Prosedur perizinan pembuatan pltmh di kabupaten banjarnegara

16,839 views

Published on

SEMOGA BERMANFAAT

Published in: Technology
2 Comments
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
16,839
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
10
Actions
Shares
0
Downloads
620
Comments
2
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Prosedur perizinan pembuatan pltmh di kabupaten banjarnegara

  1. 1. PROSEDUR PERIJINAN PEMBUATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) DI KABUPATEN BANJARNEGARA KERTAS KERJA WAJIB Oleh : Nama Mahasiswa : SANIMAN NIM : 551126/A Jurusan : Teknik Umum Program Studi : Keinspekturan Diploma : I (Satu) KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERALBADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERALPERGURUAN TINGGI KEDINASAN AKADEMI MINYAK DAN GAS BUMI - STEM PTK. AKAMIGAS – STEM Cepu, Mei 2012
  2. 2. KATA PENGANTAR Dengan segala kerendahan hati penyusun panjatkan puji syukur kehadiratAllah SWT, yang telah berkenan memberikan Rahmat dan HidayahNya, sehinggakami dapat menyelesaikan penulisan Kertas Kerja Wajib ( KKW ) yang berjudul“PROSEDUR PERIZINAN PEMBUATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGAMIKROHIDRO (PLTMH) DI KABUPATEN BANJARNEGARA“ sebagaipersyaratan akademik di PTK AKAMIGAS – STEM Cepu. Kertas Kerja Wajib ( KKW ) ini dapat kami selesaikan berkat dorongan, kerjasama, saran serta pemikiran dari berbagai pihak.Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang setulus – tulusnya kepada : 1. Bapak Ir. Toegas S. Soegiarto, M.T. selaku direktur PTK AKAMIGAS – STEM Cepu. 2. Bapak Doni Sutrisno, S.T., M.M., selaku Kepala Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara. 3. Bapak Drs. L. Riyatno, M.M., selaku Ketua Program Studi Diploma I Keinspekturan. 4. Bapak Drs. Kun Dharmawan H., selaku Kepala Bidang ESDM Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara. 5. Bapak Zunus Rosyadi, S.Sos., selaku Kepala Seksi Ketenagalistrikan dan enargi Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara. 6. Bapak Agus Heriyanto S.T., M.T., selaku Dosen pembimbing 7. Bapak dan Ibu dosen PTK AKAMIGAS – STEM Cepu, khususnya dari Program Studi Diploma I Keinspekturan. 8. Keluarga dan teman-teman semua yang telah memberikan semangat dan dorongan sehingga penulisan ini bisa terselesaikan dengan baik. Harapan kami apa yang tertulis didalam Kertas Kerja Wajib ( KKW ) inidapat memberikan manfaat bagi kita semua. Oleh karena itu perkenankanlah padakesempatan ini penulis mohon kritik dan saran, demi kesempurnaan penulisan inikarena penulisan kami jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan.Kiranya Tuhan Yang Maha Esa membalas budi baik Bapak / Ibu serta memberiRahmat, Taufik dan HidayahNya kepada kita semua. Amiin. Cepu, Mei 2012 Penulis ( Saniman ) NIM. 551126 / A i
  3. 3. INTISARIPLTMH sendiri merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga MikroHidro, Mikro menunjukkan ukuran kapasitas pembangkit, yaitu antara 10 kWsampai 200kW. Adanya aliran air dan ketinggian yang memadai dapat kitamanfaatkan sebagai sumber energi untuk PLTMH. Kabupaten Banjarnegarasendiri mempunyai sumber energi alternatif yang cukup banyak, diantaranyaadalah panas bumi di Pegunungan Dieng yang sudah dimanfaatkan sebagaiPLTPb, dan beberapa aliran sungai yang dikembangkan dengan PLTA dan jugaPLTMH. Dari banyaknya potensi yang ada, masyarakat dan PemerintahKabupaten Banjarnegara merasa belum bisa menikmati manfaatnya secaramaksimal dikarenakan kurangnya pengembangan dari potensi-potensi tersebut,sehingga Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sendiri merasa perlu menerbitkanPeraturan-peraturan Daerah yang mengatur tentang usaha ketenagalistrikan,dimana didalamnya juga termasuk izin pembangunan PLTMH dan juga tata carapengajuannya, baik yang on grid maupun yang off grid. Setelah izin diterbitkanhak dan kewajiban pemegang izin juga harus diatur supaya pemegang izin tidakberlaku semaunya sendiri dan tidak merugikan masyarakat. Izin usaha penyediaantenaga listrik merupakan sebagai salah satu mekanisme pengawasan kelaikanoperasi instalasi tenaga listrik, hak dan kewajiban pemegang izin, sanksi, danpemantauan. ii
  4. 4. DAFTAR ISI HalamanKATA PENGANTAR ...................................................................................... iINTISARI ......................................................................................................... iiDAFTAR ISI ...................................................................................................... iiiDAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vDAFTAR TABEL ........................................................................................... viDAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... viiI. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penulisan ..................................................................... 1 1.2. Tujuan Penulisan ................................................................................... 3 1.3. Ruang Lingkup Penulisan ..................................................................... 3 1.4. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 4 1.5. Sistematika Penulisan ........................................................................... 4II. ORIENTASI UMUM 2.1. Sejarah Singkat Kabupaten Banjarnegara ............................................. 6 2.2. Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara .......................................... 7 2.3. Letak Geografis dan Keadaan Penduduk Kabupaten Banjarnegara ..... 12 2.3.1 Kondisi Geografis ..................................................................... 12 2.3.2 Bentang Alam ........................................................................... 13 2.3.3 Keadaan Penduduk .................................................................... 14 2.4. Dinas PSDA Dan ESDM Kabupaten Banjarnegara .............................. 15 2.5. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas PSDA dan ESDM ............................... 17 2.6. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral ... 18 2.7. Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Ketenagalistrikan dan Energi ............... 20III. TINJAUAN PUSTAKA 3.1. PLTMH ................................................................................................ 22 3.2. Potensi PLTMH ..................................................................................... 23 3.3. Izin Usaha .............................................................................................. 25 3.4. Dasar Hukum ......................................................................................... 27IV. PEMBAHASAN 4.1. Potensi Energi Di Kabupaten Banjarnegara .......................................... 28 4.2. Perkembangan Listrik Pedesaan Di Kabupaten Banjarnegara............... 30 4.3. Kewenangan Pemberian Izin PLTMH ................................................... 32 4.3.1. On Grid ..................................................................................... 32 4.3.2. Off Grid ..................................................................................... 33 4.4. Tata Cara Permohonan Izin PLTMH ..................................................... 35 4.5. Hak dan Kewajiban Pemegang Izin ....................................................... 38 4.6. Pencabutan Izin ..................................................................................... 41 4.7. Permasalahan dan Penanganannya ........................................................ 43 iii
  5. 5. V. PENUTUP 5.1. Simpulan .............................................................................................. 45 5.2. Saran ..................................................................................................... 45DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN iv
