Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku

on

  • 472 views

sebuah dokumen dummy yang berisikan mengenai profil dan karakteristik dari 18 pulau terluar di provinsi Maluku, ...

sebuah dokumen dummy yang berisikan mengenai profil dan karakteristik dari 18 pulau terluar di provinsi Maluku,
meliputi Pulau Asutubun, Pulau Batarkusu, Pulau Larat dan Pulau Selaru di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pulau Wetar, Pulau Kisar, Pulau Meaitimirang, Pulau Liran, di Kabupaten Maluku Barat Daya. Serta Pulau Batu Goyang, Pulau Enu dan Pulau Enu Karang untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru

Statistics

Views

Total Views
472
Slideshare-icon Views on SlideShare
472
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
13
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku Profil Pulau-Pulau Terluar Provinsi Maluku Document Transcript

    •  ARARKULA Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Ararkula yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 097 dan titik referensi no (TR) 097. Masyarakat setempat menyebut pulau ini dengan nama P. Wanang, sedangkan Ararkula merupakan gosong pasir yang muncul pada saat air surut dan merupakan tempat penambangan pasir bagi masyarakat desa di sekitarnya. Pulau Ararkula termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Tengah, petuanan Desa Selmona, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Secara Geografs Pulau Ararkula terletak antara 05o 35’ 42” LS – 134o 49’ 05” BT. Perhitungan menggunakan data lapang, hasil analisis peta dan data citra satelit, total luas dataran Pulau Ararkula adalah 0,1186 km2 dengan keliling pulau 1,271 km. Untuk mencapai P. Ararkula, perjalanan dimulai dari ibukota Kabupaten Kepulauan Aru (Dobo) menuju Desa Selmona. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan Desa Selmona dengan Dobo, sehingga harus menyewa speed boat. Untuk mencapai Desa Selmona dibutuhkan waktu antara 4 jam hingga 5 jam. Dari Desa Salmona, perjalanan dilanjutkan menuju P. Ararkula, dengan waktu sekitar 5 hingga 6 jam, melewati selat (masyarakat di sana menyebut-nya sungai) antara P. Wokam dan P. Kola. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 1
    •  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Masyarakat yang mengakses Pulau Ararkula berasal dari 3 desa masing-masing Selmona, Berdefan dan Kompane. Selmona memiliki jumlah penduduk sebanyak 403 jiwa, laki-laki berjumlah 198 jiwa dan perempuan 205 jiwa; desa Berdefan ber-penduduk 219 jiwa, laki-laki sebanyak 121 jiwa dan perempuan 98 jiwa; dan desa Kompane berpenduduk 338 jiwa, laki-laki sebanyak 157 jiwa dan perempuan 181 jiwa. Berdasakan kelompok umur, penduduk usia produktif di Selmona sebesar 63,52 %, di Berdefan 49,77 % dan di Kompane 63,02 %. Distribusi penduduk usia produktif ini seharusnya menjadi kekuatan bagi tiap desa untuk mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Distribusi kepala keluarga di kedua desa ini masing-masing, di Selmona sebanyak 79 KK, kepala keluarga laki-laki 74 orang dan kepala keluarga perempuan 5 orang; di Berdefan jumlah kepala keluarga 69 KK, laki-laki 63 orang dan perempuan 6 orang; serta di Kompane jumlah kelapa keluarga 74 KK, laki-laki 55 orang dan perempuan 19 orang. Berdasarkan distribusi tingkat kesejahteraan keluarga menurut kriteria BKKBN, Selmona hanya memiliki keluarga sejahtera sebesar 2,53 %, Berdefan 2,90 % dan Kompane sebesar 4,05 %. Hal ini berarti masyarakat yang mengakses Pulau Ararkula masih memiliki kelompok masyarakat di bawah garis kemiskinan lebih dari 95 %. Kondisi ini tidak seharusnya terjadi apabila masyarakat dapat meningkatan akses mereka dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki. Dengan demikian sangat diharapkan adanya upaya pengembangan kapasitas masyarakat dalam kegiatan produksi dan akses terhadap distribusi hasil produksinya. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Keanekaragaman flora dan fauna di lingkungan ekosistem daratan Pulau Ararkula relatif kecil atau terbatas. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ditemukannya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogen tumbuhan dan satwa. Jenis tumbuhan yang teridentifikasi kebanyakan merupakan vegetasi budidaya seperti kela-pa, pisang, bambu serta beberapa jenis tumbuhan kayu seperti ketapang, pandanus. Tumbuhan yang terkait dengan usaha pertanian seperti beberapa jenis sayuran. Keberadaan flora di pulau ini karena aktivitas masyarakat sekitar yang mempunyai akses ke pulau ini sering memanfaatkan pulau ini sebagai lahan pertanian maupun perkebunan. Jenis fauna yang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 2
    •  ditemukan pada P. Ararkula diantaranya burung (elang dan burung dara), ular, kadal dan tikus. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Terumbu Karang Berdasarkan data hasil citra satelit diperoleh informasi dimensi terumbu karang P. Ararkula yaitu panjang terumbu karangnya mencapai 9,78 km dengan lebar terumbu yang relatif kecil yaitu antara 0,19 km. Pada batas sekitar areal surut rendah terdapat sejumlah batuan berupa limestone dan karang mati yang ditempati oleh organisme laut seperti alga dan biota bentik lain. Karang ditemukan tumbuh sepanjang areal-areal kanal yang dangkal setelah batas surut rendah dan sebaran karang batu hanya dite-mukan mencapai kedalaman sekitar 3 meter. Akibat pengaruh pasang surut dan gelombang laut yang menyebabkan kekeruhan secara periodik sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan karang serta perkembangan terumbu karang. Karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu relatif lebih tinggi dari komponen biota laut lainnya. Selain itu, karang batu kategori Non-Acropora memiliki persen tutupan dasar lebih tinggi dari karang batu dari kategori Acropora. Secara rinci, data tentang komponen abiotik menunjukan persen tutupan dasar areal terumbu oleh pasir sangat besar dibanding karang mati ditutupi alga maupun patahan karang mati. Nilai persen tutupan karang Acropora dan Non-Acropora berpolip kecil rendah, demikian juga variasi bentuk tumbuh karang batu pada areal terumbu P. Ararkula juga rendah. Hal ini berkaitan erat dengan faktor kekeruhan air yang menghambat kehadiran dan pertumbuhannya. Karang batu dari kategori Non-Acropora memiliki jumlah jenis lebih banyak dibanding karang batu kategori Acropora. Karang masif memiliki jumlah jenis lebih menonjol dibanding 8 bentuk tumbuh koloni karang batu kategori Non-Acropora yang lain. Sementara untuk dua bentuk tumbuh koloni karang batu dari kategori Acropora yang ditemukan, ternyata jum-lah jenisnya sangat rendah yaitu masing-masing hanya diwakili oleh satu spesies karang. Nilai kisaran diameter koloni karang pada areal terumbu P. Ararkula adalah 4,2 – 62,8 cm, dengan diameter koloni rata-rata mencapai 38,6 cm. Akibat diameter koloni MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 3
    •  karang batu rata-rata yang kecil, maka seharusnya kepadatan koloni karang menjadi tinggi. Akan tetapi melalui hasil analisis diperoleh kepadatan koloni karang hanya mencapai 3,4 koloni per m2. Kondisi ini disebabkan oleh kehadiran dan per-tumbuhan karang yang jarang di dasar terumbu yang didominasi komponen substrat lunak (berpasir). Dua jenis karang yang memiliki diameter koloni rata-rata tergolong menonjol pada areal terumbu P. Ararkula ini adalah Platygyra sp. dan Porites lutea yang mempu hidup dan ber-kembang pada kondisi perairan yang relatif keruh. Berkaitan dengan susunan geologis pesisir pulau yang berada dalam fase atau proses perkembangan dengan batuan dan pasir seperti terlihat pada Gambar 3, menyebabkan kondisi perairan sekitar mengalami kekeruhan yang tinggi, akibat sedimentasi yang terjadi disaat perpindahan massa air pada periode pasang dan surut maupun akibat gelombang. Lamun Di perairan pulau ini terdapat 7 jenis lamun. Dari ke tujuh jenis lamun yang ada, spesies Cymodocea rotundata memiliki kehadiran tertinggi dan kehadiran terendah diwakili oleh spesies Enhallus acoroides. Kerapatan lamun di P. Ararkula, sebesar 49.33 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymodocea rotundata sebesar 30.00 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 21.66%; sedangkan kerapatan terendah diwa-kili oleh jenis Enhallus acroides yaitu 0.43 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 24.38%. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Ararkula mencapai 51 spesies yang tergolong dalam 33 genera dan 24 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Ararkula yang tidak luas diban-ding areal terumbu lainnya seperti P. Kultubai Selatan, serta kondisi terumbu ka-rangnya yang buruk karena penyebarannya yang menyerupai patch reef dan jarak antar kumpulan koloni karang yang sangat jauh. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Arar-kula adalah Pomacentridae (6 jenis) dan Lutjanidae (5 jenis). Sebanyak 22 famili lain-nya memiliki jumlah spesies < 5, 10 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Centropomidae, Atherinidae, Sphyraenidae, Dasyatidae, Pomacanthidae, Cirrhitidae, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 4
    •  Gobiidae, Mullidae, Nemipteridae dan Syngnathidae. Ikan karang dari genus Lutjanus dan Chaetodon memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini yakni masingmasing memiliki 5 dan 4 spesies, sedangkan sebanyak 31 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, 20 genera diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Rendahnya kekayaan jenis ikan karang famili Chatodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Ararkula relatif kurang baik. Kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Ararkula relatif lebih rendah dari kategori Target Species dan jauh lebih tinggi dibanding Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, kekayaan jenis ikan kon-sumsi jauh lebih tinggi dibanding ikan hias. Kelimpahan stok (stock abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Ararkula, juga tergolong relatif tinggi. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Ararkula sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Ararkula yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Zebrasoma scopas. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Ctenochaetus strigosus yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Perikanan Tangkap Perairan di sekitar kawasan P. Ararkula merupakan daerah penangkapan yang baik bagi nelayan untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan. Perairan ini diakses oleh MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 5
    •  nelayan yang bermukim di sekitarnya dengan menggunakan peralatan tangkap tradisional, hingga nelayan dari luar kawasan bahkan dari luar negeri dengan menggu-nakan peralatan tangkap yang modern. Pada waktu-waktu tertentu, terutama di musim Barat, kapal-kapal penangkapan udang dan ikan dengan menggunakan pukat udang (shrimp trawl) dan pukat ikan (fish net), terlihat beroperasi di perairan sebelah timur P. Ararkula. Aktifitas penangkapan yang dilakukan oleh nelayan-nelayan ini masih banyak yang tidak resmi dan belum mendapat ijin dari pemerintah Indonesia, terutama oleh kapal-kapal penangkapan ikan dan udang yang berasal dari negara lain. Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan setempat, sebagian juga masih menggunakan bom ikan (explosive fishing). Masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di P. Ararkula, terutama berasal dari Desa Selmona karena mereka meyakininya sebagai hak adat (ulayat) mereka. Nelayan yang berasal dari Desa Selmona membangun rumah secara tradisional di P. Ararkula dan mendiaminya selama musim barat karena kondisi perairan baik untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan. Walaupun demikian, nelayan-nelayan lainnya dari desa sekitar juga turut melakukan aktifitas penangkapan ikan di kawasan P. Ararkula, yakni dari Desa/dusun Mesidang, Mohongsel, Kolamar, Kompane, Leiting dan Monal. Musim Timur yakni pada bulan Mei sampai Agustus, kondisi perairan di kawasan P. Ararkula berombak sehingga tidak memungkinkan nelayan atau masyarakat lainnya dapat melaut. Hal ini disebabkan karena mereka masih menggunakan kapal/perahu yang tradisonal. Namun, selama Musim Barat dan Musim Pancaroba yang berlangsung 8 (delapan) bulan, merupakan waktu yang baik bagi mereka untuk melakukan aktifitas penangkapan di perairan sekitar pulau ini. Alat penangkapan ikan yang digunakan oleh masyarakat yang menangkap ikan di kawasan P. Ararkula masih tergolong tradisional yakni berupa Gancu/tombak (spear gun) pada saat air surut atau lazimnya disebut dengan istilah lokal “bameti“, panah (arrow), pancing tangan (hand line), bubu (trap net) dan jaring insang hanyut (drift gill net). Sumberdaya Makro Bentos Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Ararkula dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekinodermata (teripang). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 6
    •  Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Topografi pulau Ararkula relatif sama dengan pulau-pulau kecil lainnya yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Aru yaitu datar. Pulaunya terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan pantai berbatu dengan tebing terjal (cliff). Pantai berpasir memiliki lebar bervariasi dari 25 – 41 m dan letaknya pada bagian Utara pulau. Pantai tebing terjal terdapat pada hampir seluruh bagian pulau. Secara geomorfologis Pulau Ararkula mengalami proses abrasi intensif di sepanjang pantai yang disebabkan oleh gempuran gelombang musim. Pulau ini memiliki rataan pasang surut yang sangat lebar dan luas. Luas total rataan pasang surut Pulau Ararkula berdasarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 15,49 km², dengan rataan pasang surut berpasir 3,38 km². Pada bagian Selatan maupun Utara Ararkula terjadi proses akumulasi pasir koral pada daerah dangkalan membentuk gosong pasir (sand bar). Akumulasi pasir koral sangat intensif dan berpotensi menjadi pulau baru. Namun intensifnya aktivitas pengambilan pasir di gosong pasir tersebut oleh sekelompok orang, diduga akan memperlambat proses pembentukan pulau. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut bervariasi. Zona pantai kering terdapat di bagian barat, selatan dan utara P. Ararkula merupakan pantai berbatu gamping dengan tebing terjal. Zona pantai kering dengan substrat pasir relatif sempit di bagian timur pulau, tergolong pantai transisional yang selalu mengalami dinamika lebar pasir sepanjang musim. Pada umumnya zona pasut P. Ararkula didominasi oleh substrat lunak yang tersusun dari komponen pasir kasar hingga pasir halus yang ditumbuhi vegetasi lamun. Sementara pada bagian lainnya memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen batuan koral dan hancuran karang yang ditumbuhi oleh algae. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Ararkula sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) yakni tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 7
