• Save
Jurnal Ilmiah MKn Unud oktober 2011
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Jurnal Ilmiah MKn Unud oktober 2011

on

  • 1,627 views

Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yang sudah ...

Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yang sudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidang ujian dihadapan dewan penguji dan Guru Besar.

Statistics

Views

Total Views
1,627
Slideshare-icon Views on SlideShare
1,627
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Jurnal Ilmiah MKn Unud oktober 2011 Jurnal Ilmiah MKn Unud oktober 2011 Document Transcript

    • D e n p a s a rr Denpasar Denpasa K e rrttth a P e rrtttiiiw iii Ker ha Per w Ke ha Pe w V o lllu m e 0 2 Vo ume 02 Vo ume 02 H a llla m a n 1 – 6 1 Ha aman 1 – 61 Ha aman 1 – 61 O k ttto b e rr 2 0 1 1 Ok ober 2011 Ok obe 2011KERTHA PERTIWI RT PE TIJ U R N A L IIL M IIA H M A G IIS T E R K E N O T A R IIA T A N U N IIV E R S IIT A S U D A Y A N AJURNAL ILMIAH MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS UDAYANAJURNAL LM A MAG STER KENOTAR ATAN UN ERS TAS UDAYANA AH PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PROG AM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN GR UNIVERSITAS UDAYANA UN VERSITAS UDAYANA NI 2011 2011
    • KERTHA PERTIWI Jurnal Ilmiah Magister Kenotariatan (Scientific Journals of The Master of Notary)Volume 02 Periode Oktober 2011 Susunan Organisasi Pengelola Ketua Penyunting Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,M.Hum. Wakil Ketua Penyunting I Made Tjatra Yasa, SH.,MH. Penyunting Pelaksana I Gusti Ngurah Alit Widana Putra, ST.,M.Eng. I Putu Artha Kesumajaya I Gde Chandra A. W. Petugas Administrasi I Made Suparsa I Ketut Wirasa Alamat Redaksi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana Jl. Pulau Bali No. 1 Sanglah Denpasar Telp. : (0361)264812. Fax (0361)264812 E-mail : notariat_unud@yahoo.com Website : http://www.fl.unud.ac.id/notariat/ G a m b a r C o v e r : P a n e n P a d i d a n S a wa h K e r t h a P e r ti wi m e r u p a k a n j u r n a l i l m i a h ya n g d i t e r b i t k a n d u a k a l i s e t a h u n ( A p r i l d a n O k t o b e r ) ya n g m e m u a t i n f o r m a s i t e n t a n g b e r b a g a i a s p e k h u k u m Kenotariatan dari : (1) hasil penelitian, (2) naskah konseptual/opini, (3) r e s e n s i b u k u , d a n i n f o K e n o t a r i a t a n a c t u a l l a i n n ya i
    • PENGANTAR REDAKSI Om, Swastyastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan YangMaha Esa oleh karena atas perkenan dan rahkmat-Nyalah Jurnal Ilmiah Program StudiMagister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Udayana Tahun 2011 dapatdiselesaikan. Disusunnya Jurnal Ilmiah Prodi M.Kn Unud ini dimaksudkan untuk dapatsebagai referensi dan pegangan bagi mahasiswa, dosen maupun pengelola dalam prosesbelajar mengajar maupun pengelolaan Program Studi Magister Kenotariatan UniversitasUdayana. Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program MagisterKenotariatan Universitas Udayana. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitiantesis mahasiswa yang sudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidangujian dihadapan dewan penguji dan Guru Besar. Dengan diterbitkannya Jurnal Ilmiah 2011 ini diharapkan pelaksanaan dalampenyelenggaraan pendidikan menjadi lebih lancar didalam mewujudkan visi dan misi sertatujuan pendidikan pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Kamijuga memberikan kesempatan kepada para pengajar, pengelola, mahasiswa dan alumniProgram Studi Magister Kenotariatan untuk berpartisipasi dalam menulis artikel ilmiahdengan tetap mentaati semua aturan atau ketentuan yang tercantum dalam Jurnal Ilmiah ini.Akhirnya, semoga Jurnal Ilmiah ini bermanfaat untuk semua pihak.Om, Santih, Santih, Santih, Om. Oktober 2011 Redaksi ii
    • DAFTAR ISI HlmSusunan Organisasi Pengelola ……………………………………………………………… iPengantar Redaksi ………………………………………………………………………….. iiDaftar isi ………………………………………………………………................................ iiiModel Anggaran Dasar Perseroan TerbatasDidirikan untuk di Indonesiauntuk Melaksanakan Tanggung Jawab Sosial PerusahaanA .A . R a t i h Pe r ma n as a ri .. . . . . . .. .. . . .. . . . .. .. . . .. .. . .. . . .. .. .. . .. . . .. .. . . . .. . . .. .. . .. . . .. . . .. . .. . . .. .. . . . . 1Pembatalan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Dan Akibat Hukumnya Terhadap AktaJual Beli Yang Menjadi Dasar Diterbitkannya Sertipikat Tersebut( Studi Kasus Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Denpasar )Ni Ketut Ayu Dewita Ismantari Artadi, SH ............................................................................................... 13Kewenangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (Ppat) Dalam Pemungutan PajakPenghasilan (Pph) Dari Jual Beli Hak Atas Tanah Dan/ Atau Bangunan Di WilayahDenpasar TimurPutu Ida Mahayani, SH. …………………………………………………………………………………. 26Kedudukan Hukum Dan Otentisitas Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (Ppat) DalamHal Pendaftaran TanahNi Putu Dhian Irmasari............................................................................................................................... 33Peran Pengurus Yayasan Dalam Penerapan Prinsip Transparansi Pada YayasanPendidikan Di Denpasar(Studi Di Yayasan Pendidikan Dwijendra Dan Perguruan Rakyat Saraswati Denpasar)Cokorda Istri Jayanthi Pemayun…………………………………………………………………………. 42Eksistensi Akta Pengakuan Hutang Dalam Pemberian Kredit BankA.A. Ngr. Andy Priatna Panjiningrat, S.H……………………………………………………………….. 53Petunjuk Penulisan Artikel iii
    • MODEL ANGGARAN DASAR PERSEROAN TERBATAS DIDIRIKAN UNTUK DI INDONESIA UNTUK MELAKSANAKAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN A. A. Ratih Permanasari Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-mail : - ABSTRACT A.A. Ratih Permanasari, student of Master of Notary Public, Faculty of Law, Brawijaya University, 2011, “ModelArticles of Association for Company Limited Established in Indonesia to Implement Corporate Social Responsibility”,Supervisor I : Afifah Kusumadara.,S.H.,LLM.,SJD and Supervisor II : Adiwati SH., MH. This thesis departs from the legal issue that is the vagueness of norms for the implementation of Corporate SocialResponsibility for Limited Liability Companies are required to take Corporate Social Responsibility in businessactivities, related to Law No. 40 of 2007 regarding Limited Liability Company which states in Article 74 paragraph (1)that every the Company is conducting its business activities to manage natural resources or related natural resourcesrequired to carry out social and environmental responsibility or Corporate Social Responsibility. But in the LimitedLiability Company Law of 2007 is not specified on the way for the government to be able to prove whether any of theCompany is required to implement Corporate Social Responsibility has done their duty or not and also for the Companyitself to prove that the Company has been implementing Corporate Social Responsibility or not. The research in this thesis using Juridical Normative legal research, analyze the legal issues based on the legalbasis of the legislation (Statute approach), in particular Law No. 40 of 2007 on Limited Liability Companies Act andsuch other sectoral Law Earth Oil and Gas Law, Forestry Law, Investment Law, Law of Water Resources, Forestry Lawand Law of Environmental Management. The results of the research in this thesis is to provide a model that includes the Companys Articles of Associationof Corporate Social Responsibility clause for a Limited Liability Company whose operations manage natural resourcesand whose business activities relating to natural resources that is by explaining in the Articles of Association of theCompany of funds to implement Corporate Social Responsibility is taken from the annual profits of the Company and inaccordance with the approval of the General Meeting of Shareholders and mention about the activities of CorporateSocial Responsibility conducted by the Company both in the field of employee benefits, economic, environmental,educational and social.Keyword: Model Articles of Association, Limited Liability Company, Corporate Social Responsibility Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 1
    • PENDAHULUAN Perseroan Terbatas (UUPT) dan peraturan pelaksananya. Ketentuan mengenai anggaran dasar Perseroan tertuangLatar Belakang Masalah dalam Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Disebutkan pula dalam Sejarah munculnya CSR dimulai sekitar awal Pasal 15 ayat 2 Undang-undang No. 40 Tahun 2007, yaituabad kedua puluh di Amerika, dimana suatu reaksi “selain ketentuan sebagaimana dimaksud diatas, anggaranterhadap perusahaan-perusahaan besar dimulai. Bisnis- dasar dapat juga memuat ketentuan lain yang tidakbisnis perusahaan besar dikritik karena terlalu kuat dan bertentangan dengan Undang-undang ini”. Sesuai denganmelakukan praktek antisosial. Konsep CSR itu sendiri penjelasan diatas mengenai ketentuan lain dalam anggaranmulai dikenal pada tahun 1950 sampai 1960 di Amerika dasar Perseroan Terbatas, maka ketentuan mengenai CSRSerikat, seorang penulis yang bernama R. Bowen dapat pula dimuat dalam anggaran dasar Perseroan.mengemukakan pendapatnya mengenai kewajiban Namun sampai saat ini belum ada perusahaan yangperusahaan menjalankan usahanya sejalan dengan nilai- mencantumkan mengenai ketentuan CSR dalam Anggarannilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat ditempat Dasar perusahaannya. Hal ini dikarenakan dalamperusahaan tersebut beroperasi. Masuknya prinsip-prinsip ketentuan UUPT tahun 2007 tidak terdapat ketentuan yangCSR ke Indonesia ditetapkan dalam Undang-undang yang mengharuskan setiap Perseroan yang wajib melaksanakanterdapat dalam Undang-undang Republik Indonesia CSR untuk mencantumkan CSR dalam AnggaranNomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Dasarnya sehingga tidak ada suatu kewajiban atau unsurPengertian mengenai CSR termuat dalam Pasal 1 angka 3 paksaan bagi setiap Perusahaan yang wajib melaksanakanUndang-undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2007 CSR untuk mencantumkan CSR dalam Anggarantentang Perseroan Terbatas. Dalam Pasal 74 Undang- Dasarnya.undang No. 40 tahun 2007, CSR diterjemahkan ke dalambahasa Indonesia menjadi Tanggung Jawab Sosial dan Beberapa kendala yang dihadapi oleh PerseroanLingkungan. dalam menetapkan ketentuan CSR dalam anggaran dasar perusahaan adalah kemungkinan akan terjadinya kerugian Ketentuan mengenai CSR sebenarnya juga dalam perjalanan Perseroan sehingga tidaktercantum dalam beberapa Undang-undang sektoral selain memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan CSR.di dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Disamping itu ada perbedaan kendala yang dihadapi olehPerseroan Terbatas. Beberapa undang-undang sektoral Perseroan tertutup dan Perseroan yang terbuka. Hal iniyang juga mencantumkan mengenai ketentuan CSR antara dikarenakan dari segi modal, alokasi saham, penjualanlain: saham dan pembagian keuntungan bagi Perseroan yang tertutup dan terbuka berbeda jumlah dan prosesnya. a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan juga Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan dikarenakan sampai saat ini belum ada Perseroan Terbatas Batu Bara, Pasal 95 (d), (e) ; yang mencantumkan CSR dalam anggaran dasar b. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 perusahaannya, maka dalam tesis ini penulis tertarik untuk Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Pasal 15 membahas mengenai : Model Anggaran Dasar (b) ; Perusahaan bagi Perseroan Terbatas yang Didirikan c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 di Indonesia untuk Melaksanakan Corporate Social Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Pasal 47 Responsibility. (3) ; d. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Rumusan Masalah Minyak Gas dan Bumi, Pasal 40 (2), (3) dan (5) ; e. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang 1. Bagaimana model anggaran dasar bagi Perseroan Kehutanan, Pasal 23 ; terbatas yang diwajibkan melakukan CSR dalam f. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang kegiatan usahanya ? Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 6 ayat 1 2. Masalah-masalah hukum apa yang dapat dihadapi dan ayat 2 ; Perseroan terbatas yang memasukkan CSR dalam anggaran dasarnya ? Untuk memahami lebih lanjut mengenaikewajiban CSR bagi Perseroan Terbatas yang didirikan di Manfaat PenelitianIndonesia, maka selanjutnya penulis akan membahasmengenai Perseroan Terbatas. Perseroan terbatas (PT) Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaatadalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, baik secara teoritis maupun secara praktis sebagai berikut:didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatanusaha dengan modal dasar yang keseluruhannya terbagi Manfaat secara Teoritisatas saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaatoleh Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 2
    • bidang Hukum Kenotariatan pada Khususnya. Disamping di sekitarnya dan juga memperhatikanitu hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi keberlangsungan lingkungan hidup di sekitarnyapengembangan pengetahuan terkait model CSR dalamAnggaran Dasar Perusahaan bagi Perseroan Terbatas yang Metode PenelitianDidirikan di Indonesia. a. Jenis PenelitianManfaat secara praktis Penelitian yang penulis lakukan adalaha. Bagi setiap Perseroan yang wajib untuk berdasar metode penelitian Yuridis Normatif, melaksanakan CSR dalam kegiatan Perseroannya maksudnya adalah menganalisa permasalahan hukum agar mengetahui mengenai manfaat dan kewajiban yang berpedoman pada landasan hukum yaitu dalam pelaksanaan CSR di Indonesia serta model peraturan perundang-undangan. Dalam tesis ini CSR dalam anggaran dasar perusahaannya. penulis menemukan adanya suatu kekaburan normab. Bagi setiap Perseroan terbuka dan tertutup yang akan atas pelaksanaan CSR bagi Perseroan Terbatas yang memasukkan ketentuan CSR dalam Anggaran Dasar diwajibkan melakukan CSR dalam kegiatan usahanya. Perusahaan agar dapat mengantisipasi kendala yang Hal ini dikarenakan dalam UUPT tahun 2007 dapat timbul dikemudian hari. menyebutkan bahwa setiap Perseroan yang melakukan kegiatan usahanya dengan mengelola sumber daya alam atau yang berkaitan dengan sumberKerangka Teoritik daya alam wajib untuk melaksanakan CSR. Namun UUPT tidak menentukan mengenai cara bagia. Teori Pertanggungjawaban pemerintah untuk dapat membuktikan apakah setiap Kewajiban Perseroan untuk Perseroan yang diwajibkan untuk melaksanakan CSR melaksanakan CSR termasuk ke dalam Prinsip telah melakukan kewajibannya atau tidak dan juga Tanggung Jawab Mutlak. Prinsip tanggung jawab bagi perusahaan untuk membuktikan bahwa mutlak mutlak (strict liability) merupakan gagasan perusahaan tersebut telah melaksanakan CSR atau yang disampaikan dalam UU No. 23 tahun 1997 tidak. Tentang Lingkungan Hidup kemudian dipertegas di UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan b. Definisi Konseptual Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 88 bahwa Beberapa istilah dalam penelitian ini setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau yang perlu penulis jelaskan agar maknanya tidak kegiatannya menggunakan, menghasilkan dan/atau terlepas dari konsep penelitian antara lain : mengelola limbah, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup a. Model adalah rencana, representasi, atau bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi deskripsi yang menjelaskan suatu konsep dimana tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan. dalam tesis ini khususnya mengenai Model Anggaran Dasar Perusahaan.b. Teori Demokrasi Ekonomi b. Model Anggaran Dasar adalah suatu bentuk Akta Teori demokrasi ekonomi mengandung yang dibuat dihadapan Notaris yang didalamnya konsekuensi moral, tetapi secara khusus disoroti memuat ketentuan mengenai kegiatan CSR bagi sebagai bentuk perpaduan antara politik, ekonomi, Perseroan Terbatas yang diwajibkan untuk dan moral kultural. Sistem politik, ekonomi, dan melaksanakan kegiatan CSR sesuai dengan moral kultural bekerja secara dinamis, seimbang, dan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang tidak saling mensubordinasikan sehingga masing- Perseroan Terbatas. masing berinteraksi secara baik. Dilihat dari landasan c. Perseroan Terbatas adalah Perseroan yang Yuridis pada Pasal 33 UUD Tahun 1945 ayat (1) melakukan kegiatan usahanya di bidang sumber menyatakan bahwa: “Perekonomian disusun sebagai daya alam atau yang berkaitan dengan sumber usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. daya alam, baik Perseroan tersebut masih Sesuai dengan Putusan Mahkmah Konstitusi berbentuk Peseroan Tertutup maupun telah Republik Indonesia Nomor 53/ PUU- VI/ 2008, menjadi Perseroan Terbuka. pengertian dari efisiensi berkeadilan adalah salah d. Perseroan Terbatas yang melakukan kegiatan satu prinsip penyelenggaraan ekonomi nasional usahanya dibidang sumber daya alam adalah berdasarkan demokrasi ekonomi. Oleh karena itu Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan setiap Perusahaan yang didirikan di Indonesia yang memanfaatkan sumber daya alam. bergerak di bidang pengeloaan sumber daya alam e. Perseroan Terbatas yang kegiatan usahanya ataupun yang terkait dengan sumber daya alam, berkaitan dengan sumber daya alam adalah disamping mencapai tujuan utamanya yaitu Perseroan yang tidak mengelola dan tidak mendapatkan keuntungan, Perusahaan tersebut juga memanfaatkan sumber daya alam, tetapi wajib untuk memperhatikan kepentingan masyarakat berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam. Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 3
    • f. Perseroan Tertutup adalah Perseroan terbatas b. Pengertian Anggaran Dasar Perseroan Terbatas. yang modalnya berasal dari kalangan tertentu Dalam Pasal 15 UUPT 2007 yang dimaksud atau kalangan terbatas dan tidak dijual kepada dengan Anggaran Dasar dalam Pasal 8 Ayat 1 memuat umum. sekurang-kurangnya : g. Perseroan Terbuka adalah Perseroan terbatas yang menjual sahamnya kepada masyarakat a. Nama dan tempat kedudukan Perseroan ; melalui pasar modal (go public) yang sahamnya b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan ; ditawarkan kepada umum, diperjualbelikan c. Jangka waktu berdirinya Perseroan ; melalui bursa saham dan setiap orang berhak d. Besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan untuk membeli saham perusahaan tersebut. modal disetor ; h. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility e. Jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut adalah melaksakan tanggung jawab sosial dan jumlah saham tiap klasifikasi, hak-hak yang melekat lingkungan yang dianggarkan dan diperhitungkan pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham ; sebagai biaya Perseroan yaitu dengan melakukan f. Nama jabatan dan jumlah anggora Direksi dan Dewan kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi Komisaris ; masyarakat dan juga dengan melakukan kegiatan g. Penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan yang bermanfaat bagi pelestarian lingkungan. RUPS ; h. Tata cara pengangkatan, penggantian, pemberhentian KAJIAN PUSTAKA anggota Direksi dan Dewan Komisaris ; i. Tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden.a. Istilah dan Pengertian Perseroan Terbatas Guna memahami model anggaran dasar Disebutkan pula dalam Pasal 15 Ayat (2) UUPTPerseroan terbatas yang diwajibkan untuk melakukan CSR 2007 bahwa “Selain ketentuan sebagaimana dimaksuddalam kegiatan usahanya, maka terlebih dahulu harus pada ayat (1) anggaran dasar dapat juga memuat ketentuandipahami pengertian mengenai Perseroan terbatas. lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.” Suatu Perseroan yang telah memenuhi kriteria untukPasal 1 angka 1 UUPT 2007, berbunyi : merubah statusnya dari Perseroan tertutup menjadi Perseroan Publik atau terbuka, wajib untuk merubahPerseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, Anggaran Dasarnya menjadi Perseroan Terbuka. Adapunadalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, kewajiban unuk merubah Anggaran Dasar sesuai dengandidirikan berdasar perjanjian, melakukan kegiatan usaha ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) huruf f adalah dalamdengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejakdan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam dipenuhinya kriteria untuk menjadi Perseroan terbuka,undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. antara lain :Pengertian Corporation menurut Law Dictionary adalah : a. Sahamnya telah dimiliki sekurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham ; Organization formed with state governmental b. Memiliki modal disetor sekurang kurangnya Rp.approval to act as an artificial person to carry on business 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah), atau ;(or other activities), which can sue or be sued, and (unless c. Suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yangit is non-profit) can issue shares of stock to raise funds ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.with which to start a business or increase its capital. Onebenefit is that a corporations liability for damages or Adapun dampak dari perubahan Anggaran Dasar terhadapdebts is limited to its assets, so the shareholders and pihak ketiga, antara lain:officers are protected from personal claims, unless theycommit fraud. a. Bagi Investor atau calon pemegang saham, agar dapat melihat jenis usaha serta maksud dan tujuan (Terjemahan bebas penulis : Organisasi yang dari Perseroan tersebut.dibentuk dengan persetujuan pemerintah negara untuk b. Bagi Perusahaan Perbankan, agar dapat lebihbertindak sebagai badan hukum buatan untuk menjalankan mengenal Perseroan yang akan diberikan danausaha (atau kegiatan lainnya), yang dapat menggugat atau pinjaman. Disamping itu, pihak Perbankan jugadigugat, dan (kecuali jika itu adalah non-profit) dapat dapat melihat keterbukaan informasi Perseroanmengeluarkan saham untuk mengumpulkan dana yang tersebut dari Bursa (bagi Perseroan Terbuka).dapat digunakan untuk memulai bisnis atau meningkatkan c. Bagi Perusahaan lain yang akan melakukan mergermodal. Salah satu manfaat adalah suatu kewajiban atau akuisisi, agar dapat melihat perkembangankorporasi atas kerusakan atau hutang terbatas pada aset, dari suatu perusahaan yang akan menjadi bagiansehingga pemegang saham dan petugas dilindungi dari merger atau akuisisi perusahan tersebut.klaim pribadi, kecuali mereka melakukan penipuan). Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 4
    • d. Bagi Pemerintah agar dapat selalu mengawasi mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam baik perkembangan Perseroan yang didirikan di sumber daya alam tersebut adalah sumber daya alam Indonesia. Sehingga dengan demikian, pemerintah hayati maupun non hayati. Adapun Perseroan-Perseroan dapat melakukan antisipasi apabila Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan tersebut memiliki tanda-tanda akan mengalami sumber daya alam, antara lain Perseroan yang bergerak kepailitan. dibidang pertambangan, sumber daya air, minyak gas dan e. Bagi Masyarakat sekitar, agar dapat melihat secara bumi. Sesuai dengan teori pertanggungjawaban yang telah nyata mengenai kondisi perusahaan tersebut penulis kemukakan diatas, maka perseroan yang bergerak apakah mengalami kemajuan ataukah kemunduran. di bidang pengelolaan sumber daya alam memiliki tanggung jawab mutlak untuk melakukan CSR dalam2.3 Pengertian Corporate Social Responsibility kegiatan usahanya. Hal ini dikarenakan setiap perseroan Corporate Social Responsibility mendapat yang mengelola sumber daya alam menggunakan danbanyak sekali perhatian dari masyarakat dunia khususnya memanfaatkan sumber daya alam untuk kelangsungannegara-negara maju, pengertian dari CSR ini sendiri dapat kegiatan usaha perusahaanya.dilihat dari berbagai sudut, salah satu pengertiannyaadalah “CSR is a development that meets the needs of the Untuk dapat mengetahui jenis kegiatan CSR yangpresent without compromising the ability of future sesuai bagi perusahaan yang bergerak dibidanggenerations to meet their own needs” dimana dalam hal pengelolaan sumber daya alam untuk kemudian ditetapkanini dimaksudkan bahwa CSR merupakan suatu dalam Anggaran Dasar Perusahaannya, maka selanjutnyaperkembangan yang mempertemukan berbagai kebutuhan penulis membandingkan dengan pelaksanaan CSR dipada saat ini tanpa merusak sesuatu yang dimiliki generasi Australia dimana pada tahun 2001 salah satu perusahaanmasa depan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. di Australia yang bernama AMP Henderson GlobalPerspektif mengenai CSR juga beraneka ragam, Investors meluncurkan suatu produk investasidiantaranya: bertanggung jawab sosial yang disebut dengan ‘Sustainable Future Funds’ atau Dana Masa Depan yanga. The Organisation for Economic Cooperation and Berkelanjutan. Produk ini menawarkan dana investasi Development (OECD) memandang bahwa CSR dapat yang berfokus pada industri-industri masa depan yang memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing pihak. memperhatikan stadar kesehatan, komunikasi, OECD meyakini bahwa terdapat persetujuan umum pembaharuan energi dan pendidikan, serta menjadi dalam ekonomi global, dimana bisnis umumnya perusahaan yang berkomitmen untuk beroperasi dengan memainkan peranan yang terbesar antara lapangan cara yang bertanggung jawab sosial. pekerjaan dan penciptaan kesejahteraan, dan CSR adalah kontribusi bisnis bagi pembangunan yang Berdasarkan perbandingan dengan Negara berkelanjutan atau berkesinambungan (sustainable Australia diatas, maka perusahaan-perusahaan di development). Indonesia dapat menerapkan dalam anggaran dasarnyab. The World Bussiness Council for Sustainable suatu model program dana yang dilakukan secara Development (sekarang dinamakan Bussiness Action berkelanjutan, dimana dana ini diambil dari keuntungan for Sustainable Development) menempatkan CSR perusahaan setiap tahunnya. Adapun kegiatan-kegiatan dalam konteks pembangunan berkelanjutan. CSR CSR yang dapat dilakukan perusahaan yang kegiatan dipandang sebagai salah satu kunci tanggungjawab usahanya bergerak dibidang pengelolaan sumber daya badan hukum yang juga termasuk tanggungjawab alam adalah kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi dan tanggungjawab lingkungan. konservasi alam, seperti penanaman bibit pohon di lahan-c. The Commission for European Communities lahan yang kritis, kegiatan pembersihan lahan yang memandang CSR secagai esensi dari konsep dimana terkontaminasi oleh sampah ataupun limbah-limbah. perusahaan memberikan kesukarelaan dalam Disamping itu kegiatan CSR lainnya yang dapat mengkontribusi demi masyarakat yang lebih sejahtera dicantumkan dalam anggaran dasar perusahaan tersebut dan lingkungan yang lebih bersih. adalah kegiatan sosial bagi masyarakat yang dapat berupa pemberdayaan masyarakat sekitar dengan mendirikan PEMBAHASAN sekolah-sekolah atau memberikan bantuan keuangan atau beasiswa bagi anak-anak masyarakat sekitar, bantuana. Model Anggaran Dasar Bagi Perseroan Terbatas keuangan ataupun makanan bagi masyarakat sekitar yang Yang Diwajibkan Melakukan CSR Dalam kurang mampu serta dapat pula melakukan pembinaan Kegiatan Usahanya. untuk mendirikan usaha-usaha home industry. Kegiatan CSR ini dilakukan perusahaan-perusahaan denganModel Anggaran Dasar Bagi Perseroan Terbatas yang memperhatikan kepatutan dan kewajaran, dengan kata lainKegiatan Usahanya Mengelola Sumber Daya Alam kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan hendaknya Perseroan yang kegiatan usahanya bergerak di memperhatikan kondisi dari perusahaan itu sendiri. Jadibidang sumber daya alam adalah Perseroan yang perusahaan-perusahaan tersebut perlu menganggarkan Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 5
    • dengan sebaik-baiknya mengenai presentase keuntungan 1.2 Ketentuan mengenai penggunaan laba tahunanperusahaan yang nantinya akan disisihkan dan digunakan Perseroan untuk kegiatan CSR oleh Perseroansebagai dana untuk kegiatan CSR karena kegiatan tersebut akan diatur lebih lanjut dalam Pasal 18.-adalah suatu program pemberian dana yang berkelanjutan. PENGGUNAAN LABA DAN PEMBAGIAN DEVIDEN Berikut dibawah ini penulis memberikan contoh ---------------------------Pasal 18---------------------------Akta Pendirian Perseroan Terbatas yang didalamnya 1. Laba bersih Perseroan dalam suatu tahun buku sepertimemuat model Anggaran Dasar Perusahaan yang tercantum dalam neraca dan perhitungan laba rugimengatur mengenai ketentuan CSR. Model Anggaran yang telah disahkan oleh Rapat Umum PemegangDasar ini dapat digunkan bagi Anggaran Dasar Perseroan- Saham (RUPS) tahunan dan merupakan saldo labaPerseroan yang kegiatan usahanya bergerak di bidang yang positif, dibagi menurut cara penggunaannyapengelolaan sumber daya alam. Garis besar model yang ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang SahamAnggaran Dasar ini mengikuti struktur isi Anggaran Dasar (RUPS) tersebut.------------------------Perseroan Terbatas pada umumnya, dengan tambahan 1.1 Perolehan laba bersih Perseroan dalam satuklausula yang mengatur tentang CSR. tahun akan disisihkan ____ % untuk penggunaan kegiatan CSR. (persentase laba Model Anggaran Dasar Perusahaan bagi Perseroan Perseroan yang disisihkan disesuaikanTerbatas yang Kegiatan Usahanya Mengelola Sumber dengan kondisi Perseroan itu sendiri).--- Daya Alam. 1.2 Jumlah laba bersih Perseroan dalam satu tahun yang disisihkan untuk pelaksanaan AKTA PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS kegiatan CSR serta jenis kegiatan CSR yang PT. __________ akan dilakukan oleh Perseroan akan Nomor : 01- ditentukan setiap tahunnya dalam Rapat ---Pada pukul _________, hari ______, tanggal Umum Pemegang Saham (RUPS).-------------- _________.- __Menghadap kepada saya _____________, Sarjana Hukum, Notaris di Denpasar, -------------PENGGUNAAN CADANGAN------------ dengan dihadiri para saksi yang saya , Notaris, kenal dan ----------------------------Pasal 19-------------------------- akan disebutkan pada bagian akta ini.----- 1. Tuan _________, ---- CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY----- 2. Tuan _________, ----------------------------Pasal 20-------------------------- ---Penghadap bertindak untuk diri sendiri telah dalam 1. Kegiatan Corporate Social Responsibility yang kedudukannya sebagaimana tersebut di atas dengan ini dilakukan oleh Perseroan adalah kegiatan yang menerangkan, bahwa dengan tidak mengurangi ijin dari dilaksanakan setiap tahunnya oleh Perseroan dengan pihak yang berwenang, telah sepakat dan setuju untuk menggunakan laba tahunan yang diperoleh Perseroan bersama-sama mendirikan suatu Perseroan Terbatas dimana laba ini khusus dianggarkan untuk dengan Anggaran Dasar sebagaimana yang termuat melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility dalam akta pendirian ini (untuk selanjutnya cukup .---------------- disingkat dengan “Anggaran Dasar”) sebagai berikut 2. Adapun kegiatan Corporate Social Responsibility :--------------- yang dilakukan oleh Perseroan setiap tahunnya adalah :----------------------------- --------NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN------- a. Di bidang lingkungan : ---------------------------Pasal 1---------------------------- - Melakukan penanaman bibit pohon ________ (jenis pohon) sebanyak _______ Dan seterusnya sampai dengan Pasal 16 (jumlah) bibit pohon di kawasan ____________. (wilayah tempat berdirinya RENCANA KERJA, TAHUN BUKU DAN LAPORAN Perseroan) ------------- TAHUNAN - Melakukan pembersihan kawasan --------------------------Pasal 17---------------------------- _________ (wilayah tempat berdirinya1. Direksi menyampaikan rencana kerja yang memuat Perseroan) berupa pembuatan bak juga anggaran tahunan Perseroan kepada Dewan pembakaran sampah dan saluran air dengan Komisaris untuk mendapat persetujuan, sebelum tahun melibatkan masyarakat, yaitu ____ (jumlah) buku dimulai.--------- Kepala Keluarga di wilayah _______ dan 1.1 Rencana kerja dari Perseroan ini juga memuat sekolah dasar _____, ______ dan _____ mengenai rencana pelaksanaan kegiatan CSR (nama SD), yang berada di wilayah yang anggarannya didapatkan dari perolehan laba _____________. (wilayah tempat berdirinya tahunan Perseroan. ------- Perseroan) --- (atau) Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 6
