembagaan kemudian oleh Dewan Pengurus YayasanGAYa NUSANTARA, rumah penerbitan ini, diputuskan sayalahyang meneruskan pekerjaan itu. Kepada Soe Tjen diucapkan banyakterima kasih atas rintisannya yang telah mendobrakkan jurnalpertama dalam sejarah negeri ini yang secara khusus membahasstudi gender dan seksualitas dalam segenap keanekaragamannyadan dengan pendekatan yang membebaskan dan menyetarakan. Dalam nomor ini ada dua artikel yang membahas representasiseksualitas dalam dua jenis media, yakni blog dan film. Ari Setyorinimembahas performativitas lesbian dalam blog, sementara BenMurtagh membahas film “Coklat Stroberi” (2007), yang menampilkankompleksitas homoseksualitas masa kini. Rubrik Ngerumpi menampilkan wawancara Ahmad ZainulHamdi dengan Maimunah Munir, seorang pengaji gender dan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 5
  • 4. Dédé Oetomoseksualitas yang juga akrab dengan kajian film queer dan belakangankian mendalam mengaji fenomena waria dan trans* lainnya. Seksualitas laki-laki dibahas dalam artikel Irwan Hidayanamengenai pekerja seks laki-laki, dan dalam artikel kolaborasi IskandarNugraha dan Maimunah Munir tentang laki-laki di Papua. Yang tak kalah penting untuk disimak adalah resensi KahtleenAzali atas buku Michael Peletz, Gender Pluralism: Southeast Asia SinceEarly Modern Times, yang kiranya akan mengusik rasa ingin tahu dankecendekiaan anda untuk menelaah bukunya yang merupakan karyamumpuni tentang kemajemukan gender di Asia Tenggara. Demikianlah hidangan kami kali ini. Kritik dan saran tetapkami harapkan, dan terlebih lagi, tulisan cendekia anda untuk nomor-nomor berikutnya.6 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 5. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia Ari SetyoriniAbstrak: Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana identi-tas gender dan seksualitas ditampilkan dalam weblog lesbian Indone-sia. Melalui tampilan tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahuimakna ideologis di balik tampilan identitas gender dan seksuali-tas blogger lesbian Indonesia, serta sejauh mana praktik resistensiatas subordinasi terhadap lesbian ditampilkan dalam weblog. Kajianini mengambil dua weblog, yakni Fried Durian dan Rahasia Bulan.Sementara, post yang dipilih sebagai teks analisa adalah post yangmemuat isu mengenai gender dan seksualitas. Kajian ini merupa-kan penelitian multidisiplin-kualitatif. Teori perfomativitas dipakaimengungkap bagaimana bahasa memperformativitaskan identitasgender dan seksualitas. Hasil penelitian mengkonfirmasi bahwaidentifikasi gender dan seksualitas lesbian cenderung merupakankombinasi terhadap femininitas dan maskulinitas. Melalui prosescriss-crossing, lesbian memperformativitaskan diri mereka dengan“aksi panggung”, menempelkan identifikasi identitas feminin danmaskulin melalui dandanan, pakaian, gesture tubuh, dan seksuali-tas. Lesbian dalam konteks sosial masih menanggung beban tubuhsosial sebagai perempuan. Identitas perempuan sebagai ibu dan is-tri menjadikan lesbian tak juga bisa lepas dari tuntutan reproduksidan femininitas yang diproduksi oleh kuasa dari rezim kebenaran.Senyatanya, blogger merupakan produser kreatif atas wacana lesbiandi mana mereka mereproduksi wacana heteronormativitas, hinggawacana tersebut tidak menjadi satu-satunya wacana dominan.Kata kunci: performativitas, lesbian, gender, seksualitas, weblog. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 7
  • 6. Ari SetyoriniPendahuluan Kemajuan teknologi informasi yang melahirkan internet ten-gah dirayakan banyak orang. Penyebabnya adalah karena mediabaru ini memiliki kemampuan memunculkan sebuah bentuk ko-munikasi baru, di mana seseorang tidak lagi harus berkomunikasisecara face to face pada satu tempat yang sama, namun dapat dilaku-kan dari satu tempat ke tempat lain yang letaknya sangat berjau-han. Terlebih dengan penawaran akan anonimitas, sehingga iden-titas pengguna dapat disembunyikan karena dimensi tubuh tidaklagi dibutuhkan. Sebagaimana yang diungkapan Rheingold (1994),people in virtual communities do just about everything people do in reallife, but we leave our bodies behind. Dengan kata lain, komunikasi hadirmelalui tulisan, gambar, suara, video dalam layar komputer, dalamdunia virtual. Identitas hanyalah berdasar pada apa yang penggunatampilkan. Seseorang dapat menjadi siapa saja dan apa saja sesuaidengan apa yang mereka inginkan. Tidak heran jika kemudian adaungkapan yang mengatakan “on the internet, no one knows if you area dog.” Penawaran akan disembodied performativity ini kemudian di-manfaatkan oleh individu dan komunitas marjnal untuk menyuara-kan kepentingan mereka yang selama ini tidak mampu diekspresi-kan secara bebas di dunia nyata. Dengan tidak hadirnya tubuh,individu dapat menampilkan identitas yang berbeda dari identitasmereka di dunia nyata. Dipahami bahwa selama ini kelompok termarjinalkan,utamanya LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender/Transeksual) belum mendapat tempat sebagaimana heteroseks. DiIndonesia sendiri, heteronormativitas menjadi ideologi dominanyang dilanggengkan oleh rezim kebenaran, misalnya oleh negara,agama, kedokteran, bahkan oleh keluarga. Media pun tak luputdari perpanjangan tangan rezim kebenaran untuk membentukstereotip LGBT. Isu-isu LGBT dan homoseksualitas akhirnyadianggap kebanyakan orang sebagai sesuatu yang negatif danterlarang. Alimi (2004) dalam bukunya, Dekonstruksi SeksualitasPoskolonial: Dari Wacana Bahasa hingga Wacana Agama, menyimpulkanbahwa heteronormativitas masih menjadi wacana dominan yangdikonstruksi oleh media mainstream. Satu hal menarik yang terlihat dari kontestasi diskursus(homo)seksualitas pada media Indonesia adalah bahwa meskipun8 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 7. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesiatelah banyak media yang menggulirkan wacana tandingan atascitra negatif lesbian ini, namun senyatanya masyarakat masihmemberi citra negatif bagi lesbian. Tingginya jumlah penontonfilm dan pembaca novel bertema lesbian, ternyata belum jugamemberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perubahancitra negatif mereka. Ini tampak dari MUI yang beberapa kali harusmemberikan larangan terhadap beberapa film bertema (homo)seksual, serta peran lembaga sensor film yang berhak memotongmana yang dianggap boleh ditayangkan (bermoral) dan mana yangharus dibuang (tak bermoral). Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa LGBT masihdianggap sebagai hal yang melenceng di Indonesia. Akibatnya,banyak individu LGBT yang harus menutupi identitas merekadalam dunia nyata. Kehadiran cyberspace dengan kecairan sifatnyadianggap mampu menjadi media alternatif untuk menyuarakanketertindasan LGBT dalam mengekspresikan identitas mereka, atausebagai media untuk coming out of the closet. Selain itu, pergeseranposisi subyek dalam kacamata postmodernitas, di mana subyek-subyek kecil mulai memiliki suara untuk menentang struktur kuasa,memungkinkan lesbian Indonesia sebagai subyek kecil untuk dapatberbicara, mengungkap identitas gender dan seksualitas mereka. Berangkat dari pendapat Bryson (2004) bahwa masihsedikit penelitian yang mengkaji tentang komunitas perempuanmarjinal, utamanya perempuan lesbian, biseksual dan transgender/transeksual dalam kaitannya dengan cyberspace, maka penelitian iniakan mengkaji mengenai hal tersebut. Penelitian difokuskan padaperformativitas blogger lesbian Indonesia dalam mengkonstruksikanidentitas gender dan seksualitas mereka melalui weblog. Weblog dipilihsebagai media obyek kajian dengan alasan bahwa sejauh penelusuranpeneliti, belum ada penelitian yang membahas mengenai blogspheredi Indonesia. Alasan lain adalah karena blog memiliki kelebihandari bentuk cyberspace lainnya, di antaranya adalah karateristiknyasebagai jurnal online pribadi yang mengutamakan personalitas danindividualitas pemiliknya. Individualitas inilah yang melahirkanekspektasi terhadap blog sebagai media alternatif. Williams(via Mitra dan Gajjala 2008) mengatakan bahwa blog dianggapmampu menjadi ruang yang memungkinkan lahirnya resistensi-resistensi atas struktur kuasa yang ada melalui cara “speakingback”. Cara ini mungkin dilakukan ketika blogger menampilkansubyektivitas sebagai individu yang menyuarakan keterasingan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 9
  • 8. Ari Setyorinidan ketertindasan dari tindakan opresif stuktur berkuasa. Sejalandengan pemikiran tersebut, Gauntlett (2002) juga menjelaskanmengenai kemampuan new media (khususnya website pribadi danweblog–pen.) menyediakan alternatif-alternatif lain bagi individuatau grup sebagai tandingan atas ide dominan tentang perempuandan laki-laki. Terdapat dua blog yang dikaji, yaitu Fried Durian (http://frieddurian.blogspot.com) dan Rahasia Bulan (http://rahasiabulan.blogspot.com). Fried Durian (FD) adalah blog milik sepasang partnerlesbian bernama Lushka dan Mithya (selanjutnya disingkat L danM). Blog FD ini mulai dijalankan sejak Juni 2007. Rahasia Bulan(selanjutnya disingkat RB) adalah jurnal pribadi milik seoranglesbian dengan nama virtual Alex (selanjutnya disingkat A). Blogini cukup dikenal dalam komunitas lesbian karena latar belakangpemilik blog sebagai founder sebuah majalah online lesbian, sepocikopi.com. RB mulai ada dalam blogsphere sejak tahun 2006. Kedua blogtersebut, menurut peneliti, mampu menjadi objek kajian yangrepresentatif untuk mewakili bagaimana blogger lesbian Indonesiamenampilkan identitas gender dan seksualitas mereka dalamruang virtual. Anggapan peneliti ini didasarkan pada keragamandiskursus offline yang mengelilingi blogger di kedua blog tersebutyang memengaruhi cara bagaimana mereka menggambarkanidentitas gender dan seksualitas yang tampak melalui tampilantema, bahasa, maupun gambar pada blog tersebut.PembahasanA. Weblog Fried Durian Sebagaimana yang disinggung di atas, Fried Durian (FD)adalah weblog milik sepasang partner bernama virtual Lushka (L)dan Mithya (M). Struktur weblog ini terdiri dari tiga bagian. Bagianpertama berisi judul weblog, yakni Fried Durian, dan deskripsiterhadap identitas weblog. Bagian kedua merupakan struktur utamablog memuat post. Post terdiri dari waktu post, judul post, isi post,nama blogger yang melakukan posting, komentar dari pembacaweblog, dan identifikasi topik pembicaraan. Bagian ketiga adalahbagian tambahan, berisi arsip post, comment box, web hit counter,Yahoo Messenger!, dsb.10 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 9. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia A.1 Perbincangan Mengenai Identifikasi Femme, Butch, Andro, dan No Label Weblog FD ini menarik karena dari awal L-M tidak menempatkan identitas mereka ke dalam kategorisasi identitas gender dan seksualitas manapun, baik dalam kategori identitas lesbian, maupun dalam kategori identitas normatif lain. Identifikasi identitas L-M pada FD ini pertama kali tampak pada deskripsi yang terletak di bawah judul weblog mereka, yakni “Bisexual is an overstatement. Lesbian is an understatement. We just know how to enjoy live by being in each other arms [ibid]. This is our fun queer story from Indonesia.” Melalui deskripsi ini, L-M menggambarkan queer-itas identitas mereka. Perbandingan identitas yang tampak dalam pemilihan kata overstatement (sebagai biseksual) dan understatement (sebagai lesbian) menunjukkan bahwa kategorisasi identitas tersebut tidak cukup mewakili mereka. Bagi L-M, penyebutan biseksual sebagai identitas mereka merupakan sesuatu yang berlebihan. Sementara, identifikasi sebagai lesbian, bagi L-M, terlalu menyempitkan dan kurang cukup mewakili kompleksitas identitas mereka. Di sinilah tampak bagaimana identitas gender dan seksualitas merupakan sebuah hal yang tidak cukup hanya dibatasi melalui kategorisasi-kategorisasi tertentu, pun bukan pula sebagai sesuatu yang stabil dan koheren. Inkoherensi tampak pada identifikasi L-M terhadap seksualitas yang bukan sebagai biseksual maupun lesbian (homoseksual), juga bukan sebagai heteroseksual. L-M bahkan dengan gamblang menyebut identitas mereka sebagai queer, di mana gender dan seksualitas bagi mereka adalah sebuah kecairan. Identitas menjadi sebuah hal yang tidak ajeg, karena L-M menempatkannya sebagai yang dapat diubah, sebuah proses criss-crossing (Sedgwick via Beasley 2005, 108). Deskripsi tersebut diperjelas melalui beberapa post- ing L-M dalam FD. M mendeskripsikan identifikasi dirinya (“Don’t Label Yourself,” Senin, 8 Desember 2008), …gue nggak suka memasukkan diri gue ke kategori mana pun…dalam dunia kategori lesbian (femme, butch, andro)…. Gue lebih suka mengelaborasi atau menggam- barkan perilaku daripada menamai. Yep, saat ini gue in a Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 11
  • 10. Ari Setyorini relationship dan bahkan jatuh cinta dengan Lushka. Tapi saying myself a lesbian? Lah, I’m not that in to women juga. Masih bisa ngiler liat cowok berbadan atletis dan ber- wajah lutcu…. M tidak melakukan kategorisasi dirinya berdasar identitas gender yang telah ada. Penggunaan istilah “mengelaborasi (identitas)” mendeskripsikan tindakan untuk memperlakukan identitas sebagai sebuah hal yang dapat diubah atau diuraikan—pendeknya berada dalam sebuah proses, ketimbang sebuah hasil ajeg dalam kategorisasi. M memilih untuk tidak mengkategorisasikan dirinya menjadi femme, butch, atau andro, karena kategorisasi lesbian tersebut tidak cukup mewakili dirinya. M menampilkan diri sebagai lesbian melalui partnership yang dilakukannya dengan L. Akan tetapi, M mengakui bahwa dirinya juga memiliki ketertarikan pada laki-laki (secara boduly sex). Namun, hal tersebut tidak menjadikan M termasuk dalam kategori perempuan biseksual. M (“Film Twilight + Chauvinis Mithya,” Senin, 7 Desember 2008) mengungkapkan, “…soul gue itu sebenernya dilahirkan sebagai cowok biseksual. Jadi untuk jatuh cinta dengan cewek itu normal tapi diem-diem dan takut-takut sangat tertarik dengan cowok lain (especially gay man).” Boduly sex M adalah sebagai seorang perempuan. Na- mun, M menilai dirinya secara gender adalah laki-laki yang memiliki ketertarikan seksual pada perempuan (secara boduly sex dan gender), sekaligus kepada laki-laki (secara boduly sex) yang feminin (gay man). M menilai jika ketertarikannya dengan perempuan adalah sebuah hal yang “normal”, sebagaimana normativitas laki-laki tertarik kepada perempuan. Lebih lan- jut, ketertarikan M pada laki-laki dinilainya sebagai sebuah hal “kesalahan”, karena M menilai dirinya adalah laki-laki pula. Karenanya, M menilai, ketertarikannya dengan laki-laki dilakukan secara diam-diam dan takut-takut. Bahkan, secara spesifik dalam kutipan sebelumnya, M menjelaskan bahwa ia tertarik dengan laki-laki yang “bertubuh atletis” dan “berwa- jah lucu”. Kombinasi tubuh atletis dan berwajah lucu men- jadi hal yang menarik, karena pada dasarnya kedua deskripsi tersebut menunjukkan hal yang saling bertentangan. Tubuh atletis kerap diidentikan dengan kejantanan atau maskulini-12 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 11. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia tas laki-laki. Sebaliknya, diksi “lucu” acapkali diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak maskulin (feminin). Berwajah lucu dapat diartikan sebagai berwajah polos, innocent, dan menggemaskan. Di sini ditunjukkan bagaimana identitas dan atribut diri bisa diotak-atik sedemikian rupa. Maskulin dikom- binasikan dengan feminin, homoseksual dipadu-padankan dengan heteroseksual. Hingga pada akhirnya, tidak ada yang disebut sebagai identitas utama dalam diri M. M tidak bisa dikategorikan sebagai lesbian (homoseks) seutuhnya, bukan juga sebagai heteroseks. M melakukan kombinasi-kombinasi terhadap identitas-identitas gender dan seksual. Melalui FD, L juga menggambarkan identitas dirinya sebagai “lesbian yang bersyarat”. Maksudnya adalah part- nership yang dijalaninya dengan M merupakan partnership lesbian. Tetapi, sebagaimana M, dirinya juga memiliki ke- mungkinan untuk tertarik secara seksual terhadap laki-laki. Ditegaskan oleh L, “Gue dan Mithya –ga ngeklaim diri kita murni lesbian tapi juga ga menolak kenyataan kalau saat ini gue berdua dalam hubungan sesama jenis” (“Tobat Jadi Lesbian?,” http:// www.narth,com, Selasa, 14 Juli 2009). Lesbian juga ditampilkan melalui pilihan nama virtual mereka, Lushka dan Mithya. Nama ini diambil dari nama pasangan lesbian dari Inggris, Violet Trefusis dan Vita Sack- ville-West. Kisah cinta kedua perempuan tersebut diabadikan oleh Virginial Woolf dalam novel yang berjudul Orlando: A Biography. Kisah cinta kedua perempuan tersebut dikenal sebagai skandal percintaan Inggris. Disebut sebagai skandal karena pada masa tersebut (mereka hidup pada saat Inggris di bawah otoritas ratu Victoria), homoseksual (gay) dianggap sebagai sebuah kriminalitas. Sementara lesbian, belum men- jadi isu yang diungkap karena anggapan pada masa tersebut bahwa perempuan tidak selayaknya mengurusi seksualitas mereka. Pasangan ini saling memanggil satu dengan lain dengan nama Lushka (Violet) dan Mithya (Vita)1. Nama ini kemudian dipakai sebagai nama virtual mereka. Deskripsi-deskripsi identitas tersebut menunjukkan ambiguitas L-M dalam memaknai dirinya. Namun, hal ini1 Lebih lanjut mengenai kedua lesbian Inggris tersebut lihat http://en.wikipedia.org dan http://scandalouswomen.blogspot.com. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 13
  • 12. Ari Setyorini tidak kemudian menjadi sebuah hal negatif karena ambi- guitas tersebut menurut Butler (1993, 29) justru merupakan sebuah strategi untuk menggoyang apa yang disebut sebagai identitas center-margin. Normativitas masyarakat mengang- gap identitas yang koheren adalah identitas center, identitas yang paling benar. Artinya, seseorang akan dianggap benar jika identitas gender yang mereka tampilkan sesuai dengan boduly sex dan hasrat seksualitas mereka. Dengan kata lain, jika individu memiliki boduly sex sebagai perempuan, maka gender mereka harus menunjukkan femininitas dan tertarik secara seksual kepada laki-laki. Namun, yang dilakukan L-M ini justru mensubyektifkan identitas tersebut dan menunjuk- kan bahwa apa yang disebut sebagai gender dan seksualitas hanyalah persoalan bagaimana hal tersebut diperformativi- taskan atau diperagakan. Hal ini akan nampak pada perilaku- perilaku dalam menampilkan identitas-identitas mereka yang dibahas dalam subjudul selanjutnya. Pernyataan L-M untuk tidak mengkategorisasikan dirinya, senyatanya juga merupakan sebuah bentuk kategori lain, yakni no label. No Label menjadi sedikit banyak mewakili apa yang dijelaskan L-M ketika memilih untuk tidak memasukkan diri mereka ke dalam kategori lesbian sebagai femme, butch, dan andro. Sebagaimana pemikiran queer bahwa a refusal of a set identity adalah identitas itu sendiri (Ibid.). Melalui no label, L-M mensubversi identitas yang telah ajeg dengan melakukan serangkaian percampuran terhadap normativitas identitas gender dan seksualitas sebagaimana ide Butler atas gender trouble. A. 1. 1 Performativitas Penampilan dan Fisik Penolakan L-M untuk tidak mengategorikan di- rinya ke dalam femme-butch-andro mempengaruhi cara bagaimana mereka menampilkan identitas gender dan seksualitas melalui tampilan fisik. Mereka cenderung mengombinasikan penanda-penanda gender yang tam- pak melalui penampilan tubuh. Misalnya ketika L men- ceritakan tentang kebiasaan-kebiasaan L-M yang ber- hubungan dengan penampilan dan atribut fisik. “Siapa bilang kita se-tomboy or se-andro gitu. Emang penampakan gue lebih cewek dari Mithya, tapi kalo buat urusan kerapi- an Mithya ratunya” (“Mithya and Me,” Rabu, 10 Maret14 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 13. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia 2009). Agaknya, banyak yang mengira L-M berpenampi- lan “kelaki-lakian”. Hal ini tampak dari pertanyaan re- toris L terhadap penampilannya yang cenderung dia- sumsikan banyak orang sebagai penampilan tomboy2. L menolak asumsi tersebut dengan menampilkan gam- baran sisi “keperempuanan” L-M yang tampak dalam kebiasaan mereka terkait penampilan atribut fisik. M memiliki kebiasaan-kebiasaan berdandan yang “lazim- nya” dilakukan oleh perempuan. Digambarkan oleh L, bagaimana kepedulian M terhadap rambutnya, Turun dari motor, buka helm, dia akan langsung bilang ‘rambutku berantakan ga?’ –trus gue jawab ‘engga’ –dia akan ngerapiin lagi, terus nanya ‘berantakan ga?’, gue tetep akan bilang ‘engga’ –dia megang2 rambut terus nanya ‘beneran?’ –nah, di bagian ini gue udah muter bola mata kalo engga melototin dia, ngunci motor terus ngeloyor dengan rambut gue berantakan. Fact: gimana mau berantakan, tiap mau pasang helm dia ngerapiin rambut, trus dijepit, trus dirapiin lagi helmnya. (Ibid.) Pada post ini, L menjelaskan perbandingan pe- nampilan antara dirinya dengan partner-nya, M. Dalam konteks ini, L menilai M memiliki sisi femininitas dalam penampilan yang lebih dominan daripada L. M memili- ki kecenderungan berperilaku womanly, yang “khawat- ir” dengan penampilan rambutnya. Rambut menjadi penanda penting bagi perempuan dalam normativitas masyarakat. Bahkan ada ungkapan yang menyebutkan bahwa rambut adalah mahkota perempuan. Lebih lan- jut, L menegaskan bagaimana M memiliki kegemaran berdandan sebagaimana normativitas perempuan da- lam masyarakat. Misalnya, M memiliki “ritual” menyi- sir rambut, membersihkan wajah, memakai bedak, me- nyemprotkan minyak wangi, dan terkadang memakai2 Tomboy/i adalah perempuan YANG memiliki sifat “kelaki-lakian” (fe-male-to-male transgenders), yang salah satunya tampak dari penampilan. Lihatpenjelasan mengenai tomboy/i dalam Boellstroff (2003) dan Blackwood (2008). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 15
  • 14. Ari Setyorini lip gloss ketika berada di toilet, setelah buang air kecil. M juga selalu membawa peralatan kosmetik di dalam tasnya. “Isi tas: Mithya, selain ada buku, pulpen, dan kertas pasti ada perlengkapan ceweknya, tissue, kertas minyak, sisir, bedak, kaca, lip gloss, perfume, jepitan rambut.” Penyebu- tan “perlengkapan cewek” di sini menegaskan bahwa kosmetik memang melulu menjadi penanda bagi gender perempuan. Kebiasaan-kebiasaan M membuat L tertular un- tuk ikut-ikut menunjukkan femininitas dirinya melalui tampilan tubuh dengan berdandan. Disebutkan oleh L, “ Dulu, gue boro2 di tas ada bedak, sisir aja ada udah ajaib, yang wajib ada di tas itu buku, pulpen, dan notes. Sekarang, gue jadi ketularan Mithya, kemana-mana bawa peralatan ngelenong” (Ibid.). L mengumpamakan peralatan ko- smetik sebagai peralatan ngelenong (lenong). Hal ini mengindikasikan bahwa, bagi L, berdandan yang meli- batkan peralatan kosmetik, tak ubahnya sebagai sebuah aksi pertunjukan lenong. Ketika L menampilkan dirinya yang berdandan menggunakan perlengkapan kosme- tik, tak ubahnya seperti ketika pemain-pemain lenong yang akan melakukan pertunjukan. Pada pertunjukan lenong, setiap pemain akan menunjukkan sebuah kara- kter lain yang berbeda dengan karakter mereka sebe- narnya. Pada akhirnya, berdandan bagi L adalah untuk menampilkan sebuah karakter fiktif, karakter rekaan yang berbeda dengan dirinya “sebenarnya”. Menyitir pendapat Butler (1990, 174) bahwa per- soalan gender hanya semata persoalan performativitas, proses imitasi dan pengulangan yang tidak pernah ber- henti. Begitu juga yang dilakukan oleh L-M. Penampi- lan fisik yang diidentifikasi oleh masyarakat sebagai identitas gender dijadikan sebagai sarana untuk mem- performansi gender mereka sebagaimana normativitas masyarakat. Mereka oleh masyarakat dianggap seba- gai perempuan melalui performatif ritual-ritual ber- dandan. Sebagaimana dikemukakan oleh Bordo (1986) bahwa tubuh perempuan medium femininitas, di mana16 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 15. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia diskursus budaya dan gender berlaku padanya3. Bordo (via Davis 1995, 155) menilai bahwa mela- lui kontrol terhadap tubuh, perempuan tidak melulu menjadi korban atas tekanan “collective cultural fantasy” namun justru dapat membebaskan perempuan untuk memperoleh male-power. Sebagaimana penilaian Bor- do, dalam konteks lesbian dengan mengikuti kontrol atas tubuh L-M justru dapat dengan bebas memakai topeng femininitas untuk menutupi identitas lesbian mereka. L-M justru memperoleh tidak hanya male-pow- er namun heteronormatif-power untuk mengelabuhi nor- matif masyarakat atas feminintas yang mereka tunjuk- kan melalui pendisiplinan tubuh. Hal yang menarik, L-M tak hanya berhenti pada tataran berdandan sebagai penanda identitas perempuan. L-M menggambarkan pertentangan-pertentangan dalam penampilan fisik mereka sebagai bentuk instabilitas gender. Misalnya, ketika L menjelaskan dominansi sisi femininitas dirinya yang tampak dari pilihan-pilihan pakaian, aksesoris, dan sepatu. Beda halnya ketika L yang merasa kurang menyukai berdandan, sehingga sisi maskulinitas dirinya lebih dominan dalam hal berdandan. Sebaliknya, Mithya justru sangat tidak “perempuan” ketika berurusan dengan busana, sepatu, dan aksesoris. L menjelaskan, “Rok untuk dipake harian itu adalah big no no buat Mithya. Paling kalo mau kondangan aja dia baru mau. … Mithya sekarang baru belajar pake sepatu-sepatu cewek. Untuk harian dia masih setia ama Converse-nya” (Ibid.). Pakaian berbentuk rok, bagi masyarakat, adalah pakaian bagi perempuan. Karenanya, lazim jika perempuan memakai rok sebagai penanda keperempuanan mereka. Seragam sekolah hingga baju bekerja perempuan hampir semua memiliki pakaian bawahan berbentuk rok. Rok pun kemudian identik dengan simbol femininitas. Namun, M menampilkan bentuk lain dari pilihan penggunaan rok sebagai identifikasi gender dirinya. Bagi M, rok bukanlah pakaian sehari-hari yang merepresentasikan dirinya. Ia3 “… the female body as a kind of text which can be “read as a cultural statement,a statement about gender.” (Lihat Bordo 1989, 16). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 17
  • 16. Ari Setyorini hanya menggunakan rok jika menghadiri acara resmi, misalnya resepsi pernikahan. Selanjutnya, dijelaskan pula jika M lebih menyu- kai menggunakan Converse, merk sepatu jenis kasual yang biasanya dikenakan oleh laki-laki. Pada pilihan ini, M menunjukkan sisi maskulinitas dirinya. Masku- linitas M ditegaskan L dalam post-nya yang lain, “Have I told you that Mithya is very handsome” (“Mamerin Pacar Ah…,” Sabtu, 28 November 2008). Penyebutan “hand- some” menjelaskan penampakan M yang ganteng mirip laki-laki secara fisik. Lebih lanjut, L menjelaskan pe- nampilan M yang maskulin membuat beberapa teman L mengira M adalah pacar L, yang tentunya dalam ang- gapan mereka M adalah laki-laki. Penggambaran-penggambaran tersebut menun- jukkan nonkonformitas M dalam menentukan pilihan- pilihan terhadap tampilan tubuh. Di satu sisi, ritual berdandan M menandakan gender femininitas dirinya, namun di sisi lain maskulinitas muncul dari pilihan M akan model pakaian dan sepatu yang cenderung manly. Nonkonformitas juga ditunjukkan M saat menjelaskan bahwa soul dirinya terlahir sebagai laki-laki, namun di sisi lain M juga melakukan ritual-ritual yang menanda- kan identitas keperempuannya. Meski L-M menempatkan diri mereka sebagai “a refusal of a set identity” atau no label, namun dari peng- gambaran penampilan fisik, L-M cenderung menunjuk- kan penampilan androgini dalam hubungan lesbian. Baik L maupun M melakukan pemilihan terhadap be- berapa identitas feminin yang kemudian dikombinasi- kan dengan identitas maskulin. Pada akhirnya criss- crossing identitas tersebut membentuk identitas lain yang berbeda dari identitas normatif dalam masyarakat, identitas androgini. Melalui criss-crossing, seperti yang dilakukan oleh L-M, apa yang disebut identitas gender center yang normatif tersebut dipermain-mainkan. Bahwa individu dapat saja melakukan modifikasi dengan menampilkan gender act secara subversif seperti yang dilakukan L-M dalam penampilannya. M yang memiliki ritual18 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 17. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia berdandan, akan tetapi kurang menyukai penggunaan rok dan sepatu perempuan. L yang kurang suka memakai kosmetik, namun menyukai rok, sepatu dan aksesoris perempuan. Performansi gender act yang dilakukan oleh L-M memang tak selamanya mulus. Terkadang mereka harus menerima “hukuman” dari orang-orang di sekeliling mereka jika ternyata gender act yang mereka tampilkan tidak sesuai dengan “lazimnya”. Misalnya ketika M menceritakan bagaimana dirinya harus menampilkan identitas gender yang selaras dengan penampilan sebagaimana normatif masyarakat. Diceritakan M (“I Hate Wedding Reception,” Senin, 12 Oktober 2009), … gue …ngga suka dengan acara resepsi pernikahan. Gue kayak alergi dengan baju-baju pesta perempuan. Setiap hadir di resepsi pernikahan gue bakal sesak napas dan mulai banjir keringat karena canggung. Gue pasti jadi pusat perhatian. Gimana ngga, Mithya yang tomboy dan kayak laki itu dateng dengan full make up dan dress cantik. … a lot of people said that I am beautiful kalo mau didandanin dan pakai baju feminin. But it’s just not me. M harus menampilkan pilihan-pilihan gender yang selaras sebagaimana normativitas masyarakat jika sedang menghadiri resepsi pernikahan, meski hal tersebut membuat dirinya tidak nyaman. M mencerita- kan bahwa suatu saat dirinya mencoba berpenampilan tidak seperti normativitas gender perempuan ketika menghadiri acara resepsi. Kemudian, ternyata hal terse- but dinilai orang-orang sekitarnya sebagai sebuah hal yang tidak lazim, M “ditegur” karena penampilannya tersebut. Pada akhirnya, M harus “tunduk” terhadap normativitas masyarakat akan keselerasan penampilan tubuhnya dengan gender. “Akhirnya gue harus menerima norma masyarakat yang satu ini. … For now Mithya harus dateng … mengenakan pakaian perempuan lengkap dan dan- danan tebal, berusaha menjadi cewek-cewek kebanyakan di sekitarnya” (Ibid.). Di balik ketundukan M terhadap keselarasan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 19
  • 18. Ari Setyorini antara penampilan dan identitas ini, sebenarnya M telah membuktikan bahwa apa yang disebut sebagai gender perempuan hanyalah bentuk-bentuk peniruan. M meniru tampilan gender perempuan dengan mengikuti normatif masyarakat akan “kepantasan”, yakni berdandan dan berpakaian perempuan (rok) untuk acara-acara formal seperti resepsi pernikahan, meskipun sebenarnya diri M merasa tidak sesuai dengan tampilan tersebut. Namun, justru aksi tiru itu, membuat M dikategorikan sebagai perempuan dan akhirnya diterima oleh masyarakat. Karenanya, tak ada yang dapat disebut sebagai identitas asli, yang ada hanya bentuk-bentuk peniruan yang diulang- ulang di bawah tekanan, melalui apa yang disebut sebagai larangan, penyebutan atas tabu (Butler 1993, 95) atau apa yang dinyatakan sebagai pantas-tidak pantas. Pada konteks identitas lesbian sebagai Butch- femme-andro-no label, penampilan acapkali menjadi identifikasi atas kategori tersebut. Butch biasanya ber- penampilan kelaki-lakian, femme tampak feminin se- bagaimana normativitas perempuan. Dikotomi butch- femme, yang kerap kali dikritik dalam partnership lesbian karena seolah-olah “meniru” dikotomi atas perempuan- laki-laki, tampaknya tidak berlaku bagi L-M. Selain menyebut diri mereka sebagai no label, performativitas yang mereka lakukan menunjukkan bahwa mereka bisa berpenampilan sebagaimana butch maupun femme. A. 1. 2 Perilaku dan Peran Identifikasi criss-crossing gender tampak pula dari perilaku dan peran yang ditampilkan L-M. Beberapa performativitas L menunjukkan bahwa terdapat sisi femininitas dan sekaligus maskulinitas dalam dirinya. Identifikasi femininitas muncul ketika ia menjelaskan dirinya yang gampang sekali menangis. L mendeskripsi- kan perilaku dirinya dan M sebagai berikut, “Nah, yang paling cewek banget dari kita… kita itu mewekan. Baca buku sedih, mewek. Nonton pelem, mewek. Nonton Oprah, mewek. Nonton konser, mewek…“ (“Mithya and Me,” Rabu, 10 Maret 2009). Dipahami bahwa perilaku menangis selalu diidentikkan dengan perempuan. L mengidentifikasi20 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 19. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia perilaku mereka yang gampang mewek (menangis) se- bagai sisi femininitas utama mereka. Beberapa perilaku yang kerap diidentikkan dengan perempuan tampak pada perilaku L yang lebih mendahulukan emosi. Sena- da dengan L, M pun memiliki perilaku yang menampil- kan sisi femininitas. Digambarkan L, “Mithya suka ama boneka-boneka lucu, sedangkan gue tidak terlalu. Dia bisa menarik-narik gue di depan toko mainan terus dengan suara imut bilang, ‘aa, ayang lucu banget yaa…’ sambil peluk-peluk bonekanya” (Ibid.). M yang sedari awal mengidentifikasi bahwa soul dirinya sebenarnya adalah laki-laki, namun dengan menunjukkan kegemarannya terhadap boneka –yang identik dengan mainan anak perempuan, sekali lagi menunjukkan ambiguitas identitas gender M. Partnership yang dijalankan oleh L-M menunjuk- kan bahwa mereka bisa berperan sebagai siapa pun da- lam hubungan tersebut. Maksudnya, tidak ada aturan sebagaimana normativitas masyarakat yang mengung- gulkan peran maskulin daripada feminin. Misalnya, gender maskulin “diharuskan” mengurusi urusan pub- lik, menjadi kepala rumah tangga, sementara gender feminin memiliki peran domestik rumah tangga (Fakih 1996, 10-1). Konstruksi peran gender dalam masyarakat tersebut tidak berlaku dalam partnership L-M. Peran bagi L-M digambarkan M ketika dirinya sedang berangan- angan membayangkan bagaimana nantinya jika mereka berdua hidup serumah. … Kalo aku udah kerja sih kayaknya aku yang baka- lan tukang pulang malem atau mepet pagi, hehehe.. It’s nice kalo di YM kita nanya, ‘Makan malem apa?’, ‘Makan di rumah ngga?’… atau kalo pu- lang kantor, aku uda siapin air anget buat kamu mandi…. (“Waiting for Your Call,” Jumat, 8 Juni 2007). Penyebutan M akan tukang pulang malam (pagi) bagi kontruksi masyarakat biasa dilekatkan pada laki-la- ki. Bahkan jika perilaku tersebut dilakukan oleh perem- puan, maka perempuan tersebut akan dinilai sebagai Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 21
  • 20. Ari Setyorini perempuan yang “tidak benar” atau nakal. Namun, bagi M sebutan tersebut diberikan kepada dirinya send- iri untuk menunjukkan bahwa peran dirinya di ranah publik, yang memungkinkan dirinya untuk kembali ke rumah lebih larut daripada L. Akan tetapi, angan-angan M selanjutnya menggambarkan peran-peran dirinya da- lam wilayah domestik, misalnya, menyiapkan makanan bagi mereka. Bahkan, M menggambarkan dirinya dan L memiliki peran yang sama yakni di wilayah domes- tik sekaligus publik. Hal ini tampak dari bagaimana M membayangkan jika L-M sedang berkomunikasi mela- lui Yahoo Messenger! mereka akan saling menanyakan persoalan domestik, misalnya mengenai menu maka- nan, yang identik dengan peran perempuan. Wacana-wacana tersebut secara tidak langsung menjadi counter wacana bagi konstruksi masyarakat tentang keharusan keselarasan antara boduly sex dan gender. Keharusan bahwa perempuan wajib berting- kah laku feminin dan berperan dalam ruang domestik, tampaknya telah menjadi sesuatu yang old-fashioned. Performativitas-performativitas yang ditampilkan oleh L-M mempertegas bahwa identitas adalah sesuatu yang dapat diubah, dapat di-mix-match-kan. Individu dapat menjadi sosok feminin dan maskulin sekaligus. Indi- vidu tidak dapat dibatasi hanya dengan role tertentu yang ajeg. Butler memang mengajukan performativitas identitas untuk menunjukkan bahwa identitas dapat diubah-ubah dan dipilah-pilah, sebagaimana jika ses- eorang memilih pakaian yang hendak mereka kenakan. Namun, yang patut dicatat adalah pilihan-pilihan terse- but tidak dapat dilakukan dengan bebas, karena ter- batasnya pilihan akan identitas yang ada dalam budaya dominan. Singkat kata, performativitas adalah bebas namun terikat (Butler via Salih, 2002), gender diper- lakukan sebagai aksi performatif yang bebas namun terikat. Baik L maupun M, tak mampu lepas dari iden- titas yang terlanjur dilekatkan pada perempuan dalam budaya Indonesia.22 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 21. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia A. 2 Aktivitas Seksual Post L-M dalam FD beberapa kali menggambarkan ak- tivitas seksual mereka sebagai partner lesbian. Seperti misal- nya diceritakan oleh M (“While You Sleep…,” Kamis, 7 Juni 2007), I spread kissess along your lips, neck, then to your breast where I lingered, gently squeezing every each one of them. … my lips eagerly returned to you back, your neck, and my hand cupped each and one of your breast. … my hand be- tween your thigh, touching you. Your legs opened for me, and I slip between them, thrusting deeply as I can into you. As I make love to you, your breathing became frantic. … suddenly you screamed out as I touched the right spot, and as I felt the trembling wrack of your body, the pleasure burst through me as well…. Gambaran M tersebut menunjukkan aktivitas seksual mereka, mulai dari foreplay hingga “aktivitas utama.” Yang menarik, M menyebut seks oral sebagai aktivitas utama seks mereka, bukan sebagai foreplay. “I slip between them, thrusting deeply as I can into you” menggambarkan aktivitas seksual oral yang M dan L lakukan. Hal ini menjadi kritik bagi konstruksi masyarakat yang menyebut aktivitas seksual di luar penetrasi adalah aktivitas seksual tambahan, aktivitas seksual pemana- san, atau foreplay. Hal ini tampak dari pilihan kata “make love”4 yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual penetratif, namun mereka gunakan untuk menggambarkan seks utama mereka, seks oral. Salah satu hal terpenting dalam aktivitas seksual, yakni orgasme, dapat terjadi tanpa melibatkan perbedaan anatomi tubuh. Seperti yang dijelaskan M saat menggambarkan proses orgasme, “…you screamed out as I touched the right spot, and as I felt the trembling wrack of your body, the pleasure burst through me4 Bandingkan pemakaian diksi ‘make love’ (have sex) dengan ‘make out’.Diksi pertama acap kali diidentikkan dengan seksual penetratif, sementara diksiselanjutnya sering terkait dengan aktivitas seksual nonpenetratif, salah satunyaadalah seks oral (Lihat Encarta Dictionary 2008). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 23