    •  hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian Selatan serta bagian Utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan September-Nopember. Pasang surut (Pasut) di P. Ararkula terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Ararkula didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepat-an arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut cukup lemah dan berkisar dari 5,5 – 15,4 cm/detik saat pasang maupun surut. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi Timur dan Barat pulau dengan kisaran 10,0 – 62 cm/detik yang mengarah ke Selatan. Gelombang di seluruh wilayah pesisir dan laut P. Ararkula merupakan tipe gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang umumnya bervariasi sesuai musim. Terdapat 2 tipe gelombang pecah di pantai P. Ararkula yaitu “spilling” dan “plunging” dengan dominasi “plunging”. Energi gelombang “plunging” sangat berperan terhadap pembentukan morfologi tebing terjal pan-tai di sisi Timur dan Barat P. Ararkula. Proses abrasi oleh gelombang dan arus me-nyebabkan beberapa Bagian pantai tebing di bagian timur terpisah dari pulau induknya membentuk steak. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang musim Timur sangat dominan pengaruhnya terhadap P. Ararkula. Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Ararkula pada bulan Desember 2005 berkisar antara 28,2 – 28,7 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai pertengah-an perairan P. Ararkula pada bulan yang sama sebesar 35 ppt. Kecerahan air di sekitar P. Ararkula memiliki tingkat kecerahan tinggi > 6 meter, dan tipe perairan adalah perairan dangkal dengan kedalaman maksimum 9 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Ararkula sebesar 0,03 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Ararkula. Sumber utama partekel tersuspensi di perairan ini berasal MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 8
    •  dari aktivitas penambangan pasir, teruta-ma pada saat air surut yang dilakukan oleh masyarakat desa yang bermukim di pulau-pulau yang dekat dengan P. Ararkula. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Ararkula berki-sar antara 6,9 – 7,60 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Ararkula pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,28 - 8,75. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Ararkula sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat pada bulan Desember 2005 adalah 0,42 mg/ltr, nitrit (0,11 mg/ltr), sementara kadar nitrat adalah sebesar 1,30 mg/ltr. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Melihat potensi yang dimiliki P. Ararkula, disamping pengembangan perikanan, ke depan pulau ini dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, yang diarah-kan pada wisata bahari. Hal ini patut untuk dilakukan mengingat keindahan bentang-an alam pantai dan pemandangan bawah laut yang dimiliki oleh P. Ararkula. Wisata bahari yang dapat dikembangkan di daerah ini adalah Scuba Diving/Snorkling. Hal ini harus dimulai dengan penggalaan promosi pariwisata Kepulau Aru secara besar-besaran agar diketahui baik oleh wisatawan domestik maupun asing. Penyebaran in-formasi ini penting mengingat salah satu kunci keberhasilan dunia pariwisata adalah promosi. Untuk menjelmakan P. Ararkula menjadi suatu daerah tujuan wisata maka keberadaan sarana dan prasarana penunjang, jelas harus dipenuhi. Sarana dan prasa-rana dimaksud mulai dari transportasi, akomodasi sampai kepada suplai peralatan Scuba Diving/Snorkling. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 9
    •  BATUGOYANG Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Batugoyang yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. TD.102. Pulau Batugoyang tidak berpenghuni dan oleh masyarakat setempat dinamai Dimel. Secara administratif, Pulau Batugoyang termasuk dalam wilayah Desa Batugoyang, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku. Sedangkan secara geografis P. Batugoyang terletak antara 07o 57’ 01” LS dan 134o 11’ 38” BT. Luas pulau ini mencapai 0,006503 km2 dengan keliling pulau 0,3295 km. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan P. Batugoyang dengan ibukota Kabupaten MTB (Dobo), sehingga untuk mencapai P. Batugoyang harus mencarter speed boat dari Dobo. Untuk mencapai P. Batugoyang, perjalanan dimulai dari Dobo dengan menggunakan speed boat dalam waktu 4 jam 30 menit. Rutenya adalah dengan menyusuri pantai barat Kepulauan Aru. Pada waktu musim angin barat, waktu tempuh menjadi bertambah lama karena harus melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Batugoyang, atau antara P. Kobror dan P. Maekor kemudian mengikuti selat pada P. Maekor menuju P. Trangan hingga ke Gomarmeti atau Karey kemudian menuju P. Batugoyang dengan waktu tempuh antara 7 hingga 9 jam. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 10
    •  Sarana transportasi lain yang dapat digunakan adalah sarana penangkap ikan dan transportasi laut yang dimiliki masyarakat Desa Batugoyang berupa “Katinting”, namun waktunya tidak menentu karena tergantung kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai Kecamatan Jerol dari Dobo dapat dipergunakan sarana transportasi speed boat yang membutuhkan waktu antara 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai P. Batugoyang dari Desa Batugoyang dengan meng-gunakan speed boat adalah antara 5 hingga 10 menit, sedangkan dengan menggunakan katinting dapat ditempuh dalam waktu antara 20 – 30 menit. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Keanekaragaman flora di lingkungan ekosistem P. Batugoyang relatif sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogenitas tumbuhan dan satwa. Minimnya keanekaragaman flora dipengaruhi oleh karakteristik pulau dengan permukaan lahan yang hanya ditumbuhi rerumputan, bervegetasi seperti semak belukar, disebabkan oleh proses pembentukan tanah yang tidak berlangsung secara efektif. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Batugoyang mencapai 26 spesies yang tergolong dalam 16 genera dan 12 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong rendah walaupun dimensi areal terumbu P. Batugoyang sangat kecil dibanding areal terumbu pada 7 pulau perbatasan lainnya, karena profil dasar perairan pulaunya yang langsung “drop off”. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Batugoyang adalah Chaetodontidae (6 jenis), sedangkan 11 famili lainnya memiliki jumlah spesies < 5, bahkan 4 famili diantaranya memiliki variasi jenis terendah yakni hanya memiliki satu spesies, keempat famili tersebut adalah Labridae, Haemulidae, Serranidae MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 11
    •  dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon dan Lutjanus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini, sedangkan genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, dimana 10 genera diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Rendah-nya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Batugoyang relatif kurang baik. Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Batugoyang termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kon-disi terumbu karangnya. Kelompok ikan karang “Target species” memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species”. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Batugoyang yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain (Tabel 4). Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Caesio xanthonota dan Selaroides leptolepis. Terumbu karang P. Batugoyang menyimpan potensi jenis ikan hias laut yang kurang bernilai tinggi untuk industri akuarium. Selain itu, Gambar 6 memberi petunjuk bahwa perairan karang pulau kecil perbatasan ini menyimpan potensi jenis-jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti ekor kuning dan selar maupun ikan yang dikonsumsi masyarakat lokal (nelayan). Perikanan Tangkap Sebagai konsekuensi dari kehadiran berbagai potensi sumberdaya hayati laut, maka kawasan perairan Aru tenggara, termasuk perairan pesisir dan laut P. Batugoyang ramai dikunjungi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di sekitarnya, di samping sebagai tempat berlabuh, bongkar muat dan transaksi jual beli hasil-hasil laut. Kapal-kapal perikanan tangkap tersebut ada yang berasal dari masyarakat lokal yang bermukim dekat dengan pulau ini, ada memiliki izin operasi dari Pemerintah maupun dari masyarakat lokal (adat yang memiliki hak ulayat) untuk beroperasi di perairan sekitar pulau ini. Armada perikanan tangkap itu ada yang berpangkalan di Dobo dan Benjina, Wanem (Papua), Ambon dan Kendari. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang diman-faatkan secara intensif di perairan pesisir dan laut sekitar P. Batugoyang adalah ikan hiu, dengan tujuan meng ambil bagianbagian siripnya yang bernilai ekonomi tinggi. Alat tangkap yang digunakan dalam kegiatan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 12
    •  pe nangkapan ikan hiu adalah pancing dan jaring yang dikonstruksi secara khusus untuk menangkap sumber-daya perikanan ini. Kegiatan penangkapan dilakukan oleh nelayan pendatang dengan peralatan yang semi-moderen, serta masyarakat lokal dari pulau-pulau sekitar dengan armada dan peralatan yang relatif sederhana. Perairan sekitar P. Batugoyang merupakan fishing ground dari sebagian armada trawl yang beroperasi di perairan Aru untuk menangkap ikan demersal dan udang windu. Sasaran penangkapan ikan demersal dengan trawl ini adalah berbagai jenis ikan kakap. Sementara udang windu yang umum tertangkap dengan trawl pada perairan sekitar P. Batugoyang ini adalah Penaeus monodon dan Penaeus merguensis. Masalah yang ditimbulkan operasi trawl ini yaitu terjadi kekeruh an air di pesisir P. Batugoyang, dan sumberdaya ikan yang bukan target dibuang ke laut sehingga menyebab kan pencemaran bau dan perairan. Potensi sumberdaya udang barong yang bernilai ekonomis tinggi ini sering dimanfaatkan oleh nelayan lokal, maupun nelayan pendatang yang berlabuh di perairan sekitar P. Batugoyang untuk dikonsumsi dan/atau dijual ke nelayan pengumpul. Selain itu, penangkapan sumberdaya ikan, termasuk ikan kerapu yang bernilai ekonomis tinggi dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan P. Batugoyang dengan hanya menggunakan peralatan sederhana seperti pancing dan jaring insang. Kegiatan perikanan tangkap lain yang dilakukan, terutama oleh masyarakat lokal di perairan sekitar P. Batugoyang adalah menyelam untuk mengambill atau mengumpul biota laut yang ekonomis penting yaitu jenis-jenis teripang, kerang mutiara, siput lola, batu laga, dan udang barong. Kegiatan menyelam masyarakat lokal ini dilakukan pada musim barat yaitu antara bulan Nopember – Maret, dimana perairan sekitar P. Batugoyang dan Aru Tenggara umumnya relatif tenang. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Batugoyang merupakan pulau kecil dengan bentuk yang unik. Dimensi pulau ini sangat kecil yakni 0,65 Ha. Secara geomorfologi, P.Batugoyang tergolong sea stack yang terpotong dari batuan induknya di tanjung Batugoyang pulau Trangan. Pulau ini MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 13
    •  memiliki struktur batuan sedimen yang rentan terhadap pengaruh tenaga gelombang, angin dan arus. Gempuran gelombang musim, arus dan angin secara intensif telah menyebabkan erosi batuan disekeliling pulau ini. Rataan pasut pulau ini terbentuk dari hasil erosi permukaan batuan yang menyebabkan hilangnya sebagian dinding batuan membentuk lahan datar yang kering selama surut, dan terendam air selama pasang. Diduga bahwa pulau Batugoyang akan mengalami erosi secara intensif sejalan dengan bekerjanya tenaga geomorfik sepanjang musim dan merendahkan reliefnya. Secara umum substrat dasar di perairan sekitar Batugoyang didominasi oleh pasir. Pada perairan ini terdeteksi 6 zona dangkalan dengan kedalaman 3 – 9 m yang berada antara kontur kedalaman 10 – 20 m. Adanya akumulasi pasir atas dasar ini memiliki konstribusi utama terhadap resuspensi sedimen karena adanya gerakan arus vertikal yang mendistristribusi sedimen ke bagian permukaan laut. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Batugoyang sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret - Mei dan September - November. Pasang surut (Pasut) di P. Batugoyang terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda) mengikuti pola pasut di pulau lainnya di Aru. Jangkauan pasut mencapai 2–2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar perairan P. Kultubai Selatan didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pasut pada kondisi perairan tenang cukup lemah dan berkisar dari 15 – 25 cm/detik tetapi saat air bergerak pasang kecepatan arus sangat tinggi yakni > 65 m/detik. Oleh karena kuatnya arus yang melintasi P. Batugoyang yang kedalaman perairannya < 15 m menyebabkan resuspensi sedimen sangat intensif di perairan ini dan membentuk sedimen plume. Sedimen plume terbentuk pada batas kontur kedalaman 10 m. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 14
    •  Gelombang di perairan P. Batugoyang merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Gelombang pecah di pantai P. Batugoyang yaitu “plunging”. Gelombang pecah tersebut sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai di sisi timur, barat dan selatan pulau. Proses abrasi oleh gelombang dan arus menyebabkan pantai selatan - timur mengalami abrasi intensif. Perairan bagian utara pulau relatif tenang dari bagian lainnya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Batugoyang pada bulan Desember berkisar antara 27,5, – 30,4 0C. Nilai rata-rata salinitas di lapisan permukaan perairan P. Batugoyang pada bulan yang sama sebesar 35 ppt. Kecerahan air memiliki tingkat kecerahan < 4,5 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Batugoyang berkisar antara 0,007 - 0,013 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Batugoyang. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penang kapan udang dengan menggunakan jaring trowl. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Batugoyang, yang merupa kan salah satu pulau kecil perbatasan ini antara 6,6 – 6,9 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Batugoyang pada bulan Desember berkisar antara 8,02 - 8,41. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Batugoyang sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan seki tarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap be sarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat rata-rata pada bulan Desember adalah 0,06 mg/ltr, nitrit (0,004 mg/ltr), sementara kadar nitrat adalah sebesar 1,05 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 15
    •  Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 16
