1                                      BAB I                               PENDAHULUAN1.1    Latar Belakang Penelitian    ...
2beroperasi misalnya, HPH (Hak Penguasaan Hutan), HGU (Hak Guna Usaha),HGB (Hak Guna Bangunan), Patent, Franchise, Hak Cip...
3Perdagangan Nomor      122/MK/IV/2/1979, nomor 32/M/SK/1974 dan nomor30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Februari 1974 tentang ”Te...
4membutuhkan. Pelaksanaan kegiatan perusahaan ini dilakukan oleh beberapaDivisi (bagian) yang telah ditentukan sesuai deng...
5NO      30 ATAS      SEWA GUNA USAHA AKTIVA TETAP DALAMMENENTUKAN KETEPATAN PENENTUAN PENDAPATAN SEWA PTINTI (Persero)”1....
61.3.2    Tujuan Penelitian         Adapun tujuan penelitian ini antara lain:1.      Untuk mengetahui penentuan komponen b...
7      dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir selanjutnya dengan ruang lingkup      yang sama.1.3     Lokasi dan Jadwal Pene...
8      KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS2.1     Kajian Pustaka2.1.1   Beban        Istilah beban dapat din...
9       Kerugian mencerminkan pos yang lain yang memenuhi definisi bebanyang mungkin timbul dari aktivitas perusahaan yang...
10       Definisi beban menurut Suwardjono (2003: 73) adalah aliran keluarsumber daya atau asset yang melekat pada produk ...
112.1.1.1. Pengakuan Beban.       Dalam Peryataan Atandar Akuntansi Keuangan paragraf 94, 95, 96, 97,dan 98, menyebutkan b...
12Paragraf 96       Jika manfaat ekonomi diharapkan timbul selama beberapa periodeakuntansi dan hubungannya dengan penghas...
13diperoleh pada masa akan datang. Dalam rangka menyajikan laporan laba rugisecara wajar, dapat dilakukan penambahan pos d...
14   2. Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negosiasi        dan pengaturan sewa operasi ditamba...
15serta pengukuran pencatatan ekonomi yang berhubungan dengan pendapatanperusahaan.       Dalam kaitannya dengan operasi p...
16        Berdasarkan definisi-difinisi diatas, maka penulis dapat menyimpulkanbahwa pendapatan lai-lain atau pendapatan l...
17       ”Aktiva tetap berwujud adalah setiap barang yang dimiliki atau dikuasai       oleh perusahaan yang diapakai atau ...
182.1.3.1 Klasifikasi Aktiva Tetap Berwujud       Dari macam-macam bentuk aktiva tetap berwujud untuk tujuan akuntansidila...
19atau diperlukan suatu pinjaman, dan resiko lain seperti ketinggalan zamansehingga tidak ekonomis lagi bila dipakai ataup...
20dimilikinya yang dapat disiapkan selama periode tertentu dari lessor pada lessee.Selama periode yang dimaksud dalam perj...
21       ”Sewa guna usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam       bentuk penyediaan barang-barang modal u...
222. Sewa Opersai (operating lease) adalah kegiatan sewa guna usaha di mana   penyewa guna usaha tidak mempunyai hak opsi ...
23a. Sewa-guna-usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk   penyediaan barang modal baik secara sewa-guna-usa...
24g. Harga Perolehan (Acquisition Cost) adalah harga beli barang modal yang     dilease ditambah dengan biaya langsung;h. ...
25bentuk penyediaan barang modal atau aktiva, baik secara sewa guna usaha denganhak opsi (finance lease) maupun sewa guna ...
26       (e) Aset sewaan bersifat khusus dan hanya              lessee yang dapat           menggunakan tanpa perlu modifi...
27         a. Jenis transaksi sewa-guna-usaha;         b. Nama dan alamat masing-masing pihak;         c. Nama, jenis, typ...
28Keuntungan bagi Lessee   1. Lessee akan terhindar dari kebutuhan dana besar dan biaya bunga yang       tinggi   2. Lesee...
29Keuntungan bagi lessor   1. Hak kepemilikan masih di pihak lessor, sehingga merupakan faktor       pengaman yang lebih k...
302.2 Kerangka Pemikiran       Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar AkuntansiKeuangan No.16 tahun 2007:   ...
31diantaranya dengan menyewagunausahakan atau meleasingkan aktiva tetaptersebut.       Keputusan     Menteri    Keuangan  ...
32dapat kembali mengoptimalisasikan aktiva tetap yang dimilikinya sehingga dapatmenutupi biaya-biaya yang telah dikeluarka...
33       Namun pengungkapan pendapatan dapat dilakukan setelah diketahuibeban-beban yang telah dikeluarkan oleh perusahaan...
34                                   BAB III              SUBJEK/OBJEK DAN METODE PENELITIAN3.1    Objek Penelitian       ...
353.2     Metode Penelitian        Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, termasuk kedalam metode peneli...
36Vredenbregt (1987: 38) Studi kasus ialah suatu pendekatan yang bertujuan untukmempertahankan      keutuhan    (wholeness...
37kasus yang diteliti, tetapi juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahuidan mengenal kasus tersebut dengan baik...
38ditunjuknya pada tingkat realitas (empiris) sehingga dimungkinkan dilakukanpengukuran. Salah satu cara untuk mencapainya...
39sensus, dimana anggota semua anggota populasi dijadikan sampel (Sugiyono,2004: 78).        Kuesioner ini diberikan kepad...
40   pengumpulan data melalui wawancara ini dilakukan denagn wawancara   tidak trstruktur yang dilakukan dengan cara menga...
41    Penelitian kepustakaan penulis dilakukan denagn maksud untuk mendapatkan        data skunder yaitu dengan cara menca...
42            Dimana:            SV           : Scale Value respon jawaban ke-1            DLL          : Kepadatan atas b...
43bahkan secara luas reliabilitas dan validitas mencakup seluruh pengumpulan datasejak konsep disiapkan sampai kepada data...
44        Setelah itu dibandingkan dengan nilai kritiknya. Jika r hitung > rtabel pada=0.05 berarti data tersebut signifik...
45     b. Skor untuk masing-masing pernyataan pada tiap belahan dijumlahkan,          sehingga menghasilkan dua skor total...
46                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil Penelitian4.1.1 Sejarah Perusahaan       Dari cikal bakal Labo...
47 Menjadi pionir dalam proses digitalisasi sistem dan jaringan telekomunikasi di Indonesia & Bersama Telkom telah berhasi...
48       Dalam penelitian ini penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada 20responden yang bekerja di PT INTI (Persero) ...
49                                    Tabel 4.3                              Gambaran Responden                          B...
50       R = 13Keterangan:R      = panjang rentangBmaks = bobot jawaban maksimum (3)Bmin = bobot jawaban minimum (1)      ...
51hubungannya dengan sewa (lease). Peryataan ini digunakan sebagai panduan bagipenyusun laporan keuangan di dalam menyusun...
52Kategori                                   Konsisten       Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner       Untuk item per...
53                                    Tabel 4.8                               Item peryataan 4      Apakah dalam penentuan...
54pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya beban aktenotaris secara konsisten dimasukkan dalam pe...
55       PSAK No 30 (Sewa) merupakan suatu peryataan yang mengatur kebijakanakuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik b...
56                               Tabel 4.12                           Item peryataan 7      Apakah dalam penentuan pendapa...
57Bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4).Artinya PT INTI (Persero) memasukkan beban pe...
58memasukkan beban akte notaris”, item ini mempunyai bobot sebesar 49. bobot iniberada pada rentang 46-58 dengan kategori ...
594.1.3.2 Penerapan PSAK No. 30 Atas Sewa Guna Usaha Aktiva Tetap Pada        Tahun 2004       PSAK No. 30 (Sewa) merupaka...
60                             Tabel 4.12                          Item Peryataan 7  Apakah dalam penentuan pendapatan sew...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapat...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapatan sewa pt inti (persero)”

3,339 views
3,187 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,339
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
78
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

“Analisis konsistensi penerapan psak no 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuan pendapatan sewa pt inti (persero)”

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam proses kegiatan operasional, setiap perusahaan mempunyai tujuanutama yaitu, mencari laba. Selain itu juga untuk pertumbuhan yang terus-menerus(Growth), kelangsungan hidup (Survival), kesan positif di mata publik (Image). Untuk mencapai tujuan ini manajemen sebagai pihak yang diserahi hakdan tanggung jawab memiliki atau menguasai faktor-faktor produksi yangdigunakan seperti Money, Man, Material, dan Method. Proses ini sering jugadisebut proses produksi. Proses ini dimaksudkan untuk menghasilkan penerimaankas melalui penjualan produksi tersebut yang menjadi salah satu sumber danautama bagi pelaksanaan kegiatan perusahaan Untuk menghasilkan produk ini maka aset tetap memegang peranan yangsangat besar, seperti lahan sebagai tempat berproduksi bagi usaha pertambanganpertanian, perkebunan dan perikanan. Bangunan sebagai tempat pabrik, kantordan kegiatan lainnya. Mesin dan peralatan sebagai alat untuk berproduksi.Kendaraan pengangkutan sebagai alat untuk mengangkut produk atau hasillainnya. Inventaris berupa inventaris kantor, perabot, meja, kursi lemari dan lain-lain sebagai alat yang mendukung kegiatan perusahaan semuanya. Bahkan ada aset tetap yang tidak berwujud tetapi yang sangat pentingdalam kegiatan produksi dan tanpa aset ini barangkali perusahaan tidak dapat
  2. 2. 2beroperasi misalnya, HPH (Hak Penguasaan Hutan), HGU (Hak Guna Usaha),HGB (Hak Guna Bangunan), Patent, Franchise, Hak Cipta, dan lain-lain. Peranan aset tetap ini sangat besar dalam perusahaan baik ditinjau dari segifungsinya, dari segi jumlah dana yang diinvestasikan, dari pengolahannya yangmelibatkan banyak orang, dari segi pembuataanya yang sering jangka panjang,maupun dari segi pengawasannya yang agak rumit. Setiap perusahaan pasti memiliki aset tetap baik yang berwujud maupunyang tidak berwujud. Namun jenis aset tetap yang dimiliki suatu perusahaan akanberbeda dengan perusahaan lainnya seperti perusahaan jasa, aset tetapnya berbedadengan aset tetap perusahaan perkebunan, perkapalan, perminyakan, perdagangandan lain-lain. Pada kenyataanya kegiatan utama yang dilakukan untuk mencapai tujuandalam suatu perusahaan terkadang tidak terlalu memanfaatkan aset tetap yangdimiliki secara optimal sehingga ada aktiva tetap yang menganggur. Denganberbagai pengorbanan yang telah dikeluarkan untuk memperoleh aset tetaptersebut hal ini dianggap merugikan bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaandirasa perlu untuk lebih mengoptimalkan aset berupa aset tetap yang dimilikinyasalah satu diantaranya dengan meleasekan atau menyewagunausahakan aset tetaptersebut. Usaha leasing di luar negeri sudah mengalami perkembangan yang lamasekali. Di Indonesia leasing baru mulai berkembang sejak dikeluarkanya peraturankegiatan usaha leasing yang sementara masih terbatas dalam bentuk SuratKeputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri
  3. 3. 3Perdagangan Nomor 122/MK/IV/2/1979, nomor 32/M/SK/1974 dan nomor30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Februari 1974 tentang ”Tentang Perjanjian Leasing”.Kemudian keputusan ditindaklanjuti lagi antara lain oleh: Surat Edaran DirekturJenderal Moneter Dalam Negeri No. SE/499/MD/1984 tanggal 24 Januari 1984tentang Ketentuan dan Tata Cara Penyampaian Laporan Perusahaan Leasing. DanKep.Menteri No.1251/KMK.013/88 tanggal 20 Desember 1988. Dan dariberbagai rujukan maka lahirlah PAI Pernyataan No.6 “Standar Khusus AkuntansiSewa Guna Usaha” tanggal 19 September 1990. Beberapa tahun terakhir ini khususnya di kota-kota besar, telahberkembang perusahaan-perusahaan leasing. Masalah leasing (Sewa Guna Usaha)ini semakin berkembang sebagai alternatif pembiayaan di Indonesia dimana leasemendatangkan keuntungan bagi pengusaha. Di Indonesia pembiayaan leasingmeliputi pengadaan barang modal untuk tujuh sektor leasing. Ketujuh sektortersebut antara lain: sektor transportasi, industri, pertanian, konstruksi,pertambangan, perkantoran dan kesehatan. Lease merupakan suatu cara untuk memperoleh hak untuk menggunakanaset berwujud tertentu dalam jangka waktu tertentu. Pihak yang memberikanasetnya untuk digunakan orang lain disebut lessor sedangkan pihak yangmendapatkan hak menggunakan aktiva tersebut disebut lessee. PT INTI (Persero) Bandung merupakan salah satu BUMN yang bergerakdi bidang industri telekomunikasi sebagi penyedia jasa dan penjualan peralatantelekomunikasi. Dalam menjalankan aktivitasnya, PT INTI memberikanpelayanan jasa dan penjualan peralatan telekomunikasi kepada instansi yang
  4. 4. 4membutuhkan. Pelaksanaan kegiatan perusahaan ini dilakukan oleh beberapaDivisi (bagian) yang telah ditentukan sesuai dengan SK Direksi PT INTI (Persero)Bandung tentang struktur perusahaannya. Disamping kegiatan operasional utamanya dalam pelayanan jasa danpenjualan peralatan telekomunikasi, PT INTI juga melakukan lease terhadapproperti yang dimiliki sebagai salah satu cara mengoptimalkan aset berupa asetberwujud yang dimilikinya untuk meningkatan pendapatan perusahaan. Namun jika melihat kondisi laporan keuangan lima tahun ke belakang,pendapatan khususnya pendapatan lain-lain (Sewa) yang diperoleh PT INTI(Persero) cenderung terus menurun dari tahun ke tahun (lampiran 1). Hal inimungkin disebabkan adanya penurunan jumlah lessee yang berminat untukmenyewa asset yang dimiliki oleh PT INTI (Persero). Indikasi lain, adanyaketidaktepatan dalam penentuan komponen biaya-biaya yang dibebankan kepadalessee juga bisa menyebabkan pengurangan nilai pendapatan yang diterima olehPT INTI (Persero) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 30 (Revisi 2007) tentang”Sewa” telah menetapkan standar umum pengakuan pendapatan dan komponen-komponen biaya yang dapat dibebankan kepada lessee. Diharapkan denganpenerapan PSAK tersebut secara konsisten, maka penentuan pendapatan sewayang akan diterima akan tepat dan terjadi peningkatan pendapatan sewa yangdiperoleh PT INTI (Persero). Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud mengadakan suatupenelitian dengan judul: “ANALISIS KONSISTENSI PENERAPAN PSAK
  5. 5. 5NO 30 ATAS SEWA GUNA USAHA AKTIVA TETAP DALAMMENENTUKAN KETEPATAN PENENTUAN PENDAPATAN SEWA PTINTI (Persero)”1.2 Identifikasi Masalah Berdasakan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, penulismembatasi masalah yang akan diteliti dengan identifikasi masalah sebagai berikut:1. Bagaimana penentuan komponen biaya-biaya yang dibebankan kepada lessee dalam PSAK No 30 (Sewa)?2. Seberapa besar kosistensi PT INTI (Persero) dalam penerapan PSAK No 30?3. Apakah penerapan PSAK secara konsisten dapat menentukan pendapatan sewa PT INTI (Persero) yang tepat?1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian1.3.1 Maksud Penelitian Maksud penelitian yang penulis lakukan diantaranya untukmengumpulkan data dan informasi baik secara ekstern maupun intern tentangsejauh mana penerapan PSAK No 30 (sewa) atas sewa guna usaha aktiva tetapsecara konsisten di PT INTI (Persero) dapat menentukan pendapatan sewa yangtepat kemudian menganalisis data dan informasi tersebut yang dituangkan dalambentuk laporan akhir sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan PendidikanDiploma III.
  6. 6. 61.3.2 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini antara lain:1. Untuk mengetahui penentuan komponen biaya yang sesuai dengan PSAK No 30 (sewa)2. Untuk mengetahui sejauh mana konsistensi penerapan PSAK No 30 di PT INTI (Persero)3. Untuk mengetahui penerapan PSAK No.30 secara konsisten dapat menentukan pendapatan sewa PT INTI (Persero) yang tepat.1.4 Kegunaan Hasil Penelitian Dengan maksud dan tujuan yang telah disampaikan sebelumnya,diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat diantaranya:1. Bagi Penulis Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang penerapan PSAK No 30 atas sewa guna usaha aktiva tetap2. Bagi Perusahaan Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan serta sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan khususnya yang terkait dengan pelaksanaan Leasing Property yang dilaksanakan.3. Bagi Pembaca Dengan adanya Laporan Tugas Akhir ini semoga dapat menambah perbendaharaan kepustakaan dan sebagai acuan serta tambahan informasi
  7. 7. 7 dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir selanjutnya dengan ruang lingkup yang sama.1.3 Lokasi dan Jadwal Penelitian Untuk memperoleh data dalam rangka penyusunan Laporan Tugas Akhirini, penulis melakukan penelitian pada PT INTI (Persero) Bandung Jl. Moch TohaNo.77 Bandung dimulai pada bulan Agustus sampai selesai. Adapun jadwalpenelitian, dapat terlihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 1.1 Jadwal PenelitianN Agustus Septeber OktoberO KEGIATAN 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 41 Penentuan Masalah dan Judul2 Pengajuan Judul4 Pengumpulan Data5 Menyusun Laporan6 Bimbingan7 Sidang BAB II
  8. 8. 8 KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS2.1 Kajian Pustaka2.1.1 Beban Istilah beban dapat dinyatakan sebagai biaya yang secara langsungmaupun tidak langsung telah dimanfaatkan di dalam usaha menghasilkanpendapatan dalam suatu periode, atau yang sudah tidak memberikan manfaatekonomis untuk kegiatan masa berikutnya. Yang dimaksud dengan biaya adalahpengorbanan ekonomis yang diperlukan untuk memperoleh barang atau jasa. Menurut Standar Akuntansi Keungan Bab Pendahuluan paragraf 70 (b)disebutkan bahwa: ”Beban (expense) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal”. Selanjutnya paragraf 78, 79, 80, menyebutkan:Paragraf 78 Definisi beban mencakup baik kerugian maupun beban yang timbul dalampelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dalampelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa, meliputi, misalnya, beban pokokpenjualan, gaji dan penyusutan. Beban tersebut biasanya bebrbentuk arus keluaratau berkurangnya aset seperti kas (dan setara kas), persediaan, dan aset tetap.Paragraf 79
  9. 9. 9 Kerugian mencerminkan pos yang lain yang memenuhi definisi bebanyang mungkin timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa. Kerugian tersebutmencerminkan berkurangnya manfaat ekonomi dan pada hakikatnya tidak berbedadari beban lain. Oleh karena itu, kerugian tidak dipandang sebagai unsur terpisahdala kerangka dasar ini.Paragraf 80 Kerugian dapat timbul, misalnya dari bencana kebakaran, banjir, sepertijuga yang timbul dari pelepasan aset tidak lancar. Definisi beban juga mencakupkerugian yang belum direalisasi, misalnya, kerugian yang timbul dari pengaruhkenaikan kurs valuta asing dalam hubungannya dengan pinjaman perusahaandalam mata uang tersebut. Kalau kerugaian diakui dalam laporan laba rugi,biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebutberguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi. Kerugian sering kalidilaporkan dalam jumlah bersih stelah dikurangi dengan penghasilan yangbersangkutan. Carl S Warren, et all (2005: 63) mendefinisikan beban sebagai aktivaatau jasa yang digunakan dalam menghasilkan pendapatan. Contoh beban meliputibeban upah, beban sewa, beban perlengkapan, beban utilitas, dan beban rupa. Menurut Soemarso (2003: 234), beban adalah penurunan modal bruto,sehubungan dengan kegiatan usaha perusahaan. Penurunan modal bruto terjadikarena penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban.
  10. 10. 10 Definisi beban menurut Suwardjono (2003: 73) adalah aliran keluarsumber daya atau asset yang melekat pada produk atau jasa yang diserahhkanperusahaan kepada konsumen dalam rangka menimbulkan pendapatan Menurut S. Munawir (2003: 230) ”Biaya adalah nilai kas atau setara dengan kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang atau jasa yang diperkirakan akan memberikan manfaat saat kini atau masa depan pada organisasi (pengorbanan yang terjadi dalam rangkan untuk memperoleh suatu barang atau jasa yang bermanfaat). Pada perusahaan yang bertujuan mencari laba, manfaat masa depan berarti pendapatan. Cost atau harga perolehan yang digunakan untuk memperoleh pendapatan disebut beban”. Sedangkan Harnanto (2002: 92) menyatakan bahwa ”Beban adalah aliran keluar atau penggunaan aktiva atau kenaikan kewajiban (atau keduanya) dalam suatua periode akuntansi yang terjadi dalam aktivitas produksi dan penjualan barang, penyerahan jasa dan aktivitas lain yang berhubungan dengan usaha pokok perusahaan”. Menurut Prinsip Akuntansi Indonesia, beban diartikan sebagaipengorbanan ekonomis yang dilakukan dalam rangka memperoleh pendapatan.Konsep beban untuk tujuan pajak terbatas pada beban untuk mendapatkan,menagih, dan memelihara penghasilan. Untuk beban terdapat kemungkinan layakmenurut akuntansi, namun tidak layak menurut pajak. (Soemarso, 2003: 257) Dari berbagai pendapat tentang definisi diatas, maka penulis dapatmenyimpulkan bahwa beban adalah suatu aliran keluar sebagai pengorbananekonomis yang dilakukan baik berupa penggunaan aktiva atau penurunankewajiban untuk memperoleh pendapatan
  11. 11. 112.1.1.1. Pengakuan Beban. Dalam Peryataan Atandar Akuntansi Keuangan paragraf 94, 95, 96, 97,dan 98, menyebutkan bahwa:Paragraf 94 Beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomimasa depan yang berkaitan dengan penurunan aset atau kenaikan kewajiban telahterjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadibersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aset (misalnya,akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap).Paragraf 95 Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antarabiaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Proses yangbiasanya disebut pengaitan biaya dengan pendapatan (matching of costs withrevenue) ini melibatkan pengakuan penghasilan dan beban secara gabungan ataubersamaan yang dihasilkan secara langsung dan bersama-sama transaksi atauperistiwa lain yang sama; misalnya, berbagai komponen beban yang membentukbeban pokok penjualan (cost or expense of goods sold) diakui pada saat yangsama sebagai penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang. Namundemikian, penerapan konsep matching dalam kerangka dasar ini tidakmemperkenankan pengakuan pos dalam neraca yang tidak memenuhi definisi asetatau kewajiban.
