Discourse Ujian

Loading...

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

0 comments

Post a comment

    Post a comment
    Embed Video
    Edit your comment Cancel

    5 Favorites

    Discourse Ujian - Presentation Transcript

    1. I. Latar Belakang Bahasa memiliki berbagai macam fungsi. Dengan bahasa seseorang dapat menyampaikan informasi atau pendapatnya kepada orang lain. Dengan bahasa juga orang dapat memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Jadi dengan kata lain bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pidato merupakan salah satu bentuk komunikasi. Pidato politik biasanya menunjukkan ciri-ciri khusus sebagai wacana persuasif. Hal ini dapat dilihat dari adanya penggunaan kata-kata yang bersifat memengaruhi dan mengajak pendengarnya untuk melakukan apa yang dikatakan. Sebuah wacana, termasuk pidato politik, tidak akan memiliki arti apa-apa jika isinya tidak dapat dipahami. Ketidakpahaman pendengar atau pembaca naskah pidato dapat disebabkan oleh penggunaan bahasa yang rancu dan tidak adanya kepaduan bentuk maupun kepaduan makna. Kepaduan bentuk ini disebut kohesi, sedangkan kepaduan bentuk disebut koherensi (Ramlan, 1993:11). Teks yang koheren itu sendiri adalah teks yang konstituennya (episode, kalimat) saling terkait maknanya sehingga teks secara keseluruhan menjadi masuk akal (Fairclough, 1992:83). Penelitian analisis wacana pidato ini dititikberatkan pada analisis koherensi dan kohesi dan apakah ada keterikatan makna dalam setiap kalimatnya. Data yang digunakan adalah pidato presien Republik Indonesia dalam upacara pembukaan acara Forum Ekonomi Islam Dunia yang ketiga di Malaysia. II. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Bagaimana alur gagasan dalam pidato politik tersebut? 2. Apakah wacana tersebut memiliki hubungan koherensi dan kohesi? 3. Peranti penanda kohesi apa saja yang digunakan dalam pidato politik tersebut? III. Unit Analisis Unit analisis dalam tulisan ini adalah peranti penanda kohesi yang terdapat dalam setiap kalimat pada pidato. IV. Data Data yang akan dianalisis dalam tulisan ini berupa wacana tulis yang bersumber dari pidato presien Republik Indonesia dalam upacara pembukaan acara Forum Ekonomi Islam Dunia yang ketiga di Malaysia. Naskah pidato di-download dari situs web presiden Ri di http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2007/05/28/655.html. 1 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    2. Data diperoleh dari kalimat-kalimat yang terdapat dalam transkripsi pidato. Kalimat-kalimat tersebut selanjutnya ditulis ulang dan dikodifikasi dengan diberikan penomoran pada setiap kalimatnya. Contoh kodifikasi data adalah seperti berikut: 1. I am very pleased to be here with you in Kuala Lumpur and to see that the World Islamic Economic Forum is growing steadily as a venue of constructive discussion by Islamic leaders on ways for the Ummah to achieve progress. Semua kalimat yang ada dalam data dianalisis, dan selanjutnya dikelompokkan berdasarkan jenis kohesinya. Berikut adalah contoh analisis data: 11. The question [referensi : katafora] before us [ref : personal] today is: what can we [ref : personal] do to confront the socioeconomic challenges [leksikal : repetisi] of the world in our [leksikal : repetisi] time? Dari data terdapat jenis kohesi referensi katafora (the question) yang mengacu pada entitas berikutnya, yaitu ”what can we do to confront the socioeconomic challenges of the world in our time?” Dapat dilihat bahwa dalam satu kalimat bisa terdapat beberapa jenis penanda kohesi. Ini karena penanda kohesi itu memberikan keterkaitan dengan kalimat sebelum dan sesudahnya. Data dianalisis menggunakan pendekatan struktur mikro untuk mengetahui hubungan antarkalimat dan struktur makro untuk mengetahui hubungan antarparagraf. V. Kerangka Teori Penelitian ini dilandasi oleh teori koherensi Maillard dan teori kohesi yang diungkapkan oleh Halliday. A. Kohesi dan Koherensi Menurut Kridalaksana dalam Kamus Lingusitik (http://www.apfi- pppsi.com/cadence19/pedagog19-2.html), wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Sedangkan menurut Crystal (dalam Nunan, 1993:5), wacana adalah kesatuan bahasa yang lebih besar dari kalimat dan membentuk unit yang koheren, misalnya ceramah, pendapat, lelucon, atau narasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang komunikatif, yaitu yang sedang menjalankan fungsinya. Ini berarti wacana harus mempunyai pesan yang jelas dan dengan dukungan situasi komunikasinya, bersifat otonom, dan dapat berdiri sendiri. Dengan demikian, pemahaman wacana haruslah 2 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    3. memperhitungkan konteks situasinya, karena hal itu akan memengaruhi makna wacana. Menurut Beaugrande (1981:3), suatu wacana mempunyai ciri-ciri berupa koherensi, kohesi, maksud pengirim, keberterimaan, memberikan informasi, situasi pengujaran, dan intertekstualitas. Dalam bidang makna, setiap kalimat dalam paragraf menyampaikan suatu informasi. Informasi pada kalimat satu berhubungan dengan kalimat lain sehingga paragraf membentuk kesatuan informasi yang padu (Ramlan, 1993:41). Sedangkan bentuk pertalian antarinformasi yang dinyatakan pada kalimat satu dengan informasi kalimat yang lainnya adalah penjumlahan, perturutan, perlawanan atau pertentangan, lebih, sebab akibat, waktu, syarat, cara, kegunaan, dan penjelasan. Untuk mencapai koherensi yang mantap dibutuhkan pemarkah koherensi dan pemarkah transisi (Mundandar, 2001:151). Sementara menurut Maillard (dalam http://www.apfi- pppsi.com/cadence19/pedagog19-2.html) koherensi dapat dipertahankan apabila terpenuhi aturan-aturan berikut ini : 1. Aturan pengulangan 2. Aturan perkembangan 3. Aturan hubungan 4. Aturan tidak-adanya kontradiksi Untuk menandai adanya kepaduan dalam suatu paragraf, terdapat unsur-unsur yang menghubungkan kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut menjadi satu kesatuan. Nunan (1993:21) menyebut hal ini sebagai ”text forming devices” (peranti pembentuk wacana). Peranti pembentuk wacana ini antara lain berupa kata atau frase yang memungkinkan penulis atau penutur membentuk suatu hubungan di sepanjang batasan kalimat atau tuturan, dan membantu mengikat kalimat-kalimat dalam teks bersama- sama. Peranti ini disebut kohesi. Jadi dengan kata lain kohesi adalah keterkaitan unsur- unsur lahiriah suatu teks, misalnya kata-kata, yang saling berkaitan dalam suatu sekuen. Unsur-unsur tersebut saling tergantung sesuai dengan bentuk dan konvensi gramatikalnya, sedemikian rupa sehingga kohesi merupakan ketergantungan gramatikal. Halliday dan Hasan (1976 dalam Nunan, 1993:21) menyebutkan lima jenis penanda hubungan antarkalimat ini menjadi lima jenis, yaitu referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, dan kohesi leksikal. Sedangkan dalam Halliday (1985 : 309-310) 3 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    4. menyederhanakan kategori ini menjadi empat saja, di mana substitusi menjadi subkategori dari elipsis. Berikut adalah jenis-jenis kohesi beserta contohnya: 1. Kohesi gramatikal Hubungan antarkalimat atau tuturan dalam suatu wacana dapat ditandai oleh aspek gramatikal dan aspek sematis. Kohesi gramatikal dapat dibagi menajdi empat: a. Referensi Ramlan (1993:11) membagi referensi menjadi dua kategori berdasarkan hubungannya, yaitu: 1) Eksoforis, referensinya ada di luar teks. Misalnya: Look at that. That di sini menunjukkan acuan yang berada di luar teks. 2) Endoforis, referensinya ada di dalam teks. Hubungan ini memiliki subjenis sebagai berikut: § Anafora, yaitu mengacu ke entitas yang disebutkan sebelumnya. Misalnya: Look at the sun, it’s going down quickly. § Katafora, yaitu mengacu pada pada entitas yang disebutkan selanjutnya. Misalnya: This is how you do it. You let the herbs dry and then grind them up in a food processor. § Homofora, acuan yang menunjuk pada dirinya sendiri (self- specifying), dan hanya ada satu yang masuk akal dalam konteks kalimat tersebut, misalnya: The sun was shining. Halliday dan Hasan