    • b. Di bidang pendidikan : Perseroan Terbatas yang didalamnya memuat model - Pemberian bantuan beasiswa kepada murid- Anggaran Dasar Perusahaan yang mengatur mengenai murid sekolah dasar di kawasan ketentuan CSR. ____________, (wilayah tempat berdirinya Perseroan), khususnya pada Sekolah Dasar Model Anggaran Dasar Perusahaan bagi Perseroan _________(nama SD) sebesar Rp. Terbatas yang Kegiatan Usahanya Berkaitan dengan ___________ (jumlah) setiap tahunnya Sumber Daya Alam. kepada seluruh siswa dari kelas ____ SD sampai dengan kelas ____ AKTA PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS - Pemberian bantuan dana untuk kelengkapan PT. __________ infrastruktur sekolah, khususnya kepada SD ______, SD ______ dan SD _______ yang Nomor : 01- terletak di wilayah____,-- (atau ) ---Pada pukul _________, hari ______, tanggal _________.- __Menghadap kepada saya _____________, c. Di bidang sosial : Sarjana Hukum, Notaris di Denpasar, dengan dihadiri para - Pembinaan industri rumah tangga (home saksi yang saya , Notaris, kenal dan akan disebutkan pada industry) kepada Ibu-ibu rumah tangga di bagian akta ini.----- kawasan _____________ yang berupa pembuatan kerajinan tangan yang dapat 1. Tuan _________, langsung dijual ataupun disalurkan kembali 2. Tuan _________, pada supplier.-------- ---Para Penghadap saya, Notaris kenal.------------------------ - Bantuan pengobatan gratis bekerjasama ------------- dengan Rumah Sakit ________ (nama Rumah Sakit) kepada masyarakat di desa ---Penghadap bertindak untuk diri sendiri telah dalam _____ dan desa ____. ----- kedudukannya sebagaimana tersebut di atas dengan ini menerangkan, bahwa dengan tidak mengurangi ijin dari Model Anggaran Dasar Bagi Perseroan Terbatas yang pihak yang berwenang, telah sepakat dan setuju untuk Kegiatan Usahanya Berkaitan Dengan Sumber Daya bersama-sama mendirikan suatu Perseroan Terbatas Alam. dengan Anggaran Dasar sebagaimana yang termuat dalam Yang dimaksud dengan “Perseroan yang akta pendirian ini (untuk selanjutnya cukup disingkatmenjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan dengan “Anggaran Dasar”) sebagai berikut :--------------sumber daya alam” adalah Perseroan yang tidakmengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, --------NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN-------tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi ---------------------------Pasal 1----------------------------kemampuan sumber daya alam. Berdasarkan pengertiantersebut maka setiap perusahaan yang kegiatan usahanya Dan seterusnya sampai dengan Pasal 16berdampak pada fungsi sumber daya alam sepertiperusahaan yang bergerak di bidang transportasi, RENCANA KERJA, TAHUN BUKU DAN LAPORANpenjualan kerajinan tangan dan furniture, perusahaan jasa TAHUNANakomodasi perhotelan adalah perusahaan-perusahaan yang --------------------------Pasal 17----------------------------memenuhi kategori untuk melaksanakan CSR. 1. Direksi menyampaikan rencana kerja yang memuat juga anggaran tahunan Perseroan kepada Dewan Tanggungjawab dari perusahaan ini terjadi Komisaris untuk mendapat persetujuan, sebelumkedalam dan keluar. Tanggungjawab kedalam menuntut tahun buku dimulai.----adanya transparansi dalam perusahaan oleh karena itu 1.1 Rencana kerja dari Perseroan ini jugamaka di perlukan Good Corporate Governance demi memuat mengenai rencana pelaksanaanketerbukaan informasi kepada publik. Keterbukaan ini kegiatan CSR yang anggarannya didapatkantentunya akan memberikan banyak kejelasan kepada dari perolehan laba tahunan Perseroan. ------karyawan dalam perusahaan tersebut mengenai -----------------------------keuntungan dari perusahaan sehingga hubungan antara 1.2 Ketentuan mengenai penggunaan labaperusahaan dan karyawan menjadi hubungan yang saling tahunan Perseroan untuk kegiatan CSR olehmenguntungkan, yaitu karyawan memberikan segenap Perseroan akan diatur lebih lanjut dalamusahanya untuk memajukan perusahaan dan perusahaan Pasal 18.-menjaga kesejahteraan dari karyawannya. Tanggungjawabkeluar dari perusahaan adalah kepada pemerintah, PENGGUNAAN LABA DAN PEMBAGIAN DEVIDENmasyarakat sekitar dan juga lingkungan sekitar. Berikut --------------------------Pasal 18----------------------------dibawah ini penulis memberikan contoh Akta Pendirian Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 7
    • 1. Laba bersih Perseroan dalam suatu tahun buku kegiatan yang tidak mencemari lingkungan, seperti tercantum dalam neraca dan perhitungan laba khususnya di kawasan____________.-------- rugi yang telah disahkan oleh Rapat Umum ------------------------------------ Pemegang Saham (RUPS) tahunan dan merupakan (atau) saldo laba yang positif, dibagi menurut cara penggunaannya yang ditentukan oleh Rapat c. Di bidang sosial : Umum Pemegang Saham (RUPS) tersebut.------------ - Pemberian bantuan pangan setiap tahunnya ------------ berupa Sembako (beras, gula, minyak 1.1 Perolehan laba bersih Perseroan dalam satu goreng, daging, susu, telur, gas elpiji dan tahun akan disisihkan ____ % untuk garam beryodium) kepada masyarakat penggunaan kegiatan CSR. (persentase laba miskin sesuai dengan pendataan yang Perseroan yang disisihkan disesuaikan dilakukan oleh Perseroan di kawasan dengan kondisi Perseroan itu sendiri).--- ___________.------------------------------------ 1.2 Jumlah laba bersih Perseroan dalam satu ------ tahun yang disisihkan untuk pelaksanaan - Program hidup bersih di kawasan desa ________ kegiatan CSR serta jenis kegiatan CSR yang dan desa ________ dengan mendirikan tempat akan dilakukan oleh Perseroan akan MCK (Mandi Cuci Kakus) yang layak dan ditentukan setiap tahunnya dalam Rapat pembangunan instalasi pompa air.------------------- Umum Pemegang Saham (RUPS).------------ --------------------- -- b. Masalah-masalah Hukum Yang Dapat Dihadapi Perseroan Terbatas Yang Memasukkan CSR -------------PENGGUNAAN CADANGAN------------ Dalam Anggaran Dasarnya. ---------------------------Pasal 19--------------------------- Masalah Hukum Bagi Perseroan Terbatas yang Tertutup---- CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY----- --------------------------Pasal 20---------------------------- Pada Perseroan tertutup terdapat ciri-ciri khusus1. Kegiatan Corporate Social Responsibility yang antara lain : dilakukan oleh Perseroan adalah kegiatan yang a. Pemegang sahamnya terbatas dan tertutup (besloten, dilaksanakan setiap tahunnya oleh Perseroan dengan close). Hanya terbatas pada orang-orang yang masih menggunakan laba tahunan yang diperoleh Perseroan kenal mengenal atau pemegang sahamnya hanya dimana laba ini khusus dianggarkan untuk terbatas diantara mereka yang masih ada ikatan melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility keluarga dan tertutup bagi orang luar ; .--------------- b. Saham Perseroan yang ditetapkan dalam Anggaran2. Adapun kegiatan Corporate Social Responsibility Dasar hanya sedikit jumlahnya dan dalam Anggaran yang dilakukan oleh Perseroan setiap tahunnya Dasar sudah ditentukan dengan tegas siapa saja yang adalah :----------------------------- menjadi pemegang saham ; a. Di bidang kesejahteraan karyawan Perseroan : c. Sahamnya hanya atas nama (aandeel op nam, - Pemberian dana pensiun sebesar Rp. registered share) atas orang-orang tertentu secara __________ setiap bulannya kepada terbatas. Karyawan Perseroan yang telah tercatat bekerja selama ______ tahun di Perseroan Dikarenakan Perseroan tertutup memiliki saham dan telah memenuhi syarat-syarat pensiun.-- yang terbatas, maka modal dari Perseroan tertutup tersebut ----------- juga terbatas pada modal Perseroan yang terbagi dalam - Pembiayaan kegiatan keagamaan bersama saham, sehingga dalam melakukan pengembangan bagi seluruh karyawan Perseroan.------------- kegiatan usaha Perseroan hanya tergantung pada modal --------------- dan keuntungan yang diperoleh pada saat itu saja. (atau) Perseroan tertutup tidak menerima tambahan modal dari publik. Dengan demikian, maka keuntungan atau modal b. Di bidang ekonomi dan lingkungan : yang diperoleh Perseroan tertutup juga terbatas. Apabila - Memanfaatkan lahan yang terbuka di Perseroan Tertutup ini mencantumkan kegiatan CSR wilayah ________ untuk ditanam tanaman dalam Anggaran Dasarnya, maka akan terdapat yang bermanfaat bagi kelestarian kemungkinan besar kegaiatan CSR ini tidak akan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat terlaksana karena minimnya anggaran atau laba Perseroan, berupa _________ (jenis tanaman).----- hal ini disebabkan bukan karena Perseroan tersebut - Pemberian label hijau atau eco labeling atas mengalami kerugian, namun karena laba yang diperoleh produk-produk yang dihasilkan oleh Perseroan tersebut tidak akan mencukupi untuk Perseroan sebagai bukti bahwa kegiatan melakukan kegiatan CSR. Kedepannya apabila Perseroan yang dilakukan oleh Perseroan adalah Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 8
    • ini berkeinginan untuk mengubah Anggaran Dasar kegiatan tersebut akan memberikan manfaat kepadaperusahaannya dengan tidak mencantumkan klausula yang masyarakat dan lingkungan.mengatur mengenai CSR, maka akan memakan proseduryang panjang, karena untuk merubah Anggaran Dasar Masalah hukum lainnya yang dihadapi olehperusahaan berdasarkan ketentuan dalam Pasal 19 UUPT Perseroan Terbuka dalam menetapkan CSR dalam2007 adalah harus dilakukan Rapat Umum Pemegang Anggaran Dasar perusahaannya adalah tidak adanyaSaham terlebih dahulu yang kemudian harus segera aturan yang menyetarakan ketentuan mengenai kegiatandinyatakan dalam akta Notaris (batas waktunya adalah 30 CSR bagi seluruh Perseroan Terbuka di Indonesia. Denganhari semenjak didapatkannya keputusan dalam RUPS) dan demikian, maka terdapat perbedaan dalam laporanselanjutnya sesuai dengan Pasal 21 ayat (3) UUPT 2007 keuangan setiap Perseroan Terbuka. Perseroan yang telahharus dilakukan pemberitahuan kepada Menteri Hukum melaksanakan CSR dalam kegiatan usahanya akan melihatdan HAM atas perubahan Anggaran Dasar tersebut. bahwa ada Perseroan Terbuka lain yang tidak menganggarkan atau menyisihkan laba perusahaannya Untuk mengatasi masalah ini, maka bagi untuk melakukan kegiatan CSR. Perseroan lainnya yangPerseroan tertutup yang ingin melakukan komitmennya tidak menganggarkan kegiatan CSR dalam kegiatandalam melaksanakan CSR dalam kegiatan usahanya dan usahanya ini tidak akan mendapatkan sanksi darimencantumkannya dalam Anggaran Dasar Peseroan, maka pemerintah, karena memang tidak ada aturan khusus yangdalam Anggaran Dasar Perseroan tersebut sebaiknya mengatur mengenai ketentuan tentang kegiatan CSR yangdicantumkan mengenai klausula tentang waktu yang tepat diwajibkan untuk dicantumkan dalam Anggaran Dasar.untuk melakukan kegiatan CSR (misalnya dalam jangka Dengan demikian, akan terdapat kemungkinan bahwawaktu dua atau tiga tahun setelah Perseroan tersebut kedepannya Perseroan akan mencantumkan klausuladidirikan). Hal ini untuk mengantisipasi agar Perseroan mengenai CSR dalam Anggaran Dasar Perusahaannyatersebut telah berada dalam kondisi finansial yang stabil, sebagai suatu aksesoris saja, dalam arti bahwa ketentuansehingga dapat melakukan kegiatan CSR yang terencana CSR tersebut hanya untuk memenuhi ketentuan dalamdan dianggarkan dengan baik. Berikut penulis akan UUPT 2007 saja dan bukan untuk mecapai tujuan esensialmemberikan contoh klausula dalam Anggaran Dasar dari CSR yaitu kesejahteraan bagi masyarakat danPerseroan yang menjelaskan mengenai jangka waktu pelestarian lingkungan.pelaksanaan CSR dalam suatu Perseroan : Berikut penulis akan membandingkan dengan“Ketentuan mengenai pelaksanaan kegiatan CSR dalam ketentuan pelaksanaan CSR bagi Perseroan Terbatas yangPerseroan yang dianggarkan dari perolehan laba bersih terbuka di Belanda. Ketentuan bagi Perseroan Terbuka diPerseroan ini, akan dimulai pada tahun ke _____ sejak Belanda diatur dalam Dutch Corporate Governace Code.didirikannya Perseroan dengan mempertimbangkan Pada tahun 2008 Dutch Corporate Governance Codekondisi perkembangan finansial Perseroan.” direvisi dan secara khusus di bab Principles Dan Best Practice Provisions ditambahkan ketentuan mengenaiMasalah Hukum Bagi Perseroan Terbatas yang Corporate Social Responsibility bagi perushaan terbukaTerbuka yang mendaftarkan sahamnya di bursa efek Belanda menambahkan ketentuan formal mengenai Corporate Pada umumnya dalam peseroan terbuka orientasi Social Responsibility (CSR), dimana dalam revisi padayang di prioritaskan para Investor sebagai pemegang tahun 2008 tersebut Perseroan Terbatas di Belandasaham adalah dalam transaksi saham di pasar sekunder diharuskan untuk menyusun kebijakan mengenai CSR dandimana investor mengharapkan capital gain dari jual beli mencantumkannya dalam strategi perusahaan. Setiapsaham mereka di Bursa Efek. Dikarenakan orientasi para Perseroan Terbuka di Belanda yang sudah mendaftarkaninvestor sebagai pemegang saham Perseroan Terbuka ini sahamnya di bursa efek Belanda wajib untuk memberikanada pada keuntungan jual-beli saham Perseroan, sehingga laporan tahunannya kepada The Monitoring Committeekendala Perseroan Terbuka yang telah mencantumkan sebagai badan pengawas Perseroan Terbuka atasklausula mengenai CSR dalam Anggaran Dasarnya adalah pelaksanaan Dutch Corporate Governace Code, Dalamtidak adanya perhatian atau kepedulian dari pemegang laporan tahunan tersebut setiap Perseroan Terbuka wajibsaham peseroan akan pelaksanaan kegiatan CSR dalam untuk menjelaskan apakah Perseroan tersebutPeseroan tersebut. Hal ini juga dikarenakan anggaran melaksanakan atau tidak melaksanakan ketentuan dalamkegiatan CSR dalam Perseroan diambil dari laba Dutch Corporate Governace Code. Meskipun ketentuanperusahaan yang telah disisihkan, dimana laba perusahaan dalam Dutch Corporate Governace Code bersifat soft law,yang disisihkan untuk melakukan kegiatan CSR ini tidak namun rekomendasi dari The Monitoring Committeeakan mempengaruhi keuntungan para pemegang saham berdasarkan laporan tahunan dari Perseroan Terbukadalam melakukan jual beli saham mereka di pasar memiliki dampak yang besar pada reputasi setiapsekunder, sehingga para pemegang saham ini akan Perseoan Terbuka.menyetujui begitu saja kegiatan CSR yang akan dilakukanoleh Perseroan tersebut tanpa memperhatikan apakah jenis Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 9
    • Berdasarkan perbandingan diatas mengenai tidak akan memperdulikan apakah jenispengaturan CSR di Belanda, maka pemerintah Indonesia kegiatan CSR yang akan dilakukan olehdapat mengikuti kebijakan yang telah dilakukan di Perseroan tersebut akan memberikan manfaatBelanda, yaitu dengan membuat aturan yang jelas kepada masyarakat dan lingkungan serta tidakmengenai ketentuan pelaksanaan kegiatan CSR serta adanya aturan yang menyetarakan ketentuansanksi apabila Perseroan Tersebut tidak melaksanakan mengenai kegiatan CSR bagi seluruh PerseroanCSR dengan membentuk badan pengawas khusus untuk Terbuka di Indonesia. Oleh karena itumengawasi pelaksanaan kegiatan CSR di Indonesia, serta diperlukan adanya informasi yang sejelas-menggunakan Anggaran Dasar Perseroan Terbuka jelasnya kepada calon pemegang saham publiktersebut sebagai instrumen untuk pelaporan kegiatan CSR atas komitmen Perseroan untuk melakukandalam Perseroan tersebut. Dengan adanya mekanisme kegiatan CSR dan juga diperlukan evaluasi darilaporan tahunan pelaksanaan CSR seperti di Belanda, badan pengawas CSR dengan cara melakukanmaka hal ini dapat menjamin keadilan bagi seluruh review Anggaran Dasar dari Perseroan yangPerseroan Terbuka di Indonesia. Tidak ada lagi Perseroan akan melakukan penawaran umum agarTerbuka yang masih tidak bersedia menganggarkan mencantumkan ketentuan CSR dalam Anggarankegiatan CSR dalam Anggaran Dasarnya. Dasarnya. PENUTUP Saran Berdasarkan hasil penulisan dan pembahasanKesimpulan sehubungan dengan model Anggaran DasarKesimpulan dari hasil penulisan dan pembahasan perusahaan bagi Perseroan Terbatas yangpermasalahan tersebut diatas adalah sebagai berikut : didirikan di Indonesia untuk melaksanakan CSR, saran penulis adalah : 1. Model Anggaran Dasar Perusahaan bagi Perseroan Terbatas yang mengelola sumber daya alam dan 1. Bagi Perseroan Terbatas agar mematuhi ketentuan yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah dalam UUPT 2007 yang mewajibkan dalam Pasal mengenai Rencana Kerja menyebutkan pelaksanaan CSR bagi Perseroan yang kegiatan mengenai pelaksanaan kegiatan CSR yang usahanya mengelola sumber daya alam dan yang mengambil dana dari laba tahunan yang diperoleh kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya Perseroan. Kemudian dalam Pasal mengenai alam, baik perseroan tersebut masih merupakan Penggunaan Laba Dan Deviden disebutkan mengenai Perseroan Terbatas yang tertutup maupun telah jumlah persentase laba tahunan Perseroan yang akan menjadi Perseroan Terbatas yang terbuka. disisihkan oleh Perseroan tersebut dengan Perseroan-perseroan yang diwajibkan untuk persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham. melaksanakan kegiatan CSR sesuai dengan Selanjutnya ditambahkan Pasal khusus yang ketentuan dalam UUPT 2007 dapat mengatur mengenai CSR dimana kegiatan tersebut mencantumkan ketentuan mengenai CSR dalam dapat berupa kegiatan di bidang lingkungan, Anggaran Dasarnya dengan mengikuti model kesejahteraan karyawan, atau dibidang ekonomi, yang telah penulis berikan diatas. bidang pendidikan atau sosial. 2. a. Masalah hukum yang dapat dihadapi Perseroan 2. Bagi Pemerintah diharapkan agar segera Terbatas yang tertutup adalah kegiatan CSR membuat peraturan perundang-undangan yang yang akan dilakukan oleh Perseroan ini tidak mendukung ketentuan mengenai CSR, agar setiap mendapatkan anggaran dari laba Perseroan, hal Perseroan yang diwajibkan untuk melakukan ini disebabkan bukan karena Perseroan tersebut CSR dalam kegiatan usahanya dapat melakukan mengalami kerugian, namun karena laba yang kegiatan CSR dengan baik dan terencana. diperoleh Perseroan tersebut tidak akan Adapun ketentuan yang harus ditetapkan dalam mencukupi untuk melakukan kegiatan CSR. peraturan perundang-undangan adalah mengenai Oleh karena itu sebaiknya dalam Anggaran jenis kegiatan CSR, pengawasan kegiatan CSR Dasar Perseroan Terbatas yang tertutup serta sanksi bagi Perseroan yang tidak dicantumkan mengenai klausula tentang waktu melaksanakan kegiatan CSR. Khusus untuk yang tepat untuk melakukan kegiatan CSR Perseroan terbuka, pemerintah dapat melakukan untuk mengantisipasi agar Perseroan tersebut pengawasan melalui pembentukan badan telah berada dalam kondisi finansial yang stabil, pengawasan khusus atau badan monitoring sehingga CSR yang dilakukan perseroan seperti badan monitoring yang ada di Belanda tersebut dapat terencana dengan baik. (The Monitoring Committee) untuk mengawasi pelaksanaan CSR dalam Perseroan Terbuka yang b. Permasalahan hukum yang dapat dihadapi oleh sudah mendaftarkan sahamnya di bursa efek. Perseroan Terbatas yang terbuka adalah para Pengawasan ini dapat dilakukan dengan cara pemegang saham publik perseroan terbuka Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 10
    • memberikan pengumuan kepada publik apakahPerseroan Terbuka tersebut telah melaksanakankegiatan CSR atau tidak dalam kegiatanusahanya. Adapun nantinya sanksi bagiPerseroan tersebut adalah berupa sanksi socialdimana public akan dapat melihat komitmen dariPerseroan Terbuka tersebut apakah telahmemperhatikan unsure CSR dalam kegiatanusahanya. Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 11
    • DAFTAR PUSTAKABambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.C.S.T. Kansil & Christine S.T Kansil, Seluk Beluk Perseroan Terbatas Menurut Undang-undang No. 40n Tahun 2007, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2009.Hendrik Budi Untung, Corporate Social Responsibility, Sinar Grafika, Jakarta, 2008.Henry R. Cheeseman, Business Law Ethical, International & E-Commerce Environment, Fourth Edition, Upper Saddle River, New Jersey, 2001.Ibid.M.Yahya Harahap., Loc.Cit.Mandate of the Special Representative of the Secretary-General (SRSG) on the Issue of Human Rights and Transnational Corporations and other Business Enterprises, Loc., Cit.PT. Bursa Efek Jakarta, Panduan Go Public, Jakarta Stock Exchange Building, Jakarta.  Jurnal Ilniah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 12
    • PEMBATALAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH DAN AKIBAT HUKUMNYA TERHADAP AKTA JUAL BELI YANG MENJADI DASAR DITERBITKANNYA SERTIPIKAT TERSEBUT ( Studi Kasus Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Denpasar ) Ni Ketut Ayu Dewita Ismantari Artadi, SH Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - ABSTRACT To obtain rights to land as determined by the applicable laws and regulation must go through theprocedures and ordinances that have been determined. In addition to the certificate issuance procedureand procedures specified in such a tight, proving the strength of a certificate of proof of evidence was alsoidentified as a perfect tool, as well as authentic deed under article 165 HIR, 285 RBG, 1870 code of civillaw. Even according to the provisions of article 32 paragraph 2 PP 24 in 1997, certificates which havealready been issued more than 5 years obtained by good conduct, to which acquired it cannot beprosecuted again. However, the certificate as strong and perfect evidence is not closed ti prove otherwise.The procedures that must be passed i.e. an announcement to the public for 60 days before the publicationof certificates issued its essence is to open to the public before the certificate of ownership issued in orderfor anyone who feel entitled to take the land may file an objection. The parties who object is given theopportunity by the Land Board to file a lawsuit to the court to prove the truth of the proposition ofobjection, and issuance of the certificates is postponed until a court decision is legally binding. If the certificates of land ownership has been issued then the certificate is the Decision of the StateAdministrative and in any party objects to the issuance of the certificates as the administrative Decision,the party who objects to the issuance of the certificates cant file to the Administrative Court. The partieswho filed an objection to the issuance of the certificate is a third party, but Article 55 of Law No. 5 of 1986is the provision of legal time limit to file of lawsuit only the intended party by the Decision of StateAdministrative while the third party that is not addressed by the Decision of the State Administrative is notreached. Consequently, through Circular Letter of Supreme Court No. 2 of 1991, as a void filler is the lawentitles a third party who feels aggrieved can file a lawsuit interest’s cancellation of certificates to theAdministrative Court. In practice, Administrative Court is common to cancel the certificate filed by a third party as theDecision of the State Administrative which is not addressed. The cancellation of the certificate by the StateAdministrative Court, in the ruling of course it follows the provisions of article 55 paragraph 1 of Law no.9 of 2004, i.e. Decision of the State Administrative has violated laws and regulations in force or violategeneral principles of good governance. Violating applied law and regulations can be examined to the basicissue of the certificate i.e. the deed of sale on which it is legal basis if there is a flaw in it or not, so thecancellation of the certificate can lead to the deed of sale on which it is mutatis mutandis become void andhave no legal force. Cancellation of certificates by the State Administrative Court under the provisions of article 53paragraphs 1 of Law no.9 of 2004 will be followed by a commanding officer who ordered the StateAdministrative (in this case) to revoke the certificate as ca be seen from the legal basis of article 97paragraph 9 of Law no. 9 of 2004. The authority of canceling the certificate is only give to the StateAdministrative Court, while the National Land Agency has only the authority to revoke under the legalbasis as provided in the article 97 paragraph of Law no. 9of 2004, so in terms of the National Land Agencyto revoke the certificate on the order of the Court, the termination cannot be countered against. Meanwhile, if the revocation of certificates made the National Land Agency, without being based on State Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 13
    • Administrative Court orders, but only based on legal defects in the certificate, which obviously is know byNational Land Agency, for example dual certificates, there are some data errors, then the revocation ofcertificates made by the National Land Agencyis a decision of the State Administrative Court, can still beresisted by those who feel aggrieved at the State Administrative Court; question whether the revocation ofthe letter is Decision of the State Administrative is valid or not.Keywords : cancellation, certificates, legal effect, Deed of sale PENDAHULUAN - Apakah pembatalan sertipikat hak milik atas tanah1. Latar belakang juga berakibat batalnya akta jual beli yang menjadiSalah satu cara untuk memperoleh hak milik atas dasar pembuatan sertipikat tersebut.tanah adalah dengan jual beli. Jual beli tanah dapatdiawali dengan perjanjian jual beli, dilanjutkan 3. Tujuan Penelitiandengan akta jual beli, selanjutnya berdasarkan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagaikepada akta jual beli , dapat diterbitkan sertipikat berikut :hak hilik atas tanah (SHM) oleh Kantor badan -Untuk mengetahui alasan – alasan hukum apa sajaPertanahan Nasional. Perjanjian jual beli atau akta yang dapat dipakai dasar pembatalan sertipikat,jual beli bersifat bilateral mengikat para pihak mengingat sertipikat hak milik atas tanahsecara kontaktual, sehingga sah atau tidaknya suatu diterbitkan atas dasar prosedur yang sangat telitiakta jual beli ditentukan oleh sah atau tidaknya dan juga sudah diumumkan kepada masyarakatsuatu kontrak berdasarkan ketentuan-ketentuan luas sebelum sertipikat itu diterbitkan.hukum perjanjian. Namun demikian ketika akta jual -Untuk mengetahui mengetahui apa akibat hukumbeli ditingkatkan menjadi sertipikat, maka sertipikat dari pembatalan sertipikat tersebut terhadap aktaadalah K.TUN. Dan apabila ada pihak yang jual beli yang menjadi dasarnya. Apakah dalam halberkeberatan atas terbitnya sertipikat itu, haruslah tersebut akta jual beli menjadi batal atau batalmengajukan gugatan ke Pengadilan tata Usaha demi hukum, yang dituangkan dalam Putusannegara. Hakim pengadilan TUN akan memeriksa Pengadilan Tata Usaha Negara. Dan upaya hukumgugatan menyangkut sah atau tidaknya sertipikat apa yang dapat dilakukan oleh pihak pembeli yangberdasarkan kepada berdasarkan kepada ketentuan dirugikan akibat batalnya sertipikat hak milikpasal 53 ayat 1 UU N0.5 tahun 1986 , bukan yang ber-akibat hukum kepada akta jual beli yangberdasarkan kepada sah tidaknya sertipikat menjadi dasar penerbitannya.berdasarkan ketentuan-ketentuan hukumperjanjian.Berdasarkan kepada latar belakang 4. Manfaat Penelitianseperti diuraikan diatas, saya melakukan penelitian Adapun manfaat yang diharapkan akan didapat daridan menyusun Tesis ini dengan judul “ Pembatalan penelian ini adalah sbb :Sertipikat Hak Milik Atas tanah dan akibat -Manfaat Teoritishukumnya terhadap akta jual beli, yang menjadi Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan dapatdasar diterbitkannya sertipikat tersebut “. memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan hukum2. Rumusan masalah pertanahan, dan bermanfaat sebagai referensi bagiBertitik tolak dari uraian dalam latar belakang penelitian selanjutnya khususnya penelitian yangseperti tersebut diatas saya mengajukan rumusan berkaitan dengan kebatalan- kebatalan sertipikatpermasalah sebagai berikut ; yang diterbitkan berdasarkan jual beli dan akibat- Alasan-alasan apakah yang menjadi dasar hukumnya terhadap akta jual beli, oleh karena aktapembatalan sertipikat hak milik atas tanah oleh jual beli tidaklah merupakan putusan Tata UsahaPengadilan TUN ? negara yang dapat dibatalkan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. -Manfaat praktis Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 14
