• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Bahaya hawa nafsu
 

Bahaya hawa nafsu

on

  • 963 views

Nafsu bagaikan pedang, bisa bermanfaat bisa juga menghancurkan, untuk membunuh, melukai.....

Nafsu bagaikan pedang, bisa bermanfaat bisa juga menghancurkan, untuk membunuh, melukai.....

Statistics

Views

Total Views
963
Views on SlideShare
963
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
10
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Bahaya hawa nafsu Bahaya hawa nafsu Document Transcript

    • Hawa Nafsu Prakata Penerjemah Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT, yang diciptakan berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. la diciptakan dengan sempurna, memiliki dua dimensi, yakni dimensi biologis dan psikologis. Dimensi biologis, pada umumnya manusia sudah memiliki kemampuan untuk mengenal, memahami dan menanggulangi segala kemungkinan yang timbul dari dan akibat biologis. Berbagai masalah yang berkembang yang ada dewasa ini, sudah mampu diantisipasi dan ditanggulangi dengan berbagai upaya ilmiah dan teknologi. Sebaliknya dimensi psikologis (kejiwaan) masih banyak manusia yang belum atau tidak mengenal dan memahaminya. Para psikolog pun belum mampu menyingkap misteri psikologis/jiwa secara mendetail. Karena ilmu jiwa hanya mampu mendeteksi dari pantulan jiwa yang terekspresikan melalui temperamen, sikap dan perwujudan secara lahiriah. Sehingga secara ilmiah misteri jiwa (dengan berbagai sumbernya) belum terupayakan untuk dikenali dan dipahami dengan baik. Pemahaman terhadap jiwa manusia bukanlah hal yang mudah dan sederhana, namun sangat urgen bagi setiap manusia untuk memahaminya. Masalah jiwa telah banyak ditulis oleh cendekiawan, ulama dan lainnya dengan berbagai sudut pandang mereka masingmasing. Namun, dalam kajian dan analisanya masih belum memberikan sistematika penyajian yang baik dan ruang lingkup yang komprehensif. Sehingga kesimpulan akhir yang diraihnya belum memberikan kepuasan ilmiah bagi setiap pembacanya. Tidaklah berlebihan bahwa kitab yang satu ini akan memberikan wawasan yang dalam perihal jiwa manusia dan meraih kepuasan ilmiah dari sistematika penyajian serta argumentasi yang akurasi. Kitab ini mengkaji perihal jiwa manusia dongan berbagai sumbernya secara mendalam dan detail. Ruang lingkup telaah kitab ini sangat luas, sehingga tidak syak lagi akan luasnya wawasan penulisnya. Kandungannya sangat sarat dengan ungkapan-ungkapan Hadis Ahlul Bait Nabi SAWW Para Imam Ahlul Bait telah memberikan kejelasan tentang jiwa dengan segala sumbernya melalui sabda-sabda mereka yang dihimpun oleh penulis dengan sumber rujukan dari berbagai kitab yang memuat perihal tersebut. Tafsiran dan penjelasan tentang sumber-sumber jiwa manusia telah dipaparkan penulis dengan sangat sistematis dan rinci. Salah satu sumbernya adalah hawa nafsu.
    • Dalam kitab ini telah diungkapkan dengan jelas tentang fungsi dan peranan hawa nafsu dalam kehidupan manusia; keterkaitan antara hawa nafsu dan sumber-sumber jiwanya masing-masing: mekanisme operasionalnya dan pengendaliannya dalam upaya mencapai kesempurnaan hidup manusia. Sungguh sangat urgen bagi kita untuk mengetahui masalah hawa nafsu dengan berbagai masalahnya yang telah diungkapkan dalam kitab ini. Sehingga saya memandang perlu untuk mengalihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia guna tersebarluasnya wawasan baru ini kepada para pembaca yang belum mampu menelaah kitab aslinya, yang berbahasa Arab. Buku yang ada di hadapan anda ini sangat penting untuk dibaca dan disimak secara seksama. Kandungan isinya sarat dengan berbagai argumentasi dan dalil. Penulis kitab ini telah mengungkapkan dalam kajiannya dengan landasan dalil nakli - Al-Quran dan hadishadis Nabi SAWW melalui jalur Ahlul Baituya. Sehingga semakin luas paparan dan jelas kesimpulan setiap pokok bahasan yang diungkapkan dan dipaparkan penulis kitab ini. Hal inilah yang akan diraih oleh setiap pembaca yang telah menelaahnya menuju kepada kesimpulan akhir bahwa hawa nafsu sangat esensial bagi manusia dalam menempuh kesempurnaan hidup. Dalam penyelesaian alih bahasa buku ini, karni telah banyak melibatkan beberapa asatidz dan bahkan tidak segan-segan pula kami mendiskusikan istilah-istilah yang sering digunakan berkenaan dengan masalah "Hawa Nafsu". Sehingga selesailah terjemahan ini, yang semua itu berkat partisipasi dan dukungan berbagai pihak yang telah ambil bagian dalam proses penyelesaiannya. Untuk itu, kami sampaikan banyak terimakasih kepacla Ustudz Musa Husein Al-Habsyi, Ustadz Ali Umar Al-Habsyi dun Ustadz M.T. Yahya yang telah membantu dan ikutambil bagian dalam penyelesaian penerbitan buku terjemahan ini. Semoga apa yang telah diberikan dalam tugas ini diterima sebagai amal kebajikan. Kemudian, kami memobon kepada Allah SWT semoga pahala buku terjemahan ini, dianugrahkan kepada guru kami yang tercinta Al-Marhum Al-Ustadz Husein Al-Habsyi r.a dan Almarhum K.H. Abdul Kholiq yang telah banyak mendidik dan membimbing kami. Dan begitu pula pahala buku terjemaban ini kami haturkan kepada kedua orang tua kami, semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahinya. Ilahi Amin. Akhirnya, kami berharap, semoga buku terjemahan ini akan bermanfaat bagi setiap insan yang ingin menyadari akan potensi jiwa dengan berbagai sumbernya yang telah diberikan Allah kepada dirinya, untuk difungsikan sebagai kekuatan yung mampu menyadarkan dan mengarahkan untuk menuju kesempurnaan hidup. Bangil, 25 Sholar 1418 H Penerjemah Shohib Aziz Zuhri [1]
    • Pengantar Oleh: Musa Husein Al-Habsyi Gunan Makun keh Chu To Beguzary Jahan Guzarad, Hezar Syam' Bekusytan va Anjuinan Baqi-ist. (Jangan pikir kareua kau hengkang, duniapun turut hilang, Ribuan lilin 'tlah tiada, tapi anjuinan tetap ada.) Puisi ini mengisyaratkan kedawaman gerak segenap anak manusia menuju Allah. Puisi Persia kaum Sufi ini rnenggambarkan bahwa meski manusia telah meninggalkan dunia, geraknya menuju Allah tiada pernah tuntas. Anjuman ialah perkumpulan kaum Sufi untuk menjalankan berbagai aktivitas mereka. Intisari yang ingin mereka ungkapkan adalah bahwa gerak ruhani manusia menuju Allah itu panjang nan terus-menerus. Dari satu alam ke alam yang lain. Demikian seterusnya. Ada ungkapan lain kaum Sufi yang juga cukup unik. Khuliqal insanu lil abad walakinnahu intaqala min darin ila dar, kata mereka. Artinya, manusia itu dicipta untuk keabadian, tapi dia berpindah dari satu persinggahan ke persinggahan yang lain. Tujuan penciptaannya tidak akan pernah selesai. Karena itu, dia tidak akan punya "waktu kosong". Mungkin tidak ada yang tidak sepakat bahwa manusia itu bergerak. Manusia tidak kenal diam. Gerak itu sendiri adalah suatu manifestasi penyempurnaan. Walaupun, sering kali manusia salah dalam mengidentifikasi kesempuvnaan. Maka, dia menganggap yang tidak sempurna sebagai sesuaiu yang sempurna. Walhasil, tidak ada dua kepala yang berselisih, ihwal adanya gerak pada manusia. Dan, karena manusia adalah «abungan ruh dan jism (badan), maka geraknya pun ada yang bersifat ruhaniy (metafisik) dan ada yang bersifat jismany (fisik). Ruh adalah kutub yang berkilauan cahaya dalam jiwa manusia. Sedang jism adalah kutub yang penuh kegelapan. Adapun nafs (jiwa) ialah zona netral yang dijadikan ajang tarikmenarik manusia. la adalah media yang bisa mengantarkan manusia menuju kepada Allah, tapi ia juga bisa nienjadi media untuk menggulung manusia dengan jilatan api jahanam.
    • Gerak ruhani, ialah gerak menuju Allah (liqa'ullah) atau mendekat kepada-Nya (taqarrub). Perlu diingat bahwa gerak ruhani dan jismani itu tentu berbeda. Perbedaan itu antara lain karena keduanya terjadi di "alam" yang berbeda dengan hukum-hukum yang berbeda. Namun, bagaimanapun juga, ada pei'samaan antara keduanya. Sebagai contoh, keduanya sama-sama butuh kepada penggerak, obyek gerak. tiaclanya penghalang, dst. Tengoklah kepada gerak pintu. Pada peristiwa itu, ada beberapa hal yang mesti terjadi. Antara lain adanya pintu (1), adanya tangan yang menggerakkan (2), sentuhan antara tangan dan pintu (3), tiadanya batu yang melintang atau mermtang (4), dll. Gerak ruhanipun demikian juga, meski unsur yang terlibat jauh lebih banyak dan kompleks. Gerak ruhani butuh kepada jiwa (nafs) sebagai tempat gerak (1), fitrah sebagai penggerak (2), akal sebagai "bahan utama" gerak (3), terkuasamya hawa nafsu dan setan (4), dll. Masing-masing bagian ini merupakan suatu bidang studi yang sangat panjang. Namun, ada baiknya kalau saya, semampunya. menganalisis bagian-bagian di atas. Jiwa manusia adalah tempat gerak ruhani. Jiwa adalah media insani menuju kepada Nur Ilahi, bila yang menggerakkannya adalah fitrah yang suci dengan bahan akal sejati. Tetapi, jika penggeraknya adalah hawa nafsu yang berbahan sifat-sifat syaithany, maka jiwa akan menjadi skateboard yang meluncurkan manusia ke lubang neraka. Di dalam jiwa, terpatrilah juga fitrah. la selalu menggerakkan manusia kepada Allah dan seluruh kebaikan. la mengendarai jiwa manusia dengan bahan akal menuju kepada Allah. Akal adalah bahan jiwa menuju Allah. la membakarjiwa manusia dengan api yang sangat panas. la "memaksa" manusia bergerak menuju Allah Dalam sebuah riwayat, yang juga termuat dalam buku ini, disebutkan bahwa akal mempunyai 75 bala tentara. Dari masingmasingnya akal mendapat bantuan. Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa akal adalah suatu kemampuan yang luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi, bila hawa nafsu mampu menguasai akal dan memaksakan pelbagai kehendaknya atas akal, maka la akan menjadi bahan api neraka. Hawa nafsu akan menggunakannya untuk mencerap seluruh sifat setan, bahkan mungkin lebih jauh dari itu. Dalam "perang" yang terjadi dalam jiwa manusia itu, barangkali hawa nafsu adalah kerajaan yang paling luas wilayahnya dan dominan kekuatannya. Tak diragukan lagi, bahwa hawa nafsu adalah faktor yang penting sekali dalam jiwa manusia. la selalu bertempur dengan akal untuk memperebutkan jiwa secara utuh. Di samping itu, hawa nafsu juga memiliki peran yang sangat positif dan konstruktif bagi kehidupan manusia. Tanpanya, spesies manusia akan punah. Dengannya, manusia bisa melejit ke haribaan Ilahi mengungguli segala makhluk lainnya. Itu semua, bila akal yang menjadi sopir jiwa. Tetapi, sebaliknya, bila hawa nafsu sudah memegang kendali jiwa, maka semuanya akan berbalik. Manusia akan menjadi lebih keji dan sesat dari segala
    • macam setan. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengenali hawa nafsu ini dengan baik dan sempurna. Untuk dapat sedikit mengenali buku ini, dan yang serupa dengannya, saya ada suatu permisalan yang kiranya baik untuk kita simak bersama. Pada suatu pertandingan sepak bola, Anda bisa mendapatkan komentar dari berbagai kalangan. Dari para penonton, pengamat, pemain dan pelatih. Dari para penonton, mungkin sekali Anda hanya akan mendengar teriakan. Baik itu teriakan kemenangan atau teriakan kekalahan. Pengamat, kemungkinan besar akan memberi komentar yang agak lebih jelas. Pengamat mungkin mempunyai pendapat yang sama dengan si pemain atau pelatih. Tetapi, pengamat adalah tetap pengamat. Dia tetap tidak akan tahu yang terjadi sebenarnya. Sebab, dia hanya melihat pertandingan dari kejauhan. Pengamat, betapapun mahir dan pandainya, tetap second hand. Sedang pemain adalah first hand. Dia mengetahui apa yang terjadi karena dia bermain dan bertandmg di lapangan. Dengan kata lain, pengetahuannya sudah diterapkan dan menjadi suatu pengalaman dan penghayatan. Dia benar-benar involued. Lain halnya dari semua itu ialah komentar yang diberikan oleh pelatih. Pelatih adalah orang yang niscaya lebih "menguasai" lapangan ketimbang pemain, apalagi pengamat. Dia adalah orang yang sudah pasti menguasai geografi lapangan, teknik permainan, psikologi para pemain, lawan, dan tidak jarang, psikologi para penonton. Karena tanpa semua itu, dia tidak akan jadi pelatih yang sebenarnya. Begitulah kira-kira yang terjadi dalam suatu pertandingan sepak bola. Dengan beberapa perbedaan, pergumulan dalam jiwa manusia pun demikian. Nah, buku yang di hadapan Anda ini, menurut hemat saya, adalah buku yang ditulis oleh seorang pemain yang taat pada instruksi pelatih. Dan pelatih yang kita maksud adalah para Nabi dan ma'shumin (orang-orang suci). Buku ini penuh dengan wacana para Nabi dan Imam yang suci. Mereka adalah pelatih yang hakiki bagi seorang yang ingin bermain di lapangan untuk menuju kepada Allah. Secara pribadi, sekali dua kali saya pernah melihat penulis buku ini. Bahkan, bersama teman-teman yang lain, saya juga pernah menerjemahkan karya beliau yang berjudul Muatan Cinta Ilahi dalam Doa-doa Ahhd Bayt (diterbitkan oleh Pustaka Hidayah maret 1994). Dari pengalaman yang itu dan yang ini, saya mendapati bahwa penulis memang cukup menguasai warisan intelektual Ahlul Bayt -untuk tidak menyebutnya tekstual-. Buku ini memang bukan benar-benar "buku". la adalah kumpulan ceramah Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify. Karena itulah, pembaca akan sering melihat adanya
    • loncatan dalam pembahasan-pembahasan beliau. Begitupun juga, "buku" ini sangat layak terbit (publishable). Akhirul kalam, kami memohon ampunan kepada Allah atas segala kesalahan dan kekeliruan yang mungkin luput dari jangkauan pikiran kami. Dan kepada-Nya pula kami berharap Anda sekalian dapat mengambil sebaik-baik manfaat dari buku ini. Wabillahi Taufiq Wal Hidayah War Ridha Wal 'lnayah. Musa Husein Al-Habsyi [2] Medio Juni 1997 BAGIAN PERTAMA Hawa Nafsu dalam Alquran dan Hadis HADIS Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir bahwa Rasulullah SAWW bersabda, Allah SWT berfirman: "Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nurKu, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginannya (nafsunya) di atas keinginan-Ku, melainkan Aku kacaukan urusannya, Aku kaburkan dunianya dan Aku sibukkan hatinya dengan dunia serta tidak Aku berikan diinia kecuali yang telah kutakar untuknya. Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggianKu dan ketinggian tempat-Ku, tak seorang hambapun yang mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginan (nafsu) dirinya melainkan Aku suruh malaikat untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rezekinya dan menguntungkan setiap perdagangan yang dilakukannya serta dunia akan datang dan selalu berpihak kepadanya".[3] Hadis qudsi cliatas amat populer dan terdapat dalam beberapa kitab dari golongan Sunnah dan Syi'ah. Saya juga meriwayatkan hadis tersebut melalui beberapa jalur. Sebagiannya darinya saya anggap sahih. Saya mencoba menelaah hadis yang berharga ini pada tiga bagian: Pertama, seputar definisi hawa nafsu (al-hawa), bagian-bagian aksidentalnya, metode terapi dan "penjinaan"-nya. Bagian ini dianggap sebagai pengantar kajian hadis tersebut. (Bagian ini kami bagi menjadi tiga bagian menjadi I. Hawa Nafsu clalam Al-Quran dan Hadis, II. Tugas Akal dalam Mengendalikan Hawa Nafsu, III. Telaah Kritis Bala Tentara Akal dan Kejahilan pen.) Kedua, seputar orang yang mengutamakan hawa nafsunya atas perintah Allah. (Bagian ini kami bagi menjadi tiga bagian, menjadi : IV. Orang yang Mengutamakan Hawa
    • Nafsunya, V. Perbandingan Dunia dan Akhirat, VI. Telaah Anali-tik tentang Dunia dan Akhirat pen.) Ketiga, seputar orang yang mengutamakan keinginan Allah atas keinginan dirinya. (Bagian ini menjadi bagian ketujuh yaitu VII. Orang yang Mengutamakan Keinginan Allah. Terminologi Hawa Nafsu dalam Alquran dan Sunnah Hawa nafsu adalah istilah keislaman yang digunakan dalam Alquran dan Sunnah. la menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman. Sering kita menemukan kata hawa nafsu dalam Alquran dan Sunnah. Antara lain, Allah SWT berfirman: "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" (Q.S. Al-Furqon 43.) Dan firman Allah SWT: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."(Q.S. An-Nazia'at 40- 41.) Amirul Mukminm Ali as dalam Nahjul Balaghahnya berkata: "Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan angan-angan panjang." Diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah SAWW bersabda: "Waspadalah terhadap hawa uafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa, nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang."[4] Imam Shâdiq as juga berkata: "Janganlah kalian biarkan jiwa bersanding bersama hawa nafsu. Karena, hawa nafsu pasti (meinbawa) kehinaan bagi jiwamu.”[5] Enam Sumber dalam Jiwa Manusia Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan perannya dalam kehidupan manusia, saya perlu menegaskan bahwa Allah SWT telah memasang beberapa sumber gerak dan kesadaran manusia. Semua gerak -aktif ataupun reaktif- dan kesadaran manusia bermuara dari sumber-sumber ini. Tercatat ada enam sumber penting, yang terutamanya adalah hawa nafsu, sebagai berikut. 1. Fithrah, yang telah dilengkapi Allah dengan kecenderungan. hasrat dan gaya tarik menuju dan mengenal-Nya dan meraih keutamaan-keutamaan akhlak, seperti kesetiaan, 'iffah (harga diri), belas kasih dan murah hati. 2. 'Aql, adalah titik pembeda manusia.
    • 3. Irâdah, adalah pusat keputusan dan yang menjamin kebebasan manusia (dalam mengambil keputusan) dan kemerdekaannya. 4. Dhamir, yang berfungsi sebagai mahkamah dalam jiwa. la bertugas mengadili, mengecam dan melakukan penekanan terhadap manusia demi menyeimbangkan prilakunya. 5. Qalb, fuad dan shadr, merupakan jendela lain bagi kesadaran dan pengetahuan, sebagaimana kita pahami melalui ayat-ayat Alquran, yang dapat menerima atau menampung pencerahan Ilahi. 6. Al-hawa, adalah kumpulan berbagai nafsu dan keinginan dalam jiwa manvisia yang menuntut pemenuhan secara intensif. Bila tuntutannya terpenuhi, iadapat memberi manusia kenikmatan tersendiri. Inilah keenam sumber penting bagi gerak dan kesadaran jiwa manusia yang telah diberikan oleh Allah. Dalam kesempatan ini, rasanya tidak tepat jika saya membahas sumber-sumber tersebut atau membentuk gambaran dan simpulan ilmiah melalui nash-nash keislaman. Karena, bidang psikologi keislaman ini memerlukan kajian, observasi dan penalaran yang mendalam. Semoga Allah memudahkan bagi mereka yang menelitinya melalui teks-teks keislaman. Bidang ini tergolong subur dan "perawan" (tak tergarap). Kesuburan dan "keperawanan" salah satu dari lahan-lahan budaya keislaman ini mestinya merangsang para ilmuwan dan peneliti untuk menggarapnya. Tugas saya dalam kajian kali mi, hanya terbatas pada masalah definisi serta peran hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Di samping itu. saya akan membahas keistimewaan, dampak, tujuan dan sarana-sarana pengekangannya serta beberapa masalah lain yang berkaitan. Bersamaan dengan itu, dalam mengkaji hawa nafsu saya akan beberkan hadis-hadis yang berhubungan dengan "sumber-sumber" lain jiwa yang ikut andil dalam pergerakan dan kesadaran manusia. Penggunaan istilah hawa nafsu dalam kebudayaan Islami mangacu pada gabungan beberapa naluri yang bersemayam dalam jiwa, sedangkan manusia sebagai penyandangnya selalu dituntut agar memenuhi hasratnya. Berbagai naluri syahwati itu membentuk bagian terpenting dan berperan luar biasa dalam kepribadian manusia. la adalah faktoi- utama dalam menggerakkan dan mengatur diri manusia. Bahkan sebagai kunci yang paling efektif untuk mengatur aksi dan reaksinya. Kekhasan-kekhasan Hawa Nafsu Untuk lebih mengenal peran positif dan negatif hawa nafsu dalam membangun dan meruntuhkan kehidupan manusia, maka semestinya kita terlebih dahulu mengetahui watak-watak terpenting hawa nafsu. Dalam uraian berikut ini akan saya paparkan watakwatak terpenting hawa nafsu melalui teks-teks keislaman.
    • 1. Watak Ekspansif Hawa Nafsu Termasuk paling menonjolnya ciri hawa nafsu adalah tuntutannya yang cenderung ekspansif atau meluas. Hawa-nafsu manusia memiliki derajat pemuasan yang berbedabeda yang, pada gilirannya, memiliki tuntutan yang berbeda-beda pula. Sebagian syahwat ada yang tuntutan dan permintaannya bersifat mutlak, sehingga pemuasannya pun tak dimungkinkan. Namun ada sebagian lain yang pemuasannya dimungkinkan setelah sekian ekspansi dilakukan. Secara keseluruhan, hawa nafsu memiliki sifat ekspansif yang sukar terpuaskan dalam batas-batas yang masuk akal. Dalam kaitannya dengan sifat di atas, Rasul SAWW bersabda: "Sekiranya anak Adam meinpunyai sebuah lembah emas, niscaya dia akan meminta tambah satu lagi. Sekiranya dia telah mempunyai dua lembah emas, niscaya dia akan meminta lagi (lembah yang ketiga). Tidak akan puas kantong mulut seseorang, kecuali jika sudah penuh dengan tanah”.[6] Dalam redaksi yang agak berbeda Nabi SAWW bersabda: "Sekiranya anak cucu Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya dia masih berhasrat pada lembah yang ketiga".[7] Diriwayatkan dari Hamzah bin Humran cerita demikian: "Seorang mengeluh pada Abi Abdillah as (Imam Ja'far Ash-Shâdiq) tentang permohonannya yang selalu terkabul, tapi dia tak pernah terpuaskan. Kepada Imam dia merengek sembari berkata: "Ajarilah aku sesuatu yang berguna bagi diriku." Abu Abdillah berkata: "Jika sesuatu yang mencukupimu itu memuaskanmu, maka yang paling remeh dari dunia akau memuaskanmu. Jika sesuatu yang mencukupimu itu tidak memuaskanmu, maka segala apa yang ada di dunia tidak akan pernah memuaskanmu.”[8] Amir Al-Mukminin Ali as berkata: "Wahai anak Adam! Jika kamu ingin sesuatu yang mencukupimu dari dunia, maka sesungguhnya yang paling kecil (sedikit) darinya akan mencukupimu. Sebaliknya, jika kamu ingin sesuatu yang tidak akan mencukupimu (atau sesuatu yang memuaskanmu, peny.), maka segala apa yang terdapat di dalamnya tidak akan mencukupimu".[9] Kalimat "mutlak tidak terpuaskannya hawa nafsu" dalam riwayat-riwayat di atas tidaklah hakiki. la hanya bermakna bahwa hawa nafsu memiliki sifat ekspansif yang berlebihan dan tidak mengenal batas. Di usia senja, ada sebagian nafsu yang menurun, sementara ada sebagian lain yangjustru menunjukkan kerakusannya.[10] 2. Daya Gerak dan Desak yang Dahsyat pada Hawa Nafsu Hawa-nafsu adalah faktor terkuat yang menggerakkan manusia. Buktinya adalah sejarah peradaban-peradaban Jahiliah yang telah mencakup bagian terbesar sejarah dan geografi bumi.
    • Bila kita mengesampingkan peran marginal fitrah, dhamir dan akal dalam membentuk peradaban Jahiliah, maka hawa nafsu adalah faktor paling menentukan bangunan peradaban-peradaban tersebut. Baik dalam suasana perang atau damamya, dalam aspek ekonomis, pengetahuan dan kriminalnya, hawa nafsu tetap menduduki posisi paling sentral di dalamnya. Dinwayatkan bahwa Zaid bin Shauhan bertanya kepada Amiril Mukminin Ali as, gerangan penguasa manakah yang paling digdaya? Imam Ali as menjawab: hawa nafsn.[11] Dengan ungkapan yang luar biasa indah, Alquran bercerita tentang istri Al-Aziz (raja Mesir) dan menunjukkan betapa kuatnya peranan hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Allab berfirman dalam surah Yusuf, "... karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh TuhanKu". (QS.Yusuf 53.) Amiril Mukminin Ali as berkata: "Dosa-dosa (syahwat) tak ubahnya kuda liar yang terlepas kendalinya, ia akan dengan kencang melarikan pengendaranya ke neraka. Ketahuilah, sesungguhnya taqwa ialah kendaraan yang patuh. Pengendaranya dengan santai dapat memegang kendali dan ia akan membawanya masuk ke surga."[12] Asy-Syumus (kalimat yang dipakai Imam Ali) adalah bentuk jamak dari Syamus yang berarti kuda yang tidak mau dinaiki punggungnya dan dikendalikan tali kekangnya. Dengan kata lain, pengendara tidak bisa memegang dan memamkan tali kekang kudanya sama sekali. Kuda seperti itu akan membawa pemiliknya ke mana saja tanpa menentu. Demikianlah halnya hawa nafsu clan syahwat yang membawa pelakunya sehingga ia tidak bisa menguasainya dan tidak mampu mengarahkannya. Sebaliknya taqwa. la selalu membantu manusia menguasai hawa nafsu, membimbing dan mengarahkan jiwa menuju surga. 3. Tuntutan Hawa Nafsu akan Berlipat-ganda jika Dipuaskan Sifat hawa nafsu[13] yang ketiga ialah selalu lebih menuntut dan memaksa, setiap kali manusia mengabulkannya. Sifat mi bertolak-belakang dengan sifat tuntutan-tuntutan yang lam yang melemah dengan terkabulnya tuntutan, hingga akhirnya mendekati kepuasan. Pelipat-gandaan tuntutan dan desakan hawa nafsu berbanding-lurus dengan pemenuhan yang dilakukan manusia. Dalam pada itu, sebagai konsekuensi logisnya, kontrol manusia terhadap hawa nafsu berkurang. Demikian juga sebaliknya, setiap-kali manusia mengekang tuntutan hawa nafsunya dengan tali akal, maka tuntutannya semakin berkurang dan kemampuan manusia untuk menguasainya semakin bertambah. Syahwat bagaikan api. Semakin ditiup, semakin membara dan membahayakan.
    • Pemenuhan yang terkontrol di bawah syariat adalah lebih "memuaskan" nafsu manusia ketimbang pemenuhan secara mutlak yang tak terbatasi. Dalam beberapa nash keislaman telah disebutkan dua bentuk pemenuhan ini: 1. Pemenuhan tuntutan hawa nafsu secara mutlak yang akan menambah gairah dan paksaan tuntutannya. Sebaliknya, bila pemenuhan tuntutannya dibatasi ketentuanketentuan syariat, maka akan cepat merasa puas dan cukup. Imam Ali as berkata: "Menolak syahwat berarti memuaskannya, sedang memenuhinya akan menguatkannya."[14] Maksud "menolak syahwat" adalah memenuhi tuntutannya dengan cara yang terkendali. Aclapun maksud kalimat "memenuhinya" ialah memenuhi tuntutannya dengan tanpa batas dan kendali. 2. Memenuhi tuntutan (hawa nafsu) secara mutlak menyebabkan kelemahan sistem kontrol manusia terhadap hawa nafsu, sehingga seluruh kehendak dan kemampuannya terbelenggu. Pada akhirnya, dia menjadi budak nafsunya. Sebaliknya, memenuhi tuntutan hawa nafsu secara terbatas atau terkendali lebih mendukung manusia untuk menguasai dan menundukkan hawa nafsu dan syahwat. Dan Imam Al-Bâqir as berkata: "Orang yang rakus terhadap dunia bagaikan ulat sutera. Kian bertambah banyak siuteranya, kian jauh kemungkinannya untuk bisa keluar dari sarangnya. Sampai akhirnya dia mati (terjerat suteranya sendiri)."[15] Penguasaan Akal terhadap Hawa Nafsu Meski kekuasaan hawa nafsu sangat efektif, tapi akal manusia mampu memanajemeni dan mengarahkannya dengan cara memperkuat posisi dan perannya dalam jiwa manusia. Jika suatu saat peranan akal melemah dan hawa nafsu lolos daii genggamannya, maka ia mesti tetap menempati posisi yang memerintah dan melarang, menghukum dan menolak. Sedangkan hawa nafsu hanya bisa membuat kebingungan dan membangkitkan waswas dalam jiwa. Imam Ali as berkata: "Jiwa adalah tempat bisikan-bisikan hawa nafsu. Sedangkan akal berperan untuk menolak dan meredainnya."[16] Imam Ali as berkata: "Di dalam hati ada hasutan-hasutan jahat, dan akal (berupaya) menyingkirkan mereka."[17] Maksud dari kedua hadis tersebut ialah bahwa hawa nafsu bersemayam dalam jiwa manusia hanya untuk menimbulkan bisikan-bisikan jelek. Sebaliknya, akal tampil sebagai penguasa yang berhak menghukumi, menolak dan mencegah.
    • Imam Ali as berkata: "Akal yang sempurna adalah akal yang mampu mengusir tabiat jelek (dalam jiwa)."[18] Maksudnya, meski tabiat dan akhlak manusia telah diperdayai oleh hawa nafsu, tapi akal masih tetap dalam posisi yang kokoh dan mempunyai kekuasaan yang prima untuk menekan tabiat yang sudah terpengaruh kejelekan itu. Hal ini akan menjadi realita jika akal itu sempurna dan lurus. Yang demikian ini merupakan landasan yang sangat mantap dalam metode pendidikan Islam yang Insya Allah akan saya bahas secara terinci dalam bagian mendatang. Manusia adalah Gabungan Akal dan Hawa Nafsu Dari pembahasan yang telah lalu ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa meskipun hawa nafsu mempunyai daya yang sangat kuat dan berpevan aktif serta efektif dalam kehidupan manusia, tapi kehendaknya untuk menyempurnakan, mematangkan dan menonjolkan peran akal tidak pernah terampas. Hal itu disebabkan oleh karena manusia terdiri dari akal dan hawa nafsu. Manusia selalu berada dalam tarik-menarik keclua faktor ini. Fluktuasi keduanya berakibat langsung pada manusia. Semuanya, sebenarnya, bergantung pada manusianya sendin dalam sejauh mana mengfungsikan atau medisfungsikan akal dalam kehidupannya. Manusia berbeda sekali dengan binatang. Binatang tidak mempunyai akal yang bisa mengatur dunianya; langkah-langkahnya secara total dikemudikan oleh hawa nafsu. la sepenuhnya tunduk padanya dan sikapnya termanifestasi melalui faktor hawa nafsu saja. Imam Ali as berkata: "Allah menganugerahkan akal yang tak berunsur syahwat kepada inalaikat, syahwat tanpa unsur akal pada binatang, dan keduanya (akal dau syahwat) kepada anak cucu Adam. Karenanya, siapa yang akalnya bisa mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk daripada binatang."[19] "Pelembutan" Hawa Nafsu Di antara tema yang menonjol dalam psikologi keislaman adalah pelembutan dan penghalusan hawa nafsu, syahwat dan naluri. Karena watak kesemuanya itu bisa melembut dan mengeras. Di saat lembut, akallah yang menjadi hakim dan sempurnalah kemanusiaan seseorang. Di saat keras, hawa nafsulah yang menjadi hakim dan sempurnalah kebinatangan manusia. Dalam kedua kondisi tersebut, manusia sendirilah yang menentukan segalanya. Semakin sering seorang menuruti hawa nafsunya, semakin mengeras dan, akhirnya, semakin dominan ia. Sebaliknya, jika seseorang selalu malakukan tekanan atas hawa nafsu, maka lambat-laun ia akan melemah dan, implikasinya, mudah menurut pada kontrol akal.
    • Semua manusia, bertaqwa atau tidak, sama-sama mempunyai hawa nafsu dan syahwat. Bedanya, yang bertaqwa mampu -secara aktif- menguasai dan mengatur hawa nafsu dan syahwatnya, sedangkan orang yang tidak bevtaqwa -secara pasif- dikuasai dan diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya. Pada kondisi manapun manusia tetap berikhtiar. Ikhtiar berati melakukan penekanan dan pelatihan atas hawa nafsu, atau malahan (menurut istilah Imam Ali as peny.) menuruti kehendaknya (dengan mengurangi tuntutannya). Dalam kajian selanjutnya, saya akan membahas kiat-kiat menguasai hawa nafsu, nashnash keislaman yang menjelaskan dua keadaan (posisi) hawa nafsu -yang lemah dan yang keras -, teknik melemahkan hawa nafsu, dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan terkristalnya hawa nafsu. Alquran menjelaskan:"... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu beuci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan..."(Q.S.Al-Hujurât :7). Allah menanamkan rasa benci kepada kefasikan -yang diperebutkan para durja- dalam kalbu Mukmin dan ahli taqwa. Sebenarnya, siapakah yang membencikan orang-orang mukmin kepada kefasikan? Dan siapa pula yang membuat senang orang-orang fasik terhadap kefasikan? Jawabnya, adalah Allah SWT Dia yang membencikan kefasikan kepada jiwa orang-orang Mukmin. Hati orang mukmin berada dalam genggaman dan kekuasaan Allah dan Allah senang kefasikan berada dalam jiwa orang fasik sebab orang fasik itu sendiri mencmtai kefasikan dan selalu mengikuti hawa nafsunya. Rasulullah SAWW bersabda: "Rutin melakukan kebaikan berarti kebencian bagi kejelekan".[20] Konsistensi dalam melakukan kebaikan akan membawa kebencian atas kejelekan. Kejelekan yang dimaksud ialah syahwat dan kelezatan yang selalu dicari dan dikejarkejar manusia. Karena, syahwat dan kelezatan yang diharamkan itu selalu dikejar-kejar oleh para penyeleweng dan kaum fasik. Begitu pula sebaliknya. Kejelekan yang selalu dilakukan akan membaca kecintaan pada kejelekan itu. Dan yang demikian itu adalah wajar dan rasional. Imam Amiril Mukminin Ali as dalam khotbahnya yang menerangkan ciri-ciri orang taqwa dan khotbah ini dikenal dengan Khotbah Hammâm, beliau berucap: " (Ahli tagwa) itu dekat angan-angannya, sedikit kesalahannya, khusyu’ hatinya, mudah terpuaskan, sederhana makanannya, ringan urusannya, kukuh agamanya, "mati" nafsuniya, dan tertahan emosinya."[21] Sesungguhnya taqwa dapat melunakkan syahwat dan hawa nafsu seseorang. Dengan taqwa, jiwa yang serakah berubah menjadi qanâ’ah. Syahwat pun menjadi lemah-lembut seakan mati.
    • Nash di atas, dan yang semisalnya, tidak hendak menyatakan bahwa peran taqwa adalah pengekang syahwat dan hawa nafsu. Walau pengertian itu bisa dibenarkan, tapi maksud riwayat lebih jauh lagi. la ingin menekankan bahwa peranan taqwa itu juga untuk melemah-lembutkan hawa nafsu dan meringankan syahwat. Demikianlah riwayat-riwayat tersebut di atas saya pahami. Selanjutnya saya akan nukilkan beberapa riwayat tanpa menyebut komentarnya. Imam Ali as bersabda: "Semakin kokoh hikmah (seseorang), semakin lemah syahwatnya."[22] Imam Ali as berkata: "Jika kemampuan kita (dalam menaklukkan hawa nafsu) bertambah, maka (tuntutan-tuntutan) hawa nafsu kita akan berkurang."[23] Imam Ali as berkata: "'lffah (inenjaga diri) dapat melemahkan syahwat (hawa nafsu)."[24] Imam Ali as berkata: "Siapa yang merindukan surga, akan melupalah syahwat.”[25] Imam Ali as berkata: "Ingatlah bahwa setiap kelezatan akan hilang. Setiap kenikmatan akan berpindah. Dan setiap bencana pasti akan berakhir jua. Dengan begitu kita telah niengabadikan nikmat, meujernihkan syahwat, menghilangkan takabur, mendekatkan bahagia, melipur lara, dan menggapai cita-cita."[26] Taqwa dan kontrol hawa nafsu ialah dua faktor yang (seharusnya) menguasai syahwat dan naluri manusia sampai sejauh mungkin. Sehingga hawa nafsu seiring dengan hukum Allah dan segala keinginannya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Setelah itu, baru manusia dapat membenci dan lari dari segala yang dilarang Allah. Demikianlah manusia mencapai puncak interaksi dengan Tuhannya. Perubahan jiwa yang menakjubkan ini sebenarnya telah dijelaskan oleh Allah dalam Alquran di surah Al-Hujurât ayat 7 yaitu: "... tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan...". Walhasil, keberadaan taqwa fase inilah yang sangat berpengaruh dalam jiwa manusia. Karena ia ticlak hanya mampu mencegah seseorang dari kefasikan, kekafiran dan kemaksiatan, namun juga menanamkan rasa benci terhadap hal-hal tersebut. Peran Positif Hawa Nafsu dalam Kehidupan Manusia Memperhatikan peran destruktif hawa nafsu bagi manusia -yang Insya Allah- akan saya bahas secara terpisah clalam kajian benkutnya, maka wajar kalau ada yang bertanyatanya tentang faedah Allah menciptakan hawa nafsu? Atau apakah sesungguhnya nilai
    • positif hawa nafsu manusia itu? Untuk jawaban yang memadai, perhatikan beberapa butir di bawah: 1. Hawa Nafsu ialah Agen dan Aktor Penggerak Terkuat pada Jiwa Manusia Hawa nafsu mampu membentuk sulûk (prilaku) manusia. Oleh sebab itu, Allah SWT mengkaitkan banyak masalah penting kehidupan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu menjamin terpenuhinya beragam kebutuhan primer manusia. Masalah reproduksi, misalnya. la merupakan bagian vital kehidupan manusia. Tanpa proses tersebut spesies manusia akan punah. Untuk kebutuhan vital seperti di atas, Allah menganugrahi manusia dengan hawa nafsu seksual yang merangsang perkawinan dan reproduksi sebagai jaminan kelangsungan dan kelestarian jenis manusia. Allah SWT menggantungkan pertumbuhan manusia pada nafsu makan dan mmum. Tanpa keduanya, manusia tidak akan dapat menumbuhkan lagi sel-sel yang rusak oleh gerak dan keija manusia. Allah SWT juga telah membekali manusia dengan naluri bermasyarakat yang melaluinya sistem kehidupan sosial dan madani manusia muncul. Posesifitas atau rasa memiliki dijadikan sebagai motor kegiatan ekonomi. Tanpa insting atau naluri ingin memiliki ini akan hancur seluruh sistem ekonomi manusia. Amarah Allah jadikan sebagai sumber bagi aktivitas mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) dan pertahanan terhadap kehormatan, harta dan keluarga. Jika amarah tidak ada pada manusia, maka permusuhan tidak akan ada dan nilai perdamaian pun akan sirna. Demikianlah, Allah SWT menjamin kebutuhan-kebutuhan hidup umat manusia yang primer dengan hawa nafsu. 2. Hawa Nafsu Sebagai Tangga Menuju Kesempurnaan Hawa nafsu adalah tangga menuju kesempumaan, seperti itu juga ia dapat menjadi peluncur menuju kepada kekurangan. Berikut ini kita akan menjelaskan makna pernyataan di atas. Berbeda dengan jenis perkembangan dan penyempurnaan pada benda padat, tetumbuhan dan binatang yang bersifat deterministik atau terpaksa, gerak penyempurnaan integral manusia menuju Allah berakar dari "irâdah". Allah SWT memuliakan manusia dengan irâdah. Setiap langkah yang digerakkannya, berdasarkan irâdah dan ikhtiar. Meskipum kehendak Allah berlaku pada seluruh makhluk, namun manusia adalah makhluk yang melaksanakan kehendak Tuhan (hukumhukum Tuhan) dengan irâdah dan ikhtiarnya sendiri.
    • Sebenarnya hudûd merupakan irâdah dan kehendak Allah SWT yang dilakukan manusia melalui ikhtiar dan irâdahnya, sebagaimana “hukum alam" juga merupakan keingi nan dan irâdah Allah yang dijalani makhluk lain secara terpaksa. Dalam konteks inilah istilah khalîfatullâh[27] dalam Alquran mesti dipahami. Sedangkan makhluk lain dalam istilah Akjuran disebut musakharât bi amrihi (mereka yang tunduk pada perintah-Nya).[28] Kata khalîfah dan taskhîr (eksploitasi)) adalah dua kata yang mempunyai sisi persamaan dan sisi perbedaan. Persamaannya, keduanya bermakna menjalankan perintah Ilahi. Perbedaannya, khalîfah menjalankan berdasar ikhtiarnya sendiri, adapun yang Musakharât bi amrihi melaksanakan perintah tanpa ikhtiar dan irâdah atau secara deterministik dan terpaksa. Disinilah letak rahasia nilai keagungan manusia. Seandainya ketaatan manusia kepada Allah tidak terjadi karena irâdah dan ikhtiar, niscaya dia tidak memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. Dan karena itu pula Allah mengangkat manusia sebagai khalifah Allah SWT Nilai perbuatan manusia berbanding-lurus dengan usaha yang dicurahkan dalam ketaatannya kepada perintah Allah. Karenanya, bertambah besar usaha dan susah-payah manusia dalam merealisasikan suatu ketaatan, bertambah pula nilai perbuatannya. Dari sisi lain, efektifitas perbuatan yang dilakukan dengan susah-payah itu lebih tinggi. Jelas acla perbedaan yang mencolok antara nilai 'makan-minum' dan 'puasa' meski keduanya sama-sama melaksanakan perintah Allah. 'Makan-minum' dilakukan manusia tanpa susah-payah dan pengorbanan sedikitpun, karenanya nilainya pun tak berarti. Apakah maksud susah-payah? Bagaimana ia bisa muncul? Mengapa derajatnya berbedabeda? Dalam peristilahan Islami, susah-payah itu disebut ibtilâ` (pencleritaan). Pendeiitaan ini selalu vis a vis hawa nafsu dan syahwat. Seandainya hawa nafsu dan naluri yang telah diletakkan oleh Allah dalam jiwa kita tidak ada, dan sekiranya ketaatan kepada Allah tidak dilaksanakan dengan menentang hawa nafsu, maka suatu perbuatan tidak akan mempunyai nilai dan tidak akan menjadi faktor pendorong dan pendekat manusia kepada Allah. Perbedaan derajat penderitaan terjadi akibat perbedaan intensitas hawa nafsu dan syahwat. Jika hawa nafsu dan syahwat lebih menguat dan memaksa, maka penderitaan manusia dalam menahan, menentang dan menguasainya akan lebih besar. Selama perbuatan menuntut manusia untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menentang hawa nafsu dan syahwat, maka selama itu pula perbuatan akan lebih besar nilainya dalam tagarrub manusia kepada Allah, dan lebih agung pula pahala yang Allah berikan kepadanya kelak di surga.
    • Dengan demikian, jelaslah apa nilai hawa nafsu dalam menggerakkan manusia menuju Allah. Semua tagarrub mesti melewati hawa nafsu dan syahwat yang berada dalam jiwa. Nilai bipolar (berkutub ganda) hawa nafsu -sebagai tangga kesempurnaan dan juga sebagai peluncur kesesatan- ini merupakan salah satu pemikiran keislaman yang amat unik. Di bawah ini ada beberapa nash keislaman berkenaan dengan bipolaritas hawa nafsu: 1. Dari Abi Al-Bujair - sahabat Nabi SAWW - berkata, suatu han Nabi SAWW merasa lapar, lalu beliau meletakkan sepotong kerikil di perutnya dan mengatakan: "Ketahuilah! Berapa banyak orang yang kenyang perutnya dan rapi pakaiannya di dunia, tapi dia akan kelaparan dan telanjang di akhirat. Berapa banyak orang yang memuliakan nafsunya, padahal dia menghmakan dirinya. Berapa banyak orang yang menghmakan nafsunya, padahal dia memuliakan dirinya. Berapa banyak orang yang tenggelam menikmati sesuatu yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya, namun dia di sisi Allah tidak mendapat bagian apapun. "Ketahuilah bahwa 'kinerja surgawi' bagai bukit-bukit terjal yang bertebing cadas dan kinerja neraka bagai jalan mulus yang mudah dilalui nafsu. Berapa banyak nafsu yang sekejap (di dunia), justru mengakibatkan sengsara yang berkepanjangan (di akhirat). "[29] Nash di atas mengandung banyak renungan yang luar biasa. Banyak orang yang berperut kenyang, berdandan rapi, selalu memenuhi hawa nafsu clan memperoleh kelezatan tanpa pernah merasakan puas apalagi bersikap wara'... Sosok jiwa ini akan hadir di hari kiamat dalam keadaan lapar dan telanjang. Sekian banyak orang yang seakan memuliakan hawa nafsunya dengan cara memenuhi setiap ajakannya. Padahal, dengan begitu, dia hanya akan merendahkan jiwanya sendiri. Sebaliknya banyak juga orang yang bersikap keras, sinis dan acuh tak acuh akan tuntutan hawa nafsunya, padahal begitulah cara yang sebenarnya untuk raemuliakan diri manusia. Sungguh tidak sedikit manusia yang sengsara di akhirat akibat berfoya-foya dengan kelezatan hawa nafsu clan syahwatnya di dunia. Ada sebuah riwayat yang demikian bunyinya: "Ketahuilah bahwa jalan yang mengantarkan manusia menuju surga bagai jalan terjal dau bertebing." Kata al-haznah artinya ialah tanah keras yang penuh bebatuan. Perbuatan surgawi mesti melalui bukit yang tinggi nan terjal. Sedang perbuatan neraka hanya bagai berjalan di atas tanah yang mulus dengan "peluncur" nafsu, kesenangan dan kelezatan. Demikianlah, orang yang berjalan di atas tanah yang keras, terjal dan menaiki tebingtebing yang bebatuan, seakan dia melawan gravitasi. Sedangkan orang yang berjalan di tanah yang mulus, seakan dia berserah-diri pada gravitasi. Inilah perbedaan antara "kinerja surgawi" dan "kinerja neraka" serta antara ketaatan dan kemaksiatan.
    • 2. Imam Ali as pernah menukil sabda Rasulullah SAWW yang demikian bunyinya: "Sesungguhnya (jalan ke surga) penuh dengan kesusahan, sedang (jalan ke) neraka penuh dengan nafsu (Baca : kemudahan). Camkanlah! Ketaatan kepada Allah dilakukan dengan kesusahan. Sedang kemaksiatan hepada Allah dilakukan dengan nafsu. Semoga Allah merahmati orang yang menjauhkan jiwanya dari rayuan syahwatnya dan orang yang mengalahkan hawa nafsunya. Sesunggnhnya syahwat hendaknya ditarik sejauh mungkin (dari jiwa). Syahwat senantiasa rindu kepada kemaksiatan yang dilakukan dengan nafsu."[30] Nash ini mengungkap kesimpulan yang sama dengan teks-teks keislaman lainnya. Surga adalah terminal akhir gerak askendensial (menaik) manusia menuju Allah, sedang neraka adalah terminal akhir gerak deskendensial (menurun) manusia menuju kehancuran. Tujuan yang pertama itu diliputi berbagai derita dan rintangan. Berbagai clerita dan rintangan itu terjadi akibat dari upaya jiwa menentang dan menolak ajakan hawa nafsu. Adapun tujuan yang keduanya penuh clengan kesenangan yang mudah menggelincirkan seorang ke jurang hawa nafsu. Melalui sabda Nabi SAWW di atas, Imam Ali as menciptakan suatu landasan umum yaitu, tiada ketaatan yang diperoleh seorang kecuali dengan ketidaksukaan. Dan tiada kemaksiatan yang dilakukan seorang kecuali dengan kesenangan (nafsul. Setelah uraian ini, tidak sulit bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa mengapa jalan menuju kesempurnaan. pertumbuhan dan gerakan menuju Allah harus melintasi hawa nafsu. Dan hanya melalui hawa nafsu ini manusia clapat naik menuju Allah SWT Sekiranya tak ada hawa nafsu yang telah diciptakan-Nya, niscaya tak ada pula jalan yang mengantarkan manusia mendaki ke puncak ilahi. 3. Pergumulan Internal Jiwa Manusia Hawa nafsu ialah potensi yang disimpan Allah pacla diri setiap manusia. Manusia akan mengeluarkannya (mengaktualisasikannya) bila dibutuhkan. Seperti juga Allah telah meletakkan berbagai energi dalam perut bumi untuk bahan makanan, pakaian dan beragam prasarana kehidupan lainnya. Begitu pula dengan "suplai" air dan oksigen yang sangat dibutuhkan manusia. Berbagai potensi yang diberikan Allah itu antara lain, pengetahuan. kebulatan tekad, keyakinan, kesetiaan, keberanian, ketulusan, 'iffah (menjaga harga-diri), disiplin, bashîrah (visi), kreativitas, kesabaran, penolakan, penghambaan ('ubûdiyyah) serta penegasan. Kemampuan-kemampuan ini ada dalam hawa nafsu manusia secava potensial. Hawa-nafsu dan kemampuan instingtif lainnya adalah tahap kebinatangan manusia. Namun, berbeda dari semua binatang yang lain, Allah telah memberinya kemampuan untuk mengendalikan dan menghambat serta membatasi naluri-naluri ini dengan irâdah. Dan dengan begitu, kebinalan naluriah manusia dapat diubah menjadi keutamaan-
    • keutamaan ruhani, maknawi, dan akhlaki seperti bashîrah, yaqîn, azam, keberanian dan ketaqwaan. Bagaimana prosesnya naluri-naluri yang buas dan binal itu bisa berubah karena adanya "pencegahan" dan "taqwa" sehingga menjadi nilai-nilai yang tinggi dalam diri manusia? Aksi-reaksi apakah yang bisa mentrasformasikan naluri-naluri yang binal ini menjadi pengetahuan, keyakinan, kesabaran dan bashîrah? Sungguh menyesal penulis untuk mengatakan "tidak tahu!". Pintu makrifat yang lebar ini masih tertutup bagi penulis. Sampai kini, belum ada psikolog modern maupun pakar studi-studi keislaman yang bersedia membuka pintu makrifat tersebut. Meskipun demikian, kalau kita menengok din kita sendiri, maka akan kita temukan isyarat-isyarat yang jelas akan terjadinya pergumulan dan interaksi besar dalam jiwa manusia. Rasa malu, misalnya, bukan hanya sebab bagi tertekannya naluri seksual, tapi ia juga merupakan efek dari peristiwa pencegahan dan penekanan terhadap naluri lainnya. Begitu manusia membatasi seksualitasnya, dia memperoleh rasa malu terhadap praktik seksual yang bertentangan dengan akhlak, adab, estetika dan dzauq (cita-rasa Ilahi). Adab yang saya maksud bukanlah tata-cara bergaul di tempat tidur, melainkan sesuatu lebih tinggi. Adab dan dzaug yang menjadi lambang supremasi manusia adalah efek dari pengekangan dan ketaqwaan yang dilakukan manusia di bidang naluriah. Jika kita kembali pada Alquran, maka pasti kita temukan adanya beberapa isyarat yang jelas tentang adanya interaksi internal manusia. Allah SWT berfirman:"... Dan bertagwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu..." (Q.S. Baqarah : 282) Mungkinkah klausa wayu'allimukumullâh di-athaf-kan atau dikonjungsikan dengan wattagullâh, padahal keduanya tidak berhubungan? Ataukah kedua klausa ini merupakan setali tiga uang? Mereka yang akrab dengan gaya-ungkap Alquran, tidak akan meragukan lagi bahwa dua klausa itu merupakan dua sudut dari sesuatu yang sama (dalam matematika disebut ekuilateral, peny.). Ilmu (dalam ayat ini) adalah efek ketaqwaan kepada Allah SWT Ilmu seperti ini tidak diperoleh dengan belajar. la adalah nur yang dipancarkan Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Alquran dalam surah Al-Hadîd ayat 28, menyebut "nur" ini: "Hai orang-orang yang beriman (kepada rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah akan memberikan rahmat-Nya kepadamu dua kali lipat, dan menjadikan untukmu (nur) "cahaya" yang dengannya kamu dapat berjalan..." Nur, dalam ayat ini, tak lain adalah ilmu dalam ayat sebelumnya. Ilmu dan taqwa yang ada dalam surah Al-Hadîd ayat 28 dan surah Al-Baqarah ayat 282 bersifat korelatif.
    • Taqwa ialah realitas pengekangan naluri itu sendiri. Pengekangan ini bisa merubah naluri dan hawa nafsu menjadi nuv, ilmu dan bashîrah. Dalam cerita Nabi Yûsuf as yang terdapat dalam surah Yûsuf 22, Allah berfirman: "Dan tatkala dia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dengaji demikian Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." Dan kita temukan kandungan ayat yang bermiripan dalam cerita Nabi Musa yang terdapat dalam surah Al-Qashas ayat 14: "Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." Mengapa Allah mengistimewakan anugrah ini kepada Musa bin Imran as dan Yusuf as dan tidak selainnya? Apakah hikmah dan ilmu ini hanya diperuntukkan pada hamba-Nya yang tertentu dan bukan pada sembarang orang tanpa alasan? Apakah semua itu termasuk dalam sunnah Ilahiyah (keniscayaan Ilahi)? Sungguh seorang yang akrab dengan bahasa Alquran walaupun sesaat saja tidak akan gamang akan hubungan hikmah dan ilmu dalam dua surah tersebut dengan al-Ihsân pada klausa "wakadzâlika najzilmuhsinîn'. Ketika Allah menghubungkan ilmu dan hikmah yang telah diperoleh Musa as dan Yûsuf as dari Allah SWT dengan "Al-Ihsân" itu berarti - sesuai dengan sunnatullah - bahwa ihsan atau kebaikan manusia adalah penyebab datangnya rahmat Allah dan turunnya hikmah dan ilmu dari sisi-Nya. Singkat kata, ihsan dan amal baik manusia akan berubah menjadi hikmah dan ilmu. Tak pelak lagi, taqwa dan menahan nafsu adalah mishdaq (ekstensi) ihsan yang paling utama. Saya tidak ingin berpanjang-lebar dalam kajian ini. Karena, penulis merasa tidak memiliki kunci utama menuju kajian yang sangat genting ini. Bagaimanapun juga, saya bevharap Allah menyiapkan dan memudahkan orang yang "layak" untuk mengkaji subyek bahasan ini. Tak diragukan lagi bahwa jiwa manusia mengalami berbagai kausasi dan interaksi internal. Hal itu sama persis seperti kausasi dan interaksi eksternal yang terjadi dalam bidang fisika, kimia, geologi. Fisik, umpamanya, mengenal kausasi dan interaksi panas dan gerak, atau arus listrik dan gerak dan lain-lain. Oleh sebab itu, penulis dengan rendah hati mengimbau sarjana psikologi keislaman untuk mengupas secara mendalam bidang yang penting ini dari berbagai bidang psikologis dan kemudian menyimpulkan hasil studinya itu. Peran Destruktif Hawa Nafsu Hawa Nafsu dan Thaghut
    • Hawa nafsu dan thâghût -selanjutnya tagut- adalah faktor bipolar (berkutub dua) yang sangat berpengaruh dalam merusak hidup manusia. Hawa nafsu beraksi merusak manusia dari dalam, sedang tagut merusak manusia dari luar. Setan beroperasi dalam jiwa manusia melalui hawa nafsu dan di masyarakat melalui tagut. Dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kita untuk mencegah jiwa dari rayuan hawa nafsu, bahkan menyingkirkannya jauh-jauh. Allah SWT berfirman: "Janganlah kalian ikuti ajakan hawa nafsu." Q.S. Al-Nisâ` 135. Allah SWT berfirman: "... Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..." Q.S. Shâd 26 Allah SWT berfirman: " ... Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu..."Q.S.A-Maidah 48. Sebagaimana pula Allah menyuruh kita untuk mengingkari dan menjahui thaghut. Allah SWT berfirman: ''...Mereka hendak berhakim kepada tagut. Padahal niereka telah diperintah mengingkarinya. Q.S. An-Nisâ' 60. Allah SWT berfirman: uDan orang-orangyang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku". Q.S. Az-Zumar 17. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk inenyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu..." Q.S. AnNahl 36 Akal dan Agama Dalam menghadapi hawa nafsu dan tagut, Allah telah membevi manusia akal dan agama sebagai petunjuk jalan yang lurus. Peran akal ialah mengatur prilaku manusia dari dalam (jiwa) dan agama mengatur prilaku manusia dari luar. Diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali as: "Akal merupakan syariat dalam diri manusia, dan syariat adalah akal di luar manusia.”[31] Imam Musa Al-Kâzhim as berucap: "Allah mempunyai dua hujjah (bukti) atas manusia. Hujjah yang tampak (zhâhir) dan tersembunyi (bâthin). Hujjah yang tampak ialah para Rasul as dan imam as, sedaugkan hujjah yang tersembunyi ialah akal.”[32] Akal dan agama selalu bahu-membahu dalam diri manusia dan di masyarakat luas untuk menghadang hawa nafsu dan tagut.
