Kajian maut dan cinta new
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kajian maut dan cinta new

on

  • 244 views

 

Statistics

Views

Total Views
244
Views on SlideShare
239
Embed Views
5

Actions

Likes
0
Downloads
1
Comments
0

1 Embed 5

http://www.slideee.com 5

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kajian maut dan cinta new Kajian maut dan cinta new Document Transcript

  • 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra. Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa. Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Novel, Cerita pendek atau cerpen (tertulis/lisan), Syair, Pantun, Sandiwara ataudrama, Lukisan atau kaligrafi.
  • 2 Kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta dengan akar kata sas yang berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi ; dan kata tra yang berarti alat atau sarana. Kata sastra dikombinasikan dengan kata su yang berarti baik, Jadi secara leksikal susastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik (Teeuw dalam Ratna, 2005 : 4). Filsuf Horatius mengungkapkan bahwa sebuah karya sastra haruslah dulce, utile, prodesse et delectare (indah, berguna, manfaat, dan nikmat). Oleh karena itu sastra dikaitkan dengan estetika atau keindahan. Selain pada isinya, lokus keindahan sastra terletak pada bahasa. Dalam sebuah karya sastra, bahasa yang dipakai terasa berbeda dengan bahasa sehari-hari, karena telah disusun, dikombinasikan, mengalami deotomisasi dan defamiliarisasi ; karena adanya kata-kata yang aneh, berbeda, atau asing (ostranenie) ; juga karena adanya kebebasan penyair untuk menggunakan atau bahkan “mempermainkan” bahasa (licentia poetica). Bahasa dalam sastra dikenal penuh dengan ambiguitas dan homonim, serta kategori-kategori yang tidak beraturan dan irrasional. Bahasa sastra juga penuh dengan asosiasi, mengacu pada ungkapan atau karya yang diciptakan sebelumnya. Dalam bahasa sastra sangat dipentingkan tanda, simbolisme, dan suara dari kata-kata. Bahasa sastra bersifat konotatif dan refensial serta memiliki fungsi ekspresif untuk menunjukkan nada dan sikap pembicara atau penulisnya. Bahasa sastra
  • 3 berusaha mempengaruhi, membujuk, dan pada akhirnya mengubah sikap pembaca (Welleck & Warren, 1990 : 15). Karya sastra merupakan rekonstrusi yang harus dipahami dengan memanfaatkan mediasi. Karya sastra membangun dunia melalui energi kata- kata. Melalui kualitas hubungan paradigmatik, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sesuatu yang lain di luar dirinya. Bahasa mengikat keseluruhan aspek kehidupan, untuk kemudian disajikan dengan cara yang khas dan unik agar peristiwa yang sesungguhnya dipahami secara lebih bermakna. Lebih intens, dan dengan sendirinya lebih luas dan lebih mendalam (Ratna, 2005 : 16) Hakikat sastra adalah imajinasi dan kreativitas, sehingga sastra selalu dikaitkan dengan ciri-ciri tersebut. Sastra sebagai karya imajinatif. Acuan dalam sastra adalah dunia fiksi atau imajinasi. Sastra mentransformasikan kenyataan ke dalam teks. Sastra menyajikan dunia dalam kata, yang bukan dunia sesungguhnya, namun dunia yang ‘mungkin’ada. Walaupun berbicara dengan acuan dunia fiksi, namun, menurut Max Eastman, kebenaran dalam karya sastra sama dengan kebenaran di luar karya sastra, yaitu pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan. Fungsi utama sastrawan adalah membuat manusia melihat apa yang sehari-hari ada di dalam kehidupan, dan membayangkan apa yang secara konseptual dan nyata sebenarnya sudah diketahui (Welleck & Warren, 1990 : 30-31).
  • 4 Selain bercirikan keindahan, sebuah karya sastra haruslah memiliki kegunaan. Dalam hal ini perlu dibahas fungsi sastra bagi manusia, yaitu sebagai kesenangan dan manfaat. Kedua sifat tersebut saling mengisi. Kesenangan yang diperoleh melalui pembacaan karya sastra bukanlah kesenangan ragawi, melainkan kesenangan yang lebih tinggi, yaitu kesenangan kontemplasi yang tidak mencari keuntungan. Sedangkan manfaatnya adalah keseriusan yang menyenangkan, keseriusan estetis, dan keseriusan persepsi. Selain itu sastra juga memiliki fungsi katarsis, yaitu membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi. Mengekspresikan emosi berarti melepaskan diri dari emosi itu, sehingga terciptalah rasa lepas dan ketenangan pikiran (Welleck & Warren, 1990 : 34-35). Jadi, sastra berfungsi untuk meningkatkan kehidupan. Fungsi yang sama juga diemban oleh kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan menurut Marvin Haris adalah seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku (Haris dalam Ratna, 2005 : 5). Dari definisi tersebut terlihat bahwa kebudayaan mengkaji aktivitas manusia, sebuah wilayah kajian yang juga dimiliki oleh sastra. Dapat dikatakan bahwa sastra adalah salah satu aspek kebudayaan yang memegang peranan penting, sehingga sastra terlibat dalam kebudayaan. Hakikat sastra dan kebudayaan adalah hakikat fiksi dan fakta. Karya sastra dibangun atas dasar rekaan, dienergisasikan oleh imajinasi, sehingga dapat mengevokasikan kenyataan-kenyataan, sedangkan kebudayaan memberi isi, sehingga kenyataan yang ada dalam karya sastra dapat
  • 5 dipahami secara komprehensif. Sastra dan kebudayaan berbicara mengenai aktivitas manusia. Sastra melalui kemampuan imajinasi dan kreativitas sebagai kemampuan emosional, sedangkan kebudayaan melalui kemampuan akal, sebagai kemampuan intelektualitas. Kebudayaan mengolah alam melalui akal, melalui teknologi. Sedangkan sastra mengolah alam melalui kemampuan tulisan. Sastra membangun alam, membangun dunia baru sebagai dunia dalam kata. Sastra dan kebudayaan untuk pencerahan akal budi manusia untuk meningkatkan kehidupan. Sastra dan kebudayaan kemudian menjadi bahan kajian dalam cultural studies (studi kultural). karya sastra merupakan objek studi kultural yang kaya akan nilai. Selain itu, karya sastra juga dinilai sebagai rekaman peristiwa- peristiwa kebudayaan. Studi kultural memahami karya sastra dalam kaitan sebagaimana adanya, dengan memanfaatkan petunjuk yang ada dalam teks sebagai hakikat pluralitas. Saat ini teori yang dianggap paling kuat untuk menganalisis hubungan antara sastra dan kebudayaan adalah teori postrukturalisme. Teori ini memberikan warna baru yang lebih kompleks bagi kajian sastra. Paradigma postrukturalisme memberikan perhatian kepada pembaca dengan konsepnya tentang kematian pengarang. Karya sastra dianggap memiliki ruang-ruang kosong, tempat para pembaca memberikan penafsirannya. Karya sastra menjadi berisi, setelah ruang kosong tersebut diisi oleh penafsiran pembaca. Semakin banyak ruang kosong tersebut, maka semakin