  12. 12. 12Paragraf 96 Jika manfaat ekonomi diharapkan timbul selama beberapa periodeakuntansi dan hubungannya dengan penghasilan hanya dapat ditentukan secaraluas atau tidak langsung, beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar proseduralokasi yang rasional dan sistematis. Hal ini sering diperlukan dalam pengakuanbebab yang berkaitan dengan penggunaan aset seperti aset tetap, goodwill, patendan merek dagang. Dalam kasus semacam itu, beban ini disebut penyusutan atauamortisasi. Prosedur alokasi ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalamperiode akuntansi yang menikmati manfaat ekonomi aset yang besangkutan.Paragraf 97 Beban segera diakui dalam laporan laba rugi kalau pengeluaran tidakmenghasilkan manfaat ekonomi masa depan atau kalau sepanjang manfaatekonomi masa depan tidak memenuhi syarat, atau tidak lagi memenuhi syarat,untuk diakui dalam neraca sebaga aset.Pargraf 98 Beban juga diakui dalam laporan laba rugi pada saat timbul kewajibantanpa adanya pengakuan aset, seperti apabila timbul kewajiban akibat garansiproduk.1.1.1.2 Penentuan Komponen Biaya Berbagai kegiatan, transaksi dan peristiwa menghasilkan pengaruh yangberbeda terhadap stabilitas, resiko dan prediksi. Pengungkapan unsur-unsurkinerja membantu memahami hasil yang dicapai dan menilai hasil yang akan
  13. 13. 13diperoleh pada masa akan datang. Dalam rangka menyajikan laporan laba rugisecara wajar, dapat dilakukan penambahan pos dan perubahan istilah yang dipakaiserta perubahan urutan dari pos-pos yang terdapat dalam laporan laba rugi.Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan penambahan danperubahan tersebut meliputi materialistis, hakikat dan fungsi dari berbagaikomponen pendapatan dan beban. (IAI, 2007: 1.11 paragraf 57) Perusahaan menyajikan, di Laporan Laba Rugi atau di Catat atas LaporanKeuangan, rincian beban dengan menggunakan kalsifikasi yang didasarkan padasifat atau fungsi beban dalam perusahaan. (IAI, 2007: 1.11 paragraf 58) Dalam penentuan komponen biaya-biaya untuk memperoleh pendapatan,satu perusahaan dengan perusahaan lain akan berbeda tergantung sifat dan fungsibeban itu sendiri. Pos-pos beban disub-klasifikasikan lebih lanjut dalam rangkacakupan komponen kinerja keuangan yang mungkin berbeda dalam hal stabilitas,potensi menghasilkan laba atau rugi, dan prediksi. Adapun komponen biaya atau beban yang diakui dalam penentuanpendapatan sewa dalam PSAK No 30 (Sewa) untuk sewa operasi (operatinglease) adalah sebagai berikut: 1. Biaya penyusutan yang terjadi untuk memperoleh pendapatn sewa diakui sebagai beban. Beban penyusutan adalah beban yang timbul karena pemakaian aktiva berwujud. Kebijakan penyusutan untuk asset sewaan harus kosisten dengan kebijakan penyusutan normal untuk asset sejenis, dan penyusutan tersebut dihitung sesuai dengan PSAK No 16 dan PSAK No 19
  14. 14. 14 2. Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui sebagai beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Beberapa komponen biaya langsung adalah sebagai berikut: a. Beban Bank, adalah beban yang timbul karena adanya transaksi melalui bank. b. Beban Pemeliharaan Gedung, adalah pengeluaran yang berhubungan dengan upaya perawatan gedung agar selalu dalam keadaan siap pakai. c. Beban Akte Notaris, adalah beban yang timbul karena pengeluaran atas kelengkapan legalitas yang berkaitan dengan objek sewa. d. Beban Fasilitas, adalah beban yang timbul karena pengeluaran atas penyediaan kelengkapan obejek sewa. Misalnya, beban listrik, telepon, air, pendingin ruangan, dan lain-lain2.1.2 Pengertian Pendapatan Kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh keuntungan adalah halyang penting untuk dapat melanjutkan operasi perusahaan. Keuntungan yangdihasilkan oleh suatu badan usaha adalah suatu ukuran keberhasilan manajer,investor dan kreditor yang menggunakannya untuk mengevaluasi prospekperusahaan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu salah satu bagian terpentingdalam proses akuntansi adalah penentuan, pengukuran dan pengakuan pendapatan
  15. 15. 15serta pengukuran pencatatan ekonomi yang berhubungan dengan pendapatanperusahaan. Dalam kaitannya dengan operasi perusahaan yang utama, pendapatandiklasifikasikan menjadi komponen-komponen, yaitu pendapatan operasi,pendapatan nonoperasi (pendapatan lain-lain), dan untung luar biasa. Menurut Suwardjono (2003: 82) ”Pendapatan nonoperasi adalah pendapatan selain yang diperoleh dari kegiatan utama perusahaan yang sifatnya insidental atau yang tidak secara langsung berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan. Pendapatan ini sering disebut pendapatan lain-lain. Contohnya pendapatan yang berasal dari bunga, dividen, royalti dan lain-lain”. Menurut Harnanto (2002:100) ”Pendapatan di luar usaha sebagai pendapatan yang dapat diidentifikasi sebagai kegiatan periperal perusahaan. Contohnya pendapatan yang berasal dari kegiatan finansial perusahaan. Misalnya, sewa, bunga, dividen, dan lain-lain.” Menurut Soemarso S.R (2004: 227), ”pendapatan lain-lain adalahpendapatan yang bukan berasal dari kegiatan utama perusahaan atau pendapatannon usaha, termasuk didalam kelompok ini adalah keuntungan dari penjualanaktiva tetap dan pendapatan sewa.” Carl S Warren, et all (2005:21) mendefinisikan pendapatan sewa sebagaiuang yang diterima dari penyewaan. Sedangkan menurut Soemarso S.R (2003:230) ”Pendapatan adalah peningkatan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Pendapatn yang diperoleh dari kegiatan di luar kegiatan utama disebut pendapatan lain-lain.”
  16. 16. 16 Berdasarkan definisi-difinisi diatas, maka penulis dapat menyimpulkanbahwa pendapatan lai-lain atau pendapatan luar usaha adalah arus masuk yangberasal dari penambahan atau penurunan kewajiban selain pendapatan yangberasal dari kegiatan utama perusahaan. Pendapatan sewa termasuk dalampendapatan lain-lain apabila kegiatan utama perusahaan bukan bergerak dalambidang sewa-menyewa atau rental.2.1.3 Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan salah satu bentuk kekayaan perusahaan berupasumber ekonomi untuk menciptakan pendapatan. Kedudukannya sangat pentingkarena fungsinya sebagai alat produksi, karena itu aktiva tetap merupakan saranamutlak untuk mencapai sasaran perusahaan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar AkuntansiKeuangan No.16 tahun 2007: “Aset tetap adalah aset berwujud yang: (a) dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan (b) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.”(2007:16.2 paragraf 6) Soemarso (2004: 226) mendefinisikan aktiva tetap sebagai aktiva bernilaibesar yang digunakan untuk kegiatan perusahaan, bersifat tetap atau permanendan tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal. Selanjutnya Harnanto (2002: 313) mendefinisikan aktiva tetap berwujudsebagai berikut:
  17. 17. 17 ”Aktiva tetap berwujud adalah setiap barang yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan yang diapakai atau digunakan secara aktif dalam operasional dan mempunyai umur atau masa kegunaan yang relatif permanen” Sedangkan definisi aktiva tetap menurut James O Gill (2006: 6) adalahsebagai berikut: “Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan. Aktiva tetap meliputi aktiva yang tidak dapat disusutkan dan yang disusutkan.” Dari berbagai pendapat tentang pengertian aktiva tetap berwujudtersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu aktiva dapat disebutsebagai aktiva tetap apabila memenuhi syarat sebagai berikut :1. Bersifat relatif permanen yang artinya aktiva-aktiva tersebut dapat digunakan untuk jangka panjang, biasanya dipakai lebih dari satu tahun atau lebih dari satu periode akuntansi.2. Aktiva tetap dipakai atau digunakan secara aktif di dalam kegiatan normal perusahaan atau dimiliki tidak sebagai suatu investasi dan atau untuk dijual kembali.3. Pengeluaran untuk memperoleh aktiva tetap biasanya merupakan pengeluaran yang cukup besar, sehigga perusahaan perlu mempunyai kebijaksanaan kapitalisasi yang menetapkan jumlah minimum pengeluaran yang dapat dikapitalisasi.