  • 22. Ari Setyorini as well…” (Ibid.). “The right spot” digunakan untuk menggam- barkan G-Spot. Persoalan seksualitas bagi L-M adalah perso- alan ketepatan menemukan spot yang benar, karenanya dapat dilakukan baik itu dengan sesama jenis maupun berbeda jenis kelamin. Di sini, karena perkara seksualitas bukan lagi perka- ra penetrasi penis, karenanya fungsi dari penis digantikan dengan anggota tubuh lainnya. Penggunaan kata “touched” (sentuh) menunjukkan aktivitas tangan, sebagaimana fungsi tangan untuk menyentuh. Selanjutnya, my hand between your thigh, touching you, semakin menegas aktivitas seksual non- penetratif. Penggunaan “between you thigh” (di antara paha- mu) menunjukkan letak pleasure perempuan, yakni klitoris yang ada di vagina. Leksikon ini menggambarkan aktivitas masturbasi mutual, di mana (M) melakukan stimulasi seksual klitoris kepada pasangannya. Seksualitas sebagai bentuk kesenangan juga digam- barkan oleh L-M melalui post “Our Own Made Drama.” L menceritakan aktivitas seksual yang biasa mereka lakukan di toilet umum mall. Sebelum melakukan aktivitas seksual, L-M biasanya melakukan “drama” agar keduanya dapat berada di dalam toilet yang sama untuk melakukan aktivitas seksual. Diceritakan L, mula-mula salah satu dari mereka akan masuk ke dalam toilet, kemudian pura-pura sakit dan meminta part- ner yang lainnya untuk masuk ke dalam toilet juga untuk membantunya. Ketika keduanya berada di dalam toilet itu- lah, mereka melakukan aktivitas seksual. L menggunakan is- tilah plop-plop (“Our Own Made Drama,” Rabu, 13 Mei 2009) untuk menjelaskan aktivitas seksual masturbasi (handjob) yang mereka lakukan di dalam toilet. Plop-plop sendiri meru- juk pada suara yang ditimbulkan dari aktivitas seksual yang melibatkan tangan. L-M menentang apa yang dianggap tabu dalam masyarakat. Aktivitas seksual di tempat umum, seper- ti toilet mall, bagi masyarakat seringkali dianggap bukan ak- tivitas seksual yang benar. Karenanya, L-M harus melakukan “drama” terlebih dahulu untuk melakukan aktivitas seksual “tabu” tersebut. Aktivitas seksual lain digambarkan oleh L dalam post, “...ngarep bisa megang tangan kamu, nyium kamu dikit di bibir, meluk kamu, gesekan...” (Jumat, 15 Juni 2007). Leksikon gesekan menggambarkan aktivitas seksual yang dilakukan24 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 23. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia oleh L dan partnernya. Aktivitas ini biasa disebut dengan tribadisme, pasangan lesbian saling menggesekkan vagina mereka. Aktivitas seksual ini menggantikan fungsi penis sebagai alat penetratif karena vagina “dilawankan” dengan vagina. Variasi aktivitas seksual, seperti hand-job, seks oral, dan seks di tempat umum, dilakukan oleh L-M lebih karena hasrat seksual itu sendiri. Apa yang dilakukan L-M dengan melakukan kombi- nasi terhadap identitas gender-seksualitas dengan tidak men- jalankan keduanya sebagaimana normativitas masyarakat, sesuai dengan apa yang disebut Butler (1990, 36-37) sebagai pastiche. L-M melakukan perpaduan terhadap identitas gen- der feminin-maskulin dan seksualitas perempuan dan laki- laki. Melalui cara ini L-M, melakukan mockering terhadap apa yang disebut oleh masyarakat sebagai normativitas gender dan seksualitas utama. Seksualitas bagi L-M bukanlah per- soalan dikotomisasi anatomi tubuh atau pula perkara halal- haram, tapi lebih pada pleasure itu sendiri. A. 3 Pernikahan Pernikahan bisa disebut sebagai hal termewah bagi part- ner lesbian. Beberapa post menjelaskan angan-angan L-M akan pernikahan sejenis, namun dengan segera mereka menyadari bahwa angan-angan tersebut merupakan hal yang utopis be- laka. “… tunggu kita selesai kuliah, terus … nikah deh … hehehe (gila agaknya … kekekeek)” (Lushka, Selasa, 12 Juni 2007). Ini- lah salah satu keinginan yang sebenarnya bisa dibilang kon- servatif. Mereka yang tampak no label, ternyata masih juga memerlukan suatu “status” yang lebih diamini masyarakat heteroseksual, sehingga L kerap kali membayangkan pernika- han sebagai ujung dari partnership mereka. Mungkin ini bisa dianggap sebagai pengaruh dari idealisme pernikahan dalam dunia heteroseksual. Namun, sanggahan yang muncul segera setelah men- gangankan pernikahan, “gila agaknya”, menegaskan bahwa bagi masyarakat adalah hal yang gila jika sepasang lesbian melakukannya. Hal tersebut disadari benar oleh L-M, seperti yang tampak pada post L selanjutnya, … what if kita nikah. Standar ngayal kita deh. Kita sih Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 25
  • 24. Ari Setyorini maunya kalo nikah itu harus sah, legal dan halal. Which mean, harus siap, ikhlas, sesuai dengan agama yang kita anut, legal di mata hukum negara dan restu orang tua. MANTAB. Masalahnyaaaaaa! … gue berdua untuk dapat nikah dengan kondisi tersebut di atas, harus memiliki syarat sebagai berikut: 1). Ikhlas/ Siap  … siap banget dah, 2). Restu orang tua  nyokap Mithya klik banget ama gue.. hihihi. Mithya kayanya juga bisa get along dengan baik ama keluarga gue, 3). Beda Kelamin… errrr, 4). Beragama sama … errrr. Itu dia masalahnya pemirsa! Gue berdua udah sama kelaminnya, eeehhh ditambah pake beda agama! (“Ayo Pilih Mana,” Rabu, 13 Mei 2009). L menggambarkan hal-hal yang harus dipenuhi jika mereka akan melakukan pernikahan. Pertama dan mendasar adalah persyaratan akan perbedaan kelamin dalam sebuah pernikahan. Selanjutnya adalah persamaan agama atau ke- percayaan. Kedua masalah tersebut tidak dapat dipenuhi oleh L-M karena mereka sama-sama perempuan, namun berbeda agama (Lushka beragama Katholik, Mithya beragama Islam). Bagi pasangan lesbian, hal yang kerap mereka temui adalah keterpaksaan mereka untuk menikah dengan laki-laki demi atribut sosial yang nantinya akan melekat pada mereka. L-M menceritakan bahwa banyak lajang lesbian yang dijodoh- kan oleh orang tua mereka. Sebagaimana digambarkan L, …para lajang yang dijodohkan oleh orang tua untuk para Queer, punya masalah apa ya? Apakah homo? Psycho? Kuper? Jelek? Terlalu sibuk? Terlalu pintar? Tidak percaya dengan pernikahan? Sakit keras? Punya masa lalu yang buruk? Why?! Kenapa para ‘calon korban pengorbanan’ lesbian ini sampai perlu dijodohkan? (Lushka, Selasa, 22 Desember 2009). MenarikuntukdicermatiketikaLmenyorotipermasalahan justru kepada individu yang dijodohkan kepada lesbian, bukan kepada lesbian itu sendiri. Kecurigaan L terhadap kualitas laki- laki yang dijodohkan kepada lesbian menunjukkan pesimisme dirinya. Dia menggambarkan imej-imej “negatif” seperti homo, psycho, kuper, jelek, terlalu sibuk, terlalu pintar, tidak percaya26 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 25. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia dengan pernikahan, sakit keras, punya masa lalu yang buruk terhadap laki-laki yang dijodohkan dengan lesbian. L juga menilai bahwa yang bermasalah bukanlah lesbian tersebut, tapi justru laki-laki yang mau “dikorbankan” sebagai jodoh lesbian. L melakukan redefinisi bahwa yang “bersalah” jika terjadi perjodohan antara lesbian dengan laki-laki straight adalah justru si laki-laki tersebut. Orang biasanya berpikir bahwa perjodohan antara lesbian dan laki-laki straight akan “menyembuhkan” lesbian. Pada konteks ini, laki-laki yang dijodohkan tersebut seringkali dianggap sebagai hero bagi masyarakat, namun nyatanya bagi L, laki-laki tersebut tak ubahnya sebagai “korban” yang terpaksa menuruti sistem budaya. Hingga akhirnya, mereka mau saja dijodohkan dengan lesbian karena asas heteronormativitas.B. Weblog Rahasia Bulan (RB) Weblog ini adalah milik seorang lesbian bernama virtual Alex(A). Blog ini cukup dikenal oleh komunitas lesbian karena A meru-pakan pengelola salah satu majalah lesbian online, sepocikopi.com.Struktur blog ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagi pertama adalahjudul weblog, yakni Rahasia Bulan. Bagian selanjutnya adalah post,bagian ini merupakan inti dari weblog tersebut karena memuat tu-lisan A dan juga komentar-komentar blogger atas post yang dilaku-kan A. Bagian terakhir berisi deskripsi blog, twitter, tagline, arsipblog, kategori post, web hit counter, dsb. B. 1 Perbincangan Mengenai Identifikasi Femme, Butch, Andro, dan No Label Berbeda dengan weblog milik L-M, yang dengan gamb- lang menjelaskan bahwa mereka adalah no label, A tidak secara gamblang menjelaskan identitas dirinya dalam kategorisasi femme-butch-andro maupun no label. Identifikasi tampak per- tama kali melalui pemilihan nama virtual yakni “Alex”. Nama “Alex” merupakan kependekan dari Alexander atau Alexan- dria, berasal dari bahasa Yunani yang biasanya dihubungkan dengan Hera, istri Zeus. Nama ini juga kerap dihubungkan dengan Alexander the Great dan kerap dikaitkan dengan ke- beranian dan kekuatan fisik. “Alex” merupakan nama untuk unisex yang umum dipakai baik bagi laki-laki maupun perem- puan (http://www.wikipedia.org). Nama ini kemudian men- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 27
  • 26. Ari Setyorini jadi penanda akan identifikasi Alex sebagai “in-betweeness”’. Perempuan (yang disimbolkan melalui Hera) yang memiliki sifat maskulin sebagaimana Alexander the Great. Pada beberapa post, dia menggambarkan isu identifikasi lesbian ini, namun tidak mengategorikan dirinya ke dalam salah satunya. Alex menyoroti identifikasi tersebut melalui sosok idola yang dinilainya mewakili ketertarikan dia terhadap perempuan yang maskulin. Misalnya, ketika dia menggambarkan artis-artis perempuan yang berperan sebagai jagoan, dan dinilainya sebagai sosok perempuan yang menarik. Dia menulis, “… temukan perempuan-perempuan jagoan ini, lalu nikmati pesta mata bersama mereka. Perempuan-perempuan cantik, berotak, berani, berkepribadian kuat, dan jagoan di antara jagoan.” (“10 Cewek /Jagoan dalam Film Sci-Fi/ Fantasi,” 2008). Hal menarik untuk dicermati adalah pilihan kategori terhadap perempuan idola bagi A adalah cantik, berotak, berani, berkepribadian kuat, dan jagoan di antara jagoan. Kategori perempuan idola ini menunjukkan perpaduan antara maskulinitas dan feminitas dalam sosok perempuan. Cantik merupakan kata sifat yang lekat dengan femininitas perempuan. Sementara, diksi berotak, berani, berkepribadian kuat, dan jagoan adalah penanda bagi maskulinitas. Perempuan yang menarik bagi A adalah perpaduan antara feminin dan maskulin. Bahkan A kemudian menyebut beberapa karakter perempuan jagoan yang merupakan idola dirinya, misalnya, Lara Croft (karakter yang diperankan oleh Angelina Jolie dalam film Tomb Rider), Trinity (karakter yang diperankan oleh Carrie Anne Moss dalam The Matrix), Keira Knightley (karakter yang diperankan oleh Elizabeth Swann dalam Pirates of Carribean), Mystique (karakter yang diperankan oleh Rebecca Rojimn dalam X-men), Alice (karakter yang diperankan oleh Milla Jovovitch dalam Resident Evil), Sarah Connor (karakter yang diperankan oleh Linda Hamilton dalam Terminator), dan Princess Leila Organa (karakter dalam Star Wars). Hal yang menarik, A memberikan penjelasan pada masing-masing karakter berkaitan dengan maskulinitas para karakter perempuan jagoan tersebut. Pada karater Lara Croft, Alex menilai sosok tersebut menjadi idola bagi kebanyakan lesbian. Fisiknya membuat Jolie menjadi idola. Dia men- jelaskan, “ … melihat payudara 36 DD-nya Lara Croft menjadi28 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 27. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia pemandangan mengasyikan tersendiri” (Ibid.). Pada konteks ini, pendapat Alex menyerupai male-gaze karena melihat sosok Lara Croft berdasarkan tubuhnya yang menarik secara sek- sual. Karakter Knightley diidolakan oleh Alex karena “… cantik, cerdas, jagoan, dan tidak menye-menye atau manja.” Me- narik ketika A menjelaskan karakter jagoan yang disebutnya adalaha cantik (penanda bagi femininitas), akan tetapi sekali- gus dengan karakter tidak menye-menye atau manja. Kata sifat menye-menye atau manja biasanya dilekatkan sebagai peri- laku perempuan. A menolak karakter tersebut sebagai karak- ter jagoan perempuan. A melakukan pemilihan atas penanda femininitas. Penanda mana yang harus dimiliki sebagai jago- an perempuan yang diidolakannya, serta penanda feminini- tas mana yang seharusnya tidak dilekatkan pada sosok idola tersebut. A juga menggambarkan beberapa adegan yang diper- ankan oleh karakter tersebut yang sedikit banyak meng- gambarkan identifikasi dirinya. Dia menyukai adegan yang dilakukan oleh Sarah Connor (Linda Hamilton) ketika menem- bakkan senapan. Dia menjelaskan bahwa tampilan Connor saat itu sangatlah andro. Andro merupakan identifikasi yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada lesbian. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani. Dalam konteks identitas gender, androgini adalah orang yang tidak sepenuhnya cocok den- gan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal da- lam masyarakat. Mereka menggambarkan dirinya di antara laki-laki dan perempuan atau sama sekali tidak bergender (Serean, 2005). Identifikasi identitas memang tak begitu tampak da- lam weblog RB ini. Hanya saja, A kerap kali mengambarkan ketidaktertarikannya terhadap femme. Seperti dijelaskannya, Aku ingin perempuan yang bisa membaca peta, karena aku bisa membuatmu tersesat. Aku bisa menunjukkan jalan padamu, tapi kamu yang harus menyetiriku sepa- njang jalan. Dan di saat-saat tegang, aku nggak mau perempuan femme kelemer-kelemer pemarah... aku mau kamu, “my butch”, yg tegas dan berwibawa, hahaha. :) Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 29
  • 28. Ari Setyorini (“Pasangan yang Sempurna,” 2008) “Membaca peta”, “menyetir”, serta “tegas dan ber- wibawa” adalah penanda bagi maskulinitas, atau dalam identifikasi lesbian merupakan penanda bagi butch. Hal ini, pada satu sisi dapat diartikan bahwa A adalah seorang femme (karena memiliki ketertarikan pada butch). Akan tetapi, se- baliknya, hal tersebut juga dapat diartikan bahwa A adalah seorang butch, karena tidak menyukai identifikasi femme. Ba- gaimanapun juga, hal ini menjelaskan bahwa persoalan iden- titas adalah persoalan yang tidak akan pernah pasti. Kecairan identitas A, bagi sebagian orang, membuat- nya dikategorikan sebagai andro. Akan tetapi, A sendiri justru tidak dengan jelas menyebut dirinya sebagai androgini. Pada konteks ini, sebagai lesbian yang merupakan negasi dari hete- ro, A telah menunjukkan instabilitas atas heteronormativitas. Sementara dalam dunia lesbian sendiri, A juga menunjuk- kan bahwa identifikasi atas butch-femme-andro-no label justru hanya akan mereduksi instabilitas gender dan seksualitas itu sendiri. Tak ada identifikasi yang pasti atas identitas gender dan seksualitas individu. Penjelasan lebih lanjut dipaparkan dalam subjudul berikut. B. 1. 1 Performansi Penampilan dan Fisik A adalah lesbian yang telah out of the closet baik pada keluarganya maupun pada teman-temannya. Meski demikian, bagi sebagian temannya, penampilan sebagai penanda identitas A tidak menunjukkan identi- fikasi tersebut. Sebagaimana diungkapkan A, Dari segi penampilan saya bukan tipe “bapak-ba- pak”, demikian teman-teman straight saya sering menyebut mereka yang “butch”, …karena menu- rut mereka saya tipe lesbian yang bisa “menya- mar” di antara manusia hetero (“Opini: To Out or Not to Out,” 2006). A memang tidak menunjukkan secara spesifik penampilan dan fisiknya melalui deskripsi. Namun, dari post di atas, sedikit banyak diketahui bahwa pe-30 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 29. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia nampilan A adalah tidak maskulin seperti butch. Hal ini menegaskan kembali bahwa apa yang disebut gen- der adalah performativitas. Ketika lesbian, bagi teman- teman hetero A, diidentifikasi melalui penampilan dengan tipe “bapak-bapak”, justru hal tersebut tidak tampak pada A. Ketika perfomativitas A “hanya” se- bagaimana perempuan hetero lainnya, maka identitas yang melekat padanya tak ubahnya seperti perempuan lain, perempuan “normal”. Penampilan A sebagaimana perempuan hetero lainnya membuatnya dapat “me- nyamar” sebagai manusia hetero (namun senyatanya A lebih memilih untuk out). “Menyamar” merupakan aksi menyaru, mengubah rupa (tidak memperlihatkan keadaan yang sebenarnya) (http://www.artikata.com). Aksi ini menurut Foucault menjadi sebuah teknologi diri, sebuah strategi untuk memproduksi diri sesuai dengan pengetahuan kita akan diri kita sendiri, strategi yang memungkinkan kita untuk memilih bagaimana kita hendak menampilkan diri di antara berbagai pili- han. Karenanya, seseorang bisa saja menampilkan diri mereka tidak sesuai dengan kenyataannya. Pemakaian kata “menyamar” menunjukkan bagaimana sebenarnya individu “hanya” teridentifikasi melalui tampilan- tampilan yang tampak pada tubuh sehingga memung- kinkan individu untuk memperformatifkan penampi- lan yang tidak sesuai dengan identitas diri mereka yang “sebenarnya” (Gauntlet 2002, 128). Penampilan sebagai penanda gender juga dipertanyakan oleh A ketika membandingkan identitas perempuan tomboy dengan lesbian. A menulis, “… perempuan yang mengenakan kemeja, jins, rambut cepak paling-paling hanya dibilang tomboi, tidak langsung dicap lesbian” ( “Opini: Watch Your Step, How Far Can You Go?” 2006). Penanda identitas melalui penampilan adalah hal yang dapat dimanipulasi. Jika perempuan berdandan a la laki-laki dengan mengenakan kemeja, jeans, dan berpotongan rambut cepak, maka tidak lantas perempuan tersebut disebut butch atau lesbian. Identifikasi atas perempuan tersebut hanyalah disebut sebagai perempuan tomboy, tentunya dengan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 31
  • 30. Ari Setyorini menempatkan identitas seksual mereka sebagai heteroseksual. Identifikasi gender dan seksualitas ini, sekali lagi, hanya merupakan persoalan performativitas melalui appearance of substance (Butler 1990, 141). Bedanya, jika lesbian memparodikan apa yang dianggap normativitas atas gender dan seksualitas, sebaliknya, perempuan heteroseksual menampilkan identitas mereka sesuai dengan normativitas yang telah ada. Sebagaimana yang ditegaskan Butler (Ibid.), That gender reality is created through sustained social performances means the very notions of an essential sex and a true or abiding masculinity and femininity are also constituted as part of the strategy that conceals gender performative’s character and the performative possibilities for proliferating gender configurations outside the restricting frames of masculinist domina- tion and compulsory of heterosexuality. Hanya saja, kerap kali yang terjadi ketika seorang perempuan menunjukkan ketidaksesuaian antara gen- der dan seksualitas, antara penampilan tubuh dan kon- struksi identitas, antara jenis kelamin dan pilihan seksu- al, maka yang muncul adalah pelabelan abnormal pada perempuan tersebut. Misalnya, melalui pelabelan tom- boy, nonkonfromitas atas penampilan tubuh dan gen- der dinilai sebagai sebuah abnormalitas, bahwa perem- puan tersebut gagal menjadi “perempuan sebenarnya”, gagal menunjukkan femininitas dirinya melalui pe- nampilan. Karenanya, dia disebut perempuan tomboy, bukan “perempuan” tanpa embel-embel apapun di be- lakangnya. Akan tetapi, identifikasi sebagai perempuan tomboy lebih bisa diterima bagi masyarakat daripada lesbian. Preferensi seksualitas tomboy terhadap laki- laki yang bagi masyarakat dianggap normal membuat- nya masih dicap “normal”. Beda halnya dengan lesbian, meskipun gender mereka menunjukkan normativitas femininitas, namun jika preferensi seksualitas mereka tidak sesuai dengan heteronormativitas, maka punish- ment masyarakat akan berlaku pada mereka.32 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 31. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia B. 1. 2 Perilaku dan Peran Tampilan tubuh memang kerap kali menjadi pen- anda identitas gender seseorang. Diceritakan bagaima- na gesture tubuh menjadi penanda identitas individu, “Kenapa sih kamu kalau berdiri mengangkang begitu? Apa itu ciri khas lesbi? Jadi inget si xxx, yang kalau jalan keliatan lesbi banget ya? Dia keliatan lesbi dari cara jalannya... sama kaya si xyz” … cara jalan saya tidak bergaya “lesbi”. Tapi cara berdirinya, iya. Waks, pikir saya, lebih parah lagi dong. Belum jalan aja, udah ketauan. … partner saya menjelaskan lagi tentang cara berjalan “mengayun” ala lesbian. Dan dia menambahkan gerakan-gerakan seperti menyilangkan tangan di depan dada atau memasukkan tangan ke saku celana yang sering dilakukan lesbian. ... Ayunan langkah, bahasa tubuh, serta gerakan-gerakan tanpa sadar yang mereka lakukan (“Opini: To Out or Not to Out,” 2006). A menceritakan kometar Laksmi, partnernya, mengenai “ciri khas” lesbian yang tampak dari gesture mereka. “Berdiri ngangkang” adalah gesture yang bagi Laksmi sering dilakukan oleh lesbian. Berdiri dengan cara seperti ini biasanya dilakukan untuk menunjukkan maskulinitas. Selanjutnya, dijelaskan oleh A pandangan Laksmi mengenai cara berjalan lesbian yang “mengayun” sembari “menyilangkan tangan di depan dada” atau “memasukkan tangan ke saku celana”. Cara jalan tersebut tidak menunjukkan femininitas perempuan. “Menyilangkan tangan di depan dada” seolah-olah menutupi bagian tubuh penanda perempuan, yakni payudara. Leksikon “dada” lebih dipilih daripada “payudara” karena menunjukkan netralitas. Maksudnya, leksikon “payudara” memang selalu diidentikkan dengan perempuan, karena selain sebagai simbol seksualitas juga merupakan simbol kewanitaan (perempuan menyusui bayi melalui Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 33
  • 32. Ari Setyorini payudara). Namun, dengan menggunakan “dada”, A menunjukkan netralitas atas makna bagian depan tubuh perempuan ini. Dada memiliki makna unisex. Setiap anatomi tubuh manusia memiliki bagian yang disebut dada. Akan tetapi pada konteks ini, diksi dada terkait dengan sesuatu yang ingin ditutupi. Ini kemudian menjadi sebuah ironi karena dalam rangkaian kata- kata tersebut terdapat ambiguitas. Kalimat tersebut tidak hendak menunjukkan netralitas. Cara jalan— menyilangkan tangan di depan dada, menggambarkan ketidaknyamaan terhadap nonkonfromitas gender dan seksualitas lesbian atas penanda-penanda tubuh yang melekat pada diri mereka, yakni seksualitas dan wom- anhood yang ingin ditutupi oleh perempuan tersebut. Perilaku ini kerap dilakukan oleh lesbian karena non- konformitas tersebut adalah patologi bagi budaya het- eronormativitas. Perilaku-perilaku tersebut, kemudian bagi Laksmi banyak ditampilkan oleh lesbian. Anggapan Laksmi tersebut membuat A memikirkan apakah ketidaksesuaian penampilan perempuan terhadap normativitas femininitas serta-merta menunjukkan identitas perempuan sebagai lesbian? A menulis, Seberapa jauh keakraban sesama perempuan masih dinilai wajar?” Saya selalu merasa tingkat toleransi keakraban terhadap sesama perempuan jauuuuh lebih tinggi terhadap pasangan lelaki. Di tempat-tempat umum seperti di mal, kita sering melihat sesama perempuan bergandengan tangan, atau bahkan berpelukan tanpa merasa aneh atau menganggap mereka lesbian. Coba bayangkan dua lelaki yang bergandengan tangan... ugh, pasti dibilang gay, homo, atau banci atau apalah.... (Ibid.). Kutipan di atas menjelaskan bahwa yang disebut sebagai identitas, apakah perempuan tersebut dinilai hetero atau lesbian, sangatlah cair batasannya. Buda- ya heteronormatif, bagi A, lebih permisif bagi sesama perempuan untuk bertingkah laku akrab. A mencon-34 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 33. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia tohkan bergandengan tangan atau berpelukan antar perempuan adalah wajar. Beda halnya jika hal tersebut dilakukan oleh laki-laki, serta-merta laki-laki tersebut dianggap gay atau banci, atau singkatnya, tidak menun- jukkan maskulinitas. Sebagaimana L-M pada weblog FD, peran yang berlaku dalam partnership A dan Laksmi tidak menun- jukkan pembagian peran yang kaku sebagaimana ang- gapan mengenai butch-femme. Identifikasi peran antara butch dan femme biasanya memisahkan keduanya dalam lingkup dikotomis. Butch cenderung dianggap memiliki peran aktif dan publik, sementara femme sebaliknya. A, Laksmi dan kedua anak biologis Laksmi hidup bersama seatap. Baik A maupun Laksmi sama-sama memiliki peran ganda, sebagai ibu sekaligus ayah. Jika Laksmi, sebagai ibu biologis, dipanggil dengan sebutan mami, maka A dipanggil sebagai tante mami. Keduanya sa- ma-sama berperan dalam mengasuh anak, memasak, mengurus rumah, sebagaimana peran sosial yang oleh masyarakat dilekatkan pada perempuan; juga berperan mencari nafkah untuk kehidupan mereka bersama. Na- mun, tak dipungkiri sisi femininitas A dan Laksmi lebih dominan dalam partnership yang mereka jalani. Diceri- takan A (“Hari Minggu,” 2009), Inilah parahnya memiliki dua mami, karena dua- duanya cenderung menjadi cerewet. Suara femi- nin yang khas memenuhi udara sampai-sampai aku terkadang tidak tahan. “Say, kayaknya harus ada yang bersikap seperti para ayah deh, bersikap seperti bapak-bapak kebanyakan.” Kami berdua tertawa karena sama-sama menyadari kami sulit bersikap seperti “bapak-bapak” dalam satu kelu- arga. Kalimat “…harus ada yang bersikap seperti para ayah deh, bersikap seperti bapak-bapak kebanyakan”. Kata “seper- ti” menunjukkan perbandingan langsung (simile) antara perilaku dan peran “bapak” dan “ibu”. Menariknya, perbandingan tersebut menunjukkan bahwa dikotomi Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 35
  • 34. Ari Setyorini bapak-ibu, maskulin-feminin “hanya” merupakan aksi tiru, di mana A dan Laksmi dapat saja meniru perilaku sebagaimananya figur “bapak” yang maskulin. Dengan demikian, perkara gender dalam pembagian rumah tangga merupakan perkara performativitas. B. 2 Aktivitas Seksual A hidup seatap dengan partnernya, Laksmi. Hal tersebut sedikit banyak berengaruh terhadap performativitas aktivitas seksual mereka di weblog. Hal ini tampak dari sedikitnya narasi mengenai aktivitas seksual mereka di weblog (jika dibandingkan dengan narasi aktivitas seksual L-M). Ini dapat dimaknai bahwa jarak menjadi salah satu penentu dalam hubungan seksualitas lesbian. Akan tetapi, jumlah yang sedikit tersebut tetap menunjukkan bahwa aktivitas seksual yang dilakukan A dan Laksmi sebagai partner lesbian, di mana dikotomisasi penis- vagina tidak melulu menjadi standar akan seksualitas karena melalui aktivitas seksual lesbian, apa yang dianggap maskulin (agresif) dan feminin (pasif) menjadi sebuah permainan seksualitas belaka. Seperti yang ditampilkan berikut, Aku berguling di ranjang sementara jari-jari halusmu menjelajahi pundak telanjangku. Kau mendesakku – kelembutan yang penuh tenaga, mengunci tubuhku di sepanjang sisi sampai aku tidak mampu bergerak da- lam pelukanmu (“Tanda,” 2009). Kutipan post tersebut menggambarkan aktivitas seksual yang dilakukan oleh A dan partnernya. Kalimat “kelembutan yang penuh tenaga, mengunci tubuhku di sepanjang sisi sampai aku tidak mampu bergerak dalam pelukanmu” menggambarkan aktivitas seksual lesbian, di mana leksikon “kelembutan” digabungkan dengan “penuh tenaga,” feminin digabungkan dengan maskulin. Post ini selanjutnya menceritakan, Aku pernah meninggalkan noda lipstik di bahu keme- jamu kala kita berpelukan. Noda merah jambu tam- pak samar-samar sebenarnya, kecuali kalau seseorang berdiri agak dekat denganmu. Dalam hati aku berharap seorang teman kantormu memperhatikan dan mem-36 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 35. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia beri komentar isengnya. .… Komentar yang sudah pasti akan mengantarkanku sebagai si tertuduh dengan rasa yang menyenangkan bagi kita berdua (Ibid.). Lipstik merupakan penanda bagi femininitas perempuan. Namun dalam konteks ini, lipstik digabungkan dengan kata “noda” yang memiliki makna negatif. “Noda lipstik” kemudian menjadi penjelas bagi aktivitas seksual A yang dilakukan dengan partner-nya. A mengharapkan noda lipstik tersebut dilihat oleh teman-teman partner A. Ini menunjukkan bahwa bagi A, aktivitas seksual lesbian yang dilakukannya dengan partner-nya adalah tidak tabu untuk ditutup-tutupi. Ia bahkan mengharapkan komentar orang lain atas aktivitas seksual mereka. Hal ini tentunya bertentangan dengan budaya dominan, di mana seksualitas adalah hal yang tersembunyi dan ditutup-tutupi. Selanjutnya, A menceritakan mengenai hobinya terhadap film bertema seksualitas. Diceritakannya mengenai pendapatnya terhadap film jenis ini, “Sejatinya film semacam ini harus diperlakukan sama seperti jenis hiburan lain yang nggak boleh dibuat asal-asalan dan harus digarap dengan serius” (“Menonton Film Dewasa,” 2009). Pada titik ini, A menilai bahwa film seksual ini seharusnya tidak hanya diperlakukan sebagai film kacangan. Tidak hanya sebagai film kacangan, film seksual ini juga kerap dilekati dengan penanda negatif, ini tampak pada berbagai penyebutan terhadap film seksual ini pada post A, misalnya, bokep, film porno atau film dewasa. Pilihan kata terakhir lebih menunjukkan denotatif, yakni menunjukkan segmentasi terhadap film tersebut. Sementara bokep merupakan kata gaul yang berasal dari blue film (http://www.kamusgaul.com/). Blue dalam blue film diartikan sebagai suggestive of sexual improperty. Istilah ini dianggap senada dengan penyebutan film porno (Encarta Dictionary. 2008), di mana makna yang diciptakan cenderung berkonotasi negatif. Porno berasal dari kata porn yang merupakan kependekan dari pornography yang berarti “(dissaproving) videos that describe or show naked people and sexual acts in order to make people feel sexually excited, especially in a way that many other people find offensive” (Welhmeier, Sally (ed.) 2010). Ini berarti film porno dikaitkan dengan perilaku yang “menyimpang” karena melalui film tersebut selain Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 37
  • 36. Ari Setyorini bertujuan sebagai hiburan (to make people sexually excited) juga sekaligus membuat orang lain terganggu karena tayangan tersebut yang dianggap menjijikkan (offensive). Pornografi sendiri oleh Undang-Undang Pornografi didefinisikan sebagai substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengekspolitasi seksual, kecabulan dan/atau erotika. Seksualitas memang dibingkai menjadi sebuah hal ter- tutup oleh normativitas, bukan menjadi tontonan sebagaima- na film. Akibatnya, orang yang menonton jenis film ini akan merasa bersalah sebagaimana diceritakan oleh A yang “pernah gara-gara berusaha “insaf” akibat memandang film porno secara salah”. Penggunaan kata insaf menegaskan bagaimana film seksualitas ini dianggap sebagai hal buruk yang jika orang menontonnya dianggap melakukan sebuah dosa. B. 3. Pernikahan A menceritakan bahwa ia dan partnernya, Laksmi, hidup bersama. Partner A, Laksmi, adalah perempuan lesbian yang bercerai dari suaminya dan memiliki 2 orang anak dari pernikahan heteroseksual yang dijalani sebelumnya. Seba- gaimana partnership lesbian, pernikahan secara hukum meru- pakan sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di Indonesia. Dituliskan oleh A (“Opini: Happy Ending = Utopia?,” 2009) Dalam dunia utopia versi saya, dengan atau tanpa legali- tas pernikahan sesama jenis, seharusnya kita bisa punya hak untuk bersama orang yang kita cintai. Namun jelas itu cuma utopia. Kita hidup berpagarkan norma-norma yang seharusnya jadi penjaga diri kita. Atau agama, misalnya, yang jadi pondasi hidup kita. Atau keluarga yang jadi atap dalam kehidupan kita. Dan semuanya tentu saja tidak bisa tinggalkan begitu saja. Untuk bisa hidup bersama orang yang kita cintai, sebagai homo/ lesbi, banyak dari kita yang harus meninggalkan rumah yang nyaman tersebut, yang selama ini jadi tempat kita bernaung. Jelas tidak banyak yang memilih untuk itu. A, di sini, menyoroti mengenai hak individu untuk hidup bersama individu lain yang mereka cintai. A menggunakan38 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 37. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia kalimat syarat, “dengan atau tanpa legalitas pernikahan sesama jenis”, untuk menjelaskan bahwa A cukup terbuka untuk sebuah hubungan hidup bersama tanpa adanya syarat pernikahan sekalipun. Inti dari yang hendak disampaikan oleh A adalah bahwa setiap individu, mengesampingkan jenis kelamin mereka, berhak untuk hidup bersama di bawah pernikahan maupun tanpa pernikahan. A menjelaskan institusi yang menentukan norma-norma di mana pernikahan dianggap sah dilakukan atau tidak sah dilakukan, yakni institusi agama dan keluarga. Selanjutnya diceritakan A, Kebanyakan perempuan (lesbian) memutuskan menikah karena tidak tahan atas desakan orangtua. Mungkin 9 dari 10 lesbian yang menikah dengan laki2 melakukannya karena merasa terdesak ...Menikah adalah kesempatan untuk melepaskan diri dari orangtua. Melepaskan diri dari tekanan/ocehan/desakan dari orangtua yang bertanya-tanya kenapa dia tidak menikah/kapan akan menikah dst,dsb. Tapi apakah menikah dengan laki2 adalah solusinya? Mungkin jawabannya ya, untuk sebagian perempuan. Atau ini justru lolos dari mulut singa masuk ke mulut buaya? (Ibid.). A mengasumsikan bahwa sembilan dari sepuluh lesbian menikah karena terpaksa, tidak tahan akan desakan keluarga yang bertanya mengenai rencana pernikahan. Pernikahan dengan laki-laki bagi lesbian diumpamakan oleh A seperti “lolos dari mulut singa, masuk ke mulut buaya”. Maksudnya, lesbian tersebut lolos dari desakan menikah atau bahkan lolos dari pencitraan sebagai “perawan tua”, tapi pada saat yang sama mereka justru mengalami subordinasi dari pernikahan yang tidak sesuai dengan identitas diri mereka yang “sebenarnya”. Akibatnya, perempuan seolah-olah memang wajib menikah (tentunya secara heteroseksual). Lesbian pada konteks ini tetap saja menerima beban tubuh sosial perempuan. Cyberlesbian sebagai Diskursus Kreatif dan Media Trans- formasi atas Heteronormativitas Weblog memberikan sebuah dunia baru bagi lesbian untuk memperformativisasi identitas mereka melalui narasi Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 39
  • 38. Ari Setyorini diri. Media ini memberikan keleluasaan bagi lesbian untuk mempermainkan kuasa atas pengetahuan yang dimilikinya untuk membentuk counter wacana tanpa takut identitas off line mereka diketahui oleh masyarakat online. Dalam konteks L-M dan A, mereka mereproduksi iden- titas diri mereka menjadi dua identitas yang berbeda sesuai dengan space yang mereka hadapi, atau mempresentasikan ilusi untuk memberikan impresi identitas yang benar terhadap audience tertentu jika menyitir pendapat Erving Goffman (via Gauntlett 2002). Identitas ganda yang mereka tampilkan berdasarkan impresi identitas “benar” yang diharapkan audi- ence, membuat L-M menampilkan identitas ilusi dalam dunia off line agar tidak dianggap liyan oleh masyarakat heterosek- sual. Sementara, mereka menampilkan identitas lain sebagai lesbian pada dunia online karena anonimitas yang diberikan oleh dunia tersebut membuat mereka leluasa menarasikan diri dengan mereproduksi identitas ilusi di dunia off line dan membentuk identitas baru di dunia anonimitas. Hal ini sejalan dengan ide Foucault (1990 dan 1986) atas teknologi diri, di mana dijelaskannya bagaimana diri bertin- dak terhadap praktik ethics –standar yang menjadikan diri sebagai sosok tertentu guna digambarkan kepada khalayak. Narasi diri sebagai lesbian pada weblog ini sebagai teknologi berstrategi yang memungkinkan subyek untuk memilih ba- gaimana hendak menampilkan diri mereka, berbeda dengan narasi yang diproduksi oleh diskursus heteroseksual. Di sini diketahui bahwa subyek adalah aktif, tidak sebagaimana kon- sep Althusser mengenai agen yang hanya berperan sebagai wayang yang menerima perannya karena tekanan dari apar- tus-aparatus. Performativitas identitas lesbian yang L-M dan A tampil- kan di weblog menunjukkan bahwa identitas gender dan sek- sualitas apa pun tak lebih dari aksi permainan “tampilan” yang diulang-ulang. Bahwa tak ada refleksi moralitas atau pun normalitas dalam identitas lesbian, sebagaimana angga- pan diskursus dominan. Seksualitas lesbian bagi L-M dan A tidak merupakan sebuah abnormalitas karena pada dasarnya L-M dan A “mengembalikan” fungsi seksualitas sebagai plea- sure. Namun, sebagaimana pilihan bebas yang terbatas da- lam ide perfomativitas, hal ini sekaligus menunjukkan bahwa40 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 39. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia agen memang dapat melakukan reproduksi identitas yang berbeda dari diskursus dominan, tapi yang patut diingat ada- lah bawa normativitas tersebut tetap ada. Beberapa narasi mereka masih menunjukkan betapa hegemoni heteroseksual patriarki masih mempengaruhi perilaku mereka. Bagaimanapun juga, L-M dan A merupakan produser kreatif atas wacana lesbian di mana mereka mereproduksi dan mengombinasikan wacana heteronormativitas, hingga wacana tersebut tidak menjadi satu-satunya wacana domi- nan dalam weblog. Diskursus lesbian yang distereotipkan oleh rezim kuasa ditransformasikan oleh L-M melalui sebuah ide bahwa perkara gender dan seksualitas hanyalah bagaimana perkara aksi performatif antara tubuh, penampilan, seksu- alitas, dan identitas-identitas lainnya. Karena aksi tersebut performatif, maka identitas bukanlah hal yang tetap. Pada akhirnya, heteronormativitas juga merupakan bentuk dari performativitas saja. Dua identitas yang mereka ciptakan merupakan sebuah aksi mockering akan anggapan adanya satu identitas tunggal. Narasi diri pada weblog merupakan sebuah “pengakuan dosa”, sebagaimana diceritakan Foucault dalam History of Sexuality bagaimana gereja memberlakukan pengakuan dosa akan seksualitas individu. Namun, berbeda dengan Foucault yang menilai pengakuan dosa tersebut sebagai sebuah hal negatif, narasi diri pada weblog ini malahan menunjukkan ba- gaimana agen-agen dapat mentranformasikan identitas gen- der lesbian sebagai identitas yang berbeda dari anggapan nor- matif. Berbeda dengan konsep agen Althusser di mana tiap agen seolah-olah hanya melakoni perannya sebagai wayang dari aparatus-aparatus ideologi dominan, Foucault mela- lui teknologi diri dan perfomativitas Butler menyebut agen memiliki kemampuan untuk melakukan “speaking back” ini sebagai strategi. Agen memiliki kemampuan untuk melaku- kan tindakan yang dilingkupi dengan pengetahuan. L-M dan A memiliki kuasa untuk mereproduksi narasi diri mereka melalui “pengakuan dosa”, yang justru melawan anggapan negatif atas diskursus heteroseksual. Melalui FD dan RB, L-M dan A sebagai agen tahu dengan benar apa yang mereka lakukan, juga paham benar bagaimana normativitas sosial masyarakat dan aturan main di mana mereka dapat melaku- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 41
  • 40. Ari Setyorini kan confession dengan keluar dari kloset di weblog, speaking back terhadap homofobia dengan mereproduksi diskursus normatif. Resistensi atas kuasa/pengetahuan dominan begitu didukung dalam karakteristik weblog, di mana blogger dimung- kinkan melakukan navigasi atas pengetahuan apa yang hen- dak dimunculkan atau pengetahuan mana yang hendak dis- embunyikan. Ini sebagaimana fungsi censorship yang dimiliki oleh rezim kebenaran atas diskursus normatif. Misalnya tam- pak pada kemungkinan bagi L-M dan A untuk memilih ko- mentar apa yang akan dimunculkan atas post dalam narasi mereka. Ini merupakan bentuk empowerment karena mereka dapat menampilkan identitas mereka di luar kontrol media konvensional, yang hampir dapat dipastikan penuh dengan editing dan censoring dari media dan rezim kebenaran lainnya. Inilah alasan mengapa weblog sebagai ruang dalam proses membentuk identitas baru yang berbeda dari identitas sebel- umnya menjadi penting.ARI SETYORINI: Alumni Kajian Budaya dan Media, Pasca-SarjanaUniversitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dosen Muda di UniversitasMuhammadiyah Surabaya.RUJUKANAlimi, M. Yasir. 2004. Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial: dari Wacana Bangsa hingga Wacana Agama. Yogyakarta: LKiS.Althusser, Louis. “Ideology and Ideological State Apparatuses (Notes towards an Investigation).” dalam Douglass Kellner. (ed.) 2006. Media and Cultural Studies. Cornwall: Blackwell Publishing Ltd.Arimbi, Indriaswari D. S dan Sri Sulistyani (eds.). 1998. Perempuan dan Politik Tubuh Fantastis. Jogjakarta: Kanisius.Beasley, Chris. 2005. Gender & Sexuality: Chritical Theories, Critical Thinkers. London: Sage Publication.Bell, David dan Barbara M. Kennedy (eds.). 2000. The Cybercultures Reader. London dan New York: Routledge.Blackburn, Susan. 2004. Women and the State in Modern Indonesia.42 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 41. Performativitas Identitas Gender dan Seksualitas pada Weblog Lesbian di Indonesia Cambridge: Cambridge University Press.Buletin GN 31/ Tahun 04. 2009. Lesbian Housewife. Surabaya: GAYa NUSANTARA.Butler, Judith. 1990. Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. London dan New York: Routledge.______________. 1993. Bodies That Matter. New York: Routledge.______________. 1993. “Critically Queer” dalam GLQ: A Journal of Lesbian and Gay Studies . 1.Bryson, Mary. 2004. When Jill Jack in Queer Women and the Net. Feminist Media Studies (Vol. 4, No. 3). New York: Routledge.Davis, Kathy. 1995. Reshaping the Female Body: the Dilemma of Cosmetic Surgery. London dan New York: Routledge.Fairclough, Norman, 1989. Language and Power. London & New York: Longman.Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka PelajarFoucault, Michel. 1978. The History of Sexuality: Volume1 An Intorduction (terjemahan dari Histoire de la Sexualite). New York: Random House Inc.______________. 1990. The Use of Pleasure: Volume 2 of the History of Sexuality. New York: Vintage Books.______________. 1986. The Care of The Self: Volume 3 of the History of Sexuality. New York: Pantheon Books.Gauntlett, David. 2002. Media, Gender and Identity. New York: Rountledge.Hall, Stuart dan Paul du Gay (eds.) 1996. Question of Cultural Identity. London dan New Delhi: Sage Publication.Holliday, Ruth. “Performances, Confession, and Identities.” dalam Gregory C. Stanzak (ed.). 2007. Visual Research Methods: Image, Society, and Representation. London: Sage Publication.Jeumpa, Bunga dan Ulil. “Quo Vadis Lesbian Indonesia.” dalam Inside Indonesia 66. Juni-Juli 2001.Jagose, Anamarie. 1996. Queer Theory. Melbourne: Melbourne University Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 43