mengidentifikasi tiga subjenis kohesi referensial sebagai berikut (dalam Nunan, 1993:23): 1) Personal, untuk memberikan acuan pada objek hidup maupun mati, ataupun orang. Misalnya: Michael Gorbachev didn’t have to change the world. He could have chosen to rule much as his predecessors did. 2) Demonstratif, untuk memberikan acuan pada objek atau lokasi tertentu. Misalnya: recognizing that his country had to change, Gorbachev could have become a cautious modernizer in the Chinese fashion, promoting economic reform and sponsoring 4 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    5. new technology whole holding firm against political change. This did not happen. 3) Komparatif, ditunjukkan melalui adjektiva dan adverbial dan berfungsi untuk memberi acuan perbandingan. Misalnya: A: Would you like these seats? B: No, as a matter of fact, I’d like the other seats. b. Substitusi, yaitu menggantikan elemen dalam bentuk kata atau kalimat dengan elemen lain dalam suatu wacana. Ada tiga jenis substitusi, yaitu: 1) Nomina, misalnya: There are some new tennis balls in the bag. The ones’ve lost their bounce. 2) Verba, misalnya: A: Annie says you drink too much. B: So do you! 3) Klausa, misalnya: A: Is it going to rain? B: I think so. c. Elipsis, muncul ketika elemen struktural yang penting dihilangkan dari suatu kalimat atau klausa dan hanya dapat dipahami dengan mengacu pada elemen pada teks yang mendahului. Ada tiga jenis leipsis: 1) Nomina, misalnya: My kids play an awful lot of sport. Both (0) are incredibly energetic. 2) Verba A: Have you been working? B: Yes, I have (0). 3) Klausa A: Why’d you only set three places? Paul’s staying for dinner, isn’t he? B: Is he? He didn’t tell me (0). d. Konjungsi, muncul karena terdapat komponen dalam wacana yang perlu disatukan. Ada empat macam konjungsi dalam hal ini: 1) Adversatif, misalnya: I’m afraid I’ll be home late tonight. However, I won’t have to go until tomorrow. 5 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    6. 2) Aditif, misalnya: From a marketing viewpoint, the popular tabloid encourages the reader to read the whole page instead of choosing stories. And isn’t that what any publisher wants? 3) Temporal, misalnya: Brick tea is a blend that has been compressed into a cake. It is taken mainly by the minority groups in China. First, it is ground to a dust. Then it is usually cooked in milk. 4) Kausal, misalnya: Chinese tea is becoming increasingly popular in restaurants, and even in coffee shops. This is because of the growing belief that it has several health-giving properties. 2. Kohesi leksikal Kohesi leksikal terjadi ketika dua kata dalam teks berhubungan secara semantis dalam beberapa hal, atau dengan kata lain, keduanya memiliki hubungan makna. Secara garis besar ada dua jenis kohesi leksikal, yaitu: a. Perulangan (reiteration) 1) Repetisi, contohnya: What we lack in a newspaper is what we should get. In a word, a ‘popular’ newspaper may be the winning ticket. 2) Sinonim, contohnya: Accordingly I took a leave, and turned to the ascent of the peak. The climb is perfectly easy. 3) Hipernim, contohnya: Henry’s bought himself a new Jaguar. He practically lives in the car. 4) Kata-kata umum A: Did you try the steamed buns? B: Yes, I didn’t like the things much. b. Kolokasi, misalnya: Why does this little boy wriggle all the time? Girls don’t wriggle. Kolokasi termasuk semua item dalam teks yang berhubungan secara semantis. Kedua kata yang bergaris bawah bukan merupakan sinonim atau memiliki makna yang sama, tetapi memiliki hubungan tertentu, yaitu saling melengkapi. Jadi kolokasi adalah seperti pasangan kata yang berhubungan secara semantis. 6 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    7. VI. Temuan dan Analisis A. Temuan Dari analisis, diperoleh peranti pembentuk kohesi dengan perincian jumlah kemunculan sebagai berikut: Jenis Kohesi Subjenis Kohesi Jumlah Total Referensi Personal 85 105 (53,57%) Demonstratif 14 Komparatif 6 Substitusi Nomina 2 2 (1,02%) Verba - Klausa - Elipsis (0%) Nomina - 0 Verba - Kausal - Konjungsi Aditif 19 29 (14,79%) Adversatif 1 Kausal 8 Temporal 1 Perulangan Repetisi 52 60 leksikal Sinonim 6 (30,61%)) Hipernim 2 Total (100%) 196 B. Analisis Data Berikut adalah analisis data dari temuan di atas. Tidak semua data akan dibahas, hanya data yang mewakili saja yang akan dijelaskan. 