Paper Sosling Nina

Loading...

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

0 comments

Post a comment

    Post a comment
    Embed Video
    Edit your comment Cancel

    3 Favorites

    Paper Sosling Nina - Presentation Transcript

    1. I. Latar Belakang Hidup di dalam masyarakat dwibahasa (atau multibahasa) membuat orang Indonesia mampu berbicara dalam setidaknya dua bahasa. Mereka dapat menggunakan paling tidak bahasa daerahnya (yang biasanya merupakan bahasa ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Karena pengaruh globalisasi dan masuknya budaya asing, saat ini bahkan banyak sekali orang yang mampu berkomunikasi dengan lebih dari bahasa satu bahasa asing. Penguasaan beberapa bahasa mendorong orang-orang menggunakan berbagai bahasa tersebut dalam situasi dan tujuan yang berbeda. Karena inilah fenomena alih kode (code switching) dan campur kode (code mixing) tidak dapat dihindari. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Umar dan Napitupulu (1994:13), bahwa alih kode merupakan aspek ketergantungan bahasa dalam suatu masyarakat dwibahasa. Hampir tidak mungkin bagi seorang penutur dalam masyarakat dwibahasa untuk menggunakan satu bahasa saja tanpa terpengaruh bahasa lain yang sebenarnya memang sudah ada dalam diri penutur itu, meskipun hanya sejumlah kosa kata saja. Alih kode dan campur kode dapat terjadi di berbagai situasi dan tempat. Dalam hal ini penulis tertarik untuk meneliti fenomena alih kode dan campur kode yang muncul pada mailing list (atau biasa disebut milis) Sem[b]arangan milik komunitas blogger Loenpia.net Semarang. Dalam milis tersebut para anggotanya sering melakukan alih kode maupun campur kode (biasanya dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris). II. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Menunjukkan jenis alih kode dan campur kode yang muncul dalam milis Sem[b]arangan. 2. Menjelaskan faktor yang memengaruhi munculnya alih kode dan campur kode dalam milis Sem[b]arangan. III. Data Data diperoleh melalui metode simak libat cakap, di mana peneliti juga berpartisipasi secara langsung dalam pembicaraan (Sudaryanto, 1993:133). Data yang akan dianalisis dalam tulisan ini berupa wacana yang bersumber dari kumpulan 1 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    2. email dari milis Sem[b]arangan. Setiap kalimat (atau tuturan) dalam data diurutkan dengan penomoran untuk memudahkan analisis, misalnya sebagai berikut: Pepeng: makanya jangan iseng mas..!!!! [D4] jadi deh ke nge-hide...!!!! [D5] aku bukan juragan multiply.....daftar multiply cuman buat nyedot musik..*bener omongannya the puput* [D6] Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode padan pragmatis (Sudaryanto, 1993:25), di mana peristiwa alih kode dan campur kode dianalisis dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain di luar bahasa tersebut, seperti faktor sosial. IV. Landasan Teori Alih kode dan campur kode merupakan hal yang dibahas dalam sosiolinguistik. Sosiolinguistik mempelajari bahasa dengan mempertimbangkan hubungan antara bahasa dan masyarakat penutur bahasa tersebut (Rahardi, 2001:12- 13). Orang-orang akan akan berkomunikasi menggunakan bahasa atau kode tertentu berdasarkan siapa yang mereka ajak bicara dan dalam situasi yang seperti apa serta tujuan apa yang ingin mereka peroleh melalui penggunaan kode tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fishman, “who speaks (or write) what language (or what language variety), to whom and when, and to what end?” (dalam Wardaugh, 1986:16). Selain itu, pemilihan kode yang sesuai untuk situasi tertentu juga dipengaruhi oleh komponen tutur yang disingkat sebagai SPEAKING, yang diungkapkan oleh Dell Hymes (dalam Fasold, 1990:44-46). Komponen tutur ini terdiri atas Situation (tempat dan waktu terjadinya tuturan), Participants (peserta tutur), Ends (tujuan), Act sequences (pokok tuturan), Keys (nada tutur), Instrumentalities (sarana tutur), Norms (norma tutur), dan Genre (kategori kebahasaan yang sedang dituturkan). Alih kode dan campur kode merupakan salah satu akibat adanya kontak bahasa. Kontak bahasa terjadi ketika dua bahasa atau lebih digunakan oleh penutur yang sama (Suwito dalam Rahardi, 2001:17). Kontak bahasa ini akan memengaruhi salah satu bahasa yang digunakan penutur, dan hal ini terlihat dari adanya beberapa leksikon pinjaman dari salah satu bahasa tersebut. A. Kode, Alih Kode, dan Campur Kode Menurut Rahardi (2001:21-22), kode adalah suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang 2 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    3. penutur, relasi penutur dengan lawan bicara, dan situasi tutur yang ada. Sementara Sumarsono dan Pertana (2002:201) mengatakan bahwa kode merupakan bentuk netral yang mengacu pada bahasa, dialek, sosiolek, atau variasi bahasa. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Tanner (dalam Pride & Holmes ed., 1972:126) bahwa kode mencakup bahasa dan perbedaan intrabahasa yang disebut variasi (tingkat tutur, dialek, dan ragam). Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kode mencakup bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan variasi bahasa tersebut, termasuk dialek, tingkat tutur, dan ragam. Dengan kata lain, kode adalah sistem yang digunakan seseorang untuk berkomunikasi dengan mitra tuturnya. § Alih Kode Rahardi (2001:21) mengatakan bahwa alih kode adalah penggunaan altenatif dari dua variasi atau lebih dari bahasa yang sama atau dalam suatu masyarakat dwibahasa. Sementara itu, Crystal (dalam Skiba, 1997 hal. 2) mengatakan bahwa peralihan kode atau bahasa terjadi ketika seorang dwibahasawan saling bergantian menggunakan dua bahasa selama dia berbicara dengan dwibahasawan lain. Chaer dan Agustina (1995:141) menambahkan bahwa alih kode adalah ”peristiwa pergantian bahasa…atau berubahnya dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau juga ragam resmi ke ragam santai....” Jadi dalam alih kode, pemakaian dua bahasa atau lebih ditandai oleh kenyataan bahwa masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya, dan fungsi masing-masing bahasa itu disesuaikan dengan relevan dengan perubahan konteksnya. Berikut ini adalah contoh percakapan di mana para pembicaranya melakukan alih kode (dikutip dari http://www.apfi-pppsi.com/alihkode.html): A: Yanis, tu veux du \"gado-gado\"? (1) B: Mais oui, je veux aussi du \"es dawet\". (2) Quand on travaille dur, on a toujours faim. (3) A: Pak Mar, tolong pesen gado-gado kalih, es dawet kalih. (4) C: Inggih, inggih. (5) Pada percakapan di atas, terlihat bahwa bahasa yang mula-mula digunakan adalah bahasa Prancis (kalimat 1, 2, dan 3). Bahasa yang kemudian digunakan adalah bahasa Jawa dengan tingkat tutur tinggi (kalimat 4 dan 5). Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam santai atau nonformal. A beralih 3 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    4. kode menggunakan bahasa Jawa (4) karena dia mengetahui bahwa C tidak bisa berbahasa Prancis dan bermaksud lebih akrab dibandingkan jika dia menggunakan bahasa Jawa (5) dengan tingkat tutur tinggi untuk mengimbangi perintah A yang menggunakan tingkat tutur tinggi. § Campur Kode Campur kode berarti pergantian kode dalam sebuah tuturan tanpa adanya pergantian topik. Campur kode terjadi jika orang menggunakan sebagian kecil unit (kata atau frase pendek) dari satu bahasa ke bahasa lain. campur kode sering kali dilakukan tanpa tujuan dan biasanya dalam tingkat kata (http://www.ctlwmp.cityu.edu.hk/lingintro/english/lang-soc/code-e.htm). Lebih lanjut, jika dalam alih kode setiap bahasa atau ragam bahasa memiliki fungsi otonomi masing-masing, dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya, sedangkan kode-kode yang lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanya berupa serpihan-serpihan saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode Chaer and Agustina (1995:151). Pembicaraan yang mengandung campur kode dapat dilihat pada contoh berikut ini (dikutip dari http://www.apfi-pppsi.com/alihkode.html): A: Awas. Hati-hati! Dalam meng-cover berita itu terutama headline, kamu harus correct, balance, jernih, lugas. Jangan memihak, jangan memvonis. Hal ini penting, jangan terjadi trial by the press. Pembicara A memberi peringatan dan pengarahan kepada staf wartawan melalui telepon dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur dengan kata-kata dalam bahasa Inggris seperti cover, headline, correct, dan trial by the press. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa persamaan antara alih kode dan campur kode adalah digunakannya dua bahasa atau lebih, atau dua varian dari sebuah bahasa dalam suatu masyarakat tutur. Perbedaannya, dalam alih kode setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakan itu masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan dengan sengaja dengan sebab-sebab tertentu (fungsional). Sedangkan dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi keotonomiannya, sedangkan kode yang lain hanya berupa serpihan saja. 4 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    5. B. Jenis Alih Kode Alih kode dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Wardaugh (1986:102-103) dan Hudson (1996:52-53) menjelaskan dua jenis alih kode, metaforis dan situasional, sedangkan Hymes (dalam Rahardi, 2001:20) menyebutkan alih kode internal dan eksternal. 1. Metaforis Alih kode metaforis terjadi jika ada pergantian topik (Wardaugh, 1986:103). Alih kode ini memiliki dimensi afektif, yaitu kode berubah ketika situasinya berubah, misalnya formal ke informal, resmi ke pribadi, maupun situasi serius ke situasi yang penuh canda. 2. Situasional Alih kode ini terjadi berdasarkan situasi di mana para penutur menyadari bahwa mereka berbicara dalam bahasa tertentu dalam suatu situasi dan bahasa lain dalam situasi yang lain (Wardaugh, 1986:102-103). Tidak ada perubahan topik dalam alih kode situasional. Sebagai tambahan, menurut Hudson (1996:52), dalam alih kode situasional pergantian ini selalu bertepatan dengan perubahan dari suatu situasi eksternal (misalnya berbicara dengan anggota keluarga) ke situasi eksternal lainnya (misalnya berbicara dengan tetangga). 3. Internal Alih kode internal adalah alih kode yang terjadi yang terjadi antarbahasa daerah dalam suatu bahasa nasional, antardialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam suatu dialek (Hymes dalam Rahardi, 2001:20). 4. Eksternal Alih kode eksternal terjadi ketika penutur beralih dari bahasa asalnya ke bahasa asing (Hymes dalam Rahardi, 2001:20), misalnya dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau sebaliknya. C. Hal-hal yang Memengaruhi Alih Kode Ada beberapa hal yang memengaruhi terjadinya alih kode. Menurut Crystal (dalam Skiba, 1997:p 3-4), peralihan bahasa satu ke bahasa lain dapat dikarenakan oleh hal berikut ini: 5 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    6. 1. Penutur tidak dapat mengungkapkan sesuatu dalam bahasanya sehingga beralih ke bahasa lain. 2. Penutur ingin mengungkapkan solidaritas dengan kelompok sosial tertentu. 3. Penutur ingin mengekspresikan sikapnya kepada mitra tutur. Senada dengan hal di atas, Wardaugh (1986:102) mengatakan bahwa seorang penutur beralih dari variasi X ke variasi Y karena adanya solidaritas dengan pendengarnya, pemilihan topik, dan jarak sosial. Adapun Chaer dan Agustina (1995:143) menyimpulkan bahwa penyebab alih kode antara lain penutur, mitra tutur, perubahan situasi karena adanya orang ketiga, perubahan dari situasi formal ke informal, dan topik yang dibicarakan. Dari berbagai pendapat tersebut,dapat disimpulkan bahwa munculnya alih kode dapat dipengaruhi oleh para partisipan pembicaraan, perubahan situasi, perubahan topik, dan solidaritas. V. Analisis Data Para anggota milis Sem[b]arangan terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang sosial. Para anggota juga menguasai bahasa yang beragam pula, tetapi mereka minimal bisa menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, dan beberapa di antaranya menguasai bahasa asing lain seperti bahasa Inggris, Jepang, maupun Arab. Dari data yang ada, alih kode dan campur kode yang terjadi pada milis Sem[b]arangan dapat dijelaskan sebagai berikut. A. Alih Kode 1. Alih kode internal Alih kode internal ditandai dengan adanya pergantian penggunaan bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa dan/atau sebaliknya. Analisisnya diambilkan dari data berikut: Fian: MP? wes rodo lali [D8]. Klik aja ini mas...., semoga membantu ;-) [D9] Dari data [D8] di atas, dapat dilihat bahwa penutur menggunakan bahasa Jawa. Kemudian ia beralih menggunakan bahasa Indonesia (data [D9]). Penutur menggunakan bahasa Indonesia untuk kembali ke topik yang dibicarakan, yaitu mengenai cara mengatur tampilan pada situs Multiply. 6 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    7. 2. Alih kode eksternal Alih kode eksternal terjadi ketika penutur berganti bahasa antara bahasa lokal ke bahasa asing. Alih kode ini banyak muncul ketika para anggota beralih dari bahasa Indonesia atau Jawa ke bahasa Inggris, atau sebaliknya. Berikut adalah contoh datanya (dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris): Penutur (Nina) semula menggunakan bahasa bahasa Jawa (pada data [D69] “lha wis mesti cose karo lowo ki nek ceting njaluk basa inggrisan je...”), namun kemudian ia beralih ke bahasa Inggris untuk menanggapi mitra bicaranya (Nining) karena ia menggunakan bahasa Inggris: Nining: like this dik,.. what nina meant was the conversation skills,.. because nowadays when u are in a job interview, ull be interviewed in english...[D88] sometimes grammar isnt important, what really important is that u understand what they (native speaker) are talking about, and they can understand what u are talking about... in english ofcourse.... [D89] Nina: yep...nining is right...i wrote this thread because lowo wants to practice speaking (orally), not just typing or listening or watching english movies and all that...i should have saved my chat history with lowo and pasted it here...haha... [D90] 3. Alih kode metaforis Alih kode metaforis terjadi karena adanya pergantian topik. Alih kode jenis ini juga memiliki dimensi afektif, yaitu kode dapat berganti jika situasinya didefinisikan kembali. Alih kode metaforis yang muncul dalam milis Sem[b]arangan dapat dilihat pada data berikut: Wahyudi: na'am.... thoyib.. thoyib... [D128] kenapa kau ga pulang ..pulang ...anakmu ... anakmu ...loh .. kok malah nyanyi sih ??? [D129] Lowo will arrive soon ..... [D130] Pada data di atas, alih kode metaforis terjadi karena penutur mendefinisikan ulang situasi dari suasana humor menjadi serius. Dari menggunakan bahasa Arab [D128], penutur kemudian bercanda dan beralih ke bahasa Indonesia melalui lirik lagu [D129], kemudian ia kembali ke topik pembicaraan semula dan menggunakan bahasa Inggris [D130]. 4. Alih kode situasional Alih kode situasional terjadi ketika para penutur menyadari bahwa mereka berbicara dalam bahasa tertentu dalam suatu situasi dan bahasa lain 7 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    8. dalam situasi yang lain. Dalam email perkenalan, peringatan, pengumuman, dan diskusi yang penting biasanya bahasa Indonesia, walaupun bukan ragam resmi, akan digunakan. Misalnya pada diskusi tentang penggunaan situs Web Multiply.com pada data berikut: Kiyat Kiyute ™: Om Kamtib, mungkin ini berkaitan dengan pengaturan milis, coba di bagian pengaturan, di bagian akses, di pilih hanya anggota yang bisa melihat. [D33] B. Campur Kode Campur kode banyak digunakan para anggota milis. Mereka sering kali menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, atau Inggris. Percampuran kode ini biasanya disebabkan