    • Dengan adanya penelitian ini, diharapkan hierarki tata susunan ; suatu norma yang lebihhasilnya nanti dapat memberikan manfaat praktis rendah berlaku, bersumber dan berdasar pada normabagi para pejabat Badan Pertanahan Nasional dan yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya sampaiPejabat Pembuat Akta Tanah , agar didalam pada suatu norma yang tidak dapat ditelusuri lebihmembuat akta tanah menjadi lebih cermat dan lanjut dan bersifat hipotesis dan fikif, yaitu normalebih berhati-hati ; dengan cara memperhatikan dasar (Grundnorm). Sejalan dengan teori yangketentuan - ketentuan hukum perdata , hukum dikemukakan Hans Kelsen tersebut, di IndonesiaPertanahan dan praktek Peradilan Tata Usaha terdapat tata urutan perundang-undangan yangNegara , yurisprudensi serta faktor- faktor diatur dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undangpenyebab dibatalkannya sertipikat Hak milik oleh Nomor 10 Tahun 2004 tentang PembentukanPengadilan Tata Usaha Negara , sehingga dengan Peraturan Perundang-Undangan, yang berbunyidemikian diharapkan dari padanya akan dapat sebagai berikut:ditekan se-optimal mungkin suatu sertipikat Hak Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-Undanganmilik atas tanah dibatalkan apabila para pejabat adalah sebagai berikut::pembuat akta tanah sudah mengetahui ketentuan - a. Undang-Undang Dasar Negara Republikketentuan dan praktek hukum yang dapat Indonesia Tahun 1945;menyebabkan batalnya sertipikat tersebut. b. Undan-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang5. Kerangka teoritik. c. Peraturan Pemerintah Adapun teori-teori yang digunakan dalam d. Peraturan Presidenpenulisan tesis ini antara lain : teori keadilan, teori e. Peraturan Daerah.hierarki norma hukum, teori kepastian, teori Lebih lanjut dalam Pasal 7 ayat (4) UUkeberlakuan dan nilai dasar hukum, teori konflik Nomor 10 Tahun 2004 menyebutkan bahwa: Jenisdan teori konsensus. Peraturan Perundang-Undangan selain sebagaimana- Teori Keadilan dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan Menurut Aristoteles keadilan dapat dibagi mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjangenam, yaitu ; Iustitia commutativa, iustitia diperintahkan oleh Peraturan Perundang-Undangandistributiva, iustitia vindicativa, iustitia protektiva, yang lebih tinggi.Dalam kaitan dengan Surta Edaraniustitia creativa dan iustitia lagalis. Teori keadilan Mahkamah Agung N0 2 tahun 1991 yangyang dikemukakan oleh Aristoteles yang relevan memberikan dasar bagi gugatan pembatalandengan kajian Tesis ini adalah keadilan comutativa sertipikat hak milik bagi mereka yang tidak ditujudan keadilan distributiva dimana dalam keadilan oleh Keputusan tata Usaha Negara, sehingga SEMAdistributiva ; hak- hak publik yang terdistribusi oleh tersebut dapat dipandang sebagai pengisi darikekuasaan tidaklah berdasarkan kesamarataan kekosongan hukum, karena SEMA itu diakuimelainkan berdasarkan kepada kualitas pribadi keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukumdalam hubungannya dengan azas proporsionalitas sebagai mana dikemukakan dalam 7 ayat 4 yo Pasalsehingga keadilan yang memberikan kepada tiap- 56 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 jugatiap orang jatah menurut jasanya. Ia tidak menuntut menyebutkan bahwa “Jenis peraturan selain dalamsupaya tiap-tiap orang mendapat bagian yang sama ketentuan ini, antara lain ; peraturan yangbanyaknya, bukan persamaan, melainkan dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat,kesebandingan. Sedangkan keadilan comutatiiva ; dan Dewa Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilanialah keadilan yang memberikan kepada setiap Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi,orang masing-masing bagiannya dengan tidak Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia,mengingat jasa-jasa perseorangan. Menteri, kepala badan, lembaga, atau komisi yang- Teori Hierarki Norma Hukum setingkat dibentuk oleh undang-undang atau Dalam teori ini dibahas mengenai jenjang pemerintah atas perintah undang-undang , Dewannorma hukum yang lebih dikenal dengan Stufenbau Perwakilan Rakyat daerah Propinsi, Gubernur,des rechts, dimana : norma-norma hukum itu Dewan Perwakilan rakyat Kabupaten / Kota, Bupatiberjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu / Wali Kota, Kepala Desa atau yang setingkat Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 15
    • “.Dengan demikian Surat Edaran Mahkamah dokumen, perundang-undangan, vonis-vonis yangAgung ( SEMA ) No 2 tahun 1991 sebagai salah diidentifikasikan sebagai hukum.satu bentuk produk peraturan Mahkamah Agung - Teori konflikadalah termasuk juga jenis peraturan per-undang- Kata kunci dari teori konflik adalahundangan yang diakui keberadaannya sebagaimana kepentingan yang berwujud kerugian baik kerugiandijelaskan oleh penjelasan pasal 7 ( 4 ) UU No 10 materiil maupun kerugian immateriil. Setiap orangtahun 2004 diatas, sehingga dengan demikian Surat selalu mengukur dan menjaga kepentingannya agarEdaran Mahkamah Agung ( SEMA ) No 2 tahun jangan sampai dirongrong oleh orang lain dalam1991 berkedudukan sebagai pengisi kekosongan lalu lintas hukum. Tiap-tiap kepentingan yanghukum untuk gugatan K.TUN yang tidak dituju dirongrong, berkonkwensi tuntutan pengembalianyang tidak dijangkau oleh pasal 55 UU No.5 tahun atas kerugian yang diderita atau pembatalan atas1986 yang hanya mengatur gugatan K.TUN untuk perbuatan yang bersifat merugikan itu.pihak yang dituju saja. Pengembalian keadaan dalam bentuk mengganti- Teori Kepastian hukum kerugian ataupun pembatalan suatu perbuatan yangKepastian hukum dalam hal ini adalah bahwa setiap merugikan tentu harus dilakukan sesuai ketentuanperbuatan hukum yang dilakukan harus menjamin hukum yaitu melalui Pengadilan. Dalamkepastian hukum misalnya ; Pasal 19 ayat (1) hubungannya dengan permasalahan yang dibahasUUPA manyatakan bahwa : Untuk menjamin oleh tesis ini, teori konflik dapat dipinjam untukkepastian hukum oleh pemerintah diadakan melakukan analisis.pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik - Teori konsensusIndonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur Kata kunci dari teori konsensus adalah bahwadengan peraturan pemerintah. Pasal 3 huruf a PP nilai- nilai merupakan unsur utama dari kehidupanNo. 37 Tahun 1998 menyebutkan bahwa untuk sosial di masyarakat. Tiap kelompok masyarakatmemberikan kepastian hukum dan perlindungan menjunjung tinggi nilai-nilai tertentu, termasuk jugahukum kepada pemegang hak atas suatu bidang nilai-nilai hukum. Pasal 28 UU N0.4 tahun 2004tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang tentang Kekuasaan Kehakiman mengamanatkanterdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan bahwa hakim wajib menggali, mengikuti dandirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan. memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yangDemikian juga hal yang berkaitan dengan kekuatan hidup dimasyarakat.hukum akta jual beli maupun sertipikat sertipikat Dalam kaitannya dengan permasalan yanghak milik serta kebatalannya nantinya dibawah akan diajukan dalam tesis ini, terutama berkaitan dengandikaji juga dengan teori kepastian hukum. Keputusan Tata Usaha Negara yang membatalkan- Teori Keberlakuan dan Nilai Dasar Hukum sertipikat dan akibat hukumnya terhadap akta jual Keberlakuan hukum . menurut Meuwissen beli, maka teori ini dipandang relevan dapat dipakaiharus dibedakan antara keberlakuan antara untuk melakukan analisis.keberlakuan idiil dan keberlakuan normatif.Keberlakuan idiil berkenaan dengan keberlakuan 6. Metode Penelitianyang dipretensikan atau keberlakuan umum dari - Paradigma penelitianmisalnya putusan-putusan kefilsafatan, jadi Gambaran fundamental tentang subyekberkenaan dengan kemungkinan untuk matter dalam suatu ilmu, disebut paradigma.membenarkan atau melegitimasi putusan-putusan Paradigma itu berfungsi untuk merumuskan apatertentu secara masuk akal (rasional). Sedangkan yang harus dikaji, pertanyaan pertanyaan apa yangkeberlakuan normatif berarti bahwa cara berada harus dipertanyakan, dan aturan aturan apa yangkaidah-kaidah dari hukum dan etika. Maksudnya harus diikuti dalam mengartikan jawaban jawabanbahwa hukum itu tidak dapat diamati secara yang diperoleh. Paradigma adalah unit yang palingindrawi, hukum itu ada tidak seperti hukum empirik luas dari konsensus didalam suatu ilmu danada misalnya ada gejala-gejala tertentu yang dapat bermanfaat untuk membedakan suatu komunitasdiamati, seperti prilaku-prilaku manusia, dokumen- keilmuan atau sub komunitas keilmuan dengan lainnya. Paradigma membuat penggolongan , Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 16
    • merumuskan dan saling menghubungkan (b) Pendekatan ius constitutum atau pendekatanpercontohan – percontohan, teori- teori, dan hukum positifmetode / alat- alat yang ada didalamnya. (c) Pendekatan ius operatum yaitu pendekatan Paradigma penelitian hukum dikenal, ada sosiologi hukum dan kajian empiris lainnya .dua yaitu ; Paradigma Penelitian hukum Normatif Oleh karena paradigma penelitian ini adalahdan Paradigma Penelitian hukum empiris. Dalam paradigma penelitian hukum normatif dengan sifatpenelitian ini dipilih sebagai paradigma penelitian penelitiannya eksploratoris yuridis makaadalah paradigma Penelitian Hukum Normatif. pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatanDalam penelitian ini terutama akan dilakukan perundang-undangan ( statute approach ), dandengan menggali dan menemukan ( meng- pendekatan konseptual ( conceptual approach )eksplorasi ) ketentuan ketentuan menyangkut sebagai pendekatan ius constitutum.pembatalan- pembatalan yang dapat ditemukandalam hukum perdata khususnya hukum perikatan - Sumber bahan hukumdan lebih khusus lagi hukum perjanjian dan Penelitian ini adalah penelian hukum normatif .selanjutnya menggali dan menemukan Sebagai penelitian hukum normatif maka bahanyurisprudensi menyangkut pembatalan sertipikat hukum dalam penelitiannya adalah ;hak milik oleh Pengadilan TUN dan juga Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukummememukan putusan-putusan TUN dan yang mengikat, yang mencakup peraturanmempelajari pertimbangan hukumnya untuk perundang-undangan yang berhubungan denganmenemukan tentang alasan-alasan apa yang dipakai hukum keperdataan dan hukum pertanahan, sepertidasar memutuskan perkara TUN yang Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Peraturanmembatalkan sertipikat, meliputi pertimbangan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Peraturan Pemerintahhukum putusan Pengadilan TUN menyangkut Nomor 24 tahun 1997, Peraturan Pemerintahazas-azas umum pemerintahan yang baik yang Nomor 37 tahun 1998, berikut peraturandilanggar dalam pembuatan sertipikat itu, sehingga pelaksananya.sertipikat tersebut dibatalkan. Dengan demikian Bahan hukum sekunder yang akan digunakan untukpenelitian ini bersifat eksploratoris yuridis yaitu memberikan penjelasan mengenai bahan hukummeng-ekplorasi dan menemukan ketentuan hukum primer tersebut, diantaranya doktrin,dan artikel-dan bahan bahan hukum primair ; yurisprudensi, artikel, hasil seminar, makalah, serta dokumenputusan hakim, dan pertimbangan hukum dari lainnya yang berkaitan dengan hukum perikatan,putusan hakim serta melakukan pengkajian hukum pertanahan dan pembatalan sertipikat danterhadap hal tersebut. akibat hukumnya terhadap akta jual beli tanah. Penelitian hukum normatif yang bersifateksploratoris yuridis bermakna lebih luas dari Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang bisasekedar meneliti peraturan perundang – undangan memberikan petunjuk dan penjelasan terhadapyang berkaitan dengan obyek penelitian, melainkan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunderlebih jauh meliputi penelitian terhadap seperti ensiklopedia, jurnal-jurnal hukum.pertimbangan hukum dari suatu putusanPengadilan menyangkut obyek penelitian dalam hal 7. Teknik pengumpulan bahan hukumini pertimbanghan hukum dari putusan pengadilan Teknik pengumpulan data penelitian hukumyang membatalkan sertipikat hak milik, dan normatif dilakukan dengan cara; bahan hukumimplikasinya terhadap akta jual beli yang menjadi primer dan sekunder dikumpulkan berdasarkandasar penerbitan sertipikat itu. metode sistematis yaitu baik bahan hukum primer maupun sekunder yang saling berhubungan dicatat- Pendekatan penelitian pada kartu - kartu dengan ukuran tertentu. Dalam Secara garis besar , ada tiga pendekatan dalam kartu itu dicatat dari mana sumber dari bahan ilmu hukum, yaitu ; hukum itu didapat ( nama penulis / pengarang, (a) Pendekatan ius constituendum atau pendekatan tahun penulisan, judul artitel / buku , penerbit , filsafat hukum halaman, dan lain sebagainya ). Kartu kartu disusun Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 17
    • berdasarkan pokok bahasan untuk memudahkan sertifikta yang baru menggantikan sertifiktaanalisis dan pada kartu kartu juga dicatat konsep- yang lama. Pada hakekatnya azas hukum tidakkonsep yang ada hubungannya dengan faktor faktor dapat dipakai sebagai dasar hukum oleh hakimserta alasan alasan yang dapat dijadikan dasar untuk untuk membatalkan suatu peristiwa hukum,membatalkan akta otentik baik itu yang yang menjadi dasar hukum oleh hakim dalamberhubungan dan dijelaskan oleh dokumen putusannya adalah azas hukum yang sudahdokumen tersebut. dituangkan dalam peraturan perundang- undangan. Dengan demikian untuk pembatalan8. Analisis bahan hukum sertifikat hak milik atas tanah hakim harus Bahan hukum yang sudah dikumpulkan secara lebih khusus melihat kedalam peraturanberkenaan dengan masalah dalam penelitian ini yang mana azas hukum itu sudah dituangkan.terutama akan dianalisis secara normatif kualitatif. Dalam hubungannya dengan pembatalanBahan hukum yang diperoleh dianalisis dicari sertifikat hak milik yang diterbitkanpenyelesaiannya berdasarkan peraturan perundang – berdasarkan perjanjian jual beli (akta jual beli)undangan yang berlaku dan dianalogikan dengan maka selayaknya kebatalan-kebatalanbeberapa alternatif penyelesaian. menyangkut perjanjian yang akan ditinjau. Bahan bahan hukum yang dikumpulkan baik Suatu perjanjian sah apabila memenuhi syarat-itu bahan hukum primer maupun bahan hukum syarat sahnya perjanjian yang diatur dalamsekunder dengan langkah langkah meliputi pasal 1320 KUHPerdata. Syarat sahnyadeskripsi, sistematisasi, dan ekplanatasi. Depkripsi perjanjian meliputi syarat objektif danmencakup isi maupun struktur hukum positif. subjektif, dimana syarat subjektif adalah syaratDalam kaitannya dengan penelitian ini, maka pada sebagaimana ditentukan dalam pasal 1320 ayattahap depkripsi dilakukan pemaparan serta (1) : sepakat mereka yang mengikatkan diripenentuan makna terhadap bahan- bahan hukum, dan ayat (2) : kecakapan untuk membuat suatubaik bahan hukum primer maupun bahan hukum perjanjian.sekunder. Syarat objektif adalah syarat sebagaimana Langkah sistematis merupakan penyerasian ditentukan dalam pasal 1320 ayat (3) : Suatuterhadap bahan hukum, sehingga terhadap bahan hal tertentu dan ayat (4) : suatu sebab yanghukum yang satu tidak menunjukkan adanya halal. Pelanggaran terhadap syarat subjektifkontradiksi dengan bahan hukum yang lain. menyebabkan suatu perjanjian dapatKeserasian dari bahan bahan hukum yang saling dibatalkan dan pelanggaran terhadap syaratberhubungan dapat membantu untuk memudahkan objektif menyebabkan suatu perjanjian batalanalisis karena makna dari bahan hukum tersebut demi hukum.dapat dipahami secara logis. 2. Kajian tentang sertifikat hak milik atas tanah. Sertifikat hak milik atas tanah dilihat secara TINJAUAN PUSTAKA fisik adalah surat yang dibuat untuk tujuan sebagai bukti hak milik. Dalam pasal 1 ayat1. Kajian terhadap pembatalan sertifikat hak (11) PP 24 tahun 1997 tentang pendaftaran milik atas tanah. tanah menyatakan pendaftaran tanah baik Sertifikat hak milik adalah alat bukti bukan secara sistematik ataupun sporadic pada peraturan sehingga sebagai alat bukti dapat akhirnya berujung pada penerbitan sertifikat saja mengandung cacat hukum dan ia dapat yang bertujuan agar setiap hak atas tanah dibatalkan bukan karena berkaitan dengan memiliki surat tanda bukti hak yang berlaku sertifikat yang baru dan sertifikat yang lama sebagai alat bukti yang kuat. Dalam pasal 32 namun berkaitan dengan dasar peraturan mana ayat (1) PP 24 tahun 1997 berbunyi : sertifikat itu diterbitkan, apakah atas dasar “Sertifikat merupakan surat tanda bukti hak peraturan yang lama atau peraturan yang baru. yang berlaku sebagai tanda pembuktian yang Putusan pengadilan yang membatalkan kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang sertifikat dapat dipakai untuk penerbitan termuat didalamnya, sepanjang data fisik dan Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 18
    • data yuridis tersebut sesuai dengan data-data sertipikat hak hilik atas tanah (SHM) oleh Kantor yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak badan Pertanahan Nasional. Bahwa penelitian Tesis yang bersangkutan. Sertipikat merupakan ini bertujuan untuk meneliti akibat hukum dari tanda bukti tanah yang kuat dalam arti selama mpembatalan sertipikat terhadap akta jual beli yang tidak dapat dibuktikan sebaliknya maka data menjadi dasar penerbitan sertipikat itu, maka fisik dan data yuridis yang tercantum penyajian hasil penelitian bahan hukum ; baik didalamnya harus diterima sebagai data yg terhadap data primair, sekunder dan tersier akan benar disajikan mulai dari data peraturan perundang- 3. Kajian tentang Putusan Pengadilan Tata Usaha undangan menyangkut perjanjian, akta jual beli, Negara. sertipikat, yurisprudensi menyangkut akta jual beli, Bagi hakim dalam menyelesaikan suatu perkara pembatalan sertipikat, analisis terhadap pembatalan yang penting bukanlah hukumnya, karena hakim terhadap sertipikat dan analisis akibat hukum dianggap tahu hukum (ius curia novit) tetapi pembatalan sertipikat terhadap akta jual beli. mengetahui secara objektif fakta dan peristiwa sebagai duduk perkara yang sebenarnya sebagai 1. Hasil penelitian bahan hukum menyangkut dasar putusan, bukan secara langsung perjanjian menemukan hukumnya tanpa perlu mengetahui terlebih dahulu duduk perkara yang sebenarnya. Pasal. 1320 KUHPerdata menentukan syarat Hakim dapat mengetahui fakta atau peristiwa sahnya suatu perjanjian yaitu ; yang disengketakan dengan melihat dan 1. sepakat mereka yang mengikatkan diri ( memperhatikan bukti-bukti yang diajukan para 1320 yo 1321 KUHPer ) pihak, barulah ia menjatukan putusan dengan 2. kecakapan untuk membuat perjanjian ( mengikuti prosedur yang ditentukan 1330 KUHPer ) sebagaimana diatur dalam undang-undang no.5 3. suatu hal tertentu ( 1332 yo1333 KUHPer ) tahun 1986 dirobah dengan undang-undang no 4. suatu sebab yang halal ( 1254, 1335 yo 9tahun 2004 tentang peradilan tatau usaha 1337 KUHPer ) negara. Untuk sahnya suatu perjanjian, harus 4. Kajian tentang akibat hukum pembatalan dipenuhi keempat syarat tersebut. Jika salah satusertifikat terhadap akta jual beli. syarat atau beberapa syarat bahkan semua syarat Yurisprudensi MA RI No 302 K/TUN?1999 tidak dipenuhi, maka perjanjian itu tidak sah. Jadi menyatakan PPAT melaksanakanurusan syarat sahnya perjanjian berlaku secara komulatif, pemerintahan berdasarkan peraturan perundang- dan bukan limitatif. undangan akan tetapi akta jual beli yang dibuat oleh PPAT bukan keputusan TUN karena Pihak Dalam Perjanjian bersifat bilateral, tidak bersifat unilateral yang Pihak dalam Perjanjian adalah ; antara orang merupakan sifat KTUN. Dengan demikian dapat dengan orang, antara orang dengan badan usaha disimpulkan PTUN tidak dapat membatalkan berbadan hukum. akta jual beli yang dibuat PPAT oleh karena Apabila perjanjian dibuat antara orang dengan akta jual beli bukan KTUN. orang, maka orang-orang yang bertindak sebagai pihak-pihak harus cakap bertindak menurut hukum ( HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN psl.1330 KUHPer ) yaitu orang yang sudah dewasa ( psl.330 KUHPerdata ) dan orang yang tidakHASIL PENELITIAN BAHAN HUKUM berada dibawah pengampuan ( psl.433Sebagaimana dikemukakan dalam latar belakang KUHPerdata).diatas bahwa salah satu cara untuk memperoleh hak Apabila perjanjian dibuat antara orang denganmilik atas tanah adalah dengan jual beli. Jual beli badan usaha berbadan hukum atau sebaliknya, makatanah dapat diawali dengan perjanjian jual beli, Badan hukum diwakili oleh orang yang secaradilanjutkan dengan akta jual beli, selanjutnya hukum mempunyai kewenangan untuk mewakiliberdasarkan kepada akta jual beli , dapat diterbitkan badan hukum itu, tergantung bentuk badan Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 19
    • usahanya ; misalnya untuk badan Hukum Perseroan -Untuk tiap – tiap tanah yang dibukukan menurutTerbatas ( PT ), diwakili oleh Direkturnya, untuk pasal. 12 dibuat salinan dari buku tanah yangbadan hukum Firma ( Fa ), setiap anggota sekutu bersangkutan.dapat mewakili. 3. Hasil penelitian bahan hukum mengenai akta danMengikatnya Perjanjian akta PPATMengikatnya Perjanjian ; ditentukan dalam Dalam pembuatan akta, yang menjadi dasarpasal.1313 KUHPerdata, yang menyatakan bahwa utama atau inti dalam pembuatan akta otentik, yaituperjanjian mengikat orang yang membuat. Para harus ada keinginan dan permintaan atau kehendakpihak harus mentaati apa yang diperjanjikannya itu, dan permintaan dari para pihak. Jika keinginan dankeharusan mana lahir dari perjanjian itu sendiri permintaan para pihak tidak ada, maka Pejabatyang berkuatan sebagai undang undang bagi mereka Umum tidak akan membuat akta yang dimaksud.yang membuatnya ( psl.1338 KUHPerdata). Pada Dan dalam hal kesemuanya tersebuthakekatnya, perjanjian hanya mengikat bagi para merupakan salah satu karakter yuridis dari aktapihak yang membuatnya, dan tidak mengikat pihak otentik yang merupakan bukti yang mengikat yangketiga ( psl. 1340 yo. 1917 KUHPerdata ). Namun berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalamdemikian ketentuan psl. 1341 KUHPerdata akta tersebut harus diakui kebenarannya, yaitu aktamemberikan pengecualian yaitu perjanjian yang tersebut dianggap benar selama kebenarannya itudibuat oleh siberutang yang merugikan kepentingan tidak ada pihak lain yang dapat membuktikansiberpiutang, maka siberpiutang dapat mengajukan sebaliknya.pembatalan sejauh kerugiannya saja ( actio Di dalam lapangan ilmu hukum akta otentikPauliana ) . dibedakan antara: a. Akta yang dibuat oleh pejabat (acte ambtelijk)2 .Hasil penelitian bahan hukum menyangkut Akta yang dibuat oleh pejabat (acte ambtelijk)ketentuan – ketentuan sertipikat hak milik. adalah akta yang dibuat oleh pejabat yang Pendaftaran tanah, baik secara sistematik diberi wewenang untuk itu dengan manaataupun sporadis sebagaimana ditentukan dalam pejabat tersebut menerangkan apa yang dilihatpasal 1 ayat ( 11 ) Peraturan Pemerintah N0. 24 serta apa yang dilakukan.tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah , pada b. Akta yang dibuat para pihak (aktepartij)akhirnya berujung pada penerbitan sertipikat. Akta yang dibuat para pihak (aktepartij) adalahTujuannya adalah bertujuan agar setiap hak atas akta yang dibuat dihadapan pejabat yang diberitanah memiliki surat tanda bukti hak, yang berlaku wewenang untuk itu, adalah akta dengan manasebagai alat bukti yang kuat. Sejauh sertipikat pejabat menerangkan juga apa yang dilihatberlaku sebagai alat bukti yang kuat peraturan serta dilakukannya.perundang- undang dibidang ke- agrariaan Dan dalam hal kesemuanya tersebut merupakanmenentukan sebagai berikut ; salah satu karakter yuridis dari akta otentik yangPasal 19 ( 2 ) UUPA menentukan bahwa : merupakan bukti yang mengikat yang berartiPendaftaran tanah meliputi ; a. Pengukuran, kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam aktapemetaan, dan pembukuan tanah , b. pendaftaran tersebut harus diakui kebenarannya, yaitu aktahak – hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut, tersebut dianggap benar selama kebenarannya ituc. pemberian surat-surat tanda bukti hak milik , tidak ada pihak lain yang dapat membuktikanyang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. sebaliknya.Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan Akta adalah alat bukti tertulis. Sebagai buktiterpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah. Hak tertulis akta dapat dibagi dua yaitu ; akta otentikmilik dapat beralih dan dialihkan ( psl.20 ayat 1 dan akta dibawah tangan.UUPA ) Ketentuan-ketentuan mengenai akta PPATPeraturan Pemerintah N0. 10 tahun 1960 tentang Dasar dalam setiap pembuatan akta yangPendaftaran Tanah, pasal 13 berbunyi : bernilai otentik adalah pasal 1868 KUHPerdata yang menyatakan ; Suatu akta otentik ialah suatu Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 20
    • akta yang dibuat didalam bentuk yang ditentukan Melalui penelitian hukum normatif denganoleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan sifat penelitian eksploratoris terhadap hukumpejabat-pejabat umum yang berkuasa untuk itu perdata khususnya hukum perikatan dan lebihditempat dimana akta dibuatnya. khusus lagi hukum perjanjian dapat ditemukan Notaris sebagai pejabat pembuat akta dan juga secara dipilih ( purposive ) bahan hukum primair sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah ( PPAT ) lainnya berupa ; yurisprudensi – yurisprudensi , antara lain diatur seperti dibawah ini ; putusan Pengadilan yang berkaitan dengan Pasal 1 ayat ( 4 ) Peraturan Pemerintah No 37 kebatalan sertipikat hak milik yang dipandang tahun 1988 tentang Peraturan Jabatan Pejabat relevan dan dapat dijjadikan dasar analisis terhadap Pembuat Akta tanah , akta PPAT adalah akta yang permasalahan yang dibahas dalam tesis ini , bahan dibuat oleh PPAT sebagai bukti telah hukum sekunder tersebut, terutama putusan- dilaksanakannya perbuatan hukum tertentu putusan pengadilan tata Usaha negara, dilakukan mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan eksplorasi terhadap pertimbangan- pertimbangan rumah susun. hukum dari putusan tersebut, menyangkut alasan- - Pasal 21 ayat ( 1 ) Peratutan Pemerintah Nonor alasan pembatalan sertipikat hak milik dan sejauh 37 tahun 1988, tentang Peraturan Jabatan Pejabat mana putusan itu juga menyinggung akta jual beli Pembuat Akta Tanah menyatakan akta PPAT yang menjadi dasar diterbitkannya sertipikat yang dibuat dengan bentuk yang telah ditetapkan oleh dibatalkan Menteri . Pada ayat ( 2 ) nya menyebutkan bahwa semua jenis akta PPAT diberi satu nomor urut ANALISIS BAHAN HUKUM yang berulang pada permulaan tahun 1. Analisa terhadap Putusan Pengadilan TUN yang takwin.Senajutnya ayat ( 3 )nya menyebutkan membatalkan bahwa akta PPAT dibuat dalam bentuk asli dalam sertipikat hak milik. ( 2 ) lembar yaitu : lembar pertama sebanyak 1 ( Sesuai dengan ketentuan pasal 5 UU No 5 tahun satu ) rangkap disimpan oleh PPAT yang 1986 tentang Peradilan tata Usaha negara, bahwa bersangkutan dan lembat kedua sebanyak 1 ( satu ) gugatan TUN dapat diterima apabila diajukan sesuai lrangkap atau lebih menurut banyaknya hak atas dengan tenggang waktu yang ditentukan yaitu 90 ( tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang sebilan puluh ) hari sejak diumumkan atau menjadi obyek perbuatan hukum dalam akta, yang diterimanya K TUN tersebut. Sebagaimana disampaikan kepada Kantor Pertanahan untuk ditentukan dalam PP N0.24 tahun 1997 dalam pasal keperluan pendaftaran, atau dalam hal akta tersebut 26 ayat 1 bahwa untuk tanah yang sudah mengenai pemberian kuasa membebankan hak dibukukan, sebelum sertipikat diterbitkan dilakukan tanggungan, disampaikan kepada pemegang pengumuman selama 30 hari, sedangkan untuk kuasauntuk dasar pembuatan akta hak tanggungan , tanah yang belum dibukukan dilakukan dan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dapat pengumaman selama 60 hari. Dalam praktek diberikan salinannya. pengadilan sertipikat yang terbit puluhan tahun4. Ketentuan – ketentuan menyangkut putusan yang lalu dapat dibatalkan oleh Putusan TUN,Pengadilan Tata Usaha Negara dengan berpegang kepada SEMA N0.2 tahun 1991 Bagi hakim dalam menyelesaikan suatu perkara yang menyatakan bahwa untuk mereka yang tidakyang penting bukanlah hukumnya, karena hakim dituju oleh K.TUN, hak untuk mengajukan gugatandianggap tahu hukum ( ius curia novit ) tetapi menganut tenggang waktu 90 hari sejak orangmengetahui secara obyektif fakta atau peristiwa tersebut mengetahui adanya K TUN yangsebagai duduk perkara yang sebenarnya sebagai merugikan dirinya, dan bukan sejak diumumkannyadasar putusannya, bukan secara apriori secara atau sejak diterimanya K TUN tersebutlangsung menemukan hukumnya tanpa perlu sebagaimana ditentukan dalam pasal 55 UU N0 5mengetahui terlebih dahulu duduk perkara yang tahun 1986. Dengan demikian yang menjadi dasarsebenarnya. kewenangan dari Pengadilan TUN untuk5.Pertimbangan Putusan Pengadilan TUN dalam membatalkan sertipikat Hak milik yang diterbitkanmembatalkan sertipikat lewat dari 90 hari adalah SEMA No 2 tahun 1991, Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 21
    • sehingga dengan demikian, baik untuk sertipikat adalah termasuk juga jenis peraturan per-undang-yang diterbitkan belum lewat waktu 90 hari maupun undangan yang diakui keberadaannyasesudah lewat waktu 90 hari pembatalannya sebagaimana dijelaskan oleh penjelasan pasal 7 (menjadi kewenangan dari Pengadilan TUN. 4 ) UU No 10 tahun 2004 diatas, sehinggaMenjadi pertanyaan, apakah benar pasal 55 UU No dengan demikian Surat Edaran Mahkamah Agung5 tahun 1986 adalah hanya untuk orang yang dituju ( SEMA ) No 2 tahun 1991 berkedudukanoleh K.TUN, sehingga perlu diterbitkan SEMA No sebagai pengisi kekosongan hukum untuk2 tahjun 1991, untuk mereka yang tidak dituju oleh gugatan K.TUN yang tidak dituju yang tidakK TUN ?. Pertanyaan ini berkaitan dengan mencari dijangkau oleh pasal 55 UU No.5 tahun 1986jawaban terhadap bagaimana kedudukan Surat yang hanya mengatur gugatan K.TUN untukEdaran Mahkamah Agung ( SEMA ) No 2 tahun pihak yang dituju saja..1991, tanggal 9 Juli 1991, apabila dilihat dari sisiUndang-Undang No.10 tahun 2004 tentang 2. Analisa akibat hukum batalnya sertipikat hakPembentukan Peraturan per-Undang –undangan . milik terhadap akta jual beli yang menjadi dasarPasal 7 ( 1 ) UU No 10 tahun 2004 menentukan penerbitan sertipikat itu.jenis dan hierarki peraturan per-undang undanganadalah sebagai berikut ; Dibatalkannya sertipikat Hak milik oleha. Undang – Undang dasar Negara Republik Pengadilan TUN tidak disertai amar yang berbunyiIndonesia tahun 1945 membatakan akta jual beli yang menjadi dasarnya. a. Undang-Undang / Peraturan Pemerintah Dalam yurisprudensi ( yurisprudensi Mahkamah Pengganti Undang-Undang Agung RI, N0. 302 K / Tun / 1999, tgl 8 Pebruari b. Peraturan Pemerintah 2000 ) Mahkamah Agung menyatakan akta jual beli c. Peraturan Presiden bukanlah Keputusan tata Usaha negara, oleh karena d. Peraturan Daerah sifatnya bilateral dan tidak bersifat unilateral. Akan tetapi ayat ( 4 ) dari pasal 7 – nya Namun demikian pembatalan sertipikat tidak menyebutkan : Jenis peraturan per-undang- sedemikian rupa secara serta karena adanya adanya undangan selain sebagaimana dimaksud ayat ( 1 ) cacat hukum dalam sertipikat itu, melainkan karena diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan ada cacat hukjum pada akta yang menjadi dasar hukum sepanjang diperintahkan oleh peraturan Per- penerbitan sertipikat itu. Dengan demikian, undang undangan yang lebih tinggi. Untuk walaupun akta jual beli tidak dibatalkan oleh oleh mengetahui apa yang dimaksud sebagai “ jenis Pengadilan TUN, akan tetapi akta jual beli itu peraturan per-undang undangan selain yang dipertimbangkan dalam pertimbangan hukum ditentukan oleh pasal 7 ( 1 ) , perlu dirujuk putusan pengadilan dan akta jual beli itu dibuktikan penjelasan pasal 7 ( 4 ) yang menyetakan bahwa : ada cacat hukum, maka pertimbangan putusan Jenis peraturan selain dalam ketentuan ini, antara Pengadilan TUN, pada hakekatnya merupakan satu lain ; peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis kesatuan dengan amar putusannya, dengan Permusyawaratan Rakyat, dan Dewa Perwakilan demikian dengan dibatalkannya sertipikat atas dasar Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah adanya cacat formal atau cacat materiil dalam akta Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa jual beli, maka akta jual beli itu sendiri mutatis Keuangan, Bank Indonesia, Menteri, kepala badan, mutandis tidaklah mempunyai kekuatan hukum. lembaga, atau komisi yang setingkat dibentuk oleh Cacat formal, sebagaimana sudah dikemukakan undang-undang atau pemerintah atas perintah dalam uraian pertimbangan hukum putusan undang-undang , Dewan Perwakilan Rakyat daerah Pengadilan TUN sebagaimana dikemukan diatas Propinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan rakyat dapat terjadi karena terjadi pelanggaran terhadap Kabupaten / Kota, Bupati / Wali Kota, Kepala Desa ketentuan pasal 13 UU Nomor 4 tahun 1996 tentang atau yang setingkat “. hak Tanggungan, dan pasal 19 Peraturan Dengan demikian Surat Edaran Mahkamah Pemerintah Nomor 10 tahun1961 dan pasal 40 Agung ( SEMA ) No 2 tahun 1991 sebagai salah Peraturan Pemerintah 24 tahun 1997 yaitu satu bentuk produk peraturan Mahkamah Agung pendaftaran pertama Akta Hak Pemberian Hak Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 22