    • Diriwayatkan dari Imam Ali as: "Perangilah hawa nafsumu dengan akalmu.”[33] Watak Destruktif Hawa Nafsu Hawa nafsu sebagai daya yang mutlak dengan tuntutan yang mutlak memiliki kemampuan luar biasa untuk merusak jiwa manusia. la tidak dapat diserupai, bahkan setan dan tagut sekalipun. Lacurnya, daya yang berkapasitas besar untuk merusak ini, laten dan tersimpan dalam jiwa manusia. Tiada jalan bagi manusia untuk bisa menghindar dari jangkauannya. Oleh karena itu, hawa nafsu merupakan satu dari dua hal yang sangat dikhawatirkan Rasulullah SAWW bila pada umatnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Sungguh yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu akan membendung seorang dari Al-Haq (kebenaran), sedang panjang angan-angan akan melalaikan seorang dari akhirat.”[34] Dalam sebuah riwayat, Imam Ali as bertutur: "Kelezatan (duniawi) itu merusak."[35] Tahap Awal Cara Kerja Hawa Nafsu Marilah kita renungkan hakikat peran destruktif yang dimainkan hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Dalam jiwa manusia - sebagaimana yang pernah saya jelaskan terdapat sejumlah sumber yang mensuplai kesadaran dan gerak manusia. Sumber-sumber inilah yang menegakkan kehidupan bendawi dan maknawi manusia. Hawa nafsu adalah salah satu dari sumber ini. Tetapi, jika ia berkuasa, maka sumbersumber yang lain akan menjadi difungsional. la akan menghentikan peran akal, kalbu, dhamîr, fitrah dan irâdah. Sabotase terhadap sumber-sumber lain manusia akan mengakibatkan kehancuran yang meluas pada kepribadian manusia. Hawa nafsu lama-kelamaan akan secara membabibuta meruntuhkan sumber-sumber lam manusia. Pada saat itu, - saat dimana sisi hevvani manusia berkuasa penuh atas manusia-manusia akan kehilangan kemanusiaan. Dan beginilah jadinya, bila faktor yang sangat konstruktif berubah menjadi destruktif. Allah SWT berfirman: "... Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya itu sungguh telah melewati batas". Q.S. Al-Kahfi 28. Maksud dari "melewati batas" di sini adalah menyia-nyiakan dan merusak. Nash-nash keislaman benar-benar memberikan perhatian yang besar atas peran destruktif hawa nafsu manusia. Tujuannya, agar manusia tidak terpasang jerat halus hawa nafsu dan cepat-cepat memetak posisi hawa nafsu dalam diri mereka.
    • Selanjutnya, saya berusaha memaparkan peran destruktif hawa nafsu dalam nash-nash keislaman, sesuai dengan metode saya dalam kajian ini. Dalam nash-nash keislaman, kita menemukan bahwa tindakan destruktif hawa nafsu mempunyai dua tahap: Pertama, merusak fungsi sumber-sumber kesadaran dan gerak manusia. Kedua, menebarkan pengaruh dan memaksakan kekuasaan eksekutif atas manusia. Dengan demikian, potensi apapun yang dimiliki manusia, seperti kecerdasan, pemahaman dan kejelian diubah menjadi aparat pemerintahan hawa nafsu. Di bawah ini, saya akan memaparkan masalah tadi dalam kaca-mata riwayat-riwayat keislaman. Tahap Pertama Nash-nash keislaman menyebutkan banyak poin tentang pengaruh destruktif hawa nafsu bagi manusia. Berikut ini beberapa di antaranya: 1- Hawa Nafsu Menutup Pintu-pintu Hati dari Petunjuk Allah Berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?". Q.S. Al-Jâtsiah 23. Firman Allah : "Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya...” Q.S. Al-Qashash 50. Mengikuti hawa nafsu akan menyebabkan tertutupnya jendela-jendela hati untuk menerima (kehadiran) Allah. Rasul-Nya, tanda-tanda kebesaran-Nya, hujjah-hujjah-Nya dan bayyinah-bayyinah-Nya. Amiril Mukminin Ali as berkata: "Meugihuti hawa nafsu akan membutakan, menulikan. dan menghmakan seseorang."[36] Amiril Mukminin Ali as juga berkata: "Hawa nafsu adalah sekutu kebutaan." [37] Beliau juga berkata: “Bila kamu mengikuti hawa nafsumu, ia akan menulikanmu dan membutakanmu." [38] Amiril Mukminin Ali as berkata: "Aku berwasiat agar kamu menjauhi hawa nafsu. Karena, ia mengajakmu kepada kebutaan; yaitu kesesatan di dunia dan akhirat."[39]
    • 2 - Hawa Nafsu Menyesatkan Manusia dan Menghalanginya dari Jalan Allah Allah SWT berfirman: "Maku datanglah sesudah mcreka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dau memperturutkan hama nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." Q.S. Maryam 59. Allah SWT juga berfirman: "... dan janganlah kamu meingikuti hawa nafsu, karena ia akon menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat di jalan Allah akan mendapat azab yang berat." Q.S. Shâd 26. Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku ialah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Karena, hawa nafsu manusia dari kebenaran dan panjang angan-angan melalaikannya dan akhirat."[40] 3 - Syahwat itu Racun Imam Ali as berkata: "Syahwat adalah racun yang mematikan.” [41] 4 - Hawa Nafsu itu Penyakit Dan Imam Ali as: "Barang siapa tergesa-gesa mendatangi syahwatnya, maka penyakit akan cepot merasukinya.”[42] Dari Imam Ali as: "Jagalah jiwau dan cengkeraman syahwat, kamu akan selamat."[43] Dari Imam Ali as: "Pangkal segala penyakit adalah mabuk kesenangan (duniawi).”[44] Dari Imam Ali as: "Pasangan syahwat adalah jiwa yang sakit dan akal yang tidak berdaya."[45] Dari Imam Ali as: "Syahwat adalah penyakit yang mematikan. Sedang obat mujarabnya ialah kesabaran."[46] Dari Imam Ali as: "Mengikuti hawa nafsu adalah penyakit segala penyakit."[47] Dari Imam Ali as: "Syahwat berawal dengan kesenangan dan berahir dengan kesedihan."[48] 5 - Hawa Nafsu adalah Awal Nestapa Manusia Dari Imam Ali as : "Hawa nafsu ialah pangkal bermacam nestapa."[49] 6 - Hawa Nafsu itu Kendaraan Fituah Dari Imam Ali as Berkata: "Hawa nafsu adalah kendaraan fituah.”[50]
    • Dari Imam Ali as: "Awal-mula terjadinya fituah karena hawa nafsu yang diikuti."[51] Dari Imam Ali as: "Waspadai kedudukan hawa nafsu kalian. Karena awalnya fituah dan akhirnya bencana."[52] 7 - Hawa Nafsu itu Keruntuhan dan Kehancuran Imam Ali as berkata: "Hawa nafsu itu membinasakan.”[53] Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu menjerumuskan seseorang ke tempat yang paling rendah.”[54] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Jangan umbar keinginan nafsu. Karena, keinginannya adalah kebinasaan."[55] 8 – Hawa Nafsu itu Kemusnahan Imam Ali as berkata: "Hawa nafsu itu adalah sesuatu yang paling memusnahkan."[56] Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu itu pongkal kemusnahan."[57] 9 - Ihwa Nafsu itu Musuh Manusia Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Awasi hawa nafsumu seperti kamu mengawasi musuhmu. Karena, mengikuti hawa nafsu adalah inusuh utama manusia.”[58] 10 - Hawa Nafsu akan Mendisfungsi Akal Irnam Ali as berkata: "Hawa nafsu adalah pantangan akal."[59] Imam Ali as berkata: "Siapa yang tidah menguasai syahwatnya berarti tidak memiliki akalnyu."[60] Imam Ali as berkata: "Hilangnya (fungsi) akal itu disebabkan (maraknya) rangsangan syahwat dan amarah."[61] Beginilah jadinya bila hawa nafsu telah berkuasa sewenang-wenang. la berubah dari faktor pembantu manusia dalam taqarrub menjadi faktor perusak yang melumpuhkan segala sumber-pokok kemanusiaan manusia. Demikianlah tahap pertama dari kerja hawa nafsu yang merupakan sisi negatif-pasif dari tindak destruktifnya. Tuhap Kedua
    • Pada tahap pertama, sifat destruktif hawa nafsu hanya sampai pada melumpuhkan fungsi irâdah, akal, dhamir, kalbu dan fitrah manusia yang menurut istilah Alquran disebut dengan "pelalaian hati" (Ighfâlul Qalb). Pada tahap ini, ia memaksakan kekuasaan eksekutifnya secara totaliter atas diri manusia. Sehingga, mau tidak mau, manusia menjadi pengikut hawa nafsunya. Menurut peristilahan, Alquran tahap kedua ini disebut dengan "Perihal mengikuti hawa nafsu'' (Ittibâu'l Hawâ). Dalam menjelaskan ke dua bagian ini Allah berfirman: "... dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas". QS. Al-Kahfi 28. Pada tahap pertama, hawa nafsu benar-benar telah mengosongkan hati manusia dari pemahaman, kesadaran, bashîrah, dan petunjuk. Kemudian, pada tahap kedua, hawa nafsu mulai memaksakan kekuasaan eksekutifnya secara utuh atas diri manusia, sehingga dia bertekuk-lutut kepadanya. Jika kedua tahap perusakan ini telah terjadi, akibatnya seperti disebut Alquran. "Keadaannya telah melampaui batas" (wa kâna amruhû furuthô). Di bawah Penawanan Hawa Nafsu Pada titik ini manusia telah sepenuhnya dalam genggaman dan penjara hawa nafsu. Pemenjaraan hawa nafsu atas manusia jauh lebih ketat daripada yang dilakukan manusia pada tawanan perangnya. Karena, tawanan perang dipenjarakan sebatas supaya dia tidak lari, melawan atau berbicara selain yang diperintahkan dan berbagai jenis eksploitasi lainnya. Bagaimanapun juga, dia tetap selalu bebas menjalankan tiga hal: 1. Penginderaan; baik pendengaran ataupun penglihatannya. Dia masih mampu melihat dan mendengar seita merasakan secara merdeka. Pihak penawan tidak akan mampu memaksakan perasaan tertentu pada tawanannya. Sehingga -misalnya- tawanan itu melihat yang bagus menjadi jelek atau sebaliknya. 2. Akal. Tawanan selalu mampu berfikir dan bernalar sekehendaknya. Kebebasannya dalam hal ini persis seperti para penawannya. Lebih jauh, pihak para penawan mustahil bisa memaksakan pola pikir seperti yang mereka inginkan. 3. Hati. Tawanan selalu bisa menyukai dan membenci semau hatinya tanpa interferensi orang yang menawannya. Bahkan, kadang dia membenci dan kadang mencintai musuh-musuhnya. Adapun tawanan hawa nafsu diperlakukan secara jauh lebih kejam. Karena, hawa nafsu mampu menembus indera, akal dan hati seseorang. la bisa melakukan campur-tangan dan memaksakan dominasinya rerhadap totalitas manusia. Maka. manusia melihat segala
    • sesuatu sesuai dengan kehendaknya; jelek menjadi indah dan indah menjadi jelek atau baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik. Di sini, hawa nafsu merubah penalaran, pemikiran, pemahaman dan pengetahuan manusia tentang kebenaran. Akhirnya. ia menjorok niasuk ke dalam hati seorang dan merubah cinta menjadi benci menurut apa yang dikehendakmya. Selanjutnya manusia akan mencintai musuh-musuh Allah yang seharusnya dia benci dan membenci wali-wali Allah yang seharusnya dia cintai. Lebih-lebih, hawa nafsu bisa menembus dhamir manusia; benteng pertahanan akhir dalam melawan hawa nafsu. Lalu ia mencerabutnya. Setelah itu semua, manusia hidup tanpa kekebalan dalam menghadapi setiap serangan hawa nafsu, setan dan tagut. Analogi di atas sebenarnya telah dijelaskan nash berikut ini. Diriwayatkan oleh Al-Âmidi dalam kitab Ghurarul Hikam dari Amiril Mukminin Ali as:"Hamba syahwat lebih hina claripada hamba perbudakan.”[62] Kedua bentuk perbudakan ini sama-sama menghmakan, mengeksploitasi dan mencekik, tapi yang dialami hamba perbudakan sangat ringan bebannya daripada yang dialami hamba hawa nafsu. Tawanan Hawa Nafsu dalam Nash-nash Keislaman Mari kita renungkan ayat berikut ini, agar kita mengetahui betapa ketatnya penawanan hawa nafsu terhadap totalitas manusia. Allah SVVT berfirman: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesuduh Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?' Q.S. AlJâtsiah 23. Demikianlah Allah mencabut pendengaran, penglihatan dan hati manusia, maka Hia berubah menjadi yes-man; tidak mempunyai prinsip. Dia limpahkan segala urusannya kepada hawa nafsu yang telah menjadi tuhannya. Ini ialah puncak ketaatan manusia terhadap hawa nafsu. Imam Ali as diriwayatkan pernah berkata: "Siapa yangg menguasai hawa nafsunya, urusannya akan jaya. Dan siapa yang dikuasai hawa nafsunya, derajatnya okan hina.”[63] Imam Ali as berkata: "Binasalah diri seorang yang dikuasai syahwatnya dan diperbudak kerakusannya."[64] Imam Ali as juga pernah berkata demikian: "Penyembah syahwat adalah tawanan yang tidak akan merdeka."[65]
    • Imam Ali as berkata: "Berapa banyak akal yang menjadi tawanan pada hawa nafsu yang berkuasa."[66] Dari Imam Ali as: "Hawa nafsu selalu memperbudak orang-orang bodoh.”[67] Ini merupakan ungkapan yang jeli. Sebab orang bodoh yang terseret di belakang syahwat akan mudah keluar dari kerajaan jiwanya dan terperangkap jerat halus syahwat. Kemudian -secara oportunistik- hawa nafsu menunggangi kebodohan untuk menyeret akal, irâdah dan hati ke dalam tampuk kekuasaannya. Semua itu dilakukan secara tersembunyi dan samar-samar, mirip tindak pencurian manusia. Perbuclakan Hawa Nafsu atas Manusia Derajat dominasi hawa nafsu ini akan menjurus pada penghambaan manusia kepadanya. Penguasaan yang dipaksakan hawa nafsu atas manusia merupakan bentuk penghambaan. Untuk lebih jelasnya, mari kita renungkan firman Allah di bawah ini: "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesuduh Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?' Q.S. Al-Jâtsiah 23. Dan firman Allah SWT berbunyi: "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat mienjadi pemelihara atasnya?" Q.S. Al-Furqân 43. Bukan alang-kepalang, memang ada manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan yang dia sembah dan dia taati sebagai ganti dari Allah SWT. Rasulullah SAWW pernah bersabda: "Tiada tuhan yang disembah selain Allah lebih besar di sisi Allah (dosanya) daripada hawa nafsu yang diikuti."[68] Imam Ali as diriwayatkan pernah berkata: "Orang bodoh adalah hamba syahwatnya."[69] Mereka Melupakan Allah dan Diapun Melupakan Mereka Jika manusia sampai pada keadaan di mana dia terdis-integrasi dari poros 'ubudiayah dan ketaatan Ilahi dan masuk ke poros penuhanan hawa nafsu, maka dia mengalami kemurtadan yang mutlak. Suatu hal yang pantas untuk disematkan kepada mereka adalah firman Allah: "Mereka melalaikan Allah, maka Kami (Allah) melalaikan mereka."Q.S. At-Taubah 67.
    • Pada saat seorang keluar dari ‘ubudiyyah Ilahi kepada penuhanan hawa nafsu, Allah melupakan mereka. Setelah itu, dia menjadi bulan-bulanan dan mangsa setan. Penjelasan Alquran Tentang Peran Destruktif Hawa Nafsu Allah memutar ulang ceiita Bal'am bin Ba'urah dalarn surah Al-A'raf: "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuaan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia (lebih) cenderung ke bumi dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, diulurkannya lidalmya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." Q.S. Al-A'râf 175176. Konon Bal'am bin Ba’urah adalah cendikiavvan Bani Israil yang telah dianugrahi oleh Allah beberapa ayat yang jelas dan diberikannya pula ilmu dan makrifat serta dikarunia doa yang mujarab. Musa bin Imran as pernah memohon bantuan kepadanya dalam urusan-urusannya, namun Bal'am mengikuti hawa nafsunya. Seorang yang 'mengikuti hawa nafsu', seperti cerita tersebut, bisa terjadi dalam dua bentuk di bawah ini: 1. Menggunakan ilmu untuk meraih tujuan-tujuan pribadi dan berusaha mendapatkan kebanggaan dan nama baik di hadapan manusia. 2. Menggtmakan ilmu untuk mendukung tagut demi rnendapatkan upah. Dalam kedua bentuk ini salah satunya adalah hawa nafsu yang mengusai ilmunya. Sebenarnya, orang berilmu bukan dipandang dari banyaknya ilmu yang dimiliki (kuantitas). Karena perpustakaan justru lebih banyak memuat ilmu ketimbang kebanyakan ulama. Tetapi, nilai ilmu dilihat dari siapa yang membawa dan bagaimana menggunakannya. Jika pengemban ilmu adalah orang yang berakhlak baik, seperti akhlak para Nabi, atau ilmunya difungsikan untuk memberi hidayah dan khidmat, maka dia adalah orang alim yang sejati. Kalau tidak, maka kealimannya tidak akan bernilai apa-apa. Dalam khutbah Syiqsyiqiyyah, Imam Ali bertutur tentang peran orang alim dan tanggung-jawabnya. Demikian tuturnya: "Allah tidak menentukan ulama untuk bertindak seperti orang zalim yang kekenyangan atau orang teraniaya yang kelaparan."
    • Orang alim yang bangkit melaksanakan ketenluan Allah, akan diangkat derajat, nilai dan kehormatannya setinggi-tingginya. Menurut narasi dalam sebuah kitab tafsir, Bal'am bin Ba’urah adalah orang yang hawa nafsunya menguasai ilmunya. Maka marilah kita melihat akibat apa yang diperolehnya seperti yang terdapat dalam ayat tadi. Ayat tadi, meski bercerita tentang Bal'am bin Ba’urah -kalau riwayat itu sahih-, namun hukumnya berlaku pada semua manusia yang hawa nafsunya menguasai dirmya sendiri. Imam Al-Bâqir as bertutur: "Asalnya, hukiman iti ditujukan kepada Bal'am bin Ba’urah. Kemudian, Allah menggunakannya sebagai perumpamaan akibat bagi setiap manusia dari kalangan ahli Kiblat - yang mengutamakan hawa nafsunya di atas perintah Allah."[70] Marilah kita renungkan beberapa akibat yang dialami orang yang telah mengikuti hawa nafsu sebagaimana yang diceritakan Alquran dalam beberapa simpulan berikut ini. 1. Tendensi Berkekulan di Bumi Tenclensi ini ialah keterpurukan manusia kepada kehidupan duniawi. Karena bumi adalah dunia, maka tendensi berkekalan ke bumi berlawanan dengan kenaikan dan transendensi manusia darinya. Allah herfirman: "Dan kalau Kami menghendaki, sesunggnhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia (lebih) cenderung ke bumi dan menuruti hawa nafsunya yang rendah...". Ayat ini menunjukkan pengertian keterjerumusan ke dunia. Apabila pengangkatan diri manusia dari bumi (transendensi) mendapat penawanan yang luar biasa dari "gravitasi" bumi, maka berkekalan di dalamnya adalah "hukum alam" (yang tentunya sangat mudah dilakukan – Peny.). Dengan demikian, mengangkat diri dari al-hayah ad-dunya dan keterjerumusan di dalamnya merupakan suatu perlawanan yang luar biasa beratnya. Mengangkat diri dari dunia adalah perkara yang amat sukar, sedangkan tunduk pada dunia adalah perkara menerima daya-tarik dan rayuan dunia. 2. Melepaskun Diri dari Ayat-Ayat Allah Maksud dari melepaskan diri dari ayat-ayat Allah adalah melepaskan diri dari kesadaran dan pengetahuan tentang ayat-ayat Allah. Disamping juga berarti melepaskan diri dari hikmah, makrifat dan bashîrah. "Keterlepasan" (insilâkh) ialah lawan dari "kelengketan" (iltishâq). Dengan kata lain, keterlepasan adalah keterpisahan yang sempurna antara dua hal.
    • Oleh sebab itu, manusia yang hawa nafsunya adalah hakim dirinya, sama-sekali tidak terkait dengan kesadaran dan bashîrah pada ayat-ayat Allah. Akibatnya, wadah-wadah dalam jiwa mereka akan menolak ilmu dan hikmah, seperti perut yang sakit menolak makanan yang lezat. Ketika wadah jiwa seorang telah dipenuhi dengan hawa nafsu, maka ia akan menolak ayat-ayat Allah, makrifat, bashîrah, hikmah dan beragam keutamaan lainnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Hati yang telah dipenuhi oleh berbagai syahwat, tidah akan bisa menerima sifat wara".[71] Rasulullah SAWW bersabda juga: "Hati yang telah diperdayai oleh syahwat, tidah akan bertempat di malakût as-samâ' (kemaharajaan langit)."[72] Imam Ali as berkata: "Hati yang dibelenggu syahwat tidak akan dapat memanfaatkan hikmah."[73] Hati adalah tempat yang tidak mungkin akan berkumpul di dalamnya hawa nafsu dan dzikrulah secara berbarengan. Allah SWT berfirman: "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam satu rongganya..." Q.S. Al-Ahzâb 4. Jadi, bila manusia mengikuti hawa nafsu, dia pasti lupa terhadap dzikrullah. Sebaliknya pun demikian. Allah SWT berfirman: "...dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." Q.S. Al-Kahfi 28. 3. Penguasaan Setan atas Budak Hawa Nafsu Allah SWT berfirman: "Setan membuntutinya (sampai tergoda)." Maksudnya setan benar-benar akan memperdaya manusia semampunya. Mengikuti hawa nafsu berarti memperkuat daya-cengkeram setan atas manusia. Dengan perkataan lain, lebih sering seorang mengikuti hawa nafsu, lebih besar peluang dan kemampuan setan untuk menguasai manusia. 4. Kesesatan dan Penyimpangan Allah SWT berfirman: " ... maka ia termasuk orang-orang yang sesat." lni adalah konsekuensi logis bagi mereka. Karena orang yang mengikuti hawa nafsu pasti akan lalai terhadap dzikrullah dan setan pun mengusainya. Maka ia tidak mungkin mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar dan hidupnya pun tidak akan lurus. Seluruh hidup dan sepak-terjangnya selalu dalam kebingungan dan kesesatan.
    • 5. Kerakusan Allah berfirman: "... maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga)...". Inilah penyakit yang dikenal dengan nama "anjing gila". Penyakit ini berupa rasa haus yang tidak dapat terpuaskan. Dihardik atau dibiarkan, anjing dalam keadaan seperti ini akan terus menjulur-julurkan lidahnya. Demikian juga orang yang mengikuti hawa nafsu. Dia akan selalu merasakan haus terhadap dunia, segala keindahan dan harta benda duniawi bahkan dengan kesemuannya itu pun tidak akan memuaskannya baik diwaktu kaya mau pun miskin. Sebagaimana anjing gila yangselalu menjulurkan lidahnya, baik ketika ada air atau tidak, bahkan ia tidak merasa puas dengan minum air. Rasulullah SAWW bersabda: "Bilamana anak cucu Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya dia mengharapkan yang ketiganya."[74] Ketika menjawab pertanyaan orang yang mengeluhkan kerakusannya kepada dunia, Imam Shâdiq as berkata: "Jika sesuatu yang mencukupimu itu memuaskanmu, maka yang sedikit saja sudah mengayakaumu. Jika sesuatu yang mencukupimu itu tidak juga memuaskanmu, maka semua apa yang ada di dunia ini tidak akan memuaskanmu."[75] Terapi Hawa Nafsu Kemampuan Destruktif Hawa Nafsu Peran penting dan manfaat hawa nafsu pada manusia, sebanding clengan besarnya potensi dan kemampuannya. Dan besar potensinya sebanding lengan daya rusaknya. Tak diragukan lagi, hubungan timbal balik yang demikian itu benar-benar ada dalam jiwa manusia. Hawa nafsu merupakan motor siklus kehidupan. Tanpanya, yakni tanpa seksualitas, keposesifan, egoisme, selera makan-minum, mekanisme bela-diri dan daya amarah, gerobak kehidupan manusia lakkan pernah bergerak. Peranannya yang besar, efektif dan efisien sebagai penggerak sebanding dengan peranannya sebagai perusak. Imam Ali as berkata: "Amarah akan merusak hati dan menjauhkannya dari kebenaran."[76] Imam Ali as juga berkata: " Banyak akal yang lunglai akibat gencarnya keinginan."[77] Antara Pengekangan dan Pengumbaran Hawa Nafsu
    • Oleh sebab itu, sikap yang benar dalam menghadapi hawa nafsu bukanlah pengekangan total. Karena, hawa nafsu adalah faktor yang berguna menggerakkan kehidupan manusia. Mengabaikan dan menyia-nyiakan peran hawa nafsu akan mengakibatkan lumpuhnya faktor terpenting yang ada dalam diri manusia sebagai penggerak utama kehidupannya. Bahkan, pengekangan dan pengebirian naluri akan menebarkan gejolak jiwa yang sangat tidak sehat bagi kepribadian manusia. Sebaliknya, mengumbar tuntutan hawa nafsu tanpa pernah membatasi adalah sikap yang tidak bisa dibenarkan juga. Sebab, pada saat itu. peran positifnya akan berubah menjadi peran perusak. Dan ini sungguh membahayakan kehidupan manusia. Atas dasar ini, Islam menentukan sikap jalan tengah atau moderat terhadap hawa nafsu; la mengakui peran pentingnya dan tidak melecehkan keberadaannya. Allah SWT berfirman: "Diperhiaskan pada manusia kecintaan kepada berbagai syahwat (apa-apa yang diingini); dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang..." Q.S. Âli ‘Imrân 14. Dan firman Allah SWT: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia..." Q.S. Al-Kahfi 46. Pada titik ini, Alquran mengakui keberadaan hawa nafsu dan menganggapnya sebagai perhiasan dan keindahan. Islam tidak pernah memandangnya sebagai hal yang jelek dan keji bagi kehidupan manusia. Titik di atas sangat penting untuk memahami sikap Islam terhadap hawa nafsu dan syahwat di mana Islam membolehkan mengikuti ajakan syahwat dengan menikmati keindahan kehidupan manusia. Allah SWT berfirman: "Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu..." Q.S. Thâhâ 81. Allah SWT berfirman: "... dan jangonlah kamu melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) dunia..." Q.S. Al-Qashash 77. Di sisi lain, Islam tidak memperkenankan manusia mengikuti semua ajakan hawa nafsu atau hanyut dalam menurutinya tanpa ada pengendali dan pembatasan. Abu Abdillah as berkata: "Janganlah kamu biarkan nafsu dan kemauannya, karena kemauan nafsu membawa kebinasaan."[78] Islam juga menetapkan seperangkat penghalang dan pembatas aktivitas hawa nafsu dan syahwat. Dan ini adalah poin ketiga tentang sikap Islam dalam membatasi gerak Hawa nafsu, seperti memenuhi kebutuhan seksual tidak dilarang syariat dan bukan masalah
    • yang hina. Namun. Islam membolehkan dan menganjurkannya dengan meletakkan batasan-batasan menurut ketentuan aturan syariat. Dan contoh lain, cinta harta tidak dilarang oleh Islam, malahan dibolehkan. Namun, Islam meletakkan beberapa ketentuan untuk mengaturnya. [1] Penerjemah adalah salah seorang staf pengajar di Pesantren "Al-Ma'hadul Islami" (YAPI - BANGIL) [2] Beliau udalah salah seorang alumni "YAPI - BANGIL". Aktif dalam menerjemahkan dan mengedit huku-huku keislaman. Dalam huku ini selain memberi pengantar dan editor beliau |uga ikut andil dalam menterjemahkannya. Sekarang sebagai staf ahli pada Penerbit Pesona Bandung. [3] 'Uddatud Dâ'î, karya Ibnu Fahd Al-Hilly, hal. 79; Ushûl Al-Kâfî, juz II. hal. 335; Bihârul Anwâr, jld. 70 hal. 78, 85, 86; Al-Jawâhirus Saniyah Fi Al-Ahâdîts Al-Qudsiyah, karya Al-Hur Al-Amili hal. 322. Dan diriwayatkan pula oleh Syaikh Muhammad Al-Madany dengan redaksi yang hampir sama dalam kitab AlIttihâfât Al-Saniyah Fi Al-Ahâdîts Al-Qudsiyah hal. 37, cet. II. [4] Ushûl Al-Kâfi, 2:335. [5] Ushûl Al-Kâfi, 2:335. [6] Al-Jâmi’ Ash-Shaghîr, karya Suyuti yang disyarahi oleh Al-Munnawi juz II hal. 220. [7] Majmu'atul Warrâm/Tanbîhul Khawâtir, hal.163 [8] Ushûlul Kâfî, 2:139. [9] Bihârul Anwâr, 73:170. [10] Diriwayatkan dari Rasulullah SAWW: Disaat anak Adam sudah lanjut usia, yang masih melekat padanya adalah dua hal : 1. Keinginan yang kuat (sikap rakus) 2. Angan-angan. Diriwayatkan oleh Anas dari Rasulullah (Dalam Kitab Al-Jâmi’ush Shaghîr, karya Suyûthî, bagian huruf Ba, Juz II, Hal, 371. Aku pernah berteman dengan seorang hamba yang saleh, jiwanya ditentramkan oleh Allah sejak masa mudanya. Waktu aku berjumpa dengannya, ia berumur 90 tahun. Suatu ketika ia berkata padaku: Sesungguhnya induk syahwat ada tiga hal: 1. Seks 2. Harta 3. Kedudukan. Sungguh aku bisa untuk mengendalikan diri dari yang pertama dan yang kedua semenjak usia mudaku, tapi untuk yang ketiga, aku masih selalu merasakan bahayanya dan aku takut terjerumus dalam cengkeramannya. [11] Bihârul Anwâr, 70:76 Hadis ke-4. [12] Nahjul Balâghah, Muhammad Abduh, 1:44 Khothah 15. [13] Maksucl luiwa nafsu di sini hukan semua ghorîzah. Karena ada sebagian ghorîzah yang tidak sesuai dengan kaidah ini. [14] Ghurarul Hikam, karya Amudi, 1:380. [15] Bihârul Anwâr, 73:23.
    • [16] Tuhaful Uqûl, hal. 96. [17] Ghurarul Hikam, karya Amudi, 2:121. [18] Bihârul Anwâr, 17:177. [19] Wasâ`ilusy Syî’ah, Kitah Al-Jihâd (Jihâd Al-Nafs) bab IX, hadis no. 2. [20] Bihâul Anwâr, 1:117. [21] Nahjul Balâghah, Khutbah untuk orang-orang hertaqwa (Hammâm). [22] Ghurarul Hikam, karya Amudi, 2:111. [23] Bihârul Anwâr.l2:68 ; Nahjul Bulâghah, Hikmah : 233. [24] Ghurarul Hikam, karya Amudi, 1:1 18. [25] Nahjul Balâghah, Hikmah : 31. [26] Ghurarul Hikam. [27] Al-Baqarah : 30. [28] Q.S. Al-A'râf : 54 dan Q.S. An-Nahl : 12 dan 79. [29] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Al-Jauzi, hal. 38 yang juga diriwayatkan Suyûthî dalam Al-Jâmi'ush Shaghîr. [30] Nahjul Balâghah, Khuthbah 176. [31] Majma'ul Bahrain, karya Al-Thuraihi, bagian "Akal". [32] Bihârul Anwâr, 1:137; Ushûlul Kâfî, 1:16. [33] Nahjul Balâghah. [34] Bihârul Anwâr, 70:88. [35] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:13. [36] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:242. [37] Nahjul Balâghah, Khotbah, hal. 31. [38] Ghurarul Hikam, Al-Âmidi, 1:260. [39] Mustadrak Wasâ`ilisy Sui’ah, 2:345. [40] Al-Khishâl, karya Ash-Shadûq, 1:27; Bihârul Anwâr, 70:75.
    • [41] Ghurarul Hikan, karya Al-Âmidi, 1:44. [42] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:201. [43] Ibid. [44] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:372. [45] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:77-78. [46] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:90. [47] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:72. [48] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1: 190. [49] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1: 50. [50] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:51. [51] Nahjul Balâghah, Khutbah 50. [52] Nahjul Balâghah, Khutbah, 50. [53] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1: 12. [54] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1: 65. [55] Al-Bihâr, 70:89, Hadis : 20. [56] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:180. [57] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:47. [58] Al-Bihâr, 70:82, Hadis : 12. [59] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:272. [60] Mustadrak Wasâ`ilusy Syi’ah, 2:287. [61] Ibid. [62] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:40. [63] Mustadrak Wasâ`ilisy Syi'ah, 2:282. [64] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:195. [65] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:40
    • [66] Nahjul Balâghah, bab Al-Hikam, No. 211. [67] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:45. [68] Ad-Durarul Mantsûr, 5:72; Thabarî dalam kitab Al-Kabîr; At-Targhîbb wat Tarhîb, 1:86. [69] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:28. [70] Majma' Al-Bayân dalam menafsirkan surah Al-A’râf ayat 175-176. [71] Majmû' Warrâm/Tanbîhul Khawâthir : 362. [72] Ibid. [73] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:344. [74] Majmû' Warrâm/Tanbîhul Khawâthir : 163. [75] Ushûlul Kâfî, 2:139. [76] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:67. [77] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:198. [78] Ushûlul Kâfî, 2:337. BAGIAN KEDUA Tugas Akal dalam Menggendalikan Hawa Nafsu Akal memainkan peran penting dalam membatasi dan mengendalikan hawa nafsu manusia. la juga berperan mem bantu manusia agar tidak selalu memenuhi segala ajakan nafsunya. Kata 'aql atau 'iqâl dalam bahasa Arab mempunyai arti 'ikatan' dan 'pembatasan'. Dan begitulah peran yang harus diambil akal dalam menghadapi hawa nafsu manusia. Pengertian ini telah disinyalir dari hadis Rasulullah SAWW sebagai berikut: "Sesungguhnya akal merupakan pengikat kebodohan. Sedang nafsu bak binatang yang sangat buas.” [1] Sebenarnya banyak sekali riwayat yang menjelaskan pengertian ini, di antaranya ialah: Imam Ali as berkata: "Pikiranmu akan menunjukkan pada jalan yang rasyâd (lurus)." [2]
    • Imam Ali as berkata pula: "Jiwu memendam berbagai hasrat hawa nafsu. Dan akal yang bertugas melarang dan mencegahnya. " [3] Dari Imam Ali as: "Jiwa itu liar. Dan tangan-tangan akallah yang akan memegang kekangnya." [4] Dari Imam Ali as: "Hati memendam berbagai hasrat jahat, dan akal yang mencegahnya." [5] Dari Imam Ali as: "Buah akal ialah benci dunia dan mengekang hawa nafsu." [6] Peran yang dimainkan akal dalam kehidupan manusia ialah menahan dan membatasi gerak laju hawa nafsu serta mencegah sikap ekstremis dalam memenuhi segala luntutan liawa nafsu. Besar kesempurnaan dan kekuatan akal, sebesar taufik yang dimiliki manusia dalam mengendalikan gerak hawa nafsu. Imam Ali as berkata: "Akal yang sempurna akan mencegah tabiat jelek." [7] Artinya, menahan dan menundukkan hawa nafsu meru pakan tanda sehatnya akal. Imam Ali as berkata: "Peliharalah akal dengan menen tang hawa nafsu dan menjauhkan diri dari dunia”. [8] Imam Bâqir as berkata: "Akal (yang sebenarnya) ialah yanig menentang hawa nafsu." [9] Imam Ali as bertutur: "Barangsiapa menjauhi hawa, maka akan selamat/sehat akalnya." [10] Akal dan hawa nafsu sania-sama berperan vital dalam hidup manusia. Hawa nafsu memotori siklus hidup manusia, sedang akal berperanan sensitif dalam membatasi, mengen dalikan, serta mencegah hegemoni dan perusakan hawa nafsu atas totalias manusia. Akal dan Agama Tugas agama sama dengan tugas akal dalam membatasi hawa nafsu dan mengendalikan tindakan-tindakannya yang semena-mena. Visi kerja akal dan agama sangat bersesuaian. Karena, agama adalah fitrah. Allah berfirman: "... (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus..." Q.S. ArRûm 30.
    • Fitrah, yang mengusai manusia dan sepenuhnya di terima akal itu adalah agama Allah yang jadikan-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Maka dari itu, agama menopang peran akal dalam mengendalikan hawa nafsu. Di lain pihak, agama memerankan akal dalam mengendalikan hawa nafsu. Sesungguhnya, akal dan a gama ialah dua sisi dari satu mata uang. Imam Ali asberkata: "Akal adalah syariat dalam (inter nal) dan syariat adalah akal luar (eksternal)." [11] Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: "Sungguh Allah mempunyai dua hujjah atas manusia; hujjah Zhâhir dan Bâthin. Adapun hujjah yang tampak ialah para rasul as, Nabi as dan Imam as. Sedangkan hijjah yang tersembunyi ialah akal.” [12] Dari Imam Shadiq as: "Hujjah Allah atas para hamba- Nya ialah nabi. Dan hujjah antara para hamba dan Allah adalah akal." [13] Tiga Peran Akal Akal mempunyai tiga peran penting dalani kehidupan manusia. 1. Mengenal Allah SWT ialah pangkal dan titik-tolak tugas akal. 2. Keraatan mutlak kepada segala perintah Allah SWT Mengenal rubûbiyyah Allah dengan baik akan menghasilkan ketaatan dan 'ubûdiyyah. 3. Takwa keparla Allah SWT, yang merupakan sisi lain dari ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah mempu nyai dua sisi; Pertama, melaksanakan kewajiban. Kedua, mencegah diri dari keharaman. Takwa adalah mencegah jiwa daii hal-ihwal yang di haramkan. Barang kali beberapa nash di bawah ini bisa mempei1- jelas tiga peran akal tersebut. Rasulullah SAWW bersabda: "Akal terbagi menjadi tiga bagian, dan barangsiapa menyandangnya, maka sempurnalah akalnya, dan yang tidak, dia tidak berakal: 1. Makrifat yang benar tentang Allah SWT. 2. Ketaatan yang mutlak kepada Allah SWT. 3. Kesabaran yang mendalam untuk menjalankan pe rintah-Nya." [14]
    • Adapun maksud rlari 'sabar dalam menjalankan perin tah-Nya' ialah ketakwaan dan pengekangan hawa nafsu. Sebab menahan dan menundukkan hawa nafsu memerlukan kesabaran. Di bawah ini saya akan mengurai ketiga peran akal di atas. 1. Makrifat dan Argumentasi Tugas pertama akal adalah makrifat, tahu dan menge tahui atan tugas-tugas epistemologis lainnya. Akal meru pakan sarana pengetahuan dan penyingkapan berbagai realitas alam. Berbeda dengan pandangan kaum sufi yang menjatuhkan, bahkan pada tingkat tertentu mengelaminasi akal sebagai wahana makrifat atau penyingkap berbagai haki kat kosmos, Penciptanya dan alam gaib. Islam sepenuhnya mengesahkan konklusi rasional. Is lam menganggapnya sebagai wahana pengetahuan tentang cakrawala alam fisik dan metafisik: Tuhan, berbagai kewajiban-Nya dan larangan-Nya atas manusia. Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya seluruh kebaikan hanya dimengerti oleh akal." [15] Rasulullah SAWW juga bersabda: "Mintalah petunjuk kepada akal, niscaya kamu akan mendapatkannya. Dan ja ngan menentangnya, niscaya kamu akan menyesal." [16] Imam Ali as berkata: "Akal adalah sumber pengetuhuan dan pengajak kepada pemahaman." [17] Dari Imam Shâdiq as: "Akal adalah petunjuk orang mukmin”. [18] Selain peran dan nilai akal dalam menguak alam se mesta, riwayat-riwayat keislaman menegaskan bahwa Allah berhujjah kepada para hamba-Nya melalui akal. Argumentasi Ilahi dengan akal dan berbagai implikasinya berupa, siksaan dan tanggung-jawab, menunjukkan kepada kita betapa agung nilai akal clalam kehidupan manusia dan dalam agama Allah (Islam). Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: "Sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia; hujjah zhâhir dan hujjah bâthin. Adapun hujjah zhâhir ialah para Rasul, Nabi dan Imam as. Sedangkan, hujjah bâthin ialah akal" [19] Imam Mûsâ bin Ja'far as juga berkata: "Allah benar- benar telah menyempurnakan hujjah-hujjah-Nya pada manusia melalui akal, membukakan (akal mereka) dengan albayân (penjelasan) dan menunjukkan mereka pada rubûbi yah-Nya dengan berbagai dalil (bukti)" [20] Jadi, akal ialah hujjah buat manusia dan hujjah Allah buat hamba-hamba-Nya. Tanpa nilai besar (epistemologis dan aksiologis – Peny.) yang dimiliki akal dalam Islam untuk
    • mengetahui dan memahami sesuatu, maka niscaya ia tidak bakalan menjadi hujjah atau berhujjah dengannya. 2. Ketaatan kepada Allah SWT Nilai agung yang dimiliki pengetahuan dan idrâk (kog nisi atau persepsi) teoretis itu, pasti akan melahirkan berbagai implikasi pengetahuan praktis tentang serangkaian ketentuan, baik yang wajib maupun yang haram bagi manusia. Pengetahuan teoretis manusia tentang rubûbiyyah dan ulûhiyyah Allah dan tentang 'ubûdiyyah (penghambaan) manusia akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi praktis seperti ketaatan dan komitmen dalam melaksanakan perin tah-perintah-Nya. Di sinilah terletak keistimewaan akal; memposisikan manusia sebagai pelaku perintah dan larangan -selanjutnya- sebagai penerima pahala dan siksa - ketaatan dan kemak siatannya. Mari kita cermati riwayat-iiwayat kislaman berikut ini: Imam Abu Ja'far Al-Bâqir as berkata: "Allah menciptakan akal lalu mengajaknya berbicara. Menghadaplah kemari! Maka akalpun menghadap. Berpalinglah! Maka iapun berpa ling. Kemudian Allah berfirman: "Demi keagungan dan kebe saran-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Aku cintai daripadamu. Aku tidak menyempurnakanmu (memberi kan) kecuali kepada orang yang Aku cintai. Ketahuilah hanya kepada kamulah Aku memerintah, melarang, menyiksa dan memberi pahala.” [21] Abu Abclillah, Ja'far Ash-shâdiq as berkata: "Allah men ciptakan akal, lalu menyuruhnya berpaling, maka iapun ber paling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, maka iapun menghadap. Lantas Allah berfirman: Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih baik daripadamu. Hanya kepadamuluh Aku memerin tah, melarang, memberi pahala dan menyiksa." [22] Masih banyak nash lain yang senada yang menjelaskan kepatuhan akal kepada Allah SWT. Perkara itu terungkap melalui bahasa simbolik yang terdapat pada kalimat "Allah berfiman.: Menghadaplali! Akalpun menghadap. Kemudian Dia menyuruhnya berpaling, maka akalpun berpaling." Dalam nash-nash keislaman, bahasa simbolik sangat populer untuk menjelaskan hal-hal seperti ini. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali as menjelaskan hubungan kausal antara pengetahuan teoritis dan praktis: "Orang berakal, bila mengetahui sesuatu pasti mengamalkan nya. Dan bila mengamalkannya, pasti mengikhlaskan amaln ya”. [23] Adapun nash-nash keislaman yang memuat peran akal dalam mewujudkankan kepatuhan, penghambaan dan ketataan manusia kepada perintah Allah SWT sangat banyak sekali. Saya akan menyebutkan beberapa di antaranya di bawah ini:
    • Rasulullah SAWW bersabda: "Orang yang berakal adalah orang yang taat kepada Allah." [24] Nabi Muhammad SAWW pernah clitanya, apakah akal itu? Beliau menjawab: "la adalah (alat) untuk ketaatan kepada Allah. Karena, orang-orang yang taat kepada Allah adalah orang-orang yang berakal." [25] Imam Ja'far Ash-shâdiq as pernah ditanya, apakah akal itu? Beliau menjawab: "Akal adalah alat yang digunakan untuk menyembah (beribadah) kepada Ar-Rahman (Allah) dan untuk memperoleh surga-Nya. " Kemudian beliau juga ditanya, lalu gerangan apakah yang dimiliki Mua'wiyah itu? Beliau menjawab: "Itu adalah nakrâ`atau syaithanah (tipu daya setan)." [26] Imam Ali as berkata: "Orang yang poling berakal di antara kalian adalah orang yang paling taat kepada Allah." [27] Abu abdillah Ash-shâdiq as berkata: "Orang yang berakal adalah orang yang merendah dalam memenuhi pang gilan kebenaran." [28] Maksud hadis ini ialah bahwa akal akan merendahkan (menundukkan) manusia agar memenuhi panggilan Allah un tuk taat kepada- Nya. 3. Sabar dalam Menentang Ajakan Hawa Nafsu Ini adalah peran ketiga yang telah ditentukan Allah bagi akal dan ini adalah yang paling berat dari sekian banyak peran yang dimainkannya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, peran ini merupakan dimensi lain ketaatan kepada Allah. Dimensi pertama ketaatan kepada Allah adalah melaksanakan segala kewajiban. Sedangkan sisi kedua adalah kon sistensinya dengan terus-menerus mencegah diri dari segala larangan Allah SWT dan mengendalikan jiwa dari berbagai godaan syahwat dan hawa nafsu. Berdasarkan hal ini, akallah yang bertanggung jawab baik dalam menguasai maupun menundukkan segala kesenangan nafsu. Berbilang jumlah riwayat yang menguatkan peran penting akal untuk bangkit mengekang dan menahan hawa nafsu. Nash-nash tersebut mencurahkan perhatian yang serius dalam rangka mengembangkan kemampuan manusia melak sanakan dimensi ini dari ketaatan kepada Allah. Di bavvah ini saya sebutkan beberapa nash yang men jelaskan masalah di atas: Imam Ali as berkata:"Akal aclalah pedang yang ta jam” . [29] Imam Ali as berkata : "Bunuhlah hawa nafsumu de ngan senjata akalmu." [30]
    • Dari Imam Ali as: "Jiiwa memendam berbagai hasrat nafsu. Akal berfungsi untuk mencegahnya." [31] Dari Imam Ali as: "Hati memendam berbagai hasrat jelek, sedangkan akal selalu menahannya." [32] Imam Ali as: "Orang yang berakal adalah orang yang mengalahltan hawa nafsunya dan orang yang tidak menukar akhiratnya dengan dunianya." [33] Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang meninggalkan hawa nafsunya dan yang membeli dunianya untuk akhiratnva”. [34] Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah musuh kelezatan dan orang bodoh adalah budak syahwat." [35] Dari Imam Ali as: "Orong berakal adalah orang yang melawan nafsunya untuk taat kepada Tuhannya." [36] Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang mengalahkan kecenderungankecendernugan hawa naf sunya." [37] Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang mematikan syahwatnya dan, orang kuat adalah orang yang menahan kesenangannya." [38] Di sini terdapat tiga peran akal; makrifat kepada Allah, taat kepada Allah dalam menjalankan kewajiban, dan mena han hawa nafsu dan segala yang dilarang Allah SWT. Yang menarik untuk dikaji di sini ialah peran yang ketiga; untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Un tuk melaksanakan tugasnya itu akal selalu berhadapan de ngan hawa nafsu. Nasib Manusia Ditentukan dari Hasil Pertarungan antara Akal dan Hawa Nafsu Hasil pertarungan antara akal dan hawa nafsu inilah yang bakal menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Manusia dalam pertarungan ini terpecah menjadi dua kelompok; blok orang takwa dan blok orang fasik. Dan prilaku manusia juga terbagi menjadi dua: takwa dan fujûr (keji). Takwa merupakan kemenangan akal atas hawa nafsu, dan sebaliknya fujur. Di persimpangan antara akal dan hawa nafsu ditentukan nasib manusia; bahagia atau tidaknya dan dzâtul yamîn (kelompok kanan) atau dzatusy syimâl (kelompok kiri). Perbedaan dua kolompok ini bersifat hakiki, sub stansial dan menentukan nasib. Di persimpangan inilab semuanya akan terjadi. Sekelompok manusia yang mengunggulkan akal atas hawa nafsu adalah orang-orang saleh dan takwa. Mereka terus
    • melaju kencang ke surga. Sekelompok lainnya yang mengung gulkan hawa nafsunya atas akal, yaitu kelompok orang-orang fasik dan lalim melaju kencang ke jahanam. Diriwayatkan dari Imam Ali as hadis berikut ini: "Barangsiapa yang akalnya mengalahkan hawa nafsunya, akan beruntung. Dan barangsiapa yang hawa nafsunya me ngalahkan akalnya, maka ia akan celaka." [39] Diriwayatkan bahwa Imam Ali as pernah berkata: "Akal merupakan bala tentara ArRahmân, sedangkan hawa nafsu panglima tentara setan dan jiwa pontang-panting di antara keduanya. Maka yang menang akan menguasai jiwa." [40] Sesungguhnya pergolakan antar dua kubu ini, semata- mata untuk merebut jiwa. Kemudian menjadikannya sebagai tawanan yang tunduk padanya. Imam Ali as berkata: "Akal dan syahwat adalah dua hal yang saling berlawanan. Ilmu adalah pembantu ahal dan nafsu adalah hiasan syahwat. Sedang jiwa merupakan rebu tan keduanya. Jiwa akan berada di samping yang menang antar keduanya." [41] Kelemahan akal dan Kedigdayaan Hawa Nafsu Dalam pertarungan yang menentukan nasib akhir manusia ini, akal adalah pihak yang lemah sementara hawa nafsu adalah pihak yang kuat. Hal itu, karena akal adalah alat untuk memahami dan mengetahui sesuatu, sementara hawa nafsu adalah kekuatan besar jiwa yang menggerakkan manusia. Tidak ayal lagi, akal dapat mengetahui dan memahami sesuatu. Namun, berbeda dengan hawa nafsu, ia bukanlah motor dan kompresor jiwa manusia. Imam Ali as berkata: "Berapa banyak akal yang takluk di bawah tampuk hawa nafsu yang berkuasa." [42] Hawa Nafsu mendorong manusia melalui rayuan dan tipu dayanya sehingga manusia tergelincir bersamanya. Sementara, di pihak lain, akal mengajak manusia kepada sesuatu yang dibencinya. Imam Ali as berkata: "Paksakan diriinu (berbuat) fadhâ`il (keutamaan-keutamaan), karena radzâ`il (kehinaan-kehi naan) telah tertanam dalam dirimu." [43] Jalan menuju syahwat dan hal-hal yang hina itu melun cur turun. Sedang jalan menuju keutamaan mendaki naik. Oleh karena itu. akal selalu di posisi yang lemah dibanding posisi hawa nafsu. Sementara hawa nafsu memasuki medan laga dalam kondisi prima dan menyerang, akal dalam banyak kesempatan lemah menghadapinya. Dengan begitu, hawa nafsu dengan mudah mengalahkan akal dan sepenuhnya me nguasai jiwa manusia. Prajurit-prajurit Akal
    • Tugas akal yang sedemikian sulit itu, telah dibantu Allah dengan menganugrahinya sejumlah kekuatan dan perangkat yang dapat mendukung jerih-payahnya. Di antaranya, kecenderungan-kecenderungan terhadap kasih-sayang dan kebajikan yang tersebar; fitrah, dhamîr dan beberapa emosi dalam jiwa manusia. Berbagai kecenderungan ini memiliki kemampuan un tuk menggerakkan manusia dalam menghadapi sekaligus mengendalikan naluri atau insting. Misi utama mereka ialah menopang aktifitas akal dalam membatasi dan menekan hawa nafsu. Sebab, sebagaimana yang sudah saya jelaskan, akal hanya berguna untuk mengetahui, mengerti dan memahami. la menjadikan manusia mampu menentukan yang benar dan mengerti sesuatu secara sahih. Akan tetapi, ia tidak menjadikan manusia mampu mengendalikan dan menekan berbagai insting manusiawi. Oleh sebab itu, ia mesti meminta bantuan kepada faktor-faktor dan pendorong-pendorong lain yang ada dalam jiwa manusia. Dengan begitu, akal akan lebih mantap menghadapi berbagai insting manusia. Dalam bahasa etika keislaman, sejumlah faktor pen dukung tersebut diberi nama junûdul 'aql (prajurit-prajurit akal). Berikut ini beberapa contoh tindakan akal memperban tukan prajurit-prajurit tersebut: 1. Dalam tekanan naluri cinta harta-benda, manusia bisa menghalalkan segala cara. Dengan bantuan 'izzat an-nafs (harga-din) yang terpendam dalam jiwa setiap insan, akal menolak tindakan memburu harta di tempat-tempat yang menghinakan harkat manusia. Tentunya, akal menolak sum ber pendapatan harta yang hina. Namun petunjuk dan bimbingan akal saja belum cukup untuk mencegah jiwa dari mencari harta yang menghinakan. Maka itu, ia mengajak harga diri untuk bahu-membahu dalam mengingatkan manusia daii cmta harta yang membuta itu. 2. Naluri seksual seringkali memaksa manusia menda pat kelezatan seksual melalui cara-cara yang haram atau hina. Naluri seksual, bisa dipastikan, adalah naluri yang paling banyak menuntut dan memaksa. Akal dengan jelas mengetahui bahwa melampiaskan hasrat seksual ditempat- tempat hina adalah tidak benar. Namun, bagaimana mungkin akal, fahm (pemahaman) dan bashîrah dapat melawan tekanan naluri seksual yang memuncak? Jawabnya, dengan meminta bantuan 'iffah annafs (kesucian-diri) yang terpendam cli setiap jiwa manusia yang lurus fitrahnya. Maka, de ngan itu manusia bisa menolak praktik asusila yang dijauhi fitrah yang lurus. 3. Kadang naluri angkuh, sombong dan merasa istimewa memaksa seorang agar menghina dan menekan orang-orang lain sekadar untuk memuaskan egoismenya. Akal menyalah kan prilaku ini. Namun, la tidak bisa melawan kekuasaan ego yang ada dalam jiwa manusia sendirian. Karenanya, ia meminta bantuan rasa suka merendah (tawâdhu') kepada orang lain. Kemudian. barulah akal bisa melawan sikap berlebihan dalam memuaskan egoisme itu.
    • 4. Kadang-kala manusia berada di bawah tekanan naluri amarah yang sangat kuat dalam jiwa manusia. Naluri ini mengajaknya membunuh orang lam. Betapapun akal mema hami bahwa perbuatan ini salah, ia tetap tidak mampu meng hadapi tekanan naluri ini yang memaksa ini. Bahkan, pada galibnya, amarah membuat orang lupa daratan. Tetapi. dengan bantuan rahmah (perasaan belas kasih) amarah dapat diredam. Rahmat ini mempunyai kekuatan yang setara atau lebih dari yang dimiliki amarah. la sering mencegah manusia dari beberapa tindakan keji yang bersumber dari amarah. 5. Manusia suka bertahan melakukan maksiat karena satu atau lain pengaruh berbagai naluri. Dengan meminta bantuan makhâfatullâh (takut kepada Allah), akal bisa men jauhkan manusia dari maksiat. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Sengaja saya sebutkan sebagmn kecil untuk menjelaskan saja. Di bawah ini saya akan menyebutkan beberapa contoh lain tanpa penjelasan. Menghadapi ketiadaan rasa-malu dan kehina-dinaan, akal meminta bantuan pada syukr ni'mah (rasa ingin menyukuri nikmat sebagai tanda balas-jasa). Menghadapi kebencian dan kedengkian, akal meminta bantuan pada al-hub (rasa cinta). Menghadapi keputusasaan, akal meminta bantuan pada ar-rajâ`(pengharapan). Inilah sekelumit contoh tentang peran prajurit akal dalam menopang peranan akal menghadapi hawa nafsu clan syabwat. Dan permohonan bantuan dari akal pada prajuritprajuritriya dalam mengendalikan dan menentang arus syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam jiwa manusia. Pemaparan Nash-nash Bala-tentara Akal Penopang-penopang akal yang terkandung dalam nash- nash keislaman yang disebut bala tentara berjumlah 75. Mereka semua diperbantukan akal untuk menghadapi 75 bala tentara hawa nafsu. Penopang-penopang hawa nafsu disebut dalam nash sebagai tentara kebodohan (jahl). Dua kelompok ini akan saling berseteru dan beradu dalam jiwa manusia. Al-Alamah Al-Majlisi telah meriwayatkan dalam kitab Bihârul Anwâr jilid pertama beberapa riwayat tentangnya; dari hadis Imam Ash-shâdiq as dan Imam Al-Kâzhim as. Dengan sengaja saya nukilkan nash lalu saya mengkajinya pada pembahasan yang akan datang, Insya-Allah. Riwayat Pertama Dari Sa'd dan dari Al-Himyari dari Al-Bâqî dari Ali bin Hadîd dari Sumâ'ah (bin Mihrân) berkata: "Saya pernah hadir dalam majlis Abu Abdillah as di sana juga hadir sebagian murid yang lain. Majlis itu membahas masalah akal dan kejahilan. Kemudian Abu Abdillah berkata: "Kamu hen daknya mengetahui akal beserta bala-tentaranya dan kejahi lan beserta bala-tentaranya agar kamu mendapat petunjuk.”
