Antiinflamasi

17,066 views
16,662 views

Published on

1 Comment
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
17,066
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
14
Actions
Shares
0
Downloads
884
Comments
1
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Katarak: o.k glukokortikoid masuk ke serabut lensa, berinteraksi dengan protein, menimbulkan agregasi protein  kekeruhan TIO >>  o.k peningkatan resistensi terhadap humor akuous
  • Digunakan pasca operasi untuk inflamasi pada mata Hanya boleh digunakan dibawah panduan dokter spesialis mata Dosis diturunkan bertahap sebelum dihentikan sepenuhnya Suspensi: kocok sebelum digunakan Efek samping: kenaikan tekanan intra okular, efek sistemik Dapat menimbulkan katarak prematur
  • COX1 hambat produksi tromboksan dan agregasi trombosit  menimbulkan ulkus lambung
  • Antiinflamasi

    1. 1. Anesthesia For Ophthalmic Surgery DR.FATMA ALDAMMAS Aditia Retno Fitri
    2. 2. <ul><li>INFLAMASI </li></ul>
    3. 3. RADANG ADALAH RESPON VASCULER DAN SELULER DARI JARINGAN HIDUP TERHADAP CIDERA Inflamasi
    4. 4. Tujuan radang : dalam rangka menghancurkan dan mengeliminasi agen penyebab Perbaikan jaringan yang cidera
    5. 5. Penyebab Radang <ul><li>Keberadaan </li></ul><ul><li>Benda Asing Dalam Jaringan: </li></ul><ul><li>- Jaringan donor </li></ul><ul><li>- Agen Biologis </li></ul><ul><li>- Benda mati </li></ul><ul><li>Kerusakan Jaringan yang menimbulkan Nekrosa; Infark; Hemoragi; Thrombus </li></ul><ul><li>Terkait infeksi : </li></ul><ul><li>Trauma fisik, Radiasi, Racun, Suhu Ekstrim, Respon Imun. </li></ul>
    6. 6. CIRI – CIRI RADANG <ul><li>Rubor ( Redness ) = Kemerahan </li></ul><ul><li>Kalor ( Heat ) = Panas </li></ul><ul><li>Tumor ( Swelling ) = Bengkak </li></ul><ul><li>Dolor ( Pain ) = rasa Sakit </li></ul><ul><li>Fungsio laesa ( Loss Of Function ) </li></ul><ul><li>= Fungsi jaringan / organ terganggu </li></ul>
    7. 7. PROSES INFLAMASI <ul><li>Agen k ausatif, respon jaringan sekitar agen serta sel nekrotik di daerah radang akan menghasilkan mediator inflamasi </li></ul><ul><li>Mediator Inflamasi menginduksi vascula , aliran darah, dan mengaktifkan leukosit </li></ul><ul><li>Terjadinya vaso dilatasi arterioli maupun kapiler disekitar daerah radang menimbulkan perlambanan aliran darah dan leukosit mengalir ditepi lumen vasculer. ( Aliran non axial ) </li></ul>
    8. 8. <ul><li>Endothel kapiler meregang , timbul rongga, permiabilitas meningkat, plasma darah keluar terakumulasi di jaringan perivasculer. </li></ul><ul><li>Endothel menjadi lengket, leukosit menggelinding dan melekat ( adhesi ) pada permukaan endothel </li></ul><ul><li>Leukosit masuk ruang antar endothel (diapedesis) dan keluar dari vasculer (ekstravasasi) </li></ul><ul><li>Leukosit akan bergerak ( migrasi ) menuju agen causatif inflamasi </li></ul>PROSES INFLAMASI
    9. 9. <ul><li>Leu ko sit memfagosit baik agen asing, sel inang terinfeksi, maupun jaringan inang yang nekrotik  degradasi agen secara enzymati k . </li></ul>PROSES INFLAMASI
    10. 10. PROSES INFLAMASI
    11. 11. Respon Radang <ul><li>Respon Vas k uler </li></ul><ul><li>Cidera aktivasi media inflamasi </li></ul><ul><li>vasodilatasi kapiler </li></ul><ul><li>-------------------------------------------------------------- </li></ul><ul><li>Respon Seluler </li></ul><ul><li>Aktivasi Leucosit </li></ul><ul><li>fagositosis </li></ul>
    12. 12. CIRI – CIRI RADANG <ul><li>Rubor ( Redness ) = Kemerahan </li></ul><ul><li>Kalor ( Heat ) = Panas </li></ul><ul><li>Tumor ( Swelling ) = Bengkak </li></ul><ul><li>Dolor ( Pain ) = rasa Sakit </li></ul><ul><li>Fungsio laesa ( Loss Of Function ) </li></ul><ul><li>= Fungsi jaringan / organ terganggu </li></ul>
