Aplikasi mol (mikro organisme lokal)  sebagai dekomposer pada pembuatan kompos dari  hijauan asystasia
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Aplikasi mol (mikro organisme lokal) sebagai dekomposer pada pembuatan kompos dari hijauan asystasia

on

  • 17,880 views

 

Statistics

Views

Total Views
17,880
Slideshare-icon Views on SlideShare
17,880
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
355
Comments
3

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

13 of 3 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Aplikasi mol (mikro organisme lokal)  sebagai dekomposer pada pembuatan kompos dari  hijauan asystasia Aplikasi mol (mikro organisme lokal) sebagai dekomposer pada pembuatan kompos dari hijauan asystasia Document Transcript

    • Aplikasi MOL (Mikro Organisme Lokal) Sebagai Dekomposer Pada Pembuatan Kompos dari Hijauan Asystasia1. Pendahuluan Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk, 2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Banyak yang menduga bahwa mikroorganisme membawa dampak yang merugikan bagi kehidupan hewan, tumbuhan, dan manusia, misalnya pada bidang mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang pathogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Meskipun demikian, masih banyak manfaat yang dapat diambil dari mikroorganisme-mikroorganisme tersebut. Penggunaan mikroorganisme dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan. Dalam bidang pertanian, mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan. Salah satunya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Mikroorganisme (bakteri pembusuk) ini dapat berinteraksi membantu proses pelapukan bahan – bahan organik seperti dedaunan, rumput, jerami, sisa-sisa ranting dan dahan, kotoran hewan dan lainya. Adapun kelangsungan hidup mikroorganisme tersebut didukung oleh keadaan lingkungan yang basah dan lembab. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun, proses tersebut berlangsung lama sekali, dapat mencapai puluhan tahun, bahkan berabad-abad. Padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. dengan cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa diperoleh kompos yang berkualitas baik. Dengan demikian manusia tidak perlu menunggu puluhan tahun jika sewaktu-waktu kompos tersebut diperlukan.
    • kompos merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan, dan untuk membantu proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi kompos, diperlukan bahan-bahan dekomposer. Berbagai macam bahan-bahan dekomposer banyak beredar di pasar (seperti EM4). Akan tetapi biaya yang dikeluarkan mahal. Pada dasarnya kompos yang berbahan dasar mikroorganisme mudah diproduksi sendiri, karena mikroorganisme-mikroorganisme yang berguna banyak terdapat dialam sekitar kita. Proses pembuatan kompos ini salah satunya dapat menggunakan MOL (Mikro Organisme Lokal). Larutan MOL mengandung unsur hara makro dan mikro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai peerombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman. Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah murah bahkan tanpa biaya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar,2. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui aplikasi MOL sebagai dekomposer dalam pembuatan kompos dari hijauan asystasia.3. Tinjauan Pustaka3.1. MOL (Mikro Organisme Lokal) dan Peranannya MOL adalah kumpulan mikro organisme yang bisa “diternakkan”, fungsinyadalam konsep “zero waste” adalah untuk “starter” pembuatan kompos organik. DenganMOL ini maka konsep pengomposan bisa selesai dalam waktu 3 mingguan. Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah hasil dari fermentasi yangberbahan dasar dari sumberdaya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandungunsur hara makro dan mikro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagaipeerombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agens pengendalihama dan penyakit tanaman. Sehingga MOL dapat digunakan baik sebagaipendekomposer, pupuk hayati, dan sebagai pestisida organik terutama sebagaifungisida. (Purwasasmita, 2009) Peran MOL dalam kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperansebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh tanaman secara