    •  ENU Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Enu, merupakan salah satu dari 92 pulau terluar yang termasuk ke dalam kategori pulau-pulau perbatasan. Luas total pulau ini adalah 16,74 km2 dan keliling pulau sekitar 21,76 km. P. Enu tidak berpenghuni dan terdapat ttik dasar (TD) no. TD.101 dan titik referensi (TR) no. TR101B. Pulau Enu secara administratif berada di wilayah Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Pulau yang berada di perairan Laut Aru ini terletak pada posisi 07º 06’14“ LS dan 134º 11’ 38“ BT. Untuk mencapai P. Enu dan desa-desa di Kawasan Aru Tenggara, tidak ada sarana angkutan reguler dari Kota Dobo sehingga harus menggunakan Speedboat carteran dengan tarif Rp. 1.000.000,- per hari (tidak termasuk BBM). Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai P. Enu dengan menggunakan Speedboat bermesin ganda (masing-masing 40 PK/HP) antara 7 – 8 jam. Akan tetapi, waktu kembali ke Kota Dobo harus menyinggahi desa-desa di Aru Tenggara untuk mengisi BBM, khususnya minyak tanah. Dengan demikian, kendala utama terkait dengan kelancaran operasional ke P. Enu adalah bahan bakar bagi sarana transportasi yang perlu untuk dicari solusinya agar tidak menghambat rencana dan upaya pengembangan pulau kecil terluar perbatasan ini. Di lain sisi, waktu tempuh ke P. Enu bisa lebih cepat atau lambat tergantung pada beberapa faktor seperti ukuran dan tipe Speedboat, jumlah muatan (termasuk penumpang dan BBM cadangan), kondisi pasang surut serta pengetahuan dan ketrampilan pengemudi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 17
    •  tentang jalur pelayaran. Salah satu faktor yang sangat menentukan waktu tempuh adalah pengetahuan serta ketrampilan pengemudi tentang jalur pelayaran karena banyak serta luasnya bagian laut yang kering atau hampir kering pada saat air surut dan kanal yang tidak buntu. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Dari 187 buah pulau yang terdapat di dalam wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Aru, ternyata hanya sebanyak 26 buah pulau yang berpenghuni, dengan 119 desa dan 2 kelurahan serta total jumlah penduduk mencapai 65.128 jiwa. Kabupaten Kepulauan Aru terdiri dari 3 kecamatan yakni Kecamatan Aru dengan ibukota Dobo membawahi 2 kelurahan dan 43 desa dengan jumlah penduduk 27.695 jiwa, Kecamatan Aru Tengah dengan ibukota Benjina membawahi 45 desa dengan jumlah penduduk 23.285 jiwa, serta Kecamatan Aru Selatan dengan ibukota Jerol yang membawahi 31 desa dengan jumlah penduduk tercatat sebanyak 14.148 jiwa. P. Enu yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Aru Tengah ini, tidak berpenghuni. Akan tetapi pada musim-musim tertentu (tangkap), masya-rakat membuat rumah-rumah sementara (pondok) di pulau tersebut untuk kegiatan melaut. Selain itu, kapal-kapal nelayan (bermesin dalam), juga selalu menggunakan perairan pantai P. Enu sebagai tempat untuk berlabuh, melakukan kegiatan jual beli hasil tangkapan, mauupun bongkar muat. Namun sejak September 2004 yang lalu, P. Enu mulai dihuni oleh 3 orang petugas Navigasi untuk mengawasi Lampu Mercu Suar yang dibangun di pulau ini. Para petugas Navigasi tersebut dirotasi setiap 3 bu-lan, sehingga sepanjang tahun minimal terdapat 3 orang penghuni tetap di pulau ini. Tekanan terhadap sumberdaya laut di perairan P. Enu yang berasal dari masyarakat lokal umumnya datang dari masyarakat yang bermukim dekat dengan pulau ini, yaitu dari Desa Longgar, Apara, Bemun, Karey dan Desa Batu Goyang. Kadang-kadang datang juga penduduk dari Desa Mesiang dan desa Gomu-gomu, tergolong jarang karena jaraknya yang cukup jauh, sehingga mereka yang dapat berakses ke P. Enu umumnya memiliki ”Katinting”. Tekanan terhadap sumberdaya laut di perairan P. Enu yang berasal dari masyarakat lokal umumnya datang dari masyarakat yang bermukim dekat dengan pulau ini, yaitu dari Desa Longgar, Apara, Bemun, Karey dan Desa Batu Goyang. Kadang-kadang datang juga penduduk dari Desa Mesiang dan desa Gomu-gomu, tergolong jarang karena MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 18
    •  jaraknya yang cukup jauh, sehingga mereka yang dapat berakses ke P. Enu umumnya memiliki „Katinting“. Jumlah penduduk yang mendiami 5 desa yang selalu mengakses P. Enu tersebut tersaji di bawah ini. Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru, umumnya bermukim di pesisir pantai. Hal ini disebabkan kawasan perairan laut di kepualauan ini kaya akan berbagai sumberdaya hayati laut yang bernilai ekonomis tinggi, seperti siput mutiara, teripang, ikan hiu, kerang lola dan “bia” mata tujuh. Dengan demikian ketergantungan hidup masyarakat lokal terhadap hasil laut sangat tinggi. Fakta menunjukan bahwa masyara-kat yang berdiam di sekitar P. Karang mempunyai mata pencaharian utama sebagai nelayan. Pekerjaan sebagai petani hanya merupakan pekerjaan sampingan, dan bah-kan kebun yang diusahakan berukuran kecil yakni sekitar 20 x 40 m. Aktivitas perikanan di kawasan Aru tenggara mencapai puncaknya pada musim barat, terutama untuk menyelam siput mutiara, teripang dan rumput laut. Sedangkan kegiatan penangkapan jenis-jenis ikan, cumi, udang menggunakan jaring insang (gill net), jala dan pancing. Hasil yang diperoleh dijual di dalam desa sendiri dan desa tetangga (karena ada pedagang pengumpul), serta kadang-kadang dibawa ke Kota Dobo bila ada transportasi. Sebelum ada larangan terhadap nelayan-nelayan Bali yang membeli penyu hijau, maka penyu hijau merupakan salah satu komoditi yang cukup diandalkan. Tetapi akibat eksploitasi yang berlebihan, maka sekarang ini populasi penyu hijau sekarang telah berkurang. Sebagai contoh pada tahun 1997 – 1998, dalam semalam penyu yang naik bertelur di pantai kering P. Karang dapat mencapai 90 individu. Tetapi informasi yang diperoleh saat kajian untuk penyusunan profil ini, ternyata dalam seminggu hanya 3 ekor penyu yang naik bertelur dan setelah bertelur tidak kembali lagi ke laut karena langsung dibantai untuk dikonsumsi. Suatu kajian ekonomi terhadap kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara telah dilakukan oleh Far Far (2004) bersamaan dengan kajian untuk Pulau Enu. Pendekat-an yang digunakan adalah Valuasi Ekonomi terhadap enam komoditi perikanan utamanya, yaitu Ikan karang, Ikan hiu, Teripang, Kerang Mutiara, Siput lola, dan Penyu. Ternyata nilai ekonomi dari kawasan konservasi ini mencapai Rp. 25,1 milyar. Komoditi dengan nilai valuasi ekonomi tertinggi adalah ikan hiu yang mencapai Rp.19,4 milyar, sedangkan penyu hanya sekitar Rp. 112,5 juta. Daerah tangkap utama dari kedua komoditi ini adalah Pulau Enu, Pulau Kultubai Selatan selain Pulau Karang serta perairan pesisir dan lautnya. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 19
    •  Teripang dan kerang mutiara juga memiliki nilai valuasi ekonomi relatif tinggi, yaitu Rp. 2,7 milyar dan Rp. 2,5 milyar. Nilai valuasi ekonomi ini belum dapat dikatakan besar karena pendekatan yang digunakan adalah komoditi perikanan, sementara pendekatan ekosistem dan jasa jasa lingkungan dari P. Karang dan kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara pada umumnya belum dihitung nilai valuasi ekonominya. Tetapi referensi yang telah dikemukakan memberi gambaran bahwa perairan pesisir dan laut kawasan ini, terma-suk P. Karang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang besar sehingga menjadi tumpuan kehidupan ekonomi utama masyarakat lokal dan bahkan nelayan atau pengusaha di dalam provinsi/kabupaten maupun dari luar. Setiap kali menjelang musim Barat, sebelum para “Deba” (penyelam siput mutiara) melaksanakan kegiatannya, mereka melakukan sesajian yang dibawa ke laut dan ditaruh pada tempat-tempat tertentu dalam petuanan mereka untuk “memberi makan para leluhur”, sekaligus meminta rejeki bagi para penyelam. Hak kepemilikan mereka terhadap tanah dan “meti” (areal pasang surut) masih melakat kuat, sehingga bila ada masyarakat tetangga yang melewati hak kepemilikan mereka dapat menimbulkan perkelahian antar kampung. Sampai seka-rang hal ini masih terjadi, dimana beberapa waktu yang lalu terjadi perkelahian antara Desa Karey dan Apara, karena ada masyarakat dari Desa Apara yang mencari siput mata tujuh (Abalone) hingga memasuki petuanan Desa Karey bahkan membolakbalik batu-batu tempat siput itu melekatkan dirinya. Masyarakat Aru juga mengenal sistem pela, seperti antara Desa Karey, Salarem dengan Desa Sia dan Desa Batu Goyang dengan Beltubur, dan masih dipe-gang erat masyarakat. Hal ini terbukti saat survei di Desa Batu Goyang, dimana ham-pir terjadi perkelahian antar masyarakat, karena ada pencurian sirip hiu milik seorang nelayan. Setelah diusut ternyata seorang warga Desa Beltubur (sementara tinggal di Batu Goyang) yang mengambil sirip hiu itu. Warga tadi kemudian dipukul, kemudian diantar kembali ke desanya, sementara setiap kepala keluarga di Batu Goyang membawa satu sirip hiu untuk mengganti sirip-sirip hiu yang telah dicuri. Selain pela, masyarakat Aru masih menganut sistem sasi. Sasi juga mengatur waktu penangkapan, alat yang digunakan serta ukurannya. Sasi umumnya dilakukan terhadap siput mutiara, teripang dan lola di laut serta sagu, kelapa dan buah-buahan di darat. Pada waktu buka sasi, masyarakat berduyun-duyun mengambil hasil-hasil laut yang disasi, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 20
    •  walaupun air surut berlangsung pada malam hari. Hal ini dijumpai di Desa Apara, ketika akan melakukan pertemuan di malam hari, masyarakat meminta agar dilakukan pada sore hari karena akan pergi “bameti”di malam hari. Kegiatan “Bameti” (istilah lokal) merupakan salah satu cara pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang dilakukan oleh masyarakat lokal secara tradisional pada saat air surut. Disaat air surut, masyarakat mengumpulkan berbagai biota laut di daerah pasut hingga sub-pasut untuk dikonsumsi. Jenis-jenis biota laut yang dikum-pulkan yaitu siput dan kerang, teripang, ikan dan gurita. Kegiatan penangkapan tradi-sional ini bersifat destruktif, karena seringkali bagian habitat pasut dan sub-pasut dihancurkan untuk memperoleh biota yang dicari. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Sumberdaya Non Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Sebagian besar daratan P. Enu vegetasi mangrove (58,53%) dan sisanya sebanyak 41,47% ditutupi oleh semak belukar. Hutan mangrove mendominasi bagian tengah pulau, sementara semak belukar hampir mengelilingi seluruh areal hutan mangrove. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp.), Ketapang (Terminalia catapa), Bintanggor (Canophyllum inophyllum), berbagai jenis mangrove dan lain-lain. Substrat dasar lahan P. Enu terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan berpesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, ketapang dan pandan, sedangkan bagian tengah didominasi oleh jenis-jenis Semarah dan Madawal (nama lokal). Kerapatan total vegetasi pulau kecil terluar ini mencapai 0,964 tegakan/m2 atau sekitar 9.640 tegakan/ha. Kerapatan vegetasi untuk kategori pohon sebesar 0,265 tegakan/m2 (2653 tegakan/ha), semntara untuk kategori sapihan adalah 0,145 tegakan/m2 (1.453 tegakan/ha) dan untuk kategori anakan mencapai 0,553 tegakan/m2 atau mencapai 5.533 tegakan/ha. Jenis vegetasi yang memiliki diameter pohon rata-rata terkecil adalah Madawal dan terbesar adalah Kasuari. Sedangkan jenis yang memiliki diameter sapihan rata-rata terkecil adalah Jir dan terbesar adalah Kayu Susu. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 21
    •  bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan karena jumlah tegakan dari kategori sapihan hanya 54,77% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon walaupun jumlah tegakan untuk kategori anakan jauh lebih besar dari tegakan untuk kategori pohon dan sapihan. Selain itu jenis-jenis vegetasi yang dominan itu, dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya pohon kayu besi, pohon kayu nani, pohon mangga dan lain-lain. Karena tumbuhan mangga yang dapat tumbuh di pulau ini, maka beberapa jenis tanaman buah-buahan lainnya seperti pohon sukun dan kedondong dapat tumbuh dan berkemang di P. Enu. Selain kekayaan floranya, lingkungan teresterial P. Enu memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilia yang termasuk kategori dilindungi yaitu biayak endemik Maluku (Varanus indicus). Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove P. Enu memiliki 7 spesies mangrove yang tergolong dalam 6 genera dan 5 famili yang tumbuh dan berkembang pada substrat dasar pasir berlumpur. Tumbuhan mangrove dari famili Rhizophoraceae memiliki variasi jenis lebih banyak dibanding 4 famili lain nya yang masing-masing hanya diwakili oleh satu jenis tumbuhan mangrove. Genus Rhizopora memiliki dua spesies yang tumbuh di P. Enu. Dimana luas daerah mangrove pada P. Enu ini adalah 914 Ha. Jenis vegetasi mangrove yang tergolong dominan di P. Enu adalah Bruguiera gymnorrhiza untuk kategori pohon dan sapihan, serta Sonneratia alba untuk kategori anakan. Kerapatan total tumbuhan mangrove adalah 0,9760 tegakan/m2 atau mencapai 9.760 tegakan/ha, dimana kerapatan untuk kategori pohon 0,1285 tegakan/m2 atau 1.285 tegakan/ha. Sementara nilai kerapatan untuk kategori sapihan hanya sebesar 0,0650 tegakan/m2 atau 650 tegakan/ha dan kerapatan untuk kategori anakan tergolong menonjol yaitu bisa mencapai 0,7825 tegakan/m2 atau sekitar 7.825 tegakan/ha. Diameter rata-rata tumbuhan mangrove untuk kategori pohon tergolong kecil, tetapi masih ditemukan pohon mangrove berukuran besar yaitu mencapai 63,0 cm yaitu jenis Sonneratia alba. Selain itu, jenis mangrove yang memiliki diameter pohon terkecil adalah Aegiceras corniculatum. Untuk kategori sapihan, jenis mangrove yang memiliki diameter MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 22
    •  terkecil yaitu Rhizophora stylosa dan jenis mangrove dengan diameter terbesar adalah Sonneratia alba. Data yang telah diuraikan memberi indikasi bahwa bila terjadi gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem mangrove maka dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihannya karena jumlah tegakan untuk kategori sapihan hanya sekitar 50% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon, walaupun jumlah tegakan untuk kategori anakan jauh lebih besar dari tegakan untuk kategori pohon dan sapihan. Faktor lain yang juga akan memberikan kontribusi terhadap lambatnya pemulihan yaitu ukuran pulau yang kecil dan mudah rapuh bila mengalami tekanan, disertai struktur substrat dasar yang belum mencapai kematangan akibat secara geologis P. Enu masih dalam perkembangan. Akan tetapi sesuai data yang tersedia menunjukkan bahwa pemulihan jenis mangrove Bruguiera gymnorrhiza agak cepat karena jumlah tegakan untuk kategori sapihan mencapai 76% dari jumlah tegakan untuk kategori pohon. Karena jumlah tegakan untuk kategori anakan yang besar, maka dapat dikatakan bahwa komunitas mangrove di P. Enu memiliki kecenderungan untuk berkembang bila dikelola secara baik, dan tidak mengalami tekanan antropogenik. Padang Lamun Perairan pesisir P. Enu memiliki 4 jenis dari 12 jenis lamun yang tercatat di kawasan Kepulauan Aru Tenggara. Keempat jenis lamun itu tergolong dalam 4 genera dan 2 famili. Keempat jenis lamun itu adalah Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila ovalis dari famili Hydrocharitaceae, serta Halodule uninervis yang termasuk dalam famili Cymodoceaceae. Kekayaan jenis lamun ini tergolong rendah karena hanya mencapai 33,3% dari total 12 jenis lamun yang terdapat di kawasan perairan Aru Tenggara. Jenis yang mendominasi areal perairan P. Enu ini adalah Thalassia hemprichii, dengan substrat dasar areal padang lamun yang didominasi oleh pasir. Persen penutupan rata-rata lamun secara keseluruhan di areal padang lamun P. Enu tergolong besar. Jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki persen penutupan substrat dasar tertinggi sementara yang terendah terwakili oleh jenis Halodule uninervis. Kerapatan total lamun di perairan pesisir P. Enu tergolong cukup tinggi. Jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki kerapatan tertinggi dan jenis lamun dengan kerapatan yang rendah adalah Halodule uninervis. Ternyata secara linear, kedua jenis lamun tersebut memiliki nilai persen penutupan substrat dasar tertinggi dan terendah. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 23