  • 6 banyak kesempatan pembaca untuk berdialog dengan penulis. Makna suatu karya sastra dapat berubah-ubah tergantung pada pembacanya. Setiap pembaca dapat memberikan penafsiran yang berbeda-beda. Di sinilah letaknya kekayaan makna suatu karya sastra. Karya sastra pun dikatakan bersifat terbuka, karena tema, latar, tokoh, plot, dan keseluruhan penafsiran merupakan sistem yang terbuka, berubah sesuai dengan situasi dan kondisi pembaca. Setiap aktivitas pemahaman melahirkan makna yang baru sebab tidak ada wacana yang pertama maupun terkahir, setiap wacana merayakan kelahirannya (Todorov dalam Ratna, 2005 : 145). Sumbangan terpenting postrukturalisme terhadap kebudayaan adalah pergeseran paradigma dari pusat ke pinggiran. Studi kultural kemudian diarahkan pada kompetensi masyarakat tertentu, masyarakat yang terlupakan, masyarakat yang terpinggirkan, masyarakat marjinal. Teori sastra feminis, yaitu teori yang berhubungan dengan gerakan perempuan,adalah salah satu aliran yang banyak memberikan sumbangan dalam perkembangan studi kultural. Sastra feminis berakar dari pemahaman mengenai inferioritas perempuan. Konsep kunci feminis adalah kesetaraan antara martabat perempuan dan laki-laki. Teori feminis muncul seiring dengan bangkitnya kesadaran bahwa sebagai manusia, perempuan juga selayaknya memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki.
  • 7 John Stuart Mill dan Harriet Taylor menyatakan bahwa untuk memaksimalkan kegunaan yang total (kebahagiaan / kenikmatan) adalah dengan membiarkan setiap individu mengejar apa yang mereka inginkan, selama mereka tidak saling membatasi atau menghalangi di dalam proses pencapaian tersebut. Mill dan Taylor yakin bahwa jika masyarakat ingin mencapai kesetaraan seksual atau keadilan gender, maka masyarakat harus memberi perempuan hak politik dan kesempatan, serta pendidikan yang sama dengan yang dinikmati oleh laki-laki (Tong, 1998 : 23). Novel berasal dari bahasa Italia, yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku. lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah citra diri perempuan dalam novel “Maut dan Cinta” karya Mochtar Lubis?
  • 8 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, tujuan umum dari peneli- tian ini yakni untuk mendeskripsikan citra diri perempuan dalam novel “Maut dan Cinta” karya Mochtar Lubis. 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu manfaat teoritis dan praktis. 1.Secara Teoritis a . Diharapkan hasil penelitian ini bisa memberi konstribusi pada perkembangan karya sastra, khususnya pengetahuan menganalisa cerpen. b . Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi acuan bagi peneliti berikutnya yang tertarik dengan masalah ini. 2. Secara Praktisa a . Hasil penelitian ini bisa digunakan oleh pembaca sebgai sarana pendidikan menjadi sebuah model untuk belajar menganalisa karya sastra. b. Hasil penelitian ini bisa ,enumbuhkan kritik moral antara pembacadalam pengamatan dan mengerti budaya serta nilai kehidupan manusia dalam karya sastra.
  • 9 BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Teori Feminisme Dunia ini penuh dengan dominasi kaum laki-laki. Benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan kaum perempuan; apakah mereka merupakan bagian masyarakat yang terbuang, kelas masyarakat tanpa eksistensi dan tidak mempunyai arti dan makna seiring kehadiran manusia di jagat ini? Argumentasinya tidak. Sebab kehadiran kaum perempuan telah memberikan warna tersendiri bagi dinamika kehidupan itu sendiri kendati sumbangsih mereka lebih sering diklaim tidak sedashyat dengan apa yang telah diraih kaum laki-laki. Barangkali absurd untuk menilai kenyataan tersebut apabila kacata mata yang kita pakai adalah produk modern. Namun kesaksian sejarah tidak bisa diabaikan. Dalam masa modern masih ada pihak atau pun perlakuan yang menempatkan kaum perempuan hanya sekadar sebagai pelengkap kalau enggan disebut sebagai masyarakat kelas dua. Sesungguhnya pernyataan awal di atas merupakan potret yang mewakili realitas bagaimana kaum perempuan pernah ditindas, dibatasi hak-haknya dalam ranah apapun. Juga merupakan cuatan nurani yang keluar dari hegemoni kekuasaan yang melegalkan diskriminasi gender terhadap perempuan. Berabad-abad lamanya perempuan hidup tatanan patriarki yang sungguh tidak berpihak pada asas egaliter
  • 10 sehingga aktivitas yang dilakukan lebih bernuasa pelayan dalam segala aspek; memenuhi kewajiban sebagai ibu rumah tangga, mengasuh anak, dan melayani suami sedangkan perkara-perkara yang ada di luar rumah tangga merupakan wilayah tabu. Reliatas penindasan yang dipraktekan secara sistemik tersebut mengilhami beberapa tokoh perempuan untuk mewujudkan gerakan pembebasan yang kemudian diistilahkan dengan feminisme. Feminisme merupakan suatu gerakan emansipasi wanita dan gerakan ini bukanlah sesuatu hal baru di dunia. Gerakan yang dimunculkan oleh Marry Wallstonecraff, seorang wanita yang telah berhasil mendobrak dunia lewat bukunya The Right of Woman pada tahun 1972 dengan lantang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita. Gaung feminisme inipun disambut hangat di beberapa kalangan di dunia Barat. Feminisme berkenaan dengan pembebasan perempuan daripada penindasan oleh kaum lelaki. Dalam istilah yang mudah, feminisme merupakan kepercayaan kepada kesamaan sosial, politik, dan ekonomi antara kedua-dua jantina, serta kepada sebuah gerakan yang dikendalikan berdasarkan keyakinan bahawa jantina harus tidak merupakan faktor penentu yang membentuk identiti sosial atau hak-hak sosiopolitik dan ekonomi seseorang. Sebagian besar ahli-ahli gerakan wanita bimbang akan apa yang dianggapnya sebagai ketaksamaan sosial, politik, dan ekonomi antara kedua- dua jantina yang memihak kepada kaum lelaki sehingga menjejaskan kepentingan kaum perempuan; setengah dari mereka memperdebatkan bahwa
