Skripsi pembelajaran Inquiry biologi

7,634 views
7,555 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,634
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
213
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi pembelajaran Inquiry biologi

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu sistem yang saling berkaitan. Sistem tersebut terdiri dari komponen-komponen antara lain : guru, siswa dan fasilitas belajar. Tanpa adanya komponen-komponen tersebut, proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik. Guru sebagai tenaga pengajar, berusaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan agar mudah diterima oleh siswa. Untuk itu guru memerlukan media sebagai sarana untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Keberhasilan seorang guru dapat diukur melalui nilai prestasi siswa yang semakin meningkat setelah proses pembelajaran. Rendahnya prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah cara mengajar guru dengan hanya menggunakan metode ceramah. Metode ceramah yang digunakan secara terus menerus tanpa menggunakan alat bantu mengajar seperti media pengajaran akan mengakibatkan siswa merasa bosan pada mata pelajaran yang bersangkutan. Hal itu dikarenakan kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran yang tidak sama dalam satu kelas. Informasi akan menarik jika guru menggunakan metode ceramah disertai dengan penggunaan media pengajaran. Berdasarkan informasi dari guru kelas IV SDN Langkap Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo, bahwa kemampuan siswa dalam topik bangun ruang pada Kompetensi Dasar 8.2 Menentukan Jaring-jaring balok dan kubus
  2. 2. 2 masih rendah sehingga terjadi kesalahan-kesalahan dalam mengerjakan soal- soal. Kesalahan yang dilakukan siswa dalam menjawab soal merupakan indikator kesulitan siswa, kemungkinan juga dari model atau metode pembelajaran yang digunakan guru kurang sesuai dengan tingkat berpikir siswa. Hasil observasi yang dilakukan pada guru kelas IV SDN Langkap, bahwa guru dalam menyajikan materi, guru masih menggunakan metode ceramah dan guru memegang kendali penuh, kurang adanya komunikasi antara guru dengan siswa sehingga siswa cenderung pasif. Untuk itu dalam penelitian ini digunakan media bongkar pasang kardus yang mana siswa dapat melihat obyek dari materi yang dipelajari sehingga tidak hanya sekedar membayangkan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mencoba mengangkat penelitian yang difokuskan pada media pengajaran dengan bongkar pasang kardus pada mata pelajaran matematika kelas IV semester genap tahun pelajaran 2010-2011 dalam upaya meningkatkan konsep jaring- jaring balok dan kubus.B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dimuka, maka penelitian ini berusaha untuk memecahkan permasalahan berikut: Apakah dengan penggunaan media bongkar pasang kardus dapat meningkatkan prestasi belajar siswa materi jaring-jaring balok dan kubus pada mata pelajaran matematika kelas IV semester genap tahun pelajaran 2010-2011?.
  3. 3. 3C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Adapun yang menjadi tujuan penelitian umum dalam penelitian ini adalah: a. Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. b. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan. c. Mengembangkan pendidikan dan lain-lain. 2. Tujuan Khusus Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatkan prestasi belajar siswa dengan penggunaan media pengajaran bongkar pasang kardus pada proses pembelajaran matematika kompetensi dasar menentukan jaring- jaring balok dan kubus pada kelas IV semester genap tahun pembelajaran 2010-2011 di SDN Langkap Besuki.D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas ini adalah : 1. Bagi peneliti a. Menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya masalah pendidikan. b. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama dibangku kuliah.
  4. 4. 42. Bagi Guru a. Guru dapat memperbaiki cara mengajar dengan memanfaatkan media pengajaran sederhana berupa bongkar pasang kardus. b. Sarana belajar guru untuk memahami tindakan pembelajaran yang paling tepat untuk diterapkan dikelasnya. c. Merangsang motivasi guru untuk lebih menekankan keberhasilan proses pembelajaran dari pada hanya sekedar nilai akhir belajar siswa tanpa disertai pencapaian kompetensi dasar yang seharusnya dikuasai.3. Bagi Siswa a. Siswa lebih tertarik pada materi pelajaran yang disampaikan guru. b. Langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan dapat mendorong penguasaan kompetensi belajar siswa meningkat. c. Prosentase keberhasilan belajar siswa meningkat.4. Bagi Institusi a. Program peningkatan kualitas kinerja guru. b. Program meningkatkan mutu pendidikan yang selaras dengan visi dan misi sekolah.5. Bagi Pendidikan secara umum a. Hasil dari penelitian dapat dijadikan acuan dalam memecahkan problema pendidikan.
  5. 5. 5 BAB II KAJIAN PUSTAKAA. PRESTASI BELAJAR 1. Pengertian Prestasi Muray dalam Beck (1990:290) mendefinisikan prestasi sebagai berikut: “To overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as well and as quickly as possible” “Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu: kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran. 2. Pengertian Belajar Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa
  6. 6. 6pendapat para ahli tentang definisi tentang belajar. Cronbach, HaroldSpears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) sebagai berikut :a. Cronbach memberikan definisi: “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. “Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman”.b. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. “Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan”.c. Geoch, mengatakan: “Learning is a change in performance as a result of practice”. “Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek”. Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itusenantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, denganserangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebihbaik kalau si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidakbersifat verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu sebenarnyamerupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya olehlingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan
  7. 7. 7oleh seorang idnividu dapat dijelaskan dengan rumus antara individu danlingkungan. Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2)dikemukakan bahwa learning (belajar) mengandung pengertian prosesperubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil daripengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2)yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untukmemperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi denganlingkungannya. Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim(2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan didalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalambentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatankecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan,daya pikir, dll. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitastingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitasdan kuantitas kemampuan seseorang dalam berbagai bidang. Dalam prosesbelajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitasdan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belummengalami proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalandi dalam proses belajar.