    •  Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kerapatan dan persen penutupan lamun di perairan pesisir P. Enu tergolong tinggi, walaupun masih terdapat ruang di dasar perairan yang kosong dan ditempati oleh komponen pasir. Ruang dasar perairan yang kosong ini sebagian besar menunjukkan kondisi alamiah, tetapi juga ditemu-kan bekas areal makan dari dugong. Terumbu Karang Secara umum, komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Enu dibanding komponen abiotiknya. Fakta ini menunjukkan bahwa terumbu karang dari pulau kecil perbatsan ini masih baik dengan variasi dan dominansi komponen biotik yang terdapat pada areal terumbunya. Bila diamati secara terpisah, maka untuk komponen biotik, ternyata karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari biota laut lain (moluska, ekhinodermata, algae, spons dan lain-lain). Karang batu kategori Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu dari kategori NonAcropora. Sementara untuk komponen abiotik, ternyata batu karang dan pasir memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu lebih tinggi dibanding komponen pasir dan patahan karang mati. Kategori bentuk pertumbuhan bentik yang dijumpai di terumbu karang P. Enu hanya sebanyak 20 kategori (kurang lebih 69%) dari total 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik yang biasanya ditemukan di ekosis-tem terumbu karang. Ini me-nunjukkan terumbu karang P. Enu masih dalam proses per-kembangan menuju suatu sistem terumbu alami. Kondisi terumbu ka-rang P. Enu tergolong kurang baik dengan persen tutupan dasar terumbu oleh karang ba-tu yang hanya mencapai 43,92%. Karang batu Acropora dari bantuk tumbuh sub-masif dan Acropora „digitate“ memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari Acropora bercabang serta bentuk tumbuh dari Acropora „encrusting“. Karang batu Non Acropora dengan nilai persen penutupan substrat dasar yang tinggi adalah karang Heliopora. Karang batu Non Acropora dengan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu yang rendah di P. Enu adalah karang bercabnag (CB), karang encrusting (CE) dan karang sub masif (CS). Rendahnya persen penutupan karang batu-batu Acropora bercabang (ACB), serta rendahnya persen penutupan karang bercabang (CB) menunjukan telah terjadinya kerusakan pada ekosistem terumbu karang P. Enu. Kerusakan tersebut bukan terjadi secara MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 24
    •  alamiah, tetapi disebabkan oleh kegiatan manusia (nelayan) yang melabuhkan perahuperahu bermotor yang digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya perikanan dan lautan, serta operasi alat penangkapan gill net di sekitar pulau kecil terluar ini. Terumbu karang P. Enu memiliki 60 spesies karang batu yang termasuk dalam 20 genera dan 11 famili. Variasi jenis karang ini tergolong tinggi dihubungkan dengan sebaran areal terumbu karang yang relatif terbatas, serta kondisi perairan di musim barat yamg umumnya keruh akibat aksi gelombang yang menaikan partikel halus substrat dasar perairan sekitar terumbu karang sehingga menjadi pembatas bagi sebagfian karang polip kecil yang sangat peka terhadap tekanan sedimentasi. Famili karang batu dengan kelimpahan jenis yang tinggi adalah Acroporidae (24 spesies), Faviidae (15 spesies), dan Poritidae (7 spesies). Karang batu Acropora branching (bercabang) memilikijumlah jenis lebih banyak dibanding jumalah jenis karang dari bentuk tumbuh koloni Acropora yang lain. Sementara karang batu non-Acropora dengan kelimpahan jenis terbanyak adalah karang masif (MC) yaitu sebanyak 18 jenis dan karang bercabang (CB) sebanyak 6 jenis. tu dari bentuk tumbuh Acropora yang memiliki variasi jenis tergolong rendah di perairan P. Enu adalah Acropora ebcrusting (ACE). Acropora digitate, dan Acropora submasif (ACS)., dimana masing-masing hanya memilki satu spesies karang. Walaupun tidak tercatat persen penutupan karang batu Acropora tabulate, tetapi bentuk tumbah karang batu ini memiliki tiga jenis karang diperairan pesisir P. Enu, yaitu Acropora clatharata, A. cytherea, dan A. hyacintus. Karang batu famili Fungiidae biasanya memilki variasi jenis cukup menonjol pada arel terumbu karang yang mulai atau telah mengalami degradasi. Pada arel terumbu P. Enu hanya ditemukan dua jenis karang dari famili Fungiidae tersebut, yaitu Fungia (Veriilofungia) concina dan Fungia (Fungia) fungites. Melalui pendekatan biologis, kenyataan ini memberikan suatu indikasi bahwa terumbu karang P. Enu belum mengalami tekanan berarti yang dapat menyebabkan penurunan kualitasnya. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Enu mencapai 68 spesies yang tergolong dalam 40 genera dan 19 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif rendah dengan dimensi areal terumbu P. Enu yang cukup luas dibanding areal terumbu lainnya dalam kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Famili ikan karang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 25
    •  dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Enu adalah Pomacentridae (16 jenis), Chaetodontidae (9 jenis), Lutjanidae (5 jenis) dan Labridae (5 jenis). Selain itu, famili ikan karang dengan variasi jenis terendah atau hanya memiliki satu spesies adalah Blenidae, Haemulidae, Pomacanthidae, Siganidae, Synodontidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon, Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chatodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Enu relatif masih baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Enu lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan hias relatif lebih tinggi dibanding ikan konsumsi. Data yang disajikan pada Tabel 8 memperlihatkan bahwa kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Enu termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang “Target species” memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibanding Ikan Hias. Hasil estimasi menunjukan ikan karang kategori Target Species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki biomassa (berat basah) cukup tinggi per Ha di terumbu karang P. Enu ini. Nilai sediaan cadang (Standing Stock), perkiraan pemanfaatan secara lestari (MSY) dan perkiraan pemanfaatan secara berkelanjutan (JTB) dari sumberdaya ikan karang di perairan karang P. Enu termasuk besar dihubungkan dengan dimensi dan kondisi terumbu karang sebagai habitat hidupnya. Hasil-hasil analisis secara terpisah memperlihatkan nilai sediaan cadang dan MSY dari ikan karang kelompok Target species jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indicator spesies dan Major categories species. Sementara sediaan cadang dan MSY dari sumberdaya ikan karang yang termasuk kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi lebih tinggi dari kelompok ikan hias. Tingginya nilai sediaan cadang dari Terget Species dan Ikan Konsumsi tersebut disebabkan oleh kehadiran jenis ikan Caesio teres dengan kelimpahan individu yang besar atau sebagai jenis ikan karang yang predominan. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 26
    •  Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Enu yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Cromis weberi. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Ctenochaetus strigosus yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleini sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Perikanan Tangkap Sebagai konsekuensi dari kehadiran berbagai potensi sumberdaya hayati laut, maka kawasan perairan Aru Tenggara, termasuk perairan pesisir dan laut P. Enu ramai dikunjungi kapal-kapal nelayan yang beroperasi di sekitarnya, di samping sebagai tempat ber-labuh, bongkar muat dan tran-saksi jual beli hasil-hasil laut. Kapal-kapal perikanan tangkap tersebut ada yang berasal dari masyarakat lokal yang bermukim dekat dengan pulau ini, ada memiliki ijin operasi dari Pemerintah maupun dari masyarakat lokal (adat yang memiliki hak ulayat) untuk beroperasi di perairan sekitar pulau ini. Armada perikanan tangkap itu ada yang berpangkalan di Dobo dan Benjina, Wanem (Papua), Ambon dan Kendari. Bahkan ada armada perikanan tangkap yang tidak memiliki ijin operasi di perairan ini yang umumnya berasal dari Benoa - Bali. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang dimanfaatkan secara intensif di perairan pesisir dan laut sekitar Pulau Enu adalah ikan hiu, dengan tujuan mengambil bagian-bagian siripnya yang bernilai ekonomi tinggi. Alat tangkap yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan hiu adalah pancing dan jaring yang dikonstruksi secara khusus untuk me-nangkap sumberdaya perikanan ini. Ke-giatan penangkapan dilakukan oleh nela-yan pendatang dengan peralatan yang semimoderen, serta masyarakat lokal dari pulau-pulau sekitar dengan armada dan peralatan yang relatif sederhana. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 27
    •  Perairan sekitar P. Enu merupakan fishing ground dari sebagian armada trawl yang beroperasi di perairan Aru untuk menangkap ikan demersal dan udang windu. Sasaran penangkapan ikan demersal dengan trawl ini adalah berbagai jenis ikan kakap. Sementara udang windu yang umum tertangkap dengan trawl pada perairan sekitar P. Enu ini adalah Penaeus monodon dan Penaeus merguensis. Masalah yang ditimbulkan operasi trawl ini yaitu terjadi kekeruhan air di pesisir P. Enu, dan sumberdaya ikan yang bukan target dibuang ke laut sehingga menyebabkan pencemaran bau dan perairan. Potensi sumberdaya udang barong yang bernilai ekonomis tinggi ini sering dimanfaatkan oleh nelayan lokal, maupun nelayan pendatang yang berlabuh di perairan sekitar P. Enu untuk dikonsumsi dan/atau dijual ke nelayan pengumpul. Selain itu, penangkapan sumberdaya ikan, termasuk ikan kerapu yang bernilai ekonomis tinggi dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan P. Enu dengan hanya menggunakan peralatan sederhana seperti pancing dan jaring insang. Kegiatan perikanan tangkap lain yang dilakukan, terutama oleh masyarakat lokal di perairan sekitar P. Enu menyelam untuk mengambill atau mengumpul biota laut yang ekonomis penting yaitu jenis-jenis teripang, kerang mutiara, siput lola, batu laga, dan udang barong. Kegiatan menyelam masyarakat lokal ini dilakukan pada musim barat yaitu antara bulan November – Maret, dimana perairan sekitar P. Enu dan Aru Tenggara umumnya relatif tenang. Salah satu kegiatan pemanfaatan (penangkapan) sumberdaya laut yang tergolong ilegal dan masih berlangsung di P. Enu ini adalah penangkapan penyu. Kegiatan penangkapan dilakukan dengan cara menunggu penyu naik ke pulau untuk bertelur, serta menggunakan jaring insang yang dirancang khusus untuk menangkap penyu. Penangkapan penyu dengan cara tersebut dilakukan oleh nelayan-nelayan dari luar maupun masyarakat lokal yang bekerjasama dengan nelayan pengumpul untuk kemudian dibawa dan diperdagangkan di Bali. Selain penangkapan untuk tujuan perdagangan, nelayan dari luar maupun masyarakat nelayan lokal yang menangkap hiu atau menyelam di P. Enu dan berlabuh atau tinggal selama waktu tangkap, juga memburu penyu yang naik bertelur di pesisir pulau untuk dikonsumsi. Bahkan telur-telur penyu yang telah diletakan disarangnya, ikut dimanfaatkan oleh nelayan-nelayan tersebut untuk dikonsumsi. Tiap hari sekitar 5 – 17 kapal motor penangkap ikan menyinggahi P. Enu yang menjadikan penyu dan telur penyu sebagai makanan tambahan mereka, dimana konsumsi telur rata-rata mencapai 200 – 300 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 28
    •  butir/kapal. Kegiatan penangkapan ilegal lainnya yang mesih dilakukan oleh masyarakat lokal di perairan pesisir P. Enu, serta kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara adalah memburu dugong untuk dikonsumsi dan diambil taringnya. Nelayan lokal yang memanfaatkan sumberdaya perikanan pada musim menyelam, penangkapan hiu, penangkapan ikan dan penyu di P. Enu ini umumnya berasal dari 6 Desa sekitar kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara, yairu Longgar, Apara, Batu Goyang, Karey, Bemun dan Desa Gomu Gomu. Daerah peruntukan perikanan tangkap dari tiap desa dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di sekeliling pesisir dan laut P. Enu tersebar tidak merata, atau tidap berpola. Tampak-nya hal ini berkaitan erat dengan areal sebaran komoditi perikanan yang menjadi tujuan penangkapan. Fakta menunjukan telah terjadi tekanan pemanfaatan sumberdaya hayati laut pada perairan sekitar P. Enu, baik dengan peralatan dan teknologi moderan oleh perusahaan besar maupun peralatan, serta teknologi standar dan tradisional oleh nelayan lokal. Dilain pihak, P. Enu termasuk kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Untuk mengatasi masalah yang kontradiktif itu, maka diusulkan dua strategi dan program penting yaitu : (1). Membatasi atau menghentikan pemberian izin penang-kapan di sekitar P. Enu bagi perusahaan besar yang disertai dengan peningkatan pe-ngawasan, dan (2). Meningkatkan kapasitas dan kualitas nelayan lokal untuk meman-faatkan sumberdaya ikan (pelagis kecil dan besar) di luar P. Enu dan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Makro Bentos Salah satu kelompok organisme terpenting dan hidup pada ekosistem intertidal adalah makrobentos yaitu seluruh organisme makro yang hidup di dasar perairan dimana organisme ini melekatkan diri atau beristirahat sementara pada dasar perairan. Komunitas makrobentos memiliki peranan penting dalam bidang ekologi, yaitu sebagai komponen yang dapat menunjang kehidupan organisme serta mengontrol organisme lain dalam sistem aliran energi atau rantai makanan suatu ekosistem, selain peranan pada bidang ekologis juga dapat dimanfaatkan manusia untuk dipasarkan dan dikonsumsi. Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Enu dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekinodermata (teripang). Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan pada lokasi perairan Pulau Enu adalah dari kelompok moluska dan Holothuridea yang secara MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 29