  • 42. Ari Setyorini Press.Kadir, Hatib Abdul. 2007. Tangan Kuasa dalam Kelamin. Jogjakarta: Insist Press.Kellner, David. 1995. Media Culture. New York: Routledge.Mann, Chris dan Fiona Steward. 2000. Internet Communication and Qualitative Research. London: Sage Publication.Mills, Sarah. 2003. Michel Foucault. London dan New York: Routledge.Munti, Ratna Batara. 2005. Demokrasi Keintiman: Seksualitas di Era Global. Yogkayakarta: LKiS.Noviani, Ratna. 2009. “Performativitas Gender dalam Iklan Kontak Jodoh.” dalam Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Oetomo, Dede. 2003. Memberi Suara pada yang Bisu, Yogyakarta: Pus- taka Marwa.Rabinow, Paul. Foucault: The Reader. New York: Pantheon Books.Rubin, Gayle. 1984. “Thinking Sex: Notes for a Radical Theory of the Politics of Sexuality.” dalam C.Vance (ed.) Pleasure and Dan- ger—Exploring Female Sexuality. Boston: Routledge & Kegan Paul.Sadli, Saparinah. 2010. Berbeda tetapi Setara: Pemikiran tentang Kajian Perempuan. Jakarta: Kompas.Salih, Sarah. 2002. Judith Butler. London dan New York: Routledge.Serean, Antok. “Androgini sebagai Identitas” dalam Buletin GN no.41/ tahun 05.Wilton, Tamsin. 1995. Lesbian Studies: A Setting Agenda. London dan New York: Routledge.44 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 43. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasa1 Ben MurtaghAbstrak: Artikel ini memfokuskan pada film Indonesia tahun 2007berjudul Coklat Stroberi serta novel adaptasi dan video pop yangmenyertainya. Novelnya, ditulis oleh Christian Simamora, dibuatberdasarkan skenario filmnya. Lagu ‘Di sini Untukmu’ dituliskhusus untuk film ini, di mana band Ungu membuat penampilancameo, sementara video popnya menampilkan banyak adegan darifilm tersebut. Meskipun dalam tahun- tahun terakhir, beberapafilm Indonesia menampilkan karakter gay, film ini penting karenamenampilkan hubungan gay* pada pusat komedi romantis, yangjelas ditujukan pada penonton muda (17-25 tahun). Coklat Stroberitidak dapat disangkal berusaha menunjukkan hubungan sesamajenis dalam dalam pandangan progresif. Namun, representasi darikarakter dan akhir film menggarisbawahi sikap ambivalen terhadaphomoseksualitas yang umum dijumpai dalam film-film Indonesia.Artikel ini memusatkan perhatian pada ketidakpadanan yangtampak dalam imajinasi filmis mengenai karakter gay dan realitakehidupan gay sebagaimana terjadi di Indonesia saat ini.Kata kunci: homoseksualitas, sinema Indonesia, sastra Indonesia,Indonesia.Pendahuluan Sejak periode sekitar jatuhnya Orde Baru dan revitalisasi in-1 Untuk diskusi awal singkat dari film ini, lihat Murtagh (2008).* Keterangan penerjemah: Dalam artikel aslinya, penulis dengan merujuk padapendekatan Boellstorff (2005), secara konsisten membedakan konsep gay, lesbiandan waria sebagai subjek lokal Indonesia (yang dalam artikel aslinya ditulisdengan huruf miring, sedangkan dalam artikel ini tidak) sebagai berbeda dengangay dan lesbian sebagai subjek global atau Barat (yang dalam versi aslinya tidakdimiringkan hurufnya, sebaliknya dalam artikel ini dimiringkan). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 45
  • 44. Ben Murtaghdustri film Indonesia, beberapa film telah menampilkan karaktergay. Kuldesak (sutradara Nan Triveni Achnas, Mira Lesmana, RizalMantovani dan Riri Riza, 1999), yang dipandang sebagai film yangmenandai penghidupan kembali sinema Indonesia (van Heeren2002), menampilkan alur cerita gay (Clark 2004), dan Arisan! (NiaDinata, 2003), menampilkan alur cerita khusus mengenai kisah ro-man antara dua laki-laki dari kalangan elit Jakarta. Semenjak itu,jumlah film yang menampilkan karakter gay kemudian berkem-bang. Naiknya unsur seksualitas non-normatif dalam sinema In-donesia ini bisa dipahami sebagai respon terhadap kemunculanposisi subjek gay dan lesbian di Indonesia, suatu proses yang telahmulai sejak tahun 1970-an (Boellstorff 2005). Ketertarikan mediamassa terhadap seksualitas alternatif telah terdokumentasikan se-menjak tahun 1980, namun baru setelah pertengahan 1990-an, dan“dengan peningkatan substansial setelah 2002”-lah suara gay danlesbian makin diperdengarkan di media massa umum (Boellstorff2005, 75). Mungkin desakan untuk memasukkan karakter gay da-lam layar lebar menandakan keprihatinan para sutradara untukmelibatkan keragaman pusat-pusat urban Indonesia. Pengamatyang sinis mungkin akan menyatakan bahwa kontroversi akan me-narik penonton yang lebih banyak. Apapun intensi dari sutradara,produser dan penulis skenario, pemeriksaan akan penggambarankarakter sesama jenis dalam film Indonesia kerap menunjukkanambivalensi yang mendasar terhadap homoseksualitas. Ambiva-lensi-ambivalensi inilah yang ingin saya selidiki dalam artikel inidengan melihat film Indonesia yang dirilis di tahun 2007, CoklatStroberi (Ardy Octaviand). Seperti banyak film baru lainnya yang ditujukan pada kha-layak yang lebih muda, pemasaran Coklat Stroberi termasuk pelun-curan novel adaptasi oleh Christian Simamora, dilakukan bersamadengan rilis sebuah video pop oleh band Ungu. Videonya adalahcampuran gambar dari band, yang juga muncul dalam peran cameodalam film, dan adegan penting di dalamnya. Penting untuk dicatatbahwa ketiga produk tersebut muncul ke pasar secara hampir ber-samaan, dan ditujukan pada target audience yang sama. Memang,di samping penjualan tiap produk, tujuan komersial dari masing-masing produk adalah untuk memperkuat penjualan dan perhatiandari dua produk lainnya, meskipun jelas kesuksesan komersil dariversi sinematiknya adalah yang terpenting. Beragam impresi yangdibentuk dari menonton dan membaca teks dari film ke novel dan46 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 45. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasavideo pop adalah fokus dari artikel ini, yang memusatkan perha-tian pada bagaimana alur cerita gay-nya berubah. Coklat Stroberi dapat diklasifikasikan sebagai genre film komediromantis atau film remaja.2 Film ini jelas dirancang untuk menarikkelompok usia 17-25, demografi penonton film utama di Indonesia, danmenggunakan beberapa tema dan teknik pemasaran yang menjaminkesuksesan komersil: aktor laki-laki dan perempuan yang muda danmenarik (Nino Fernandez, Marrio Merdhithia, Marsha Timothy danNadia Saphira); satu komedi romantis yang memfokuskan padamahasiswa; soundtrack dari beberapa band terpopuler Indonesia; danpenampilan cameo dari beberapa bintang (Fauzi Baadila, Luna Maya,Julia Perez and Vino G. Bastian) dan band Ungu. Rilis film tersebutpada tanggal 24 Juni 2007 juga disertai dengan peluncuran novel filmtersebut, serta video pop lagu Ungu, ‘Di Sini Untukmu’, yang dibuatkhusus untuk film ini.3 Apa yang membedakan film ini dari banyakfilm-film komedi romantis dan film remaja lainnya dalam beberapatahun terakhir, dan yang membuatnya layak didiskusikan lebihlanjut, adalah alur cerita gay-nya yang menonjol. Ini bukan berartimenyatakan bahwa seksualitas non-heteronormatif tidak pernahtampil dalam sinema mainstream Indonesia sebelum kemunculanCoklat Stroberi, sebagaimana yang akan saya diskusikan lebih lanjut dibawah.4 Tapi, film ini mempunyai tempat khusus, bukan hanya karenahubungan gay adalah fokus utamanya, tapi juga karena film ini adalahkomedi romantis mengenai anak-anak muda yang baru saja melewatimasa remaja mereka. Maka, Coklat Stroberi menandai teritori baru,melampaui alur cerita gay dan ciuman gay yang pendek dan sensionaldalam film Nia Dinata, Arisan!, yang ditujukan pada penonton mudasinema mainstream.52 Mengenai kemunculan film remaja selama periode Orde Baru, lihat Sen(1986; 1991) dan Hanan (2008, 54–69).3 Film ini kemudian dirilis untuk penjualan pertama dalam format VCDdan kemudian DVD. Versi DVD berisi teks Inggris dan tambahan ekstra, termasukvideo pop oleh Ungu dan 25 menit uraian mengenai pembuatan film.4 Komentar saya di sini mengacu pada film yang telah dirilis untuk umum.Jadi film-film independen dan film pendek, terutama yang ditampilkan di festivalfilm dan di kampus-kampus universitas, tidak membentuk bagian dari kontekstu-alisasi ini.5 Dari pengamatan saya ketika menonton empat kali pemutaran film terse-but di Indonesia, penonton cenderung berusia remaja akhir dan awal dua puluhan,dan meskipun ada percampuran jenis kelamin, mayoritas utama adalah pasanganmuda atau berkelompok kecil menghadiri pertunjukan malam. Menurut sutra- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 47
  • 46. Ben Murtagh Mengingat bahwa filmnya adalah sumber asli cerita, poin-poin penting sehubungan dengan representasi atas identitas gayakan dipertimbangkan lebih dulu, sebelum kemudan membahasnovel dan video popnya. Namun sebelumnya, ada gunanya kitamempertimbangkan secara singkat isu-isu relevan yang berhubun-gan dengan gender dan seksualitas di Indonesia untuk mengkon-tekstualisasikan diskusi selanjutnya. Perlu juga dicatat sekarangbahwa pemahaman saya mengenai film ini dan penerimaannyadidibentuk melalui tampilan publik film ini di Surabaya dan Band-ung pada bulan Juni 2007, dan FGD (focus group discussion) bersamakelompok-kelompok gay, lesbian dan waria Indonesia di Surabayadi bulan Desember 2008.6daranya, angka penonton untuk film itu lebih dari 500.000 (Octaviand, wawancarapribadi, 8 Juli 2008), yang sedikit di atas rata-rata untuk sebuah film Indonesia,meskipun tidak ada artinya jika dibandingkan dengan dua hits besar tahun 2008,Ayat -Ayat Cinta (sutradara Hanung Brahmanto) dan Laskar Pelangi (sutradara RiriReza), yang konon menarik penonton lebih dari empat juta6 Pada bulan November dan Desember 2008, saya menyelenggarakan se-jumlah FGD tentang beberapa film Indonesia yang tema gay, lesbian atau waria.Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan identitas mereka: gay, les-bian, dan waria. Semua peserta memiliki hubungan dengan GAYa NUSANTARA,sebuah LSM di Surabaya yang bertujuan untuk merepresentasikan komunitaslesbian, gay, biseksual, transgender dan queer (LGBTQ) melalui kerja-kerjanyadi bidang pendidikan, kesadaran masyarakat, advokasi, dan kesehatan, di manatempat diskusi diadakan; beberapa bekerja sebagai penyuluh kesehatan atau su-karelawan, yang lain datang ke LSM untuk mendapatkan masukan dalam halkesehatan seksual, dan satu hanya menghadiri kegiatan bulu tangkis mingguanyang diselenggarakan oleh LSM tersebut. Meskipun tidak semua peserta ‘terbuka’atau ‘keluar’ dalam semua aspek kehidupan mereka, kenyataan bahwa merekaterhubung dengan LSM menunjukkan setidaknya tingkat keterbukaan tertentu.Hanya sedikit peserta yang secara teratur menonton film Indonesia; jika menontonpun, mereka biasanya menonton film di VCD di rumah dengan teman daripada dibioskop. Tak satu pun dari peserta memiliki pengetahuan mengenai sejarah rep-resentasi gay/lesbian/waria di sinema Indonesia. Kebanyakan akrab dengan ide-ide gender dan seksualitas sebagai akibat dari keterlibatan mereka dengan LSM.Sementara, sebagian dari kelompok lesbian berpendidikan universitas, mayoritaskelompok gay hanya menyelesaikan pendidikan SMA. Kelompok waria memilikitingkat terendah pendidikan formal. Setiap kelompok bertemu setiap minggu, dansetelah menonton film yang dipilih bersama-sama, diskusi sekitar 90 menit akanberlangsung. Saya memfasilitasi diskusi, yang dilakukan di Indonesia. Sementarasebagian besar peserta datang untuk setiap pertunjukan, ada beberapa orang da-lam setiap kelompok yang hanya datang untuk satu atau dua pertunjukan. Tujuhpria menghadiri ‘kelompok gay’ yang menonton Coklat Stroberi pada 2 Desember2008; usia mereka berkisar antara awal dua puluhan dan tiga puluhan akhir. Dua48 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 47. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga RasaGender dan Seksualitas di Indonesia Istilah Indonesia ‘gay’ di sini digunakan untuk menunjukpada laki-laki yang tertarik secara erotis pada gender yang samadengan mereka, dan yang mengidentifikasikan diri mereka sendi-ri sebagai gay. Ini cukup berbeda dengan identitas gender waria,tranvestit laki-laki ke perempuan, yang umumnya mendefinisikandiri mereka sebagai laki-laki dengan jiwa perempuan dan berpe-nampilan sebagai perempuan, dan yang dalam ketertarikan mer-eka pada laki-laki, mengekspresikan hasrat terhadap gender lain(Boellstorff 2007, 78–113). Jelas, bahwa istilah ‘gay’ dalam bahasaIndonesia adalah saduran dari kata Inggris, tapi sebagaimana diar-gumentasikan oleh Tom Boellstorff, tidak benar untuk memahamidua kata tersebut sebagai dapat dipertukarkan secara langsung(Boellstorff 2005, 8). Meskipun identitas gay Barat tidak dapat di-pandang rendah pengaruhnya dalam pembentukan identitas gayIndonesia, namun penting juga untuk menyadari pengaruh lokaldalam merekonstitusi identitas impor. Begitu pula, istilah Indo-nesia ‘normal’ yang digunakan gay Indonesia untuk merujuk padapemahaman dominan seksualitas modern (Boellstorff 2005, 8), se-harusnya dilihat sebagai berbeda dari istilah Inggris normal; samapula, istilah Indonesia ‘lesbian’ harus dilihat sebagai berbeda dariistilah Inggris lesbian. Kunci di sini adalah kelas dan, sebagaimana akan didiskusikanlebih lanjut di bawah, untuk memahami bagaimana subjektivitasgay dipengaruhi latar belakang sosio-ekonomi masih memerlukanpenelitian lebih lanjut. Argumen bahwa globalisasi melemahkanpertalian antarbatas kelas dalam masyarakat tertentu sebagaimanaia juga memperkuat pertalian (paling tidak di antara kaum elit)sudah banyak dibahas. Tulisan Denis Altman mengenai globalisasidan seksualitas (Altman 1997, 417–436; Altman 2001a; Altman 2001b,19–41), terutama dalam diskusinya mengenai kemungkinan globalgay, memaparkan fakta bahwa apa yang tampaknya universal akan‘dimediasi melalui tiap kebudayaan dan ekonomi politik dari setiapmasyarakat’ (Altman 2001b, 31). Tapi kita juga harus menyadaridi sini bahwa dalam masyarakat tertentu—khasusnya Indonesia—laki-laki gay dari latar belakang sosio-ekonomi yang berbeda akandari peserta gay telah kuliah di universitas, sementara tiga dari mereka mengiden-tifikasi diri berasal dari latar belakang kelas menengah. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 49
  • 48. Ben Murtaghmencari identitas gay Barat dengan cara yang berbeda. Di Indonesia,pengamatan anekdotal terhadap lekas akan menggarisbawahi faktabahwa ada batas-batas kelas yang signifikan dalam komunitas-komunitas gay, sebagaimana ada dalam masyarakat Indonesiayang lebih luas. Tidak semua laki-laki gay di Inonesia sama, danfaktor pembedanya terutama adalah kelas. Mayoritas representasi filmis dan literer mengenai posisi subjekgay umumnya ditempatkan dalam setting kelompok kelas atas, yangkemudian memperkuat sterotipe bahwa gay Indonesia berasal darikaum elit. Namun, ‘dalam realitanya, laki-laki gay dapat berasaldari berbagai tingakatan sosioekonomi dan karena kebanyakanorang-orang Asia Tenggara tidak kaya, tidak mengherankan bahwasangat sedikit orang gay di Asia Tenggara kaya (Boellstorff 2007,198). Kesenjangan yang tampak antara stereotipe media dan realitasini penting jika kita mengingat bahwa banyak gay dan lesbianIndonesia pertama mengenal posisi subjek mereka melalui mediamassa. Ketika kita melihat representasi sinematik, apa yang terlihattampaknya adalah repetisi stereotipe elit gay—yang lebih jauh lagibahwa elit (kurang lebih) sama dengan Barat. Berguna juga bagikita untuk mempertimbangkan bahwa banyak orang Indonesia darikelas sosio-ekonomi atas untuk lebih familiar dengan film-film Baratdan serial televisi daripada orang-orang Indonesia pada umumnya7.Ini meningkatkan kemungkinan bahwa untuk kebanyakan orangIndonesia normal dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi, termasukmereka dalam industri film, pemahaman mereka mengenai dunialesbian/gay akan kerap diinformasikan oleh baik penggambaranBarat maupun lokal. Jika subjek posisi waria memiliki sejarah panjang dari abadkesembilanbelas, subjek posisi gay tampaknya baru mulai dikenaldi Indonesia di tahun 1970an hingga 1980-an (Boellstorff 2005, 60).Reportase mengenai isu gay dan lesbian mulai muncul secara spo-radis di media cetak Indonesia semenjak tahun 1980-an (Boellstorff2005, 59–66). Keberadaan di media massa ini mulai meningkat se-cara signifikan dari akhir tahun 1990-an dan memasuki mileniumbaru. Perkembangan ini juga terefleksikan dalam film maupun sas-tra. Meskipun apa yang mungkin dapat dimengerti sebagai identi-7 Perlu lebih banyak penelitian mengenai ini, tapi observasi sekilas mem-perlihatkan bahwa banyak orang Indonesia kaya lebih suka menonton film-filmBarat dibandingkan film Indonesia, baik di bioskop maupun melalui di DVD.50 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 49. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasatas gay dan lesbian modern telah disebutkan dan diselidiki dalamsastra semenjak paling tidak tahun 1970-an (K. F. 2006, 55–61), visi-bilitas ini tampak jelas dalam penerbitan empat novel dengan temagay dalam tahun 2004 sendiri (Murtagh 2007, 281–299). Dalamkasus representasi sinematik mengenai seksualitas non-normatif,meskipun era Orde Baru tidak dapat diremehkan8, periode se-menjak 1998 menyaksikan peningkatan signifikan atas ketertarikanterhadap seksualitas non-heternormatif dan khususnya terhadapposisi-posisi subjek gay dan lesbian. Kajian terpusat pada majalah,televisi, dan mungkin juga radio tak diragukan juga akan mengg-garisbawahi trend yang mirip. Chris Berry mencatat dalam kasus sinema Asia Timur bahwaapa yang kita lihat dalam sinema mainstream sering kali bukan re-alita kehidupan laki-laki gay, tapi lebih mengenai bagaimana laki-laki gay dipersepsikan (Berry 1997, 14–17). Observasi ini juga dapatdiaplikasikan pada sinema dan sastra Indonesia. Mengingat bahwaBoelstorff memperlihatkan dalam referensinya di Asia Tenggarabahwa ‘tampaknya media cetak, televisi, dan film mempunyai peranpenting dalam pembentukan posisi-posisi subjek gay dan lesbian’(Boellstorff 2007, 213), maka dapat dimengerti bahwa orang-oranggay dan lesbian Indonesia sering memahami subjektifitas mereka(paling tidak sebagian) melalui media, sebuah medium represen-tasi yang kerap tidak sesuai dengan realita sehari-hari. Penting untuk dinyatakan bahwa Coklat Stroberi bukanlahfilm yang secara khusus ditujukan pada penonton gay. Begitu pulabukunya, yang mendapatkan peningkatan penjualannya dari penjualanfilmnya. Jadi, bisa jadi alur cerita gay ini dimasukkan sebagai eksotika.Sebagaimana diskusi di bawah ini akan menggarisbawahi, Upi, produserdan penulis skenarionya, melihat Coklat Stroberi sebagai film yangmelibatkan seksualitas remaja dan posisi mereka dalam masyarakatIndonesia yang lebih luas. Upi jelas bertujuan untuk memproduksifilm yang inklusif, meskipun dapat dibantah bahwa pendekatannya,yang untuk beberapa kritik memberi kesan pengetahuan superfisialmengenai kehidupan gay di Indonesia, membawanya ke dalamperangkap penggambaran perspektif heteroseksual mengenai gayIndonesia. Begitu pula bukti yang tampak dari forum-forum dan situs-situs blog yang menunjukkan bahwa novelnya cukup populer di antara8 Hal ini selain dari termasuknya karakter minor waria yang cukupumum dalam komedi. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 51
  • 50. Ben Murtaghkomunitas-komunitas gay. Jadi, meskipun tidak ada kesan bahwanovel ini ditulis untuk ataupun secara khusus ditujukan pada pembacagay, bisa jadi pengetahuan mengenai isi film tersebut membawa banyaklaki-laki gay untuk membeli bukunya (meskipun jelas tidak ada carauntuk memverifikasinya). Salah satu tantangan utama dalam memahami penggambarankarakter-karakter gay utama dalam Coklat Stroberi adalah menya-dari bahwa subjektifitas gay Barat dan Indonesia, meskipun memi-liki banyak kesamaan, adalah berbeda. Terutama telah dinyatakanoleh Boellstorff bahwa sikap terhadap pernikahan heteroseksualdan ‘membuka diri (coming out)’ mempunya perbedaan yang cu-kup signifikan. Boellstorff mendemonstrasikan bagaimana privilespernikahan sebagai aspek penting dalam masyarakat mendorongbanyak laki-laki Indonesia yang mengidentifikasi diri mereka seba-gai gay tetap menginginkan pernikahan heteroseksual dan mempu-nyai anak, dan banyak laki-laki yang menikah tidak melihat ini seba-gai suatu keganjilan dengan status mereka sebagai gay (Boellstorff2005, 109–111). Dia juga menunjukkan bahwa daripada mengguna-kan wacana pangakuan pembukaan diri sebagaimana diperjuang-kan di Barat modern, gay Indonesia cenderung melihat diri merekasebagai terbuka di beberapa ruang—sebagai contoh, tempat ngeberdan rumah teman—dan tertutup di ruang-ruang lainnya, sepertitempat kerja dan rumah (Boellstorff 2005, 170–175). Poin-poin ini khususnya relevan dalam analisis kita mengenaiteks yang akan kita bahas. Pertama, karena hubungan gay yang di-idealisasikan berdasarkan model heteronormatif modern ini diaspi-rasikan dan tampaknya tercapai dalam filmnya, dan jelas tercapaidalam novelnya. Kedua, karena dalam satu adegan kunci di baikversi film maupun novel, salah satu karakternya ‘membuka diri’ keorang tuanya (meskipun istilah ini tidak digunakan dalam filmnya).Jadi, ada perbedaan yang tampak dalam representasi posisi subjekgay dalam Coklat Stroberi dan penemuan Boellstorff. Kesenjanganini bisa jadi merupakan hasil kesalahpahaman tim produksi film.Bisa jadi Coklat Stroberi mempresentasikan fantasi mengenai apa itumenjadi gay di Indonesia, kemungkinan berdasarkan pengalamandengan representasi kebudayaan Barat mengenai hubungan gaymodern, daripada refleksi mengenai kebudayaan gay di metropolisIndonesia sendiri. Namun, sudah hampir satu dasawarsa semenjakBoellstorff melakukan penelitian lapangannya, dan merupakan ke-salah untuk membuat asumsi bahwa subjektifitas-subjektifitas gay52 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 51. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasadi Indonesia statis dan tidak berubah—betapapun, 40 tahun yanglalu subjektifitas ini sangat sedikit ada di Indonesia. Semenjak 1998, ada semacam pergeseran dalam penggam-baran sinematik laki-laki gay di Indonesia. Selama periode OrdeBaru, kita melihat Istana Kecantikan (Wahyu Sihombing, 1988) dimana seorang laki-laki gay dipaksa menikah karena tekanan kelu-arga dan keinginannya untuk memiliki anak (Murtagh 2006, 211–230). Dalam serial Catatan si Boy (1987–92), karakter Emon yangsangat ngondhek, dan secara umum dikenal di pers saat itu sebagaibanci9, atau bahkan gay, tampaknya disangkal seksualitas queer-nya dalam film melaui ketertarikannya yang tidak meyakinkan ter-hadap perempuan, meskipun tampaknya ini juga jarang dianggapserius oleh baik Emon sendiri maupun teman-temannya10. Dalamfilm-film seperti Jakarta Jakarta (sutradara Ami Prijono, 1977) danTerang Bulan di Tengah Hari (sutradara Chaerul Umam, 1988), kitamelihat karakter-karakter—seorang germo dan seorang agen—yang jelas camp dan pasti akan dikenali penonton sebagai gay ataubanci, meskipun posisi subjek tersebut tidak diutarakan dalam filmtersebut. Karakter-karakter ini berperan hanya untuk menambahwarna dan bumbu dan, pastinya dalam film Chaerul Umam, kesankemerosotan moral. Sebaliknya, dalam film-film sejak 1998, ada be-berapa representasi hubungan laki-laki gay yang saling mencintaidengan potensi bertahan lama, meskipun problem pernikahan ser-ing muncul sebagai rintangan yang harus dilewati. Maka, dalamArisan! pasangan kekasih gay Nino dan Sakti akhirnya berpacaransetelah Sakti, seorang anak tunggal, melewati kewajibannya untukmenikah. Dalam Pesan dari Surga (sutradara Ayu Asmara, 2006),sebuah film mengenai lima teman dan anggota band rock, seoranggpemain band laki-lakinya, Kuta, berhubungan dengan laki-laki yangsudah menikah dan meminta kekasihnya meninggalkan istrinyaagar mereka dapat hidup bersama secara permanen. Dalam Janji9 Banci adalah istilah yang umum digunakan untuk merujuk kepada male-to-female transgender, meskipun mereka sendiri umumnya lebih menyukai istilahwaria. Banci juga sering digunakan, umumnya dalam pengertian yang merendahkan,untuk merujuk pada laki-laki banci, banyak dari mereka mungkin mengidentifikasisebagai gay atau bahkan normal, bukan sebagai waria.10 Serial Catatan Si Boy, disutradarai oleh Nasry Cheppy, berlangsungselama lima film dalam kurun 1987 dan 1991, dan ada juga dua film plesetan yangmemanfaatkan popularitas Emon, Bayar tapi Nyicil (sutradara Arizal, 1988) danCatatan si Emon (sutradara Nasry Cheppy, 1991). Lihat juga Rizal (2008). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 53
  • 52. Ben MurtaghJoni (sutradara Joko Anwar, 2005), dalam satu adegan di awal yangmemperkenalkan tema film untuk melakukan apa saja demi me-menangkan hati perempuan yang dicintainya, karakter yang diper-ankan oleh Winky Wirawan menyatakan seluruh cintanya kepadakarakter Tora Sudiro, dan kita dapat mengira bahwa hubungan indimaksudkan sebagai permanen. Kemudian, dalam film thrillersemi-noir seperti Kala (sutradara Joko Anwar, 2007),11 di mana kara-kter utama polisi Eros secara sambil lalu ditunjukkan sebagai gaydan memiliki pasangan laki-laki, sutaradara/penulis skenario¬nyadengan cerdas dan proaktif menantang asumsi heteronormatif pe-nonton yang menganggap semua karakter adalah straight kecualisecara eksplisit ditampakkan sebaliknya. Konsep pembukaan diri mengenai homoseksualitas pribaditelah muncul pada beberapa film baru selain Coklat Stroberi, pal-ing tidak membuka diri kepada teman-teman heteroseksual, danterkadang juga membuka diri pada anggota keluarga. Menariknya,Boellstorff menemukan bahwa, berbeda dengan Barat, konsepmembuka diri pada dunia gay ‘tidak lantas berarti perlu atau takterhindari untuk membuka diri dalam semua aspek kehidupan(seperti keluarga dan tempat kerja)’ (Boellstorff 2007, 199). Menarikuntuk dicatatat detil contoh-contoh filmis mengenai hal ini. Topikini adalah kunci untuk film Arisan! Di mana karakter Nino sudahmembuka diri sejak awal narasi, sementara Sakti melalui prosespembukaan diri yang tidak disengaja, tapi diterima, yang diikutidengan pernyataan mengenai seksualitasnya kepada teman-teman-nya. Dalam Pesan dari Surga, seksualitas gay Kuta diketahui danditerima tanpa masalah oleh teman-temannya. Sehubungan dengan hal-hal di atas, perlu direnungkan apakah inimerepresentasikan semacam pergeseran dalam masyarakat Indonesiasecara umum, atau apakah representasi filmis mengenai pembukaandiri ini muncul karena alasan lain: familiaritas para pembuat film dengansituasi di Barat adalah salah satu kemungkinan utama. Menariknya,‘terbuka dalam komunitas’, skenario yang paling memungkinkandalam realita, tidak pernah digambarkan dalam film-film ini. Karakter-karakter gay tidak ditunjukkan berinteraksi dalam komunitas gay yang11 Sementara judul bahasa Inggris untuk film ini di website resminya ada-lah Dead Time, film ini juga telah diputar secara internasional dengan judul TheSecret.54 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 53. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasalebih besar.12 Ini menarik, karena meskipun banyak gay Indonesiaterbuka dengan laki-laki gay lainnya dan mungkin kerap mengunjungitempat-tempat gay, jumlah yang terbuka pada keluarganya tampakmasih sangat terbatas. Penemuan ini cukup terbuktikan melalui faktabahwa dalam focus group dengan laki-laki gay untuk mendiskusikanCoklat Stroberi, hanya satu dari tujuh partisipan membuka dirimengenai seksualitas mereka pada keluarganya, meskipun semuanya‘terbuka’ dalam komunitas LGBT. Ketika didesak mengenai hal ini,mereka semua setuju keluarga akan menjadi kelompok terakhir untukdiberitahu, dan kebanyakan mereka tidak ingin atau menganggap tidakperlu keluarganya mengetaui seksualitas mereka. Secara kebetulan,satu diskusi dengan kelompok lesbian menemukan sikap yang agakberbeda; meskipun mereka beranggapan bahwa keluarga biasanyaakan menjadi terakhir yang diberitahu, mayoritas kelompok lesbiantelah membuka diri sedikitnya ke beberapa anggota keluarganya. Bisajadi bahwa ada perubahan-perubahan, terutama di ibukota Indonesia,dan penting untuk mencatat bawa lokasi penelitian Boellstorff tidaktermasuk Jakarta. Saya juga melakukan focus group discussion di luaribukota. Bagaimanapun juga, meskipun mungkin ada lebih banyakorang Indonesia yang ‘terbuka’ di Jakarta, ini tidak tercermin dalampengalaman saya di kota ini, tidak pula dalam sejumlah kecil orang-orang Indonesia yang secara publik terbuka di media massa. Melihattampaknya ada kesenjangan antara representasi filmis mengenaipembukaan diri, penemuan Boellstorf dari akhir 1990-an dan diskusisaya sendiri mengenai laki-laki gay di thaun 2008, artikel ini akan secarakhusus memperhatikan penggambaran proses pembukaan diri baikdalam film dan novelnya.Film Coklat Stroberi Film ini menceritakan dua mahasiswi, Key dan Citra,yang tinggal bersama di satu rumah di kawasan mewah Jakarta.Karena kesusahan membayar biaya sewa, pemiliknya memaksamenambahkan dua penghuni laki-laki lainnya, Nesta dan Aldi.Key dan Citra, meskipun cantik, untuk alasan yang tak terjelaskan,sangat tidak beruntung dalam cinta dan mereka takut akanmenjadi perawan tua. Mereka langsung jatuh cinta pada temankos mereka. Tanpa diketahui mereka, kedua lelaki muda tersebut12 Ini berlawanan dengan film 1998, Istana Kecantikan, yang dibuka dengankarakter utama dan temannya di klub malam gay (Murtagh 2006). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 55
  • 54. Ben Murtaghsebenarnya adalah sepasang kekasih, meskipun berbagai sinyalvisual memastikan penonton mengerti rahasia tersebut. Jika Nestamempunyai penampilan yang sangat maskulin dan straight-acting, Aldifeminin dan pemurung. Nesta menjelaskan pada Aldi—dan kepadapenonton—teori mengenai Coklat Stroberi.13 Pada dasarnya, stroberisama dengan feminin dan gay, maka supaya tidak ketahuan, pentinguntuk berakting coklat—yaitu, berakting maskulin dan straight. Begitupula cara-cara innocent untuk menunjukkan bahwa seseorang straight,seperti melakukan weight training, bermain PlayStation selama berjam-jam, dan tidak memasak. Nesta memutuskan akan menjadi samaranyang baik untuk menggoda dan akhirnya berpacaran dengan Key.Aldi menjadi makin cemburu melihat kekasihnya selama dua tahun inimemberi perhatian terlalu banyak pada Key. Kemudian, Citra mulai menggoda Aldi, meskipun Aldi samasekali tidak menggubris usaha-usahanya. Aldi memutuskan diatidak mau berbohong lebih lama lagi, dan ketika orang tuanya datanguntuk makan malam, dia membuka dirinya kepada mereka. Ayahnyaterkena serangan asma, karena begitu shock dan jijik, dan ibunyabersama ayahnya meninggalkan Aldi, mendesak Aldi untuk kembalimenjadi dirinya yang dulu. Klimaks meningkat ketika Citra danKey datang saat kedua laki-laki tersebut berciuman. Tapi bukannyamengaku bahwa hubungannya dengan Citra adalah samaran, Nestamenyatakan bahwa dia sungguh mencintai Key. Nesta telah berubahmenjadi coklat sejati (atau straight). Key awalnya menolak Nestakarena telah berbohong dengannya, tapi kembali padanya setelahmengelilingi malam Jakarta untuk menghentikannya sebelum Nestameninggalkannya selamanya. Jadi, kita seperti memilik kesimpulan:Nesta berubah menjadi straight karena pesona Key yang cantik;Citra tetap sendirian karena ketidakpercayaannya pada lelaki; Aldijuga akan hidup sendirian sebagai seorang homoseksual yangmenyedihkan tapi membuka diri. Namun, dalam adegan akhir,sebagaimana diharapkan dalam komedi romantis, setiap orangmendapatkan pasangan: Citra mendapatkan perhatian rocker kerendi konser pop, dan kemudian Aldi muncul bergandengan tangan13 Meskipun ada kesamaan nyata dengan judul film gay Cuba Fresa y Chocolate(Strawberry dan Coklat, sutradara Tomás Gutiérrez Alea, 1994), yang mengacupada pengamatan bahwa hanya laki-laki gay makan es krim strawberry—laki-laki straight akan memilih coklat—tim produksi baru menyadari keberadaan filmnominasi Oscar tersebut ketika mereka ikut dalam diskusi di Queer Film Festival2007 (wawancara pribadi dengan Octaviand, 2008).56 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 55. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasadengan bos Citra, Dani. Kebetulan, Dani yang berpenampilan punkdimainkan oleh Fauzie Baadila, salah satu aktor muda Indonesiayang paling laku, seseorang yang umumnya diasosiasikan denganperan-peran yang jauh lebih macho. Semuanya berakhir dengan baik. Pada empat kesempatan dimana saya menonton film ini di bioskop di Bandung dan Surabaya,semua orang tampak meninggalkan bioskop dengan ceria. Banyakgay Indonesia yang saya ajak bicara berkata sangat menyukai filmini. Namun bagaimanapun juga, aspek-aspek kunci dari plot inimengesalkan sejumlah kritikus Web Indonesia dan aktivis gay (Sire-gar 2007; Adjie 2007). Penonton film di Q! Film Festival Jakarta14 dibulan Agustus 2007 juga dilaporkan sedikit gusar (Adjie 2007). Re-spon banyak penonton muda dan mungkin laki-laki gay yang kurangterpolitisasi pasti adalah kenikmatan melihat penggambaran kehidu-pan muda mereka direpresentasikan di layar perak untuk pertamakalinya. Bahkan untuk yang telah melihat Arisan!, Coklat Stroberitetap dianggap sebagai film pertama dengan penggambaran kehidu-pan laki-laki usia mereka, daripada karakter-karakter yang lebih de-wasa di Arisan!.15 Tapi untuk penonton yang lebih terpolitisasi, dansaya juga, saya menyarankan pada yang lebih familiar dengan rep-resentasi gay di film Barat, film ini sangat problematis sebagai hasildari ketidakbenaran politisnya yang tampak. Ketidakbenaran politis tentu saja tidak selalu merupakansuatu masalah. Tapi penulis skenarionya sendiri telah menyatakanbahwa film ini mempunya tujuan didaktis.16 Situs KapanLagi me-14 Q! Film Festival telah diselenggerakan setiap tahun di Jakarta sejak 2002.Saat ini diakui sebagai festival film queer terbesar di Asia (lihat Maimunah 2008).15 Berdasarkan pembicaraan informal dengan beberapa laki-laki gay muda dibulan Juni-Juli 2007 dan FGD dengan kelompok waria, gay, dan lesbian di Surabayapada November dan Desember 2008. Dalam pengalaman saya, kebanyakan gaymuda Indonesia, bahkan yang cukup tertarik pada film, tidak pernah melihat,dan bahkan banyak yang tidak pernah mendengar Istana Kecantikan (1998) atauKuldesak (1998).16 Upi (sebelumnya dikenal sebagai Upi Avianto), penulis skenario, jugamemproduksi film tersebut. Sebelum memproduksi Coklat Stroberi, ia telahmengarahkan dua film. 30 Hari Mencari Cinta (2004) adalah cerita dari tiga wanitamuda putus asa mencoba untuk menemukan cinta setelah mereka dituduh lesbiankarena mereka tampaknya tidak pernah berkencan. Kebetulan, salah satu priamuda yang awalnya tampaknya sebagai target yang baik ternyata gay. Dalam filmkeduanya, Realita, Cinta dan Rock ‘n’ Roll (2006), selain ada pembacaan kemungkinanhomoerotik antara dua karakter utama pria, kita juga disuguhi cerita bahwa salahsatu dari dua tokoh sentral akhirnya berdamai dengan kenyataan bahwa ayahnya Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 57
  • 56. Ben Murtaghlaporkan Upi menyatakan bahwa ‘filmnya diinspirasi oleh BrokebackMountain, yang juga menceritakan kehidupan dua laki-laki gay’.Lebih jauh dikatakan bahwa Upi mengekspresikan harapan bahwafilm ini dapat berguna sebagai sumber edukasi untuk anak-anakmuda dan orang tuanya, dan membantu orang tua untuk lebih ter-buka pada anaknya dan menanyakan anak-anaknya ‘apakah kamucoklat, stroberi, atau coklat-stroberi?’ (KapanLagi 2007). Sekalipun demikian, pembandingan dengan BrokebackMountain sangat tidak tepat. Jika dalam film Amerika itu dua koboiitu tetap setia pada cinta mereka pada satu sama lain meskipun dibawah tekanan keluarga dan masyarakat yang memaksa merekaberdua pada pernikahan yang tidak mereka kehendaki dan menutupikeberadaan dirinya, dalam film Indonesia ini, perempuan cantikpertama yang datang untuk menggoda Nesta membuatnya menyadaribahwai hasrat homoseksualnya hanyalah sekedar fase homoseksual,dan sebenarnya dia adalah sepenuhnya laki-laki heteroseksualberdarah panas, satu peran yang dengan cepat dia adaptassi.Maka karakter Nesta mungkin paling baik dijelaskan sebagai laki-laki muda labil yang, meskipun intim dengan teman terbaiknyasemenjak masa sekolahnya, kemudian memahami preferensinyasebagai heteroseksual begitu dia mempunyai kesempatan untukmengeksplorasi perasaanya secara lebih intim dengan perempuan.Jelas, dan mengingat tujuan edukasi film ini untuk baik orang tuamaupun anak-anak muda, untuk banyak aktivis gay, representasihomoseksualitas sebagai sesuatu yang dapat ‘disembuhkan’ olehperempuan yang tepat adalah mengecewakan, khususnya terutamakarena ini bukanlah salah satu dari banyak representasi mengenaiseksualitas gay anak muda di Indonesia. Walau mereka menghargaipembuat filmnya karena telah menantang batas dan keberaniandalam membuat film ini, dapat dimengerti bahwa ada yang tidakpuas dengan plot twist yang kurang membuat terobosan. Perbandingan representasi visual pasangan heteroseksualdengan pasangan homoseksual dalam film ini mencerahkan. Kitasering melihat Nesta dalam adegan yang panjang dan melekat denganKey, di mana dia kerap berada dalam posisi sugestif dan menaklukkansecara seksual. Begitu juga, dia ditampakkan perhatian dan protektif,dengan intim meniup debu dari mata Key, sebagai contoh. Dalam satuadegan mencuci mobil yang erotis, Nesta membasahi dirinya dan Keyyang telah lama hilang adalah seorang transseksual.58 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 57. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasadengan air dari pipa, dengan wajah sumringah dan orgasmik. Selainitu, Nesta dalam beberapa momen ditampakkan tanpa baju denganbatang tubuh mengkilap, meskipun ini biasanya ketika dia bertemudengan Key—sebagai contoh, saat dia pergi ke kamar mandi di malamhari. Tapi, dengan kekasihnya Aldi, dia berpakaian lebih tertutup,termasuk ketika mereka berdua di atas ranjang bersama. Hanyadalam satu adegan Aldi ditampakkan setengah telanjang denganNesta, dan ini ketika Nesta mengkonfrontasi Aldi tentang mengapadia memamerkan tubuhnya ke perempuan-perempuan itu. Ketikamereka akan berpelukan untuk berbaikan, mereka diinterupsi olehkedatangan mendadak ibu kos dan adegan tersebut berubah menjadisatu komedi dengan Aldi sebagai bulanan. Ini tipikal pendekatan filmini pada umumnya. Jika adegan intim heteroseksual diberi kesempatanuntuk dibangun dan diperhatikan kamera, segala bentuk kedekatanatau intimasi antara dua laki-laki itu biasanya diinterupsi untuk efekkomedi atau dramatis. Selain satu adegan di mana mereka berdua tidurbersama, satu-satunya saat lain kamera menyorot lebih lama kedualaki-laki itu adalah saat Nesta bergabung dengan Aldi yang duduk ditangga dan Nesta membicarakan kesulitan-kesulitan yang dialminyasaat menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Key. Kamera melakukanpanning out ke long-distance shot adegan Nesta duduk dengan tangannyamelingkari bahu Aldi. Namun, menurut narasi filmhya, ini bukanlagi sepasang gay, tapi lebih dua teman laki-laki yang mengikrarkankesetiaan mereka pada satu sama lain sebagai teman, tidak lebih. Kerisihan erotisme dan seksualitas (prudery) dalam penggambaranvisual pasangan laki-laki ini tidak hanya ditemukan dalam filmCoklat Stroberi, dan tentu saja pembuat film dibatasi oleh sensor danpenonton mereka. Dalam Arisan!, meskipun ciuman gay-nya banyakdibicarakan, kita tidak pernah melihat pasangan itu di ranjang atautak berbaju. Paling jauh kita melihat kesan intimasi seksual adalahketika keduanya berdiri bersama dari balik sofa—dengan berbusanalengkap, tentunya. Ini berlawanan dengan berbagai depiksi erotisheteroseksual yang sugestif dan dalam waktu yang lama. Memang,kedua film ini memiliki penggambaran yang berlawanan dengan Nicodan kekasihnya Toni di Istana Kecantikan di saat mereka kepergok istriNico. Meskipun tidak berciuman, keduanya sedang bermesraan diatas ranjang, dan jelas tidak mengenakan baju. Meskipun ketakutanterhadap sensor dan mungkin juga reaksi penonton dapat menjelaskanstandar ganda dalam representasi interaksi gay dan straight, ambivalensijuga tampak di sini. Tim di belakang Coklat Stroberi, meskipun tulus Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 59
