Your SlideShare is downloading. ×
Pendahuluan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Pendahuluan

1,520
views

Published on

kebutuhan air tanaman cabai

kebutuhan air tanaman cabai

Published in: Education

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,520
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
51
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman cabai termasuk suku terung-terungan (Solanaceae), berbentuk perdu dan tergolong tanaman semusim. Tanaman cabai hibrida varietas Serambi dapat ditanam di dataran rendah sampai tinggi. Tanaman rimbun dan buah keriting memanjang. Buah cabai berwarna merah menyala dengan panjang 15-17 cm dan diameter 0.6-0.8 cm. Berat buah per tanaman berkisar antara 0.9-1.2 kg dengan potensi hasil 18-20 ton/ha. Buah cabai dapat dipanen mulai umur 82-87 hari setelah semai. Buah cabai tahan dalam penyimpanan lama dan pengangkutan jarak jauh. Tanaman cabai akan mendapatkan pertumbuhan yang baik jika mendapatkan sinar matahari (lama penyinaran dan intensitas cahaya) yang banyak. Selain itu, banyaknya sinar matahari akan menekan perkembangan hama/patogen. Wiryanta (2002) menyatakan bahwa tanaman cabai memerlukan kelembaban relatif sebesar 80% untuk pertumbuhannya. Kelembaban udara merupakan perbandingan relatif antara udara dan uap air di suatu daerah. Semakin tinggi kandungan uap air di udara, maka kelembaban udara dikatakan tinggi. Pada budidaya cabai, kelembaban lingkungan menjadi hal yang penting diperhatikan karena berkaitan erat dengan kesehatan tanaman (Nawangsih et al.,1999). Selain itu, menurut Prihmantoro dan Indriani (2003), bila pada saat berbunga kelembaban rendah, sementara suhu dan intensitas cahaya tinggi, maka 1
  • 2. keseimbangan air yang masuk dan transpirasi lewat daun terganggu. Hal ini mengakibatkan bunga dan buah akan gugur, serta tanaman menjadi layu. Sistem penyerapan air pada tanaman cabai yaitu dengan memanfaatkan akar utama yang dimiiki oleh tanaman cabai. Akar utama ini kemudian akan patah pada saat transplanting yang kemudian akan menumbuhkan banyak akar-akar lateral. Kedalaman akar dapat meluas hingga 1 m tetapi, pada kondisi irigasi ternyata akar terkonsentrasi pada lapisan tanah atas sedalam 0,3 m. Pada kondisi evapotranspirasi maksimum 5-6 mm/hari, 25-30% total air tersedia dapat dihabiskan sebelum terjadi reduksi penyerapan air (p=0,25-0,30). Biasanya 100% penyerapan air terjadi dalam kedalaman lapisan tanah 0,5-1,0 m. Evapotranspirasi merupakan proses kehilangan air dari tanah maupun dari tanaman selama tanaman hidup dan terus tumbuh. Pengukuran evapotranspirasi ada tanaman ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air tanaman agar irigasi yang diberikan optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Kebutuhan air tanaman yang optimal dapat meminimalkan adanya serangan hama dan penyakit tanaman serta tanaman akan menjadi lebih subur dan berkembang dengan baik. Pada umumnya kebutuhan air irigasi pada musim kemarau diupayakan dapat dipenuhi dari air tanah dan air permukaan. Pelaksanaannya memerlukan teknik irigasi yang efektif dan efisien agar menguntungkan bagi petani dan tidak boros dalam penggunaan air. Ada empat alternatif teknik irigasi suplemen (Schwab et al., 1981; Arsyad 2000), yaitu: 1) Pemberian air pada permukaan tanah (surface irrigation), 2) Penyiraman (sprinkler irrigation), 3) Pemberian air melalui lubang- 2
  • 3. lubang kecil sepanjang pipa langsung ke tanaman dengan laju aliran yang rendah (drip irrigation/trickel irrigation), 4) Pemberian air dibawah permukaan atau di dalam profil tanah (sub-surface irrigation). Alternatif lain untuk mengatasi kekurangan air adalah konservasi air (water conservation) dan peningkatan efisiensi penggunaan air, antara lain melalui pemulsaan (mulching), meningkatkan kapasitas tanah menahan air (water holding capacity) dan mengurangi evaporasi. Krishnappa et al. (1999) mengemukakan bahwa perbaikan kondisi permukaan tanah untuk meningkatkan infiltrasi dan kapasitas memegang air merupakan keperluan paling mendasar di lahan kering. Konservasi kelembaban tanah in situ merupakan komponen vital dalam usahatani di lahan kering, yang dapat dilakukan secara biologis, sistem konfigurasi lahan, cara pengelolaan tanah, mulsa, dan panen hujan. Pemulsaan sudah terbukti efektif dalam mempertahankan kelembaban tanah (Suwardjo,1981; Sudirman dan Adimihardja, 1981; Noeralam, 2002; Tala’ohu et al.,2003). B. Tujuan Praktik Kerja Lapangan Tujuan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan adalah: 1. Mempelajari kebutuhan air pada tanaman cabai di lahan kering. 