    •  keseluruhan berjumlah 52 jenis dan diantaranya terdapat 17 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan P. Enu memiliki topografi yang datar-landai tanpa adanya bukit dan gunung. Di pulau kecil ini tidak terdapat sistem sungai. Pantai di P. Enu bertipe landai, terutama di bagian Barat dan Selatan pulau, serta tidak terdapat kanal (kalorang istilah masyarakat sekitarnya). Dengan demikian karakteristik P. Enu relatif berbeda dengan pulau-pulau yang letaknya dekat dengan pulau-pulau besar yang memiliki banyak kanal sebagai alur pelayaran masyarakat setempat. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut tergolong variatif. Zona pantai kering di bagian Barat, Timur, Selatan, dan beberapa bagian tertentu di bagian Utara P. Enu adalah berpasir kasar, serta pasir kasar bercampur patahan karang. Zona pantai kering dengan kondisi substrat dasar pada bagian-bagian pulau tersebut sangat ideal sebagai tempat bertelur atau peletakan telur (Nesting Area) dari penyu, khususnya penyu hijau. Di antara zona pantai kering yang berpasir itu, terdapat areal dengan substrat dasar yang tersusun oleh batuan pasir dan batu cadas. Sementara sebagian besar areal pantai kering di bagian utara pulau memiliki substrat dasar yang terdiri dari pasir halus menyerupai lumpur dan berlumpur. Sebagian zona pasang surut (Pasut) ke arah pantai kering P. Enu umumnya bersubstrat lunak, yaitu tersusun dari komponen pasir kasar hingga pasir halus. Sementara bagian pertengahan zona pasut hingga berbatasan dengan zona subpasut memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen batuan koral yang dominan. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Enu sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Hujan biasanya terjadi pada musim Barat, tetapi pada musim Timur juga sering turun hujan yakni pada bulan Mei dan Agustus. Kadang-kadang terjadi pergeseran musim, baik musim Timur maupun musim Barat. Nilai curah hujan rata-rata berkisar antara 2.000 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 30
    •  – 3000 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari. Nilai curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Pasang surut (Pasut) di P. Enu terjadi dua kali sehari (Tipe Harian Ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 1-2 m dengan MSL sekitar 11,5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Enu didominasi oleh arus pasut, kecuali di antara P. Enu dan P. Karang serta antara P. Enu dan P. Trangan yang sedikit dipengaruhi oleh arus laut Arafura. Kecepatan arus bervariasi antar bagian dari P. Enu ini dengan kisaran antara 7,8 – 30,4 cm/detik saat surut dan 8,5 – 52,7 cm/detik. Kecepatan arus terbesar ditemukan di bagian timur arah utara, barat dan selatan dari pulau, sehingga terdeteksi adanya fenomena gerakan melingkar masa air (Eddys) pada daerah tanjung dari ketiga bagian P. Enu tersebut. Gelombang di seluruh wilayah pesisir dan laut P. Enu merupakan tipe gelombang angin (Variasi Sea dan Swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang umumnya bervariasi sesuai musim. Sesuai letaknya maka bagian utara pulau umumnya relatif tenang ketika bertiup angin timur, angin barat maupun angin barat daya, dibandingkan dengan posisi pulau bagian barat, timur dan selatan. Pulau bagian barat relatif tenang bila bertiup angin timur dan sebaliknya bagian timur pulau relatif tenang bila bertiup angin barat. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan di sekitar P. Enu dapat dilakukan sepanjang musim. Terdapat 3 tipe gelombang pecah di pantai P. Enu yaitu “spilling”, “plunging” dan “surgin”. Dominasi gelombang pecah berbeda-beda di tiap bagian pulau ini. Di pantai bagian barat, timur dan selatan pulau didominasi oleh gelombang pecah tipe plunging dan surgin, tetapi pada bagian-bagian pulau yang relatif dangkal lebih didominasi oleh gelombang pecah tipe spilling. Kualitas Air Suhu di seluruh perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu bervariasi secara musiman. Suhu terendah terjadi di musim timur yaitu berkisar antara 24,5 -25,60C, dan tertinggi dalam musim barat yaitu 27,8 – 300C. Sepanjang musim, suhu permukaan berkisar antara 26,2 – 300C. Nilai rata-rata salinitas di lapisan permukaan perairan P. Enu pada musim barat berkisar antara 34,0 – 35 ppt, sementara di musim timur mencapai 31,2 – 34,8 ppt. Kecerahan air bervariasi antar bagian pulau, dimana pada bagian barat, timur dan selatan pulau memiliki tingkat kecerahan air yang tinggi > 6 m. Sebagian perairan di utara pulau juga cerah, tetapi pada bagian perairan yang didominasi vegetasi bakau biasanya MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 31
    •  agak keruh pada saat terjadi arus pasang surut dan gelombang dengan tingkat kecerahan ≤ 10 - 15 m. Hal ini disebabkan sedimen dasar perairan yang halus terangkat ke kolom air sehingga perairan relatif keruh. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan pulau kecil perbatasan ini antara 5,23 – 7,35 ppm. Pada perairan dangkal sekitar komunitas lamun dan mangrove di bagian utara pulau, tercatat kandungan oksigen terlarut berkisar antara 5,1 – 6,4 ppm. Nilai pH di perairan sekitar P. Enu bervariasi menurut lokasi dengan perbedaan yang relatif kecil. Pada bagian timur, barat dan selatan dari pulau, nilai pH dari kolom air permukaan berkisar antara 8,15 – 8,61. Sementara di bagian utara dari pulau, nilai pH berkisar antara 7,9 – 8,58. Fluktuasi nilai hara di perairan P. Enu sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Perairan bagian barat, timur dan selatan memilki kandungan fosfat antara 0,09 – 0,52 mg/ltr, nitrit berkisar antara 0,001 – 0,005 mg/ltr, sementara kadar nitrat di perairan bagian utara antara 0,9 – 1,30 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Perikanan Budidaya Perikanan budidaya menduduki posisi penting dalam menunjang ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja dan pendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengembangan perikanan saat ini menjadi sangan urgent karena ada kecen-derungan terjadi peningkatan permintaan ikan konsumsi oleh masyarakat. Di sam-ping itu, perikanan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 32
    •  budidaya juga dapat menjadi solusi bagi permasalahan-permasa-lahan yang mungkin ditimbulkan akibat peningkatan intensitas perikanan tangkap. Berdasarkan parameter kualitas air untuk peruntukkan kegiatan perikanan dan hasil pengumpulan data lapangan terhadap organisme-organisme perikanan yang bernilai komersil dan dapat dikembangkan melalui kegiatan budidaya, maka dapat dikatakan bahwa perairan pesisir P. Enu memiliki potensi untuk dikembangkannya kegiatan budidaya perikanan. Potensi budidaya perikanan yang dapat dikembangkan di perairan pesisir P. Enu antara lain budidaya Ikan Kerapu, Ikan Beronang, Rumput Laut, Kepiting Bakau dan Teripang. Namun ada satu hal yang menjadi kendala pengembangan kegiatan perikanan budidaya pada P. Enu, sebagaimana dialami juga oleh pulau-pulau terluar lainnya di Kepulauan Aru ini. Kondisi laut pada Musim Timur yang mengalami gelombang yang cukup besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukannya kegiatan budi-daya. Tetapi kondisi akan berbeda di Musim Barat karena kondisi perairan menjadi tenang dan tidak berombak sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengembangan budidaya perikanan. Pengembangan kegiatan perikanan budidaya pada Musim Barat ini menjadi sangat penting sehingga dapat mengurangi tekanan eksploitasi sumber-daya hayati laut oleh masyarakat. Dengan demikian dapat mereduksi kerusakan ekosistem yang ditimbulkan di P. Enu dan sekitarnya yang termasuk kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Pengembangan kegiatan budidaya perikanan ini hendaknya didahului dengan sejumlah program penguatan kapasitas sumberdaya manusia, dalam hal ini pening-katan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat menjadi utama. Hal ini dilakukan dengan tujuan memprakondisikan masyarakat nelayan tradisional sehingga program ini dapat dijalankan dengan sukses. Setelah itu, baru diikuti dengan pemberian paket-paket bantuan berupa fasilitas budidaya laut, disamping tetap mengadakan kegiatan pendampingan. Salah satu upaya pengembangan pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanutan adalah dengan menerapkan konsep konservasi yang memberikan perlin-dungan bagi sumberdaya pesisir dimaksud. Sumberdaya pesisir ini salah satunya harus memenuhi persyaratan kelangkaan, berperan penting dalam ekosistem, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan kawasan ekowisata. Setidaknya terdapat empat jenis organisme yang dilindungi (terdiri dari tiga jenis mamalia laut dan satu jenis reptilia) yang ditemukan pada perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu, yang dapat dilindungi. Mamalia laut yang dimaksud adalah Lumba-Lumba, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 33
    •  Dugong (Duyung) dan Paus. Lumba-Lumba sering terlihat berenang pada perairan laut P. Enu yang agak dalam sebagai jalur migrasinya untuk berbagai tujuan hidup, terutama untuk mencari makan. Jenis Lumba-Lumba yang dimaksud adalah Pseudorca crassidens, dan Globicephalla macrorhynchus. Sementara jenis dugong yaitu Dugong dugon sering hadir pada perairan pesisir P. Enu berkaitan dengan tujuan memanfaatkan jenis-jenis lamun sebagai sumber makanannya. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya bekas-bekas jalur makan dari dugong. Sementara itu, secara temporal jenis paus yaitu Physeter catodon (Sperm Whale) sering juga terlihat melintasi perairan pesisir dan laut sekitar P. Enu yang relatif dalam. Di lain pihak, hasil-hasil penelitian memberikan informasi bahwa sebanyak 4 jenis penyu yang menggunakan pantai kering P. Enu untuk bertelur atau perairan pesisir sebagai tempat mencari makan. Jenis-jenis penyu itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu sisik semu (Lepidochelys olivacea) dan penyu pipih (Natator depressa). Hampir seluruh areal pantai kering P. Enu merupa-kan tempat bertelur yang ideal bagi penyu-penyu tersebut. Ironisnya, hasil penelitian la-pangan menunjukkan bahwa hampir di sepanjang pantai P. Enu ditemukan bangkai-bang-kai penyu yang berserakan. Hasil wawancara dan penga-matan langsung di lapangan, ternyata bahwa banyak anggota masyarakat yang bermu-kim di dekat P. Enu, yang karena ketidaktahuan dan tuntutan ekonominya membuat mereka memburu dan membantai reptilia ini. Perilaku menyimpang masyarakat ini kemudian semakin mewabah karena muncul pihak-pihak ketiga yang siap membeli dengan harga yang mahal daging penyu yang berhasil ditangkap oleh masyarakat. Kenyataan-kenyataan di atas ini semakin mengukuhkan pentingnya dilakukan pengembangan dan pengelolaan kegiatan konservasi di P. Enu. Namun hal tersebut harus dimulai dengan kegiatan penyadaran masyarakat melalui pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat, meningkatkan intensitas penyuluhan-penyuluhan perikanan dan kelautan serta sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan di bidang perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Kemudian perlu juga dilakukan sosialisasi peraturan-peraturan perikanan, penguatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan kapabilitas fungsi pengawasan terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi. Seperti telah dikemukakan, bahwa pantai kering P. Enu merupakan tempat yang sangat disenangi oleh penyu untuk bertelur, maka peristiwa ini merupakan sesuatu yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata ilmiah. Peristiwa ini merupakan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 34
    •  peristiwa yang langka dan akan menjadi daya tarik tersendir baik bagi masyarakat umum, ilmuan maupun pencinta alam lain Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 35
    •  KARANG Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Karang yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Berdasarkan perhitungan menggunakan data citra satelit, luas Pulau Karang mencapai 1,419 km2 dengan keliling pulau adalah 4,381 km, sedangkan total luas rataan pasang surut adalah 15,49 km², dengan rataan pasang surut berpasir 3,38 km². Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. TD.100A dan TD.100B dan titik referensi (TR) no. TR.100 dan TR100B. Pulau Karang termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru dan berada dibawah pengawasan dua desa terdekat dengan pulau ini yaitu Desa Longgar dan Desa Apara. Pulau Karang merupakan pulau kecil yang terletak di bagian timur laut pulau Enu. Luas daratanya 3,827 km², dengan bentuk pulau agak bulat. Secara geografis Pulau Karang terletak antara 07o 01’ 08” LS – 134o 41’ 26” BT. Pulau Karang dapat dicapai dari Dobo dengan menggunakan speed boat atau sarana transportasi dan penangkap ikan yang dimiliki masyarakat yaitu “katinting”. Pada saat musim timur maupun musim barat perjalanan menuju pulau ini tidak menyusuri pantai barat P. Trangan (karena jaraknya yang cukup jauh) tetapi melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Karang, atau antara P. Kobror dan P. Maekor kemudian mengikuti selat menuju P. Trangan hingga ke Gomarmeti atau Karey kemudian menuju P. Karang dengan waktu tempuh antara 6 hingga 7 jam. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 36
    •  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi mangrove (65,04%) dan sisanya sebanyak 34,96% ditutupi oleh semak belukar dan tumbuhan jangka panjang. Hutan mangrove mendominasi bagian tengah pulau, sementara semak belukar hampir mengelilingi seluruh areal hutan mangrove. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp), berbagai jenis mangrove dan lain-lain. Substrat dasar lahan P. Karang terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan pesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, dan pandan. Jenis vegetasi lainnya adalah Kayu Mata Ikan, Kayu Sesel Pantai, Kayu Kakoya dan terbesar adalah Kayu Kasuari Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan. Untuk kategori pohon, pemulihan jenis Kayu Besi akan berlangsung lama karena jumlah-nya lebih sedikit dan memiliki pertumbuhan yang lama. Selain itu jenis-jenis vegetasi yang dominan itu, dijumpai beberapa jenis tumbuhan khas pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya diantaranya pohon kayu besi, pohon kayu nani, pohon kelapa dan lain-lain. Didasarkan pada jumlah pohon vegetasi untuk kategori pohon yang demikian besar, dapat dikatakan komunitas teresterial P. Karang ini memiliki kecenderungan untuk berkembang bila dikelola secara baik. Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir diduga mem-pengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Karang memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilia yang termasuk kategori dilindungi yaitu biawak endemik Maluku (Varanus indicus) dan Penyu Hijau. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 37
    •  Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove Ekosistem mangrove pada daerah ini terutama pada zona-zona awal dijumpai jenis mangrove dari famili Rhizophoraceae yang tumbuh dan berkembang dengan baik pada substrat berlumpur. Luas daerah mangrove pada pulau ini adalah 1,419 km2. Jenis-jenis mangrove dari famili Rhizophoraceae mendominasi mangrove P. Karang. Jumlah spesies mangrove yang teridentifikasi sebanyak 9 spesies. Famili Rhizophoraceae biasanya memiliki variasi jenis yang lebih dibanding-kan dengan famili lainnya, pada P. Karang ada 5 spesies dari famili Rhizophoraceae. Mangrove dari jenis Rhyzophora apiculata unggul dalam jumlah individu untuk katagori pohon dengan nilai kerapatan pohon sebesar 5.603 ind/100 m2 Sedangkan jenis R. mucronata nilai kerapatan sebesar 3,16 ind/100 m2 Katagori sapihan mangrove jenis Ceriops tagal memiliki nilai kerapatan sebesar 8,7 ind/25 m2. Untuk katagori anakan, jumlah individu terbanyak diwakili oleh mangrove jenis C. tagal, dengan nilai kerapat-an 9 ind/ m2. Dari hasil survey dapat dikemukakan bahwa dari 9 spesies mangrove pada P. Karang sebagaimana telah dikemukakan, kerapatan total vegeta-si mangrove adalah sebesar 1,0927 tegakan/m2 atau mencapai 10927 tegakan/Ha dimana kerapatan untuk katagori pohon 0,0970 tegakan/m2 atau 970 tegakan/Ha, sapihan 0,3495 tegakan/m2 atau 3495 tegakan/Ha dan kerapatan untuk katagori anakan adalah 0,7462 tegakan/m2 atau sekitar 7462 tegakan/Ha. Diameter rata-rata untuk katagori pohon adalah 28,2 cm dan lebih didominasi oleh mangrove jenis Bruguiera dan Rhyzophora namun ada jenis mangrove yang mempunyai diameter yang cukup besar yaitu mangrove jenis Avicennia marina yang mencapai 47,5 cm. Data yang telah diuraikan memberikan indikasi bahwa mangrove di P. Karang memiliki perkembangan yang baik dalam proses regenerasi terutama mangrove dari famili Rhizophoraceae, perkembangan ini juga ditunjang oleh kondisi substrat yang berlumpur yang merupakan habitat utama mangrove. Tidak ada peman-faatan mangrove pada Pulau ini, hal ini turut menunjang perkembangan mangrove Pulau Karang. Lamun Ekosistem lamun menempati areal yang cukup luas di lingkungan perairan P. Karang dan memiliki penyebaran yang sangat luas yang hampir mengelilingi P. Karang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 38