  • 11 identiti-identiti berdasarkan jantina, seperti "lelaki" dan "perempuan", merupakan ciptaan masyarakat. Di bawah tekanan berterusan untuk mengikut norma-norma kelelakian, ahli-ahli gerakan kewanitaan tidak bersetuju antara satu sama lain tentang persoalan-persoalan punca ketaksamaan, bagaimana kesamaan harus dicapai, serta takat jantina dan identiti berdasarkan jantina yang harus dipersoalkan dan dikritik. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapan hukum. Pada 1785 perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda. Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, "Perempuan sebagai Subyek" ( The Subjection of Women) pada tahun
  • 12 (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang Pertama. Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya - terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan di depan, di luar rumah, sementara kaum perempuan di dalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang merambah ke Amerika Serikat dan ke seluruh dunia. Adanya fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Kristen terjadi praktik-praktik dan kotbah-kotbah yang menunjang hal ini ditilik dari banyaknya gereja menolak adanya pendeta perempuan, dan beberapa jabatan "tua" hanya dapat dijabat oleh pria. Pergerakan di Eropa untuk "menaikkan derajat kaum perempuan" disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Pada tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul "Mempertahankan Hak-hak Wanita" (Vindication of the Right of Woman)
  • 13 yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktik perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan , diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keterikatan (perempuan) universal (universal sisterhood). Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakannya perempuan dalam hak suara parlemen. Gelombang kedua ini dipelopori oleh para feminis Perancis seperti Helene Cixous (seorang Yahudi kelahiran Aljazair yang kemudian menetap di Perancis) dan Julia Kristeva (seorang Bulgaria yang kemudian menetap di Perancis) bersamaan dengan kelahiran dekonstruksionis, Derrida. Dalam the Laugh of the Medusa, Cixous mengkritik logosentrisme yang banyak didominasi oleh nilai-nilai maskulin. Banyak feminis-individualis kulit putih, meskipun tidak semua, mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan- perempuan dunia ketiga seperti Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Teori feminisme menfokuskan diri pada pentingnya kesadaran mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam semua
  • 14 bidang. Teori ini berkembang sebagai reaksi dari fakta yang terjadi di masyarakat, yaitu adanya konflik kelas, konflik ras, dan, terutama, karena adanya konflik gender. Feminisme mencoba untuk mendekonstruksi sistem yang menimbulkan kelompok yang mendominasi dan didominasi, serta sistem hegemoni di mana kelompok subordinat terpaksa harus menerima nilai-nilai yang ditetapkan oleh kelompok yang berkuasa. Feminisme mencoba untuk menghilangkan pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat. Lebih jauh lagi, feminisme menolak ketidakadilan sebagai akibat masyarakat patriarki, menolak sejarah dan filsafat sebagai disiplin yang berpusat pada laki-laki (Ratna, 2004 : 186). Betty Friedan menyatakan menentang diskriminasi seks di segala bidang kehidupan : sosial, politik, ekonomi, dan personal. Sebagai seorang feminis liberal, Friedan ingin membebaskan perempuan dari peran gender yang opresif, yaitu peran-peran yang digunakan sebagai alasan atau pembenaran untuk memberikan tempat yang lebih rendah, atau tidak memberikan tempat sama sekali, bagi perempuan, baik di dalam akademi, forum, maupun pasar (Tong, 1998 : 49). Teori feminisme memperlihatkan dua perbedaan mendasar dalam melihat perempuan dan laki-laki. Ungkapan male-female yang memperlihatkan aspek perbedaan biologis sebagai hakikat alamiah, kodrati. Sedangkan ungkapan masculine-feminine merupakan aspek perbedaan psikologis dan kultural (Ratna, 2004 : 184). Kaum feminis radikal-
  • 15 kultural menyatakan bahwa perbedaan seks atau gender mengalir bukan semata-mata dari biologi, melainkan juga dari sosialisasi atau sejarah keseluruhan menjadi perempuan di dalam masyarakat yang patriarkal (Tong, 1998 : 71). Simon de Beauvoir menyatakan bahwa dalam masyarakat patriarkal, perempuan ditempatkan sebagai yang Lain atau Liyan, sebagai manusia kelas dua (deuxième sexe) yang lebih rendah menurut kodratnya (Selden, 1985 : 137). Kedudukan sebagai Liyan mempengaruhi segala bentuk eksistensi sosial dan kultural perempuan (Cavallaro, 2001 : 202). Masyarakat patriarkal menggunakan fakta tertentu mengenai fisiologi perempuan dan laki-laki sebagai dasar untuk membangun serangkaian identitas dan perilaku maskulin dan feminin yang diberlakukan untuk memberdayakan laki- laki di satu sisi dan melemahkan perempuan di sisi lain. Masyarakat patriarkal menyakinkan dirinya sendiri bahwa konstruksi budaya adalah “alamiah” dan karena itu “normalitas” seseorang tergantung pada kemampuannya untuk menunjukkan identitas dan perilaku gender. Perilaku ini secara kultural dihubungkan dengan jenis kelamin biologis seseorang. Masyarakat patriarkal menggunakan peran gender yang kaku untuk memastikan perempuan tetap pasif (penuh kasih sayang, penurut, tanggap terhadap simpati dan persetujuan, ceria, baik, ramah) dan laki-laki tetap aktif (kuat, agresif, penuh rasa ingin tahu, ambisius, penuh rencana, bertanggung jawab, orisinil, kompetitif) (Tong, 1998 : 72-73).