2. Mempelajari efisiensi penggunaan air pada tanaman cabai di lahan kering. 3. Mengetahui metode efisiensi penggunaan air pada tanaman cabai di lahan kering. 4. Menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman kerja yang tidak didapat di bangku perkuliahan. 3
  • 4. C. Sasaran Praktik Kerja Lapangan Sasaran dari Praktik Kerja Lapangan ini adalah metode yang yang baik yang dapat digunakan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air pada suatu komoditas pertanian, terutama tanaman cabai di lahan kering. D. Manfaat Praktik Kerja Lapangan Manfaat Praktik Kerja Lapangan yang akan dilaksanakan di Balai Pengembangan dan Pengkajian Teknologi Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta diantaranya sebagai berikut: 1. Mendapatkan pengetahuan mengenai efisiensi penggunaan air selama masa tanam tanaman cabai di lahan kering. 2. Mendapatkan pengalaman kerja di lapangan dengan berperan aktif dalam kegiatan yang diadakan oleh Balai. 3. Memperoleh pengetahuan tambahan serta mampu membandingkan antara teori yang telah diperoleh selama kuliah dengan kenyataan yang dihadapi ketika berada di lapangan. 4
  • 5. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Cabai Cabai atau lombok termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Berikut klasifikasi tanaman cabai: Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae Ordo : Solanales Famili : Solanaceae (suku terung-terungan) Genus : Capsicum Spesies : Capsicum annum L. 5
  • 6. Tanaman cabai cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air; pH tanah yang ideal sekitar 5 - 6. Tanaman cabai juga dapat tumbuh pada jenis tanah yang berbeda tetapi, tanaman cabai harus mempunyai drainase yang baik. Tanaman cabai dapat beradaptasi dengan baik pada cuaca panas, tetapi tidak dapat menghasilkan buah yang baik ketika suhu tertinggi pada malam hari mencapai 24oC. Pada umumnya, cabai dapat tumbuh dengan baik pada suhu 20-30oC. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering adalah pada akhir musim hujan (Maret - April). Tanaman cabai diperbanyak melalui biji yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Buah cabe yang telah diseleksi untuk bibit dijemur hingga kering. Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru diambil bijinya: Untuk areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabai (300-500 gr biji). Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman cabai selama masa pertumbuhannya membutuhkan air 544,90 mm/musim atau setara dengan 54,49 liter/musim dengan total air tanah tersedia (TAW) 112 mm. Berat buah cabai pada sistem irigasi tepat waktu 37,5 gram dan 36,2 gram untuk irigasi 7 hari sekali. Efisiensi irigasi 86% dan 23% masing-masing untuk irigasi tepat waktu dan irigasi 7 hari sekali (Faridah, 2012) Salah satu kendala utama dalam sistem produksi cabai di Indonesia adalah adanya serangan lalat buah pada buah cabai. Hama ini sering menyebabkan gagal panen. Buah cabai yang terserang sering tampak sehat dan utuh dari luar tetapi bila dilihat di dalamnya membusuk dan mengandung larva lalat. Penyebabnya 6
  • 7. terutama adalah lalat buah Bactrocera carambolae. Karena gejala awalnya yang tak tampak jelas, sementara hama ini sebarannya masih terbatas di Indonesia, lalat buah menjadi hama karantina yang ditakuti sehingga dapat menjadi penghambat ekspor buah-buahan maupun pada produksi cabai. Gambar 1. Buah Cabai. B. Kebutuhan Air Tanaman Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai besarnya jumlah air yang hilang melalui proses evapotranspirasi. Dengan kata lain, kebutuhan air tanaman merupakan jumlah air optimum yang dibutuhkan untuk berbagai tanaman tumbuh optimal (FAO, 1985). Kebutuhan air tanaman merupakan faktor penting yang utama dilakukan untuk mengetahui frekuensi dan waktu pemberian air. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mempertimbangan waktu pemberian air irigasi dan besar air yang harus diberikan antara lain: 1. Jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman. 2. Ketersediaan air untuk irigasi. 3. Kapasitas tanah sekitar daerah akar untuk menampung air. 7