    •  dengan ketebalan yang cukup baik dengan adanya terumbu karang sehingga menghambat gerakan-gerakan ombak menuju pantai. Di pulau ini terdapat 3 jenis lamun pada stasiun pengamatan di P. Karang. Dari ke tiga jenis lamun yang ada, spesies Siringodium isoetifilium memiliki kehadiran tertinggi pada setiap kuadran penga-matan dan kehadiran terendah diwakili oleh spesies Enhallus acoroides. Kerapatan lamun di Pulau Karang berdasarkan hasil pengamatan ditemukan sebesar 76 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Syringodium isoetifilium sebesar 49.78 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 37.26%; sedangkan kerapatan terendah diwakili oleh jenis Enhallus acoroides yaitu 1.69 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 28.52% Terumbu Karang Berdasarkan pengukuran di lapangan yang diverifikasi dengan hasil analisis data citra satelit ternyata panjang terumbu karang pada perairan pesisir P. Karang mencapai 19,04 km dengan lebar terumbu rata-rata sekitar 665 m. Areal terumbu karang pada bagian barat hingga barat daya tergolong lebar dibanding bagian utara dan timur dari P. Karang. Secara umum, komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Karang dibanding komponen abiotiknya. Fakta ini menunjukan terumbu karang pada pulau kecil perbatasan ini masih baik dengan variasi dan dominansi kom-ponen biotik yang terdapat pada areal terumbunya. Persen tutupan komponen biotik lebih tinggi pada areal terumbu bagian utara dibanding bagian barat pulau. Bila komponen biotik diamati terpisah, maka karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari biota laut lain (moluska, ekhinodermata, algae, spons dan lain-lain). Karang batu kategori Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu dari kategori Non-Acropora. Sementara untuk komponen abiotik, ternyata patahan karang mati (rubbles) memiliki persen tutupan substrat dasar terumbu lebih tinggi dibanding komponen pasir dan karang mati di areal terumbu bagian barat. Sementara untuk areal terumbu bagian utara dari P. Karang ini, ternyata karang mati merupakan komponen abiotik yang menonjol nilai persen tutupan substrat dasarnya. Kategori bentuk pertumbuhan bentik yang dijumpai di terumbu karang P. Karang hanya sebanyak 11 kategori (± 38%) dari total 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 39
    •  yang biasanya ditemukan di ekosistem terumbu karang. Ini menunjukan terumbu karang P. Karang masih dalam proses perkembangan menuju suatu sistem terumbu alami. Kondisi terumbu P. Karang bagian utara tergolong baik, sementara di bagian barat pulau termasuk kategori kurang baik sesuai nilai persen tutupan substrat dasar terumbu oleh karang batu. Karang Acropora dari bentuk tumbuh berca-bang Acropora “digitate” (Gambar. 6 dan Gambar. 7) memiliki persen tutupan subsubstrat dasar lebih tinggi dari Acropora “tabulate” serta bentuk tumbuh dari Acropora “submasif” di perairan pesisir bagian barat. Sementara di perairan pesisir utara pulau ini, ternyata Acropora bercabang dan Acropora “tabulate” memiliki nilai persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari 2 bentuk tumbuh karang Acropora yang lain. Karang batu Non-Acropora di perairan pesisir barat P. Karang tidak bervariasi dengan persen tutupan yang rendah. Sementara di bagian utara pulau kecil ini, ternyata karang batu Non- Acropora dengan nilai persen tutupan yang tinggi adalah karang masif dan submasif. Karang batu Non-Acropora dengan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu yang rendah dibagian utara pulau adalah karang bercabang (CB). Terumbu karang pada perairan pesisir P. Karang ini memiliki 65 spesies karang batu yang termasuk dalam 22 genera dan 12 famili. Variasi jenis karang ini tergolong tinggi dihubungkan dengan sebaran dan luas areal terumbu yang relatif terbatas, serta kondisi perairan dimusim barat yang umumnya keruh akibat aksi gelombang yang menaikan partikel halus substrat dasar perairan sekitar terumbu karang sehingga menjadi pembatas bagi kehadiran sejumlah jenis karang polip kecil yang umumnya peka terhadap tekanan sedimentasi. Famili karang batu dengan kelimpahan jenis yang tinggi adalah Acroporidae (20 spesies), Faviidae (17 spesies), dan Poritidae (6 spesies). Karang batu Acropora “branching” (bercabang) memilki jumlah jenis lebih banyak dibanding jumlah jenis karang dari bentuk tumbuh Acropora yang lain. Sementara karang batu Non-Acropora yang memiliki kelimpahan jenis terbanyak adalah karang masif (CM) yaitu sebanyak 17 jenis dan karang bercabang (CB) sebanyak 7 jenis. Karang batu dari bentuk tumbuh Acropora yang memiliki variasi jenis tergolong rendah di perairan Pulau Karang adalah Acropora encrusting (ACE) dan Acropora submasif (ACS), dimana masing-masing hanya memiliki satu spesies karang. Pada areal terumbu Pulau Karang tidak terdapat nilai tutupan karang batu dari bentuk tumbuh Soliter. Akan tetapi diperairan pesisir pulau kecil perbatasan ini ditemukan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 40
    •  6 spesies karang batu famili Fungiidae yaitu Fungia (Verillofungia) concina, Fungia (Fungia) fungites, Fungia repanda, Fungie echinata, Herplitha limax, dan Polyphyllia talpina. Kenyataan ini terkait erat dengan metode pengamatan, dimana jenis-jenis karang baru dari bentuk tumbuh soliter tersebut tidak dipotong oleh garis transek. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Karang mencapai 77 spesies yang tergolong dalam 47 genera dan 22 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong sangat tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Karang yang tidak terlalu luas dibanding areal terumbu lainnya dalam kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Karang adalah Pomacentridae (13 jenis), Chaetodontidae (10 jenis), Labridae (9 jenis), Serranidae (5 jenis), Lutjanidae (5 jenis) dan Acanthuridae (5 jenis). Selain itu, sebanyak 16 famili ikan karang memiliki jumlah spesies < 5, bahkan 4 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Balistidae, Mullidae, Synodontidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Chaetodon, Lutjanus, Pomacentrus dan Abudefduf memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Selain itu sebanyak 43 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, bahkan 29 diantaranya hanya memiliki 1 spesies. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Karang relatif masih baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Karang lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan konsumsi lebih tinggi dibanding ikan hias. Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Karang termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata ikan karang ’’target species’’ memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang “Major Categories Species” dan “Indicator Species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Hias memiliki kepadatan dan kelimpahan individu lebih rendah dibanding Ikan Konsumsi. Kelimpahan stok (stock abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Karang, juga tergolong tinggi. Ikan karang dari kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki nilai kelimpagan stok, MSY dan JTB lebih tinggi dibanding kelompok MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 41
    •  ikan karang dari kategori Target Species karena ikan konsumsi merupakan gabungan dari kelompok ikan Major Categories Species dan Target Species. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Karang sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Karang yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB jauh lebih tinggi dari Abudefduf vaigiensis dan Chaetodon kleini yang merupakan spesies dengan jumlah individu tertinggi untuk ikan hias. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Abudefduf vaigiensis yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan konsumsi memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang jauh lebih tinggi dari ikan hias. Perikanan Tangkap Perairan sekitar P. Karang lebih sering dimanfaatkan oleh nelayan dari Desa Apara sebagai daerah pe-nangkapan. Walaupun demikian, nelayan lokal dari desa-desa sekitarnya juga memanfaatkan perairan ini sebagai daerah penangkapan. Selain itu, di perairan ini juga beroperasi kapal-kapal penangkap udang penaeid dengan mengguna-kan pukat udang (shrimp trawl)) karena perairan ini baik sebagai daerah penangkapan-nya. Nelayan lokal dari Desa Apara dan desa-desa di sekitarnya menangkap ikan di perairan Pulau Karang dengan menggunakan pancing tangan (hand line) untuk menangkap ikan pelagis kecil, ikan demersal dan ikan karang. Rawai hanyut (drift long line) juga digunakan terutama untuk menangkap ikan hiu (Carcharhinus spp) supaya diambil siripnya, tapi kadangkala ikan tenggiri (Scomberomorus sp) juga ikut tertangkap. Alat tangkap bubu (trap net) dioperasikan oleh mereka dengan menempatkannya di antara karang pada perairan pesisir P. Karang untuk menangkap ikan demersal dan ikan ka-rang. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 42
    •  Jaring insang ha-nyut (drift gill net) digu-nakan untuk menang-kap ikan hiu (Carcharhinus spp) dan teng-giri (Scomberomorus sp). Alat tangkap yang paling sering digunakan adalah jaring insang dasar (bottom gill net) yang ditempatkan di pesisir P. Karang untuk menangkap penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Jumlah pancing tangan (hand line) yang dioperasikan oleh nelayan Desa Apara di per-airan P. Karang sebanyak 4 unit. Rata-rata fre-kuensi penangkapan dengan alat tangkap ini adalah 5 trip/ bulan atau 40 trip/tahun, menghasilkan tangkapan sebanyak ± 800 kg ikan demersal dan ikan ka-rang. Ikan hiu yang ditangkap oleh nelayan dengan menggunakan rawai hanyut (drift long line) mam-pu menghasilkan sirip kering sebanyak 1 – 3 kg/trip/unit. Trip penangkapan dengan rawai hanyut membutuhkan 3 – 5 hari sehingga dalam setahun 1 unit alat tangkap ini mampu menghasilkan sirip ikan hiu kering sebanyak ± 120 kg. Ikan demersal dan ikan karang yang ditangkap dengan bubu (trap net) mampu menghasilkan 0,5 – 3 kg/trip/unit. Tiap trip penangkapan dengan bubu (trap net) membutuhkan 1-2 hari, dan dalam selang waktu 1 bulan nelayan melakukan aktifitas penangkapan sebanyak 10 trip atau dalam setahun 60 trip. dengan alat tangkap ini membutuhkan waktu 3 – 5 hari dan dalam 1 bulan mereka dapat melakukan kegiatan penangkapan sebanyak 4 – 5 trip. Hasil tangkapan ikan tenggiri (Scomberomorus sp) dengan 1 unit jaring insang hanyut pada perairan sebanyak 120 – 400 kg/trip atau sebanyak 5.440 kg/tahun. Jaring insang dasar (bottom gill net) dipasang secara tetap di perairan pantai yang pesisirnya menjadi tempat penyu bertelur. Dengan metode ini, mereka menjerat penyu sebelum penyu tersebut mencapai daratan untuk bertelur. Kondisi ini bertentangan dengan UU No. 5 tahun 1990 dan SK Menhut No. 72/Kpts.II/1991 bahwa daerah pulau Enu, Karang, Jeh, Jin, dan sekitarnya dinyatakan terlarang untuk pengambilan penyu. Daerah ini sebagai cagar alam laut, dan semua penangkapan penyu dinyatakan terlarang dan bagi pelanggar dikenakan hukuman penjara 10 tahun atau denda Rp. 200.000.000.- sesuai ketetapan peraturan tersebut. Pada survei bulan Desember 2005, tim peneliti Universitas Pattimura dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi maluku menemukan banyak be-kas pembantaian penyu di P. Karang dan bahkan menemukan 5 ekor penyu yang baru di tangkap. Penyu-penyu yang ditemukan ini, 3 ekor penyu ditemukan masih masih dalam keadaan hidup dan 2 ekor lainnya sudah mati. Tim peneliti kemudian melepaskan 3 ekor penyu yang masih hidup tersebut kembali ke habitatnya di laut. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 43
    •  Organisme-organisme ini berdasarkan hasil perhitungan, ditemukan bahwa tingkat kepadatan makrofauna bentos (moluska) dari spesies-spesies yang bernilai ekonomis penting untuk spesies dengan nilai kepadatan tertinggi yaitu dari jenis Trochus niloticus, dengan nilai kepadatan 0,5 ind/m2 dan terendah untuk jenis Conus vitullinus, Lambis lambis dan Turbo argyrostoma dengan nilai kepadatan yaitu 0,01 ind/m2. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Karang terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pulau ini memiliki zone pasang surut yang cukup lebar dan luas yakni 5,648 km². Pantai berpasir umumnya ditemukan pada bagian timur dan selatan pulau dengan lebar bervariasi dari 15 – 22 m dengan kemiringan lereng 7 – 12°. Sementara pantai bervegetasi mangrove ditemukan pada sisi utara – timur laut. Proses abrasi intensif terjadi pada beberapa bagian pulau akibat gelombang laut. Rataan pantai kering pulau ini datar dengan material utama pasir, dan dimanfaatkan oleh penyu sebagai lahan bertelur. Vegetasi yang tumbuh umumnya merupa-kan jenis vegetasi lahan kering yang tidak produktif (semak belukar), kasuarina, kayu besi, sesel pantai, dan mata ikan. Sementara rataan pasut ditumbuhi oleh vegetasi lamun dan algae. Di sekitar perairan pulau Karang tidak terdeteksi adanya proses akumulasi pasir koral seperti di pulau zone pasut P.Kultubai, Karawai dan Ararkula. Dengan demikian belum ada peluang terbentuknya pulau baru di kawasan ini. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Karang sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 44