adanya register tertentu, terutama yang berkaitan dengan dunia teknologi dan Internet yang kebanyakan dalam bahasa Inggris, dan belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau karena kata-kata tersebut sudah dianggap familiar di kalangan pengguna komputer maupun blogger. Berikut adalah data yang mengandung campur kode: Campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Inggris: Fany: Nah buat jadi anggota milis saja kan tinggal subscribe udah ostosmastis bisa baca, kecuali kl mo diperketat hanya yg sudah diapprove saja yg bisa. [D36] Dulu ada wacana gitu tapi banyak yg gak setuju katanya suka2 dia aja mo kenalan apa gak. [D37]. Menurutku itu dia subscribe email yang digest, lalu auto post ke blog. [D38] So salah satu cara ya semua email digest tak 'paksa' set no email saja. [D39] Pada data di atas, campur kode muncul karena kata-kata dalam bahasa Inggris (bergaris bawah) tersebut adalah register yang biasa digunakan dalam dunia Internet. Campur kode bahasa Indonesia dan bahasa Jawa: Kholix: wah pengen neh bisa boso walondo..tetapi ga pernah katam je nin...dan juga lidahku nih faseh banget jowonee....hayoo pye kui [D72] Dalam data di atas, penutur menggunakan bahasa Jawa ngoko karena merasa sudah familiar dengan para mitra tuturnya. Percampuran dalam bahasa Indonesia adalah spontanitas saja tanpa maksud apa-apa. 8 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    9. C. Faktor yang Memengaruhi Alih Kode dan Campur Kode Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi para anggota milis untuk melakukan campur kode dan alih kode, antara lain: 1. Partisipan pembicaraan Partisipan pembicaraan atau penutur lain dapat memengaruhi terjadinya alih kode. Misalnya pada data berikut, di mana penutur menggunakan bahasa Inggris: Adi: kekeke~ lowo it doesn't need kopdar to talk english. [D74] I'll always chatt using english with you, how's that? [D75] My grammar is not perfect at all but still quiet ok, i guess :P [D76] I got used to be with messy grammar on conversation. [D77] Tetapi karena ada penutur lain yang menggunakan bahasa Indonesia, maka ia juga beralih menggunakan bahasa Indonesia, seperti pada data berikut. Nissadwi: ada apa sih? [D95] dah pada ga cinta bahasa indo lagi yaw? [D96] kemaren kan baru ngrayain hari sumpah pemuda. [D95] mana jiwa mudanya? [D96] mana...mana?? [D97] ups...hehehe..bcanda. [D98] ane pengin ikutan tapi yang bahasa japan tu lanjutannya piye? [D99] Adi: kalau kita harus menyatakan cinta dengan indonesia harus dengan bahasa saja repot loh..saya kali ini mau menggunakan bahasa yang baik dan benar saja susahnya minta ampun.... [D109] 2. Perubahan situasi Alih kode dapat terjadi karena adanya perubahan situasi. Dalam email baru untuk perkenalan, biasanya anggota baru menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia) karena dianggap sebagai bahasa yang netral karena ia belum mengenal anggota lainnya. Anggota lainnya juga akan menggunakan bahasa Indonesia. Edi222: Met kenal aja mas-mas, mbakmbak,aku tinggal diatas bukit jatisari, pengin gabung sama blogger semarang. (D134) Boleh ya buat tambah ilmu,tambah saudara, tambah temen and tambah segalanya deh. (D135) Met kenal aja. (D136) Anik: Mendahului kamtib dan amin..Punya blog ngga?? (D137) met kenal juga (D138) 3. Perubahan topik Dalam milis Sem[b]arangan, peralihan ini dapat disebabkan oleh adanya pergantian topik. Misalnya pada e-mail dengan subjek ”kopdar bahasa 9 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    10. Inggris,” para anggota milis banyak yang menanggapi e-mail dengan bahasa Inggris. Berikut adalah contoh datanya: Adi: kekeke~ lowo it doesn't need kopdar to talk english. [D74] I'll always chatt using english with you, how's that? [D75] My grammar is not perfect at all but still quiet ok, i guess :P [D76] I got used to be with messy grammar on conversation. [D77] 4. Tidak menemukan padanan kata dalam bahasa yang