  6. 6. DAFTAR GAMBAR HalamanGambar 2.1. Bupati Banjarnegara I dan XIV ............................................ 7Gambar 2.2. Lambang Kabupaten Banjarnegara ........................................ 8Gambar 2.3. Peta Kabupaten Banjarnegara ................................................ 12Gambar 2.4. Struktur Organisasi Dinas PSDA dan ESDM Kabupeten Banjarnegara ......................................................................... 17Gambar 3.1. Gambaran Sebuah Sistem PLTMH........................................ 23Gambar 3.2. Ketinggian Vertikal dimana Air Jatuh(Head) ........................ 24Gambar 4.1. PLTP Dieng dan PLTA Sudirman ......................................... 30Gambar 4.2. Power House PLTMH Gringsing .......................................... 31Gambar 4.3. Mesin Pengering Hasil Tanaman yang Memanfaatkan Listrik dari PLTMH ............................................................... 32Gambar 4.4. Skema Kewenangan Pemberian Izin PLTMH ..................... 35 v
  7. 7. DAFTAR TABEL HalamanTabel 01. Cadangan Energi Fosil (Tahun 2005) ........................................ 1 vi
  8. 8. DAFTAR LAMPIRANLampiran 01. Sumber Energi Primer di Indonesia (Tahun 2005)Lampiran 02. Data Pegawai Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara. vii
  9. 9. I. PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Penulisan Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat karena pertambahanpenduduk, Pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu sendiri yangsenantiasa meningkat, sedangkan energi fosil yang selama ini merupakan sumberenergi utama, ketersediaannya sangat terbatas dan terus mengalami deplesi(menipis). Berdasarkan data Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005 – 2025yang dikeluarkan oleh Departemen ESDM pada tahun 2006, menyebutkan bahwacadangan minyak bumi di Indonesia pada tahun 2005 diperkirakan akan habisdalam kurun waktu 23 tahun dengan ratio cadangan/produksi pada tahun tersebut,sedangkan gas diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 62 tahun dan batubara146 tahun, (Tabel 1.1.). Sumber energi terbarukan, antara lain panas bumi,biomasa, energi surya dan energi angin relatif cukup besar (lampiran 1). Tabel. 1.1. Cadangan Energi Fosil (Tahun 2005) Cadangan/Produksi Jenis Energi Fosil Indonesia Dunia Minyak 23 Tahun 40 Tahun Gas 62 Tahun 60 Tahun Batubara 146 Tahun 200 TahunSumber : DESDM (2006) Kebijakan Pemerintah berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan energinasional dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentangKebijakan Energi Nasional. Dalam peraturan tersebut, pada tahun 2025 1
  10. 10. konsumsi minyak bumi diharapkan turun menjadi 20%, gas alam naik menjadi30%, batubara naik menjadi 33%, sedangkan energi baru dan terbarukan(termasuk di dalamnya energi mikro hidro) naik menjadi 17%. Dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumendan kembali mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Pemerintahtelah menerbitkan Pedoman Pengusahaan Pembangkit Tenaga Listrik Skala KecilTersebar (PSK Tersebar) melalui Kepmen ESDM No. 1122K/30/MEM/2002.Pedoman Pengusahaan Pembangkit Tenaga Listrik Skala Kecil Tersebar (PSKTersebar) untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan untuk pembangkittenaga listrik sampai dengan kapasitas 1 MW yang diusahakan oleh usaha kecildan koperasi. Walaupun teknologi mikro hidro telah dikenal sejak zaman dulu,perkembangan pembangunan teknologi ini dipandang sangat lambat, terlebihsetelah terjadinya krisis energi akhir-akhir ini. Salah satu faktor penting dalampembangunan mikro hidro adalah kebijakan dan peraturan-peraturan (regulasi)yang berkaitan dengan mikro hidro khususnya serta energi terbarukan padaumumnya di tingkat kabupaten-kabupaten. Sampai saat ini banyak yangberanggapan bahwa pemerintah sering mempersulit penerbitan izin-izinpembangunan dan izin-izin usaha dengan peraturan- peraturannya. Namun itusemua dikarenakan kekurang pahaman masyarakat dan pengembang akanperaturan-peraturan yang berlaku. Dalam rangka diversifikasi energi dan pemanfaatan energi terbarukantersebut, pasokan tenaga listrik pada tahun 2020 menggunakan minimal 5%berasal dari energi terbarukan. Berdasarkan hal tersebut, dimungkinkan daerah 2
  11. 11. membangun pembangkit tenaga listrik skala kecil yang bersifat off grid (tidaktersambung oleh grid nasional). Salah satu pembangkit listrik skala kecil yangpotensial adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Hal ini jugamerupakan salah satu implementasi dari green energy initiative yaitu untukmendorong energi terbarukan, energi efisiensi dan energi bersih. PLTMHdibangun dalam rangka program peningkatan taraf sosial ekonomi masyarakatterutama untuk daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan listrik. Namundalam pembangunannya juga harus memperhatikan mutu dan melaksanakanketentuan-ketentuan teknik, keamanan dan keselamatan serta fungsi lingkungan.Maka diperlukan regulasi yang jelas sebagai pedoman pengawasannya.1.2. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini adalah :a. Untuk memperluas pengetahuan, pengalaman serta mengadakan perbandingan antara ilmu yang diperoleh selama belajar dengan praktek dan penerapan dilapangan.b. Untuk mengetahui lebih jauh tentang prosedur perizinan pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Di Kabupaten Banjarnegara1.3 Ruang Lingkup Penulisan Pembahasan dalam Kertas Kerja Wajib ( KKW ) ini dibatasi pada regulasiatau prosedur perizinan mengenai pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro 3
  12. 12. Hidro (PLTMH) Di Kabupaten Banjarnegara, permasalahan yang timbul, sertaupaya-upaya untuk menanggulanginya.1.4. Metode Pengumpulan Data Untuk menunjang penulisan Kertas Kerja Wajib ( KKW ) ini diperlukandata-data dari obyek yang diteliti dengan cara :1. Menanyakan langsung masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) kepada petugas di lapangan,2. Membaca bahan pustaka/literatur yang diperoleh diperkuliahan, perpustakaan dan seksi ketenagalistrikan dan energi bidang ESDM Di Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara.3. Pengamatan dan pengambilan data langsung di lapangan.1.5. Sistematika Penulisan Garis besar sistematika penulisan ini adalah :BAB I. PENDAHULUAN Menguraikan mengenai latar belakang penulisan, tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.BAB II. ORIENTASI UMUM Menerangkan tentang Kabupaten Banjarnegara dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA dan ESDM) Kabupaten Banjarnegara secara singkat. 4
  13. 13. BAB III. TINJAUAN PUSTAKA Dalam hal ini membahas tentang PLTMH, Potensi, perizinan pembangunan PLTMH, dan dasar hukumnya.BAB IV. PEMBAHASAN Dalam hal ini membahas potensi energi di Kabupaten Banjarnegara, kondisi kelistrikan di Kabupaten Banjarnegara,, kewenangan pemberian izin, tata cara permohonan izin, hak dan kewajiban pemegang izin, pencabutan izin PLTMH dan permasalahan serta upaya penanganannyaBAB V. PENUTUP Merupakan kesimpulan atas analisa dan saran – saran untuk pemecahan masalah yang mungkin dapat digunakan sebagai usaha perbaikan di Bidang ESDM pada Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara. 5
