Pp maternitas post partus

2,590 views
2,437 views

Published on

Published in: Technology, Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,590
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
124
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pp maternitas post partus

  1. 4. <ul><li>Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. </li></ul><ul><li>Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu. </li></ul><ul><li>Remote Puerperium adalah waktu yang diuperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna membutuhkan waktu berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan. (Rustam Muchtar, 1998) </li></ul>
  2. 6. <ul><li>Bayi lahir : Tinggi fundus uteri setinggi pusat </li></ul><ul><li>Plasenta lahir : 2 jari bawah pusat </li></ul><ul><li>1 minggu : pertengahan pusat simfisis </li></ul><ul><li>2 minggu : Tidak teraba di atas simfisis </li></ul><ul><li>6 minggu : Bertambah kecil </li></ul><ul><li>8 minggu : Sebesar normal </li></ul>
  3. 9. Setelah plasenta dilahirkan penurunan produksi hormone dan organ tersebut terjadi dengan cepat. Hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang tadinya dihambat oleh estrogen dan progesteron yang tinggi di dalam darah kini dilepaskan. Prolaktin akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI.
  4. 10. Selama proses persalinan, kandung kemih mengalami trauma yang dapat mengakibatkan odema dan menurunnya sensitifitas terhadap tekanan cairan, perubahan ini menyebabkan, tekanan yang berlebihan dan kekosongan kandung kemih yang tidak tuntas, hal ini bisa mengakibatkan terjadinya infeksi. Biasanya ibu mengalami kesulitan BAK sampai 2 hari post partum.
  5. 11. <ul><ul><ul><li>Menjaga kesehatan ibu, bayinya baik fisik maupun psikologik </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mencegah terjadinya infeksi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, pemberian imunisasi kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Untuk mempercepat pemulihan kembali alat-alat kandungan seperti pada keadaan sebelum hamil </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Untuk memperbanyak produksi ASI </li></ul></ul></ul>
  6. 12. <ul><li>Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. </li></ul>
  7. 13. <ul><li>SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) </li></ul><ul><li>Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. </li></ul><ul><li>SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) </li></ul><ul><li>Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm </li></ul>
  8. 14. <ul><li>Fetal distress - His lemah / melemah </li></ul><ul><li>Janin posisi melintang - Bayi besar (BBL  4,2 kg) </li></ul><ul><li>Plasenta previa - Kalainan letak </li></ul><ul><li>Disproporsi cevalo-pelvik </li></ul><ul><li>Rupture uteri mengancam - Hydrocephalus </li></ul><ul><li>Primi muda atau tua - Partus dengan komplikasi </li></ul><ul><li>Panggul sempit - Problema plasenta </li></ul>
  9. 15. <ul><li>Infeksi puerperal ( Nifas ) </li></ul><ul><li>Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari </li></ul><ul><li>Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung </li></ul><ul><li>Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik </li></ul><ul><li>Perdarahan </li></ul><ul><li>Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka </li></ul><ul><li>Perdarahan pada plasenta bed </li></ul><ul><li>Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi </li></ul><ul><li>Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya </li></ul><ul><li>  </li></ul>
  10. 17. <ul><li>FASE TAKING IN (Fase mengambil) </li></ul><ul><li>Dapat terjadi pada hari 1-2 post pertum </li></ul><ul><li>Ibu sangat bergantung pada orang lain </li></ul><ul><li>adanya tuntutan akan kebutuhan makan dan tidur </li></ul><ul><li>Mengenang saat melahirkan </li></ul>
  11. 18. <ul><li>FASE TAKING HOLD </li></ul><ul><li>Terjadi pada hari 3-10 post pertum </li></ul><ul><li>Secara bertahap tenaga ibu mulai meningkat dan terasa nyaman </li></ul><ul><li>Ibu sudah mulai mandiri namun masih memerlukan bantuan </li></ul><ul><li>Mulai memperlihatkan perawatan diri dan keinginan untuk belajar merawat bayinya </li></ul>
  12. 19. <ul><li>FASE LETTING GO </li></ul><ul><li>Terjadi setelah 10 hari post pertum </li></ul><ul><li>Ibu mampu merawat diri sendiri </li></ul><ul><li>Ibu sibuk dengan tanggung jawabnya </li></ul>
  13. 20. <ul><li>IDENTITAS KLIEN </li></ul><ul><li>Ny. N , 29 tahun, dengan G3P2A0 hamil 37 minggu. Dengan bayi letak melintang </li></ul>
  14. 21. Anak ke Kehamilan Persalinan Kmpks Anak Umur kehamilan Pen sulit Jenis Penolong Penyulit Jenis BB PB KU Skr 1 + 9 bulan - Spontan Bidan - - ♂ 4,1 51 Baik 2 + 9 bulan - Spontan Bidan - - ♀ 2,6 45 Baik