  • 8. Tanaman yang tumbuh, menggunakan air selama masa tumbuh dan hidupnya. Namun besarnya penggunaan air berbeda-beda sesuai dengan jenis tanaman, usia tanaman dan keadaan lingkungan sekitar. Setiap jenis tanah pada lahan juga memiliki sifat yang berbeda dalam rangka memenuhi kebutuhan tanaman akan air yang sesuai. Kebutuhan air tanaman atau biasa disebut dengan istilah evapotranspirasi, merupakan suatu proses yang mengkombinasikan dua proses yang berbeda dimana keduanya merupakan kehilangan air, yang satu pada permukaan tanah yang biasa disebut evaporasi dan yang lainnya pada tanaman. Evaporasi merupakan proses dimana air dalam bentuk cair dikonversikan ke bentuk uap air (vapourization) dan hilang dari permukaan dimana evaporasi berlangsung (vapour removal). Air yang menguap berasal dari berbagai permukaan seperti permukaan danau, sungai, tanah dan vegetasi yang basah. Transpirasi terdiri dari hasil penguapan air yang berbentuk cair pada jaringan tanaman kemudian uap tersebut hilang ke atmosfer. Tanaman dapat kehiangan air melalui stomata. Dengan sedikit membuka, stomata pada daun tumbuhan akan melewatkan gas dan uap air. Air bersama dengan nutrisi, diambil oleh akar dan ditansportasikan ke seluruh bagian tumbuhan. Proses penguapan yang terjadi pada daun, adalah intercellular spaces dan uap yang bertukar dengan udara luar (atmosfer) dikontrol oleh lubang pada stomata. Hampir semua air yang telah diambil dari akar tadi hilang karena proses transpirasi dan hanya sedikit fraksi air yang digunakan pada tanaman. 8
  • 9. Evaporasi dan transpirasi terjadi secara bersama-sama dan tidak mudah untuk mengenali atau membedakan kedua proses tersebut. Proses transpirasi berjalan terus hampir sepanjang hari di bawah pengaruh sinar matahari. Pada malam hari pori-pori daun yang disebut stomata menutup yang menyebabkan terhentinya proses transpirasi dengan drastis. Proses evaporasi dapat berjalan terus selama ada input panas, karenanya bagian terbesar jumlah evaporasi diperoleh siang hari. Proses evaporasi pada lahan pertanian umumnya ditentukan oleh fraksi sinar matahari yang mencapai permukaan tanah. Fraksi ini akan semakin menurun seiring dengan periode pertumbuhan tanaman. Ketika tanaman masih kecil, air lebih banyak hilang akibat penguapan pada tanah, akan tetapi ketika tanaman sudah tumbuh dan berkembang dengan baik dan hampir menutup tanah, transpirasi menjadi proses yang utama. Gambar 2 menunjukkan pembagian evapotranspirasi menjadi evaporasi dan transpirasi yang diplotkan pada hubungan area daun per unit permukaan tanah di bawahnya. Pada saat awal masa tanam, hampir 100% evapotranspirasi (ET) berasal dari evaporasi sementara pada saat tanaman hampir menutupi tanah, lebih dari 90% ET berasal dari transpirasi. 9
  • 10. Gambar 2. Pembagian evapotranspirasi menjadi evaporasi dan transpirasi selama periode pertumbuhan pada tanaman tahunan. (Sumber: FAO, 2000) Laju evapotranspirasi ditunjukkan oleh satuan milimeter (mm) per satuan waktu. Laju evapotranspirasi menunjukkan jumlah air yang hilang dari permukaan lahan pertanian dengan satuan kedalaman air. Satuan waktu dapat berupa jam, hari, bulan atau selama pertumbuhan tanaman tersebut berlangsung. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya evapotranspirasi: 1. Parameter cuaca Parameter cuaca yang mempengaruhi terjadinya evapotraspirasi diantaranya, radiasi, suhu udara, kelembaban dan kecepatan angin. Beberapa prosedur telah dikembangkan untuk menghitung laju evapotranspirasi dengan menggunakan perameter tersebut. 10