  14. 14. II. ORIENTASI UMUM2.1. Sejarah Singkat Kabupaten Banjarnegara Dalam www.banjarnegarakab.go.id dijelaskan bahwa KabupatenBanjarnegara merupakan hadiah dari Pemerintah Mataram (Sri SusuhunanPakubuwono VII) kepada R. Tumenggung Dipoyudo IV, karena jasanya pada saatperang Diponegoro. Sesuai dengan Resolutie Governeor General Buitenzorgtanggal 22 agustus 1831 nomor I (yang pada akhirnya tanggal 22 agustusdiperingati sebagai hari jadi Kabupaten Banjarnegara), pada waktu ituberkedudukan di Banjarmangu yang dikenal dengan Banjarwatulembu dan beradadi sebelah utara sungai serayu. Persoalan meluapnya sungai serayu pada musim hujan menjadi kendaladalam berkomunikasi dengan Kesultanan Surakarta. Sehingga penguasa pada saatitu memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke sebelah selatan sungai serayu.Kondisi daerah baru merupakan persawahan (banjar) yang luas dengan beberapalereng yang curam, sehingga nama daerah yang baru ini menjadi Banjarnegara(banjar: sawah, negara: kota) Bupati-Bupati yang pernah menjabat antara lain : 1. R. Tumenggung Dipoyudo IV (1831-1846) 2. R. Adipati Diponingrat (1846-1878) 3. R. Tumenggung Jayanegara I (1878-1896) 4. R. Tumenggung Jayanegara II (1896-1927) 5. R. Sumitro Kolopaking (1927-1949) 6. R. Sumitro (1949-1959) 6
  15. 15. 7. R. Mas Soedjirno (1960-1967) 8. R. Soedibjo (1967-1973) 9. Drs. Soewadji (1973-1980) 10. Drs.H. Winarno Surya Adisubrata (1980-1986) 11. H. Endro Soewarjo (1986-1991) 12. Drs.H.Nurachmad (1991-2001) 13. Drs.Ir. Djasri, MM, MT (2001-2011) 14. H. Sutedjo Slamet Utomo, SH, M.Hum (2011-2016) Gambar 2.1. Bupati Banjarnegara I dan XIV2.2. Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara "diukir" oleh panitia khususDPRDGR, ditambah gambar dari pemenang kedua dan pemenang harapan"Sayembara Lambang". terdiri dari: R. soenardi (Ketua merangkap anggota),Moh. Kosim (Wakil ketua merangkap anggota), Soetarno (anggota), danSoedijono Tjokrosapoetra (anggota), dan Marchaban Mangunhardjo (anggota).Panitia khusus tersebut dibentuk berdasarkan Surat Keputusan DPRDGRBanjarnegara No. 145/17/DPRDGR-66 tertanggal 9 Desember 1966. Disahkan 7
  16. 16. pada tanggal 11 agustus 1967 oleh DPRDGR, yang kemudian diperkenalkankepada masyarakat oleh Bupati Banjarnegara ke-7, Raden Mas Soedjirno, Gambar 2.2. Lambang Kabupaten Banjarnegara Arti Lambang Bentuk, Isi Dan WarnaPs. (1) Bentuk pokok dari pada Lambang Daerah Kabupaten Banjarnegara merupakan sebuah perisai yang bergayakan (ngestijleerd) berwarna dasar hijau dengan pelisir berwarna kuning emas.Ps. (2) Pada perisai tersebut terlukis 12 macam benda alam / bangunan yang tata letaknya tersusun secara artistik terdiri dari : a) Sebuah segi lima yang seperempat bagian kanan dan kiri bawah berwarna merah, sedang seperempat bagian kiri atas dan kanan bawah berwarna putih ; b) Setangkai padi berisi 17 butir berwarna kuning emas disebelah kanan segi lima ; c) Serangkai 8 buah kapas yang terbuka penuh berwarna putih disebelah kiri segi lima ; d) Sebuah bintang sudut lima berwarna kuning emas ; 8
  17. 17. e) Sebatang pohon beringin : daunnya berwarna hijau serta berakar gantung sebanyak 8 buah ; batangnya dengan 5 buah akar berwarna coklat muda ; f) Sebuah keris tak berukel, berwarna hitam ; g) Sederetan pegunungan berwarna biru muda ; h) Sederetan daerah hutan berwarna hijau ; i) Syphon ( suling saluran air ) berwarna hitam dengan 6 buah cincin yang membagi suling saluran air ini atas 7 buah bagian / ruas ; j) Bidang tanah, diatas mana pohon beringin berdiri : disebelah atas Syiphon berwarna hijau ; disebelah bawah Syiphon merupakan petak - petak / tingkat - tingkat berwarna coklat ; k) Air sungai berwarna biru muda dengan 3 jalur gelombangnya berwarna putih ; l) Sehelai selendang dibawah segi lima berwarna kuning emas, diatas dimana tercantum nama "BANJARNEGARA" dengan tulisan hitam ; Makna Lambang Bentuk, Isi Dan Warna1) Perisai dan keris melambangkan jiwa kepahlawanan dan kesatriaan rakyat Banjarnegara2) Segi lima yang berdiri tegak, melambangkan watak kepribadian serta jiwa persatuan dan kesatuan rakyat Banjarnegarayang berlandaskan Pancasila3) Bintang dan Pohon beringin a. Bintang melambangkan kepercayaan beragama yang kuat 9
  18. 18. b. Pohon beringin melambangkan tradisi yang baik dari Pemerintahan rakyat Banjarnegara4) Syphon, petak-petak tanah (tanah persawahan yang bertingkat-tingkat) melambangkan daya cipta yang besar dengan nilai-nilai kebudayaan khas dari rakyat Banjarnegara5) Pegunungan dengan hutan-hutannya melambangkan keadaan alam daerah Banjarnegara dengan bermacam-macam kekayaannya sebagai sumber kehidupan rakyat6) Air sungai dengan 3 jalur gelombang melambangkan sungai serayu yang mengalir di sepanjang daerah Kabupaten Banjarnegara dengan 3 macam peggunaan airnya, yaitu untuk pertanian, perikanan, dan industri7) Bidang tanah tempat berdiri pohon beringin yang berwarna hijau melambangkan kesuburan tanah pada umumnya di daerah Banjarnegara8) Bidang-bidang berwarna merah dan putih di dalam segi lima menandakan daerah Kabupaten Banjarnegara sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia9) Warna hijau dari pada perisai yang dibatasi oleh pelisir kuning, dimana terbentang a. Selendang dengan tulisan "BANJARNEGARA" b. Padi dan Kapas : Mengkiaskan hari depan yang gemilang bagi rakyat Banjarnegara menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa 10
  19. 19. SESANTI / SURYA SENGKALA Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II BanjarnegaraNomor 11 Tahun 1988 tentang Perubahan Pertama Peraturan Daerah KabupatenDaerah Tingkat II Tentang Lambang Daerah.Sesanti tersebut berbunyi :"WANI MEMETRI RAHAYUNING PRAJA"Yang mempunyai makna : Segenap Warga Daerah Banjarnegara bertekad bulatmelestarikan kemakmuran menuju kebahagiaan lahir bathin bagi rakyat danpemerintahannya.2.3. Letak Geografis dan Keadaan Penduduk Kabupaten Banjarnegara2.3.1 Kondisi Geografis Kabupaten Banjarnegara termasuk Wilayah Provinsi Jawa Tengah bagianBarat, membujur dari Barat ke Timur. Secara astronomi, terletak diantara 7° 12 -7° 31 Lintang Selatan dan 109° 29 - 109° 4550" Bujur Timur, dengan batas-batas : Sebelah Utara :Wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Sebelah Timur :Wilayah Kabupaten Wonosobo. Sebelah Selatan :Wilayah Kabupaten Kebumen. Sebelah Barat :Wilayah Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas. 11
  20. 20. Luas wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah 106.970,99 Ha atau sebesar3,29 % dari luas seluruh wilayah Propinsi Jawa Tengah, terdiri dari 20 WilayahKecamatan, 12 Kelurahan, 266 Desa. Suhu udara di Kabupaten Banjarnegaraberkisar antara 20°C-26°C dengan temperatur terdingin yaitu 3°C-18°C, dengankelembaban udara berkisar 80%-85%.Musim hujan dan musim kemarau silihberganti sepanjang tahun, bulan - bulan basah (hujan) lebih banyak dari padabulan-bulan kering (kemarau). Adapun curah hujan rata-rata 3.000 milimeter pertahun. Gambar 2.3. Peta Kabupaten Banjarnegara 12
  21. 21. 2.3.2 Bentang Alam Ketinggian tempat pada masing-masing wilayah umumnya tidak sama yaituantara 40-2.300 meter dpl. Bahkan dibeberapa tempat beda ketinggian ataukemiringan bisa lebih dari 40%. Bentang alam berdasarkan bentuk tata alam dan penyebaran geografis,wilayah ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :  Zona Utara, adalah kawasan pegunungan yang merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Serayu Utara. Daerah ini memiliki relief yang curam dan bergelombang. Di perbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang terdapat beberapa puncak, seperti Gunung Rogojembangan dan Gunung Prahu. Beberapa kawasan digunakan sebagai obyek wisata, dan terdapat pula tenaga listrik panas bumi. Pada sebelah utara meliputi Kecamatan : Kalibening, Pandanarum, Wanayasa, Pagentan, Pejawaran, Batur, Karangkobar, Madukara  Zona Tengah, merupakan zona Depresi Serayu yang cukup subur. Bagian wilayah ini meliputi Kecamatan : Banjarnegara, Madukara, Bawang, Purwanegara, Mandiraja, Purworejo Klampok, Susukan, Wanadadi, Banjarmangu, Rakit  Zona Selatan, merupakan bagian dari Pegunungan Serayu, merupakan daerah pegunungan yang berrelif curam. Meliputi Kecamatan : Pagedongan, Banjarnegara, Sigaluh, Mandiraja, Bawang, Susukan 13