    13. 13. CIRI – CIRI RADANG <ul><li>Rubor ( Redness ) = Kemerahan </li></ul><ul><li>Kalor ( Heat ) = Panas </li></ul><ul><li>Tumor ( Swelling ) = Bengkak </li></ul><ul><li>Dolor ( Pain ) = rasa Sakit </li></ul><ul><li>Fungsio laesa ( Loss Of Function ) </li></ul><ul><li>= Fungsi jaringan / organ terganggu </li></ul>
    14. 14. <ul><li>ANTI-INFLAMASI </li></ul>
    15. 15. Non Steroid Antiinflammation Drugs Pembagian Antiinflamasi Anti-inflammatory corticosteroid NSAID
    16. 16. Non Steroid Antiinflammation Drugs Pembagian Antiinflamasi Anti-inflammatory corticosteroid NSAID
    17. 17. Kortikosteroid <ul><li>Bersifat kurang spesifik , dan telah digunakan bertahun-tahun untuk terapi inflamasi dan penyakit imunologis pada mata . </li></ul><ul><li>Untuk mencegah efek inflamasi: pembentukan jaringan ikat &neovaskularisasi </li></ul><ul><li>Lebih efektif pada fase akut </li></ul>Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
    18. 18. Kortikosteroid: Mekanisme Kerja <ul><li>Peran pada hampir semua aspek inflamasi : </li></ul><ul><li>Vaskular: </li></ul><ul><li>Permiabilitas pembuluh darah ↓ </li></ul><ul><li>Selular : </li></ul><ul><li>Penghambatan proliferasi limfosit (limfosit T), dengan imunitas selular ↓ </li></ul><ul><li>Penekanan kerja limfokin dalam migrasi makrofag dan produksi faktor pertumbuhan </li></ul><ul><li>I nhibisi degranulasi netrofil granulosit, makrofag, sel mast, dan basofil </li></ul><ul><li>supresi sintesis asam arakidonat  produksi prostaglandin ↓ </li></ul>Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
    19. 20. Kortikosteroid: Indikasi Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
    20. 21. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Prednisolone </li></ul><ul><li>Studi menunjukkan bahwa Prednisolone memiliki efektivitas anti-inflamasi terbesar dibanding steroid topikal mata lainnya. </li></ul><ul><li>Prednisolone acetate 1% merupakan steroid topikal mata yang paling efektif untuk terapi uveitis dan inflamasi kornea. </li></ul><ul><li>Dapat digunakan pada inflamasi berat mata seperti episkleritis, iritis, luka bakar kimiawi atau thermal pada kornea. </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    21. 22. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Dexamethasone </li></ul><ul><li>Pada konsentrasi yang sesuai, Dexamethasone secara klinis kurang efektif dibanding prednisolone dan berpotensi lebih besar dalam menaikkan Tekanan Intra Okular  drug of second choi c e. </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    22. 23. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Fluorometholones </li></ul><ul><li>Memiliki sifat antiinflamasi yang cukup baik, tetapi juga menyebabkan peningkatan TIO sekunder. </li></ul><ul><li>Terdapat dalam dua bentuk formulasi: fluorometholone al koho l dan asetat . </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    23. 24. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Fluorometholone al kohol </li></ul><ul><li>Digunakan untuk menangani kondisi inflamasi sedang pada permukaan mata, memerlukan lama terapi yang panjang (hingga 3-4 minggu) seperti pada iridosiklitis kronik dan alergi. </li></ul><ul><li>Bermanfaat pada kondisi kronis o.k. Kurang menimbulkan peningkatan TIO </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    24. 25. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Fluorometholone acetate </li></ul><ul><li>Merupakan bentuk klinis yang lebih aktif. Menimbulkan efektivitas yang lebih besar. </li></ul><ul><li>Indikasi: bila terdapat efek samping dengan preparat kortikosteroid yang lain </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    25. 26. Kortikosteroid: Preparat <ul><li>Rimexolone </li></ul><ul><li>Cukup poten dan relatif aman, tapi tidak seefektif prednisolone acetate1% ; pengaruh pada TIO menyerupai fluorometholones. </li></ul>Reveiw of optamometry; June 2006