    • tanggungan oleh Pemegang hak Tanggungan telah ) yang dapat dibatalkan oleh Pengadilan TUN.lewat waktu dari waktu yang ditentukan dalam 7 Akan tetapi akta yang menjadi dasarhari kerja.. Sedangkan cacat materiil dapat terjadi diterbitkannya sertipikat kecacatannyadengan dilanggarnya ketentuan tentang sahnya dipertimbangkan dalam pertimbangansuatu perjanjian ( karena akta adalah perjanjian), putusaan Pengadilan TUN sebagai dasarmisalnya mlanggar ketentuan pasal 1330 KUHPER, pembatalan sertipikat, dan karenanya apabiladimana yang membuyat perjanjian adalah orang sertipikat dibatalkan maka akta yang menjadiyang tidak cakap menurut hukum, atau perjanjian dasar penerbitan sertipikat mutatis mutandisdibuat dengan melanggar ketentuan pasal 1254, tidak mempunyai kekuatan hukum, dan1335 yo 1337 KUHPer yaitu dibuat karena sebab karenanya pula tidak dapat dipakai melakukanpalsu, tanpa sebab melanggar undang-undang, tuntutan hukum oleh pihak yang merasakesusilaan atau ketertiban umum. dirugikan dengan adanya pembatalan sertipikat tersebut. Yang dapat dipakai dasar untuk PENUTUP melakukan tuntutan hukum oleh pihak yang merasa dirugikan adalah adanya Perbuatan5.1 Kesimpulan Melawan Hukum, sebagaimana diatur dalam1. Alasan-alasan yang dapat menjadi dasar pasal 1365 KUHPerdata. pembatalan Sertipikat Hak Milik atas tanah adalah dilanggarnya peraturan perundang- 5.2 Saran undangan yang berlaku dan dilanggarnya azas- 1. Badan Pertanahan Nasional ( BPN ), azas umum pemerintahan yang baik ; meliputi hendaknya lebih berhati- hati dalam pelanggaran terhadap wewenang atau cacat menerbitkan sertipikat Hak milik atas wewenang , cacat presedur dan cacat yuridis. tanah, dengan memperhatikan secermat- yuridis. Cacat wewenang adalah penerbitan cermatnya , presedur yang harus diikuti , sertipikat dilakukan oleh Badan yang tidak akta PPAT yang menjadi dasar mempunyai kewenangan untuk itu. Cacat permohonan sertipikat dan hukum materiil presedur adalah tidak dilaluinya presedur yang yang dapat mengancam batalnya sertipikat harus diikuti dalam penerbitan sertipikat yaitu yang dapat merugikan pihak pihak terkait sertipikat diterbitkan tidak didahului oleh dengan sertipikat. pengumuman terlebih dahulu, sertipikat 2. Pengadilan Tata Usaha Negara yang diterbitkan tanpa didasarkan kepada alas mempunyai kewenangan untuk peralihan hak ( misalnya akta jual beli, surat- membatalkan sertipikat sebagai K.TUN surat waris, hibah dll ). Cacat yuridis adalah yang tidak dituju berdasarkan SEMA N0 2 dilanggarnya keketentuan hukum materiil yang tahun 1991, hendaknya SEMA tersebut dapat mengancam kebatalan terhadap ditingkatkan menjadi Undang Undang, penerbitan sertipikat tersebut sebagaimana atau sedapat-dapatnya dapat dipakai dasar diatur dalam pasal 330, 1330, yo.1446, 433, untuk merevisi Undang Undang No 5 1330, yo. 1446 KUHPer ( dibuat oleh orang tahun 1986 dirobah dengan Undang yang tidak cakap bertindak menurut hukum ), Undang No 9 tahun 2004, untuk 1321 yo 1449 KUHPer ( dibuat karena ada menciptakan keselarasan dengan K.TUN kekilapan, paksaan dan penipuan ), psl. 1254, yang dituju yang sudah diatur dalam pasal 1335, 1337 KUHPer ( bertentangan dengan 55 UU No.5 tahun 1986 dirubah dengan undang-undang, ketertiban umum dan UU No.9 tahun 2004. kesusilaan ). 3. Pengadilan Tata Usaha Negara yang2. Pengadilan TUN tidaklah dapat membatalkan mempunyai kewenang menjatuhkan akta yang menjadi dasar penerbitan sertipikat, putusan lebih dari yang dimohon ( ultra oleh karena akta jual beli adalah bersifat petita ) ; dalam menjatuhkan putusan bilateral dan bukan unilaterial dan karenanya membatalkan sertipikat, hendaknya juga bukan Keputusan Tata Usaha Negara ( K.TUN memperhatikan ketentuan pasal 32 ayat 2 Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 23
    • PP No 24 tahun 1997 yang dapat diajukan diatas, seyogyanya Pengadilan tata Usaha dalam eksepsi oleh pihak tergugat. Apabila Negara berani mengabulkan eksepti penerbitan sertipikat itu lebih dari 5 tahun tergugat , menyatakan gugatan penggugat dan dilakukan berdasarkan etikad baik telah lewat waktu, karenanya gugatan sebagaimana ditentukan dalam ketentuan penggugat dinyatakan tidak dapat diterima. DAFTAR PUSTAKAA. Buku - Buku Achmad Shahibuddin, Keyakinan Hakim Dalam Pembuktian Perkara Perdata, PT Pembimbing Masa, Jakarta, 1983.Achmad Ali, menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, Prenada Media Group, Jakarta, 2009.Achmad Ali, Menguak Teori (Legal Theory) dan teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Prenada Media Group, Jakarta, 2009.Achmad Ali, Sosiologi Hukum Kajian Empiris Terhadap Pengadilan, BP Iblam, Jakarta, 2004. Asra , 1999, Pembatalan Perjanjian Melalui Prinsip Unconscionable conduct, Varia Peradilan, Volume 161.Ali Budiarto, Pembatalan Sertifikat Hak Milik, Varia Peradilan tahun XVIII No 213, Juni 2003.Budiono Kusumohamidjoyo, Dasar – Dasar Merancang Krontrak, Grasindo , Jakarta, 1998.Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2006.Darji Darmodiharjo, Sidharta, Pokok Pokok Filsafat Hukum, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006.Dirjen POM, Perundang undangan Yang mengatur Sediaan Farmasi, Jakarta, 1996.Enggelbrecht, Himpunan Peraturan Per- undang undangan Republik Indonesia, Pt Intermasa, Jakarta,Gunawan Wijaya dan Kartini Mulyadi, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Raja Grafindo, Jakarta, 2004.Gunardi, Markus Gunawan, Kitab Undang-undang Hukum Kenotariatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.Herlien Budiono, Hukum Perdata dibidang Kenotariatan, Penerbit PT Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2008H. Salim HS, dkk, 2008, Perancangan Kontrak dan Memorandum Of Understanding, Sinar Grafika.Hartono Soerjopratiknjo, Perwakilan Berdasarkan Kehendak, Seksi Notariat FH.UGM, Jogyakarta, 1982.Hasanudin Rachman Daeng Naja, Contract Drafting, Seri Keterampilan Merancang Krontrak Bisnis, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2006.I Ketut Artadi, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, ( Diktat ), Fak.Hukum Unud, Denpasar, 2007.--------------, Filsafat Hukum , Perspektif Aplikatif, Diktat kuliah Program Kenotariatan, FH Unibraw- FH Unud, 2008.--------------, Hukum Dalam Perspektif Kebudayaan, Bali Post, Denpasar, 2006.Koentjaraningrat, Sejarah Antropologi, Universitas Indonesia, Jakarta, 1980.Lili Rasjidi dan Ira Rasjidi, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001.Maria SW Sumardjono, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian , Fak. Hukum UGM, Jogyakarta, 1989.Mariam Darus Badrulzaman , Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung, 1994 ( selanjutnya disebut, Mariam Darus Badrulzaman I ).--------------, Perjanjian Kredit Bank ( disertasi yang diterbitkan ) , Alumni, Bandung, 1978. ( selanjutnya disebut, Mariam Darus Badrulzaman II )Munir Fuady , Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern di Era Global, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.Meuwissen, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, Alih Bahasa B. Arief Sidharta, Refika Aditama, Cet. Pertama, Bandng, 2007.O Notoamijoyo, Demi Keadilan dan Kemanusiaan, BPK Gunung Mulya, Salatiga, 1973.Otje Salman, Anton Susanto, Teori Hukum , Reflika Aditama, Jakarta, 2004. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 24
    • Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Prihal Kaedah Hukum, Penerbit Alumni, Bandung, 1978.RM Suryodiningrat, Perikatan Bersumber Perjanjian , Transito, Bandung, 199.Sanusi Bintang dan Dahlan, Pokok Pokok Hukum Ekonomi dan Bisnis, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perutangan , Hak.Hukum UGM, Jogjakarta,1975.Sri Wardah dan Bambang Sutioso, Hukum Acara Perdata dan Perkembangannya di Indonesia, Gema Media, Yogyakarta, 2007.Subekti , Hukum Pembuktian , Pradnya paramita, Jakarta, 2005. ( selanjutnya disebut, Subekti III )-------------, Kitab Undang Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 1958 ( selanjutnya disebut subekti II ) --------------, Hukum Perjanjian, Intermasa , Jakarta, 1989 ( selanjutnya disebut, Subekti I )Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Jogyakarta, 1993 ( selanjutnya disebut, Sudikno Mertokusumo I )-----------------, Mengenal Hukum, Leberty, Yogyakarta, 1985. ( selanjutnya disebut Sudikno Mertokusumo II )Soehino, Hukum Tata Negara, Teknik Perundang-undangan, Liberty, Yogyakarta, 1981.Varia Peradilan tahun XVIII No 213, Juni 2003, hlm 60 Ali Budiarto, Pembatalan Sertifikat Hak Milik.Varia Peradilan tahun XVIII No 212, Mei 2003, Ali Budiarto, Putusan Cacat dan Batal Demi Hukum.Van Apelldorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1981.Vollmar, Pengantar Study Hukum Perdata, ( terjemahan IS Adiwimarta), Rajawali, Jakarta , 1994.Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Indonesia, PT Intermasa, Jakarta, 1982.WJS Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1976.Yahya Harahap, , Segi Segi Hukum Perjanjian , Alumni Bandung, Bandung, 1986 ( selanjutnya disebut, M Yahya Harahap I ).-------------, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, Gramedia, Jakarta, 1994 . ( selanjutnya disebut, M Yahya Harahap II )Yan Pramudya Puspa, Kamus Edisi Lengkap Bahasa Belanda Indonesia Inggris, Aneka , Semarang, 1977.Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 1997.Zevenbergen , Formale encyclopaedie der rechtswestenschap, gebr, Belinfante,s, Gravenhagr, 1925.B. InternetInternet ; Notaris _ Indonesia @ yahoogroups. Com, Saturday, May, 26, 2007 11:27 PM.C. Undang – UndangKitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk wetboek)Undang- Undang N0. 30 tahun 2004 , tentang Jabatan NotarisUndang- Undang N0. 5 tahun 1986 , dirobah dengan UU N0. tahun 2004 tentang Peradilan Tata UsahaNegara.Undang-Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.Undang-ndang No. 5 tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok AgrariaPeraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 25
    • KEWENANGAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM PEMUNGUTAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) DARI JUAL BELI HAK ATAS TANAH DAN/ ATAU BANGUNAN DI WILAYAH DENPASAR TIMUR Putu Ida Mahayani, SH. Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - ABTRACT PUTU IDA MAHAYANI, SH, is a Student Study Program Master of Notary 2007, Land Deed MakersAuthority Officials (PPAT) In the Collection of Income Tax (VAT) From Sale and Purchase of Land Rights And/ Or Building, in East Denpasar District, Main Advisor:, second Supervising Income tax is a tax imposed on the subject of taxes on income received or accrued during the tax year.This income tax must first be paid by the seller before deed by PPAT. PPAT role in the purchase agreement ofland and or building is as a maker of the deed. But whether PPAT plays a role in the implementation of taxcollection. Issues to be discussed in this study are (1) How is the role to do by the Land Deed Makers Officials(PPAT) in the income tax collection from the sale and purchase of land and / or buildings? (2) What are theobstacles or barriers that arise in the implementation of income tax collection from sale of land and / orbuildings? (3) How to overcome obstacles or barriers that arise are? This research is descriptive analytical approach to the empirical juridical view of the fact that happenedon the phenomena associated with the implementation of the collection of income tax on the gain from thetransfer of rights over land and / or buildings. Population and sample in this paper is related PPAT forcollection of income tax in the territory of East Denpasar. PPAT role in the implementation of non-dominant or collection can also be said to be passive, andPPAT not mandatory collection. In the implementation of tax collection are many constraints faced by thetaxpayer in PPAT are not aware of any provisions of the agreement to pay taxes, high income tax to be paid totaxpayers asking price NJOP PPAT to use instead of the real price and the UN-SPPT missing or had not risentoo biased to the constraint. To overcome these obstacles PPAT make an effort to continue to provideinformation to taxpayers about tax payments, and if the taxpayer objected to the amount of tax to be paid andthe loss of then-UN SPPT PPAT advised to immediately report the loss of tax returns and ask for tax relief tothe tax office .Key words: Extraction, PPAT, Income Tax PENDAHULUAN dalam Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008.1.1 Latar Belakang Masalah Peran PPAT dalam perjanjian jual beli tanah Pada proses sebelum beralihnya tanah dari dan atau bangunan adalah sebagai pembuat akta.penjual kepada pembeli, menimbulkan kewajiban dari Tetapi apakah Withholding System juga berlaku dalammasing-masing pihak dalam hal ini (pembeli dan pelaksanaan pemungutan PPh atas penghasilan daripenjual) untuk melakukan pembayaran pajak. Hasil jual beli tanah dan/atau bangunan dimana PPATpemungutan pajak itu sendiri dipakai untuk sebagai pihak ketiga berperan dalam pelaksanaanmembiayai peningkatan pelayanan kepada masyarakat pemungutan pajaknya.atau melakukan pembangunan infrastruktur yang Sehubungan dengan latar belakang di atas,berguna bagi kesejahteraan rakyat banyak, sehingga maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian danbagi mereka yang memperoleh hak atas tanah dan membuat karya tulis dengan judulatau bangunan dinilai wajar menyerahkan sebagian “KEWENANGAN PEJABAT PEMBUAT AKTAnilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara TANAH (PPAT) DALAM PEMUNGUTANmelalui pembayaran pajak dalam hal ini adalah Pajak PAJAK PENGHASILAN (PPh) DARI JUALPenghasilan selanjutnya disebut PPh. Pajak BELI HAK ATAS TANAH DAN/ ATAUPenghasilan ini merupakan pajak final, hal ini di atur BANGUNAN DI WILAYAH DENPASAR TIMUR”. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 26
    • 1.2. Rumuan Masalah b. Bagi para pihak yang terlibat dalam suatu Berdasarkan latar belakang masalah diatas, perikatan maupun masyarakat umum, hasil penelitianmaka masalah pokok yang akan dibahas yaitu: ini diharapkan dapat memberikan masukan sertaa. Bagaimanakah peranan yang dilakukan oleh mengetahui tentang hukum perpajakan sehingga dapat Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam diketahui pajak apa saja yang timbul dari jual beli atas Pemungutan Pajak Penghasilan dari jual beli tanah tanah dan/ atau bangunan dihadapan PPAT. dan/atau bangunan? c. Bagi pemerintah, diharapkan dapat dijadikanb. Apa saja kendala atau hambatan yang timbul masukan dalam mengambil kebijaksanaan mengenai dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Penghasilan peranan PPAT terkait dengan perpajakan. dari jual beli tanah dan/ atau bangunan?c. Bagaimanakah cara mengatasi kendala atau hambatan yang muncul tersebut? 1.5. Kerangka Teoritis. Dalam penelitian ini dikemukakan tiga teori1.3. Tujuan Penelitian yaitu:1.3.1 Tujuan Umum 1.5.1. Teori Sumber Wewenang Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah Teori sumber kewenangan ini digunakanuntuk mengetahui dan menganalisis tentang bertujuan untuk membahas mengenai kewenanganpemungutan pajak penghasilan oleh Pejabat Pembuat yang dimiliki oleh PPAT.Akta Tanah (PPAT) atas jual beli tanah dan/atau 1.5.2. Teori Pemungutan Pajakbangunan. Teori ini digunakan sebagai dasar pemungutan1.3.2 Tujuan Khusus pajak yang berlandaskan pada adanya kepentingan A. Untuk memahami dan mengetahui peranan yang atau kewajiban negara. dilakukan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah 1.5.3. Teori Negara Kesejahteraan (PPAT) dalam pemungutan Pajak Penghasilan Dalam teori negara kesejahteraan, negara dari jual beli tanah dan/atau bangunan dituntut untuk memperluas tanggung jawab kepada B. Untuk mengetahui dan memberikan penjelasan masalah-masalah sosial ekonomi yang dihadapi oleh tentang kendala atau hambatan yang timbul rakyat banyak demi kesejahteraan bersama dalam dalam pelaksanaan pemungutan Pajak masyarakat. Penghasilan (PPh) yang dilaksanakan oleh PPAT C. Untuk mengetahui cara mengatasi kendala atau 1.6. Metode Penelitian hambatan yang muncul dalam pelaksanaan 1.6.1. Jenis Penelitian pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) yang Penelitian ini termasuk jenis penelitian dilaksanakan oleh PPAT. hukum empiris yang menggunakan data sekunder sebagai data awal, yang kemudian ditunjang dan1.4 Manfaat Penelitian dilengkapi dengan data primer atau data lapangan. 1.6.2. Sifat Penelitian1.4.1 Manfaat Teoritis Penelitian kaitannya dengan penulisan tesis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ini bersifat deskriptif analitis, yang bertujuan untuksumbangan pemikiran guna pengembangan ilmu menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu,hukum, khususnya Hukum Pajak, dan terkait juga keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untukdengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 menentukan ada tidaknya hubungan antara suatutentang Peraturan Pejabat Pembuat Akta Tanah. gejala dengan gejala lainya dalam masyarakat. 1.6.3. Sumber Data1.4.2. Manfaat Praktis Dalam penelitian ini mempergunakan sumber data,a. Bagi akademis, hasil penelitian ini dapat dijadikan yaitu :informasi ilmiah guna melakukan pengkajian lebih 1. Data primer, adalah data yang diperoleh secaramendalam tentang kewenangan PPAT dalam langsung dari sampel dan responden melaluipemungutan pajak penghasilan sebagai sumber wawancara atau interview dan penyebaranpendapatan negara. Hal ini berkontribusi bagi angket atau questioner.pengembangan ilmu perpajakan, hukum pajak dan 2. Data sekuder, adalah data yang bersumber darihukum agraria. penelitian kepustakaan (library research). Data sekunder ini terdiri dari bahan hukum primer Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 27
    • yang berupa peraturan perundang-undangan 1.7. Sistematika Penulisan dan bahan hukum sekunder yang berupa buku- Adapun sistematika penulisan tesis ini adalah buku ilmu hukum serta tulisan-tulisan hukum. sebagai berikut :1.6.4. Teknik Pengumpulan Data BAB I : PENDAHULUAN Untuk data primer, tehnik pengumpulan Pada bab ini diuraikan tentang latar belakangdatanya dilakukan melakukan melalui observasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat(pengamatan) dan interview (Wawancara) dengan penelitian, kerangka teoritik, metode penelitian daninforman dilapangan. Interview adalah dengan sistematika penulisan.mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meminta BAB II : TINJAUAN PUSTAKAketerangan dan penjelasan-penjelasan sambil menilai Dalam bab ini penulis akan mengemukakanjawaban-jawabannya, mengingat dan mencatat teori-teori dan pendapat para ahli yang berhubunganjawaban-jawabannya. Wawancara/interview dengan hasil penelitian dan pembahasan masalahdilakukan secara mendalam guna mendapatkan data yaitu mengenai kajian umum pajak, kajian umumyang dibutuhkan. pajak penghasilan, kajian umum Pejabat Pembuat1.6.5. Populasi Dan Teknik Pengambilan Akta Tanah.Sampel BAB III : HASIL PENELITIAN DAN1. Populasi PEMBAHASAN Populasi adalah seluruh objek atau seluruh Pada bab ini akan diuraikan mengenai hasilgejala atau seluruh unit yang akan diteliti. Oleh dan pembahasan yaitu tentang peranan Pejabatkarena populasi biasanya sangat besar dan luas, maka Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam pemungutankerapkali tidak mungkin untuk meneliti seluruh Pajak Penghasilan (PPh), kendala atau hambatan yangpopulasi itu tetapi cukup diambil sebagian saja untuk timbul dalam pelaksanaan pemungutan Pajakditeliti sebagai sampel yang memberikan gambaran Penghasilan dari dan cara mengatasi kendala atautentang objek penelitian secara tepat dan benar. hambatan yang muncul dalam pelaksanaan Populasi dalam penelitian ini adalah PPAT di pemungutan Pajak Penghasilan jual beli tanah dan/wilayah Denpasar Timur. Untuk jumlah atau bangunan.PPAT/Notaris yang ada di wilayah Denpasar Timur BAB IV : PENUTUPberjumlah 92 (Sembilan pilih dua). Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian dan2. Teknik Pengambilan Sampel saran-saran tentang masalah-masalah yang dibahas Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini. Setelah penarikan-penarikanpurposive sampling yaitu teknik yang biasa dipilih kesimpulan yang kemudian juga diusulkan sarankarena alasan biaya, waktu dan tenaga, sehingga tidak sebagai jawaban untuk menengahi masalah yangdapat mengambil dalam jumlah besar. diajukan. Dalam penelitian ini ditetapkan 4 (empat)PPAT/Notaris sebagai sampel penelitian yaitu I KAJIAN PUSTAKANyoman Udiana, SH, I Wayan Gede Darma Yuda,SH., MKn, Ni Ketut Alit Astari, SH., Ida Bagus Putra 2.1. Kajian Umum PajakDeni, SH., Mkn. 2.1.1. Pengertian Dan Dasar Hukum Pajak1.6.6. Teknik Pengolahan Dan Analisis Data Pengertian pajak diasumsikan sebagai rasa Dari data yang berhasil dikumpulkan, baik terima kasih yang diberikan oleh masyarakat kepadadata primer maupun sekunder kemudian diolah dan pemerintah atas fasilitas-fasilitas yang dapat dinikmatidianalisa secara yuridis kualitatif. Analisis dilakukan dalam suatu masyarakat. Dasar hukum pemungutandengan mengadakan serangkaian kegiatan yang pajak di Indonesia diatur dalam Pasal 23 ayat (2)konsisten, sistematis dan estetis. Oleh karena itu, UUD 1945rangkaian kegiatan tersebut dilakukan dengan cara 2.1.2. Fungsi Pajakmemaparkan, menelaah, mensistemasikan,menafsirkan, dan mengevaluasi terhadap keseluruhan Pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitudata yang ada. Setelah melalui proses pengelolaan dan Fungsi Budgetair (Anggaran).analisa, kemudian data tersebut disajikan secaradeskriptif analitis. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 28
    • 2.1.3. Sistem Pemungutan Pajak 2.3. Kajian Umum Pejabat Pembuat Akta Tanah Ada tiga sistem pemungutan pajak, yakni (PPAT)Official assessment system, Self assessment system, 2.3.1. Pengertian Pejabat Pembuat Akta Tanahdan With holding system. (PPAT)2.1.4. Syarat Pemungutan Pajak Pejabat Pembuat Akta Tanah adalah pejabat Adapun syarat pemungutan pajak, antara lain umum yang khusus berwenang memuat danadil, yuridis, ekonomis, financial, sederhana. menandatangani akta dalam hal memindahkan hak atas tanah, menggadaikan tanah, meminjam uang2.2. Kajian Umum Pajak Penghasilan (PPh) dengan hak atas tanah sebagai tanggungan, terhadap2.2.1. Pengertian Dan Dasar Hukum Pajak mereka yang menghendaki adanya akta itu sebagaiPenghasilan (PPh) bukti, serta menyelenggarakan administrasinya Yang dimaksud dengan pajak penghasilan sebagaimana ditentukan dan dibenarkan olehadalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak Peraturan Perundang-Undangan.atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya 2.3.2. Tugas Dan Wewenang PPATdalam tahun pajak. Dasar hukum pengenaan pajak Dalam pasal 2 PP Nomor 37 tahun 1998,penghasilan adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun keberadaan PPAT sebagai pejabat umum dalam hal1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah pertanahan memiliki tugas pokok yaitu melaksanakandiubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuattahun 2008 yang selanjutnya disebut Undang-Undang akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatanPajak Penghasilan (UU PPh). hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak2.2.2. Subjek Dan Objek Pajak Penghasilan Milik Atas Satuan Rumah Susun, yang akan dijadikan Subyek pajak adalah subyek yang mungkin dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftarandikenakan pajak tetapi belum tentu dikenakan pajak. tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.Subjek pajak yaitu, Orang pribadi dan warisan yang 2.3.4. Kewajiban Pejabat Pembuat Akta Tanahbelum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan (PPAT)yang berhak, Badan, Bentuk Usaha Tetap. Subjek Berkaitan dengan dengan kewajiban PPAT,pajak dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri maka sesuai dengan ketentuan Pasal 45 Peraturandan subjek pajak luar negeri. Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2006, PPAT mempunyai Objek pajak adalah penghasilan yaitu setiap kewajiban :tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau a. menjunjung tinggi Pancasila, Undang-Undangdiperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Dasar 1945, dan Negara Kesatuan RepublikIndonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat Indonesia;dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah b. mengikuti pelantikan dan pengangkatan sumpahkekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan jabatan sebagai PPAT;nama dan dalam bentuk apapun. c. menyampaikan laporan bulanan mengenai akta yang dibuatnya kepada Kepala Kantor2.2.3. Tarif, Dasar Dan Sifat Pengenaan Pajak Pertanahan, Kepala Kantor Wilayah dan KepalaPenghasilan Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan setempat paling lambat tanggal 10 bulan Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) PP No. 71 Tahun berikutnya;2008, besarnya tarif Pajak Penghasilan yang d. menyerahkan protokol PPAT dalam hal :dikenakan adalah sebesar 5% (lima persen) dari 1) PPAT yang berhenti menjabat sebagaimanajumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayatbangunan. Khusus untuk pengalihan rumah sederhana (2) kepada PPAT di daerah kerjanya ataudan rumah susun sederhana oleh Wajib Pajak yang kepada Kepala Kantor Pertanahan;usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah 2) PPAT Sementara yang berhenti sebagai PPATdan/atau bangunan, tarifnya adalah 1%(satu persen) Sementara kepada PPAT Sementara yangdari jumlah bruto nilai pengalihan. menggantikannya atau kepada Kepala Kantor Pertanahan; 3) PPAT Khusus yang berhenti sebagai PPAT Khusus kepada PPAT Khusus yang Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 29
    • menggantikannya atau kepada Kepala Kantor Berdasarkan hasil penelitian maka kendala Pertanahan. atau hambatan yang dihadapi dalam pemungutane. membebaskan uang jasa kepada orang yang tidak pajak penghasilan adalah: mampu, yang dibuktikan secara sah; a) Para pihak dalam perjanjian belumf. membuka kantornya setiap hari kerja kecuali memahami mengenai adanya ketentuan pajak sedang melaksanakan cuti atau hari libur resmi penghasilan jual beli atas tanah dan/atau dengan jam kerja paling kurang sama dengan jam bangunan yang harus dibayar.; kerja Kantor Pertanahan setempat; b) Tidak dimilikinya SPPT-PBB baik itug. berkantor hanya di 1 (satu) kantor dalam daerah karena hilang ataupun tidak dilaporkannya kerja sebagaimana ditetapkan dalam keputusan terjadinya peralihan hak dan belum terbit pada pengangkatan PPAT; awal tahun;h. menyampaikan alamat kantornya, contoh tanda c) Tingginya Pajak Penghasilan yang harus tangan, contoh paraf dan teraan cap/stempel dibayar maka masyarakat meminta kepada PPAT jabatannya kepada Kepala Kantor Wilayah, untuk menggunakan nilai terkecil dari Nilai Jual Bupati/ Walikota, Ketua Pengadilan Negeri dan Obyek Pajak atau harga transaksi dan Kepala Kantor Pertanahan yang wilayahnya mencantumkan harga transaksi yang bukan meliputi daerah kerja PPAT yang bersangkutan sebenarnya dalam akta jual beli. dalam waktu 1 (satu) bulan setelah pengambilan 3.3. Cara Untuk Mengatasi Kendala atau sumpah jabatan; Hambatan yang Timbul Dalam Pemungutani. melaksanakan jabatan secara nyata setelah Pajak Penghasilan (PPh) Dari Jual Beli pengambilan sumpah jabatan; Tanah Dan/ atau Bangunan.j. memasang papan nama dan menggunakan stempel Untuk mengatasi kendala atau hambatan dalam yang bentuk dan ukurannya ditetapkan oleh pemungutan pajak penghasilan dari jual beli tanah Kepala Badan; dan/ atau bangunan, dengan cara:k. lain-lain sesuai peraturan perundang-undangan. 1. Sebaiknya Kantor pajak membuat program sosialisasi setiap tahun yang dilaksanakan PEMBAHASAN bersamaan dengan penyerahan SPPT PBB ke Pemerintah Daerah.3.1. Peranan Pejabat Pembuat Akta Tanah Dalam 2. Mengenai hilang, tidak memiliki dan belum Pemungutan Pajak Penghasilan Dari Jual terbitnya SPPT PBB pada awal tahun perlu Beli Hak Atas Tanah Dan/ Atau Bangunan selesaikan dengan mengajukan permohonan ke PPAT memiliki peranan yang penting dalam kantor pajak setempat dan diharapkan lebih awalhal peralihan hak dalam hal ini jual beli atas tanah dan mencetak SPPT PBB dan segera membagikanatau bangunan, terutama bagi Negara dalam hal lewat Pemerintah Daerah kepada Wajib Pajakpembayaran pajak yang merupakan kewajiban bagi 3. Apabila wajib pajak merasa pengenaan pajakpara pihak yang akan melakukan transaksi peralihan terhutang (PPh) yang harus dibayar oleh wajibhak atas tanah sebelum dibuatkannya akta peralihan pajak terlalu besar, maka penyelesaiannya adalaholeh PPAT. PPAT dalam hal pemungutan pajak tidak wajib pajak diharapkan segera memohonmemiliki kewajiban karena PPAT bukan wajib keringanan pajak ke kantor pajak.pungut, peranan PPAT dalam pelaksanaanpemungutan tidak dominan atau dapat juga dikatakan PENUTUPpasif. PPAT hanya sebatas turut membantupelaksanaan PPh atas penghasilan dari jual beli hak 4.1. Kesimpulanatas tanah dan/atau bangunan dengan Berdasarkan uraian pembahasan diatas, makamemberitahukan kepada pihak yang pembeli tentang dapat disimpulkan bahwaadanya beban pajak penghasilan yang harus dibayar 1. PPAT tidak memiliki kewenangan dan tidakpenjual serta membantu wajib pajak menghitung dan berperan aktif dalam pemungutan pajakmenyetorkan pajak yang terutang penghasilan. PPAT hanya berwenang dalam3.2. Kendala atau Hambatan yang Timbul Dalam pembuatan akta otentiknya saja. PPAT hanya Pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Dari sebatas turut membantu pelaksanaan pajak Jual Beli Hak Atas Tanah Dan/ atau penghasilan yaitu dengan memeriksa apakah Bangunan. wajib pajak baik pihak pembeli (BPHTB) dan Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 30
    • penjual (PPh) telah membayar kewajiban - Apabila wajib pajak merasa pengenaan pajak pajaknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa terhutang (PPh) yang harus dibayar oleh keberhasilan pelaksanaan pemungutan Pajak wajib pajak terlalu besar, maka Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah penyelesaiannya adalah wajib pajak dan/atau bangunan terletak pada kesadaran para diharapkan segera memohon keringanan Wajib Pajak sendiri dalam melaksanakan pajak ke kantor pajak. kewajibannya membayar pajak. 2. Saran2. Dalam pelaksanaan pemungutan pajak ternyata Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, terdapat beberapa hambatan, yaitu: maka diajukan saran-saran sebagai berikut : -Setiap orang oleh Kantor Pajak dianggap 1. Agar PPAT diperbolehkan sebagai pihak ketiga mengetahui tentang pajak. Pada kenyataannya dalam pemungutan pajak. masih banyak masyarakat yang belum 2. Perlu adanya syarat atau keharusan untuk cek memahami mengenai pajak, terutama Pajak SPPT ke Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Penghasilan dari jual beli hak atas tanah dan/ Bangunan sebelum transaksi jual beli dilakukan atau bangunan. Kurangnya sosialisasi dari 3. Perlu ditingkatkan kerjasama antara wajib pajak Kantor Pajak dianggap sebagai faktor penting dengan pihak yang terkait dalam pelaksanaan penyebab ketidaktahuan masyarakat mengenai pemungutan pajak penghasilan dalam penetapan adanya Pajak Penghasilan. harga sesuai dengan harga pasar, sehingga tarif -Tidak dimilikinya Surat Pemberitahuan pengenaan pajaknya tidak tinggi. Pajak Terutang juga merupakan salah satu kendala, karena dari data yang terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang tersebutlah yang dipakai sebagai dasar untuk dapat mengetahui lokasi tanah, dimana didalamnya memuat kode provinsi, kode kabupaten, kode kecamatan, kode kelurahan dan blok serta nomor urut tanah. Data tersebut yang dipakai untuk mencocokan dengan peta blok atas lokasi suatu bidang tanah yang menjadi obyek transaksi. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat dari terjadinya peralihan hak atas tanah dan atau bangunan yang tidak diikuti dengan dilaporkannya terjadinya peralihan hak tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. -Ketentuan tarif sebesar 5 % (lima persen) dianggap memberatkan Wajib Pajak. Keberatan seperti inilah yang membuat para pihak meminta kepada PPAT menggunakan Nilai Jual Objek Pajak atau tidak menggunakan harga riil transaksi.3. - Sebaiknya Kantor pajak membuat program sosialisasi setiap tahun yang dilaksanakan bersamaan dengan penyerahan SPPT PBB ke Pemerintah Daerah. - Mengenai hilang, tidak memiliki dan belum terbitnya SPPT PBB pada awal tahun perlu selesaikan dengan mengajukan permohonan ke kantor pajak setempat dan diharapkan lebih awal mencetak SPPT PBB dan segera membagikan lewat Pemerintah Daerah kepada Wajib Pajak Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 31