  • 58. Ben Murtaghingin mengafirmasi isu cinta homoseksual di kalangan anak-anakmuda di Indonesia, bagaimanapun juga menunjukkan tendensi untukmenggunakan prospek intimasi gay sebagai alat untuk mencapai efekdramatis yang lebih jauh, sementara adegan romantis konvensionaldianggap sepenuhnya pantas untuk pasangan straight. Bagian kunci dari film ini menggambarkan ayah Aldi meresponpembukaan diri anaknya dengan mengalami serangan epilepsi.Meskipun untuk beberapa selera adegan ini mungkin tampak terlaludramatis, dalam beberapa tontonan umum yang didatangi penulis,juga dalam kelompok diskusi terarah dengan partisipan gay, lesbiandan waria, respon para penonton Indonesia, yang umumnya sangatberisik di adegan lainnya, berubah menjadi keheningan yang tegang.Akibat dramatis Aldi mengenai hubungannya dengan kedua orangtuanya ditekankan ketika dia bertanya pada ibunya apakah ibunyadapat menerima apa yang baru saja dia ucapkan. Ibunya tidakbilang bahwa dia tidak bisa menerima, tapi lebih memintanya untukmengubah pikirannya dan menarik kembali pernyataan dramatisnyamengenai seksualitasnya dan kembali ke normal seperti biasa—normaldi sini adalah kata yang digunakan orang-orang Indonesia untukheteroseksualitas. Kemudia dia mengikuti suaminya keluar dari rumah,dan seiring dengan berjalannya mobil itu menjauh, wajah ayahnya yangkesakitan dan berair mata melihat keluar dari mobil, dan Aldi tertinggalberdiri sendiri di depan pintu dengan air mata membasahi wajahnya.Kita tidak melihat orang tua Aldi di adegan lainnya dalam film ini, dankita dapat menyimpulkan bahwa dia harus berjuang tanpa mereka. Pesan mengenai pembukaan diri dalam film ini agakmembingungkan. Di satu sisi, Aldi ditampakkan sebagai seseorangyang terlihat jauh lebih percaya diri setelah pembukaan dirinya, padaakhirnya dapat berpacaran dengan pasangan yang lebih pantas dancocok. Di sisi lain, reaksi ayah Aldi, seperti mengancam kesehatannya,tampak memberi pesan kuat bahwa membuka diri sangatlah tidakdisarankan, khususnya karena akhirnya tidak adanya perdamaiankeluarga dalam film ini. Dalam hal ini, implikasi dari film ini tampakmirip dengan pandangan Nesta bahwa membuka diri tidaklah pantasdan hanya akan menyebabkan petaka. Ketika Aldi menjelaskanpada Nesta alasan-alasan kejujurannya pada orang tuanya, bahwadia tidak mau berpura-pura lagi dan dia lelah soal hubunganmereka yang ditutup-tutupi, Nesta bertanya kepada Aldi apakahdia berpikir mereka dapat jalan-jalan ke mall, ke kampus, sambilgandengan tangan. Mengatai Aldi bahwa dia benar-benar gila, dia60 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 59. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasabertanya, ‘Lu pikir kita hidup di mana?’ Implisit dalam pertanyaanitu, ‘di mana kau kira kita berada?’ adalah pandangan Nesta bahwaterbuka sebagai gay di Indonesia—dan bukannya lokasi lainnya—adalah mustahil. Di sini, tidak seperti bagian lain dalam filmnya,terlihat satu persepsi khusus mengenai perjuangan yang dihadapilaki-laki gay di Indonesia. Di mata Nesta, pernyataan publikmengenai homoseksualitas di Indonesia adalah mustahil17, secaratidak langsung menyatakan bahwa hal itu hanya bisa menjadisesuatu yang sementara dan rahasia, yang tak bisa dihindari akandilanjutkan oleh hubungan heteroseksual yang dapat diterimaumum dan secara sosial wajib. Ide ini begitu dominan dalampenjelasan Nesta atas putusnya hubungannya dengan Aldi sehinggamudah bagi kita untuk bersimpati dengan tuduhan Aldi bahwaNesta berpacaran dengan Key karena dia merasa hanya hubunganheteroseksual yang mempunyai masa depan. Menariknya, jelas dari focus group discussion mengenai filmini dengan kelompok gay, mereka memahami pesannya sebagaiperingatan bahayanya membuka diri kepada orang tua masing-masing,satu ketakutan yang mereka semua rasakan. Jadi, jika dilihat dariperspektif Barat abad ke-21, satu film yang berharap dapat melibatkanisu seksualitas secara positif mungkin akan dicemooh karenapenggambarannya atas pembukaan diri Aldi, bagi teman-teman bicaragay Indonesia saya, adegan ini, yang dilihat sebagai klimaks dramatisfilm tersebut, umumnya dihargai untuk apa yang mereka anggapsebagai penggambaran jujur dan realistis mengenai apa yang akanterjadi jika seorang laki-laki muda membuka diri pada orang tuanya.Saat saya menyatakan bahwa beberapa laki-laki muda mungkin akankeder membuka diri pada orang tua mereka setelah melihat film ini,tapi justru ini dilihat oleh para responden sebagai hal yang positif.Menurut mereka, membuka diri pada orang tua tidak saja tidak perlu,tapi juga tidak bijak.Novel Coklat Stroberi Sebagian besar novel adaptasi dari Coklat Stroberi sangatmirip dengan filmnya, banyak dialognya sepadan kata perkata. Sebagaimana dijelaskan di sampul buku, novel Christian17 Menarik bahwa peserta FGD film ini sering menyatakan Thailand sebagaisebuah sebagaimana yang ada dalam pikiran Nesta, yaitu bahwa Thailand adalahsurga bagi komunitas gay (Murtagh 2010). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 61
  • 60. Ben MurtaghSimamora18 ini berdasarkan skenario Upi, dan dalam pengantarnovelnya, Upi menyatakan bahwa buku ini akan membantupembaca untuk mengetahui ceritanya sebelum rilis filmnya, dengantujuan mendorong pembaca untuk pergi menonton filmnya (Upi,dalam Simamora 2007a, iii). Walaupun beberapa adegan pendekditambahakan atau dihilangkan, perbedaan utama antara film dannovelnya terletak pada pemasukan pikiran dan motivasi pribadi dandetil latar belakang tambahan. Meskipun secara umum tidak banyak,detil tambahan ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat dalampemahaman kita mengenai hubungan Nesta dan Aldi, dan mengenaihubungan Aldi dengan Dani. Bagian ini akan memfokuskan padasatu penghilangan dan tiga tambahan dalam novelnya. Penghilangan yang mencolok adalah adegan di mana ketikakedua laki-laki muda itu pertama tiba di rumah. Di dalam film,Aldi tidak mampu membawa tasnya sendiri dan meminta Nestamembaantunya. Adegan ini jelas berfungsi untuk memberi pe-tunjuk visual awal pada penonton mengenai kekhasan hubunganantara mereka. Ini dicapai dengan menggunakan stereotipe yanggamblang. Aldi ngondhek dan sangat memperhatikan mode baju.Tidak saja dia terlalu kecil untuk membawa tas-tasnya sendiri, Nestabercanda bahwa dia seperti ibunya, membawa barang yang terlalubanyak. Tapi, Aldi tidak malu dengan fakta bahwa dia mempunyaibegitu banyak baju dan bahkan bercanda bahwa Nesta nanti akanmemakainya juga. Di sini Aldi ditunjukkan sebagai manja, ide yangterus dilanjutkan sepanjang film, terutama melalui ekspresi wajah-nya. Kontras dengan Nesta tampak jelas. Nesta berbadan fit dankuat dan tidak begitu memusingkan mode pakaian. Maka, denganmenggunakan stereotipe yang penonton familiar, adegan ini digu-nakan untuk menunjukkan pada penonton kekhasan hubunganantara dua laki-laki tersebut. Adalah instruktif bahwa adegan inidihilangkan dalam novel, yang umumnya berusaha menghindaristerotipe simplistis film, dengan menggunakan detil latar belakanguntuk menambah kedalaman karakter dua laki-laki itu. Sebaliknya,18 Christian Simamora, lahir 9 Juni 1983, telah menerbitkan beberapa novel‘teenlit’, termasuk Jangan Bilang Siapa-siapa (2005), Elex Media Komputindo, Jakarta;Boylicious (2006), GagasMedia, Jakarta; Kissing Me Softly (pseudonim Ino Crystal,2006), GagasMedia, Jakarta; Coklat Stroberi (2007a), GagasMedia, Jakarta; MacarinAnjing (2007b), GagasMedia, Jakarta; dan duet menulis bersama Windy Ariestanty,Shit Happens (2007), GagasMedia, Jakarta. Judul terakhir ini juga memiliki tema gay.Semua novel yang didaftar ini ditulis dalam bahasa Indonesia.62 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 61. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasakita mendapatkan deskripsi Aldi menata barang-barang mereka dikamar baru mereka dan membayangkan mereka berdua tinggal da-lam kamar barunya bersama (Simamora 2007a, 47–48). Satu tambahan penting muncul di akhir novel ketika Aldi danNesta sudah putus. Aldi menonton video hari kelulusan sekolahmereka dan kita membaca dalam novel bagaimana hubungan antarakeduanya terbangun (Simamora 2007a, 144–146). Pada awalnya temandekat, mereka mabuk di rumah orang tua Nesta (orang tuanya sedangpergi liburan), dan berciuman dalam dan lama. Setelah itu, Aldi tidakingat apa yang terjadi. Tapi, ada sesuatu lain yang terjadi, dan merekadengan imajinasi yang cukup dapat membayangkannya. Di sisi lain,untuk remaja-remaja yang ingin memfokuskan hanya pada kenikmatanciuman yang lama dan bukan sesuatu yang lebih kontroversial, teksini memperbolehkannya. Jika dalam film hubungan ini tidak pernahditunjukkan secara lebih seksual daripada sekedar sedikit adeganciuman yang terinterupsi, dalam novelnya kita tidak meragukan lagibahwa hubungan seksual mereka selama dua tahun terakhir. Dari novelini, jelas bahwa aspek seksual hubungan mereka dimulai oleh Nesta.Jadi penulis tampaknya mengkontradiksi ide dalam representasi filmNesta sebagai sekedar labil secara seksual. Detil tambahan ini membuatpembaca tidak terlalu meyakini penjelasan Nesta ke Aldi bahwa selamamereka berhubungan, dia menyimpan keragu-raguan. Tambahan kedua yang patut dicatat muncul di akhir novel(Simamora 2007a, 173–175). Dengan diketahuinya bahwa Aldisekarang berpasangan dengan Dani, kita diberi latar belakang ekstrayang penting mengenai hubungan mereka, yang dalam filmnyaditinggalkan dalam imajinasi kita. Pertama, kita diberi tahu bahwabeberapa bulan telah lewat dan keduanya perlahan-lahan salingmengenal satu sama lain. Ini tampak berlawanan dengan filmnya,yang memberi kesan bahwa waktu tidak lama berlalu. Kedua,ditampakkan bahwa kekasih baru Aldi, Dani, telah membuka diripada orang tuanya di tahun terakhir kuliahnya, dan prosesnya punsama sulitnya, di mana orang tuanya merespon dengan cara yangmirip dengan orang tua Aldi. Namun, setelah dia berhasil memulaibisnis sendiri yang sukses, mereka kemudian menerima putranyaapa adanya. Dukungan Dani kepada Aldi, atas saran Citra,membawa mereka pada hubungan mereka sekarang. Dia sangatmendukung Aldi, mengingatkannya untuk sabar terhadap orangtuanya, dan teks buku ini menjelaskan bahwa tidak ada gangguanjangka panjang terhadap keluarganya sebagai konsekuensi usaha Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 63
  • 62. Ben Murtaghanak-anaknya. Dalam dua kasus tersebut, tampak pentingnyausaha mereka untuk membangun kembali hubungan merekadengan orang tua mereka. Sebagai contoh, kita diberitahu bahwaDani menemani Aldi dalam beberapa kesempatan ia ke Bandunguntuk mengunjungi orang tua Aldi. Sementara dalam film,perselisihan antara orang tua dan anak ini tidak terselesaikan,novelnya menceritakan dengan cukup panjang untuk menunjukkanbahwa, meskipun prosesnya sulit, hubungan keluarga Aldi tidaksepenuhnya rusak karena kejujurannya. Membuka diri tidak menjadisesuatu yang menyebabkan perselisihan keluarga yang abadi, tapi,meskipun tetap merupakan proses yang sulit, digambarkan sebagaisesuatu yang berdampak baik bagi kedua laki-laki muda tersebut. Satu keistimewaan yang sedikit aneh dari novelnya, yangtidak ada dalam filmnya, berasal dari pencantuman lirik dari lagu-lagu George Michael dan Will Young (Simamora 2007a, vii, 151,175)—keduanya penyanyi pop Inggris yang terkenal: George Mi-chael membuka diri setelah insiden terkenal di Los Angeles; danWill Young memilih untuk membuka diri setelah memenangkanajang bakat TV Inggris Pop Idol di tahun 2002. Paling janggal darisemuanya adalah akhir novel di mana semua karakter berada dikonser Ungu mendengarkan band pop Indonesia, sementara kata-kata akhir dari teksnya mengambil lirik lagu berbahasa InggrisGeorge Michael, ‘An Easier Affair’. Kata-katanya dapat dengan jelasdibaca sebagai kebebasan yang dirasakan George Michael denganmembuka diri, dan memang, lagu tersebut tampaknya dipersem-bahkan kepada penggemar perempuannya yang tidak menyadaribahwa dia gay. Maka, di balik ketidakcocokan Ungu/George Mi-chael, pilihan Simamora untuk George Michael memiliki resonansiyang sepenuhnya cocok untuk makna novel. Tentunya, banyaklaki-laki muda gay Indonesia cukup familiar dengan fakta bahwakedua ikon pop tersebut gay, dan pencantuman lirik tersebut akanmenambah arti bagi mereka (khususnya jika mereka mengerti ba-hasa Inggris)19. Seberapa benar ini berlaku untuk penonton mudaIndonesia sulit diukur. Simamora juga menambahkan beberapa potongan budayapop Inggris dan Amerika dalam novelnya. Ini termasuk detailbahwa film gay Amerika Adam dan Steve (sutradara Craig Chester,19 Berdasarkan pertanyaan acak pada laki-laki gay di Jakarta dan Surabayadi akhir 2008, Will Young jauh kurang dikenal daripada George Michael64 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 63. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasa2005) adalah film favorit Aldi. Dalam menjelaskan pretensi menjadicoklat (straight), contoh yang diberikan adalah dua orang Barat Dar-ren Hayes20 dan Dave Koz21, keduanya membuka diri setelah gosipumum. Informasi lengkap latar belakang mengenai keduanya inidicantumkan sebagai catatan kaki dalam novel (Simamora 2007a,74). Setelah pembukaan dirinya, Aldi merenungkan fakta bahwaorang tuanya tidak akan pernah mendukungnya menghadiri ‘gaypride parade (parade kebanggan gay)’ (Simamora 2007a, 137)–yangcukup tidak sesuai, mengingat tidak pernah ada gay pride parade diIndonesia. Begitu pula ketia penulis menjelaskan pemahaman Citradan Key mengenai hubungan Aldi dan Nesta dalam kaitannya den-gan hubungan dua karakter utama dalam film Brokeback Mountain,yang cukup terkenal di Indonesia dan tampaknya, sebagaimanasudah disebutkan sebelumnya, adalah inspirasi Upi dalam menu-lis screenplay-nya. Menariknya, ketika Key melihat ciuman antaraAldi dan Nesta, dan dijelaskan seperti melihat Heath Ledger danJake Gyllenhaal berciuman dalam Brokeback Mountain, suara narasinovelnya merefleksikan bahwa dalam film itu hanyalah aktor yangmengikuti script, tidak nyata sebagaimana terjadi antara Aldi danNesta (Simamora 2007a, 138). Hasil dari tambahan-tambahan ini adalah membuat novelnyamejadi jauh ‘lebih gay’ dibandingkan filmnya. Penting mengingatbahwa ini adalah skenario yang ditulis oleh seorang perempuanheteroseksual, dan diadaptasi oleh penulis laki-laki yang tampaknyacukup tertarik untuk merepresentasikan karakter laki-laki gay dalamtulisannya, sebagaimana terbukti dari novel yang ia co-author ditahun 2007, Shit Happens, yang menampilkan karakter gay Sebastian.Meskipun dibatasi dalam tulisannya dengan fakta bahwa diahanya mengadaptasi skenario film Upi, Simamora bagaimanapunjuga membawa pengetahuan mengenai budaya gay yang cukupmengubah rasa novelnya. Penulis tidak harus melakukan ini.Dia dapat lebih mengikuti skenario asal, atau dia dapat memilihuntuk lebih mengembangkan cerita Key dan Citra. Meskipunbegitu, penting dicatat bahwa dalam menjelaskan alur cerita gaytersebut, Christian Simamora menggunakan berbagai contoh dariBarat. Jelas ada perangkulan pengetahuan mengenai budaya20 Penyanyi Australia yang awalnya menjadi terkenal sebagai bagian dariSavage Garden yang sekarang sudah bubar.21 Seorang pemain saxofon Amerika. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 65
  • 64. Ben Murtaghgay di Barat untuk menjelaskan karakter-karakter homoseksualIndonesia. Satu pertanyaan yang muncul adalah mengapa tidakada keterlibatan ikon dan tradisi nonheteronormatif dari budaya(-budaya) Indonesia, yang jelas-jelas ada. Paradoks ini tidak terbataspada Coklat Stroberi. Sebagaimana saya catat di kesempatan lain,aktor-aktor yang memainkan karakter gay Indonesia menyatakanbahwa mereka meneliti peran mereka dengan menonotn acaratelevisi seperti serial Amerika Queer as Folk (Murtagh 2006, 214).Selain dua kunjungan ke nightclub gay kelas atas di Jakarta, Heaven,dengan dua aktor laki-laki utama, penelitian Ardy Octaviandmengenai karakter gay termasuk menonton acara televisi dan filmBarat, sekali lagi termasuk Queer as Folk (Octaviand, wawancarapribadi, 8 Juli 2008).Video Pop Akhirnya, kita bisa melihat video pop yang disutradarai olehproduser dan penulis skenario filmnya, Upi. Video pop telah men-jadi bagian penting dari strategi pemasaran film-film Indonesia da-lam beberapa tahun terakhir, dan sebagaimana dijelaskan oleh ArdyOctaviand, Ungu dipilih karena mereka adalah salah satu band pal-ing populer saat itu (Octaviand, wawancara pribadi, 8 Juli 2008).Band ini menulis lagunya, meskipun temanya diusulkan oleh sutra-dara film. Biaya produksi lagu ditanggung oleh band, tapi biayaproduksi video popnya berasal dari budget film (Octaviand, wawan-cara pribadi, 8 Juli 2008). Pemunculan penyanyi dan band dalamfilm-film Indonesia memiliki sejarah yang cukup lama terabentuk.Sebagai contoh, Hetty Koes Endang mundul sebagai penyanyi da-lam Akulah Vivian (sutradara M. Endraatmadja, 1977) dan Elvy Su-kaesih menyanyi dalam beberapa film dari tahun 1970-an hingga1980-an. Musik dalam seri Catatan si Boy tak diragukan merupakanfaktor penting dalam meningkatkan daya tariknya pada audiensanak muda yang dituju. Dalam sinema pasca-1998, beberapa filmmemasukkan adegan band yang sedang bermain, dan soundtrackmereka telah menjadi hit di punggung film, satu trend—dan teknikpemasaran—yang dimulai dengan kesuksesan Ada Apa dengan Cin-ta? (sutradara Roedy Soedjarwo, 2001), film remaja sukses pertamadalam periode kebangkitan sinema Indonesia22.22 Band Pas memainkan peran cameo dalam film, dan lagu dengan judulAda apa dengan Cinta? Ditulis oleh Melly Goleslaw dan Anto Hoed dan dinyanyikan66 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 65. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasa Videonya adalah campuran antara adegan sebuah grup bandyang menyanyikan lagu di tengah lorong kota yang senyap denganadegan-adegan dari film. Dalam satu adegan, penyanyi utamaberlari sepanjang jalan gelap kota, seperti Key lari melalui jalan-jalan Jakarta untuk bersama dengan Nesta yang dicintainya. Ketikamenonton videonya, patut dicatat bahwa kebanyakan nuansa darifilm ini dihilangkan dan disangkal. Tentunya, produsernya tidakmau membocorkan kesenangan menonton filmnya langsung, jadimereka tidak mau memasukkan semua adegan yang memungkinkan.Tapi meskipun mereka tidak mempunyai masalah sedikitpun dalammenunjukkan berbagai tahap hubungan Nesta-Key, hubunganantara kedua laki-laki tersebut, yang telah dibangun dari awal film,umunya dihindari dalam video. Selain pertukaran pandang, satupelukan dan adegan Aldi dan Nesta bercakap-cakap di pinggir jalan,alur cerita gay dihilangkan dari video ini. Ini berlawanan denganalur cerita straight yang digambarkan dari awal hingga akhir, daripertemuan Nesta yang bertelanjang dada dengan Key di kamarmandi sampai ke adegan akhir video pop di mana Key akhirnyaberhasil menemui Nesta ketika dia hampir saja hendak pergi jauh,mengira dirinya telah ditolak selamanya. Perlu diingat juga bahwadalam filmnya sendiri, lagu ini digunakan sebagai latar belakangketika adegan Nesta berharap Key tidak menolak dia selamanya,dan Key berlari kembali kepadanya. Jadi dalam satu hal, ini menjadilagu mengenai sifat abadi hubungan pasangan straight. Namun, laguini juga muncul (dalam versi yang jauh lebih pendek) di tahap yanglebih awal dalam film, di mana Aldi ditunjukkan tidur sendirian disofa dan Nesta masuk, melihatnya, dan masuk ke kamar tidur. Jadi,lagu ini dalam film dikaitkan kepada hubungan antara dua laki-lakidan harapan Aldi bahwa Nesta akan kembali padanya. Sebagai pendengar, kita dapat memberi banyak makna yangberlapis ke lirik lagunya, yang secara umum adalah variasi tema‘masih disini menantimu/berharap cinta kita ‘kan bersatu.’ Sangatpenting, bahwa interpretasi queer pun sama mungkinnya dengan in-terpretasi straight—ini bisa jadi mengenai Aldi yang gay yang masihtetap menunggu Nesta, begitu pula Nesta yang straight menungguKey. Namun, penggambaran dalam video popnya menghapus am-biguitas itu dengan mengedepankan alur cerita straight di atas gay,dan menjagokan heteronormativitas. Sementara dalam film Aldioleh Melly Goleslaw dan Erick. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 67
  • 66. Ben Murtaghjuga menemukan kekasih gay baru—Dani—dalam video Aldi yangsedih hanya menjadi peran pendukung minor yang nasibnya tidakdipedulikan; dan Dani sepenuhnya menghilang.Kesimpulan Ketika film ini beralih menjadi novel dan video pop, kitamelihat dua hasil yang berlawanan untuk alur cerita gay-nya. Dalamgenre novel adaptasi Indonesia, sebenarnya tidak banyak ruang bagipenulis untuk bermanuver. Meskipun begitu, Christian Simamoraberhasil memperkuat alur cerita gay-nya, bukan melalui perubahanpada plot, tapi lebih dengan menambahkan informasi latar belakang,terutama mengenai Aldi dan Dani. Simamora juga mencantumkanbeberapa penanda insidental yang, setidaknya untuk pembaca yangmengerti, sangat menambah ‘citarasa gay’ novelnya. Di saat yangsama, penulis berhasil mereduksi efek dari beberapa sikap ambivalenterhadap homoseksualitas yang tampak jelas dalam filmnya. Ini hanyamungkin dilakukan dalam tingkatan terbatas karena keterbatasangenre-nya, misalnya, tidak ada kemungkinan Nesta pada akhirnyatidak berpasangan dengan Key. Meskipun begitu, dalam novelnyakita mungkin tidak begitu yakin bahwa Nesta dengan perubahansepenuh hati Nesta beralih ke heteroseksualitas. Begitu pula,Simamora mereduksi dampak dari representasi stereotiep parakarakter, dan khususnya Aldi. Efek gangguan dramatis/komedisadegan intim antara kedua laki-laki muda ini juga direduksi dalamnovel, menghasilkan impresi bahwa potensi romantis dan seksualhubungan hetero dan homoseksual adalah sama. Berlawanan jauh dengan perubahan yang terjadi dalam nov-el, dalam video popnya alur cerita gay-nya secara efektif dihapus-kan; dan mengingat bahwa video mungkin adalah satu dari tigagenre yang akan berulang kali ditonton (dengan sering diputar diberbagai saluran TV Indonesia), pengaruhnya tidak dapat diang-gap enteng. Bagi yang hanya melihat videonya atau menontonnyasebelum melihat film atau membaca novelnya, kesan yang didapat(mengenai videonya, dan karenanya juga lagunya/bukunya/film-nya) adalah benar-benar narasi straight mengenai seorang laki-lakiyang menunggu kekasih perempuannya kembali padanya. Terlebihlagi, kekuatan kesan video popnya berfungsi untuk melemahkanmakna potensial queer lirik lagu itu. Kita tidak boleh meremehkankemampuan dan kesiapan gay dan lesbian Indonesia untuk mem-buat bacaan queer—beberapa dari informan lesbian saya bahkan68 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 67. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasamembaca karakter Citra sebagai lesbian. Namun, kurang memung-kinkan bahwa orang-orang Indonesia normal akan sama bernuan-sanya dalam mengenali potensi non-heteronormatif. Sebagian besar gay Indonesia bukanlah gay global, tetapi cu-kup banyak jumlah karakter film gay Indonesia yang gay global.Kasus Coklat Stroberi menyoroti ketidaksesuaian antara representasirealitas dan media massa mengenai subjektifitas gay di Indonesia.Bukan saja laki-laki gay umumnya ditampilkan berasal dari kelassosial ekonomi tinggi, tetapi tampaknya ada juga proses represen-tasi global queering yang tidak sinkron dengan realita bagaimanagay Indonesia menjalani kehidupan mereka. Mengingat peringatanBerry bahwa dalam kasus sinema Asia Timur, apa yang ditunjuk-kan oleh film mainstream kepada kita sering kali bukanlah realitaskehidupan laki-laki gay, melainkan bagaimana pria gay dipersepsi-kan (Berry 1997, 14), menarik bahwa dalam kasus beberapa film In-donesia baru-baru ini, dan khususnya kasus Coklat Stroberi, persepsiini tampaknya didasarkan pada model non-lokal. Daripada me-narik pada sumber lokal sebagai inspirasi untuk jalan plot dan pe-mahaman tentang posisi subjek gay, tampaknya para pembuat filmdan penulis menarik (terutama) sumber-sumber Barat untuk meng-informasikan pemahaman mereka mengenai subjektivitas gay. Da-lam kasus Coklat Stroberi, kita melihat ini dengan jelas dalam alurcerita pembukaan diri, di mana Aldi membuka diri kepada orangtuanya bahkan sebelum membuka diri kepada teman-temannya.Pentingnya budaya gay di luar Indonesia bahkan lebih jelas dalamnovel ketika Aldi bersedih karena orang tuanya tidak akan men-dukungnya menghadiri gay pride parade pertamanya. Aldi sendirilebih lanjut terbukti diinformasikan oleh budaya gay Barat melaluitontonan film gay Amerikanya dan kesukaannya pada penyanyiGeorge Michael. Tidak ada yang salah dengan itu: banyak laki-lakigay Indonesia mendengarkan musik Barat dan menonton film-filmBarat. Tapi apa yang hilang dari film dan novel adalah perasaanbahwa Aldi melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas gayIndonesia. Ia tidak ditampilkan memiliki teman-teman gay lain,atau mendatangi tempat-tempat berkumpulnya komunitas gay.Sedangkan menjadi terbuka di Indonesia umumnya pertama-tamadi tempat berkumpulnya komunitas gay dan teman-teman gay,sedang situasi di Coklat Stroberi adalah sebaliknya. Bahkan dalamnovel, tidak ada usaha untuk menunjukkan Aldi masuk ke dalamkomunitas gay yang lebih luas. Meskipun Aldi tampak memiliki Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 69
  • 68. Ben Murtaghkeyakinan yang sangat kuat, ia seperti menonton dunia gay darijauh daripada benar-benar menjadi bagiannya, dan dunia gay yangditontonnya adalah dunia internasional atau global, bukan duniayang lokal atau Indonesia.Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada Ardy Octaviand untuk diskusi pem-buatan filmnya. Saya juga menghargai respon yang sangat ber-guna dari para pengulas anonim untuk Southeast Asia Research.Terima kasih juga kepada sejumlah informan gay, waria dan les-bian Indonesia yang namanya tidak perlu dipublikasikan—merekatahu siapa mereka. Masukan mereka menjadi fundamental dalampemahaman saya tentang berbagai kemungkinan pembacaan filmini. Saya sangat berterima kasih kepada semua orang di Gaya Nu-santara karena begitu akomodatif ketika saya mengadakan FGDdi sana pada November 2008. Perjalanan saya ke Indonesia padaakhir 2008 sebagian didanai oleh Research Committee on South EastAsian Studies of ASEASUK.BEN MURTAGH: Pengajar Indonesia di Departemen Asia Teng-gara di SOAS, Thornhaugh Street, London WC1H0XG, UK. E-mail:bm10@soas.ac.ukRUJUKANAdjie. 2007. “Ardy Octaviand Mengaku Kurang Riset Untuk Coklat Stroberi.” http://ruangfilm.com/?q=hal/2007/08/31/ardy_oc- taviand_mengaku_kurang_riset_untuk_coklat_stroberi. Di- akses 3 Desember 2008.Altman, Dennis. 1997. “Global Gaze/Global Gays.” GLQ. Vol 3. hal. 417–436._______. 2001a. Global Sex. Chicago: University of Chicago Press._______. 2001b. “Rupture or Continuity? The Internationalization of Gay Identities.” Dalam Postcolonial Queer: Theoretical Inter- sections. J. Hawley, ed. Hal. 19–41. Albany, NY: State Univer- sity of New York Press.Berry, Chris. 1997. “Globalisation and Localisation: Queer Films from Asia.” Dalam The Bent Lens: A World Guide to Gay and Les-70 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 69. Coklat Stroberi: Satu Roman Indonesia dalam Tiga Rasa bianan Film. C. Jackson dan P. Tapp, eds. Australian.Catalogue Company. Victoria: St. KildaHal. 14–17.Boellstorff, Tom. 2005. The Gay Archipelago: Sexuality and Nation in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.__________. 2007. A Coincidence of Desires: Anthropology, Queer Studies, Indonesia. Durham: Duke University Press.Clark, Marshall. 2004. “Men, Masculinities and Symbolic Violence in Recent Indonesian Cinema.” Dalam Journal of Southeast Asian Studies. Vol 35. No 1. Hal. 113–131.Contactmusic.com. 2006. “George Michael – Michael: “I had to write about my ordeal.”http://www.contactmusic.com/new/xm- lfeed.nsf/mndwebpages/michael%20i%20had%20to%20 write%20about%20my%20ordeal_26_05_2006. Diakses 20 Desember 2008.Crystal, Ino. 2006. Kissing Me Softly. Jakarta: Gagasmedia.Hanan, David. 2008. “Changing Social Formations in Indonesian and Thai Teen Movies.” Dalam Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post-Authoritarian Politics. A. Heryanto, ed. Hal. 54-69. Abingdon: Routledge.Heeren, Katinka van. 2002. “Revolution of Hope: Independent Films are Young, Free and Radical.” Inside Indonesia. Vol 70. http://www.insideindonesia.org/content/view/391/29/ Di- akses 29 December 2008.Irwan, Rizal. 2008. “Emon: Don’t Ask, Don’t Tell.” The Jakarta Post. 24 October.KapanLagi. 2007. “Coklat Stroberi Targetkan Satu Juta Penonton.” http://www.kapanlagi.com/h/0000175957.html. Diakses 3 Desember 2008).K. F. 2006. “Mode atau Penyakit? Citra Homoseksualitas dalam Sastra Indonesia.”Dalam Gay di Masyarakat. N. Agustinus, S. Sigit, dan Yogi, eds. Hal. 55-61. Surabaya: Gaya Nusantara.Murtagh, Ben. 2006. “Istana Kecantikan: the First Indonesian Gay Movie.” South East Asia Research. Vol 14. No 2. Hal. 211–230. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 71
  • 70. Ben Murtagh_______. 2007. “Beautiful Men in Jakarta and Bangkok: the Pressure to Conform in a Recent Indonesian Novel.” South East Asia Research. Vol 15. No 2. Hal. 281–299._______. 2008. “Chocolate Strawberry: an Indonesian Movie Breaks New Ground on the Subject of Teenage Sexuality.” Inside Indo- nesia. Vol 93. http://insideindonesia.org/content/view/1139/47/ Diakses 30 November 2008._______. 2010. “Bangkok’s Beautiful Men: Images of Thai Liberality in an Indonesian Gay Novel.” Dalam Queer Bangkok: 21st Cen- tury Media, Markets, and Rights (akan terbit). P. Jackson, ed. Hong Kong: Hong Kong University Press.Octaviand, Ardy. 2008. Wawancara dengan direktur. 8 Juli 2008.Sen, Krishna. 1986. “Filem Remaja: the Construction of Parent Power.” Asian Studies Association of Australia Review. Vol 10. No 2. Hal. 35–42._______. 1991. “Si Boy Looked at Johnny, Indonesian Screen at the Turn of the Decade.” Continuum. Vol 4. Hal. 136–151.Simamora, Christian. 2005. Jangan Bilang Siapa-siapa. Jakarta: Elex Media Komputindo._______. 2006. Boylicious. Jakarta: GagasMedia._______. 2007a. Coklat Stroberi. Jakarta: GagasMedia._______. 2007b. Macarin Anjing. Jakarta: GagasMedia.Simamora, Christian dan Windy Ariestanty. 2007. Shit Happens. Jakarta: Gagasmedia.Siregar, Ferry. 2007. “Coklat Stroberi.” http://sinema-indonesia.com/ neo/2007/06/21/coklat-stroberi-2007/ Diakses 3 Desember 2008.Upi. 2007. “Kata Pengantar.” Dalam Coklat Stroberi. C. Simamora, ed. Hal. iii–iv. Jakarta: GagasMedia.72 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 71. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnya Irwan M. HidayanaAbstrak: Wacana tentang pelacuran selama ini hanya berputar padapekerja seks perempuan dan mengabaikan keberadaan pekerja sekslaki-laki. Bahkan, wacana pelacuran yang heteroseksual juga tidakmembahas laki-laki yang membeli jasa seks dari pekerja seks perem-puan. Tulisan ini berupaya mengisi kekosongan literatur tentangpekerja seks laki-laki (PSL) dan klien/pasangan dari PSL itu send-iri. Penelitian ini dilakukan di Jakarta dan memiliki keterbatasankarena terfokus pada PSL di panti-panti pijat. PSL atau “kucing”dan klien/pasangannya menunjukkan identitas seksual dan praktikseksual yang dinamis karena dipengaruhi oleh kepercayaan (trust),hubungan antarpribadi, faktor ekonomi, persepsi terhadap risikodan pemaknaan terhadap seks. Laki-laki yang menjadi klien danpasangan tetap dari PSL mempunyai jaringan seksual yang cukupluas karena mereka cenderung berhubungan seks dengan lebihdari satu pasangan. Bagi klien, kenikmatan seksual, fantasi seksual,dan variasi seks merupakan alasan utama menggunakan jasa PSL.Pasangan tetap perempuan mengutamakan ikatan emosional–cintadan kasihan– dalam relasinya dengan PSL.Kata kunci: pelacuran, pekerja seks laki-laki, identitas seksual,praktik seksualPendahuluan Kajian-kajian tentang pelacuran atau industri seks selama inilebih banyak menyoroti pekerja seks perempuan (Jones, Sulistyan-ingsih, dan Hull 1997; Koentjoro 2004; Purnomo dan Siregar 1983;Murray 1991; Sedyaningsih-Mamahit 1999) dari berbagai kelas so-sial, mulai dari yang beroperasi di jalan-jalan hingga call girl ataulady escort yang melayani pelanggan kelas atas. Sementara sedikit Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 73
  • 72. Irwan M. Hidayanastudi telah memfokuskan pada pekerja seks waria (Atmodjo 1986;Koeswinarno 1996). Mata rantai yang hilang dalam kajian-kajian diatas adalah laki-laki yang membeli jasa seks dari perempuan mau-pun waria. Kita hampir tidak memiliki informasi dan gambaranyang lengkap tentang pelanggan pekerja seks ini. Di samping itulebih dari satu dasawarsa terakhir fenomena laki-laki yang menjaja-kan seks pun untuk pelanggan laki-laki semakin marak dan masihkurang dikaji secara mendalam, termasuk mereka yang melayaniperempuan yang biasa disebut gigolo (Sudarsono 1998). Berbicara tentang kerja seks laki-laki mau tidak mau mem-bawa kita juga berbicara tentang homoseksualitas dan pelacuranyang seringkali menimbulkan perdebatan kontroversial dan dis-angkal keberadaannya di banyak negara (Altman 1999, xiii). Namundalam wacana tentang homoseksualitas pun keberadaan laki-lakipekerja seks sering tidak tampak. Perdebatan tentang homoseksu-alitas cenderung berputar pada persoalan moralitas, agama, keseha-tan mental, dan gaya hidup. Bagi masyarakat umum, pekerja sekslaki-laki—yang biasa disebut kucing dalam bahasa pergaulan kaumgay—hampir-hampir tidak disadari keberadaannya sehingga wa-cana tentang pelacuran dalam diskusi, seminar, film, media massa,ceramah agama, dan lainnya selalu bicara tentang perempuan se-bagai pelacur. Oleh karena itu, tentulah penting untuk menguaktabir dunia pelacuran laki-laki agar kita dapat lebih memahamikompleksitas dinamika sosial masyarakat kosmopolitan Indonesiayang terus mengalami berbagai perubahan dalam segala aspek ke-hidupan.Catatan metodologis Studi ini dilakukan pada tahun 2002 sehingga perlu disadaribahwa apa yang penulis paparkan melalui tulisan ini sudah menga-lami banyak perubahan dalam realitas sosial kontemporer1. Keter-batasan lain adalah studi ini hanya terfokus pada pekerja seks laki-laki di panti pijat, sehingga kurang melukiskan keragaman warnadari pekerja seks laki-laki lainnya (bar/diskotik, jalanan, pusat ke-1 Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian tentang perilakuseksual dan resiko seksual di kalangan LSL yang didukung oleh Family HealthInternational-Aksi Stop AIDS (FHI-ASA) pada tahun 2002. Penulis berterimakasih kepada anggota tim peneliti yang melakukan wawancara mendalam kepadapara informan. Seluruh tanggung jawab akademik terkait dengan tulisan ini adasepenuhnya pada penulis.74 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 73. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyabugaran, dunia maya, atau lainnya). Studi ini merupakan studipendahuluan untuk mengeksplorasi dunia pelacuran laki-laki yangrelatif masih sangat terbatas. Tim peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap 15pekerja seks laki-laki (PSL) di Jakarta. Hal yang menjadi persoalandalam penelitian ini adalah tingkat sensitifitasnya yang tinggi un-tuk memulai pengidentifikasian keberadaan mereka. Langkah per-tama untuk mendapatkan calon informan adalah melalui sebuahLSM yang mulai menjangkau PSL khususnya yang berada di panti-panti pijat. Tim peneliti direkomendasikan beberapa nama PSLyang mungkin bisa diwawancarai dan juga diperkenalkan lang-sung kepada mereka. Selanjutnya, pewawancara menggunakanteknik snowball melalui PSL yang sudah diwawancarai atau punteman-teman yang mengenal dan mengetahui keberadaan PSL.Tempat-tempat umum di mana mereka biasa mangkal, nongkrongbersosialisasi bahkan bernegosiasi menjadi tempat pengamatan timpewawancara untuk mengetahui keberadaan mereka. Kami juga mewawancarai pasangan tetap dan klien dariPSL. Identifikasi awal klien/pasangan PSL adalah melalui bebera-pa informan PSL yang telah kami wawancarai sebelumnya. Kamimeminta bantuan mereka untuk mencarikan klien yang bersediadiwawancarai. Namun setelah 2 minggu sejak tim peneliti men-ghubungi mereka, tidak ada satu pun klien yang diperoleh untukdiwawancarai. Sementara ada 3 pasangan tetap (regular partner)PSL yang berhasil diwawancarai, yaitu 2 perempuan dan 1 laki-laki. Akhirnya tim peneliti mencari klien PSL melalui teman-temanyang mungkin mengetahui keberadaan mereka. Kami juga menda-tangi beberapa panti pijat, tetapi pengelola panti pijat umumnyaberkeberatan apabila kami melakukan wawancara terhadap klienyang datang ke tempat tersebut. Beberapa klien kami dapatkan disebuah salon berdasarkan informasi yang kami terima dari teman.Dari aspek usia, rentang usia 15 informan yang berpartisipasi da-lam penelitian ini cukup besar, yaitu termuda berusia 20 tahun dantertua berusia 60 tahun. Tempat-tempat umum seperti restoran, rumah makan dantaman, atau rumah dari teman informan menjadi tempat dilaku-kannya wawancara. Semuanya dilaksanakan dengan memperhati-kan kenyamanan wawancara agar privasi tetap terjaga. Wawancaradilakukan biasanya pada saat siang atau sore hari karena menye-suaikan dengan waktu senggang para informan. Setiap wawancara Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 75