  • 11. 2. Faktor tanaman (karakteristik tanaman) Jenis tanaman, varietas dan tingkat perkembangan tanaman harusnya menjadi pertimbangan ketika menetapkan evapotranspirasi dari tanaman yang sudah tumbuh dengan tata lahan yang baik. Perbedaan pada resistansi menjadi transpirasi, ketinggian tanaman, kekasaran tajuk, refleksi, penutup lahan dan karakteristik perakaran memiliki hasil ET pada level yang berbeda dan jenis yang berbeda pada tanaman dibawah kondisi lingkungan yang identik. Evapotranspirasi pada tanaman pada kondisi standar (ETc) menunjukkan evaporasi yang dibutuhkan oleh tanaman yang tumbuh pada lahan yang luas dibawah kondisi air tanah, pengelolaan serta kondisi lingkungan yang baik dan hingga mencapai produksi penuh dibawah kondisi iklim yang diberikan. 3. Manajemen dan kondisi lingkungan Faktor-faktor seperti kelengansan tanah, lahan yang kurang subur, pemberian pupuk yang sedikit pada lahan, tanah yang keras dan tua sehingga horizonnya tidak dapat ditembus, kontrol dari kerusakan binatang pengganggu dan pengelolaan tanah yang tidak baik, dapat mengurangi perkembangan tanaman dan menurunkan evapotranspirasi. Faktor lain yang menjadi pertimbangan ketika menetapkan ET adalah penutup lahan, massa jenis tanaman dan kendungan air tanah. Efek dari kandungan air tanah pada ET adalah untuk mengetahui kondisi besarnya kekurangan air dan jenis tanah. 11
  • 12. Gambar 3. Evapotranspirasi potensial (ETo), Evapotranspirasi baku (ETc) dan Evapotranspirasi non-baku (ETcadj). Gambar 3 di atas, menunjukkan perbedaan konsep evapotranspirasi potensial ETo, evapotranspirasi baku (ETc) dan evapotranspirasi non-baku (ETcadj). 1. Evapotranspirasi Potensial (ETo) Laju evapotranspirasi dari permukaan disebut evapotranspirasi potensial yang dilambagkan dengan ETo. Konsep dari evapotranspirasi potensial diperkenalkan yaitu untuk mempelajari permintaan eevaporatif atmosfer dari jenis tanaman, pengembangan lahan dan praktek menajemen. Faktor yangmempengaruhi ETo adalah parameter iklim sehingga dapat dihitung dari data cuaca. Metode Penman-Monteith disarankan untuk perhitungan ETo tersebut. 2. Evapotranspirasi Baku (ETc) Evapotranspirasi baku, dilambangkan sebagai ETc, yang merupakan evapotranspirasi dari tanaman yang bebas penyakit, diberi pupuk dengan baik, tumbuh pada lahan yang luas, memiliki kondisi air tanah yang optimal, dan mencapai produksi penuh dibawah kondisi iklim yang diberikan. 12
  • 13. Evapotranspirasi tanaman dapat dihitung dari data iklim dengan mengintegrasikan secara langsung dengan resistansi tanaman, albedo (α) dan faktor resistansi udara dalam pendekatan Penman-Monteith. Metode PenmanMonteith digunakan untuk mengestimasi standar referensi tanaman untuk menentukan laju evapotranspirasi (ETo) dengan rasio yang ditentukan ETc/ETo yang biasa disebut sebagai koefisien tanaman (Kc) yang digunakan untuk menghubungkan ETc ke ETo atau ETc = Kc ETo. 3. Evapotranspirasi Non-baku (ETcadj) Evapotranspirasi tanaman non-baku (Etcadj) adalah evapotranspirasi dari tanaman yang tumbuh dibawah manajemen dan kondisi lingkungan yang berbeda dari kondisi standar. Ketika bercocok tanam di lahan, evapotranspirasi tanaman yang nyata mungkin menyimpang dari ETc karena kondisi yang tidak optimal seperti adanya hama dan penyakit, salinitas tanah, kurangnya kesuburan tanah dan terjadinya kekurangan atau genangan air. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman yang menurun, massa jenis tanaman yang rendah dan dapat mengurangi laju evapotraspirasi sebelumnya. Evapotranspirasi tanaman non-baku, dapat dihitung dengan menggunakan koefisien tegangan (stress) air Ks dan atau dengan menyesuaikan Kc untuk semua jenis stress lain dan kendala lingkungan pada evapotranspirasi tanaman. 13
  • 14. C. Kebutuhan Air Irigasi Irigasi secara umum didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Menurut Hansen et al., (1986) tujuan pemberian air irigasi pada tanaman adalah: 1. Menambahkan air ke dalam tanaman untuk mememenuhi kebutuhan cairan pada tanaman. 2. Menyediakan jaminan panen pada saat kemarau yang pendek. 3. Menyediakan kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, yaitu dengan cara menstabilkan suhu tanah dan atmosfer. 4. Mengurangi biaya pembekuan. 5. Mencuci dan mengurangi garam dalam tanah. 6. Mengurangi biaya erosi tanah. 7. Mengurangi tenaga dalam pengolahan tanah. 8. Mengendalikan laju pertumbuhan tunas dengan pendinginan karena penguapan Menurut Hansen et al. (1986), Pemberian air irigasi pada tanaman dapat dilakuan dengan lima cara yaitu dengan penggenangan (flooding), dengan menggunakan alur (furrow), dengan menggunakan air di bawah permukaan tanah melalui sub irigasi sehingga menyebabkan permukaan air naik, dengan penyiraman (sprinkling) dan dengan sistem cucuran (trickling). Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evapotranspirasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan. 14