    26. 27. Kortikosteroid <ul><li>Bentuk Sediaan: </li></ul><ul><ul><li>Topikal </li></ul></ul><ul><ul><li>Sistemik </li></ul></ul><ul><ul><li>Periokular </li></ul></ul>
    27. 28. Kortikosteroid Topikal <ul><li>Keuntungan: </li></ul><ul><ul><li>Dapat diberikan didekat lokasi yang memerlukan  indikasi untuk inflamasi segmen anterior </li></ul></ul><ul><ul><li>Dapat digunakan untuk salah satu mata saja </li></ul></ul><ul><ul><li>Menghindari efek sistemik </li></ul></ul><ul><li>Kerugian : </li></ul><ul><ul><li>Terkadang dapat terjadi supresi adrenal </li></ul></ul><ul><ul><li>Ulkus dendritik </li></ul></ul><ul><ul><li>Menimbulkan residu keputihan </li></ul></ul><ul><ul><li>Keratopati epitel bila penggunaan terlalu sering </li></ul></ul><ul><ul><li>Terkadang menimbulkan infeksi konjungtiva </li></ul></ul>
    28. 29. Efek Samping Steroid Topikal <ul><li>Peningkatan TIO </li></ul><ul><ul><li>Dapat menimbulkan kebutaan permanen bila tidak terdeteksi/diterapi </li></ul></ul><ul><li>Meningkatkan kerawanan terhadap infeksi virus atau jamur </li></ul><ul><ul><li>Berpotensi menimbulkan kebutaan </li></ul></ul><ul><li>Penipisan sklera/kornea </li></ul><ul><ul><li>Berpotensi menimbulkan kebutaan </li></ul></ul><ul><li>Penundaan atau gangguan penyembuhan luka </li></ul><ul><li>Katarak </li></ul>
    29. 30. <ul><li>Digunakan pasca operasi untuk inflamasi pada mata </li></ul><ul><li>Hanya boleh digunakan dibawah panduan dokter spesialis mata </li></ul><ul><li>Dosis diturunkan bertahap sebelum dihentikan sepenuhnya </li></ul><ul><ul><li>Dihentikan mendadak: rebound effect </li></ul></ul><ul><ul><li>Menimbulkan relaps </li></ul></ul>Tetes Mata Kortikosteroid
    30. 31. Kortikosteroid Topikal: Ringkasan <ul><li>Topi k al </li></ul><ul><ul><li>Preparat: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>prednisolone, dexamethasone , fluorometholone, remixolone </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Mekanisme: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>menghambat pelepasan asam arakidonat dari fospolipid dengan cara menghambat fosfolipase A2 </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Indikasi kegunaan  inflamasi segmen anterior </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>pasca operasi, uveitis anterior, konjungitvitis alergi berat, konjungtivitis vernal, pencegahan reaksi penolakan graft kornea, episkleritis, skleritis </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Efek samping: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>rawan terhadap infeksi, glaukoma, katarak, ptosis, midriasis, pelunakan sklera, atrofi kulit </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Prednisolone dan Dexamethasone  paling poten menimbulkan tekanan intraokular (TIO) </li></ul></ul></ul>
    31. 32. Kortikosteroid Sistemik <ul><li>Keuntungan: </li></ul><ul><ul><li>Mudah pemberiannya: dengan tablet </li></ul></ul><ul><ul><li>Dapat mencapai seluruh mata dengan lebih baik </li></ul></ul><ul><li>Kerugian : </li></ul><ul><ul><li>Terkadang dapat terjadi supresi adrenal </li></ul></ul><ul><ul><li>Efek sistemik </li></ul></ul>
