• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Ringkasan Definisi sosiologi
 

Ringkasan Definisi sosiologi

on

  • 1,192 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,192
Views on SlideShare
1,192
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
35
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Ringkasan Definisi sosiologi Ringkasan Definisi sosiologi Document Transcript

    • SOSIOLOGI Definisi Sosiologi a. Berdasarkan etimologi (kebahasaan/asal kata) Secara kebahasaan nama sosiologi berasal dari kata socious, yang artinya ”kawan” atau ”teman” dan logos, yang artinya ”kata”, ”berbicara”, atau ”ilmu”. Sosiologi berarti berbicara atau ilmu tentang kawan. Dalam hal ini, kawan memiliki arti yang luas, tidak seperti dalam pengertian sehari-hari, yang mana kawan hanya digunakan untuk menunjuk hubungan di anatra dua orang atau lebih yang berusaha atau bekerja bersama. Kawan dalam pengertian ini merupakan hubungan antar-manusia, baik secara individu maupun kelompok, yang meliputi seluruh macam hubungan, baik yang mendekatkan maupun yang menjauhkan, baik yang menuju kerpada bentuk kerjasama maupun yang menunu kepada permusuhan. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang berbagai hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat. Hubungan antar-manusia dalam masyarakat disebut hubungan sosial. b. Definisi menurut para ahli sosiologi Secara umum sosiologi dapat diberi batasan sebagai studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat. Berikut dikemukakan definisi sosiologi dari beberapa ahli sosiologi. Van der Zanden memberikan batasan bahwa sosiologi merupakan studi ilmiah tentang interaksi antar-manusia. Roucek dan Warren mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antar-manusia dalam kelompok. Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari: (1) hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dan sebagainya, (2) hubungan dan pengaruh timbal- balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial, misalnya pengaruh iklim terhadap watak manusia, pengaruh kesuburan tanah terhadap pola migrasi, dan sebagainya, dan (3) ciri-ciri umum dari semua jenis gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam bukunya yang berjudul Setangkai Bunga Sosiologi menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Ada manusia yang hidup bersama Hidup bersama untuk waktu yang cukup lama Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan Mereka merupakan satu sistem hidup bersama
    • Metode - Metode Sosiologi Didalam mempelajari objek-objeknya,sosiologi mempunyai cara atau metode sebagaimana ilmu-ilmu sosial lainnya.Pada dasarnya ada 2 metode atau cara kerja sosiologi terhadap objeknya yaitu : Metode Kualitatif adalah metode yang mengutamakan data yang sukar diukur dengan angka,teknik pengumpulan datanya dilakukan dgn cara wawancara atau partisipan observer. Metode Kuantintatif adalah metode yang mengutamakan data-data yang mudah yang dapat diukur dengan angka-angka. Disamping metode diatas dikenal pula metode lainnya yaitu : Metode Induktif adalah metode yang dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat umum. Metode Deduktif adalah dimulai dari hal yang umum untuk mendapatkan hal yang khusus. Struktur sosial merupakan jalinan atau konfigurasi unsur-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat, seperti: kelompok-kelompok sosial, kelas-kelas sosial, kekuasaan dan wewenang, lembaga-lembaga sosial maupun nilai dan norma sosial. Proses sosial merupakan hubungan timbal-balik di antara unsur-unsur atau bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat melalui interaksi antar-warga masyarakat dan kelompok-kelompok. Sedangkan perubahan sosial meliputi perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur sosial dan proses- proses sosial. 2. Sejarah dan Perkembangan Sosiologi a. Sejarah kelahiran sosiologi Sebagai ilmu, sosiologi masih cukup muda, bahkan paling muda di antara ilmu-ilmu sosial yang lain. Tokoh yang sering dianggap sebagai Bapak Sosiologi adalah Auguste Comte, seorang ahli filsafat dari Perancis yang lahir pada tahun 1798 dan meninggal pada tahun 1853. Auguste Comte mencetuskan pertama kali nama sociology dalam bukunya yang berjudul Positive Philoshopy yang terbit pada tahun 1938. Pada waktu itu Comte menganggap bahwa semua penelitian tentang masyarakat telah mencapai tahap terakhir, yakni tahap ilmiah, oleh karenanya ia menyarankan semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi ilmu yang berdiri sendiri, lepas dari filsafat yang merupakan induknya. Pandangan Comte yang