  • 74. Irwan M. Hidayanamendalam menghabiskan waktu 90-120 menit, walaupun terkadangbisa lebih lama. Wawancara terhadap satu informan bisa dilakukanlebih dari 1 kali tergantung pada kedalaman informasi yang diper-oleh pada saat wawancara pertama dilakukan. Seluruh percakapandirekam ke dalam kaset untuk kemudian ditranskripsikan secaraverbatim oleh pewawancara.Kucing:2 Siapakah mereka? Lima belas informan yang dipilih secara acak, keseluruhannyaberusia tidak lebih dari 30 tahun. Roger–-yang mengaku punyapacar laki-laki yang bekerja di salon—adalah informan termuda,berusia 19 tahun, yang mulai menjajakan diri sekitar bulan Apriltahun 2002. Meski relatif baru memasuki dunia seks, ia mempunyairiwayat seksual yang sudah cukup lama. Pada usia 11 tahun atauketika kelas 5 SD, ia sudah melakukan aktivitas seksual dengan priameski tidak terlalu intim. Menurut pengakuannya, saat itu ia samasekali tidak mengerti apa itu hubungan seks, tetapi ia mengakuibahwa semenjak kecil ia memang mempunyai kecenderungan lebihmenyukai laki-laki dibandingkan perempuan. ”Saya suka laki-la-ki…saya sama perempuan sekedar suka aja…, tapi kalo seks sayanggak…nggak tahu deh…nggak bisa kali ya,…nggak nafsu,“ tuturRoger. Tiga informan lain yaitu Yosa, Vikto, dan Inung juga mem-punyai riwayat yang sama ketika pertama kali berhubungan seks,yaitu dengan laki-laki. Meski mempunyai riwayat yang sama, masing-masing mer-eka mengidentifikasi dirinya berbeda satu sama lain. Roger men-ganggap dirinya adalah seorang gay, yaitu laki-laki yang sukalaki-laki. Ini berbeda dengan Inung yang menganggap dirinyaadalah seorang biseksual karena saat ini tidak hanya laki-laki yangia layani, tetapi juga perempuan. Lain halnya dengan Vikto yangmenganggap identitas dirinya tergantung pada situasi dan kondisiyang ada. “Kadang tamu itu diperlakukan sebagai perempuan, yasaya harus sebagai laki-laki,” jelas Vikto. Sekalipun demikian, Vikto mengakui bahwa peran yang di-mainkan dalam pekerjaannya sebagai pekerja seks lebih banyakmenjadi laki-laki dibanding menjadi perempuan. Sedangkan Yosamenganggap dirinya adalah seorang homoseksual tetapi bukan2 Kucing adalah istilah yang biasa digunakan terutama di kalangan gay un-tuk menyebut pekerja seks laki-laki76 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 75. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyagay, karena menurutnya, gay adalah laki-laki yang lebih bersi-fat feminin sedangkan dirinya tidak tampak feminin. Tetapi dalamkonteks pekerjaan, Yosa mengakui peranannya bisa sebagai laki-laki atau perempuan. Di bawah ini sedikit cuplikan wawancara dengan Yosa. Yosa : Tergantung. Kadang kalau klien kita itu lebih feminin, ya kita jadi laki-laki. Pewawancara : Kalau dengan pasangan tetap kamu yang sekarang ini, bagaimana kamu mengidenti- fikasikan diri? Yosa : Saya perempuan. Karena saya perhatiannya lebih ada, lebih gitu ya dan dia lebih kewibawaan. Akan halnya sebelas informan lain, semuanya mengakuipertama kali berhubungan seks dengan perempuan. Tiga orang diantaranya, Wisnu, Noer, dan Wicak, adalah informan yang sampaisaat ini mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki sejati, meski punmereka saat ini harus melayani laki-laki. Wisnu dan Wicak sampaisaat ini mempunyai pacar perempuan, sedangkan Noer mempu-nyai seorang istri yang hingga sekarang tidak mengetahui peker-jaannya sebagai pemuas kebutuhan seks laki-laki. Wicak yang tidakpernah mau ditempong3 oleh kliennya mengatakan, …karena saya merasa… alasannya kalo saya bisa ‘ditem’ be- rarti saya sesuai dong…ehm… karena berhubung saya ngga bisa ‘ngetem’… jadi saya bilang bahwa saya adalah sebagai laki-laki.... kalo laki-laki ya orang yang mempunyai vital dan punya kepribadian bahwa dia itu tetep suka ke seorang wan- ita. Cuman itu yang saya tau…. Bagi ketiganya, melayani laki-laki sebagaimana yang merekalakukan saat ini adalah tuntutan pekerjaan, karena dari sanalahmereka memperoleh nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sofyan—berasal dari Solo dan baru 3 bulan bekerja di panti3 Ditempong adalah istilah yang biasa digunakan oleh komunitas gay danwaria yang artinya dianal atau disemburit. Bentuk aktifnya adalah menempongyang berarti menganal atau menyemburit. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 77
  • 76. Irwan M. Hidayanapijat—secara lugas berkata, “Simpel aja, karena saya butuh uang,biaya hidup untuk makan sehari-hari dan uang tabungan saya,walaupun saya tahu itu risikonya sangat tinggi.” Ucapan Sofyantersebut menyiratkan deseksualisasi dari seks itu sendiri. SebagianPSL memandang bahwa melayani hasrat seksual laki-laki yangmenjadi kliennya bukanlah ’seks’. Dari delapan informan yang lain, lima di antaranya mengakubahwa dirinya menjadi biseksual setelah mereka bekerja secaratetap memberikan pelayanan seksual kepada laki-laki. Sementara,tiga lainnya yang mengaku sebagai biseksual mengungkapkan bah-wa kecenderungan untuk berhubungan dengan laki-laki karenamereka memang sebelumnya menyukai perempuan dan laki-laki,dan mereka juga sudah merasakan hubungan sejenis ketika merekamasih di bangku sekolah serta saat mereka sudah bekerja. Dari sini bisa dilihat bahwa identitas seksual seseorang tidaksesederhana yang diperkirakan. Bahkan, pada orang-orang yangbiasa dianggap jelas identitas seksualnya oleh orang-orang disekitarnya pun realitasnya sangat kompleks. Identitas seksual ses-eorang bersifat cair. Pengidentifikasian diri para informan tersebutperlu dipahami bukan sebagai identitas yang tetap dan pasti kar-ena identitas tidak selalu berarti siapa dirimu tetapi juga apa yangkamu lakukan dan dalam konteks sosial apa identitas itu terbentuk(Khan 1998, 195). Dari variabel usia, riwayat seksual dan pengidentifikasiandiri jelas bahwa tidak semua pekerja seks laki-laki yang dalam peker-jaannya lebih banyak melayani laki-laki sesungguhnya mempunyaikecenderungan awal untuk suka dengan laki-laki. Motif ekonomipada kenyataannya memang berperan sebagai faktor yang mendor-ong mereka menjadi pekerja seks. Alasan itu juga terungkap lewatinforman yang memang sejak awal mempunyai kecenderungan un-tuk menyukai laki-laki.Memasuki Dunia Kerja Seks Berdasarkan jawaban semua informan ketika ditanyakan‘kapan pertama kali informan menjajakan seks secara komersial’, ternyataterungkap bahwa mereka sebenarnya menggeluti pekerjaan sebagaipekerja seks relatif baru. Paling lama dilakukan oleh informan Vikto,yaitu mulai tahun 1999, sedangkan lainnya ada yang baru bekerjasetahun bahkan ada yang baru 3 bulan terakhir saat penelitian inidilakukan. Dari hasil wawancara terungkap bahwa hampir seluruh78 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 77. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyainforman sebelumnya mempunyai pekerjaan lain seperti menjadipelaut, administrator, pelayan restoran, penjaga toko atau karyawanperusahaan swasta. Salah seorang informan pendatang yang mengaku berasaldari Solo, Sofyan, mengungkapkan latar belakang pekerjaannyasebelum ia akhirnya terjun menjadi pekerja seks. Sebenarnya saya sudah bekerja sebagai administrasi peter- nakan dan penyuplai tempat-tempat peternakan di daerah Cianjur, tapi karena krisis perusahaan bangkrut, saya jadi tidak bekerja …terus ke Jakarta mengadu nasib…, sekitar bu- lan Maret tiga bulan lalu saya diajak teman untuk kerja kayak gini ya udah keterusan. Ia setiap bulan harus mengirimkan uang kepada keluarganyadi kampung untuk membantu membiayai dua adiknya yang masihbersekolah. Enday, informan lain yang berasal dari Jakarta, yang kecewasetelah tidak bisa lagi meneruskan pekerjaannya di kapal karenatidak ada modal untuk biaya keberangkatan, mengungkapkan,“Sebelum kerja begini saya pernah kerja di kapal, waktu itu sayakenalan sama orang Jepang, dia lama di Thailand ngajakin sayakerja di kapal, ya sudah saya ikut dia, di bagian deck hand terusberhenti… terus masuk sini.” Menurut pengakuan 15 informan, setelah mereka bekerja se-bagai pekerja seks, mereka selalu berkelit jika ditanya oleh kelu-arga dan teman tentang di mana mereka saat ini bekerja. Biasanya,jawaban yang keluar dari mulut mereka adalah menjadi pegawaidi perusahaan swasta, pelayan di restoran, toko, diskotik atau café.Meski begitu, tidak sedikit mereka yang bertanya menaruh curigadengan penampilan yang diperlihatkan oleh para pekerja seks terse-but. Dengan penampilan fisik yang bersih dan pakaian bermerekmembuat orang lain ingin tahu pekerjaan apa yang digeluti para in-forman. Bagi para informan, keadaan itu sebenarnya dapat diatasihanya dengan jawaban bahwa tuntutan pekerjaan mengharuskanmereka tampil trendi dan modis karena setiap harinya mereka har-us berhadapan dengan tamu atau konsumen di restoran, café ataudiskotik. Sebenarnya, tidak terbersit dalam benak mereka untuk beker-ja sebagai pekerja seks, tetapi karena kebutuhan hidup yang harus Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 79
  • 78. Irwan M. Hidayanadipenuhi, membuat mereka tidak punya pilihan lain selain terjunke dunia seks. Sebagaimana pengakuan Wisnu—salah seorang in-forman yang sudah 15 tahun berada di Jakarta—dari berbagai pro-fesi yang ia geluti sampai akhirnya ia memilih menjadi pekerja seks,pilihan itu lebih dikarenakan penghasilan yang lebih besar diband-ing pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang ia geluti. Tadinya sih nggak niat kerja kayak gini, cuma kan karena fak- tor kebutuhan. Jadi karena kita punya kebutuhan hidupin keluarga gitu, adek-adek. Sedangkan kita kerja waktu itu di bank yang penghasilannya minim banget, gitu pas buat ma- kan doang. Jadi banyak keluhan keluarga. Alasan yang sama juga dikemukakan oleh para informanlain, bahwa penghasilan menjadi pekerja seks lebih dari cukup un-tuk menghidupi kebutuhan diri sendiri serta mengirimkan sedikituang kepada keluarga yang ada di kampung. Awal mula mereka terjun ke dunia ini menurut para infor-man, selain mengetahui dari relasi atau teman, juga didapat darimembaca iklan lowongan kerja dalam surat kabar Pos Kota yangisinya menyatakan membutuhkan tenaga pria. Wisnu—yang per-tama kali masuk kerja di panti pijat tahun 2001 langsung disodoritamu laki-laki–mengemukakan, Setelah membaca lowongan di koran saya langsung telefon, apa di sini butuh tenaga pria? Betul katanya. Terus syaratnya gimana? Yang satu, penampilannya tidak terlalu kurus. Terus gajinya berapa? Di sini tidak ada gaji yang ada hanya komisi. Penghasilannya lumayan loh bisa sampai 4-5 juta katanya. Wah, lumayan juga dari pada kerja sendiri yang biasanya cuma 800 ribu. Para pekerja seks juga mengakui ketika pertama kali merekabekerja menghadapi konsumen biasanya terlebih dahulu belajardari teman-teman seprofesi yang lebih berpengalaman.Antara Klien, Pelanggan, dan Pasangan Tetap Seluruh partisipan dalam penelitian ini mengakui merekalebih banyak melayani laki-laki dari pada perempuan. Sebagianbesar pria yang mereka layani bekerja di lingkungan perkantoran80 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 79. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyasebagai karyawan perusahaan swasta, karyawan bank, pedagang,pengusaha atau investor, turis, dan kalangan selebritis. Sebagiankecil informan menyebutkan bahwa mereka pernah juga melayanimahasiswa dan aparat seperti polisi, kopassus, dan petugas keaman-an swasta. Dari segi etnis, laki-laki keturunan Cina yang tinggal diJakarta lebih banyak menggunakan jasa pekerja seks laki-laki un-tuk kebutuhan seks mereka daripada laki-laki Indonesia lainnya.Usia klien laki-laki umumnya berkisar antara 20 sampai 40 tahunke atas. Meski lebih banyak melayani laki-laki, ada juga pekerja seksyang melayani perempuan dan waria. Mereka bisa tante girang, iburumah tangga, pengusaha atau pekerja seks juga. Rata-rata umurmereka juga berkisar antara 20 sampai 30 tahunan ke atas. Noermengungkapkan pengalamannya, “… tapi ya kadang-kadangada juga gitu yang dateng banci gitu… dandan, pake wiglah, gituteteknya disuntiklah….” Noer juga mengungkapkan bahwa klien perempuan biasanyatidak datang langsung ke panti pijat, tetapi memesan lewat tele-pon untuk kemudian bertemu di suatu tempat, biasanya hotel atauapartemen. “… dia telfon, di hotel ini kamar ini, kan gitu kan dis-ebutin… kita dateng ke kamar dia. Nah setelah itu ya … kalaupuntamunya baik, selesai main kita diajak jalan, ada yang begitu. Ajakmakan keluar gitu,” jelasnya. Beberapa PSL juga diketahui memiliki istri, pacar perempuan,klien laki-laki dan klien perempuan sebagai pasangan seksual reg-uler. Sebagian besar pekerja seks yang mempunyai pacar perem-puan mengaku telah melakukan hubungan seks dengan sang pac-ar. Pacar perempuan mereka—yang sebagian besar bekerja sebagaikaryawan swasta atau tidak bekerja—umumnya tidak mengetahuiprofesi informan sebagai pekerja seks. Baik klien biasa maupun klien reguler laki-laki umumnyamemperoleh informasi tentang pekerja seks lewat relasi atau mem-baca iklan surat kabar. Bagi para turis dan kalangan selebritis yangmenggunakan jasa para pekerja seks di panti pijat, pada umum-nya mereka mengontak lewat telefon untuk kemudian melakukanpertemuan di hotel, apartemen atau motel yang ada di Jakarta dankawasan Puncak. Faktor-faktor yang menyebabkan klien menjadi pelangganmenurut para informan karena berbagai alasan: Selain enak un-tuk diajak bertukar pikiran atau sharing, yang lebih utama adalah Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 81
  • 80. Irwan M. Hidayanakarena pelayanan yang dilakukan oleh para pekerja seks tersebutmemuaskan sehingga klien merasa betah dengan satu pekerja sekssaja. Di pihak PSL sendiri, salah seorang informan mengaku ter-motivasi untuk memiliki pasangan tetap karena ingin mendapat-kan pekerjaan lain yang layak yang mungkin akan diperoleh daripasangan tetapnya. Selain itu, beberapa informan mengungkapkanbahwa uang menjadi faktor utama untuk tetap menjalin hubungandengan pelanggannya. Ada beberapa informan yang selalu diberijatah uang setiap bulan oleh pelanggannya sebagai upaya untuktetap menjaga hubungan yang sudah terjalin. Hal itu terjadi umumnya dengan memenuhi syarat yang dim-inta langganannya, yaitu tidak memberikan pelayanan seks kepadaorang lain. Contoh lain dalam hal motivasi untuk memiliki pasan-gan tetap adalah kasus Cahyo. Dia mengemukakan bahwa selamaini ia mempunyai motivasi berbeda untuk terus menjalin hubungandengan 2 orang perempuan pelanggannya. Dengan Tante Ivone iamengaku ingin mempunyai keturunan yang bagus karena sangtante mempunyai tubuh yang indah dan cantik. Sedangkan den-gan Dewi ia hanya ingin selalu awet muda karena pasangannya ituusianya lebih muda dari dirinya—jadi terkait dengan mitos seksu-al. Kadangkala, pekerja seks harus melayani sekaligus pasangansuami isteri. Jika itu terjadi biasanya dilakukan di rumah pasan-gan suami istri tersebut atau di hotel. Wisnu bercerita bahwa di-rinya pernah dihubungi oleh seorang perempuan untuk datang kerumahnya. Ternyata ketika masuk ke dalam kamar di sana sudahada suaminya yang sudah bersiap untuk menyaksikan adegan seksantara dirinya dengan sang perempuan yang menjadi istrinya. Se-lama hubungan seks berlangsung, sang suami hanya menonton sajasambil mengocok-ngocok kemaluannya. Menurut informan, sangsuami sebenarnya juga sakit karena baru terangsang secara seksualjika melihat istrinya digauli oleh laki-laki lain.Praktek Seksual dan Kondom Kesehatan seksual adalah salah satu isu penting dalam in-dustri seks khususnya terkait dengan penularan penyakit seksual.Para pekerja seks sebenarnya mengetahui bahwa kondom merupa-kan alat yang dapat mencegah terinfeksinya HIV dan PMS, tetapidalam prakteknya justru sebagian besar informan tidak mengguna-82 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 81. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyakan kondom ketika mereka berhubungan seks dengan klien. Ala-sannya bisa beraneka ragam dari tidak tersedianya kondom sampaikarena permintaan klien dengan iming-iming bayaran yang meng-giurkan yang membuat mereka bersedia untuk tidak mengenakankondom. Kesenjangan antara pengetahuan dan praktek seksual ter-jadi karena seksualitas bersifat kontekstual dan multidimensionalsehingga hubungan antara pengetahuan dan praktek menjadi tidaklinear. Ada empat informan yaitu Sandy, Yosa, Noer, dan Caesaryang mengaku selalu menggunakan kondom ketika mereka harusberhubungan seks penetratif dengan klien. Sandy mengaku kalaudirinya melakukan mandi kucing4, saling ngesong5 dan hanya me-nyemburit. Untuk pelayanan oral ia memang tidak menggunakankondom tetapi ia selalu melihat kondisi fisik klien yang akan dio-ral apakah penisnya bersih, tidak basah dan berbau. Perihal saatmelakukan ngesong tidak menggunakan kondom Sandy mengung-kapkan bahwa hal itu terjadi karena kemampuan daya belinya yangkurang. Menurut pengakuannya ketika dulu ia di Surabaya, bayaranyang ia peroleh lebih dari cukup sehingga ia mampu membeli ban-yak kondom. Dengan dua orang pasangan tetap perempuannya iajuga mengaku selalu menggunakan kondom ketika berhubunganseks. Jika harus melakukan seks anal kepada klien, Sandy mengakuselalu menggunakan kondom. Sedangkan untuk disemburit saat iniia tidak menginginkannya karena menurut pengalamannya terasasakit yang luar biasa. Informan lain, Yosa juga mengaku kalau dirinya memilih-milih klien untuk dioral atau mengoral. Kalau penis klien terlalubesar, ia cenderung untuk tidak mengoral karena mulut akan terasacapek dan bisa mengalami kejang otot (cramp). Untuk menyemburitdan disemburit, Yosa akan melakukan jika mood-nya sedang bagus,dan itu dilakukan dengan selalu menggunakan kondom termasukterhadap laki-laki pasangan tetapnya. Untuk disemburit informanjuga melakukannya setelah melihat ukuran alat vital konsumennya.Ia tidak mau merasakan sakit yang luar biasa jika harus disemburitdengan penis yang besar.4 Mandi kucing adalah istilah yang biasa digunakan di komunitas gay dan war-ia, yang artinya aktivitas sesksual dengan cara menjilat-jilat bagian-bagian tubuh.5 Ngesong adalah istilah yang biasa digunakan di komunitas gay dan wariayang artinya menghisap. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 83
  • 82. Irwan M. Hidayana Jenis pelayanan seksual yang diberikan kepada klien tidak se-lalu sesuai dengan keinginan klien. Mengamati tampilan fisik klienselalu dilakukan untuk memastikan bahwa kliennya tidak beresikomenularkan penyakit. Kepercayaan akan tampilan fisik yang ’ber-sih’ berarti ’sehat’ cukup menonjol di kalangan pekerja seks. Helmi,misalnya, menyatakan apabila tamunya kurang berkenan baginyamaka ia berusaha untuk tidak melakukan nyepong6 meski pun tidakselalu berhasil. Hal ini bisa dilihat pada pernyataan tiga informan, Helmi, Sofyan, dan Inung. “Pilih-pilih saya… nggak deng… tapi ya kayak gitu… kalo nggak sunat saya nggak suka….Kebanyakan tamu Chinese… jadi nggak sunat… tapi ya… karena cari uang jadi ya…ter- paksa.” (Helmi). “Ya kalo untuk customer yang nggak sunat ya… saya tahu itu beresiko untuk terkena penyakit, ya saya melakukan itu pake kondom. Ada kan kondom yang menyajikan rasa ini, rasa itu, saya siapkan kondom itu.…” (Sofyan). “Saya kalo oral milih-milih orang gitu, saya liat dulu orang- nya, bersih apa nggak gitu. Kalo dia keliatan bersih gitu, kay- aknya gimana gitu, kan orangnya bersih bangetlah pokoknya nggak kacau banget kalo diliat ya, nggak slengean gitu, ya mau aja saya, gitu.” (Inung). Lain halnya dengan Noer, ia tidak mau disemburit dan hanyamau menyemburit dan mengoral jika melayani klien. Itu pun ialakukan dengan selalu menggunakan kondom. Tetapi jika dengansang istri, Noer mengaku tidak menggunakan kondom karena iatahu persis sang istri bersih dan sehat. Sedangkan Caesar mengung-kapkan bahwa dirinya selalu menggunakan kondom baik itu ketikaoral, menyemburit dan disemburit dengan siapa saja termasuk den-gan laki-laki pasangan tetapnya. Pelayanan oral dilakukan denganmelihat kondisi fisik klien terlebih dahulu. Begitu juga ketika maudisemburit, apabila ukuran penis klien terlalu besar ia cenderung6 Nyepong adalah istilah yang biasa digunakan di komunitas gay dan wariayang artinya menghisap. Istilah nyepong memiliki arti yang sama dengan ngesong.84 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 83. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyamenolak. Menolak keinginan klien memang tidak mudah, apalagi bagiRoger yang relatif masih baru menjadi pekerja seks. Walaupun se-sungguhnya ia tidak mau melakukan seks anal, tetapi masih sukarbaginya untuk menolak secara tegas kepada kliennya. Anal seks…menghindari itu…cuman kadang sih dipaksa gitu. Dirayu-rayu ama tamunya. Ya udah, pasrah aja deh… hahaha… tapi lewat belakang kalo saya mungkin belum. Tapi kalo saya yang masukin gitu ya kadang-kadang.. tanpa kon- dom, karena saya nggak pernah.. ya hampir nggak pernah sedia kondom. Karena saya nggak … emang niat saya nggak mau main gitu-gituan…. ….kalo masukin saya sebenernya nggak mau… Cuma dirayu- rayu gitu. Yaa aku pasrah aja. Aku telentang aja, dia dudukin punya saya…ya udah, jadi masuk…. Sebenernya saya nggak mau begitu… Cuma ya dirayu… yaa profesi saya begini ya udahlah, asal dia bayar lebih ya udahlah.… Secara umum, para pekerja seks memberikan pelayanan yangsama terhadap kliennya yaitu: mengoral, disemburit, dan menyem-burit. Ketika mengoral klien, sebagian besar informan tidak meng-gunakan kondom. Tidak semua informan bersedia disemburitoleh klien dengan alasan selain merasa sakit juga lebih berpotensiterkena penyakit. Seandainya pun mau disemburit hal itu biasanyadilakukan karena pertimbangan bayaran yang diterima. Bila maudisemburit, pekerja seks akan melihat keadaan alat vital klien. Jikabesar, tidak disunat, bau dan berlendir, umumnya informan cend-erung menolak, terkecuali jika klien bersedia memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti menggunakan kondom danmemberikan tarif yang memadai. Ada beberapa hal yang juga perludikemukakan di sini, fisik klien yang enak dipandang mata seperticakap dan tubuh atletis seringkali menjadi faktor yang menentukanbagi para pekerja seks untuk menyemburit atau disemburit, apalagijika bayarannya sesuai. Praktek seks yang aman memang dipengaruhi oleh banyakfaktor, apalagi terhadap pelanggan-pelanggan setia atau pasangantetap. Terkadang jika masing-masing sudah saling mengenal, mer-eka akan bermain sesuai mood apakah mengoral, disemburit ataumenyemburit. Menggunakan kondom atau tidak, hal itu umum- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 85
  • 84. Irwan M. Hidayananya juga tergantung pada mood yang ada. Beberapa informan jugamengakui, ketika harus berhadapan dengan klien perempuan mer-eka cenderung untuk tidak menggunakan kondom. Hal ini terjadipada pekerja seks yang bisa merasakan kenikmatan (pleasure) jikaharus berhubungan seks dengan perempuan. Ada beberapa pekerja seks mengemukakan kalau dirinyatidak ingin lebih dari tiga kali dalam sehari melayani klien untukmenjaga kondisi fisiknya. Kalau pun lebih dari tiga kali, menurutinforman ia berusaha untuk tidak sampai mengeluarkan spermaketika berhubungan seks. Guna menjaga vitalitas dan stamina be-berapa informan mengaku menkonsumsi vitamin setiap harinya.Sebagai contoh, Helmi mengkonsumsi Hemaviton setiap hari. Bilamelayani perempuan maka ia minum Viagra atau Irex. Ia mengakuibahwa melayani klien perempuan lebih disukainya karena lebihnikmat.Klien/Pasangan Tetap dari Kucing Fina (20 tahun)–-berasal dari Purwokerto dan baru setahuntinggal di Jakarta—tahu bahwa pasangannya masih bekerja sebagaipemijat di sebuah panti pijat di daerah Kemayoran, Jakarta Utara.Ia bercerita tentang hubungan mereka yang didasarkan atas cintasatu sama lain, yang diawali sejak pertama kali mereka bertemudi rumahnya. Fina mengaku bahwa pacarnya sekarang ini meru-pakan satu-satunya pacar yang ia miliki, dan dengan pacarnyalahia pertama kali hubungan seks. Keintiman di antara mereka yangdiakuinya didasari atas perasaan cinta tampaknya kurang didasariatas keterbukaan dari pasangannya terhadap Fina. Hal ini tampak dari kepercayaan informan bahwa pacarnyatidak pernah (lagi) melayani seks untuk tamu di panti pijat. “Katadia sih enggak, tapi ya saya gak tau. Kalau pengakuan dia duludia suka melakukan seks dengan orang lain gitu. Tapi semenjak ke-temu sama saya dia gak pernah lagi, kecuali sama saya” ungkapFina. Pernyataan Fina ini bertolak belakang dengan informasi yangdiberikan pacarnya yang mengaku bahwa sampai sekarang punmasih sering menerima tamu, karena itu memang sudah menjadipekerjaannya. Informan lain, Ressy (38 tahun) yang berasal dari Semarang,mengatakan pasangan tetap seksualnya adalah seorang biseks yangbekerja di sebuah panti pijat. Ia bercerita hubungan dengan pasan-gannya yang berusia 13 tahun lebih muda, tidak pernah didasari86 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 85. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyasuka sama suka tetapi lebih karena informan merasa kasihan daningin menolongnya terlepas dari permasalahan masa lalunya ke-tika itu. Ressy bercerita karena hubungan mereka tidak atas dasarcinta, maka ia sering menghindari melakukan hubungan seks den-gan pasangannya, ditambah lagi ia pernah melihat pasangannya inimenderita PMS, Saya banyak menghindar karena kalau ke sini (dia) sakit. Karena dia bekerja di tempat pengobatan begitu panti pijat dan sering melakukan seksual itulah yang paling sensitif tentang penyakit. Karena dia itu hanya seks dan seks, dia pernah kena penyakit seks. Gak tau dia kena sifilis atau GO jenis penyakitnya. Setelah ia berpisah dengan mantan suaminya di Semarang,Ressy mengaku tidak memiliki pasangan seksual lainnya karenaia merasa menjadi “dingin” terhadap laki-laki. Berbeda denganpasangannya sekarang yang lebih didasari oleh rasa kasihan, den-gan suaminya dulu ia memiliki motivasi untuk kepuasan seksualdan mendapatkan keturunan. Billy (20 tahun)—yang mengaku dirinya seorang gay—memi-liki pacar laki-laki yang sudah bekerja di perusahaan swasta. Iabertemu pertama kali dengan pacarnya di Atrium Senen sepulanginforman dari berenang. Hubungan mereka sudah terjalin selama1 tahun 6 bulan. Billy mengungkapkan bahwa alasan di belakanghubungannya itu adalah karena kedewasaan pasangannya, seh-ingga ia merasa aman dan terlindungi. “Pengen aja, kayaknya nge-mong, kayaknya gue paling kecil dan dia lebih dewasa, jadi guesering sharing cerita apalah...,” tegasnya. Di samping pacarnya, Billy mengaku masih memiliki pasan-gan seks lainnya—sebut saja Doni—yaitu tetangga yang kost didekat rumahnya. Motivasi hubungannya dengan Doni adalah kar-ena keperkasaan Doni dalam urusan seks. Hubungan seksual diantara mereka sering dilakukan di rumah Billy. Doni jauh lebih tua,25 tahun darinya. Billy memang selalu mencari pasangan seks yangjauh lebih tua darinya. Ia juga mengakui pasangan seks lainnya, se-orang gay yang beretnis Jawa yang tinggal bersama pasangan laki-lakinya dan bekerja sebagai montir. Aries—pria asal Medan yang telah 15 tahun di Jakarta—sudah menjalin hubungan selama 7 tahun dengan seorang berke-bangsaan Belanda yang tinggal di Jakarta. Informan ini mengung- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 87
  • 86. Irwan M. Hidayanakapkan hubungan mereka yang didasari atas kenyamanan karenapasangannya sering melindunginya, dan sudah terikat atas dasarhukum yang mereka lakukan di negara Belanda. Kalo fisik iya sering ngelindungin. Kalo ekonomi, gue setelah tiga tahun, empat tahun sempet married kan. Gak married sih, kita saling kontrak di notaris, bahwa gue pasangan tetap- nya, dia pasangan tetap gue. Tapi nggak di sini. Gue waktu itu ke Belanda, soalnya di sini belon boleh kan. Perbedaan usia 20 tahun dengan pasangannya membuat Ar-ies mencari penyaluran seks lain dengan mencari kucing. “Ohh...karena pasangan seks gue beda umurnye ama gue 20 tahun, jadifrekwensi seks kita sedikit jarang. Bukan jarang sih ya, kadang-ka-dang dia capek. Pas gue pengen dia capek, penyelesaiannya ya cari-cari kucing,” jelasnya. Tempat favoritnya adalah sebuah panti pijatdi jalan Radio Dalam, dan biasanya ia bertemu dan berhubunganseks dengan kucing di rumahnya. Berbeda dengan Aries, Emon tidak memiliki pacar dan pe-menuhan kebutuhan seksualnya langsung di panti-panti pijat di Ja-karta. Ia mengaku menggunakan jasa PSL di panti pijat itu semenjakia mempunyai penghasilan sendiri. Alasan ia berhubungan denganPSL adalah mencari variasi seks saja, karena ia jenuh berhubunganseks dengan PSL yang berada di jalanan. Saat ini, Emon mengata-kan ia tidak memiliki pasangan tetap dalam arti yang mengikatnya.Menurutnya, tidak pernah seorang gay memiliki pasangan tetapkarena mereka umumnya cepat bosan dan hubungan mereka tidakbisa lebih dari sebulan. Ia mengaku hubungan seks dengan bergan-ti-ganti pasangan sekedar untuk memenuhi selera seksualnya saja.Oleh karena itu, Emon hanya akan berhubungan seks dengan mer-eka yang memiliki penis besar dan berasal kalangan atas. Ia punmengaku sering mendapatkan pasangan seksual dari kalangan ar-tis. Motivasi berhubungan dengan kalangan ini adalah untuk men-cari imbalan uang selain kenikmatan seksual. Informan lain adalah Hariyadi. Saat ini, dia mengaku memi-liki pasangan tetap, seorang homoseksual, yang bekerja sebagaiPSL di panti pijat. Motivasi ia melakukan hubungan seks denganPSL adalah untuk kepuasan seks yang itu tidak bisa diperoleh daripacarnya. Ketika awal-awal ia “jajan” di panti pijat, ia mengatakansalah satu motivasinya adalah belajar mengenai teknik bercinta,88 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 87. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyatapi saat ini hal itu lebih untuk mencari kenikmatan. Kisah Banudoyo memberi gambaran lain tentang hubungancinta sesama laki-laki. Dia menceritakan bahwa pasangan tetap yangpertama adalah seorang laki-laki kaya dari Medan. Pertemuan per-tama mereka terjadi di sebuah diskotik di Medan, dan antara infor-man dan pasangannya berselisih umur 5 tahun. Mereka berhubun-gan ketika informan masih duduk di bangku SMU, dan hubunganitu mereka bangun atas dasar cinta selama dua tahun sebelumakhirnya informan pergi ke Bali. Pasangan tetap yang kedua ada-lah seorang laki-laki yang yang ketika hubungan di antara merekadimulai, si laki-laki itu masih berstatus sebagai pelajar. Hubunganmereka berlangsung selama 4 tahun yang berakhir tahun 2001 lalu.Ia menceritakan kalau pasangan seksnya ini memiliki sifat yanggampang berhubungan seks dengan siapa saja, Maksudnya dia bukan kucing karena jaman dulu itu belum ada istilah kucing. Cuman dia cowok yang boleh dibilang berondong masih di bawah umur gue, tapi ngewe kiri-ka- nan....ngewe kiri kanan terlalu gampang sekali. Boleh dibil- ang siapa yang ngajak dia ngewe ya dia ngewe. Karena dia orangnya ganteng sekali tetapi dia terlalu murah. Banudoyo mengaku menggunakan jasa seks kucing dipanti pijat, karena merasa kesepian. Ia melakukan hubungan seksbiasanya di hotel, bukan di panti pijat. Secara jujur, informan inimengungkapkan kalau menyukai laki-laki yang memiliki ukuranalat vital yang besar sehingga ia sangat suka berhubungan denganorang Arab dan orang bule ketika berada di Bali. Informan ini jugasangat gampang berhubungan seks di mana saja, seperti di WCumum Plasa Senayan dan tempat-tempat lainnya.”..Hotel Ibis, Pen-insula terakhir main di Twin Park Royale, Ambhara ehmm Amb-hara empat kali, Peninsula sering banget,” rincinya. Sementara, Bambang mengaku memiliki pasangan seksualtetap seorang bapak berusia 50 tahun yang dikenalnya di AtriumSenen. Pasangannya ini sudah beristeri dan memiliki empat oranganak. Anaknya yang paling besar sudah kuliah dan yang palingkecil baru duduk di bangku SMP kelas 2, sedangkan istrinya bek-erja di salah satu instansi pemerintah. Alasan mereka berhubunganhingga sekarang menurut informan adalah hanya untuk membuatorang lain senang. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 89
  • 88. Irwan M. Hidayana Aku paling benci kalo tubuh aku ditawar dengan harga uang.. aku hanya ingin menyenangkan orang saja. Kenapa sih aku nggak bisa memberikan kebahagiaan ama orang lain, tapi jangan diembel-embelin uang..tapi ujung-ujungnya tanpa sepengetahuan aku..dia sering transferin ke aku.” Dari paparan di atas terlihat bahwa klien/pasangan laki-laki dari kucing cenderung memiliki lebih dari satu pasangan sek-sual. Kucing lebih sering dianggap sebagai tempat mencari variasi,pengalaman, atau kepuasan seksual atau mengatasi rasa kesepian.Pasangan seksual perempuan—Fina dan Ressy—tampaknya tidakmemiliki pasangan seksual lainnya dan membangun relasi denganPSL atas dasar ikatan emosional. Hal ini juga menunjukkan bahwagender juga menjadi salah satu faktor yang menentukan seseorangdalam menjalin sebuah hubungan.Seks itu Kenikmatan Bentuk hubungan seks yang banyak dilakukan oleh pasangantetap dan klien PSL adalah oral, anal, vaginal, dan masturbasi. Bagiinforman yang mengaku dirinya seorang gay, biasanya seks analdan oral sebagai bentuk yang paling sering mereka lakukan. Berbe-da dengan pasangan yang berjenis kelamin perempuan, dua oranginforman mengatakan hubungan seks yang biasa dilakukan adalahseks vaginal dan oral. Sedangkan seks anal tidak disukai oleh infor-man perempuan dan satu informan laki-laki yang mengidentifikasidiri sebagai heteroseksual. Billy mengaku lebih menyukai dioral ketimbang ia mengo-ral pasangannya, karena merasa lebih nikmat jika orang lain yangmelakukan kepadanya. Ia menjelaskan selain kepada kedua pasan-gan tetapnya ia enggan mengoral pasangan seksual lainnya. Infor-man menceritakan seks oral hanya dilakukannya ketika situasi sepidan tenang serta ia berada dalam kondisi sehat. Ketidaksukaanmelakukan seks oral terhadap pasangannya juga diakui oleh Cecepdengan alasan sering merasa mual. Tetapi toh ia tetap melakukankarena pasangan tetapnya menyukai seks oral. Emon mengungkapkan bila berhubungan dengan PSL diriny-alah yang mengoral pasangannya yang kemudian dilanjutkan den-gan menyemburit PSL itu. informan mengaku suka melakukan oralhanya karena untuk memenuhi fantasi seksualnya untuk mencapai90 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 89. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyakepuasan saja, berikut katanya, Eee...itu semuanya hanya untuk memenuhi fantasi seksual saya. Jadi dalam pengertian orang-orang mendapatkan kepua- san seks itu bukan dalam pengertian orgasme. Bukan dalam pengertian dia ngejrot, pejunya keluar, terus dia mengalami kepuasan. Ada yang seperti itu juga, tapi kalau saya nggak. Saya lebih banyak fantasi seks, sexual fantasy. Jadi kepuasan saya pada saat saya mengoral itu. Beberapa informan, Juki dan Himawan, menyukai seks oralsecara bergantian atau dikenal sebagai posisi 69. Himawan jugamenjelaskan kalau oral seks tidak pernah dilakukannya dengankucing, seperti halnya Hariyadi yang hanya melakukan seks oraldengan pasangan pribadinya, tidak dengan orang lain. Pilihan untuk mengoral atau dioral tampak ditentukan olehbeberapa faktor yang saling berkaitan seperti identitas seksual,hubungan antarpribadi, hasrat akan kenikmatan seksual serta situ-asi dan kondisi ketika hubungan seks berlangsung. Sebagai contoh,Chandra mengatakan dialah yang lebih sering mengoral pasangan-nya, karena dia yang “membeli” dan juga lebih karena dia merasamenjadi perempuannya. Atau Banudoyo yang hanya bersedia men-goral jika pasangannya itu kaya dan ganteng. Ia pasti akan mengo-ral semua orang asing dan Arab karena mereka memiliki ukuranpenis yang besar sehingga memberikan kenikmatan baginya. Hubungan seks vaginal dilakukan oleh 3 pasangan tetap PSL,yang dua di antaranya adalah perempuan. Fina mengaku palingsuka melakukan seks vaginal karena ia mengaku lebih nikmat. Da-lam situasi tertentu, Ressy dan Billy juga melakukan masturbasi.Ressy melakukannya sendiri, sedangkan Billy biasanya melakukandengan pasangannya. Keputusan melakukan hubungan seks anal juga ditentukanoleh beberapa faktor. Januar mengaku ia selalu berperan pasif da-lam melakukan seks anal sehingga ia tidak pernah menyemburitkarena ia sulit untuk ereksi (konak). Hal itu mungkin terkait dengansifat kewanitaannya yang lebih dominan dalam dirinya. Hal yangsama juga diungkapkan oleh Banudoyo—yang selalu bergairah bilamelihat orang asing dan orang Arab—yang lebih sering berperansebagai “perempuan” dalam relasi seksual. Selain itu Januar men-gungkapkan, “Ya… kurang suka aja, kurang bergairah (jika me- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 91
  • 90. Irwan M. Hidayananyemburit). Enakan disemburit kayaknya bisa lihat ekspresi mu-kanya gitu”. Sementara, Cecep selalu mencari kucing yang agresifkarena ia lebih merasa sebagai perempuan. Apalagi ia sudah mem-bayar kucing, maka ia tidak harus aktif menyemburit dalam ber-hubungan. Sikap pasifnya ini juga dilakukan terhadap pasangantetapnya. Menempong pasangan seksualnya lebih disukai oleh Emondan Juki karena pengalaman ditempong menimbulkan rasa sakitbagi mereka. Oleh karena itu, ketika mencari kucing mereka meng-inginkan kucing yang bersedia ditempong. Sekalipun lebih suka me-nyemburit pasangan seksualnya, Hariyadi sangat memperhatikankebersihan diri pasangannya. Dia tidak mau berhubungan seksapabila kucing yang dipilihnya habis melayani orang lain. Kriterialain yang diungkapkan oleh Chandra, Agung dan Himawan adalahapabila pasangan seksualnya memenuhi selera mereka—sepertiganteng dan bersih—barulah mereka mau menempong. SementaraAndre dan Bambang melakukan seks anal dengan pasangannya se-cara bergantian, yaitu menyemburit dan disemburit.Dari Minyak Goreng Sampai Kondom Tidak semua klien dan pasangan tetap PSL yang diwawan-carai menggunakan kondom ketika berhubungan seksual untukmelindungi diri mereka dari infeksi penyakit. Perilaku penggunaankondom atau tidak oleh para informan tidak selalu berkaitan den-gan pengetahuan tentang manfaat kondom dan resiko yang bisamereka dapatkan bila tidak menggunakan, tetapi dengan berbagaimacam alasan yang akan dipaparkan berikut ini. Dalam melakukan hubungan seks oral dan vaginal, Fina men-gaku tidak pernah menggunakan kondom, karena dia dan pasan-gannya lebih menyukai yang alami demi alasan kenikmatan. Selainitu, ia mengaku air mani pasangan seksualnya dikeluarkan di luarvagina (coitus interruptus). Fina menuturkan lebih lanjut, Ya enggak kenapa-kenapa (tidak menggunakan kondom). Takutnya pakai gitu-gitu malah ada mengakibatkan penya- kit gitu, walaupun gak ini gitu yah...katanya kalau itu bisa mencegah gitu yah, misalnya air mani nggak keluar, tapi ka- lau bagi saya sih biasa saja. Pernah suatu saat pasangan tetapnya membawa dan menggunakan92 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 91. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyakondom tanpa sepengetahuannya, namun Fina tidak menyukai tindakanpasangannya tersebut. Setelah kejadian tersebut, mereka tidak pernah lagimenggunakannya. Emon—yang bergelar MBA dari luar negeri—secara terbukamengatakan tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksdengan siapa pun. Selama ini banyak kucing yang pernah berhubungandengannya tidak menggunakan kondom dan ia tidak pernahmenawarkan pasangannya untuk menggunakan kondom. Informancukup konsisten mengatakan bahwa ia tidak pernah takut denganpenyakit AIDS karena itu untuk semua kategori pasangan ia tidakpernah menggunakan dan tidak mau pasangannya menggunakankondom. Keengganan menggunakan kondom juga terjadi pada Teguh.Sekalipun terdapat kondom dengan beragam rasa, Teguh mengatakanrasanya tetap aneh sehingga ia tidak menyukainya bila melakukan seksoral dengan kondom. Di samping itu, pasangan tetapnya juga tidakmenginginkan penggunaan kondom. Tatkala berhubungan seks dengankucing, ia jarang melakukan seks anal sehingga tidak memerlukankondom. Tambahan pula, ia merasa tahu lingkungan pergaulannya.Pelicin yang biasa dipakai Teguh ketika sedang melakukan hubunganseks adalah Aquagel, baby oil dan Vaseline. Teguh selalu menggunakanpelicin karena berhubungan seks anal itu sulit untuk lancar disebabkananus tidak mengeluarkan cairan sendiri. Banudoyo mengemukakan tidak pernah menggunakan kon-dom jika sedang “main” dengan orang. Ia menjelaskan bahwa kucingyang melakukan penetrasi kepadanya tidak pernah menggunakankondom dan mereka juga tidak pernah menawarkan kepadanya.Keputusan tidak memakai kondom dalam hubungan seksual lebihbanyak ditentukan oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia selalumemerlukan pelicin dalam melakukan seks anal. Pilihan untuk tidak pakai kondom saat oral seks—karena baukaretnya tidak menyenangkan—tetapi selalu pakai kondom saatanal seks dilakukan oleh Billy terhadap pasangan tetapnya, Benny,dan pasangan seksual lainnya. Sekalipun ia mengenal baik pasanganseksualnya, tetapi selalu ada ketakutan akan terinfeksi HIV sehinggakondom adalah keharusan baginya. Inisiatif penggunaan kondomselalu datang dari dirinya. Apa yang dilakukan Billy, juga berlakubagi Ressy dengan alasan pencegahan dan takut terkena PMS.Apalagi, mengingat ia pernah mengetahui pasangan tetapnya pernahmenderita PMS yang tidak ia ketahui secara pasti apa penyakitnya. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 93