  • 15. Metode-metode pemberian irigasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Irigasi permukaan (surface irrigation) Irigasi permukaan ini diberikan pada permukaan tanaman dengan berbagai sistem seperti penggenangan (flooding) dan sistem alur (furrow irrigation). Metode irigasi dengan cara penggenangan dikelompokkan kembali menjadi tiga kelompok yaitu (Hansen et al., 1986): a. Penggenangan tidak terkendali Metode ini dilakukan dengan cara memberikan air dari saluran tanpa tanggul, metode ini sangat ekonomis namun efisiensi penggunaan airnya sedikit karena air tidak dikendalikan. Selain itu kehilangan air pada metode ini cukup besar akibat dari perkolasi dan limpasan permukaan. b. Penggenangan petak jalur (border strip) Metode ini sering disebut sebagai metode galengan, metode galengan sesuai untuk tanah dengan variasi tekstur luas, sehingga dalam perencanaannya sifat fisik tanah merupakan faktor utama yang harus diperhitungkan. c. Penggenangan petak Metode penggenangan petak terdiri dari pengaliran aliran yang secara perbandingan besar ke dalam daerah datar yang dikelilingi oleh tanggul. Metode ini sesuai untuk tanah yang sangat permiabel yang harus dengan cepat diairi untuk mencegah kehilangan air berlebih. 15
  • 16. Metode irigasi dalam penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi wilayah yang bersangkutan serta jenis tanaman yang ditanam. Irigasi bergalur cocok digunakan untuk tanaman yang ditanam secara beralur dengan kondisi sumber daya air memadai. Metode irigasi ini tidak dapat diterapkan untuk lahan dengan variasi kemiringan besar. Toleransi kemiringan lahan maksimum untuk metode ini adalah 3-6%. Panjang alur pada umumnnya adalah sekitar 100 – 200 m, sedangkan jarak dan kedalaman alur disesuaikan dengan jenis tanaman yang dibudidayakan. 2. Irigasi curah (sprinkler irrigation) Irigasi curah adalah salah satu metode irigasi di mana pemberian air dilakukan dengan penyemprotan air ke udara, jatuh ke permukaan tanah seperti air hujan. Sedangkan menurut peneliti lain irigasi curah adalah metode pemberian air pada permukaan tanah melalui pipa-pipa bertekanan tinggi dan mencurahkannya ke udara dalam bentuk butiran-butiran kecil seperti hujan. Tujuan dari sistem irigasi curah adalah agar air dapat diberikan secara merata dan efisien pada areal pertanaman, dengan jumlah dan kecepatan penyiraman kurang atau sama dengan laju infiltrasi. Dengan demikian dalam proses pemberian air tidak terjadi kehilangan air dalam bentuk limpasan (runoff). Faktor-faktor yang mempengaruhi irigasi curah adalah :curah hujan efektif, infiltrasi, evapotranspirasi dan hubungan tanah-air-tanaman. Jumlah air irigasi yang harus ditambahkan pada sistim irigasi curah akan bervariasi sesuai dengan tekstur tanah dan kedalaman akar tanaman. 16
  • 17. Jumlah pemberian air untuk setiap operasi irigasi curah berdasarkan tekstur tanah dan kedalaman perakaran dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah pemberian air untuk setiap operasi irigasi curah berdasarkan tekstur tanah dan kedalaman perakaran Pemberian air (inch/acre) Tekstur tanah Kedalaman akar (inch) 12 18 24 30 36 48 72 Pasir kasar - Seragam 0,45 0,60 0,85 1,20 1,30 1,75 2,60 - Sub-soil kompak 0,45 0,60 1,50 1,75 2,00 2,50 3,00 Pasir halus - Seragam 0,85 1,30 1,75 2,20 2,60 3,00 4,00 - Sub-soil kompak 0,85 1,50 2,00 2,40 2,80 3,25 5,00 Lempung berdebu - Seragam 1,10 1,70 2,25 2,75 3,00 4,00 6,00 - Sub-soil kompak 1,10 1,70 2,50 3,00 3,25 4,25 6,25 1,40 2,00 2,40 2,85 3,85 5,50 Lempung berliat 0,90 atau liat berat Sumber: Pair (1969) 3. Irigasi mikro/irigasi tetes Irigasi tetes merupakan cara pemberian air pada tanaman secara langsung, baik pada permukaan tanah maupun di dalam tanah melalui tetesan secara sinambung dan perlahan pada tanah di dekat tumbuhan. Alat pengeluaran air pada sistim irigasi tetes disebut emiter atau penetes. Setelah keluar dari penetes (emiter), air menyebar ke dalam profil tanah secara horizontal maupun vertikal akibat gaya kapilaritas dan gravitasi. Luas daerah yang dibasahi tergantung pada besarnya debit keluaran, jenis tanah (struktur dan tekstur), kelembaban tanah dan permeabilitas tanah. Keuntungan dari irigasi ini adalah dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen karena pengairannya tepat guna. Pengairan dengan metode ini mampu memelihara kadar lengas tanah sesuai dengan kebutuhan 17