  18. 18. 182.1.3.1 Klasifikasi Aktiva Tetap Berwujud Dari macam-macam bentuk aktiva tetap berwujud untuk tujuan akuntansidilakukan pengelompokan sebagai berikut :a) Aktiva tetap yang umurnya dan masa kegunaannya tidak terbatas dan dilaporkan berdasarkan harga perolehannva tanpa disusutkan atau dideplesi. Contoh : tanah untuk letak perusahaan. tempat berdirinya gedung, tanah pertanian, tanah peternakan tanah perkebunan.b) Aktiva tetap yang umur dan masa kegunaannya tidak dapat diganti dengan aktiva yang sejenis atau disebut aktiva tetap yang dideplesi Contoh : sumber alam seperti pertambangan , hutan kayu.c) Aktiva tetap yang umurnya dan masa kegunaannva terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa diganti dengan aktiva yang sejenis atau disebut juga aktiva tetap yang disusutkan. Contoh : Bangunan, gedung , mesin dan peralatan , furniture , kendaraan.2.1.4 Pengertian Leasing (Sewa Guna usaha) Dalam menjalankan operasinya perusahaan membutuhkan aktiva tetapdan untuk memperolehnya perusahaan dapat menggunakan cara yang berbeda-beda. Salah satu yang paling mudah adalah dengan cara membelinya.Memperoleh aktiva tetap dengan cara pembelian menimbulkan berbagaikeuntungan dan kerugian bagi perusahaan dan memerlukan berbagaipertimbangan. Perusahaan perlu memikirkan apakah dana yang ada mencukupi
  19. 19. 19atau diperlukan suatu pinjaman, dan resiko lain seperti ketinggalan zamansehingga tidak ekonomis lagi bila dipakai ataupun ada resiko kegagalan memakaiserta kemungkinan biaya pemeliharaan yang terlalu tinggi. Cara lain dalam memperoleh aktiva yang dapat diterapkan adalah dengancara leasing. Leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa atau lebih umumdiartikan sewa menyewa yaitu pembiayaa peralatan atau barang modal untukdigunakan pada proses produksi suatu pernsahaan baik secara langsung maupuntidak langsung. Industri leasing menciptakan konsep baru untuk mendapatkanbarang modal serta menggunakannya sebaik mungkin tanpa harus membeli ataumemiliki barang tersebut. Ditinjau dari sudut ekonomi, leasing dapat puladikatakan sebagai salah satu cara untuk menghimpun dana yang terdapat didalammasyarakat dan menginvestasikannya kembali dalam sektor-sektor ekonomitertentu yang dianggap produktif. Karena itu, sarana leasing merupakan alternatifyang baik bagi perusahaan yang kurang modal atau hendak menghematpemakaian tanpa harus kehilangan kesempatan untuk melakukan investasikembali dalam sektor-sektor ekonomi tertentu yang dianggap produktif. Untuklebih jelasnya, ada beberapa defenisi leasing yaitu sebagai berikut : Menurut Financial Accounting Standar Board (FASB) :”..An agreementcoonveying the right to use property, plant or equipment (land and/or depreciableassets) usulally for a stated period of time”. Definisi diatas menjelaskan adanya kesepakatan antara dua pihak, lessor(pihak yang menyewakan) dan lessee (penyewa). Dalam perjanjian ini terdapatpersetujuan penyerahan atau pengalihan hak guna atau hak pakai atas aktiva yang
  20. 20. 20dimilikinya yang dapat disiapkan selama periode tertentu dari lessor pada lessee.Selama periode yang dimaksud dalam perjanjian sebagai balas jasa dari hak pakaiyang diberikan lessor kepada lessee dituntut untuk membayar sejumlah uang sewaatau kompensasi yang lain sesuai dengan perjanjian yang dibuat. Lamanya jangkawaktu suatu perjanjian lease tergantung pada perjanjian yang dibuat oleh lessordan lessee, sehingga jangka waktu perjanjian lease ini dapat bervariasi tergantungpada kesepakatan bersama. International Accounting Standard Committee mendefenisikan leasingsebagai berikut : "Lease: An agreement where by the lessor conveys to the lessee in return forrent the right to use an asset for an agreed period of time. The definition of lease includes contracts for the heire of an asset whiech contain of provision giving the hirer an option to acquire title of the asset upon to the fufilment of agreed conditioons. These contracts are described as hire puchase contracts In some countries, different names are used for agreement which have the characteristic of a lease (e. g. baeboat characters). Definisi dan pengertian leasing menurut IAS No. 17 hampir sama denganpengertian leasing yang didefinisikan oleh FASB No. 13, tetapi IASCmenambahkan dalam definisinya bahwa dalam pengertian leasing tersebutterdapat hak opsi bagi lessee untuk membeli aktiva yang dileasekan ataumemperpanjang waktu leasing berdasarkan nilai yang disepakati bersama. Menurut hubungan dengan opsi ini, pemerintah Republik Indonesiamelalui Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, danMenteri Perindustrian Keputusan No. 122/MK/2/1974, No. 32/MSK/2/1974 danNo. 30/KPB/1/1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang "Perijinan Usaha Leasing",menyatakan bahwa:
  21. 21. 21 ”Sewa guna usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka tertentu secara berkala, disertai dengan hak pilih (option) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.”(Waluyo, 2008:280) Definisi ini tampaknya hanya menampung satu jenis sewa guna usahayang lazim disebut finance lease atau sewa guna usaha pembiayaan, diartikansebagai suatu kegiatan pembiayaan dalam penyediaan barang-barang modal atauaktiva yang disusutkan lainnya (depreciable assets) dan tidak selalu berakhirdengan pemilikan barang oleh si penyewa (hak pilih/opsi) dan adanyapembayaran secara berkala. Namun demikian dengan ditetapkannya keputusanMenteri Keuangan No. 1251/KMK.O13/1988 tanggal 20 Desember 1988, jeniskegiatan 8013 telah diperluaskan sebagai mana tersirat dalam pasal 1 keputusantersebut yang menampung definisi sebagai berikut : ”Perusahaan sewa guna usaha (leasing company/lessor) adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal, baik secara financial lease maupun operating lease untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.” (Waluyo, 2008:280) Definisi diatas menunjukkan perluasan batasan jenis kegiatan sewa gunausaha yang diikuti pula batasan untuk finance lease, operating lease, dan lessee(penyewa guna usaha) sebagai berikut:1. Sewa Pembiayaan (finance lease) adalah kegiatan sewa guna usaha di mana penyewa guna usaha pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha bedasarkan nilai sisa yang disepakati bersama.
  22. 22. 222. Sewa Opersai (operating lease) adalah kegiatan sewa guna usaha di mana penyewa guna usaha tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha.3. Penyewa guna usaha (lessee) adalah perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan sewa guna usaha (lessor) Menurut Earl K Stice, dkk (2004: 13-14) mendefinisikan sewa gunausaha sebagai berikut: “Sewa guna usaha adalah suatu kontrak di mana satu pihak (penyewa- lessee) diberikan hak untuk menggunakan aktiva yang dimiliki oleh pihak lain, yaitu pihak yang menyewakan (lessor) untuk suatu periode waktu tertentu dan untuk suatu biaya periodic tertentu.” Menurut Harnanto (2002:315) “Sewa guna usaha merupakan suatu kontrak atau perjanjian yang memberikan hak kepada penyewa untuk menggunakan aktiva tetap atau barang modal yang dimiliki oleh pihak yang menyewakan (lessor) dalam jangka waktu tertentu dan dengan pemabayaran sewa tertentu.” Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar AkuntansiKeungan No.30 tahun 2007 : ”Sewa (Lease) adalah suatu perjanjian di mana lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya, lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.”(2007:30.1 paragraf 4) Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor1169/KMK.01/1991 tanggal 27 November 1991 tentang Kegiatan Sewa GunaUsaha (Leasing) mendefinisikan beberapa istilah yang sering dipakai dalamtransaksi leasing sebagai berikut:
  23. 23. 23a. Sewa-guna-usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa-guna-usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa-guna-usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala;b. Barang Modal adalah setiap aktiva tetap berwujud, termasuk tanah sepanjang di atas tanah tersebut melekat aktiva tetap berupa bangunan (plant), dan tanah serta aktiva yang dimaksud merupakan satu kesatuan pemilikan, yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dan digunakan secara langsung untuk menghasilkan, atau meningkatkan, atau memperlancar produksi dan distribusi barang atau jasa oleh Lessee;c. Lessor adalah perusahaan pembiayaan atau perusahaan sewa-guna-usaha yang telah telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan dan melakukan kegiatan sewa guna-usaha;d. Lessee adalah perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari Lessor;e. Pembayaran sewa-guna-usaha (Lease Payment) adalah jumlah uang yang harus dibayar secara berkala oleh Lessee kepada Lessor selama jangka waktu yang telah disetujui bersama sebagai imbalan penggunaan barang modal berdasarkan perjanjian sewa-guna-usaha;f. Piutang sewa-guna-usaha (Lease Receivable) adalah jumlah seluruh pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha;
  24. 24. 24g. Harga Perolehan (Acquisition Cost) adalah harga beli barang modal yang dilease ditambah dengan biaya langsung;h. Nilai Pembiayaan adalah jumlah pembiayaan untuk pengadaan barang modal yang secara riil dikeluarkan oleh Lessor;i. Angsuran Pokok Pembiayaan adalah bagian dari pembayaran sewa-guna-usaha yang diperhitungkan sebagai pelunasan atas nilai pembiayaan;j. Imbalan jasa sewa-guna-usaha adalah bagian dari pembayaran sewa-guna- usaha yang diperhitungkan sebagai pendapatan sewa-guna-usaha bagi Lessor.k. Nilai sisa (Residual Value) adalah nilai barang modal pada akhir masa sewa- guna-usaha yang telah di sepakati oleh Lessor dengan Lessee pada awal masa sewa-guna-usaha.l. Simpanan Jaminan (Security Deposit) adalah jumlah uang yang diterima Lessor dari Lessee pada permulaan masa lease sebagai jaminan untuk kelancaran pembayaran lease;m. Masa Sewa-guna-usaha(Lease term) adalah jangka waktu sewa-guna-usaha yang dimulai sejak diterimanya barang modal yang disewa-guna- usaha oleh Lessee sampai dengan perjanjian sewa-guna-usaha berakhir;n. Masa Sewa-guna-usaha pertama adalah jangka waktu sewa-guna-usaha barang modal untuk transaksi sewa-guna-usaha yang pertama kalinya;o. Opsi adalah hak Lessee untuk membeli barang modal yang disewa-guna-usaha atau memperpanjang jangka waktu perjanjian sewa-guna-usaha. Dari definisi-definisi di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwaleasing (sewa guna usaha) adalah kegiatan pembiayaan atau transaksi dalam
  25. 25. 25bentuk penyediaan barang modal atau aktiva, baik secara sewa guna usaha denganhak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operatinglease), untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkanpembayaran secara berkala.”2.1.4.1 Karakteristik Akuntansi Sewa (Lease) bagi Lessor Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi KeuanganNo.30 tahun 2007 klasifikasi sewa antara lain: ”a. Sewa Pembiayaan b. Sewa Operasi.”(2007:30,07) Beberapa karakteristik yang mengarah pada sewa yang diklasifikasi sebagaisewa pembiayaan, antara lain: (a) Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa. (b) Lessee mempunyai hak opsi untuk membeli asset pada harga yang cukup rendah jika dibandingkan dengan dengan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi memang akan dilaksanakan. (c) Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak milik tidak dialihkan. (d) Pada awal sewa, nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum secara substansial mendekati nilai wajar aset sewaan.