    •  Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan Sepetember-Nopember. Pasang surut di P. Karang terjadi dua kali sehari. Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar perairan P. Karang didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut cukup lemah dan berkisar dari 10 – 25,8 cm/detik tetapi saat air bergerak pasang kecepatan arus cukup tinggi yakni 30 - 65 cm/detik. Di luar zone pasut, terutama pada sisi timur pulau, kecepatan arus sangat tinggi dan membentuk pusaran arus yang mengalir ke arah selatan – barat daya. Kondisi ini cukup berbahaya bagi penyelam di kawasan ini. Gelombang di perairan P. Karang merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Gelombang pecah di pantai pulau ini yaitu “plunging”. Gelombang pecah tersebut sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai pulau. Pada bagian utara – timur laut, kondisi perairan relatif tenang sehingga membantu proses pertumbuhan mangrove dan dimanfaatkan oleh nelayan sebagai basecamp untuk perburuan penyu hijau. Sementara pada bagian lain, kondisi perairan relatif bergolak jika digerakkan oleh angin musim. Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Karang pada bulan Desember 2005 berkisar antara 30,0– 30,2 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai pertengahan perairan P. Karang pada bulan yang sama berkisar dari 33,0 - 34 ppt. Kecerahan air disekitar P. Karang memiliki tingkat kecerahan tinggi < 7 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Karang sebesar 0,009 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Karang. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penangkapan udang dengan trawl terutama pada bagian Barat pulau. Sedangkan pada bagian Timur dari P. Karang sumber utama partikel tersus-pensi berasal dari daerah di sekitar ekosistem mangrove yang tipe substrat dasarnya lumpur, terutama pada musim Barat. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Karang, sebesar 6,60 ppm dan Nilai pH berkisar antara 8,60 - 8,61. Sedangkan untuk nilai zat hara seperti kandungan fosfat, nitrit dan nitrat di perairan sekitar, sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan. Selain pasang surut, faktor musim tampaknya memberi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 45
    •  kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat yang ditemukan adalah sebesar 0,09 mg/ltr, nitrit 0,005 mg/ltr), sementara kadar nitrat sebesar 0,15 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Konservasi Salah satu upaya pengembangan pengelolaan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan adalah dengan menerapkan konsep konservasi yang memberikan perlindungan bagi sumberdaya pesisir dimaksud. Sumberdaya pesisir ini salah satunya harus memenuhi persyaratan kelangkaan, berperan penting dalam ekosistem, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan kawasan ekowisata. Pulau Karang merupakan salah satu Pulau yang termasuk dalam Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Setidaknya terdapat empat jenis organisme yang dilindungi (terdiri dari tiga jenis mamalia laut dan satu jenis reptilia) yang ditemukan pada perairan pesisir dan laut sekitar P. Karang. Mamalia laut yang dimaksud adalah Lumba-Lumba, Dugong (Duyung) dan Paus. Lumba-Lumba sering terlihat berenang pada perairan laut P. Enu yang agak dalam sebagai jalur migrasinya untuk berbagai tujuan hidup, terutama untuk mencari makan. Jenis Lumba-Lumba yang dimaksud adalah Pseudorca crassidens, dan Globicephalla macrorhynchus. Sementara jenis dugong yaitu Dugong dugon sering hadir pada perairan pesisir P. Karang berkaitan dengan tujuan memanfaatkan jenis-jenis lamun sebagai sumber makanannya. Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya bekas-bekas jalur makan dari MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 46
    •  dugong. Sementara itu, secara temporal jenis paus yaitu Physeter catodon (Sperm Whale) sering juga terlihat melintasi perairan pesisir dan laut sekitar P. Karang yang relatif dalam. Hasil-hasil penelitian memberikan informasi bahwa sebanyak 4 jenis penyu yang menggunakan pantai kering P. Karang untuk bertelur atau perairan pesisir sebagai tempat mencari makan. Jenis-jenis penyu itu adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu sisik semu (Lepidochelys olivacea) dan penyu pipih (Natator depressa). Hampir seluruh areal pantai kering P. Karang merupakan tempat bertelur yang ideal bagi penyu-penyu tersebut. Ironisnya, hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa hampir di sepanjang pantai P. Karang ditemukan bangkai-bangkai penyu yang berserakan. Hasil pengamatan langsung di lapangan, ternyata bahwa masyarakat yang datang ke P. Karang, yang karena ketidaktahuan dan tuntutan ekonominya membuat mereka memburu dan membantai reptilia ini. Perilaku menyimpang masyarakat ini kemudian semakin mewabah karena muncul pihak-pihak ketiga yang siap membeli dengan harga yang mahal daging penyu yang berhasil ditangkap oleh masyarakat. Kenyataan-kenyataan di atas ini semakin mengukuhkan pentingnya dilakukan pengem-bangan dan pengelolaan kegiatan konservasi di P. Karang. Namun hal tersebut harus dimulai de-ngan kegiatan penyadaran masyarakat melalui pendekatan dengan tokohtokoh masyarakat dari Desa Longgar dan Desa Apara yang mempunyai pertuanan pada P. Karang tersebut, meningkatkan intensitas penyuluhan-penyuluhan perikanan dan kelautan serta sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan-pelatihan di bidang perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Kemu-dian perlu juga dilakukan sosialisasi peraturan-peraturan perikanan, penguatan kapasitas kelembaga-an dan peningkatan kapabilitas fungsi pengawasan terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi. Pariwisata Pulau Karang merupakan salah satu pulau yang mempunyai potensi pariwisata yang sangat besar salah satunya yaitu wisata ilmiah. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pantai kering P. Karang merupakan tempat yang sangat disenangi oleh penyu untuk bertelur, dan perairan pantai P. Karang ini juga merupakan daerah migrasi dari lumbalumba. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang langka dan akan menjadi daya tarik tersendiri baik bagi masyarakat umum, ilmuan maupun pencinta alam lainnya. Demikian juga penelitian terhadap mamalia laut, sperti dugong dan ikan paus. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 47
    •  Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 48
    •  KARAWEIRA / KAREREI Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Karerei merupakan salah satu pulau kecil terluar (perbatasan) yang terdapat di Provinsi Maluku. Pulau ini sering juga disebut dengan nama Pulau Karaweira, namun masyarakat sekitar lebih mengenal nama Karerei. Pulau ini merupakan pulau yang tidak berpenghuni dengan luas kurang lebih 0.68 km2. Pulau ini memiliki Titik Dasar (TD) No. 098 dan Titik Referensi (TR) No. 098. Secara administrasi Pulau Karerei masuk dalam administrasi Desa Mariri, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dan secara geografis Pulau Karerei terletak antara 05o 57’ 26” LS dan 134o 51’ 31” BT. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan Desa Mariri dengan ibukota Kabupaten Kepulauan Aru (Dobo) maupun dengan Kecamatan Aru Tengah. Sehingga untuk mencapai pulau ini harus mencarter speed boat dari Dobo. Untuk mencapai Pulau Karerei dapat melewati selat antara Pulau Wokam dan Pulau Kobror dengan waktu tempuh antara 5 jam hingga 6 jam dengan menggunakan speed boat dari Dobo. Sarana transportasi laut lain adalah yang dimiliki masyarakat Desa Mariri, berupa katinting yang digunakan untuk menangkap ikan maupun untuk pergi ke ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten, namun waktunya tidak tentu karena tergantung kebutuhan masyarakat. Sedangkan untuk mencapai Pulau Karerei dari Desa Mariri dengan menggunakan speed boat ditempuh dalam waktu antara 30 menit hingga 45 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 49
    •  menit, sedangkan dengan menggunakan katinting dapat ditempuh dalam waktu antara 1 jam hingga 1 jam 30 menit. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Pulau Karerei selalu diakses oleh masyarakat dari Desa Mariri yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 507 jiwa (laki-laki 262 jiwa dan perempuan 245 jiwa) dan Kojabi sebanyak 1127 jiwa (laki-laki 596 jiwa dan perempuan 531 jiwa). Mariri memiliki jumlah kepala keluarga sebanyak 120 KK, 85 % kepala keluarganya laki-laki dan 15 % lainnya perempuan. Sedangkan di Kojabi kepala keluarga berjumlah 256 KK, 85,55 % kepala keluarganya laki-laki dan 14,45 % lainnya perempuan. Kelompok penduduk umur produktif di Mariri mencapai 59,37 %, sedangkan di Kojabi mencapai 56,43 %. Sesuai potensi sumber daya manusia tersebut, kegiatan ekonomi yang dikembangkan oleh masyarakat hanya mampu membentuk kelompok keluarga di atas garis kemiskinan (menurut kriteria BKKBN) rata-rata sebesar 10,66 %, dimana Mariri sebesar 10 % dan Kojabi sebesar 11,33 %. Ini menunjukan bahwa rata-rata keluarga miskin yang ada sebesar 88 – 90 %. Berdasarkan distribusi keluarga miskin tersebut, 60 % KK di Mariri dan 74,22 % KK di Kojabi berada pada garis kemiskinan akibat alasan ekonomi. Paling tidak kondisi ini masih memberikan indikasi akses masyarakat yang sangat lemah terhadap kegiatan produksi. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Pulau Karerei memiliki tingkat keanekaragaman flora relatif kecil. Hal ini ditunjukkan tidak adanya kawasan hutan alam yang memiliki tingkat heterogen tumbuhan. Jenis tumbuhan yang teridentifikasi diantaranya merupakan vegetasi budidaya seperti kelapa serta jenis tumbuhan seperti pandanus serta semak belukar yang tumbuh hampir menutupi sebagian besar dari bagian pulau ini. Rendahnya keanekaragaman flora di pulau ini dikarenakan struktur tanah yang kurang baik untuk pertumbuhan maupun perkembangan dari vegetasi yang tumbuh dan berkembang di pulau ini. Disamping itu masyarakat yang mengakses pulau ini tidak menjadikan pulau ini sebagai lahan pertanian maupun perkebunan karena alasan di atas. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 50
    •  Lamun Berdasarkan survei yang dilakukan, di Pulau Karerei ditemukan sebanyak 6 jenis lamun. Dari keenam jenis lamun yang ada, spesies Cymodocea rotundata merupakan jumlah terbanyak sedangkan spesies Halophilla ovalis jumlahnya sedikit. Terumbu Karang Berdasarkan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu oleh karang batu menurut bentuk tumbuh koloni (Tabel 3), ternyata karang batu kategori Acropora dari bentuk tumbuh bercabang (ACB) memiliki persen tutupan substrat dasar yang tinggi di areal terumbu Pulau Karerei Besar. Sementara untuk karang batu dari kategori Non-Acropora, ternyata karang batu dari bentuk tumbuh masif (CM) memiliki persen tutupan substrat dasar tertinggi dibanding bentuk tumbuh koloni karang batu lainnya. Selain itu, karang batu dari kategori Acropora maupun Non-Acropora memiliki bentuk tumbuh koloni relatif tidak bervariasi. Terumbu karang Pulau Karerei Besar hanya memiliki 28 jenis karang batu (hard coral) yang termasuk dalam 17 genera dan 7 famili. Famili karang batu dengan jumlah jenis terbanyak adalah Faviidae (6 jenis) dan famili Poritidae (5 jenis). Famili karang dengan jumlah jenis terendah yaitu Helioporidae dan famili Oculinidae, dimana masingmasing memiliki 1 jenis. Kekayaan atau variasi jenis ka-rang di areal terumbu Pulau Karerei Besar ini tergolong rendah, dimana fakta ini kemungkinan disebabkan oleh dua faktor utama yaitu: (1). Terjadi sedimentasi secara periodik menurut periode pasang surut yang menimbulkan kekeruhan sehingga menghambat pertumbuhan/perkembangan karang, serta (2) Substrat dasar terumbu yang lunak sehingga tidak ideal sebagai substrat penyokong bagi larva dan karang untuk melekat, tumbuh dan berkem-bang menjadi karang dewasa. Karang batu dari kategori Non-Acropora memiliki jumlah jenis lebih banyak dibanding karang batu kategori Acropora. Karang masif memiliki jumlah jenis lebih menonjol dibanding 5 bentuk tumbuh koloni karang batu kategori Non-Acropora yang lain. Sementara karang batu dari kategori Acropora, ternyata semua bentuk tumbuh koloni memiliki jumlah jenis tergolong rendah. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 51
    •  Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu Pulau Karerei mencapai 46 spesies yang tergolong dalam 32 genera dan 20 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu Pulau Karerei yang tidak luas dibanding areal terumbu lainnya seperti Pulau Kultubai Selatan. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang Pulau Karerei adalah Pomacentridae (10 jenis), Chaetodontidae (8 jenis), dan Labridae (5 jenis). Sebanyak 19 famili lainnya memiliki jumlah spesies < 5, dimana 8 famili dian-taranya hanya memiliki satu spesies yakni Apogonidae, Atherinidae, Balistidae Centropomidae, Cirrhitidae, Dasyatidae, Haemulidae, Mullidae dan Pomacanthidae. Ikan karang dari genus Lethrinus, Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Selain itu sebanyak 29 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, dimana 21 genera diantaranya hanya memiliki satu spesies. Rendahnya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang Pulau Karerei relatif kurang baik. Perikanan Tangkap Nelayan melakukan aktifitas penangkapan ikan di daerah penangkapan ikan sekitar Pulau Karerei pada musim Barat sebab perairan tidak berombak. Pada musim Timur dari bulan Mei sampai Agustus (4 bulan) kondisi perairan berombak, sehingga tidak memungkinkan untuk melaut. Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan teknologi penangkapan ikan yang masih tradisional, terutama oleh nelayan-nelayan yang berasal dari Desa Mariri yang memiliki hak ulayat pada kawasan ini. Nelayan dari desa-desa sekitarnya juga turut memanfaatkan perairan di kawasan Pulau Karerei sebagai daerah penangkapan ikan, yakni dari Desa/Dusun Koijabi, Jursiang, Sewer dan Kumul. Perairan di sebe-lah Timur Pulau Karerei menjadi daerah penangkapan udang penaeid dan ikan demersal yang sangat poten-sial. Hal ini ditandai dengan banyak kapal-kapal pukat udang (shrimp trawl) dan pukat ikan (fish net) yang secara komersial melakukan aktifitas penangkapan ikan di sana. Alat penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan di kawasan ini, terdiri dari gancu/ ”kalawai” dan tombak (spear gun) yang dipergunakan terutama pada saat air surut, panah (arrow), pancing tangan (hand line) dan jaring insang hanyut (drift gill net). Operasi penangkapan dengan alat tangkap pancing tangan (hand line) dilakukan menggunakan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 52
    •  perahu tanpa motor dan jaring insang hanyut (drift gill net) untuk menang-kap ikan hiu (Carcharhinus spp.) menggunakan kapal motor. Metode penangkapan kerang mutiara yang dipergunakan masih sederhana dan bahkan hanya dengan menyelam tanpa menggunakan peralatan untuk mengumpulkan kerang mutiara (Pinctada maxima) dan teripang (Holothuridae). Para nelayan penyelam siput mutiara yang melakukan aktifitas penangkapan secara rutin terutama bukan berasal dari desa-desa disekitar Pulau Karerei. Produksi ikan hasil tangkapan nelayan yang menangkap ikan di perairan sekitar Pulau . Karerei tidak terpantau dan terdata jumlah-nya. Hasil tangkapan nela-yan di kawasan ini pada umumnya di pasarkan di kapal-kapal penampung yang berlabuh di perairan sebelah timur Pulau Karerei. Kapal-kapal penampung ini, selain membeli ikan dari para nelayan lokal, juga membeli ikan hasil tangkapan sampingan (by catch) dari kapal pukat udang (shrimp trawl) yang beroperasi di kawasan ini. Makrobentos Perairan pesisir (daerah intertidal) Pulau Karerei dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan pada lokasi perairan Pulau Karerei adalah dari kelompok moluska yang secara keseluruhan berjumlah 39 jenis dan diantaranya terdapat 10 spesies yang memiliki nilai ekonomis. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Karerei merupakan kelompok gugusan pulau kecil yang terbagi atas dua bagian yakni Karerei Besar (1 buah pulau dengan nama Karerei Besar dengan luas 1,781 km²) dan Karerei Kecil (6 buah pulau, hanya 1 pulau yang diberi nama pulau Doriau dengan luas 0,3755 km²). Topografi Pulau Karerei relatif sama dengan pulau-pulau kecil lainnya yang terdapat di gugus Kepulauan Aru yaitu berdataran rendah. Pulaunya terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir putih dan pantai berbatu dengan tebing terjal (cliff). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 53