    • DAFTAR PUSTAKAAbubakar Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, BandungAmirudin dan Zainal Asikin, 2004, Pengatar Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, JakartaBachtiar Effendie, 1982, Kumpulan Tulisan Tentang Hukum Tanah, Alumni, Bandung.Fidel, 2008, Pajak Penghasilan (Pembahasan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Dengan Komentar Pasal Per Pasal), Carofin Publishing, Cetakan I, Jakarta.J.J.H. Bruggink, 1996, Reschtsreflecties, alih bahasa Arief Sidharta, PT. Citra Aditya Bakti, BandungMardiasmo, 1995, Perpajakan Edisi 3, Andi Offset, Yogyakarta.Ronny Hanitijo Soemitro, Op. cit.Rony Hanitijo Soemitro, 1998, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, JakartaY. Sri Pudyatmoko, 2002, Pengantar Hukum Pajak, Andi, Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 32
    • KEDUDUKAN HUKUM DAN OTENTISITAS AKTA PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) DALAM HAL PENDAFTARAN TANAH Ni Putu Dhian Irmasari Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - ABSTRACT This thesis departs from the legal issue that is vagueness of norms related to the independence of LandDeed Official (PPAT), in the provision of Article 6 paragraph (2) Government Regulation No. 24 of 1997 onLand Registration, it is determined that in implementing the land registration, the Head of National LandAgency shall be assisted by the Land Deed Official. The word “assisted” has caused confusion to PPAT andNational Land Agency (BPN) / the Head of National Land Agency. As if PPAT is the assistant in context ofsubordinate to the Head of National Land Agency. Implication of the Article 6 paragraph (2) GovernmentRegulation No. 24 of 1997 on Land Registration shall impact the authenticity of deed drafted by PPAT apartfrom the study of Article 1868 of the Indonesia Civil Code. Besides to be responsible for certainty and truth ofthe deed content, PPAT also required to submit the deed and other epistles to the National Land Agency within7 (seven) days since the signing of the deed as referred to in Article 40 paragraph (1) Government RegulationNo. 24 of 1997 on Land Registration. If this matter is studied against the authenticity of deed drafted by PPAT,there will be confusion because PPAT deed which is categorized as an authentic deed should be perfectlyefficient since the signing of the deed. The study in this thesis using normative legal research, of which done by studying library materials or alsocalled library research. This study based on statute approach and conceptual approach. The result of the study in this thesis is that the legal position of Land Deed official (PPAT) on LandRegistration is not a public official and functionally subordinate to the National Land Agency (BPN). Inaddition, the authenticity of deed drafted by PPAT on Land Registration is not authentic.Key Words: Land Deed Official (PPAT), Legal Position, Deed Authenticity PENDAHULUAN berkedudukan hukum sebagai akta otentik. Penetapan akta PPAT sebagai akta otentik haruslah selalu 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH merujuk pada ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata keberadaan PPAT diatur dalam Peraturan dimana suatu akta otentik adalah suatu akta yangPemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan olehJabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang Undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pejabatdiundangkan pada tanggal 5 Maret 1998 dalam umum yang berwenang untuk itu ditempat dimanaLembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 akta dibuat. Berdasarkan hal tersebut, PPAT diberiNomor 52, yang selanjutnya dalam tulisan ini disebut kewenangan membuat akta PPAT otentik. MenurutPP No.37 Tahun 1998. Dalam Pasal 1 ayat (1) PP Kamus Besar Bahasa Indonesia, “membuat adalahNo. 37 Tahun 1998 ditentukan bahwa: menciptakan, melakukan, mengerjakan.” Dalam “PPAT adalah Pejabat Umum yang diberi artian, PPAT mempunyai kewenangan menciptakan,kewenangan untuk membuat akta-akta otentik membuat, dan mengerjakan sendiri akta PPAT yangmengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak menjadi kewenangannya sebagaimana ditentukanatas tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun.” dalam Pasal 95 PeraturanMenteri Negara PPAT yang awalnya ini disebut sebagai pejabat Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3saja, kemudian diberi kualitas tambahan yang penting Tahun 1997 juncto Pasal 2 ayat (2) PP No. 37 Tahunyaitu sebagai pejabat umum, dengan istilah Belanda 1998 .“open ambtenaar”, yang membawa posisinya sama Namun berkaitan dengan independensi PPAT, dalamdengan Notaris. Berkaitan dengan hal tersebut, oleh ketentuan Pasal 6 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997karena PPAT dikategorikan sebagai pejabat umum, ditentukan bahwa :maka setiap akta yang dibuat oleh PPAT Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 33
    • “Dalam melaksanakan pendaftaran tanah, Kepala kewenangan.Dan terhadap kedudukan daripadaKantor Pertanahan dibantu oleh PPAT dan Pejabat aktanya, penulis menggunakan konsep Negara Hukumlain yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan- yang kemudian dikaitkan pisau analisanyakegiatan tertentu menurut Peraturan pemerintah ini menggunakan teori Kepastian Hukum.dan peraturan perundang-undangan yang 1.7 METODE PENELITIANbersangkutan” 1.7.1 Jenis Penelitian Berdasarkan permasalahan yang dikaji,Kata-kata “dibantu” telah menimbulkan kerancuan penelitian ini menggunakan penelitian hukumpada PPAT maupun BPN/Kepala Kantor normatif.Pertanahan.PPAT seakan-akan adalah merupakan 1.7.2 Jenis Pendekatanpembantu dalam arti bawahan Kepala Kantor Pembahasan terhadap kedua pokokPertanahan. Jadi dalam hal ini telah terjadi kekaburan permasalahan dalam penelitian ini didasarkannorma. Kata-kata “dibantu” menimbulkan pertanyaan kepada pendekatan perundang-undangan (statutedarimana dan dimanakah kewenangan PPAT tersebut. approach) dan pendekatan konseptualApakah PPAT merupakan subordinasi dari (conceptual approach).BPN/Kepala Kantor Pertanahan?. Selain itu, implikasi 1.7.3 Jenis dan Sumber Bahan Hukumdari Pasal 6 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 tersebut Penelitian ini dititik beratkan padaakan berdampak pula terhadap keotentikan dari akta penelitian kepustakaan, berasal dari hasilPPAT selain dari kajian dalam Pasal 1868 penelitian kepustakaan terhadap bahan hukumKUHPerdata. primer, sekunder, dan tersier. 1.2 RUMUSAN MASALAH 1.7.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum 1) Bagaimanakah kedudukan hukum PPAT Mengenai teknik yang diterapkan dalam dalam hal pendaftaran tanah? pengumpulan bahan hukum yang diperlukan 2) Bagaimanakah keotentikan akta PPAT? dalam penelitian ini adalah melalui teknik telaah1.3 TUJUAN PENELITIAN kepustakaan. 1) Tujuan Umum, untuk memahami dan 1.7.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Bahan menganalisis kedudukan hukum PPAT dalam Hukum kegiatan pendaftaran tanah di Indonesia. Bahan-bahan hukum yang telah 2) Tujuan Khusus, terkumpulkan dianalisis dengan menggunakan (a) Untuk mengetahui, mengkaji dan teknik analisis dengan tahapan sebagai berikut : menganalisis kedudukan hukum PPAT tahapan pendeskripsian atau penggambaran kegiatan pendaftaran tanah menurut Pasal dengan menguraikan proposisi-proposisi hukum 6 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 24 sesuai pokok permasalahan yang dikaji, untuk Tahun 1997. selanjutnya dilakukan interpretasi. Oleh karena (b) Untuk mengetahui, mengkaji dan dalam tesis ini mengkaji adanya kekaburan menganalisis keotentikan akta PPAT norma maka digunakan metode interpretasi. dihubungkan dengan Pasal 2 ayat 1 Setelah tahap interpretasi, kemudian tahap Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun sistematisasi berupa upaya-upaya mencari kaitan 1998. rumusan suatu konsep hukum atau proposisi1.4 MANFAAT PENELITIAN hukum antara peraturan perundang-undangan 1) Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat yang sederajat maupun antara yang tidak memberikan manfaat pada pengembangan sederajat. Dan tahapan evaluasi atau analisis ilmu hukum, khususnya hukum agraria. adalah dengan memberi penilaian berupa tepat 2) Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat atau tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar bermanfaat bagi lembaga PPAT dalam atau salah, sah atau tidak sah oleh peneliti menjalankan kegiatan pendaftaran tanah. terhadap suatu pandangan, proposisi, pernyataan1.5 KERANGKA KONSEPTUAL DAN rumusan norma, keputusan, baik yang terteraTEORITIS dalam bahan hukum primer maupun dalam Untuk dapat menjawab rumusan permasalahan bahan hukum sekunder. Hasil penerapan dariyang dibahas dalam tesis ini, dipergunakan konsep keempat tahapan tersebut kemudian diberikanHak Menguasai Negara Atas Tanah kemudian argumentasi hukum untuk mendapatkandikaitkan pisau analisanya menggunakan teori Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 34
    • kesimpulan atas kedua pokok permasalahan menjamin kepastian hukum, dan sekaligus pula yang akan dibahas dalam tesis ini. diharapkan dapat dihindari terjadinya sengketa. Dalam lingkup untuk menjamin kepastian 1.8 SITEMATIKA PEMBAHASAN hukum maka konsep negara hukum dipergunakan untuk menjawab tentang bagaimana penyelenggara BAB I Membahas tentang Latar Belakang, negara dalam melaksanakan tugas-tugasnya yangRumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat diterima berdasarkan hukum. BerdasarkanPenelitian, Kerangka Teori, Metode Penelitian, dan penerimaan tugas-tugas yang merupakan amanahSistematika Penulisan. Undang-Undang itu, nantinya penyelenggara negara akan melimpahkan kewenangannya kepada perangkat BAB II Membahas tentang Kajian Pustaka lainnya, termasuk kepada PPAT selaku pejabatyang menyangkut tentang Tinjauan Terhadap PPAT umum.yaitu mengenai Sejarah Keberadaan PPAT, 2.2 Konsep Hak Menguasai Negara Atas TanahPengertian PPAT, Hak dan Kewajiban PPAT, kajian Konsep dasar hak menguasai tanah oleh negara diterhadap jenis-jenis pejabat dalam Hukum Indonesia termuat dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945Administrasi Negara. Juga membahas tentang Akta yang menentukan:Tanah yang meliputi Jenis-jenis Akta Tanah dan “Bumi dan air dan kekayaan alam yangkajian terhadap otentitas suatu akta ditinjau dari terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara danperaturan-peraturan yang relevan berkaitan dengan hal dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmurantersebut. rakyat.” BAB III Membahas tentang Hasil dan Berdasar Pasal 2 UUPA, menurut konsep UUPA,Pembahasan yang menyangkut tentang kedudukan pengertian “dikuasai” oleh negara bukan berartiPPAT sebagai pejabat umum dalam kegiatan “dimiliki”, melainkan hak yang memberi wewenangpendaftaran tanah dan kedudukan dari akta PPAT kepada negara untuk mengatur 3 hal tersebut diatas.ditinjau dari keotentikan suatu akta. Isi wewenang negara negara yang bersumber pada hak menguasai SDA oleh negara tersebut semata-mata BAB IV Merupakan bab penutup yang “bersifat publik”, yaitu wewenang untuk mengaturmembahas tentang Kesimpulan terhadap (wewenang regulasi) dan bukan wewenang untukpermasalahan yang dibahas dalam Bab III dan menguasai tanah secara pisik dan menggunakanmemberikan saran-saran terhadap Pemerintah tanahnya sebagaimana wewenang pemegang hak atasterutama Badan Pertanahan Nasional, kepada para tanah yang “bersifat pribadi”.PPAT, dan kepada masyarakat. 2.3 Teori Kewenangan KAJIAN PUSTAKA Indroharto berpendapat dalam arti yuridis :2.1 Konsep Negara Hukum pengertian wewenang adalah kemampuan yang Sebagai negara hukum, maka diperlukan diberikan oleh peraturan perundang-undangan untukaturan-aturan hukum agar dapat mencapai tujuan menimbulkan akibat-akibat hukum.negara.Dan konsep negara hukum menjamin Philipus M. Hadjon mengemukakan bahwakepastian hukum, ketertiban, dan perlindungan hukum kewenangan dapat diperoleh dengan 2 (dua) cara,yang berintikan kebenaran dan keadilan.Kepastian, yaitu dengan atribusi atau dengan delegasi. Namunketertiban, dan perlindungan hukum menuntut antara dikatakan pula bahwa kadangkala mandat digunakanlain, bahwa lalu lintas hukum dalam kehidupan sebagai cara tersendiri dalam memperoleh wewenang.masyarakat memerlukan adanya alat bukti yang Pendapat ini sejalan dengan yang dikemukakanmenentukan dengan jelas hak dan kewajiban F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbenk, berpendapatseseorang sebagai subjek hukum dalam bahwa:masyarakat.Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan “Hanya ada dua cara organ memperoleh wewenang,oenuh mempunyai peranan penting dalam setiap yaitu atribusi dan delegasi. Atribusi berkenaan denganhubungan hukum dalam kehidupan masyarakat, penyerahan suatu wewenang baru, sedangkan delegasitermasuk bidang pertanahan.Melalui akta otentik yang menyangkut pelimpahan wewenang yang telah adamenentukan secara jelas hak dan kewajiban, (oleh organ yang telah memperoleh wewenang secara atributif) kepada organ lain; jadi delegasi secara logis Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 35
    • selalu didahului oleh atribusi. Mandat tidak Kepastian Hukum secara normatif adalah ketikamengakibatkan perubahan wewenang apapun, sebab suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pastiyang ada hanyalah hubungan internal, seperti menteri karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalamdengan pegawai untuk mengambil keputusan tertentu artian tidak terdapat kekaburan norma atau keragu-atas nama menteri, sementara secara yuridis raguan (multitafsir), dan logis dalam artian menjadiwewenang dan tanggung jawab tetap berada pada suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidakorgan kementrian. Pegawai memutuskan secara berbenturan atau menimbulkan konflik norma.teknis, sedangkan menteri secara yuridis.” Kepastian hukum membawa manfaat terciptanya rasa terlindung dan keteraturan dalam hidup bersama Kutipan diatas menunjukkan bahwa pada dalam masyarakat. Kepastian hukum mengandung arti“atribusi” kewenangan diberikan kepada suatu badan bahwa setiap perbuatan hukum yang dilakukan haruspemerintah oleh suatu badan legislative yang mandiri. menjamin kepastian hukumnya.Kewenangan ini bersifat asli,yang tidak bersumberdari kewenangan yang ada sebelumnya.badan 2.5 Kajian Umum Pendaftaran Tanahlegislative menciptakan kewenangan dan bukan Dalam Ketentuan Umum Pasal 1 Peraturanperluasan keweangan sebelumnya dan Pemerintah No.24 Tahun 1997 disebutkan bahwa :memberikannya kepada yang berkompeten. Pada “Pendaftaran tanah adalah rangkaian“delegasi” tejadi peralihan kewenangan atribusi dari kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus-suatu badan pemerintahan yang satu kepada yang menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputilainnya, sehinga delegator (badan yang telah pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajianmemberikan kewenangan) dapat menguji kewenganan serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalamtersebut atas namanya. Selanjutnya pada “mandat” bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanahtidak terdapat suatu peralihan kewenangan, tetapi dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberianpemberi mandat (mandator) memberikan kewenangan sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagipada badan yang lain untuk membuat suatu keputusan bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan Hakatau mengambil suatu tindakan atas namanya Milik Satuan Rumah Susun serta hak-hak- tertentu(pemberi mandat). yang membebaninya.”2.3 Teori Kepastian Hukum 2.6 Pengertian Pejabat Umum Menurut Gustav Radbruch kepastian hukum atau Dalam kosa kata bahasa Indonesia, adaRechtssicherkeit, security, rechts-zekerheid, adalah istilah Penjabat dan pejabat yang dari segi arti katasesuatu yang baru, yaitu sejak hukum itu dituliskan, mempunyai pengertian yang berbeda. Penjabat dapatdipositifkan, dan menjadi publik. diartikan sebagai pemegang jabatan orang lain utnuk Kepastian hukum dalam hal ini adalah bahwa sementara, sedangkan Pejabat diartikan sebagaisetiap perbuatan hukum yang dilakukan harus pegawai pemerintah yang memegang jabatan (unsurmenjamin kepastian hukum, seperti halnya dalam pimpinan) atau orang yang memegang suatu jabatan.peralihan hak atas tanah yang berdasarkan kuasa Dalam kamus Bahasa Indonesia, Umum berartimutlak, dimana dengan kuasa tersebut sudah mengenai seluruhnya atau semuanya; secaramendapat kepastian tentang peralihan hak, sehingga menyeluruh, tidak menyangkut khusus (tertentu) saja;dapat dijadikan dasar dari pendaftaran tanah. khalayak ramai; masyarakat luas. Untuk sesuatu yang Pasal 19 ayat (1) UUPA menentukan bahwa : bersifat umum dalam bahasa Belanda mempunyaiUntuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah istilah Algemeen, General, Openbaar dan Publiek.diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Kata-kata tersebut mempunyai arti yang sama, namunRepublik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan dalam penerapannya bisa berbeda. Algemeen berartiyang diatur dengan peraturan pemerintah. umum, diartikan sebagai pengaturan (aturan hukum) Pasal 3 huruf a PP No. 37 Tahun 1998 yang bersifat umum, seperti Algemene Bepalingen vatmenentukan bahwa untuk memberi kan kepastian Wetsgeving voor Nederlands-Indie (Ketentuan Umumhukum dan perlindungan hukum kepada pemegang mengenai Peraturan Perundang-undangan dihak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan Indonesia-Stb. 1847-23). Kata Generaal diartikanhak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat umum, dipergunakan sebagai lawan kata khususmembuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang (speciaal ), yaitu untuk sesuatu yang tidak ditujukanbersangkutan. untuk hal tertentu. Kata Openbaar berarti umum, jika Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 36
    • dikaitkan dengan pemerintahan berarti urusan yang Jika ditelaah berdasarkan metode penafsiranterbuka untuk umum atau kepentingan umum. gramatikal, dalam tesis ini digunakan bantuan kamus Bahasa Indonesia dalam menafsirkan kata “dibantu”2.7 PengertianPejabat Pembuat Akta Tanah dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997.(PPAT) Menurut kamus, kata “bantu” artinya “tolong”. Jadi a. Pasal 1 angka 1 PP No.37 Tahun 1998 disini ditafsirkan bahwa PPAT menolong BPN Pejabat Pembuat Akta Tanah adalah membuatkan akta sebagai bukti yang dijadikan dasar pejabat umum yang diberi kewenangan untuk dalam pendaftaran tanah. Jadi PPAT hanya menolong membuat akta otentik mengenai perbuatan BPN, dalam artian lembaga PPAT berada diluar dari hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau kelembagaan BPN. Sebagaimana perintah negara, Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. PPAT hanya sekedar membantu/menolong BPN sebagaimana rekan sejawat membantu kelancaran2.8 Pemahaman tentangAkta PPAT jalannya suatu kegiatan pendaftaran tanah. Menurut Pasal 1 ayat (4) PP No 37 Tahun 1998, Kedudukannya PPAT ordinansi terhadap BPN.Akta PPAT adalah akta yang dibuat oleh PPAT Namun jika dilihat bahwa PPAT diangkat oleh Kepalasebagai bukti telah dilaksanakannya perbuatan hukum BPN maka akan timbul keganjilan. Jika memangtertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas PPAT tersebut berada diluar kelembagaan BPN,satuan rumah susun. mengapa diangkat dan diberhentikan serta dibina oleh Jenis dan bentuk akta PPAT dapat dilihat pada kelembagaan BPN?. Jadi disini ditafsirkan bahwa jikaPasal 95 dan 96 Peraturan Menagri/KBPN Nomor 3 memang PPAT dikategorikan sebagai pejabat umum,Tahun 1997 tentang ketentuan pelaksanaan Peraturan kedudukan PPAT menyimpang dari arah yangPemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang dimaksudkan. Namun jika PPAT bukan merupakanPendaftaran Tanah. Pada Pasal 95 ditentukan sebagai pejabat umum, maka pengaturan keberadaan PPATberikut : dalam PP No. 37 Tahun 1998 yang menyatakan PPAT(1) Akta tanah yang dibuat oleh PPAT untuk sebagai pejabat umum harus diubah. dijadikan dasar pendaftaran perubahan data tanah adalah : Ketentuan-ketentuan yang selama ini ada tentang a. akta jual beli Pejabat Pembuat Akta Tanah dianggap belum cukup b. akta tukar menukar memadai, karena walaupun kedudukan, nama dan c. akta hibah status Pejabat Pembuat Akta Tanah tersebut telah di d. akta pemasukan kedalam perusahaan sebutkan dengan tegas dalam Undang-Undang tentang e. akta pembagian harta bersama Rumah Susun maupun Undang-Undang tentang Hak f. akta pemberian hak tanggungan Tanggungan, tetapi ketentuan mengenai peraturan g. akta pemberian hak guna bangunan atas jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah hanya diatur tanah hak milik dengan Peraturan Pemerintah (PP), yang dianggap h. akta pemberian hak pakai atas tanah hak masih belum memadai untuk tugas dan peranan milik Pejabat Pembuat Akta Tanah.Disamping itu Selain akta-akta sebagaimana dimaksud pada ayat keberadaan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1998(1) PPAT juga membuat surat kuasa membebankan itu dianggap kurang tepat secara hukum. Keberadaanhak tanggungan yang merupakan akta pemberian PP ini sama sekali tidak didasarkan atas perintahkuasa yang dipergunakan dalam pembuatan akta undang-undang. Penetapan PP tersebut olehpemberian hak tanggungan. pemerintah dianggap perlu untuk mengisi kekosongan hukum. Hal itu dapat dimaklumi, karena dalam teori KEDUDUKAN HUKUM PPAT SECARA hukum ada pendapat yang menyatakan bahwa apabila STRUKTURAL DALAM HUBUNGANNYA ada kebutuhan untuk mengatasi kekosongan hukum, TERHADAP BPN SERTA DAMPAKNYA kepala pemerintahan berwenang berdasarkan prinsip TERHADAP KEOTENTIKAN AKTANYA “Freisermessen” menetapkan peraturan yang DALAM HAL PENDAFTARAN TANAH dibutuhkan untuk kepentingan umum. Namun menurut Jimly Asshiddiqie bentuk hukumnya3.1 Kedudukan PPAT Secara Struktural Dalam seharusnya bukan Peraturan Pemerintah, melainkanHubungannya Terhadap BPN Dalam Hal Keputusan Presiden yang bersifat mengatur.Pendaftaran Tanah Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 37
    • 3.2. OTENTISITAS AKTA PEJABAT PEMBUAT sebagai akta otentik sebagaimana disebutkan dalamAKTA TANAH (PPAT) DALAM HAL Pasal 1868 KUHPerdata, melainkan sebagaiPENDAFTARAN TANAH perjanjian biasa setingkat dengan akta dibawah tangan. Untuk menguji apakah akta PPAT sebagai Dengan adanya ketentuan Pasal 6 ayat (2) yangakta otentik, maka harus diukur berdasarkan menentukan PPAT membantu BPN dan berkaitanketentuan mengenai akta otentik sebagaimana diatur langsung dengan Pasal 40 ayat (1)PP No. 24 Tahundalam pasal 1868 KUHPerdata yang menentukan: 1997, yang menyatakan jangka waktu 7 hari pendaftaran akta, maka akta PPAT baru akan berdaya “Suatu akta otentik ialah suatu akta yang guna setelah menjadi sertifikat. Kemudian puladi dalam bentuk yang ditentukan oleh undang- dipertegas dengan Pasal 2 ayat (1) PP No. 37 Tahunundang, dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum 1998 yang menentukan bahwa :yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta “PPAT bertugas pokok melaksanakandibuatnya.” sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan Dari ketentuan dalam Pasal 1868 hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau HakKUHPerdata tersebut suatu akta dapat dikatakan Milik Atas Satuan Rumah Susun, yang akan dijadikansebagai akta otentik apabila memenuhi syarat sebagai dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaranberikut: tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.” 1. Akta tersebut dibuat oleh (door) atau dibuat di Dari rumusan bunyi pasal diatas dikatakan, hadapan (ten overstaan) seorang pejabat umum bahwa akta PPAT digunakan sebagai bukti yang akan (openbare ambtenaren). dijadikan dasar bagi pendaftaran tanah. Hal tersebut tidak menjamin kepastian hukum karena dengan 2. Akta tersebut harus dibuat dalam bentuk adanya ketentuan Pasal 40 Ayat (1) PP No.24 Tahun (vorm) yang telah ditentukan oleh undang- 1997 secara tersirat bahwa akta PPAT baru akan undang (wettelikje vorm). berdaya guna secara sempurna sebagai bukti yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran tanah adalah 3. Pejabat umum yang membuat akta harus setelah didaftarkan paling lambat 7 hari kepada mempunyai kewenangan untuk membuat akta Kantor Pertanahan, semakin memperlihatkan bahwa tersebut, baik kewenangan berdasarkan daerah PPAT adalah subordinasi daripada BPN. Akta PPAT (wilayah) kerjanya atau waktu pada saat akta akan berfungsi sebagai suatu alat bukti yang otentik tersebut dibuat. setelah didaftarkan di BPN menjadi sertifikat. Dalam artian, baru memiliki daya guna sebagai alat bukti Keberadaan akta PPAT jika dianalisis berdasarkan sebagai dasar pendaftaran tanah setelah menjadiketiga parameter tersebut diatas akan dapat diketahui, sertifikat. Kemudian diperjelas dengan ketentuansehingga dapat disimpulkan otentisitas akta PPAT Pasal 96 ayat (2) Peraturan Menteri Negaradalam perspektif hukum. Pertama, syarat akta dibuat Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3oleh (door) atau dibuat di hadapan (ten overstaan) Tahun 1997 yang menentukan bahwa pembuatan aktapejabat umum yang ditunjuk oleh undang-undang. PPAT harus menggunakan formulir yang disediakanKeberadaan PPAT sebagai pejabat umum tidak oleh BPN.pernah disebutkan dalam undang-undang manapunselain dalam UUHT. Kedua, bentuk (vorm) akta yang PENUTUPdibut oleh pejabat umum agar dapat dikatakan sebagaiakta otentik, harus ditentukan oleh undang-undang. 4.1 SIMPULANTerhadap akta-akta tanah yang selama dibuat olehPPAT, bentuknya tidak pernah diatur dengan undang- Berdasarkan atas uraian yang telah dibahas padaundang. Ketiga, eksistensi PPAT tidak diatur dengan bab-bab terdahulu, dapat disimpulkan sebagai berikut:undang-undang dan bentuk aktanya juga tidak diaturdengan undang-undang, maka secara langsung PPAT 1. Kedudukan hukum PPAT dalam hal pendaftaranbukan pejabat yang berwenang untuk membuat akta- tanah adalah bukan pejabat umum dan secaraakta mengenai tanah. Dengan demikian, maka akta- fungsional merupakan subordinasi daripadaakta yang dibuat oleh PPAT tidak memenuhi syarat BPN. Hal tersebut dikarenakan Peraturan Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 38
    • Pemerintah tidak boleh membentuk suatu agar segera dibuat Undang-Undang Jabatan jabatan umum tanpa delegasi dari Undang- Pejabat Pembuat Akta Tanah. Atau jika Undang, dan dalam menjalankan tugas dan keberadaan PPAT memang hendak dihapuskan fungsinya dalam pendaftaran tanah, keberadaan dan dianggap telah inheren dalam diri Notaris, PPAT selalu digantungkan dengan BPN. maka harus pula dinyatakan dengan tegas dalam UUJN, sehingga tidak menimbulkan polemik2. Otentisitas akta PPAT dalam hal pendaftaran karena adanya perbedaan penafsiran dalam tanah adalah tidak otentik. Selain tidak pelaksanaannya. memenuhi syarat-syarat sebagai akta otentik dalam Pasal 1868 KUHPerdata, ketidakotentikan 2. Agar dapat menjamin kepastian hukum, akta PPAT juga dapat dilihat dalam Pasal 40 berkaitan dengan otentisitas akta PPAT yang ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 tentang mana nantinya akan menjadi suatu produk akhir Pendaftaran Tanah yang mana akta PPAT dalam pendaftaran tanah yaitu sertifikat, tersebut baru berdaya guna sebagai bukti dasar disarankan kepada pembentuk undang-undang pendaftaran tanah setelah didaftarkan terlebih agar dalam Undang-Undang Jabatan Pejabat dahulu kepada Kepala Kantor Pertanahan (BPN). Pembuat Akta Tanah (sebagaimana yang Hal tersebut tidak sesuai dengan hakekat disarankan dalam saran pertama) diatur pula daripada otentisitas suatu akta. secara jelas mengenai bentuk atau format daripada akta PPAT agar memenuhi kriteria4.2 SARAN-SARAN keotentikan suatu akta. Dan penyediaan daripada blanko/formulir akta PPAT oleh BPN harus1. Oleh karena PPAT belum mempunyai ditiadakan. Karena hal tersebut tidak sesuai kedudukan hukum yang kuat. Maka dapat dengan hakekat dari keotentikan suatu akta. disarankan kepada pembentuk Undang-Undang DAFTAR PUSTAKABuku dan Hasil PenelitianAchmad Ali, Menguak Teori (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Jakarta:Prenada Media Group, 2009Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah Dan Pendaftarannya, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.___________, Sertifikat Hak Atas Tanah, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.Amiruddin dan H.Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008Boedi Harsono, Hukum Agraria, Indonesia, Jakarta: Djambatan, 2008.____________, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2005Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Surabaya: Apollo, 1997H. Juniarto Ridwan dan Achmad Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara Dan Kebijakan Pelayanan Publik, Bandung: Nuansa, 2010Habib Adjie, Meneropong Khasanah Notaris dan PPAT Indonesia (Kumpulan Tulisan tentang Notaris dan PPAT), Bandung: Citra Aditya Bakti, 2009.___________, Hukum Notaris Indonesia, Surabaya: Refika Aditama, 2007___________, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Surabaya: Refika Aditama, 2007___________, Merajut Pemikiran dalam Dunia Notaris & PPAT, Bandung:Citra Aditya Bakti, 2011Husni Thamrin, Pembuatan Akta Pertanahan Oleh Notaris, Yogyakarta: Laksbang, 2011Indroharto, Usaha memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: Pustaka Harapan, 1993Jazim Hamidi, Revolusi Hukum Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press,2006Jazim Hamidi, Hermeneutika Hukum, Teori penemuan Hukum Baru dengan Interpretasi Teks, Yogyakarta: UII Press, 2005 Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 39