  • 16 Sementara menurut Millet, ideologi patriarkal dalam akademi, insitusi keagamaan, dan keluarga membenarkan dan menegaskan subordinasi perempuan terhadap laki-laki yang berakibat bagi kebanyakan perempuan untuk menginternalisasi diri terhadap laki-laki. Jadi dapat disimpulkan bahwa menjadi perempuan disebabkan oleh nilai-nilai kutural dan bukan oleh hakiaktnya, oleh karena itu, gerakan dan teori feminisme berjuang agar nilai-nilai kultural yang menempatkan perempuan sebagai Liyan, sebagai kelompok “yang lain”, yang termajinalkan dapat digantikan dengan keseimbangan yang dinamis antara perempuan dan laki-laki. Pembicaraan perempuan dari segi teori feminis akan melibatkan masalah gender, yaitu bagaimana perempuan tersubordinasi secara kultural. Analisis feminis pasti akan mempermasalahkan perempuan dalam hubungannya dengan tuntutan persamaan hak, dengan kata lain tuntutan emansipasi. Feminisme selain merupakan gerakan kebudayaan, politik, sosial, dan ekonomi, juga merupakan salah satu teori sastra, yaitu sastra feminis. Teori sastra feminis melihat bagaimana nilai-nilai budaya yang dianut suatu masyarakat, suatu kebudayaan, yang menempatkan perempuan pada kedudukan tertentu serta melihat bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi hubungan antara perempuan dan laki-laki dalam tingkatan psikologis dan budaya. Dalam hubungannya dengan studi kultural, studi ini merupakan gerakan keilmuan dan praksis kebudayaan yang mencoba
  • 17 kritis dalam menangkap teori kebudayaan yang bias “kepentingan elit budaya dan kekuasaan”. Studi ini bertujuan menimbulkan kesadaran yang akan membebaskan manusia dari masyarakat irasional. Studi kultural juga mempersoalkan hubungan antara budaya dan kekuasaan yang mempertanyakan konsep-konsep konvensional menyangkut kebenaran, nilai, kesatuan, dan kestabilan. Oleh karena itu, karya sastra akan dilihat sebagai teks yang merupakan objek dan data yang selalu terbuka bagi pembacaan dan penafsiran yang beragam. Teks diterima dan dipahami oleh pembacanya dan lingkungan budaya di mana teks tersebut diproduksi dan dikonsumsi (Cavallaro, 2001 : 109-110). Jadi, teks bersifat intertekstual dan sekaligus subjektif atau dengan kata lain, teks bersifat intersubjektif. Artinya teks tergantung pada bagaimana penafsiran-penafsiran yang diajukan orang lain dalam kode-kode dan konvensi-konvensi suatu komunitas, dan dengan demikian disahkan atau ditolak (Cavallaro, 2001 : 110-111). Julia Kristeva dan Roland Barthes menyatakan bahwa teks dibentuk oleh kode-kode dan konvensi- konvensi budaya serta mewujudkan ideologi tertentu. Lebih jauh Kristeva dan Barthes memperlihatkan hubungan antara teks dan tubuh, memperlihatkan keterkaitan antara tekstualitas dan fisikalitas. Kristeva memperkenalkan symbolic, yaitu tanda-tanda yang dihubungkan dengan simbol-simbol kekuasaan dominan dan menekan tubuh dengan menundukkan dorongan-dorongan pada hukum abstrak.
  • 18 Secara seksual, simbolik memapankan perbedaan-perbedaan yang ketat antara maskulinitas dan feminitas, heteroseksual dan homoseksual; secara kultural, simbolik mengharuskan individu-individu untuk patuh pada struktur politik, agama, kekeluargaan, hukum, dan ekonomi (Cavallaro, 2001 : 120-121). Melalui konsep hegemoni, Antonio Gramci mengidentifikasikan mekanisme-mekanisme yang memungkinkan sebuah sistem dalam mempertahankan kekuasaannya. Hegemoni berkembang dengan cara meyakinkan kelompok-kelompok sosial yang subordinat agar menerima sistem kultural dan nilai-nilai etik yang dihargai oleh kelompok yang berkuasa seolah-olah sistem dan nilai tersebut benar secara universal dan melekat dalam kehidupan manusia. Kaum perempuan, juga kaum gay dan kaum kulit berwarna, dipandang menyimpang dari norma-norma patriarkal, heteroseksual, dan masyarakat kulit putih. Perempuan dipandang sebagai Liyan berdasarkan jenis kelamin biologisnya, posisi gendernya dalam suatu budaya, serta berdasarkan latar bealkang etnis, pendidikan, profesi, kelas sosial, dan kemampuan serta ketidakmampuan fisik maupun psikologisnya (Cavallaro, 2001 : 223-224). Norma-norma serta nilai-nilai moral dan budaya yang hidup dan dianut di dalam suatu masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karya sastra, karena karya sastra lahir dari suatu masyarakat, karena karya sastra ditulis untuk menggambarkan suatu masyarakat, suatu dunia luar.
  • 19 Studi kultural digunakan untuk melihat dan kemudian memahami nilai- nilai budaya yang hidup dalam suatu masyarakat sebagaimana tercermin dalam karya sastra. 2.2 Teori Feminis Marxis-Sosialis Konsep Marxis atas sifat manusia adalah manusia menciptakan cara sendiri untuk dapat tetap hidup. Manusia menciptakan dirinya dalam proses yang sengaja, atau yang dilakukan dengan sadar yang bertujuan untuk mentransformasi dan memanipulasi alam. Dalam suatu doktrin yang biasanya yang diberi istilah materisalisme historis, Marx menegaskan, “Modus produksi dari kehidupan sosial mengkondisikan proses umum kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan eksistensi mereka, melainkan eksistensi sosial menentukan kesadaran mereka”. Komentar bahwa ”Pekerjaan perempuan tidak pernah selesai” bagi feminis Marxis adalah lebih dari sekedar afomisme, komentar itu merupakan gambaran dari sifat pekerjaan perempuan. Karena itu feminis Marxis percaya bahwa untuk memahami mengapa perempuan teropresi, sementara laki-laki tidak, maka kita perlu menganalisis hubungan antara status pekerjaan perempuan dan citra diri perempuan. Dalam teori ekonomi Marxis, feminis Marxis percaya bahwa pekerjaan perempuan membentuk pemikiran perempuan dan karena itu membentuk juga sifat-sifat alamiah perempuan. Mereka juga percaya bahwa kapitalisme adalah suatu sistem hubungan kekuasaan yang eksploitatif (majikan
  • 20 mempunyai kekuasaan yang lebih besar, mengkoersi pekerja untuk bekerja lebih keras) dan hubungan pertukaran (bekerja untuk upah, hubungan yang diperjualbelikan). Feminisme Marxis menolak hubungan kontraktual antara pekerja dan majikan. Marx memandang bahwa tidak ada pilihan bebas yang dapat diambil oleh pekerja. Majikan mempunyai monopoli alat produksi, karena itu pekerja harus memilih antara dieksploitasi atau tidak punya pekerjaan sama sekali. Atas dasar pemikiran ini, feminis Marxis berpendapat bahwa pada kondisi dimana seseorang tidak mempunyai hal berharga untuk dijual lagi lebih dari dan diluar tubuhnya, kekuatan tawarnya di pasar menjadi terbatas. Berdasarkan teori kemasyarakatan, Marxis menganalisis bahwa kapitalis menciptakan jurang yang dalam (kelas) antara 2 kelompok yaitu pekerja (miskin dan tidak memiliki properti) dan majikan (hidup dalam kemewahan). Ketika dua kelompok ini, yang punya dan yang tidak, menjadi sadar akan dirinya sebagai kelas maka perjuangan kelas secara tidak terhindarkan akan menimbulkan dan pada akhirnya melucuti sistem yang menghasilkan kelas ini. Kelas tidak begitu saja muncul. Kelas muncul secara perlahan-lahan dibentuk oleh orang-orang yang berbagi kebutuhan dan keinginan yang sama. Pentingnya kelas tidak dapat diabaikan. Ketika sebagai kelompok manusia menyadari sepenuhnya kelompoknya sebagai kelas, kelompok ini mempunyai kesempatan yang besar untuk mencapai tujuan fundamentalnya. Ada kekuatan dalam jumlah. Kesadaran kelas menyebabkan orang-orang yang tereksploitasi