  22. 22. Dari keadaan geologisnya pada umumnya terlihat struktur batuan yang adadi Kab. Banjarnegara adalah struktur batuan berbentuk lapisan dengan kondisibatuan mudah longsor dan banyak sesar/patahan terutama di wilayah bagian utarasehingga cukup membahayakan bangunan fisik/prasarana.2.3.3 Keadaan penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2010 menurut datayang ada pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banjarnegarasejumlah 1.073.240 jiwa, terdiri atas 545.817 jiwa laki-laki dan 527.423 jiwaperempuan.Berdasarkan struktur umur yang ada, penduduk usia produktif ( 15-59tahun ) sebanyak 775.939 jiwa dan usia non produktif ( 0 s/d 14 tahun dan diatas60 tahun ) sebanyak 297.301 jiwa. Sehingga Angka Ketergantungan (DependencyRatio) sebesar 0,38 yang berarti bahwa setiap 100 jiwa usia produktif harusmenanggung 38 jiwa usia non produktif. Budaya dan adat istiadat rakyat Banjarnegara, merupakan bagian yangada di lingkungan budaya Banyumas, dimana masyarakat di daerah ini umumnyamempunyai budaya "manutan" sehingga mereka mudah mengikuti apa yangdikatakan oleh para pemimpin, baik pemimpin formal maupun informal.Mereka juga memperlihatkan loyalitas tinggi sebagai warga masyarakat dan tebalnasionalismenya. Di dalam kehidupan ekonomi nampak sekali kecenderunganmereka untuk bersikap dan samadya (menerima apa adanya, realistis dan tidakambisius), sikap ini tercermin pada mata pencaharian mereka yang cenderungkurang dinamik (pegawai Negeri ataupun petani). Di kalangan mereka tidakberkembang mentalitas usahawan atau pedagang yang mengutamakan 14
  23. 23. produktivitas dan efisiensi, tolok ukur keberhasilan orang tidak didasarkan padaharta/kekayaan sebagai bukti prestasinya, namun dilihat dari toleransi ataukegotong royongan. Ungkapan mereka tega warase ora tega larane, tega larane oratega patine, mencerminkan toleransi/kesetiakawanan yang tinggi, dan ojodumehmengisyaratkan keinginan untuk hidup jujur, rukun dan sederhana/tidak sombongjika sedang berkuasa. Pendek kata mereka hidup dengan falsafah sedermanglakoni (sekedar menjalani hidup). Di samping itu masih berakar kuat adatistiadat Jawa yang bernafaskan ke Islaman, mereka masih percaya akan haribaik/buruk dan umumnya masih melakukan berbagai upacara ritual sebagaiwarisan nenek moyang yang sepantasnya dihormati. Sementara itu berkembangpula aliran kepercayaan yang disana sini nampak luluh/menyatu dengankehidupan agama.2.4. Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya MineralKabupaten Banjarnegara terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah KabupatenBanjarnegara Nomor 16 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan TataKerja Dinas Daerah Kabupaten Banjarnegara (Lembaran Daerah KabupatenBanjarnegara Tahun 2008 Nomor 16 Seri D Nomor 3 Tambahan LembaranDaerah Kabupaten Banjarnegara Nomor 108). Sebagai unsur pelaksana Pemerintah Daerah, Dinas Pengelolaan SumberDaya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banjarnegara mengembantugas dan tanggung jawab dibidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi dan 15
  24. 24. Sumber Daya Mineral dalam merumuskan kebijakan teknis Perencanaan,Pengembangan, Pengelolaan, Pengendalian dan Pelaksanaan pembangunan. Pada tahun 2011 jumlah pegawai di Dinas Pengelolaan Sumber Daya Airdan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banjarnegara sebanyak 96 orang,dengan rincian 87 Pegawai Negeri Sipil dan 9 Calon Pegawai Negeri Sipil(lampiran 2). Adapun Struktur Organisasi Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air danEnergi Sumber Daya Mineral Kabupaten Banjarnegara adalah :Kepala Dinas, Yang membawahi : 1. Sekretaris, membawahi:  Kasubag Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan  Kasubag Keuangan  Kasubag Umum dan Kepegawaian 2. UPTD, membawahi :  Kepala UPTD I  Kepala UPTD II  Kepala UPTD III  Kepala UPTD IV  Kepala UPTD V 3. Kepala Bidang PSDA, membawahi :  Kepala Seksi Pendayagunaan SDA  Kepala Seksi Operasi dan pemeliharaan  Kepala Seksi Irigasi 16
  25. 25. 4. Kepala Bidang ESDM, membawahi :  Kepala Seksi Pertambangan Umum  Kepala Seksi Geologi,Migas dan SDM  Kepala Seksi Kelistrikan dan Energi Gambar 2.4. Struktur Organisasi Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara2.5. Tugas Pokok Dan Fungsi Dinas PSDA dan ESDM Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten BanjarnegaraNomor : 16 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi Dinas Permukiman danPrasarana Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahdaerah di bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Bidang Energi Sumber DayaMineral yang menjadi kewenangan daerah. Adapun untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut diatas, DinasPengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral KabupatenBanjarnegara mempunyai fungsi sebagaimana tersebut pada Bab II Pasal 2 ayat 2item a sampai dengan i Peraturan Bupati Nomor 162 Tahun 2009 tentang Tugas 17
  26. 26. Pokok dan Fungsi serta Uraian Tugas Jabatan Pada Dinas Pengelolaan SumberDaya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral Kabupaten Banjarnegara, yaitu : a. Pengkoordinasian dan fasilitasi bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral; b. Pengarahan dan pemberian petunjuk teknis bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral; c. Penyelenggaraan pelayanan bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral; d. Pelaksanaan tugas di bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi, Sumber Daya Mineral; e. Pengelolaan Tata Usaha Sekretariat Dinas PSDA dan ESDM; f. Melaksanakan pengelolaan pendapatan bidang PSDA dan ESDM; g. Pengiventarisasian permasalahan dalam pelaksanaan tugas Dinas PSDA dan ESDM dan penyusunan alternatif penyelesaian masalah; h. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan bidang PSDA dan ESDM; i. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan Bupati sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas PSDA dan ESDM. 18
  27. 27. 2.6. Tugas Pokok Dan Fungsi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang energi dan sumber daya mineral mempunyai tugas pokokmelaksanakan penyiapan perumusan kebijakan teknis, pengkoordinasian,pembinaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi dan pelaporan dibidang pertambangan, geologi, migas dan suber daya mineral, ketenagalistrikandan energi. Untuk melaksanakan tugas pokoknya, Bidang Energi dan Sumber DayaMineral mempunyai fungsi : a. Penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis, pengkoordinasian, pembinaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pertambangan; b. Penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis, pengkoordinasian, pembinaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang geologi, migas dan sumber daya mineral; c. Penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis, pengkoordinasian, pembinaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang ketenagalistrikan dan energi; d. Pengawasan intern penyelenggaraan tugas bidang energi dan sumber daya mineral; dan e. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan secara berjenjang. 19