    • Sumâ'ah berkata: “Maka aku berlanya: Semoga jiwaku jadi tebusanmu, saya tidak mengerti kecuali apa yang Anda jelaskan”. Abu Abdillah menjawab: "Sesungguhnya Allah mencip takan akal sebagai makhluk pertama yang bersifat ruhany. Saat itu akal terletak di samping kanan 'Arsy yang tercipta dari Nur-Nya. Kemudian Allah berfirman kepada akal: "Meng hadaplah! Akalpun menghadap. Allah berfirman: "Berpa linglah! lapun berpaling. Kemudian Allah berfirman: "Kuciptakan kamu sebagai ciptaan yang agung. Kumuliakan kamu di atas seluruh ciptaan-Ku". Beliau melanjutkan: Allah menciptakan jahl (kejahilan) dari laut asin yang zhulmâny (gelap-gulita). Kemudian Allah menyuruhnya berpaling dan iapun berpaling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, tetapi kejahilan itu tidak meng hadap. Allah berfirman kepadanya: Kau congkak? Lalu Allah mengutuknya. Kemudian Dia menciptakan 75 tentara akal. Melihat hal itu, dengan nada permusuhan kejahilan berkata: Tuhan, akal adalah makhlukMu sebagaiinana juga aku. Mengapa ia Engkau muliakan dengau kekuatan sedang aku lawannya tidak mempunyainya? Berilah aku kekuatan seperti dia. Lalu Allah berfinnan: Baiklah. Tetapi apabila engkan beserta bala tentaramu bermaksiat, maka akan Kukeluarkan kamu sekalian dari rahmat-Ku. Kejahilan men jawab; "Saya terima janji itu. Alloh kemudian memberinya 75 tentara. Adapun ke 75 tentara akal dan kejahilan adalah: No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Tentara Akal Kebajikan (menteri akal) Iman Percaya (tahsdîq) Harapan (rajâ`) Keadilan (‘adl) Rela (ridhâ) Syukur (syukr) Gemar kebaikan (thama’) Tawakal Lemah-lembut (ra`fah) Kasih-sayang (rahmah) Ilmu (‘ilm) Cerdik (fahm) Menjaga-diri (‘iffah) Zuhud Sopan (rifq) Waspada (rahbah) Rendah-hati (tawâdhu’) Kalem (ta`uddah) Bijaksana (hilm) Tentara Jahl Kejahatan (menteri jahl) Kufur Ingkar (juhûd) Putus-asa (qunûth) Kezaliman (jaur) Tidak rela/murka (sukht) Ingkar nikmat (kufrân) Putus ikhtiar (ya`s) Ambisius (hirsh) Lalai (ghîrah) Amarah (ghadhab) Bodoh (jahl) Dungu (humq) Ceroboh (tahattuk) Hasrat (raghbah) Kasar (kharq) Gegabah (jur`ah) Takabur Tergesa-gesa (tasarru’) Konyol (safah)
    • 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. Pendiam (shamt) Menyerah (istilâm) Mengakui (taslîm) Maaf (‘afwu) Lunak (riqqah) Yakin Sabar Pemaaf (shafh) Kaya (ghinâ) Tafakur Hapal (hifzh) Penyambung (ta’âthuf) Qanâ’ah Emansipasi (muwâsât) Rasa sayang (mawaddah) Memegang (wafâ`) Ta’at Khudhû’ Selamat Cinta (hubb) Jujur (shidq) Haq Amanat Murni (ikhlâsh) Cekatan (syahâmah) Cendekia (fahm) Pengetahuan (ma’rifah) Pengukuhan (madârah) Menjaga aib orang lain Menyimpan rahasia (kitmân) Salat Puasa Jihad Haji Menjaga omongan Bakti kepada orang-tua Realitas (haqîqah) Ma’ruf Menutup aurat (satr) Taqiyyah Jalan tengah (inshâf) Bersih (nazhâfah) Pengoceh (hadzar) Menentang (istikbâr) Membandel (tajabbur) Kesumat (hiqd) Keras (qaswah) Syak Meronta (jaza’) Pendendam (intiqâm) Fakir Lali (sahw) Lupa (nis-yân) Pemutus (qathî’ah) Ingin menambah (hirsh) Isolasi-diri (man’) Rasa permusuhan (‘adâwah) Melepas (ghadr) Maksiat Arogansi (tathâwul) Bencana (balâ`) Marah (ghadhab) Bohong (kidzb) Batil Khianat Noda (syaûb) Lamban (balâdah) Tolol (ghabâwah) Penyangkalan (inkâr) Penyingkapan (mukâsyafah) Makar Ekspose (ifsyâ`) Penyia-nyiaan (idhâ’ah) Ifthâr Lari dari jihad (nukûl) Ingkar janji Membongkar skandal Durhaka Riyâ` Tabu (munkar) Bersolek (tabarruj) Mengobral perkataan (idz’ah) Fanatisme (hamiyyah) Kotor (qadzir)
    • 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. Malu (hayâ`) Terarah (qashd) Relaks (râhah) Kemudahan (suhûlah) Berkah Afiat Normah (qiwâm) Hikmah Bahagia Taubat Istighfar Mawas-diri (muhâfazhah) Berdoa Bugil (khal’) Bablas (‘udwân) Lelah (ta’ab) Kesukaran (shu’ûbah) Binasa (mahq) Petaka (balâ`) Berlebih (mukâtsarah) Hawa nafsu Nestapa (syaqâwah) Berkeras kepala (ishrâr) Pongah (ightirâr) Lengah (tahâwun) Berpaling (istinkâf) Ke-75 bala-tentara ini ticlak akan dipersatukan kecuali pada seorang nabi, penerus nabi (washiy) atau seorang Muk inin yang hatinya telah lulus ujian. Selain mereka, mempunyai sebagian. Dan dalam perjalanannya nanti, dia akan menyem purnakan balatentara akal dalam jiwanya sambil selalu mew aspadai bala-tentara jahil. Setelah itu, baru manusia dianggap sederajat dengan para nabi dan washiy. Tentunya, sebelum mencapai apapun, manusia mesti mengerti dan mengenal akal dan bala-tentaranya. Mudah- mudahan Allah SWT memberi taufik kepada kita semua untuk berlaku taat dan mendapat ridha-Nya." [xliv] Riwayat Kedua Riwayat ini berasal dari Hisyâm bin Al-Hakam dari Imam Abi Al-Hasan, Mûsâ bin Ja'far Al-Kâhzim as. Juga diriwayatkan oleh Al-Kulaini ra dalam kitab Ushûlul Kâfî, 1:13-23, dan Al-Majlisi ra dari Al-Kulaini dalam kitab "Bi h ârul Anwâr, 1:159. Sebenarnya, riwayat ini pajang sekali. Oleh karenanya, saya akan menukil sebagiannya saja. Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: “Wahai Hisyâm, kenalilah akal beserta bala-tentaranya dan kejahilan beserta bala-tentaranya, niscaya kamu akan tergolong orang-orang yang telah mendapat petunjuk (muh tadîn)”. Hisyam berseru: "Kami tidak mengetahui apapun kecuali yang telah Anda ajarkan”. Beliau berkata: "Wahai Hi syâm, sesungguhnya Allah telah menciptakan akal sebagai ciptaan pertama Allah. Kemudian Allah menjadikan 75 tentara baginya. Antara lain: Tentara Akal 1. Kebaikan (menteri akal yang pertama)
    • 2. Iman 3. Jujur 4. Ikhlas 5. Harapan 6. Adil 7. Rela 8. Syukur 9. Gemar kebaikan 10. Tawakal 11. Lemah-lembut 12. Ilmu 13. Iffah 14. Zuhud 15. Santun 16. Waspada 17. Tawaclhu' 18. Kalem 19. Bijak 20. Pendiam 21. Mengalah 22. Menerima 23. Maaf 24. Halus
    • 25. Yakin 26. Sabar 27. Lapang-dada 28. Kaya 29. Tafakur 30. Hapal 31. Penghubung 32. Qanâ’ah 33. Terbuka 34. Kasib-sayang 35. Setia 36. Taat 37. Patuh 38. Selamat 39. Mengerti 40. Pengetahuan 41. Mulia 42. Sehat 43. Kemahiran menyembunyikan perkataan 44. Beradab 45. Hakikat 46. Makruf 47. Taqiyyah
    • 48. Terarah 49. Kebaktian 50. Bersih 51. Malu 52. Ekonomis 53. Santai 54. Mudah 55. Afiat 56. Teguh 57. Jauh ke Depan 58. Mantap 59. Bahagia 60. Taubat 61. Takut 62. Doa 63. Cekatan 64. Gembira 65. Bersatu 66. Dermawan 67. Khusyu’ 68. Jujur 69. lstiqfar 70. Cerdas
    • 71. Aktif (nasyâth) 72. Suka (farah) 73. Menyatukan(ulfah) 74. Dermawan (sakhâ`) 75. Kedudukan (waqâr) Tentara Jahil 1. Kejahatan (menteri jahil yang pertama) 2. Kufur 3. Bohong 4. Kemunafikan 5. Putus-asa 6. Lalim 7. Murka 8. Ingkar 9. Putus-ikhtiar 10. Obsesif 11. Berhati-keras 12. Bodoh 13. Ceroboh 14. Hasrat 15. Watak yang kasar 16. Gegabah 17. Takabur
    • 18. Tergesa-gesa 19. Tolol 20. Banyak Cincong 21. Bandel 22. Menolak 23. Dengki 24. Kasar 25. Syak 26. Cemas 27. Dendam 28. Fakir 29. Lalai 30. Lupa 31. Pemutus 32. Rakus 33. Tertutup 34. Permusuhan 35. Khianat 36. Maksiat 37. Pembangkang 38. Celaka 39. Dungu 40. Penyangkalan
    • 41. Cela 42. Sakit 43. Menyebarkan 44. Biadab 45. Palsu 46. Munkar 47. Mengobral Omongan 48. Bablas 49. Onar 50. Kotor 51. Porno 52. Boros 53. Lelah 54. Sulit 55. Kemelut 56. Gamang 57. Cetek 58. Ringan 59. Sengsara 60. Berpaling 61. Meremehkan 62. Congkak 63. Lamban
    • 64. Sedih 65. Berpecah belah 66. Kikir 67. Angkuh ('ujub) 68. Bohong 69. Tertipu-diri 70. Dungu 71. Malas (kasal) 72. Duka (huzn) 73. Memecah-belah (furgah) 74. Kikir (bukhl) 75. Ketersembunyian Wahai Hisyâm, perangai-perangai ini tidak akan bisa terkumpul secara sempurna kecuali pada nabi, washy atau seorang mukmin yang hatinya telah lulus ujian Allah. Selain mereka, hanya bisa memiliki sebagian dari ten tara akal dan tidak bisa sempurna. Bila dia sudah lebih dahulu bisa membersihkan diri dari tentara-tentara kejahilan, maka dia menjadi sederajat dengan para nabi dan washiy”. Kesemua itu dapat dimengerti dan dicapai setelah mengenal akal dan tentaranya. Mudahmudahan Allah SWT memberi taufik kepada kita semua untuk mentaati dan men dapat ridha-Nya. [1] Bihârul Anwâr, 1:117. [2] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:58. [3] Tuhaful ‘Uqûl :96. [4] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 2:121. [5] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:109.
    • [6] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:323. [7] Bihârul Anwâr : 78:9. [8] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:345. [9] Bihârul Anwâr : 78:164. [10] Bihârul Anwâr : 1:160. [11] Kitab Asy-Syâb, karya Syaikh Muhammad Taqi Al-Falsafî 1:365. [12] Bihârul Anwâr : 1:137. [13] Ushûlul Kâfî, 1:25. [14] Bihârul Anwâr : 1:106. [15] Tuhaful ‘Uqûl : 54; Bihârul Anwâr, 77:158. [16] Ushûlul Kâfî, 1:25. [17] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:102. [18] Ushûlul Kâfî, 1:25. [19] Bihârul Anwâr, 1:137. [20] Bihârul Anwâr, 1:132. [21] Ushûlul Kâfî, 1:10. [22] Bihârul Anwâr, 1:96. [23] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:101. [24] Bihârul Anwâr 1:160. [25] Bihârul Anwâr 1:131. [26] Bihârul Anwâr 1:116. [27] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmidi, 1:179. [28] Bihârul Anwâr 1:130. [29] Nahjul Balâghah, bagian Al-Hikam dan kalimat-kalimat pendek. [30] Nahjul Balâghah, bagian Al-Hikam.
    • [31] Tuhaful ’Uqûl : 96. [32] Ghurarul Hikam, 2:121. [33] Ghurarul Hikam, 1:104. [34] Ghurarul Hikam, 1:86. [35] Ghurarul Hikam, 1:28. [36] Ghurarul Hikam, 2:87. [37] Ghurarul Hikam, 2:160. [38] Ghurarul Hikam, 2:58. [39] Ghurarul Hikam, 2:187. [40] Ghurarul Hikam, 1:113. [41] Ghurarul Hikam, 1:113. [42] Nahjul Balâgah, bagian Al-Hikam dan kalimat-kalimat pendek. [43] Mustadrak Wasâ`ilusy Syi’ah, 2:310. [xliv] Bihârul Anwâr, 1:109-111, bagian Kitab Al-‘Aql wa Al-Jahl. BAGIAN KETIGA Telaah Kritis Bala Tentara Akal dan Kejahilan Seusai memaparkan beberapa nash keislaman yang me muat riwayat-riwayat tentara akal dan kejahilan, patut bagi kita untuk berhenti sejenak menelaah dan merenungkan kan dungannya. Karena memang hal itu layak dan seharusnya diperhatikan. Berikut ini ada beberapa butir yang perlu dire nungkan. 1. Pertama-tama, nash-nash ini berbicara dengan bahasa isyarah (simbolik) yang akrab digunakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Bahasa ini, pada galibnya, ditemukan dalam nash- nash yang menjelaskan penciptaan manusia dan alam semesta. Dalam rangka memahaminya dengan baik, diperlukan dzaug (cita-rasa) terhadap ruh setiap kalimat yang ada dalam nash itu. Jangan sekali-kali kita terpaku pada arti harfiah kalimat-kali mat tersebut. 2. Beralih pada nash itu sendiri. Pada nash yang pertama dan kedua kita menemukan bahwa akal dan kejahilan sama- sama melaksanakan perintah "berpaling". Namun, pada
    • perin tah "menghadap", membangkang. akal saja yang melakukannya sementara kejahilan Sebagaimana yang saya fahami dari dua nash tersebut, kejahilan yang dimaksud adalah hawa nafsu. Pandangan itu dupat dibuktikan dengan dua qarînah (alasan semantis); pertama, posisinya yang dilawankan dengan akal; kedua, kata-perkata yang terdapat dalam daftar bala-tentara hawa nafsu. Menurut hemat saya - wallahu a’lam bis-shawâb - bahwa perintah berpaling itu bersifat takwînî (ihwal penciptaan/kos mik) seperti dalam firman Allah: "... dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya me ngatakan “Jadilah”. Lalu jadilah ia". Q.S. Al-Baqarah 117. Perintah takwînî ini berlaku buat akal, hawa nafsu bah kan seluruh jagad raya. Tak satupun yang tidak menunaikan dan menyamhut perintahn-Nya ini. Allah berfirman: "Sesung guhnya perkataan Kami terhadap seauatu apabila Kami meng hendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”, ma ka jadilah ia." Q.S. Al-Nahl 40. Dan firman Allah SWT: "Maha suci Dia. Apabila Dia telah rnenetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia." Q.S. Maryam 35. Syahwat, sebagaimana akal beserta bala-tentaranya, juga melaksanakan perintah takwînî itu. Akan tetapi, dengan mencermati konteks perintah pertama Ilahi yang vis-a-vis perintah menghadap, kita dapat menyimpulkan hahwa perintah kedua itu bersifat tasyrî'iy (ihwal Syariat). Disini kita dapat memahami mengapa akal menaatinya, sedang kejahilan (Baca: hawa nafsu) menentangnya. 3. Adalah juga menarik untuk disimak dalam kedua nash tersebut bahwa akal diciptakan dari mâddah (bahan/materi) yang berbeda dengan nafsu dan syahwat. Dalam riwayat pertama disebutkan bahwa akal tergolong makhluk ruhâny yang telah diciptakan Allah dan diletakkan di sisi kanan Arsy. Sementara Allah menciptakan kejahilan atau hawa nafsu dari laut asin yang gelap-gulita. Pada kajian yang terbatas ini, saya tidak bisa memberikan batasan yang jelas tentang mâddah awwaliyyah (bahan-dasar) bagi akal dan hawa nafsu. Ilmu tentangnya hanya ada pada orang yang tnendapat anugrah khusus dari Allah dan mereka yang ahli ta'wil alahâdîts (penjelasan makna batin). Meskipun demikian, dari kedua nash itu, dapat dipahami dengan jelas bahwa bahan akal berasal dari kesadaran, pemahaman dan idrâk (pengetahuan kognitif); yang merupakan pancaran Nur Ilahi. Bahan hawa nafsu sama sekali tidak bersentuhan dengan kesadaran dan idrâk.
    • Hawa-nafsu adalah tumpukan zhulmânî (kegelapan) tuntutan dan obsesi. Nur kesadaran dan idrâk tidak bisa menem-busnya. Di lain pihak, akal adalah tumpukan fakultas kesadaran dan idrâk. Allah menjadikan keduanya sebagai dua poros sentral kepribadian manusia. 4. Dalam kedua nash tersebut dinyatakan bahwa Allah mengagungkan akal karena ketaatannya dalam menunaikan perintah berpaling dan menghadap. Sementara, Allah mengutuk kejahilan karena menentang perintah-Nya. Adapun yang dimaksud kutukan (laknat) di sini ialah pengusiran dan kejauhan dari rahmat Allah SWT. Nash tersebut seakan-akan menegaskan bahwa kepribadian manusia memiliki dua aspek dasar; yang satu mendekatkannya kepada Allah dan lainnya menjauhkannya dari-Nya. Kedua aspek tersebut adalah akal dan hawa nafsu. Keduanya saling berusaha menyeret manusia ke dua arah yang diametral. Allah telah menjadikan keduanya demikian; akal mendorong manusia menuju Allah dan hawa nafsu mengajak manusia menentang-Nya. 5. Disebutkan bahwa ketika Allah memberikan 75 karakter sebagai bala-bantuan bagi akal. Hawa nafsu (kejahilan) menuntut kepada Allah untukdiberi bala-bantuan dengan jumlah yang sama. Di kala itu, Allah menegaskan pada kejahilan; "Jika setelah itu kau bermaksiat padaku, sungguh Aku akan mengeluarkanmu bersama tentammu dari rahmatKu". Untuk sekedar mengingatkan kembali para pembaca, kedua nash tersebut berbicara dengan menggunakan bahasa simbolik. Ini berarti bahwa dialog antara Allah-akal atau Allah-kejahilan tidaklah bersifat hakiki. Kedua nash tersebut mengisyaratkan posisi dan nilai hawa nafsu menurut pandangan keislaman. Pada saat nash-nash itu menjelaskan tugas hawa nafsu menjauhkan manusia dari Allah dan tugas akal sebaliknya, ia juga menyiratkan bahwa bila hawa nafsu tidak menyeret manusia kepada kemaksiatan, maka ia tetap berada dalam lingkaran rahmat Allah SWT. Sebaliknya, ia akan diusir keluar dari lingkaran rahmat Allah SWT bila menyeret manusia kepada kemaksiatan. Kalau demikian halnya, Islam tidak selalu menganggap hawa nafsu sebagai azab dan siksa bagi manusia. Dengan kata lain, ia adalah rahmat selagi tidak memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah. Namun, apabila ia sudah mulai menyeret manusia kepada kemaksiatan, ia berubah menjadi azab dan siksa bagi kehidupan manusia. Jadi, berbeda dengan beberapa teori yang dinisbatkan kepada agama yang selalu mendiskreditkan hawa nafsu, naluri dan syahwat. Islam menetapkan sebuah prinsip yang sangat penting dalam menyikapi hawa nafsu dan bala-tentaranya di hamparan rahmat Allah. Islam tidak menganggap bahwa mengikuti ajakan hawa nafsu adalah suatu yang selalu akan membawa aib dan mesti dihindari. Mengikuti tuntutan hawa nafsu itu tidak bermasalah selagi ia tidak mengeluarkan manusia dari ketaatan kepada kemaksiatan.
    • Bahkan Islam menegaskan bahwa memenuhi tuntutan syahwat yang terkontrol secara situasional dan kondisional adalah tangga menuju kesempurnaan hidup manusia. 6. Kedua nash itu mensinyalir dua sisi akal. Pertama, sisi kesadaran dan idrâk. Kedua, sisi efektifitas dan kinerja. Semakin banyak bala-tentara yang datang membantu, semakin efektiflah kerja akal. Sebaliknya, semakin berkurang bala-tentara yang terwujud, semakin mengendur pulalah militansi akal dalam mengendalikan syahwat dan hawa nafsu. Mengutip redaksi di atas: "Tidak akan sempurna karakter-karakterlbala-tentara akal kecuali pada seorang nabi, washi atau Mukmin teruji. Adapun selain mereka selalu tidak sempurna”. Namun, bila secara bertahap akal menyempurnakan diri dengan melepas diri dari tentara kejahilan, maka, saat itu, ia berada setingkat dengan para nabi dan washi. Tak syak lagi, bahwa sempurnanya sisi eksekutif akal mencerminkan sempurnanya sisi pandangan, bashîrah dan kesadarannya. Dengan demikian, asimilasi ini berlangsung melalui tiga tahap: Pertarna, manusia menyempurnakan karakter dan tentara akal. Kedua, maka sempurnalah kemampuan akal dalam melaksanakan tugasnya melawan hawa nafsu. Ketiga, ini berarti sempurnanya bashîrah, kesadaran dan idrâk akal. Pada saat itulah, manusia akan berada setingkat dengan para Nabi dan washî sebagaimanayangtelah dijelaskan dalam nash tersebut. Nash tersebut berusaha membentuk suatu landasan-dasar dan kerangka-kerja yang baik bagi sistem pendidikan dan etika manusia menurut konsep keislaman. Sesungguhnya, akal adalah komposisi dari bashîrah dan kemampuan eksekutif. Lemahnya bashîrah muncul dari mengendurnya kemampuan eksekutifnya. Adapun lemahnya kemampuan eksekutifnya berasal dari berkurangnya bantuan dari tentara akal. Apabila manusia menyempurnakan jiwanya dengan karakter-karakter ini maka kepribadiannya pun akan menjadi sempurna dari sisi bashîrah dan pelaksanaannya atau sisi praktisnya sekaligus. 7. Nash-nash di atas membagi perilaku manusia dalam dua kategori yang berbeda; takwa dan fujûr (kenistaan). Takwa didefinisikan sebagai mengikuti dan menjadikan akal sebagai hakim atas prilaku manusia. Sedangkan fujûr didefinisikan sebagai mengikuti dan menjadikan hawa nafsu beserta seluruh tentaranya sebagai hakim atas prilakunya.
    • Gerak manusia menuju Allah selalu melewati dua aras; A. Melepas diri dari tentara kejahilan dan hegemoni hawa nafsu. B. Memasuki daerah kekuasaan tentara akal dan menjadikan akal sebagai hakim atas prilaku manusia. 8. Terdapat 75 pasang bentuk prilaku manusia. Masing-masing darinya tersusun menjadi dua medan yang tarik-menarik dalam jiwa seorang. Salah-satunya bersifat 'aqlânî (rasional) dan yang lain bersifat syahwânî (berasal dari syahwat). Medan pertama berisi bala-tentara akal dan yang kedua berisi bala-tentara kejahilan. 9. Analisa tentang kedua kelompok prilaku manusia itu, menunjukkan pada kita bahwa Allah SWT telah menjadikan kekuatan yang setara pada masing-masing pihak. Hal itu, supaya manusia tidak semata-mata -secara fatalistik - menjadi sandera hawa nafsu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kesempurnaan pertumbuhan jiwa manusia dan tingkah-lakunya menuntut keberadaaan hawa nafsu. Maka dari itu, Allah mesti membuat akal resisten terhadap serbuan hawa nafsu sehingga tercipta kekuatan yang berimbang dalam jiwa manusia. 10. Seratus lima puluh (150) tentara itu bersifat esensial pada jiwa manusia. Semua kelakuan manusia, baik maupun buruk, mempunyai akar yang dalam pada jiwa. Hal ini telah dijelaskan Al-Quran; "Maka diilhamkan padanya kejahatannya dan ketakwaannya." Dengan perkataan lain, keduannya muncul secara intrinsik dan tidak berasal dari faktorfaktor luar. 11. Prajurit-prajurit akal dapat dikelompokkan dalam dua bagian: kelompok muhaffizat (faktor-faktor pendorong/insentif) dan dhawâbith (faktor-faktor pengekang/pengontrol). Faktor-faktor pendorong bertugas "membangkitkan" jiwa. Seperti keimanan, makrifat, rahmat dan kejujuran. Sedangkan faktor-faktor pengontrol bertugas melakukan tindak preventif dan represif (mengekang). Seperti 'iffah, mawas-diri, sabar, qanâ’ah dan malu. Gabungan dari keduanya akan bisa membangun, menjaga, dan sekaligusjuga menopang peran akal dalam meluruskan kepribadian manusia. Berikut ini kita akan menguraikan pandangan global di atas: Akal manusia mempunyai dua macam aktifitas utama: Pertama, menggerakkan manusia untuk merealisasikan tujuan-tujuan kesempurnaan dan kedewasaan manusiawi. Kedua, mencegah manusia dari segala bentuk ketergelinciran ke dalam jurang yang membahayakan. Untuk lebih jelasnya, saya sebutkan contoh-contoh berikut ini:
    • Manusia mengalami penyempurnaan dengan bergerak menuju Allah SWT Akal bertugas mengintensifkan iman, dzikrullah, ibadah dan cinta kepada Allah. Gerak manusia dari ego menuju Allah ini merupakan gerak yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Begitu pula manusia akan menjadi sempurna dengan geraknya meleburkan diri bersama Mukminin dan para pemimpin mereka. Inilah yang diistilahkan Islam dengan al-walâ`. Walâ` adalah proses fusi individu ke dalam masyarakat Muslim melalui gotong-royong, solidaritas, silaturahmi dan saling mencintai sesama. Ini adalah gerakan pelumeran ego dan individu ke dalam masyarakat. Gerakan semacam ini juga sangat fundamental bagi manusia. Inilah contoh aktifitas akal. Dalam perjalanannya itu, manusia selalu menghadapi risiko ketergelinciran. Boleh jadi manusia membanting setir tujuannya untuk bergerak dari ego menuju Allah, dari Allah menuju ego kembali. Karena, mungkin, menumpuknya maksiat, kesalahan dan ketundukannya kepada ajakan syahwat dan hawa-nasfu. Kadang manusia juga tersendat dalam upayanya meleburkan individualitasnya ke dalam umat. Bahkan, dia berbalik dari berintegrasi dengan umat kepada egoisme; temperamental, penuh prasangka, terlalu sensitif' dan posesii'. Jadi, akal memainkan perannya yang efektif dan menentukan dalam mengawasi dua dinamika perjalanan manusia: 1. Dari ego menuju Allah dan dari individualitas menuju umat. 2. Menolong manusia untuk tidak terseret ajakan hawa nafsu dan tergelincir bersamanya ke arah yang berlawanan; dari Allah menuju ke ego dan altruisme menuju egoisme. Hanya saja, akal, secara herdiri sendiri, tidak akan mampu menyelesaikan dua perjalanan raksasa ini. Oleh karena itu, akal meminta bantuan beberapa karakter yang bisa menopangnya dalam menempuh dualisme perjalanan ini. Karakter-karakter ini pun terbagi dalam dua kelompok: Pertama, karakter-karakter yang mendorong dinamika manusia dari egoisme menuju Allah dan gerak yang dibutuhkan manusia dari individualisme menuju Walâ` kepada Mukminin. Sedang sekelompok karakter lain memberi bantuan manusia untuk mengendalikan dan menghaclapi tekanan huwa nafsu. Adalah kecenderungan fitri kepada Allah, cinta Ilahi, zikir, dan ibadahlah yang menyongsong gerak laju manusia menuju Allah. Begitu pula kecenderungan hidup bermasyarakat (homo socius), rasa cinta ada kasih-sayang terhadap sesama adalah motor utama bagi terwujudnya suatu masyarakat. Karakter-karakter ini merupakan bagian yang memotivasi dan "melicinkan jalan" bagi akal agar dapat membangun prilaku rasional manusia.
    • Di sisi lain, terdapat sejumlah karakter yang digunakan untuk mengontrol prilaku rasional manusia. Rasa rnalu, sebagai contoh, bisa mengontrol brutalitas. Hilm (kebijakan intelektual) mencegah amarah yang berlebihan. ‘Iffah bisa mencambuk manusia untuk tidak bertingkah-laku seksual yang keluar dari syariat. Qanâ’ah dapat menyelamatkan manusia dari sikap rakus dan lain-lain. Karakter-karakter pengontrol ini kita sebut juga dengan nama 'isham (bentuk jamak dari 'ishmah [penjagaan]). Semua itu bertugas mencegah manusia dari kehancuran. Seandainya penjagaan-penjagaan itu tiada, niscaya akal sendirian tidak akan bisa menunaikan tugasnya dalam mengendalikan hawa nafsu. Dalam penjagaan ini berlaku juga prinsip kembang-kempis. Prinsip ini mengikuti pola hukum dan sebab-akibat tertentu yang akan lebih saya jelaskan sebentar lagi, InsyaAllah. 12. Karakter-karakter ini harus selalu di bahwa naungan akal dan agama. Bila tidak, mereka berubah menjadi anasir yang membahayakan dan faktor yang negatif. Seperti, belas-kasih; kelompok faktor pembangkit derajat manusia, ketika terlepas dari akal dan agama ia bisa berubah menjadi faktor yang sangat berbahaya. Sebagaimana bila belaskasih ditujukan kepada kalangan orang-orang zalim yang jelas-jelas dilarang oleh akal dan agama. Allah SWT berfirman: "Janganlah kamu berbelas-kasih kepadanya (orang zalim)." Begitu pula infak. Bila ia telah menyeleweng dari akal dan agama akan berubah menjadi faktor destruktif. Allah berfirman: "... dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal". Q.S. Al-Isrâ` 28. 13. Bala-tentara kejahilan tidak akan kuasa memaksa irâdah manusia betapa pun kuatnya. la tidak akan mampu merampas kehendak bebas manusia. Keputusan akhir tetap ada di tangan manusia dan pada puncak kekuasaannya. Bala-tentara kejahilan hanya bisa menekan irâdah manusia. la juga bisa menggerakkan irâdah manusia tanpa dapat mencabutnya atau mencabut kemandiriannya dalam memutuskan perkara. Begitupun juga, tidak bisa dipungkiri bahwa irâdah manusia bisa terpengaruh oleh bala-tentara akal ataupun kejahilan.
    • 14. Salah-satu barometer kembang-kempis atau pasang-surut bala-tentara akal adalah baik-tidaknya pendidikan akhlak. Karena, pendidikan akhlak dan takwa akan memicu bala-tentara akal, di samping melemahkan dan memperkecil gerak syahwat dan hawa nafsu dalam jiwa. Sebaliknya juga benar. Pemenuhan segala tuntutan syahwat dan hawa nafsu serta sikap apatis terhadap faktor ketakwaan dan pendidikan akhlak bisa lebih mengefektifkan dan mengefesienkan syahwat atau hawa nafsu dan memperlemah peran bala-tentara akal. Karena itu, dalam nash-nash keislaman terdapat perintah agar selalu waspada terhadap pemenuhan tuntutan hawa nafsu, biar halal sekalipun. Itu semua semata-mata demi menjaga supaya manusia tidak terseret hedonisme. Rasulullah SAWW telah menjelaskannya dalam sebuah hadis: "Barangsiapa memakan makanan rnenuruti nafsunya, Allah tidak akan melihatnya sampai ia selesai atau meninggalkannya".[1] Sesungguhnya, mengumbar selera makan artinya memakan apapun yang disukainya. Kalau ada orang yang mengumbar selera makannya pada yang halal, maka tidak jauh kemungkinan dia "terdesak" dan memakan yang haram. Ten-tunya, orang ini sebagaimana dalam riwayat itu- tidak akan banyak dicurahi rahmat dan "Allah tidak akan melihatnya." Ada beberapa latihan untuk melunakkan dan mengempiskan syahwat dan hawa-nahsu. Ibrahim Al-Khawas berkata: "Obat hati ada lima perkara : 1. Membaca Al-Quran. 2. Mengosongkan perut. 3. Bangun di malarn hari (untuk ibadah) 4. Tadharru' (rnerendahkan diri kepada Allah) di tengah malam. 5. Bergaul dengan orang-orang saleh."[2] Ada seorang saleh yang mengatakan: "Allah menciptakan hati sebagai ternpat berzikir. Kemudian ternpat itu berubah menjadi sarang syahwat. Dan syahwat yang bersarang dalam hati tidak akan keluar (lepas) kecuali dengan rasa-takut yang mencekam dan rindu yang mencemaskan kepada Allah."[3] Tentang permasalahan di atas Imam Ali as berkata dalam khutbahnya yang populer ketika beliau menyifati muttaqin: "Ahli takwa adalah orang yang telah menghidupkan akalnya dan mematikan nafsunya sarnpai luluh keangkuhannya dan lembut kekerasannya. Baginya ternpat yang nyaman dan berkilauan."[4]
    • Maksud dari keangkuhan yang diluluhkan dan kekerasan yang dilembutkan ialah hawa nafsu. Peran tarbiyyah (pendidikan) dan tazkiyyah (penyucian-diri) dalam Islam sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ali ialah melembutkan kekerasan dan meluluhkan keangkuhan perangai hawa nafsu dan bala-tentaranya yang menurut hitungan nash berjumlah 75 karakter. Untuk menghadapi hal tersebut telah dipersiapkan pula 75 bala bantuan bagi akal. 15. Sempurnanya tentara akal ini bisa menyebabkan aktifnya kekuasaan total terhadap hawa nafsu, syahwat dan insting. Imam Ali as berkata: "Akal yang sempurna akan menaklukkan tabiat jelek manusia".[5] Pada saat yang sama, manusia menjadi kuat dan kokoh. Berbeda dengan anggapan mayoritas orang. Mereka memahami arti kekuatan dan keperkasaan hanya dikala syahwat mendominasi manusia. Sedangkan Islam memandang kekuatan dan keperkasaan adalah dalam pendominasian terhadap hawa nafsu, bukan sebaliknya. Rasullullah SAWW bersabda: "Yang disebut perkasa bukan orang yang rnengalahkan orang lain, narnun orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya."[6] Rasulullah SAWW bersabda pula: "Perkasa bukan dia yang kuat dalam bergulat, namun dia yang bisa menguasai nafsunya saat sedang rnarah."[7] Rasulullah SAWW bersabda juga: "Orang yang paling berani adalah yang (berani) menaklukkan hawa nafsunya."[8] Berbagai Buah Akal yang Sempurna Ketika akal menyempurnakan kekuasaan dan menancapkan cengkramannya atas hawa nafsu; menyerpurnakan peran dan misinya membimbing manusia, ketika itu akal akan menjadi sumber berkah, taufik dan landasan perubahan kehidupan manusia. Berikut ini saya paparkan sebagian hasil dan buah akal yang bagi kehidupan manusia menurut nash-nash keislaman. A. Sikap Istiqâmah Imam Ali as berujar: "Buah akal adalah Istikamah."[9] Imam Ali as berkata: "Buah akal adalah bersatu-padu dengan kebenaran."[10] B. Membenci Dunia
    • Imam Ali as berkata: "Buah akal ialah membenci dunia dan mengekang hawa nafsu."[11] C. Penguasaan atas Hawa Nafsu Imam Ali as bertutur: "Bila akal telah sempurna, maka hawa nafsu akan berkurang."[12] Dari Imam Ali as: "Akal yang sempurna sanggup rnenaklukkan tabiat yang jelek."[13] D. Baik Budi Pekerti clan Prilakunya Imam Ali a.s berkata: "Orang yang sempurna akalnya adalah orang yang baik amal perbuatannya."[14] "Penjagaan-penjagaan" Setelah kajian kritis pelbagai nash keislaman tentang bala-tentara akal, kini kita kembali pada kajian tentang cara-cara terapi hawa nafsu. Pada pembahasan yang telah lewat kita telah mengetahui babwa akal sendirian tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengatasi dan membendung hawa nafsu. Sekiranya akal bertarung sendirian melawan hawa nafsu yang kuat itu, niscaya ia selalu berada pada pihak yang kalah. Karenanya, Allah meletakkan bala-tentara yang bisa diandalkan untuk membantu akal menghadapi bala-tentara hawa nafsu. Jumlah keduanya berimbang. Keduanya memiliki matlamat dan tuntutan yang berbeda secara kontradiktif. Bala-tentara itulah yang di sini kita sebut dengan penjagaan atau al-'isham. Akal selalu meminta bantuan padanya untuk membendung dan mengendalikan kebrutalan hawa nafsu. Atas dasar itu, konsentrasi berbagai penjagaan ini di antara bala-tentara akal yang lain merupakan metode pendidikan yang jitu -juga Islami- dalam terapi hawa nafsu. Berbagai penjagaan itu sangatlah penting sehagai tindakun preventif dari gempurangempuran syahwat dan hawa nafsu yang menyeret manusia ke jurang kemaksiatan. Seandainya penjagaan serupa tidak ada, maka sudah barang tentu akal saja tidak bakalan mampu mengekang nafsu dan mengendalikan syawat. Penjagaan ini selalu mengalami kembang-kempis. Dalam keadaan kembang atau optimal, mereka mampu membentengi manusia dari segala bentuk kesalahan dan kemaksiatan. Namun, ketika "stamina"nya mengempis, syahwat akan menjadi-jadi dan mencampuri sembarang urusan manusia. Optimasi penjagaan ini terjadi dengan ketakwaan, sedang minimasinya disebabkan perbuatan zalim dan dosa. Perbuatan-perbuatan itu mengikis benteng tumpuan manusia untuk menyelamatkan dirinya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Doa Kumail: "Ya Allah, ampunilah dosa-dasaku yang meruntuhkan penjagaan."
    • Hubungan antara takwa dan penjagaan bersifat timbal-balik atau mutual. Maksudnya, takwa berpengaruh dalam membantu penjagaan dan penjagaan berpengaruh dalam menopang takwa. Hubungan antara dosa dan penjagaan pun bersifat mutual. Dosa mempengaruhi minimalisasi dan keruntuhan penjagaan. Sedangkan surut dan runtuhnya penjagaan berakibat pada penguasaan syahwat dan hawa nafsu atas jiwa manusia. Penjagaan ini bersifat intrinsik. la telah berkelindan dalam fitrah manusia. Allah meletakkannya untuk menopang akal dalam menjalankan berbagai tugas penting yang dititahkan. Sebagian sosiolog meyakini bahwa penjagaan ini berasal dari luar; masyarakat. Penjagaan itu tidak bersifat aprior (qobli), tetapi, ia bersifat aposterior (ba'di) atau yang diperolehnya di tengah-tengah masyarakat yang ia hidup di dalamnya. Oleh karena itu, intensitasnya berbeda-beda dari lingkungan yang satu ke lingkungan yang lainnya. Dengan perkataan lain, ia berkembang dalam lingkungan masyarakat yang konservatif, sementara akan mengempis dalam masyarakat yang liberal. Bahkan, ada masyarakat yang mencapai tingkat dekadensi moral sedemikian rupa yang bisa meniadakan penjagaan jiwa itu secara total. Pendapat di atas mendapat kritik yang tajam sehingga sulit untuk dipertahankan. Fenomena psikologis yang timbul dari fitrah akan sangat berpengaruh secara sosial. Tidak ada jalan untuk mengisolir fenomena psikologis dari selainnya (baca: fenomena sosial). Sungguh salah besar jika kita menganggap bahwa fenomena psikologis berbeda daripada fenomena sosial disebabkan tidak terjadinya interaksi sosial dalam berbagai fenomena psikologis. Ipso facto, fenomena psikologis seseorang tidak dapat dipandang secara terpisah dari pergumulan sosialnya. Baik dari sisi negatif maupun positif. Perbedaannya adalah bahwa fenomena psikologis bersifat universal dan mencakup seluruh masyarakat di sepanjang sejarah peradaban manusia dalam tingkatan yang berbeda-beda. Sementara, fenomena sosial terjadi dalam kurun waktu tertentu dan di lingkungan geografis tertentu pula. Untuk memperjelas masalah di atas, berikut ini akan saya berikan contoh. Iman kepada Allah, misalnya, merupakan fenomena psiologis yang muncul dari fitrah. Sebaliknya, atheisme adalah fenomena penyimpangan sosial yang memberontak terhadap petunjuk fitrah. Kedua fenomena ini, sama-sama terdapat dalam sejarah manusia dan tampak di punggung planet ini. Meski demikian, keimanan merupakan keadaan yang berlaku di sepanjang sejarah peradaban manusia dan tak ada jeda bagi keadaan ini. Hatta para
    • peyembah berhala, matahari dan bulan mengekspresikan keadaan ini, meskipun secara salah. Sementara atheisme tidak memiliki akar semendasar itu dalam sejarah peradaban manusia. Selang beberapa lama atheisme tidak hadir secara kuat dan resmi sebagai suatu tampilan yang berlogika, berbudaya dan berfilsafat. Keimanan kepada Allah merupakan fenomena dan keadaan yang universal dan merata di muka bumi. Sementara atheisme bagaikan gelembung-gelembung air yang sesekali muncul di sana sini secara lemah kemudian pecah. Gelembung terakhir dan terkuatnya yang unjuk gigi di pentas sejarah politik, peradaban dan pemikiran manusia adalah Marxisme. la mampu mencuat keluar sebagai suatu eksistensi politik internasional yang sensasional, tapi tak lama waktu berlalu gelembung itu pun akhirnya pecah sama-sekali. Berbedajauh dengan keadaan iman kepada Allah. Maka siapa yang tidak membedakan antara fenomena iman kepada Allah dan atheisme pasti membodohi dirinya sendiri. Kita kembali kepada kajian tentang penjagaan. Baru saja kita telah disibukkan mengkaji kedalaman (baca: kefitriaan) penjagaan. Kita lupa mengkaji sistem penjagaan dan perannya dalam kehidupan manusia atau sistem pendidikan Islami dalam memfungsikan penjagaan guna menandingi hawa nafsu. Selanjutnya, saya akan mengemukakan uraian yang lebih panjang tentang penjagaan. Beberapa waktu lalu, saya telah menulis kajian tentang penjagaan. Karenanya, alangkah baik nya kalau saya nukil kembali beberapa paragrafnya yang berhubungan dengan pembahasan ini. Sesungguhnya, dominasi hawa nafsu atas manusia mempunyai pengaruh yang kuat. Dominasi ini mempunyai peran destruktif' yang luar biasa pada kehidupan manusia. Selama manusia tidak berdaya mengekang, membatasi dan menetralisir hawa nafsu, dia tidak akan terlepas dari upaya destruktifnya. Kalau demikian, mesti ada suatu metode pendidikan yang sempurna untuk menghadapi dominasi hawa nafsu dan efek-efeknya yang destruktrif dalam kehidupan manusia. Baik dari segi individual ataupun sosial. Metode apakah itu? Orientasi pendidikan yang bagaimanakah yang memungkinkan manusia menguasai hawa nafsu dan syahwatnya? Metode pertama ialah monastisisme atau kehidupan kebiaraan (rahbaniyyah). Monastisisme mempunyai dua tujuan. Pertama, menon-aktifkan syahwat yang ada dalam jiwa manusia. Kedua, mengisolasi diri dari fitnah (rangsangan dan godaan) hidup. Pandangan ini sangat populer dan memiliki akar yang dalam di sepanjang sejarah. Pandangan ini, secara garis besar, meyakini bahwa masalah utama manusia terletak pada pergesekan antara hawa nafsu dan fitnah. Maka dari itu, keselamatan manusia bisa
    • dicapai dengan menjauhkan hawa nafsu dari fitnah dan kemewahan dunia dan dengan mengekang total syahwat dan berbagai naluri manusia lainnya. Metodologi ini cukup populer dalam sejarah pemikiran umat manusia. Pandangan ini dan berbagai wajah barunya, berakar pada ajaran Kristen ortodoks. Islam benar-benar menolak metode ini. Bahkan menganggap pengisolasian, pemusnahan dan pengekangan bukan saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah manusia, bahkan bisa mengakibatkan anomali dan menyalahi sunnatullah pada hakikat manusia. Alquran menolak pandangan ini dalam ayat-ayat berikut ini. "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiop (memasuki) mesjid, makan dan minurnlah, danjanganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allak tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." Q.S. Al-A'râf:31. "Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demiklanlah Kami menjelaskan aya-ayat itu bagi orang-orangyang mengetahui." Q.S. Al-A'râf:32. "Katakanlah:"Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa ada alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) rnengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." Q.S. Al-A'râf:33. Bagian awal ayat ini mengajak manusia menikmati kebaikan-kebaikan duniawi tanpa israf (sikap ekstrem), yaitu pada ayat: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan". Pada bagian keduanya, ia mengecam sikap orang-orang yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dari kebaikan-kebaikan dunia, yaitu dalam ayat: "Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang menghararnkan) rizki yang baik?" Kemudian ayat itu menyebutkan bahwa dunia dan bermacam-macam kelezatan di dalamnya adalah milik orang Muk-min, dan orang musyrik pun ikut menikmatinya. Adapun di akhirat kelak, kelezatan murni milik orang Mukmin dan musyrik tidak akan mendapatkannya sama sekali. Sebagaimana tertera dalam ayat:
    • Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat", Lalu ayat tersebut menjelaskan, Allah SWT hanya mengharamkan segala bentuk kekejian di dalam dunia. Baik yang ditampakkan maupun yang disembunyikan. Allah juga melarang perbuatan dosa dan kezaliman serta permusuhan. Oleh karena itu, Islam menolak anjuran pemutusan hubungan dengan dunia. la menyuruh kaum Muslim bersenang-senang menikmati pesona dunia. Islam mencemooh perbuatan orang-orang yang memutuskan hubungan dengan dunia dan yang mengharamkan keindahan-keindahannya yang telah dihalalkan oleh Allah. Sebagian dari kenikmatan dunia ada yang dijadikan Allah sebagai fitnah buat hambaNya. Walau demikian, Dia tidak menyuruh kita mengisolir diri dan menjauhi dunia. Allah hanya menyuruh kita untuk menjauhi segala bentuk fawâhisy (kekejian) dan agar waspadauntuk tidak melanggar hukum-hukum-Nya. Suatu ketika Imam Ali as mendengar seorang berdoa: "Ya Allah, aku herlindung padaMu dari fitnah." Lalu Imam Ali menegurnya: "Aku perhatikan kamu hendak berlindung dari harta dan anakmu! Allah berfirman: 'Anak dan harta bendarnu semata-mata adalah fttnah." Seharusnya kamu berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnahfitnah yang menyesatkan."[15] Amiril Mukminin Ali as berkata: "Janganlah ada di antara kalian yang mengatakan: "Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari fitnah". Jelas tak ada seorang pun di antara kalian yang tidak terkena fitnah. Jika kamu ingin berlindung, maka berlindunglah dari fitnahfitnah yang menyesatkan. Allah berfirman:" Ketahuilah sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah fitnah...(Q.S. Al-anfâl 28)." Bila begitu, bagaimana Islam menstabilkan dan mengatur hawa nafsu? Sesungguhnya, Islam telah meletakkan jalan dan metode pendidikan yang baru dalam mengatur hawa nafsu. Metode itu disebut dengan penjagaan yang sudah ada dalam prilaku manusia. la menyerupai insulator dalam elektronika. Anda telah mengerti bagaimana mungkin manusia dapat menggunakan api dan listrik dengan memakai insulator tanpa takut akan bahayanya? Begitu pula manusia dapat berurusan dengan fitnah dan rangsangan atau tipu-dayanya melalui penjagaan ini tanpa sedikitpun harus takut akan bahayanya. Salah besar bila kita mengajak manusia untuk tidak menggunakan api atau listrik karena kedua benda tersebut bisa membakar atau menimbulkan kobaran api. Namun, perlu diperhatikan, bahwa hubungan kita dengan api atau listrik mesti dengan insulator yang bisa menjaga manusia dari bahaya keduanya.
    • Begitu pula, tidak dibenarkan kita mengajak manusia untuk menjauhi fitnah padahal di antara fitnah itu terdapat harta benda dan anak-anak. Akan tetapi, manusia harus menjaga dirinya dalam berurusan dengan fitnah ini melalui penjagaan. Bilamana penjagaan ini telah sempurna dalam kehidupan individual dan sosial manusia, maka ia akan memainkan peran yang penting dalam melembutkan, menyeimbangkan, menahan dan menundukkan berbagai naluri manusia di hadapan pemiliknya. Penjagaan memungkinkan manusia "menguasai hawa nafsu dan syahwatnya" sebagaimanayang telah disebut dalam pelbagai nash keislaman. Ungkapan di atas sangat bernilai tinggi. Jelasnya demikian, bahwa di antara manusia ada yang bisa menguasai hawa nafsu dan syahwatnya, dan ada yang dikuasai oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Oleh sebab itu, Islam tidak melarang seorang menyelami dunia asalkan dia tahan dan bisa menguasai hawa nafsunya. Inilah tolok-ukur pembeda antara hawa nafsu dan petunjuk. Imam Ash-Shadiq as berkata: "Barangsiapa bisa menguasai nafsunya dalam keadaan marah, takut dan senangnya, maka Allah mengharamkanjasadnya masuk neraka."[16] Dalam hadis yang lain disebutkan: "Barangsiapa bisa menguasai nafsunya dalam keadaan hasrat, takut, senang atau keadaan marahnya, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka."[17] Tiga Kategori Penjagaan Pertama, penjagaan yang telah dianugrahkan Allah pada lubuk fitrah secara takwînî. Pendidikan akan mengintensifkannya. Rasa malu, 'iffah dan belas-kasih, untuk menyebutkan beberapa. Penjagaan macam ini akan menutupi, melunakkan dan menseimbangkan naluri. Naluri seksual, misalnya, yang ada pada manusia dan binatang. Pada binatang, naluri ini bersifat "telanjang". Sedang pada manusia naluri itu selalu dibungkus dengan rasa malu dan 'iffah. Oleh karenanya, banyak hal yang tidak dilakukan oleh manusia dilakukan oleh binatang. Hal ini bukan karena adanya kelemahan naluri manusia tapi semata-mata ia dijaga oleh rasa "malu dan iffah" yang bisa melunakkan, menyeimbangkan dan mencegah "keliaran" naluri seksual. Demikian pula belas-kasih. la memainkan peran yang besar dalam melunakkan dan menyeiinbangkan naluri amarah. Dalam hal ini manusia dan binatang sama. Bedanya, pada binatang ia terbuka dan bebas, sedangkan pada manusia ia terbungkus dalam belaskasih. Kedua, penjagaan yang perlu dicari dan dipraktikkan oleh manusia itu sendiri. Dalam konteks ini, pendidikan mempunyai peran yang vital untuk mengkokohkannya dalam kehidupan seorang. Zikir, salat, puasa, dan takwa, misalnya masuk dalam kategori ini. Salat bisa menjaga seorang dari perbuatan keji dan munkar. Zikir menolak rayuan setan. Dan puasa adalah
    • perisai manusia dari siksa neraka dan takwa merupakan baju yang menutupi dan menjaga manusia dari bencana dosa dan nista serta beragam kesalahan lainnya. Allah SWT berfirman:"... Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik"... Q.S. Al-A'râf:26. Ketiga, penjagaan yang telah dianugrahkan Allah untuk kepentingan kehidupan sosial manusia. Seperti jamaah atau kelompok mukminin dan kehidupan berkeluarga. Jamaah mukminin akan menjaga seorang dari kehancuran dan keruntuhan. Sedang kehidupan berkeluarga menjaga kehormatan suami-istri. Selanjutnya, di bawah ini saya memberikan dua contoh penjagaan yang telah dianugrahkan oleh Allah pada jiwa manusia atau bersifat intrinsik padanya. Yaitu alkhauf (rasa takut) dan al-hayâ` (rasa malu). Takut kepada Allah Takut kepada Allah adalah salah satu penjagaan terpenting yang telah diletakkan Allah padajiwa manusia. Hal ini telah dijelaskan di kedua hadis akal dan kejahilan di atas yang termuat dalam bagian "bala tentara akal". Takut merupakan f'aktor terbesar untuk mencegah hawa nafsu. Takut juga mempunyai peran besar dalam membendung dan menahan hawa nafsu. Allah SWT berfirman: "Dan adapun omng-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”. Q.S. Al-Nâzi’ât:40. Dalam ayat ini digambarkan dengan jelas tentang keterpautan dan hubungan yang berlaku antara takut kepada Allah dan menahan diri dari mengikuti keinginan hawa nafsu. Imam Ash-Shadiq as pernah berkata: "Barangsiapa yang meyakini bahwa Allah melihat dirinya, mendengar apa yang diucapkannya, mengetahui apa yang dilakukannya, baik yang bagus maupun yang yang jelek, kemudian dia rnenjauhi perbuatan jelek, yang demikian ini adalah orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.".[18] Imam Ali as berkata: "Takut merupakan penahan nafsu dari kelakuan dosa dan yang menghalanginya berbuat kemaksiatan."[19] Takut menghalangi manusia berbuat maksiat. la membatasinya pada yang halal agar manusia tidak terperosok di lembah yang haram. Takut juga mencegah manusia melakukan segala kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan. Rasululah SAWW bersabda: "Ada tujuh golongan yang bakal mendapat naungan Allah di hari yang tak ada naungan (kiamat) kecuali naungan-Nya. (Golongan tersebut) ialah
    • 1. Imam yang adil. 2. Pemuda yang hidup tumbuh dengan ibadah kepada Allah SWT. 3. Orang yang hatinya selalu cenderung pada masjid. 4. Dua orang yang saling mencintai demi Allah, baik di kala berkumpul maupun di waktu berpisah. 5. Seorang yang mengeluarkan sedekah kemudian menyembunyikan (amalnya) sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya. 6. Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendirian lalu kedua matanya sembab (bercucuran air mata). 7. Dan seorangyang diajak rnesum oleh wanita cantik dan berkedudukan lalu orang lelaki itu mengatakan aku takut kepada Allah SWT".[20] Makhâfatullah (takut kepada Allah) mencegah manusia dari pengaruh syahwat terkuat, yaitu syahwat seksual. Imam Ali as berkata: "Sungguh mengherankan orang yang takut kepada siksaan tapi tidak berupaya menjauhinya dan orang yang mengharapkan pahala tapi tidak pernah taubat dan berbuat baik."[21] Imam Al-Baqir as berkata: "Tiada takut seperti takut yang dapat mencegah dan tiada harapan seperti harapan yang dapat menolong."[22] Jadi, takut mencegah manusia dari terseret melakukan keinginan syahwat dan yang menahan manusia dari perbuatan yang berbau dosa. Imam Ali as berkata: "Sebaik-baik penghalang dari perbuatan maksiat adalah takut."[23] Takut adalah Keamanan Sungguh mengherankan, al-khauf yang sepadan maknanya dengan al-qalaq (kegelisahan atau keresahan), dalam pandangan Islam bisa mempunyai arti al-amân (ketentraman). Karena takut menghalangi manusia berbuat maksiat, maka, pada hakikatnya, ia menghalangi manusia dari kehancuran dan keterjerumusan; kemaksiatan. Hukum-hukum Allah SWT ada lah tameng yang menjaga manusia dari kehancuran. Singkat kata, takut, pada gilirannya, akan membawa ketenangan dalam kehidupan manusia, berbeda dengan pandangan yang dangkal tentangnya. Dalam riwayat-riwayat berikut ini Anda akan menemukan pengertian di atas. Imam Ali as berkata: "Takut akan membawa rasa aman."[24]
    • Imam Ali as berkata: "Buah takut adalah rasa aman. "[25] Dari Imam Ali as juga: "Takutlah kepada Tuhanmu dan berharaplah pada Rahmat-Nya, maka Dia akan menyelarnatkanmu dari apa yang kamu takuti dan Dia akan meniberimu apa saja yang kamu harapkan."[26] Imam Ali as juga berkata: "Tidak layak bagi orang yang berakal berdiam dalam ketakutan bila ada jalan yang masih memungkinkan untuk rnendapatkan keselamatan."[27] Takut yang dimaksud dalam nash-nash tersebut ialah keselamatan dari siksaan Allah. Sedangkan keselamatan yang disebut dalam nash tersebut ialah takut dari siksaan Allah. Takut dan selamat ialah salah satu arti yang saling berhubungan. Dan ini adalah satu di antara kekhasan kultur keislaman. Kesimpulannya, takut (kepada Allah) di dunia berarti selamat (dari siksa) di akhirat dan 'selamat' di dunia berarti takut di akhirat. Imam Ali as mengambil pengertian keislaman ini dari sumber kenabian yang tidak bakalan kering. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda: "Allah SWT berfirman: "Demi Keagungan-Ku dan Keperkasaan-Ku, sungguh Aku tidak akan mengumpulkan dua takut dan dua keselamatan pada hamba-Ku. Bilamana dia "merasa aman," dari-Ku di dunia, Aku jadikan dia takut di hari kiarnat. Sebaliknya, bilamana dia takut pada-Ku di dunia akan Aku selarnatkan dia di hari kiamat."[28] Beberapa Kisah Tentang Peran Takut dalam Mengendalikan Hawa Nafsu Berikut ini saya akan sebutkan beberapa kisah tentang tindak penyelamatan yang dilakukan rasa takut terhadap jiwa manusia dari keterjerumusan di jurang kemaksiatan dan syahwat. Kisah-kisah ini telah disebutkan dalam beberapa riwayat berikut ini: Diceritakan kepadaku oleh Usman bin Zufar Al-Taimy, dia berkata, Abu Umar Yahya bin Amir Al-Taimy bercerita demikian kepadaku: "Seorang lelaki desa sedang menunaikan haji. Pada suatu malam, mendadak dia melihat seorang wanita cantik yang terurai rambutnya di dekat sungai. Lelaki itu segera memalingkan wajahnya. Namun perempuan itu berkata: "Kemarilah! Mengapa Anda berpaling dariku?” Lelaki itu menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah Pemilik alam semesta”. Kemudian wanita itu mengenakan kerudungnya seraya berkata: "Kamu ketakutan? Kalau demikian, yang pantas takut bersamamu adalah orang yang ingin mengajakmu bermaksiat bersama-sama."