  • 21 untuk percaya bahwa mereka bebas untuk bertindak dan berbicara sama seperti orang-orang yang mengeksploitasinya. Allen Wood dalam bukunya Karl Marx mengungkapkan pembagian kelas dapat menimbulkan kebencian dan sifat yang tersegmentasi serta terspesialisasi dari proses kerja, dimana eksistensi manusia akan kehilangan kesatuan dan keutuhannya dengan empat cara yaitu pertama, manusia teralienasi dari produk kerja, kedua teralienasi dari diri mereka sendiri, ketiga teralienasi dari manusia lainnya dan keempat teralienasi dari alam. Ann Foreman berpendapat, jika alienasi pada perempuan sangatlah mengganggu karena perempuan mengalami dirinya bukan sebagai Diri, melainkan sebagai Liyan. Karena itu, feminis Marxis ingin menciptakan dunia tempat perempuan dapat mengalami dirinya sebagai manusia yang utuh, sebagai manusia yang terintegrasi dan bukan terfragmentasi, sebagai orang yang dapat berbahagia, bahkan ketika mereka tidak mampu membuat keluarga atau temannya bahagia. Teori politik marxis juga menawarkan suatu analisis kelas yang memberikan janji untuk membebaskan perempuan dari kekuatan yang mengopresinya. Marxisme berpendapat bahwa perempuan dan laki-laki dapat bersama-sama membangun struktur sosial dan peran sosial yang memungkinkan kedua gender untuk merealisasikan potensi kemanusiaannya secara penuh. Friedrich Engels dalam bukunya The Origin of the Family, menekankan bahwa ketika seorang laki-laki mengambil seorang perempuan, ia kemudian
  • 22 hidup di dalam rumah tangga si perempuan, Engels memaknai keadaan ini bukan sebagai tanda subordinasi perempuan, melainkan sebagai tanda kekuatan ekonomi perempuan. Engels berspekulasi bahwa masyarakat berpasangan mungkin bukan hanya matrilinear, tetapi juga matriakal, masyarakat yang didalamnya perempuan mempunyai kekuatan ekonomi, sosial, dan politik. Point utamanya, tetap bahwa apapun status perempuan di masa lalu, status itu diperoleh dari posisinya di dalam rumah tangga, pusat produksi primitif. Sejalan dengan mulainya produksi di luar rumah yang melampaui produksi di dalam rumah, pembagian kerja tradisional berdasarkan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, mempunyai makna sosial baru. Dengan semakin dianggap pentingnya pekerjaan dan produksi laki-laki, bukan saja nilai dan pekerjaan serta produksi perempuan menurun, melainkan status perempuan di dalam masyarakat juga menurun. Dalam tatanan keluarga baru inilah, menurut Engels, suami berkuasa atas dasar kekuatan ekonominya. Menurut Margareth Benston, perempuan pada awalnya adalah produsen dan hanya merupakan konsumen sekunder. Sesungguhnya perempuan merupakan kelas yaitu kelas manusia yang bertanggung jawab atas produksi nilai guna sederhana dalam kegiatan yang diasosiasikan dengan rumah dan keluarga. Kunci bagi pembebasan perempuan adalah sosialisasi pekerjaan rumah tangga. Menurut Benston, memberikan peluang bagi seorang perempuan untuk memasuki industri publik tanpa secara bersamaan mensosialiasikan pekerjaan domestik berarti menjadikan kondisi perempuan lebih teropresi.
  • 23 Feminis sosialis pada umumnya merupakan hasil ketidakpuasan feminis Marxis atas pemikiran Marxis yang buta gender dan kecenderungan Marxis untuk menganggap opresi terhadap perempuan jauh di bawah pentingnya opresi terhadap pekerja. Feminis sosialis mengklaim bahwa kapitalis tidak dapat dihancurkan kecuali patriarki juga dihancurkan dan bahwa hubungan material dan ekonomi manusia tidak dapat berubah kecuali jika ideologi mereka juga berubah. Perempuan harus menjalani dua perang, untuk dapat terbebas dari opresi. Seorang feminis sosialis kontemporer, Iri Young mentransformasi teori feminis Marxis menjadi teori feminis sosialis yang mampu membahas seluruh kondisi perempuan yaitu posisi perempuan di dalam keluarga dan tempat kerja, peran reproduksi dan seksual perempuan, dan juga peran produktif perempuan. Allison Jaggar seorang feminis sosialis berpendapat dalam bukunya Feminist Politics and Human Nature, dengan cara yang sama seorang buruh dialienasi atau dipisahkan dari produk yang dihasilkannya, tubuhnya. Buruh juga perlahan-lahan teralienasi dari tubuhnya, tubuhnya mulai terasa seperti benda semata, sekedar mesin untuk mengeluarkan tenaga untuk bekerja. Motherhood, seperti seksualitas juga merupakan pengalaman yang mengalienasi perempuan. Perempuan dialienasi dari produk pekerjaan reproduksinya, ketika orang lain yang menentukan, memutuskan, tentang berapa banyak anak yang akan dikandung dan dilahirkannya. Jaggar menekankan, perempuan harus memahami bahwa di
  • 24 dalam struktur patriakal kapitalis abad 20, opresi terhadap perempuan terwujud dalam alienasi perempuan dari segala sesuatu dan dari setiap orang, terutama dirinya sendiri. Hanya jika perempuan memahami sumber sesungguhnya dari ketidakbahagiaannya mereka, perempuan akan berada di dalam posisi untuk melawannya. Feminis Marxis beranggapan bahwa opresi di tempat kerja lebih utama daripada opresi perempuan. Kelas lebih penting daripada gender, karena itu feminis Marxis tidak melihat adanya opresi yang dapat terjadi pada perempuan pekerja di tempat kerja. Teori feminis marxis cenderung buta gender. Teori feminis Marxis belum menjelaskan secara lengkap opresi yang terjadi di dalam keluarga (terhadap istri, anak dan suami), sebagai akibat dari posisi mereka sebagai pekerja di tempat kerja. Kekuatan teori feminis Marxis, melihat tingkatan opresi dari berbagai sudut politik, masyarakat, ekonomi dan tentang manusia. Cita-cita Marxis untuk menciptakan dunia yang nyaman bagi perempuan, agar perempuan dapat mengalami dirinya sebagai manusia yang utuh dan terintegrasi bukan terfragmentasi. Dengan adanya cita-cita ini dapat menginspirasi perempuan dari berbagai kelas untuk menyatukan kekuatan atas dasar opresi yang sama sebagai kesadaran penuh untuk merebut kebahagiaan bersama. Feminis sosilais tidak menekankan peran ras dan umur yang bermain dalam sistem kesejahteraan sebagai hal yang dapat menjadi alasan opresi terhadap perempuan, sebagai contoh pada ras dan umur perempuan afrika yang harus melewati rintangan birokrasi yang panjang .