  28. 28. 2.7. Tugas Pokok Dan Fungsi Seksi Ketenagalistrikan Dan Energi Seksi Ketenagalistrikan dan Energi mempunyai tugas pokok melaksanakanpenyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, pengkoordinasian, pembinaan,pelaksanaan, pengendalian, pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidangketenagalistrikan dan energi, meliputi : a. Penyiapan bahan penyusunan peratuiran daerah kabupaten di bidang ketenagalistrikan dan energi; b. Penyiapan bahan penetapan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED); c. Penyiapan bahan pemberian rekomendasi Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan umum yang sarana maupun energi listriknya dalam kabupaten; d. Penyiapan bahan pemberian rekomendasi izin usaha di bidang energi; e. Penyiapan bahan pengaturan harga jual tenaga listrik untuk konsumen pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan umum yang izin usahanya dikeluarkan oleh kabupaten; f. Penyiapan bahan pengaturan harga jual tenaga listrik untuk pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan umum yang izinnya dikeluarkan oleh kabupaten; g. Penyiapan bahan pengaturan harga jual energi baru terbarukan yang izin usahanya dikeluarkan oleh kabupaten; h. Fasilitasi penyediaan listrik perdesaan di wilayah kabupaten; 20
  29. 29. i. Penyiapan bahan pemberian rekomendasi rekomendasi Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk kepentingan sendiri berupa Izin Operasi (IO) yang sarana instalasinya dalam kabupaten;j. Penyiapan bahan pemberian persetujuan penjualan kelebihan tenaga listrik oleh pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan sendiri berupa Izin Operasi (IO) kepada pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan umum yang izinnya dikeluarkan oleh kabupaten;k. Penyiapan bahan pemberian rekomendasi izin usaha jasa penunjang tenaga listrik bagi badab usaha dalam negeri/mayoritas sahamnya dimiliki oleh penanam modal dalam negeri;l. Penyiapan bahan pemberian rekomendasi izin eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam untuk usaha pembangkitan energi sesuai kewenangan kabupaten;m. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan usaha ketenagalistrikan dan energi yang izinnya diberikan oleh kabupaten;n. Pembinaan, pengawasan, dan pengendalian kegiatan pengembang dan pemanfaatan energi baru terbarukan yang dilakukan oleh masyarakat;o. Pengkajian dan pengembangan penggunaan energi baru terbarukan;p. Pengusulan pengangkatan dan pembinaan inspektur ketenagalistrikan serta pembinaan jabatan fungsional kabupaten; danq. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan secara berjenjang. 21
  30. 30. III. TINJAUAN PUSTAKA3.1 PLTMH PLTMH merupakan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro,Mikro menunjukkan ukuran kapasitas pembangkit, yaitu antara 10 kW sampai200kW. Mikrohidro hanyalah sebuah istilah, mikro artinya kecil sedangkan hidroartinya air. Dalam prakteknya, istilah ini tidak merupakan sesuatu yang bakunamun bisa dibayangkan bahwa mikrohidro, pasti menggunakan air skala kecilsebagai sumber energinya. Biasanya mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataanbahwa adanya air yang mengalir di suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggianyang memadai 5:11) Mikrohidro juga dikenal sebagai white resources dengan terjemahanbebas bisa dikatakan energi putih. Dikatakan demikian karena instalasipembangkit listrik seperti ini menggunakan sumber daya yang telah disediakanoleh alam dan ramah lingkungan. Suatu kenyataan bahwa alam memiliki air terjunatau jenis lainnya yang menjadi tempat air mengalir. Dengan teknologi sekarangmaka energi aliran air beserta energi perbedaan ketinggiannya dengan daerahtertentu (tempat instalasi akan dibangun) dapat diubah menjadi energi listrik. Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumberenergi), turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentudisalurkan dari ketinggian tertentu menuju rumah instalasi (rumah turbin). Dirumah instalasi air tersebut akan menumbuk turbin dimana turbin sendiridipastikan akan menerima energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energimekanik berupa berputarnya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian 22
  31. 31. ditransmisikan ke generator dengan menggunakan kopling atau belt. Darigenerator menghasilkan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol aruslistrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Gambar 3.1. Gambaran Sebuah Sistem PLTMH 7:182)3.2 Potensi PLTMH Biasanya mikrohidro dibangun berdasarkan kenyataan bahwa adanya airyang mengalir di suatu daerah dengan kapasitas dan ketinggian yang memadai.Sebuah skema hidro memerlukan dua hal yaitu debit air dan ketinggian jatuh/head(Gambar 3.1) untuk menghasilkan tenaga yang bermanfaat. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan dari ketinggiantertentu menuju rumah instalasi (power house). Istilah kapasitas mengacu kepadajumlah volume aliran air persatuan waktu (flow capacity) sedangan bedaketinggian daerah aliran sampai ke instalasi dikenal dengan istilah head. Semakinbesar kapasitas aliran maupun ketinggiannya dari instalasi maka semakin besarenergi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. 23
  32. 32. Ini adalah sebuah sistem konversi tenaga, menyerap tenaga dari bentukketinggian dan aliran, dan menyalurkan tenaga dalam bentuk daya listrik ataudaya gagang mekanik. Tidak ada sistem konversi daya yang dapat mengirimsebanyak yang diserap dikurangi sebagian daya hilang oleh sistem itu sendiridalam bentuk gesekan, panas, suara dan sebagainya. Gambar 3.2. Ketinggian Vertikal dimana Air Jatuh(Head) Persamaan konversinya adalah7:181): Pel = Phydr ×ηtotal .......... (3.1) Dimana Pel = output daya listrik (W) ηtotal = efisiensi total (%) Daya kotor (Phydr) adalah Head kotor(Hn) yang dikalikan dengan debit air(Q) dan juga dikalikan dengan sebuah faktor (g = 9,81), sehingga persamaandasar dari pembangkit listrik adalah : Pel = Q × ρ × g ×Hn ×ηtotal .............(3.2) 24
  33. 33. Untuk perkiraan paling awal beberapa literatur menyarankan persamaan yangdisederhanakan, dengan ρ = kekentalan air = ~1000 kg/m3 g = gaya gravitasi = 9.81 m/detik2Untuk efisiensi keseluruhan ηtotal kita mengasumsikan 70%, dengan anggapanperalatan terpasang memiliki kualitas yang baik, jika tidak pengurangan mungkindiperlukan). olehkarena itu persamaan dapat disederhanakan menjadi: P = 7 ×Q ×H [kW] ............... (3.3)dengan 70% ×1000 × 9.81 𝜇𝑇 × 𝜌𝑊 × 𝑔 = ≅ 7 ............... (3.4) 1000 [𝑊 →𝑘𝑊 ]3.3 Izin Usaha PLTMH Penyediaan Tenaga Listrik adalah pengadaan tenaga listrik mulai dari titikpembangkitan sampai titik pemakaian. Jenis Usaha Ketenagalistrikan di daerah terdiri dari : a. Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Sendiri (UKS) adalah usaha pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk kepentingan sendiri b. Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum (UKU) adalah usaha pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik yang memberikan kegunaan bagi kepentingan umum. c. Usaha Penunjang Tenaga Listrik (UPTL) adalah badan usaha yang secara spesifikasi bergerak di bidang ketenagalistrikan. 25
  34. 34. Izin diperlukan sebagai salah satu mekanisme pengawasan6:6):  kelaikan operasi instalasi tenaga listrik  hak dan kewajiban pemegang izin  sanksi  pemantauan Izin usaha penyediaan tenaga listrik adalah izin yang diberikan oleh Bupatikepada badan usaha untuk melakukan usaha penyediaan tanaga listrik baik untukkepentingan sendiri maupun untuk kepentingan umum. Izin usaha penyediaantenaga listrik disesuaikan dengan jenis usahanya yaitu : a. Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Sendiri yang selanjutnya disebut IUKS adalah izin yang diberikan oleh Bupati kepada badan usaha untuk melakukan usaha penyediaan tanaga listrik untuk kepentingan sendiri. b. Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum yang selanjutnya disebut IUKU adalah izin yang diberikan oleh Bupati kepada badan usaha untuk melakukan usaha penyediaan tanaga listrik untuk kepentingan umum. c. Izin Usaha Penunjang Tenaga Listrik yang selanjutnya disebut IUPTL adalah izin yang diberikan oleh Bupati kepada badan usaha untuk melakukan kegiatan usaha di bidang jasa penunjang ketenagalistrikan. Salah satu usaha penyediaan tenaga listrik adalah Pembangkit ListrikTenaga Mikro Hidro (PLTMH), sehingga izin yang diberlakukan untuk usahaPLTMH adalah IUKS dan atau IUKU. Namun pada umumnya pembangunan 26