    • optimal. Fungsi dari bioreaktor sangat kompeks, fungsi yang telat teridentifikasi antaralain adalah penyuplai nutrisi melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuaikebutuhan tanaman, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagipertumbuhan tanaman, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerangtanaman. (Purwasasmita, 2009). MOL juga memiliki manfaat lain, yaitu:1. Memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah.2. Menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.3. Menyehatkan tanaman, meningkatkan produksi tanaman, dan menjaga kestabilan produksi.4. Menambah unsur hara tanah dengan cara disiramkan ke tanah, tanaman, atau disemprotkan ke daun.5. Mempercepat pengomosan sampah organic atau kotoran hewan.3.2. Kompos dan Manfaatnya bagi tanaman Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macammikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik(Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimanabahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikrobayang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalahmengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebihcepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian airyang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Kompos merupakan bahan-bahan organik (sampah organik) yang telahmengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme yangbekerja didalamnya. Penggunaan kompos sangat baik karena dapat memberikanbeberapa manfaat. Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baikkualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panenlebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:A. Aspek Ekonomi :1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah2. Mengurangi volume/ukuran limbah
    • 3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnyaB. Aspek Lingkungan :1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan sampah2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunanC. Aspek bagi tanah/tanaman:1. Meningkatkan kesuburan tanah2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah3.3. Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri. Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain: Rasio C/N: Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi, terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya menambahkan
    • mikroorganisme selulotik (Toharisman, 1991) atau dengan menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak senyawa nitrogen. Ukuran Partikel: Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut. Aerasi: Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos. Porositas: Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu. Kelembaban (Moisture content): Kelembaban memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. Temperatur/suhu: Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh
    • sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma. pH: Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral. Kandungan Hara: Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. Kandungan Bahan Berbahaya: Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam- logam berat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan. Lama pengomposan: Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar- benar matang.3.4. Hijauan Asystasia Asystasia merupakan tanaman sejenis bayaman. Asystasia ini cepat tumbuhmenyebar, penutup tanah yang dapat tumbuh sampai 300 mm sampai 60 mm tingginya.Daunnya sederhana berwarna hijau. Di daerah tropis asystasia ini dapat tumbuh cepat.Asystasia dapat tumbuh disemi naungan dan juga dititik-titik cerah jika menerima uapair yang memadai. Dapat juga ditanam ditanah apapun dikebun, tetapi akan lebih baikjika dijadikan kompos. (SA National Biodiversity Institute, 2009)
    • 4. Metode Praktikum4.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum pembuatan kompos yang diaplikasikan dengan MOL bertempat dirumah kompos, dan pembuatan MOL dilakukan dilaboratorium Ilmu Tanah FakultasPertanian Universitas Jambi . praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 10 oktobersampai 30 November 2011.4.2. Alat dan Bahan Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan Mikro Organisme Lokal :Bahan – bahan yang digunakan adalah : ½ kg gula aren, 4 buah Pisang ambon, ½ kgkacang panjang, ¼ kg usus sapi,1 buah kates ukuran sedang, ½ liter air tebu, dan 5 Literair sedangkan alat yang digunakan adalah : ember plastik, plastik penutup ember, tali,dan kertas label. Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan Kompos :Bahan – bahan yang digunakan adalah : 2,5 kg Asystasia, 2,5 kg Kotoran ayam murni,larutan MOL, 2,5 kg Rock Posphat, sedangkan alat yang digunakan adalah : Plastik,Tali, Ayakan, Timbangan, kertas label4.3. Cara Kerja Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) Usus sapi, kacang panjang, pisang ambon, pepaya yang kualitasnya sudah tidakbaik dipotong kecil – kecil. Kemudian bahan yang telah dipotong dimasukkan kedalamember, lalu tambahkan gula aren yang telah diserut, dan tambahkan pula air tebu yangtelah didiamkan selama satu malam. Aduk semua bahan hingga merata, lalu tambahkan air secara bertahap sebanyak5 liter. Kemudian diaduk lagi, hingga semua bahan tercampur merata. Ember ditutupdengan plastik, agar udara dari luar tidak masuk kedalam ember. Karena prosesfermentasi yang dilakukan secara anaerob. Lalu bahan yang telah ditutup dibiarkanselama 10 hari, dan setiap harinya bahan tersebut diaduk, tanpa membuka plastikpenutupnya. Pembuatan Kompos