    32. 33. Kortikosteroid Sistemik: Efek Samping <ul><li>Peningkatan TIO </li></ul><ul><li>Hipertensi </li></ul><ul><li>Gula darah >> </li></ul><ul><li>Berat badan > /edema </li></ul><ul><li>Gangguan sal cerna </li></ul><ul><li>Gangguan psikiatrik </li></ul><ul><li>Infeksi oportunistik </li></ul><ul><li>Osteoporosis </li></ul><ul><li>Katarak </li></ul><ul><li>Supresi adrenal </li></ul>
    33. 34. K orti k osteroid <ul><li>S i stemi k : </li></ul><ul><ul><li>Preparat: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>prednisolone, cortisone , triamcinolone, depomedrol </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Indikasi : inflamasi segmen posterior </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Uveitis posterior, neuritis opti kus , arteritis temporal anterior dengan neuropathy iskemik </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Efek samping : </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Lo k al: posterior subcapsular cataract , glau k oma, central serous retinopathy </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>S i stemi k : sup resi aksis hipofisis-adrenal , hypergl ik emia, osteoporosis, ulkus peptikum, psikosis </li></ul></ul></ul>
    34. 35. Kortikosteroid : Kontraindikasi <ul><li>Pada pasien DM, gagal ginjal, hipertensi </li></ul><ul><li>Sistemik: KI pada ulkus peptikum, osteoporosis, psikosis </li></ul><ul><li>Topikal: KI pada glaukoma </li></ul><ul><li>KI pada sebagian besar infeksi , oleh karena: </li></ul><ul><ul><li>Tidak membunuh bakteri </li></ul></ul><ul><ul><li>Menurunkan resistensi terhadap mikroorganisme </li></ul></ul><ul><ul><li>Menyamarkan progresivitas infeksi </li></ul></ul>
    35. 36. Non Steroid Antiinflammation Drugs Pembagian Antiinflamasi Anti-inflammatory corticosteroid NSAID
    36. 37. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) <ul><li>Merupakan inhibitor sintesis prostaglandin dan berperan sebagai antiinflamasi dan analgesik </li></ul><ul><li>Keuntungan NSAID dibanding KS adalah bahwa NSAID tidak memicu penurunan aktivitas sistem pertahanan tubuh dan tidak meningkatkan TIO </li></ul><ul><li>NSAID tidak berinteraksi dengan sistem hemodinamik </li></ul>
    37. 38. Tissue Damage or Inflammatory pain Stimulus Chemical mediator “inflammatory soup”
    38. 39. Tissue Damage or Inflammatory pain Stimulus Chemical mediator “inflammatory soup”
    39. 41. <ul><li>Mekanisme kerja: </li></ul><ul><ul><li>menghambat cyclooxygenase (COX)  m enghambat produksi prostaglandin </li></ul></ul><ul><ul><li>Terdapat 2 jenis COX: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>COX-1 – penting dalam kondisi non inflamasi  penghambatan COX1 dapat menghindari ESO (misal ESO lambung) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>COX-2 – diinduksi pada kondisi inflamasi  inhibisi COX-2 berperan dalam antiinflamasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Aspirin, ibuprofen – menghambat COX-1 & COX-2 </li></ul></ul>NSAID: Mekanisme Kerja
    40. 43. NSAID: Mekanisme Kerja <ul><li>Sebagian besar NSAID menghambat COX-1 dan COX-2 </li></ul><ul><li>Penghambatan jalur sintetik dari asam arakidonat menjadi prostaglandin dapat menimbulkan peningkatan leukotrien yang dapat menimbulkan inflamasi </li></ul><ul><li>Hal ini dapat menimbulkan konsekuensi serius pada beberapa pasien mis. Serangan asthma </li></ul>Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