  35. 35. PLTMH bertujuan untuk kepentingan umum sehingga izin yang digunakan adalahIzin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum (IUKU).3.4 Dasar Hukum Dasar hukum perizinan PLTMH di kabupaten Banjarnegara mengacukepada Undang-undang ketenagalistrikan, yaitu3:7) :1. Undang-undang Republik Indonesia No. 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan Pasal 7 ayat (2)2. Undang-undang Republik Indonesia No. 30 Tahun 2009 tentang ketenagalistrikan.3. PP No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas PP No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik.4. Perda Kabupaten Banjarnegara No.10 Tahun 2008, tentang Usaha Ketenagalistrikan Daerah.5. Perda Kabupaten Banjarnegara No. 10 Tahun 2010 tentang Ketenagalistrikan. Merupakan revisi dari Perda No. 10 Tahun 2008.6. Peraturan Bupati Banjarnegara No.197 Tahun 2009, tentang Tata cara dan persyaratan pemberian izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik baik IUKU maupun IUKS7. Keputusan Kepala Dinas PSDA dan ESDM, Nomor 671/355 Tahun 2009, tentang Petunjuk pelaksanaan pemberian izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik baik IUKU maupun IUKS. 27
  36. 36. IV. PEMBAHASAN4.1 Potensi Energi Di Kabupaten Banjarnegara Kondisi geografis Kabupaten Banjarnegara yang sebagian besar merupakanpegunungan dan dataran tinggi, mengakibatkan Kabupaten ini mempunyai sumberdaya alam yang cukup banyak yang dapat dipergunakan sebagai sumber energialternatif, diantaranya adalah panas bumi, aliran sungai dan energi matahari.Untuk saat ini sudah ada beberapa yang dikembangkan sebagai pembangkitlistrik. Namun dalam pengembangannya masih kurang optimal. Potensi energiyang sudah dikembangkan diantaranyaadalah3:6):  PLTA Sudirman Kapasitas terpasang 3 X 60,2 MW  PLTA Tulis Kapasitas terpasang 2 X 6,2 MW  PLTPB Dieng Kapasitas terpasang 1 X 60 MW  PLTM Plumbungan Kapasitas terpasang 1,6 MW  PLTM Tapen Kapasitas terpasang 1 MW  PLTM Karangtengah Kapasitas terpasang 300 KW  PLTMH Siteki Kapasitas terpasang 1,2 Mw 28
  37. 37. Selain yang tersebut diatas masih ada sekitar 60 lokasi yang ideal untukdibangun PLTMH, baik di aliran sungai maupun di saluran irigasi. Namun dalamkondisinya sekarang hampir semua pembangkit listrik yang ada sudah tidak dapatberproduksi secara optimal. Sebagai contoh PLTPB Dieng, Kapasitas yangterpasang adalah 60 MW, pada 2008 mengalami penurunan secara signifikansebesar 20 MW, sehingga hanya bisa menyuplai listrik sebesar 40 MW, bahkanpada 2010 turun lagi sebesar 20 MW, sehingga saat ini PLTPB Dieng hanyamampu berproduksi sebesar 20 MW. Sehingga dari semua pemanfaatan sumberenergi tersebut sampai sekarang ini belum mampu mencukupi kebutuhan listrik diKabupaten Banjarnegara. Hal ini juga diakibatkan oleh kondisi wilayahKabupaten Banjarnegara yang sebagian besar adalah pegunungan, sehingga dibeberapa tempat sangat susah untuk dipasang jaringan listrik. Dalam kondisi seperti sekarang ini guna memenuhi kebutuhan akan tenagalistrik, sangat diperlukan optimalisasi pemanfaatan potensi-potensi energi listrikyang ada dan juga menggali sumber-sumber energi yang baru, terutama sumberenergi terbarukan. Salah satu sumber energi terbarukan yang sekarang digiatkanpengembangannya adalah PLTMH dimana untuk wilayah KabupatenBanjarnegara tersedia cukup banyak aliran sungai dan irigasi yang bisadimanfaatkan sebagai PLTMH. 29
  38. 38. Gambar 4.1. PLTP Dieng dan PLTA Sudirman4.2 Perkembangan Listrik Pedesaan Kabupaten Banjarnegara Pada tahun 2011 yang lalu, di Kabupaten Banjarnegara masih ada sekitar104 Dukuh yang berada di 47 desa belum bisa menikmati listrik PLN. Hal inidiakibatkan karena kondisi geografis yang sebagian besar adalah pegunungansehingga pemukiman penduduk cenderung berkelompok-kelompok kecil danantar kelompok terpisah cukup jauh. Kerena kondisi tersebut membuatpemukiman tersebut sangat sulit terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Melalui program Listrik Perdesaan (lisdes), Pemerintah dan PT. PLN(Persero) mengembangkan perluasan jaringan dan pengembangan listrik di desaterpencil dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan yang ada di daerahtersebut untuk memenuhi kebutuhan energi dan memicu tumbuhnya kegiatanproduktif. Rencana pengembangan listrik perdesaan memprioritaskanpemanfaatan sumber energi terbarukan dengan pertimbangan lingkungan, biaya,dan penciptaan kegiatan produktif. Kabupaten Banjarnegara yang memilikibanyak sungai pada saat ini berusaha lebih meningkatkan pemanfaatan tenaga airskala kecil (PLTMH). Selain karena potensinya yang cukup banyak juga karena 30
  39. 39. PLTMH terbukti mampu menjangkau ke daerah-daerah terpencil di wilayahKabupaten. Di beberapa wilayah Kabupaten Banjarnegara yang tidak memilikipotensi aliran sungai yang memadai untuk di bangun PLTMH, pemerintahmemasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) seperti yangf terpasang didesa Kali Tengah, Kecamatan Purwonegoro. Gambar 4.2. Power House PLTMH Gringsing Salah satu Dusun yang telah bisa merasakan progran Listrik Pedesaan(lisdes) adalah Dusun Gringsing, Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagedongan. DiDusun ini telah dibangun sebuah PLTMH yang digunakan oleh sekitar 100Kepala Keluarga. PLTMH ini dikelola oleh masyarakat sekitar dan dimanfaatkanoleh warga sebagai penerangan dan juga industri rumah tangga. 31
  40. 40. Gambar 4.3. Mesin Pengering Hasil Tanaman Yang Memanfaatkan Listrik Dari PLTMH Pemerintah berharap program Listrik Pedesaan (lisdes) ini bisa mencakupke seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara terutama di daerah-daerah terpencil,sehingga semua masyarakat bisa merasakan listrik dan mendapatkan informasiyang lebih banyak serta mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatKabupaten Banjarnegara.4.3 Kewenangan Pemberian Izin PLTMH 4.3.1 On Grid8:5) Apabila jaringan PLTMH terhubung secara nasianal (JTN) maka sesuai dengan yang tercantum dalam PP No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas PP No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 6 ayat (4) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum merupakan kewenangan Menteri Energi Sumber Daya Mineral. 32
  41. 41. 4.3.2 Off Grid Untuk jaringan Off Grid dibedakan lagi berdasarkan kepentingan penggunaan tenaga listrik tersebut A. Untuk kepentingan umum. Sesuai dengan PP No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas PP No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 6 ayat (4) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Untuk Kepentingan Umum jaringan PLTMH tidak terhubung secara nasional maka : a. Bupati/Walikota,berwenang untuk memberikan izin usaha penyediaan tenaga listrik baik sarana maupun energi listriknya yang berada dalam daerahnya nasing-masing b. Gubernur, berwenang untuk memberikan izin usaha penyediaan tenaga listrik lintas kabupaten/kota baik sarana maupun energi listriknya yang berada dalam wilayahnya. c. Menteri, berwenang untuk mengeluarkan izin usaha penyediaan tenaga listrik lintas provinsi baik sarana maupun energi listriknya. B. Untuk kepentingan sendiri a. Tidak diperlukan IUKS untuk kapasitas pembangkitan tenaga listrik lebih kecil atau sama dengan 200 kVA; cukup terdaftar di dinas terkait; 33