  • 18. kelembaban tanah untuk tanaman. Selain itu air irigasi dapat diberikan secara efisien, karena air langsung diberikan pada daerah perakaran tanaman. Efisiensi dengan menggunakan metode ini hampir mendekati 100% dengan penghematan air dari 30 sampai 50%. 4. Irigasi bawah permukaan (sub-surface irrigation) Sistem irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation) merupakan salah satu bentuk dari micro irrigation, yang meletakkan jaringan atau alat irigasinya di bawah permukaan tanah. Sedangkan sub-irigasi dapat menyebabkan evaporasi meningkat dan untuk tanah yang tinggi kadar garamnya, akan terjadi pengumpulan garam di permukaan tanah. Produksi tanaman semangka meningkat dari 10 ton/ha menjadi 18 ton/ha dengan menggunakan irigasi bawah permukaan (subsurface irrigation) berupa pipa-pipa semen yang panjangnya 1 meter dengan diameter 10 cm dan tebal dinding 1 cm yang disambung-sambung dan dihubungkan dengan bak penampung air. D. Efisiensi Penggunaan Air Air yang diambil dari sumber air dialirkan ke areal irigasi dan tidak semuanya dimanfaatkan oleh tanaman. Selama proses irigasi ini terjadi kehilangan air. Kehilangan air ini dapat berupa penguapan pada saluran irigasi, rembesan pada saluran atau untuk keperluan lain seperti misalnya rumah tangga. Efisiensi penggunaan air didefinisikan sebagai banyaknya hasil (produksi) tanaman per satuan air yang dipergunakan. Hasil dapat dinyatakan dalam cara yang bervariasi, tergantung minat petani. Pada beberapa tempat hanya biji yang 18
  • 19. dianggap penting, di lain pihak residu tanaman bisa sangat berharga sebagai makanan ternak. Ada 3 cara yang prinsip untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air yaitu : (1) meningkatkan efisiensi transpirasi, (2) meningkatkan total suplai air di lapang, dan (3) jika suplai air terbatas, menurunkan kehilangan air selain yang digunakan untuk transpirasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi penggunaan air adalah: 1. Teknik/metode irigasi. 2. Persiapan tanah, pengolahan tanah dan kondisi topografi. 3. Sifat-sifat tanah seperti infiltrasi, tekstur tanah dan struktur tanah. 4. Kelembaban tanah pada zona perakaran pada saat irigasi diberikan. 5. Iklim dan kondisi meteorologi selama irigasi. 6. Tata letak sistim irigasi : panjang dan jarak furrow, border strips, jarak dan rancangan sprinkler. 7. Operasi sistim irigasi misalnya posisi sprinkler pada saat aplikasi. 8. Dimensi irigasi seperti kedalaman aplikasi, frukuensi irigasi. Nilai efisiensi pada irigasi dapat terjadi pada saluran primer, bangunan bagi, saluran sekunder dan sebagainya. Secara umum, nilai efisiensi irigasi dapat dihitung dengan rumus: EF = [(Adbk - Ahl)/Adbk] x 100% Keterangan : EF = Efisiensi Adbk = Air yang diberikan 19
  • 20. Ahl = Air yang hilang Berikut merupakan efisiensi yang terjadi pada saluran irigasi: 1. Efisiensi Pengaliran Efisiesi pengaliran ini terjadi saat jumlah air yang dilepas dari bangunan sadap ke areal irigasi mengalami kehilangan air selama pengalirannya. Kehilangan ini dapat menentukan besarnya efisiensi pengaliran. Persamaan berikut dapat menentukan besarnya efisiensi pengaliran: EPNG = (Asa/Adb) x 100% Keterangan : EPNG = Efisiensi pengairan Asa = Air yang sampai di irigasi Adb = Air yang diambil dari bangunan sadap 2. Efisiensi Pemakaian Efisiensi pemakaian adalah perbandingan antara air yang dapat ditahan pada zona perakaran dalam periode pemberian air, dengan air yang diberikan pada areal irigasi. Besarnya efisiensi pemakaian air dapat dihitung dengan persamaan berikut: EPMK = (Adzp/Asa) x 100% Keterangan : EPMK = Efisiensi pemakaian Adzp = Air yang dapat ditahan pada zona perakaran Asa = Air yang diberikan (sampai) di areal irigasi 20