  • 25 Feminis sosialis menganalisis lebih jeli tentang opresi perempuan di dalam keluarga dan posisi subordinat perempuan akibat sistem patriarki, bukan semata-mata karena sistem kapitalis. Sistem kapitalis dapat dihancurkan jika sistem patriarki turut dihancurkan. Perlu adanya revolusi Marxis untuk menghancurkan masyarakat kelas dan revolusi feminis untuk menghancurkan sistem sex atau gender ( Juliet Mitchel dalam bukunya Woman’s state). Dalam teori Marxis tentang sifat manusia, Marxis melihat perempuan sama dengan laki-laki dalam menciptakan masyarakat yang ”membentuk” mereka seperti sekarang, artinya Marxis tidak melihat bahwa perempuan adalah bagian dari masyarakat yang ”dibentuk” oleh laki-laki dan masyarakat patriakal yang menyebabkan perempuan teropresi dari dunia kerja dan di dalam keluarga. Masyarakat patriakal menjadikan perempuan sebagai alat produksi, laki- laki sebagai pemilik atau pengguna alat. Kapitalis adalah laki-laki, yang memiliki cara pandang maskulin. Sehingga menyebabkan perempuan dalam masyarakat kapital hanya sebagai objek pekerja, laki-laki sebagai majikan melihat hasil produksi perempuan di luar rumah (publik) dan di dalam rumah sebagai barang yang tidak bernilai guna. Secara sosial, ekonomi dan pilitik, laki-laki menyebabkan perempuan teropresi. Teori feminis Marxis dan Sosialis jika direfleksikan pada posisi perempuan usaha kecil terhadap akses dan kontrolnya dalam keluarga, sangat memungkinkan perempuan sebagai pengelola usahanya (manajer) menjadi majikan terhadap usahanya sendiri. Namun sistem patriakal dan cara
  • 26 pandang laki-laki yang belum berubah, membawa panderitaan baru bagi perempuan, dimana laki-laki sebagai suami (bukan pengelola usaha) justru bertindak sebagai majikan dan pengelola usaha bagi usaha yang dijalankan istrinya (perempuan). Laki-laki tetap memposisikan perempuan sebagai istri, yang dapat diatur menurut kehendak nya. Kepemilikan aset (usaha) adalah milik istri namun penguasaannya berada di tangan suami (laki-laki). Perempuan tidak memiliki kontrol terhadap usahanya. Dalam pengambilan keputusan tentang barang yang akan di jual dan hasil dari usaha, juga masih ditentukan dan diatur oleh laki-laki. Perempuan usaha kecil tidak memiliki akses dan kontrol. Kondisi ini diperparah dengan sistem nilai patriakal yang turut dianut oleh negara dalam bentuk akses kredit pada perbankan, dimana perempuan yang memiliki dan mengelola sendiri usahanya, tetap tidak dapat mendapatkan pelayanan kredit jika akan mengakses haknya, kecuali atas persetujuan suami. Walaupun perempuan menjadi tulang punggung keluarga secara ekonomi, namun tidak dapat menjamin hak-haknya dapat terpenuhi secara utuh. Hak atas tubuhnya pun, dalam hal ini hak reproduksi untuk menentukan kehamilan dan jumlah anak, ditentukan oleh suami dan dokter (laki-laki ). Perempuan tidak memiliki akses dan kontrol terhadap reproduksinya. Istri teralienasi dari produk pekerjaan reproduksinya. Sebagai perempuan pekerja, pengelola usaha mandiri, perempuan seharusnya berhak utnuk mengmbnagkan usahanya dengan berjejaring dengan perempuan dan masyarakat lainnya, namun hak perempuan untuk
  • 27 mendapatkan akses informasi, hak untuk berkumpul dan berorganisasi , yang telah dijamin negara dalam pasal 27 dan pasal 28 UUD 1945, tidak dapat terimplementasi . Sistem sex/gender yang telah berakar di dalam msyarakat, keluarga dan negara, menjadikan UUD tersebut hanya sebagai penghias sistem ketatanegaraan. Peran dan posisi perempuan di dalam rumah tidak akan berubah jika cara pandang laki-laki, masyarakat, perempuan lainnya dan negara tetap dengan cara pandang maskulin. Perempuan akan terus teropresi. Akses dan kontrol perempuan harus dibuka dan diperluas pada semua bidang kehidupan. Rumah, keluarga, masyarakat, media dan negara bertanggungjawab terhadap setiap penderitaan yang dialami oleh perempuan. Patriarki yang menyebabkan sistem sex atau gender yang tidak adil dan setara harus dihancurkan.