    • Kemudian wanita itu pergi. Akupun mengikutinya dari belakang. Dia masuk ke salah satu perkampungan orang Arab Badui. Esok harinya, aku menemui salah seorang dari mereka dan menceritakan perihal wanita yang kujumpai dan kejadian yang kualami. Aku ceritakan mulai raut wajahnya sampai cara bertutur katanya. Kemudian salah seorang dari mereka berseru: "Demi Allah, dia adalah putriku”. Aku berkata: "Kau mau menikahkannya." "Tentu saja kepada yang sesuai (kufu') ", sergahnya. Aku berkata: "Aku dari suku Taimullah. "Bolehlah. Persesuaian yang terhormat." katanya. Aku tidak beranjak sebelum menikahinya. Akhirnya akupun menikahinya. Kemudian aku berkata: "Persiapkan dia sampai aku selesai menunaikan haji." Selesai menunaikan haji aku bawa dia ke Kufah dan sekarang dia di sampingku dengan beberapa anak laki-laki dan perempuan."[29] Seorang wanita cantik hermukim di kota Makkah. Dia sudah berkeluarga. Pada suatu hari, dia hercermin seraya sesumbar di hadapan suaminya: "Apa ada orang yang melihat wajah ini dan tidak terpesona?” "Ada." jawab suaminya. "Siapa?" tanyanya. "Ubaid bin Umair." jawab si suami. Wanita itu kemudian memohon pada suaminya untuk pergi menggoda Ubaid bin Umair. Suaminya pun mengizinkannya. Dengan penuh semangat, dia mendatangi majlis taklim Ubaid bin Umair dan berpurapura sebagai penanya hukum. Dia menyendiri di sudut masjid Al-Haram. Lalu dia dengan sengaja menyingkap wajahnya yang bagaikan bulan sabit. Kemudian Ubaid bertanya pada wanita itu: "Wahai harnba Allah! Ada apa denganmu? "Aku datang karena terpikat padamu. Maka penuhi hajatku", rayu wanita itu.
    • Ubaid menjawab: "Baik. Tapi jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu apakah kau akan menjawab dengan jujur? Kalau tidak, aku tidak akan memperhatikan urusanmu." "Boleh. Tapi janganlah kau bertanya tentang sesuatu yang pasti akan kudustakan", pinta wanita itu. Ubaid bertanya lagi: "Jawablah dengan jujur. Apakah kau mau sekiranya aku penuhi permintaanmu dan malaikat maut datang kepadamu?" "Tentu tidak!", jawab si wanita. "Kau berkata benar", seru Ubaid. "Apakah kau mau sekiranya aku memenuhi kemauanmu, kemudian kelak di liang kubur kau didudukkan untuk mempertanggung-jawabkannya? "Sungguh tidak", jawab wanita itu. "Engkau berkata benar!", seru Ubaid. "Apakah kamu mau aku memuaskan hasratmu, padahal kelak ketika kitab amal dibagikan kamu belum mengetahui apakah kamu akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri? "Sungguh tidak", jawabnya. "Engkau telah berkata jujur", jawab Ubaid. "Apakah kau mau aku melayani nafsumu, padahal kau tidak bisa memastikan timbangan amalmu itu berat atau ringan?" "Sungguh tidak!" “Apakah kau mau aku memenuhi hajatmu, padahal kelak kau akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah?” "Sungguh tidak". "Kamu berkata jujur." Kemudian Ubaid melanjutkan: "Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah. Sungguh Allah telah memberi sebagian kenikmatan padamu dengan menjadikan wajahmu elok." Perawi berkata: "Lalu wanita itu kembali dan tersimpu di pangkuan suaminya. Lalu sang suami bertanya: "Wahai istriku, gerangan apa yang telah terjadi pada dirimu?” Dia menjawab: "Kamu adalah penganggur dan kita juga para penganggur." Kemudian setelah itu dia tekun salat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya.
    • Setelah itu suaminya berkata: "Sesungguhnya, apa yang telah dilakukan Ubaid untuk merubah istriku. Sebelumnya, setiap malamnya ialah malam penganten baru. Kini dia berubah menjadi biarawati."[30] Abu Said bin Abi Umamah meriwayatkan, ada seorang lelaki mencintai seorang perempuan. Perempuan itu pun menyambutnya dengan mesra. Maka bertemulah keduanya. Si perempuan merayunya. Lalu lelaki itu berkata: "Ajalku bukan di tanganmu dan juga ajalmu bukan di tanganku, barangkali ajal kita sudah dekat dan kita tidak ingin bertemu Allah dalam keadaan bermaksiat." "Sungguh benar ucapmu itu", jawab si perempuan. Maka kedua sejoli itu mengurungkan niat mereka. Mereka bertaubat dan menjadi di antaru orang-orang yang saleh”. [31] Kharijah bin Ziyad menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari bani Sulaimah mengkisahkan: Aku sangat tertarik pada wanita dari suatu suku. Aku selalu membuntutinya di kala dia keluar dari masjid. Kemudian dia mengetahui perbuatanku itu. Pada suatu malam, dia berkata padaku: "Apakah kamu ada keperluan denganku?" "Ya!", jawabku. "Apa keperluanmu?", tanyanya. "Kecintaanmu”, jawab si lelaki. "Tundakan itu untuk hari kiamat." sergahnya. Lelaki itu pun berkata: "Demi Allah sungguh wanita ini menjadikan aku menangis. Dan membuatku tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi."[32] Syaikh Bani Abdul Qais berkata: "Aku mendengar mereka bercerita tentang seorang lelaki yang merayu perempuan. Lalu perempuan itu bertanya: "Pernahkah engkau mendengar hadis atau membaca AlQuran. Sesungguhnya, engkau lebih tahu itu semua daripada aku." "Kuncilah semua pintu istana ini!" teriak lelaki itu. Kemudian si perempuan itu menutup semua pintu. Setelah itu lelaki tadi mendekatinya. Tiba-tiba perempuan itu berkata: "Tinggal satu pintu yang belum aku tutup." "Pintu apa itu?", tanya lelaki dengan penuh keheranan. "Pintu yang ada di antara kau dan Allah SWT"
    • Perawi berkata: maka lelaki membatalkan rencananya pada wanita tadi".[33] Ibnu Jauzi berkata, telah sampai sebuah cerita padaku tentang perempuan ahli ibadah dari wilayah Bashrah yang telah membuat kasmaran seorang lelaki dari suku Muhallab. Dia adalah perempuan yang cantik. Banyak orang meminangnya. Namun dia menolaknya. Kemudian ada berita bahwa wanita itu ingin naik haji. Berita ini didengar oleh orang Muhallab itu. Kemudian dia membeli 300 ekor onta dan mengumumkan: "Barangsiapa ingin pergi haji hendaknya menyewa pada Muhallab." Lalu wanita itu menyewa padanya. Sesampainya di pertengahan jalan, waktu malam tiba. Orang Muhallab itupun mencoba mendekatinya seraya memberitahukan hasratnya kepadanya: "Kawinkan dirimu padaku atau kalau tidak, akan kupaksa engkau melayaniku." "Celaka kau! takutlah kepada Allah," bentak si wanita. "Sungguh tiada pilihan lain kecuali apa yang kamu dengar dariku!" kata si lelaki itu. "Demi Allah aku bukan penuntun onta dan aku tidak meninggalkan kampungku kecuali demimu," jawab Muhallabi. Ketika wanita itu merasa ketakutan, dia berkata lagi: "celaka kau, lihatlah apakah masih ada orang yang belum tidur?" "Tidak, tidak ada!", jawabnya. "Lihat lagi," kata wanita itu. "Tidak ada. Semuanya sudah tidur," jawab Muhallabi. Kemudian wanita itu berkata: "Celakalah kamu, apakah Tuhan Pemilik alam semesta juga ikut tidur?". Rasa Malu Perangai kedua dari bala-tentara akal adalah malu. ia mempunyai peran yang krusial dalam membentengi manusia dan menjaganya dari kehancuran. Seringterjadi bahwa seorang terdorong untuk melakukan kemaksiatan sedangkan akal tidak mampu membendungnya. Dalam keadaan seperti itulah malu kepada Allah SWT berperan sangat genting. Karena, rasa malu kepada Allah SWT akan mencegah manusiadari kelakuan dosa. Malu - dalam segala tingkatannya - merupakan penjagaan bagi manusia. Malu pada keluarga dan sanak keluarga mengandung tingkat tertentu dari penjagaan. Malu pada
    • manusia biasa mengandung derajat penjagaan yang lebih tinggi. Malu pada orang yang dihormati dan dimuliakan mengandung derajat penjagaan yang lebih tinggi. Malu kepada Allah SWT mengandung derajat penjagaan yang paling tinggi lagi dalam kehidupan manusia. Bila manusia mampu mengkristalkan rasa-malu kepada Allah dalam dirinya, dan menganggap Allah beserta para malaikat-Nya selalu hadir di sisinya, maka perasaan ini akan benar-benar menjaga seorang dari perbuatan dosa, maksiat dan menyelamatkannya dari perangkap syahwat dengan kadar yang sangat tinggi. Malu pada Allah Bagaimana mungkin seorang melanggar perintah Allah kalau dia menganggap bahwa Allah hadir di kalbunya. Merasa bahwa Allah SWT melihat dan mendengarnya. Para malaikat Allah yang telah ditugaskan-Nya tidak jauh darinya dan tiada satu masalah yang samar bagi mereka kecuali yang dirahasiakan oleh Allah. Rasulullah SAWW dalam sebuah wasiatnya pada Abu Dzar r.a. bertutur: "Wahai Abu Dzar, bersikapmalulah kepada Allah. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, aku selalu mengenakan kain penutup ketika buang hajat. Karena aku malu kepada kedua malaikat yang selalu bersamaku"[34] Rasulullah SAWW bersabda: "Bersikapmalulah kepada Allah sebagaimana kamu bersikap malu terhadap tetanggamu yang baik. Karena, rasa malu akan menambah keyakinan."[35] Rasulullah SAWW bersabda: "Hendaknya kalian semua bersikap malu pada dua malaikat yang selalu bersama kalian. Sama seperti kalian bersikap rnalu kepada dua orang tetangga saleh yang selalu bersama kalian di waktu siang dan malam."[36] Imam Al-Kazhim as berkata tentang malu kepada Allah di tempat rahasia dan sepi demikian: "Bersikapmalulah kalian kepada Allah di tempat-tempat rahasia, sebagaimana kalian bersikap malu pada manusia di tempat-ternpat terbuka."[37] Kalau demikian, malu kepada Allah SWT akan membuahkan derajat yang tinggi dari 'ishmah (keterjagaan dari dosa). Malu dapat menjaga seorang dari kehancuran. Kandungan nash di bawah ini telah berulang kali disebutkan dalam berbagai nash keislaman. Imam Ali as berkata: "Malu akan membentengi manusia dariperbuatan jelek."[38] Imam Ali as berkata: "Kadar 'iffah Anda dapat diukur dengan kadar malu Anda."[39] Rasulullah SAWW bersabda: "Bersikap malulah kepada Allah secara betulan”. Rasul ditanya: “Siapakah yang mampu bersikap malu kepada Allah secara betulan itu?”
    • Beliau menjawab: "orang yang bersikap malu kepada Allah secara betulan, ialah orang yang mengetahui kalau ajalnya telah ditentukan di hadapan matanya, zuhud pada dunia dan segala hiasanya, menjaga kepala dan apayang dikandungnya dan perut dengan segala isinya."[40] Imam Musa bin Ja'far as berkata: "Semoga Allah rnenghormati orang yang benar-benar bersikap malu kepada Allah; menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya dan menjaga perut dan segala isinya."[41] Di sela-sela kepala dan perut manusia ada sejumlah syahwat yang siap mempengaruhinya. Mata adalah jendela syahwat. Pendengaran adalah jendela lain bagi syahwat. Perut tempat syahwat. Dan zakar juga tempat syahwat. Bilamana manusia malu kepada Allah, maka rasa malunya tersebut akan menjaga kepala beserta apa yang terkandung di dalamnya dari jendela-jendela syahwat dan perut beserta apa yang tertampung berupa tempat-tempat syahwat. Imam Ali as berujar: "Paling mulianya wara' adalah meninggalkan perbuatan di waktu sepi apa yang kamu rnalu mengerjakannya di waktu ramai."[42] Keluhan Tentang Sedikitnya Malu Kepada Allah Dalam banyak doa kita menemukan keluhan-keluhan manusia kepada Allah SWT tentang kurangnya rasa malunya kepada Allah SWT Pengaduan dan keluhan semacam ini merupakan kandungan makna doa yang terlembut. Dalam pengaduan ini, Allah SWT adalah yang menjadi Hakim. Sedang ego manusia adalah pengadu dan yang diadukan ialah hawa nafsu. Adapun isi pengadukan adalah keadaan rasa-malu seseorang. Kesimpulannya, apayangterkandungdalam gugatan tersebut adalah pengaduhan manusia tentang kurangnya atau tiadanya rasa malu dirinya kepada Allah. Dalam doa Abu Hamzah disebutkan: "Wahai Tuhan! Aku tidak malu kepada-Mu di saat sepi, dan tidak memperhatikan-Mu di saat ramai. Aku telah tertimpa musibah besar. Akulah orang yang lari dari Tuannya. Telah Engkau tutupi kesalahan-kesalahanku, tapi aku masih belum merasa malu. Telah melampaui batas-batas, maksiatku. Engkau hapuskan semua itu di depan matamu-Mu tapi aku tetap tidak peduli.”[43] Doa di atas menunjukkan pengaduan manusia tentang dirinya, maksiat yang dilakukannya dan pelanggarannya terhadap hukum-hukum Allah. Dalam munajat Asy-Syâkin (para pengadu kepada Al-lah), Imam Zainal Abidin as menyebutkan demikian:
    • "Tuhanku, aku mengadukan kepada-Mu tentang hawa nafsu yang mengajak pada kejelekan, bergegas mendatangi dosa, gemar maksiat dan sengaja mencari murkaMu."[44] [1] Biharul Anwar, 70-78. [2] Dzammul Hawâ, karya Ihnu Al-Jauzi:70. [3] Ibid. [4] Nahjul Balâghah, khutbah 320. [5] Bihârul Anwâr, 78:9. [6] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Al-Jauzi:39. [7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan Al-Baihaqi. [8] Biharul Anwâr, 70:76 hadis 5 dan Mustadrak Al-Wasâ`il, 2:345. [9] Ghurarul Hikam 1:320. [10] Ghurarul Hikam 1:320. [11] Ghurarul Hikam 1:323. [12] Ghurarul Hikam 1:279. [13] Bihârul Anwâr, 9:78. [14] Bihârul Anwâr, 9:78. [15] Bihârul Anwâr, 93:235. [16] Bihârul Anwâr, 78:243. [17] Bihârul Anwâr, 71:358. [18] Ushûlul Kâfî: 40. [19] Mîzânul Hikmah, 3:183. [20] Diriwayatkan Al-Bukhari dalam pembahasan masalah wajibnya melakukan shalat berjamaah bab 8, dalam bagian keharusan mengeluarkan zakat bab 18, dalam bagian Ar-Riqâq dalam kitab Al-Muharib bab 4; Diriwayatkan juga dalani Muslim kitab sahihnya bagian zakat bab 30 serta diriwayatkan dari Abu AlFaraj dalam kitab Dzamul Hawâ:243. [21] Bihârul Anwâr, 77:237.
    • [22] Bihârul Anwâr, 78:164. [23] Mîzânul Hikmah 3:183. [24] Mîzânul Hikmah 3:186. [25] Ibid. [26] Ibid. [27] Ibid. [28] Kanzul ‘Ummâl, karya Al-Muttaqi Al-Hindi, hadis 5878. [29] Dzammul Hawâ, karya Ihnu Jauzi:265-266. [30] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Jauzi:264-265. [31] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Jauzi:268. [32] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Jauzi:268. [33] Dzammul Hawâ, karya Ibnu Jauzi:268. [34] Bihârul Anwâr, 77:83; Kanzul ‘Ummâl 5751. [35] Bihârul Anwâr, 78:200. [36] Mîzânul Hikmah, 2:568. [37] Bihârul Anwâr, 78:309. [38] Mîzânul Hikmah, 2:564. [39] Bihârul Anwâr, 70:305. [40] Bihârul Anwâr, 78:305. [41] Bihârul Anwâr, 78:305. [42] Ghurarul Hikam, 2:253. [43] Doa Abu Hamzah Ats-Tsumâlî. [44] Ash-Shahîfah Al-Sajjâdiyah, Imam Ali hin Ilusein as. BAB KEEMPAT
    • Orang Yang Mengutamakan Nafsunya Setelah menelusuri kajian tentang pengertian hawa nafsu, keadaan-keadaannya dan cara pengobatannya. Kini saya mulai mengkaji tentang tema orang yang mengutamakan keinginannya di atas keinginan Allah dan yang mengutamakan keinginan Allah di atas keinginannya. Kita rnulai dengan membahas orang yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah. Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan, Rasulullah SAWW mengatakan bahwa Allah SWT, berfirman: "Demi Kemuliaan- Ku, Keagungan-Ku, Kebesaran-Ku, KeperkasaanKu, Nur-Ku, Ketinggian-Ku dan ketinggian Kedudukan-Ku. Tiada seorang hamba yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keingina n-Ku rnelainkan Kucerai-beraikan urusannya, Kukaburkan dunianya dan Kusibukkan dia dengan urusan duniawi serta Kuberikan dunia kepadanya seperti yang telah Kutakdirkan untuknya (tidak lebih)." [1] Pembahasan saya dalam bagian ini - sebagaimana dising gung dalam hadis qudsi tersebut- akan terfokus pada tiga per kara: 1. Allah SWT akan menyiksa golongan yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah dengan tiga hal: a. Allah akan mencerai-beraikan urusannya. b. Allah akan mengaburkan dunianya. c. Allah akan menyibukkan hati mereka dengan urusan duniawi. 2. Tiga bentuk siksaan dalam hadis ini didahului dengan sumpah yang sangat berat "Demi Kemulian-Ku, Keagungan- Ku, Kebesaran-Ku, Keperkasaan-Ku, Nur-Ku, Ketinggian-Ku dan tingginya Kedudukan-Ku ". Dan sumpah-sumpah ini meny ingkap betapa pentingnya permasalahan yang disebut setelah itu. 3. Gaya bahasa dan redaksi hadis ini menggunakan logika "kalau tidak begini pasti begitu" (al-hashr bayna an-nafyi wa al-itsbât). Gaya bahasa itu tertera pada kalimat "tiada seorang hamba yang mendahulukan keinginannya di atas keinginan Allah melainkan Aku cerai-beraikan urusannya..." Dengan kata lain, bila ada seseorang yang mengutamakan keinginan dirinya di atas keinginan Allah SWT, maka pasti dia akan tertimpa tiga siksaan yang disebutkan dalam hadis Qudsi tersebut. 1. Aku Cerai-beraikan Urusannya Siksaan pertama yang pasti akan menimpa kelompok manusia ini ialah kekusutan urusan. Seperti, Allah akan mencahut pendirian, kemantapan, integritas, langkah, sikap dan
    • wahana hidupnya. Allah terus mengombang-ambingkan mere ka. Bak sehelai bulu atau sebongkah kayu yang terapung di atas air yang tidak bermuara. Ada dua model kepribadian manusia, 1. Pribadi yang harmonis. 2. Model manusia yang gelisah atau kacau-balau. Kepribadian Harmonis Pribadi yang harmonis selalu berada di bawah sutu ke kuasaan dan penguasa. Sedangkan kepribadian yang gelisah dan rusuh terobang-ambingkan oleh sekian banyak f'aktor yang berbeda. Yangpertamaialah manusiadalam keadaan monoteis tik dan yang kedua ialah manusia dalam keadaan politeistik. Kepribadian monoteistik berada di bawah kekuasaan, ke hendak, hukum, dan perintah Allah. Dia hanya tertarik kepada "magnetisme" keridhaan Allah. Perintah Tuhan menguasai nya baik di waktu senangatau susah. Wajab dan keridhaan-Nya adalah tujuan hidupnya. Pribadi ini selalu dikuasai oleh perin tah, kekuasaan dan tujuan Ilahi. Perintah dan tujuan yang demikian itulah yang memheri kan keharmonisan dan integritas kepada manusia. Dengan memperhatikan perhedaan sikap politis dan status sosial me reka sekalipun. Terkadang taklif politis Muslim berpindah dan satu keadaan kepada keadaan lain. Seperti, dari sikap berperang kepada sikap berdamai; dari sikap mengangkat senjalu kepada sikap melucuti senjata. Berbagai taklif dan perintah yang seri n g herganti-ganti tersebut tidak akan menimbulkan kemelut (dissociation) dan konflik dalam kepribadian seorang Muslim. Semua itu tidak akan memudarkan integritas atau harmoni yang tumbuh dalam kepribadian monoteistik. Keadaan inilah yang disebut dengan tauhid praktis seba gai lawan tauhid teoretis. Sudah barang tentu, tauhid praktis adalah pantulan tauhid teoretis clalam prilaku hidup seorang. Keadaan tauhid praktis yang begini akan membebaskan manusia dari berbagai pengaruh kekuasaan. Baik yang ada dalam jiwa manusia (hawa nafsu) maupun di luarnya (tagut). Secara integral, dia masuk dalam lingkaran kekuasaan hukum rlan perintah Allah. Hukum Allah sajalah yang menjadi penguasa tindak-tanduknya. Hukum Allah merupakan sibghah (warna) umum dalam kehidupannya. Dan akhirnya, dia adalah perwujudan dari sabda Rasulullah SAWW: "Kalian belum dianggap beriman sehingga keinginan ka lian mengikitti apa yang telah aku bawa. " [2]
    • Syirik merupakan kebalikan dari keadaan di atas. Kesyi rikan mengeluarkan manusia dari garis haluan hukum Allah SWT. Jiwa orang musyrik akan tercabik-cabik hawa nafsn dari arah dalam dan tagut dari arah luar. Manusia yang keluar dari benteng tauhid, akan dimusnah kan agen-agen hawa nafsu dan tagut. Bagaikan bangunan tinggi yang disapu bersih oleh badai. Alquran menjelaskan masalah ini dengan ungkapan sebagai berikut: "Allah ialah wali orang- orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari bermacam kegel apan. kepada cahaya. Sedang wali-wali orang kafir adalah tagut... ". Q.S. Al-Baqarah:257. Orang mukmin hanya memiliki satu wala' (perwalian) dan komitmen. Sementara orangorang kafir memiliki pelbagai perwalian sebagaimana yang digambarkan oleh klause, "sedang wali-wali orang kafir itu tagut." Pribadi yang harmonis akan bertahkim dan bertumpu pada satu perintah syar'i yang memusat pada Allah dan keri dhaan-Nya. Kelompok ini melaksanakan perintah syar'i tanpa ragu, takut, bimbang, malu, dan gelisah. Sifat-sifat itu adalah indika tor kepribadian yang pecah (dissociated personality). Jiwa rna nusia yang dipimpin oleh satu faktor akan terhindar dari semua sifat itu. Adapun ciri-khas kelompok monoteistik ini ialah keper cayaan diri, ketenangan, keyakinan, kebulatan tekad, kebera nian, kelapangan jiwa dan hati, kesatriaan, tidak mundur aki bat sendirian dalam sikapnya atau sedikitnya pembela dan banyaknya penentang. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Banyaknya yang (mengikutiku) tidak akan menambah kernulian dan ba nyaknya orang yang membenciku tidak akan menimbulkan keterasingan (alienasi)." [3] Kepribadian kelompok ini bersifat langgeng. Baik di saat senang ataupun susah, lapang atapun menderita, dan kalah ataupun menang. Ammar bin Yasir Semoga Allah merahmati Amar bin Yasir. Dia adalah contoh pribadi yang tenteram; teguh pendirian dan berkepribadian harmonis. Ammar ialah sahabat Nabi yang berada di belakang barisan Imam Ali melawan Muawiyah di perang Shiffin. Kala itu, dia sudah berusia 90 tahun. Namun, jiwa dan raganya pantang menyerah. Dengan gigihnya, dia menerobos pasukan musuh. Tak sedikitpun keraguan tentang kebenaran Imam Ali as dan kebatilan Mu'awiyah menggelayutinya. Di tengah berkecamuknya perang Shiffin dan di hadapan Imam Ali, Ammar menengadahkan kedua tangannya dan bermunajat kepada Allah:
    • "Ya Allah, Engkau Mahatahu. Sekiranya aku mengetahui bahwa Ridha-Mu, diperoleh dengan menenggelamkan diriku ke laut, niscaya akan kulakukan. Ya Allah, Engkau Mahatahu. Sekiranya aku mengetahui bahwa ridha-Mu diperoleh dengan menancapkan pedang di perutku sehingga menembus punggungku, niscaya akan ku lakukan. Ya Allah, aku sungguh telah mengetahui dari apa yang Engkau ajarkan padaku, bahwa hari ini tiada amal yang lebih Engkau ridhai daripada mernerangi orang-orang fasik itu. Seandainya aku mengetahui ada perbuatan lain yang lebih Engkau ridhai dari perbuatan ini, niscaya akan kula kukan!" [4] Asma' bin Al-Hakam Al-Fazârî bercerita: "Pada peperan gan Shiffin bersama Imam Ali as, kami berada di bawah bendera yang dipegang Ammar bin Yasir. Ketika itu matahari mulai naik (waktu dhuha). Kami berteduh dengan kain merah. Tiba-tiba ada seorang datang menghadap dengan mengangkat Mushhaf. Persis di hadapanku dia berucap: 'Apakah Ammar bin Yasir ada di tengah-tengah kalian? "Akulah Ammar", jawab Ammar. "Apakah engkau Abu Yaqthan?" tanya orang itu. "Benar," jawab Ammar. "Ada yang ingin aku bicarakan. Apakah kita berbicara di sini saja atau empat mata?" Tanyanya. Ammar menjawab: "Terserah!" Lalu orang itu memilih di hadapan orang banyak. Ammar menyuruhnya agar memulai angkat bicara. Lalu orang itu mulai berbicara: "Aku telah meninggalkan keluargaku dalam keadaan yakin akan kebenaran yang sedang kita jalani. Aku yakin mereka (pihak Mu'awiyah) berada dalam kebatilan. Aku senantiasa meyakini demikian. Sampai saat malam tiba, dan terdengar olehku suara azan. Terdengar olehku bahwa kita (kedua belah pihak) sama-sama bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya. Muazin kita mengumandangkan azan yang sama. Kita melakukan salat dengan cara yang sama. Kita berdoa dengan doa yang sama. Kita membaca Alquran yang sarna. Kita mempercayai Rasul yang sama. Di rnalam itulah aku dihinggapi keraguan. Aku lewati malam yang entah bagaimana. Hanya Allah yang mengetahui. Pagi tiha. Aku segera mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Aku menceritakan semua kejadian tersebut kepadanya. Dengan tenang beliau berkata padaku: "Apakah engkau sudah bertemu dengan Ammar bin Yasir?" "Tidak!" Jawabku.
    • Amirul Mukminin kemudian memerintahkanku untuk menemui Ammar dan memperhatikan apa saja yang diucapkan nya. Maka aku menjumpaimu semata-mata demi menjalankan perintah beliau. Kemudian, dengan nada lantang Ammar berkata: "Tahukah kamu orang yang membawa bendera hitam yang sedang menghadapku itu? Bendera itu milik 'Amr bin Al-'Ash. Tiga kali aku memeranginya bersama Rasulullah. Ini kali keempatnya. Kali ini bukan yang terbaik dan termulia dari yang sebelumnya. Ini kali justru yang terburuk dan terkeji. Apakah engkau hadir di perang Badr, Uhud dan Hunain? Atau setidaknya ayahmu pernah hadir kemudian mencerikan nya kepadamu?" "'Tidak pernah," jawab lelaki itu. Ammar melanjutkan: "Kami waktu itu bersama Rasulu llah di perang Badr, Uhud dan Hunain. Sedangkan mereka (Amr bin Al-Ash dan pasukannya) bersama orang-orang musyrik. Tahukah kamu pasukan itu dan para prajuritnya? Demi Allah! Seandainya orang-orang yang bersama Mu'a- wiyah itu berubah menjadi satu jasad, maka niscaya akan aku sembelih dan cincang ia. Demi Allah, darah mereka lebih halal daripada darah seekor burung pipit. Apakah ada darah burung pipit yang ha ram? "Tentu tidak ada!", jawab pemuda itu. "Nah, begitu pula darah mereka”. Mengertikah kau akan penjelasanku ini?" tegas Ammar. "Mengerti," jawabnya. "Sekarang, pilihlah mana di antara dua kubu ini yang lebih kau senangi!", sergah Ammar. Ketika orang itu hendak pergi, Ammar memanggilnya. Dia berkata: "Ketahuilah! Mereka akan penggal leher kita dengan pedang mereka. Kemudian orang-orang yang gemar keba tilan di antara kalian mengatakan, sekiranya mereka tidak benar niscaya mereka tidak akan memenangkan kita. Demi Allah! Mereka tidak mempunyai kebenaran, walau hanya sebesar kotoran mata seekor lalat. Demi Allah! Apabila mereka memukul kita dengan pe dang sampai terkapar di tanah, maka aku pastikan bahwa kita tetap dalam kebenaran dan mereka tetap dalam kebatilan.
    • Aku bersumpah demi Allah! Selamanya tidak akan ada kedamaian sampai satu dari dua kelompok ini mengakui kekafi ran, membenarkan kelompok lainnya, dan meyakini bahwa orang yang terbunuh membela mereka masuk surga. Demi Allah! Hari-hari dunia tidak akan berlalu kecuali mereka bersaksi bahwa korban yang terbunuh masuk surga. Mereka juga harus bersaksi bahwa korban yang terbunuh dari pihak lawan akan mendapat siksa di neraka dan yang masih hidup berada dalam kebatilan". [5] Kepribadian yang Labil dan Disharmonis Pertama konflik yang terjadi dalam pribadi yang labil dan disharmonis ini adalah antara akal dan hawa nafsu. Hawa nafsu berupaya untuk mencampakkan jiwa dari pengaruh akal dan memaksanya bertekuk lutut. Pada saat itu, jiwa manusia mem belah menjadi dua kubu yang bertikai. Penderitaan manusia pada tahap ini besar sekali. Dhamir, fitrah dan akal mempunyai kekuatan yang mengakar dalam pribadi manusia. Mereka selalu melawan pengaruh hawa nafsu dan berupaya untuk membangkitkan dan mengembalikan ke pribadian manusia pada keadaan semula yang harmonis. Dalam tahap pergolakan internal ini, manusia mengemban penderi taan dan nestapa yang luar biasa. Jika akal melemah dalam mengendalikan prilaku ma nusia atau jiwa tidak mampu lagi mengemban tekanan pergo lakan ini, ia berusaha lari dari kesadarannya. Ini adalah pe nyelesaian negatif bagi ketertekanan yang dialaminya. Penyele saian positifhanya dapat dicapai melalui konsistensi jiwa dalam memenuhi panggilan akal dan fitrah. Manusia yang lemah terhadap kekuasaan hawa nafsu, akan terdisosiasi. Dia lari dari kesadarannya supaya selamat dari siksaan pergolakan dan kepedihan yang dialaminya. Pela rian mereka ialah dengan cara mabuk-mabukan, perjudian, tindak kriminal dan pelampiasan naluri seksual. Mengherankan sekali bagaimana manusia dapat lari dari hawa nafsu menuju hawa nafsu; dari kekejian menuju kekejian. Seandainya dia berbuat sebaliknya, lari dari hawa nafsu menuju Allah, niscaya dia akan selamat dan bahagia. Allah SWT berfirman: "Maka larilah ke Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata untukmu". Q.S. Adz-Dzâriyât:50. Selama manusia tidak berlindung kepada Allah, dia akan selalu kalah melawan hegemoni hawa nafsu. Dia lari ke mabuk- mabukan dan pelampiasan seksual demi melupakan diri, pen deritaan, kepedihan dan siksa yang menimpanya dan demi menyelamatkan "diri" dari dirinya. Alquran mengungkap ma salah ini dengan sangat tepat. Allah berfirman: "Mereka melalaikan Allah, maka Dia melalaikan rnereka dari diri mereka." Q.S. Al-Hasyr:19.
    • Orang yang lari dari keadaan sadar dan menuju minuman keras dan hiburan yang haram, sebenarnya sama dengan orang yang ingin melalaikan dirinya sendiri. Mereka termasuk orang yang lari dari keadaan ingat menuju kepada keadaan lupa. Pelarian dengan cara ini ialah yang paling berbahaya. Dhamir ialah benteng pertahanan akhir jiwa dalam mela wan serbuan hawa nafsu. Jika dhamir telah runtuh, maka tahap awal pertempuran dan pertikaian internal dimulai; tahap pen deritaan dan ketersiksaan manusia. Jika setelah itu hawa nafsu menang lagi, maka semua kekuatan manusia telah terenggut. Dan manusia, secara total, berada dalam kendali hawa nafsu. Tidak hanya sampai di sini penderitaan manusia. Dia akan mulai mengalami perpecahan internal lain. Perpecahan yang terjadi akibat konflik antara berbagai kubu hawa nafsu itu sendiri. Jiwa manusia akan menjadi ajang pertempuran yang tak terbayangkan sengitnya antara berbagai kubu hawa nafsu. Dalam pada itu, disintegrasi, kegelisahan, kegoncangan (psik ologis) manusia makin bertambah clengan bertambahnya ur gensi hasrat masingmasing kubu untuk dipenuhi. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan saya berikan beberapa contoh: 1. Kadang manusia menjadi mangsa naluri balas den dam/amarah dan naluri cinta kehidupan/kekuasaan secara ber samaan. Naluri cinta tahta menuntutnya agar berpurapura lembut kepada para penentangnya, sedangkan naluri balas dendam mendorongnya untuk menghabisi mereka. Lemah-lem but yang ini bukan termasuk sopan-santun yang merupakan bagian dari pasukan akal. Ini hanya sekadar sikap mengu tamakan hawa nafsu yang satu atas yang lainnya. 2. Seringkali naluri cinta tahta berbenturan dengan na luri cinta status sosial yang menuntut suatu etiket kemasya rakatan. Banyak sekali naluri yang menolak etiket semacam itu seperti naluri seksual. Mengekang naluri seksual untuk mem peroleh kedudukan sosial tidak bisa dikatagorikan 'iffah. Ia semata-mata adalah mengutamakan tuntutan hawa nafsu ter tentu atas hawa nafsu yang lainnya. Lazimnya, naluri seksual manusia mengalahkan naluri cinta kedudukannya. Maka dari itu, banyak skandal seksual yang dari masa ke masa membuat para pemimpin berjumpalitan. 3. Kadangkala manusia menjadi korban konfrontasi an tara cinta tahta dan takut akan diri sendiri. Naluri yang pertama menuntut manusia untuk menyerang dan bertindak se rampangan. Sementara naluri yang kedua lebih menuntut ke hati-hatian dan kewaspadaan. Inilah tiga contoh adanya konflik intern berbagai hawa nafsu manusia. Konflik tersebut bersifat free-for-all. Berbagai hawa nafsu dan naluri manusia itu sama-sama menggeret jiwa menuju tujuan-tujuan yang berlawanan secara diametral. Takut, rakus, cinta tahta, kikir, dengki, libido, amarah, dendam, cinta harta dan lain sebagainya akan mengacau-balaukan kehidupan psikologis manusia. Mereka mengeroyok
    • jiwa manusia demi kepuasan masing-masing. Pada saat itu, derita, nestapa, keguncangan, keraguan dan disintegritas psikologis makin menjadi-jadi. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya, dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu, Allah menghendaki siksa bagi rnereka dalam kehidupan dunia dan akan rnelayang nyawa mereka, sedang mereka dalarn keadaan kafir." Q.S. At-Tauhah: 55. Inilah keadaan disharmonis dan disintegral yang menim pa jiwa manusia, sebagaimana yang diisyaratkan hadis qudsi di atas. Nestapa Manusia Terjadi Dalam Wilayah Hawa Nafsu Terpecahnya kepribadian adalah salah satu derita yang dialami jiwa akibat hawa nafsu. Derita lain yang dialaminya, bersifat intrinsik pada nafsu itu sendiri. Setiap nafsu, menyiksa jiwa dengan caranya sendiri. Karenanya, jika manusia berserah diri pada salahsatu dari pelbagai hawa nafsu ini; seperti tamak, rakus, hasut dan lain sebagainya, tentu dia akan tersiksa tidak keruan. Dalam kaitan ini, Al-Mufid dalam kitab Al-Irsyâd [6] meri wayatkan ujaran Imam Ali sebagai berikut: "Sungguh mengherankan ihwal manusia ini! Bila karunia harapan mendatanginya, kerakusan menghinakannya. Bila kerakusan sudah meraja lela, obsesi membinasakannya. Bila keputusasaan menguasainya, penyesalan akan mengganyangnya. Bila kebahagiaan meliputinya, kelupaan akan mawasdiri mengancamnya. Bila ketakutan mencekamnya, ketegangan membingungkannya. Bila ketenteraman menyelimutinya, kelunglaian menjeratnya. Bila musibah menimpanya, kegelisahan menghantuinya. Bila rezeki mencucurinya, kekayaan merusaknya. Bila kesulitan menyatroninya, bencana mencekiknya. Bila kelaparan meimpanya, kepapaan merenggutnya. Bila dia sudah terlalu kenyang, kelobaan akan menyusahkannya.
    • Maka, setiap kekurangan baginya membahayakan. Kelebihan yang diperolehnya membinaskan. Kebaikan yang bersamanya membawa kejahatan. Dan kejahatan yang ada padanya membawa penderitaan . Demikianlah, setiap nafsu menggeret manusia kepada nafsu yang lain dan akhirnya kepada kebinasaan yang menyelu ruh. Dunia Bakal Menyiksa Orang yang Mencarinya Hawa nafsu adalah satu sisi dari ketersiksaan manusia. Sisi lainnya ialah dunia. Dunia adalah terminal, tujuan, objek perintah dan gerak hawa nafsu. Jika Allah telah menjadikan ketersiksaan manusia dalam mengikuti hawa nafsunya, maka ketersiksaan itu terletak pada mencari dunia. Ihwal mengikuti hawa nafsu tidak dapat dipisah kan dari ihwal memburu dunia. Hakikat ini, perlu lebih dijelaskan, sebab ia merupakan salah satu saripati pemikiran keislaman. Sebenarnya, di dunia tidak ada kejelekan dan siksa. Be gitu pula perkara mencari dunia. Tetapi, semua itu selama ia hanya dipakai memenuhi tuntutan gerak, pertumbuhan dan perkembangan manusia. Islam raengajarkan bahwa dunia adalah kebaikan dan bukan kejelekan. Islam jugamelegalisasikan manusia berusaha mencari rizki di dunia. Menurut pandangan Islam, "dunia adalah ternpat usaha para wali Allah dan tempat sujud para kekasih Alloh." [7] Karena itu, dunia bukanlah kejahatan dan siksaan bagi manusia. Berusaha dan mencari dunia adalah suatu hal yang di syariatkan Allah SWT. Allah berfirman: "Apabila kalian telah menunaikan salat, rnaka bertebaranlah di muka bumi; dan curilah karunia Allah ..." Q.S. Al-Jumu’ah:10. Kalau demikian, di mana letak kejelekan dan siksa ma nusia dalam dunia? Dunia itu baik, begitu pula mencari dunia, kalau kita menjadikannya sebagai jalan menuju keridhaan Allah dan me mandang Allah melaluinya. Akan tetapi, jika arah dan tujuan manusia berubah dari mencari Ridha Allah SWT kepada dunia itu sendiri, maka dunia dibenci oleh Islam dan dianggap sebagai kejelekan dan Allah akan menjadikannya sebagai siksa bagi manusia. Dunia menjadi tercelajika berubah fungsi dalam jiwa seorang dari jembatan menuju Allah menjadi tujuan yang di cari. Jika manusia telah berbalik dari Allah SWT ke dunia, maka segala jerih payah baik yang berupa upaya dan usahanya akan menjudi sia-sia belaka. Pertumbuhan dan kesempurnaannya juga ikut berhenti. Setelah itu semua, gerak-gerik manusia di dalamnya menuju kekacauan dan kerugian.
    • Inilab akibat bagi manusia yang berpaling dari Allah. Tingkat kehancuran manusia bergantung pada seberapa dera jat penyimpangannya. Penyimpangan manusia bisa mencapai titik di mana ia bergerak ke arah yang berlawanan. Pada saat itu, dia akan mengumumkan perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Apapun pasalnya, jika dunia berbalik dari jalan menuju Allah kepada tujuan yang dicari dan dikejar, maka dunia pasti akan berubah menjadi siksa dan azab bagi hidup manusia. Demikianlah perbedaan antara dunia yang mencari ma nusia dan dunia yang dicari manusia. "Dunia yang mencari manusia" bakal membantu melapangkan jalan manusia menuju Allah, tapi "dunia yang dicari manusia”, akan menghalangi jalannya menuju Allah. Saat itu, dunia pennh dengan kepedihan dan siksaan bagi manusia. Rasulullah SAWW bersabda: "Ketika Allah menciptakan dunia, la mernerintahnya agar taat pada Tuhannya. Allah berfirman pada dunia: berpalinglah dari orang yang membu rumu dan burulah orang yang berpaling darimu!" Dunia selalu menepati janjinya kepada Allah dan kodrat vang ditetaphan- Nya." [8] Riwayat ini mengisyaratkan bahwa Allah SWT telah men jadikan dunia ini sebagai siksa bagi orang yang mengikutinya dan orang yang menjadikannya sebagai tujuan. Sebaliknya, Allah menjadikannyasebagai kesenangan bagi orang yang mencari Allah SWT dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuannya. Rasulullah SAWW bersabda: "Allah telah mewahyukan de mikian kepada dunia: "Waliai dunia, layani orang yang mela yani-Ku dan ganyang orang yang menghambakan diri kepa damu." [9] Riwayat ini, seperti riwayat sebelumnya, menggunakan simbolisme. Kedua riwayat ini sebenarnya ingin menegaskan bahwa dunia diciptakan untuk berkhidmat kepada manusia yang semata-mata bertujuan kepada Allah SWT. Namun, jika manusia menyeleweng dari tujuan Ilahi ini kepada dunia itu sendiri, maka wajib bagi dunia untuk memperbudak dan mem perhambanya. Dan, sungguh menghamba kepada dunia adalah suatu perkerjaan yang melelahkan dan menyiksa. Rasulullah SAWW bersabda bahwa Allah SWT telah mewa hyukan kepada dunia: "Ganyanglah orang yang berkhidmat kepadamu, dan berkhidmatlah kepada orang yang menolak mu”. [10] Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang berkhidmat pada dunia, maka dunia akan memperbudaknya dan barangsiapa berkhidmat pada Allah, maka Allah akan membantu nya." [11]
    • Kepada Musa as Allah berfirman: "Tiada seorang pun dari makhluk-Ku yang mengagungkan dunia, kemudian me rasa bahagia karenanya. Dan tiada seorangpun yang menghi nakannya kecuali dia akan memanfaatkannya." [12] Banyak lagi riwayat yang mengandung pengertian yang sama atau serupa. Orang yang tidak mengerti bahasa agama Islam dalam menjelaskan sunnatullah di alam raya ini, tidak akan bisa mengerti kandungan nash-nash keislaman tersebut kapanpun juga. Bentuk lain Ketersiksaan Manusia yang Mengikuti Hawa Nafsu Pada kajian sebelumnya, saya telah jelaskan bahwa mak na "Aku porak-porandakan urusannya" adalah disosiasi, disin tegrasi dan konflik antar berbagai kubu hawa nafsu akibat mengikuti hawa nafsu dan memburu dunia. Di sini ada bentuk ketersiksaan lain yang diperoleh ma nusia ketika menyimpang dari Allah SWT ke dunia dan hawa nafsunya. Ketersiksaan itu berupa kerakusan dan keserakahan. Manusia yang kemauan dan orientasinya bergeser dari Allah menuju dunia, tidak akan pernah terpuaskan oleh dunia. Kerakusannya terhadap dunia tidak akan berakhir. Baik dunia meladeninya maupun membelakanginya. Dunia Seperti Bayangan Manusia Barangkali perumpamaan yang paling indah tentang dunia dan pada pendambanya ialah yang terdapat pada ujaran Imam Ali as: "Dunia seumparna bayanganmu. Jika kamu berhenti, ba yanganmu pun ikut berhenti. Jika kamu mencarinya, ia akan menjauh." [13] Ungkapan ini benar-benar menukik dalam memberikan gambaran tentang hubungan manusia dengan dunia dan se baliknya. Semakin ngotot dan ngoyo manusia dalam mengejar du nia, tidak semakin banyak perolehannya. Karena, dunia bak bayangan seorang. Di saat orangitu mengejarnya dari belakang, bayangannya muncul di depan. Seolah-olah bayangan itu meno lak untuk dikejar. Maka, mengejar bayang-bayang hanya akan menimbulkan kelelahan dan kepenatan. Begitu pula dengan dunia. Oleh karena itu, sebaik-baik kiat mencari dunia ialah dengan bersahaja kepadanya. Karena ngotot dalam mencari dunia tidak akan menambah perolehan seorang darinya, tapi akan menambah kepenatan dan penderitaannya belaka. Beberapa Nash tentang Ketersiksaan Manusia
    • Berikut ini beberapa nash keislaman tentang ketersik saan orang yang mengikuti hawa nafsu dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Rasulullah SAWW bersabda: "Cinta dunia akan membawa tiga dampak: 1. Kesibukan yang tidak akan pernah berakhir. 2. Kefakiran yang tidak akan pernah tercukupi. 3. Angan-angan yang tidak akan pernah tercapai." [14] Kefakiran di sini bukan bersifat kuantitatif. Sebab, ka dang seorang disebut fakir padahal dia memiliki harta yang banyak. Kefakiran di sini bermakna kerakusan terhadap harta benda. Di lain pihak, ada seorang yang kaya, padahal dia tidak memiliki dunia kecuali sedikit saja. Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa yang di pagi hari pikirannya sudah disibukkan oleh dunia, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Allah dan hatinya akan tertimpa empat perkara: Pertama, kesumpekan yang terus-me nerus; kedua, kesibukan yang tidak beres-beres; ketiga, kefa kiran yang tidak pernah tercukupi; keempat, angan-angan yang tidak akan kesampaian selamanya." [15] Imam Ali as menegaskan: "Barangsiapa yang hatinya dipenuhi cinta dunia, maka dia akan selalu terliputi oleh tiga perkara: 1. Kesumpekan yang tidak berarti. 2. Sakit yang tidak pernah sembuh. 3. Harapan yang tidak akan tercapai." [16] Imam Ali as berkata: "Siapa yang menjadikan dunia sebagai puncak harapannya, maka dia akan menelan keseng saraan dan kegelisahan yang berkepanjangan." [17] Imam Ali as bertutur: "Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, rnaka dia akan mengalami penang gungan yang luar biasa saat berpisah dengannya." [18] Imam Ali as berucap: "Menangis hati mereka yang ber senang-senang dengan dunia, meskipun (di saat) gembira. Dan bertambah kebencian rnereka atas diri mereka, meski orang lain ingin seperti mereka karena sekelumit rizki yang mereka pe roleh." [19] Imam Ash-Shadiq as berkata: "Hati seorang yang tergant ung pada dunia, akan digantungi tiga hal: 1. Kesumpekan yang tidak mempunyai arti.
    • 2. Angan-angan yang tidak akan tercapai. 3. Harapan yang tidak akan bisa didapat." [20] Inilah sebagian siksa bagi mereka yang mengikuti hawa nafsu di dunia sebelum di akhirat nanti. Sebagian yang lain, seperti ketakutan dan kegelisahan yang dialami orang-orang berharta dan bertahta di lingkarannya sendiri atau di luarnya. Keterceraiberaian Urusannya di Akhirat Kita kembali pada kajian "keterceraiberaian manusia". Namun, kali ini terjadi di akhirat. Mula-mula keterceraiberaian manusia yang mengikuti hawa nafsunya terjadi di antara mereka sendiri. Waktu di dunia jasad-jasad mereka tampak berkumpul, tapi jiwa dan nafsu mereka selalu bertikai. Nah, di akhirat nanti Allah akan me nampakkan pertikaian yang mereka sembunyikan sekarang ini. Allah SWT berfirman: "Setiap suatu umat yang masuk (ke neraka), akan mengutuk kawannya." Q.S. Al-A'râf:38. Gambaran lain pertikaian yang nanti akan terjadi ialah marahnya manusia atas kulit, tangan dan kakinya sendiri ke tika semuanya itu memberi kesaksian atas pelbagai perbuatan keji yang dilakukannya di dunia. Pada hakikatnya, dia ingin menyembunyikan semua itu dari Allah. Namun, kaki, tangan dan kulitnya sendirilah yang membeberkan. Allah berfirman: "Dan mereka berkata pada kullt mereka mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai ber kata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata. Q.S. Al- Fushshilat:21. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang bermaksiat dan mengikuti keinginannya di dunia, akan saling berlepas diri dan saling mengutuk di akhirat. Inilah gambaran yang selaras dengan apa yang telah dialami seorang yang me ngikuti hawa nafsunya di dunia. Rasulullah SAWW bersabda: "Hentikan gangguanmu pada dirimu sendiri dan jangan mengikuti hawa nafsumu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena, ia akan rnenghujatrnu di kemudian hari nanti. Sampai-sampai yang satu mempersalahkan yang lain dan mgin berlepas tangan, kecuali jika Allah berkehendak mengampuni dan menutupi dengan rahmat-Nya." [21] II. Aku Kaburkan Dunianya Bentuk Dhahir dan Batin Dunia Siksa kedua yang bakal dialami orang yang mengikuti hawa nafsu ialah pengaburan dunia. Artinya, menampilkan dunia dalam fenomena yang menggiurkan. Bentuk lahir
    • atau fenomena dunia inilah yang merupakan sumber tipuan dunia dan keterperdayaan manusia. Dengan kata lain, yang menggi urkan adalah permukaan dunia. Dan permukaannya itu mudah lenyap dan hilang. Adapun inti dan batin dunia ialah sumber pelajaran ('ibrah), kejagaan (yaqzhah) dan kezuhudan. Para ahli bashîrah yang terik, akan bisa "membakar" kulit luar dunia yang mudah lenyap itu. Mereka bisa menembus batin dan inti dunia yang membuat mereka zuhud, jaga-siaga dan mengambil pelajaran darinya. Sedangkan mereka yang menyia-nyiakan anugrah bashî rah dari Allah ini, hanya akan bisa melihat dunia secara lahir dan superfisial. Sebagai konsekuensinya, hati mereka akan tertambat, tersungkur dan terperdaya olehnya. Singkat kata, dunia memiliki bentuk lahir dan batin. Sedangkan pandangan manusia terhadapnya terbagi menjadi dua kategori: 1. Orang yang bashîrahnya tidak bisa menembus lebih dari apa yang tampak dari kehidupan duniawi. Tentang mereka, Allah herfirman: "Mereka hunya mengetahul yang lahir (saja) dari kehulupan dunia; sedangkan rnereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". Q.S. Ar-Rûm ayat 7. 2. Orang yang bashîrahnya bisa menerawang dunia sam pai ke yang batinnya. Jika Allah murka pada seseorang, maka Dia akan men cabut bashîrahnya, dan kaburlah baginya yang lahir dan yang batin; kulit dan inti. Pada saat itu, fenomena dunia akan me nipu dan memperdayainya dan tampak padanya hanya sebagai hiasan yang menggiurkan. Alquran menjelaskan: "Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir.... Q.S. Al-Baqarah:212 Pada pembahasan selanjutnya, saya akan mengurai dua sisi kehidupan dunia: yaitu sisi batin dan sisi lahir. Sisi Batin Dunia Seperti yang telah saya sebutkan bahwa sisi ini tidak akan terlihat kecuali oleh orangorang yang memiliki bashîrah. Sisi batin ini merupakan sumber kesadaran dan ‘ibrah, bukan sum ber penipuan. Alquran menyifati sisi ini dari dunia dengan cermat sekali. Berikut ini saya sehutkan sebagian sifat batin dunia me nurut Alquran: 1. Dunia merupakan matâ’ (kesenangan sementara) Allah berfirman: "Padahal kehidupan dunia itu (diban ding dengan) kehidupan akhirat hanya kesenangan (yang sedikit)". Q.S. Ar-Ra'd 26.
    • Matâ' yang digunakan ayat tersebut herarti kelezatan sementara yang dibandingkan dengan kelezatan dan keindahan akhirat yang abadi. Allah SWT berfirman: "Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanya lah sedikit". Q.S. At-Taubah:38. 2. Dunia adalah 'Aradh (harta benda) Allah SWT berfirman: "Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)” Q.S. Al-Anfâl:67. Dan firman Allah SWT :"... (lalu kamu membunuhnya) dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak". Q.S. An-Nisâ':94. Dan firman Allah SWT : "... yang niengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata Kami akan beri ampun... " Q.S. Al-A'râf:169. ‘Aradh (harta benda) adalah hal-ihwal yang cepat sirna. Kelezatan duniawi pun demikian. la tidak akan bersifat ahadi bagi siapapun juga. Meski hegitu, ia sangat menipu dan me ngelabui manusia. Dunia mempunyai dua kondisi. Kondisi yang bisa men jadikan manusia zuhud kepadanya. Kondisi yang mengelabui manusia kepadanya. Adapun kondisi yang bisa membuat manusia zuhud pada nya ialah sifatnya yang seperti 'aradli (harta benda); mudah sirna dan hilang. Sedang kondisi yang menipu dan menjadikan nuinusia .sangat mencintainya, ialah sifatnya yang gampang diperoleh dan cepat didapat ('ajilah). Manusia sangat suka pada segala yang cepat didapat. Manusia lebih mendahulukan kesenangan yang cepat dirasa daripada yang abadi tapi masih mesti menunggu. Allah SWT berfirman:" Kalau yang kamu serukan kepada mcreka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan tidak berapa jauh pasti mereka mengikutinya" Q.S. AtTaubah: 42. Watak dasar manusia itu tergesa-gesa ('ajul). Ketergesa- gesaan mereka dalam memetik buah yang dekat dan harta benda yang gampang menjadikan mereka gagal menggapai ke lezatan abadi di surga. 3. Dunia adalah Tempat Penipuan Allah SWT berfirman: "Maka janganlah sekali-kali ke hidupan dunia memperdayakan kamu dan jangan (pula) pe nipu (setan) memperdayakan karnu dalam (mentaati) Allah". Q.S. Luqman:33.