    • Jimly Asshiddiqie, Komentar Atas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta: Sinar Grafika, 2009_____________, Perihal Undang-Undang, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010Lumban Tobing G.H.S, Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta: Erlangga, 1983Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-Undangan, Jenis, Fungsi, dan Materi Muatannya, Yogyakarta: Kanisius, 2007Mhd. Yamin Lubis dan Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Medan: Mandar Maju, 2008Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1976Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara (Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria), Yogyakarta: Citra Media Hukum, 2007Muhammad Siddiq Tgk.Armia, Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum, Jakarta: Pradnya Paramita, 2008Ossip K. Flechtheim (ed.), Fundamentels of Political Science, New York, Ronald Press Co, 1952Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2010Philipus M Hadjon dkk., Pengantar Hukum Administrasi Negara (introduction to the Indonesian Administrtive Law), Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005Poerwadarminta WJS, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1987Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1981Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006Sri Soemantri M, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Bandung: Alumni, 1992Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1993Suko Wiyono, Otonomi Daerah Dalam Negara Hukum Indonesia, Jakarta: Faza Media, 2006Supriadi, Etika & Tanggung Jawab Profesi Hukum Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2006Supriadi, Hukum Agraria, Jakarta: Sinar Grafika, 2008Tim Penyusun Kamus-Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, Jakarta: Kencana, 2010Van Wijk/Willem Konijnenbelt HD, Hoofdstukken van Administratief Recht, Culemborg, Uitgeverij LEMMA BV, 1988Wawan Setiawan, Kedudukan Dan Keberadaan Serta Fungsi Dan Peranan Pejabat Pembuat Akta Tanah Menurut Sistem Hukum Di Indonesia, Makalah Refreshing Up Grading Course INI, Jakarta, 1999Yan Pramadya Puspa, Kamus Hukum Edisi Langkap Bahasa Belanda, Indonesia, Inggris, Semarang: Aneka Ilmu, 1977Yudhi Setiawan, Hukum Pertanahan Teori dan Praktik, Malang: Bayumedia, 2010Jurnal dan MakalahIbrahim,R, Status Hukum Internasional Dan Perjanjian Internasional Dalam Hukum Nasional : Permasalahan Teoritik dan Praktek, Makalah Disajikan Dalam Lokakarya Evaluas iUU. No. 24 Tahun 2000Tentang Perjanjian Internasional, Diskusi Terbatas: Posisi Perjanjian Internasional Di Dalam Sistem Hukum Tata Negara, Kerjasama Departemen Luar Negeri Republik Indonesiadan Universitas Airlangga, Surabaya, 18 Oktober 2008Philipus M. Hadjon, Eksistensi dan Fungsi Pejabat Pembuat akta Tanah (PPAT) serta Figur Hukum Akta PPAT, Makalah Ceramah Fakultas UNAIR tanggal 22 Pebruari 1996InternetHabib Adjie, “Beda Karakter Yuridis Antara Notaris Dan PPAT”, NOTARISPPATINDONESIA@googlegroups.com, 10/04/2010.Maferdy Yulius, “Pejabat Pembuat Akta Tanah Di Persimpangan Jalan”, maferdyyulius@wordpress.com, 10/04/2010Yance Arizona, Kepastian Hukum, http://groups.yahoo.com., 5 Agustus 2010.Raimond Flora Lamandasa, Penegakan Hukum, http://www.scribd.com., 5 Agustus 2010 Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 40
    • Peraturan Perundang-UndanganUndang-Undang Dasar 1945 dengan Amandemen Ketiga, yang disahkan pada tanggal 10 Nopember 2001Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan TanahPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.Peraturan Menagria/KBPN Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 41
    • PERAN PENGURUS YAYASAN DALAM PENERAPAN PRINSIP TRANSPARANSI PADA YAYASAN PENDIDIKAN DI DENPASAR (Studi Di Yayasan Pendidikan Dwijendra Dan Perguruan Rakyat Saraswati Denpasar) Cokorda Istri Jayanthi Pemayun Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - ABSTRACT The education sector is one sector that get serious attention from the government, because theeducation sector has a crucial role in improving human resources. Communities can participate in theorganization, quality control, and preparation of educational funds. Organizers of formal education establishedby the public can form a foundation, association or corporation another kind which generally people willchoose a foundation. That is because in addition to founding easy terms, the foundation since 2001 has beenlegally recognized as a legal entity. Before 2001, there are none of legislation that specifically regulates the Foundation in Indonesia.These institutions alive and growing by the standards of living in the society, than that in 2001 was born thelaws governing the Foundation is No. 16 of 2001. Therefore there are some deficiencies in the Law Foundation,then within three years later issued the change of the Act namely Law Number 28 Year 2004 regardingAmendment to Law Number 16 Year 2001. The Law Foundation is included provisions regarding the basicprinciples of Good Corporate Governance, namely the principles of transparency and accountability principles. Researchers focused on the kind of empirical legal research; which examined the effectiveness of law,in this case the researchers wanted to know the factors that may affect the law to function in society, one factoris public awareness. In this case the researchers wanted to know the organ of consciousness as the foundationtrustee who has an important role in the application of the principles of transparency and accountabilityprinciples of the foundation in education foundations in Denpasar with a study conducted by researchers at theFoundation Center Dwijendra Denpasar and Education Foundation of the People Saraswati Denpasar. ReasonFoundation researchers examined at Denpasar Central Dwijendra; and Education Foundation of the PeopleSaraswati Denpasar is because both the education foundation has been established since before theFoundations Law enacted. The results showed that the implementation of the principles of transparency and accountabilityprinciples listed in the Law Foundation is not optimal foundation run by the organ, in this case by the trustee asthe organ that runs the full stewardship of the foundation. Management of the Foundation is organ foundationwhich holds an important role in the management of the business activities of the foundation. This can be seenfrom the obligations and authority of the board that manages the finances gained and generated from thebusiness activities of the foundation. Board is also associated with both parties in a business activity outside thefoundation and the foundation of business activity. In principle in the law foundation asserted that the foundation must be open and be managedprofessionally. It is realized in the form of the announcement of the foundations annual summary report on theFoundation office bulletin boards, and in daily newspapers; Indonesian language. Openness DwijendraFoundation and Yayasan Saraswati PR is still said to be not optimal because it does not have bulletin boardsand have not been announced in the newspapers Indonesian language which announces an overview of thefoundations annual report and activities already undertaken by the foundation.Keywords: transparency, accountability PENDAHULUAN keluar pada Tahun 2001 yaitu Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 dan telah direvisi dengan Undang-I. Latar Belakang Masalah Undang Nomor 28 tahun 2004 tentang Perubahan Keberadaan yayasan pendidikan di Indonesia Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentangtelah ada sejak sebelum kemerdekaan berlangsung. Yayasan (untuk selanjutnya disebut UU Yayasan).Undang-undang yang mengatur tentang Yayasan baru Setelah dikeluarkannya UU Yayasan, maka secara Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 42
    • otomatis penentuan status badan hukum yayasan yayasan dalam merealisasikan prinsip transparansiharus mengikuti ketentuan yang ada di dalam UU sesuai dengan UU Yayasan.Yayasan tersebut. Adapun dikeluarkannya UU Berdasarkan latar belakang masalah ini,Yayasan selain supaya yayasan mendapatkan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenaistatusnya sebagai badan hukum, juga untuk pelaksanaan peran pengurus yayasan khususnyamenciptakan good corporate governance (GCG) yang yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, dalamlebih baik di dalam pengelolaan yayasan, sehingga menerapkan salah satu prinsip GCG yakni prinsiptercipta keseragaman dalam penerapan UU Yayasan. transparansi, pada pengelolaan kegiatan yayasan.Salah satu prinsip dasar GCG yang penting adalahprinsip transparansi, yang mana prinsip tersebut sudah II. Rumusan Masalahtercermin di dalam UU Yayasan. Adanya kewajiban Sehubungan dengan latar belakangpengurus yayasan untuk membuat laporan tahunan permasalahan di atas, maka dapat dirumuskanyang kemudian mengumumkan ikhtisar laporan masalah sebagai berikut:tahunan tersebut pada papan pengumuman yayasan, 1. Bagaimana peran pengurus yayasan dalamdan adanya pemeriksaan oleh akuntan publik yang pengelolaan kegiatan usaha pendidikan ?mana hasil pemeriksaan tersebut diberikan kepada 2. Apakah dalam pengelolaan kegiatan usahaDepartemen Hukum dan HAM. Diberlakukannya pendidikan yayasan tersebut sudah diterapkanprinsip transparansi di dalam UU Yayasan yang baru prinsip transparansi ?dikeluarkan pada Tahun 2001, dirasakan cukup beratuntuk diterapkan di dalam pengelolaan yayasan. Hal III. Tujuan Penelitiantersebut dikarenakan bagi yayasan yang sudah Adapun tujuan dari penelitian ini dapatberjalan lebih dari 50 tahun lamanya, sudah didiskualifikasikan atas tujuan yang bersifat umummempunyai sistem manajemen tersendiri dan dan tujuan yang bersifat khusus, yakni:semenjak diberlakukannya UU Yayasan maka secara 1. Tujuan Umumkeseluruhan sistem pun berubah dan tidak semua yang Secara umum, penelitian ini bertujuanterdapat di dalam UU Yayasan dapat untuk mengembangkan ilmu hukum khususnya didiimplementasikan. dalam bidang Hukum Kenotariatan melalui Seperti halnya yayasan-yayasan di Bali yang pemahaman terhadap maksud, tujuan, dantelah berdiri lebih dari 50 tahun, yang mana yayasan- kegiatan yang dilakukan oleh organ yayasan.yayasan tersebut adalah Yayasan Dwijendra dan 2. Tujuan KhususYayasan Perguruan Rakyat Saraswati. Selama 51 Sedangkan tujuan khusus daritahun berdirinya Yayasan Dwijendra dan Perguruan penelitian ini adalah untuk mengetahuiRakyat Saraswati ini, organ yayasan hanya terdiri dari efektivitas dan tanggung jawab organ yayasan diKetua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan dalam menjalankan kepengurusan dalamPembantu saja. Sejak disahkannya UU Yayasan, maka kaitannya dengan prinsip transparansi.organ yayasan pada Tahun 2004 berubah menjadiPembina, Pengurus, dan Pengawas, yang mana IV. Manfaat Penelitianmasing – masing organ mempunyai Ketua dan 1. Manfaat TeoritisAnggota. Di antara ketiga organ yayasan tersebut, Penelitian yang dilakukan diharapkanpengurus yayasan mempunyai organ yang paling akan dapat memberikan masukan ataulengkap yakni Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan sumbangan pemikiran guna pengembangan ilmuBendahara, hal tersebut dikarenakan yang mengurus hukum, khususnya Badan Hukum dan Hukumkegiatan sehari – hari yayasan adalah pengurus. Yayasan di Indonesia.Sedangkan Pembina dan Pengawas hanya satu 2. Manfaat Praktisminggu sekali datang ke yayasan untuk memantau dan a. Bagi akademisi, dengan hasil penelitian inimengawasi jalannya kegiatan yayasan. Akan tetapi di dapat dijadikan informasi ilmiah gunadalam menerapkan prinsip-prinsip GCG, pengurus melakukan pengkajian lebih lanjut danyayasan-yayasan tersebut tidak transparansi mendalam mengenai salah satu badan hukummemberikan perincian laporan keuangan kepada yakni yayasan yang bertujuan sebagai tempatmasyarakat seperti yang tertuang di dalam UU untuk melakukan kegiatan amal di bidangYayasan, yang mana yayasan harus mengumumkan sosial, kemanusiaan, dan keagamaan.dalam papan kantor yayasan dan dalam surat kabar b. Bagi para pekerja yang bekerja sebagai organberbahasa Indonesia karena yayasan yang yayasan baik pembina, pengawas, danmemperoleh bantuan negara, dan atau pihak lain pengurus, serta masyarakat umum, dengansebesar kurang lebih Rp.1.500.000.000,00 (satu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberisetengah miliar rupiah). Selain hal tersebut, di dalam tambahan pengetahuan mengenai organkantor yayasan pun tidak terdapat papan pengumuman yayasan sehingga dapat diketahui mengenaimengenai setiap kegiatan dan laporan keuangan kewenangan, hak, dan kewajiban dari organseperti tercantum di dalam UU Yayasan, yang mana yayasan sesuai dengan UU Yayasan sertahal ini menunjukkan belum optimalnya pengurus Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 43
    • penerapan prinsip transparansi di dalam keputusan, dan penyampaian informasi kepengurusan yayasan. mengenai segala aspek terutama yang berkaitan dengan kepentingan publik secaraV. Kajian Pustaka benar dan tepat waktu. Yayasan adalah badan hukum yang terdiri 2. Akuntabilitas (Accountability), yaituatas harta kekayaan yang dipisahkan, maksudnya kejelasan pembagian tugas, wewenang, danyaitu yayasan sebagai badan hukum memiliki tanggung jawab masing – masing organ yangkekayaan yang dipisahkan dari kekayaan diangkat setelah melalui fit dan proper test,pengurusnya, dengan kata lain yayasan memiliki harta sehingga pengelolaan dapat dilaksanakankekayaan sendiri. Harta kekayaan itu digunakan untuk secara efektif dan efisien.kepentingan tujuan yayasan. Pengertian yayasan di 3. Pertanggungjawaban (Responsbility), yaituIndonesia menurut UU Yayasan adalah badan hukum perwujudan kewajiban organ untukyang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan melaporkan kesesuaian pengelolaan dengandiperuntukkan mencapa tujuan tertentu di bidang peraturan perundang – undangan yangsosial, kemanusiaan, dan keagamaan yang tidak berlaku, dan keberhasilan maupunmempunyai anggota. Dari pengertian tersebut, maka kegagalannya dalam pencapaian visi, misi,dapat dipastikan bahwa yayasan merupakan suatu dan tujuan, dan sasaran yang ditetapkan.badan hukum yang dianggap dapat melakukan 4. Kemandirian (Independency), yaitu suatutindakan hukum dan mempunyai akibat hukum, keadaan, dikelola secara profesional tanpawalaupun secara kenyataannya yang bertindak adalah benturan kepentingan dan pengaruh atauorgan yayasan baik pembina, pengawas, maupun tekanan dari pihak manapun, terutamapengurus. Yang mana peran utama pengorganisasian pemberi sumbangan yang paling besar, yangyayasan berada di tangan pengurus sebagai pelaksana bertentangan dengan peraturan perundang –hariannya. undangan yang berlaku dan prinsip – prinsip korporasi yang baik.VI. Kerangka Teori 5. Kewajaran (Fairness), yaitu keadilan dan Di dalam membahas permasalahan penelitian kesetaraan dalam memenuhi hak – hak yangini, peneliti menggunakan beberapa teori dan asas timbul berdasarkan perjanjian dan peraturansebagai pisau analisa. Adapun teori - teori dan asas perundang – undangan yang berlaku.yang dimaksud adalah: 1. Teori Organ VIII. Metode Penelitian Menurut Otto van Gierke, yang dimaksud dengan badan hukum adalah suatu VIII. 1. Jenis Penelitian badan yang membentuk kehendaknya melalui Metode penelitian diperlukan sebagai sarana alat-alat kelengkapannya yang berfungsi seperti untuk mencapai tujuan penelitian mengenai yayasan anggota badan tubuh manusia (organ). ini. Metode penelitian yuridis empiris dipergunakan 2. Teori Tanggung Jawab Hukum untuk menganalisa hukum bukan hanya sebagai suatu Di dalam teori ini yang dikemukakan perangkat aturan perundang-undangan yang bersifat oleh Hans Kelsen ini, yang dimaksud dengan normatif belaka, namun hukum juga dilihat sebagai pertanggungjawaban adalah bahwa seseorang perilaku masyarakat, yang selalu berinteraksi dan bertanggung jawab secara hukum atas suatu berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Peneliti perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul memfokuskan pada jenis penelitian yuridis empiris tanggung jawab hukum sesuai dengan jabatan yang meneliti mengenai efektivitas hukum, dalam hal atau kedudukannya. ini peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang dapat3. Teori Kenyataan Yuridis mempengaruhi hukum itu untuk berfungsi dalam Menurut E.M. Meijers, badan hukum masyarakat, salah satunya adalah faktor kesadaran itu merupakan suatu realitas, konkret, riil, masyarakat. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui walaupun tidak dapat diraba, bukan khayal, kesadaran pengurus yayasan sebagai organ yayasan tetapi suatu kenyataan yuridis. yang mempunyai peran penting di dalam penerapan4. Teori Kewenangan prinsip tata kelola yayasan pada yayasan pendidikan Teori kewenangan selalu digunakan di Denpasar dengan studi pada Yayasan Dwijendra dalam konsep hukum publik. Sebagai suatu Pusat Denpasar dan Yayasan Perguruan Rakyat konsep hukum publik, wewenang terdiri atas tiga Saraswati Denpasar. kategori kewenangan yaitu: atribut, mandat, dan VIII. 2. Sumber Data delegasi. 1. Data Primer atau data dasar (Primary Data) Selain teori, ada lima prinsip dasar Good yaitu data yang diperoleh secara langsung dariCorporate Governance yang disinggung dalam penelitian lapangan, melalui wawancarapenelitian ini yaitu: dengan pihak – pihak yang terlibat langsung 1. Transparansi (Transparency), yaitu dalam pelaksanaan kegiatan yayasan, keterbukaan terhadap proses pengambilan diantaranya Pengurus Yayasan sebagai Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 44
    • pengelola kegiatan yayasan, Kepala Sekolah peneliti secara acak), dengan teknik wawancara sebagai pelaksana kegiatan yayasan, dan staf bebas terpimpin, yang mana peneliti membawa DIKNAS yang mempunyai kewenangan untuk pedoman yang hanya merupakan garis besar mengawasi jalannya pendidikan. mengenai hal-hal yang akan ditanyakan kepada 2. Data Sekunder (Secondary Data) adalah data informan dan responden yang berhubungan yang diperoleh dari penelitian kepustakaan maupun tidak dengan penelitian ini namun masih dengan cara studi dokumen terhadap bahan- mempunyai relevansi. bahan hukum yang terdiri dari: b. Studi Kepustakaan a. Bahan hukum primer yaitu merupakan Data kepustakaan sebagai data bahan hukum yang bersifat autoritatif sekunder, diperoleh melalui pengkajian serta yang artinya mempunyai otoritas. Bahan penguraian bahan hukum primer yang terdiri dari hukum primer terdiri dari peraturan peraturan perundang-undangan dan bahan perundang-undangan yang mana dalam hukum sekunder yang terdiri dari buku-buku, penelitian ini peneliti menggunakan literature, makalah, hasil penelitian, artikel, dan Undang-undang Dasar Negara Republik karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan Indonesia Tahun 1945, Undang-undang penelitian ini. Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, VIII. 5. Teknik Analisis Data Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 Analisis data yang digunakan dalam tentang Perubahan UU Yayasan, dan PP peneiltian ini adalah deskriptif analitis, yang mana RI Nomor 63 Tahun 2008 tentang data yang telah dikumpulkan baik dari penelitian Pelaksanaan UU Yayasan. lapangan maupun penelitian kepustakaan, dianalisis b. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari dengan pendekatan kualitatif dan disajikan secara buku-buku, literature yang terkait dengan deskriptif sesuai hasil penelitian kepustakaan dan hukum perdata, hukum perusahaan, analisis lapangan untuk dapat memperoleh yayasan, hukum administrasi, good kesimpulan yang tepat dan logis sesuai dengan corporate governance, metode penelitian permasalahan yang dikaji. hukum, makalah, hasil penelitian, artikel, VIII. 6. Definisi Operasional Variabel Penelitian dan karya ilmiah lainnya yang Penulis memberikan definisi konseptual berhubungan dengan penelitian ini. terkait pada fokus kajian yang dimaksud dalam c. Bahan hukum tersier yang memberikan penelitian ini yakni: petunjuk atau penjelasan terhadap bahan Peran pengurus yayasan yang dimaksud hukum prime dan bahan hukum sekunder dalam penelitian ini adalah tugas dan kewajiban seperi kamus dan ensiklopedia. pengurus yayasan sebagai organ di dalam yayasanVIII. 3. Lokasi Penelitian yang melaksanakan kepengurusan yayasan secara Penelitian ini dilaksanakan di Yayasan langsung dan penuh.Dwijendra Pusat Denpasar yang beralamat di Jalan Prinsip transparansi adalah keterbukaanKamboja Nomor 17, Denpasar dan di Yayasan terhadap proses pengambilan keputusan, danPerguruan Rakyat Saraswati Pusat Denpasar yang penyampaian informasi mengenai segala aspekberalamat di Jalan Kamboja Nomor 10, Denpasar. terutama yang berkaitan dengan kepentingan publikPenyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan yang secara benar dan tepat waktu.menjadi tujuan didirikannya Yayasan Dwijendra dan Yayasan pendidikan adalah badan hukumYayasan PR Saraswati selama lebih dari 50 tahun, yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan danyang mana yayasan membangun sekolah untuk diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu dimencapai tujuannya. Seiring perkembangan jaman, bidang sosial, yang mana dalam hal ini untukyang pada awalnya yayasan-yayasan tersebut hanya mencapai tujuan tersebut yayasan mendirikan sekolah.dapat mendirikan satu jenjang pendidikan yaknisekolah menengah pertama dan sekolah dasar, IX. Sistematika Penelitiansekarang sudah mendirikan sekolah dengan jenjangpendidikan yang lengkap mulai dari Taman Kanak- BAB I PENDAHULUANkanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, 1.1. Latar Belakang MasalahSekolah Menengah Akhir, Sekolah Menengah 1.2. Rumusan MasalahKejuruan, dan Perguruan Tinggi. 1.3. Tujuan PenelitianVIII. 4. Teknik Pengumpulan Data 1.4. Manfaat Penelitian a. Studi Lapangan 1.5. Kajian Pustaka Data lapangan yang diperlukan sebagai 1.6. Kerangka Teori penunjang data primer diperoleh melalui 1.7. Desain Penelitian informasi dan pendapat-pendapat dari responden 1.8. Metode Penelitian yang ditentukan secara purposive sampling 1.9. Sistematika Penelitian (ditentukan peneliti berdasarkan kemauannya BAB II KAJIAN PUSTAKA dan/atau random sampling (ditentukan oleh 2.1. Kajian Umum tentang Badan Hukum Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 45
    • 2.2.Kajian Umum tentang Badan Hukum Bangsawan, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan, Yayasan notaris di Gianyar. Susunan pengurus yayasan tidak 2.3. Kajian Umum tentang Organ Yayasan berubah, akan tetapi pembina dan pengawas yayasan 2.4. Kajian Umum tentang Good Corporate yang mengalami perubahan anggota. Dapat dikatakan Governance Akta Pendirian tahun 2008 tersebut merupakan AktaBAB III HASIL PENELITIAN DAN Pendirian yang sudah sesuai dengan UU Yayasan PEMBAHASAN Pasal 14 ayat 2. Adanya pengurus yayasan yang3.1. Gambaran Umum Tentang Yayasan Pendidikan dengan penuh melaksanakan tugas dan kewajibannya, Dwijendra membuat kinerja Yayasan Dwijendra menjadi3.2. Gambaran Umum Tentang Yayasan Perguruan seimbang antara kegiatan di bidang sosial (dalam hal Rakyat Saraswati ini pendidikan) dan kegiatan di bidang keagamaan.3.3. Analisis Prinsip Pengelolaan Yayasan 3.3.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra 2. Gambaran Umum Tentang Yayasan Perguruan 3.3.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Rakyat Saraswati Denpasar3.4. Analisis Peran Pengurus Dalam Pengelolaan Yayasan Perguruan Rakyat SaraswatiYayasan (Yayasan PR Saraswati) didirikan pada tanggal 28 3.4.1.Yayasan Pendidikan Dwijendra Maret Tahun 1961 setelah Sekolah Dasar Saraswati 3.4.2.Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati didirikan terlebih dahulu pada bulan Desember Tahun3.5. Tanggung Jawab Pengurus Dalam Pengelolaan 1946 oleh I Gusti Putu Mertha. Tujuan awalYayasan didirikannya Yayasan PR Saraswati adalah untuk3.6. Analisis Kewajiban dan Kewenangan Pengurus memajukan dan mendidik anak-anak Bali. Yayasan Pendidikan Dikarenakan pengaturan dokumen yang kurang bagus, 3.6.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra maka penulis hanya mendapatkan Akta Pendirian 3.6.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati pertama dan terakhir saja dari Yayasan PR Saraswati.3.7. Analisis Penerapan Prinsip Transparansi Pada Sama halnya dengan Yayasan Dwijendra, Yayasan Yayasan Pendidikan di Denpasar Saraswati pun mengubah struktur yayasannya sesuai 3.7.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra dengan UU Yayasan yakni dengan dibentuknya organ 3.7.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati yayasan yang terdiri dari Pembina, Pengurus dan3.8. Analisis Pelaksanaan Pemeriksaan Terhadap Pengawas. Perkembangan Yayasan PR SaraswatiYayasan selama 10 tahun ini sangat pesat, terbukti dengan 3.8.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra didirikannya Fakultas Kedokteran Gigi pertama di 3.8.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati Bali yang hingga kini mencetak dokter-dokter gigiBAB IV PENUTUP muda yang berprestasi, mendirikan Sekolah Tinggi4.1. Simpulan Ilmu Bahasa Asing pertama di Bali, dan mendirikan4.2. Saran Dental Clinic (rumah sakit khusus gigi) pertama di Bali. Yayasan PR Saraswati juga mempunyai lebih HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN dari 2 Sekolah Dasar yang tersebar di Denpasar.1. Gambaran Umum Tentang Yayasan Pendidikan 3. Analisis Prinsip Pengelolaan YayasanDwijendra Pusat Denpasar Undang-undang Yayasan pada prinsipnya Yayasan Dwijendra pertama kali dicetuskan menghendaki yayasan bersifat terbuka danoleh I Gusti Bagus Sugriwa (alm), yang mana beliau pengelolaannya bersifat profesional. Masyarakat dapatmelihat fenomena ketimpangan dalam keseimbangan melihat bagaimana kehidupan yayasan di Indonesiatersebut sebagai pertanda dan sekaligus tantangan setelah berlakunya Undang-undang Yayasan.zaman. Kesamaan visi dan misi tersebut di atas Mengenai yayasan dikehendaki bersifat terbuka, dapatdiwujudkan dalam pembentukan Yayasan Dwijendra dilihat dari sejumlah aturan dalam Undang-undangpada tanggal 28 Januari 1953, yang mana dikukuhkan Yayasan (Undang-undang No. 16 Tahun 2001 jodengan Akta Pendirian di hadapan Ida Bagus Ketut Undang-undang No. 28 Tahun 2004), yaitu:Rurus, Notaris merangkap di Denpasar, pada tanggal a. Cara mencari dana7 Juli 1953. Dalam rentang waktu 50 tahun telah Sesuai ketentuan Pasal 3 Ayat (1) danterjadi perubahan Akta Pendirian sebanyak 3 kali, Pasal 7, yayasan dapat mencari dana dengan caraoleh karena semua pendiri dan sebagian pengurus yang telah ditetapkan, yaitu:yayasan telah meninggal dunia, maka pada tanggal 24 - mendirikan badan usahaNovember 2004 kembali dilakukan perubahan - ikut serta dalam suatu badan usahasusunan kepengurusan, yang mana disesuaikan b. Cara mengelola kekayaandengan ketentuan yang tercantum dalam UU Yayasan. Kekayaan yayasan yang berasal dariMasa jabatan organ yayasan pada periode pertama kegiatan usaha maupun dari sumbangan pihakberakhir di tahun 2008, yang mana perubahan tersebut ketiga, merupakan milik yayasan dan sesuaidikukuhkan dengan Akta Pendirian pada tanggal 23 dengan Pasal 3 Ayat (2) dan Pasal 5 Ayat (1) tidakSeptember 2008 dihadapan Putu Agus Indra Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 46
    • boleh dibagikan atau dialihkan kepada pembina, menindaklanjuti selanjutnya. Maka daripada itu dapat pengurus maupun pengawas yayasan. dikatakan bahwa Yayasan Dwijendra mengelolac. Akta pendirian diumumkan sebagian besar urusan yang berkaitan dengan sekolah- Setiap yayasan diharuskan mempunyai sekolah yang didirikannya. akta pendirian dan akta tersebut disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM, kemudian diumumkan 3.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati dalam Berita Negara RI (Pasal 24 Undang-undang Denpasar Yayasan). Yayasan PR Saraswati juga mempunyaid. Pengisian personel organ yayasan maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan Setiap yayasan ditetapkan oleh Undang- Dwijendra yakni di bidang sosial, yang mana Yayasan undang Yayasan, wajib memiliki alat PR Saraswati juga mendirikan sekolah-sekolah untuk perlengkapan yang berupa pembina, pengurus, dan mencapai maksud dan tujuannya tersebut. Pada pengawas. Kemudian setiap alat perlengkapan, awalnya Yayasan PR Saraswati memberikan dapat memiliki lebih dari seorang anggota. kepercayaan sepenuhnya kepada setiap sekolah untuke. Mengumumkan laporan tahunan mengelola keuangannya sendiri termasuk untuk Setiap tahunnya pengurus yayasan seluruh pemasukan dan pengeluaran yang dilakukan mempunyai kewajiban untuk membuat laporan oleh sekolah, namun telah terjadi penyimpangan tahunan yang berisi dua hal, yaitu laporan keadaan penggunaan dana yang dilakukan oleh salah satu dan kegiatan yayasan dan laporan keuangan. sekolah yang didirikan oleh Yayasan PR Saraswati. Selain itu ikhtisar laporan tahunan diumumkan Atas dasar hal tersebut maka pengelolaan keuangan melalui penampilan pada papan pengumuman di sekolah sekarang sepenuhnya dikelola oleh yayasan. kantor yayasan. Khusus bagi yayasan yang Dana yang telah masuk disetorkan ke yayasan dan menerima bantuan dari negara, bantuan luar nantinya yayasan yang akan mengeluarkan dana untuk negeri, maupun pihak lain minimal operasional sarana dan prasarana sekolah, yayasan Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau pula yang mengeluarkan dana untuk gaji staf sekolah. mempunyai kekayaan di luar harta wakaf minimal Apabila sekolah ingin mengadakan kegiatan, maka sebesar Rp.20.000.000.000,00 (dua puluh miliar harus mengajukan permohonan dana kepada yayasan rupiah), diwajibkan oleh Pasal 52 Ayat (2) untuk yang nantinya yayasan akan mengeluarkan dana untuk mengumumkan ikhtisar laporan tahunan melalui kegiatan skeolah tersebut. Akan tetapi berbeda dengan media massa/surat kabar harian berbahasa Yayasan Dwijendra yang mengelola sumber daya Indonesia. manusia untuk sekolah, Yayasan PR Saraswati hanya mengelola keuangan sekolah saja sedangkan untuk3.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra Pusat urusan sumber daya manusia diserahkan sepenuhnyaDenpasar kepada pihak sekolah. Apabila terjadi pengangkatan Yayasan Dwijendra mempunyai maksud dan dan pemberhentian staf sekolah, pihak sekolah hanyatujuan di bidang sosial yang mana untuk mencapai melaporkan saja ke yayasan, karena untukmaksud dan tujuannya tersebut, yayasan menjalankan mengangkat dan memberhentikan staf sepenuhnyakegiatan-kegiatan di bidang pendidikan dengan diberikan kepada pihak sekolah bukan yayasan.mendirikan sekolah-sekolah seperti Taman Bermain,Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah 4. Analisis Peran Pengurus Dalam PengelolaanMenengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, YayasanPerguruan Tinggi, dan Pendidikan Luar Sekolah. Yayasan sebagai sebuah badan hukum dapatYayasan Dwijendra mengelola tidak hanya kekayaan dibebani hak dan kewajiban, harus memiliki alatyang didapat dari sekolah-sekolah yang didirikannya, perlengkapannya sehingga mampu mengurus dirinyanamun juga mengelola sumber daya manusia yang sebagaimana manusia pada umumnya. Alatmenjalankan sekolah-sekolah tersebut. Sekolah perlengkapan yayasan telah ditentukan dalammemberikan setoran kekayaan yang diperoleh dari Undang-undang Yayasan yaitu pembina, pengurussumbangan orang tua murid kepada yayasan, yang dan pengawas. Salah satu organ yang paling pentingmana yayasan yang mengelola keuangan tersebut baik dalam organ yayasan yaitu pengurus yayasan, yanguntuk keuangan yang telah masuk maupun keuangan mana pengurus bertugas yang menjalankan kegiatanyang akan keluar. Sekolah diberikan kewenangan kepengurusan dan mewakili yayasan selaku badanuntuk mengelola keuangan di bidang operasional hukum dalam bertindak menurut hukum sesuai padasesuai dengan yang dibutuhkan, itupun sekolah harus Pasal 31 Ayat (1) UU Yayasan. Dalam menjalankantetap melaporkan kepada yayasan mengenai biaya tugasnya tersebut, pengurus tidak harusyang telah dikeluarkan dan perincian operasional yang melakukannya sendiri, pengurus yayasan dapattelah dilakukan oleh sekolah. Mengenai sumber daya mengangkat dan memberhentikan pelaksana kegiatanmanusia, yayasan mempunyai wewenang untuk yayasan. Peran pengurus dalam pengelolaan kegiatanmengangkat dan memberhentikan staf sekolah. yayasan sangat penting, karena pengurus yangApabila sekolah memerlukan staf, maka pihak sekolah mengelola keuangan yang didapat dan dihasilkan darimelapor kepada yayasan dan yayasan yang akan kegiatan usaha yayasan. Pengurus pula yang Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 47