  • 92. Irwan M. Hidayana Masalah kualitas kondom produksi dalam negeri menjadialasan bagi Chandra untuk tidak menggunakannya saat seks oral.Baginya kondom buatan lokal kecil dan kasar sehingga malahmenyebabkan sakit, tidak seperti buatan Amerika yang enak rasanya,tipis dan longgar. Meskipun demikian, Chandra menggunakankondom bila berhubungan seks bukan dengan pacarnya walaupun tidak selalu. Dengan PSL, apabila secara fisik terlihat bersih, iatidak akan menggunakan kondom. Ia selalu menggunakan pelicinketika menggunakan kondom untuk menghindari lecet karena kulitsensitif. Jenis pelicin yang dipakai adalah minyak goreng (Filma) danhand body. Lebih jauh Chandra mengungkapkan, “Kadang-kadangjuga pakai minyak yang licin. Minyak Filma itu kan lentur, pakaihand body...kan keringnya seketika doang..ya cepet keringnya.Nanti malah lecet kan, kalau pakai minyak kan dia lentur. Jadisediakan aja minyak.” Bambang mempunyai perilaku seksual yang agak berbedakarena ia selalu menggunakan kondom ketika dioral dan akanmenolak jika pasangannya tidak mau menggunakannya. Seba-liknya, dalam seks anal, Bambang kadang-kadang saja menggu-nakan kondom bergantung pada penampilan fisik pasangannya—khususnya bila PSL—dan negosiasi di antara mereka, dan biasanyahanya menggunakan pelicin. Adanya hubungan yang melibatkan emosi dan trust, seringkalimempengaruhi pilihan untuk menggunakan kondom atau tidak.Seperti Agung yang tidak pernah pakai kondom dalam seks analdengan pacarnya, tetapi selalu menggunakannya bila denganorang lain. Sekali pun ia kurang menyukai kondom namun untukmenghindari lecet pada penis maka ia menggunakannya. Demikianjuga dengan Himawan yang mempercayai pasangan tetapnya tidakpernah selingkuh karena mereka sudah menjalin hubungan emosionalcukup lama. Kondom baru digunakannya ketika berhubungan seksoral dan anal dengan orang lain. Mengingat beberapa pasangan seksualnya adalah perem-puan, maka Januar sering tidak menggunakan kondom denganalasan lebih nikmat dan langsung. Oleh karena vagina secara ala-miah mengeluarkan cairan sehingga tidak diperlukan pelicin saathubungan seks dilakukan. Kalaupun sesekali Januar mengguna-kan kondom, maka keputusan itu semata-mata berkaitan dengankekuatirannya bila pasangan seksualnya menjadi hamil nantinya. Paparan di atas memperlihatkan bahwa penggunaan kondom94 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 93. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyadi kalangan klien dan pasangan tetap PSL ditentukan oleh bebera-pa faktor seperti: Trust dalam hubungan antar pribadi, pentingnyakenikmatan seksual (sexual pleasure), bentuk hubungan seks (oralatau anal), kesadaran tertular penyakit atau terjadinya luka, dan ne-gosiasi dengan pasangan seksualnya.Perempuan, Waria, Banci, Gay atau.... Identitas seksual seseorang merupakan sesuatu yang bersifatcair, terkadang membingungkan, dan tergantung pada konteks so-sial di mana ia berada. Pasangan tetap dan klien PSL yang berpar-tisipasi dalam penelitian ini memberikan jawaban yang bervariasiketika diajukan pertanyaan mengenai identitas seksual mereka. Andre dan Januar mengaku identitas seksual mereka mas-ing-masing sebagai biseksual dan heteroseksual. Sementara darienam informan yang mengaku dirinya sebagai perempuan, empatdi antaranya berjenis kelamin laki-laki. Mereka adalah waria yangmengaku dirinya lebih sebagai perempuan. Sedangkan Bambang,yang juga berjenis kelamin laki-laki tetapi memiliki sifat sepertiperempuan, lebih suka menyebut dirinya banci. Namun ia mem-bebaskan orang lain mau memanggilnya apa. Bambang menjelas-kan perbedaan waria dan banci yaitu banci adalah seorang laki-laki yang kadang berpenampilan laki-laki kadang berpenampilanperempuan, sedangkan waria adalah laki-laki yang benar-benarmerasa perempuan dan selalu berpenampilan perempuan. Billy, Cecep, Teguh, Chandra, Banudoyo, dan Juki menya-takan diri mereka sebagai gay. Mereka itu, kecuali Juki, mengakumemiliki sifat feminin yang dominan di dalam diri mereka. Sifatfeminin itu diakui oleh beberapa informan berpengaruh terhadapperilaku seksual mereka yang cenderung pasif dan tidak agresif.Mereka yang memiliki sifat seperti ini lebih memilih disemburit ataudioral oleh pasangan seksualnya. Bahkan bagi sebagian dari mer-eka, sifat feminin yang menguasai dirinya berpengaruh terhadappemilihan pasangan seksual mereka. Mereka biasanya berusahamencari pasangan yang lebih agresif dan macho. Chandra menjelas-kan dirinya sebagai gay feminin sebagai berikut, “Soalnya mereka(pasangan-pasangannya) kan badannya lebih lebar, apa yah… lebihjantan sementara gue kan orangnya lemah lembut.” Sementara, Juki—dengan pengakuan sebagai gay—lebih me-lihat dirinya tetap dengan sifat-sifat sebagai lelaki (maskulin) da-lam arti perilaku seksualnya pun lebih banyak berperan sebagai Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 95
  • 94. Irwan M. Hidayanaseorang dengan gender laki-laki, yaitu agresif dan aktif sehingga ialebih sering menyemburit atau mengoral pasangannya. Gay sebagai sebuah identitas dimaknai secara berbeda olehsetiap informan yang mengaku dirinya gay. Bagi Billy, gay adalahseks antara cowok dengan cowok. Pendapatnya didasari karenasekslah yang menjadi orientasi hubungan antar gay jika pertamakali mereka bertemu. Kalau gay itu kayaknya seks cowok sama cowok kan. Kalau pertama kali ketemu itu yang diinginkan itu pertama seks. Semua gay di seluruh dunia deh begitu, kalau tau dia itu gay pasti maunya itu “tidur”. Gue juga gitu kalau melihat…ih lucu banget nih dia kalau ngeseks sama gue, gitu kalau gue. Kalau udah bosen itu udah, biar dia mau lucu kayak gitu ka- lau dia udah bosen itu udah tinggal gitu aja. Jadi orientasinya seks biasanya. Ia juga melihat gay itu adalah sebagai kehidupan yangmenyimpang dari apa yang umumnya terjadi di masyarakat. Pendapatini disetujui oleh Banudoyo yang juga menjelaskan bahwa gay ituberbeda dengan waria, karena waria menurutnya “main” sama ‘laki-laki asli’ bukan dengan gay dan sebaliknya pun demikian. Sementara, Cecep memandang gay sebagai hubungan sesa-ma laki-laki, dengan kepribadian laki-laki, tapi tidak menjadikanmereka perempuan hanya karena sifat femininnya. Baginya tidakada perbedaan antara gay dan homoseksual. Teguh dan Chandraberpendapat gay itu adalah laki-laki yang mencintai atau menyukailaki-laki.Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan betapa luasnya jejaring sek-sual laki-laki dan jelas sekali seorang laki-laki cenderung memilikilebih dari satu pasangan seksual sekalipun ia bukanlah pekerja seks.Bagi PSL secara sederhana ada dua kategori pasangan seksual yaitupasangan tetap dan klien yang membayar jasa pelayanan seksual.PSL bisa mempunyai pasangan tetap perempuan dan/atau laki-lakiyaitu pacar atau pun istri. Klien PSL jelas sekali memiliki jejaring seksual yang cukupluas, karena mereka cenderung untuk berganti-ganti pasanganseksual, baik laki-laki atau pun perempuan. Seks oral antara PSL96 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 95. Tentang Pekerja Seks Laki-Laki dan Pasangan Seksualnyadengan klien lebih sering tidak menggunakan kondom karenakebanyakan klien tidak menyukainya. Dalam semburit kondomcukup sering digunakan meskipun tergantung kesepakatan denganklien. Kebanyakan PSL tidak menyukai posisi bottom karena lebihmenyakitkan dan lebih menyukai posisi top7. Persepsi terhadapresiko penyakit cukup tinggi, sehingga PSL yang mempunyai istriatau pacar perempuan ketika melakukan hubungan seks cenderungmenggunakan kondom. Sementara, klien PSL tidak konsistenmenggunakan kondom, khususnya dalam semburit. Kebanyakan klienPSL menekankan kenikmatan seksual sebagai alasan berhubungandengan PSL. Adanya rasa percaya dan hubungan emosional antaraklien dengan pasangan seksual lainnya menjadi salah satu faktoryang menyebabkan jarangnya penggunaan kondom. Dalam konteks penggunaan kondom, satu pola yang mun-cul di antara PSL dan pasangan seksualnya adalah pentingnyavariabel trust atau kepercayaan yang ada di antara dua individudalam hubungan seksual. Ikatan emosional dan psikologis, adanyakomitmen antara dua individu, dengan kuat bisa menepis persepsidan kekawatiran terhadap risiko penyakit. Berbarengan denganvariabel trust ini, variabel kenikmatan seksual (sexual pleasure) tetapmerupakan unsur yang penting dalam seksualitas laki-laki. Pendekatan sosio-historis dalam penelitian yang lebih men-dalam untuk mengetahui norma seksualitas dan ideologi genderperlu dilakukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya PSLberkaitan erat dengan berkembangnya kehidupan gay di kota-kotabesar di Indonesia. Klien PSL umumnya berasal kelas menengah keatas yang cukup berpendidikan.IRWAN M. HIDAYANA: Dosen tetap Departemen Antropologidan peneliti pada Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI.7 Istilah “top” dan “bottom” dalam relasi seksual sejenis biasanya mengacupada peran gender “laki-laki” dan “perempuan” sebagaimana yang terjadi dalamrelasi heteroseksual. Dalam kaitannya dengan hubungan seksual, istilah “top”mengacu pada pihak yang mempenetrasi, sedang “bottom” mengacu pada pihakyang dipenetrasi. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 97
  • 96. Irwan M. HidayanaRUJUKANAltman, Dennis. 1999. “Foreword.” dalam P.Aggleton (ed.). Men who sell sex. London: UCL Press, hlm. xiii-xix.Atmodjo, Kemala. 1986. Kami Bukan Lelaki. Jakarta: Grafiti.Jones, Gavin, Endang Sulistyaningsih, dan Terence Hull. 1997. Pelacuran di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Khan, Sivananda. 1999. “Through a Window Darkly: Men who sell sex to men in India and Bangladesh.” dalam P. Aggleton (ed.) Men who sell sex. London: UCL Press, hlm. 195-212.Koentjoro. 2004. On the Spot: Tutur dari sang Pelacur. Yogyakarta: Tinta.Koeswinarno. 1996. Waria dan penyakit menular seksual. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan, Universitas Gadjah Mada.Murray, Allison. 1991. No Money No Honey: A Study of Street Traders and Prostitutes in Jakarta. Singapore: Oxford University Press.Purnomo, Tjahjo dan Ashadi Siregar. 1983. Dolly: Membelah Dunia Pelacuran Surabaya. Jakarta: Grafiti Pers.Sedyaningsih-Mamahit, Endang R. 1999. Perempuan-perempuan Kramat Tunggak. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.Sudarsono. 1998. Gigolo dan Seks: Risiko penularan, pemahaman dan pencegahan PMS. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.98 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 97. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura, Papua Iskandar P. Nugraha dan Maimunah MunirAbstrak: Di atas segala ketertutupan aktivitas seksual, stigma, dandiskriminasi, dinamika kehidupan seksual kelompok LSL dalamkonteks perkotaan/urban Jayapura yang sedang berubah dengancepat, baik mereka dari latar belakang lokal maupun pendatang,adalah cukup dinamis. Hal ini antara lain ditunjukkan denganaspek-aspek seksualitas termasuk terbentuknya jaringan seksual.Kuatnya heteroseksualisme telah menyebabkan identitas seksualtidak dikenal. Praktek seksual yang cair dan lintas gender karenakehidupan seksual yang ganda berpotensi pada perilaku seksualberisiko dan dapat berkontribusi bagi epidemi transmisi HIV diPapua. Aspek urban, mobilitas, dan migrasi, ditambah lagi den-gan diperkenalkannya sarana teknologi komunikasi modern telahmemberikan suatu cermin identitas dan perilaku-perilaku seksualyang mengarah pada pembentukan kesadaran identitas seksual le-wat pembentukan komunitas-komunitas di kalangan ini.Kata kunci: LSL, identitas seksual, jaringan seksual, heteroseksual-isme, transmisi HIV/AIDS.Pengantar Seting perkotaan yang sedang berubah dengan cepat karenaberbagai faktor modernisasi, ditambah dengan diperkenalkannyateknologi komunikasi, tampaknya banyak pengaruhnya bagi pe-rubahan aspek-aspek masyarakat, termasuk di antaranya pada di-namika kehidupan seksual, identitas maupun jaringan seksual padakelompok-kelompok tertentu. Perkembangan Kota Jayapura, ibu-kota propinsi wilayah paling timur Indonesia, sebagai kota pelabu-han, pusat pemerintahan dan pendidikan terpenting di Papua, be-gitu cepat dengan ditandai oleh makin heterogennya penduduk Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 99
  • 98. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirakibat tingginya laju migrasi, baik dari dalam maupun dari luarPapua. Kenyataan ini makin menjadi-jadi sejak diberlakukannyastatus Otonomi Khusus Papua tahun 2001, di mana di satu pihakkota ini makin mengarah pada karakter masyarakat urban, sepertikota-kota urban lainnya di Indonesia, dan di pihak lain memberi-kan konsekuensi-konsekuensi sosial lebih jauh dibanding situasikota ini dua dekade sebelumnya, ketika masih menjadi daerah yangterisolasi di Indonesia. Tingkat migrasi yang tinggi dan masuknya para pekerja dariluar berpadu dengan berdirinya pusat-pusat pendidikan. Kita jugamenyaksikan perkembangan cepat proses perubahaan identitas ke-Melanesiaan Papua yang kian ke arah peleburan ke dalam akultur-asi budaya yang berkembang di bagian barat Indonesia. Pengala-man dan kehidupan di perkotaan yang seperti ini, bagi masyarakatlokal Papua, memberikan mereka suatu komparasi yang berbedadengan norma-norma komunitas tradisional, di mana kesempa-tan-kesempatan seksual di kota lebih dapat dimungkinkan berkatkontak-kontak yang baru dengan latar budaya yang baru pula. Pe-nelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa melaluipengalaman dari migran, suatu gaya atau model seksualitas dapatdibawa masuk ke suatu tempat. Dalam hal ini, konteks dan setingperkotaan modern di kota Jayapura telah memungkinkan kelom-pok laki-laki, apakah heteroseksual, LSL, atau waria, memiliki ke-mungkinan yang lebih besar dalam menemukan pasangan seksualdaripada dalam seting rural/pedesaan. Budaya pada masyarakatyang masih amat tertutup membicarakan seksualitas membuatkesempatan-kesempatan di kota besar lebih terbuka. Karakter kotayang makin heterogen dan tingginya mobilitas penduduknya, dita-mbah dengan diperkenalkannya medium teknologi komunikasi,tampaknya telah ikut memberi arti bagi dinamika dan perubahan-perubahan pada perilaku seksual kelompok laki-laki perkotaan, dimana di dalamnya termasuk kelompok LSL (Laki-laki seks denganlaki-laki). Disusun berdasarkan hasil wawancara terhadap respondendari kelompok LSL yang memiliki mobilitas tinggi dalam setingperkotaan kota Jayapura, tulisan ini mencoba memaparkan temuanmengenai aspek-aspek dalam kehidupan seksualitas mereka, me-nyangkut persoalan identitas seksual,1 perilaku-perilaku seksual1 Identitas seksual dalam tulisan ini mengacu pada bagaimana seorang100 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 99. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuabeserta segala perubahan-perubahannya seiring dengan perubahancepat modernisasi kota ini. Apakah modernisasi, globalisasi, danpersinggungan Jayapura dengan dunia luar telah menolong kelom-pok ini bagi upaya-upaya menegosiasikan seksualitas mereka danbagi pencarian kesadaran identitas seksual sebagai homoseksualadalah pertanyaan mendasar dalam studi ini.. Proses Indonesian-isasi kota Jayapura, perubahan dramatis berkat otonomi daerahserta akses internet dalam konteks globalisasi, tampaknya harus di-lihat sebagai faktor-faktor penting yang mengubah dinamika tadi,mulai dari kemunculan keinginan-keinginan pribadi, kebutuhanmencari kesenangan dan identitas seksual di sebagian masyarakat-nya. Temuan ini kiranya dapat digunakan untuk dapat mengenaliaspek apa saja yang bermanfaat dalam upaya pengidentifikasianperilaku-perilaku seksual berisiko mereka guna pencegahan IMSdan epidemi HIV yang kini telah menjadi persoalan yang serius diPapua.Homoseksualitas & Homo Erotik di Papua Sejumlah studi antropologi telah mengidentifikasi bahwapraktik-praktik homoseksualitas dan homo erotik telah lama dikenaldalam konteks budaya tradisional Papua, yakni sebagai bagian daribudaya Melanesia. Diketahui bahwa sampai dengan tahun 1980-an,praktek homoseksualitas dikenal dalam ritual atau upacara-upacaraadat inisiasi pada beberapa suku.2 Pada suku-suku tertentu sepertimasyarakat suku Dani di daerah pegunungan, juga ada kebiasaanuntuk menyatukan laki-laki yang telah beranjak dewasa tinggalpada satu rumah Honai yang ditempati oleh remaja-remaja lakilainnya. Beberapa responden mengakui bahwa praktek seksualitaspertama dengan laki-laki lain bisa terjadi saat tinggal di Honai ini. Konsumsi miras juga telah menjadi kebiasaan pada masyarakatlokal sebelum dan selama melakukan hubungan seks. Dari beberapacerita yang dikumpulkan, diketahui bahwa laki-laki lokal ataupendatang yang menikah dan menyukai laki-laki lain, akan merasaaman bila mereka melakukan seks minum alkohol secara bersama-individu berpikir mengenai dirinya dalam konteks ketertarikan seksual npadasubyek yang sama atau bagian dari kelompok itu, berdasarkan pengalamansendiri, pandangan maupun reaksinya. Southeast Asian Consortium on Gender,Sexuality and Health: 2004.2 Lihat Herdt (1984). Untuk contoh kasus-kasus beberapa suku, lihat misalnya,Dumatubun (2003); Morin (2001). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 101
  • 100. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirsama terlebih dahulu. Namun demikian, dalam masyarakat Papuamodern, homoseksualitas, seperti halnya di tempat-tempat lainnyadi Indonesia, telah dilihat sebagai sesuatu yang abnormal, tabu, danmelawan kesusilaan. Oleh sebab itu, keberadaan mereka tertutupdan sulit dilacak dalam seting perkotaan. Terkecuali studi khusus mengenai laki-laki, waria dan pasan-gannya, sangat sedikit bahan yang telah dihasilkan mengenai di-namika seksualitas di kalangan LSL di perkotaan Papua, terutamayang secara spesifik mengangkat kota Jayapura.3 Literatur akade-mik dan riset mengenai kelompok LSL, khususnya di Papua perko-taan masih belum banyak dilakukan sehingga menimbulkan kesul-itan untuk mengetahui, misalnya, siapa sebenarnya mereka, berapajumlah mereka sesungguhnya, bagaimana jaringan sosial dan sek-sual mereka, dan bagaimana mereka membangun jaringannya.Lebih jauh lagi, bagaimana mereka merespon situasi epidemi HIVdan berapa tingkat prevalensi HIV di kalangan ini; apakah mer-eka dapat disebut sebagai satu penyumbang prevalensi di kalanganmasyarakat umum? Semua aspek ini belum banyak diketahui danmenginsafkan kita bahwa area LSL masih terbuka untuk penelitianlanjutan yang mendalam. Sebuah studi pendahuluan mengenai kelompok LSL di Jay-apura memperlihatkan sekilas mengenai dinamika kehidupanseksual kelompok ini. Walaupun mereka masih amat tertutup,diketahui jaringan seksual LSL yang cukup dinamis. Meskipun de-mikian, jaringan itu masih tumpang-tindih dengan jaringan seksualkelompok lain (laki-laki, perempuan, dan waria), karena diketahuimereka juga banyak yang berhubungan dengan perempuan atauwaria. Keberadaan mereka sulit diketahui karena kebanyakan jugatidak mengidentifikasi diri sebagai gay atau homoseksual. Sepertitampak dari beberapa pengakuan responden, mereka melakukanhubungan seks dengan perempuan, memiliki pacar perempuan,menikah atau berencana menikah, dan pada saat yang sama, mem-bina hubungan atau melakukan hubungan seks dengan laki-lakilain. Seks anal dikenal dan dilakukan baik dengan perempuan ataulaki-laki dengan sebutan seks “panta lubang”. Pengkonsumsian alkohol juga menjadi satu aspek untuk me-dium jaringan seksual. Mengkonsumsi alkohol diyakini mening-3 Penelitian yang cukup luas untuk waria , lihat misalnya Butt dan Morin(2007); Djoht (2003).102 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 101. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuakatkan keberanian/rasa percaya diri sebelum melakukan hubunganseks. Adalah umum ditemui pendapat bahwa seks anal tanpa pro-teksi tidak memiliki risiko dibandingkan dengan seks vaginal dandilakukan dengan perempuan. Semua ini adalah temuan menarikyang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko yang tidaksedikit pengaruhnya dalam menyumbangkan laju transmisi yang“lintas gender” di Papua. Diketahuinya bahwa ada inkonsistensidalam penggunaan kondom telah menyebabkan pemahaman ataskondom dan persepsi mereka begitu penting.4Penelitian ini Didasarkan pada dasar tersebut dan sebagai bagian dari risetyang didanai oleh KPAN/HCPI berjudul Perilaku Seksual Beresiko danStrategi Pencegahan IMS dan HIV di Kalangan Laki-laki dengan Mobili-tas Tinggi di Kota Jayapura,5 dilakukan penelitian untuk upaya-upa-ya mengidentifikasi perilaku-perilaku seksual beresiko di Jayapura,termasuk pada kelompok LSL yang memiliki mobilitas tinggi, disamping kelompok laki-laki heterosek, waria dan pasangannya. Hasil STHP 2006 telah memberikan pengetahuan umum men-genai praktik seksual yang tidak aman, jumlah pasangan seksual,awal memulai hubungan seks, tingginya IMS yang tidak diobatidan tingginya prevalensi HIV di kalangan laki-laki Papua. Temuanyang baru ini yang mengkhususkan pada kota Jayapura adalah un-tuk melengkapi hasil tersebut, serta untuk memberi masukan yanglebih dalam untuk intervensi program penanggulangan epidemiHIV di Papua yang menyangkut laki-laki lokal di Papua. Riset selama bulan Agustus-September 2010 ini memberipengetahuan yang lebih dalam mengenai kelompok laki-laki se-cara umum. Sebagai bagian dari temuan di lapangan, artikel inimendiskusikan dinamika seksual kelompok LSL. Tulisan ini lebihakan memaparkan isu-isu seputar identitas dan jaringan seksual,baik dari penduduk lokal (etnis Papua serta lahir dan tumbuh disana) maupun pendatang. Meskipun terstigma secara sosial ataudiperlakukan diskriminatif serta tertutup terhadap keluarga, te-man dan kolega kerja, kelompok LSL perkotaan tetap eksis, bahkanmampu menegosiasikan seksualitas mereka. Ketika riset ini dilakukan, telah ada pendekatan yang dilaku-4 Lihat Nugraha (2007).5 Lihat Munir dan Iskandar (2011). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 103
  • 102. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirkan organisasi PKBI dan BKKBN bagi kelompok LSL di Jayapuradengan mengadakan pertemuan-pertemuan di kalangan kelompokini. Namun harus diakui bahwa organisasi formal sosial berbasiskomunitas gay dan laki-laki homoseksual seperti halnya GAYa NU-SANTARA, yang dapat menjadi penghubung bagi pintu masuk kedalam komunitas ini belum ada di Jayapura. Oleh karenanya, ke-banyakan responden yang direkrut untuk penelitian ini awalnyadiperoleh lewat kontak-kontak pertemuan dari chatting online,yang mulai terbina sejak 2008 dan kemudian dilanjutkan/di-updatesebelum penelitian ini dilaksanakan. Di antara yang bersedia bertemu tatap muka dengan pe-wawancara dan memenuhi kriteria penelitian ditawari kesediaan-nya untuk diwawancarai dan diminta merekomendasikan respon-den lain pada jaringannya. Kriteria responden adalah mereka yangmemiliki ketertarikan secara seksual dengan laki-laki dan mengakutelah memiliki pengalaman seksual dengan laki-laki sebelumnya.Sejumlah 15 orang responden terlibat dalam penelitian ini denganrenician sebagai berikut: Dari berbagai latar belakang etnis (10 lokalPapua dan 5 pendatang), tingkat pendidikan (lulus SMA hinggaperguruan tinggi), dan latar belakang profesi (mahasiswa, kary-awan, profesional/swasta, PNS, kepolisian) dan golongan umur(antara 18 sampai 43 tahun). Status perkawinan responden pun be-ragam, ada sebagian yang menikah dan memiliki anak. Di antaramereka pun ada yang memiliki pacar perempuan, pacar laki-lakidan perempuan serta melakukan hubungan seks pada saat yangbersamaan. Bagi yang belum menikah, kebanyakan mereka menya-takan berencana menikah dan memiliki anak. Pemilihan responden lokal dan pendatang ini diharapkan da-pat memberi nuansa perbedaan interpretasi terhadap seksualitasdalam konteks perkotaan. Pandangan dan pengalaman seksual diJayapura maupun di tempat lain jelas berbeda, apalagi antara kel-ompok lokal dengan pendatang yang baru bermukim di Jayapura.Untuk mendapatkan data deskriptif-naratif sebanyak mungkin,tidak ada struktur pertanyaan yang diterapkan. Proses wawancaralebih sebagai penceritaan bebas, dilakukan secara rahasia, anoni-mus dan berdasarkan persetujuan dari mereka. Wawancara dilakukan di ruangan tertutup di hotel yang dis-epakati dan/atau di atas kendaraan sewaan yang berjalan, demimenjaga kerahasiaan dan keterbukaan, tanpa merasa diawasi. Un-tuk memperoleh gambaran siapa mereka, sebelum mereka mulai104 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 103. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuabercerita, mereka diminta memberi isian demografi tentang siapamereka, identitas seksualitas mereka, pengetahuan mengenai IMS/HIV, tes darah, dan pengobatan. Penceritaaan riwayat seksualitas pribadi setiap responden di-arahkan pada negosiasi identitas yang dicerminkan lewat praktik-praktik seksual (termasuk yang tidak aman dan berisiko) serayamenjelaskan alasan-alasan bagi ketertarikan serta perasaan yangmereka berikan kepada laki-laki lain sebagaimana yang mereka in-terpretasikan. Di samping itu, dilihat pula seberapa jauh merekamenggunakan jaringan seksual baik yang tradisional maupun yangmodern (internet) untuk mendapatkan pasangan seks berpengaruhterhadap pembentukan identitas seksual, baik individual maupunkolektif.6 Mereka diminta mengungkapkan semua aspek tersebutselengkap mungkin dalam kerangka riwayat kehidupan seksualmereka selama ini. Untuk melengkapi hasil tersebut, dilakukanpengamatan terhadap jaringan seksual mereka, baik yang tradis-ional maupun lewat jaringan sosial media modern (online/inter-net).Identitas Seksual Herdt (1997) mendefinisikan identitas seksual sebagai cermi-nan konstruksi sosial dari individu-individu yang telah dipengaruhidan dipertajam oleh faktor-faktor budaya serta dampak psikologiyang diakibatkannya. Crossley (2005) menganggap bahwa identitasseksual selalu relatif karena kecenderungan kita mendefiniskan ituterhadap orang lain. Identitas seksual dinegosiasikan secara relatifdalam konteks tertentu oleh si pelaku sosial, yakni bagaimana mer-espon keberbedaan (Morrish & Sauntson 2007). Oleh sebab itu,formasi hubungan seksuali dapat saja diekspresikan sebagai suatuorientasi seksual yang diinginan tanpa harus merekonstruksi hidupmereka di seputar identitas itu (Harrison 2000). Lembaran demografi yang diisi responden disiapkan agar re-sponden mendeskripsikan sendiri tentang apa identitas seksualitasmereka sebelum wawancara dimulai. Ternyata, hanya terdapat 4orang responden yang langsung mengidentifikasi diri sebagai ho-moseksual dan semuanya berlatar belakang pendatang. Respondenyang lainnya (sebanyak 11 orang) menuliskan diri mereka sebagaiheteroseksual, biseksual, atau menuliskan kedua identitas itu ber-6 Lihat Nugraha (2008). Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 105
  • 104. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirsama-sama. Pengidentifikasian diri terhadap identitas seksualitasini jelas menunjukkan bahwa pada umumnya mereka tidak men-genal penggunaan pelabelan diri sebagai homoseks. Ini juga bisamenunjukkan praktik seksualitas mereka yang cair dan fleksibelsebagaimana terlihat pada deskripsi naratif mereka. Anggapan menarik yang muncul dari sebagian besar merekaadalah bahwa laki-laki homoseks yang berpenampilan normal sep-erti mereka, tidak bisa seratus persen menjadi homoseks, kecualikalau mereka menjadi waria. Pernyataan ini memberi gambaranbahwa identitas seksual masih terkait dengan penampakan danperan gender sesuai fisik. Seks yang dilakukan dengan laki-laki lainadalah bentuk kesenangan semata. Sebagian responden mengaku hanya melakukan seks denganlaki-laki lain ketika berada di daerah lain atau ketika bepergian.Di antara mereka ada yang hanya melakukan seks tersebut den-gan orang yang sudah dikenalnya, misalnya, dalam acara minum-minum (sesudah acara-acara keluarga/adat), sementara yang lainberusaha melakukannya dengan orang yang berbeda-beda/tidaksama dan berusaha tidak melakukannya lagi dengan orang yangsama agar kerahasiaan terjaga. Tidak melakukan hubungan seksual dengan laki di tempatasalnya merupakan temuan umum pada kelompok yang bermobili-tas tinggi, terutama karena jenis pekerjaan, kepentingan adat ataukarena pendidikan. Terjadinya hubungan seksual tersebut diakuikarena merekalah yang didekati oleh orang-orang yang merekaanggap sebagai orang homoseks. Di antara mereka hampir semuamemiliki pacar perempuan, berencana menikah atau telah menikahdan bercita-cita memiliki anak. Pada umumnya, mereka tidak men-cari hubungan yang berlanjut dengan laki-laki lain. Mereka mela-belkan hal itu sebagai bagian dari pertemanan yang mengasyikanantara dua orang laki-laki dan tidak mempermasalahkan perihalpraktik seksual sejenis. Pada beberapa responden diakui bahwa pengalaman seksualpertama kali dengan laki-laki lain terjadi di luar Papua, ketika men-jadi mahasiswa perantauan. Sebagian mengaku bahwa hubunganseksual sejenis baru diperkenalkan oleh orang pendatang. Darimereka, seolah tidak ada pengakuan bahwa ketertarikan itu jugadatang dari diri mereka sendiri. Tema-tema “dikerjain,” “diperko-sa,” dll. muncul dalam cerita mereka, meskipun mereka juga men-gakui menikmatinya.106 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 105. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papua Responden yang mengidentifikasi diri sebagai heteroseksualdan/atau biseksual mengatakan bahwa memiliki pasangan sek-sual dengan laki-laki tidak harus dipertentangkan dengan identi-tas heteroseksual mereka, sebab persoalan identitas bukanlah halyang serius. Identitas mereka sebagai laki-laki (bapak bagi yang su-dah menikah) jauh lebih penting. Tapi ketika diminta menjelaskanmengenai identitas seksual sebagai homoseks, semua respondenmenganggap bahwa bila rahasia itu terbuka, akan langsung me-nyebabkan pengucilan mereka dari keluarga atau teman, dan da-pat berakibat fatal seperti kehilangan keluarga atau pekerjaan. Jadi,menjadi tidak jelas apakah pengakuan identitas seksualitas menjadisesuatu yang tidak penting ataukah karena ketakutan terhadap ber-bagai konsekuensi buruk yang mungkin mereka hadapi. Kebanyakan dari kelompok ini mengakui bahwa mereka bu-kan pihak yang memulai, tapi diperkenalkan lebih dulu. Pengala-man pertama kali dengan laki-laki kebanyakan diakui terjadi secarakebetulan, misalnya, di hotspot seks di kota (tidak khusus kelom-pok LSL, tapi juga wanita pekerja seks dan waria) atau di tempatkuliah/kerja. Sebelumnya, mereka sudah melakukan hubungan seksjuga dengan perempuan. Seorang responden mengaku melakukanhubungan seksual dengan laki-laki pertama kali ketika berada dimes di hutan, karena pekerjaannya di perusahaan penggergajiankayu di pedalaman. Melakukan seks dengan laki-laki lain juga di-akui dilakukan karena perempuan tidak tersedia. Dan, hubunganseksual itu tidak membuat mereka menjadi seorang homoseks. Mereka akan mencari kesempatan untuk melakukan hubun-gan seksual dengan laki-laki siapa saja bila ada kesempatan, di saatuang sama, mereka juga akan melakukannya dengan perempuan.Mereka tidak saja mengakui bahwa seks dengan laki-laki hanyafun, namun juga itu memiliki sensasi sendiri yang tidak ditemuibila mereka berhubungan seks dengan perempuan. Seks denganlaki-laki, lebih lanjut, dianggap suatu hal yang menantang karenadilakukan untuk melawan norma-norma dan sembunyi-sembunyi.Seks dengan laki-laki terasa agak spesial karena memberi kepuasantersendiri dalam kehidupan seksual mereka. Di antara mereka yang diketahui menikah, sudah melakukanhubungan seks dengan laki-laki sebelumnya. Sekalipun berhubun-gan seks dengan laki-laki lain bisa mendapatkan kepuasan tersend-iri, hal itu tidak menghentikan rencana mereka untuk menikahdengan perempuan. Mereka tidak menganggap hubungan dengan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 107
  • 106. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirlaki-laki sebagai hal penting. Ini terlihat dalam petikan jawabansalah seorang responden di bawah ini. Pekerjaan [saya] sangat mobile, sering bepergian ke kota lain di dalam maupun luar Papua, terutama ke Sorong dan Makassar. Selain punya pacar tetap laki-laki, saya juga menjalin hubungan dengan perempuan. Pacaran dengan pasangan perempuan ini sudah berjalan 3 bulan dan ada rencana menikah dan punya anak. Kami juga sudah melakukan hubungan seks. Pacaran dengan pasangan laki-laki di kota lain [Manokwari] ini sudah berjalan 3 tahun. Dalam hubungan seksual, mereka hanya mau mengambilperan “top”, yakni melakukan penetrasi seksual karena posisi terse-but dianggap menggambarkan perilaku laki-laki maskulin sejati,yakni peran gender sebagai laki-laki yang dikenal. Diketahui pula,mencari kenikmatan seksual dengan laki-laki, terutama denganpasangan tetap laki-lakinya, sering dilakukan dalam konteks perte-manan antarlaki-laki, di mana seks baru terjadi sesudah keduanyamabuk. Sebagaimana lazimnya di Papua, laki-laki yang menikahbiasanya mudah mendapat izin ke luar rumah untuk pergi minum-minum dan akan beralasan menginap di rumah orang lain/temankarena terlalu mabuk. Responden-responden yang lain dapat dimasukkan pada kel-ompok yang kedua, yaitu mereka yang mengidentifikasi sebagai re-sponden lokal yang biseksual. Mereka menceritakan pengakuannyamengenai ketertarikan secara fisik dan emosional dengan laki-lakilain. Namun kesadaran mereka terhadap identitas homoseksualtidak ada atau mengingkarinya dan selalu berupaya untuk meng-hilangkannya. Walaupun memiliki perasaan yang kuat terhadaplaki-laki, mereka juga diketahui menikah atau berencana akan me-nikah. Meskipun telah menikah, perasaan kuat terhadap laki-lakimasih amat tinggi dan hal itu tidak disesalkan, seperti juga tidakmenyesal melakukan perkawinan dengan perempuan untuk mer-eka yang telah menikah. Tingkat pertemuan dan jumlah kontak-kontak dengan laki-laki lain, terutama dengan pendatang, telahmenumbuhkan perasaan kuat bagi kelompok ketiga untuk mem-pertanyakan pada diri sendiri akan identitas seksual mereka yangsesungguhnya. Selanjutnya, upaya itu makin lama makin disadaritelah mengurangi rasa ketertarikan terhadap perempuan/istrinya,108 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 107. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuabahkan ketika melakukan hubungan seks, ada yang mencoba mem-bayangkan istrinya sebagai laki-laki yang hidup dalam fantasi sek-sual mereka. Kesadaran identitas seksual secara individual muncul den-gan cepat akibat kontak-kontak dengan pendatang atau karenaperkenalan dengan jaringan media sosial. Pada mulanya merekamengakui tidak selalu ada upaya untuk mengerti mengenai iden-titasnya, apalagi upaya untuk membina hubungan saling mencin-tai antara sesama laki-laki sampai hari tua. Selain dianggap tidakdikenal dalam masyarakat, faktor memiliki anak adalah pentingdalam kehidupan berkeluarga, yang berfungsi sebagai penjaga ke-tika mereka berusia lanjut sehingga mereka tetap akan menikah.Namun sekali lagi, kontak dan penggunaan media teknologi komu-nikasi baru telah membawa mereka untuk mengetahui lebih jauhmeskipun dilakukan secara tertutup. Hanya pada 3 responden yang kesemuanya pendatang men-gakui telah menyadari identitas seksualnya sejak kecil dan merasasedikit nyaman dengan identitas itu. Mereka semuanya adalah pen-datang dari Jawa, Makasar, atau Ambon, yang pergi untuk alasanpekerjaan ke Jayapura. Pengalaman seks pertama mereka kebanya-kan dimulai ketika remaja dan sejak itu langsung terlibat aktif padajaringan homoseksual yang mereka ketahui. Secara umum, merekamengakui tidak ada keinginan untuk menikah karena dianggaptidak sesuai dengan perasaan hatinya. Perasaan yang kuat terhadaplaki-laki kadang berupa cinta, sehingga seksualitas bukan satu-sa-tunya ukuran. Cita-cita ideal mereka adalah memiliki kekasih danpasangan hidup laki-laki yang digambarkan seperti perkawinanpada kelompok heteroseksual. Posisi dalam hubungan seksual bagimereka tidak penting, namun mereka tetap membayangkan perangender dalam hubungan mereka, bahwa top adalah maskulin, se-dangkan bottom adalah feminin. Upaya inilah yang membawa mer-eka untuk selalu mencari pasangan seksual dan pasangan hidupsekaligus untuk bisa berbagi kehidupan. Walaupun demikian, mer-eka tidak akan langsung berterus-terang tentang identitas seksual-nya atau menganggap lingkungan sekitarnya akan dapat membacahal tersebut.Diskusi Dari penelitian ini terlihat adanya identitas seksual yang kom-pleks dan dinamis, terutama pada LSL local. Sebagian besar respon- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 109
  • 108. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirden lokal mencerminkan suatu gambaran kehidupan masyarakatJayapura dari kehidupan kolektif ke arah ciri masyarakat individu-al. Sementara itu, pembicaraan tentang seksualitas pada umumnyamasih tabu dan tertutup dilakukan, bahkan di kalangan heterosek-sual sekalipun. Meskipun telah ada arah pengakuan atas identitasseksual, tampaknya ada banyak penghalang yang masih dihadapi. Kebanyakan kelompok LSL di Jayapura, terutama yang berla-tar lokal, tampaknya masih amat dipengaruhi oleh pandangan dannorma mainstream masyarakat heteroseksual Papua. Norma-normaheteroseksual seperti peran laki-laki dalam keluarga, peran genderdalam masyarakat, masih menjadi bagian dari naratif penceritaantentang riwayat seksual umumnya. LSL lokal terlihat tidak memi-liki hasrat kuat untuk “coming out” atau berterus-terang atas iden-titas seksual kepada keluarga, bahkan kepada teman paling dekatsekalipun, dibandingkan dengan LSL pendatang. Mereka yangmemiliki rasa yang kuat sekali pun, tidak akan memberikan pen-gakuan identitas seksual bila tidak bisa diterangkan dalam konteksheteroseksual. Bahwa identitas-identitas seksual yang muncul di kalanganLSL dalam seting urban Papua kebanyakan masih berada dalamkonteks diskursus mainstream dan konstruksi sosial budaya het-eroseksual, tampak pada fokus penceritaan mengenai pentingnyamengambil posisi sebagai laki-laki heteroseksual, menikah danmemiliki anak demi keluarga dan hari tua. Identitas homoseksualtidak muncul karena tidak dikenal atau karena stigma dan homofo-bia. Identitas seksual itu umumnya diaplikasikan secara cair, terko-tak-kotak dan lebih bermain pada konteks keinginan-keinginanpribadi yang tertutup atau identitas seksual kolektif yang hanyaterbuka pada batasan-batasan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwaidentitas seksual adalah sesuatu yang tidak menjadi fokus utamaketimbang identitas mereka sebagai laki-laki. Menikah dan mem-punyai pasangan perempuan dianggap lebih natural dan menjadiidentitas utama dan terpenting sebagai laki-laki. Pengaplikasianperan gender mereka sebagai laki-laki tampaknya memang untukpemenuhan nilai normatif (menikah dan memiliki anak). Kuatnya heteroseksualisme ini telah mendorong mereka un-tuk menutup identitas seksual karena dianggap bisa mengancamkedudukan mereka di dalam masyarakat. Hasrat seksual denganlaki-laki akhirnya menjadi sesuatu yang tidak harus dipertentang-kan dengan heteroseksualisme, apalagi hubungan seksual dengan110 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 109. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papualaki-laki sering juga dilakukan untuk memenuhi fantasi seksualyang tidak didapat dari pasangan perempuan atau istri mereka.Diketahui misalnya kepuasan seksual istri bisa hanya menjadi satuaspek saja dari perkawinan. Seperti penuturan beberapa responden,perkawinan masih bisa dijalankan tanpa harus selalu memenuhi pe-muasan seksual istrinya, terlebih bila mereka telah dikaruniai anak.Kemunculan anak seringkali juga malahan memindahkan fokus is-tri dari suami ke anak dan karena adanya hasrat seksual denganlaki-laki, hal itu masih bisa dilakukan, seperti juga dengan pasan-gan perempuan tidak tetap yang mereka miliki. Identitas seksualkebanyakan spontan dan fleksibel dan hubungan seksual denganlaki-laki lain sering hanya diungkapkan untuk pemenuhan hasratseks dan pertemanan semata. Orientasi seksual tampaknya bukanlah merupakan sesuatuyang harus selalu dipikirkan dan identitas seksual tertentu tidakharus selalu “full time” diterapkan dalam kehidupan mereka. Sek-sualitas hanyalah satu bagian dari begitu banyak aspek lain dari ke-hidupan mereka, sementara pelabelan identitas seksual tampaknyadianggap tidak mencerminkan siapa diri mereka seratus persen kar-ena identitas tidak penting dilekatkan pada seksualitasnya, namunpada identitas mereka sebagai laki-laki. Bahwa aspek seksualitashanyalah bagian dari keseluruhan identitas mereka yang multi, se-sungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam studi seksualitas LSLdi Indonesia, terutama dalam hubungannya pada fungsi strategisguna menghadapi heteroseksualisme. Pelabelan seksualitas dan identitas seksual yang self-described(yakni konstruksi naratif modern), jelas tidak dikenal secara umumatau hanya diaplikasikan pada situasi spesifik. Ketika mereka kem-bali masuk ke masyarakat umum, mereka berganti peran sebagailaki-laki karena tuntutan nilai-nilai maskulinitas yang ada. Rep-resentasi sebagai laki-laki “normal” seperti laki-laki lain padaumumnya, memiliki kegunaan menghindari diri dari perlakukanstigma dan diskriminasi. Hal ini terutama sekali begitu kuat ter-ungkap pada kelompok “lokal” dan “lokal-pendatang” di manamereka bagian dari komunitas yang lebih luas, seperti lingkungangereja, dibandingkan misalnya dengan yang berlatar pendatang.Selanjutnya, bagi LSL lokal, stigma identitas etnisitas dan lokalitasmereka sudah lama sebagai tantangan, sehingga pengakuan atasidentitas seksual yang jujur dianggap akan menambah persoalan.Hanya dengan memiliki identitas yang multi dan diterapkan sesuai Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 111
