Your SlideShare is downloading. ×
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Book review enmg
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Book review enmg

631

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
631
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Book Review Stase ENMG POTENSIAL CETUSAN AUDITORIK Sumber : Buku : Comprehensive Clinical Neurophysiology Editor : Kerry H.Levin & Hans O. Luders Oleh : Noormainiwati Pembimbing : dr. Diah Kurnia Mirawati, Sp.S
  • 2. Potential Cetusan Auditorik Batang Otak (BAEP) BAEP memberikan informasi yang unik tentang fungsi batang otak. Merupakan tes pada telinga dan batang otak, dengan cara mengukur waktu timbulnya gelombang elektrik dari batang otak terhadap respon stimulus klik atau nada ditelinga. BAEP yang normal terjadi dalam 10 msec pertama, terjadi antara 10 – 50 msec.Cara :Pada subyek diletakkan elektroda dengan montase : A1 – Cz, dan A2 – Cz .Subyek mengenakan earphone, yg diberi stimulus klik monoaural (intensitas 70 dBSL,durasi 0,1 msec, frek. 11 Hz), dan masking pada telinga kontralateral dg intensitas30 dB. BAEP dicatat dalam bentuk gelombang yang khas.
  • 3. Penempatan Elektroda
  • 4. . Stimulasi BAEP
  • 5. Sumber PotensialCetusan Auditorik Batang Otak Area I Area II Area III Area IV Area V Area VI Area VII
  • 6. Gelombang Normal
  • 7. Gelombang VPuncak yg paling menonjol, diikuti oleh defleksi ke bwh yg panjang.Selalu terjadi setelah 5,0 msec.Paling akhir menghilang dari semua komponen BAEP jika intensitas klikdkurangiLebih mudah dilihat & lebih jelas dibedakan dg gel.IV di Ac-Cz Sumber : bag.rostral lemniscus lateralis atau colliculus inferior atau keduanya.Gelombang IV1/3 kasus terjadi fusi gel. IV & V ( IV/V kompleks), latensinya beradaantara kedua gelombang.Bs berupa takik kecil pd pars ascenden gel. V atau gel V hanya berupalekukan kecil di pars descenden gel. IV. Sumber : kompleks olive superior atau colliculus inferior.
  • 8. Variasi Puncak Gelombang IV dan V
  • 9. Gelombang ISelalu timbul setelah 1 msec, amplitudo relatif rendah.Terbaik dilihat pada Ai-Cz.Sumber : n.VIII perifer (ganglion spiralis cochlea).Gelombang II dan IIIGel.II terbaik dcatat pada Ac-Cz, gel.III terbaik dcatat pada Ai-Cz.Dpt terjadi fusi gel. II dan III di Ac-Cz, atau gel.III dobel.Gel.III adlh komponen paling konsisten di antara gel.I dan V.Melebar dan amplitudo relatif tinggi.Sumber Gel. II : n.VIII bag.intrakranial (nukleus cochlearis ventral & dorsal)Sumber Gel.III : pons caudal ipsilateral & kontralateral.
  • 10. Gelombang VI & VIIBs tidak muncul pada org normal.Gel.VI sering pada pars descending gel.V, kadang hanya berupa belokan kecil.Gel.VII sering tidak terlihat.Sumber gel. VI : geniculatum medialSumber gel.VII : radiasio auditorik
  • 11. Nilai Normal Latensi Puncak pada BAEP Gelombang Latensi Rata-rata SD I 1,7 msec 0,15 II 2,8 msec 0,17 III 3,9 msec 0,19 IV 5,1 msec 0,24 V 5,7 msec 0,25 VI 7,3 msec 0,29 VII 9,6 msec 0,6
  • 12. Latensi Antar Puncak (IPL) Gelombang pada BAEP Rata-rata I – III 2,1 msec III – V 1,9 msec I–V 4,0 msecUntuk wanita, I – V lebih pendek 0,1 msec; untuk orang tua (> 60 tahun) I – V lebih panjang 0,1 msec; ditambah 0,1 msec untuk setiap peningkatan frekuensi 20 Hz.