    41. 45. - Efek Penghambatan Prostaglandin <ul><ul><li>Efek Antiinflamasi </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Prostaglandins merupakan mediator utama inflamasi . </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Efek Analgesik </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penurunan inflamasi  penurunan nyeri . </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Prostaglandin juga merupakan mediator nyeri pada jaringan perifer  inhibisi PG menimbulkan analgesi </li></ul></ul></ul>
    42. 46. <ul><ul><li>Efek antipiretik </li></ul></ul><ul><ul><li>(= penurunan panas ) </li></ul></ul><ul><li>Saat inflamasi, endotoksin bakteri merangsang makrofag untuk melepaskan IL-1, suatu pyrogen (= agen yang menimbulkan demam) yang menstimulasi pembentukan prostaglandin E di hipotalamus dan meningkatkan set-point pengatur temperatur tubuh. </li></ul>
    43. 47. NSAID: Indikasi <ul><li>Saat ini digunakan pada kondisi intra- dan pasca-operasi untuk menurunkan miosis pada saat operasi dan inflamasi yang mengikut operasi katarak dan laser trabeculoplasty . </li></ul><ul><li>Juga digunakan pada terapi dan pencegahan cystoid macular oedema dan konjungtivitis alergika. </li></ul>Vale J; Ophthalm Physiol Opt 1998
    44. 48. NSAID: Indikasi <ul><li>Inflam asi segmen anterior mata, yang belum dapat ditentukan penyebabnya apakah dari virus atau bakteri, seperti pada edema kornea, edema konjungtiva dan skleritis . </li></ul><ul><li>Reaksi inflamasi oleh karena trauma </li></ul><ul><li>Neovaskularisasi kornea karena penggunaan lensa kontak dan peradangan yang ditimbulkan </li></ul>Vale J; Ophthalm Physiol Opt 1998
    45. 49. NSAID: Preparat <ul><li>Preparat topikal NSAID yang dikenal: </li></ul><ul><li>Diclofenac sodico </li></ul><ul><li>Flubiprofene sodico </li></ul><ul><li>Ketorolac trometamina </li></ul><ul><li>Piroxicam </li></ul><ul><li>Indometacina </li></ul><ul><li>Suprofene </li></ul>Genevieuve N; Clinical and Experimental Optometry 2006
    46. 53. <ul><li>Pada mata, preparat NSAID topikal lebih disukai daripada sistemik, oleh karena NSAID topikal memberikan konsentrasi obat yang lebih besar dengan kurang menimbulkan efek samping sistemik. </li></ul><ul><li>NSAID digunakan sebagai antiinflamasi dan antinyeri pada kondisi inflamasi non infeksi atau pasca trauma operasi. </li></ul>
    47. 54. NSAID: Keamanan <ul><li>Topikal NSAID: jarang menimbulkan toksisitas sistemik </li></ul><ul><li>Toksisitas lokal: sensasi terbakar, tersengat, iritasi dan hiperemia konjungtiva  kerusakan epital, penipisan kornea  perforasi </li></ul><ul><li>Komplikasi kornea: pelunakan kornea (Diklofenak) </li></ul>
    48. 55. NSAID: Precaution
    49. 56. NSAID : Kontraindikasi
    50. 57. NSAID: Interaksi Obat
    51. 59. NSAIDs: Indikasi <ul><li>Inflam asi (perioperati f ) </li></ul><ul><li>CME (cystoid macular edema) </li></ul><ul><li>Nyeri ( operasi refraktif) </li></ul><ul><li>Alergi pada mata (jarang) </li></ul><ul><li>Antiinflamasi pre-operatif dan </li></ul><ul><li>Pasca operatif </li></ul>
    52. 60. Efek Samping NSAID (topi k al) <ul><li>Reaksi lokal (rasa terbakar) </li></ul><ul><li>Tidak menimbulkan peningkatan TIO </li></ul><ul><li>Tidak menimbulkan potensiasi infeksi HSV dan jamur </li></ul><ul><li>Dapat menimulkan regresi pada operasi refraktif </li></ul><ul><li>Jarang: kerusakan kornea (diklofenak) </li></ul>
    53. 61. NSAID : Ringkasan <ul><li>E.g. ketorolac, diclofenac, flurbiprofen </li></ul><ul><li>Mekanisme : i naktivasi of cyclo-oxygenase </li></ul><ul><li>Indikasi: pasca operasi , konjungtivitis alergika ringan, episkleritis, uveitis rignan, cystoid macular edema, pr a operasi untuk mencegah miosis pada saat operasi. </li></ul><ul><li>Efek Samping : reaksi lokal </li></ul>
    54. 62. Terima Kasih

    ×