  • 110. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirdengan situasi, kebutuhan mereka, termasuk hasrat seksual LSLjustru bisa dipenuhi. Sekali lagi, identitas seksual yang muncul ke permukaan ada-lah identitas seksual yang beragam dan variatif yang digunakansecara fleksibel. Fleksibilitas untuk menggunakan variasi identitasdisesuaikan dengan konteks dan situasi tertentu yang dihadapi.Dengan strategi ini, mereka lebih mudah untuk masuk dan keluardi antara kecairan identitas. Multiidentitas seksual tersebut diprak-tekkan sebagai strategi dan cara bertahan menghadapi masyarakatyang berkarakter kuat patriarkhal-heteroseksual, di mana unsurmaskulinitas menentukan identitas gender. Menggunakan iden-titas ganda adalah bagian dari manajemen identitas yang dapatmemenuhi perasaan, orientasi dan hasrat seksual yang lebih cairdan mampu bergerak keluar-masuk, sekaligus terbebas dari poli-tik identitas yang umumnya bertendensi mengetahui lebih dalamsiapa mereka sebagai individu.Jaringan Seksual Bagaimana dengan jaringan seksual mereka? Selain tempat-tempat umum yang memungkinkan pertemuan, hampir tidak adatempat khusus untuk komunitas LSL seperti bar atau diskotik dikota ini, seperti halnya yang diperuntukkan bagi kelompok het-eroseksual. Pertemuan-pertemuan dilakukan di tempat publik ataukomersial yang biasa dijadikan tempat mencari pasangan bagi sia-pa saja, tidak eksklusif LSL. Seringkali kelompok LSL meminta per-tolongan kelompok waria untuk mencari pasangannya, termasukmereka yang dikenal sebagai “laki-laki heteroseksual” yang sedangmencari pasangan laki-laki. Tempat-tempat yang secara tradisional mencari pasanganseksual memang bercampur dengan masyarakat umum, termasukdengan pekerja seks perempuan dan kelompok waria yang memi-liki tempat-tempat khusus. Jaringan seksual tradisional terdapatantara lain di tempat-tempat strategis pusat kota, misalnya di depanMal Sagu Indah Plaza (SIP), Taman Mesran, Taman Imbi (sekitarGelael), terminal Abe (Sabtu malam), halaman Masjid Raya malamhari atau pantai Hamadi. Waria yang bekerja di salon-salon ikutmembantu memberikan kontak-kontak jaringan seksual, di manaini dipermudah dengan adanya hand phone atau HP. Dari wariaini juga mereka mendapatkan informasi mengenai gigolo laki-laki. Jaringan seksual LSL seperti diungkap di atas amat tertutup,112 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 111. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuaterselubung, dan berisiko ketimbang jaringan seksual non-LSL um-umnya. Mereka beroperasi dengan pola dan cara lebih individualkarena ketertutupannya. Bila pada kelompok non-LSL, adanyalokalisasi untuk transaksi seks, baik resmi maupun tidak, menjaditujuan dan lebih mudah didapatkan, pada kelompok LSL, kontak-kontak dilakukan secara tertutup dengan memanfaatkan apa yangmereka ketahui sebagai tempat mencari pasangan (cruising grounds)tradisional (biasanya di pusat-pusat kota), maupun menggunakanmedia online/internet yang kini makin banyak digunakan. Tempat melakukan hubungan seksual juga dilakukan secaratertutup, baik di tempat publik seperti pantai, terminal, kebun ko-song, maupun tempat tertutup seperti penginapan atau hotel ataurumah-rumah pribadi. Rumah dengan kamar-kamar kos kini jugamenjadi fenomena baru di kota ini seperti halnya di kota-kota laindi Indonesia. Adanya fenomena rumah kos di Jayapura memung-kinkan mereka mendapatkan tempat yang lebih nyaman ketimbangpergi ke penginapan atau hotel-hotel atau harus ketempat-tempatpublik yang kadang tidak aman. Melakukan seks di atas mobil yangberjalan makin umum selain di rumah-rumah kos. Kota Jayapura juga memungkinkan ditemuinya kesempatan-kesempatan melakukan hubungan seks dengan laki-laki denganmemberikan sedikit imbalan atau hadiah, misalnya, dengan minu-man keras atau uang transport atau uang sekedar untuk membelipinang. Bahkan ada beberapa tukang ojek yang bersedia memberi-kan servis seksual, di samping tukang pijat yang biasanya beker-ja sama dengan staf hotel. Beberapa responden mengakui bahwadengan iming-iming minuman keras, mereka akan mudah mencarilaki-laki “heteroseksual” untuk dapat memenuhi hasrat seksual-nya, misalnya pada kesempatan sepulang dari gereja atau dalampertemuan-pertemuan sosial/adat lainnya.Fenomena Penggunaan Jaringan Sosial Online/ Internet Satu ciri penting yang sedang membuat perubahan adalahpenggunaan internet sebagai alat untuk memperlebar jaringan sek-sual dan memperkuat identitas seksual secara kolektif. Tersedianyajaringan internet dan telepon seluler telah memungkinkan terbu-kanya ruang baru bagi mereka untuk mendapatkan teman danpasangan seksual, baik di kota Jayapura maupun tempat-tempatlain di Papua dan Indonesia. Meskipun tidak mengidentifikasi dirisebagai seorang homoseks, hampir 75% dari responden itu kini Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 113
  • 112. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirmenggunakan internet dan telepon seluler untuk mencari pasan-gan seksual mereka. Internet tampaknya telah menghubungkanmereka dengan pribadi-pribadi lain. Alat komunikasi modern itujuga membuat mereka mengenal diskursus homoseksualitas danidentitas homoseksualitas sehingga konsep-konsep yang semulaabstrak itu kini lebih mudah dibayangkan. Situs-situs LSL onlinemengikutsertakan Jayapura yang dianggap menumbuhkan senselokalitas mereka. “Sekarang dengan adanya fesbuk jadi makin terbuka. Misal- nya ada kekhususan di kelompok Jayapura, di Abepura dan lain-lain. Sekarang chatting di GIM dan Friendster tidak sep- opuler di FB. Dari sini bisa kontak ke Yahoo… FB sekarang penting sekali.” Berbeda dengan jaringan sosial/seksual tradisional, jaringanini memungkinkan seseorang menemukan pasangan seksual yangtidak saja instan, tapi juga sesuai dengan keinginan-keinginan yanglebih spesifik, seperti tipe yang diinginkan, tempat kontak yanglebih jelas, dan seterusnya. Lewat cara ini, sepertinya terbentuksuatu kesadaran identitas seksual mereka sebagai homoseks, teru-tama bagi responden lokal yang sebenarnya fleksibel dengan sek-sualitasnya. Dengan sarana teknologi modern, Jayapura kini makinterhubung dengan tempat-tempat lain di Papua, seperti Serui, Ma-nokwari, Sorong Biak, Babo dan Merauke, Boven Digoel, selain jugadengan wilayah lain di Indonesia. Masuknya teknologi informasi di Papua jelas memfasilitasi“kesenangan seksual,” menghilangkan peran “go between” (peran-tara seks) dan memungkinkan pertemuan seksual bisa dilakukandengan lebih mudah, bisa direncanakan, lebih murah dan tetapterjaga kerahasiaannya. 7 Justru lewat internet, yaitu online chatting(sebelum penggunaan jaringan sosial media menggejala) keberadaancalon responden diketahui dan dari sini mereka menghubungkanpada kontak-kontak di jaringan tradisional yang dikenal. Kini dengan makin kuatnya penggunan jaringan media so-sial, baik lokal maupun pendatang, mereka makin membuka diridan membentuk kelompok-kelompok yang mengkhususkan mere-ka pada tempat-tempat yang jelas di Jayapura atau Papua. Aktivitas7 Sarah (2008).114 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 113. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuapenggunaaan internet secara tidak langsung ikut mempengaruhijaringan sosial dan seksual mereka. Apalagi karena adanya kebi-asaan berbagi kontak dilakukan dan dimudahkan dengan tersedi-anya jaringan telepon seluler yang makin menjadi pemandanganumum di Papua, khususnya di Jayapura. Tampaknya penggunaanteknologi komunikasi menjadi satu kunci baru pada lanskap seksu-alitas yang tengah berubah-berubah di Jayapura, seperti fenomena-fenomena di perkotaan Indonesia lainnya. “Mereka ketemu lewat kenalan-kenalan yang kasih nomor- nomor kontak. Tukang ojek juga bisa jadi informan. Malahan beberapa bisa dirayu untuk main. Banyak orang yang saya tahu bagikan kontak HP ke orang lain. Orang yang dapat kontak baru biasanya langsung dihubungi sama orang lain. Kita nggak tahu itu dapat dari mana dan mereka tidak akan ngaku.” Terungkap bahwa internet telah berfungsi menjadi perantaralangsung maupun tidak langsung untuk mengikutsertakan kelom-pok-kelompok yang tidak menggunakan internet, kelompok yangberusia lebih tua. Jaringan seksual tradisional masih tetap hidupdan memiliki daya tarik yang tidak tergantikan oleh jaringan virtu-al, namun dengan adanya internet, keberadaannya justru diperkuatberkat akumulasi kontak yang sekarang bisa tersebar lebih cepatdan meluas. Jaringan seksual online yang maya ternyata telah pula men-jadi jembatan bagi pertemuan informasi-informasi mengenai sek-sualitas dan sarana tukar-menukar pengalaman individu-individusehingga tampak telah turut memfasilitasi tumbuhnya proses aku-mulasi identitas seksual yang diimajinasikan untuk tumbuh. Padabeberapa informan, homoseksualitas bukan lagi dipandang sebagaipersoalan sosial. Lewat medium ini beberapa dari mereka kemu-dian mengakui dapat belajar, sharing dan bertukar pikiran dengansesamanya dan dapat membentuk kelompok pertemanan LSL.Tidak semua melakukan hal tersebut, namun beberapa dari mer-eka mulai menganggap keberadaan forum seperti itu menentukankeputusan mereka. Berbagai situs yang dapat diakses, online chatting dan jejaringsosial seperti halnya facebook, MIRC, Manjam dan seterusnya, telahsemakin umum digunakan responden penelitian ini. Menariknya, Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 115
  • 114. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirresponden yang telah menggunakan situs internet dan dari latarbelakang lokal ini adalah mereka yang belum tentu mengetahui jar-ingan seksual tradisional. Artinya, masuk ke dalam jaringan mayaseolah suatu kebutuhan mengetahui keberadaan mereka dalamsense atas suatu komunitas. “Kalo di FB ‘kan kenalan dulu, dari SMS-an kelihatan, banyak teman chatting di Indonesia, bisa digunakan untuk curhat, masalah macam-macam dan bukan seks aja.” Pengguna internet dari Jayapura selanjutnya telah ikut me-nambahkan aspek lokalitas pada jejaring sosial media itu, denganmembentuk grup-grup mereka sendiri. Jaringan seperti ini diang-gap telah makin memperkuat identitas dan sedikit banyak mem-buka visi atas kemungkinan mereka untuk memahami LSL di luardikotomi maskulinitas-femininitas. Sejumlah kegiatan kemudianterbentuk, dilakukan bersama-sama dalam semangat identitas sek-sual yang sama. Upaya ini dianggap telah membantu mereka da-lam mengekspresikan diri melawan tekanan norma dan keluarga.Ketika penelitian ini dilakukan, ada tiga kelompok yang terbentukdan perekatnya masih berdasar pada latar belakang kepercayaan/agama, etnisitas atau latar belakang pendidikan/pekerjaan mereka.Tampaklah bahwa semakin mereka terlibat bersama-sama, secaratidak langsung keinginan-keinginan mereka semakin dapat terarti-kulasi. Antara kelompok yang satu dan yang lain pun tidak selalumemiliki keinginan untuk bersatu. Menarik dicermati bahwa iden-titas seksual yang terbentuk menjadi lebih kuat justru ketika unsurumum, seperti, kekeluargaan, pertemanan, dan ikatan etnis, turutdisematkan. Artinya, identitas seksual dalam kelompok LSL men-jadi kuat setelah simbol-simbol seperti itu diangkat. Memang terdapat upaya menyatukan kelompok-kelompokyang terbentuk menjadi satu organisasi yang lebih luas, yang dapatdikoordinir guna merespon epidemi HIV dan AIDS. Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi seperti PKBI danBKKBN sudah dimulai. Di antara mereka, ada yang aktif sebagaiaktivis sukarelawan (misalnya terlibat jasa penjangkauan), seka-lipun aktivis ini berasal dari kelompok pendatang. Meski demikian,hal ini menunjukkan bahwa di kota Jayapura sedang terjadi suatupenguatan identitas kolektif mereka, di mana akses internet telahmenjadi penghubung tibanya mereka pada identitas, seperti yang116 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 115. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuadicerminkan pada munculnya kebutuhan tergabung pada suatu ko-munitas. Untuk membuat kelompok yang lebih besar, tampaknyamasih akan lebih sulit, lagi-lagi karena persoalan keterbukaan iden-titas asli mereka yang harus dihindari. Satu responden mengatakanbila kegiatan-kegiatan hanya menekankan isu HIV, mereka tidakakan masuk. Alasannya adalah bahwa keterlibatan pada forum-fo-rum pertemuan seperti ini sering disalah-artikan dan diasosiasikandengan status HIV, sesuatu yang mereka harus hindari.Diskusi Dengan munculnya fenomena internet, perubahan-perubah-an terhadap identitas-identitas seksual tampaknya sedang berlang-sung, seperti tercermin dari riwayat kehidupan seksual dan pencar-ian identitas seksual responden. Perlu dinyatakan bahwa respondendengan latar belakang pendidikan tinggi dengan kehidupan yanglebih baik, mobilitas yang lebih tinggi, dan umumnya pendatang,telah menjadi agen bagi individu yang memiliki identitas nonhomo-seksual untuk pemahaman atas keberadaan identitas homoseksual,terutama dalam konteks urban Papua. Perkenalan dan penggunaansarana internet ini telah mengarah pada pembentukan identitaskolektif di luar jaringan maya dengan cara membentuk grup-gruppertemanan, meskipun masih kecil dan disesuaikan dengan karak-ter spesial, misalnya, dengan etnis atau kepercayaan yang sama. Kelompok yang dibentuk itu memiliki identitas kolektif danhidup dengan dinamis karena memadukan jaringan seksual danjaringan sosial tradisional. Di dalamnya, perasaan bersama, baikuntuk mencari pasangan seksual maupun tempat curhat, ditemu-kan. Ini memberi kebahagiaan tersendiri di luar tuntutan pencariankenikmatan seksual secara fisik. Keterikatan mereka satu sama lain, meskipun secara virtual,membuka suatu akumulasi pengalaman bersama yang dibagi diantara mereka untuk penguatan suatu identitas yang melahirkansense of belonging terhadap suatu komunitas lokal Papua, namundalam semangat globalisasi dan proses Indonesianisasi. Dalam ru-ang ini, mereka mencari kenyamanan guna memenuhi identitas ho-moseksualnya. Saat ini, tampaknya identitas homoseksualnya baruberlaku di dunia maya saja karena diketahui mereka akan kembalimasuk ke dalam identitas heteroseksual dalam kehidupan sehari-hari . Temuan memperlihatkan bahwa responden pendatang um- Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 117
  • 116. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirumnya memperlihatkan cerita-cerita riwayat seksualitas merekayang mengarah pada pembentukan identitas seksual yang lebihjelas dibandingkan dengan respondan lokal yang menganggap sekshanyalah untuk kesenangan semata dan dalam kerangka heterosek-sual, meskipun ada kelompok-kelompok yang sedang menuju padakesadaran identitas seksual mereka. Identitas seksual amat berhubungan dengan cara-cara indi-vidu memposisikan diri dalam masyarakat, juga berhubungan den-gan status umur dan pendidikan dan dari generasi mana mereka.Tidak terlalu terdeteksinya kelompok ini di Jayapura untuk kepent-ingan riset mengenai HIV adalah karena ketertutupan mereka danjuga tumpang tindihnya mereka dengan kelompok lain. Seperti tampak dari penelitian, selain kuatnya heteroseksu-alisme, kelompok ini cenderung memperlakukan identits seksualsecara cair, di mana identitas seksual mereka hampir tidak dikenaldengan pelabelan dibandingkan dengan kelompok-kelompok pen-datang yang kini menjadi bagian dari lanskap heterogenitas kotaini. Lebih jauh lagi, kecenderungan mereka memainkan multiiden-titas sesuai dengan kondisi membuat keberadaan mereka tertutupdan sulit terdeteksi. Mereka pada umumnya melihat persoalan gen-der, identitas dan perlakuan pada praktik seksual dengan pemaha-man mereka akan model budaya dan norma di mana laki-laki harusmenikah dan diharapkan memiliki anak sebagai penerus keluarga.Hal ini memberikan pengertian mengapa mereka melekatkan iden-titas sebagai heteroseksual di samping homoseksual. Gaya hidupdominan yang masih berlaku adalah penggunakan model perkaw-inan heteroseksual sebagai arti dari konsep sebagai laki-laki normaldalam rangka pemenuhan norma sosial dan tugas utama seoranglaki-laki. Oleh karenanya, identitas seksual tersebut dilakukan se-cara spontan, bukan sesuatu yang “full time”, yang dapat diinter-pretasikan sebagai upaya mereka menyiasati praktek seksualitas dihadapan heteroseksualisme. Dengan besarnya hegemoni heteroseksualisme dan kurangadanya sensitivitas terhadap kalangan minoritas seksual menyebab-kan pandangan masyarakat yang negatif terhadap homoseksuali-tas. Homoseksualitas dipandang sebagai sesuatu yang abnormaldan tidak dapat dibenarkan. Dalam perspektif ini, identitas laki-lakimasih ditempatkan sebagai entitas perpasangan heteroseksual yangbereproduksi. Oleh karenanya, homoseksualitas dalam masyarakat,dianggap berseberangan, bahkan lawan dari heteroseksualitas itu.118 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 117. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papua Diskursus-diskursus heteroseksualisme antara lain menya-takan seorang laki-laki dewasa akan dianggap sempurna bila da-pat memenuhi kewajiban melakukan perkawinan. Seseorang yangtidak memenuhi ukuran ideal tersebut akan dicap sebagai sesuatuyang tidak wajar, tidak normal, tidak selaras, mesti dihindari dankeluar dari kelaziman yang berlaku pada kelompok mayoritasheteroseksual. Anggapan bahwa pranata perkawinan merupakannilai absolut dan bagian dari norma utama heteroseksualisme, me-nyebabkan banyak kalangan homoseksual yang mengasumsikan-nya sebagai alat penyembuhan homoseksualitas mereka. Lebihjauh lagi, melakukan perkawinan dilihat sebagai strategi untukmenjaga stabilitas keluarga di mana mereka hidup. Kedudukan ke-luarga yang demikian sentral dalam hegemoni heteroseksualismemembawa LSL untuk menikah dan upaya ini dapat dilihat sebagaistrategi untuk menghindari tantangan-tantangan atas homonega-tivisme serta homofobia masyarakat mainstream. Karena identitas seksual mengacu pada interpretasi setiapindividu mengenai seberapa pentingnya praktik seksual dan peras-aan-perasaan yang diletakkannya, maka ada banyak variasi iden-titas seksual dalam konteks tersebut. Identitas seksual yang lebihjujur timbul dari pengalaman-pengalaman seksual setiap individuyang di antaranya membawa mereka pada pembentukan identitasseksual dalam konteks kelompok-kelompok. Dalam hal ini, tampakada proses-proses pentahapan lewat akumulasi pengalaman dalammengeksplorasi identitas seksual mereka. Tingkat pengalaman danperasaan dengan laki-laki ini menentukan sejauh mana keterlibatanmereka pada kelompok. Namun lebih jauh lagi, pengalaman hidup, seting budayaperkotaan dan kepentingan-kepentingan individu seperti yang tam-pak pada masyarakat lokal yang memiliki tingkat mobilitas yanglebih tinggi telah menunjukkan adanya keperluan untuk identitasseperti itu. Salah satu saluran yang mungkin tidak terbayangkansebelumnya adalah penggunaan jejaring internet dan media sosialyang kini menjadi bagian dari kehidupan LSL, baik pendatang mau-pun lokal. Globalisasi dan ekspos Papua yang demikian kuat dalamdekade terakhir telah menumbuhkan usaha-usaha dalam mencobamengeksplorasi kehidupan homoseksual yang lebih mandiri gunamembebaskan diri dari kuatnya hegemoni heteroseksual. Mereka inilah yang termasuk dalam upaya menuju pencari-an identitas seksual yang menantang hegemoni heteroseksualisme. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 119
  • 118. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah MunirMereka mencari cara untuk menumbuhkembangkan kekuatanbernegosiasi menuju pembentukan komunitas-komunitas merekayang lebih kuat. Proses negosiasi yang terus-menerus tersebut se-bagiannya adalah hasil dari penggunaan internet, terutama dalamkonteks urban Papua. Internet memberikan suatu impetus bagi di-namika pertumbuhan jaringan seksual maya yang bisa mengatasiperbedaan-perbedaan dan keterbatasan-keterbatasan sebelumnya.Bila individu-individu seperti ini semakin bertambah jumlahnya,maka stereotipe negatif atas homoseksualitas akan mendapatkanperlawanan dan tantangan karena kemunculan diskursus identitashomoseksual sebagai model. Tampaknya benar argumen bahwa riwayat seksual dan pen-galaman, serta perasaan yang timbul dari hubungan seksual dalamkonteks interaksi ikut ambil bagian dalam pembentukan identitasseksual seseorang yang dapat dilihat dari riwayat-riwayat seksu-al yang dimiliki tiap individu.8 Dengan semakin mereka terlibatlebih jauh pada kelompok-kelompok komunitasnya, identitas sek-sual makin muncul dan terartikulasi dengan baik. Pendeknya, kel-ompok-kelompok LSL dengan kesadaran seksualnya tampaknyasedang terbentuk dan menjadi satu agensi perubahan yang akanmengarah pada penguatan identitas seksual pada kelompok-kel-ompok LSL lainnya. Sebagai contoh, kontak-kontak yang didapatseseorang lewat online seringkali berpindah dan menyebar padakelompok yang tidak menggunakan jejaring maya itu, sekalipunyang sebagian besar dari kelompok lokal dan local-pendatang. Se-mua diterima sebagai bentuk solidaritas tradisional dan menum-buhkan dinamika baru jaringan sosial dan/atau seksual.Kesimpulan Adanya stigma dan diskriminasi terhadap kelompok LSL te-lah menyebabkan mereka melakukan aktivitas seksual secara ter-tutup. Mereka juga menghadapi kesulitan dalam membina hubun-gan dengan laki-laki. Mereka yang ketahuan akan dikuncilkan darikeluarga, gereja, dan masyarakatnya. Kuatnya heteroseksualismemenyebabkan identitas seksual menjadi sesuatu yang tidak dike-nal. Persepsi budaya lokal yang umum adalah laki-laki diharuskanmenikah, menjadi ayah bagi anak-anaknya. Hal ini menyebabkanadanya keharusan untuk mereka menikah dan menutupi rasa ket-8 Storer dan Sullivan, eds. (1999).120 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 119. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papuaertarikan mereka terhadap laki-laki. Pola umum yang terjadi seba-gai akibatnya adalah memiliki kehidupan yang ganda, meskipunmenikah dengan perempuan, mereka masih terus memiliki pasan-gan seksual laki-laki. Sekali lagi, peran tradisional laki-laki sebagai ayah dan figurdalam masyarakat telah menjadikan laki-laki sebagai subyek me-malukan bila diketahui memiliki kehidupan seks ganda denganlaki-laki lain di luar institusi perkawinan mereka yang sah, sehing-ga mereka melakukannya secara diam-diam dan tertutup. Karenaketertutupan dan kerahasiaannya, kehidupan seksualitas merekaberpotensi dan memiliki elemen perilaku seksual berisiko. Dengantingkat mobilitas yang tinggi, sebagai dampak dari model kehidu-pan perkotaan, telah membuat frekuensi pertemuan-pertemuanmereka untuk mencari pasangan seks yang berganti-ganti lebihdari satu orang dan terselubung lebih dimungkinkan. Aspek modernitas perkotaan Papua dari tradisional ke arahurban, mobilitas dan migrasi, seperti yang dijelaskan di atas, mem-perlihatkan adanya dinamika seksualitas yang lebih kompleks,yang memiliki kemungkinan-kemungkinan keterkaitan erat antarajaringan seksual dan kehidupan seksual yang berbeda pada kelom-pok laki-laki perkotaan, di mana kelompok LSL termasuk di da-lamnya. Pembedaan antara heteroseksual dan homoseksual puntampaknya sulit dibuat dengan jelas karena diketahui bahwa kel-ompok laki-laki heteroseksual itu, selain kadang berhubungan seksdengan waria dan LSL, juga berhubungan seks dengan pasanganperempuannya. Seting ini jelas sangat berbeda dengan seting ru-ral/pedesaan Papua, di mana adat-istiadat dan sanksi-sanksi sosialyang masih dikenakan telah menjadi penghalang terjadinya kasus-kasus promiskuitas dari kelompok laki-laki. Sebaliknya, berbagaivariasi seks dan orientasi seksual di luar pola seksual tradisionalsekarang lebih dikenal di kota. Eskpresi-ekspresi seksual yang be-ragam, termasuk seks imbalan/komersial yang dilakukan, baik dilokalisasi resmi maupun tidak (membeli seks di tempat-tempatseks terselubung, seks antri) antara ketiga sub-kelompok laki-laki(heteroseksual, LSL, dan waria) kini makin dikenal di dalam setingperkotaan, Kota Jayapura. Pada generasi LSL lokal Jayapura, terutama yang lebih terek-spos dengan aspek modernitas dan mobilitas, seperti yang tampakpada kontak-kontak dengan unsur pendatang dan teknologi, tam-pak lebih memungkinkan untuk lebih terbuka sehingga melahirkan Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 121
  • 120. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munirkesadaran akan identitas seksual. Kelompok ini cenderung merep-likasi komunitas yang ditemuinya lewat internet dan jejaring sosialmedia ke arah pembentukan komunitas dalam payung organisasiyang membela kepentingan-kepentingan mereka. Hal ini antaralain berguna bagi penyediaan layanan tidak saja mengenai kese-hatan dalam konteks penanggulangan HIV di kelompok berisiko,tetapi juga yang lebih penting untuk tuntutan-tuntutan kebutuhanmereka.ISKANDAR P. NUGRAHA: alumnus Universitas Indonesia danUniversity of New South Wales (UNSW) Sydney, Australia. Bekerjasebagai peneliti pada Department of Indonesian Studies di UNSWdan University of Sydney(1992-2008).MAIMUNAH MUNIR: Staf pengajar dan peneliti bidang genderdan seksualitas pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga,Surabaya. Tahun 2008 menyelesaikan gelar Master dari Universityof Sydney dengan tesis berjudul Indonesian Queer: Non-NormativeSexualities in Contemporary Indonesian Films.RUJUKANButt, L dan Morin J. 2007. Papuan Warian and HIV Risk. Inside Indonesia 94.Butt, L dan Eves R. (eds.). 2008. Making Sense of AIDS: Culture, Sexuality and Power in Melanesia. Honolulu: University of Hawaii Press.Centre for Development Studies Swansea. 2004. Participatory Ethnographic Evaluation and Research.Crossley, N. (2005) Key concepts in critical social theory. London: Sage.Departemen Kesehatan dan Biro Pusat Statistik. 2007. Situasi Perilaku Berisiko dan Prevalensi HIV di Tanah Papua. Jakarta: BPS.Departemen Kesehatan RI. 2004. Survei Perilaku di Kota Jayapura.Djoht, Djekky R. 2003. Waria Asli Papua dan Pendatang: Potensi Penularan HIV/AIDS di Papua (Studi Kasus di Sorong dan122 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 121. Dinamika Kehidupan Seksual Kelompok LSL di Jayapura Papua Abepura). Jurnal Antropologi Papua. Vol 1. No 3. Agustus 2003.Harrison, N. 2000. “Gay Affirmative Therapy: A Critical Analysis of the Literature’. British Journal of Guidance and Counseling. 28.Herdt, G. 1997. Same Sex Different Cultures: Exploring Gay and Lesbian Lives Boulder: Westview Press.Kompas. 2008. “Gubernur Papua Kampanyekan HIV/AIDS.” Kompas. 28 November.Morin J. 2001. Perilaku Seksual dalam Kebudayaan Suku di Kabupaten Nabire: Studi Cultural Epidemologi Mengenai Perilaku Seksual dan Penularan PMS dan HIV/AIDS Kasus Masyarakat Mee/Ekari. Jayapura: Universitas Cenderawasih._____. 2006. Gambaran Perilaku Seksual Umum Masyarakat Papua. Jayapura: Laboratorium Antropologi, Universitas Cenderawasih._____. 2006. Tinjauan Terhadap Hasil STHP pada Populasi Umum di Tanah Papua. Jayapura: Departemen Antropologi Universitas Cendrawasih. Makalah Tidak Diterbitkan.Morin J dan Mansoben. 2004. Studi Perilaku Seksual. Jayapura: Universitas Cenderawasih.Morrish, E. dan H. Sauntson. 2007. New Perspectives on Language and Sexual Identity. Palgrave: Basingstoke.Nugraha, I. 2007. “Underground and at Risk: Men who have sex with Men in Urban Papua.” Inside Indonesia. No. 94._____. 2008. “Inventing Papua.” Inside Indonesia No. 93._____. 2008. “MSM Internet: Jaringan Seksual di Papua.” dalam Indonesian Journal of Cultural Studies. 5 (10).Pusat Studi Kependudukan Uncen. 2006. Penilaian Cepat Hubungan Konsumsi Minuman Beralkohol dan Seksualitas di Kalangan Remaja usia 15-25 tahun di kota Jayapuradan Kabupaten Jayapura.Suparlan, P. 1994. Keanekaragaman Kebudayaan Papua: Strategi Pembangunan dan Transformasi Orang Papua ke Dalam Masyarakat Indonesia. Buletin Penduduk dan Pembangunan 5 (1-2).Storer, G., P.A. Jackson, dan G. Sullivan (eds.). 1999. “Rehearsing Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 123
  • 122. Iskandar P. Nugraha dan Maimunah Munir Gender and Sexuality in Modern Thailand: Masculinity and Male-male Sex Behaviours.” Lady Boys, Tom Boys, Rent Boys: Male and Female Homosexualities on Contemporary Thailand. Chiang Mai: Silkworm Books.Survei Terpadu HIV dan Perilaku di Tanah Papua (STHP), 2006.Vatsikopoulos, H. 2008. Papua in Peril. ABC News. 1 Maret.124 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 123. Ngerumpi: Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Munir Queer, Perlawanan Terhadap Mainstream, dan Tatapan ke DepanKalau Mbak Mai tidak keberatan, mari kita mulai dari latarbelakang sosial Mbak. Saya asli kelahiran Madura, anak keempat dari limabersaudara. Bapak dan ibu saya wiraswasta, lebih tepatnyapedagang kelontong. Bapak dan ibu saya berasal dari latar belakangyang sangat berbeda. Sekalipun keluarga ibu masih terhitung masihketurunan Sultan Cendana, Dipoanyar, Bangkalan, namun ibu sayalebih terasa berasal dari keluarga santri. Kakek saya dari ibu adalahkiai pengasuh sebuah pondok pesantren. Sementara, bapak sayaadalah keturunan bangsawan. Nama lengkap bapak saya dengangelar kebangsawanannya adalah Raden Muhammad Munir, karenaayahnya adalah seorang Raden Panji. Menurut saya, dua garis keturunan ini membawa konsekuensiyang sangat berbeda. Keluarga ibu cenderung ke pendidikanpesantren dengan mengabaikan pendidikan sekolahan. Sebaliknya,keluarga bapak sangat peduli dengan pendidikan formal. Bapak saya yang seorang raden dengan sadar membuang jauh-jauh kebangsawanan dari keluarganya. Bapak saya adalah lulusanIAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat beliau kuliah di Yogyakarta,beliau sangat terpengaruh oleh pemikiran modern Muhammadiyahyang sedang berada dalam puncak kejayaannya. Ketika bapak sayaselesai kuliah, bapak saya berjanji bahwa tidak boleh ada sesuatuyang bersifat feodal di keluarganya. Semua anaknya tidak diberigelar raden. Salah satu dari pengaruh Muhammadiyah itu adalahkeengganannya untuk ikut tahlilan. Ketika diajak tahlilan, bapaksaya selalu menolak. Memang, bapak saya saat itu justru melawantradisi-tradisi orang NU. Ini sangat berbeda dengan keluarga dariibu yang segala detail hidupnya sangat NU. Meskipun secara Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 125
  • 124. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Munirideologis sangat berbeda, tetapi tidak ada masalah yang seriusantara bapak dan ibu saya. Bapak saya memang identik dengan pemikiran Muhammadiyah,meskipun kemudian beliau mengkritisi pemikiran Muhammadiyahjuga. Bapak saya sendiri pernah dicurigai oleh warga kampung dimana kami tinggal sebagai agen Muhammadiyah karena memangtidak pernah ikut tahlilan. Bagi bapak saya, untuk berdoa sajamengapa harus membuat acara yang mengeluarkan biaya banyak,bahkan sampai harus berhutang. Mereka yang mengadakan acaraitu hutang di toko bapak saya, jadi beliau tahu itu. Orang yanghutang itu mengundang bapak untuk dijamu di acaranya. Jadi,ada semacam pemberontakan dalam batin bapak saya terhadaptradisi seperti ini. Bapak saya yang berasal dari keturunan Raden Panji inimemiliki perhatian tinggi terhadap pendidikan. Sementara keluargaibu saya, meski secara ekonomi lebih baik daripada keluarga bapaksaya, justru pendidikannya paling tinggi hanya paklik, adik laki-laki ibu, Malik Madani.1 Bapak saya diterima dengan sangat baikoleh Pak Malik ini. Pak Malik Madani ini adalah paman saya dariibu, tapi banyak yang menyangka beliau adalah kakak bapak saya. Bagi keluarga ibu saya, pendidikan tidak terlalu pentingkarena berasal dari keluarga pesantren. Kakek saya dari ibu adalahpedagang tembakau. Anak-anaknya diberi toko tembakau satu-satu. Itulah mengapa sekali pun berasal dari keluarga mampu, ibusaya hanya tamatan sekolah dasar.Lalu, siapa sih yang paling mempengaruhi latar belakang pendidikanMbak Mai? Keluarga dari bapaklah yang sangat mempengaruhi latarbelakang pendidikan saya. Di keluarga saya, pembagian wilayahkerja itu sudah sangat kentara. Bapak saya mengurusi segala haltentang pendidikan dan kehidupan sosial keluarga, sedang ibu sayamengurusi segala hal tentang kehidupan spiritual keluarga. Sayamasih ingat, sejak saya sekolah dasar, bapak saya sangat memantaupendidikan anak-anaknya. Bapak senang membaca buku sehinggasemenjak saya kecil, saya sudah mengenal majalah Tempo, Bobo,Hai, Kawanku, dll. Sejak kecil, saya dan kakak-kakak sudah tampak1 Dr. K.H. Malik Madani, MA. adalah Katib Aam PBNU dan doktor hukumIslam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.126 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 125. Ngerumpiperbedaan orientasi pendidikan dibanding dengan keluarga yanglain. Kualitas bacaan kami juga sudah berbeda. Saya, misalnya, sejakkecil sudah membaca majalah Hai, sekali pun itu bukan bacaan bagianak-anak.Mbak Maimunah sekolah di sekolah umum apa agama? Mulai pagi sampai pukul satu siang, saya belajar di sekolahumum, tetapi oleh bapak, saya juga didaftarkan ke madrasah yangmerupakan sekolah dasar agama, di mana jam masuknya antarapukul satu siang sampai sore hari. Jadi, sejak kecil saya juga terdidikdengan pendidikan agama. Saya diajari menulis Arab, seni baca al-Qur’an atau yang biasa disebut qira’ah. Lalu, setelah jam enam sore,saya mengaji. Saya baru bisa belajar untuk mata pelajaran sekolahdi waktu subuh. Aktivitas seperti itu terjadi sampai saya kelas enamSD. Setelah lulus SD, saya bersekolah di SMP Negeri Bangkalan I,kemudian ke SMA Negeri Bangkalan I. Sewaktu masuk SMP, sayatidak lagi sekolah di madrasah karena setiap hari saya harus pulang-pergi ke sekolah dari rumah. Rumah saya di luar kota Bangkalan,tepatnya di Tanah Merah. Sekali pun demikian, mengaji masih terusberjalan karena dilakukan di malam hari. Di dalam pendidikanmengaji saya itu, saya diajari tentang apa itu perempuan, bagaimanamenjadi perempuan yang baik, etika kehidupan sosial, dll. Padasaat ngaji itulah saya mendapatkan pengetahuan-pengetahuandasar Islam. Selepas dari SMA, saya melanjutkan pendidikan keUGM mengambil sastra Perancis, kemudian S2 ilmu sastra di UI.Selepas UI, saya kuliah S2 lagi di University of Sydney, Australia.Saya tertarik dengan Mbak Mai karena dengan latar belakangkeluarga yang sangat agamis, Mbak Mai tertarik pada isu-isuqueer sebagai concern akademik. Saya melihat queer itu bukan sebagai sesuatu yang terlarang.Saya ingin mengawali dengan pengalaman saya tentang sesuatuyang dianggap pinggir, non-mainstream, karena queer itu kan non-mainstream. Sebagai mahasiswa sastra Perancis, di UGM, sayameneliti sastra Maroko saat semua skripsi mahasiswa di fakultassaya hampir selalu mengacu kepada sastra-sastra Perancis.Sementara, sastra yang ditulis dalam bahasa Perancis di negara-negara Islam bekas jajahan Perancis, atau yang kita kenal dengansastra maghreb, tidak pernah dibahas oleh mahasiswa lainnya.Padahal, para pengarang itu menulis karyanya dalam bahasa Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 127
  • 126. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah MunirPerancis. Saya kemudian menghubungi Kedutaan Besar Maroko diJakarta. Saya mendapatkan support data yang cukup untuk menulisskripsi tentang sastra Maroko. Langkah saya itu kemudian menjadiawal bagi mahasiswa lain untuk menulis skripsi tentang sastramaghreb, sastra-sastra dari Tunisia, Aljazair, dll. Saya menulis skripsi tentang sastra karya Tahar Ben Jelloun.Kebetulan, beberapa waktu lalu, sang penulis datang ke Indonesia.Novelnya berjudul Malam Keramat. Dia mengkritik mengapaperempuan mendapatkan bagian waris lebih kecil daripada laki-laki. Di dalamnya, dikisahkan seorang bapak yang menjadikananak perempuannya sebagai laki-laki agar harta warisannya tidakjatuh ke tangan pamannya. Novel ini mendapatkan penghargaandi Perancis. Dari sini semakin menyadarkan saya ada sesuatu yangmenantang pada apa yang berada di pinggiran. Ada sesuatu yangkhas dalam sastra-sastra Islam dengan background dualisme budayaMaroko. Maroko dibentuk dengan dualisme kebudayaannya, yangpertama adalah budaya Islam dan kedua adalah budaya Prancis. Lalu, ketika saya di UI, kembali saya tertarik pada sesuatuyang tidak dihiraukan orang. Di UI, saya menulis tesis tentangsastra Melayu yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa, di bawahbimbingan Ibu Melani. Saya menemukan ada tiga macam penulissastra Melayu: penulis Belanda, penulis pribumi, dan penulisperanakan. Penulis yang sangat pro terhadap pribumi itu adalahHerman Cromer, penulis Belanda. Penulis pribumi dan peranakanjustru enggan menulis tentang keadaan pribumi. Dari situsaya menarik kesimpulan bahwa ras pribumi belum tentu maumelakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Justru orang lain,penulis Belanda, yang menuliskan segala bentuk penghisapan danpenindasan yang berdampak buruk bagi pribumi. Ketika ke Sydney, saya mengambil studi tentang film. Awal-nya, saya mau melanjutkan tema tesis saya di UI itu. Tetapi, profe-sor saya di sana berkata bahwa tema tesis saya itu sedang ditulisoleh Ariel Heryanto. Ariel sedang menulis tentang film-film yangsaya siapkan untuk tesis saya di Sydney. Saya ditanya oleh profesorsaya tentang film apa saja yang saya bawa, saya menjawab bahwasaya juga membawa film-film queer Indonesia. Itulah sesungguhnyatitik awal saya mulai serius melakukan studi tentang queer.128 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 127. NgerumpiBisa nggak Mbak Mai menceritakan tesis Mbak di University ofSydney tentang film queer Indonesia? Dulu kan film yang mengangkat homoseksualitas hampirtidak ada. Ada sih, seperti Istana Kecantikan atau Titian RambutDibelah Tujuh, tapi film-film itu memotret homoseksualitas dengansangat samar. Yang paling terlihat hanya di film Istana Kecantikan,tetapi film itu sangat dipenuhi dengan homofobia. Tapi setelahSoeharto lengser, muncul film Arisan di mana homoseksualitasdiangkat dengan sangat bagus. Hebatnya lagi, film itu booming.Sejak itu, muncul film-film dengan tema yang sama.Menurut Mbak Mai, apa sih yang menyebabkan topik tentang queermuncul begitu pesat di ruang-ruang publik pasca-Orde Baru? Menurut saya, itu bukan hanya karena urusan pergantianrezim saja. Ada fenomena yang lebih mendalam lagi yang menjadifaktor mengapa queer begitu pesat tumbuh di ruang publik setelahrezim Orde Baru. Pasca-Orde Baru, orang-orang lebih beranimemunculkan wacana-wacana baru di ruang publik. Ditambah lagi,banyak anak muda yang baru pulang dari luar negeri membawawacana-wacana baru dan berani menampilkannya. Sebetulnya,banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Ada keberanianyang muncul yang menggugat hal-hal yang selama tiga puluh tahundilarang dan ditekan oleh rezim. Begitu rezim runtuh, suara-suaraperlawanan itu muncul. Saya rasa, keberanian itulah kuncinya.Banyak kalangan yang melihat adanya keterkaitan yang erat antaraorientasi seksual dan identitas gender seseorang dengan identitasdan hak-hak kewarganegaraan. Menurut Mbak Mai, adakahfenomena booming isu queer di wilayah publik pasca-Orde Baruterkait dengan perlawanan masyarakat untuk memperoleh hak-haknya secara penuh sebagai warga negara? Saya tidak mengamati secara spesifik tentang masalahini. Tapi isu seksualitas tetap menjadi isu sensitif terkait denganpenilaian baik-buruk seseorang dalam konteks keberadaannyasebagai warga negara. Misalnya, sempat beredar sms gelap yangmenyatakan bahwa Presiden SBY adalah seorang gay. Tuduhandalam sms tersebut membuat SBY marah. Hal ini menunjukkanbahwa orientasi seksual nonhetero adalah sebuah aib menyangkutkewarganegaraan seseorang, apalagi jika hal itu menyangkutseorang warga negara yang dianggap sangat terhormat seperti Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 129