    • Al-Gharûr ialah semua yang menipu manusia, dari harta, status, kekuasaan dan hasrat. Begitulah dengan dunia. Dunia menipu, melalaikan dan menyibukkan manusia. Namun, ia sendiri akan meninggalkan manusia secara tiba-tiba. 4. Dunia adalah Kesenangan yang Memperdayakan Dunia mempunyai dua arti, al-matâ' dan al-gharûr yang kadang digunakan secara terpisah dan kadang secara bersa maan. Allah SWT berfirman: "Kehidupan dunia itu tidak lebih hanyalah kesenangan yang memperdayakan". Q.S. Âlu ‘Imrân: 185 dan Al-Hadîd:20. Sumber tipu-daya itu ialah kesenangan temporal yang segera lenyap ini; dunia. [1] Dikeluarkan oleh Ibnu Fahd Al-Hilly dalam kitah 'Uddatud Dâ'î:79; Al-Kulayni dalam kitah Ushûlul Kâfî, 2:235; Al-Majlisi dalam kitah Al-Bihâr, 70:78 dan 70:85-86. [2] Diriwavatkan dari Thabari dalam Kitab Al-Jâmi' Al-Kahîr. [3] Nahjul Balâghah :36. [4] Shiffin , karya Nash bin Muzhâhir, 319-320. [5] Shiffîn , karya Nash bin Muzhâhir, 319-320. [6] Irsyâdul Mufid :159. [7] Nahjul Balâghah, hikmah 131. [8] Bihârul Anwâr, 70:315. [9] Bihârul Anwâr, 78:203. [10] Bihârul Anwâr, 73:121. [11] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:237. [12] Bihârul Anwâr, 73:121. [13] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:284. [14] Bihârul Anwâr, 77:188. [15] Mîzânul Hikmah, 3:319. [16] Syarh Nahjul Balâghah, karya Ibnu Abil Hadid, 19:52; Bihârul Anwâr, 73:130.
    • [17] Bihârul Anwâr, 73:81. [18] Bihârul Anwâr, 73:181. [19] Bihârul Anwâr, 78:21. [20] Bihârul Anwâr, 73:24. [21] Al-Mahajjah Al-Baidhâ`, karya Al-Faidh Al-Kâsyânî, 5:111. BAGIAN KELIMA Perbandingan Dunia dan Akhirat Dengan meninjau kembali Alquran, kita akan bisa membandingkan dunia dan akhirat dalam beberapa sifat yang disebutkannya. Pada kajian sebelumnya saya sudah sebutkan bahwa Alquran menganggap dunia sebagai harta benda yang semu, cepat hilang dan sebagai kesenangan yang sementara. Adapun akhirat merupakan tempat tinggal yang abadi. Allah SWT berfirman: "Hai kauinku, sesungguhnya ke hidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), sesung guhnya akhirat itulah negeri yang kekal" Q.S. AlMukmin:39. Dunia adalah hiburan dan permainan. Sementara akhirat adalah tempat kehidupan yang sebenarnya. Allah SWT Berfirman: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah ycing sebenarnya kehidupan, kalau mereka men getahui". Q.S. Al-‘Ankabût:64. Dunia dalam berbagai Wacana lmam Ali as Amirul Mukminin Ali as mengulas dunia dalam berbagai wacananya dengan panjang lebar. Beliau menyingkap isi dunia yang menipu manusia dengan menampakkan batin dan hakikatnya. Wacana-wacana Imam Ali ini sarat dengan kesadaran. Berikut ini saya cantumkan beberapa di antaranya: Imam Ali berkata: "Demi Allah! Dunia kalian ini di sisiku, tak ubahnya kafilah yang singgah di oasis. Segera setelah kepala mereka memberi aba-aba, mereka beranjak meneruskan perjalanan.
    • "Demi Allah! Kelezatan-kelezatan dunia di hadapan ma taku tak ubahnya air sangat punas yang bernanah yang termi num olehku tumpahannya; buah pahit mematikan yang ter pakna kutelan, bisa ular yang sangat berbahaya dan jeratan api neraka". [1] Menurut Imam Ali, dunia fenomenal seakan oasis yang indah. Manusia beradu memperebutkannya. Sedang dunia dari sudut pandang batinnya, tak lain adalah persinggahan yang buru-buru ditinggalkan. Oleh karena itu, menurut pandangan Imam Ali, beragam kelezatannya yang diperebutkan banyalah air sangat panas yang bernanah dan ular yang penuh dengan bisa. Ketika diminta Muawiyah untuk menyifati Imam Ali as, Dharar bin Hamzah AsySyaibani berkata: "Sungguh, aku telah melihat tingkahnya di waktu malam mulai melepaskan tabir kegelapannya; menghadap mihrabnya sembari memegang janggutnya. Bergeletar tubuhnya layaknya orang yang tersengat binatang berbisa dan menangis layaknya orang tertimpa musibah, lalu berkata: "Wahai dunia! Kau da tang padaku? Apakah kau mengejarku ataukah kau rindu padaku? Tidak, sungguh tidak! Pergilah dan rayu orang selainku! Aku tidak butuh padamu! "Sungguh kau telah aku talak tiga yang tidak mungkin ada rujuk kembali. Hidupmu pendek, bahayamu besar dan angan-anganmu hina. Ah, betapa sedikit nya bekal dan panjangnya jalan." [2] Dalam riwayat itu Imam Ali menyingkap tiga realitas batin dunia kepada mereka yang tertipu olehnya; 1. Hidupmu pendek. 2. Bahayamu besar. 3. Dan angan-anganmu hina. Imam Ali as berkata: "Camkanlah! Dunia adalah tempat yang menipu. Setiap hari ia berselingkuh dengan istri orang, setiap malam ia membunuh rumah tangga, dan setiap saat ia memecah perkumpulan." [3] Imam Ali as berkata: "Dunia itu bila datang menipu, bila pergi membahayakan." [4] Imam Ali as berkata: "Dunia bagaikan tipu-muslihat yang hilang, fatamorgana yang cepat lenyap dan punuk onta yang doyong." [5] Tentang sifat lahir dan batin dunia, Imam Ali mengung kapkan: "Perurnparnan dunia itu bak seekor ular; lernbek tubuh nya, tapi mengandung bisa yang mematikan. Orang-orang yang berakal akan berhati-hati darinya, tapi anak-anak akan me megangnya dengan tangan mereka." [6]
    • Dalam mutiara hikmah di atas, Imam Ali ingin menjelaskan bahwa dimensi lahir dunia itu lunak bak seekor ular. Sedangkan dimensi batinnya penuh dengan tipu-muslihat dan kesementaraan mirip dengan rongga mulut ular yang penuh bisa yang mematikan. Manusia di hadapan dunia ini terbagi menjadi dua kelom pok: Pertama, cerdik-pandai yang punya bashîrah yang akan memperlakukan dunia dengan penuh kehati-hatian. Seperti perlakuan seorang berakal terhadap seekor ular yang lunak. Kedua, ialah orang yang tertipu oleh bentuk lahir dunia yang memperlakukan dunia seperti bocah memperlakukan se ekor ular yang halus dan lunak. Dalam salah satu khutbahnya Imam Ali as berkata: "Dunia ini ialah kampung yang dilingkari bencana; dipenuhi pengkhianatan; tak pernah langgeng ihwalnya dan tak selamat penghuninya. Keadaannya selalu berganti dan masanya selalu berubah. Hidup di dalamnya tercela dan keamanan di dalamnya tak ada. Para penghuninya adalah sasaran lemparan panah-panahnya dan cengkeraman kematiannya. "Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa kamu sekalian serta segala yang kamu miliki dari dunia ini, berada di jalan orang-orang sebelurn kamu yang telah pergi mening galkannya. Mereka lebih panjang usianya daripada kamu; lebih makmur kediamannya dan lebih banyak bekas peninggalannya. "Suara-suara mereka kini redup redam, kegiatan mereka hilang lenyap, tubuh-tubuh mereka hancur-lulur, rumah-ru mah mereka sunyi-senyap dan peninggalan-peninggalan me reka kini hanyalah reruntuhan. "Istana-istana mereka yang dibangun megah dengan ham paran permadani-permadani yang rapi, kini berganti batu-batu sandaran yang keras dan liang-liang lahad yang terbelah dan dengan beranda yang dibuat dari debu kehancuran. "Tempat-tempatnya berdekatan, namun para penghuninya saling berjauhan. Merasa sendiri kesepian di antara pen duduknya, dilanda kesibukan di antara para penganggur. Tiada terhibur dengan perasaan berada di tanah air dan tiada saling berkunjung di antara para tetangga, kendatipun ja raknya amat berdekatan. "Betapa mungkin mereka saling berkunjung, sedangkan jasad-jasad mereka telah dihancur-luluhkan oleh kerapuhan dan diremuk-redamkan oleh tanah dan bebatuan. "Kini, bayangkanlah seolah-olah kalian sendiri telah men jadi seperti mereka. Tertahan di atas tempat pembaringan seperti itu, terkungkung dalam ruangan persimpanan yang tertu tup rapat. Apa kiranya yang akan kalian lakukan apabila telah mencapai akhir perjalanan, saat tanah-tanah pekuburan di putar-balikkan dan kalian dibangkitkan kembali di padang Mahsyar?
    • "Di tempat itu, tiap-tiap diri merasakan pembalasan atas segala yang telah dikerjakannya dahulu, dan mereka dikem balikan kepada Allah Penguasa mereka yang sebenarnya, dan (pada saat itu) lenyaplah dari mereka segala yang mereka ada- adakan". Q.S. 10:30" [7] Syarif Al-Rady dalam "Nahjul Balâghah" herkata bahwa Amirul Mukminin as pernah berkata pada Syuraih bin Al- Haris: "Kudengar Anda telah membeli rurnah dengan harga 80 Dinar, dan telah Anda buat akta jual belinya, lengkap dengan saksi-saksinya? "Benar, wahai Amirul Muminin." jawab Syuraih. Maka Imam Ali menatapnya dengan wajah yang penuh amarah, lalu berkata padanya: "Hai Syuraih, suatu hari maut akan menjelangmu, dan ia tidak akan membaca akta jualbeli itu, dan tidak akan mena nyakan kepadamu tentang bukti-buktimu. la akan membawamu pergi sampai menyerahkan dirimu ke tempat kuburanmu dan meninggalkanmu sendirian di sana. "Maka perhatikan baik-baik, wahai Syuraih, jangan sampai Anda membeli rumah itu dengan uang yang bukan milikmu. Atau membayar harganya dengan harta yang bukan menjadi hakmu yang halal. Sehingga berbuat begitu Anda telah merugi kehilangan rumah di dunia dan rumah di akhirat! "Ketahuilah, sekiranya Anda datang kepadaku ketika hen dak membeli rumah yang telah Anda beli itu, pasti kutuliskan bagi Anda sebuah akta yang akan membuat Anda kehilangan hasrat untuk membelinya, meski hanya dengan satu Dirham atau kurang dari itu! Inilah akta itu: 'lnilah rumah yang telah dibeli oleh seorang hamba yang hina-dina dari seorang harnba lainnya yang telah terpaksa pergi meninggalkannya; sebuah rumah di antara rumahrumah ke angkuhan, yang dimiliki oleh kaum yang sedang menuju kefa naan dan dihuni oleh kaum yang akan diliputi kebinasaan. 'Rumah ini memiliki empat batas: (pertama) yang ber batasan dengan sumber segala penyakit; (kedua) berbatasan dengan pengundang segala musibah; (ketiga) berbatasan dengan hawa nafsu yang membinasakan; (keempat) berbatasan dengan setan yang menyesatkan..., dan di bagian inilah dibuat kan pintu rumah itu! 'Rurnah ini dibeli oleh seorang yang terperdayakan oleh angan-angannya dari seorang yctng terperanjatkan oleh da tangnya ajal, dengan harga berupa keluar dari kejayaan hidup sederhana dan masuk ke dalam kesengsaraan mencari, ber- susah payah dan merengek. [8] 'Dan bila si pembeli ditimpa suatu kerugian yang berada dalam jaminan si penjual, maka kedua-duanya akan dihadap kan di tempat pengumpulan dan perhitungan - pusat segala pahala dan hukuman - di saat telah dikeluarkan perintah untuk menuntaskan segala
    • urusan. la akan diantar ke sana oleh maut; pencerai-berai tubuh-tubuh para raja; pencabut nyawa kaum tiran yang bersimaharajala; penghancur kerajaan Fir'aun, Kisra dan Kaisar, juga para penguasa Tubba' dan Himyar, serta semua yang menumpuk-nurnpuk harta dalam jumlah besar. Mereka yang mendirikan bangunan-bangunan megah dan bermewah-mewah, mengukir dan melukis, menyembunyikan dan menyangka akan hidup untuk selama-lamanya. Atau yang - katanya- mempersiapkan bagi sang keturunan.... 'Maka pada hari itu akan merugilah orang-orang yang berbuat kebatilan.' (Q.S. 40 : 68). 'Demikianlah akta ini dibuat, disaksikan oleh akal di kala ia melepaskan diri dari kungkungan hawa nafsu dan selamat dari segala ikatan duniawai." [9] Pada kesempatan lain ketika menyifati dunia, Imam Ali berkata: "Sesungguhnya dunia itu keruh airnya, berlumpur sumbernya, memikat pemandangannya dan memunah kebu tuhannya. Godaannya berubah-ubah, sinarnya tenggelam, bay angannya lenyap dan sandarannya doyong. "Manakala buronnya mulai tenang dan pernbangkangnya mulai santai, ia segera injakkan kaki-kakinya, jeratkan tali- talinya dan lepaskan panah-panahnya kepada rnanusia. Setelah itu, ia tangkap manusia dengan laso angan-angan dan me nggeretnya ke pembaringan yang pengap, pengembalian yang seram, pembeberan tipu-muslihat dan pembalasan amal per buatan. Begitu seterusnya dari yang awal hingga yang akhir. (Di dalamnya), maut terus membabat dan durja terus rnerambah. (Satu demi satu penduduknya) mengikuti para pendahulu dan melewati para kawanan. (Sampai datang) titik pengha bisan dan puncak kefanaan." [10] Imam Ali juga pernah berseru: "Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesukaran, akhirnya kefanaan, halalnya diperhitungkan dan haramnya diberi balasan. Orang yang berkecukupan di dalamnya akan difitnah dan yang ber kekurangan akan resah. Orang yang mengejarnya selalu luput, dan yang enggan terhadapnya, maka ia akan lulut. Orang yang bercermin padanya akan berpandangan dan yang memandang inya akan buta." [11] Beberapa hari menjelang khilafahnya, kepada Salman Al-Farisi Imam Ali menulis demikian: "Amma ba'du. Dunia seumpama ular yang lembek tubuhnya, (tapi) mematikan bisanya. Oleh sebab itu, tinggalkan apa yang menakjubkan kamu di dalamnya karena sedikitnya yang akan membarengimu darinya. Lupakan hasrat-hasratmu padanya, karena kamu yakin akan meninggalkannya. Waspadai ia di saat kau dekat padanya. "Setiap kali kawan dunia menik mati kesenangan, ia datang menyambarnya dan setiap kali dia merasa tenang, ia datang menghebohkannya. Wassalam." [12] Imam Ali pernah menyifati dunia demikian: "Ketahuilah! (masa) dunia sudah berlalu; kepergiannya sudah dipersilahkan, kebaikannya sudah usang, dan ia sudah melesat jauh. la menggusah para penduduknya dengan kebinasaan dan meng giring para tetangganya dengan kematian. Pahit sudah apa yang pernah manis darinya dan keruh sudah apa yang
    • pernah jernih darinya. Dunia bak sisa sedikit air kulah dan seteguk air maqlah. Tak akan kenyang orang kehausan bila menyeruput nya. "Wahai hamba-hamba Allah! Berazamlah untuk mening galkan tempat ini; yang telah ditakdirkan baginya kemusna han. Janganlah kalian terkecoh oleh angan-angan dan berpan jang-panjangan usia.” [13] Dalam khutbahnya yang lain Imarn Ali berseru: "Amma ba'du, aku peringatkan kalian akan dunia! Sungguh ia panorama kehijauan yang indah, penuh dengan berane ka rnacam syahwat, cinta pada 'âjilah, suka pada yang sedikit, bersolek dengan angan-angan dan berdandan mengenakan tipu-niuslihat. Kenikmatannya tidak kekal dan kesengsaraannya tidak terhindar. Sesak dengan penipuan yang membahayakan, perubahan yang meraibkan, pemusnahan yang mengganaskan dan perampasan yang mematikan. "Sekalipun bila ia mewujudkan impian orang yang ber hasrat padanya dan melegakannya, maka itu tak lebih dari apa yang telah difirmankan Allah: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. 18 (Al-Kahfi) : 45). "Tak seorangpun di dalamnya yang mendapat suka, ke cuali disertai duka. Tak seorangpun yang bergembira batinnya, kecuali disengsarakan lahirnya. Tak ada gerimis kemudahan bagi seorang, kecuali (setelahnya) meluap kepadanya banjir kesulitan. "Jelasnya, jika ia di pagi hari menolongmu, maka di sore hari ia akan mempersulitmu. Jika satu sisi darinya sangat lezat dan manis, maka "pahitnya" sisi lainnya ialah infeksi. Tiada orang yang bisa meraih nikmat-nikmatnya dengan leluasa, kecuali akan menelan sisa-sisanya dengan lelah. Tak seorangpun bersore hari di bawah "sayap" ketenteramannya, kecuali akan berpagi hari di atas "tumpukan bulu" ketakutannya. Men cengangkan tipu-muslihat yang dimilikinya dan membinasa kan si fana yang melata di atasnya. "Tiada yang baik dari bekal-bekalnya melebihi takwa. Siapa yang mempersedikit darinya akan memperbanyak apa yang akan menyelamatkannya dan siapa yang memperbanyak darinya maka akan juga memperbanyak apa yang mencelakakannya dan kehilangan apa yang sedikit darinya. Betapa banyak orang bergantung padanya, ia ganyang dan yang percaya padanya, ia hempaskan. Betapa banyak orang besaryang ia hinakan dan orang mulia yang ia rendahkan. Tahtanya bergantian, hidupnya kotor jernihnya bergaram, manisnya ber jadam, makanannya beracun dan sarana-sarananya berujung. "Kehidupannya di ambang kematian dan kesehatannya di ambang kesakitan. Rajanya ditaklukkan, bangsawannya di tawan, hartawannya disiksa dan tetangganya dijarah.
    • "Bukankah kalian ini di tempat-tempat orang sebelum kalian yang lebih panjang usianya, lebih langgeng pening galannya, lebih jauh angan-angannya, lebih mantap persiapan nya dan lebih garang bala tentaranya. Mereka mengabdi kepada dunia dengan sebenar-benar pengabdian dan mengorbankan diri untuknya dengan sebenar-benar pengorbanan diri. Kemu dian mereka meninggalkannya tanpa bekal yang memadai dan kendaraan yang bisa menempuh jalan. "Terdengarkah oleh kalian bahwa dunia mengorbankan dirinya untuk mereka atau membantu mereka dengan bantuan atau berlaku baik dalam persahabatannya dengan mereka. Jus tru, ia menggempur mereka dengan ulat tanah, menggasak mereka dengan bermacam bencana, menghinakan mereka de ngan kesialan, membenamkan batang hidung mereka ke tanah, rnenjejak mereka dengan tapal unta dan menghadang mereka dengan segala kesulitan hidup. "Kalian semua telah tahu "keculasan" dunia kepada orang yang merunduk, mangabdi dan mencintainya sampai akhir hayat mereka. Tengoklah! Dunia hanya membekali mereka de ngan kelaparan, menghiasi mereka dengan kesempitan, menerangi mereka dengan kegelapan atau meninggalkan mereka dalam penyesalan. "Apakah demi ini kalian berkorban dan kepada ini kalian berserah diri ? Atau memang sedemikian rupa kalian berhasrat kepadanya? la adalah tempat yang sangat buruk bagi yang tidak mencelanya dan tidak awas terhadapnya. "Ketahuilah -dan kalianpun mengetahuinya-, bahwa ka lian semua ini akan segera meninggalkannya dan menjauh darinya. Ambillah pelajaran dari orang-orang yang berkata: “ Siapa yang lebih dahsyat kekuatannya dari kami..' (Q.S. Fushshilat 15). "Saat diusung ke pemakaman, mereka tak bisa memanggil tumpangan dan saat digelongsorkan ke liang lahad, mereka tak bisa memerintah kacung. Dari rnuka bumi ini digali kubur mereka, dari tanah dirancang kafan mereka dan dengan tulang belulang mereka bersahabat. Mereka bertetangga, tapi tak sa ling menanggapi undangan, tak tolong menolong melawan ke laliman atau tak saling menghadiri perjamuan. Bila hujan datang mereka tak gembira dan bila niusim kemarau berkepan jangan mereka tak putus asa. Mereka berkumpul, tapi sendiri- sendiri dan bertetangga, tapi jauh-jauh. Mereka berdekatan tapi tak saling mengunjungi dan mendekati. Mereka adalah orang- orang sopan yang takkan bisa naik pitarn dan orang-orang tolol yang takkan pernah dengki. "Kalian tak perlu khawatir akan keberingasan rnereka dan kalian tak bisa mengharap pertolongan dari mereka. Mere ka telah menggantikan (bentuk) lahir bumi dengan batinnya, kelapangannya dengan kesempitannya, kekeluargaannya de ngan keasingannya dan kecemerlangannya dengan kegulitaan nya. Mereka meninggalkannya seperti ketika memasukinya; telanjang bulat. Mereka bergerak meninggalkannya menuju hidup yang abadi dan tempat yang kekal”. [14] Dalam khutbah lain Imam Ali berkata: "Aku peringatkan kamu sekalian akan dunia. la adalah tempat yang goyah dan bukan pijakan yang kukuh. la berhias dengan tipu-
    • muslihatnya dan tertipu dengan perhiasannya. la acuh tak acuh pada Tuhan nya, maka Dia campur-adukkan halalnya dengan haramnya, baiknya dengan buruknya, hidupnya dengan matinya dan ma-nisnya dengan pahitnya. "Allah tidak menyucikannya buat para kekasih-Nya dan tidak juga mengotorinya buat para rnusuh-Nya. Kebaikannya terpencil, keburukannya terpampang, timbunan hartanya habis, kekuasaannya tercabut dan manusianya rusak. Apa baiknya tempat yang roboh karena berakhirnya pembangunan, usia yang usai karena terpakainya pembekalan dan waktu yang ha bis karena terputusnya perjalanan. Jadikanlah perintah Allah sebagai "mata pencaharian" kalian dan mintalah Dia (rnenolongmu) untuk memenuhi hak-Nya yang Dia minta dari ka lian. '' [15] Imam Ali pernah berseru demikian dalam salah satu khutbahnya yang lain: "... Wahai hamba-hamba Allah, kuwasiatkan kepada kalian untuk menolak dunia yang akan me ninggalkan kalian, meski kalian ogah meninggalkannya, dan yang akan melumatkan tubuh-tubuh kalian, meski kalian ingin meremajakannya kembali. "Kalian dan dunia itu seumpama kafilah yang menempuh jalan yang hampir sampai dan orang yang menuju ke pos yang hampir tiba. Sejauh apa jarak musafir dan tujuan yang hendak dicapainya? Serentang apa waktu sehari bagi orang yang meluangkannya? Dan (bayangkan) secepat apa "pencari gigih" me ninggalkan dunia? "Jangan bersaing mencari kehormatan dan kebanggaan dunia, jangan terperangah akan perhiasan dan kenikmatannya dan jangan genta rakan kenestapaan dan kesulitannya. Karena, pada hakikatnya, kehormatan dan kebanggaannya terputus; perhiasan dan kenikmatannya lenyap; dan kenestapaan dan kesulitannya fana. Segenap saat yang ada padanya, akan berak hir, dan segenap yang hidup di dalamnya akan binasa. "Tiadakah dari peninggalan-peninggalan orang terda hulu yang bisa kalian jadikan tempat berbenah dan dari nenek moyang kalian yang bisa kalian jadikan cermin dan ibrah, kalau memang kalian berakal. Tidakkah kalian melihat orang- orang yang telah lalu tidak ada yang kembali dan orang-orang yang tertinggal tidak adayang kekal. Tidakkah kalian menyak sikan hal ihwalpenghuni duniayang bercabang-cabang; mayat yang ditangisi dan dibelasungkawai, orang terkapar yang pe nuh luka, orang yang mudik, orang yang memperbaiki diri (karena mau mati), pencari dunia yang dikejar maut, lalai yang tidak dilalaikan (oleh Allah) dan orang tertinggal yang meniti jalan orang yang terdahulu. "Hai manusia ingatlah pada pembasmi segala kelezatan, peredam segala syahwat dan pemupus segala angan-angan di saat-saat kalian meloncat ke berbagai kedurjaan. Mohonlah pertolongan dari Allah untuk dapat melaksanakan hak-Nya, nikmat- nikmatNya dan kebaikan-Nya yang tak terbilang." [16] Inilah bentuk (dimensi) pertama bagi kehidupan duniawi. Sengaja kami perbanyak pemaparan nash-nash keislaman ini guna menyifati dimensi kedua dunia. Karena mayoritas manusia seringkali mengambil lahir dunia daripada mengambil batinnya.
    • Penglihatan mereka hanya sampai ke lahir dunia dan tidak pernah menembus batinnya. Maka semoga dalam nash- nash tersebut kita menemukan sesuatu yang bisa membantu kita untuk memandang dunia secara utuh; lahir-batinnya. Sisi Lahir Duma Sisi lahir kehidupan dunia adalah tipu-daya (ighrâ'). Karena, ia menipu dan mempesona orang-orang yang tidak memi liki bashîrah. Dunia selalu berupaya keras untuk merayu, menipu, me mikat dan menghibur mereka dengan al-lahwu (hiburan yang menyesatkan) dan al-la'ib (permainan). Allah SWT berfirman: "Dan tiadalah kehidupan duma ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka...". Q.S. Al- An'âm:32. Pada ayat lain Allah berfirman: "Dan tiadalah ke hidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gu rau...." Q.S. Al-‘Ankabût:63) Allah juga berfirman: "Bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu." Q.S. AlHadîd: 20. Dalam firman-firman di atas, Allah menjelaskan bahwa kata bentuk lahir dari dunia adalah la'ibun dan lahwun (per mainan dan senda gurau). Jelas bahwa dua sifat itu bertentan gan dengan kesungguhan dan perhatian. Bentuk lahir dunia benar-benar bisa menyibukkan manusia dengan hiburan dan permainan. la merusak sikap serius dan waspada manusia. Imam Ali menyatakan bahwa : "Dunia itu layaknya lumadhah." [17] Imam Ali as berkata: "Siapa yang sudi membuang lu madhah?’ [18] Imam Ali as berkata: "Aku peringatkan kalian akan dunia. la seperti manisan. la diliputi berbagai syahwat." [19] Perbandingan antara Sisi Lahir dan Batin Dunia Dalam Alquran terdapat suatu perbandingan antara lahir dan batin dunia. Di bawah ini ada beberapa ayat yang perlu kiranya kita cermati. 1. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang di makan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasa nnya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tana mannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit,
    • seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikian Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang- orang yang berfikir". Q.S. Yunus 24. Ayat ini adalah sebuah contoh yang mengungkap tentang kehidupan, keindahan, hiasan, dan kebinasaan mendadak yang akan menjadi keberakhiran dunia. Dalam ayat ini, dunia diperumpamakan seperti hujan yang turun dari langit ke bumi. Airnya menyirami tumbuh-tumbuhan yang segera menjadi subur karenanya. Sehingga tumbuh-tumbuhan itu bisa dimakan oleh manusia dan bina tang di samping menjadi hiasan bumi itu sendiri. Namun, apabila bumi mulai indah mempesona, secara mendadak datanglah perintah Allah SWT berupa petir, badai dan lain-lain. Kemudian bumi itu centang-perenang dan ludes sama sekali. Seperti tak pernah ada pemandangan yang hijau royo-royo itu sebelumnya. Beginilah gambaran yang jelas tentang dua dimensi ke hidupan dunia; lahir dan batinnya. Ayat tadi menyerupakan bentuk lahir dunia dengan kesuburan, keelokan, dan peman dangan panoramik yang memikat mata dan hati yang memandangnya. Namun, manakala jiwa mulai asyik dengannya, datanglah - secara tiba-tiba - perintah Allah yang mengakibatkan keporak-parikkan menyeluruh. Pada saat itu, hati akan ngeri melihatnya batin dunia. Dan bagian pertama dari ayat tersebut menggambarkan penyebab penipuan dan keangkuhan karena dunia, yakni sisi lahir dunia. Sedangkan bagian kedua merupakan sumber nasi hat dan ibrah, dan ia adalah dimensi batin dunia. 2. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya kami telah men jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya". Q.S. Al-Kahfi:7. Tidak diragukan lagi bahwa dunia adalah perhiasan yang memikat hati-hati umat manusia. Akan tetapi, ia mengandung bencana, cobaan dan membawa dampak kehancuran bak um pan perburuan. 3. Allah SWT berfirman: "Ketahuilah, bahwa sesungguh nya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara karnu ser ta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhrat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan belaka." Q.S. Al-Hadîd 20. Ayat ini juga memperlihatkan kedua sisi kehidupan dunia itu. Baik yang lahir maupun yang batin. la bagaikan curahan hujan yang turun dari langit menyirami bumi. Kemudian
    • tumbuh tanaman-tanaman yang indah dan menarik perhatian para petani. Namun, setelah itu mengering, menguning dan akhir nya rusak. Pelbagai Cara Pandang terhadap Dunia Pada hakikatnya, multidimensionalitas dunia terjadi aki bat beragamnya cara memandang dunia. Sebab, meski dunia itu satu, tapi sikap dan cara manusia memandangnya berbeda. Ada manusia yang melihat dunia dengan pandangan yang terdistorsi hingga tertipu olehnya (ightirâ') dan ada manusia yang memandangnya dengan pandangan mengambil pelajaran (i'tibâr). Begitulah dua cara melihat dunia ini; yang satu dang kal dan terhenti pada posisi lahir dunia. Maka, baginya dunia ialah penjerumus dan penipu manusia. Sedangkan yang lainnya adalah pandangan yang menerawang jauh sampai ke batin kehidupannya dan orang ini akan zuhud terhadapnya. Kalau demikian, masalahnya sebenarnya berpulang pada cara pan dang dan bagaimana manusia mempersepsinya. Jadi agar manusia memperbaiki perlakuannya terhadap dunia, maka sebelumnya, hendaknya mesti memperbaiki cara pandangnya terhadap dunia. Karena perlakuan manusia ter hadap sesuatu bergantung pada cara pandangnya terhadap hal itu. Orang yang melihat dunia dengan pandangan yang terdis torsi, akan tersesat dan terperdaya. Kehidupan dunia bagi me reka adalah permainan dan pelalaian (lahwun wa la'ibun), sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alquran di atas. Adapun orang-orang yang melihat dunia dengan pandangan i'tibâr, mereka akan berbuat di dunia dengan penuh kejujuran dan kesungguhan serta akan menyibukkan diri dengan akhirat daripada menjadikan dunia sebagai hiburan semata. Dalam untaian kata Imam Ali as berikut ini, beliau men jelaskan tentang titik perbedaan manusia memandang dunia. Imam Ali as bersabda: "Dahulu aku mempunyai saudara seagama, yang agung di depan mataku karena remehnya dunia di hadapan matanya". [20] Amirul Mukminin Ali as menyifati dunia demikian: "Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesusahan dan akhirnya kehancuran? Halalnya diperhitungkan dan ha ramnya diberi balasan. Hartawannya celaka dan fakir miskin nya menderita". [21] Dalam khutbah yang lain, beliau berseru: "Siapa yang mengejarnya, dunia akan luput darinya dan siapa yang enggan kepadanya dunia akan lulut di hadapannya". [22] Inilah sunnatullah yang melandasi hubungan manusia dengan dunia yang tidak akan berubah. Orang yang mengekor di belakang dunia dan membuntutinya, hanya akan dibuat capek dunia. Setiap kali mendapat rizki yang dia dambakan, dia ingin yang lebih dari itu dan berusaha lagi untuk mencapai keinginannya yang ini dan demikian seterusnya. Sebaliknya, orang yang agak cuek terhadap dunia, maka ia akan datang dan orang itu akan meraih apa yang didambanya.
    • Berikut ini saya kutipkan ucapan Imam Ali as yang berkaitan secara langsung dengan pokok permasalahan kita, yaitu: "... Orang yang melihat melalui dunia, akan berpandangan dan yang melihat kepada dunia akan terbutakan." [23] Syarif Al-Rady dalam menafsirkan perkataan ini berkata: "Orang yang merenungkan mutiara hikmah ini akan mendapat arti yang agung dan dalam." Wacana itu ingin menjelaskan adanya dualitas panda ngan terhadap dunia: Pertama, ibshâr biddunnyâ (memandang melalui dunia) yang penuh dengan pelajaran. Kedua, ibshâr iladdunnyâ (memandang kepada dunia) pandangan yang terdistorsi oleh tipuan dan fitnah dunia. Untuk lebih jelasnya, jika dunia dipakai sebagai cermin untuk melihat berbagai peradaban kuno, orang-orang zalim serta kesombongan mereka di bumi yang Allah siksa dengan sebenar-benar siksaan, maka pandangan semacam ini adalah pandangan yang mengambil pelajaraan dan mauizah. Adapun jika dunia menjadi tujuan pandangannya dan ma ta pencahariannya, maka dunia akan memperdayainya, men jadi fitnah baginya dan, pada gilirannya, akan membutakannya. Dan manusia yang sudah terdistorsi pandangannya ini akan melihat dunia itu manis dan menawan. Jadi, pandangan yang pertama itu adalah bahan pela jaran, kesadaran dan ketercerahan, sedang pandangan kedua adalah bahan fitnah, penipuan, pendistorsian dan pemanipu lasian. Ibnu Abi Al-Hadîd dalam bukunya menjelaskan untaian kata ini dalam dua bait syairnya: Dunia bagai mentan yang menyorotkan sinarnya yang menghancurkan. Jika kau tatap pancaran canayanya butalah matamu. Namun, jika kamu melihat dengan cahayanya cerahlah peiiglihatanmu. Tentang dua cara memandang ini, lebih khusus Imam pernah berkata: "la (Allah) ciptakan pendengaran untuk menyimpan hal-hal yang penting, penglihatan untuk memperjelas kesamaran, sebagai pelajaran bagimu ... Mereka digelayuti anganangan tanpa harapan ... Mereka sibuk memperhatikan kesehatan tubuh, tapi tidak sibuk memperhatikan kedekatan ajal. Apakah sanak- kerabat bisa menghalaunya (maut) atau raungan tangis bisa berguna baginya? Di pemakaman yang tertutup rapat dan pem baringan yang sempit mereka ditinggalkan sebatang kara. Ku lit-kulit tubuh mereka akan digerogoti ulat dan sisa-sisanya akan diterbangkan badai kemudian sedikit demi sedikit keduanya itu akan menghapuskan nisan mereka ..." [24]
    • Dalam konteks yang sama Imam Ali as berkata: "Dunia semata-mata titik pandang orang buta. la tidak dapat melihat apa yang berada di baliknya. Sementara orang yang berpandangan (tidak buta) bisa menernbus dunia dan mengetahui bahwa ada tempat dibaliknya. Maka orang yang melihat akan berang kat dari dunia, sedangkan orang buta berangkat menuju dunia. Orang yang melihat mencari bekal dari dunia, sedangkan orang buta mencari bekal untuk dunia". [25] Sungguh orang yang buta adalah orang yang padangan nya tidak bisa menembus inti dunia. Dia sangat bergantung pada dunia karena ia adalah puncak tujuannya. Adapun orang yang melek, pandangannya mampu menembus inti dunia. Dia bisa melihat ada akhirat setelah dunia dan dia pun tidak bergantung padanya karena yakin pasti akan meninggalkannya. Ibnu Abi Al-Hadîd - penyarah kitab Nahjul Balâghah - mempunyai penjelasan indah tentang masalah ini selain apa yang telah kami sebutkan di atas: "Penyerupaan dunia dan apa yang terjadi setelahnya dengan orang buta dan kegelapan yang dikhayalkannya. Kegelapan, baginya, seperti benda inderawi. Padahal, kegelapan itu sebenarnya tidak bisa diindera. Kegelapan itu adalah ketidak beradaan cahaya atau tanpa cahaya. Misalnya, orang yang melihat lobang kecil yang gelap, dia akan segera mengkhayalkan wujud gelap di dalamnya. Padahal kegelapan itu tidak ada. Dan yang ada hanya ketidakadaan cahaya karena sedang meli hat kegelapan. "Adapun orang yang melihat benda-benda inderawi de ngan menggunakan pancaran sinar, maka dia akan sepenuhnya bisa "menyaksikan" benda-benda inderawi itu dengan yakin. "Begitu pula keadaan dunia dan akhirat. Penggemar du nia menjadikannya puncak tujuan semata-mata. Mereka meny angka dan rnengkhayalkan adanya benda inderawi yang me reka lihat, padahal sebenarnya rnereka tidak melihat apa-apa atau buta. Sedang penggemar akhirat pandangannya mampu melihat benda inderawi secara hakiki. Pandangan mereka tidak hanya terbatas pada dunia (yang khayali itu), tapi sesuatu setelahnya (yang hakiki). Dan mereka itulah sebenarnya yang berpenglihatan". [26] Metode Memandang yang Benar Melihat, seperti halnya tindakan-tindakan manusia yang lain mempunyai metode yang benar. Alquran sendiri telah men jelaskan kepada kita pelbagai metode berprilaku termasuk yang berkenaan dengan cara memandang. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu tujukan (pandangkan) kedua matamu kepada apa yang telah Kami beri kan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal..." Q.S. Thâhâ:131.
    • Tamdîd adalah suatu cara melihat. Tamdîd berarti mel uaskan penglihatan terhadap rizki yang dianugrahkan pada orang lain. Dan kata mudda yang merupakan akar kata tamdîd itu mengacu pada arti tajâwuz (melampaui batas). Ayat itu seakan ingin mengatakan bahwa ada sebagian orang yang melampaui dari rizkinya sendiri ke rizki yang dianugrahkan Allah pada hamba-hamba-Nya yang lain, berupa kemewahan kehidupan dunia. Perluasan dalam melihat ini merupakan sumber ketersiksaan manusia. Karena dia mendamba yang tidak diberikan oleh Allah kepadanya. Dengan kata lain, ada sebagian orang mencari rizki dan ketika sudah mendapatkannya, dia mengharap rizki yang dimiliki orang-orang lain dan demikian seterusnya. Tentu saja, manusia model ini tidak akan henti-hentinya mengejar dunia dan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan nya. Sebagaimana Amirul Mukminin bersabda: "... Dan berlari di belakang dunia, sampai berkepanjangan siksa yang dialaminya dari dunia. Dia tidak akan pernah mendapatkan tujuan nya." Cara memandang dunia seperti ini berdampak kesedihan pada manusia dan kerakusan atas apayang ada di tangan orang lain. Berbeda dengan cara memandang yang ditegakkan atas dasar ta'affuf (menjaga harga diri) dari harta yang ada di tangan orang lain. Jelas bahwa pandangan rasa cukup dan menjaga diri (istighnâ` wa ta'affuf) dari apa yang dimiliki orang lain atau tidak berkeinginan kepadanya, bukan berarti bertopang dagu dari usaha, kerja dan pergerakan di samudera kehidupan. Kare na, Muslim itu harus selalu berusaha dan bergerak, tapi tidak bertitik-tolak dari sikap rakus atas apayang ada di tangan orang lain. Kalau demikian, cara pandang berperan cukup besar da lam keselamatan atau kekotoran jiwa. "Betapa banyak meman dang sekilas yang menyebabkan penyesalan." [27] Akan tetapi, banyak juga pandangan mata yang bisa men jadi faktor istigâmah dan pembinaan prilaku manusia. Islam tidak pernah melarang kita untuk melihat atau memandang sesuatu, tapi ia mengajarkan pada kita bagaimana melihat dan memandang pada sesuatu. Pelbagai Efek Psikologis dari Suatu Cara Pandang Cinta Dunia dan Zuhud Setiap cara melihat atau memandang mempuyai efek, baik positif maupun negatif, terhadap kehidupan manusia. Per lakuan manusia terhadap sesuatu menurut dan mengikuti pola pandangnya terhadap hal itu.
    • Setiap pola atau cara pandang akan meninggalkan pe ngaruh dan refleksi yangjelas pada prilaku manusia, pikiran dan jiwanya. Untuk melakukan suatu perubahan yang radikal pada kehidupan manusia, diperlukan perubahan pada cara pan dang seseorang pada dunia. Masalah ini menduduki peringkat yang tinggi dalam me tode pedidikan keislaman. Atas dasar itu, saya akan mengkaji pengaruh-pengaruh kejiwaan dan prilaku (behavioral) bagi ma sing-masing dari kedua pola pandang itu. Yaitu pola pandang yang dangkal yang tidak mampu menembus dunia, yang diisti- lahkan Imam Ali as dengan al-ibshâr iladdunyâ (melihat pada dunia), maupun poJa pandang yang bisa menembus dunia yang diistilahkan dengan al-ibshâr biddunyâ. Adapun paling besarnya pengaruh dari ke dua pola pan dang ini adalah hubbud-dunyâ (cinta dunia) dan zuhud. Yang pertama merupakan akibat alami bagi penglihatan yang dangkal dan tidak menembus batin dunia, sedangkan zuhud meru pakan akibat alami bagi penglihatan (pola pandang) yang men dalam dan menembus batin dunia. Berikut ini, analisis kedua keadaan ini dalam kehidupan manusia. Hubbud-dunyâ Hubbud-dunyâ atau cinta dunia ialah akibat alami bagi suatu penglihatan yang dangkal terhadap dunia. Penglihatan ini, sebagaimana yang pernah saya jelaskan, tidak bisa menguak lahir kehidupan dunia. Oleh sebab itu, orang dengan penglihatan seperti itu pasti akan terpikat dan terkungkung oleh gemerlapan dan keelokan duniawi. Sebaliknya, zuhud me rupakan akibat alami/pasti bagi pandangan yang sadar dan tajam terhadap dunia. Cinta Dunia Sumber Segala Kejahatan Manusia Tak ada satu kejahatan atau petaka yang terjadi melain kan sebagian atau seluruh akarnya tertancap pada cinta dunia. Rasul bersabda: "Cinta dunia adalah pangkal segala ke maksiatan dan awal segala perbuatan dosa." [28] Ali as berkata: "Cinta duniapangkal segala fitnah dan induk segala petaka." [29] Ash-Shâdiq as berkata: "Pangkal segala kesalahan ada lah cinta dunia." [30] Cinta Dunia Membawa Kepada Kekafiran Kekufuran adalah pengaruh terbesar cinta dunia. Alqur an menyebutkan hubungan antara cinta dunia dan kekufuran dan akibat dari cinta dunia dalam banyak ayat. 1. Allah berfirman: "... kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
    • kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesung guhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhi rat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum kafir". Q.S. An-Nahl : 106-107. Bukan hanya kekufuran akibat dari cinta dunia yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut. Bahkan ia men jelaskan sesuatu yang jauh lebih daripada itu. Yaitu bahwa cinta dunia akan melapangkan dada manusia, sehingga dia merasa tenteram, bahagia dan patuh setia kepada kekufuran tersebut. Tentu saja, yang demikian itu lebih berbahaya daripada kekafiran itu sendiri. Mereka akan dimurkai Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya. 2. Allah SWT berfirman: ".... dan kecelakaan bagi orang- orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) darijalan Allah dan me nginginkan jalan yang bengkok ... " Q.S. Ibrahim 2-3. Ayat ini jelas sekali hubungan antara cinta dunia dan kekafiran yang menghalangi jalan Allah. Berbagai Pengaruh Psikologis dan Behavioral Cinta Dunia Cinta dunia mempunyai banyak pengaruh psikologis dan behavioral pada diri manusia. Berikut ini akan saya jelaskan sejumlah pengaruh tersebut. 1. Panjang Angan-angan pada Dunia Tak diragukan lagi bahwa panjang angan-angan adalah pengaruh psikologis cinta dunia. Karena apabila seorang men cintai dunia akan selalu bergantung padanya. Dan dengan demikian dia akan terus mengangan-angankannya. Inilah pre mis pertama dalam masalah ini. Premis keduanya ialah bahwa orang yang panjang angan-angannya kepada dunia, akan lupa pada kematian. Konklusinya, persiapan amal salehnya buat akhirat semakin berkurang. Silogisme ini telah disinggung dalam beberapa nash keislaman. Imam Ali as berkata: ''Tidaklah panjang angan-angan seorang hamba, kecuali jelek perbuatannya". [31] Imam Ali as berkata: "Orang yang paling banyak beran gan-angan, paling jarang mengingat kematian". [32] Imam Ali as berkata: "Manusia yang paling panjang angan-angannya adalah yang paling jelek perbuatannya". [33] 2. Merasa Tentram dengan Dunia dan Condong Padanya Ini, sebagaimana yang telah saya jelaskan, adalah akibat dari panjangnya angan-angan pada dunia dan cinta dunia atau rela kepada dunia.
    • Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Karni, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidapan itu dan orang-orang yang melalai kan ayat-ayat Kami. Mereka itu ternpatnya ialah neraka, dise babkan apa yang selalu mereka kerjakan..." Q.S. Yunus:7-8. Keadaan tenteram seperti itu bersifat palsu dan tidak hakiki. Dengan ketenteraman itu, manusia akan merasa bahwa dunia adalah tempat abadi baginya. Padahal dunia bukan tempat abadi. Kesenangannya cepat sirna, rusak dan hancur. Dan sesungguhnya tempat yang abadi hanyalah surga. Allah berfirman: "Mereka bergembira dengan kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)..." Q.S. Ar-Ra'd 26. Allah berfirman: "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal ... Q.S. Al-Mukmin:39. Dunia hanya merupakan kesenangan yang lenyap semen tara alam akhirat tempat yang kekal berlawanan dengan sangkaan orang yang condong kepada dunia. Kecintaan dan ke relaan terhadap dunialah yang menyebabkan manusia memi liki waham yang demikian itu. Imam Ali as pernah meriwayatkan sebuah hadis qudsi yang demikian bunyinya: "Aku heran pada orang yang melihat dunia dan menyaksikan perubahannya dari satu keadaan ke keadaan yang lain, tapi dia bisa merasa tenang dan tenteram padanya". [34] Dalam hadis qudsi lain Allah berfirman kepada kalimul lah, Musa as: "Wahai Musa! Jangan condong pada dunia seper ti kecondongan orang-orang zalim dan kecondongan orang- orang yang menjadikannya sebagai ibu dan ayahnya. Cukup-cukupkanlah dirimu darinya". [35] Ungkapari hadis tersebut sangat jernih dan dalam. Se bagian manusia ada yang condong pada dunia, padahal dunia itu hanyalah kumpulan keadaan-keadaan yang terus-menerus berubah, seperti kecondongan bocah pada ibu dan bapaknya. Sementara sebagian lain ada yang melihat dunia hanya sebagai gelimang lahwu dan permainan yang diperlombakan manusia secara batil. Kemudian, dia mengetahuinya dan tidak tertipu olehnya. Bahkan dia menggantikan dunia dengan kehidupan hakiki yang indah, yaitu kehidupan ukhrawi. Allah berfirman: "Dan tiadalah kehidupan dunia ini me lainkan senda-gurau dan mainmain. Dan sesungguhnya akhir nya itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui..." Q.S. Al-‘Ankabût:64. 3. Mengutamakan Kehidupan Dunia daripada Akhirat
    • Bila manusia sangat cinta dunia, dia pasti akan memen tingkan urusan duniawi daripada urusan ukhrawi. Allah telah menyebutkan dalam Alquran tentang perihal pengutamaan urusan duniawi di atas urusan ukhrawi. Allah berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tenipat tinggal (nya)" Q.S. Al-Nâzi'ât:40-41. Dan Allah juga berfirman: "Tetapi karnu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi padahal kehidupan akhirat lebih baik dan kekal." Q.S. Al-A'lâ:16-17. Pada hakikatnya, mereka menginginkan dunia belaka. Sikap mengutamakan dunia atas akhirat itu muncul jika terjadi benturan antara dunia dan akhirat. Yakni ketika manusia di tuntut memilih 'dunia tanpa akhirat' atau 'dunia - akhirat', maka mereka akan memilih dunia tanpa akhirat. Kalau begitu, sebetulnya mereka semata-mata ingin kehidupan dunia. Allah SWT berfirman: "Maka berpalinglah (hai Muham mad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi..." Q.S. AnNajm 29. Bahkan, lebih dari itu mereka tidak segan-segan menjual akhirat demi mendapat dunia. Allah SWT berfirman: "Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat ". Q.S. Al-Ba qarah:86. Berkenaan dengan masalah ini Rasulullah SAWW bersab da: "Barangsiapa dihadapkan dua pilihan; dunia dan akhirat, lalu ia memilih dunia daripada akhirat, maka ia akan bertemu Allah SWT tanpa membawa kebaikan yang bisa mencegahnya dari neraka. Dan barangsiapa yang mengambil akhirat dan menolak dunia ia akan menemui Allah di hari kiamat dalam keadaan diridhai-Nya". [36] Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk". [37] Imam Ali as juga berkata: "Tidaklah manusia mening galkan urusan agamanya untuk memperbaiki urusan duni anya, kecuali Allah bukakan mereka sesuatu yang lebih mem bahayakan dirinya." [38] Imam Ali as berkata pula: "Orang yang tidak peduli terhadap bencana yang menimpa urusan akhiratnya, asal saja urusan dunianya selamat, maka orang itu akan benar-benar celaka". [39] 4. Tergesa-gesa Ingin Beroleh Kesenangan Akhirat di Dunia
    • Tergesa-gesa ingin mendapat kesenangan akhirat di dunia ialah akibat lain dari cinta dunia. Allah mencipta manusia agar menikmati keindahan-keindahan surga. Tetapi, pecinta dunia yang bergantung dan merasa tenteram padanya, ingin merengkuh kesenangan-kesenangan akhriat itu di dunia. Dia tak ubahnya petani yang tergesa-gesa ingin menuai sebelum waktunya, lalu dia memetik buah-buahan yang masih mentah. Atau tak ubahnya anak kecil yang tergesa-gesa meminta ke senangan usia setengah baya atau usia tua, lalu dia habis waktunya untuk bermain dan mengabaikan sekolahnya. Orang itu tak lain hanya mengorbankan kepenatannya yang sebentar demi kesengsaraan usia senjanya. Ayat berikut sangat tepat menggambarkan pengertian tersebut di atas, Allah berfirman: "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu." Q.S. AlAhqâf:20. Seakan-akan Allah benar-benar telah menyimpan kesena ngan-kesenangan ini untuk diberikan pada manusia di akhirat yang merupakan tempat yang abadi. Namun, pada galibnya, manusia tergesa-gesa mengambilnya di dunia sebelum tiba waktunya. Lalu, dia menikmatinya dalam keadaan mentah dan mudah rusak. Al-'Âjilah Oleh sebab itu, Alquran menamakan dunia dengan al- 'âjilah yang berarti bahwa dunia adalah tempat manusia ter gesa-gesa mendapatkan kesenangan-kesenangan akhirat sebe lum tiba waktunya. Allah berfirman: "Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki terhadap orang yang kami kehen daki..." Q.S. Al-Isrâ`:18. Kita butuh untuk banyak merenungkan dan memikirkan bagian akhir ayat tersebut, yaitu (Apa yang Kami kehendaki untuk orang yang Kami kehendaki). Karena ketergesa-gesaan manusia untuk memperoleh kesenangan-kesenangan akhirat di dunia ini bukan berarti bahwa manusia pasti akan menda patkan seluruh kesenangan duniawi yang ia kehendaki. Tetapi, manusia akan mendapatkannya sekehendak Allah yang mem beri manusia secara segera (cepat) jika manusia minta segera. Begitu juga sedikit-banyaknya yang diperolehpun ditentukan Allah. Perkara rizki tetap ada di tangan Allah bukan di tangan manusia. Semakin tergesa-gesa manusia untuk mendapat rizki dunia ini, semakin terhalang dia meraih kesenangankesena ngan akhirat. Dalam konteks ini, Allah SWT berfirman: "Dan rnereka berkata: "Ya Tuhan karni, cepatkanlah azab yaiig diperuntukkan bagi kami sebelum hari hisab..." Q.S. Shâd:16. Maksudnya segerakanlah bagian (harta kekayaan) kami agar kami merasakannya di dunia sebelum hari Perhitungan (yaumul hisâb).
    • Kemudian Allah juga berfirman: "Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidu pan dunia" Q.S. Al-Qiyâmah:20. Firman Allah yang lain: "Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak rnemper dulikan hari yang berat (hari akhirat).." Q.S. Al-Insân:27. Ketika kita perhatikan secara seksama nash-nash ini, kita akan dapatkan bahwa masalah benturan antara dunia dan akhirat tidak selalu terjadi pada ruang lingkup yang haram saja, tapi terjadi pula pada yang halal. Inilah letak keindahan cakrawala pemikiran keislaman. Sejumlah nash menjelaskan bahwa Rasulullah SAWW, Ah lul Baitnya as dan hambahamba Allah yang saleh membenci sikap berlebihan (ifrâth) dalam menikmati dunia. Barangkali penyebabnya adalah bahwa ifrâth dalam menikmati kesenangan-kesenangan duniawi akan menyebabkan kecintaan ma- nusia terhadap dunia dan akan menambah ketergantungan manusia pada dunia. Karena, hubungan antara cinta dunia dan isti'jâl (keinginan untuk cepat-cepat mendapat kesenangan du nia) adalah hubungan timbal balik yang sangat erat. Jadi ma nusia yang mencintai dunia, akan tergesa-gesa ingin menikmati kesenangan-kesenangannya. Sedikitpun saya tidak ragu bahwa sebagian benturan antara kesenangan-kesenangan duniawi dan ukhrawi terjadi dalam ruang lingkup yang halal. Saya tidak perlu menjelaskan kembali bahwa benturan ini tidak berarti keharaman perhi asaan dan rizki yang bagus yang telah dianugrahkan Allah pada hamba-hamba-Nya, sebab ia bukan benturan antara yang halal dan yang haram. Dan ini sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas adalah merupakan keunikan pemikiran keislaman. Sebaiknya terlebih dahulu saya nukilkan nash-nash keis laman yang berkaitan dengan masalah ini, kemudian saya urai kan dan terangkan. Beberapa Contoh Nash Keislaman Umar bin Khatab mengkisahkan: "Aku berkata pada Rasullah SAWW: "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia melapangkan (rizki) pada umatmu. Sungguh Allah telah mela pangkan rizki pada bangsa Persia dan Romawi, padahal mereka tidak menyembah Allah. Kemudian Rasulullah bangun (tempat tidurnya) dan duduk lalu bersabda: 'Hai Ibnu Khatab, apakah kamu masih ragu? Mereka adalah kaum yang disegerakan untuk mendapatkan kemewahan-kemewahan (ukhrawi) di da lam kehidupan duniawi." [40] Suatu ketika Rasulullah dihidangi sepotong roti, namun beliau enggan memakannya. Lalu sahabatnya bertanya: 'Apa kah Anda mengaharamkannya? Beliau menjawab: 'Tidak! Tapi aku tidak suka jiwaku menampakkan keinginannya pada roti itu. Kemudian beliau membaca ayat: 'Kamu telah mengha biskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniamu'. Q.S. Al-Ahqâf:20. [41] Umar bin Khatab meriwayatkan: "Aku minta izin untuk bertemu Rasulullah SAWW, di kebun Ummu Ibrahim. Ketika itu beliau dalam keadaan berbaring dan meletakkan
    • sebagian anggota badannya di atas tanah. Di bawah kepalanya ada sebuah bantal yang terbuat dari daun pohon gandum. Kemudian aku mengucapkan salam pada beliau, setelah itu aku duduk dan mulai bertanya: 'Wahai Rasulullah, engkau adalah Nabi Allah, kekasih-Nya dan makhluk terbaik-Nya. Kisra dan Kaisar duduk di singgasana emas yang beralaskan permadani dan sutera. Kemudian Rasulullah bersabda: 'Mereka adalah kaurn yang disegerakan kesenangan-kesenangan yang tidak bertahan lama untuk mereka. Sedangkan kesenangan-kesenangan kita akan diberikan di akhirat nanti". [42] Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah mendata ngi Ahlu Suffah sementara mereka seclang menambal pakaian- pakaiannya dengan kulit, lalu mereka tidak mendapatkan tambalan lagi. Kepada mereka Rasulullab bersabda: “Apakah kalian hari ini dalam keadaan baik? Atau hari kalian di pagi harl mengeluarkan pakaian lalu sore harinya ganti dengan yang lain; hari dihidangkan buat kalian. semangkok makanan dan di sore hari dihidangkan semangkok lain; dan rumah kalian tertutup rapat seperti Ka'bah?” Mereka menjawab: "Hari itu keadaan kami tentu lebih baik!" Salah! Tapi keadaan kalian hari ono lebih baik daripada hari itu." Kata Rasul.. [43] Nabi SAWW pernah melihat Fathimah as berkerudung kain dari kulit onta, sedang menumbuk gandum dengan tangannya dan menyusui putranya. Dengan air mata yang mengalir, beliau bersabda: "Duhai putriku, kau segerakan kepahitan dunia demi memperoleh kemanisan akhirat. Kemudian Fatimah menjawab: "Ya Rasu lullah, Alhamdulillah atas segala kenikmatan-Nya dan teri ma kasih atas segala kebaikan-Nya." Lalu Allah menurunkan ayat: "Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. Q.S. Adh-Dhuhaa:5. [44] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Kita sangat mencintai dunia tanpa bisa meraih lebih banyak daripada yang telah diberikan-Nya. Tidaklah seorang anak Adam mendapat sepeng gal dari dunia, kecuali berkurang bagiannya kelak di akhirat”. [45] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Nabi terakhir yang akan masuk surga adalah Nabi Sulaiman bin Daud karena kenikma tan-kenikmatan yang sudah diberikan kepadanya di dunia". [46] Imam Ali as berkata: "Setiap bagian dunia yang hilang darimu, akan menjadi harta rampasan". [47] Imam Ali as berkata: "Getirnya dunia adalah manisnya akhirat dan manisnya dunia adalah getirnya akhirat dan se jelek-jeleknya kesudahan”. [48] Imam Ali as berkata: "Siapa yang mencari sesuatu dari dunia akan kehilangan yang lebih banyak dari yang dicarinya di akhirat." [49] Imam Ali as berkata: "Sesuatu yang bertambah di dunia akan berkurang di akhirat dan sesuatu yang berkurang dari dunia akan bertambah di akhirat." [50]
    • Abi Abdillah as meriwayatkan dari Ali bin Husein as: "Tidak pernah disodorkan padaku dua hal, yang satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat, kemudian aku memilih dunia melainkan akan tampak padaku sebelum waktu sore tiba apa yang tidak kusukai." Kemudian Abu Abdillah bertutur: "Bani Umayiyah lebih mengutamakan dunia daripada akhirat sejak 80 tahun yang lalu, dan mereka tidak pernah melihat sesuata yang tidak mereka sukai." [51] Imam Ali as mensyarahi pengertian di atas, beliau ber kata: "Ketahuilah bahwa kekurangan di dunia dan pertamba han di akhirat lebih baik daripada kekurangan di akhirat dan pertambahan di dunia. Betapa banyak 'yang kurang', tapi men guntungkan dan 'yang banyak', tapi merugikan. Sesungguh nya, yang kuperintahkan lebih luas daripada yang kularang dan yang dihalalkan lebih banyak daripada yang diharamkan. Maka, tinggalkanlah 'yang sedikit' demi mendapatkan 'yang lebih banyak' dan 'yang sempit' demi mendapatkan 'yang lebih luas'. Sungguh rizki kalian telah dijamin, sementara (kemu dian) kalian disuruh berbuat". [52] Jangan (abaikan) sesuatu yang diwajibkan untuk men cari sesuatu yang 'sudah dijamin'. Demi Allah, kilang sudah keraguan dan tinggallah keyakinan, sehingga yang dijamin itidah yang diwajibkan. Seakan-akan, 'yang dijamin' adalah mempersiapkan kalian untuk sesuatu 'yang ditentukan'. Maka, bersegeralah untuk beramal dan takutlahpada ajal yaiig datang tiba-tiba. Tak seorangpun mengharap kembalinya usia sebagaiinana mengharap kembalinya rizki. Rizki yang hilang hari ini, masih bisa diharapkan bertambah banyak esok hari. Sedangkan usia yang hilang kemarln tldak bisa diharap kembali hari ini. Pengharapan hanya berlaku pada yang akau datang dan penyesalan berlaku pada sesuatu yang telah lewat. Allah berfirman: 'Hai orang-orangyang beriman, bertak- walah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam kea daan Muslim.' Q.S. Âlu ‘Imrân:102". [53] [1] Bihârul Anwâr, 77:352. [2] Nahjul Balaghah , hikmah 77; Bihârul Anwâr, 73:129. [3] Bihârul Anwâr ,77:374. [4] Bihârul Anwâr ,78:23. [5] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:109. [6] Bihârul Anwâr ,78: 311. [7] Nahjul Balâghah , khutbah 226.