dianggap baru pada waktu itu adalah bahwa sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis, dan bukan pada kekuasaan serta spekulasi. Di samping mengemukakan istilah sosiologi untuk ilmu baru yang berasal dari filsafat masyarakat ini, Comte juga merupakan orang pertama yang membedakan antara ruang lingkup dan isi sosiologi dari ilmu-ilmu lainnya. Menurut Comte ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya. Tahap pertama dinamakan tahap theologis, kedua adalah tahap metafisik, dan ketiga adalah tahap positif. Pada tahap pertama manusia menafsirkan gejala-gelajala di sekelilingnya secara teologis, yaitu dengan kekuatan adikodrati yang dikendalikan oleh roh, dewa, atau Tuhan yang Maha Kuasa. Pada tahap kedua manusia mengacu pada hal-hal metafisik atau abstrak, pada tahap ketiga manusia menjelaskan
    • fenomena-fenomena ataupun gejala-gejala dengan menggunakan metode ilmiah, atau didasarkan pada hukum-hukum ilmiah. Di sinilah sosiologi sebagai penjelasan ilmiah mengenai masyarakat. Dalam sistematika Comte, sosiologi terdiri atas dua bagian besar, yaitu: (1) sosiologi statik, dan (2) sosiologi dinamik. Sosiologi statik diibaratkan dengan anatomi sosial/masyarakat, sedangkan sosiologi dinamik berbicara tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. b. Perkembangan Sosiologi setelah Comte Istilah sosiologi menjadi lebih populer setelah setengah abad kemudian berkat jasa dari Herbert Spencer, ilmuwan Inggris, yang menulis buku berjudul Principles of Sociology (1876), yang mengulas tentang sistematika penelitian masyarakat. Perkembangan sosiologi semakin mantap, setelah pada tahun 1895 seorang ilmuwan Perancis bernama Emmile Durkheim menerbitkan bukunya yang berjudul Rules of Sociological Method. Dalam buku yang melambungkan namanya itu, Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah dan teknik pengukuran kuantitatif di dalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Misalnya dalam kasus bunuh diri (suicide). Angka bunuh diri dalam masyarakat yang cenderung konstan dari tahun ke tahun, dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar individu. Dalam suatu jenis bunuh diri yang dinamakan altruistic suicide disebabkan oleh derajat integrasi sosial yang sangat kuat. Misalnya dalam satuan militer, dapat saja seorang anggota mengorbankan dirinya sendiri demi keselematan satuannya. Sebaliknya, dalam masyarakat yang derajat integrasi sosialnya rendah, akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri egoistik (egoistic suicide). Derajat integrasi sosial yang rendah dapat disebabkan oleh lemahnya ikatan agama ataupun keluarga. Seseorang dapat saja melakukan bunuh diri karena tidak tahan menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, di lain sisi ia merasa tidak mempunyai ikatan apapun dengan anggota keluarga atau masyarakat yang lain. Pada masyarakat yang dilanda kekacauan, anggota-anggota masyarakat yang merasa bingung karena tidak adanya norma-norma yang dapat dijadikan pedoman untuk mencapai kebutuhan- kebutuhan hidupnya, dapat saja melakukan bunuh diri jenis anomie (anomic suicide). Berbagai macam jenis bunuh diri ini, oleh Durkheim dinyatakan sebagai peristiwa yang terjadi bukan karena faktor-faktor internal individu, melainkan dari pengaruh faktor-faktor eksternal individu, yang disebut fakta sosial.. Banyak pihak kemudian mengakui bahwa Durkheim sebagai ”Bapak Metodologi Sosiologi”. Durkheim bukan saja mampu melambungkan perkembangan sosiologi di Perancis, tetapi bahkan berhasil mempertegas eksistensi sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilimiah (sains) yang terukur, dapat diuji, dan objektif. Menurut Durkheim, tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang disebut fakta sosial. Fakta sosial adalah cara-cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang berasal dari luar individu, tetapi memiliki kekuatan memaksa dan mengendalikan individu. Fakta sosial dapat berupa kultur, agama, atau isntitusi sosial. Perintis sosiologi yang lain adalah Max Weber. Pendekatan yang digunakan Weber berbeda dari Durkheim yang lebih menekankan pada penggunaan metodologi dan teknik-teknik pengukuran kuantitatif dari pengaruh faktor-faktor eksternal individu. Wever lebih menekankan pada pemahaman di tingkat makna dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor internal individu. Misalnya tentang tindakan sosial. Tindakan sosial merupakan perilaku individu yang diorientasikan kepada pihak lain, tetapi bermakna subjektif bagi aktor atau pelakunya. Makna sebenarnya dari suatu tindakan hanya dimengerti oleh pelakukunya.