1. Referensi a. Personal Referensi personal paling banyak digunakan dalam naskah pidato presiden tersebut. 1. I am very pleased to be here with you in Kuala Lumpur and to see that the World Islamic Economic Forum is growing steadily as a venue of 7 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    8. constructive discussion by Islamic leaders on ways for the Ummah to achieve progress. 2. As we [referensi : personal] in the Ummah begin our [referensi : personal] trek deeper into the Third Millennium, we [referensi : personal] find ourselves [referensi : personal] in a strange new world full of challenges and opportunities Pada data di atas, referensi personal we mengacu pada I dan you. Hubungan ini bersifat kataforis karena mengacu pada entitas yang disebutkan sebelumnya. Deminkian juga dengan our yang merupakan referensi personal yang berupa kata ganti milik we. b. Demonstratif Berikut adalah contoh analisis referensi demonstratif: 17. We appear weak because we have been told we are weak and believed it [referensi : demonstratif]. Referensi demonstratif it mengacu pada klausa yang menerangkan keadaan “we are weak”. Acuan ini bersifat endoforis karena refernsinya ada di dalam teks. Referensi demonstratif it juga bersifat anaforis karena mengacu pada hal yang dikatakan sebelumnya. Jadi kalimat ini kohesif karena terdapat keterkaitan di dalamnya. c. Komparatif We cannot, for instance, ask the rest of the world to remove tariff barriers for us, if we are not willing to do the same [referensi : komparatif] favour to each other. Penanda kohesi komparatif tampak pada pemakaian klausa ask the rest of the world to remove tariff barriers to us yang dikomparasikan dengan kata same. 2. Substitusi Jenis peranti pembentuk kohesi substitusi tidak banyak ditemukan dalam naskah pidato. Hanya ditemukan dua unsur yang mengandung kohesi substitusi, dan temuan ini berupa kohesi substitusi nomina. 8. We in the Ummah cannot escape from such a dismal world—it is the only one [substitusi : nomina] we have. 8 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    9. Dari kalimat tersebut, kata one menggantikan frase dismal world. Menghilangkan kata one akan memengaruhi makna kalimat tersebut sehingga menjadi tidak kohesif. 3. Konjungsi a. Aditif Jenis kohesi konjungsi adversatif adalah yang paling banyak ditemukan. Konjungsi aditif adalah peranti kohesi yang berguna untuk memberikan informasi tambahan. 9. We must confront it. 10. And [konjungsi : aditif] if we are wise and effective in confronting it, we may be able to create opportunities to make this world a better one. Konjungsi and di atas memberikan keterangan tambahan pada kalimat sebelumnya, dan hal ini dapat memperkuat argumentasi yang disampaikan. b. Adversatif Konjungsi adversatif merupakan peranti kohesi yang menunjukkan hubungan pertentangan dalam kalimat. Contoh yang menggunakan kohesi adversatif dapat dilihat pada data berikut, yang menggunakan konjungsi but. 36. We must change their attitudes toward us from something negative or indifferent if not hostile to something positive and enthusiastic. 37. But [konjungsi : adversatif] we cannot change others without changing ourselves first. Kalimat pada data (37) mempertentangkan kalimat sebelumnya. Dari kalimat-kalimat di atas terkandung makna bahwa untuk mengubah sikap negara lain dari sesuatu yang negatif tidak dapat dilakukan apabila negara yang bersangkutan tidak mengubah dirinya sendiri terlebih dahulu. c. Kausal Jenis konjungsi kausal menunjukkan hubungan sebab akibat. Berikut adalah data yang memiliki unsur penanda kohesi konjungsi sebab akibat. 9 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    10. 