  • 21. 3. Efisiensi Penyimpanan Apabila keadaan tanaman sangat kekurangan jumlah air yang dibutuhkan untuk mengisi lengas tanah pada zona perakaran adalah Asp (ar tersimpan penuh) dan air yang diberikan adalah Adk, maka efisiensi penyimpanan adalah: EPNY = (Adk/Asp) x 100% Keterangan : EPNY = Efisiensi penyimpanan Asp = Air yang tersimpan Adk = Air yang diberikan Cara untuk memperbaiki efisiensi penggunaan air melalui tanaman merupakan teknik konservasi air secara luas. Kesuburan tanah yang tinggi, seleksi/pemilihan tanaman, perbaikan varitas, penurunan evaporasi dan manipulasi kultur tanaman meningkatkan produksi tanaman untuk suplai air yang diberikan. Suksesnya pertanaman di lahan kering terletak pada penggunaan lahan, efisiensi penggunaan air (WUE) dan efisiensi penggunaan hara yang selanjutnya mencapai produksi biomas yang lestari (sustainable). 21
  • 22. III. METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN A. Tempat dan Waktu Praktik Kerja Lapangan Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan direncanakan selama 25 hari kerja di Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Juli – Agustus 2013. B. Materi Praktik Kerja Lapangan Materi yang akan dikaji dalam Praktik Kerja Lapangan ini adalah : 1. Kondisi umum Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. a. Sejarah dan badan hukum b. Lokasi, tata letak dan keadaan geografis c. Produk yang dihasilkan d. Struktur dan sistem organisasi di Balai e. Ketenagakerjaan. 2. Kebutuhan air tanaman cabai 3. Teknik irigasi dan konservasi lahan 4. .Efisiensi penggunaan air pada tanaman cabai di lahan kering 5. Analisis SWOT a. Kekuatan (Strength) b. Kelemahan (Weakness) c. Peluang (Opportunity) d. Ancaman (Threat) 22
  • 23. C. Metode Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Metode yang digunakan dalam Praktik Kerja Lapangan ini adalah metode observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan dikaji untuk memperoleh data yang sesuai dengan kondisi yang sebenarnya dan juga berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang dilakukan di lapangan. Adapun jenis dan teknik pengambilan data adalah sebagai berikut: 1. Data primer Data primer didapatkan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan dan turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan di lapangan serta wawancara dengan petugas di lapangan maupun dengan petani setempat. 2. Data sekunder Data sekunder dapat diperoleh dari data-data yang dimiliki oleh Balai, pustaka, jurnal penelitian maupun sumber-sumber lain yang mendukung data primer. D. Jadwal Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Praktik kerja lapangan akan dilaksanakan di Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Daerah Istimewa Yogyakarta selama 25 hari. Jadwal pelaksanaan praktik kerja lapangan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Jadwal pelaksanaan praktik kerja lapangan No. Jenis Kegiatan 1. 2. Minggu ke2 3 Observasi Pengambilan data primer dan sekunder Penyusunan laporan 3. 1 23 4
  • 24. DAFTAR PUSTAKA Allen, R.G., L.S. Pereira, D. Raes and M. Smith. 2000. Crop Evaporation. Irrigation and Drainage Paper 56. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome. Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB (IPB Press), Bogor. Ayers, R.S. and D.W. Westcot. 1985. Water quality for agriculture. Irrigation and Drainage Paper 29, Rev. 1. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome. Cambodia Harvest. 2012. Chili Pepper. Technical Bulletin #52, United State Agency for International Development (USAID), Phnom Penh. Dinas Pertanian Majalengka. 2012. Cabe (Capsicum annum). (On-Line), http://distan.majalengkakab.go.id/index.php?option=com_content&view=articl e&id=88:cabe&catid=19:tanaman-hortikultura&Itemid=31 diakses 1 Juli 2013. Faridah, S. N. 2012. Analisis Kebutuhan Air Tanaman Cabai (Capsicum annum L) Berdasarkan Ketersediaan Air Tanah. Hansen, V.E., O.W. Israelsen and G.E Stringham. 1986. Dasar-dasar dan Praktek Irigasi. Terjemahan Endang. Erlangga, Jakarta. Haryati, Umi. 2011. Irigasi Suplemen dan Strategi Implementasinya Pada Pertanian Lahan Kering. Sinartani, Agroinovasi Edisi 6-12 Juli 2011 No.3413 Tahun XLI. Balai Penelitian Tanah, Bogor. Haryati, U., A. Abdurachman dan K. Subagyono. 