    • Tugas sosiologi adalah mencari penjelasan tentang makna subjektif dari tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh individu. 3. Karakteristik Sosiologi Sebagai ilmu, sosiologi memiliki sifat hakikat atau karakteristik sosiologi: 1. Merupakan ilmu sosial, bukan ilmu kealaman ataupun humaniora 2. Bersifat empirik-kategorik, bukan normatif atau etik; artinya sosiologi berbicara apa adanya tentang fakta sosial secara analitis, bukan mempersoalkan baik-buruknya fakta sosial tersebut. Bandingkan dengan pendidikan agama atau pendidikan moral. 3. Merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, artinya bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum dari interaksi antar-manusia dalam masyarakat, dan juga tentang sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat. 4. Merupakan ilmu pengetahuan murni (pure science), bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science) 5. Merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak atau bersifat teoritis. Dalam hal ini sosiologi selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi teori. 4. Kegunaan Sosiologi dan Peran Sosiolog Sosiologi dipelajari untuk apa? Dengan pertanyaan lain mengapa kita belajar sosiologi? Pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab dengan uraian tentang peran sosiolog (ahli sosiologi) berikut ini. Sebenarnya di mana dan sebagai apa seorang sosiolog dapat berkiprah, tidak mungkin dapat dibatasi oleh sebutan-sebutan dalam administrasi okupasi (pekerjaan/mata pencaharian) resmi yang dileluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Di beberapa negara telah muncul pengakuan yang kuat terhadap sumbangan dan peran sosiolog di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Horton dan Hunt (1987) menyebutkan beberapa profesi yang pada umumnya diisi oleh para sosiolog. 1. Ahli riset, baik itu riset ilmiah (dasar) untuk perkembangan ilmu pengetahuan ataupun riset yang diperlukan untuk kepentingan industry (praktis) 2. Konsultan kebijakan, khususnya untuk membantu untuk memprediksi pengaruh sosial dari suatu kebijakan dan/atau pembangunan 3. Sebagai teknisi atau sosiologi klinis, yakni ikut terlibat di dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan dalam masyarakat 4. Sebagai pengajar/pendidik 5. Sebagai pekerja sosial (social worker) Di luar profesi yang telah disebutkan oleh Horton dan Hunt tersebut, tentu saja masih banyak profesi lain yang dapat digeluti oleh seorang sosiolog. Banyak bukti menunjukkan, bahwa dengan kepekaan dan semangat keilmuannya yang selalu berusaha membangkitkan sikap kritis, para sosiologi banyak yang berkarier cemerlang di berbagai bidang yang menuntut kreativitas, misalnya dunia jurnalistik. Di jajaran birokrasi, para sosiolog sering berpeluang menonjol dalam karier karena kelebihannya dalam dalam visinya atas nasib rakyat.
    • Seiring dengan perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat, keterlibatan para sosiolog di berbagai bidang kehidupan akan semakin penting dan sangat diperlukan. Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat akan menuntut penyesuaian dari segenap komponen masyarakat yang menuntut kemampuan mengantisipasi keadaan baru. Para sosiolog pada umumnya unggul dalam hal penelitian sosial, sehingga perannya sangat diperlukan. Dalam ilmu sosial masyarakat sering di gambarkan dalam 2 konsep yaitu : Comunity ( Komunitas ) adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu wilayah dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.Misalnya desa,kecamatan,kabupaten dan seterusnya. Sociaty adalah sekelompok manusia yang bertingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lain.Oleh karena itu mereka tidak terikat pada batas wilayah tertentu tetapi dipengaruhi oleh norma dan nilai tertentu. Dari segi konsentrasi penduduk maka masyarakat di bagi atas masyarakat perkotaan atau urban comunity dan masyarakat pedesaan atau rural comunity .Kedua masyarakat agak sukar membedakan dengan tegas untuk melihat perbedaannya maka kita melihat ciri dari kedua masyarakat tersebut.Masyarakat pedesaan ditandai dengan ciri sebagai berikut : 1. Warga masyarakat pedesaan mempunyai hubungan lebih erat dan mendalam daripada masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya. 2. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan. 3. Penduduk pedesaan pada umumnya hidup bertani walaupun ada juga pekerjaan- pekerjaan lainnya sebagai pekerjaan sambilan oleh karena itu hidupnya sangat terikat dengan tanah. 4. Pembahagian kerja di dasarkan atas usia dan jenis kelamin dan bukan atas dasar keahlian 5. Penduduk desa pada umumnya homogen sementara penduduk kota heterogen 6. Perubahan di desa jauh lebih lambat dibanding dengan perubahan di kota. Sedangkan masyarakat perkotaan ditandai dengan ciri sebagai berikut : 1. Kehidupan keagamaan berkuarng di banding dengan kehidupan keagamaan di desa.Di kota kehidupan keagamaan hanya nampak di rumah-rumah ibadah sedangkan di luarnya yang nampak adalah kehidupan ekonomi. 2. Orang kota pada umunya dapat mengurus diri mereka sendiri tanpa tergantung pada orang lain,sedangkan orang desa lebih mementingkan kehidupan kelompok. 3. Pembagian kerja di kota lebih tegas dan menimbulkan kelompok-kelompok kecil yang berdasarkan atas pekerjaan yang sama. 4. Hubungan-hubungan yang terjadi dalam masyarakat lebih di dasarkan pada faktor kepentingan dibanding dengan faktor pribadi. 5. Faktor waktu sangat berharga bagi warga kota pada umumnya. 6. Perubahan di kota jauh lebih cepat di banding dengan perubahan di desa.