  8. 8. 8 Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.3. Pengertian Prestasi Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan
  9. 9. 9prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertianprestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertianbelajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yangberbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun daripendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan.Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikanpengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalamusaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajarmerupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Makaprestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorangsetelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut ArifGunarso (1993:77) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usahamaksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usahabelajar. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuranterhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif danpsikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur denganmenggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasibelajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yangdinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yangmenceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periodetertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta
  10. 10. 10didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelahmengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakaninstrumen tes yang relevan. Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenaldengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005:8-9)mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitumengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing padahakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasarpengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusunsecara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalammenguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatanpendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tesformatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruantinggi. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dijelaskan bahwaprestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalammenerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalamproses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkatkeberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakandalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalamiproses belajar mengajar.
  11. 11. 11 Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor- faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. a. Faktor Intern Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. 1) Kecerdasan/intelegensi Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia
  12. 12. 12 tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.” Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.” Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.” Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.2) Bakat Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai
  13. 13. 13 dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata actitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan- kesanggupan tertentu.” Kartono (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.” Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.3) Minat Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan
  14. 14. 14rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah“kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarikpada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalambidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwaminat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan danmengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang,diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.” Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minatadalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengankeinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.” Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besarpengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yangmenarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karenaminat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorangsiswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkandapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minatbelajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yangdapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorangmempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akanterus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannyadapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
  15. 15. 154) Motivasi Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.” Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.” Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar. Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian
  16. 16. 16 siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif.b. Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.” 1) Keadaan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.” http://en.wordpress.com/tag/artikel/ Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat
  17. 17. 17 seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.” Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga- lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.2) Keadaan Sekolah Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk
  18. 18. 18 belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya. Menurut Kartono (1995:6) mengemukakan “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar.3) Keadaan Masyarakat Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat: Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak- anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran maka anakpun dapat terpengaruh pula.
  19. 19. 19 Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.B. MATEMATIKA 1. Pengertian Matematika Sampai saai ini belum ada kesepakatan yang bulat di antara para matematikawan, apa yang disebut matematika itu. Sasaran penelaahan matematika tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Dengan mengetahui sasaran penelaahan matematika, kita dapat mengetahui hakekat matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berpikir matematika itu. Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan “Apakah matematika itu ?” tidak dapat dengan mudah dijawab dengan satu atau dua kalimat begitu saja. Karena itu kita harus hati-hati. Berbagai pendapat muncul tentang pengertian matematika tersebut, dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing-masing yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa matematika itu bahasa simbol; matematika adalah bahasa neumerik; matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional; matematika
  20. 20. 20adalah metode berpikir logis; matematika adalah sarana berpikir;matematika adalah logika pada masa dewasa; matematika adalah ratunyailmu dan sekaligus menjadi pelayannya; matematika adalah sainsmengenai kuantitas dan besaran; matematika adalah suatu sains yangbekerja menarik kesimpulan-kesimpulan yang perlu; matematika adalahsains formal yang murni; matematika adalah sains yang memanipulasisimbol; matematika adalah ilmu tentang bilangan dan ruang; matematikaadalah ilmu yang mempelajari hubungan pola, bentuk, struktur,matematika adalah ilmu yang abstrak dan deduktif, matematika adalahaktivitas manusia. Jadi berdasarkan etimologi (Elea Tinggih, 1972:5). Perkataanmatematika berarti “Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”.James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwamatematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan,besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnyadengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitualjabar, analisis, dan geometri. Sebagai contoh, adanya pendapat yangmengatakan bahwa matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusiayang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi menjadiempat wawasan yang luas yaitu aritmetika, aljabar, geometri, dan analisisdengan aritmetika mencakup teori bilangan dan satistika.(http://magfirahathar.blogspot.com/2009/11/pengertian-matematika.html)
  21. 21. 21 Kelompok matematikawan ini berpendapat bahwa matematikaadalah ilmu yang dikembangkan untuk matematika itu sendiri. Ilmu adalahuntuk ilmu, matematika itu adalah ilmu yang dikembangkan untukkepentingan sendiri. Ada atau tidak adanya kegunaan matematika,bukanlah urusannya. Menurut pendapatnya, matematika itu adalah ilmutentang struktur yang bersifat deduktif atau aksiomatik, akurat, abstrak,ketat, dan sebagainya. Johnson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwamatematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktianyang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yangdidefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengansimbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripadamengenai bunyi. (http://magfirahathar.blogspot.com/2009/11/pengertian-matematika.html) Reys, dkk (1984) dalam bukunya mengatakan bahwa matematikaitu adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir,suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. (http://magfirahathar.blogspot.com/2009/11/pengertian-matematika.html) Kemudian Kline (1973) dalam bukunya mengatakan pula, bahwamatematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurnakarena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untukmembantu manusia dalam memahami dan mengatasi permasalahan sosial,
  22. 22. 22 ekonomi dan alam. (http://magfirahathar.blogspot.com/2009/11/ pengertian-matematika.html) Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika. Untuk dapat mengetahui apa matematika itu sebenarnya, seseorang harus mempelajari sendiri ilmu matematika itu, yaitu dengan mempelajari, mengkaji, dan mengerjakannya. Termasuk pengkajian sejauh timbulnya matematika dan perkembangannya.2. Pembelajaran Matematika di Sekolah Menurut Erman Suherman (1993:134) matematika sekolah dimaksukan sebagai bagian matematika yang diberikan untuk dipelajari siswa sekolah (formal), yaitu siswa SD, SLTP, SLTA. Pada matematika sekolah, siswa mempelajari matematika yang sifat materinya masih elementer tetapi merupakan konsep esensial sebagai dasar untuk prasyarat konsep yang lebih tinggi, banyak aplikasinya dalam kehidupan di masyarakat, dan pada umumnya dalam mempelajari konsep-konsep tersebut bisa dipahami melalui pendekatan induktif. Sesuai dengan tujuan pendidikan matematika di sekolah, matematika sekolah berperan: a. Untuk mempersiapkan anak didik agar mampu menghadapi perubahan-perubahan keadaan di dalam kehidupan dunia yang senantiasa berubah, keadaan melalui latihan bertindak atas dasar
  23. 23. 23 pemikiran logis dan rasional, kritis dan cermat, obyektif, kreatif, efektif dan diperhitungkan secara analitissintetis.b. Untuk mempersiapkan anak didik agar menggunakan matematika secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan. Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan tercapaidalam belajar matematika mulai dari SD dan MI sampai SMA dan MAmencakup pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi sertapemecahan masalah. Adapun kriteria dari ketiga aspek tersebut adalah:a. Pemahaman Konsep 1) Menyatakan ulang suatu konsep. 2) Mengklarifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu. 3) Memberi contoh dan non-contoh dari konsep. 4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika. 5) Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep. 6) Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu. 7) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.b. Penalaran dan Komunikasi 1) Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar dan diagram. 2) Mengajukan dugaan.