    • [8] Orang yang hidupnya lebih mudah menjaga kehormatan diri, sedangkan yang hanyak keperluannya terpaksa bersusah-payah dan seringkali meren dahkan diri atau merengek di hadapan penguasa. pejahat, hartawan dsb. [9] Nahjul Balâghah , Kitab ke-3. [10] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-83. [11] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-82. [12] Nahjul Balâghah , Surat ke-83. [13] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-52. [14] Nahjul Balâghah , khutbah 111. [15] Nahjul Balâghah , khutbah 113. [16] Nahjul Balâghah , khutbah 99. [17] Lumadhah adalah sisa makanan yang ada di mulut. Blhârul Anwar, 73:133. [18] Blhârul Anwar, 73:133. [19] Blhârul Anwar, 73:99. [20] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 289. [21] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 82. [22] Nahjul Balâghah , Al-hikmah 82. [23] Nahjul Balâghah , Khutbah 289:1:106, cet. Subhi Saleh. [24] Nahjul Balâghah , Khutbah 83. [25] Nahjul Balâghah , Khutbah 133. [26] Syarah Nahjul Balâghah , karya Ibnu Abil Hadîd, 8:276. [27] Wasâ`il Asy-Syi'ah, 14:130; Furû' Al-Kâfî, 5:559; Mîzânul Hikmah, jilid 10. [28] Ghuraul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:134. [29] Biharul Anwâr , 73:7. [30] Biharul Anwâr , 73:7. [31] Biharul Anwâr , 72:166. [32] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:190.
    • [33] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:190. [34] Biharul Anwâr, 73:97. [35] Biharul Anwâr, 13:354 dan 73:67-73. [36] Biharul Anwâr, 76:364 dan 73:103. [37] Biharul Anwâr, 73:104. [38] Biharul Anwâr, 70:107. [39] Biharul Anwâr, 77:177. [40] Kanzul ‘Ummâl : 4664. [41] Nur Ats-Tsaqalain , 5 : 15. [42] Kanzul ‘Ummâl : 4444. [43] Nur Ats-Tsaqalain , 5:594; Mîzânul Hikmah, 3:326-327. [44] Nur Ats-Tsaqalain , 5 : 594; Mîzânul Hikmah, 3:326-327. [45] Bihârul Anwâr , 71:81. [46] Bihârul Anwâr , 4:73. [47] Bihârul Anwâr , 14:74. [48] Ghurarul Hikam :243; Nahjul Balâghah, 2: 282, Al-Hikmah, 2:343. [49] Ghurarul Hikam, 2:221. [50] Ghurarul Hikam, 3:326. [51] Bihârul Anwâr , 73:127. [52] Nahjul Balâghah, 2: 282, Khutbah ke-113. [53] Nahjul Balâghah, 2: 282, Khutbah ke-113. BAGIAN KEENAM Telaah Analitik tentang Dunia dan Akhirat
    • Nash-nash di atas tidak bisa cliragukan lagi kesahihannya, baik dari sisi sanad ataupun matan. Jumlah mereka banyak sekali dan semuanyu dapat dipercaya. Mereka tidak hanya berkenaan dengan hal-hal yang haram saja, tapi juga rnencakup yang halal. Allah berfirman: "Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yung baik". Katakanlah: "Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalain kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Q.S. Al-A'râf:32. Kalau demikian, bagaimanakah cara kita memahami berbagai nash tersebut? Dan bagaimana kita mendamaikan riwayat-riwayat itu dari satu sisi, dan ayat-ayat yang baru saja kita baca yang mengajak menikmati rizki yang telah dianugrahkan Allah untuk hamba-hamba-Nya dan mengingkari orang-orang yang mengharamkannya, dari sisi yang lain? Selanjutnya, saya berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui beberapa butir penting yang, Insya-Allah, akan menyampaikan kita pada inti jawaban: 1. Hadis-hadis itu tidak berarti bahwa Islam melarang para pemeluknya untuk memanfaatkan dan menikmati rizki Allah. Karena, hukum perhiasan dan keindahannya itu ibâhah (mubah), kecuali jika Allah melarangnya. Allah berfirman: "Katakanlah: "Siapakak yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengarahkan) rizki yang baik?" Katakanlah: "Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalarn kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." Q.S. Al-A'râf:32. Sejumlah nash itu juga tidak menganjurkan manusia bermalas-malas dalam berusaha di atas bumi ini. Karena, bukum Allah dalam masalah ini tertera dalam firman Allab: "Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”. Q.S. Al-Jumu'ah:10. Akan tetapi, agar usaha manusia di dunia tidak menyita seluruh hidupnya, maka ia mesti ditujukan untuk Allah. Allah berfirman: "Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi..." Q.S. Al-Qashash:77. Pada prinsipnya, gerak-gerik manusia itu untuk akhirat, tapi dia tidak boleh sampai melalaikan bagiannya di dunia. 2. Meskipun penjelasan di atas tidak perlu diragukan keabsahannya, namun oposisi antara dunia dan akhirat bukan saja dalam ruang lingkup yang haram, tapi mencakup juga yang halal.
    • Imam Ali as berkata: "Dunia dan aklnrat adalah dua musuh yang berseteru dan dua jalan yang berbeda. Barangsiapa rnencintai dunia dan patuh padanya, pasti membenci akhirat dan memusuhinya. Dunia dan akhirat bagaikan arah tirnur dan barat, dan pejalan yang semakin mendekat pada yang satu berarti menjauh dari yang Lain. Keduanya sejauh dua istri yang dimadu."[1] Segala kemewahan yang baik dan halal yang dinikmati manusia tidak akan membawa siksa baginya. Karena Allah tidak mengharamkannya. Akan tetapi, perolehannya dari kenikmatan duniawi berbanding terbalik dengan perolehannya dari kenikmatan ukhrawi. Hal itu, karena kenikmatan duniawi biasanya mengurangi kesempatan seorang untuk memperoleh yang di akhirat. Inilah arti implisit clari benturan dunia dan akhirat pada lingkup yang halal. Di bawah ini akan saya berikan beberapa contoh yang dapat memperjelas permasalahan: a. Selagi ada umur, dan memungkinkan kita melakukan puasa - yang wajib di bulan Ramadhan dan sangat disunahkan di hari-hari lainnya - kita harus melakukannya. Abu Ja'far Al-Bâqir as meriwayatkan dari Rasulullah SAWW, beliau bersabda: Allah SWT berfirman: "Puasa hanyalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalas pahalanya."[2] Setiap kali manusia tidak berpuasa, clia akan kehilangan pahala yang besar yang tidak diketahui pahalanya kecuali oleh Allah SWT. Dengan kata lain, setiap hari yang dilalui manusia tanpa puasa; merasakan lezatnya makanan dunia akan mengurangi bebempa kelezatan yang akan didapatkannya di surga yang lidak diketahui kecuali oleh Allah. Saya tidak sedang mengatakan tentang tidak berpuasa dengan memakan-makanan haram. Saya hanya ingin mengatakan bahwa orang yang tidak berpuasa (dan memakan rizki yang halal sekalipun) akan kehilangan peluang emas merraih kelezatan-kelezatan uhkrawi. Ini adalah cnntoh "benturan" antara dunia dan akhirat dalam lingkup yang halal. b. Setiap malam yang digunakan seorang untuk tidur, tak diragukan lagi, adalah kenikmatan dunia yang sangat besar sekaligus halal. Tetapi, tidur itu ''rugi", karena dia bisa melewatkannya dengan salat nafilah atau mendapat pahala salat tahajjud di tengah malam. Apabila Allah telah mentakdirkan seseorang hidup selama 70 tahun, maka Allah juga telah memberikan kesempatan baginya untuk mendapat pahala sepenuhnya selarna 70 tahun itu. Dan setiap malam yang dia lewatkan tanpa salat akan mengurangi sesuatu yang telah "ditakdirkan"-Nya. Sehingga menjelang 70 tahun, dia berada dalam kelalaian dan ketersia-siaan. Dan dia habiskan kenikmatan yang Allab SWT anugrahkan padanya ini. "Sekiranya dia tekun melakukan ibadah kepada Allah SWT".
    • e. Jika Allah telah menganugrahkan sejumlah harta benda pada seorang hamba, berarti Allah juga telah memberinya kesempatan yang luas guna memperoleh kesenangankesenangan akhirat dengan menginfakkannya. Maka, setiap kali manusia mengeluarkan barlanya guna menuruti kesenangan-kesenangannya saja, dia akan kehilangan kesenangan ukhrawi yang telah dijanjikan Allah bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Begitulah manusia dilahirkan dengan dibekali modal kesempatan yang hesar untuk memperoleh kesenangan-kesenangan akhirat. Harta, umur. masa muda, kesehatan, kecerdasan, kedudukan sosial, pengetahuan dan lain sebagiannya merupakan modal yang memungkinkan manusia memperoleh lebih banyak pahala di akhirat. Allah SWT berfirman: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian..." Q.S. Al-A'shr 1-2. Kerugian pertama yang dijelaskan ayat ini ialah kerugian beberapa "modal"-nya. Kedua, kesempatan dan peluang yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk mendapat kenikmatan-kenikmatan akhirat yang lebih banyak. Setiap kali manusia teledor dalam menjalankan modalnya dan mengeluarkannya untuk pemuasan syahwat, maka pada hakikatnya dia telah melewatkan peluang mendapat keindahan-keindahan akhirat yang telah dijanjikan Allah SWT. Amirul Mukminin as mempunyai untaian kata yang sangat indah dan mengena dalam menggambarkan pengertian ini: "Ketahuilah bahwa dunia adalah tempat bencana, tidak terluang sesaat pun darinya, kecuali ia akan (berubah) menjadi penyesalan bagi penghuninya di hari kiamat."[3] Maksud kata al-farâgh (waktu luang atau kosong) di sini, adalah kekosongan dari mengingat Allah dan amal untuk-Nya; menonaktifkan anggota tubuhnya untuk berbuat di jalan Allah dan berdzikir kepada-Nya. Meskipun kekosongan sesaat ini tidak untuk bermaksiat kepada Allah, namun, pada hakikatnya, ia tetap penyesalan di hari kiamat. Sebab dia telah menyia-nyiakan sebagian dari kenikmatan usia, kesadaran dan kalbu yang telah dianugrahkan Allah untuk berdzikir dan taat kepada Allah. Di samping itu, dia telah membiarkan keridhaan Allah SWT dan rizki ukhrawi-Nya lepas begitu saja tanpa bisa didapat kembali setelah itu. Lebih lagi, semua kenikmatan yang diperolehnya setelah itu tidak bakal mungkin mengganti yang telah ia lewatkan. 3. Termasuk dari sunnatullah ialah membuat gerak pertumbuhan, integrasi dan taqarrub manusia kepada Allah SWT melalui jalan yang berduri, penuh derita kemiskinan, ganasnya cobaan dan kesengsaraan.
    • Allah berfirman: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: " Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?". Q.S. Al‘Ankabût:2. Allah berfirman: "Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan...". Q.S. Al-Baqarah:155. Allah berfirman: "...kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaran dan kernelaratan, supaya rnereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan din". Q.S. Al-Mâ'idah:42. Ayat yang akhir ini menjelaskan pada kita ciri hubungan antara bergeraknya manusia menuju Allah dan cobaan, rasa takut, kelaparan dan kemiskinan manusia. Karena, tersimpuh di haribaan Allah adalah sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Bersimpuh (tadharru') tidak menjadi nyata dalam kehidupan manusia kecuali melalui kekurangan dalam jiwa dan harta benda, ketakutan, kelaparan dan kesulitan. Kalau demikian, setiap kali manusia menikmati kelezatan- kelezatan dunia, ia akan kehilangan kesempatan "bersimpuh" kepada Allah dan dengan sendirinya akan kehilangan kesempatan bergerak dan tagarrub kepada-Nya dan menikmati kelezatankelezatan akhirat. Derita kemiskinan ini kadang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh agar mereka terus-menerus bersimpuh di hadapan-Nya. Dan kadang juga hamba-hamba Allah itu sendirilah yang memilih kehidupan yang demikian itu. 4. Salah-satu penyebab tercegahnya hasrat menikmati kesenangan-kesenangan dunia ialah rasa takut terseret kepada cinta dunia yang menjauhkannya dari Allah SWT dan keindahan-keindahan akhirat. Karena hubungan antara hasrat menikmati kesenangankesenangan dunia dan cinta padanya adalah hubungan timbal balik. Dengan kata lain, menikmati keindahan dunia menimbulkan hubbud-dunyâ (cinta dunia) pada diri manusia yang, pada gilirannya, akan mendorong seorang untuk tergesa-gesa mendapat keindahan ukhrawi di dunia dan terbuai olehnya. Maka, agar seorang tidak menjadi mangsa hubbud-dunyâ secara tak disadari, hendaknya dia "berhati-hati" oleh kesenangan-kesenangan dunia. 5. Seringkali kita temukan nash-nash keislaman sesuatu yang tidak seirama dengan konsep yang telah kami jelaskan, seperti nash dari Amirul Mukminin Ali as dalam surat perjanjian yang beliau berikan pada Muhammad bin Abu Bakar, ketika beliau mengangkatnya sebagai gubernur Mesir. Imam Ali as berkata: "Ketahuilah - wahai hamba Allah - bahwa orang-orang yang bertakwa membawa "cepatnya dunia" dan "lambatnya akhirat". Mereka bergabung dengan ahli dunia saat berada di dunia, dan tidak bergabung dengan mereka saat niereka berada di akhirat. Di dunia mereka tlnggal di tempat yctng sebaik-baiknya. Mereka
    • memakan sebaik-baik makanan. Bagian dunia rnereka seperti yang diperoleh arang kaya. Mereka mengambil dari dunia sebagaimana yang diambil penguasa kejarn, kemudian meninggalkannya dengan menbawa bekal yang banyak sebagai pedagang yang sukses. Mereka telali memperoleh lezatnya zuhud di dunia saat berada di dalamnya. Mereka berrkeyakinan bahwa kelak bakal menjadi tetangga Allah di akhirat. Doa mereka tidak pernah ditolak dan kelezatan yang mereka peroleh tidak pernah dikurangi."[4] Inti nash tersebut ialah perbandingan antara orang yang takwa dan yang tidak. Konteks nash ini tidak sama dengan konteks nahs-nash yang telah lewat. Karena, nash-nash yang lewat menjelaskan perbandingan antara derajat orang-orang bertakwa dan yang tidak bertakwa. Jelas bahwa keduanya adalah masalah yang berbeda begitu pula dengan hukumnya. Penglihatan yang Menerawang Dunia Jika kita lewati cara pandang yang dangkal terhadap dunia, maka kita akan menemukan cara pandang lain yang berbeda dari dimensi kedalaman, kesungguhan dan ketajamannya. Penglihatan ini mampu menembus fenomena kehidupan dunia ke kedalaman batinnya. Jika penglihatan yang dangkal terhadap dunia akan membangkitkan cinta dunia dan ketertipuan pada diri manusia, maka penglihatan yang menembus dan mendalam terhadap dunia akan memberikan kezuhudan dan apatisme pada dunia. Hal yang demikian ini akibat ketajaman penglihatan yang mampu menembus sesuatu yang ada di balik lahiriah kehidupan dunia, dan menyingkap sirnanya kesenangan dunia dan perubahannya serta kesudahan manusia di dalamnya, sehingga membuatnya zuhud pada dunia. Nash-nash keislaman lazimnya menitik-beratkan cara pandang yang demikian itu terhadap dunia dengan memperingatkan kematian, mengingatkannya, larangan memperpanjang lamunan pada dunia atau dengan menganjurkan agar tidak lalai akan mati. Kematian merupakan bentuk batin dunia yang mana manusia berusaha lari dan melupalupakannya. Dalam sehuah riwayat disebutkan demikian: "Tiada keyakinan yang paling serupa dengan keraguan daripada kematian." Kematian adalah kepastian yang tak ada jalan untuk diragukan. Walaupun demikian, banyak manusia yang berupaya lari dan berpura-pura lupa terhadapnya. Dalam nanh-nash keislaman berikut ini terdapat pengertian yang berlawanan dengan apa yang telah saya utarakan. Imam Al-Baqir as berkata: "Perbanyaklah mengingat kematian. Tak seorang pun yang sering mengingat kematian kecuali dia akan berzuhud pada dunia."[5]
    • Amirul Mukminin as berkata: "Barangsiapa membayangkan kematian di antara kedua matanya, maka urusan dunianya menjadi remeh di hadapannya."[6] Imam Ali as berkata juga: "Manusia yang paling pantas bersikap zuhud ialah yang mengetahui kekurangan (kecacatan) dunia."[7] Imam Al-Kâzhim as: "Orang yang berakal ialah yang zuhud terhadap dunia dan cinta akhirat. Karena, mereka mengetahui bahwa dunia ada 'yang mencari' dan ada 'yang dicari'. Begitu pula akhirat; ada yang mencari dan ada yang dicari. Maka barangsiapa yang mencari akhirat, dunia akan mencarinya sehingga ia mengambil dengan sempurna rizkinya. Dan barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat mencarinya, maut mendatanginya dan merusak urusan dunia dan akhiratnya”.[8] Imam Al-Kâzhim as pernah menghadiri jenazah, lalu beliau berkata: "Sesungguhnya sesuatu yang pertamanya begini (mati) pantas sekali untuk ditakuti akhirnya."[9] Riwayat-riwayat ini menerangkan hubungan antara zuhud dan mengingat mati atau dalam ibarat yang lain antara cara pandang dan prilaku. Karena, mengingat kematian adalah cara pandang, - seperti yang telah dijelaskan - dan zuhud adalah bentuk prilaku. Dalam rangka mengarahkan dan membudayakan cara pandang yang benar ini, Amirul Mukminin as berkata: "Jadilah kalian orang-orang yang pergi meninggalkan dunia dan rindu akhirat... Jangan terperdaya oleh gemerlapnya, jangan dengarkan perkataan orang yang ada di dalamnya, jangan pedulikan orang yang mengajak padanya, jangan terangi diri kalian dengan sinarnya dan jangan terkecoh oleh pelbagai pemikatnya. Sesungguhnya kilatannya menyilaukan, ucapannya kebohongan, harta bendanva tersita dan perhiasannya hilang."[10] Imam Ali as pernah pula berseru: "Keluarkanlah hati kalian dari dunia sebelum badan kalian dikeluarkan darinya."[11] Mengeluarkan hati dari dunia artinya memutus hubungan dengannya atau "mati dengan kehendak sendiri" (al-maut al-irâdî) sebagai lawan dari "keluarnya jasad dari dunia" atau "mati terpaksa" (al-maut al-qahrî) atau mati yang tidak dihendaki (al-maut allâ-irâdî). Imam menyuruh kita mendahulukan mati yang terpaksa dengan mati yang dikehendaki. Memutus hubungan dengan dunia adalah zuhud. Sebaiknya, kita membahas masalah zuhud ini sampai kita bisa memiliki pandangan yang menembus ke batin kehidupan dunia dan apa hubungannya dengan zuhud. Zuhud
    • Zuhud adalah lawan dari hubbud-dunyâ (cinta dunia). Keduanya merupakan dua prilaku yang bersumber dari dua pola pandang terhadap kehidupan dunia. Dan zuhud merupakan prilaku yang bersumber dari pandangan yang menembus batin dunia itu. Hubbud-dunyâ ialah keadaan bergantung pada dunia. Berbeda dengannya, zuhud adalah keadaan bebas dari dunia. Pengertian ini perlu lebih dijelaskan. Saya katakan bahwa hubbud-dunyâ terkristal dalam dua keadaan berikut: gembira dan susah. Gembira, dengan apa yang didapat dari kesenangan-kesenangan dunia yang merupakan sisi positif hubbud-dunyâ. Susah, atas apa yang hilang darinya berupa kelezatan-kelezatan dan kesenangankesenangannya - yang merupakan sisi negatif darinya -. Maka karena zuhud adalah lawan dari hubbud-dunyâ, maka zuhud pada hakikatnya adalah bebas dari kegembiraan dan kesusahan duniawi itu. Allah SWT berfinman: "... supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang hilang darimu dan terhadap apa yang meinmpamu...". Q.S. Âli ‘Imrân:153. Allah berfirman: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira tarhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." Q.S. Al-Hadîd:23. Imam Ali as berkata: "Sebenamya pengertian zuhud terdapat di antara dua kata yang ada dalani Alquran, yaitu: "supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.." Barangsiapa yang tidak rnenyesal atas yang hilang/tidak diperoleh dan tidak gembiru dangan harta yang datang, maku dialah orang zuhud."[12] Imam Ali as berkata: "Zuhud ialah makna yang terdapat di antara dua klause yang ada dalam Alquran ini, "supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang hilang darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yatig diberikan-Nya kepadamu". Barangsiapa tidak rnenyesali benda yang telah hilang dan tidak gembira dengan benda yang datang, maka dia benar-benar telah menjalankan kedua sisi zuhud."[13] Imam Ali as berkata pula: "Siapa yang sedih terhadap dunia, maka dia telah marah pada keputusan Allah. Dan siapa yang hatinya bergelora dengan kecintaan padanya, maka hatinya diserang oleh tiga penyakit; kesumpekan yang tidak ahan pernah hilang, ketamakan yang tidak pernah meninggalkannya, angan-angan yang tidak pernah dijangkaunya."[14] Ini adalah arahan untuk pembebasan manusia dari kesedihan dan kegembiraan duniawi. Jadi, sedih terhadap dunia berarti murka atas keputusan Allah, karena tidak ada suatu apa pun yang hilang dari manusia melainkan sudah diputuskan dan ditakdirkan-Nya.
    • Hubbud-dunyâ membebani manusia dengan tiga keadaan: kesumpekan, ketamakan, dan angan-angan yang membinasakan, menyiksa dan mengalutkan manusia. Amirul Mukminm as berkata: "Wahai manusia! Ada tiga (golongan yang menyikapi) dunia. Orang zâhid, rakus dan sabar. Orang zâhid tidak akan gembira dengan dunia yang diperolehnya dan tidak susah atas sesuatu yang hilang darinya. Orang yang sabar, hatinya berharap mendapat dunia, tapi jika dia menemukannya, dia berpaling darinya karena dia tahu akibat jeleknya. Dan orang yang rakus ialah yang tidak perduli apakah dia mendapatkannya dengan jalan yang halal atau haram."[15] Ucapan Imam ini merupakan nash yang sangat indah dalam mendefinisikan pengertian zuhud, mengklasifikasi manusia dan kedudukan orang zuhud. Menurutnya, ada tiga macam manusia: orang yang zuhud yaitu yang bebas dari dunia, kegernbiraan dan kesusahannya. Orang yang sabar, yaitu yang belum bisa bebas total, tapi berusaha membebaskan diri dari kesenangan dan kesusahannya. Dan ketiga ialah orang tamak yang sembah sujud pada dunia, perintahnya, kegembiraan dan kesusahannya. Imam Ali as mengajak manusia agar mengalihkan rasa gembira dan susah dari dunia ke akhirat. Hal itu adalah sebaik-baik orientasi rasa gembira dan susah. Kita lebih pantas gembira saat mendapat pahala taat kepada Allah, dan susah saat lepas dari ketaatan dan zikir kepada Allah SWT Dalam suratnya kepada Abdullah bin Abbas, Amirul Mukminin as menulis: "Ammad ba'du, seorang hamba mestinya bergernbira atas sesuatu yang tidak meninggalkannya dan bersusah atas sesuatu yang belum tentu baik untuknya. Jangan kau jadikan raihan kelezatan dan pelipur kesusahan duniamu, lebih kau utamakan ketimbang memadamkan kebatilan dan menghidupkan kebenaran. Hendaknya kegembiraanmu tertuju pada pencapaianmu, penyesalanrnu tertuju pada ketinggalanmu dan kesumpekanmu tertuju pada (yang akan kau hadapi) setelah kematianmu."[16] Zuhud lalah Sumber Segala Kebajikan Sebagaimana hubbud-dunyâ sumber segala kejahatan manusia, zuhud ialah sumber segala kebaikan manusia. Hubbud-dunyâ atau cinta dunia menjadikan manusia dalam tawanan dunia dan hawa nafsu, sedang dunia ialah sumber segala kejahatan dan keterjerumusan manusia. Sementara zuhud adalah kebebasan dan keterlepasan manusia dari penjara hawa nafsu dan dunia, yang merupakan sumber segala kebaikan manusia. Dalam berbagai nash keislaman terdapat artikulasi yang berbeda-beda yang menegaskan pengertian ini. Berikut ini saya nukilkan beberapa di antaranya. Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Seluruh kebaikan dijadikan dalarn sebuah rumah dan kunci pernbukanya adalah zuhud di dunia."[17]
    • Imam Ali as berkata: "Zuhud adalah induk agama."[18] Imam Ash-Shadiq as berkata: "Zuhud adalah asas agama."[19] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Zuhud adalah kunci pembuka pintu akhirat dan penyelamat dari neraka. Zuhud berarti meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkanmu dari Allah tanpa sesal atas kehilangannya, ujub dalam meninggalkannya, rnenunggu kelonggarannya, mencari pujian dengannya dan rnencari ganti darinya. Bahkan kamu melihat kehilangan dunia adalah kesenangan dan kehadirannya adalah petaka. Sementara karnu selalu lari dan petaka dan berpegangan dengan kesenangan."[20] Imam Ali as berkata: "Zuhud kunci pembuka kesejahteraan."[21] Pengaruh-Pengaruh Psikologis dan Behavioral (Prilaku) Pada Zuhud Zuhud mempunyai banyak pengaruh dan dampak pada kehidupan manusia. Antara lain: I. Pendek Angan-angan Zuhud menghasilkan "angan-angan yang pendek" kebalikan dari hubbud-dunyâ. Bila manusia sedikit bergantung pada dunia dan bebas dari tawanannya, maka anganangannya tidak akan panjang. Lebih-lebih, dia akan tetap menikmati kesenangan dunia, tapi tanpa harus melupakan kematian dan memutusnya secara spontan. Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa yang mencintai dunia, dan angan-angannya panjang, maka Allah akan membutakan hatinya menurut kadar kecintaannya pada dunia. Dan barangsiapa zuhud terhadapnya dan angan-angannya pendek, maka Allah akan memberinya pengetahuan tanpa belajar, petunjuk tanpa bimbingan (orang lain) dan menghilangkan kebutaannya dengan menjadikannya jeli."[22] Dari kandungan riwayat itu dapat kita simpulkan bahwa zuhud membawa pada sedikitnya angan-angan. Dan sedikitnya angan-angan membawa pada bashîrah dan hidayah. Sementara mencintai dunia menyebabkan panjangnya angan-angan yang menyebabkan kebutaan. Gerangan apakah rahasia hubungan antara pendeknya angan-angan dan bashîrah (melihat) ini? Panjangnya angan-angan akan menguatkan kebergantungan manusia pada dunia dan kecintaan dunia pada diri sendiri. Dan hubbud-dunyâ akan menutupi (menghalangi) manusia dari Allah SWT. Maka jika angan-angannya pada dunia pendek (sedikit), maka akan tesingkap tabir yang menutupi hati dan bashîrahnya.
    • Rasulullah SAWW bersabda: "Zuhud pada dunia adalah pendeknya angan-angan, syukur atas kenikmatan dan bersikap wara' (hati-hati) terhadap segala sesuatu yang diharamkan Allah."[23] Imam Ali as herkatu: "Zuhud akan memperpendek angan-angan dan mengikhlaskan amal."[24] Imam Ali as juga berkata: "Wahai manusia, zuhud adalah pendeknya angan-angan, syukur terhadap nikmat dan jauh dari yang haram. Bila ini tidak mungkin kalian lakukan, rnaka (paling tidak) janganlah sampai yang haram mengalahkan kesabaranmu dan lupa mensyukuri nikmatmu. Allah telah memberikan alasan (‘uzur) kepadamu dengan hujjahhujjah yang jelas dan terang dan Kitab-kitab yang tampak dan jelas."[25] 2. Merdeka dari Aksi-reaksi Duniawi Artinya, dia terbebas dari rasa gembira terhadap apa yang didapatkan dan dari rasa sedih atas apa yang hilang dari dunia. Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang tidak menyeaal atas harta benda yang telah lalu (hilang) dan tidak gembira pada harta benda yang akan datang, maka ia benar-benar telah memegang 'dua ujung zuhud'."[26] Imam Ali mempunyai untaian kata indah berkenaan dengan permasalahan ini dalam menyifati hasil-hasil zuhud terhadap kehidupan manusia yang saya nukil dari kitab "Nahjul Balâghah" sebagaimana berikut ini: "Perdengarkanlah panggilan maut pada telinga-telinga kalian, sebelum ia memanggil kalian. Orang-orang yang zuhud pada dunia, menangis hati mereka rneski tersenyum wajah mereka. Gundah-gulana, meski tampak gernbira-ria. Mereka sering mencaci jiwa, meski bersimbahkan rizki yang mereka miliki. Sungguh telah sirna pengingatan terhadap kematian dari hati kalian dan selalu hadir lamunan-lamunan palsu di sisi kalian sehingga dunia rnenjadi lebih kalian rniliki daripada akhirat. Al-'Âjilah (pakai 'ain [duina]) lebih mengesankan kalian daripada 'Âjilah (pakai harnzah [akhirat]). Dan sebenarnya kalian satu saudara dalam agama Allah, hanya saja kalian telah dicerai-beraikan oleh perasaan-perasaan jahat dan lintasanlintasan jelek sehingga kalian tidak saling kunjung, tidak saling menasihati dan tidak saling memberi hadiah serta tidak saling rnencintai! "Apa gerangan yang kalian sukai dari dunia yang sedikit yang kalian dapatkan dengan susah ? Dan Apa gerangan yang tidak menyusahkan kalian dari berbagai kemewahan akhirat yang tidak kalian peroleh. Dunia yang sedikit dan bakal meninggalkan kalian, selalu menggelisahkan kalian sehingga tampak di raut wajah kalian rasa sedikit kesabaran dari dunia yang hilang. Dunia (menurut kalian) seakan-akan tempat abadi kalian dan harta benda (kemewahan)nya selalu abadi pada kalian. Tidaklah ada orang yang takut menemui saudaranya akibat celanya, kecuali, karena dia takut menemui hal yang serupa dengan celanya. Kalian sudah bertekat untuk meninggalkan akhirat demi mencintai dunia. Agama kalian bak buah bibir, aksi yang ditakuti dan untuk menjaga kerelaan tuannya.”[27]
    • 3. Menghilangkan Kecondongan terhadap Dunia Termasuk pengaruh psikologis zuhud ialah tiadanya kecondongan terhadap kehidupan duniawi karena hilangnya anggapan bahwa dunia adalah tempat tinggal yangabadi. Dan jika manusia telah mengeluarkan hubbud-dunyâ dari hatinya serta mencabut jiwanya dari ketergantungan pada dunia, maka dia tidak akan pernah lagi condong kepadanya. Baginya, dunia ialah jalan dan jembatan menuju akhirat. Manusia memandang dunia dengan dua bentuk. Sebagiannya ada yang melihat dunia sebagai tempat tinggal (yang abadi) lalu condong padanya. Dan ada yang memandangnya sebagai sarana dan jembatan yang mengantarkannya melintas ke akhirat, maka dia tidak akan condong padanya. Kedua golongan ini sama-sama hidup di dunia dan memakmurkannya serta menikmati anugrah dari Allah. Namun, kelompok pertama, jiwanya cenderung pada dunia dan menjadikannya sebagai tempat abadi kemudian kematian sungguh akan mencabutnya dari dunia. Sementara kelompok kedua menjadikannya sebagai jembatan dan lintasan, maka jiwanya tidak akan cenderung terhadapnya dan tidak menderita karena berpisah darinya ketika kematian mencabutnya secara paksa. Dalam nash-nash keislaman ada beberapa permisalan yang indah yang menggambarkan keadaan manusia di dunia. Manusia di dunia, misalnya, laksana musafir yang bernaung sesaat di bawah kerindangan pohon di pinggir jalan, supaya panas terik matahari tidak menyengatnya dan ia bisa istirahat barang sejenak. Kemudian dia meninggalkan pohon tersebut dan meneruskan perjalanannya. Begitulah keberadaan (bertempat tinggalnya) manusia di dunia. Lalu apakah pantas manusia mejadikan dunia sebagai tempat tinggal yang sangat diharapkannya? Rasulullah SAWW bersabda: "Apa urusanku dengan dunia? Aku seolah pengendara yang beristirahat di waktu siang di bawah naungan sebuah pohon di suatu hari yang sangat panas untuk sesaat, kemudian berangkat dan rneninggalkan pohon tersebut."[28] Dalam wasiat kepada putranya Al-Hasan, Imam Ali berkata: "Wahai anakku! Telah kujelaskan kepadamu tentang dunia dan keadaannya, kesirnaannya dan keberpindahannya. Telah kujelaskan juga kepadamu tentang akhirat dan apa yang disediakan buat para penghuninya. Tentang keduanya, telah kuajukan kepadarnu berbagai perurnpamaan yciiig bisa kau ambil pelajarannya dan kau ikuti arahnya. Orang yang mengenal dunia akan tahu bahwa ia seumpama tempat yang menawan yang telah rusak diinjak-injak sekelompok musafir dan ladang yang subur yang sudah dipakai. la adalah jalan yang terjal, tempat perpisahan teman dan kepayahan perjalanan..."[29] Suatu ketika Umar bin Khatab menemui Rasulullah SAWW yang yang tergores punggungnya oleh tikar. Lalu umar berkata: "Wahai Nabi (SAWW), alangkah baiknya
    • seandainya Anda membuat kasur yang lebih baik dari itu?” Rasulullali SAWW bersabda: "Apakah urusanku dengan dunia kecuali bagaikan orang yong berjalan di musim kemarau lalu ia berteduh di bawah pepohonan sesaat pada waktu siaug, kemudian berangkat lagi dan meninggalkan tempat tersebut.”[30] Imam Ali as berkata: "Sungguh dunia bukanlah tempat tinggal yang langgeng dan kekal. Sungguh kalian yang ada di dalamnya bak para rnusafir yang bersantai sejenak dan melepaskan lelah kemudian bergegas berangkat lagi. Mereka memasuki dunia dengan ringan dan meninggalkannya dengan berat. Mereka tidak mendapatkan apa yang diharapkan dari dunia dan apa yang mereka tinggalkan tidak bakalan kembali lagi".[31] Nabi SAWW pernah ditanya: ''Bagaimanakah keadaan manusia di dunia? Beliau menjawab: "Bagaikan kafilah yang berjalan." Beliau ditanya lagi: "Berapa lama mereka bertempat di sana (dunia)?” Beliau menjawab: "Seperti orang yang ditinggal kafilah (lalu menyusulnya)”. Ditanya lagi: "Berapa lama antara dunia dau akhiral?” Beliau menjawab: "Sekejap rnata. Allah SWT berfirman: ... (maka) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.” Q.S. Al-Ahqâf:35.[32] Ali as berkata: "Dunia bagaikan bayangan awan dan mimpi orang yang tidur."[33] Imam Al-Bâqir as berkata: "Sesungguhnya dunia menurut pandangan ulama bagaikan bayangan."[34] Imam Ali as berkata: "Ingatlah! Sesungguhnya tidak selamat, kecuali orang yang berada di rumah. Dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata). Di dalamnya, manusia dicoba dengan fitnah. Apa yang diambilnya dari dunia untuk dunia semata akan dilepaskan darinya (oleh maut) dan diperhitungkan. Dan apa yang diambil darinya untuk di luarnya (akhirat), maka ia akan memberinya nikmat di dunia dan akan menjadi temannya menuju akhirat. Bagi yang berakal, dunia itu laksana bayangan; sesekali meluas dan di lain waktu rnengingsut dan sesekali bertambah dan di waktu lain berkurang."[35] Dunia sebagai Jembatan akhirat Dengan pandangan ini, Islam mempersenjatai umatnya. Maka, bagi muslim, dunia adalah jembatan yang akan ia buat melintas bukan untuk ia huni selamanya. Pandangan yang istimewa terhadap dunia ini akan melahirkan keadaan yang istimewa, yaitu keadaan yang tidak berunsur kecondongan pada dunia dan tidak pula memunculkan prilaku tertentu (jelek) di dalam dunia. Isa Al-Masih as pernah berkata: "Dunia hanya jembatan (akhirat)".[36] Imam Ali as berkata: "Hai manusia, sesungguhnya dunia hanyalah tempat berlalu, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang abadi, maka ambillah (berbekallah) dari
    • ternpat melintasmu untuk tempat menetapmu. Janganlah kamu robek (pudarkan) tabirtabirmu di hadapan Dzat yang Mengetahui rahasia-rahasiamu".[37] Imam Ali as berkata: "Dunia ternpat melintas yang sementara bukan tempat menetap yang abadi. Ada dua macam manusia di dalamnya yang menjual diri lalu menyengsarakannya dan yang membeli jiwanya lalu memerdekakannya".[38] Interaksi Sebab dan Akibat Salah satu keunikan cakrawala pemikiran Islam ialah penemuan hubungan interaktif antara sebab dan akibat (hasil) dalam berbagai masalah kemanusiaan. Kadang hubungan kausal antara dua hal yang bersifat interaktif. Masing-masing mempengaruhi yang lainnya secara positif. Contoh-contohnya banyak sekali dalam masalah-masalah kemanusiaan seperti hubungan antara zuhud dan bashîrah. Bashîrah mengajak manusia pada zuhud dan zuhud mengajak manusia pada bashîrah. Di bawah ini akan kami sebutkan dua kelompok nash yang masing-masing membahas satu persatu dari keduanya. Hubungan Zuhud dengan Bashîrah Kami nukilkan hadis dari Rasulullah SAWW yang menafsirkan firman Allah: "Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerirna) agama Islam lalu la mendapat cahaya dan Tuhannya ..." Q.S. Az-Zumar:22. Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya bila nur (cahaya) menetap di hati, maka ia (hati) akan, melebar dan meluas." Rasulullah ditanya oleh para sahabatnya: "Apakah yang demikian itu ada tandanya?” Rasulullah SAWW menjawab: "Menghindar dari tempat tipuan (dunia) dan kembali ke tempat yang abadi serta mempersiapkan diri untuk menghadapi maut sebelum datangnya ajal."[39] Imam Ali as berkata: "Manusia yang paling berhak menyandang kezuhudan adalah orang yang mengetahui kekurangan (keaiban) dunia."[40] Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang membayangkan kematian di antara kedua rnatanya, rnaka urusan dunianya akan menjadi hina dihadapannya."[41] Imam Ali as berkata: "Kezuhudan seseorang pada sesaatu yang akan sirna sebanding dengan keyakinannya terhadap sesuatu yang akan kekal."[42] Hubungan Bashîrah dengan Zuhud Rasulullah SAWW bersahda: "Wahai Abu Dzar, tidaklah seorang hamba zuhud di dunia kecuali Allah tumbuhkan hikmah dalam hati dan lidahnya, Allah memperlihatkan kehinaan, penyakit dan obat baginya, dan Allah mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju ke surga."[43]
    • Rasulullah SAWW bersabda: "Barangsiapa mencintai dunia, lalu memanjang anganangannya, maka Allah akan membutakan hatinya menurut kadar kecintaannya pada dunia. Barang siapa zuhud terhadapnya, lalu pendek angan-angannya, maka Allah akan memberikan pengetahuan tanpa belajar dan petunjuk tanpa bimbingan (orang lain) dan Allah juga akan menghilangkan darinya kebutaan serta menjadikannya melihat."[44] Suatu hari Rasulullah SAWW keluar (rumah) lalu beliau hersabda: "Adakah di antara kalian orang yang menginginkan agar Allah memberinya ilmu tanpa belajar dan petunjuk tanpa bimbingan? Adakah di antara kalian orang yang menginginkan agar Allah menghilangkan (kebutaan) dan menjadikannya melihat? Ingatlah bahwa orang yang zuhud pada dunia dan pendek angan-angannya, maka Allah akan memberinyo ilmu tanpa belajar dan hidayah tanpa ada orang yang menunjukinya."[45] Rasulullah SAWW as bersabda: "Wahai Abu Dzar! Jika kamu melihat saudaramu sudah benar-benar berzuhud pada dunia, maka dengarkanlah ucapannya, karena dia telah diberi hikmah".[46] Beginilah sinergi yang ada antara bashîrah clan zuhud. Zuhud menyebabkan bashîrah dan bashîrah menyebabkan zuhud. Begitu pula sinergi yang ada antara zuhud dan pendeknya angan-angan pada dunia. Dalam hubungan antara pendeknya angan-angan dan zuhud telah diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali as sebagai berikut: "Zuhud akan melapukkan tubuh, membatasi angan-angan, mendekatkan tujuan (mati) dan menjauhkan hasrat. Siapa yang memegangnya akan capek dan yang melepaskannya akan menderita."[47] Dalam hubungan antara zuhud dan pendeknya angan-angan. Imam Al-Bâqir as berkata: "Raihlah manisnya kezuhudan dengan memperpendek angan-angan".[48] Menyingkap hubungan interaktif antara beberapa unsur yang saling berhubungan ini termasuk dari pesona cakrawala pikiran Islam. Sinergisme ini mendorong adanya gerakan yang terus menaik dalam kutub-kutub tersebut. Misalnya, bashîrah akan mewujudkan tingkat tertentu dari zuhud dan zuhud akan menyebabkan tingkat yang lebih tinggi dari bashîrah dan demikian seterusnya. Kemudian, begitulah proses itu terus berlangsung sampai manusia naik ke tingkat-tingkat yang tinggi di antara dua kutub itu. Dunia Tercela dan Dunia Terpuji 1. Dunia Tercela Telah kami sebutkan bahwa dunia mempunyai bentuk lahir dan batin. Bentuk lahir merupakan sumber "ketertipuan" dan menanamkan hubbud-dunyâ dalam jiwa manusia. Dan bentuk batin merupakan sumber pelajaran dan zuhud dalam jiwa manusia.
    • Sementara bentuk lahir dunia adalah "dunia tercela", yang menurut nash Islam, sebagaimana bentuk batin dunia adalah "dunia yang terpuji". Pada hakikatnya, kedua bentuk tersebut merupakan dua pola pandang terhadap dunia seperti halnya yang telah kami sebutkan sebelumnya. Dunia itu sendiri, pada dasarnya tidak memiliki bentuk-bentuk. Dengan kata lain, jika manusia memandang dunia dengan pandangan tertipu maka dunia baginya tercela. Namun, jika manusia memandang dunia dengan padangan mengambil pelajaran, maka dunia baginya terpuji. Anehnya, bentuk dunia yang tercela adalah diambil dari bentuk dhahir (fenomenal) yang menggiurkan, menipu dan penuhi dengan pelbagai kelezatan dan syahwat. Berikut ini akan kami sebutkan kumpulan nash keislaman yang menjelaskan bentuk dunia yang tercela. Imam Ali as berkata: "Dunia pasar kerugian".[49] Imam Ali as berkata: "Dunia tempat terpelantingnya akal”.[50] Dari Imam Ali as juga: "Dunia adalah bahan tertawaan orang yang mengambil pelajaran darinya."[51] Imam Ali as juga pernah berkata: "Dunia adalah janda yang telah diceraikan oleh orangorang berakal."[52] Imam Ali as juga berkata: "Dunia adalah tarnbang segala kejahatan dan tempat segala ketertipuan."[53] Imam Ali as berkata: "Dunia tidak akan menjadi jernih bagi orang yang meminumnya (mengambilnya), dan tidak akan jujur terhadap temannya sendiri."[54] Imam Ali as menyatakan: "Dunia ialah ladang kejahatan."[55] Imam Ali as berkata: "Dunia adalah cita-cita orang-orang celaka (sengsara)."[56] Imam Ali as juga pernah berkata: "Dunia itu menyerahkan(mu)."[57] Dari Imam Ali as: "Dunia menghinakan(mu)."[58] Kewaspadaan Terhadap Dunia Tentang bentuk dunia yang ini, Imam Ali memperingatkan demikian: "Aku peringatkan kalian terhadap dunia! la bukanlah tempat yang patut didamba. la menghias diri dengan tipuan-tipuannya dan menipu dengan hiasan-hiasannya hagi orang yang memandangnya."[59]
    • Imam Ali as berkata: "Aku peringatkan kalian akan dunia yang manis menggiurkan yang diliputi dengan berbagai syahwat”.[60] Imam Ali as juga herkata: "Berhati-hatilah terhadap dunia yang menipu dan meninggalkan. la berhias dengan keelokannya dan memfitnah dengan tipuan-tipuannya. la seakan penganten yang dirias untuk ditonton semua mata."[61] 2. Dunia yang Terpuji Bentuk lain dunia atau pola pandang yang lain terhadapnya ialah "yang terpuji". Dan yang mengherankan ialah bahwa pola pandang yang terpuji terhadap dunia ini diambil dari batin dunia yang akan lenyap dan selalu berubah-rubah. Sedang dunia yang tercela diambil dari bentuk lahirnya yang memperdayai, menggiurkan dan penuh kelezatan. Walhasil, dunia mempunyai dua sisi, yang terpuji dan yang tercela. Dunia pada sisinya yang terpuji adalah yang menguntungkan dan tidak merugikan, berguna dan tidak membahayakan. Dunia menurut pengertian ini ialah bekal yang akan menyampaikan seorang ke akhirat, kendaraan orang mukmin, tempat kejujuran dan pasar pahala para wali Allah. Karena itulah, ia tidak pantas dicela. Mari kita kaji riwayat-riwayat yang memaparkan sisi dunia yang terpuji ini. 1. Dunia yang Menyampaikan (manusia) ke Akhirat Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as berkata: "Dunia ada dua macam; dunia yang menyampaikan (ke akhirat), dan dunia yang terlaknat."[62] Maksud dari dunia yang menyampaikan ialah dunia yang akan menyampaikan manusia ke akhirat dan menghubungkannya ke Allah. Sedang dunia yang kedua ialah dunia yang terlaknat, yaitu dunia yang akan menjauhkan manusia dari Allah SWT Karena laknat berarti "pengusiran" dan "penjauhan". Jadi, ada dua dunia. Pertama, yang menyampaikan manusia ke Allah dan kedua, yang menjauhkannya dari Allah. Perkara lain yang berkaitan dengan hakikat ini ialah bahwa manusia tidak mungkin meninggalkan dunia tanpa ada salah satu dari dua keadaan ini; dekat ke Allah atau jauh dari-Nya. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Janganlah kalian meminta di dunia lebih dari yang cukup dan janganlah menuntut dari dunia yang lebih dari apa yang bisa menyampaikanmu (ke akhirat)."[63] Kalau demikian, "sampai" (ke akhirat) adalah tujuan di dunia ini. Dan apa saja yang dicari oleh manusia baik yang berupa harta atau kesenangan haruslah berupa wahana yang akan menyampaikannya ke tujuan tersebut. Maka cukuplah bagi manusia untuk memburu dunia yang bisa membekalinya sampai pada tujuan. Jangan sekali-kali menuntut lebih daripada yang "dibutuhkannya" atau menjadikannya sebagai tujuan yang
    • dikejar-kejar. Karena dunia dan segala isinya termasuk harta benda adalah sarana bukan tujuan. Tujuan satu-satunya manusia ialah mendapatkan sesuatu yang bisa menyampaikannya ke akhirat. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Dunia diciptakan untuk "selainnya", bukan diciptakan untuk dirinya sendiri."[64] Sungguh suatu kesalahan, bila perantara ini diubah menjadi tujuan, sebagimana pula kesalahan besar - jika perantara ini dijadikan sebagai perantara sekaligus tujuan secara bersamaan. Oleh karena itu, Imam Ali as berkata: "Janganlah kalian menantut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat." Adapun tentang usaha dan upaya demi mendapatkan dunia, Imam Ali as berkata: "Janganlah mencari sesuatu (di dunia) yang melebihi kecukupan." Perkataan ini menjelaskan teori Islam dalam "mencari rizki". Tanpa diragukan lagi bahwa harta benda dunia hanya merupakan perantara kita untuk sampai ke akhirat. Makanya, ia mesti berusaha untuk memperoleh dan mendapatkan sarana yang akan menyampaikannya ke sana. Jadi, yang tidak boleh bagi manusia ialah yang melebihi batas kecukupan (alkafâf atau sufficiency). Kecukupan artinya sesuatu yang mencukupi seseorang dan "menyampaikan" (al-balâgh) artinya sesuatu yang memenuhi kebutuhan hidup manusia di dunia. Manusia mempunyai kebutuhan yang hakiki dan khayali atau palsu. Adapun kebutuhan hakikinya, ialah hal-hal yang sudah kita ketahui bersama yang lazimnya dibutuhkan untuk menyambung hidup dan merealisasikan misi "penyampaian". Sedangkan kebutuhan yang khayali dan palsu adalah yang muncul dihadapan manusia dalam bentuk "kebutuhan", yang pada hakikatnya, adalah ketamakan. Jika manusia menyerah kan dirinya pada kebutuhan ini, maka dia tidak akan pernah berakhir pada batas tertentu dan akan menguras seluruh gerak manusia dan usahanya, dan tidak akan menambah apa-apa baginya selain ketersiksaan dan kerakusan. Diriwayatkan dari Imam Ash-Shâdiq bahwa Amirul Mukminin Ali as pernah berkata: "Wahai anak cucu Adarn, jika kamu rnenginginkan sesuatu yang mencukupimu dari dunia, maka yang sedikit saja darinya akan mencukupimu. Dan jika karnu menginginkan sesuatu yang tidak mencukupimu, maka semua yang ada di dalamnya tidak akan mencukupimu".[65] Pengertian-pengertian yang mendetail ini juga banyak terdapat dalam nash-nash lain, antara lain berikut ini: "Ingatlah! Sesungguhnya dunia ini adalah rumah (orang yang) diselamatkan bukanlah (yang keluar) darinya, tetapi (yang berada) di dalamnya. Dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata). Manusia dicoba di dalamnya dengan fitnah. Apa yang diambilnya dari dunia untuk dunia semata akan dilepaskan darinya (oleh maut), dan diperhitungkan. Dan apa yang diambilnya dari dunia untuk di luar dunia (akhirat), akan memberi kenikmatan di dunia dan akan menjadi teman
    • menuju akhirat. Bagi yang berakal, dunia ini laksana bayangan; sewaktu-waktu ia melebar dan lain waktu ia mengingsut dan mengkerut."[66] Untaian kata ini walaupun ringkas memuat pengertian-pengertian yang dalam. Dunia adalah: "... rumah, (orang yang) diselamatkan bukanlah (yang keluar) dari rumah, tetapi (yang berada) di dalamnya". Dunia adalah kendaraan mukmin untuk lari dari setan menuju ke Allah SWT Tanpanya, dia tidak akan bisa selamat. Anehnya, orang yang menghindar dari dunia dan masyarakat tidak akan sampai pada tujuan yang dikehendaki Allah SWT, yaitu kedekatan denganNya. Sungguh Allah telah menghendaki manusia agar menggapai tujuan ini ketika mereka berada di dunia dan dengan sarana dunia. Kalau demikian, dunia merupakan perantara dan sarana yang tidak mungkin dilepas untuk merealisasikan tujuan ini. Inilah hakikat pertama dalam nash tersebut. Dunia menjadi perantara manusia menuju Allah ini, jangan sampai dijadikan tujuan. Apabila dunia dijadikan tujuan, maka manusia tidak akan selamat dari dunia tersebut; " ... dan tidak akan diselamatkan orang yang beramal untuk dunia (semata)." Apabila manusia mengeluarkan dunia dari posisi yang sebenarnya, maka dunia akan kehilangan kemampuannya untuk menyelamatkan manusia dari jerat setan atau untuk menyampaikannya ke Allah SWT Dan ini merupakan hakikat kedua dalam nash di atas. Kemudian dunia yang diraih oleh manusia demi tujuan duniawi, bukan demi Allah atau untuk mendekatkan diri kepada-Nya, atau untuk menyampaikan kepada keridhaan Allah, maka dunia tersebut akan melalaikannya (melupakan) dari Allah SWT. Sungguh unik dan mengherankan permasalahan dunia ini. Bila ia dijadikan sebagai perantara, maka ia akan memapahnya menuju Allah. Di lain pihak, Allah akan menyimpan dunia tersebut untuknya, mengabadikannya dan menempatkannya di akhirat kelak. Sebaliknya, bila manusia menjadikannya sebagai tujuan, maka ia akan melalaikan manusia terhadap Allah. Di lain pihak, kematian akan mencabutnya dan Allah akan menghisabnya dengan hisab yang berat (sulit). Penting untuk kita ketahui bahwa masalah kita bukan pada kuantitas, tapi pada kualitas. Karenanya, bisa saja ada manusia yang memperoleh kekayaan duniawi yang melimpah ruah tapi dia gunakan semua itu di jalan Allah SWT dan keridhaan-Nya. Maka perbuatan itu menjadi amal saleh yang akan dihadirkan kelak di akhirat. Di samping itu, ada manusia yang hanya mendapat sedikit hartayang dicarinya semata-mata demi tujuan dunia, maka dunia yang demikian ini akan hilang (lepas) dari genggamannya dan akan diperhitungkan dengan cermat oleh Allah. Hal ini merupakan hakikat ketiga yang ada dalam nash tersebut.