    • berhubungan, baik dengan pihak di dalam kegiatan mengolah keuangan yayasan, sehingga dapatusaha yayasan maupun pihak di luar kegiatan usaha terlaksananya kegiatan-kegiatan usaha yayasan. Tanpayayasan. Oleh karena itu maka setiap pengurus adanya pengurus, maka kegiatan-kegiatan usahamaupun pelaksana kegiatan yayasan dituntut untuk yayasan tidak dapat dijalankan.menjalankan tugas kepengurusan dengan itikad baik,dan penuh tanggung jawab, hanya untuk kepentingan 5. Tanggung Jawab Pengurus Dalamdan tujuan yayasan. Pengelolaan Yayasan Pengurus dalam menjalankan tugasnya wajib4.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra Pusat dilakukan dengan itikad baik. Kewajiban tersebutDenpasar dengan tegas diatur dalam Pasal 35 Ayat (2) Undang- Pada yayasan yang bergerak di bidang Undang Yayasan yang menyebutkan bahwa setiappendidikan, pengurus yayasan tidak hanya mengurus anggota pengurus menjalankan tugas dan itikad baik,kepengurusan yayasan, namun juga mengurus unit- dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan danunit sekolah yang didirikan oleh yayasan. Seperti tujuan yayasan. Selain di dalam menjalankanhalnya di Yayasan Dwijendra yang mana pengurus tugasnya, harus benar-benar memperhatikan anggaranyayasan mempunyai tanggung jawab penuh atas dasar yayasan, serta sebagai pengurus harus dapatseluruh kepengurusan yayasan untuk kepentingan membuat kebijaksanaan yang dapatyayasan dan untuk kepentingan sekolah, baik dalam dipertanggungjawabkan kepada yayasan. Sebagaihal administrasi dan sumber daya manusia. Setiap konsekuensi dari tugas dan tanggung jawab tersebut,unit-unit sekolah, melaporkan keadaan operasional maka apabila pengurus menjalankan tugasnya tidakdan anggaran yang diperlukan apabila unit sekolah sesuai dengan ketentuan anggaran dasar daningin mengadakan kegiatan di luar program kerjanya. mengakibatkan kerugian yayasan atau pihak ketiga,Unit sekolah berada langsung dibawah pengurus Pasal 35 Ayat (5) Undang-Undang Yayasan memberisehingga unit sekolah melapor hanya kepada pengurus sanksi, bahwa setiap pengurus bertanggung jawabyayasan saja yang mana nantinya pengurus yayasan secara pribadi. Di dalam UU Yayasan punyang akan melanjutkan laporan tersebut kepada mewajibkan pengurus yayasan untuk membuatpembina dan pengawas yayasan untuk ditindaklanjuti. laporan tahunan yayasan yang memuat mengenaiTidak hanya administrasi saja yang menjadi urusan keadaan keuangan yayasan dalam tahun buku danpengurus Yayasan Dwijendra, akan tetapi dalam hal mengumumkan ikhtisar laporan tahunan yayasanmengangkat dan memberhentikan staf sekolah pun tersebut ke dalam surat kabar harian berbahasamenjadi wewenang pengurus yayasan juga. Selain hal Indonesia dan pada papan pengumuman kantortersebut, pengurus Yayasan Dwijendra juga wajib yayasan.untuk menyusun program kerja dan rancangananggaran tahunan yayasan untuk disahkan oleh 6. Analisis Kewajiban dan Kewenanganpembina. Pengurus Yayasan Pendidikan Yayasan merupakan badan hukum yang tidak4.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati lepas dari hak dan kewajiban, seperti diungkapkanDenpasar oleh E.M. Meijers, yang mana badan hukum itu Peran pengurus Yayasan PR Saraswati dalam merupakan suatu realitas, konkret, riil, walaupun tidakpengelolaan keuangan yayasan sangat penting, karena dapat diraba, bukan khayal, tetapi suatu kenyataansama halnya dengan pengurus Yayasan Dwijendra, yuridis. Meijers menyebutkan teori tersebut adalahpengurus Yayasan PR Saraswati pun mengelola teori kenyataan yang sederhana (eevoudige realitetit),sebagian besar keuangan yang diperoleh dari sekolah. disebut sederhana karena menekankan bahwaPemberian honor dan pemberian dana untuk hendaknya dalam mempersamakan badan hukumpenyelenggaraan kegiatan sekolah pun dilakukan oleh dengan manusia itu terbatas sampai pada bidangpengurus yayasan yang nantinya untuk hukum saja. Jadi menurut teori kenyataan yuridis,pelaksanaannya dilakukan oleh staf sekolah. badan hukum adalah wujud yang riil, seperti halnyaWalaupun peran pengurus Yayasan PR Saraswati dengan manusia mempunyai hak dan kewajiban.tidak jauh berbeda dengan pengurus Yayasan Pengurus ialah organ Yayasan yangDwijendra, namun pengurus Yayasan PR Saraswati melaksanakan kepengurusan Yayasan Pendidikantidak turut campur dalam urusan pengangkatan dan yang mempunyai hak dan kewajiban. Dalampemberhentian staf unit sekolah. Hal tersebut menjadi menjalankan tugasnya tersebut, Pengurus tidak haruskewenangan dari masing-masing unit sekolah, melakukannya sendiri, Pengurus Yayasan dapatpengurus yayasan hanya diberikan laporan serta mengangkat dan memberhentikan pelaksana kegiatanalasan pengangkatan dan pemberhentian yang Yayasan. Pengurus Yayasan diangkat oleh Pembinadilakukan oleh unit sekolah. Tidak dapat dipungkiri berdasarkan keputusan rapat Pembina untuk jangkabahwa peran pengurus yayasan sangat penting di waktu selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkatdalam pengelolaan kegiatan usaha yayasan. Hal kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. Susunantersebut dikarenakan pengurus yayasan yang Pengurus sekurang-kurangnya terdiri atas: Seorangmempunyai kewenangan untuk mengatur dan ketua; Seorang sekretaris; dan Seorang bendahara. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 48
    • Apabila Pengurus, selama menjalankan tugas aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporanmelakukan tindakan yang oleh Pembina dinilai keuangan.merugikan Yayasan, maka berdasarkan keputusanrapat Pembina, Pengurus tersebut dapat diberhentikan 7. Analisis Penerapan Prinsip Transparansi Padasebelum masa kepengurusannya berakhir. Ketentuan Yayasan Pendidikanmengenai susunan dan tata cara pengangkatan, Undang-undang Yayasan menghendakipemberhentian, dan penggantian Pengurus diatur sebuah yayasan yang bersifat terbuka seperti halnyadalam Anggaran Dasar. Atas setiap penggantian yang terjadi pada badan hukum perdata lainnya.Pengurus Yayasan, Pembina wajib menyampaikan Khusus untuk yayasan sosial yang mendirikan sekolahpemberitahuan secara tertulis kepada Menteri Hukum untuk mencapai tujuannya, bentukdan Hak Asasi Manusia dan kepada instansi terkait. pertanggungjawaban dari pihak unit sekolah kepada6.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra Pusat yayasan adalah berupa laporan yang disusun dalam Denpasar Anggaran Pengeluaran dan Belanja Sekolah (APBS). Seperti halnya pada Yayasan Dwijendra, yang Yang mana APBS tersebut disetujui setelah diajukanmana seluruh dana yang disetorkan dari masing- kepada pengurus yayasan dan pengurus mengadakanmasing unit sekolah diserahkan kepada pengurus rapat untuk memutuskan seberapa banyak dana yangyayasan untuk kemudian dikelola dan digunakan akan dikeluarkan sesuai dengan APBS yang telahuntuk kepentingan unit sekolah maupun untuk diajukan oleh pihak unit sekolah. Prinsip transparansikepentingan yayasan. Apabila dari pihak unit sekolah sangat jelas terlihat dalam pasal 52 Undang-undangingin melakukan kegiatan, maka pihak unit sekolah Yayasan yakni ihktisar laporan tahunan yayasanmenyusun proposal pengajuan dana beserta tujuan diumumkan pada papan pengumuman di Kantorpenggunaan dana tersebut kepada pengurus yayasan, Yayasan, dan ikhtisar laporan tahunan tersebut wajibdalam hal ini kepada bendahara yayasan yang diumumkan dalam surat kabar harian berbahasamengurusi segala urusan keuangan yayasan. Pada Indonesia bagi yayasan yang memperoleh bantuanYayasan Dwijendra, pengurus yayasan hanya Negara, bantuan luar negeri, atau pihak lain sebesarmengetahui, mengesahkan dan mengeluarkan dana lima ratus juta rupiah atau lebih. Yayasanuntuk membantu sarana dan prasarana yang mendapatkan modal terutama dari sumbangandibutuhkan oleh pihak unit sekolah, tidak turut masyarakat luas, baik langsung maupun melaluicampur dalam operasional masing-masing unit bantuan Pemerintah. Dengan mengumumkan baiksekolah, seperti yang diungkapkan oleh Drs Ida Bagus melalui papan pengumuman di kantor yayasanGede Wiyasa selaku Ketua Yayasan Dwijendra Pusat maupun melalui surat kabar, maka pihak ketiga yangDenpasar (wawancara pada tanggal 22 November telah menyumbang dan masyarakat luas yang turut2010). membaca ikhtisar laporan tahunan tersebut dapat mengetahui bahwa yayasan telah menjalankan6.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati kegiatannya sesuai dengan tujuan pendiriannya dan Denpasar tidak melakukan penyimpangan-penyimpangan Sama halnya dengan Yayasan PR Saraswati, ataupun penyalahgunaan yang dilakukan oleh parayang mana pengurus yayasan menyediakan dana pengurus yayasan. Secara tidak langsung masyarakatuntuk sarana dan prasarana unit sekolah dan diharapkan untuk turut serta di dalam pengawasanoperasionalnya, akan tetapi tidak turut campur dalam yayasan.pendidikan pada masing-masing unit sekolah, sepertiyang dikatakan oleh I Gusti Gede Anom selaku Ketua 7.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra PusatYayasan PR Saraswati (wawancara pada tanggal 25 DenpasarMaret 2011). Walaupun pengurus yayasan Seperti yang telah diuraikan diatas, bentukmempunyai kewenangan untuk mengikat yayasan penerapan prinsip transparansi yang diinginkan dalamdengan pihak ketiga sesuai dengan Anggaran UU Yayasan adalah berupa pengumuman ikhtisarDasarnya, akan tetapi dalam Anggaran Dasar laporan tahunan pada surat kabar berbahasa Indonesiapengurus juga dibatasi kewenangannya dalam hal dan pada papan pengumuman kantor yayasan, yangpeminjaman uang guna dan atas tanggungan yayasan, mana hal tersebut juga dicantumkan dalam Anggaranmeminjam uang atas nama yayasan melampaui Dasar Yayasan Dwijendra. Namun pada kenyataannyajumlah yang ditetapkan oleh pembina (tidak termasuk Yayasan Dwijendra tidak mengumumkan di suratmengambil uang yayasan di Bank), memberi atau kabar harian berbahasa Indonesia mengenai ikhtisarmenerima pengalihan atas harta tetap. Pengurus wajib laporan keuangan yayasan selama tahun buku, danmenyusun secara tertulis laporan tahunan paling bahkan di dalam kantor yayasan tidak terdapat papanlambat lima bulan setelah berakhirnya tahun buku pengumuman sebagaimana yang ditulis dalamyayasan, yang mana laporan tahunan tersebut memuat Anggaran Dasar dan UU Yayasan. Walaupunsekurang-kurangnya mengenai keadaan dan kegiatan penerapan prinsip transparansi yang tercantum dalamyayasan selama tahun buku yang lalu serta hasil yang UU Yayasan belum secara optimal dilaksanakan olehtelah dicapai, dan laporan keuangan yang terdiri dari pengurus yayasan, namun pengurus yayasan telahlaporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan menerbitkan buku mengenai Yayasan Dwijendra yang Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 49
    • mana di dalamnya terdapat rekapitulasi penggunaan terhadap yayasan dilakukan dengan tujuan untukdana selama tiap tahun ajaran. Buku tersebut mendapatkan kebenaran melalui data atau keterangandirangkum sedemikian rupa dan diberikan secara dalam hal terdapat dugaan penyimpangan yangcuma-cuma kepada orang tua murid atau wali murid dilakukan oleh organ yayasan baik pembina,yang anaknya bersekolah di Dwijendra. Oleh pengawas maupaun pengurus yayasan. Pihak ketigapengurus yayasan, hal ini dipandang lebih efektif dapat mengajukan permohonan pemeriksaan terhadapdibanding dengan dicantumkannya ikhtisar laporan yayasan kepada pengadilan negeri setempat dalamkeuangan yayasan dalam papan pengumuman di domisili hukum yayasan tersebut. Pihak ketiga di luarkantor yayasan. Penerbitan buku mengenai Yayasan yayasan yang dapat mengajukan permohonan untukDwijendra tidaklah sesuai dengan bentuk penerapan pemeriksaan terhadap yayasan tresebut adalahprinsip transparansi yang diinginkan dalam UU donatur, keluarga pendiri, dan lain-lain yangYayasan dan Anggaran Dasar Yayasan Dwijendra, berkepentingan; dan kejaksaan yang mewakiliapalagi yang diberikan hanya kepada orang tua murid kepentingan umum yang mana kejaksaan merupakansaja sehingga masyarakat selain orang tua murid tetap pihak ketiga yang berhak untuk mengajukantidak mengetahui keadaan keuangan yayasan tersebut. permohonan pemeriksaan terhadap yayasan apabilaMaka daripada itu dapat dikatakan peran pengurus perbuatan pelanggaran yang dilakukan oleh organbelum optimal dalam penerapan prinsip transparansi. yayasan diduga merugikan Negara. Selain pihak ketiga, yayasan juga mempunyai pengawas internal7.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswati yang mempunyai tugas dan wewenang untuk Denpasar melakukan pengawasan dan memberi nasehat kepada Berbeda dengan Yayasan Dwijendra yang pengurus dalam menjalankan kegiatan yayasan.telah menerbitkan buku yang di dalamnya terdapatrekapitulasi keuangan yayasan, Yayasan PR Saraswati 8.1. Yayasan Pendidikan Dwijendra Pusatbahkan tidak melakukan tindakan apapun dalam Denpasarmenerapkan prinsip transparansi baik yang sesuai Yayasan Dwijendra mempunyai badandengan UU Yayasan maupun Anggaran Dasar pengawas yang terdiri dari seorang Ketua dan seorangyayasan. Selama periode kepengurusan pada tahun Anggota. Dalam Anggaran Dasarnya, dicantumkan2008 hingga sekarang, tidak ada tindakan dari pengawas berwenang untuk memasuki bangunan,pengurus yayasan untuk melaporkan keuangan halaman, atau tempat lain yang dipergunakanyayasan kepada orang tua murid maupun diumumkan yayasan; memeriksa dokumen; memeriksadalam surat kabar harian berbahasa Indonesia. Hal pembukuan dan mencocokkannya dengan uang kas;tersebut dirasa tidak penting bagi pengurus yayasan mengetahui segala tindakan yang telah dijalankankarena menurut Ketua Yayasan, orang tua murid tidak oleh pengurus; dan memberi peringatan kepadaberhak untuk mengetahui keadaan keuangan yayasan. pengurus. Pengawas di Yayasan Dwijendra tidakMenurut teori tanggungjawab hukum yang hanya mengawasi kegiatan dan keuangan dalamdikemukakan oleh Hans Kelsen, bahwa seseorang yayasan, namun mengawasi juga sekolah-sekolah.bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan Dalam hal mengawasi sekolah-sekolah, pengawastertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab mempunyai wewenang untuk mengawasi sarana danhukum sesuai dengan jabatan atau kedudukannya, prasarana, sumber daya manusia, dan kegiatan-dalam hal ini Ketua Yayasan selaku jabatan tertinggi kegiatan sekolah yang dilakukan di luar jam sekolah.dalam susunan Pengurus, seharusnya mempunyai Pengawas Yayasan Dwijendra ada 2 orang yang manatanggungjawab untuk mengumumkan kepada pembagian tugas pun menjadi seimbang yakni Ketuamasyarakat mengenai ikhtisar laporan keuangan pengawas bertugas mengawasi keuangan yayasan danyayasan selama tahun buku. Baik diumumkan pada kegiatan-kegiatan sekolah di luar jam sekolah,papan pengumuman kantor yayasan maupun pada sedangkan anggota pengawas bertugas mengawasisurat kabar harian berbahasa Indonesia. sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia. Apabila ada masalah, maka pengawas melapor8. Analisis Pelaksanaan Pemeriksaan Terhadap langsung kepada Pembina yayasan untuk nantinya Yayasan masalah tersebut ditindaklanjuti oleh Pembina. Ketidakterbukaan yayasan terhadap pihakketiga dapat menimbulkan dugaan adanya 8.2. Yayasan Perguruan Rakyat Saraswatipenyimpangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Denpasarpengurus yayasan. Maka di dalam Pasal 53 Undang- Lain halnya dengan Yayasan Dwijendra yangundang Yayasan dicantumkan bahwa yayasan dapat mempunyai 2 orang pengawas, pengawas Yayasan PRdiperiksa apabila terdapat dugaan bahwa organ Saraswati hanya seorang saja, sehingga pengawasyayasan melakukan perbuatan melawan hukum atau yayasan hanya mengawasi keuangan yayasan sajabertentangan dengan Anggaran Dasar; lalai dalam tidak mengawasi kegiatan sekolah. Segala kegiatanmelaksanakan tugasnya; melakukan perbuatan yang dan keuangan sekolah diawasi hanya oleh pengurusmerugikan yayasan atau pihak ketiga; dan melakukan yayasan saja, pengawas yayasan tidak mempunyaiperbuatan yang merugikan Negara. Pemeriksaan wewenang untuk mengawasi kegiatan sekolah. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 50
    • Pengawas yayasan PR Saraswati hanya berwenang PR Saraswati masih dikatakan belum optimaluntuk memeriksa dokumen yayasan, memeriksa karena belum mempunyai papan pengumumanpembukuan yayasan setiap bulannya, mengetahui dan belum mengumumkan dalam surat kabarsegala tindakan yang telah dijalankan oleh pengurus. harian berbahasa Indonesia yang manaPengawas juga berwenang untuk memberhentikan mengumumkan ikhtisar laporan tahunan yayasanpengurus apabila tindakan pengurus bertentangan beserta kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukandengan Anggaran Dasar. Tidak berbeda dengan oleh yayasan.Yayasan Dwijendra, hasil laporan dari pemeriksaanpengawas juga dilaporkan kepada Pembina. 2 Saran Dari simpulan di atas, maka penulis dapat PENUTUP menyarankan: a. Pengurus yayasan hendaknya lebih optimal1 Simpulan dalam merealisasikan prinsip transparansi Dari penjelasan, pembahasan dan analisa seperti yang tercantum di dalam Undang-undangyang penulis paparkan di atas, dapatlah ditarik Yayasan dan Anggaran Dasar, yang mana tidaksimpulan dalam tulisan ini sebagai berikut : cukup hanya dengan menerbitkan buku yang di a. Pengurus yayasan adalah organ yayasan yang dalamnya terdapat rekapitulasi penggunaan dana memegang peran penting dalam pengelolaan saja, akan tetapi juga sebaiknya mencantumkan kegiatan usaha yayasan pendidikan dalam hal ini ikhtisar laporan tersebut pada papan pengelolaan kegiatan usaha sekolah. Pada pengumuman di kantor yayasan dan surat kabar Yayasan Dwijendra dan Yayasan PR Saraswati harian berbahasa Indonesia. hal tersebut dapat dilihat dari kewajiban dan b. Pengawas yayasan sebaiknya tidak hanya kewenangan pengurus yang mengelola keuangan mengawasi keberadaan dan mengontrol yang didapat dan dihasilkan dari sekolah- keuangan yayasan saja, akan tetapi sekolah. memperhatikan pula kesesuaian pelaksanaan b. Pada prinsipnya dalam undang-undang yayasan kegiatan yayasan dengan Anggaran Dasar dan ditegaskan bahwa yayasan haruslah bersifat Undang-undang Yayasan sehingga yayasan terbuka dan pengelolaannya bersifat profesional. tersebut dapat berjalan secara optimal. Hal tersebut direalisasikan dalam bentuk Lebih disosialisasikannya Undang-undang Yayasan pengumuman ikhtisar laporan tahunan yayasan kepada masyarakat sehingga masyarakat mengetahui pada papan pengumuman kantor yayasan dan visi, misi serta hak dan kewajiban dari sebuah yayasan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia. beserta organ-organnya. Keterbukaan Yayasan Dwijendra dan Yayasan DAFTAR PUSTAKABUKU DAN HASIL PENELITIANAdi Rido, R., Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf, Bandung: Alumni, 2004.Alijoyo, Antonius, dan Subarti Zaini, Komisaris Independen, Penggerak Praktik GCG di Perusahaan, Jakarta: PT. Indeks Kelompok GRAMEDIA, 2004.Bahari, Adib, Prosedur Pendirian Yayasan, Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010.Balfas, Hamud M., Hukum Pasar Modal Indonesia, Jakarta: PT. Tatanusa, 2006.Borahima, Anwar, Kedudukan Yayasan di Indonesia, Jakarta: Kencana, 2010.Chatamarrasjid Ais, Tujuan Sosial Yayasan dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001._______________, Badan Hukum Yayasan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006.Darmabrata, Wahyono, “Implementasi Good Corporate Governance dalam Menyikapi Bantuk-Bentuk Penyimpanan Fiduciary Duty Direksi dan Komisaris Perseroan Terbatas”, jurnal hukum bisnis, Vol 22, No. 6, Tahun 2003.Faudy, Munir, Perlindungan pemegang Saham Minoritas, Bandung: CV Utomo, 2005.Ibrahim, Johanes, Hukum Organisasi Perusahaan, Jakarta: Revika Aditama, 2006.Kansil, C.S.T, dkk, Hukum Perusahaan Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 2001._______________, Pokok-pokok Badan Hukum, Jakarta: Sinar Harapan, 2002.Nur Rahmah, "Peran Notaris Dalam Pendirian Yayasan Oleh Orang Asing", Tesis Program Magister Kenotariatan Universitas Indonesia, 2009.Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 51
    • M. Hadjon, Philipus, dkk, Argumentasi Hukum, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005.Nasution, S, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Jakarta: Bumi Aksara, 2001.Pramono, Nindya, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006.Rejeki Hartono, Sri., Permasalahan Seputar Hukum Bisnis: Persembahan Kepada Sang Maha Guru, Jogjakarta: Tanpa Penerbit, 2006.Rita M. — L, J Law Firm, Resiko Hukum Bagi Pembina, Pengawas, dan Pengurus Yayasan, Jakarta: Forum Sahabat, 2009.Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi, Yogyakarta: LaksBang Pressindo, 2008.Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986.Supramono, Gatot, Hukum Yayasan di Indonesia, Jakarta: Rhineka Cipta, 2008.Surya. Indra dan Ivan Yustiavandana, Penerapan Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak-Hak istimewa Demi Kelangsungan Usaha, Jakarta: Kencana, 2006.Sidharta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Jakarta: Gramedia Widiarsana, 2006.Suharto, Membedah Konflik Yayasan, Yogyakarta: Cakrawala Media, 2009.Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.MEDIA INTERNETRM, "Kasus Yayasan Supersemar Dijanjikan Kelar Oktober", Status Dokumen: 21 Agusrus 2010, http://www.rakyatmerdeka.co.idAnonymous, “Pelanggaran Pilpres I KPK Tidak Selidiki Aliran Dana ke Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian”, Status Dokumen: 29 Desember 2009, http:www.bataviase.co.id.Anonymous, “Bayi-bayi Dijual oleh Yayasan”, status Dokumen: 27 Oktober 2000. http//majalah.tempointeraktif.com.PERATURAN PERUNDANG-UNDANGANRepublik Indonesia. Undang-undang Dasar Tahun 1945.Republik Indonesia. Undang-undang tentang Yayasan. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001. Lembaran Negara (LN) Nomor 112 Tahun 2001. Tambahan Lembaran Negara (TLN) 4132.Republik Indonesia. Undang-undang tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004. Lembaran Negara (LN) Nomor 115 Tahun 2004. Tambahan Lembaran Negara (TLN) 4430.Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Yayasan. PeraturanPemerintah Nomor 63 Tahun 2008. Lembaran Negara (LN) Nomor 134 Tahun 2008. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 52
    • EKSISTENSI AKTA PENGAKUAN HUTANG DALAM PEMBERIAN KREDIT BANK A.A. Ngr. Andy Priatna Panjiningrat, S.H. Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - ABSTRACT A.A. Ngr. Andy Priatna P., S.H., The student of Program Magister of Notary Cooperation BetweenFaculty of Law of Brawijaya University, Malang with Faculty of Law of Udayana University 2010/2011.Existence of Debt Affirmation Deed in the bank Lending, Advisor Dr. Sihabudin, S.H., M.H., and NgakanKetut Dunia, S.H., M.H. The banking institutions have important role and strategic it not only run the national economy, butdirected in order to able to support the implementation of national development. As financial institutions, thebanks have core business in the form to collect funds from society and then re-distribute it to the society whoneed the funds in the form of credit or finance based on Shari’ah Principles. Funds from the public is the mostimportant source of funds for banks in carrying out their activities. Therefore, the Bank should becareful indistribute these funds, in order not to harm the fund owners. However, disbursement of funds in the form ofloans to customer there are risk or not return the debt. Based on this, the Indonesian Banking in conducting it’sbusiness basis on economic democracy by using the precautionary principles, hence at any given of creditfacilities by lender institutions (The Bank) has always made an agreement that is generally called as the “CreditAgreement”, that followed by the issuance of the Deed of debt affirmation and grosse of the Deed of debtaffirmation. But there is no specific legislation that regulates the Deed of Debt Affirmation. Procces of writing focused on the kind of empirical juridical research that researches about existenceof the Deed of Debt Affirmation in distribute of the bank credit. In this case the researches want to know thepolicy of each bank in issue of the Deed of debt affirmation in distribute credit. The reason of researches toresearch in the PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) tbk. and PT. Bank Mandiri (Persero) tbk. were becausedthe two banks are the largest banks in Indonesia which they have distributed a lot of credit. The result of result shows that the existence of the Deed of debt affirmation in distribute of bank creditwere no difference, that in the PT. Bank Rakyat indonesia (Persero) tbk. recognition the Deed of DebtAffirmation in particular scheme credit, while in the PT. bank Mandiri (Persero) tbk. had never recognition aDeed of debt affirmation. The research in the Notary publik, that according to Mrs. Evi Susanti Panjaitan, S.H.,feature of grosse the Deed of Debt Affirmation there are 3 (three) of kind are unilateral, only made by partydebt who has debit; accessoire, grosse of the Deed of debt affirmation always following principal agreement;and not separate. That according to Mr. I Nyoman Mustika, S.H., executorial power of grosse the Deed of DebtAffirmation equal as the Court’s decision which has permanent legal force (inkracht).Keywords : Bank, Credit, Deed of Debt Affirmation. Kesepakatan mengenai hutang-piutang tidak BAB I hanya cukup dituangkan di dalam perjanjian tertulis PENDAHULUAN (perjanjian kredit), tetapi perlu dituangkan dalam sebuah Akta Pengakuan Hutang notariil. Akta1.1. Latar Belakang Masalah Pengakuan Hutang merupakan perjanjian sepihak, di Kredit perbankan merupakan salah satu usaha dalamnya hanya dapat memuat suatu kewajiban untukbank konvensional yang telah banyak dimanfaatkan membayar hutang sejumlah uang tertentu/pasti.oleh anggota masyarakat yang memerlukan dana. Setelah minuta Akta Pengakuan Hutang dibuat,Penyaluran dana dalam bentuk kredit kepada nasabah maka Notaris menerbitkan salinan dari suatu Aktaterdapat risiko tidak kembalinya dana atau kredit yang Pengakuan Hutang Notariil yang diberikan kepadadisalurkan tersebut, sehingga terdapat adagium yang yang berkepentingan dalam bentuk grosse aktaberbunyi “Bisnis perbankan adalah bisnis risiko”. apabila akta yang bersangkutan berisikan kekuatan Berdasarkan pertimbangan risiko inilah, maka eksekutorial.bank-bank selalu harus melakukan analisis yang Sehubungan dengan latar belakang di atas, makamendalam terhadap setiap permohonan kredit yang dapat dirumuskan untuk mengangkat permasalahanditerimanya, sehingga bank dituntut kemampuan dan tersebut ke dalam suatu karya tulis dengan judul:efektifitasnya dalam mengelola risiko kredit dan “EKSISTENSI AKTA PENGAKUAN HUTANGmeminimalkan potensi kerugian dengan DALAM PEMBERIAN KREDIT BANK”.memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat, diantaranya bank tidak diperkenankan memberikankredit tanpa surat perjanjian tertulis. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 53
    • 1.2. Rumusan Masalah secara wajar. Di samping itu, hukum juga berfungsi Berdasarkan latar belakang masalah yang telah sebagai instrumen perlindungan bagi subjek hukum.diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa Menurut Sudikno Mertokusumo, hukum berfungsimasalah sebagai berikut: sebagai perlindungan kepentingan manusia. 1. Apakah dalam penyaluran kredit perbankan Philipus M Hadjon membedakan perlindungan selalu diterbitkan Akta Pengakuan Hutang ? hukum bagi rakyat dalam 2 (dua) macam, yaitu : 2. Bagaimanakah kekuatan eksekutorial dari 1. Sarana perlindungan hukum preventif Grosse Akta Pengakuan Hutang sebagai Perlindungan hukum preventif bertujuan untuk perlindungan hukum kreditur apabila debitur mencegah terjadinya sengketa. wanprestasi ? 2. Sarana perlindungan hukum represif Sarana perlindungan hukum yang represif1.3. Tujuan Penelitian bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. 1.3.1. Tujuan Umum Berkaitan dengan kredit macet, maka teori Tujuan penelitian secara umum adalah tanggung jawab yang diterapkan adalah prinsip bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault serta dapat memberikan dampak pemikiran liability atau liability based on fault). Prinsip konseptual tentang Akta Pengakuan Hutang tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault dalam pemberian kredit oleh lembaga liability atau liability based on fault) adalah prinsip perbankan. yang cukup umum berlaku dalam hukum perdata. 1.3.2. Tujuan Khusus Prinsip ini menyatakan, seseorang dapat dimintakan Tujuan penelitian secara khusus adalah pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur untuk mengetahui eksistensi akta pengakuan kesalahan yang dilakukannya. hutang dalam pemberian kredit perbankan dan Prinsip yang demikian mendapat dasar yang kuat kekuatan eksekutorial dari grosse akta pada pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum pengakuan hutang tersebut apabila debitur Perdata, yang secara tegas memuat unsur ”kesalahan” wanprestasi terhadap kreditur. sebagai syarat tuntutan ganti rugi. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang lazim dikenal1.4. Manfaat Penelitian sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum, 1.4.1. Manfaat Teoritis mengharuskan terpenuhinya 4 (empat) unsur pokok, Penelitian yang dilakukan diharapkan akan yaitu : adanya perbuatan, adanya unsur kesalahan, dapat memberikan masukan atau sumbangan adanya kerugian yang diderita, dan adanya hubungan pemikiran guna pengembangan ilmu hukum, kausalitas antara kesalahan dan kerugian khususnya Hukum Perbankan, Hukum Perikatan, Menurut Rutten yang dimaksud dengan Hukum Jaminan, dan Ilmu Kenotariatan. perjanjian adalah perbuatan hukum yang terjadi sesuai 1.4.2. Manfaat Praktis dengan formalitas-formalitas dari peraturan hukum 1. Bagi akademisi, dengan hasil penelitian ini yang ada, tergantung dari persesuaian pernyataan dapat dijadikan informasi ilmiah guna kehendak dua atau lebih orang-orang yang ditujukan melakukan pengkajian lebih lanjut dan untuk timbulnya akibat hukum demi kepentingan mendalam tentang eksistensi akta pengakuan salah satu pihak atas beban pihak lain atau demi hutang. kepentingan dan atas beban masing-masing pihak 2. Bagi para pekerja di bidang perbankan, secara timbal balik. praktisi dan masyarakat umum, dengan hasil Di dalam hukum perjanjian dikenal 3 (tiga) asas, penelitian ini diharapkan dapat memberi yaitu : tambahan pengetahuan mengenai hukum 1. Asas Konsensualisme (Pasal 1320 ayat 1 perbankan, hukum perikatan, hukum jaminan KUHPer) dan ilmu kenotariatan. 2. Asas Kepastian Hukum atau Pacta Sunt 3. Bagi pemerintah, dengan hasil penelitian ini Servanda (Pasal 1338 KUHPer) diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan 3. Asas Kebebasan Berkontrak dalam mengambil langkah-langkah kebijaksanaan mengenai Akta Pengakuan 1.6. Hipotesis Hutang. 1. Dalam penyaluran kredit perbankan selalu diterbitkan Akta Pengakuan Hutang, karena1.5. Landasan Teoritis perjanjian kredit tidak dapat dibuat dalam bentuk Terhadap penulisan tesis ini digunakan teori pengakuan hutang. Hal tersebut untuk dapatperlindungan hukum, teori tanggung jawab, dan asas- melaksanakan pemenuhan hak kreditur olehasas hukum kontrak. Hukum diciptakan sebagai suatu debitur apabila debitur wanprestasi, yaitu dengansarana atau instrumen untuk mengatur hak-hak dan cara melalui eksekusi benda jaminankewajiban-kewajiban subjek hukum agar masing- berdasarkan grosse akta pengakuan hutang.masing subjek hukum dapat menjalankan 2. Grosse Akta Pengakuan Hutang yang dibuat dikewajibannya dengan baik dan mendapatkan haknya depan dan oleh Notaris mempunyai kekuatan Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 54