digunakan Tejadinya campur kode banyak disebabkan oleh faktor ini. Karena banyak pembicaraan yang berkaitan dengan dunia Internet dan teknologi, yang dalam bahasa Indonesia juga belum ada padanan katanya, maka para anggota sering melakukan campur kode. Datanya dapat dilihat sebagai berikut: Fany: Nah buat jadi anggota milis saja kan tinggal subscribe udah ostosmastis bisa baca, kecuali kl mo diperketat hanya yg sudah diapprove saja yg bisa. [D36] Dulu ada wacana gitu tapi banyak yg gak setuju katanya suka2 dia aja mo kenalan apa gak. [D37]. Menurutku itu dia subscribe email yang digest, lalu auto post ke blog. [D38] So salah satu cara ya semua email digest tak 'paksa' set no email saja. [D39] VI. Simpulan Dari analisis data, dapat disimpulkan bahwa dalam milis Sem[b]arangan yang para anggotanya adalah para blogger dengan latar belakang sosial beragam dan penguasaan bahasa yang beragam pula, terjadi peristiwa alih kode dan campur kode. Jenis-jenis alih kode yang ditemukan antara lain alih kode internal, eksternal, metaforis, dan situasional. Sedangkan dalam campur kode, banyak ditemukan percampuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, terutama untuk register yang berkaitan dengan dunia teknologi dan Internet. Munculnya alih kode dan campur kode dipengaruhi oleh partisipan pembicaraan (mitra tutur), perubahan situasi, perubahan topik, dan karena penutur tidak menemukan padanan kata dalam bahasanya sehingga beralih atau mencampurkan bahasa lain sebagai kompensasinya. 10 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    11. REFERENSI Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta. Fasold, Ralph. 1990. The Sociolinguistics of Language. USA: Basil Blackwell. http://www.apfi-pppsi.com/alihkode.html http://www.ctlwmp.cityu.edu.hk/lingintro/english/lang-soc/code-e.htm Hudson, Richard A. 1996. Sociolinguistics Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press. Rahardi, Kunjana R. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Skiba, Richard. 1997. “Code Switching as a Countenance of Language Interference”. The Internet TESL Journal, Vol. III, No. 10. http://iteslj.org/Articles/Skiba- Code Switching.html. Di-download tanggal 18 September 2003. Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sumarsono & Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda&Pustaka Pelajar. Tanner, N. 1972. Sociolinguistics Selected Readings edited by J.B. Pride & Janet Holmes “Speech&Society among the Indonesian Elite: a Case Study of a Multilingual Community” 1967, pp. 15-39. Great Britain: Penguin Books. Umar, Azhar & Delvi Napitupulu. 1994. Sosiolinguistik dan Psikolinguistik (Suatu Pengantar). Medan: Pustaka Widyasarana. Wardaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell. 11 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    12. ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA MAILING LIST SEM[B]ARANGAN (KOMUNITAS BLOGGER LOENPIA.NET SEMARANG) Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Mata Kuliah Sosiolinguitik (Prof. Dr. Istiati Soetomo) Oleh: Nina Setyaningsih [A4C006022] PROGRAM STUDI MAGISTER LINGUISTIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 12 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com

    + ninazskininazski, 2 years ago

    custom

    4665 views, 3 favs, 0 embeds more stats

    More info about this document

    © All Rights Reserved

    Go to text version

    • Total Views 4665
      • 4665 on SlideShare
      • 0 from embeds
    • Comments 0
    • Favorites 3
    • Downloads 0
    Most viewed embeds

    more

    All embeds

    less

    Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
    Flag as inappropriate

    Select your reason for flagging this presentation as inappropriate. If needed, use the feedback form to let us know more details.

    Cancel
    File a copyright complaint
    Having problems? Go to our helpdesk?

    Categories