    • Kemudian jika dunia dimiliki demi tujuan dunia itu sendiri, maka dunia itu yang disebut 'Âjilah -dengan 'ain- (sesuatu yang berjangka pendek). la tidak akan melaju sampai akhirat, karena akan segera lenyap dan sirna. Tetapi, jika dunia diraih untuk selainnya (akhirat), maka ia menjadi Âjilah -dengan hamzah- (sesuatu yang berjangka panjang) yang akan memboyongnya menuju Allah. Dan di saat menjumpai Allah kelak, dia akan mendapatinya hadir di sisi Allah. Dunia model ini akan menjadi kekal dan tidak ada yang bisa melenyapkannya. "Apa yang ada di sisi Allah pasti baik dan kekal...". Dan "Apa yang diambil dari dunia untuk di luar dunia (akhirat), akan rnemberi kenikmatan di dunia dan akan menjadi ternan menuju akhirat." Inilah hakikat keempat yang ada dalam nash Islam yang mulia ini. Dalam doa ziarah Imam Husein as tertera: "Ya Allah! Janganlah Engkau perbanyak duniaku yang pesona keindahannya akan melalaikanku, dan gemerlap perhiasannya akan menggodaku. Jangan pula Engkau sedikitkan duniaku sampai rnengganggu amalku dan menggelisahkan dadaku."[67] Yang kami sebutkan tadi tentang masalah dunia dan hubungannya dengan manusia, dan apa yang akan diabadikannya untuknya, dan yang akan hilang, dan yang bermanfaat atau membahayakan itu semuanya berhubungan dengan kualitas bukan kuantitas. Namun, kuantitas juga mempunyai peran dalam membentuk sikap terhadap dunia. Karena banyaknya dunia yang dimiliki seorang akan menyibukkannya dan melalaikannya dari Allah. Jarang sekali ada kekayaan duniawi yang tidak menyibukkan dan memalingkan seorang dari Allah, kecuali dengan kesungguhan dan usaha keras. Sebagaimana sebaliknya, yaitu kalau dunia menahan curahan rizkinya pada seseorang, dia akan terhalang untuk berkonsentrasi penuh kepada Allah. Oleh karena itu, Islam mencari jalan tengah antara keduanya. Betapa banyak dunia yang melalaikan manusia dari Allah dan betapa banyak pula dunia membahayakan amal dan menyibukkannya dari mengingat Allah. 2. Dunia yang menjadi kendaraan orang Mukmin Rasulullah SAWW bersabda: "Janganlah kalian mencaci dunia karena ia adalah sebaikbaik kendaraan orang mukmin. Dengannya, seorang dapat sampai kepada kebaikan dan selamat dari kejahatan."[68] Dunia merupakan kendaraaan yang dinaiki manusia untuk menuju Allah SWT dan untuk menyelamatkannya dari jahannam. Inilah sisi dunia yang terpuji. Sekiranya tidak ada dunia niscaya manusia tidak akan bisa merealisasikan keridhaan Allah dan mencapaiNya. Dengan dunialah para wali Allah sampai pada magam yang tertinggi di sisi-Nya. 3. Dunia yang Menjadi Tempat Kejujuran dan l'tibâr 4. Dunia yang Menjadi Tempat Kesejahteraan
    • 5. Dunia yang Mejadi Tempat Mencari Kekayaan dan Mencari Bekal 6. Dunia Sebagai Tempat Ibadah Para Kekasih Allah 7. Dunia Adalah Tempat Mencari Pahala Para Wali Allah Imam Ali as pernah membentak orang yang menghina dunia dengan ucapannya sebagai berikut: "Wahai penghina dunia yang terperdaya oleh tipuanya dan terkecoh oleh kebatilannya! Kau hanya tertipu olehnya atau menghinanya? Kau yang jahat padanya atau ia yang jahat padamu? Kapan ia pernah merayumu atau mengelabuimu? Apakah di medan tempur bapak-bapakmu yang terpencil atau di pembaringan nenek-moyangmu yang terkucil?” (Rujuk, pada Nahjul Balâghah, 126.) 8. Dunia lalah Pasar Imam Ali Al-Hadi as berkata: "Dunia ialah pasar. Ada sekelompok yang beruntung dan ada juga yang rugi."[69] 9. Dunia ialah Penolong di Akhirat. Imam Al-Bâqir as berkata: “Sebaik-baiknya penolong atas akhirat adalah dunia." 10. Dunia Adalah Simpanan Imam Ali as berkata: "Dunia adalah simpanan. Sedang ilmu adalah petunjuk (dalil)."[70] 11. Dunia adalah Rumah Orang-orang yang Bertakwa. Imam Al-Baqir as dalam menafsirkan firman Allah SWT "...Sebaik-baik tempat orangorang yang bertakwa" beliau berkata: itu adalah dunia."[71] 12. Dunia Menjaga (kelangsungan) Akhirat. Imam Ali as bertutur: "Dengan dunia, akhirat akan terjaga."[72] Kalau begitu, menurut Islam dunia itu terpuji. Karena ia merupakan tempat mencari pahala bagi para wali Allah; tempat sujud para kekasih Allah; yang akan menyampaikan ke akhirat; dan tempat mencari bekal bagi orang-orang mukmin. Tetapi, kesemuanya ini kalau manusia memandang dengan dunia (ibshâr bi). Karena, kalau dia memandang pada dunia (ibshâr ila), maka dunia akan membutakannya. Sebagaimana yang diutarakan Imam Ali as Imam Ali as berkata: "Wahai orang yang mencaci dunia, apakah engkau yang zalim kepada dunia atau dunia yang zalim kepadamu?" Kemudian ada yang menjawab: "Sayalah yang zalim kepadanya wahai Amirul Mukminin! Beliau berkata: "Lalu
    • mengapa kamu mencacinya? Bukankah ia adalah tempat yang benar bagi orang yang membenarkannya?".[73] 3. Aku Sibukkan Hatinya dengan Urusan Dunia Timbal-balik Tindak Kriminal dan Siksa Ini adalah siksa (balasan) ketiga bagi orang-orang yang berpaling dari Allah dan menuruti ajakan hawa nafsu. Siksa ini dari jenis kriminal yang bersifat takwînî, bukan gadhâ'î (yudikatif). Sedang siksa takwînî selalu paling "adil" dan tidak ada jalan untuk lari darinya. Tindak kriminal yang saya maksud ialah kemasygulan dengan hawa nafsu daripada dengan Allah dan balasannya ialah tersibukannya manusia dengan dunia daripada dengan Allah. Dalam hadis tersebut disebutkan "... dan aku sibukkan hatinya dengan dunia". Kalau demikian, hubungan antara tindak kriminal dan balasan merupakan hubungan timbal balik yang dialektis. Tindak kriminal "masygul dengan hawa nafsu dan lupa pada Allah", akan memastikan adanya balasan "masygul dengan dunia daripada dengan Allah". Maka secara otomatis, hal itu akan menambah, mengintensifkan dan meningkatkan kriminalitasnya. Sampai dia pantas menerima balasan yang lebih berat daripada balasan sebelumnya, dan demikian seterusnya. Kalau begitu balasan itu sendiri sejenis dengan tindak kriminal yang telah kami sebutkan. Namun, balasan itu berbeda dengan tindak kriminalnya karena ia meningkatkan dan memperluasnya. Dengan begini, tindak kriminal itu akan terus bergerak dan membesar dalam kurva yang menaik. Pada awalnya, manusia yang melakukan tindak kriminal sepenuhnya mempunyai pilihan (ikhtiar) yang, sebenarnya, mampu memeliharanya dari kehancuran dan keruntuhan. Jika dia terus menerus melakukannya dan tidak mau meninggalkannya, maka Allah akan menyiksanya dengan menancapkan kekejian itu pada dirinya. Yaitu, Allah akan mencabut sebagian rizki-Nya berupa penjagaan, penguasaan pada jiwa dan kemampuan berikhtiar. Setiap kali derajat balasan bertambah, maka dia semakin lekat dengan kekejian itu, semakin lemah penguasaan dirinya, dan semakin hilang penjagaan pada dirinya. Sampai akhirnya Allah akan mencabut semua penjagaan dan kemampuan menguasai diri yang telah Dia berikan kepadanya. Balasan berupa hilangnya penjagaan dan penguasaan diri ini tidak berarti mereka tidak "berhak menerima balasan". Karena, tahap pertama mereka berbuat tindakannya itu disertai dengan penjagaan penuh dari kekejian dan penguasaan diri serta kemampuan berikhtiar. Hal tersebut bagaikan orangyang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari bangunan yang tinggi dengan ikhtiarnya, maka ketika jatuh, hilanglah penguasaan pada dirinya. Maka manusia semacam ini tidak dianggap kehilangan ikhtiarnya. Muatan Positif dan Negatif pada "Masygul dengan Dunia" Menyibukkan diri dengan dunia mempunyai dua sisi; positif dan negatif. Adapun sisi positifnya adalah kemauan keras manusia yang mengarah pada dunia dan bergantung
    • padanya. Keadaan ini sebenarnya adalah keadaan sakit yang membahayakan karena dunia akan menjerat dan menguasai hati manusia. Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAWW bermunajat: "Ya Allah, berikan kami rasa takut kepada-Mu yang bisa menghalangi antara kami dan kemaksiatan kepada-Mu. Jangan Kau jadikan dunia paling besarnya harapan kami dan puncak pengetahuan kami".[74] Tidaklah mengapa bila manusia mengurusi dunianya. Namun, jangan sampai ia menjadi puncak harapannya. Jika demikian, maka berarti dia telah memberi kuasa dunia atas hatinya dan menjadikannya sebagai penguasa tunggal dan pembimbing dirinya. Inilah keadaan sakit pada hati. Dalam wasiat Imam Amirul Mukminin as kepada putranya, Al- Hasan Al-Mujtaba as, beliau berkata: "Janganlah duniamu menjadi puncak harapanmu."[75] Adapun bentuk negatif bagi kesibukan (manusia) pada dunia ialah terputusnya hubungan dengan Allah. Karena secara alami menyibukkan diri pada dunia berarti terputusnya hubungan dengan Allah. Dengan kata lain, jika dunia menjadi puncak harapan seorang, maka ia juga akan menjadi tujuan utamanya, bukan mencari keridhaan Allah SWT Ketika itu hati manusia tertutup untuk Allah. Sejauh mana kecenderungan hati seorang pada dunia menjadi barometer ketertutupan hatinya untuk mencari ridha Allah. Dan jika dia sudah menjadikan dunia sebagai satusatunya harapan, maka hatinya akan betul-betul tertutup untuk-Nya. Keadaan ini merupakan ekses dari keadaan sebelumnya yang jauh lebih berbahaya pada diri manusia. Alquran telah menyingkap penyakit ini di beberapa tempat dan dengan tanda-tanda yang berbeda-beda yang sebagiannya akan kami paparkan di sini. Alquran juga menyebutkan berbagai sebab dan perkembangannya. Tanda-tanda Tertutupnya Hati Terhadap Allah 1. Ar-Rayn (Karat) Ar-Rayn adalah karat yang menutupi hati. Allah SWT berfirman: "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka ..." Q.S. Al-Muthaffifîn:14. Dalam Al-Mufradât-nya, Ar-Râghib mengatakan tentang tafsir ayat sebagai berikut: "Hal tersebut menjadi bagaikan karat yang menutupi kejernihan hati mereka. Sehingga kabur bagi mereka perbedaan antara kebaikan dan kejelekan". 2. Ash-Sharf (Memalingkan) Hal ini adalah sebagai siksaan di mana Allah memalingkan hati yang lalai dari mengingat Allah. Allah SWT berfirman: "Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti ..." Q.S. At-Taubah:127.
    • 3. Ath-Thab' (Watak/Terkunci) Allah SWT berfirman: "....dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar ..." Q.S. Al-A'râf:100. Maksudnya ialah bahwa Allah membentuk (watak) hati bukan dari shibghah (bentukan) Allah; bentukan hawa nafsu dan dunia. 4. Al-Khatm (Tertutup) Allah SWT berfirman: "Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutupi..." Q.S. Al-Baqarah:7. Al-Khatm (tertutup) lebih dahsyat daripada Ath-Thab' (terkunci). 5. Al-Aqfâl (Terkunci) Allah berfirman: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alguran ataukah hati mereka terkunci? ..." Q.S. Muhammad:24. 6. Al-Taghlîf (Penyelimutan) Allah SWT berfirman: "Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka". Q.S. Al-Baqarah:88. Dan firman Allah: "..perkataan mereka: " Hati kami tertutup", bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya". Q.S. An-Nisâ':155. 7. At-Taknîn (Penyumbatan) Allah SWT berfirman: "Mereka berkata: "Hati kami bera-da dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan ditelinga kami ada sumbatan". Q.S. Fushshilat:5. Dan firman Allah: "...padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya". Q.S. Al-An'âm 25. 8. At-Tasydîd (Pengerasan) Allah SWT berflrman: "Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka, dan kunci mati hati mereka..." Q.S. Yunus:88. 9. Al-Qaswah (Menjadi batu) Allah berfirman: "Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya". Q.S. Az-Zumar:22.
    • Dan firman Allah: "Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras..." Q.S. Al-Hadîd:16. Inilah gambaran-gambaran tentang tertutupnya hati serta berbagai keadaannya dan perkembangannya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Alquran yang mulia di atas. Bagaimana Dunia Bisa Berubah Menjadi Penjara? Apabila hati manusia telah tertutup untuk Allah, maka dunia akan menjadi penjara manusia dan akan menguasainya sampai dia tak akan bisa keluar darinya. Karena penjara, pada dasarnya, berarti mengurung dan mengikat ruang gerak seorang agar tidak bisa keluar (lepas). Begitu pula dunia akan memenjarakan, mengikat ruang gerak dan mencegah bepergian atau kebebasan manusia. la juga akan mempengaruhi semua kehendak dan ambisi manusia dan akan memutuskan hubungannya dengan Allah SWT Pengertian ini telah terdapat dalam nash-nash keislaman termasuk dalam doa Imam Abu Ja'far Al-Bâqir as sebagai berikut: "Jangan Engkau jadikan dunia sebagai penjara bagiku”.[76] Dan dalam do'a Imam Ja'far Ashl-Shâdiq as dikatakan: "Jangan Engkau jadikan dunia sebagai penjara dan perpisahan dengannya sebagai kesedihan bagiku."[77] Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa seorang yang dipenjara ketika keluar darinya merasa sedih dan susah. Penjara ini berbeda dengan penjara-penjara lainya. Manusia sangat senangdan suka padanya. la mengurungjiwa dan membuatnya terpatri padanya sehingga tidak bisa berpisah dengannya. Jika dipaksa keluar darinya, dia akan kalut dan sedih. Ketika manusia mulai mematrikan dunia pada dirinya, maka ia akan menjaringnya sebagaimana ubur-ubur (uhthubuth atau octopus) menjaring. Kemudian dunia akan membelenggu kaki dan tangannya, membatasi ruang geraknya dan menundukkannya. Imam Amirul Mukmin Ali as berkata: "Dunia bagaikan jaring (perangkap) yang akan menjerat orang yang menyenanginya (yang mencintainya)."[78] Sekali lagi marilah kita menengok pada keterkaitan antara "penjara" dan "orang yang terpenjara" dalam nash-nash keislaman yaitu pada "... ia akan menjerat orangyang mencintainya." Imam Ali as berkata: "Barangsiapa yang mencintai dinar dan dirham, maka dia adalah budak dunia."[79] "Penghuni" atau Ahli Dunia Sesungguhnya dunia mempunyai penghuni (ahl). Begitu juga akhirat. Penghuni atau penggemar dunia adalah orang-orang yang ingin langgeng dan condong kepada dunia
    • sampai-sampai dia berat untuk meninggalkannya. Sama sebagaimana manusia yang berat berpisah dengan keluarganya. Ahli akhirat adalah orang-orang hidup di dunia sebagaimana selainnya hidup; menikmati kesenangan dan kelezatan dunia sebagaimana orang lain, tapi mereka tidak pernah ingin kekal di dunia atau condongpadanya. Mereka ini disebut Ahlullah (orang Tuhan). Ahli akhirat mempunyai ciri-ciri sebagaimana ahli dunia juga memiliki ciri-ciri. Kami menemukan ciri-ciri ahli dunia dalam hadis Mi'raj. Rasulullah SAWW bersabda: "Ahli dunia adalah orang yang banyak makan, tertawa, tidur dan marah, tapi sedikit keridhaannya (kerelaan), tidak memafkan orang yang berbuat jelek (salah) padanya, dan tidak menerima alasan (ampunan) orang yang minta ampun. Dia malas berbuat ketaatan dan berani melakukan kemaksiatan. Keselamatannyajauh dan ajalnya dekat, tapi tidak pernah mawas diri. Sedikit manfaatnya, banyak bicaranya dan kurang rasa takutnya (kepada Allah). "Para penggemar dunia tidak bersyukur saat ada rizki dan tidak sabar saat ada petaka. Mereka memuji diri sendiri dengan apa-apa yang mereka tidak kerjakan dan menuntut yang bukan hak mereka. Berbicara dengan khayalan, menyebut-nyebut kejelekan orang dan menyembunyikan kebaikan mereka".[80] Penggemar atau ahli dunia merasa tentram dengan dunia dan mendapatkan kesenangan dan ketenangan di dalamnya. Jiwa mereka hendak bersemayam padanya, padahal dunia bukanlah tempat yang abadi. Jika manusia sudah merasa senang terhadap dunia, maka dia benar-benar berada dalam pengkaburan dunia. Dia menganggap dunia sebagai tempat abadi padahal ia bukan begitu. Amirul Mukminin Ali as berseru: "... Ketahuilah bahwa kamu diciptakan untuk akhirat bukan untuk dunia, untuk fana bukan untuk kekal (di dunia), untuk mati bukan untuk hidup. Dan karnu berada di tempat yang oleng tidak kukuh, tempat sementara tidak langgeng dan tempat untuk berbekal serta jalan menuju akhirat..." "Berhati-hatilah! Jangan tertipu dengan apa yang kamu lihat dari kebaikan ahli dunia dan ketamakan mereka padanya. Sungguh Allah SWT telah memberitahumu tentangnya, mencirikan jati dirinya, dan menyingkapkan kejelekan-kejelekannya kepadamu...”[81] Pengkaburan Dunia Termasuk pengkaburan dunia ialah anggapan bahwa dunia itu tempat abadi yang akan dihuni dan ditempati manusia untuk selama-lamanya. Padahal dunia adalah tempat berlalu bukan tempat yang langgeng. Manusia yang ada di dunia itu seperti orang asing. Dia bertempat di situ hanya beberapa hari saja lalu berpindah ke akhirat. Walaupun demikian, manusia selalu ingin abadi dan menetap untuk selama-lamanya di dalamnya.
    • Rasulullah SAWW bersabda: "Jadikanlah dirimu di dunia seakan-akan kamu orang yang asing atau perantau."[82] Imam Ali as berkata: "Wahai manusia! Sungguh dunia merupakan tempat untuk berlalu, sedangkan akhirat tempat untuk menetap. Maka ambillah dari tempat berlalumu untuk tempat menetapmu."[83] Masalah ini bersifat mental. Artinya, manusia yang melintasi jalan, tidak akan mampu bertempat di dalamnya. Sebaliknya, orang yang menempati suatu rumah akan akrab dengannya. Isa Al-Masih as, putra Maryam mempunyai untaian kata yang menarik dalam pengertian ini. Telah diriwayatkan dari beliau as yang demikian bunyinya: "Siapakah yang bisa membangun rumah di atas ombak laut?. Begitulah dunia. Maka janganlah kalian jadikan dunia sebagai tempat tinggal." Dunia bukan tempat tinggal yang langgeng (tetap) sebagaimana ombak tidak ada yang tetap, maka mana mungkin jiwa akan tentram padanya? Mungkinkah manusia membuat rumah untuk dirinya di atas ombak laut? Diriwayatkan bahwa Jibril as berkata pada Nuh as begini: "Wahai Nabi yang umurnya paling panjang, bagaimana Anda mendapatkan dunia ini? Nuh as menjawab: "Bagaikan rumah yang mempunyai dua pintu. Aku masuk yang satu dan aku keluar dari pintu yang lainnya."[84] Inilah perasaan suci yang dirasakannya oleh sesepuh para Nabi pada detik-detik akhir hidupnya. Inilah perasaan (pengakuan) yang jujur yang jauh dari pengkaburan dunia. Bila (manusia) menyayangi dunia dan merasa tentram padanya, maka perasaan suci itu tadi akan berubah menjadi kecintaan dan kegandrungan pada dunia yang berakibat pada terjerumusnya dia ke dalam perangkapnya, lalu ke dalam pengkaburannya. Keadaan inilah yang dialami ahli (penggemar) dunia; orang-orang yang membayangkan bahwa di dunia ada tempat tinggal yang tenang dan langgeng bagi manusia. [1] Nahjul Balâghah, Hikmah ke-100. [2] Buhârul Anwâr, 96:249 dan 254-255. [3] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-57. [4] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-27. [5] Bihârul Anwâr, 73:64. [6] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 2:201.
    • [7] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:199. [8] Bihârul Anwâr, 78:302. [9] Bihârul Anwâr, 70:320. [10] Nahjul Balâghah, 191. [11] Nahjul Balâghah, 194. [12] Bihârul Anwâr, 78:70. [13] Bihârul Anwâr, 70:73. [14] Nahjul Balâghah, Hikmah 228. [15] Bihârul Anwâr, 1:121. [16] Nahjul Balâghah, Surat ke-66. [17] Bihârul Anwâr, 73:49. [18] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:29. [19] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:30. [20] Bihârul Anwâr, 70:315. [21] Al-Ghurar wa Ad-Durar, karya Al-Amudi. [22] Bihârul Anwâr, 77:263. [23] Bihârul Anwâr, 77:166. [24] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:93. [25] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-80. [26] Bihârul Anwâr, 70:320. [27] Nahjul Balâghah, 112. [28] Bihârul Anwâr, 73:119. [29] Nahjul Balâghah, 31. [30] Bihârul Anwâr, 73:123. [31] Bihârul Anwâr, 79:18.
    • [32] Bihârul Anwâr, 79:122. [33] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:102. [34] Bihârul Anwâr, 73:126. [35] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-63. [36] Bihârul Anwâr, 14:319. [37] Nahjul Balâghah, 194. [38] Syarah Nahjul Balâghah, Khutbah ke-63. [39] Bihârul Anwâr, 72:122. [40] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî. [41] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî. [42] Bihârul Anwâr, 70:319. [43] Bihârul Anwâr, 70:319. [44] Bihârul Anwâr, 77:8; Makârimul Akhlâq, 81. [45] Ad-Durrul Mantsûr, 1: 67. [46] Bihârul Anwâr, 77:80. [47] Bihârul Anwâr, 70:317. [48] Bihârul Anwâr, 78:164. [49] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26. [50] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:45. [51] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26. [52] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:28. [53] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:73. [54] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:85. [55] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:26. [56] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:37.
    • [57] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:11. [58] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî, 1:11. [59] Bihârul Anwâr, 78:21. [60] Bihârul Anwâr, 73:96. [61] Bihârul Anwâr, 73:108. [62] Bihârul Anwâr, 73:20. [63] Bihârul Anwâr, 73:81. [64] Nahjul Balâghah, Hikmah ke-455. [65] Ushûlul Kâfî, 2:138. [66] Nahjul Balâghah, 62. [67] Bihârul Anwâr, 101:208. [68] Bihârul Anwâr, 77:178. [69] Bihârul Anwâr, 78:366. [70] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî. [71] Bihârul Anwâr, 73:107. [72] Bihârul Anwâr, 67:67. [73] Bihârul Anwâr, 78:17. [74] Bihârul Anwâr, 95:361. [75] Bihârul Anwâr, 42:202. [76] Bihârul Anwâr, 97:379. [77] Bihârul Anwâr, 97:338. [78] Ghurarul Hikam, karya Al-Âmudî. [79] Bihârul Anwâr, 103:225. [80] Bihârul Anwâr, 77:24. [81] Nahjul Balâghah, 31.
    • [82] Bihârul Anwâr, 73:99. [83] Nahjul Balâghah, Khutbah ke-203. [84] Mîzânul Hikmah, 3:339. BAGIAN KETUJUH Yang Mengutamakan Keinginan Allah Dalam bagian yang lalu, saya telah membahas tentang "orang yang mengutamakan keinginan dirinya atas keinginan Allah" secara panjang lebar. Sekarang, saya -Insya Allah- akan membahas tentang "orang yang mengutamakan keingi nan Allah di atas keinginan (nafsu) dirinya". Sebelum memasuki kajian yang lebih mendalam, terlebih dahulu saya hendak memaparkan beberapa redaksi dan versi bagi hadis qudsi yang mulia ini. Syaikh Ash-Shadûq as meriwayatkan dalam kitab Al- Khishâl dengan sanad dari Abu Ja'far Al-Bâqir as, beliau berkata bahwa "Sesungguhnya Allah berfirman; Demi keagu ngan-Ku, keindahan-Ku, keperkasaan-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian (tempat)-Ku, tidaklah seorang hamba mengutama kan keinginan-Ku di atas keinginan (nafsu) dirinya, kecuali Aku jadikan kekayaannya dalam jiwanya, harapannya pada akhiratnya, Aku cukupkan harta bendanya, Aku jaminkan riz kinyapada langit dan bumi dan Aku di belakang setiap 'perda gangan' yang dia lakukan." [1] Dalam kitab Tsawâbul A'mâl diriwayatkan dengan sa nad dari Ali bin Al-Husein as, beliau berkata bahwa "Sesung guhnya Allah berfirman; "Demi kemulian-Ku, kebesaranKu, keagungan-Ku, keperkasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku. Tidaklah seorang hamba mengutama kan keinginan-Ku di atas keinginan dirinya melainkan Aku suruh para malaikat-Ku untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rizkinya dan Aku di belakang setiap 'perdagangan'- nya serta dunia akan datang dan selalu berpihak padanya". [2] Ibnu Fahad meriwayatkan dalam kitabnya 'Uddatud Dâ'î dari Rasulullah SAWW tentang firman Allah sebagai beri kut: "Demi kemulian-Ku, kebesaran-Ku, keagungan-Ku, keper kasaan-Ku, nur-Ku, ketinggian-Ku dan ketinggian tempat-Ku. Tidaklah seorang hamba mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginan dirinya melainkan Aku suruh malaikatKu untuk menjaganya, langit dan bumi menjamin rizkinya dan Aku berada di belakang setiap perdagangannya serta dunia akan selalu datang dan berpihak padanya." [3] Syaikh Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitab Ushûl Al- Kâfî dengan sanad dari Abu Ja'far as sebagai berikut: "...melainkan Aku suruh malaikat-Ku untuk menjaganya
    • (mencukupinya), langit dan bumi menjamin rizkinya dan Aku bera da di belakang setiap perdagangan yang dia lakukan". [4] Manusia yang Mengutamakan Keinginan Allah di atas Keinginan Dirinya Pengertian pengutamaan (îtsâr) ini ialah menjadikan ke hendak Allah SWT sebagai hakim (penentu) atas keinginan (nafsu) dirinya dan menahan diri dari ajakan hawa nafsu sesuai dengan ketentuan hukum Allah. Allah SWT berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari ke inginan hawa nafsunya, maka sesunguhnya surgalah tempat tinggalnya". Q.S.An-Nâzi’ât:40-41. Persimpangan antara taqwa dan fujur (kesesatan) adalah titik benturan antara keinginan Allah SWT berupa hukum dan firman-Nya dan keinginan (nafsu) manusia. Jika manusia mengutamakan keinginan Allah SWT atas keinginan (nafsu) dirinya, maka dia akan berjalan di jalan ketaqwaan. Namun, sebaliknya, jika manusia mengutamakan keinginan pribadinya atas keinginan Allah, maka dia akan berjalan di atas jalan fujur. 1. Aku Jadikan Kekayaanya dalam Jiwanya Yang populer di kalangan manusia bahwa kekayaan dan kefakiran adalah dua keadaan yang berhubungan dengan emas perak dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan jiwa. Akan tetapi, Islam mempunyai pengertian tentang ke duanya yang berbeda dengan pengertian pada umumnya. Islam menganggap keduanya sebagai masalah jiwa bukan harta benda. Maka boleh-boleh saja jika ada seorang yang disebut kaya meskipun tidak berharta dan disebut fakir meskipun berharta banyak. Dalam doa 'Arafah Imam Husein as bermunajat de mikian: ''Ya Allah, jadikanllah kekayaanku dalarn jiwaku, ke yakinan dalam kalbuku, ikhlas dalam amalku, nur dalam penglihatanku dan bashîrah dalam agamaku". Bagaimanakah mungkin kriteria kekayaan dan kefakiran bisa berubah dari emas dan perak kepada jiwa? Sungguh rahasia perubahan (konversi) ini, merupakan bagian dari pelbagai rahasia dan keunikan agama Islam. Maka dan itu, sebaiknya kita merenung sejenak tentang masalah ini. Peran Istilah-istilah Keislaman dalam Meluruskan Pemikiran Kata fakir (faqr) dan kaya (ghinâ) dua istilah yang sering digunakan Islam. Namun demikian, Islam mempunyai perha tian yang khusus terhadap berbagai peristilahan atau termino logi. Sejumlah besar istilah yang berlaku pada masa jahiliyah telah dihapus oleh Islam. Islam merevisi istilah-istilah itu untuk meluruskan berbagai pemikiran, pandangan dan konsepsi ma nusia. la juga menggunakannya untuk merevisi sistem nilai atau
    • "aksiologi" Jahiliyyah tersebut. Karena, Jahiliyyah me miliki "aksiologi" tersendiri yang berbeda dengan milik Islam. Kadang Islam membuang jauh-jauh nilai Jahiliyyah dan membuat nilai yang sama sekali baru dalam kehidupan sosial. Kadang juga Islam merombak suatu antinorma dalam politik, akhlak, masyarakat dan hukum peradilan menjadi norma yang mesti dijalankan. Di masa Jahiliyyah, wanita adalah antinorma. Mereka merasa naas bila memiliki anak perempuan. Kemudian datang Islam dan merubahnya menjadi norma yang mulia dan tinggi. Perbedaan dalam berbagai norma (nilai) ini timbul akibat adanya perbedaan dalam aksiologi. Setiap norma atau nilai itu memiliki tolok ukur atau kriteria yang mesti diikuti. Kita tidak akan bisa memahami suatu nilai tanpa berpegangan pada tolok ukur tertentu. Islam menggunakan terminologi yang dibangunnya un tuk merubah sistem nilai Jahiliyyah. Implikasi perubahan ak siologis itu adalah suatu perubahan normatif yang total. Untuk membuktikan hal tersebut akan saya jelaskan peran yang di mainkan oleh istilah baru kefakiran dan kekayaan yang telah digunakan Islam dalam merubah sistem nilai, kemudian dalam merubah norma. Di bawah ini penjelasan labih lanjutnya. Kefakiran dan Kekayaan dalam Sistem Nilai Ishun Kefakiran dan kekayaan menurut manusia, pada umum nya, ialah ungkapan bagi sedikitbanyaknya harta. Dengan kata lain, orang fakir adalah yang tidak banyak memiliki emas, perak atau harta lainnya. Sedang orang kaya adalah yang banyak memiliki emas, perak atau harta lainnya. Konsekuensi logisnya, manusia mendefmisikan derajat-derajat kekayaan melalui ku antitas hartanya. Dengan demikian, orangyang memiliki daya beli paling besar adalah orang yang paling kaya. Sebaliknya orang yang kecil daya belinya adalah orang yang paling miskin. Kalau demikian, menurut manusia, kemiskinan dan kekayaan adalah dua keadaan yang seluruhnya bersifat kuantita tif. Sistem Nilai Jahiliyyah Penggunaan istilah di atas tidak membahayakan dan Islam tidak menentangnya, sekiranya permasalahan itu berhenti sampai pada batasan ini. Namun, masalah ini tidak hanya begitu saja. Karena, keadaan kuantitatif ini (Baca : kekayaan), dalam sistem nilai Jahiliyyah, berubah menjadi suatu nilai sosial dan politis dengan segala konsekuensinya seperti kehor matan, kemuliaan derajat, kedudukan sosial, pengaruh politis dan kepercayaan manusia. Dan ini ialah contoh paling jelas adanya perubahan kuantitas kepada kualitas dalam sistem nilai Jahiliyyah. Manakala kita perhatikan dengan cermat perubahan ini, maka kita akan menemukan bahwa emas yang kuantitas beru bah menjadi kualitas yang berarti nilai sosial dan politis.
    • Tidak diragukan lagi bahwa dalam kehidupan masyarakat kuantitas dan kualitas itu mempunyai kaitan langsung. Kita tidak mung kin bisa menutup mata atau menahkannya sama sekali. Namun Islam membalik rumusan ini. Islam menjadikan kuantitas me ngikuti kualitas dan bukan sebaliknya. Sebagai contoh, berubahnya kejujuran dan ketakwaan dalam transaksi (kualitas) menjadi prestasi dalam kinerja ek onomis (kuantitas). Atau berubahnya kejujuran dan ketakwaan dalam kiprah politik menjadi meluasnya dukungan kepadanya dalam pemilihan umum. Beginilah semestinya keadaan yang normal dalam suatu masyarakat. Adapun, manakala masalahnya berbalik dan kuantitas menjadi tolok ukur suatu sistem nilai dalam kehidupan bermasyarakat dan berpolitik, maka masyarakat pasti akan meng hadapi suatu ancaman luar biasa dalam berbagai nilai dan prinsip yang mereka pegangi. Inilah yang ditemukan dalam peradaban Jahiliyyah; di mana struktur material berkuasa penuh atas struktur maknawi dan moral. Sehingga materi menjadi kriteria aksiologis dan bukan sebaliknya. Hal ini yang terjadi pada kaum muslimin setelah per luasan kawasan Islam. Islam datang dengan membawa suatu sistem nilai yang baru bagi kehidupan manusia yang tidak dikenal di masa Jahiliyyah. la menjadikan bagian maknawi kehidupan manusia sebagai sumber pokok penilaian dan bagian bendawinya sebagai kelanjutan. Akan tetapi, ketika peta kawasan kaum Muslim sudah semakin meluas, dan Allah juga telah membukakan bagi mereka harta kerajaan Kisra dan Kaisar, dan cakrawala bumi dengan harta benda yang berlimpah- ruah, mereka mulai menjungkirbalikkan sistem nilai atau ak siologi Islam. Maka, emas dan perak kembali menduduki posis- inya sebagai tolok ukur aksiologis. Situasi dan keadaan mereka kembali seperti semula di awal masa Rasulullah diangkat sebagai Imam, penunjuk jalan dan rasul bagi manusia. Di saat Imam Amirul Mukminin Ali as memegang tam puk kepemimpinan pasca Usman bin Affan, beliau menemukan orang-orang Islam telah benar-benar berbalik. Sama seperti orang yang memakai baju terbalik; bagian luarnya di dalam dan bagian dalamnya di luar; bagian atasnya di bawah dan bagian bawahnya di atas. Tentang Bani Umayyah Imam Ali berkata: "...dan baju yang dipakai seperti jubah (yang terbuat dari kain yang halus) yang dipakai secara terbalik". [5] Imam Ali as juga menemukan rakyat telah kembali se perti keadaan mereka di saat pertama Rasulullah SAWW di utus. Mereka telah berpaling dari apa yang telah di bawa Rasulullah. Imam Ali as berkata: "Sesungguhnya, malapetaka yang me nimpamu merupakan ulangan dari apa yang terjadi pada masa Allah mengutus Nabirnu SAWW Demi Allah yang mengutus Nabi-Nya dengan kebenaran, kalian akan ditumbangkan, di goncang dengan keras, diayak dan dicampur aduk bak adonan di belanga, sehingga orang-orang yang rendah menjadi tinggi dan orang-orang yang tinggi menjadi rendah..." [6]
    • Dalam ucapan ini, Imam Ali as ingin menjelaskan bahwa mereka akan menghadapi htnah yang besar dan kemurtadan dari nilai-nilai, norma-norma dan landasan-landasan Islam. Sehagaimana isi belanga yang terjungkir-balik karena men didih di mana yang di atas menjadi di hawah dan yang di bawah menjadi di atas. Begitulah keadaan muslimin setelah meluasnya kawasan geograhs mereka dan setelah Allah melapangkan berbagai rizki bagi mereka. Begitu jugalah tragedi yang dialami peradaban Jahiliyyah setelah berlimpah-ruahnya kenikmatan dan harta benda mereka. Pada saat Islam berusaha merubah aistem nilai Jahiliy yah, pertama-tama yang dilakukannya ialah mencetuskan "kamus" istilah baru yang mengartikan kefakiran dan kekayaan dengan makna baru. Itu semua, pada gilirannya, untuk me- nandingi sistem nilai Jahiliyyah. Inilah yang akan saya bahas, Insya Allah. Sistem Nilai dan Aksiologi Islum Di sini ada dua aliran dalam menafsirkan kekayaan. Salah satunya dengan ukuran emas yang dimiliki. Ini adalah penafsiran maudhu'iy-mahsus (obyektif-empiris) terhadap kata itu. Pada konteks ini, kata al-ghanî (kaya) ini, kurang lebih, sepa dan dengan makna atstsarî (berharta). Adapun penafsiran lainnya ialah penafsiran yang bersifat dzâtî (subyektif dan esensial). Yaitu kekayaan jiwa yang di peroleh manusia melalui keyakinan dan tawakal seorang kepada Allah. Kekayaan semacam ini tidak ada hubungannya dengan kuantitas harta benda. Pada konteks ini, mungkin saja ada orang yang berharta banyak sementara dia tetap miskin (fakir) dan orang yang tidak berharta sedikit sementara dia kaya raya. Kekayaan dan kefakiran dalam pengertian yang akhir ini, benar-benar berbeda dengan pengertian obyektif-empirisnya. Orang kaya menurut pengertian ini adalah yang kaya jiwanya, bukan yang kaya tangannya atau depositonya. Ketika Islam menentukan pengertian baru ini, sebenar nya ia telah herusaha mengadakan perombakan total dalam sistem nilai Jahiliyyah dan menandingi atau menghadapinya. Berikut ini, saya akan menguraikan nash-nash keislaman yang memuat pengertian kaya dan fakir. Kemudian baru saya akan memulai menguraikan sistem nilai baru yang ditetapkan Islam. Istilah Kaya dalam Nash-nash Keislaman Rasulullah SAWW bersabda: "Tidak disebut kaya orang yang banyak harta, tapi orang kaya adalah orang yang kaya jiwanya". [7] Rasulullah SAWW bersabda: "Kekayaan ada dl hati (kalbu) dan kefakiran ada di hati juga". [8]
    • Amirul Mukminin Ali as berkata: "Orang kaya adalah orang yang gonâ’ah." [9] Amirul Mukminin as herkata: "Tiada simpanan yang lebih kaya daripada gonâ’ah." [10] Amirul Mukminin as berkata: "Aku mencari kekayaan, dan aku tidak mendapatkan kecuali gonâ’ah (rasa cukup). Hen daknya kalian menyandang gonâ’ah agar kalian menjadi kaya." [11] Imam Al-Bâqir as berkata: "Tiada kefakiran seperti ke fakiran hati dan tiada kekayaan seperti kekayaan hati". [12] Imam Al-Hâdi as berkata: "Kekayaan ialah sedikitnya angan-anganmu dan ridha dengan sesuatu yang mencuku pimu". [13] Kalau demikian, Islam merubah pengertian fakir dan kaya, yang mulanya merujuk kepada emas dan perak menjadi kepada jiwa. Bahkan lebih jauh lagi, nahs-nash ini menegaskan bahwa kaya menurut tolok ukur obyektif mengimplikasikan dengan kefakiran kejiwaan yang subyektif. Pada galibnya, setiap kali bagian dunia seseorang bertam bah, kefakiran jiwanya pun bertambah pula. Dengan kata lain, hubungan yang kontras dan berbanding terbalik antara kaya menurut kerangka obyektif dan kaya menurut kerangka sub yektif-mental bukan saja bersifat konseptual, melainkan juga bersifat aktual dan yang terjadi pada umumnya. Amirul Muk minin as berkata: "Orang yang kaya (dunianya) adalah orang yang fakir". [14] Imam Zainal Abidin as berkata: "Orang yang mempero leh dunia paling banyak, maka dia adalah yang paling fakir di dalamnya". [15] Kita bertanya-tanya, apa sangkut-paut dan korelasi an tara kekayaan konvensional dan kefakiran mental? Apa penye bab korelasi yang berbanding terbalik antara kekayaan dengan kerangka obyektif dan subyektif ini? Pada nash berikut ini kita akan temukan jawaban sekaligus penafsiran tentang korelasi negatif antara kekayaan dalam pemahamanan yang ini dan yang sebelumnya. Amirul Mukminin as berkata: "Orang kaya yang rakus adalah orang yang fakir". [16] Maksud orang kaya dalam nash ini adalah orang kaya menurut ukuran obyektif dan maksud orang fakir adalah menu rut ukuran mental yang subyektif. Adapun kata syarah (rakus) yang menengahi antara keduanya menafsirkan korelasi ini. Karena kaya menurut pengertian manusia secara umum bi asanya mengarah pada kerakusan. Dan ketika bagian dunia manusia bertambah, maka - biasanya - dia akan bertambah tamak. Inilah premis yang pertama. Premis kedua, makin ber tambah rasa tamak dan rakus seseorang, maka semakin ber tambah pula ketersiksaan, kegelisahan dan kesulitannya.
    • Tentang kedua realitas ini, Al-Quran menjelaskan de mikian, Allah SWT berfirman: "Sesunguhnya Allah menghen daki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa rnereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir .." Q.S. At-Taubah:55. Dan Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah meng hendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa rnereka, dalam kea daan kafir..." Q.S. At-Taubah:85. Rakus termasuk paling dahsyatnya keadaan kefakiran ruhani dan kekosongan psikologis (mental) pada manusia. Kea daan ini pernah terjadi pada suatu masyarakat di masa Nabi Daud as sampai Allah memerintahkan mereka untuk ber taubat dan kembali kepada-Nya. Ayat dalam surat Shâd berikut ini akan menjelaskan intensitas keutamaan jiwa. Allah berfirman: “Sesungguhnya saudaraku im mempunyai sembilan puluh ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: "Serahkan Lah karnbingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan...". Q.S. Shâd:23. Suatu Transformasi dalam Sistem Nilai Jadi, Islam telah menciptakan pengertian baru bagi kata kaya. Kekayaan dalam pengertian baru ini berubah dari sudut pandang bendawi menjadi jiwa. Maka dengan demikian beru bahlah kekayaan dari tolok ukur harta kepada tolok ukur jiwa. Nilai manusia dalam agama Islam tidak dilihat dari pemi likan uang dan harta benda, sebagaimana yang berlaku pada masa Jahiliyyah. Islam meletakkan nilai-nilai kemanusian pada asas iman kepada Allah, takwa, ilmu dan berbagai norma etis lain tanpa harus menafikan pengertian yang sudah populer yang hanya bernuansa ekonomis. Arti baru yang disajikan Islam ini berorientasi untuk membebaskan nuansa yang melulu bersifat ekonomis pada makna kekayaan dan kefakiran. Sekarang simaklah wacana Imam Ali yang sangat padat dan dalam untuk menyimpulkan revolusi aksiologis yang ter jadi ini: "Kebaikan itu bukanlah bertambahnya hartamu. Tetapi ia adalah bertambahnya ilmumu, sopan santunmu dan penca paianmu dalam beribadah kepada Tuhanmu. Dan jika kamu beramal baik, karnu memuji Aliah dan jika kamu beramal buruk, kamu mernohon arnpunan dari- Nya". [17] Transformasi nilai ini secara pasti diikuti oleh transfor masi dalam posisi-posisi sosial dan politik. Karena penilaian dalam seluruh peradaban berkait dengan aksiologi atau sistem nilai dari satu segi, dan dari segi lainnya berkait dengan posisi-posisi sosial, politik, ekonomis dan ilmiah. Jika kita perhatikan peradaban Jahiliyyah modern di Barat, maka kita akan temukan pengaruh modal (uang) yang sangat kuat pada pemilihan umum, kantor-kantor berita dan medm-media informasi dan keputusan politik. Menurut hemat saya, semua itu disebabkan
    • oleh peradaban yang ditegakkan di atas dasar aksiologi materialistik yang tidak berlandaskan pada norma-norma etis (akhlak) dan spiritual sama sekali. Permasalahan tersebut sungguh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Islam. Menurut Islam, nilai dan penilaian ditegakkan atas dasar-dasar akhlak, ruhani, hubungan ma nusia dengan Allah, ketakwaan dan pengetahuan. Allah berfir man: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara ham ba-hamba-Nya, hanyalah ulama". Q.S. Fâthir:28. Allah SWT juga berfirman: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa." Q.S. Al-Hujurât:130. Maka dari itu, ketakwaan dan keadilan merupakan pra syarat bagi pemimpin umat Islam, qâdhî (hakim) yang akan memutuskan, orang yang diberi amanat harta benda kaum Muslim dan orang-orang yang menempati posisi-posisi sosio-politis dan keagamaan. Oleh sebab itu, transformasi aksiologis ini, pada akhirnya, akan merebak ke seluruh bidang kehidupan manusia; politis, ekonomis, saintihk, keagamaan dan sosial. Untuk lebih jelasnya perhatikan siklus alami di bawah ini: 1. Transformasi dan perubahan aksiologis. 2. Perubahan dalam penilaian dan normatif (nilai). 3. Perubahan dalam posisi-posisi sosio-politik. Sekarang, setelah usai menjelaskan istilah baru yang di gunakan Islam dan perannya dalam kehidupan manusia, kita mesti kembali menengok hadis tentang kekayaan jiwa yang terdapat dalam hadis "Aku jadikan kekayaannya dalam jiwa nya". Kekayaan jiwa Apakah yang dimaksud dengan kekayaan jiwa atau ghinâ an-nafs ? Bagaimanakah kita bisa memperoleh kekayaan yang ada dalam jiwa itu? Sesungguhnya kekayaan jiwa adalah terlepasnya rasa per caya pada materi dan dunia, lalu mengikatkan diri pada Allah SWT Karena dunia cepat hilang, sedang Allah SWT tidak akan lenyap; benda sifatnya terbatas, sementara tiada batasan bagi kekuasaan Allah SWT dan keagungan-Nya. Dan ketika itu manusia menjadi kaya karena tawakalnya dan kepercayaannya pada-Nya. Dia tidak pernah lemah atau goyang meskipun situasi dan kondisi gonjang-ganjingdan kega duhan malapetaka membolak-balikkan keadaan dirinya dari yang mudah menjadi sulit, dari yang senang menjadi sedih dan dari yang ceria menjadi sengsara. Yang demikian itu karena adanya kekayaan dalam jiwa yang tidak pernah berpisah dari nya kapanpun juga. Amirul Mukminin Ali as berkata: "... dalam kegoncangan, mereka tegar, dan dalam kesulitan mereka sabar". [18]
    • Ini karena adanya kekayaan yang bersemayam dalam lubuk jiwa yang tidak bisa dicabut atau dipudarkan oleh situasi dan kondisi apapun juga. Mereka kaya dengan keimanan, ke percayaan, tawakal, dan kerelaan kepada keputusan Allah. Inilah kekayaan dengan Allah (ghinâ billah) yang tidak ada kekayaan melebihinya. Kekayaan ini tidak bisa digoyang oleh situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Rasulullah SAWW bersabda: "Wahai Abu Dzar, merasalah kaya dengan kekayaan Allah, maka Allah akan mengayakan rnu”. [19] Imam Ali as berkata: "Kaya dengan Allah ialah paling besarnya kekayaan dan kaya dengan selain Allah merupakan paling besarnya kefakiran dan kesengsaraan". [20] Berdasarkan pada tolok ukur ini dalam memahami ke kayaan dan kemiskinan atau kefakiran, maka kekayaan ma nusia akan lebih banyak setiap kali kepercayaannya kepada Allah lebih besar. Rasulullah SAWW bersabda: "Barang siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kaya, hendaknya dia lebih per caya pada apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganya sendiri”. [21] Percaya kepada Allah bukannya meninggalkan (menyia-nyiakan) sebab-sebab material, karena meninggalkan sebab-se bab material berarti keluar dari sunnatullah dan ditentang oleh Islam. Akan tetapi, hakikat pengertian percaya kepada Allah adalah tunduk dan merasa tenang/tentram dengan Allah bukan dengan yang selain-Nya sambil terus memperhitungkan sebab- sebab yang akan membantunya merealisasikan tujuan-tujuan nya. Faktor-faktor untuk Dapat Memperoleh Kekayaan Jiwa Sebenarnya, faktor-faktor yang mendorong manusia un tuk memperoleh kekayaan ini banyak sekali, tapi yang saya akan sebutkan adalah yang beberapa yang terpenting saja. 1. Keyakinan kepada Allah SWT Yakin pada Allah merupakan paling tingginya derajat kekayaan. Karena, jika manusia yakin pada rahmat, luthf, akan terkabulnya permohonannya. kemahapemberian rizki, belas kasih, kepenyayangan, rahmat yang terus menerus bersam bung tanpa putus, khazanah rahmat yang tidak pernah habis terkuras dan seringnya Allah memberi yang hanya berarti tambahan kemahadermawanan-Nya, maka dia tidak akan pernah merasa fakir dan tersiksa selamanya. Seseorang pasti akan merasakan kefakiran jika ia tidak mempunyai keyakinan ini atau jika keimanannya kepada Allah belum sampai pada batas ini. Sebab, keyakinan kepada Allah merupakan peringkat keimanan paling tinggi dan pemberian Allah paling agung yang dianugrahkan kepada hamba-hamba- Nya. la adalah kunci kekayaan. Amirul
    • Mukminin Ali as berkata: "Kunci kekayaan adalah keyakinan". Dan tak ada lagi kekayaan melebihi keyakinan ini. Imam Al-Bâqir as berkata: "Cukuplah keyakinan seba gai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan". [22] 2. Ketakwaan Ketakwaan merupakan bagian penting dari faktor penye bab kekayaan. Karena, jika manusia melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan berpegang teguh kepadanya, maka Allah akan memberikan perasaan kaya dalam jiwanya dan menjauhkannya kefakiran jiwa. Rasulullah SAWW bersabda: "Cukuplah ketakwaan seba gai kekayaan." [23] Imam Al-Bâqir as berkata: "Wahai Jabir, orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang kaya. Mereka dikaya kan dengan sedikit harta dan tuntutan hidup mereka seder hana. Jika kamu lupa kebaikan, mereka akan mengingatkanmu dan jika kamu mau melakukan kebaikan mereka akan membantumu. Mereka mengakhirkan syahwat dan mendahulukan keta atan kepada Allah". [24] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Barang siapa yang di keluarkan oleh Allah dari kehinaan maksiat menuju kemu liaan takwa, maka berarti Allah telah mengayakannya tanpa harta benda, memuliakannya tanpa keluarga dan menemani nya tanpa teman". [25] Nash ini sangat jelas dan menukik dalam menerangkan arti kekayaan jiwa yang bisa terjadi tanpa harta. Sebagaimana manusia bisa dimuliakan Allah tanpa keluarga dan dihilangkan keterasingannya tanpa teman. Ketakwaan adalah sumber kekayaan, kemuliaan dan ke akraban (uns) dalam jiwa manusia. Karena, orang yang ber takwa kepada Allah dan melaksanakan perintahperintah-Nya dan hukum-hukumNya, maka berarti Allah telah mengayakan jiwanya dan menjauhkan kefakiran, kehinaan dan keterasingan (wahsyah atau alienasi) dari jiwanya. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan yang intinya: "Ti daklah seorang hamba mengutamakan keinginan-Ku di atas keinginannya (nafsunya), kecuali Aku akanjadikan kekayaan nya dalam jiwanya". [26] Penentangan hawa nafsu adalah penerjemahan yang pasif dari ketakwaan, sedangkan penerjemahan yang aktifnya adalah melakukan hukum-hukum Allah SWT 3. Kesadaran Jika keyakinan dan ketakwaan adalah dua kunci keka yaan, maka kesadaran adalah merupakan kunci yang membuka jalan kepada keyakinan dan ketaqwaan.
    • Manusia tidak bakalan meninggalkan kesadaran dan ke takwaaan kecuali akibat dari kebodohan dan ketiadan kesa daran. Dan kesadaran yang dimaksud di sini ialah keberakalan atau inteleksi (ta'aqqul). Banyak nash yang menegaskan pengertian di atas. Imam Ali as berkata: "Tiada kekayaan (yang lebih agung) daripada akal". [27] Imam Ali as juga pernah berkata: "Paling kayanya keka yaan adalah akal". [28] Beliau juga pernah berkata demikian: "Kekayaan orang yang berakal dengan ilmunya dan kekayaan orang bodoh (jahil) dengan hartanya". [29] Imam Musa Al-Kâzhim as dalam sebuah ucapannya yang populer kepada Hisyam berkata: "Wahai Hisyam! Siapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, ketentraman hati dari sifat dengki, dan keselamatan dalam agama, maka dia harus tunduk patuh kepada Allah SWT dalarn perkara-Nya dan agar menyempurnakan akalnya". [30] Pengaruh-pengaruh Kekayaan Jiwa dalam Kehidupan Manusia Kekayaan jiwa mempunyai beragam keuntungan yang besar dalam kehidupan manusia. Orang yang telah dikayakan jiwanya oleh Allah, akan selalu merasa berhubungan dengan- Nya dan bersama-Nya. Dia selalu percaya akan dawamnya pertolongan dan ban tuan Allah. Karena, Allah tidak pernah berpisah darinya atau memberatkannya kapanpun juga. Maka dalam lubuk jiwanya, dia akan merasakan kepercayaan yang mutlak, kedamaian, keteguhan, kemantapan dan kesenangan kalbu dan dhamîr. Dia tidak akan pernah dihinggapi penyakit ambisius, deng ki, rakus, atau gelisah. Karena, semua sifat ini merupakan sifat-sifat kefakiran jiwa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis Imam Al-Kâzhim as di atas. Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Sekaya-kayanya orang adalah yang tidak menjadi tawanan kerakusannya". [31] Imam Ali as berkata: "Paling mulianya kekayaan adalah meninggalkan angan-angan". [32] Amirul Mukminin Ali as juga pernah berkata: "Keka yaan yang paling besar adalah keputusasaan akan segala yang ada di tangan manusia." [33] Harta yang tidak melahirkan kekayaan jiwa adalah sum ber kegelisahan dan ketersiksaan manusia. Malahan, ia akan menambah kerakusan, kegelisahan dan ketersiksaannya. Allah SWT berfirman: "Sesunguhnya Allah menghendaki dengan (rnemberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.." Q.S. At- Taubah:55.
    • Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menghen daki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keadaan kafir..." Q.S. At-Taubah:85. II. Langit dan Bumi Menjamin Ui/.kinya Ini adalah bagian kedua dari balasan orang-orang yang mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan dirinya dan menjadikan hukum dan kehendak Allah di atas berbagai keingi nan dan nafsu pribadinya. Orang-orang yang demikian itu akan diganjar oleh Allah SWT sebagai berikut: Pertama, Allah akan menjadikan kekayaannya dalam jiwanya, sebagaimana yang telah saya jelaskan secara terperinci pada pembahasan yang lalu. Kedua, langit dan bumi akan menjamin rizkinya. Seba gaimana yang akan saya jelaskan dibawah ini. Kami tidak perlu menjelaskan bahwa butir ini tidak berarti bahwa manusia dapat berlepas tangan untuk mencari rizki, tapi maksudnya adalah bahwa Allah akan memberinya taufiq (kemudahan atau akomo dasi) dalam usaha dan harkatnya. Taufiq (akomodasi) Taufiq ini adalah maksud dari jaminan langit dan bumi yang diberikan Allah kepada manusia. Betapa banyak usaha manusia yang hilang sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Ter kadang bertahun-tahun usia seorang dihabiskan dalam upaya yang terus menerus, tapi dia tidak menggapai apa yang dike hendakinya. Dan betapa banyak pekerjaan yang kecil dan usaha yang sederhana, tapi membuahkan hasil yang baik dan ber kah. Yang pertama adalah gambaran "jeleknya taufiq" dan yang kedua adalah gambaran "baiknya taufiq". Sedangkan Allahlah pemilik (wali) segala taufiq. Jaminan yang diberikan langit dan bumi melalui perintah Allah SWT itu kepada rizki sang mukmin sebab dia mendahu lukan keinginan Allah SWT atas keinginan dirinya itulah yang disebut taufiq. Taufiq bermakna bahwa Allah menjadikan usa ha dan gerakgeriknya pada tempat yang bermanfaat. Seperti curahan hujan yang mengenai tanah yang subur dan gemuk. Betapa banyak air hujan yang turun ke bumi tanpa bisa menumbuhkan dan menghasilkan apa-apa. Namun, sebaliknya, betapa banyak gerimis yang mengenai tanah yang subur dan dalam cuaca yang baik dapat menghasilkan kebaikan yang banyak dan menyuburkan bumi. Inilah gambaran taufiq. la adalah suatu perkara yang tidak berhubungan dengan usaha dan gerak-gerik manusia (secara langsung), meski dia sedikit memiliki "andil" di dalamnya. Karena sebab-sebab taufiq yang misterius dan tak dapat dicapai manusia jauh lebih banyak daripada yang dimilikinya dan, tentunya, kesemuanya ada di tangan Allah SWT. Maka, jika Allah telah memudahkan (mem beri taufiq) hamba-Nya, maka hidup, usaha dan pekerjaannya pun akan menjadi berkah. Sebagaimana yang difirmankan Allah
    • melalui lisan Maryam as: "Dan Dia menjadikan aku seo rang yang diberkati di mana saja aku berada ". Q.S. Maryam: 31. Selagi seorang tidak diberi taufiq oleh Allah SWT, dan Allah tidak menghendaki kebaikan baginya, maka pasti dia tidak akan mendapatkan "sebab-sebab kebaikan" dari upa yanya dan akalnya kecuali sedikit sekali. Dalam sebuah hadis disebutkan: "Tidak akan berguna ketekunan usaha tanpa taufiq". [34] Jika Allah menghendaki suatu kebaikan kepada seorang hamba dan memberinya taufiq, maka berarti Allah meletakkan usahanya di tempat "sebab-sebab kesuksesan dan keuntungan" yang pada akhirnya segala upaya manusia itu akan membuah kan hasil. Amirul Mukminin Ali as berkata: "Sebaik-baiknya kete kunan (usaha) adalah yang disertai dengan taufiq". [35] Ada sebuah hadis yang berbunyi demikian: "Taufiq ada lah paling utamanya dua 'keberuntungan’”. [36] Penjelasannya demikian. Keberuntungan pertama -yang sangat tidak berarti- adalah yang didapat manusia melalui sebab-sebab kebahagiaan dan kebaikan akibat ketekunan usa ha, hasil pemikiran dan berbagai potensi yang telah diberikan Allah kepadanya. Sedangkan keberuntungan lainnya ialah bahwa Allah memberikan hidayah padanya untuk sesuatu yang tidak diketahumya atau tidak terjangkau olehnya dari sebab- sebab yang akan mengantarkannya kepada kebaikan. Kemu dian, Allah meletakkannya di terapat sebabsehab kebahagian dan kebaikan. Inilah keberuntungan kedua sebagaimana yang disinggung dalam hadis tersebut. Tak diragukan lagi bahwa taufiq merupakan aksi ghayb (gaib) yang datang dari "dunia luar" yang meletakkan manusia di tempat-tempat dan sebab-sebab kebaikan. Taufiq tidak sama dengan potensi-potensi intelektual yang bersifat htri dan daya yang telah dianugrahkan Allah pada jiwa manusia. Karena potensi-potensi itu secara berdiri sendiri tidak akan mampu menggiring dan mengarahkan manusia kepada sebab-sebab kebaikan atau menjauhkannya dari sebab-sebab kejahatan. Apabila Allah telah menghendaki bagi seorang hamba suatu kebaikan, maka Allah akan menolongnya dengan menata keseriusannya (usahanya) dan meletakkan potensipotensinya di tempat-tempat yang menyebabkan datangnya kebaikan. Ha dis berikut ini secara tepat menjelaskan hakikat tersebut. Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepa da Imam Ash-Shâdiq as: "Wahai putra Rasulullah SAWW, bu kankah aku mampu melaksanakan sesuatu yang telah diti tahkan kepadaku?” Beliau berkata: "Apakah kemampuan (istithâ'ah) itu menurut pandanganmu?”