    • Bahan organik yang akan dikomposkan yaitu Hijauan Asystasia yang diambildaunnya saja agar proses pengomposan berlangsung cepat. Hijauan Asystasia yangtelah diambil daunnya ditimbang sebanyak 2,5 kg, lalu di campur dengan pupukkandang ayam murni sebanyak 2,5 kg, dan rock posphat yang masing-masing jugaditimbang seberat 2,5 kg, masukkan kedalam plastik besar yang telah disediakan,tambahkan MOL yang telah dipanen. kemudian semua bahan diaduk perlahan lahanhingga merata. Setiap 3 hari sekali bahan pembuat kompos ini diaduk atau di bolak-balik.4.4. Parameter MOL Setelah beberapa hari pengamatan, terjadi perubahan yang signifikan yaituterjadinya proses yang ditandai dengan perubahan bau, dari yang mulanya berbaubusuk berubah menjadi asam. Hal ini menandakan telah terjadinya proses fermentasisecara sempurna, karena adanya aktivitas mikroorganisme yang ada pada usus sapi. Kompos Setelah beberapa hari proses pembuatan kompos, terjadi perubahan warna padahijauan asystasia, dari berwarna hijau menjadi coklat kehitaman. Kemudian dilihat daribentuk fisik hijauan asystasia yang mulanya kasar, berubah menjadi agak halus. Selainitu, juga terjadi perubahan bau yang semulanya berbau busuk karena campuran kotoranayam murni menjadi berbau agak masam. Hal ini juga disebabkan oleh adanyafermentasi yang sempura.
    • 5. Hasil dan Pembahasan5.1. HasilGambar MOL yang telah matang::::::::::::::Ganbar kompos yang telah jadi::::::::::::5.2. Pembahasan Di dalam timbunan bahan-bahan organik pada pembuatan kompos, terjadi anekaperubahan hayati yang dilakukan oleh mikroba. Akibat perubahan tersebut, berat dan isibahan kompos menjadi sangat berkurang. Sebagian besar senyawa yang ada didalamkompos tersebut akan menghilang menguap ke udara. Kadar senyawa N yang larutakan meningkat. Dalam pengomposan, kadar abu dan humus makin meningkat. Padaperubahan selanjutnya (diakhiri pembuatan kompos), akan diperoleh bahan yangberwarna coklat kehitaman. Bahan dengan kondisi seperti itu sudah siap digunakansebagai pupuk. Beberapa masalah yang dihadapi saat pembuatan kompos secara anaerob dalamplastik, yaitu1. Bau kompos yang busuk dan sangat menyengat.2. Di dalam plastik terdapat banyak air. Hal ini disebabkan karena dalam proses pembusukan menghasilkan air, kemudian air tersebut tertahan dan tidak bisa keluar. Masalah ini dapat diatasi dengan membuang air tersebut kemudian menutup rapat-rapat kembali plastik.3. Jika plastik bocor maka air akan berceceran di lantai dan menimbulkan bau serta mengundang lalat, akhirnya banyak larva lalat yang berkembangbiak di lantai. Dari praktikum yang telah dilakukan praktikan telah berhasil membuat MOL.MOL dikatakan berhasil bila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:1. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat MOL hancur terdekomposisi oleh mikroba.2. Pada awal pembuatan, MOL berbau sangat tidak sedap. Namun saat MOL matang baunya tidak lagi menyengat tapi berbau seperti bau masam.3. Tidak terdapat belatung di dalamnya.4. MOL-nya tidak sekeruh saat pertama kali dibuat.
    • 6. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa banyak keuntungan yang diperoleh dari penggunaan MOL (Mikro Organisme Lokal) , antara lain : - Sederhana dan mudah di praktekkan. - Waktu relatif singkat - Murah, - Pupuk organik yang dihasilkan mengandung unsur komplek dan mikroba bermanfaat - Ramah lingkungan - Memperbaiki kualitas tanah dan hasil panen - Produk pertanian aman dikonsumsi
    • 7. Daftar Pustaka Djaja, Willyan. 2010. Langkah Jitu Membuat Kompos dari Kotoran Ternak & Sampah. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta http://id.wikipedia.org/wiki/Kompos diakses pada tanggal 8 desember 2011 Kariman, Lakbok. 2008. Pembuatan starter/MOL (Mikro Organisme Lokal) Oleh Petani. http://Organicfield.blogspot.com diakses pada tanggal 6 desember 2011 Murbandono, L. Membuat Kompos (Jakarta : Penebar Swadaya, 2009). Sobirin. 2010 MOL tapai atau MOL Peuyem Lebih Bersih http://clearwaste.blogspot.com/ diakses pada tanggal 6 Desember 2011 Syaifudin, Achmad. Dkk. Pemberdayaan Mikroorganisme Lokal Sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Petani. Http://le3n1.blog.uns.ac.id/files/2010/05/pemberdayaan-mikroorganisme- lokal-sebagai-upaya-peningkatan-kemandirian-petani.pdf diakses pada tanggal 6 desember 2011