  • 128. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Munirseorang presiden. Menurut saya, berakhirnya rezim Orde Baru melahirkan duahal yang saling berlawanan. Di satu sisi, mulai terbukanya isu-isu queer di ruang publik, tetapi di sisi lain ada berkembangnyakelompok-kelompok ekstrim, misalnya, di Aceh ada PerdaSyariah, di mana homoseksualitas dianggap sebagai kriminal, lalupembubaran konferensi ILGA (International Lesbian, Gay and TransAssociation) Asia di Surabaya,2 dsb. Jadi, ada gerakan yang semakinterbuka, namun ada juga lembaga sosial atau ormas yang semakinekstrim, di mana dua arus ini bergerak berlawanan. Satu kelompokmengarah kepada isu-isu mutakhir yang lebih terbuka terhadaphak-hak LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks,dan queer), sedangkan kelompok lain sangat resisten terhadap isu-isu tersebut. Pengalaman saya pribadi, saya merasa semakin bebas bicarasoal queer. Mahasiswa menerima hal itu. Setidaknya di duniaakademis, situasinya menjadi lebih terbuka.Lepas dari ketertarikan akademik, apakah Mbak Mai memilikipemaknaan tertentu atas queer? Saya tidak tahu apakah karena memang sejak S1 studi sayasudah mengambil semangat non-mainstream, tetapi bagi saya, orangmau menjadi apapun itu terserah yang menjalani. Mau menjadigay ataukah lesbian, saya rasa itu terserah mereka. Teman-temansaya protes kepada saya, mengapa harus tema queer yang diangkat.Menurut saya, tema-tema queer semestinya memiliki kesempatandan tempat yang sama untuk diangkat dalam studi sebagaimanatema-tema mainstream lainnya. Di samping itu, menurut saya, nasib kelompok homosekssangat terabaikan jika tidak bisa dikatakan disingkirkan, sejak masaOrde Baru. Saya tidak tahu apakah ini disebut sebagai keberpihakan2 Pada 26-27, ILGA Asia menggelar konferensi. Acara ini dilaksanakan dihotel Oval Surabaya. Awalnya, acara konferensi ini akan diselenggarakan di hotelMercure, tapi kemudian berpindah ke hotel Oval karena mendapatkan ancamandari kelompok Islam radikal yang menamakan dirinya FUI (Forum Umat Islam)Jawa Timur. Akhirnya, acara konferensi tidak jadi dilaksanakan karena pada hariH, FUI dan beberapa kelompok Islam radikal lain menyerang panitia dan peserta dilokasi konferensi. Mereka meminta agar acara dibubarkan. Aparat keamanan yangada di lokasi kejadian membiarkan kekerasan berlangsung dan tidak mengambiltindakan untuk mengamankan panitia dan peserta dari serangan.130 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 129. Ngerumpiatau apa, mungkin juga tidak. Saya berangkat dari keprihatinanmengapa topik ini jarang dibahas. Saya pernah membuat makalahdi UI tentang representesasi homoseksual dalam novel Herlinatiensyang berkisah tentang kehidupan seorang lesbian.3 Dosen saya diUI bilang, mengapa makalah ini tidak dijadikan sebagai tesis. Tesistentang lesbianisme itu belum ada. Tetapi, waktu itu, saya lebihtertarik untuk membahas tentang sastra Melayu-Tionghoa. Jadi,pada awalnya saya tidak berekspektasi jika topik ini perlu dibelaatau diperjuangkan. Ketika kemudian saya mengangkat tema queer,pada awalnya karena saya melihat bahwa secara akademik topik initidak pernah dibahas.Apakah concern studi Mbak Mai tentang queer ini mempunyaimakna tersendiri bagi Mbak Mai pribadi? Mungkin iya. Misalnya, saya melakukan penelitian diPapua. Banyak orang bertanya, mengapa orang berjilbab maubergaul dengan waria dan homoseks di Papua. Saya sebenarnyaingin menyampaikan pesan kepada orang-orang Islam yangmasih homofobia bahwa tidak masalah sebenarnya orang Islamyang berjilbab mengkaji sesuatu yang oleh umum dianggap tabu.Tabu ini kan sebetulnya queer. Bagi saya sendiri, itu adalah prosespembelajaran. Saya sekarang tertarik dengan “swinger”, orang yangsuka tukar-menukar pasangan. Coba kita sekarang searching diGoogle dan ketik keyword “pasutri,” yang akan muncul adalah nama-nama pasangan suami-istri yang ingin menukarkan pasangannya.Apa yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini? Bagaimanamereka memahami seks yang bersih? Itu kan menurut saya sebuahgejala yang saat ini secara luas bisa diakses dengan mudah. Perludiketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kelas menengahke atas. Maksud saya, dalam masyarakat kita ini, banyak hal yangkita tidak tahu. Ada seorang Muslimah taat yang tertular HIV olehsuaminya sendiri, padahal karakter suaminya ini tertutup sepertiorang-orang Muslim fundamentalis itu, berjenggot, dengan jidatberwarna hitam karena sering shalat, menggunakan baju gamis,dan celana cingkrang. Ini membuka pemikiran saya bahwa orangyang tampak alim itu tidak selalu memiliki kehidupan seksual3 Herlinatiens (Herlina Tien Suhesti) adalah seorang sastrawan kelahiranNgawi, 26 April 1982. Novel pertamanya adalah Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel inimenjadi bestseller dan mengangkat namanya dalam jajaran sastrawan di tanah air. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 131
  • 130. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Muniryang bersih. Saya sebenarnya banyak dikritik mengapa jilbaban kok pene-litiannya seperti itu. Bagi saya, mau jilbaban atau tidak, yang harusdinilai adalah perbuatannya.Semangat teori queer itu seperti apa sih, Mbak? Teori queer itu sebenarnya merefleksi gay and lesbian studies.Gay and lesbian studies itu mengacu pada teori strukturalisme.Kemudian, muncul teori postmodernisme dengan tokoh-tokohnya seperti Derrida dan Foucault. Nah, sejak munculnyateori postmodern ini, muncul pula teori yang bernama queer. Gayand lesbian studies itu dipelopori oleh peristiwa Stonewall4 yangmemunculkan Gay and Lesbian Movement. Di dalam konsep Gayand Lesbian Movement ini, belum muncul istilah waria. Hanya adadua jenis saja, yaitu gay dan lesbian. Lalu, pertanyaannya adalahbagaimana posisi waria, interseks, dan yang lain-lain? Tidak adajawaban di situ. Jika kita melihat film Kinsey, di situ kan hanyadijelaskan tentang homoseksual eksklusif, heteroseksual iksklusif,dan posisi in between. Sementara, waria dan interseks tidak ada. Nah, teori queer itu dimunculkan untuk merevisi konsepitu. Gay dan lesbian oleh banyak kalangan dianggap sebagai gayahidup Barat. Konsep ini semata-mata merujuk ke Barat sehinggayang lokal, seperti waria, tidak mendapatkan tempat. Mereka tidakpernah jelas kotaknya dalam gay and lesbian studies. Teori queer itumencoba mengakomodasi hal tersebut. Misalnya, di Papua NewGuinea ada ritus inisiasi sperma dari orang-orang yang sudah tuaatau orang-orang yang sudah dewasa.5 Ini kan tidak ada dalamgay and lesbian studies. Jika gay studies masih terjebak pada oposisibiner homo dan hetero saja, tetapi queer menjadi sebuah payungdari apapun yang tidak masuk kategori normal, di mana normal4 Stonewall adalah peristiwa demonstrasi kelompok homoseks melawanrazia polisi di Stonewall Inn, di wilayah Greenwich, berdekatan dengan New YorkCity. Peristiwa yang terjadi pada 28 Juni 1969 ini seringkali dirujuk sebagai titik awalgerakan komunitas homoseks melawan sistem pemerintahan yang memberangusminoritas seksual. Peristiwa ini menandai awal dari apa yang disebut dengan gayrights movement di Amerika Serikat dan di dunia.5 Pada beberapa suku di Papua dan New Guinea terdapat ritus inisiasi yangmelibatkan hubungan genito-oral dan genito-anal antara remaja dan laki-laki dewasa.Alasan dibalik ritus ini adalah dalam rangka melengkapi dualisme kosmologis atausarana untuk membantu remaja laki-laki mencapai maskulinitasnya.132 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 131. Ngerumpiini adalah mainstream. Saya menjadi queer karena saya tidak normalmenurut ukuran mainstream, karena sebagai perempuan yangsudah seusia ini, saya belum kawin. Queer itu menjadi sangat luasdaya cakupnya. Queer juga bisa disematkan pada janda karenaseorang janda dianggap tidak bisa meng-confirm atau memenuhiheterosexual expectation. Ada norma-norma yang harus dipenuhimenurut masyarakat. Ketika kita tidak dapat memenuhi norma-norma tuntutan masyarakat tersebut, kita bisa dikategorikansebagai queer. Memang, ada yang mengkritik bahwa queer itu sangat naifkarena rakus. Semua kategori yang tidak normal bisa masuk dalamqueer. Karena sangat cair seperti itu, banyak yang menganggapbahwa queer itu tidak memiliki landasan yang cukup kokoh.Banyak juga kalangan feminis yang curiga terhadap queer ini.Banyak kalangan feminis yang melihat teori queer menghancurkanperjuangan perempuan. Kaum feminis merasa sudah berjuanguntuk mengangkat posisi perempuan di depan laki-laki. Perjuanganitu sangat panjang. Tiba-tiba queer hadir dan menghapus semangatperjuangan kaum feminis yang dibangun di atas konsep hubunganoposisional antara laki-laki dan perempuan, di mana yang pertamamenindas yang terakhir. Queer meleburkan itu semua karena iabisa dipakai oleh perempuan, laki-laki, waria, atau siapapun. Queerdianggap sebagai netral gender. Inilah yang dianggap kalanganfeminis bisa membahayakan perjuangan perempuan yang dibangundi atas konsep gender. Tapi menurut saya, justru itu kehebatanqueer.Begitu kita mengangkat waria sebagai contoh dalam menggambar-kan teori queer sebagai koreksi atas gay and lesbian studies, kitasesungguhnya mulai memasukkan isu gender dalam studi-studiseksualitas. Sejauh mana sih waria sebagai kategori ini mampumenjembatani studi-studi tentang gender dengan seksualitas? Waria itu menarik memang. Pak Dédé 6 selalu mengingatkan6 Dédé Oetomo adalah salah seorang pendiri dan aktivis Lambda Indonesia(1982), organisasi gay pertama di Indonesia. Dia juga pendiri dan aktivis GAYaNUSANTARA (1987), organisasi gay pelanjut organisasi yang pertama. Dia diakuisebagai tokoh utama dalam gerakan gay di Indonesia. Tahun 1998, dia mendapatkanFelipa de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commission,dan pada 2001, dia mendapat Utopia Award for Pioneering Gay Work in Asia. Saat ini,di samping menjadi Ketua Dewan Pembina pada Yayasan GAYa NUSANTARA, Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 133
  • 132. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Munirkepada saya bahwa waria itu sebenarnya adalah identitas gender.Tetapi jika dalam konteks HIV, waria tidak dibahas dalam situasiseperti itu. Dalam konteks HIV, waria tidak dibahas dalamperspektif identitas gendernya, tapi perilaku seksualnya yangmasuk dalam kotak LSL (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki) karena tujuan pembahasannya adalah kesehatan. Itu semuatergantung pada sudut pandang kita dalam membahas waria. Jikatujuannya adalah untuk kesehatan, maka yang harus dinilai adalahperilaku seksual dari waria itu. Jadi, membicarakan waria dengansendirinya kita membicarakan dua hal sekaligus, aspek gendernyadan seksualitasnya. Yang menarik lagi, pasangan waria itu belum ada namanyadan belum ada studinya. Biasanya, pasangan waria itu dikategori-kan sebagai heteroseks. Padahal, dia bisa dengan waria yang kalaudilihat dari sisi seksnya adalah jantan, tapi pasangan waria ini bisajuga berhubungan seks dengan perempuan. Lalu apa sebutan yangpantas untuk pasangan waria? Queer bisa mengakomodasi itu semua. Waria dan pasangan-nya ini tidak fit dengan norma masyarakat yang ada. Menurut saya,bukan hanya waria yang menarik, tetapi pasangan dari waria inijuga menarik untuk dibahas.Dengan menyadari cakupan teori queer dan berbagai konsekuensinya,menurut Mbak Mai, bagaimana seharusnya gerakan feminismeberhubungan dengan gerakan yang menaruh perhatian pada isuorientasi seksual dan identitas gender? Saya pernah wawancara dengan Ketua KPI (KomisiPerempuan Indonesia) di Yogyakarta. Pada waktu itu, dia menjelaskanpada saya bahwa ada satu seksi yang khusus menangani isu-isulesbianisme. Menurutnya, di dalam KPI ada perwakilan komunitaslesbian. Ada beberapa LSM yang masuk ke dalam KPI. Beberapateman juga mengatakan kepada saya bahwa ada orang-orang yangmelabeli dirinya lesbian masuk ke dalam KPI. Jadi menurut saya,mulai ada hubungan antara gerakan perempuan dengan isu-isuLGBTIQ. Lepas dari itu semua, saya setuju bahwa gerakan perempuanbelum sangat aware atau peduli dengan isu-isu SOGI (sexualdia juga mengajar di FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Universitar Surabaya,dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.134 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 133. Ngerumpiorientastion and gender identity). Sebenarnya, bagi orang-orang yangmelakukan studi queer, mereka harus punya keterbukaan. Kalanganfeminis dengan mereka yang bergerak di isu sexual orientation dangender identity harus bisa saling bekerja sama untuk menjadikanini sebagai isu bersama. Inilah yang saya katakan di atas sebagaikelebihan teori queer, yaitu memungkinkan semua yang tidakmasuk dalam mainstream untuk bertemu.Apa yang Mbak bayangkan tentang arah studi queer di Indonesiake depan? Dalam ruang lingkup yang kecil saja, di Fakultas Ilmu BudayaUniversitas Airlangga (Unair) Surabaya, tempat saya mengajar,akhir-akhir ini yang mengambil mata kuliah queer semakin banyak.Kalau sudah sidang skripsi, dosen penguji sering “protes” kepadasaya, “Gara-gara kamu ini Mai, jadi banyak mahasiswa yang menulisskripsi queer.” Saya melihat bahwa generasi muda saat ini sudahsemakin terbuka. Ada seorang mahasiswa yang mengambil studiqueer karena alasan bahwa teman-temannya banyak yang gay. Jadi,mahasiswa sekarang membicarakan hal tersebut dengan suasanaterbuka. Saya senang dengan Pak Dédé [Oetomo] karena studi inidibawa kepada hal-hal yang riil. Misalnya, para mahasiswa diajakke Pattaya,7 Dolly,8 Irba9, dll., sehingga persoalan gender dan seks7 Pattaya adalah sebuah nama yang populer sebagai salah satu tempatkumpulnya komunitas gay Surabaya di malam hari. Apa yang disebut Pattayasesungguhnya adalah Jl. Kangean Surabaya yang berada di pinggir Kali Mas.Karena lokasinya di pinggir kali inilah maka komunitas gay Surabaya menamainyadengan Pattaya, mengacu pada lokasi wisata pantai di Thailanda yang jugamenjadi favorit komunitas gay di sana. Jl. Kangean ini hanyalah sebuah jogingtrack sehingga tak heran jika kebanyakan yang berlalu di jalan ini adalah parapejalan kaki dan pengendara sepeda atau motor. Kalau malam, lokasi Pattayahanya diterangi oleh lampu temaram di beberapa bagian, sehingga secara umumsituasinya adalah remang-remang. Lokasi Pattaya sangat strategis karena dekatPlasa Surabaya, salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota Surabaya.8 Dolly atau Gang Dolly adalah sebuah kawasan lokalisasi pelacuran diSurabaya yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang. Nama Dolly merujuk padaTante Dolly, seorang perempuan keturunan Belanda yang dulu mengelola lokalisasidi kawasan itu pada saat Belanda menguasai Surabaya. Lokalisasi Dolly diperkirakanadalah lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara.9 Irba atau Jl. Irian Barat adalah salah satu tempat mangkal (mejeng) wariaSurabaya di malam hari. Lokasinya tepat berada di ujung selatan Jl. Kangean(Pattaya). Sebagaimana Pattaya, Jl. Irian Barat juga hanyalah sebuah joging track Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 135
  • 134. Ahmad Zainul Hamdi dengan Maimunah Muniritu menjadi sangat hidup. Misalnya, mengapa perempuan di Dollyitu menjadi pekerja seks. Mereka akan tahu bahwa persoalannyabukan semata-mata seksual, tetapi ada juga persoalan ekonomi.Dengan melihat itu semua, penghakiman hitam-putih seperti halal-haram atau benar-salah menjadi semakin cair. Arah pendidikan ini sebenarnya lebih ke praktis. Persoalanqueer bukan hanya bicara tentang homoseksualitas saja, tetapi jugapersoalan waria dan sebagainya. Bahwa ini adalah realita sosial yangdipengaruhi oleh bidang-bidang lain, misalnya, katerkaitan kondisiekonomi, psikologi, dll. Ketika ada seminar di Jakarta, ditemukanbahwa sebenarnya uang yang dihasilkan dari Dolly itu ada yangmasuk ke sakunya tentara, sakunya pejabat, dll. Oleh karena itu,maka seksualitas sebagai wacana itu harus dilihat dalam lingkupyang sangat luas.Saya ingin sedikit kembali ke kehidupan pribadi Mbak Mai.Pernahkah Mbak Mai dianggap sebagai lesbian? Banyak orang yang melabeli diri saya sebagai lesbian, tetapiitu tidak masalah bagi saya. Saya sama sekali tidak menganggapbahwa gay atau lesbian itu sebagai sesuatu yang buruk bagi saya,sekalipun saya bukan seorang lesbian. Saya juga merasa tidak harusmengaku-ngaku yang bukan saya. Saya tidak mengaku lesbiankarena memang saya bukan. Saya enjoy dengan situasi saya sepertiini, dan saya tidak merasa terancam jika ada yang melabeli sebagailesbian.Jika banyak pihak yang mempersoalkan keislaman Mbak Maikarena Mbak Mai concern dengan isu-isu queer, bagaimana den-gan penerimaan keluarga Mbak Mai sendiri? Itulah yang saya syukuri, saya merasa tidak banyak orang tuaseperti orang tua saya. Saya yang belum menikah ini tidak pernahmerasa tertekan di keluarga saya. Apalagi, kakak saya juga belummenikah. Jadi, kalau saya ditanya oleh kerabat saya tentang kapanmenikah, saya biasanya menanggapinya dengan berkelakar bahwayang seharusnya ditanya adalah kakak saya dahulu. Dulu yangsering bertanya adalah Pak Malik Madani karena anak-anak beliaurata-rata menikah di usia 25 tahun. Tapi karena ada beberapa yangyang sepi dan kalau malam hanya diterangi oleh lampu temaram di beberapatempat136 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 135. Ngerumpiberpisah dengan pasangannya, maka Pak Malik Madani menjadilebih toleran dengan situasi seperti itu. Saya melihat bahwa belummenikah di usia saya itu bukan situasi yang memalukan. Saya pernah pulang membawa teman dari Australia denganpacarnya orang Padang. Teman saya dari Australia itu seorang gay.Bapak saya bertanya ke saya, “Yang bule itu kamarnya di mana?,”Saya jawab, “Tidak masalah mau ditempatkan di mana, Pak,karena dia itu gay.” Bapak saya bertanya, “Orang dua itu ‘suami-istri’?,” Saya jawab, “Ya”. Mendengar jawaban saya, ekspresi bapaksaya biasa saja. Bapak dan ibu saya sangat percaya kepada sayasehingga mereka tidak pernah mengintervensi kehidupan pribadisaya. Bahkan ketika saya mau ke Belanda, bapak dan ibu saya jugamendukung hal tersebut.Bagaimana dengan pengalaman Mbak Mai di dunia akademis? Beberapa mahasiswa saya berpenampilan “aneh” bilangkepada saya bahwa dia tertarik melakukan studi queer. Sayamerekomendasi mereka untuk bertemu Pak Dédé [Oetomo]. Merekasangat bersemangat. Tetapi, ada juga dosen-dosen senior yangprotes kepada saya, “Sebenarnya queer itu mata kuliah apa sih?”Saya menjelaskan, “Begini Pak, dalam konsep hak asasi manusia,queer itu mengakomodasi orang-orang yang memiliki orientasi seksyang berbeda untuk berbicara.” Memang, saya melihat bahwa banyak orang melihat queersebagai kotak akademik, bukan dalam kehidupan nyata. Beberapaorang yang mengambil tema queer sebagai subyek akademisnyasering tidak bisa lepas dari persoalan teori-teori saja. Jarang adayang kemudian mengaplikasikannya dalam realita.Mbak Mai sendiri menyikapi hal ini bagaimana? Ya, memang ada benarnya. Misalnya, teori queer, yang kitalihat kan memang hanya queer dalam karya sastra, dalam sebuahfilm. Tapi, itu seharusnya bisa menjadi jalan masuk bagi sebuahideologi. Biarkan ideologi orang terbuka terlebih dahulu untukmenerima itu. Saya melihat, studi S1 memang masih melihat queerhanya dalam perspektif karya sastra, tapi kalau sudah ke jenjangberikutnya, pasti sudah menginjak pada fakta di lapangan. Kitasudah mulai mengenal Pattaya, Dolly, Irba, dll. Saya sebagaiakademisi hanya bisa membuka pengetahuan orang lain saja.Menumbuhkan pengetahuan orang lain itu adalah bagian dari Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 137
  • 136. perjuangan ideologi.Apakah dengan itu Mbak Mai membayangkan bahwa maha-siswa-mahasiswa yang mengambil studi queer itu akan terlibatdalam isu-isu LGBT secara nyata? Saya kira iya. Seberapa jauh mereka terlibat, itu kasuistik.Misalnya begini, saya membedakan mahasiswa sastra Inggris difakultas saya dengan mahasiswa lain yang belum mendapatkanmateri queer. Pada mahasiswa sastra Inggris, saya mengajarkananalisis cerpen dengan perspektif queer, dan itu diterima denganbaik. Tetapi, jika saya mengajarkannya pada mahasiswa lain yangbelum mengenal teori queer, pasti responsnya berbeda. Yang sayaharapkan pada mahasiswa adalah mereka dapat terbuka. Dan,itulah salah satu semangat dari teori queer.[]138 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 137. Resensi Buku Michael G. Peletz, Gender Pluralism: Southeast Asia Since EarlyModern Times. New York & London: Routledge, 2009, ix + 339 hal. ISBN 978-0-415-93161-8. Kathleen Azali Asia Tenggara telah lama dikenal memiliki, mengakui, danmelegitimasi tradisi gender dan seksualitas yang lebih beragamdan pluralistik daripada belahan dunia lainnya. Bukti-bukti sejarahdan etnografis menunjukkan bahwa praktik-praktik dan identitastransgender, serta berbagai macam seksualitas nonheteronormatif,mempunyai sejarah yang panjang dan terhormat di Asia Tenggaradan wilayah Asia-Pasifik secara keseluruhan. Namun dalam tigahingga empat abad terakhir, pluralisme gender ini mengalami ban-yak penyempitan dan erosi legitimasi. Gender Pluralism: Southeast Asia Since Early Modern Timessecara khusus menyajikan dan mengulas sejarah dan dinamikapluralisme gender dan seksualitas di Asia Tenggara sejak zamanmodern awal (sekitar abad ke-15 dan ke-16) hingga awal abad ke-21.Dibagi menjadi lima bab dengan tambahan epilog, di bab pertama,Peletz memberi pengantar latar belakang, metodologi, dan susunanbuku, sementara bab-bab berikutnya ditata berdasarkan periodekronologis untuk menjabarkan bagaimana pluralisme gendermengalami perkembangan atau penyempitan, serta situasi dankondisi seperti apa yang mendukung proses-prosesnya. WilayahAsia Tenggara di sini dibatasi berdasarkan perbatasan geopolitiszaman sekarang (kecuali Tanah Papua), ditambah dengan sedikitmembahas studi kasus diaspora dan transnasional orang-orangAsia Tenggara di Amerika dalam bab penutup. Sebagai kerangkainterpretasi, Peletz menggunakan peran transgender sebagailensa kritis untuk menganalisis pluralisme gender. Menurutnya,perubahan-perubahan situasi dan kondisi transgenderismemenandai proses dalam berbagai domain analitik dan budaya yang Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 139
  • 138. saling berkaitan di Asia Tenggara. Peletz menggunakan konsep “pluralisme gender” untukmerujuk pada pluralisme dalam area atau domain bergender,yang mengindikasikan “sensibilitas pluralistik dalam hal-hal yangberhubungan dengan praktik...dan hasrat badani, begitu puladengan peran sosial, hubungan seksual, dan hal-hal lain yangsecara keseluruhan berhubungan dengan konsepsi sosial mengenaifemininitas, maskulinitas, androgini, hermafroditisme, dan lainsebagainya” (hal. 10). Sebelumnya, perlu kita perjelas apa yang dimaksud dengan“keragaman” atau “perbedaan” di satu sisi, dengan “pluralisme” disisi lainnya. Istilah-istilah ini marak digunakan di antara kalanganyang berbeda-beda, meskipun tidak selalu dibarengi denganpemahaman yang jelas dalam penggunaannya.1 Untuk buku ini,Peletz mendefinisikan pluralisme sebagai “perbedaan yang diberilegitimasi (difference accorded legitimacy).” Maka, keragaman atauperbedaan yang sekadar ada dalam satu masyarakat tidak otomatismenjadikannya pluralisme. Ini penting diingat karena perbedaan-perbedaan yang ada tidak selalu mendapatkan legitimasi, bahkandi berbagai kasus malah mengalami stigmatisasi. Selain itu,meningkatnya ragam perbedaan—entah etnis, rasial, religi ataubahkan pilihan “gaya hidup”—dapat dan kerap mengakibatkanpenyempitan atau pembatasan sensibilitas pluralistik. Memasuki bab kedua, “Gender Pluralism and TransgenderPractices in Early Modern Times,” kita diberi gambaran dasarcorak pluralisme gender di Asia Tenggara di zaman modern awaldan sebelumnya. Peletz membuka diskusinya dengan memberisketsa sejarah dan dinamika beberapa persamaan pola dalamkeragaman Asia Tenggara. Dengan mengambil banyak sumberdari arsip dan catatan sejarah, Peletz menjabarkan bagaimanasistem kekerabatan Asia Tenggara kuno cenderung menekankanbilateralisme dan hubungan laki-laki dengan perempuan yangrelatif setara. Perempuan memiliki otonomi dan kontrol sosial,1 Sebagai contoh, istilah pluralisme sering disamakan dengan multikulturalisme,lintas budaya, keanekaragaman, atau bahkan masyarakat majemuk. Peletz di sini tidakmembedakan konsep pluralisme dengan multikulturalisme, tapi pluralisme yang iamaksud berbeda dengan konsep masyarakat majemuk dalam kajian klasik Furnivall(1939). Untuk landasan teoretis mengenai perbedaan konsep masyarakat multikulturaldan masyarakat majemuk (plural society), terutama dalam konteks Indonesia, bacaSuparlan (2000).140 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 139. serta aktif berperan dalam berbagai bidang, termasuk agama danritual, perdagangan, diplomasi, dan pemerintahan. Ada beragammodalitas transgenderisme dan praktik seks sesama jenis, dan disini Peletz memberi kita beberapa studi kasus praktik transgenderdan pluralisme gender saat itu: Iban (manang dan manang bali),Ngaju Dayak (basir dan balian), Bugis (bissu, calabai, dan calalai),Melayu (sida-sida dan teater mak yong), Burma (nat dan nat kadaw),dan Thai (kathoey). Menurut Peletz, situasi dan kondisi Asia Tenggara saat itu,yang erat berkaitan dengan kosmologi religi, mendorong danmengakomodasi seks dan gender yang lebih cair dan fleksibel.Keanekaragaman seks dan gender di sini tidak dianggap sebagaikeanehan atau pengecualian, tetapi bahkan diagungkan oleh elitpolitik, pemimpin ritual, dan dewa-dewa. Namun, menurut Peletz,ini tidak berarti peradaban Asia Tenggara kuno sama sekali tidakmemiliki peraturan ataupun pranata seks atau gender, karena: (1)matriks heterogender masih umum meresapi relasi pernikahandan sistem seks/gender, (2) ada larangan dan/atau peraturan yangberlaku untuk incest, monogami, perselingkuhan, poligini, dan (3)apa pun gender mereka, individu bertubuh perempuan cenderungmemiliki pilihan yang lebih sedikit daripada individu laki-laki. Bab ketiga, “Temporary Marriage, Connubial Commerce, andColonial Body Politics,” membahas transformasi yang terjadi diparuh kedua periode modern awal (kira-kira abad ke-17 dan ke-18),di mana perempuan, transgender dan berbagai bentuk pluralismegender yang dibahas di bab sebelumnya mengalami erosi prestisedan legitimasi. Peletz terutama memfokuskan pada praktik danmakna pernikahan temporer yang umum terjadi antara laki-lakiBarat dan Cina dengan perempuan lokal. Pada awalnya, hubunganpernikahan temporer ini bersifat relatif egalitarian dan mutualistik;kedua belah pihak mendapat keuntungan privilese dan prestiseyang cukup seimbang. Laki-laki pendatang mendapatkan partnerseksual sekaligus perantara budaya yang dapat membantu merekamengerti dan bernegosiasi dengan elit dan penduduk setempat,sementara istri mereka mendapatkan hak-hak marital, keuntunganfinansial, akses dalam perdagangan asing dan peningkatanstatus. Tapi, semakin meningkatnya jumlah laki-laki asing lajangmendorong monetisasi dan komodifikasi seks, dari istri temporermenjadi pelacur (Andaya 1998). Bertolak dari kajian komprehensif Stoler (2002), Peletz mengkaji Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 141
  • 140. bagaimana dinamika budaya kolonial mempengaruhi pengetahuanlokal mengenai gender dan seksualitas, serta bagaimana dalamprosesnya, kolonialisme menjadi salah satu penyebab utamapenyempitan pluralisme gender. Tapi, pasca-Stoler, ia mengajakkita untuk tidak lupa memperhatikan homoseksualitas (danbiseksualitas) sebagai variasi seksualitas yang tidak terpisahkan dariheteroseksualitas. Untuk menjustifikasi misi peradaban kolonialisme,praktik seksualitas sesama jenis, transgenderisme, dan berbagaibentuk pluralisme gender dikonstruksi dalam wacana kolonialsebagai bukti “keprimitifan” dan “ketidakberadaban”—dengankata lain, keliyanan—penduduk lokal. Wacana biner dibangundengan mengagungkan monogami dan heteronormativitas yangdikaitkan dengan superioritas ras dan kelas (kolonial). Ini samasekali tidak berarti para penguasa kolonial membatasi diri dalamseks. Sebaliknya, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritaspegawai kolonial menyambut tugas dinas mereka di Asia Tenggarasebagai kesempatan menikmati pengalaman seksual yang lebihliberal (dan eksotis), jauh dari pengawasan tanah air mereka (Said1978: 190), dan bahwa praktik seksual sesama jenis juga dijumpaidi antara pegawai kolonial, baik antara mereka sendiri ataupundengan penduduk laki-laki lokal (Aldrich 2003). Menurut Peletz,kekhawatiran dan ketakutan kolonial pada praktik seks sesamajenis, transgenderisme dan feminisasi—apalagi jika terjadi di antaraorang-orang Eropa sendiri dan berpotensi menjatuhkan legitimasimereka—berperan besar dalam mendorong perkembangan pesatprostitusi, perdagangan, dan obyektifikasi perempuan di AsiaTenggara. Di bab keempat, “Transgender Practices, Same-Sex Relations,and Gender Pluralism Since the 1960s,” Peletz memaparkanpengaruh perubahan politik, sosial, dan ekonomi dalam periodekolonial dan pascakolonial, terutama terhadap ahli-ahli ritual di AsiaTenggara, melalui empat studi kasus yang dia gunakan sebelumnya:Iban, Dayak Ngaju, Bugis, dan Burma. Dilihat dari perpektif jangkapanjang, tak bisa disangkal memang ada penyusutan pluralismegender, yang terutama disebabkan oleh: (1) sentralisasi politik,(2) pembangunan wacana nasionalis dan modernisasi, (3) prosesurbanisasi, birokratisasi, industrialisasi, dan sistem ekonomi pasar.Ketiga hal ini mendorong rasionalisasi institusional maupun kulturalyang menyusutkan dan membakukan landasan moral komunitasdan kosmologi agrarian yang sebelumnya lebih cair. Tapi, Peletz142 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 141. juga menggarisbawahi bahwa ada resistensi dan perlawanan aktifterhadap proses-proses tersebut. Pada kenyataannya, di zaman itupluralisme gender masih relatif banyak dijumpai di masyarakatAsia Tenggara. Sistem mite, ritual, dan kosmologi yang masihkental meresapi budaya Asia Tenggara mendorong relativisme,sinkretisme, dan pluralisme. Bab kelima, “Gender, Sexuality and Body Politics at the Turn ofthe Twenty-First Century,” menganalisis dinamika sosial dan budayayang berkaitan dengan ketegangan dua fenomena yang tampakberlawanan di awal abad ke-21, yaitu: penyusutan pluralisme disatu sisi, dan maraknya keragaman atau perbedaan bermunculan disisi lain. Ini, menurut Peletz, tidak terlepas dari proses fragmentasidan krisis kekuasaan, yang terutama disebabkan munculnya pusat-pusat kekuasaan baru, dengan standar-standar dan nilai-nilailegitimasi baru yang dilandasi baik wacana lokal maupun global.Peletz kemudian menganalisis bagaimana wacana narasi “nilai-nilai Asia” yang biner, heteronormatif, dan monolitik dibakukan,ditekan menjadi statis, dan dikumandangkan sebagai “tradisi”yang berlawanan dengan “Barat” untuk berbagai kepentingan(kriminalisasi), terutama di Malaysia sehubungan dengan kasussidang Anwar Ibrahim atas tuduhan sodomi. Secara khususPeletz menggarisbawahi politisasi “nilai-nilai Asia,” bagaimananilai-nilai ini tidak jauh berbeda dari “nilai-nilai kekeluargaan”di Barat, ataupun—ironisnya—dari nilai-nilai “Oriental” yangdiesensialisasikan oleh penguasa kolonial untuk merendahkandan melumpuhkan masyarakat lokal di bawah dominasi mereka.Tapi, di sisi lain, peningkatan kontrol sosial ini juga dibarengidengan munculnya berbagai wacana dan gerakan perlawananoleh berbagai individu, organisasi, dan jaringan yang menuntutpengakuan eksistensi dan legitimasi hak seksual sebagai hak asasimanusia secara terbuka. Media (terutama internet) mendorongpertukaran transnasional wacana-wacana mengenai gender, tubuh,dan seksualitas dari seluruh penjuru dunia. Peletz juga menyorotbagaimana logika kapitalis dan keuntungan ekonomi bisa turutberperan: Singapura yang sebelumnya mengumandangkan “nilai-nilai Asia” seperti Malaysia, semenjak 2002 mengambil sikap lebihlonggar pada ambiguitas dan pluralisme gender dan seks setelahtergiur melihat potensi dan pemasukan besar pink dollar dari tenagakreatif artis dan entrepreneur LGBTIQ. Di bab penutup, “Asylum, Diaspora, Pluralism,” Peletz Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 143
  • 142. kembali menekankan permasalahan pandangan biner “Timur vs.Barat” dengan membahas dan membandingkan dua studi kasus,di mana orang-orang Asia Tenggara telah berpindah keluar dariwilayah asalnya. Di kasus pertama, Peletz menganalisis narasi warganegara Malaysia yang memohon perlindungan dari Amerika atasdasar orientasi seksual saat kembali ke tanah air mereka. Amerikadiidealisasi (benar atau terbayang) sebagai surga yang pluralistik,sementara Malaysia digambarkan sebagai kolot dan terbelakang—narasi yang jauh berbeda dari bukti-bukti yang dijabarkan Peletz dibab-bab sebelumnya. Namun, di kasus berikutnya, kita juga melihatidealisasi imigran gay dari Kamboja yang memandang masa lalumereka di tanah airnya sebagai lebih toleran (seolah melupakanrezim Pol Pot) daripada di Amerika dengan strata status kelas danrasialnya. Dari dua kasus di atas, Peletz sekali lagi mengajak kitauntuk tidak terjebak dalam narasi linear yang mengidealisasi Baratsebagai progresif dan pluralistik, dan Timur sebagai konservatif,kaku dan terbelakang. Pluralisme, Peletz mengingatkan, bagaimanapun juga selalurelatif, dan perlu dikonseptualisasikan sebagai pluralisme bertingkat(graduated pluralism). Bagaimana pun pluralistiknya Asia Tenggaradi zaman dulu, ada stratifikasi dan tingkatan di dalam sistemnyayang melibatkan derajat legitimasi yang berbeda-beda (misalnya,prestise untuk praktik transgender; stigma untuk incest), bukansemuanya bebas (anything goes). Ada jaringan-jaringan hubunganbudaya-politik yang memfasilitasi perkembangan dan reproduksikelompok tertentu, tapi juga menghambat kelompok lain. Buku initidak hanya menawarkan wawasan historis, tetapi juga pemahamantentang pluralisme gender, serta bagaimana jaringan-jaringanpolitik, ekonomi, sosial dan budaya membentuk kecenderunganabsolutis maupun pluralistik. Peletz menulis buku ini karena resah melihat kecenderunganumum kajian-kajian gender dan seksualitas yang masihmemprioritaskan pengalaman, simbol, dan idiom perempuan(dan heteroseksualitas), serta kurang memberi perhatian terhadapsejarah, konteks, dan dinamika lain yang mempengaruhipembentukan pluralisme seks dan gender. Sementara kajian-kajian sejarah Asia Tenggara, jika membahas tentang gender,masih umum menggunakan pendekatan heteronormatif. Dalamhal ini, Peletz memang banyak menawarkan kerangka interpretasiyang lebih inklusif, serta berbagai refleksi mengenai cara pandang144 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011
  • 143. dan perspektif kita selama ini. Satu lagi tawaran konsep Peletzyang berguna dalam buku ini adalah tinjauannya mengenaiistilah heteronormatif yang umumnya tidak membedakan konsepheteroseksual dengan heterogender. Imbauan Peletz terasa semakin signifikan dan relevandengan kondisi Indonesia dewasa ini, di mana gender masih seringdisinonimkan sebagai perempuan, seksualitas nonhetero dianggapsebagai pengaruh buruk Barat, atau penyimpangan (psikologis ataubiologis), dan tekanan-tekanan dari negara maupun agama makinmeningkat. Sebagaimana dicatat oleh Boellstorff (2005: Bab 2),berbeda dengan praktik waria, tidak ada tradisi lokal atau adat yangmerestui subyektifitas gay, lesbian, atau biseksual kontemporer.Sangat sedikit orang gay, lesbian atau biseksual di Indonesiamengetahui sejarah dan tradisi pluralisme gender yang ada diIndonesia. Wacana sejarah dan budaya pluralisme gender di AsiaTenggara yang ditawarkan Peletz mungkin dapat membantu prosespenerimaan dan legitimasi, meskipun kita tentunya juga harusberhati-hati untuk tidak terjebak dalam perangkap esensialisasiataupun pencampuradukan orientasi seksual dengan gender. Sayangnya, informasi yang ditampilkan terasa kurang merata,terbatas dan melompat-lompat, meskipun ini bisa dimengertimengingat keterbatasan sumber yang tersedia, serta betapaluas dan beragamnya domain spasial dan panjangnya periode(lebih dari 600 tahun) yang dihadapi. Toh, melihat banyaknyasumbangan yang diberikan dalam meninjau ulang metodologi,perspektif, pendekatan, konsep dan teori, buku ini penting dibacaoleh siapapun yang tertarik pada kajian-kajian gender, seksualitas,sejarah, pluralisme, dan Asia Tenggara. Tentunya, kita harusberhati-hati untuk tidak menggeneralisasi Asia Tenggara hanyaberdasarkan data yang ada dalam buku ini, tapi membacanyabersandingan dengan buku-buku lain, seperti The Gay Archipelago(Boellstorff 2005) yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia,Gender Diversity in Indonesia (Davies 2010), dan sumber-sumberlain dalam daftar pustakanya. Mudah-mudahan buku ini dapatmendorong lebih banyak penelitian dan kajian lanjutan yang dapatmenggunakan dan melengkapi data dalam buku ini, terutama diIndonesia. Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011 145
  • 144. KATHLEEN AZALI: Pemilik Perpustakaan C2O, Surabaya. Email:k.azali@c2o-library.netRUJUKANAldrich, Robert. 2003. Colonialism and Homosexuality. London & New York: Routledge.Andaya, Barbara Watson. 1998. “From Temporary Wife to Prostitute: Sexuality and Economic Change in Early Modern Southeast Asia.” Journal of Women’s History 9(4): 11-34.Boellstorff, Tom. 2005. The Gay Archipelago: Sexuality and Nation in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.Davies, Sharyn Graham. 2010. Gender Diversity in Indonesia: Sexuality, Islam and Queer Selves. London & New York: Routledge.Peletz, Michael G. “Transgenderism and Gender Pluralism in Southeast Asia since Early Modern Times.” Current Anthropology 47(2): 309- 340.Said, Edward. 1978. Orientalism. London: Penguin.Sinnott, Megan. 2010. “Borders, Diaspora, and Regional Connections: Trends in Asian “Queer” Studies.” Journal of Asian Studies 69(1): 17–31.Stoler, Ann. 2002. Carnal Knowledge and Imperial Power: Race and the Intimate in Colonial Rule. Berkeley: University of California Press.Suparlan, Parsudi. 2000. “Masyarakat Majemuk dan Perawatannya.” Antropologi Indonesia 63: 1-13.146 Jurnal Gandrung Vol.2 No.1 Juni 2011