    • Lembaga Kemasyarakatan Beberapa istilah yang hampir sama dengan lembaga kemasyarakatan antara lain adalah pranata sosial dan bangunan sosial.Kita menggunakan istilah lembaga kemasyarakatan karena istilah tersebut lebih menunjuk pada suatu bentuk dan sekaligus mengandung pengertian yang abstrak tentang adanya norma-norma dan peratura-peraturan tertentu yang menjadi ciri daripada lembaga tersebut.Norma dalam suatu masyarakat berfungsi mengatur pergaulan hidup agar tercapai tata tertib.Norma-norma tersebut bila di wujudkan dalam hubungan antar manusia di namakan organisasi sosial.Norma-norma di dalam masyarakat berkelompok- kelompok pada berbagai keperluan pokok daripada kehidupan manusia misalnya norma kekerabatan,norma pendidikan,norma mata pencaharian dan sebagainya. Oleh karena itu lembaga kemasyarakatan terdapat baik pada masyarakat yang masih sederhana maupun masyarakat yang sudah maju.Hal ini di sebutkan karena baik masyarakat yang sederhana maupun masyarakat yang sudah maju mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok yang apabila di kelompok-kelompok merupakan lembaga kemasyarakatan. Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.ujud kongkrit daripada suatu lembaga kemasyarakatan di sebut asosiasi misalnya universitas merupakan lembaga kemasyarakatan sedangkan UNHAS,UI,ITB,UGM dan sebagainya adalah asosiasi. Pada dasarnya suatu lembaga kemasyarakatan berfungsi atau bertujuan untuk mengatur masyarakat. Fungsi-Fungsi tersebut adalah : Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat tentang bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah di dalam masyarakat terutama menyangkut kebutuhan yang bersangkutan. Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian yaitu : suatu pengawasan daripada masyarakat terhadap tingkah laku anggota- anggotanya. Norma-norma di dalam masyarakat agar supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagai mana yang di harapkan maka di ciptakanlah norma-norma yang mempunyai kekuatan yang mengikat yang berbeda-beda mulai dari yang paling lemah sampai dengan yang paling kuat daya mengikatnya,sehingga anggota masyarakat pada umumnya tidak berani melarangnya,misalnya cara berpakaian agak lemah daya mengikatnya di banding dengan norma yang mengharuskan kita berpakaian. Untuk membedakan kekuatan mengikat daripada noram-norma maka di kenal adanya 4 pengertian: 1. Usage atau Cara adalah menunjuk pada suatu perbuatan tertentu. 2. Folkways atau Kebiasaan adalah perbuatan di ulang-ulang dalam bentuk yang sama. 3. Mores atau Tata Kelakuan merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperikelakuan dan diterima sebagai norma pengatur. 4. Costum atau Adat Istiadat adalah tata kelakuan yang sangat kuat integrasinya dengan pola-pola perkelakuan masyarakat.Bila adat istiadat di langgar maka sangsinya dapat berwujud suatu penderitaan. Mengenai tata kelakuan dapat di simpulkan bahwa tata kelakuan di suatu pihak memaksakan suatu perbuatan tertentu dan di lain pihak melarang perbuatan tertentu pula.Dengan demikian tata kelakuan memaksa anggota masyarakat untuk menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.