  24. 24. 24 3) Melakukan manipulasi matematika. 4) Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi. 5) Menarik kesimpulan dari pernyataan. 6) Memeriksa kesahihan suatu argumen. 7) Menentukan pola atau sifat dari gejala matematika untuk membuat generalisasi. c. Pemecahan Masalah 1) Menunjukkan pemahaman masalah. 2) Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah. 3) Menyajikan masalah secara matematika dalam berbagai bentuk. 4) Memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat. 5) Mengembangkan strategi pemecahan masalah. 6) Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah. 7) Menyelesaikan masalah yang tidak rutin.C. MEDIA PENDIDIKAN 1. Pengertian Media Pendidikan Media dalam bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiyah berarti perantara atau pengantar (sadiman, dkk., 1996:6). Media adalah perantara /sarana /pengantar pesan/informasi. Menurut rohani (1997:3) media adalah segala sesuatu yang dapat diindra
  25. 25. 25yang berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk proses komunikasidalam kegiatan belajara mengajar. Pendidikan adalah usaha sadar danterencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untukmemiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan Negara (UU RI No. 20 Th 2003, Bab I, Pasal I). Dengan demikian media pendidikan dapat diartikan sebagai saranaatau alat komunikasi antara guru dan peserta didik melalui kegiatanbimbingan, pengajaran, dan atau latihan. Hal ini sesuai dengan pendapatRohani (1997:4) bahwa media pendidikan adalah sarana komunikasidalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupunperangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil intruksional secaraefektif dan efisien, serta instruksional tercapai dengan mudah. Menurut Hamalik (1994:12) media pendidikan adalah alat, metodedan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkankomunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses kegiatanbelajar mengajar disekolah. Media pendidikan identik dengan alat bantubelajar mengajar baik di dalam maupun diluar kelas tekanan utama terletakpada benda atau hal-hal yang bias dilihat atau di dengar sebagai alatkomunikasi antara guru dengan siswa. Media pendidikan merupakanseperangkat alat bantu pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik
  26. 26. 26 dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik (Dananm, 1995 :7). Berdasarkan pendapat di atas cirri-ciri umum dari media pendidikan adalah sebagai berikut : a. Penekanan media pendidikan terletak pada benda atau hal-hal yang dapat dilihat, didengar atau diraba oleh panca indra. b. Media pendidikan merupakan suatu perantara (media) yang digunakan dalam rangka pendidikan. c. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada peroses belajar mengajar baik di dalam maupun diluar kelas. d. Media pendidikan digunakan dalam rangka hubungan atau komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. e. Media pendidikan erat hubungannya dengan metode mengajar.2. Peranan Media Pendidikan Dalam suatu proses belajar mengajar, ada dua unsur yang amat penting yaitu metode menajar dan media pendidikan (Harjanto, 1996: 237). Kedua aspek ini sangat berkaitan dengan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi media yang akan digunakan meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media pendidikan dalam proses belajar mengajar. Seorang guru dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar harus memiliki gagasan sebagai titik awal dalam melaksanakan komunikasi dengan peserta didik (Rohani, 1997: 6). Hal ini dapat ditunjukkan melalui
  27. 27. 27media pendidikan. media pendidikan yang dimaksud dapat dikatakansebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi,lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Karena itu,disamping gagasan guru, perlu diperhatikan unsur-unsur yang dapatmenunjang proses komunikasi guru dengan peserta didik dalammenciptakan media pendidikan. Hal ini berarti bahwa agar proseskomunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien, perlu mengenaltentang beberapa peranan dan fungsi dari media pendidikan. Beberapa peranan media pendidikan dalam proses belajar mengajaradalah sebagai berikut :a) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat variabelistisb) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sifat pasif peserta didik sehingga menimbulkan gairah belajar.c) Apabila latar belakang lingkungan guru dengan siswa ataupun antar siswa berbeda maka media pendidikan dapat mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama. (Sadiman, dkk.,1996: 16) Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan diatas dapatdisimpulkan bahwa peranan media pendidikan adalah sebagai berikut : a) Mengatasi perbedaan pengalaman antara peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik. Misalnya peserta didik yang bertempat tinggal di daerah pegunungan yang belum pernah
  28. 28. 28 melihat lautan dapat digunakan media film, video kaset sehingga menimbulkan persepsi yang sama. b) Mengatasi keterbatasan daya indra. Misalnya benda yang akan diajarkan terlalu besar dapat dilihat melalui film, strip, gambar, slide, dan sebagainya. Untuk mengatasi benda yang secara lansung tidak dapat diamati karena terlalu kecil misalnya sel, bakteri, atom dapat menggunakan mikroskop, proyektor, dan lain-lain. c) Mengatasi keterbatasan waktu. Misalnya kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu dapat ditampilkan lagi dengan rekaman video atau foto. d) Keterbatasan ruang. Misalnya objek yang diajarkan terlalu komplek dapat disajikan dengan model gambar. e) Mengatasi peristiwa alam. Misalnya terjadi letusan gunungberapi, pertumbuhan atau perkembang biakan hewan maupun tumbuhan dapat menggunakan media gambar, film dan sebagainya. f) Membangkitkan minat belajar siswa yang baru dan meningkatkan motivasi kegiatan belajar peserta didik.3. Fungsi Media Pendidikan Menurut Encyclopedia Of Educational Research (dalam hamalik, 1994: 15) nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut : a) Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir oleh karena itu mengurangi verbalisme. b) Memperbesar perhatian siswa.