  26. 26. 26 (e) Aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat menggunakan tanpa perlu modifikasi secara material. Jika salah satu dari karakteristik diatas dan tiga indikator lain dibawah initerpenuhi, maka sewa tersebut dapat diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan.Sedangkan bila tidak terpenuhi, maka diklasifikasikan sebagai sewa operasi.Indikator tambahan tersebut adalah: 1. Jika lessee dapat membatalkan sewa, maka rugi lessor yang terkait dengan pembatalan ditanggung oleh lessee. 2. Laba atau rugi dari fluktuasi nilai wajar residu dibebankan kepada lessee (contoh, dalam bentuk potongan harga rental dan yang setara dengan sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa). 3. Lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk periode selanjutnya dengan nilai rental yang secara substansial lebih rendah dari nilai pasar.2.1.4.2 Perjanjian Leasing Dalam Keputusan Menteri Keuangan No 1169/KMK.01/1991 tentangKegiatan Sewa Guna Usaha (leasing) Bab III Pasal 9, memuat tentang ketentuanperjanjian sewa guna usaha, sebagai berikut:(1) Setiap transaksi sewa-guna-usaha wajib diikat dalam suatu perjanjian sewa- guna-usaha (lease agreement).(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini sekurang- kurangnya memuat hal-hal sebagai berikut :
  27. 27. 27 a. Jenis transaksi sewa-guna-usaha; b. Nama dan alamat masing-masing pihak; c. Nama, jenis, type dan lokasi penggunaan barang modal; d. Harga perolehan, nilai pembiayaan, pembayaran sewa-guna-usaha angsuran pokok pembiayaan, imbalan jasa sewa-guna-usaha, nilai sisa, simpanan jaminan, dan ketentuan asuransi atas barang modal yang disewa-guna-usahakan; e. Masa sewa-guna-usaha; f. Ketentuan mengenai pengakhiran transaksi sewa-guna-usaha yang dipercepat, dan penetapan kerugian yang harus ditanggung lessee dalam hal barang modal yang disewa-guna-usaha dengan hak opsi hilang, rusak atau tidak berfungsi karena sebab apapun; g. Opsi bagi penyewa guna usaha dalam hal transaksi sewa-guna-usaha dengan hak opsi; h. Tanggung jawab para pihak atas barang modal yang disewa-guna- usaha.(3) Perjanjian sewa-guna-usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini wajib dibuat dalam bahasa Indonesia, dan apabila dipandang perlu dapat diterjemahkan ke dalam bahasa asing.2.1.4.3 Keuntungan dan Kerugian Leasing Menurut Sofyan Syafri Harahap (1995:171-173) beberapa keuntungandan kerugian pembiayaan dengan menggunakan leasing adalah sebagai berikut
  28. 28. 28Keuntungan bagi Lessee 1. Lessee akan terhindar dari kebutuhan dana besar dan biaya bunga yang tinggi 2. Lesee mengurangi resiko keusangan, karena ia dapat mengoperkan barang yang dilease kepada pihak lessor setelah pemakainnya 3. Perjanjian lease lebih fleksibel karena lebih bebas dibandingkan perjanjian utang lainnya 4. Daya pembiayaannya jauh lebih murah dari pada pembiayaan sekaligus 5. Lease tidak menambah pos utang di neraca dan tidak mempengaruhi rasio leverageKerugian bagi lessee 1. Lessee wajib memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan lessor untuk melindungi peralatannya 2. Lessee bisa saja kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan barang pada saat akhir lease untuk beberapa jenis barang 3. Lease khususnya financial lease mungkin kurang tepat bila lessee hanya membutuhkan aktiva dalam jangka pendek, karena jika dibatalkan sebelum perjanjian selesai, akan menimbulkan biaya yang cukup besar. 4. Karena barang yang dilease tidak dapat dicatat sebagai asset maka tidak dapat dijadikan jaminan kredit di Bank 5. Hak menggunakan barang lease merupakan intangable asset yang tidak dapat dimunculkan dalam neraca
  29. 29. 29Keuntungan bagi lessor 1. Hak kepemilikan masih di pihak lessor, sehingga merupakan faktor pengaman yang lebih kuat dibandingakan dengan barang jaminan berupa hipotek sekalipun 2. Lessor berhak secara hukum untuk menjual barang yang dilease dan biasanya lebih mudah dan lebih cepat dibandingakan dengan penjualan melalui lelang 3. Dalam operating lease, lessor secara akuntansi masih berhak untuk melakukan pembebanan penyusutan atas barang yang dilease untuk tujuan penghematan pajakKerugian bagi lessor 1. Sebagai pemilik, lessor memiliki risiko besar jika barang yang dilease mendapat tuntutan dari pihak ketiga 2. Dalam hal adanya complaint, lessor tidak bisa mengklaim pabrik atau suppliernya secara langsung, tindakan tersebut ahrus dilakukan oleh lessee sebagai pemakai barang tersebut 3. Walaupun mempunyai hak secara hukum menjual barang lease, namun lessor belum tentu bebas dari berbagai ikatan seperti gadai atau kewajiban lain.
  30. 30. 302.2 Kerangka Pemikiran Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar AkuntansiKeuangan No.16 tahun 2007: “Aset tetap adalah aset berwujud yang: (c) dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan (d) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.”(2007:16.2 paragraf 6) Aktiva tetap adalah sumber ekonomi yang digunakan dalam operasiperusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, meliputi: tanah,bangunan, mesin-mesin, peralatan-peralatan, serta sumber-sumber alam. Aktivatetap merupakan salah satu bentuk kekayaan perusahaan berupa sumber ekonomiuntuk menciptakan pendapatan. Namun aktiva juga merupakan pengeluran yangbesar bagi perusahaan. Selain membutuhkan dana yang besar pada saat perolehanaktiva, tetapi juga pascaperolehan. Selama umur ekonomis, timbul pengeluaran-pengeluaran reguler dan khusus. Pengeluaran tersebut diperlukan untukmemelihara dan memperbaiki aktiva, sementara pengeluaran lain untukmenambah umur ekonomis atau kapasitas aktiva. (Stice dan Skousen, 2004: 28) Kadang kala kegiatan utama yang dilakukan untuk mencapai tujuan dalamsuatu perusahaan tidak terlalu memanfaatkan aset tetap yang dimiliki secaraoptimal sehingga ada aktiva tetap yang menganggur. Dengan berbagaipengorbanan yang telah dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap tersebut hal inidianggap merugikan bagi perusahaan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuklebih mengoptimalkan aset berupa aset tetap yang dimilikinya salah satu
  31. 31. 31diantaranya dengan menyewagunausahakan atau meleasingkan aktiva tetaptersebut. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor1169/KMK.01/1991 tanggal 27 November 1991 tentang Kegiatan Sewa GunaUsaha (Leasing) mendefinisikan sewa guna usaha sebagai berikut: ”Sewa-guna-usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa-guna-usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa-guna-usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala” Dalam kegiatan sewa guna usaha, pihak lessor menyediakan barang modalberupa aktiva tetap dan memberikan hak untuk menggunakan aktiva yangdimilikinya kepada pihak lessee untuk jangka waktu tertentu dan untuk suatubiaya periodik tertentu yang biasa disebut dengan operating leases. Atau dengansewa guna usaha lain yang disebut capital leases yang secara secara ekonomissama dengan penjualan aktiva yang disewagunausahakan dimana pemberi sewamengizinkan penyewa untuk membayar aktiva tersebut dengan suatau rangkaianpembayaran ”sewa guna usaha” selama beberapa waktu. (Stice dan Skousen,2004: 14) Sewa guna usaha memberikan keuntungan yang menarik bagi lesee danlessor. Salah satu keuntungan sewa guna usaha bagi lessor adalah dalam banyakperjanjian sewa guna usaha kepemilikan properti sewa guna usaha tidak pernahdialihkan kepada pihak lessee. Lessor dapat memperoleh keuntungan apabilakondisi ekonomi menghasilkan nilai sisa yang signifikan pada akhir masa sewa(Stice dan Skousen, 2004: 296). Selain itu, dengan sewa guna usaha perusahaan
  32. 32. 32dapat kembali mengoptimalisasikan aktiva tetap yang dimilikinya sehingga dapatmenutupi biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh dan menjadisalah satu sumber penerimaan di luar kegiatan utama perusahaan atau pendapatanlain-lain berupa pendapatan sewa yang dapat menambah keuntungan perusahaan. Sebagaimana pendapat yang diungkapkan oleh Soemarso S.R (2004: 227)yang menyatakan bahwa pendapatan lain-lain adalah pendapatan yang bukanberasal dari kegiatan utama perusahaan atau pendapatan non usaha, termasukdidalam kelompok ini adalah keuntungan dari penjualan aktiva tetap danpendapatan sewa. Tujuan pokok dijalankannya suatu kegiatan usaha adalah untukmemperoleh pendapatan, dimana pendapatan tersebut dapat digunakan untukmemenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan hidup usaha. ( Samuelson danNordhaus, 1997 : 36 ). Semakin besar pendapatan yang diperoleh perusahaanmaka semakin besar pula keuntungan yang diperolehnya. Keuntungan yangdihasilkan perusahaan menjadi suatu ukuran untuk menentukan prospek kegiatanoperasional perusahaan di masa yang akan datang. Dalam persamaan akuntansi dijelasakan bahwa transaksi-transaksipendapatan dan beban dicatat sebagai penambah dan pengurang modal. Dalamsistem pencatatan dengan menggunakan akun transaksi. Akun transaksi tersebutdicatat dalam akun terpisah. Pendapatan dapat berasal dari bermacam-macamkegiatan, misalnya, penjualan barang, pemberian jasa, penyewaan aktiva,peminjaman uang atau kegiatan-kegiatan lain dalam rangaka usaha dan dengantujuan memperoleh laba. (Soemarso, 2004: 54)
  33. 33. 33 Namun pengungkapan pendapatan dapat dilakukan setelah diketahuibeban-beban yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Sebagaimana yangdiungkapkan oleh Suwardjono (2003: 73) bahwa beban adalah aliran keluarsumber daya atau asset yang melekat pada produk atau jasa yang diserahkanperusahaan kepada konsumen dalam rangka menimbulkan pendapatan. Pendapatan timbul setelah adanya pengakuan atau pengungkapan beban.Penentuan komponen beban yang akan dibebankan dapat mempengaruhi nilaipendapatan yang diperoleh perusahaan. Di dalam PSAK No 30 terdapat kebijakantentang komponen-kompen biaya yang dapat dibebankan kepada lessee dalampenentuan pendapatan sewa. Diharapkan dengan penerapan PSAK No 30 secarakonsisten, perusahaan dapat menentukan pendapatan sewa dengan tepat.2.3 Hipotesis Menurut Sugiono (1999:39) dalam Metode Penelitian Administrasimengemukakan bahwa ”hipotesis merupakan jawaban sementara terhadaprumusan masalah penelitian” Sebagaimana jawaban sementara dari identifikasimasalah diatas dengan mengacu pada kerangka pemikiran. Maka penulismengajukan hipotesis, “semakin perusahaan konsisten dalam menerapkan PSAKNo 30 (Sewa), maka penentuan pendapatan sewa yang diterima oleh perusahaanakan semakin tepat”
  34. 34. 34 BAB III SUBJEK/OBJEK DAN METODE PENELITIAN3.1 Objek Penelitian Perusahaan yang menjadi subjek penelitian penulis dalam penyusunanTugas Akhir ini adalah PT INTI (Persero) yang berlokasi di Jalan Moh Toha No77 Bandung dan objek yang akan diteliti adalah konsistensi penerapan PSAK No30 atas sewa guna usaha aktiva tetap dalam menentukan ketepatan penentuanpendapatan sewa pada PT INTI (Persero) Penulis memilih PT INTI (Persero) sebagai subjek penelitian, karenadalam upaya pengoptimalan aktiva tetap yang dimilikinya, PT INTI (Persero)meleasekan atau menyewagunausahaakan aktiva tetap tersebut dengan harapandapat meningkatkan pendapatannya. Namun jika melihat kondisi laporankeuangan lima tahun ke belakang, pendapatan yang diperoleh khususnyapendapatan lain-lain dari tahun ke tahun cenderung menurun. Berdasarkan haltersebut, maka penulis ingin mengkaji lebih dalam sejauh mana PT INTI (Persero)telah secara konsisten menerapkan PSAK No 30 dalam penentuan pendapatnsewanya khususnya dalam penentuan komponen-komponen biaya yangdibebankan kepada lesee.