2012. Efisiensi Penggunaan Air Berbagai Teknik Irigasi untuk Pertanaman Cabai di Lahan Kering pada Typic Kanhapludult Lampung. Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor, 30 November-1 Desember 2010. Islami, T. dan W. H. Utomo. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press. Malang. Krishnappa, A. M., Y. S. Arun Kumar, Murukannappa, and B. R. Hedge. 1999. Improve in situ Moisture Conservation Practises for stabilized Crop yield in Drylands. In Singh et al., (eds). Fifty Years of Dryland Agricultural. Noeralam, A. 2002. Teknik Pemanenan Air yang Efektif dalam Pengelolaan Lengas Tanah Pada Usahatani Lahan Kering. Desertasi Doktor. Program Pasca Sarjana. Institut pertanian Bogor, Bogor. 24
  • 25. Research in India. Central Research Institut for Dryland Agriculture. Santoshnagar, Hyderabad – 500 059. Schwab, G. O., R. K. Frevert, T. W. Edmister and K. K. Barnes. 1981. Soil and Water Conservation Engineering. Third Edition. John Wiley & Sons, Inc., Canada. Sudirman dan A. Abdurachman. 1981. Pengaruh kadar air tanah, mulsa, dan pupuk organik terhadap pertumbuhan jagung dan pemakaian air. hlm. 297304 dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah. Pusat Penelitian Tanah, Bogor, 10-13 Nopember 1981. Suwardjo. 1981. Peranan Sisa-sisa Tanaman dalam konservasi Tanah dan Air pada Usahatani Tanaman Semusim. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Tala’ohu, S. H., S. Sutono, dan Y. Soelaeman. 2003. Peningkatan produktivitas lahan kering masam melalui penerapan teknologi konservasi tanah dan air. Hal. 45 – 63 dalam Prosiding Simposium Nasional Pendayagunaan Tanah Masam, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bandar Lampung, 29 – 30 September 2003. Tanamal, Debby. 2005. Irigasi dan Bangunan Air. Modul Kuliah Irigasi dan Bagunan Air. Universitas Bina Nusantara, Jakarta. 25
  • 26. Lampiran 1. Laporan Harian Praktik Kerja Lapangan KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO Jl. Dr. Soeparno Karangwangkal Telp. (0281) 638791 Purwokerto 53123 Laporan Harian Kegiatan Praktik Kerja Lapangan Nama : Nabilah Indri Iswari NIM : A1H010067 Tempat PKL : Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Waktu No. : Tanggal Kegiatan yang Dilakukan 26 Paraf Pembimbing Lapangan
  • 27. No. Tanggal Kegiatan yang Dilakukan Mengetahui, Pembimbing Lapang Paraf Pembimbing Lapangan Pembuat Laporan (_________________) Nabilah Indri Iswari NIM. A1H010067 27
  • 28. Lampiran 2. Daftar Kajian BIDANG KAJIAN I. KONDISI UMUM ORGANISASI A. Sejarah dan Perkembangan Organisasi B. Kondisi Geografi C. Topografi dan Iklim D. Tujuan Organisasi II. SISTEM ADMINISTRASI ORGANISASI A. Struktur Organisasi B. Ketenagakerjaan III. KEBUTUHAN AIR TANAMAN CABAI A. Kondisi Iklim dan Cuaca Sekitar Lahan B. Faktor Tanaman C. Kondisi Lingkungan dan Manajemen Lahan IV. METODE IRIGASI DAN KONSERVASI A. Teknik Irigasi B. Metode Konservasi Lahan V. ANALISIS SWOT A. Kekuatan (Strength) B. Kelemahan (Weakness) C. Peluang (Opportunity) D. Ancaman (Threat) 28
  • 29. Lampiran 3. Format Laporan Praktik Kerja Lapangan FORMAT LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan dan Praktik Kerja Lapangan C. Sasaran Praktik Kerja Lapangan D. Manfaat Praktik Kerja Lapangan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Cabai B. Kebutuhan Air Tanaman C. Kebutuhan Air Irigasi D. Efisiensi Penggunaan Air III. METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN A. Waktu dan Tempat Praktik Kerja Lapangan B. Materi Praktik Kerja Lapangan C. Metode Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan D. Jadwal Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan 29
  • 30. IV. KONDISI UMUM ORGANISASI A. Sejarah dan Perkembangan Organisasi B. Kondisi Geografis C. Topografi dan Iklim D. Tujuan Organisasi V. SISTEM ADMINISTRASI ORGANISASI A. Struktur Organisasi B. Ketenagakerjaan VI. PEMBAHASAN A. Karakteristik Tanah B. Teknik Irigasi dan Konservasi C. Kebutuhan Air pada Tanaman Cabai D. Efisiensi Penggunaan Air pada Tanaman Cabai di Lahan Kering VII. ANALISIS SWOT A. Kekuatan (Strength) B. Kelemahan (Weakness) C. Peluang (Opportunity) D. Ancaman (Threat) KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA 30