  • 13. Faktor-faktor Non neurologik yang Mempengaruhi BAEP Usia Jenis Kelamin Suhu Parameter Klik
  • 14. Faktor Usia Terhadap BAEPTidak konsistennya gel BAEP pdanak-anak mungkin k/ desinkronisasistimulus pd jalur auditorik di batangotak.Dg pertambahan usia, semuakomponen BAEP memendek secarasignifikan.
  • 15. Faktor Jenis Kelamin terhadap BAEPTerdapat perbedaan latensi yg signifikan antara pria & wanita.Perbedaan gender terlihat pada anak setelah usia 8 thn.Latensi gel.I dan IPL I-V lebih panjang pd pria, dg intensitas 60-70 dBSL.Amplitudo lebih tinggi pd wanita.Perbedaan tsb terjadi k/ perbedaan ukuran kepala & perbedaan suhu basaltubuh.
  • 16. Faktor Suhuterhadap BAEP ..Latensi BAEPmeningkat 7% untuksetiap penurunan suhutubuh 7’C.Amplitudo meningkat50% ketika suhumenurun sampai 27-28’C, kemudianmenghilang pada 20’C.
  • 17. Faktor Parameter Klik terhadap BAEP.Semua latensi puncak BAEPberkurang 0,03 msec/dBsesuai dengan peningkatanintensitas klik.Jika intensitas klikditurunkan, semuagelombang cenderungmenghilang, kecuali I, III, danV.Dengan intensitas kliksemakin menurun, hanyagelombang V yang masih ada.
  • 18. Abnormalitas BAEP pada Kelainan Neurologik Koma & Mati OtakBAEP biasanya normal pada pasien koma akibat toksik atau metabolik.Pasien tanpa tanda2 klinis disfungsi batang otak, biasanya memilikiBAEP normal.Pasien dengan bukti klinis lesi otak tengah atau pons akan memilikiBAEP abnormal.Pasien dengan tidak adanya gelombang IV/V bilateral cenderung memilikiprognosis yg sangat buruk.Pada pasien mati otak, mungkin hanya gelombang I yang menetap(hanya 1/3 kasus).Tidak adanya gel.I yang jelas, tidak mungkin dapat menentukan apakah hal tsbberasal dari kematian otak atau akibat kerusakan sistem auditorik perifer.
  • 19. Multiple SklerosisBAEP pada pasien MS menjadi abnormal jika ada plak yg berada di jalur auditorik,yg akan menghasilkan abnormalitas konduksi.Persentase BAEP abnormal meningkat sesuai dg kepastian diagnosa MS :30% pada probable MS, 41% pada possible MS dan 67% pada definite MS.BAEP berguna untuk menentukan lesi tersembunyi di batang otak, sebagaipendukung tambahan.
  • 20. Tumor Fossa PosteriorNeuroma akustik Terdapat abnormalitas konduksi k/ kompresi tumor. Variasi abnormalitas BAEP :  IPL I-III atau I-V ipsilateral melambat, atau keduanya.  semua puncak gelombang ipsilateral menghilang, setelah gel.I  semua puncak gelombang ipsilateral menghilang, termasuk gel.I. BAEP normal pd 11%-23% neuroma akustik yg berukuran < 1 cm.
  • 21. Lesi Serebrovaskuler di Batang OtakPasien dengan TIA, atau infark di medula oblongata mempunyai BAEP normal.Infark di tingkat pons ke atas yg mengenai jalur auditorik akan menimbulkanabnormalitas BAEP (contoh Gbr. 37-32)Pasien dg locked in syndrome memiliki BAEP normal k/ jalur auditorik terletaklebih dorsolateral dibandingkan jalur motorik di pons.
  • 22. Abnormalitas BAEP pada kondisi lainnyaPada inflamasi ruang subarakhnoid yang dilalui nervus akustikusdapat terjadi pemanjangan IPL I-III.Alkoholisme akut menyebabkan pemanjangan latensi BAEP k/penurunan suhu tubuh.Alkoholisme kronis menimbulkan pemanjangan IPL I-V k/demyelinasiatau edema.Def.vit.B12 dapat menimbulkan pemanjangan IPL I-V yg reversibeldg terapi.Pasien dg tuli kortikal akibat infark bitemporal mungkin memilikiBAEP normal.