  • 28 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Konsep Dasar Feminis Marxis percaya bahwa untuk memahami mengapa perempuan teropresi, sementara laki-laki tidak, maka kita perlu menganalisis hubungan antara status pekerjaan perempuan dan citra diri perempuan. Dalam teori Marxis tentang sifat manusia, Marxis melihat perempuan sama dengan laki-laki dalam menciptakan masyarakat yang ”membentuk” mereka seperti sekarang, artinya Marxis tidak melihat bahwa perempuan adalah bagian dari masyarakat yang ”dibentuk” oleh laki-laki dan masyarakat patriakal yang menyebabkan perempuan teropresi dari dunia kerja dan di dalam keluarga. Terdapat banyak aliran dalam teori feminisme yang dibagi atas tiga gelombang, yaitu: 1. Gelombang awal a. Feminisme liberal. Aliran ini yang menungkapkan stereotype bahwa perempuan itu lemah dan hanya cocok untuk urusan keluarga. Menekankan pada hak individu serta kesempatan yang sama karena perempuan dan laki-laki itu sama. Menuntut perubahan kebijakan dengan melibatkan perempuan duduk sebagai pengambilan kebijakan. b. Feminisme radikal. Memfokuskan pada permasalahan ketertindasan perempuan (hak untuk memilih adalah slogan mereka). c. Feminisme marxis/sosialis. Perbedaannya bila sosialis menekankan pada penindasan
  • 29 gender dan kelas, marxis menekankan pada masalah kelas sbg penyebab perbedaan fungsi dan status perempuan. 2. Gelombang kedua a. Feminisme eksistensial. Melihat ketertindasan perempuan dari beban reproduksi yang ditanggung perempuan, sehingga tidak mempunyai posisi tawar dengan laki-laki. b. Feminisme gynosentris. Melihat ketertindasan perempuan dari perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan perempuan lebih inferior dibanding laki- laki. 3. Gelombang ketiga a. Feminisme postmoderen. Postmoderen menggali persoalan alienasi perempuan seksual, psikologis, dan sastra dengan bertumpu pada bahasa sebagai sebuah sistem. b. Feminisme multicultural. Melihat ketertindasan perempuan sebagai “satu definisi”, dan tidak melihat ketertindasan terjadi dari kelas dan ras, preferensi sosial, umur, agama, pendidikan, kesehatan, dsb. c. Feminisme global. Menekankan ketertindasannya dalam konteks perdebatan antara feminisme di dunia yang sudah maju dan feminisme di dunia sedang berkembang. d. Ekofeminisme. Berbicara tentang ketidakadilan perempuan dalam lingkungan, berangkat dari adanya ketidakadilan yang dilakukan manusia terhadap non-manusia atau alam. 3.2 Analisis Citra Diri Perempuan Dalam Novel “Maut dan Cinta” Karya Mochtar Lubis
  • 30 Dalam novel yang bertajuk mengenai kondisi kemerdekaan Indonesaia, Lubis mengangkat judul “Maut dan Cinta”. Dalam karyanya, Beliau menceritakan tentang seorang tokoh utama yang bernama Sadeli, yang berjuang mempertahakankan kemerdekaaan Indonesia. Dalam perjalanannya, Sadeli bertemu dengan banyak orang, termasuk wanita. Banyak sekali wanita yang Sadeli jumpai dalam usahanya membeli senjata, pesawat, radio, dan kapal bagi Indonesia. Barang-barang tersebut dibutuhkan Indonesia untuk mempertahakan kemerdekaannya. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaanya, pihak penjajah yakni Belanda tidak terima begitu saja, meskipun mereka mengakui kemerdekaan Indonesia, namun ada usaha dari mereka untuk melancarkan agresi kembali. Untuk itulah Sadeli diutus oleh pemerintah Indonesia membeli barang-barang yang dibutuhkan bagi media informasi dan media keamanan. Wanita-wanita yang dijumpai Sadeli dalam perjalanannya adalah wanita- wanita tangguh yang berasal dari kelas pekerjaan berbeda, ada wanita yang berprofesi sebagai tuna susila (Mai Sung dan Rita Lee), ada juga yang berprofesi sebagai pengusaha dan seniman (Maria), ada juga yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga (Sheila istri Derek Scott), dan ada juga sebagai wanita single (Nani, kekasih Ali Nurdin, teman sekinerja Sadeli). Masing-masing dari wanita tersebut memiliki karakter yang berbeda. Sesuai dengan teori feminis sosial, citra diri perempuan dapat dianalisis dari pekerjaannya. Tiap pekerjaan yang dilakukan oleh wanita, kurang lebihnya akan membangun karakter diri wanita. Citra dari
  • 31 seorang perempuan dapat dilihat dari apa yang dilakukannya. Berbagai macam karakter perempuan dapat kita temukan dalam novel “Maut dan Cinta”. Ada banyak kutipan yang menjelaskan perilaku Sadeli terhadap wanita-wanita yang pernah ia jumpai dalam cerita ini, yakni: 1. ...manusia Indonesia menghormati wanita.... (kutipan halaman14) Dalam novel ini, Sadeli menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menghormati wanita. 2. ... Pertama sekali mempertahankan kemurnian dirinya agar tak “bergaul” dengan wanita, yang ternyata mudah sekali patah. (kutipan halaman 10) Pada awalnya Sadeli memiliki prinsip bahwa ia tidak akan mudah hanyut dalam pesona wanita. Ia ingin fokus pada usahanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun, apa daya dalam perjalanannya, ia melanggar prinsip yang telah dibuatnya itu. 3. Pada Mai Sung, alangkah menggiurkan panas badannya. (kutipan halaman 161) Dalam kutipan ini, Sadeli bertemu dengan wanita tuna susila yang bernama Mai Sung dan ia pun melakukan hubungan seks bersama Mai Sung. Wanita tersebut adalah wanita tuna susila sekaligus mata-mata yang ditugasi oleh Umar Yunus. Umar Yunus adalah orang Indonesia yang ditugasi membeli perlengkapan senjata di Singapura, namun ia menggunakan uang negara untuk kepentingannya sendiri. Umar Yunus curiga terhadap Sadeli, oleh sebab itu ia mengutus Mai Sung.
  • 32 Dalam novel ini, kita dapat melihat karakter Mai Sung, ia adalah seorang yang patuh kepada orang yang membayarnya. Apapun akan dilakukan oleh Mai Sung, asalkan ia mendapatkan uang. Karakter wanita yang tunduk terhadap kaum lelaki. Tak hanya itu saja,ketika Mai Sung berhubungan intim dengan Sadeli, Sadeli memperlakukannya kurang baik. Namun, Mai Sung tidak marah, karena ia tahu itulah pekerjaannya, jadi ia harus menuruti aksi dari setiap lelaki yang memakainya. Karakter seorang wanita yang patuh terhadap hegemoni lelaki, diakibatkan karena faktor ekonomi. 4. Dalam pelukan Rita...Dia akan mengirim surat cerai pada istrinya di Indonesia. Dia akan menetap di Singapura. (kutipan halaman 141) Dalam novel “Maut dan Cinta”, ada tokoh lain yang juga terjerumus dalam pesona wanita, yakni Umar Yunus. Umar Yunus adalah utusan Indonesia untuk membeli senjata di Singapura, namun ia mengkhianati negaranya dan menggunakan uang negara untuk memuaskan nafsunya di Singapura. Ia berselingkuh dengan wanita tuna susila, bernama Rita Lee. Ia membangun rumah, ia membeli mobil di Singapura. Tak hanya itu,ia juga berniat menceraikan istrinya di Indonesia agar bisa menikahi Rita Lee. Dalam kehidupan sehari-hari, Rita Lee adalah seorang yang patuh terhadap Umar Yunus. Pesona Rita Lee mampu membuat Umar Yunus lupa akan negaranya, lupa akan keluarganya.