  29. 29. 29 c) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. d) Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menimbulkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa. e) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, hal ini terutama terdapat gambar hidup. f) Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemampuan berbahasa. g) Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta dapat membantu berkembangnya efisien yang lebih mendalam serta keragaman yang lebih banyak dalam belajar. Mcknow (dalam Nurani, 1947: 8) menyatakan bahwa ada delapanfungsi media pendidikan di dalam proses belajar mengajar, yaitu : a) Mengubah titik berat pendidikan formal, yaitu dari pendidikan yang menekankan pada instruksional akademis menjadi pendidikan yang mementingkan kebutuhan kehidupan peserta didik b) Membangkitkan motivasi belajar pada peserta didik. c) Media instruksional edukatif pada umumnya merupakan suatu yang baru bagi peserta didik, sehingga menarik perhatian peserta didik d) Media instruksional edukatif memberikan kebebasan kepada peserta didik lebih besar dibandingkan dengan cara tradisional
  30. 30. 30 e) Media instruksional edukatif lebih konkrit dan mudah dipahami f) Media instruksional edukatif mendorong peserta didik untuk ingin tahu lebih banyak g) Memberikan kejelasan (Clarification) h) Memberikan rangsangan (Simulation) Berdasarkan pendapat di atas fungsi media pendidikan adalah dapat mempertinggi proses kegiatan belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Walaupun fungsi media pendidikan cukup penting sebagai alat dan sumber pengajaran, tapi media pendidikan tersebut tidak bisa menggantikan guru sepenuhnya, artinya media pendidikan tanpa guru suatu hal yang mustahil dapat meninkatkan kualitas pengajaran. Peranan guru masih tetap diperlukan sekalipun media pendidikan tersebut telah mewakili atau merangkum semua bahan pengajaran yang diperlukan siswa.4. Klasifikasi Media Pendidikan Beberapa ahli mengklasifikasikan media pendidikan yang dikaitkan dengan teknologi pendidikan, pengalaman peserta didik, maupun kecanggihan media pendidikan tersebut. Namun penggunaan media pendidikan yang lebih penting pada fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pengajaran. Dalam menggunakan media pendidikan sebagai alat komunikasi khususnya dalam hubungannya dengan masalah proses belajar mengajar harus dikaitkan dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai.
  31. 31. 31 Menurut Harjanto (1996:237) ada beberapa jenis media pendidikan yang biasa digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain : a. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagian atau diagram, poster, kartun, komik, dan lain-lain. Media grafis sering disebut dengan media dua dimensi, yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. b. Media tiga dimensi biasanya dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model susun, model kerja, mock up, diorama, dan lain-lain. c. Media proyeksi seperti slide, film, penggunaan OHP, dan lain-lain. d. Penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan.5. Peranan Barang Bekas, Bahan, dan Peralatan Sederhana sebagai Media Pendidikan Dalam proses pembelajaran, sering kali terjadi hambatan- hambatan, baik yang datang dari pihak guru maupun siswa. Hambatan- hambatan tersebut secara langsung mempengaruhi suasana pembelajaran, salah satu hambatan yang sering kali muncul adalah ketika guru harus memvisualkan suatu konsep atau ide. Dalam hal ini guru membutuhkan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar karena pembahasan secara lisan tidak memuaskan siswa. Apabila sekolah tidak dapat menyediakan media tersebut, guru dapat berupaya membuatnya dari bahan-bahan sederhana.
  32. 32. 32 Guru selalu dituntut mengembangkan kreativitas agar materi bisaditerima dengan baik oleh siswa. Kreativitas guru bisa terlihat ketika iamencoba memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang bisa dijadikan suatumedia didalam mata pelajarannya. Keterbatasan yang sifatnya individual ini pada dasarnya sangatmanusiawi. Namun demikian hal tersebut jangan diartikan bahwa ia bolehmengurangi target sasaran pembelajaran. Dengan segala keterbatasan yangada merupakan tanggung jawab guru untuk tetap mengoptimalkanpencapaian tujuan pembelajaran. Berikut ini adalah rambu-rambu atau pedoman yang harusdiperhatikan ketika kita ingin mengembangkan media dari bahan-bahansederhana :a. Gunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan sekolah, tempat tinggal guru dan siswa, ataupun bahan- bahan yang bisa diperoleh di toko atau pasar terdekat. Jika harus membeli maka perhatikan harganya. Usahakan agar bahan yang digunakan terjangkau harganya oleh guru, sekolah maupun siswa.b. Penggunaan media yang dibuat guru hendaknya bisa meningkatkan perhatian dan pemahaman siswa melalui mendengarnya.c. Kembangkan bahan-bahan yang bisa membuat siswa berpikir kritis, mengundang siswa selalu ingin bertanya, ingin tahu, dan ingin mencari kebenaran.
  33. 33. 33 d. Gunakan bahan-bahan yang bisa merajuk kepada upaya mendorong kemampuan siswa untuk memahami dan mengingat secara tegas dan jelas materi pembelajaran yang disajikan. e. Buatlah media yang mampu memberikan kebersamaan bagi siswa dengan kondisi yang menyenangkan dalam mengikuti pelajaran. f. Tugaskan mereka mencatat atau menuliskan setiap hal yang ia dengar, amati selama guru memanfaatkan media sederhana ciptaannya.6. Tujuan Pembuatan Media Sederhana Berdasarkan kesadaran tentang pentingnya media sederhana yang terbuat dari bahan bekas yang terdapat di sekitar lingkungan guru dan siswa, kita dapat mencatat tiga tujuan pembuatan media sederhana yang terkait satu dengan lainnya : a. Membangun komunitas berbasis pendidikan kreatif b. Membangun berbagai alternatif media sederhana yang kreatif dan berkesinambungan sedemikian rupa sehingga mampu membantu anak- anak didik tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kritis, kreatif, mandiri (otonom) dan peduli terhadap orang lain dan lingkungannya. c. Mengembangkan jaringan kerja (network) para guru dan pendidik untuk menggalang kerja sama dalam upaya mengembangkan berbagai media alternative yang kreatif, sederhana dan murah sebagai gerakan guru mandiri yang peduli lingkungan sekitar sekolah dan masyarakat.