  15. 22. Data Subjektif Data Objektif <ul><ul><ul><li>Klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>klien mengatakan nyeri bila bergerak/beraktivitas </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Klien mengatakan trauma dengan kejadian operasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Klien takut terjadi apa 2 apa pada luka dalam perutnya </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Klien mengatakan takut untuk hamil lagi karena takut di operasi lagi </li></ul></ul></ul><ul><li>Ekspresi wajah klien tampak meringis </li></ul><ul><li>Pada area abdomen terdapat luka bekas operasi </li></ul><ul><li>tampak ada verband pada daerah bekas operasi </li></ul><ul><li>wajah klien nampak cemas ketika di singgung tentang masalah operasinya </li></ul><ul><li>Klien tampak lebih sering berbaring dan jarang melakukan aktivitas </li></ul><ul><li>Pos-Op Hari II </li></ul><ul><li>TTV : </li></ul><ul><li>TD : 110/80 mmHg </li></ul><ul><li>N : 89 x/i </li></ul><ul><li>S : 22 x/i </li></ul><ul><li>P : 36 o C </li></ul>
  16. 23. NO. DATA ETIOLOGI MASALAH 1. <ul><li>DS : </li></ul><ul><li>Klien mengatakan nyeri pada daerah abdomen </li></ul><ul><li>Klien mengatakan nyeri bila bergerak/beraktivitas </li></ul><ul><li>DO : </li></ul><ul><li>Ekspresi wajah klien nampak meringis </li></ul><ul><li>Pada daerah abdomen terdapat luka bekas operasi </li></ul><ul><li>Tampak ada verband pada daerah bekas operasi </li></ul><ul><li>TTV </li></ul><ul><li>TD : 110/80 mmHg </li></ul><ul><li>N : 89 x/i </li></ul><ul><li>S : 22 x/i </li></ul><ul><li>P : 36 o C </li></ul>Tindakan operasi Sectio Caesaria ↓ Terputusnya kontinuitas jaringan ↓ Merangsang serabut saraf efferent mengeluarkan mediator kimia (histamin, bradikinin, prostaglandin) ↓ Nociceptor ↓ Kortex serebri ↓ Nyeri dipersepsikan ↓ Nyeri Nyeri NO. DATA ETIOLOGI MASALAH
  17. 24. NO. DATA ETIOLOGI MASALAH 2 <ul><li>DS : </li></ul><ul><li>Klien mengatakan trauma dengan pembedahan </li></ul><ul><li>Klien mengatakan takut terjadi apa – apa pada luka di dalam perutnya </li></ul><ul><li>DO : </li></ul><ul><li>Wajah klien Nampak cemas dan berusaha mengalihkan perhatian ketika di Tanya masalah operasi. </li></ul><ul><li>Klien Nampak antusias bertanya tentang perkembangan kondisinya </li></ul>Tindakan operasi dan kurangnya informasi ↓ Mengganggu psikologis klien ↓ Cemas Ansietas
  18. 25. NO. DATA ETIOLOGI MASALAH 3 <ul><li>DS : - </li></ul><ul><li>DO : </li></ul><ul><li>Pada area abdomenterdapat luka bekas operasi </li></ul><ul><li>Tampak ada verband pada abdomen (daerah Post-Op). </li></ul><ul><li>Klien tampak sering berbaring dan jarang beraktivitas </li></ul><ul><li>Post-Op Hari II </li></ul><ul><li>TTV </li></ul><ul><li>TD : 110/80 mmHg </li></ul><ul><li>N : 89 x/i </li></ul><ul><li>S : 22 x/i </li></ul><ul><li>P : 36 o C </li></ul>Post-Op Sectio Caesaria ↓ Luka pada daerah abdomen ↓ Port de entry mikroorganisme ↓ Invasi mikroorganisme ke dalam tubuh/ jaringan ↓ Mikroorganisme berkembang dalam jaringan ↓ Risiko infeksi Risiko infeksi
  19. 26. 1. Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan akibat Sectio Caesaria 2. Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat diperkirakan 3. Resiko terjadinya infeksi b/d adanya luka post-operasi Sectio Caesaria
  20. 27. <ul><li>Masalah “ nyeri “ </li></ul><ul><li>Melakukan pengkajian nyeri </li></ul><ul><li>Melakukan Management nyeri </li></ul><ul><li>Monitoring luka insisi operasi </li></ul><ul><li>Ajarkan mobilisasi bertahap </li></ul>
  21. 28. <ul><li>Masalahan “ ansietas “ </li></ul><ul><ul><ul><li>Lakukan pendekatan diri pada pasien supaya pasien merasa nyaman </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Berikan penkes tentang operasi dan permasalahannya </li></ul></ul></ul><ul><li>3. Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi </li></ul>
  22. 29. <ul><li>Masalah “ resiko infeksi luka op “ </li></ul><ul><li>Pantau tanda-tanda vital, terutama pada peningkatan suhu </li></ul><ul><li>Kaji adanya tanda-tanda infeksi </li></ul><ul><li>Lakukan mobilisasi pada klien secara bertahap </li></ul><ul><li>Anjurkan kepada klien untuk menjaga personal hygiene (kebersihan badan) </li></ul><ul><li>Penatalaksanaan pemberian obat </li></ul>
  23. 30. <ul><li>12 mei 2011 </li></ul><ul><li>Masalah nyeri : belum teratasi </li></ul><ul><li>Masalah ansietas : teratasi sebagian </li></ul><ul><li>Masalah infeksi : tidak terjadi </li></ul><ul><li>13 mei 2011 </li></ul><ul><li>Masalah teratasi dan membuat discharge planning karena pasien sudah di ijinkan pulang oleh dokter </li></ul>

×