  35. 35. 353.2 Metode Penelitian Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, termasuk kedalam metode penelitian studi kasus. Penelitian ini memusatkan diri secaraintensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Datastudi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata laindata dalam studi ini dikumpulkan dari berbagai sumber (Nawawi, 2003). Sebagaisebuah studi kasus maka data yang dikumpulkan berasal dari berbagai sumber danhasil penelitian ini hanya berlaku pada kasus yang diselidiki. Lebih lanjutArikunto (1986) mengemukakan bahwa metode studi kasus sebagai salah satujenis pendekatan deskriptif, adalah penelitian yang dilakukan secara intensif,terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga ataugejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit3.2.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. MenurutMaman (2002; 3) penelitian deskriptif berusaha menggambarkan suatu gejalasosial. Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sifatsesuatu yang tengah berlangsung pada saat studi. Metode kualitatif inimemberikan informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembanganilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah(Husein Umar, 1999:81). Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan padastudi kasus yang merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentuselama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh. Menurut
  36. 36. 36Vredenbregt (1987: 38) Studi kasus ialah suatu pendekatan yang bertujuan untukmempertahankan keutuhan (wholeness) dari obyek, artinya data yangdikumpulkan dalam rangka studi kasus dipelajari sebagai suatu keseluruhan yangterintegrasi, di mana tujuannya adalah untuk memperkembangkan pengetahuanyang mendalam mengenai obyek yang bersangkutan yang berarti bahwa studikasus harus disifatkan sebagai penelitian yang eksploratif dan deskriptif. Penelitian case study atau penelitian lapangan (field study) dimaksudkanuntuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan danposisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkunganunit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subjek penelitian dapatberupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat. Penelitian case studymerupakan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu dan hasil penelitiantersebut memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai unit sosial tertentu.Subjek yang diteliti relatif terbatas, namun variabel-variabel dan fokus yangditeliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002). Penelitian studi kasus akan kurang kedalamannya bilamana hanyadipusatkan pada fase tertentu saja atau salah satu aspek tertentu sebelummemperoleh gambaran umum tentang kasus tersebut. Sebaliknya studi kasus akankehilangan artinya kalau hanya ditujukan sekedar untuk memperoleh gambaranumum namun tanpa menemukan sesuatu atau beberapa aspek khusus yang perludipelajari secara intensif dan mendalam. Disamping itu, studi kasus yang baikharus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yangdiselidiki. Walaupun demikian, data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari
  37. 37. 37kasus yang diteliti, tetapi juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahuidan mengenal kasus tersebut dengan baik. Dengan kata lain, data dalam studikasus dapat diperoleh dari berbagai sumber namun terbatas dalam kasus yangakan diteliti tersebut (Nawawi, 2003). Pengertian yang lain, studi kasus bisa berarti metode atau strategi dalampenelitian, bisa juga berarti hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu.Dalam konteks tulisan ini, penulis lebih memfokuskan pada pengertian yangpertama yaitu sebagai metode penelitian. Studi kasus adalah suatu pendekatanuntuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus dalamkonteksnya secara natural tanpa adanya intervensi pihak luar. Pada intinya studiini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan,mengapa keputusan itu diambil, bagaimana diterapkan dan apakah hasilnya(Salim, 2001). Jadi dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah bagian keuanganyang bekerja di PT INTI (Persero)3.2.2 Operasionalisasi Variable Menurut Sugiyono (1999:20) variabel penelitian adalah suatu atribut atausifat atau aspek dari orang maupun objek yang mempunyai variasi tertentu yangditerapkan oleh penelitian untuk dipelajari dari tarik kesimpulan Setiap variabel pada dasarnya bersumber dari konsep. Konsep sendiribersifat abstrak, tetapi menunjuk pada obyek – obyek tertentu yang konkret. Suatukonsep disebut variabel jika ia menampakkan variasi pada objek – objek yang
  38. 38. 38ditunjuknya pada tingkat realitas (empiris) sehingga dimungkinkan dilakukanpengukuran. Salah satu cara untuk mencapainya dengan membuat definisioperasionalisasi variabel, sebagaimana dinyatakan oleh Sekaran (2000: 178):”operationalizing, or operationally defining a concept, to render it measurables,is done by looking at the behavioral dimensions, facets or properties denoted bythe concept”. Dengan demikian setiap variabel yang akan diteliti, diukur melaluioperasionalisasi variabel dalam tabel sebagai berikut: Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian Variabel Definisi Konsep Indikator SkalaPenerapan PSAK Suatu kebijakan yang 1. Beban ordinalNo 30 atas sewa mengantur perjanjian Penyusutan ordinalguna usaha aktiva yang mengalihkan hak 2. Beban Banktetap untuk menggunakan asset 3. Beban ordinal meskipun tetap Pemeliharaan ordinal diperlukan keterlibatan gedung ordinal lessor dalam 4. Beban Akte mengoperasikan atau Notaris memelihara asset tersebut 5. Beban Fasilitas (IAI, 2007: 30.1 paragraf 1)3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel merupakan teknik untuk menentukan sampelyang digunakan dalam penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakanoleh penulis dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh merupakan teknik pengambilan sampel bila semuaanggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlahpopulasi relatif kecil kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah
  39. 39. 39sensus, dimana anggota semua anggota populasi dijadikan sampel (Sugiyono,2004: 78). Kuesioner ini diberikan kepada bagian–bagian yang terkait dengan objekpenelitian di PT INTI (Persero) yaitu bagian keuangan.3.2.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang digunakan oleh penulis adalah data primerdan data skunder. Dimana, lebih jelas Nur dan Bambang (1999:147),menyebutkan bahwa: Sumber data terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer adalah data penelitian yang diperoleh langsung dari sumber asli. Data primer secara khusus dikumpulkan peneliti untuk menjawab pertannyaan penelitian. Sedangkan data skunder merupakan data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dan dicatat dari pihak luar). Adapun data primer yang diperoleh dari responden melalui hasil penelitiandilapangan dengan melakukan penyebaran kuisioner secara langsung pada bagiankeuangan PT INTI (Persero). Sedangkan data skunder diperoleh melalui studipustaka, yaitu dengan cara melakukan penelitian perpustakaan yang meliputiberbagai teori yang berkaitan dengan permasalahan yang ada, yaitu tentang teoriyang bersangkutan dengan system informasi akuntansi. Teknik/ prosedur pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dalampenelitian ini adalah : 1. Wawancara (Interview) Sebagai teknik komunikasi langsung untuk memperoleh data-data yang diperlukan serta ditunjukan kepada pihak perusahaan. Teknik
  40. 40. 40 pengumpulan data melalui wawancara ini dilakukan denagn wawancara tidak trstruktur yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang pihak-pihak berwenang yang bertanggung jawab.2. Pengamatan (Observasi) Observasi dilakuakn denagn mengamati kegiatan perusahaan yang berhubungan langsung dengan masalah yang diteliti. Penulis sekaligus melaksanakan Praktek Kerja di perusahaan ini untuk mengetahui dan membandingkan denagn hasil yang didapat dari teknik pengumpulan data melalui wawancara.3. Penyebaran Kuisioner (Field Research)Teknik pengumpulan data melalui penebaran kuisioner pada penelitian ini adalah diberikan data-data berupa pertannyaaan yang bersifat tertutup dengan pertanyaan dan jawaban yang telah disediakan oleh penulis dan keterangan berupa pendapat-pendapat responden yang berkaitan denagn masalah yang akan diteliti. Adapun prosedur yang dilakukan pada saat penyebaran kuisioner terdiri dari :  Menentukan populasi dan sampel  Membuat rancangan kuisioner  Membagikan kuisioner kepada responden  Menarik kembali kuisioner yang telah diberikan pada responden  Mengolah data yang telah ada dari jawaban kuisioner tersebut.4. Penelitian Kepustakaan (Library Reseach)
  41. 41. 41 Penelitian kepustakaan penulis dilakukan denagn maksud untuk mendapatkan data skunder yaitu dengan cara mencari dan mempelajari berbagai teori yang berhubungan langsung dengan maslah yang sedang diteliti. Seperti mempelajari buku-buku (text book), majalah, koran, skripsi serta artikel dari internet.3.2.5 Rancangan Analisis Data3.2.5.1 Transformasi Data Untuk analisis menggunakan statistic parametik diperlukan data denagnukuran paling tidak interval. Oleh karena itu, dalam penelitian ini data ordinalterlebih dahulu di transformasikan tingkat pengukurannya ke tingkat interval.Cara mentransformasikan data dari ordinal ke interval dengan Method SuccesiveInterval (Harun Al-Rasyid, 1994:134), langkah kerjanya sebagai berikut: a. berdasarkan hasil jawaban responden untuk setiap pertanyaan, hitung frekuensi setiap jawaban. b. Berdasarkan frekuansi yang diperoleh dari setiap pertanyaan, hitung proporsi setiap pilihan jawaban. c. Bedasarkan proporsi tersebut, untuk masing-masing pertanyaan, hitung proporsi kumulatif dan tentukan nilai batas-batas untuk setiap pilihan jawaban. d. Hitung nilai numeric penskalaan (scale Value) untuk setiap pilihan jawaban melalui persamaan berikut: SV= Densityatlower lim it – densityatupper lim it Areaunderupper lim it – areaunderlower lim it
  42. 42. 42 Dimana: SV : Scale Value respon jawaban ke-1 DLL : Kepadatan atas bawah DUL : Kepadatan batas atas AUUL : Daerah dibawah batas atas AULL : Daerah dibawah batas bawah e. hitung skor nilai hasil transformasi untuk setiap pilihan jawaban denagn persamaan sebagai berikut : Score= SV-SV minimum + 1 Perhitungan transformasi data pada penelitian ini dilakukan denagnbantuan computer Microsoft excel 2003.3.2.5.2 Uji Kualitas Data Uji kualitas data dilakukan agar data yang diproses sebagai sumberpenentuan kesimpulan terjamin kualitasnya dimana uji ini terdiri dari 2 uji yaituuji validitas dan uji reliabilitas.3.2.5.2.1 Uji Validitas Sebelum pengumpulan data dilakukan, perlu dilakukan uji coba instrumentterlebih dahulu guna mengetahui tingkat validitas da realiabilitasnya. Dan hasil ujivaliditas dan reliabilitas, maka dapat diketahui apakan instrument tersebut layakatau tidak untuk digunakan. Moh nazir (2003:133) menyatakan bahwa : “jika reliabilitas dan validitastidak diketahui, maka akibatnya menjadi fatal dalam memberikan kesimpulanataupun dalam memberikan alas an terhadap hubungan-hubungan antar variable,
  43. 43. 43bahkan secara luas reliabilitas dan validitas mencakup seluruh pengumpulan datasejak konsep disiapkan sampai kepada data siap untuk dianalisis.” Menurut Sugiyono (1999;109), “instrument yang valid berarti alat ukuryang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berartiinstrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitas instrument dilakukan dengan tingkat pengukuranlikert’s, dilakukan melalui teknik kolerasi antara masing-masing itempertanyaan/pernyataan dengan total item pertanyaan. Teknik kolerasi yangdigunakan adalah teknik kolerasi product Moment dengan rumus sebagai berikut : ∑ xy − ( ∑ x )( ∑ y ) Rxy = n [ ∑x n 2 − ( ∑ x) 2 ][ ∑ y n 2 − ( ∑ y) 2 ] Keterangan : Rxy = koefisien validitas item yang dicari X = skor yang diperoleh dari subjek dalam tiap item Y = skor total item instrument ∑X = jumlah skor dalam distribusi X ∑Y = jumlah skor ddalam distribusi Y ∑X2 = jumlah kuadrat pada masing-masing skor X ∑Y2 = jumlah kuadrat pada masing-masing skor Y n = jumlah responden. Setelah angka kolerasinya diketahui, kemudian dihitung nilai t dan rdengan rumus : r n−2 t= ; db = n − 2 1− r 2