  • 33 5. Sadeli untuk pertama kalinya, selama hidupnya mengalami seorang perempuan seperti Sheila...Dia heran dan terkejut melihat wanita itu seperti harimau ganas yang kelaparan.... (kutipan halaman125) Sheila, adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki kelainan dalam dunia seks. Sheila pernah menggoda Sadeli untuk melakukan hubungan intim dan Sadeli pun tak mampu menolak keinginan tersebut. 6. “Ya selama hidupku aku tak pernah jatuh cinta baru kali ini dengan Maria. Dan saya sudah cukup tua untuk mengetahui hatiku”. (kutipan halaman 243) Setelah cukup lama Sadeli bertemu dengan banyak wanita, akhirnya ia menemukan tempat pelabuhan hatinya. Selama ini, Sadeli berhubungan dengan wanita bukan karena cinta, namun hanya nafsu belaka. Perasaan cinta itu muncul ketika ia bertemu dengan Maria. Maria adalah gadis yang gemar melukis, ia juga bisa mengolah perusahaan keluarganya dengan baik. Seorang wanita yang memiliki citra diri independent, tak ingin bergantung hanya pada kaum pria. 7. “Aku ingin berbuat sesuatu dalam bidang pendidikan untuk wanita”, kata Nani, “agar wanita Indonesia dapat melepaskan diri dari keterbelakangannya, dan dapat sejajar dengan pria Indonesia”. (kutipan halaman 276) Ada sebuah tokoh dalam novel “Maut dan Cinta”, yang menyatakan kefeminimannya secara gamblang, tokoh itu tak lain adalah Nani. Nani adalah seorang kekasih dari teman sekinerja Sadeli, yakni Ali Nurdin.
  • 34 Nani memiliki cita-cita untuk mengangkat harkat dan derajat kaumnya, kaum wanita. Ia menginginkan wanita tidak lagi dibawah pria, namun sejajar kedudukannya dengan pria. Namun sayang, sebelum cita- citanya terwujud, ia meninggal akibat tembakan peluru tentara Belanda yang menyerang daerah Indonesia. Melalui kutipan-kutipan tersebut, kita dapat melihat perilaku Sadeli, yang tak lain adalah seorang pria, yang memperlakukan wanita seenaknya dan banyak di antaranya hanya dijadikan sebagai objek pelampiasan nafsu. Sadeli melakukan hubungan intim dengan banyak wanita tanpa status apa-apa, ia mengikuti hawa nafsunya tanpa pernah mengekangnya. Ia juga bertindak sebagai laki-laki yang menganggap wanita adalah kaum lemah, kaum di bawahnya. Namun hal itu berubah, setelah ia bertemu dengan Maria. Maria adalah seorang wanita asal Macao, yang dinikahi oleh Sadeli. Seorang wanita yan memiliki pekerjaan sebagai seniman dan pengusaha. Seorang wanita yang memiliki citra diri berkelas. Wanita yang tidak mau dianggap sepele oleh kaum pria. Tidak hanya Sadeli, teman sekinerjanya Ali Nurdin juga mendukung cita- cita kekasihnya yang ingin mengangkat harkat dan martabat wanita indonesia agar sejajar dengan kaum Pria. Bahkan Ali menyatakan rasa bangganya terhadap cita- cita Nani dan siap membantu untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Banyak tokok wanita pada novel ini yang berperan baik dalam membantu kesuksesan pria. Seperti kata mutiara “di balik kesuksesan pria, ada wanita di baliknya”.
  • 35 BAB IV KESIMPULAN Sastra menyebarkan berbagai pesan kepada masyarakat yang secara keseluruhan disebut pesan kebudayaan. Karya sastra seperti juga kebudayaan memiliki manfaat untuk meningkatkan kehidupan manusia. Karya sastra berfungsi menampilkan kembali realitas kehidupan manusia agar manusia dapat mengidentifikasikan dirinya dalam menciptakan kehidupan yang lebih bermakna. Karya sastra memang tidak secara langsung mendidik pembacanya, namun karya sastra menampilkan citra energetis yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas emosional, yang kemudian berpengaruh terhadap kualitas lain, misalnya pendidikan, pengajaran, etika, budi pekerti, dan sistem norma yang lain. Dalam karyanya yang berjudul “Maut dan Cinta”, Lubis ingin menyampaikan banyak hal, yakni: sikap untuk mengenang kembali kemerdekaan Indonesia, menghargai jasa para pahlawan, dan siap untuk melanjutkan perjuangan agar Indonesia menjadi bangsa yang berbudi luhur, makmur, dan sejahtera bukan seperti sekarang ini, sikap untuk menghragai wanita, bagaimana cara memperlakukan wanita dan bagaimana menjaga kesetiaan kita terhadap bangsa dan orang yang kita sayangi. Tak hanya itu saja, Lubis juga ingin menyampaikan bahwa di mata Tuhan wanita dan pria itu sama saja,jangan pernah
  • 36 menganggap wanita adalah kaum yang lemah atau kaum di bawah pria yang bisa diperlakukan sesuka hati. Hal itu dapat menganggu mobilitas sosial Bangsa Indonesia. Alangkah baiknya juga, jika setiap wanita meningkatkan kembali integritasnya. Dalam kehidupan suka dan duka akan berjalan beriringan, namun jangan biarkan hal itu membuat kita jatuh. Semua itu adalah bagian dari kehidupan, sebuah warna untuk menyemarakkan kehidupan. Biarakan rasa syukur menyelimuti kita dalam setiap keadaan. Berjalan dari setiap pengalaman, akan membuat kita semakin kaya akan makna kehidupan. Sastra adalah karya yang melengkapi kehidupan insan manusia. Satra menyajikan banyak hal dari kehidupan nyata yang kemudian dicampur dengan imajinasi. Novel ini juga mengandung banyak pesan yang ingin disampaikan bagi kehidupan manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Pesan-pesan tersebur antara lain: bangsa yang baik adalah bangsa yang mau menjaga kemerdekaan bangsanya, bangsa yang membantu memajukan kesejahteraan rakyatnya bukan mengkorupsi uang negara, kepentingan kelompok alangkah baiknya didahulukan daripada kepentingan individu, untuk kaum pria, agar lebih menghargai wanita dan untuk wanita, jangan biarkan harga diri kalian terinjak-injak dengan perilaku pria yang tidak menghargai kaum wanita, jangan lemah, jadikan diri Anda menjadi wanita yang tangguh yang mampu memberikan sumbangsih positif kepada bangsa dan negara.