    • Dia menjawab: "Kekuatan untuk bertindak?” Beliau berkata: "Kamu bisa memilikinya kalau pertolo ngan (ma'ûnah) diberikan kepadamu!" "Apakah ma'unah itu?", Tanyanya lagi. Beliau menjawab: "Taufiq!" Dia menyoal lagi: "Mengapa harus diberikan taufiq?” Imam menjawab: "Apakah dengan kekuatan itu belaka kamu mampu menangkis mara bahaya dan mengambil manfaat tanpa pertolongan Allah SWT?” Lelaki itu menjawab:"Tidak!" Kemudian beliau berkata: "Kalau demikian, mengapa ka mu menganggap bisa (melakukan sesuatu) yang kamu tidak mampu atasnya?" Kemudian beliau melanjutkan: "Bagaimana sikapmu atas suatu pernyataan hamba yang saleh berikut ini: "Dan tiada taufig bagiku melainkan dengan Allah..." Q.S. Hûd:88. [37] Riwayat ini mengklasifikasikan kemampuan yang aktif dan efektif dalam kehidupan manusia itu dalam tiga kelompok berikut ini: 1. Hukum-hukum natural dan sosial (sunnatullah) yang mengarahkan manusia menuju kebaikan atau kejelekan. 2. Berbagai kemampuan yang telah diletakkan Allah pada manusia dan digunakannya untuk merealisasikan sebab-sebab kebaikan atau kejelekan di alam dan masyarakat. 3. Taufiq dan pertolongan Ilahi yang dengannya Dia me nunjukkan para hamba-Nya sebab-sebab kebaikan yang tidak tampak bagi mereka dan menolong mereka agar memperoleh semuanya. Al-Karâjikî dalam kitabnya Al-Kanz, meriwayatkan uca pan Imam Ash-Shâdiq as sebagai berikut: "Tidak semua orang yang berniat pada sesuatu mampu (melaksanakannya). Tidak semua orang yang mampu (melaksanakan) sesuatu mendapat taufiq untuknya. Dan tidak semua orangyang mendapat taufiq, bisa mencapai tujuan. Karenanya, bila niat, kemampuan (qud rah), taufiq dan ketepatan tujuan (ishâbah) telah berkumpul, maka sempurnalah kebahagiaan seseorang" . [38] Taufiq ialah salah satu pintu yang lebar untuk mengenal Allah. Ada tiga pintu manusia untuk mendapat hidayat me ngenal Allah: A. Fitrah
    • B. Akal (Baca: bukti-bukti rasional) C. Ta'âmul billah (hubungan dengan Allah SWT). Yang belakangan disebut ialah termasuk pintu yang sa ngat lebar untuk mengenal Allah yangdimasuki oleh para empu bashîrah . Berhubungan dengan Allah akan memberikan kei manan, kepercayaan dan ketentraman atau kepasrahan (tawakal) kepada manusia, sementara fitrah dan akal tidak bisa melakukan hal yang sama. Manusia akan memperoleh hal tersebut berkat hubungannya dengan Allah di segala keadaan. Taufiq ilahi dalam kehidupan manusia mempunyai bera gam sebab, aturan dan prinsip. la bukan perkara yang datang secara tiba-tiba. Maka pemilik taufiq pastilah orang yang sudah layak mendapatkannya. Dan siapa yang taufiqnya tercabut dan urusannya sepenuhnya dikuasai nafsunya, maka pastilah itu karena dia telah menyia-yiakan kesempatan itu dan tidak lagi layak menjadi tempat pancaran Ilahi tersebut. Jelas bahwa ini bukan lantas berarti bahwa Allah menjadi kikir untuk memberikan rahmat-Nya atau rahmat-Nya sudah terkuras habis, tapi semata-mata karena Dia melakukan segalanya atas kehendak-Nya. Karena itu, sebagian ada yang mendapatkannya dan sebagian lain tidak. Sementara manusia berbeda-beda tingkatan dan nasib dalam beroleh taufiq Allah mengikuti kadar kelayakan mereka untuk menerimanya dan keluasan tempat mereka untuk menampungnya. Taufiq ialah rahmat Ilahi yang turun untuk hamba-hamba-Nya tanpa suatu perhitungan. Orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri tidak akan mendapatkannya. Sedangkan Mukminin akan mendapatkan rahmat rabbânî ini menurut kadar keluasaan tempat jiwa mereka. Inilah peran aksi gaib terhadap ihwal rizki yang termasuk dalam permasalahan alam syuhûd (yang tampak nyata). Hubungan antara Alam Gaib dan Syuhûd Termasuk masalah pokok dalam pemikiran keislaman ialah masalah yang gaib dan hubungannya dengan yang syuhûd (tampak). Pandangan manusia tentang masalah ini sangat ber beda-beda. Di antara mereka ada yang menahkan alam gaib dan ada pula yang mengakui keberadaannya meski menafikan ada nya hubungan antara keduanya. Sedang Islam mengimani yang gaib dan mengajak pe meluknya untuk mengimaninya. Islam menjadikan keimanan terhadap yang gaib sebagai syarat pertama dalam ajaran Islam. Allah berfirman: "Alif Lâm Mîm. Kitab (Alguran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertagwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendiri kan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugrahi kepada mereka". Q.S. Al-Baqarah:1-3.
    • Dan firman Allah:"Yaitu orang-orang yang takut akan azab Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan mengingkarinya." Q.S. AlAnbiyâ':49. Dan firman Allah: "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah walaupun ia tidak melihat-Nya". Q.S. Yâsîn:11. Kemudian Islam menghubungkan antara alam gaib dan alam syuhûd. Islam menganggap bahwa antara kedua ufuk yang mempunyai keberadaan yang luas ini memiliki banyak jembatan yang menghubungkan kedua hal tersebut. Islam mem percayai bahwa setiap darinya saling mempengaruhi yang lain; yang gaib berefek pada hal-hal yang syuhûd dan indrawi dan yang syuhûd juga berpengaruh pada yang gaib. Ketakwaan dan ketakutan kepada Allah "secara gaib" dan mengekang diri dari kemaksiatan mempunyai pengaruh langsung pada kehidupan material manusia; memudahkan yang sulit dan membukakan pintu-pintu penghidupan dan rizki. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang bertagwa ke pada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangkasangkanya..." Q.S. At-Thalâq:2-3. Dan firman Allah: "Dan barang siapa yang bertagwa ke pada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan da lam urusannya ...”. Q.S. At-Thalâq:4. Inilah hubungan alam syuhûd dengan alam ghaib. Pada arah yang berlawanan juga terjadi. Rasulullah SAWW bersabda: "Sekiranya tidak ada roti niscaya kita tidak akan shalat." [39] Rasulullah SAWW bersabda: "Karena rotilah kalian ber puasa." [40] Rasulullah SAWW juga pernah bersabda: "Sekiranya tidak ada roti, niscaya kita tidak akan bershalat dan berpuasa serta kita tidak akan melakukan kewajiban-kewajian Tuhan kita". [41] Peran Faktor Gaib dalam Penafsiran Sejarah. Karena adanya hubungan yang erat ini, maka Alquran menganggap bahwa alam gaib ialah salah satu faktor paling penting penggerak sejarah dan menahkan teori materialisme dalam menafsirkan sejarah. Alquran menepis asumsi yang ha nya meyakini faktor-faktor material sebagai satu-satunya yang bisa menggelindingkan roda sejarah. Alasannya, ialah sering kali kita mendapati sejarah bergerak ke arah yang berlawanan dengan sasaran yang dituntut oleh faktor material. Renungkanlah ayat-ayat berikut ini: "Sesungguhnya Al lah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jum lahmu, maka jumlah yang
    • banyak itu tidak manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menim pakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian lah pembalasan kepada orangorang yang kafir....". Q.S. At-Taubah:25-26. Butir pertama, yang mesti kita pahami ihwal peran faktor gaib dalam menggerakkan sejarah yang terdapat dalam ayat tersebut adalah bahwa kemenangan datangnya dari Allah sedangkan faktor-faktor material hanyalah sebagai faktor pem bantu (mu'iddât) untuk mencapai kemenangan. Dan bahwa Allah sendirilah yang menganugrahkan kemenangan itu. Allah SWT berfirman: "Sungguh Allah yang menolong kalian di ba nyak tempat...". Q.S. At-Taubah:25. Inilah butir yang sangat penting dalam memahami gerak laju sejarah dalam pandangan Islam yang berbeda jauh dari berbagai mazhab materialisme Barat. Butir kedua, ialah kekalahan pada perang Hunain yang bertolak belakang dengan faktor kuantitatif pasukan yang me rupakan bagian faktor-faktor kemenangan dalam penafsiran materialisme terhadap sejarah. Allah berfirman: "... dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jum lahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumiyang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai." Q.S. Al- Taubah 25. Butir ketiga, turunnya sakînah (ketenangan) dari Allah terhadap Rasul-Nya dan orangorang Mukmin di medan laga. Sakînah inilah yang menenteramkan mereka dalam suasana terjepit dan mengkokohkan kaki-kaki mereka di atas bumi pertempuran (medan laga) dan mencabut ketakutan, defeatism (perasaan kalah) dan keresahan dari hati mereka. Kesemua itu adalah anugrah dari Allah belaka. Begitu juga dengan cara dikirimkannya "prajurit-prajurit yang tak tampak" untuk memukul mundur barisan kaum kafir, menyebarkan keresahan di dalam hati mereka dan membulatkan tekat Mukminin dalam melawan musuh-musuh mereka. Allah SWT berfirman: "Kemudian Allah menurunkan ketena ngan kepada Rasul-Nya dan orangorang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang ka fir, dan demikianlah pembalasan kepada oranng-orang yang kafir..". Q.S.At-Taubah:26. Kemudian kita menemukan ayat berikut ini dalam surat Al-Imran: "Ya, (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itujuga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. Dan Allah tidak menjadikan pemberian baia bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi kemena nganmu, dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa." Q.S. Âli ‘Imrân:125-126.
    • Ayat ini menegaskan adanya bala bantuan gaib (imdâd ghaybî) yang turun di saat-saat kesulitan dan ketakutan berupa lima ribu pasukan malaikat untuk menguatkan "posisi tempur" orang-orang Mukmin. Allah juga membangkitkan ketenangan di hati mereka dan menjadikan para malaikat itu sebagai berita gembira bagi mereka di saat-saat paling gawat itu. Ayat ini juga menetapkan prinsip yang jelas dan distingtif dalam memahami gerak laju sejarah antara Islam dan materi alisme. Allah berfirman: "Dan tiada kemenangan kecuali dari sisi Allah yang Maha Agung nan Bijak". Surat Âli ‘Imrân ini juga menegaskan pelajaran yang dibe rikan Allah kepada orangorang Mukmin setelah menelan ke kalahan di perang Uhud. Allah berfirman: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (termasuk) orang-orang yang beriman". Q.S. Âli ‘Imrân:139. Superioritas di medan laga, pada dasarnya, bersumber dari iman kepada Allah. Setelah itu barulah faktor-faktor bendawi pertempuran (heldpieces) berperan untuk menghadapi musuh. Kemudian, dalam konteks yang bermiripan, kita baca ayat dalam surah Al-A'râf berikut ini, Allah berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pasti lah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (aya-ayat Kann) itu, rnaka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". Q.S. Al- A'râf:96. Berkah-berkah yang diberikan Allah atas hamba-hamba-Nya dari langit dan bumi ini pertama-tama karena keimanan dan ketakwaan mereka, kemudian, tak lupa pula, faktorfaktor bendawi. Inilah sisi positif hubungan peran keimanan dan ketak waan dengan kemenangan dan pertolongan dalam pertempu ran militer; dan dengan kemajuan, kemarakan, kemudahan dan rizki dalam kehidupan urban. Sebaliknya juga benar. Yakni hubungan keruntuhan peradaban dan bangsa dengan mera jalelanya kekejian dan pelanggaran terhadap hukumhukum Allah. Mari kita renungkan ayat mulia di bawah ini: "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak nya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan me reka di muka bunii, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami bmasakan mereka, karena dosa me reka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah generasi yang lain." Q.S. Al-An'âm:6.
    • Kehancuran dan keruntuhan ini disebabkan dosa dan maksiat mereka. Permasalahan yang tidak diperhitungkan ma terialisme dalam menafsirkan keruntuhan peradaban ini, jus tru dianggap Alquran sebagai aktor utama dalam menafsirkan sejarah. Kemudian kita menemukan ayat-ayat mulia berikut ini yang melukiskan perputaran sejarah. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umatyang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) keseng saraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendah diri, Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu ke senangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka itu mereka berdiam berputus asa. Maka orang-orang yctng zalim itu dimusnakan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam..." Q.S. Al-An’âm:42-45. Inilah tiga babak atau fase sejarah bangsa-bangsa yang dimulai dari kemunculannya sampai kehancurannya. Dan ada nya interaksi antara yang gaib dan yang syuhûd jelas sekali dalam berbagai fase tersebut. Fase pertama, adalah fase ibtilâ' (ujian). Dalam fase ini, Allah meluruskan tonggak bangsa, meneguhkannya dan memberinya kekuatan. Kejelekan yang dilakukan pada fase ini akan mendatangkan bencana, sementara tadharru' (ketundukan) kepada Allah akan menghilangkannya. Allah berfirman: "... kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) keseng- saraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendah diri." Hubungan antara yang gaib dan yang syuhûd seperti adanya kejelekan yang mendatangkan balâ' dan tadharru' yang menyingkirkannya. Inilah yang belum ditemukan pemikiran materialis dan yang telah Allah tunjukkan pada kita dalam kitab-Nya. Fase kedua, adalah fase istidrâj dan imlâ' (penguluran dan pemenuhan). Hubungan antara yang ghaib dan yang syu hûd dalam tahapan ini juga adalah jelas sekali. Melampiaskan diri dalam kemaksiatan, menceburkan diri dalam kejelekan, dan tidak mengambil preseden atas datangnya mala petaka pada fase ibtilâ', kadang malah akan membukakan pintu kenik matan dan rizki pada suatu bangsa secara lebar. Namun rizki itu merupakan siksa bukan rahmat. Allah menginginkan mere ka agar terus-menerus berada dalam kesesatan. Setelah itu, barulah Allah menyiksa mereka dengan siksaan Zat yang Maha Perkasa dan Kuasa. Allah berfirman: "...Maka tatkala mereka melupakan per ingatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun mem bukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka..."
    • Fase ketiga, adalah fase keruntuhan dan kehancuran. Allah berfirman: "...Maka orangorang yang zalim itu akan dimusnakan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam..." Pujian kepada Allah ini dihaturkan atas datangnya niq mah (siksa), bukan ni'mah (nikmat) dan atas kehancuran dan kebinasaan bukan atas kemakmuran. Hubungan antara yang gaib dan yang tampak (syuhûd) fase ini tidak berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Dengan kata lain, sikap pongah, angkuh, kebablasen (thughyân) dan takabur umat (bangsa) di atas bumi yang menggembirakan mereka akhirnya akan menurunkan azab kehancuran dan ke binasaan yang mengakar bagi mereka. Allah berfirman: "...se hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah di berikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong- konyong, maka ketika itu mereka terdiam dalam keadaan putus asa..." Jadi, dalam pandangan filsafat sejarah Islam faktor gaib yang sangat penting dalam gerak sejarah. Faktor-faktor Gaib Tidak Menafikan Faktor-Faktor Bendawi Penjelasan di atas tidak ingin menahkan peranan materi dalam kehidupan individual ataupun sosial manusia. Pada da sarnya, Islam mempercayai faktor dualistik gaib bendawi dalam menafsirkan gerak sejarah. Islam menolak penafsiran sejarah hanya dengan satu faktor baik yang gaib maupun yang bendawi saja. Menurut Islam, hubungan manusia dengan alam mesti dengan memjuk dan mempertimbangan dualisme faktor ini. Hubungan antara Ketakwaan dan Rizki Setelah kita menelusuri hubungan antara yang gaib dan yang tampak (syuhûd) kini mari kita menelaah paragraf dalam hadis qudsi berikut ini: "Tidaklah seorang hamba yang mengu tarnakan keinginanKu di atas keinginan dirinya kecuali Aku jaminkan rizkinya pada langit dan bumi..." Setelah memahami penjelasan di atas tentang hubungan antara yang gaib dan syuhûd, maka kita tidak perlu lagi me nguras tenaga untuk mengetahui hubungan antara ketakwaan yang merupakan perkara gaib dan maknawi dan rizki yang merupakan perkara indrawi di alam syuhûd. Persoalan ini termasuk yang paling jelas dalam pera daban Islam. Karena, ketakwaan merupakan pintu rahmat Allah yang luas dan dengannya seorang bisa mendapat rizki dari Allah. Tambahan lagi, takwakal juga bisa menjadi sebab mengu curnya air hujan ke bumi dan menguraikan segala benang kusut yang terjadi. Ketakwaan seorang akan mendatangkan keme nangan, membukakan "pintu yang tertutup" dan jalan keluar bagi keterhimpitan hidupnya.
    • Allah berfirman: "Barang siapa yang bertagwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginyajalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangkasangkanya Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dike hendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan keten tuan bagi tiap-tiap sesuatu." Q.S. AtThalâq:2-3. Dan firman Allah: "Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagmya kemudahan dalam urusannya". Q.S. At-Thalâq:4. Rasulullah SAWW bersabda: "Sekiranya langit dan bumi tertutuppada seseorang hamba, lalu dia bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan langit dan bumi sebagai kelapangan danjalan keluar baginya" . [42] Amirul Mukminin as berpesan kepada Abu Dzar saat akan disingkirkan Utsman ke Rabadzah: "Wahai Abu Dzar, se sungguhnya engkau marah karena Allah, rnaka rnohonlah pada Dzat yang engkau marah karena-Nya. Sekiranya langit dan bumi menutup diri kepada seorang hamba kemudian ia bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan keduanya sebagaijalan keluar baginya". [43] Imam Ali as pernah juga berkata demikian: "Barang siapa menyandang ketakwaan, maka akan hilanglah segala kesulitan yang mendekatinya, rnanislah segala kepahitannya, pecahlah segala ombak yang mencoba menggulungnya dan ringanlah segala kesukaran yang menyiksanya". [44] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Barang siapa berpegang teguh pada (tali) Allah melalui ketakwaan, maka Allah akan menjaganya. Dan siapa yang telah didatangi dan dijaga Allah, maka dia tidak akan peduli sekiranya langit berbenturan dengan bumi dan ada bencana yang turun dan menimpa seluruh penduduk bumi. Karena, dengan ketakwaannya dia akan tetap berada dalam penjagaan Allah dari segala bencana. Bukankah Allah telah berfirman: 'Sesungguhnya orang-orang yang ber takwa berada di maqam yang aman”. Q.S. Ad- Dukhân:51." Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Sesungguhnya Allah telah menjamin orang yang bertakwa kepadaNya untuk meru bahnya dari sesuatu yang dibenci menjadi sesuatu yang disenangi dan Allah akan memberikan rizki kepadanya secara tak diduga-duga”. [45] Imam Al-Jawâd pernah menulis sepucuk surat kepada Sa'd Al-Khair yang demikian bunyinya: "Sesungguhnya de ngan takwa Allah SWT menjaga hamba-hamba-Nya dari hal- hal yang tidak terjangkau oleh pikiran mereka dan dengannya pula Allah menyingkap kebutaan dan kebodohan mereka. Den gan ketakwaan, Nuh as diselamatkan bersama rombongannya yang ada dalam bahtera. Begitu pula Shaleh as beserta kaumnya dari amukan badai. Dengan ketakwaan orang- orang yang sabar akan beruntung dan orang-orang pilihan akan selamat dari kehancuran". [46] Kalau demikian, maka orang yang mengutamakan keing inan Allah SWT di atas keinginannya dan mendahulukan per intah Allah dan larangan-Nya di atas
    • kecenderungan, hasrat dan hawa nafsu dirinya, Allah akan suruh langit dan bumi untuk menjamin rizkinya dan menjaga serta tidak menyerahkan (uru sannya) pada dirinya sendiri. Bahkan Allah akan menganugrahi taufiq dalam usaha dan upayanya. Tidak perlu saya ingatkan lagi bahwa semua ini tidak berarti bahwa takwa tidak butuh pada usaha untuk mendapat kan rizki. Islam tidak mengajarkan siapapun untuk merasa cukup dengan takwa saja tanpa usaha untuk mendapatkan rizki. Ketakwaan hanya bisa menyebabkan turunnya taufiq dari Allah atas hamba-Nya. Sehingga usahanya berada pada tempatnya dan menyampaikannya pada sumber-sumber rizki dengan jalur pintas. Kisah Tiga Orang yang Diselamatkan Allah karena Ketakwaanya Dengan takwalah Allah menepis segala bentuk mara ba haya dari para hamba, menghilangkan bencana dan menyela matkan mereka dari segala kehancuran dan himpitan hidup. Dari Nafi', dari Ibnu Umar, Rasulullah SAWW bersabda: "Di suatu saat ada tiga orang ycmg sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba turun hujan sangat deras sehingga mereka harus bernaung di sebuah gua yang terletak di lereng gunung. Tidak berapa lama, ada batu besar yang jatuh menutupi lobang gua tersebut. Lalu mereka saling bertatap mata dan berkata kepada yang lain: 'Tengoklah perbuatan yang kalian lakukan semata- mata dan secara tulus ikhlas untuk Allah. Kemudian, memo honlah kepada Allah dengan perbuatan itu agar Allah menyingkirkan batu ini. Kemudian di antara mereka berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia dan anakanak yang masih kecil, sedang akulah yang mesti menanggung penghidupan mereka. Setiap pagi aku datang menemui mereka. Aku perahkan susu untuk mereka. Lalu aku hidangkan pada kedua orang tuaku sebelum kepada anak-anakku. Suatu kali menjelang subuh aku sudah bepergian dan baru tiba di rumah malam harinya. Kemudian aku dapatkan kedua orang tuaku sudah tertidur pulas. Tetapi aku tetap memerah susu sebagaimana lazimnya. Aku bawa susu itu dan aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku. Aku takut membangunkannya, tapi akujuga takut meniinumkan nya kepada anakanakku sebelum mereka. Sampai putriku me rengek di kakiku sejadi-jadinya. Keadaan ini berlanjut sampai menjelang fajar. Maka jika Engkau mengetahui bahwa apa yang telah aku kerjakan, itu sernata-rnata karena mengharap ridha-Mu, bukalah batu ini sehingga saya bisa rnelihat langit. "Tak lama waktu berselang, Allah menggeser batu besar itu, hingga mereka bisa mengintip langit. "Orang yang kedua berkata: "Aku rnempunyai sepupu perempuan (putri paman) yang sangat kucintai layaknya seorang lelaki normal mencintai wanita. Aku telah meminta kehor matannya secara terus terang, tapi ia rnenolaknya sampai aku bisa mernberinya 100 Dinar.
    • Aku berupaya keras agar mendapat sejumlah uang terse but. Setelah aku bisa mengumpulkannya, segera aku mem bawanya kepadanya. Ketika aku 'berada di antara selangkangannya', tiba-tiba dia berkata: 'Hai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah. Jangan kau membuka "cincin" ini kecuali den gan hak-Nya. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya. "Ya Allah, jika Engkau telah mengetahui bahwa aku benar-benar mengerjakan hal itu karena mengharap ridha-Mu, maka bukalah batu ini. Kemudian, sedikit lagi batu itu bergeser. "Gilliran orang yang ketiga berkata: 'Sungguh aku per nah menyewa seorang pelayan dengan segenggam padi. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia meminta haknya. Lalu kuberikan kepadanya segenggam padi. Tetapi, dia menolaknya dan meninggalkannya begitu saja. "Kemudian aku menanam padi itu hingga bisa dipakai membeli seekor sapi dan penggembalanya. Kemudian pelayan itu datang lagi padaku dan berkata: 'Bertakwalah kepada Allah! Berikan hakku.' Aku jawab: 'Ambillah sapi itu dan penggem balanya. Dia berkata: Bertakwalah kepada Allah dan jangan menghina aku.' Aku berkata: Ambillah sapi itu dan, pengembalanya'. Akhirnya, dia mengambilnya. "Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku mela kukan hal itu karena mengharap ridha-Mu, rnaka keluarkanlah sisa batu mi. Kemudian Allah benar-benar menyingkirkan batu tersebut dari mereka". [47] III. Aku Cukupkan Hartanya Kalimat kafaftu 'alaihi dhai'atahu mempunyai dua kemungkinan arti. Pertama, al-kaff bisa mempunyai arti al-jam' (mengalokasikan) dan adh-dham (menambahkan). Kedua, ber arti al-man' (mencegah), al-daf’ (menolak) atau ash-sharf (me malingkan). Adapun makna wa kafaftu 'alahi dhai 'atahu berdasarkan arti pertama adalah: "Aku akan menghimpun seluruh urusan nya yang bercabang, menyatukan hartanya, menangani per karanya dan menjamin kebutuhan hidupnya." Ibnu Atsir mengatakan dalam kitab Al-Nihâyah tentang arti al-kaff: "Ada kemungkinan kata itu berarti al-jarn' (pengumpulan) sebagaimana dalam hadis berikut ini, 'Orang Muk min adalah saudara Mukmin lainnya. Yang satu akan me ngumpulkan (memenuhi) harta yang lainnya'. Maksudnya ia lah mengumpulkan kebutuhan hidupnya dan mengalokasikan nya untuknya". [48] Adapun arti kedua dari kata al-kaff ialah melarang, me malingkan dan mencegah. Dengan begitu, arti kalimat kaffahu 'anhu fa kaffa, ialah "rnencegahnya, memalingkannya dan me larangnya", sehingga sesuatu dapat tercegah, terpalingkan dan terlarang".
    • Maka, berdasarkan pengertian kedua ini, paragraf hadis itu bermakna "Aku akan mencegahnya dari ketercerai-berai kan, menghalanginya dari kesia-siaan dan kebingungan dan memberikan petunjuk kepadanya yang dapat menerangkan ram burambu jalannya". [49] Dalam kitab Bihârul Anwâr, Allamah Majlisi menjelaskan tentang penafsiran paragraf hadis itu demikian: "Paragraf ha dis ini memuat beberapa kemungkinan arti. Pertama, sebagaimana yang disebutkan dalam An-Ni hâyah . Yaitu, "Pengumpulan harta benda dan sarana kehidupannya." Dalam susunan tersebut terdapat kata kerja yang dimutta'adi-kan atau ditransitifkan dengan 'alâ yang mengan dung arti berkah atau belas kasih atau beberapa arti yang sepadan dengannya. Atau 'alâ di sini mengandung arti ila seba gaimana yang diisyaratkan dalam kitab An-Nihâyah. Kedua, al-kaff mengandung arti al-man' (larangan), sedangkan 'alâ mempunyai arti fî. Dengan demikian, dhai'atahu mempunyai arti adh-dhiyâ' (kesia-siaan) dan hadis itu akan berarti, "Aku akan mencegah kesia-siaan jiwa, harta, upaya dan semua yang berhubungan dengannya. Makna ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Ash-Shadûq: "Aku akan men cegah kesia-siaannya". [50] Dalam kajian ini saya memilih pada pengertian yang kedua. Karena, ia menurut hemat saya lebih mendekati dan sesuai dengan konteks hadis tersebut. Khususnya jika kita mengetahui bahwa Ash-Shadûq ra juga meriwayatkan dengan redaksi berikut, wakafaftu 'anhu dhai'atahu (Aku cegah kesia-siaan darinya). Kalimat ini ditransitifkan dengan kata 'an sebagai ganti dari 'alâ. Sedangkan al-kaff sendiri mempunyai arti ad-daf’ (menolak), al-man' (mencegah) dan ash-sharf (menghalau). Secara linguistik, ad-daf’ berbeda dengan kata ar-raf’ (mengangkat atau mengentaskan). Karena ad-daf’ mempu nyai arti "mencegah sesuatu sebelum kejadian". Sedang ar-raf’ mempunyai arti "menghilangkan sesuatu setelah kejadian". Maka dari, itu ad-daf’ berarti mencegah yang semakna dengan wigayah (menangkal). Sedangkan ar-raf’ mengandung arti al-'ilâj (mengobati). Jadi al-kaff artinya ad-daf’ bukan ar-raf’. Jika demikian halnya, maka artinya Allah SWT mencegah kesia-siaan darinya dan tidak membiarkan hal itu terjadi padanya. Dan ini merupakan suatu hidayah (hidayat atau pe tunjuk). Karena hidayah terbagi menjadi dua. Yaitu, setelah adanya kesesatan dan sebelum adanya kesesatan. Keduanya memang mengacu pada makna petunjuk dan hidayah. Akan tetapi, hidayah yang pertama terjadi setelah manusia sesat dan tersiasiakan. Sedangkan kedua terjadi tanpa didahului kesesatan atau kesia-siaan. Oleh karena itu, hidayah yang kedua ini lebih kuat dari pada yang pertama. Nash itu menggunakann kalimat kaffa dhai'atahu bukan hidayah. Dan kaffa 'an adhdhai'ah adalah hasil dari hidayah. Karena itu, nash tersebut menunjukkan arti "menyampaikan pada tujuan" bukan "pengarahan dan peringatan".
    • Hidayah Mengandung Arti Menyampaikan dan Mengarahkan Hidayah mempunyai dua arti: menyampaikan pada tujuan (îshâl) dan pengarahan (taujîh), peringatan (tadzkîr) dan bukti (dalâlah). Arti yang pertama itu tertera dalam firman Allah: "Sesungguhnya kamu tidak akan memberi hidayah kepa- da orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orangyang dikehendaki-Nya...” Q.S. AlQashash:5-6. Jelasnya bahwa hidayah yang dinafikan/ditiadakan di sini adalah yang berarti "menyampaikan pada tujuan" yaitu hi dayah yang hanya khusus milik Allah SWT sendiri. Adapun hidayah dalam arti "mengarahkan dan memperingatkan" ada lah tugas dan misi Rasulullah SAWW pada manusia. Dan tidak mungkin hidayah ini yang dinahkan oleh ayat tersebut dan dikhususkan sebagai milik Allah semata. Allah SWT berfirman: "... dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi hidayah ke jalan yang lurus." Q.S. As-Syu'ârâ`:52. Dan termasuk dalam pengertian ini juga ialah yang di jelaskan oleh ayat Al-Quran berikut ini yang memuat perkataan orang mukmin. Allah berfirman: "(Orang beriman itu berkata): 'Hai kaumku, ikutlah aku, aku akan menunjukkan jalan yang benar." Q.S. AlMukmin:38. Hidayah ini berarti pengarahan, peringatan dan bukti, bukan penyampaian pada tujuan (îshâl). Adapun arti yang sesuai dengan hadis di atas îshâl (menyampaikan pada tujuan). Karena, hidayah dalam arti yang lain tiduk dapat mencegah kesia-siaan manusia dan menjamin sampainya manusia kepada Allah SWT. Lagi pula, makna inilah yang sesuai denga konteks hadis tersebut. Karena, konteks hadis itu sedang membicarakan keu tamaan-keutamaan yang khusus diberikan Allah kepada orang- orang yang mengutamakan keinginan Allah di atas keinginan mereka sendiri. Dan jelas bahwa perbuatan seperti itu akan menyampaikan seorang pada tujuan. Adapun hidayah dalam arti petunjuk dan pengarahan adalah bagian dari rahmat Allah yang universal (umum) yang mencakup orang mukmin dan non-mukmin. Dengan kata lain, pengarahan dan peringatan tidak hanya dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja atau orang-orang yang mengutama kan keinginan Allah di atas keinginan dirinya saja, tapi juga mencakup orang-orang yang mengutamakan keinginan pribad inya di atas keinginan Allah. Bagaimana Cara Allah Mencegah Kesia-siaan Hamba-Nya Kesia-siaan akan tercegah melalui bashîrah. Derajat ba shîrah yang tinggi akan mencegah kesia-siaan manusia secara pasti. Maka, jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang dan menghendaki untuk mencegahnya dari kesia-siaan, maka Allah akan memberinya bashîrah itu yang juga akan menjamin kese lamatannya menuju Allah.
    • Bashîrah ini tentu berbeda dengan gerak aktif manusia menuju Allah dengan metode logika dan argumentatif. Mes kipun, langkah ini merupakan gerak yang tidak pernah ditolak oleh Islam. Bahkan Islam mendukungnya, menfokuskan pada nya, mengintensifkannya dan sangat menganjurkannya. Justru mayoritas orang bergerak menuju Allah dengan menggunakan sarana akal (rasio) dan logika. Adapun bashîrah ialah ketajaman pandangan (pengli hatan) yang tidak disertai kekaburan dan distorsi sedikitpun. Ketajaman pandangan ini boleh jadi dihasilkan dari gerak rasional dan logika. Namun, ia juga bisa terjadi akibat kesucian dan kejernihan jiwa. Manusia akan sampai pada derajat bashî rah ini melalui salah satu dari dua jalan tadi; ada kalanya dengan aktivitas akal dengan menjernihkan dan menyucikan jiwa. Dalam pandangan Islam, kedua metode itu bersifat saling bergantung atau interdependen. Oleh sebab itu, seseorang yang hendak mendaki tangga kesempurnaan mesti melalui keduanya secara serentak. Yaitu melalui aktivitas intelektual dan pelati han dan penyucian jiwa. Dalam firman berikut ini Allah telah menjelaskan keduanya secara bergandengan: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada me reka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." Q.S. Al-Jumu'ah:2. At-tazkiyah (penyucian) adalah penjernihan, pembersihan dan pelatihan jiwa (nafsu). Hal ini adalah pintu yang luas di antar pintu-pintu makrifat Ilahi dalam kehidupan manusia. Sedangkan at-ta'lîm (pengajaran) adalah pintu lainnya. Alhasil, baik bashîrah itu merupakan buah dari aktivitas akal atau penyucian dan pelatihan jiwa (nafsu), adalah jelas bahwa Allahlah sumber segala bashîrah dalam kehidupan ma nusia. Bashîrah tidak bakal ditemukan selain pada Allah dan tidak akan datang kecuali dari-Nya. Tazkiyah dan ta'lîm ialah dua pintu dan saluran bashîrah manusia. Bashîrah dan Perbuatan Perlu kami jelaskan kembali bahwa Islam menetapkan bahwa ilmu dan tazkiyah atau akal dan penjernihan jiwa saling bergantung untuk merealisasikan bashîrah. Meski demikian, peran faktor tazkiyah lebih efektif dan tepat dalam merealisasi kan bashîrah. Mungkin, karenanya Alquran mendahulukan menyebut kata tazkiyah daripada ilmu dalam ayat itu. Allah SWT berfirman: "... mensucikan mereka dan mengajarkan ke pada mereka AlKitab dan Al-Hikmah..." Q.S. Al-Jumu'ah:2. Pada titik ini, sepatutnya sejenak kita merenungkan kalimat at-tazkiyah ini agar kita bisa menemukan bagaimana sebenarnya tazkiyah (penyucian) dapat terwujud? Dalam mazhab-mazhab monastis, tazkiyah terwujud me lalui pengisolasian diri, khalwat dan pelarian dari kenyataan hidup. Dengan ini, penempuh tazkiyah dapat "menjauhi" hawa nafsu, syahwat dan htnah. Lain halnya dengan metode yang digunakan Islam. Islam
    • tidak memerintahkan penempuh dan pencari kesucian diri untuk melarikan diri dari htnah atau mematikan hawa nafsu, alih-alih demikian Islam malah me nganjurkan mereka untuk menghadapi berbagai htnah dan mengendalikan dan membimbmg hawa nafsu dan syahwat. Metode pendidikan ini, berpegang pada tindakan dan amal sebagai dasar tazkiyah bukan pengisoliran diri, monastisisme, depresi atau pengebirian. Jadi amal akan berubah menjadi bashîrah. Sebaliknya, bashîrah juga akan berubah menjadi amal. Kemudian apakah yang dimaksud dengan amal ini? Apa pula maksud bashîrah itu? Dan apa hubungan antara keduanya? Hubungan antara Bashîrah dan Amal Kita telah membahas bashîrah secara global. Sementara amal yang kita maksud di sini adalah seluruh upaya yang bertujuan dan dilakukan oleh manusia demi mendapat kerid haan Allah. Amal ini mempunyai dua aspek. 1. Aspek gerak positif dengan sasaran ketaatan kepada perintah-perintah Allah SWT. 2. Aspek pencegahan negatif jiwa dari segala perbuatan yang dilarang Allah. Kalau demikian, komponen-komponen amal ialah upaya dan tujuan -keridhaan Allah-. Sedang ia terdiri dari dua aspek; gerak (positif) dan al-kaff (pencegahan negatif). Sedangkan korelasi antara amal dan bashîrah bersifat interaktif-dialektis. Sebab, bashîrah adalah sumber amal baik dan amal baik adalah sumber bashîrah. Maka hubungan interaktif antara bashîrah dan amal ini dengan sendirinya meng hasilkan peningkatan amal dan bashîrah secara sinkron. Sesungguhnya amal baik akan menghasilkan intensitas (peningkatan) bashîrah. Sedang bertambahnya bashîrah meng hasilkan pada peningkatan amal baik. Demikianlah amal dan bashîrah saling mengisi terus. Sampai subyeknya mencapai puncak tertinggi dalam amal baik dan bashîrah. Marilah kita renungkan hubungan interaktif antara ba shîrah dan amal ini. Bagian Pertama: Bashîrah adalah Sumber Amal Baik Amal baik adalah buah bashîrah. Karena, bashîrah yang tajam (bisa menerawang) dan intens pasti akan mengantarkan kepada amal baik dan tidak akan terpisah darinya. Sebaliknya, kekurangan dan keteledoran manusia dalam beramal adalah akibat dari kelemahan dan kekurangan bashîrah. Banyak sekali nash keislaman yang mendukung penger tian di atas. Di bawah ini saya akan sebutkan beberapa di antara.
    • Rasulullah SAWW bersabda Jibril berkata: "Orang yang mempunyai keyakman akan beramal untuk Allah seakan-akan nielihat-Nya. Kalaupun dia tidak melihat-Nya, maka pasti Al lah melihatnya". [51] Imam Ali as berkata: "Keyakinan bisa dibuktikan dengan sedikitnya angan-angan, ikhlasnya amal perbuatan dan zuhud pada dunia". [52] Imam Ali as berkata: "Ketakwaan adalah buah agama dan tengara keyakinan." [53] Imam Ali as berkata: "Barang siapa yang mempunyai keyakinan, pasti akan beramal dengan penuh kesungguhan." [54] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Sesungguhnya amal sedi kit yang langgeng dan didasari keyakinan lebih utama di sisi Allah daripada amal banyak yang tidak didasari keyakinan”. [55] Imam Ash-Shâdiq as berkata: "Tiada amal tanpa keya kinan. Dan tiada keyakinan tanpa kekhusyukan." [56] Ash-Shâdiq as juga pernah berkata: "Orang yang beramal tanpa bashîrah sama seperti orang yang berjalan menuju fatamorgana. Percepatan langkahnya tidak akan menambah kecuali kejauhan (dari tujuan)." [57] Ash-Shâdiq as berkata: "Tidak akan diterima amal ke cuali dengan makrifat dan makrifat kecuali dengan amal. Ba rangsiapa mempunyai makrifat, maka dia akan ditunjukkan olehnya kepada amal (baik)". [58] Imam As-Shâdiq as: "Kalian tidak akan menjadi orang- orang saleh hingga kalian mengetahui. Dan kalian tidak akan mengetahui hingga kalian mempercayai (tashdîq). Dan kalian tidak akan percaya hingga menyerahkan diri (Islam)." [59] Karena, kepercayaan akan berkonsekuensi pada makrifat atau pengetahuan dan makrifat akan berkonsekuensi pada amal baik. Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata: "Tiada amal yang diterima kecuali dengan makrifat dan tiada makrifat kecuali dengan amal. Barang siapa mengetahui (bermakrifat), maka pengetahuannya akan menunjukkannya pada amal dan barang siapa tidak mengetahui, maka dia tidak akan bera mal”. [60] Bagian Kedua: Amal Baik adalah Sumber Bashîrah Sebagaimana bagian pertama dari korelasi ini (bashîrah adalah sumber amal baik) bisa dibenarkan, bergitu pula de ngan bagian kedua ini yaitu bahwa amal baik adalah sumber. Bentuk hubungan interaktif antara dua hal ini sering kita temukan dalam berbagai bidang studi keislaman.
    • Alquran menekankan hubungan bashîrah dengan amal dan peran amal saleh dalam membentuk bashîrah dan mempersiapkan manusia menerima bashîrah dari Allah. Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami. benar-benar akan Kami tun jukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." Q.S. Al-‘Ankabât:69. Ayat mulia dengan tegas menunjukkan bahwa jihad -salah satu mishdâq (ekstensi) palingjelas bagi amal baik- sebagai sebab dimungkinkannya manusia menerima hidayah dari Allah. Allah berfirman: "Benar-benar akan Kami tunjukkan ke pada merekajalan-jalan Kami..." Dalam sebuah hadis Qudsi, Rasulullah SAWW bersabda: "Senantiasa hamba-Ku melakukan nahlah (ibadah sunnah) semata-semata untuk-Ku sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran (telinga) yang ia pakai mendengar; penglihatan yang ia pakai melihat; dan tangan yang ia pakai memukul". [61] Hadis ini cukup populer di kalangan ahli hadis dan diriwayatkan oleh para tsiqah (orangorang yang terpercaya) dan para pakar hadis. Di samping hadis ini adalah hadis Qudsi. Meskipun diriwayatkan dari berbagai jalur (rawi) yang berbeda, tapi redaksi hampir sama. Riwayat hadis ini sahih dan mempunyai arti yang cukup gamblang bahwa ibadah adalah salah-satu pintu makrifat dan keyakinan. Seorang hamba akan senantiasa melakukan ibadah nafilah sampai Allah menganugrahkan rizki bashîrah kepa danya. Dengan begitu, dia akan melihat dengan Allah, mendengar dengan Allah dan sadar dengan Allah. Dan barangsiapa yang melihat, mendengar dan mengetahui dengan Allah, maka dia tidak akan pernah berbuat salah. Sudut Negatif Apabila hukum di atas bernilai benar dalam kedua bagian dan sisinya. Yaitu kedua bagian dan sisi hubungan amal dengan bashîrah dan bashîrah dengan amal. Jika demikian halnya, maka hukum yang ini juga akan bernilai benar sebagai sisi negatifnya. Amal jelek (fasad) dapat menyebabkan kerabunan bashî rah , kebutaan dan ketulian. Sebaliknya, dari sisi yang berlawanan, kebutaan, ketulian dan kerabunan bashîrah dapat menyebabkan amal jelek, kefasadan, dosa, kemaksiatan dan kezaliman. Berikut ini, saya akan memaparkan nash-nash keislaman yang menjelaskan sudut negatif dari hukum ini dalam kedua bagian dan sisinya. Rusaknya Amal Menyebabkan Hilangnya Bashîrah
    • Inilah sisi pertama bagi sudut negatif ini. Tak terbilang banyaknya nash keislaman yang menegaskan konsep di atas. Dalam banyak ayatnya Alquran mendukung konsep ini. Allah berfirman: "Maka pernakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu dan Allah telah me ngunci mati pendengaran dan meletakkan tutupan atas pengli hatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" Q.S. Al-Jâtsiah:23. Orang-orang yang menjadikan tuhan selain Allah; me nyembahnya dan menyekutukannya dengan Allah, maka Allah akan mencabut bashîrah mereka dan mengunci rapat telinga- telinga dan hati-hati mereka. Setelah itu, Allah tutup pengli hatan mereka. Dan jika Allah telah mencabut bashîrah seorang hamba, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk? Allah SWT berfirman: "...seperti demikianlah Allah me nyesatkan orang-orang kafir" Q.S. Al-Mukmin:74. Ayat ini adalah ungkapan yang global tentang ayat sebelumnya. Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: "... de mikianlah Allah menyesatkan orangorang yang berlebihan dan ragu-ragu." Q.S. Al-Mukmin 34. Isrâf (berlebih-lebihan) akan menyeret manusia pada kesesatan. Allah SWT berfirman: "... dan tidak adayang disesatkan oleh Allah kecuali orang-orang yang fasik." Q.S. Al-Baqarah 26. Allah berfirman: " ... dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim..." Q.S. Ibrahim:27. Jadi, kefasikan dan kezaliman sama-sama dapat menye babkan kesesatan, sedangkan kesesatan merupakan buah dari kefasikan dan kezaliman. Allah berfirman: "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati me reka..." Q.S. Al-Muthaffifîn:14. Maka berbagai dosa dan maksiatyangdilakukan manusia akan bersenyawa dan kemudian menjadi karatyangbisa menu tupi hatinya dari Allah SWT dan dari kebenaran. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mem beri petunjuk kepada orangorang yang zalim." Q.S. Al-Qashash:5. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mem beri petunjuk pada orang-orang yang kafir..." Q.S. Al-Munâfiqûn:6. Allah befirman: "Sesungguhnya Allah tidak memberi pe tunjuk pada orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.." Q.S. Az-Zumar:3.
    • Rasulullah SAWW bersabda: "Sekiranya omongan kalian (dalam kebatilan) tidak banyak dan hati-hati kalian tidak "bercampur", niscaya kalian akan melihat apa yang aku lihat dan mendengar apa yang aku dengar". [62] Imam Ali as berkata: "Mana mungkin hidayah turun kepada orang yang dikuasai hawa nafsunya ". [63] Imam Ali as berkata: "Sungguh jika kalian telah diper intah (dikuasai) hawa nafsu, maka ia (hawa nafsu) akan mem butakan, memalingkan dan menghinakan kalian". [64] Jadi, memperbanyak omong dalam kebatilan dan men campur-aduk kebatilan dengan kebenaran dalam hati akan membutakan penglihatan dan menulikan pendengaran. Abu Ja'far Al-Bâqir as berkata: "Dalam hati seluruh hamba terdapat titik putih. Jika dla berbuat dosa, rnaka keluar dari titik putih tersebut titik hitam. Tetapi, jika dia bertaubat, hilanglah titik hitam tersebut. Dan bilamana dia terus-menerus melakukan dosa, maka titik hitamnya semakm bertambah hi ngga menutupi seluruh titik putihnya. Kemudian apabila (titik-titik hitam) sudah menutupi seluruh titik putihnya, maka dia tidak akan mungkin kembali melakukan kebaikan untuk se lama-lamanya. Allah berfirman: ".. Sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu mengaratkan hati mereka”. Q.S. AlMuthaffifîn. [65] Noda hitam yang menutup hati sampai benar-benar ter kunci rapat adalah sesuatu yang juga mencabut bashîrah ma nusia. Di lain pihak, kejadian itu sendiri merupakan penjel maan hilangnya bashîrah pada jiwa manusia karena dosa dan maksiat yang telah dilakukannya. Imam Al-Bâqir as berkata: "Tidaklah ada sesuatu yang lebih merusakkan hati daripada kesalahan. Karena, kesalahan itu senantiasa bersamanya hingga mampu menguasai hati ter sebut. Kemudian, ia merubah yang di bawah menjadi di atas dan yang di atas menjadi di bawah". Rasulullah SAWW pernah bersabda: "Bila seorang mukmin berbuat dosa, maka terdapat noda hitam di dalam hatinya. Kemudianjika ia bertaubat dan meninggalkannya serta beristigfar, rnaka hatinya akan me ngkilat kembali. Danjika dia menambah dosanya, maka akan bertambah pula noda hitam itu. Dan demikian itulah yang disebut dengan rayn (karat) sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam KitabNya". [66] Imam Ali as berkata: "Jika kalian tunduk patuh pada hawa nafsu, maka ia akan membutakan dan menulikanmu". [67] Hilangnya Bashîrah akan Melahirkan Keburukan Amal Sebagaimana hukum negatif dalam sisi ini bernilai benar, maka begitu pula sisi lainnya, yaitu munculnya kemaksiatan dan kerusakan akibat dari adanya kesesatan dan kebutaan. Kemudian, kebutaan, kesesatan, kebodohan dan ketiadaan ba shîrah akan mengakibatkan amal jelek, kesengsaraan, kezaliman dan sikap ekstrem (isrâf).
    • Allah SWT berfirman: "Mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat." Q.S. Al-Mukmin:106. Imam Ali as berkata: "Tiada wara' yang disertai kesesa tan”. [68] Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Imam Ali menulis demikian: "Seorang yang tidak memiliki penglihatan yang bisa menunjukinya dan pe mimpin yang bisa membimbingnya, hawa nafsu mengajaknya lalu dia memenuhinya dan kesesatan menuntunnya lalu dia mengikutinya, maka dia bersikap serampangan dan bertindak sesat". [69] Imam Ali as berkata: "Barang siapayang tersesat, maka kebaikan dia anggap jelek dan kejelekan dia anggap baik. Dia akan mabuk seperti kemabukan (orang-orang) sesat ". Hubungan Interaktif antara Bashîrah dan Amal Secara Positif dan Negatif Jelas bahwa antara bashîrah dan amal ada hubungan yang padu, intens dan interaktif. Baik secara positif maupun negatif. Untuk memperjelas persoalan ini, perhatikan di bawah ini: 1. Bashîrah menyebabkan amal baik atau saleh. 2. Amal baik menyebabkan bashîrah dan hidayah. 3. Kesesatan dan hilangnya bashîrah menyebabkan ke zaliman, kekejian, amal jelek, maksiat, dan dosa. 4. Amal-amal jelek, kezaliman dan fujur (kedurjaan) me nyebabkan kebutaan dan hilangnya bashîrah. Akhirul Kalam Kesimpulan akhir yang bisa dipetik setelah menelusuri kajian tentang penafsiran paragraf hadis qudsi kafaftu 'alaihi dhai'atahu (Aku cegah kesia-siaan darinya) ialah bahwa ma nusia bilamana menentang hawa nafsunya dan mengutama kan kehendak Allah SWT dan keridhaan-Nya, maka Allah akan menganugrahi nur dan bashîrah serta hidayah. Kemudian Allah akan menuntunnya menelusuri lika liku dan gelap gulita perjalanan. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman (kepada rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah ke pada Rasulullah-Nya niscaya Allah memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahayayang dengannya kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyavang." Q.S. Al-An fâl:29.
    • Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampunimu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." Q.S. Al-Anfâl:29. Dan Allah SWT berfirman: "...Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarimu, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu" Q.S.Al-Baqarah:282. Imam Ali as berkata: "Orang yang melekatkan ketak waan dalam hatinya akan diberi hidayah". [70] Imam Ali as berkata: "Orang yang menyandang pakaian agama akan diberi hidayah...” [71] Imam Ali as berkata: "Barang siapa menanam pohon ketakwaan, maka dia akan menuai buah hidayah". [72] Walhamdulillah robbil 'âlamîn. [1] Bihârul Anwâr , 70:75. [2] Bihârul Anwâr , 70:77. [3] Bihârul Anwâr , 70:78. [4] Bihârul Anwâr , 70:79. [5] Nahjul Balâghah , 108. [6] Nahjul Balâghah , 16. [7] Tuhaful ‘Uqûl :47. [8] Bihârul Anwâr , 72:68. [9] Ghurarul Hikam , 1:62. [10] Nahjul Balâghah , 1200. [11] Safînatul Bihâr , 2:87 dan Al-Hayâh 3:342. [12] Tuhaful ‘Uqûl : 208. [13] Bihârul Anwâr , 78:368. [14] Bihârul Anwâr , 78:14. [15] Al-Khishâl , karya Ash-Shadûq, 1:64.
    • [16] Bihârul Anwâr , 78:22 dan 10. [17] Nahjul Balâghah , 1128. [18] Nahjul Balâghah , Khutbah ke-193. [19] Makârimul Akhlâq , 533. [20] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:91-92. [21] Tuhaful ‘Uqûl , 26. [22] Al-Kâfî , 2:85. [23] Tuhaful ‘Uqûl , 30. [24] Tuhaful ‘Uqûl , 208. [25] Wasâ`il Asy-Syi'ah , 11:191. [26] Uddatud Dâ’î , karya Ibnu Fahad Al-Hillî. [27] Tuhaful ‘Uqûl , 142. [28] Nahjul Balâghah , 38. [29] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:47. [30] Tuhaful ‘Uqûl , 286. [31] Al-Kâfî , 2:316. [32] Al-Kâfî , 8:23. [33] Nahjul Balâghah , 9342. [34] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:345. [35] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:351. [36] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:82. [37] Bihârul Anwâr , 5:42. [38] Bihârul Anwâr , 5:209-210. [39] Al-Kâfî , 5:73. [40] Al-Kâfî , 6:303.
    • [41] Al-Kâfî , 5:73. [42] Bihârul Anwâr , 70:285. [43] Nahjul Balâghah , 130. [44] Nahjul Balâghah , 198. [45] Bihârul Anwâr , 70:285. [46] Furû'ul Kâfî , : 8:52. [47] Shahih Bukhari , Kitah Al-Adab, Bab Terkabulnya doa orang yang berhuat baik pada kedua orang tuanya, 5:40, cet. Mesir, 1286 H.; Fathul Bârî, karya Al-Asqalani, 10:338; Syarah Qasthalânî, 9:5; Shahih Muslim, Kitah Al-Riqâq, Bab Tiga orang yang mendiami Gua dan tawasul dengan perhuatan shaleh, 8:89, cet. Dârul Fikr; Syarah Al-Nawawî, 10:321; Dzammul Hawâ, karya Ibnu Jauzi 246. [48] An- Nihâyah , karya Ibnu Al-Atsir, 4:90. [49] Aqrabul Mawârid , 2: 1093. [50] Bihârul Anwâr , 70:80-81. [51] Bihârul Anwâr , 77:21. [52] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:376. [53] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:85. [54] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:166. [55] Al-Kâfî , 2:57. [56] Tuhaful ‘Uqûl , 233. [57] Wasâ`il Asy-Syi'ah , 18:122, hadis ke-36. [58] Al-Kâfî , 1:44. [59] Bihârul Anwâr , 69:10. [60] Tuhaful ‘Uqûl , 215. [61] Ushûlul Kâfî, 2:352. [62] Al-Mîzân, 5:292. [63] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:94. [64] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 1:264.
    • [65] Ats-Tsaqalain, 5:531. [66] Ats-Tsaqalain, 5:531. [67] Ghurarul Hikam , karya Al-Âmudî, 2:345. [68] Nahjul Balâghah, Kitab ke-7. [69] Nahjul Balâghah, 31. [70] Ghurarul Hikam, 2:311. [71] Ghurarul Hikam, 2:311. [72] Ghurarul Hikam, 2:245.