  34. 34. 347. Media Kardus Sebagai Media Sederhana Dalam Penerapan Jaring- jaring Balok dan Kubus Jaring-jaring suatu bangun ruang merupakan bidang-bidang datar pembentuk bangun suatu bangun ruang. Pemilihan media kardus dalam penerapan konsep jarring-jaring balok tersebut mudah diperoleh. Kardus bisa kita dapatkan dari bekas kemasan barang, dari yang berukuran kecil sampai besar. Pemilihan kardus hendaknya memperhatikan bentuk bangun ruang yang akan dijelaskan, seperti kardus dengan bentuk bangun balok untuk menerapkan konsep jarring-jaring balok. Sebaliknya kardus dengan bentuk bangun kubus.8. Materi Matematika Jaring-Jaring Balok dan Kubus a) Balok perhatikan bangun ruang balok di E D samping! 1) Bagian-bagian Balok (a) 6 bidang sisi, yaitu: (1) Sisi bawah ABCD (2) Sisi kanan BCGF (3) Sisi atas EFGH (4) Sisi depan ABFE
  35. 35. 35 (5) Sisi kiri ADHE (6) Sisi belakang DCGH (b) 8 titik sudut, yaitu: Titik sudut A, B, C, D, E, F, G, dan H (c) 12 rusuk, yaitu: Rusuk AB, BC, CD, DA, AE, BF, CG, DH, EF, FG, GH, dan HE 2) Jaring-jaring Balok E F H G Gambar disamping adalah H G salah satu model jaring-jaring D C A B E F balok. E F ABCD sebagai sisi alas balok HGFE sebagai sisi atas balok EFBA sebagai sisi depan balok DCGH sebagai sisi belakang balok BFGC sebagai sisi kanan balok EADH sebagai sisi kiri balok b. Kubus H GE F Perhatikan bangun ruang kubus disamping! D CA B
  36. 36. 361) Bagian-bagian Kubus Kubus terdiri dari: (b) 6 bidang sisi, yaitu: (1) Sisi bawah ABCD (2) Sisi kiri ADHE (3) Sisi kanan BCGF (4) Sisi depan ABFE (5) Sisi belakang DCGH (6) Sisi atas EFGH (c) 8 titik sudut, yaitu: Titik sudut A, B, C, D, E, F, G, dan H (d) 12 rusuk, yaitu: Rusuk AB, DC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan DH2) Jaring-jaring Kubus Gambar diatas adalah salah satu model jaring-jaring kubus. 1 sebagai sisi atas 2 sebagai sisi samping kiri 3 sebagai aiai bawah 4 sebagai sisi depan 5 sebagai sisi samping kanan 6 sebagai sisi belakang
  37. 37. 379. Hipotesis Tindakan Berdasarkan tinjauan pustaka di atas hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: diduga penerapan media bongkar pasang kardus pada mata pelajaran matematika kompetensi dasar 8.2 menentukan jarring-jaring balok dan kubus dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas IV semester genap SD Negeri 1 Langkap Besuki. Pemahaman siswa meningkat dikarenakan adanya minat belajar siswa dan kesukaan siswa terhadap pelajaran, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, dan perhatian siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.
  38. 38. 38 BAB III METODE PENELITIANA. Rancangan Penelitian Penelitian tidakan kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merefleksi. Menurut tim pelatih peroyek PGSM (1999:7), keempat fase dalam satu siklus sebuah PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK, seperti ditunjukkan pada gambar berikut : Gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hokins (tim pelatihan proyek PGSM, 1997 ;7)
  39. 39. 39 Setiap tahap dari kegiatan yang dilakukan dalam PTK akan terusberulang, sampai prestasi belajar siswa meningkat. Pada penelitian ini, penelitihanya membatasi pelaksanaan penelitian dengan dua siklus karenaketerbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti diantaranya: biaya, waktu dantenaga apabila sampai dua siklus hasil penelitian masih menunjukkan prestasibelajar siswa rendah, maka penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan olehpeneliti sendiri apabila ada kesempatan atau dilanjutkan oleh peneliti lain. Sesuai dengan gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins,penelitian ini terdiri dari 4 fase yaitu : perencanaan, tindakan, observasi, danrefleksi. Namun demikian sebelum peneliti melakukan tindakan terlebihdahulu melakukan observasi awal di sekolah. Observasi ini dilakukan denganmaksud agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan tindakan dalampenelitian. Hasil observasi awal akan kami laporkan pada bab IV . Adapun empat fase yang dilakukan dalam penelitian ini adalahsebagai berikut :1. Perencanaan Kegiatan yang akan dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut : a. Menetapkan dan memilih kompetensi dasar "menentukan jaring-jaring balok dan kubus" yang dijadikan bahan dalam pelaksanaan penelitian.