  • 23. Kasus 1.Ilustrasi KasusSeorang wanita, 45 th,datang ke poliklinik saraf RSDM dengan keluhanwajah merot ke kanan, dan mata kiri tidak bisa menutup rapat.Kejadian mendadak, saat bangun tidur 1 bulan sebelum ke RS.Disertai telinga kiri terasa bergemuruh.Riwayat HT (+)Pemeriksaan Fisik :Motorik & sensorik : dbnNn. Craniales : - parese N.VII kiri perifer - refleks kornea kiri melemah - tes weber, lateralisasi kiri
  • 24. Kasus 1.Hasil ABR Kiri : IVGel I : 1,48 ms I II III VGel.II : 2,56 msGel.III : 3,74 msGel.IV : 5,40 ms (↑)Gel.V : 6,53 ms (↑)IPL I-III : 2,26 msIPL III-V : 2,79 ms (↑)IPL I-V : 5,05 ms (↑)
  • 25. Kasus 1.Hasil ABR Kanan :Gel I : 1,34 msGel.II : 2,48 msGel.III : 3,46 msGel.IV : 4,76 msGel.V : 5,41 msIPL I-III : 2,12 ms III IV VIPL III-V : 1,95 ms I IIIPL I-V : 4,97 msHasil Tes BAEP :Menyokong lesi pons kiri
  • 26. Kasus 1.Hasil Blink Kiri :R1 : No respon R2iR2i : 41,3 msR2c : 41,8 ms R2c
  • 27. Kasus 1.Hasil Blink Kanan : R2cR1 : 11,5 msR2i : 39,5 msR2c : 40,2 ms R1 R2iHasil Blink Refleks :Menyokong Lesi pons(Vm) kiri.
  • 28. Kasus 1.Hasil MRI : infark pons kiri
  • 29. Kasus 2.Ilustrasi KasusSeorang laki-laki, 32 tahun, MRS dg keluhan utama kelemahan kedua lengan &tungkai sejak 1 thn yl. Mulanya dari tungkai, kemudian diikuti kedua lengan.Disertai suara pelo dan pandangan kabur. Tidak ada gangguan menelan.Pemeriksaan Fisik :Motorik : bihemiparesis UMNSensorik : dbnNn. Craniales : - parese N.VI bilateral - parese N.VII bilateral (kedua alis tidak bisa diangkat) - parese N.VIII bilateral (nistagmus horizontal bilateral) - parese N.XII kanan UMN (saat menjulur lidah terdorong ke kanan)
  • 30. Kasus 2.Hasil ABR Kanan :Gel I : 1,52 msGel.II : 3,14 msGel.III : 4,15 ms (↑)Gel.IV : 5,23 msGel.V : 6,95 ms (↑)IPL I-III : 2,63 ms (↑) II III IVIPL III-V : 2,80 ms (↑) I VIPL I-V : 5,43 ms (↑)
  • 31. Kasus 2.Hasil ABR Kiri :Gel I : 1,83 msGel.II : 2,98 ms III IV II VGel.III : 4,56 ms (↑) IGel.IV : 5,28 msGel.V : 6,60 ms (↑)IPL I-III : 2,73 ms (↑)IPL III-V : 2,04 ms (↑)IPL I-V : 4,77 ms (↑)Hasil BAEP : menyokong lesipada pons bilateral.
  • 32. Kasus 2.Hasil Blink Kanan :R1 : 10,3 msR2i : No responR2c : No respon
  • 33. Kasus 2.Hasil Blink Kiri :R1 : 10,7 msR2i : 46,3 ms (↑)R2c : 46,7 ms (↑)Hasil Blink Refleks :Menyokong lesi M.Obagian atas bilateral
  • 34. Terimakasih Wassalam

×