  44. 44. 44 Setelah itu dibandingkan dengan nilai kritiknya. Jika r hitung > rtabel pada=0.05 berarti data tersebut signifikan (valid) dan layak digunakan dalampengujian hipotesis penelitian. Sebaliknya jika rhitung < rtabel berarti data tersebuttidak signifikan (tidak valid) dan tidak dapat diikutsertakan dalam pengujianhipotesis penelitian. Pertanyaan-pertayaan yang valid selanjutnya dilakukan ujireliabilitas.3.2.5.2.2 Uji Reliabilitas Setelah dilakukan pengujian validitas, maka langkah selanjutnya adalahmelakukan pengujian reliabilitas. Suharsimi (2002 : 154) menyatakan bahwareliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya, dapatdipercaya, jadi dapat diandalkan. Sugiyono (2004 : 147) menyatakan bahwa pengujian reliabilitas instrumendapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujiandapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya.Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensibutir-butir yang ada dengan teknik tertentu. Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas instrument menggunakaninternal consistency, dimana instrument dicobakan sekali saja. Data yangdiperoleh kemudian di analisis, dalam hal ini digunakan teknik belah dua dariSpearman Brown (split half). Adapun langkah-langkah kerjanya sebagai berikut : a. Membagi pernyataan-pernyataan menjadi dua belah
  45. 45. 45 b. Skor untuk masing-masing pernyataan pada tiap belahan dijumlahkan, sehingga menghasilkan dua skor total untuk masing-masing responden. Mengkolerasikan skor total belahan pertama dengan belahan kedua, dengan menggunakan teknik kolerasi product moment. Angka kolerasi yang diperoleh adalah angka kolerasi dari alat pengukuryang dibelah (split half), maka angka kolerasi yang lebih rendah daripada angkayang diperoleh jika alat ukur itu tidak dibelah seperti pada teknik test-retest. Olehkarena itu dicari angka reliabilitasnya untuk keseluruhan item tanpa dibelahdengan rumus Spearman Brown Menurut Sugiyono (2005 : 149), rumus yang digunakan adalah sebagaiberikut : 2rb ri = 1 + rbDi mana :ri = reliabilitas internal seluruh instrumenrb = korelasi product moment antara belahan pertama dengan belahan kedua Keputusan uji reliabilitas ditentukan dengan menggunakan ketentuan : jikareliabilitas internal seluruh item (ri) rtab (taraf signifikan 5%) maka item instrumendinyatakan reliabel. Tetapi jika reliabilitas internal seluruh item (r i) < rtab (tarafsignifikan 5%) maka instrumen dinyatakan tidak reliabel. BAB IV
  46. 46. 46 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil Penelitian4.1.1 Sejarah Perusahaan Dari cikal bakal Laboratorium Penelitian & Pengembanagn Bidang Posdan Telekomunikasi (LPPI-POSTEL), pada 30 Desember 1974 berdirilah PTIndustri Telekomunikasi Indonesia (INTI) sebagai Badan Usaha Milik Negara(BUMN) dengan misi untuk menjadi basis dan tulang punggung pembangunanSistem Telekomunikasi Nasional (SISTELNAS). Seiring waktu dan berbagaidinamika yang harus diadaptasi, seperti perkembangan teknologi, regulasi, danpasar, maka selama lebih dari 30 tahun berkiprah dalam bidang telekomunikasi,INTI telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan.1. Periode 1974-1984. Kerjasama Teknologi yang pernah dilakukan pada era ini antara lain dengan Siemen, BTM, PRX, JRC, dan NEC. Pada era tersebut produk Pesawat Telepon Umum Koin (PTUK) INTI menjadi standar perumtel (sekarang Telkom).2. Periode 1984-1994. Kerjasama teknologi yang pernah dilakukan pada era ini antara lain : Bidang sentral dengan Siemens, Bidang transmisi dengan Siemens, NEC, dan JRC, Bidang CPE dengan Siemens, BTM, Tamura, Shapura dan Tatung TEL. Pada era ini, PT INTI memiliki reputasi dan prestasi yang signifikan yaitu :
  47. 47. 47 Menjadi pionir dalam proses digitalisasi sistem dan jaringan telekomunikasi di Indonesia & Bersama Telkom telah berhasil dalam proyek otomatisasi telepon di hampir seluruh ibu kota kabupaten dan ibu kota kecamatan di seluruh Indonesia.3. Periode 1994-2000. Selama 20 tahun sejak berdiri, kegiatan inti adalah murni manufaktur. Namun dengan adanya perubahan dan perkembangan kebutuhan teknologi, regulasi, dan pasar, PT INTI mulai melakukan transisi ke bidang jasa engineering. Pada masa ini aktivitas manufaktur di bidang switching, transmisi, CPE dan mekanik-plastik masih dilakukan. Namun situasi pasar yang berubah, kompetensi yang semakin ketat dan regulasi telekomunikasi yang makin terbuka menjadikan posisi INTI di pasar bergeser sehingga tidak lagi sebagai market leader. Kondisi ini mengharuskan INTI memiliki kemampuan sales force dan networking yang lebih baik.4. Periode 2000-2004. Pada era ini kerjasama teknologi tidak lagi bersifat single suorce, tetapi dilakukan secara multi sorce dengan beberapa perusahaan multinasional dari Eropa dan Asia. Aktivitas manufaktur tidak lagi ditangani sendiri oleh INTI, tetapi secara spin-of dengan mendirikan anak-anak perusahaan dan usaha patungan.5. Periode 2005 – Sekarang. PT INTI bertekad untuk menjadi mitra terpercaya di bidang penyediaan jasa proffesional dan solusi total yang fokus pada Infocom System & Technology Integration (ISTI).4.1.2 Gambaran Umum Responden
  48. 48. 48 Dalam penelitian ini penulis melakukan penyebaran kuesioner kepada 20responden yang bekerja di PT INTI (Persero) pada bagian keuangan dan jumlahyang terkumpul sebanyak 20 kuesioner. Berdasarkan hasil kuesioner yangdiperoleh, maka gambaran umum responden yang terdiri dari jenis kelamin, usiadan jenjang pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis KelaminN Jenis Kelamin Jumlah Presentaseo1 Laki-Laki 16 Orang 80%2 Perempuan 4 Orang 20% Jumlah 20 Orang 100% Sumber: hasil pengolahan kuesioner Dari tabel 4.1 dapat terlihat bahwa mayoritas responden yang bekerja dibagian keuangan berjenis kelamin laki-laki yakni 16 orang atau 80% dari jumlahkeseluruhan, sedangkan jumlah perempuan jauh lebih sedikit yakni hanya 4 orangatau 20% dari jumlah keseluruhan responden. Tabel 4.2 Gambaran Responden Berdasarkan UsiaN Jenis Kelamin Jumlah Presentaseo1 21-30 3 Orang 15%2 31-40 5 Orang 25%3 >40 12 Orang 60% Jumlah 20 Orang 100% Sumber: hasil pengolahan kuesioner Dari tabel 4.2 dapat kita lihat bahwa usia responden mayoritas di atas 40tahun yakni sebanyak 12 orang atau 60% dari jumlah keseluruhan responden. Halini menunjukkan bahwa responden yang bekerja di bagian keuangan rata-ratatelah memiliki pengalaman dan skill yang matang.
  49. 49. 49 Tabel 4.3 Gambaran Responden Berdasarkan Jenjang PendidikanN Jenis Kelamin Jumlah Presentaseo1 D3 5 Orang 25%2 S1 11 Orang 55%3 S2 4 Orang 20% Jumlah 20 Orang 100% Sumber: hasil pengolahan kuesioner Dari tabel 4.3 kita dapat melihat bahwa responden yang bekerja padabagian keuangan telah memiliki jenjang pendidikan yang cukup tinggi. Jenjangpendidikan terendah yaitu D3 yakni sebanyak 5 orang, sedangkan jenjangpendidikan tertinggi yaitu S2 yakni sebanyak 4 orang. Namun mayoritasresponden memiliki jenjang pendidikan S1 yaitu sebanyak 11 orang.4.1.3 Analisis Tanggapan Responden Untuk menganalisis tanggapan responden, jawaban responden akandibobotkan yaitu dengan mengalikan jumlah responden yang menjawab dengannilai skala likert dari jawaban tersebut. Setelah itu, nilai bobot tersebutdibandingkan dengan nilai bobot standar untuk mengetahui kinerjanya. Nilaibobot standar ini dibagi ke dalam tiga (3) rentang penilaian yaitu konsisten, cukupkonsisten, dan tidak konsisten. Untuk mencari nilai bobot stanar dilakukan dengan mencari panjangrentang bobot ketiga pengklasifikasian di atas. Adapun rumusnya sebagai berikut: Bmaks - B min R= 3 (30 x 20) - (1 x 20) R= 3
  50. 50. 50 R = 13Keterangan:R = panjang rentangBmaks = bobot jawaban maksimum (3)Bmin = bobot jawaban minimum (1) Setelah itu pembobotan dibagi ke dalam tiga (3) tingkatan berdasarkanpengklasifikasian di atas yang dimulai dari 20. Adapun klasifikasi nilai bobotstandar yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Tabel 4.4 Nilai Bobot Standar Nilai Bobot Kategori 20-32 Tidak Konsisten 33-45 Cukup Konsisten 46-58 Konsisten Sumber: hasil perhitungan Dengan membandingkan nilai bobot jawaban responden dengan nilaibobot stnadar tersebut di atas, maka dapat diketahui mengenai bobot PenerapanPSAK No 30 Atas Sewa Guna Usaha Aktiva Tetap pada PT INTI (Persero) apakahtergolong Tidak Konsisten, Cukup Konsisten, Konsisten. Hal ini dapat diketahuidengan melihat bobot jawaban berada di golongan yang mana sesuai dengankategori pada table 4.4 di atas. Adapun rinciannya sebagai berikut:4.1.3.1 Penerapan PSAK No 30 Atasa Sewa Guna Usaha Aktiva Tetap Pada Tahun 2003 PSAK No 30 (Sewa) merupakan suatu peryataan yang mengatur kebijakanakuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik bagi lessor maupun lessee dalam
  51. 51. 51hubungannya dengan sewa (lease). Peryataan ini digunakan sebagai panduan bagipenyusun laporan keuangan di dalam menyusun laporan keuangannya khususnyamengenai sewa. Variabel ini terdiri dari 5 item pertanyaan yang diambil daristandar penentuan pendapatan sewa operasi pada PSAK No 30. Adapun hasilnyaadalah sebagai berikut: Tabel 4.5 Item peryataan 1 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban penyusutan Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 17 85% 51Kadang-kadang 2 3 15% 6Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 57Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.5 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 1 yangmenyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudaramemasukkan beban penyusutan”, mayoritas responden menjawab selalu yaknisebesar 85%. Item ini mempunyai bobot sebesar 57. Bobot ini berada padarentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya PT INTI (Persero)telah memasukkan beban penyusutan dalam penentuan pendapatan sewa secarakonsisten. Tabel 4.6 Item peryataan 2 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban bank Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 17 85% 51Kadang-kadang 2 3 15% 6Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 57
  52. 52. 52Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Untuk item peryataan 2 yang menyatakan tentang ”Apakah dalampenentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban bank”, mayoritas dariresponden menjawab selalu yakni sebesar 85%. Item ini juga mempunyai bobotyang cukup besar yaitu 57. bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategorikonsisten (tabel 4.4). artinya dalam setiap penentuan pendapatan sewa PT INTI(Persero) selalu memasukkan beban bank secara konsisten. Tabel 4.7 Item peryataan 3 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban pemeliharaan gedung Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 15 75% 45Kadang-kadang 2 3 15% 6Tidak Pernah 1 2 10% 2Total 20 100% 53Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.7 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 3 yangmenyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudaramemasukkan beban pemeliharaan gedung”, 75% dari keseluruhan respondenmenjawab selalu, sedangkan 10% dari keseluruhan responden menjawab tidakpernah. Item ini mempunyai bobot sebesar 53. bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). Artinya PT INTI (Persero)memasukkan beban pemeliharaan gedung dalam penentuan pendapatan sewasecara konsisten.