  40. 40. 40 b. Membuat skenario pembelajaran yang terdiri dari program perencanaan pembelajaran kompetensi dasar "menentukan jaring- jaring balok dan kubus. c. Membuat alat bantu mengajar berupa media pengajaran yaitu kardus berbentuk balok dan kubus. d. Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai sikap siswa pada saat peneliti mengaplikasikan metode mengajar dengan menggunakan alat bantu mengajar yang berupa media pengajaran bongkar pasang kardus. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum SD yang sedang berlaku. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ) digunakan pada tahap tindakan.2. Tindakan Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan tindakan pengajaran berdasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Tindakan tersebut difokuskan pada materi yang disampaikan guru dengan menggunakan media kardus.3. Observasi / pengamatan Observasi atau pengamatan dilakuan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai prestasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah :- Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
  41. 41. 41 - Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya. - Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya. - Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru. - Rasa senang dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap nilai tes atau tugas yang diberikan. 4. Refleksi Tahap refleksi dilakukan untuk mengkaji kembali hasil tindakan dan hasil observasi, yang kemudian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan kemudian. Dengan melakukan refleksi peneliti mengetahui kekurangan-kekurangan apa yang perlu diadakan tindakan perbaikan. Apabila hasil refleksi menunjukkan hasil yang sesuai dengan tujuan dari penelitian maka tindakan dihentikan. Dengan kata lain siklus tidak dilanjutkan. Kalau hasil refleksi tidak sesuai dengan tujuan dari penelitian maka penelitian ini akan dilanjutkan kesiklus selanjutnya.B. Subyek dan Lokasi Penelitian Penentuan tempat penelitian ini menggunakan metode purposive yaitu daerah penelitian ditentukan oleh peneliti dengan pertimbangan tertentu antara lain: peneliti sudah tahu kondisi fisik tempat penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam mencari data serta tempat penelitian mudah di jangkau oleh peneliti. Berdasrakan pertimbangan tersebut, maka yang menjadi tempat penelitian ini ditetapkan di SD negeri 1 Langkap Besuki yang beralamat di
  42. 42. 42 Jalan Gunung Kawi no.42. Desa Langkap Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. Penentuan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling didasarkan atas kondisi objektif dimana sebagian besar prestasi belajar siswa rendah pada mata pelajaran matematika. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 28 orang. Pada penelitian ini kami (peneliti) ingin memperbaiki dan berupaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada bidang studi matematika khususnya pada kompetensi dasar "8.2 menentukan jaring-jaring balok dan kubus." Pada dasarnya murid-murid yang menjadi subyek penelitian ini ketika guru memberikan penjelasan mereka tertib mengikuti pelajaran dengan baik. Dalam latihan-latihan soal mereka tampak menguasai pelajaran yang diberikan guru dengan memberikan jawaban yang memuaskan, tapi anehnya ketika mereka diberikan evaluasi akhir pelajaran sedikit dari jumlah murid yang ada bisa memberikan jawaban yang memuaskan.C. Teknik Pengumpulan Data Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  43. 43. 43 1. Teknik Dokumentasi Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang berasal dari bukti tertulis yang ada pada tempat penelitian. Data-data tersebut berupa antara lain denah SDN 1 Langkap besuki, jumlah siswa kelas IV dan nilai rapor siswa serta hasil ulangan harian siswa mata pelajaran matematika serta data-data lain yang menunjang penelitian. 2. Teknik Tes Tes merupakan suatu cara yang digunakan dalam rangka pengukuran penelitian, berbentuk pemberian tugas yang berupa pertanyaan yang dikerjakan oleh peserta didik sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi peserta didik (Arifin, 1991:69) Data hasil belajar siswa yang telah tercapai dapat diketahui dengan menggunakan teknik tes. Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah mempelajari materi yang diajarkan. Teknik tes yang digunakan adalah tertulis dalam bentuk pemberian tugas yang diberikan pada akhir pembelajaran. Isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan indikator yang ingin dicapai serta dikonsultasikan dengan guru kelas IV.D. Teknik Analis Data Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Data yang akan di analisis dalam penelitian ini adalah:
  44. 44. 441. Kegiatan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi.2. Hasil Dokumentasi, Dokumentasi nilai rapor dan hasil ulangan harian siswa sebagai prestasi awal sebelum dilakukan tindakan.3. Hasil tugas dan ulangan harian siswa. Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar, dalam hal ini adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotor menggunakan standar ketuntasan yaitu ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat presentase ketuntasan minimal mencapai 65%, sedangkan untuk tingkat klasikal mencapai 85% (depdikbud : 1994) Adapun untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar menggunakan rumus presentase ketuntasan hasil belajar, yaitu: a) Ketuntasan secara individu jum lahskor yangdiperoleh Rumus presentase ketuntasan : x100 jum lahskor aksim al m b) Ketuntasan secara klasikal jum lahskor yangtuntas Rumus presentase ketuntasan : x100 jum lahselu ruhsiswa Untuk mengetahui efektivitas hasil belajar metematika maka digunakan rumus sebagai berikut : Mx My ER : x100 My Keterangan :
  45. 45. 45ER : tingkat keefektifan relativeMx : nilai rata-rata kelas setelah dilakukan tindakanMy : nilai rata-rata kelas sebelum dilakukan tindakan. Hasil perhitungan tingkat keefektifan relative (ER) dapatdisimpulkan apakah pembelajaran dengan media bongkar pasang karduslebih efektif atau tidak (dalam%) dibandingkan dengan pengajaransebelumnya dimana Mx adalah nilai rata-rata kelas setelah dilakukantindakan dan My adalah nilai sebelum dilakukan tindakan dan ER adalahnilai efektifitasnya. Jika ER lebih besar dari 0% maka dapat dikatakanbahwa pembelajaran di kelas dengan media bongkar pasang kardus lebihefektif dibanding dengan pembelajaran sebelumnya (Masyhud, 2000:61).