50. What we need to do is to establish and agree on international halal standards so that [konjungsi : kausal] halal certifications in one country will be accepted everywhere without question or hitches. Penanda so that menunjukkan akibat dari tindakan sebelumnya. Kalimat tersebut mengandung makna bahwa standar halal harus ditetapkan. Hal ini mengakibatkan sertifikasi halal dalam satu negara dapat digunakan di mana pun. d. Temporal Jenis kohesi ini menunjukkan hubungan makna antarkalimat berdasarkan waktu kejadiannya. Hanya ditemukan satu kalimat yang menggunakan penanda kohesi ini. Di bawah ini adalah datanya: 7. Meanwhile [konjungsi : temporal] the cost of energy continues to rise, while nations scramble to find cheaper and more environment- friendly sources of energy—creating new problems in the process. Konjungsi meanwhile menandakan waktu durative atau keadaan yang sedang berlangsung. 4. Perulangan leksikal Perulangan leksikal dalam teks pidato ini sangat memengaruhi kepaduan antarparagrafnya. Berikut adalah penanda leksikal yang ditemukan dalam teks: a. Repetisi Jenis penanda kohesi ini paling banyak ditemukan daripada jenis penanda kohesi perulangan leksikal lainnya. Berikut adalah contoh analisisnya: 2. As we in the Ummah begin our trek deeper into the Third Millennium, we find ourselves in a strange new world full of challenges and opportunities. 3. This is a world [leksikal : repetisi] driven by the rapid advances of science and technology, a world [leksikal : repetisi] of powerful market forces that favour the strong and the quick in the global arena of trade and investment. 4. It is a world [leksikal : repetisi] awash with liquidity in search of lucrative investment opportunities. Terlihat dari data di atas bahwa kata world diulang lagi dalam kalimat- kalimat berikutnya. Repetisi ini memberikan keterangan dan penekanan 10 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    11. atas apa yang disampaikan pada kalimat sebelumnya. Pada kalimat (2) disebutkan dunia baru yang aneh dan penuh tantangan serta peluang. Keanehan dunia baru serta tantangan dan peluangnya itu selanjutnya dijelaskan dalam kalimat-kalimat berikutnya, dengan tetap menggunakan kata world sebagai entitas yang dijelaskan. b. Sinonim Sinonim adalah kata yang memiliki kesamaan makna. Misalnya pada data berikut: 14. I think the very first step that we should take is to realize that we are not helpless. 15. We are not weak [leksikal : sinonim]. Pada data tersebut, kata helpless memiliki kesamaan makna dengan kata weak, keduanya sama-sama dapat diartikan lemah. Beberapa kata yang memiliki hubungan kesamaan makna yang ditemukan di sepanjang teks pidato antara lain fair exchange dengan win-win partnership (pada data 29 dan 31), country dengan nation, serta catalysmic dengan calamity. c. Hipernim Kohesi yang bersifat hipernim dapat ditemukan pada data berikut: 44. And one of the most significant transactions under Shariah terms that the HSBC has arranged is a syndicated loan of US$322 million to Indonesia’s Oil Company Pertamina from a large group of Middle Eastern financial institutions, bringing to the country for the very first time a significant volume of investments from the Middle East. 45. Another example is the similarly arranged loan of US$75 millions to Krakatau Steel. Terdapat dua jenis transaksi dengan syarat pinjaman syariah (shariah term), yaitu syndicated loan dan arranged loan. Jadi di sini transaksi dengan syarat pinjaman syariah memiliki hubungan hipernimi (superordinat) dengan syndicated loan dan arranged loan. Kata-kata lain yang memiliki hubungan semacam ini adalah Indonesia, Turkey, Malaysia, dengan superordinat country (superordinat). C. Analisis Koherensi Berdasarkan wacana pidato tersebut terlihat bahwa koherensi dicapai melalui pengulangan. Pengulangan gagasan disampaikan melalui pengulangan kata-kata, 11 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    12. sehingga apa yang diungkapkan tetap saling berkaitan. Pengulangan ini