    • Tata Kelakuan sangat penting karena : Memberikan batas-batas pada kelakuan individu di dalam masyarakat. Mengindentifikasikan individu dengan kelompoknya. Menjaga solidaritas antara anggota masyarakat. Agara anggota-anggota masyarakat menaati norma-norma yang berlaku maka di ciptakanlah cara pengendalian sosial yang selalu di sesuaikan dengan nilai-nilai dan kaedah-kaedah yang berlaku.Didalam pergaulan adapun cara pengendalian sosial dapat di golongkan ke dalam : Mempertebal keyakinan anggota-anggota masyarakat tentang kebaikan norma-norma kemasyarakatan yang di gambarkan. Memberikan penghargaan kepada anggota-anggota masyarakat yang secara konsisten menaati norma-norma kemasyarakatan yang berlaku. Mengembangkan rasa malu pada diri anggota masyarakat yang melakukan penyimpangan. Menimbulkan rasa takut pada anggota masyarakat yang ingin mencoba melakukan penyimpangan. Menciptakan sistem hukum dengan sangsi yang tegas. Ciri-Ciri Umum Lembaga Kemasyarakatan : Lembaga kemasyarakatan adalah suatu organisasi dari pola-pola pemikiran dan kelakuan yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan. Mempunyai tingkat kelakuan tertentu. Mempunyai satu atau beberapa tujuan. Mempunyai alat-alat perlengkapan untuk mencapai tujuan. Lambang-lambang biasanya merupakan ciri khas dari suatu lembaga kemasyarakatan. Mempunyai tradisi yang tertulis atau tidak tertulis. Kelompok - Kelompok Sosial Pada umunya manusia di lahirkan seorang diri meskipun dia adalah makhluk yang mempunyai naluri untuk hidup bersama,naluri mana di dalam sosiologi disebut Gregoriousnes.Di banding dengan makhluk lainnya manusia adalah makhluk lemah fisiknya dan pasti tak dapat hidup terus tanpa bantuan orang lain,namun demikian manusia di beri oleh tuhan suatu alat yang lebih ampuh dari alat-alat fisik hewan lainnya yaitu akal atau pikiran.Dengan pikiran ini dapat di gunakan sebagai sarana mencari,membuat dan menggunakan material atau benda-benda untuk hidup,dengan pikiran manusia membuat rumah,pakaian,kendaraan,pabrik dan sebagainya. Sebagai makhluk yang lemah fisiknya manusia di dalam menghadapi alam yang luas dan buas ini selalu ingin hidup berkawan dengan demikian terciptalah kelompok-kelompok sosial sesuai dengan kondisi dengan lingkungannya.
    • Suatu kelompok manusia dapat disebut kelompok sosial apabila : Setiap anggota kelompok menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok yang bersangkutan. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainnya. Terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok sehingga hubungan antara mereka semakin bertambah erat.misalnya ada kepentingan yang sama,mempunyai ideologi yang sama,memiliki nasib yang dan sebagainya. Suatu kelompok sosial tidak merupakan suatu kelompok yang statis akan tetapi selalu berkembang dan emngalami perubahab baik kegiatannya,jumlah anggotanya maupun bentuknya. Teori Tentang Terbentuknya Kelompok Ada 2 teori mengemukakan tentang terbentuknya kelompok : 1. Teori Kontrak yaitu sebelum terbentuknya kelompok beberapa atau sejumlah orang mengadakan perjanjian membentuk kelompok dengan norma-norma atau aturan- aturan yang harus di taati bersama.Misalnya pembentukan organisasi atau lembaga- lembaga tertentu antara lain: lembaga pendidikan,pengajian,kelompok belajar dan sebagainya. 2. Geographical/Preximity Teori yaitu kelompok semacam ini terbentuk dengan cara mendasarkan diri pada letak geografis yang berdekatan oleh karena itu anggota- anggota kelompok berada pada geografis tertentu misalnya : RT,RW,Desa,Kelurahan dan sebagainya. Menurut Freedman ada 5 macam kelompok yaitu : 1. Kelompok Primer atau Primary Group,misalnya : keluarga,tetangga,teman sepermainan. 2. Asosiasi yaitu kelompok yang segaja di bentuk untuk mencapai suatu cita-cita khusus daripada anggotanya,misalnya : koperasi,kelompok pengajian,kelompok studi dan sebagainya. 3. Comunity 4. Sociaty 5. Efehemerel Group yaitu kelompok yang waktu berlangsung sangat singkat,misalnya : demonstrasi,pawai,rapat raksasa dan sebagainya. Adapun pembagian kelompok menurut tipe-tipenya yang diliat dari beberapa segi,yaitu : Kelompok besar atau kelompok kecil berdasarkan jumlah anggotnya Derajat interaksi sosial dalam kelompok tersebut Kelompok yang di dasarkan atas kepentingan dan wilayah kelompok yang di dasarkan untuk berlangsungnya suatu kepentingan Derajat organisasi artinya apakah organisasi itu sukarela atau organisasi terpaksa.