  46. 46. 46 BAB IV HASIL PENELITIANA. Penyajian Data 1. Hasil Belajar Siswa Kelas IV pada Semester I yang Diambil dari Nilai Rapor dan Ulangan Harian Siswa. Hasil belajar siswa kelas IV pada semester I belum tuntas mengingat guru tidak menggunakan media konkret sebagai alat bantu dalam proses pembelajarannya. Adapun hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Kelas IV pada semester I. PRA PERBAIKAN Ketuntasan Nilai Jumlah Siswa Persentase (%) Belajar Klasikal < 65 17 60,71 % 65 – 100 11 39,28 % 39,28 % Jumlah 28 100 Dari tabel diatas dapat diketahui rata-rata hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran matematika di semester I, ketuntasan belajar siswa secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa dengan persentase 60,71% dan siswa yang mendapat
  47. 47. 47 nilai 65 – 100 hanya sebanyak 11 siswa dengan nilai persentase sebesar 39,28%.2. Hasil Belajar Siswa Kelas IV yang Dibimbing dengan Media Sederhana yaitu Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring-jaring Balok dan kubus. a. Siklus I 1) Perencanaan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 1 (RPP 1), Kompetensi Dasar “Menentukan jaring-jaring balok dan kubus” dan membuat alat bantu mengajar yang berupa media pengajaran yaitu kardus berbentuk balok dan kubus. 2) Tindakan Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media pengajaran kardus. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan alokasi waktu 2 x 35 menit. Kegiatan ini dilakukan selama 30 menit dan sisa waktu + 30 menit digunakan untuk mengerjakan soal. Pada siklus I ini murid-murid ditugaskan mencari sedikitnya dua bentuk jaring-jaring balok dan kubus dengan teknik memotong bagian-bagian bidang pembentuk kardus, dengan catatan tetap dalam satu rangkaian utuh (tidak terpisah- pisah). Peneliti melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
  48. 48. 483) Observasi Hasil penelitian tentang pembelajaran dengan media bongkar pasang kardus pada pelajaran matematika kompetensi dasar menentukan jaring-jaring balok dan kubus diperoleh hasil peningkatan ketuntasan belajar. Seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2: Hasil Belajar Siswa dengan menggunakan Media Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring-jaring Balok dan kubus. Jumlah Persentase Ketuntasan Belajar Nilai Siswa (%) Klasikal < 65 7 25 % 65 – 100 21 75 % 75 % Jumlah 28 100 Berdasarkan uji efektivitas pada aspek ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 4. Efektivitas Hasil Belajar Siswa dengan media Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring-jaring Balok dan kubus Siklus Hasil Persentase (%) Siklus I 14,43 %
  49. 49. 494) Refleksi Pada siklus I dapat dikatakan siswa sudah mulai memahami atau menguasai pelajaran. Namun ketuntasan belajar ini tidak sepenuhnya untuk ketuntasan secara individual, karena masih terdapat 7 siswa dari 28 siswa atau 25% belum mencapai ketuntasan secara individual. Kelemahan pada siklus I ini dikarenakan keterbatasan jumlah kardus untuk dibongkar dalam mencari jaring-jaring bangun ruang. Hal ini tentu dapat dimaklumi, karena satu kardus yang dibongkar untuk satu jaring-jaring bangun ruang padahal anak diminta mencari sedikitnya dua bentuk untuk satu bangun. Diketahui nilai efektivitas relative pembelajaran melalui penggunaan media bongkar-pasang kardus pada siklus I yaitu sebesar 14,43%. Hal ini berarti pembelajaran melalui media bongkar-pasang kardus lebih efektif sebesar 14,43% dari model pembelajaran tanpa penggunaan media tersebut (pembelajaran sebelumnya).5) Perbaikan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I maka perbaikan yang dilakukan adalah: a) Menambah jumlah kardus yang dibongkar.
  50. 50. 50 b) Siswa ditugaskan untuk mencari tiga macam bentuk jaring- jaring balok dan kubus dengan cara memotong setiap bagian sisi pembentuknya dengan terpisah-pisah. c) Siswa tidak hanya menggambar bentuk jaring-jaring balok dan kubus dibuku tugasnya, namun siswa juga harus menempelkan bentuk jaring-jaring hasil temuannya pada kertas manila yang telah disediakan.b. Siklus II 1) Perencanaan Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 2 (RPP 2), Kompetensi Dasar “Menentukan jaring-jaring balok dan kubus” dan membuat alat bantu mengajar yang berupa media pengajaran yaitu kardus berbentuk balok dan kubus. 2) Tindakan Peneliti tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media pengajaran kardus. Pada kegiatan siklus II ini anak-anak ditugaskan mencari tiga bentuk jaring-jaring pada masing-masing bangun balok dan kubus, namun pada siklus kedua ini anak-anak memotong tiap bagian sisi pembentuk balok dan kubus secara terpisah. Kemudian menggambar jaring-jaring hasil temuannya dibuku tugas dan ia harus menempelkan bentuk jaring- jaring tersebut pada lembar kertas untuk kemudian dipajangkan.
  51. 51. 51 Metode yang digunakan selama kegiatan belajar mengajar adalah metode ceramah dengan menggunakan media pengajaran kardus.3) Observasi Hasil penelitian tentang pembelajaran dengan media bongkar pasang kardus pada pelajaran matematika kompetensi dasar menentukan jaring-jaring balok dan kubus diperoleh hasil peningkatan ketuntasan belajar. Seperti terlihat pada tabel 5. Tabel 5: Hasil Belajar Siswa dengan menggunakan Media Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring-jaring Balok dan kubus. Jumlah Ketuntasan Belajar Nilai Persentase (%) Siswa Klasikal < 65 0 0% 65 – 100 28 100 % 100 % Jumlah 28 100 Dari tabel 5 dapat diketahui bahwa prosentase keberhasilan siswa meningkat 35,71% yaitu dari 39,28% ketuntasan belajar klasikal sebelum diadakan perbaikan menjadi 75% ketuntasan belajar klasikal pada siklus I, hal ini menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan siswa secara klasikal yang cukup