juga dapat memberi penekanan, misalnya kata-kata seperti ”we must” atau ”we should” seperti pada paragraf 23 hingga 27. Kata-kata semacam ini memberikan daya persuasi yang tinggi dan memengaruhi pendengarnya untuk melakukan tindakan sebagaimana disampaikan. Pembahasan gagasan dalam pidato menggunakan pengembangan hubungan problem-solusi. Pada aragraf-paragraf awal disampaikan gagasan mengenai dunia baru yang penuh tantangan dan peluang dan gambaran mengenai bagaimana dunia baru tersebut terlihat. Kemudian masalah disampaikan, yaitu pada paragraf 11 sampai 13. kemudia solusi disebutkan pada paragraf 14 hingga 17. Selanjutnya masalah disampaikan lagi pada paragraf 18 hingga 22, dan solusi disebutkan pada paragraf- paragraf berikutnya. Pola ini berulang hingga paragraf terakhir. Struktur semacam ini membuat wacana menjadi koheren karena setiap bagiannya, baik kata, kalimat, maupun paragrafnya saling berkaitan. VII. Simpulan Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis kohesi dan koherensi telah membuktikan prinsip-prinsip mengenai apa yang menciptakan hubungan makna di dalam suatu wacana. Suatu wacana bisa disebut koheren jika kalimat-kalimatnya saling berhubungan, hubungan ini ada baik dalam tingkat lokal (struktur mikro) maupun global (struktur makro). Berdasarkan hasil analisis, wacana pidato yang disampaikan Presiden RI ini bisa dikatakan kohesif dan koheren dan mengandung daya persuasi yang cukup tinggi. Unsur-unsur penanda kohesi yang muncul dalam wacana ini adalah referensi, substitusi, konjungsi, dan perulangan leksikal. Referensi terutama referensi personal paling banyak ditemukan dalam wacana tersebut. Pada pengembangan paragraf atau alur gagasan untuk mencapai koherensi, digunakan struktur penyajian problem kemudian penyampaian solusinya. Penyajian problem dapat meyakinkan audiens akan perlunya dilakukan berbagai respons, yaitu melalui solusi yang ditawarkan Presiden SBY. 12 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    13. Referensi Beaugrande, Robert Alain de & Wolfgang Ulrich. 1981. Introduction to Text Linguistics. UK : Longman. Fairclough, Norman. 1992. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press Halliday, M.A.K. 1985. An Introduction to Functional Grammar 2e. UK: Edward Arnold http://www.apfi-pppsi.com/cadence19/pedagog19-2.html, diakses tanggal 19 Juli 2007. http://www.presidenri.go.id/index.php/pidato/2007/05/28/655.html, diakses tanggal 2 Juli 2007. Mundandar, Aris. 2001. Analisis Struktur Retorika: Alternatif Pemahaman Koherensi Wacana Selebaran Partai Rakyat Demokratik. Di-download dari http://jurnal- humaniora.ugm.ac.id/karyadetail.php?id=23, diakses tanggal 28 Maret 2007. Nunan, David. 1993. Introducing Discourse Analysis. Middlesex: Penguin Books. Ramlan, M. 1993. Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. 13 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com
    14. KOHESI DAN KOHERENSI PADA PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM UPACARA PEMBUKAAN ACARA FORUM EKONOMI ISLAM DUNIA YANG KE-3 PROPOSAL PENELITIAN Ditulis sebagai Tugas Ujian Akhir Mata Kuliah Analisis Wacana (Helena I.R Agustien, Ph.D) Oleh: Nina Setyaningsih [A4C006022] PROGRAM STUDI MAGISTER LINGUISTIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2007 14 PDF created with pdfFactory trial version www.pdffactory.com

    + nina snina s, 2 years ago

    custom

    5615 views, 5 favs, 0 embeds more stats

    More info about this document

    © All Rights Reserved

    Go to text version

    • Total Views 5615
      • 5615 on SlideShare
      • 0 from embeds
    • Comments 0
    • Favorites 5
    • Downloads 0
    Most viewed embeds

    more

    All embeds

    less

    Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
    Flag as inappropriate

    Select your reason for flagging this presentation as inappropriate. If needed, use the feedback form to let us know more details.

    Cancel
    File a copyright complaint
    Having problems? Go to our helpdesk?

    Categories