  53. 53. 53 Tabel 4.8 Item peryataan 4 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban fasilitas (air, telepon, pendingin ruangan) Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 11 55% 33Kadang-kadang 2 9 45% 18Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 51Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Untuk item peryataan 4 yang menyatakan tentang ”Apakah dalampenentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban fasilitas (air, telepon,pendingin ruangan)”, sebesar 55% responden menyatakan selalu. Item ini jugamempunyai bobot yang cukup besar yaitu 51. Bobot ini berada pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya dalam penentuan pendapatansewa PT INTI (Persero) memasukkan beban fasilitas secara konsisten. Tabel 4.9 Item peryataan 5 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban akte notaris Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 8 40% 24Kadang-kadang 2 12 60% 24Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 48Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.9 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 5 menyatakantentang ”Apakah dalam penentuan pendaptan sewa Saudara memasukkan bebanakte notaris”, lebih dari setengah dari keseluruhan responden menjawab kadang-kadang yaitu sebesar 60%, item ini mempunyai bobot sebesar 48. bobot ini berada
  54. 54. 54pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya beban aktenotaris secara konsisten dimasukkan dalam penentuan pendapatan sewa oleh PTINTI (Persero). Tabel 4.10 Bobot Total Penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 Indikator Bobot Rata-rata Persentase KategoriBeban Penyusutan 57 21,43% KonsistenBeban Bank 57 21,43% KonsistenBeban Pemeliharaan 53 19,92% KonsistenGedungBeban Fasilitas (air,telepon, pendingin 51 19,17% Konsistenruangan)Beban Akte Notaris 48 18,05% Konsisten Jumlah 266 100,00% Rata-rata 53,2 20% Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.10 di atas dapat kita lihat bahwa bobot rata-rata variabelPenerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 adalah sebesar 53,2. bobot ini beradapada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). Indikator yang sangatberpengaruh terhadap konsistensi penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 yaitubeban penyusutan dan beban bank yakni sebesar 21,43%. Sedangkan indikatoryang memiliki persentase terkecil yakni beban akte notaris yakni sebesar 18,05%.Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003dalam penentuan pendapatan sewa oleh PT INTI (Persero) telah dilakukan secarakonsisten.4.1.3.1 Penerapan PSAK No 30 Atasa Sewa Guna Usaha Aktiva Tetap Pada Tahun 2004
  55. 55. 55 PSAK No 30 (Sewa) merupakan suatu peryataan yang mengatur kebijakanakuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik bagi lessor maupun lessee dalamhubungannya dengan sewa (lease). Peryataan ini digunakan sebagai panduan bagipenyusun laporan keuangan di dalam menyusun laporan keuangannya khususnyamengenai sewa. Variabel ini terdiri dari 5 item pertanyaan yang diambil daristandar penentuan pendapatan sewa operasi pada PSAK No 30. Adapun hasilnyaadalah sebagai berikut: Tabel 4.5 Item peryataan 6 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban penyusutan Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 17 85% 51Kadang-kadang 2 3 15% 6Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 57Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.11 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 6 yangmenyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudaramemasukkan beban penyusutan”, mayoritas responden menjawab selalu yaknisebesar 85%. Item ini mempunyai bobot sebesar 57. Bobot ini berada padarentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya dalam tahun 2004PT INTI (Persero) telah memasukkan beban penyusutan dalam penentuanpendapatan sewa secara konsisten
  56. 56. 56 Tabel 4.12 Item peryataan 7 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban bank Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 13 65% 39Kadang-kadang 2 7 35% 14Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 53Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Untuk item peryataan 7 yang menyatakan tentang ”Apakah dalampenentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban bank”, mayoritas dariresponden menjawab selalu yakni sebesar 85%. Item ini juga mempunyai bobotyang cukup besar yaitu 53. Bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategorikonsisten (tabel 4.4). artinya dalam setiap penentuan pendapatan sewa PT INTI(Persero) selalu memasukkan beban bank secara konsisten. Tabel 4.13 Item peryataan 8 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban pemeliharaan gedung Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 12 60% 36Kadang-kadang 2 8 40% 16Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 52Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.13 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 8 yangmenyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudaramemasukkan beban pemeliharaan gedung”. Item ini mempunyai bobot sebesar 52.
  57. 57. 57Bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4).Artinya PT INTI (Persero) memasukkan beban pemeliharaan gedung dalampenentuan pendapatan sewa secara konsisten. Tabel 4.14 Item peryataan 9 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban fasilitas (air, telepon, pendingin ruangan) Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 12 60% 36Kadang-kadang 2 8 40% 16Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 52Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Untuk item peryataan 9 yang menyatakan tentang ”Apakah dalampenentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban fasilitas (air, telepon,pendingin ruangan)”, sebesar 60% responden menyatakan selalu. Item ini jugamempunyai bobot yang cukup besar yaitu 52. Bobot ini berada pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya dalam penentuan pendapatansewa PT INTI (Persero) memasukkan beban fasilitas secara konsisten. Tabel 4.15 Item peryataan 10 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban akte notaris Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 10 50% 30Kadang-kadang 2 9 45% 18Tidak Pernah 1 1 5% 1Total 20 100% 49Kategori Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.15 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 10menyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendaptan sewa Saudara
  58. 58. 58memasukkan beban akte notaris”, item ini mempunyai bobot sebesar 49. bobot iniberada pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). artinya bebanakte notaris secara konsisten dimasukkan dalam penentuan pendapatan sewa olehPT INTI (Persero). Tabel 4.10 Bobot Total Penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 Indikator Bobot Rata-rata Persentase KategoriBeban Penyusutan 57 21,43% KonsistenBeban Bank 57 21,43% KonsistenBeban Pemeliharaan 53 19,92% KonsistenGedungBeban Fasilitas (air,telepon, pendingin 51 19,17% Konsistenruangan)Beban Akte Notaris 48 18,05% Konsisten Jumlah 266 100,00% Rata-rata 53,2 20% Konsisten Sumber: data dioleh dari hasil kuesioner Dari tabel 4.10 di atas dapat kita lihat bahwa bobot rata-rata variabelPenerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 adalah sebesar 53,2. bobot ini beradapada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). Indikator yang sangatberpengaruh terhadap konsistensi penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003 yaitubeban penyusutan dan beban bank yakni sebesar 21,43%. Sedangkan indikatoryang memiliki persentase terkecil yakni beban akte notaris yakni sebesar 18,05%.Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan PSAK No 30 pada tahun 2003dalam penentuan pendapatan sewa oleh PT INTI (Persero) telah dilakukan secarakonsisten.
  59. 59. 594.1.3.2 Penerapan PSAK No. 30 Atas Sewa Guna Usaha Aktiva Tetap Pada Tahun 2004 PSAK No. 30 (Sewa) merupakan suatu peryataan yang mengaturkebijakan akuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik bagi lessor maupunlesse dalam hubungannya dengan sewa (lease). Peryataan ini digunakan sebagaipanduan bagi penyusun laporan keuangan di dalam menyusun laporankeuangannya khususnya mengenai sewa. Variabel ini terdiri dari 5 itempertanyaan yang diambil dari standar penentuan pendepatan sewa operasi padaPSAK No. 30. Adupun hasilnya adalah sebagai berikut: Tabel 4.11 Item Peryataan 6 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban penyusutan Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 17 85% 51Kadang-kadang 2 3 15% 6Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 57Kategori Konsisten Sumber: data olahan dari hasil kuesioner Dari tabel 4.11 diatas dapat kita lihat bahwa item peryataan 6 yangmenyatakan ”Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkanbeban penyusutan”. Mayoritas responden menjawab selalu yaitu sebesar 85%.Item ini mempunyai bobot sebesar 57. bobot ini berada pada rentang 46-58,dengan kategori konsisten (Tabel 4.4). Artinya dalam tahun 2004 PT INTI(Persero) telah memasukkan beban penyusutan dalam penentuan pendapatan sewasecara konsisten.
  60. 60. 60 Tabel 4.12 Item Peryataan 7 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban bank Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 13 65% 39Kadang-kadang 2 7 35% 14Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 53Kategori Konsisten Sumber: data diolah dari hasil kuesioner Untuk item peryataan 7 yang menyatakan ”Apakah dalam penentuanpendapatn sewa Saudara memasukkan beban bank”. Mayoritas dari respondenmenjawab selalu yakni sebesar 65%. Item ini juga mempunyai bobot yang besaryaitu 53. bobot ini berada pada rentang 46-58 dengan kategori konsisten (Tabel4.4). artinya dalam setiap penentuan pendapatan sewa PT INTI (Persero) selalumemasukkan beban bank dengan konsisten. Tabel 4.13 Item peryataan 8 Apakah dalam penentuan pendapatan sewa Saudara memasukkan beban pemeliharaan gedung Jawaban Skor Frekuensi Persentase BobotSelalu 3 12 60% 36Kadang-kadang 2 8 40% 16Tidak Pernah 1 0 0% 0Total 20 100% 52Kategori Konsisten Sumber: data diolah dari hasil kuesioner. Dari tabel 4.13 di atas dapat kita lihat bahwa item peryataan 8 yangmenyatakan tentang ”Apakah dalam penentuan pendapatn sewa Saudaramemasukkan beban pemeliharaan gedung”, item ini mempunyai bobot sebesar 52.bobot ini berada pada rentang 46-58, dengan kategori konsisten (Tabel 4.4).

×