  42. 42. b. IUKS diberikan sesuai peruntukannya: i. Penggunaan utama: dioperasikan secara terus-menerus; ii. Penggunaan cadangan: dioperasikan hanya sewaktu-waktu untuk menjamin kontinuitas dan keandalan; iii. Penggunaan darurat: dioperasikan hanya pada saat terjadi gangguan pasokan dari PKUK atau PIUKU; Penggunaan sementara: dioperasikan hanya untuk kegiatan sementara IUKS untuk penggunaan utama hanya dapat diberikan di suatu daerah usaha PKUK atau PIUKU terintegrasi dalam hal: - PKUK atau PIUKU yang memiliki daerah usaha tersebut nyata-nyata belum dapat menyediakan tenaga listrik dengan mutu dan keandalan yang baik atau belum dapat menjangkau seluruh daerah usahanya, atau - Pemohon IUKS dapat menyediakan listrik secara lebih ekonomis; Pemegang IUKS yang mempunyai kelebihan tenaga listrik dapatmenjual kelebihan tenaga listriknya kepada PKUK atau PIUKUterintegrasi atau Masyarakat setelah mendapat persetujuan Menteri,Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya. 34
  43. 43. Gambar 4.4. Skema Kewenangan Pemberian Izin PLTMH7:16)4.4 Tata Cara Permohonan Izin PLTMH Mekanisme permohonan izin PLTMH yang berlaku dikabupatenBanjarnegara adalah sebagai berikut3:9) :  Permohonan Izin Prinsip; Mengajukan permohonan dengan blangko yang telah disediakan dibubuhi meterai Rp. 6000,-, dengan dilampiri : 1. Copy KTP/Akta Pendirian Badan Usaha 2. Gambar denah lokasi dan Site Plan; 3. Proposal/rencana usaha yang akan dimohon  Peninjauan Lokasi dan Rekomendasi dari Team Terpadu; Peninjauan lokasi dimaksudkan untuk melakukan studi kelayakan dan juga sebagai bahan rekomendasi untuk menerbitkan izin. 35
  44. 44.  Penyusunan FS DE PLTMH oleh Pemohon  Pengurusan izin-izin teknis; Izin-izin teknis yang dibutuhkan adalah:  Izin pemakaian air  Izin lokasi  Izin mendirikan bangunan  Pengurusan Kerjasama antara Pemohon dengan PT PLN;  Proses Pembangunan Fisik PLTMH oleh Pemohon;  Permohonan Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum (IUKU) atau Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Sendiri (IUKS)  Uji Laik Operasi dan Lingkungan oleh Lembaga yang berwenang;  Operasional. Sebagai bahan pertimbangan, pada saat mengajukan izin usahaketenagalistrikan pemohon harus melampirkan beberapa persyaratan sesuaidengan izin yang akan diajukan6:17), yaitu :A. IUKU SEMENTARA  Persyaratan administratif: - identitas pemohon - akta pendirian perusahaan - profil perusahaan - Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 36
  45. 45.  Persyaratan teknis: - studi kelayakan awal - kapasitas pembangkit - jadwal pembangunan - surat penunjukan pemenang lelang atau penunjukan langsung dari PKUK atau PIUKU terintegrasi selaku calon pembeli tenaga listrik atau sewa jaringan. IUKU Sementara dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 2 tahundan dapat dicabut apabila dalam waktu 1 tahun tidak melakukan kegiatanB. IUKU  Persyaratan administratif: - identitas pemohon - akta pendirian perusahaan - profil perusahaan - Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) - kemampuan pendanaan  Persyaratan teknis: - studi kelayakan - lokasi instalasi termasuk tata letak (gambar situasi) - diagram satu garis (single line diagram) - jenis dan kapasitas usaha - keterangan/gambar daerah usaha dan Rencana Usaha Penyediaan tenaga Listrik 37
  46. 46. - jadwal pembangunan dan rencana pengoperasian - persetujuan harga jual tenaga listrik atau sewa jaringan - izin dan persyaratan lainnya (AMDAL atau UKL & UPL, IMB,PMA) Permohonan IUKU atau IUKU Sementara yang ditolak, akan diberitahukansecara tertulis paling lambat 30 hari setelah permohonan diterima.C. IUKS  Persyaratan administratif: - identitas pemohon - akta pendirian perusahaan - profil perusahaan - Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)  Persyaratan teknis: - lokasi instalasi termasuk tata letak (gambar situasi) - diagram satu garis (single line diagram) - uraian rencana penyediaan dan kebutuhan tenaga listrik - jadwal pembangunan - rencana pengoperasian - izin dan persyaratan lainnya4.5 Hak dan Kewajiban Pemegang Izin Sesuai dengan peraturan yang berlaku bahwa setiap perorangan ataupunbadan usaha sebagai pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik mempunyaihak dan kewajiban9:27). Hak dan kewajiban pemegang izin ini tertera pada 38
  47. 47. Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara No. 10 Tahun 2010 tentangketenagalistrikan bab XI pasal 40 dan pasal 41. A. Hak pemegang izin. Untuk kepentingan umum, pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik dalam melaksanakan usahanya berhak untuk: a. melintasi sungai atau danau baik di atas maupun di bawah permukaan; b. melintasi laut baik di atas maupun di bawah permukaan; c. melintasi jalan umum dan jalan kereta api; d. masuk ke tempat umum atau perorangan dan menggunakannya untuk sementara waktu; e. menggunakan tanah dan melintas di atas atau di bawah tanah; f. melintas di atas atau di bawah bangunan yang dibangun di atas atau di bawah tanah; dan g. memotong dan/atau menebang tanaman yang menghalanginya. Dalam pelaksanaan kegiatan penyediaan ketenagalistrikan pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik harus melaksanakannya berdasarkan peraturan perundang-undangan. B. Kewajiban pemegang izin. Selain hak yang diberikan kepada pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik juga berwajiban untuk : a. melakukan kegiatan sesuai dengan izin yang diberikan; b. menyediakan tenaga listrik yang memenuhi standar mutu dan keandalan secara terus-menerus; 39
  48. 48. c. memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen dan memperhatikan hak-hak konsumen;d. memenuhi kebutuhan tenaga listrik dan/atau pelayanan jaringan tenaga listrik untuk konsumen dan masyarakat di daerah usahanya, bagi pemegang izin yang memiliki wilayah daerah usaha;e. memenuhi kebutuhan jaringan tenaga listrik untuk konsumen dan masyarakat di wilayah usahanya, bagi pemegang izin yang memiliki daerah usaha;f. menjamin kelangsungan pasokan tenaga listrik di dalam wilayah usahanya, bagi pemegang izin yang memiliki daerah usaha;g. menyusun rencana usaha penyediaan tenaga listrik, bagi pemegang izin yang memiliki daerah usaha;h. mengunakan peralatan tenaga listrik yang telah memenuhi persyaratan;i. mempekerjakan tenaga teknik yang memiliki kompetensi yang disyaratkan;j. memperhatikan keselamatan ketenagalistrikan yang meliputi keselamatan instalasi, keselamatan dan kesehatan kerja, keselamatan umum, dan lindungan lingkungan;k. mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi setempat dan energi terbarukan;l. mengoptimalkan pemanfaatan proses teknologi yang bersih, ramah lingkungan dan efisien; 40
  49. 49. m. mengoptimalkan pemanfaatan barang, jasa, serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri secara transparan dan berdaya saing; n. melakukan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat. o. menyampaikan laporan secara berkala kepada Pemerintah Daerah; p. melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap instalasi tenaga listrik; q. melaksanakan ketentuan-ketentuan teknik, keamanan dan keselamatan serta fungsi lingkungan; dan r. pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik yang menggunakan kekayaan daerah wajib memberikan retribusi yang besaran dan tatacaranya diatur dalam Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah; mengutamakan produk dan potensi dalam negeri.4.6 Pencabutan Izin Sesuai dengan peraturan yang berlaku pemegang izin usaha mempunyaikewajiban yang juga tertera dalam izin usahanya. Setiap pemegang izin usahabaik perorangan maupun badan usaha yang diketahui melanggar ketentuan dantidak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai pemegang izin usaha, akandikenai sanksi administratif. Tata cara pengenaan sanksi administratif diatur olehBupati9:32) yaitu : a. Teguran tertulis Teguran tertulis diberikan sebagai peringatan atas pelanggaran yang 41