    • hukum yang pasti dan dapat dipergunakan pihak Syarat obyektif adalah syarat yang berkaitan kreditur untuk menagih piutangnya manakala dengan obyek perjanjian. Syarat ini apabila pihak debitur lalai membayar hutangnya. Grosse dilanggar maka kontraknya batal demi hukum, akta tersebut tidak perlu dibuktikan, sehingga adapun syarat obyektif meliputi : harus dianggap benar apa yang tercantum di a. Suatu hal (objek) tertentu. dalamnya, kecuali jika ada bukti lawan. Hal b. Sesuatu sebab yang halal (kausa). tersebut dimungkinkan karena di dalam grosse 2.1.3. Jaminan Kredit akta pengakuan hutang itu tercantum hutang bisa Pada umumnya jenis-jenis jaminan kredit ditagih dan oleh notaris dibuat dengan kepala terdiri dari: “DEMI KEADILAN BERDASARKAN 1. Jaminan yang lahir karena undang-Undang KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Perwujudan dari jaminan yang lahir dari undang-undang ini ialah pasal 1131 BAB II KUHPerdata yang menentukan bahwa segala TINJAUAN PUSTAKA kebendaan si berutang (debitur) baik benda bergerak atau benda tidak bergerak, baik2.1. Perjanjian Kredit yang sudah ada maupun yang akan ada di 2.1.1. Pengertian Perjanjian Kredit kemudian hari menjadi jaminan atas seluruh Pemberian kredit perbankan pada umumnya hutangnya berpedoman pada prinsip yang sangat penting, 2. Jaminan yang lahir karena perjanjian yaitu Prinsip Syariah yang ditetapkan oleh Bank Jaminan yang lahir karena perjanjian ialah Indonesia, yang wajib dimiliki dan diterapkan oleh jaminan ada karena diperjanjikan terlebih bank dalam pemberian kredit dan pembiayaan dahulu antara kreditur dan debitur. Jaminan yang salah satunya menyebutkan bahwa ini menimbulkan jaminan khusus, yaitu pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan jaminan yang diberikan oleh debitur kepada Prinsip Syariah dibuat dalam bentuk perjanjian kreditur, hak-hak tagihan mana mempunyai tertulis. hak mendahului sehingga ia berkedudukan Adapun perjanjian tertulis dimaksud adalah sebagai kreditur previlege (hak preveren). perjanjian kredit antara kreditur dan debitur. Sutan Jaminan yang bersifat khusus dapat berupa: Remy Sjahdeini menyimpulkan bahwa perjanjian a. Jaminan yang bersifat kebendaan kredit memiliki pengertian secara khusus, yakni: (zakelijk) Perjanjian antara bank sebagai kreditur b. Jaminan yang bersifat perseorangan dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai (persoonlijk) penyediaan uang atau tagihan yang dapat 2.1.4. Prinsip-Prinsip dalam Pemberian Kredit dipersamakan dengan itu yang mewajibkan Pemberian kredit perbankan pada nasabah-nasabah debitur untuk melunasi umumnya berpedoman pada 2 (dua) prinsip yang hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan sangat penting, yaitu sebagai berikut: jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil 1. Prinsip kepercayaan yang harus dimiliki keuntungan. terhadap nasabah debiturnya bahwa kredit Pihak-pihak dalam perjanjian kredit antara yang diberikan akan sangat bermanfaat, dan lain: 1) Pemberi Kredit atau kreditur adalah bank yang lebih penting adalah kepercayaan atau lembaga pembiayaan lain selain bank terhadap kemampuan nasabah tersebut misalnya perusahaan leasing; 2) Penerima Kredit untuk membayar kembali utang kreditnya atau debitur, yaitu pihak yang bertindak sebagai berikut bunga dalam jangka waktu yang subyek hukum. telah ditentukan. 2. Prinsip kehati-hatian atau prudential 2.1.2. Syarat sahnya Perjanjian Kredit principle yang harus dimiliki oleh bank Menurut Pasal 1320 KUH Perdata, perjanjian dalam menjalankan usahanya harus adalah sah bila memenuhi syarat-syarat sebagai menerapkan secara konsisten seluruh berikut : persyaratan dan ketentuan peraturan 1. Syarat subyektif, perundang-undangan yang berlaku, Syarat subyektif adalah syarat yang terutama dalam hal ini pemberian kredit berkaitan dengan subyek perjanjian. Syarat yang berpedoman pada prinsip ini apabila dilanggar maka kontrak dapat kepercayaan, dengan berdasarkan pada dibatalkan, adapun syarat subyektif meliputi : itikad baik. a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya. 2.2. Akta Pengakuan Hutang b. Kecakapan untuk membuat perjanjian 2.2.1. Pengertian Akta Pengakuan Hutang (dewasa dan tidak sakit ingatan). Adapun untuk memberikan kepastian 2. Syarat obyektif hukum, maka setelah dibuat perjanjian kredit oleh para pihak, kemudian diikuti dengan Surat Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 55
    • Pengakuan Hutang. Surat Pengakuan Hutang menggunakan metode dan teknik penelitian lapangan, merupakan salah satu surat berharga yang yaitu mengadakan kunjungan dan berkomunikasi diterbitkan dalam praktek perbankan. Surat dengan orang atau badan yang bersangkutan. Pengakuan Hutang dibuat secara Notariil, sehinggga sering disebut dengan Akta 3.2. Sifat Penelitian Pengakuan Hutang. Sebagai penelitian hukum yuridis-empiris, Adapun yang dimaksud Akta Pengakuan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kasus Hutang adalah suatu akta yang berisi pengakuan (case approach) dan pendekatan konseptual hutang sepihak, dimana Debitur mengakui (conceptual approach). Pendekatan kasus (case bahwa dirinya mempunyai kewajiban membayar approach) dilakukan dengan menelaah Akta kepada Kreditur sejumlah uang dengan jumlah Pengakuan Hutang yang dibuat oleh kreditur dan yang pasti (tetap). debitur. Pendekatan konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandangan-pandangan dan 2.2.2. Grosse Akta Pengakuan Hutang doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu Menurut Pasal 1 Angka (11) Undang- hukum. Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang dimaksud dengan Grosse Akta 3.3. Data dan Sumber Data adalah salah satu salinan akta untuk pengakuan Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian utang dengan kepala akta “DEMI KEADILAN hukum yuridis empiris ini adalah meliputi: BERDASARKAN KETUHANAN YANG 3.3.1. Data Primer MAHA ESA”, yang mempunyai kekuatan Data primer adalah ‘data dasar’, ‘data asli’ eksekutorial. Oleh karena itu, yang dimaksud yang diperoleh peneliti dari tangan pertama, dari dengan Grosse Akta Pengakuan Hutang adalah sumber asalnya yang pertama yang belum salinan dari suatu Akta Pengakuan Hutang diubah dan diuraikan orang lain. Pada umumnya Notariil yang diberikan kepada yang ‘data primer’ mengandung ‘data aktual’ yang berkepentingan dan merupakan salinan dari didapat dari penelitian di lapangan, melalui suatu minuta, yang tetap ada pada pejabat yang berkomunikasi dengan anggota-anggota bersangkutan. masyarakat atau praktisi perbankan, dan Notaris Pada dasarnya grosse suatu akta merupakan di lokasi tempat penelitian dilakukan. suatu turunan atau salinan dari akta Notaris yang 3.3.2. Data Sekunder dibuat berdasarkan minuta yang disimpan oleh Data sekunder adalah data-data yang dan di kantor Notaris yang bersangkutan. diperoleh peneliti terdiri dari penelitian Perbedaannya ialah terletak pada adanya irah- kepustakaan dan dokumentasi, yang merupakan irah “Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan hasil penelitian dan pengolahan orang lain, yang Yang Maha Esa” pada kepala suatu grosse akta, sudah tersedia dalam bentuk buku-buku atau di mana irah-irah tersebut tidak terdapat pada dokumentasi yang biasanya disediakan di suatu turunan atau salinan. Pemberian atau perpustakaan, atau milik pribadi peneliti. pengeluaran suatu grosse akta diperlukan adanya Penelitian kepustakaan dilakukan terhadap suatu akta otentik, di mana akta otentik inilah peraturan perundang-undangan serta bahan- yang diberikan grosse-nya. Hal ini berarti akta- bahan bacaan terkait dengan pokok akta di bawah tangan tidak dapat dikeluarkan permasalahan. Dengan demikian, bahan hukum grosse-nya. Kemudian, Notaris yang dapat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: mengeluarkan / memberikan grosse suatu akta, Bahan Hukum Primer, Bahan Hukum Sekunder, hanya Notaris yang membuat akta otentik yang dan Bahan Hukum Tersier. bersangkutan, atau Notaris penggantinya, atau yang secara sah memegang minuta akta tersebut. 3.4. Lokasi Penelitian dan teknik Pengambilan Sampel BAB III 3.4.1. Lokasi Penelitian METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini Bank Umum dan Notaris yang dijadikan sampel adalah :3.1. Jenis Penelitian 1. PT. Bank PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Penelitian hukum ini termasuk penelitian hukum Commercial Bussines Centre Denpasar.yuridis-empiris, yaitu penelitian hukum yang objek 2. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbkkajiannya meliputi ketentuan dan mengenai Cabang Kuta.pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum 3. Notaris I Nyoman Mustika, S.H.,M.Hum.normatif (kodifikasi, Undang-Undang, atau kontrak) 4. Notaris Evi Susanti Panjaitan, S.H.secara in action pada setiap peristiwa hukum tertentuyang terjadi dalam masyarakat (in conreto). 3.4.2. Teknik Pengambilan Sampel Jadi penelitian dengan pendekatan masalah yang Teknik pengambilan sampel dalamempiris harus dilakukan di lapangan, dengan penelitian tesis ini adalah menggunakan non- Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 56
    • probability sample, yang mana pemilihan sampel BAB V PENUTUP dengan cara ini tidak menghiraukan prinsip- prinsip probability, pemilihan sampel tidak BAB IV secara random. Dasar pengambilan non HASIL DAN PEMBAHASAN probability sample ini menggunakan cara Purposive Sampling, yaitu pemilihan 4.1. Usaha Bank Umum sebagai Penyalur Kredit sekelompok subjek atas ciri-ciri atau sifat-sifat kepada Masyarakat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut Sebagai lembaga keuangan, bank mempunyai paut yang erat dengan cirri-ciri atau sifat-sifat usaha pokok berupa menghimpun dana dari populasi yang sudah diketahui sebelumnya. masyarakat untuk kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana dalam3.5. Teknik Pengumpulan Data bentuk kredit atau pembiayaan berdasarkan PrinsipUntuk mengumpulkan data dibagi menjadi 2 (dua), Syariah.yaitu : Dana yang dibutuhkan dalam pengelolaan bank 3.5.1. Studi lapangan tidak semata-mata hanya mengandalkan modal yang Studi lapangan yang bertujuan untuk dimiliki oleh bank saja, tetapi harus sedemikian rupa memperoleh penunjang bahan hukum primer dapat memobilisasi dan memotivasi masyarakat untuk dengan dengan cara wawancara. menyimpan dana yang dimiilikinya di bank. 3.5.2. Studi kepustakaan Berdasarkan hal tersebut, Perbankan Indonesia dalam Pada penelitian masalah hukum dengan melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi metode pendekatan yuridis-empiris, maka dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. penulis harus terlebih dahulu melakukan Penerapan prinsip kehati-hatian dalam memutuskan pengamatan dengan mempelajari dan pemberian fasilitas kredit, bank wajib menganalisis menguraikan data-data sekunder, seperti dan dengan menjunjung tinggi asas itikad baik atas perundang-undangan, buku literatur hukum kemampuan dan kesanggupan nasabah dalam atau bahan hukum tertulis lainnya. Penelitian mengembalikan kreditnya. kepustakaan ini dilakukan dengan Sehubungan dengan prinsip kehati-hatian, maka mengumpulkan dan mempelajari data yang setiap pemberian fasilitas kredit oleh lembaga terdapat di dalam buku-buku ilmu hukum pemberi kredit (Bank) selalu dibuat perjanjian yang yang memuat teori-teori dan pandangan secara umum disebut sebagai "Perjanjian Kredit". pendapat para ahli, atau dalam dokumentasi Sebagai kelanjutan dan pembuatan perjanjian kredit resmi dari pemerintah yang memuat tersebut, adakalanya Bank sebagai Kreditur akan peraturan perundang-undangan, akta-akta meminta kepada Debiturnya untuk menandatangani Notaris, laporan-laporan, surat-surat, artikel pula Surat Pengakuan Hutang. Surat Pengakuan pada media internet, dan lain-lain yang Hutang ini biasanya dibuat secara Notariil, karena berhubungan dengan masalah yang akan oleh Bank sebagai keditur akan dimintakan Grosse dikumpulkan data-datanya di lapangan. Aktanya pada Notaris yang bersangkutan, karena Notaris sebagai Pejabat Umum berdasarkan Pasal 13.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Dalam penulisan tesis ini, penulis menggunakan Notaris, berwenang untuk membuat akta-akta otentik,analisis kwalitatif, yang mana ditujukan terhadap hal itu bila oleh peraturan tidak ditugaskan padadata-data yang sifatnya berdasarkan kwalitas, mutu pejabat atau orang lain.dan sifat yang nyata berlaku dalam masyarakat.Analisis kwalitatif tidak mendasarkan penelitiannya 4.2. Eksistensi Akta Pengakuan Hutang dalampada pengumpulan data dari lokasi yang luas dengan Pemberian Kreditresponden yang banyak, dengan keterangan jawaban Guna kepentingan dan lebih memperkuat lagiyang banyak, tetapi ukurannya berdasarkan kenyataan kedudukan Bank dalam setiap pemberian kredit, makayang bersifat global (umum). Jadi walaupun lokasinya perlindungan hukum preventif yang dilakukan olehterbatas, jika data-data yang didapat itu merupakan pihak Bank selain membuat perjanjian kredit, Bankkenyataan yang berlaku, maka data-data tersebut juga membuat lagi suatu pengikatan, yaitusudah cukup membuktikan kebenaran. ”Pengakuan Hutang” dari Debitur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di PT.3.7. Sistematika penulisan Bank Mandiri (Persero) Tbk. Commercial Bussines Secara garis besar, dalam tulisan tesis ini Centre Denpasar pada tanggal 27 Juli 2011, menurutakan menyajikan materi sebagai berikut: penjelasan Bapak Didik Effendy, selaku Legal BAB I PENDAHULUAN Officer, bahwa dalam praktek penyaluran kredit PT. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bank Mandiri (Persero) Tbk. Commercial Bussines BAB III METODE PENELITIAN Centre tidak pernah menerbitkan Akta Pengakuan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN Hutang karena dianggap tidak memberikan kepastian PEMBAHASAN hukum dan tidak menjamin dibayarnya utang debitur Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 57
    • seketika. Menurut Bapak Didik, PT. Bank Mandiri 4.3. Kekuatan Eksekutorial Grosse Akta(Persero) Tbk. Commercial Bussines Centre dalam Pengakuan Hutangpenyaluran kreditnya, untuk memberikan kepastian Menyadari bahwa penagihan piutang atauhukum apabila debitur tidak dapat melunasi penyelesaian kredit melalui prosedur gugatanhutangnya kepada kreditur sesuai dengan waktu dan memerlukan waktu lama, maka pembentuk Undang-jumlah yang sudah diperjanjikan, maka PT. Bank Undang memberikan pengecualian dari prosedurMandiri (Persero) Tbk. Commercial Bussiness Centre penagihan piutang melalui gugatan. Dengan adanyaberhak untuk menuntut pelunasan hutang dengan cara pengecualian yang diciptakan pembentuk Undang-mengeksekusi barang jaminan yang dijaminkan oleh Undang tersebut, maka dalam menyelesaikan debiturdebitur. yang wanprestasi kreditur tidak perlu menempuh Adapun barang jaminan yang biasanya diagunkan melalui gugatan perdata debitur, tetapi dapat langsungke PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Commercial mengeksekusi jaminan kredit berdasarkan grosse AktaBussiness Centre adalah lembaga jaminan Hak Pengakuan Hutang.Tanggungan, Gadai, Hipotik, Fidusia dan Personal Berdasarkan irah-irah irah ”Demi keadilanGaransi/Coorporate Garansi, di mana lembaga Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, makajaminan ini memberikan keistimewaan kepada Grosse Akta Pengakuan Hutang dikatakan memilikikreditur untuk dapat melakukan eksekusi barang titel eksekutorial, yang merupakan salah satu ciri yangjaminan tanpa perlu mengajukan gugatan terlebih membedakan dengan suatu salinan biasa dari suatudahulu ke Pengadilan untuk membuktikan adanya akta otentik. Adapun yang dimaksud titel eksekutorialwanprestasi yang dilakukan oleh debitur. PT. Bank disini adalah titel yang membuat suatu aktaMandiri (Persero) Tbk. Commercial Bussiness Centre mempunyai kekuatan eksekusi yang sama dengandapat langssung mengajukan permohonan lelang putusan Pengadilan yang tetap.kepada Kantor Lelang setempat untuk menjual di Berdasarkan penelitian yang dilakukan padamuka umum barang jaminan tersebut atau menjual di tanggal 26 Juli 2011, di Kantor Notaris Evi Susantibawah tangan berdasarkan kesepakatan kedua belah Panjaitan, S.H., Notaris di Kabupaten Badung, bahwapihak agar dapat memperoleh keuntungan yang lebih sifat grosse Akta Pengakuan Hutang ada 3 (tiga)besar dari hasil penjualan. Oleh karena itu PT. Bank macam, yaitu sebagi berikut:Mandiri (Persero) Tbk. Commercial Bussiness Centre 1. Bersifat sepihakmenganggap tidak perlu lagi untuk membuat Akta 2. Bersifat accessoirePengakuan Hutang sebagai bentuk perlindungan 3. Bersifat tidak terpisahhukum preventif. Dipegangnya grosse Akta Pengakuan Hutang Berbeda dengan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. seorang kreditur bagaikan memperoleh jaminan akanCommercial Bussines Centre, berdasarkan penelitian pengembalian utangnya. Memang pada dasarnyayang dilakukan di PT. Bank Rakyat Indonesia grosse Akta Pengakuan Hutang tidak termasuk salah(Persero) Tbk. Cabang Kuta pada tanggal 25 Juli satu jaminan utang yang diatur oleh Undang-Undang,2011, menurut Bapak I Made Suardana selaku tetapi kreditur merasa keamanan utangnya terjamin.Supervisor Administrasi Kredit, bahwa PT. Bank Berdasarkan penelitian yang dilakukan padaRakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Kuta tanggal 28 Juli 2011, di Kantor Notaris, I Nyomanmenerbitkan Akta Pengakuan Hutang dalam praktek Mustika, SH.M.Hum., Notaris di Denpasar, bahwapencairan kreditnya. Namun, tidak semua pemberian ”crashts executorial”-nya suatu grosse akta belumkredit oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. cukup hanya dengan irah-irah ”Demi keadilanCabang Kuta selalu diterbitkan Akta Pengakuan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” tersebut,Hutang, tergantung dari jenis fasilitas kredit yang melainkan secara formal harus memenuhi minimal 3diberikan. Menurut Bapak Suardana, secara garis (tiga) syarat lain, yaitu:besar fasilitas kredit yang ada di PT. Bank Rakyat 1. Adanya kalimat ”Diberikan sebagai grosseIndonesia (Persero) Tbk. Cabang Kuta terdiri dari 2 pertama” pada bagian bawahnya;(dua) fasilitas kredit, yaitu : 2. Mencantumkan nama orang yang atas 1. Pemberian fasilitas kredit uang muka (fixed permintaannya grosse akta itu diberikan; loan) serta Bentuk perjanjian yang dibuat dalam rangka 3. Mencantumkan tanggal pemberian grosse pemberian fasilitas kredit uang muka (fixed akta tersebut. loan), yaitu : Menurut Bapak I Nyoman Mustika, SH.M.Hum., a. Surat / Akta Pengakuan Hutang Notaris di Denpasar, bahwa eksekusi grosse Akta b. Surat Persetujuan Pinjam Uang Pengakuan Hutang adalah melalui Pengadilan Negeri. 2. Pemberian fasilitas kredit dengan rekening Pengadilan Negeri yang memiliki kewenangan absolut Koran untuk mengeksekusi grosse Akta Pengakuan Hutang. Bentuk perjanjian yang dibuat dalam rangka Adapun tahap-tahap eksekusi grosse Akta Pengakuan pemberian fasilitas kredit rekening koran, yaitu Hutang, yaitu sebagai berikut : Surat Perjanjian Membuka Kredit/Akad 1. Kreditur mengajukan permohonan eksekusi Perjanjian Kredit (Notariil/di bawah tangan). Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 58
    • 2. Peneguran (aanmaning) terhadap termohon Hutang kepada Ketua Pengadilan Negeri eksekusi karena grosse akta tersebut mempunyai 3. Sita eksekusi kekuatan eksekutorial sama seperti putusan 4. Pelelangan barang sitaan Hakim. 5. Pembayaran utang 5.2. Saran-saran BAB V 1. Hendaknya bagi Bank Umum dalam PENUTUP penyaluran kredit kepada debitur, untuk kehati- hatian sebaiknya menerbitkan Akta Pengakuan5.1. Kesimpulan Hutang dan grosse Akta Pengakuan Hutang Berdasarkan pembahasan dan uraian di atas, agar dapat memberikan perlindungan hukummaka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : bagi Bank selaku kreditur apabila terjadi risiko kredit macet, terutama dalam penyaluran kredit 1. Bank dalam menyalurkan kredit tidak selalu dengan skim kredit besar. diterbitkan Akta Pengakuan Hutang tergantung 2. Hendaknya bagi para pembentuk Undang- dari jenis fasilitas kredit yang diberikan. Undang, dibuat ketentuan secara khusus 2. Kekuatan eksekutorial dari Grosse Akta mengenai Akta Pengakuan Hutang agar dapat Pengakuan Hutang sebagai perlindungan menjadi pedoman bagi pihak kreditur maupun hukum kreditur apabila debitur wanprestasi, debitur dalam penerbitan Akta Pengakuan bahwa apabila debitur wanprestasi, maka Hutang, sehingga tercapai tujuan dan maksud berdasarkan titel eksekutorial dapat langsung baik dari pihak kreditur maupun debitur. mengajukan eksekusi grosse Akta Pengakuan DAFTAR PUSTAKABUKU DAN HASIL PENELITIANAbdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, cetakan pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung.Amiruddin, dan Zainal Asikin, 2008, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.Budiono, Herlien, 2007, Kumpulan Tulisan Hukum perdata di Bidang Kenotariatan, cetakan pertama, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.Dhaniswara K. Harjono, 2006, Pemahaman Hukum Bisnis bagi Pengusaha, cetakan pertama, RajaGrafindo Persada, Jakarta.Dirjosisworo, Soedjono, 2003, Hukum Perusahaan mengenai Hukum Perbankan di Indonesia (Bank Umum), cetakan pertama, Mandar Maju, Bandung.H. Hilman Hadikusuma, 1995, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu Hukum, cetakan pertama, Mandar Maju, Bandung.Hadjon, Philipus M., 1987, Perlindungan Hukum bagi Rakyat di Indonesia: Sebuah Studi tentang Prinsip- Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi Negara, cetakan pertama, Bina Ilmu, Surabaya.Hermansyah, 2007, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, cetakan ketiga, Kencana, Jakarta.Herowati Poesoko, 2007, Parate Executie Objek Hak Tanggungan (Inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesesatan Penalaran dalam UUHT), cetakan pertama, LaksBang PRESSindo, Yogyakarta.H. R. Daeng Naja, 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansi, cetakan pertama, Citra Aditya, Bandung.H.R. Ridwan, 2008, Hukum Administri Negara, cetakan keempat, RajaGrafindo Persada, Jakarta.Ibrahim, Johanes, 2004, Bank sebagai Lembaga Intermediasi dalam Hukum Positif, cetakan pertama, Utomo, Bandung.J. Satrio, 2007, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, cetakan kelima, Citra Aditya Bakti, Bandung.M. Bahsan, 2007, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit, cetakan pertama, RajaGrafindo Persada, Jakarta.Mariam Darus Badrulzaman, 2005, Aneka Hukum Bisnis, cetakan kedua, PT. Alumni, Bandung.Meliala, Djaja S., 2007, Perkembangan HUkum Perdata tentang Benda dan HUkum Perikatan, cetakan pertama, CV. Nuansa Aulia, Bandung.Muhammad Djumhana, 2006, Hukum Perbankan di Indonesia, cetakan kelima, Citra Aditya Bakti, Bandung.Munir Fuady, 2002, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek Buku Kesatu, cetakan ketiga, Citra Aditya Bakti, Bandung.-------, 2003, Hukum Perbankan Modern: Buku Kesatu, cetakan kedua, Citra Aditya Bakti, Bandung.Patrik, Purwahid, 1994, Dasar-Dasar Hukum Perikatan (Perikatan yang Lahir dari Perjanjian dan dari Undang-Undang), cetakan pertama, Mandar Maju, Bandung.Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, cetakan keempat, Kencana, Jakarta.Pramono, Nindyo, 2006, Bunga Rampai Hukum Bisnis Aktual, cetakan pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 59
    • Sastrawidjaja, Man Suparman, 2003, Aspe-aspek Hukum Asuransi dan Surat Berharga, cetakan kedua, Alumni, Bandung.Shidarta, 2004, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, cetakan kedua, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.Simanjutak, Ricardo, 2006, Teknik Perancangan Kontrak Bisnis, Cetakan Pertama, PT. Gramedia, Jakarta.Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 2007, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, cetakan keempat, Liberty Offset, Yogyakarta.Subekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, cetakan ketujuhbelas, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.Supramono, Gatot, 2009, Perbankan dan Masalah Kredit Suatu Tinjauan di Bidang Yuridis, cetakan pertama, Rineka Cipta, Jakarta.Suriaatmadja, Toto Tohir, 2006, Masalah dan Aspek Hk dalam Pengangkutan Udara Nasional, cetakan pertama, Mandar Maju, Bandung, hlm. 14,Sutarno, 2005, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan pada Bank, cetakan ketiga, Alfabeta, Bandung.Tan Thong Kie, 2007, Studi Notariat & Serba-Serbi Praktek Notaris, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.Titik Triwulan Tutik, 2006, Pengantar Hukum Perdata di Indonesia, cetakan pertama, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta.Usman, Rachmadi, 2008, Hukum Jaminan Keperdataan, cetakan pertama, Sinar Grafika, Jakarta.Widjanarto, 2007, Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia, cetakan kedua, Pustaka utama Grafiti, Jakarta.Yasabari, Nasroen dan Nina Kurnia Dewi, 2007, Penjaminan Kredit Mengantar UKMK Mengakses Pembiayaan, cetakan pertama, Alumni, Bandung.MEDIA INTERNETIndra Jaya, “Pengetahuan dan Filsafat Pengetahuan”, www.unhas.ac.id/~rhiza/arsip/mystudents/debbie/knowlwdge.ppt, 05-08-2010.Indonesian Legal Banking, “Perjanjian kredit dan Pengakuan Hutang”,http://legalbanking.wordpress.com/materi-hukum/ perjanjian-kredit-dan-pengakuan-hutang/, 29- 01-2011.Sumarningsih, F. Eka, “Eksistensi Grosse Akta Pengakuan Hutang Dengan Berlakunya Undang-Undang Hak Tanggungan Di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Di Semarang”, http://eprints.undip.ac.id/12928/, 02- 09-2011.PERATURAN PERUNDANG-UNDANGANKitab Undang-Undang Hukum Perdata. 2004. Dihimpun oleh Soedharyo Soimin. Cetakan Kelima. Sinar Grafika. Jakarta.Indonesia. Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Lembaran Negara Nomor 182 Tahun 1998.Indonesia. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris. Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 117 Tahun 2004. Jurnal Ilmiah Prodi Magister Kenotariatan, 2011-2012 60
    • PETUNJUK PENULISAN JURNALJurnal Kertha Pertiwi adalah publikasi ilmiah dibidang Kenotariatan. Naskah yang diterima yaitu karya tulisyang merupakan hasil penelitian atau hasil pemikiran (konseptual) yang ada hubungannya dengan Kenotariatandan belum pernah dipublikasikan di media lain.Petunjuk Penulisan1. Penulis bertanggung jawab terhadap isi naskah. Korespondensi mengenai naskah dialamatkan kepada penulis dengan mencantumkan institusi, alamat institusi, dan e-mail salah satu penulis;2. Naskah akan dinilai dari 3 unsur, yang meliputi kebenaran isi, derajat orisinalitas, relevansi isi serta kesesuaian dengan misi jurnal;3. Naskah dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris;4. Judul Naskah harus ditulis secara ringkas, tetapi cukup informatif untuk menggambarkan isi tulisan;5. Naskah ditulis rapi dengan program Microsoft Word pada kertas berukuran A4 (satu sisi), dan setiap lembar tulisan diberi nomor halaman dengan jumlah halaman maksimal 20. Jarak spasi 1.5 kecuali abstrak dan daftar pustaka yang mempunyai jarak spasi 1. Model huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan font 12 kecuali judul berupa huruf kapital dengan dengan font 14. Margin masing-masing adalah 2.5 cm. naskah diserahkan dalam bentuk soft copy dan hard copy;6. Naskah yang ditulis dalam Bahasa Indonesia mencantumkan abstrak dalam Bahasa Inggris, dan sebaliknya dengan jumlah kata antara 150 sampai 200. Kata kunci harus dipilih untuk menggambarkan isi makalah dan paling sedikit 4 (empat) kata kunci;7. Sistematika artikel hasil penelitian : • Judul, • Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama lembaga/institusi, dan email, • Abstrak, • Kata kunci, • Pendahuluan (latar belakang dan dukungan kepustakaan yang diakhiri dengan tujuan penelitian), • Metode, • Hasil, • Pembahasan, • Simpulan dan saran, • Ucapan terima kasih (bila ada), • Daftar rujukan/daftar pustaka (hanya memuat sumber yang dirujuk), dan • Lampiran (bila ada)8. Sistematika artikel hasil pemikiran (artikel konseptual yang argumentatif-ilmiah, sistematis dan logis) meliputi : • Judul, • Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama lembaga/institusi, dan email, • Abstrak, • Kata kunci, • Pendahuluan (latar belakang dan dukungan kepustakaan yang diakhiri dengan tujuan atau ruang lingkup tulisan), • Bahasan utama, • Simpulan dan saran, • Ucapan terima kasih (bila ada), • Daftar rujukan/daftar pustaka (hanya memuat sumber yang dirujuk), dan • Lampiran (bila ada)9. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka mutakhir (terbitan 10 tahun terakhir) dan diutamakan dari sumber data primer berupa artikel-artikel penelitian dalam jurnal atau majalah ilmiah dan/atau laporan penelitian;
    • 10. Daftar rujukan (pustaka) disusun dengan tata cara seperti contoh berikut, dan diurutkan berdasarkan nama penulis secara alfabetis. a) Buku Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor. b) Buku kumpulan artikel Dahuri, R. dan Sulistiono. (eds.). 2004. Metode dan Teknik Analisa Biota Perairan. (edisi ke-2, cetakan ke-1). Lembaga Penelitian IPB, Bogor. c) Artikel dalam buku kumpulan artikel Huffman, G.J., R.F. Adler, D.T. Bolvin, and E.J. Nelkin. 2010. “The TRMM Multi-satellite Precipitation Analysis (TMPA)”. In M. Gebremichael and F. Hossain (Ed.). Satellite Rainfall Applications for Surface Hydrology (pp. 3-22). Springer Verlag, Netherlands. d) Artikel dalam jurnal atau majalah Haylock, M. and J.L. McBridge. 2003. “Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall”. Journal of Climate, 14. 3882-3887. e) Artikel dalam dokumen resmi KLH. 1997. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jakarta. f) Buku terjemahan Hempel, L.C. 1996. Pengelolaan Lingkungan: Tantangan Global. Terjemahan oleh Hardoyo dan Jacobs. 2005. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. g) Skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian Rastina, I.K. 2004. Studi Kualitas Air Sungai Ho Kabupaten Tabanan, Bali. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar. h) Makalah seminar, lokakarya, penataran Waseso, M.G. 2001. “Isi dan Format Jurnal Ilmiah”. Makalah disajikan dalam Seminar Lokakarya Penulisan Artikel dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah. Universitas Lambungmangkurat, Banjarmasin tanggal 9-11 Agustus 2001. i) Prosiding Franke, J. and D.D. Lichti. 2008. MillMapper – A Tool for Mill Liner Condition Monitoring and Mill Performance Optimization. Proceedings of the 40th Annual Meeting of the Canadian Mineral Processors. Ottawa-Canada, 22-24 January 2008. 391-400. j) Artikel dalam internet (bahan diskusi) USGS. 2010. Water Quality. http://ga.water.usgs.gov/edu/waterquality.html. diakses tanggal 15 Desember 2010. k) Artikel atau berita dalam koran Bagun, R. 31 Juli 2006. Identitas Budaya Terancam. KOMPAS, hlm 40. Nusa Bali, 31 Juli 2006. Mengukur Kedasyatan Tsunami di Laut Selatan Bali. Hlm. 1 & 11.