  52. 52. 52 signifikan. Peningkatan ini lebih disempurnakan lagi dengan siklus II menjadi 100% ketuntasan belajar klasikal.4) Refleksi Berdasarkan uji efektivitas pada aspek ketuntasan belajar klasikal diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 6. Efektivitas Hasil Belajar Siswa dengan media Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring-jaring Balok dan kubus Siklus Hasil Persentase (%) Siklus II 19,20 % Pada siklus II nilai efektifitasnya sebesar 19,20%. Nilai efektifitas hasil belajar matematika ini diperoleh dari rumus tingkat keefektifan relatif, yaitu: ER=Mx – My /My x 100 atau selisih antara mean atau rata-rata nilai sebelum tanpa menggunakan media bongkar-pasang kardus (pembelajaran sebelumnya). Hubungan hasil belajar siswa dengan ketuntasan belajar klasikal antara sebelum dilaksanakan perbaikan, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini:
  53. 53. 53 100 80 Sebelum Perbaikan 60 Siklus I 40 Siklus II 20 0 Ketuntasan Belajar KlasikalB. Pembahasan 1. Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika yang Dibimbing Tanpa Penggunaan Media di Semester I. Pengambilan data diawali dengan pengambilan nilai, diperoleh nilai rata-rata kelas IV pelajaran matematika sebesar 61,79 dan nilai ketuntasan hasil belajar sebesar 39,28%. Hal ini berarti rata-rata kelas IV tergolong rendah sehingga perlu diadakan tindakan untuk perbaikan proses belajar mengajar. Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan guru tidak menggunakan media pembelajaran sebagai sarana penghubung antara guru, konsep pembelajaran dan siswa. Materi pelajaran lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan siswa hanya sebagai obyek penerima materi. Dengan kondisi pembelajaran yang demikian penanaman konsep pelajaran
  54. 54. 54 yang diharapkan bersifat abstrak bagi anak didik. Disamping itu kurangnya minat untuk belajar.2. Hasil Belajar Siswa Kelas IV dengan penggunaan Media Bongkar Pasang Kardus pada Pelajaran Matematika Kompetensi Dasar Menentukan Jaring- jaring Balok dan kubus Penerapan konsep jaring-jaring balok dan kubus pada pelajaran matematika melalui media bongkar-pasang kardus diperoleh rata-rata hasil belajar yang meningkat antara siklus I, dan siklus II. Nilai hasil belajar yang diperoleh adalah hasil dari nilai ulangan harian dan nilai tugas. Bentuk soal yang diberikan pada ulangan harian adalah bentuk pemberian tugas (terlampir), bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai serta dikonsultasikan dengan guru wali kelas IV. Adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara dan daya imajinasinya sendiri. Melalui bongkar pasang kardus siswa dengan mudah dapat menemukan berbagai bentuk kombinasi jaring-jaring pembentuk bangun ruang kubus atau bangun ruang balok. Hal ini secara langsung pula anak dapat membuktikan bahwa kardus yang mereka bongkar adalah kesatuan dari jaring-jaring bangun ruang.
  55. 55. 55 Pada siklus I hasil belajar siswa mengalami peningkatan hasilbelajar yaitu 75% dan nilai rata-rata ulangan harian diperoleh 70,71. padasiklus I dapat dikatakan siswa sudah mulai memahami atau menguasaipelajaran. Namun ketuntasan belajar ini tidak sepenuhnya untukketuntasan secara individual, karena masih terdapat 7 siswa dari 28 siswaatau 25% belum mencapai ketuntasan secara individual.kelemahan padasiklus I ini dikarenakan keterbatasan jumlah kardus untuk dibongkardalam mencari jaring-jaring bangun ruang. Hal ini tentu dapat dimaklumi,karena satu kardus yang dibongkar untuk satu jaring-jaring bangun ruangpadahal anak diminta mencari sedikitnya dua bentuk untuk satu bangun. Pada siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan darisiklus I, hal ini tampak pada perolehan rata-rata hasil belajar siswa sebesar70,71 dengan ketuntasan klasikal 100%. Kelemahan pada siklus I dapatdijadikan pelajaran untuk melangkah dan menentukan kegiatan siklus II.
  56. 56. 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARANA. KESIMPULAN Hasil penelitian tentang pemanfaatan media bongkar-pasang kardus terhadap hasil belajar matematika kompetensi dasar menentukan jaring-jaring balok dan kubus di SD Negeri Langkap Tahun Pembelajaran 2010/2011 dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan prestasi belajar matematika siswa melalui penerapan media bongkar-pasang kardus materi jaring-jaring balok dan kubus di kelas IV SD Negeri Langkap Situbondo.B. SARAN Berdasarkan kesimpulan tersebut, hal yang perlu dilakukan guru untuk meningkatkan penguasaan terhadap materi pelajaran dan peningkatan kualitas proses pembelajaran khususnya meningkatkan keaktifan siswa diantaranya adalah: 1. Penggunaan media belajar/alat peraga/model/gambar dan sebagainya untuk meningkatkan motivasi dan perhatian siswa terhadap pelajaran. 2. Mencari alternatif lain dalam menyelesaikan soal yang lebih mudah dan lebih cepat sehingga siswa tidak kesulitan dan mudah mengerjakan soal. 3. Peningkatan berbagai jenis motivasi/pendekatan persuasive edukatif dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Disamping hal tersebut diatas, berdasarkan pengalaman guru dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran di kelas melalui Penelitian Tindakan
  57. 57. 57Kelas kiranya perlu diadakan suatu kelompok kerja antara guru dan temansejawat untuk selalu bertukar pikiran dan pengalaman berkenaan denganmasalah siswa dan tugas dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari.
  58. 58. 58 DAFTAR PUSAKACoany R. Semiawan (1999). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: proyek PGSD Depdikbud.Denim, S. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.Denny Setiawan, dkk (2006). Computer dan Media Pembelajaran. Jakarta: PB. Universitas Terbuka Dinas Pendidikan Nasional.Djamarah, S. B dan Aswin Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.Hamalik, O. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.Haryanto. 1996. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.http://en.wordpress.com/tag/artikel/. Prestasi Belajar. Diakses pada tanggal 18 Januari 2011.http://magfirahathar.blogspot.com/2009/11/pengertian-matematika.html. Pengertian Matematika. Diakses pada tanggal 18 Januari 2011Idarufaidah, 2010. Pengenalan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Tersedia pada http://blog.math.uny.ac.id/idarufaidah/. Diakses pada tanggal 18 Januari 2011.Muchtar A. Karim, Abdul Rahman As’ari, Gatot Muhsetyo, dan Akbar Sutawidjaja (1997). Pendidikan Matematika I. Jakarta: Proyek PGSD Depdikbud.

×