  50. 50. dilakukan oleh pemegang izin. Apabila pemegang izin tetap melakukan pelanggaran yang sama, maka dapat dikenakan sanksi yang lebih berat yaitu pembekuan kegiatan sementara. b. Pembekuan kegiatan sementara Pembekuan kegiatan semantara diberikan apabila pemegang izin tetap melakukan pelanggaran yang sama setelah diberi sanksi berupa teguran tertulis atas pelanggaran tersebut. Apabila pemegang izin tetap melakukan pelanggaran yang sama, maka dapat dikenakan sanksi yang lebih berat, berupa pencabutan izin usaha. c. Pencabutan izin usaha Pencabutan izin usaha diberikan apabila pemegang izin tetap melakukan pelanggaran yang sama setelah diberi sanksi berupa pembekuan sementara atas pelanggaran tersebut. Pencabutan izin usaha juga bisa dilakukan kepada pemegang izin usaha apabila pemegang izin tidak mengajukan permohonan perpanjangan izin padahal izin yang diberikan telah habis masa berlakunya. Untuk IUKU sementara batas waktu maksimal yang diberikan adalah 2 tahun dan dapat dicabut apabila dalam 1 tahun tidak melakukan kegiatan. IUKU diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 tahun7:20). IUKU yanghabis masa berlakunya dapat diperpanjang dengan mengajukan permohonanperpanjangan IUKU paling lambat 60 hari sebelum IUKU berakhir. 42
  51. 51. IUKU berakhir karena :1. Habis masa berlakunya dan tidak diajukan perpanjangan;2. Dikembalikan karena PIUKU tidak mampu lagi melanjutkan usahanya; atau3. Dicabut karena PIUKU tidak memenuhi/melanggar ketentuan yang ditetapkan dalam IUKU dan peraturan perundang-undangan, serta tidak mampu memperbaiki kinerjanya sesuai batas waktu yang diberikan setelah mendapat peringatan tertulis dari Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya; IUKU dapat dialihkan kepada pihak lain setelah mendapat persetujuan tertulisdari Menteri,Gubernur atau Bupati/Walikota, dengan ketentuan pihak lain tersebuttelah memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan lain sesuai peraturanperundang-undangan.4.7 Permasalahan dan Penanganannya Sebagai Dinas yang masih cukup baru, yang terbentuk pada tahun 2008.Serta sedikitnya pegawai yang ada terutama untuk seksi ketenagalistrikan danenergi yang saat ini hanya ada kepala seksi dan 2 orang staf, maka masih banyakwilayah-wilayah kerja seksi ketenagalistrikan yang belum bisa terjangkau.Sehingga sosialilsasi tentang regulasi ketenagalistrikan belum bisa optimal yangmenyebabkan banyak masyarakat dan pengembang usaha penyediaan tenagalistrik kurang memahami regulasi ketenagalistrikan yang berlaku di KabupatenBanjarnegara. 43
  52. 52. Namun dengan sedikitnya personil yang ada, Dinas PSDA dan ESDMKabupaten Banjarnegara pada umumnya serta seksi ketenagalistrikan dan energipada khususnya selalu berusaha bekerja dengan maksimal supaya seluruh elemenmasyarakat selaku konsumen ataupun pengusaha-pengusaha penyediaan tenagalistrik yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara bisa mengetahui danmemahami regulasi tentang ketenagalistrikan yang berlaku di KabupatenBanjarnegara. Selain itu guna mewujudkan pelayanan yang optimal kepadamasyarakat, Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara juga seringmengirimkan pegawai-pegawainya untuk mengikuti diklat-diklat maupunpendidikan-pendidikan yang bekaitan langsung dengan bidang esdm padaumumnya dan ketenagalistrikan pada khususnya. 44
  53. 53. V. PENUTUP5.1 Simpulan Setelah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di DinasPengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA danESDM) Kabupaten Banjarnegara pada Bidang Energi Sumber Daya Mineral,seksi Ketenagalistrikan dan energi selama kurang lebih tiga minggu, sayamemperoleh kesimpulan bahwa : 1. Pembangunan PLTMH mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat, terutama yang berada di daerah terpencil. 2. Izin pembangunan PLTMH yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara adalah kewenangan Bupati Banjarnegara. 3. Dengan izin pembangunan PLTMH, pemerintah kabupaten Banjarnegara mampu melaksanakan fungsi pengawasan dengan baik. 4. Pemegang Izin Usaha PLTMH harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dicantumkan di dalam Izin Usahanya dan apabila tidak dilaksanakan kewajiban tersebut maka izin usahanya akan dikenai sanksi administratif.5.2 Saran 1. Meningkatkan terus pembangunan PLTMH, terutama yang mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil di Kabupaten Banjarnegara, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan di Kabupaten Banjarnegara. 45
  54. 54. 2. Terus meningkatkan keikut-sertaan pegawai-pegawai Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara dalam diklat-diklat dan pendidikan- pendidikan yang berkaitan dengan ketenagalistrikan guna menciptakan pelayanan kepada masyarakat yang lebih optimal.3. Terus-menerus melakukan sosialisasi tentang regulasi ketenagalistrikan kepada masyarakat umum, supaya tidak ada lagi konsep bahwa kebijakan pemerintah yang mempersulit masyarakatnya.4. Meningkatkan pengawasan terhadap pemegang izin usaha supaya tidak terjadi pelanggaran dan tidak merugikan konsumen. 46
  55. 55. DAFTAR PUSTAKA1. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (DESDM), 2005, “Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau)”, Jakarta.2. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (DESDM), 2006, “Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Sumber Energi Baru dan Terbarukan untuk Mendukung Keamanan Ketersediaan Energi Tahun 2025”, Jakarta3. Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara, 2009, “Pengurusan Perijinan PLTMH Di Daerah”, Banjarnegara.4. Humas Setda Banjarnegara, 2010, “Profil Kabupaten Banjarnegara”, Banjarnegara.5. Joko Priyanto, 2008, “Kertas Kerja Wajib Desa Mandiri Energi Berbasis PLTMH di Desa Daleman Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten “, Cepu6. Sitompul Hotman, 2007, “Persyaratan Izin Penyediaan Tenaga Listrik”, Jakarta.7. Sitompul Rislima, 2011, “Manual Pelatihan Teknologi Energi Terbarukan Yang Tepat Untuk Aplikasi Di Masyarakat Perdesaan”, Jakarta.8. ______,2005, “Peraturan Pemerintah Nomor: 3. Tentang Perubahan Atas PP No. 10 tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik Pasal 6 ayat (4)”9. ______, 2010, “Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara Nomor : 10. tentang ketenagalistrikan”
  56. 56. Sumber Energi Primer di Indonesia (Tahun 2005)1 RASIO PRODUKSI (per CAD/PROD JENIS ENERGI FOSIL SUMBER DAYA CADANGAN Tahun) (tanpa ekplorasi) TahunMinyak 86,9 miliar barel 9,1 milar barel 387 juta barel 23 185,8 TSCFGas 384,7 TSCF (P1+P2) 2,97 TSCF 62Batubara 58 miliar ton 19,3 miliar ton 132 juta ton 146 KAPASITAS ENRGI NON FOSIL SUMBER DAYA SETARA PEMANFAATAN TERPASANGTenaga Air 845,0 juta BOE 75,67 GW 6.8851,0 GWh 4,2 GWPanas Bumi 219,0 juta SBM 27,14 GW 2.593,50 GWh 0,852 GWMini/Micro hydro 0,46 GW 0,46 GW 0,084 GWBiomassa 49,81 GW 0,302 GWTenaga Surya 4,80 kWh/m2/hari 0,008 GWTenaga Angin 9,29 GW 0,0005 GWUraniaum 24.112 ton*) 33,0 GW*)*) hanya di daerah Kalan Kalimantan Barat1) DESDM Lampiran 01
  57. 57. Lampiran 02 DATA PNS DINAS PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DAN ENERGI SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2011 JENIS JENIS GOL / JENIS PENDIDIKANNO KEPEGAWAIAN JUMLAH KELAMIN KET RUANG CPNS PNS SD SLTP SLTA DIII S1 S2 L P1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 I I/a - 8 8 8 - - - - - 8 - I/b - - - - - - - - - - - I/c 4 9 13 - 13 - - - - 13 - I/d - 2 2 - 2 - - - - 2 - Jumlah 4 19 23 8 15 - - - - 23 -II II/a 3 24 27 4 6 17 - - - 26 1 II/b - 4 4 - 1 3 - - - 4 - II/c 1 1 2 - 1 - 1 - - 2 - II/d - 6 6 - 2 4 - - - 6 - Jumlah 4 35 39 4 10 24 - - - 38 1III III/a 1 9 10 - - 2 - 8 - 8 2 III/b - 6 6 - - 4 - 2 - 4 2 III/c - 10 10 - - 5 - 3 2 8 2 III/d - 5 5 - - - - 5 - 3 2 Jumlah 1 30 31 - - 11 - 18 2 23 8IV IV/a - 1 1 - - - - 1 - 1 - IV/b - 1 1 - - - - 1 - 1 - IV/c - 1 1 - - - - - 1 1 - IV/d - - - - - - - - - - - IV/E - - - - - - - - - - - Jumlah - 3 3 - - - - 2 1 3 - JUMLAH 9 87 96 12 25 35 1 20 3 87 9 TOTAL Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Banjarnegara 2011

×