    •  Pantai berpasir memiliki lebar bervariasi dari 20 – 45 m dan letaknya pada bagian Timur- Utara pulau. Pantai tebing terjal terdapat pada hampir seluruh bagian pulau baik di Karerei Besar maupu Karerei Kecil. Secara geomorfologis pulau pulau Karerei mengalami proses abrasi intensif di sepanjang pantai yang disebab-kan oleh gempuran gelombang musim. Pulau ini memiliki rataan pasang surut yang sangat lebar dan luas seperti halnya dengan P. Ararkula. Luas total rataan pasang surut pulau pulau Karerei kecil berdasarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 21,32 km². Rataan pasut Karerei Besar 38,23 km² dan di bagian Utara barat laut zone pasut itu ditemukan zone akumulasi pasir koral seluas 12,50 km². Pada wilayah antar pulau dan bagian selatan pulau-pulau Karerei Kecil, proses akumulasi pasir koral terjadi secara intensif membentuk rataan pasut berpasir yang cukup luas. Proses ini sangat berpotensi menjadi pulau baru. Aktivitas pengambilan pasir di gosong pasir kawasan ini jarang dilakukan sehingga secara geomorfologis proses pembentukan pulau kecil akan terjadi secara cepat. Akumulasi pasir koral dan pertumbuhan karang yang cepat dapat menjadi ancaman bagi pelayaran kapal niaga maupun kapal perikanan jika tidak dilengkapi sistem sonar dan peta batimetri terbaru. Tahun 1990 kapal ikan asing karam diperairan Pulau Karerei Kecil bagian Selatan karena tidak dilengkapi dengan peta batimetri yang mutakhir. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut bervariasi. Zona pantai kering di pulau-pulau ini didominasi oleh pantai berbatu gamping dengan tebing terjal, namun pada beberapa bagian pulau zona pantai kering dengan substrat pasir cukup luas yang ditumbuhi oleh vegetasi kelapa dan semak belukar pantai. Pada umumnya zona pasut P. Karerei Kecil didominasi oleh substrat lunak yang tersusun dari komponen pasir kasar hingga pasir halus yang ditumbuhi vegetasi lamun. Sementara pada bagian lainnya memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen karang dan hancuran karang yang ditumbuhi oleh alge. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk Pulau Karerei sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2.000–3.000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh Pulau Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 54
    •  antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan Sepetember-Nopember. Pasang surut (Pasut) di Pulau Karerei terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar Pulau Karerei didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut cukup lemah dan berkisar dari 5,5 – 15,4 cm/detik setapi saat air bergerak pasang kecepatan arus cukup tinggi yakni 30 – 56 cm/detik. Arus pasang bergerak ke arah Barat Daya, dan arah angin dari Barat – Barat Laut. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi Timur dan Barat pulau dengan kisaran 15 – 62 cm/detik yang mengarah ke Selatan hingga Barat Daya. Gelombang di perairan Pulau Karerei merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Terdapat 2 tipe gelombang pecah di pantai Pulau Karerei yaitu “spilling”, dan “plunging” dengan dominasi “plunging”. Energi gelombang “plunging” sangat ber-peran terhadap pembentukan morfologi tebing terjal pantai di sisi timur dan barat Pulau Karerei. Proses abrasi oleh gelombang dan arus menyebabkan beberapa bagian pantai tebing di bagian utara Barat Laut terpisah dari pulau induknya membentuk steak. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang musim timur dan Barat sangat dominan pengaruhnya terhadap pulau Karerei. Secara umum bagian utara pulau umumnya memiliki perairan yang relatif tenang dari bagian lainnya dan memiliki pantai berpasir yang lebar. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan peman-faatan sumberdaya perikanan. Suhu rata-rata di perairan sekitar Pulau Karerei pada bulan Desember 2005 berkisar antara 28,2o–30,60C. Nilai rata-rata salinitas di lapisan permukaan perairan Pulau Karerei pada bulan yang sama sebesar 30 ppt. Air memiliki tingkat kecerahan < 6 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar Pulau Karerei sebesar 0,015 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar Pulau Karerei. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penangkapan udang dengan menggunakan jaring trowl. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 55
    •  Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan Pulau Karerei, berkisar antara 6,0 – 6,50 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar Pulau Karerei pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,08 - 8,33. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar Pulau Karerei sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat rata-rata pada bulan Desember 2005 adalah 0,66 mg/ltr, nitrit (0,007 mg/ltr), sementara kadar nitrat adalah sebesar 1,00 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki, maka Pulau Karerei dan perairan disekitarnya dapat dikembangkan menjadi usaha perikanan yang produktif. Usaha ini meliputi penangkapan, budidaya dan juga pengelohan hasil perikanan. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 56
    •  KULTUBAI SELATAN Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Kultubai Selatan merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar di Kabupaten Kepulauan Aru. Menurut hasil verifikasi nama pulau yang dilakukan oleh Tim Pembakuan Nama Rupabumi, nama pulau ini adalah Pulau Kultubai. Sedangkan masyarakat setempat memberi nama pulau ini Pulau Kultubai Besar. Kata Kultubai berasal dari kata Kult yang artinya pasir dan ubai yang artinya baru timbul. Total luas dataran P. Kultubai berdasarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 6.808 km2 dengan keliling pulau 30.31 km. Di pulau ini terdapat titik dasar no. TD.100 dan titik referensi no. TR.100. Secara administratif, pulau yang tidak berpenghuni ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Sedangkan secara geografis, letak astronomis dari Pulau Kultubai adalah antara 06o 52’ 15” LS – 134o 43’ 09” BT. Tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan P. Kultubai maupun Desa Longgar dengan ibukota kabupa-ten (Dobo) atau dengan ibukota kecamatan (Benjina), sehingga untuk mencapai P. Kultubai harus mencarter speed boat dari Dobo. Untuk mencapai P. Kultubai, perjalanan dilakukan dengan melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Kultubai dengan waktu tempuh antara 5 hingga 6 jam dengan menggunakan speed boat dari Dobo. Sarana transportasi laut yang dimiliki masyarakat Desa Longgar dan Desa Apara berupa “Katinting” yang digunakan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 57
    •  untuk menangkap ikan maupun untuk pergi ke ibukota kecamatan maupun kabupaten, namun waktunya tidak menentu karena tergantung kebutuhan masyarakat. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Masyarakat yang mengakses Pulau Kultubai berasal dari desa Gomar-sungai dan Gomarmeti. Gomarsungai memiliki jumlah penduduk sebanyak 207 jiwa, laki-laki berjumlah 101 jiwa dan perempuan 106 jiwa. Sedangkan Gomarmeti berpenduduk 583 jiwa, laki-laki sebanyak 284 jiwa dan perempuan 299 jiwa. Berdasakan kelompok umur, penduduk usia produktif di Gomarsungai sebesar 65,70 % dan di Gomarmeti 66,55 %. Distribusi penduduk usia produktif ini seharusnya menjadi kekuatan bagi tiap desa untuk mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Distribusi kepala keluarga di kedua desa ini masing-masing, di Gomarsungai sebanyak 45 KK, kepala keluarga laki-laki 33 orang dan kepala keluarga perempuan 12 orang. Sedangkan di Gomarmeti jumlah kepala keluarga 104 KK, laki-laki 86 orang dan perempuan 18 orang. Berdasarkan distribusi tingkat kesejahteraan keluarga menurut kriteria BKKBN, Gomarsungai hanya memiliki keluarga sejahtera sebesar 22,22 % dan Gomarmeti sebesar 11,54 %. Hal ini berarti masyarakat yang mengakses Pulau Kultubai masih memiliki kelompok masyarakat di bawah garis kemiskinan lebih dari 77 %. Kondisi ini tidak seharusnya terjadi apabila masyarakat dapat meningkatan akses mereka dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki. Dengan demikian sangat diharapkan adanya upaya pengembangan kapasitas masyarakat dalam kegiatan produksi dan akses terhadap distribusi hasil produksinya. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Vegetasi terestrial di lingkungan ekosistem P. Kultubai yang teridentifikasi yaitu sebagian besar daratan ditutupi semak belukar dan tumbuhan jangka panjang. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kasuari , ketapang, pandanus, kelapa dan lain-lain. Substrat dasar lahan P. Kultubai terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Didasarkan pada jumlah pohon vegetasi untuk kategori pohon yang demikian besar, dapat dikatakan komunitas teresterial Pulau ini memiliki kecenderungan untuk berkembang bila MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 58
    •  dikelola secara baik. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan. Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir diduga mempengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Kultubai memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta salah satu reptilia yang termasuk kategori dilindungi yaitu biawak endemik Maluku (Varanus indicus) dan Penyu Hijau. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove P. Kultubai merupakan salah satu pulau terluar di Kepulauan Aru yang telah ditetapkan Pemerintah dengan Peraturan Pemerintah No 75 Tahun 2005 yang memiliki komunitas mangrove yang tidak terlalu padat, pada daerah ini dijumpai 10 spesis mangrove, dimana luas daerah mangrove pada pulau ini adalah 0,515 km2. Mangrove dari famili Rhizophoraceae merupakan famili yang unggul dalam jumlah spesies dan merupakan famili yang mempunyai jumlah individu terbanyak terutama untuk katagori pohon (P). Famili Rhizophoraceae biasanya memiliki variasi jenis yang lebih dibanding-kan dengan famili lainnya yang masing-masing diwakili satu jenis. Mangrove dari jenis Rhyzophora apiculata unggul dalam jumlah individu untuk katagori pohon dengan nilai kerapatan pohon sebesar 4,15 ind/100 m2 Sedangkan jenis Bruguiera gymnorrhiza. nilai kerapatannya sebesar 3,80 ind/100 m2 Katagori sapihan mangrove jenis Aegiceras corniculatum memiliki nilai kerapatan sebesar 5 ind/25 m2. Untuk katagori anakan, jumlah individu terbanyak diwakili oleh mangrove jenis Aegiceras corniculatum dengan nilai kerapatan 11 ind/m2 dan diikuti oleh mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza. mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza mempunyai perkembangan relatif lebih baik karena ditunjang oleh kondisi substrat yang agak lempung. Nilai kerapatan total vegetasi mangrove dari 10 spesies mangrove pada P. Kultubai adalah sebesar 0,9025 tegakan/m2 atau mencapai 9025 tegakan/Ha dimana kerapatan untuk katagori pohon 0,0826 tegakan/m2 atau 826 tegakan/Ha, sapihan 0,3195 tegakan/m2 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 59
    •  atau 3195 tegakan/Ha dan kerapatan untuk katagori anakan adalah 0,5004 tegakan/m2 atau sekitar 5004 tegakan/Ha. Diameter rata-rata untuk kategori pohon tergolong kecil namun ada jenis mangrove yang mempunyai diameter yang cukup besar yaitu mangrove jenis S. alba yang mencapai 53,5 cm. Data yang telah diuraikan memberikan indikasi bahwa mangrove di P. Kultubai memiliki perkembangan yang baik terutama mangrove dari famili Rhizophoraceae. Jenis Bruguiera gymnorrhiza merupakan jenis yang tumbuh baik pada daerah substrat yang agak lempung pada daerah pasang tinggi. Dari hasil temuan di lapangan, ekosistem mangrove pada pulau ini masih alami karena tidak ada gangguan dari aktivitas manusia. Padang Lamun Kerapatan lamun di P. Kultubai berdasarkan hasil pengamatan dite-mukan sebesar 45.26 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymodocea rotundata sebesar 17.16 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 30.22%; sedangkan kerapatan terendah diwakili oleh jenis Enhallus acoroides yaitu 2.53 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 30.94%. Terumbu Karang Data hasil pengukuran lapangan yang diverifikasi menggunakan data citra satelit meng-hasilkan informasi yaitu panjang terumbu karang pada perairan pesisir P. Kultubai mencapai 62,21 km dengan lebar terumbu yang relatif kecil yaitu antara 5 – 50 meter dibanding areal padang lamun dan pasir yang sangat lebar hingga mencapai 4,5 km. Karang ditemukan tumbuh sepanjang areal-areal kanal yang dangkal dan sebaran karang batu hanya ditemukan mencapai kedalaman 3 meter. Bila terjadi surut sebagian terumbu termasuk karangnya mengalami kekeringan atau terbuka terhadap udara. Hasil analisis komponen terumbu menunjukan komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Kultubai dibanding komponen abio-tiknya. Kenyataan ini mengindikasikan terumbu karang pulau kecil ini kurang baik berda-sarkan persen tutupan komponen karang batu, walaupun nilai persen tutupan komponen biota bentik lain yang relatif menonjol, tetapi hanya diwakili oleh alga dengan nilai persen tutupan substrat dasar mencapai 22,26%. Bila diamati secara terpisah, maka untuk komponen biotik, ternyata karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari biota laut lain (alga dan spons). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 60
    •  Karang batu dari kategori Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu dari kategori Non-Acropora. Sementara untuk kompo-nen abiotik, ternyata persen tutupan karang mati yang ditiutupi alga (DCA) lebih tinggi dari patahan karang mati (rubbles) dan pasir. Sesuai nilai persen tutupan substrat dasar terumbu oleh karang batu menurut bentuk tumbuh koloni, ternyata karang batu kategori Acropora dari bentuk tum-buh bercabang (ACB) memiliki persen tutupan substrat dasar yang tinggi di areal terumbu Pulau Kultubai, dan fakta menunjukan hanya diwakili bentuk tumbuh karang batu Acropora tersebut. Selain itu, karang batu dari kategori Acropora maupun Non-Acropora memiliki bentuk tumbuh koloni relatif kurang bervariasi. Terumbu karang P. Kultubai hanya memiliki 46 jenis karang batu (hard coral) yang termasuk dalam 20 genera dan 8 famili. Famili karang batu dengan jumlah jenis terbanyak adalah Faviidae (17 jenis) dan famili Acroporidae (15 jenis). Famili karang dengan jumlah jenis terendah adalah Helioporidae dan Oculinidae (masing-masing hanya memiliki 1 jenis). Kekayaan atau variasi jenis karang di areal terumbu P. Kultubai ini tergolong cukup baik bila dikaitkan dengan kondisi perairannya yang selalu keruh pada saat periode air bergerak pasang maupun surut akibat adanya sedimentasi yang disebabkan aliran massa air yang besar pada kanal-kanal yang relatif tidak lebar dan dalam yang mengangkut pasir halus di dasar kanal. Karang batu dari kategori No-Acropora memiliki jumlah jenis lebih banyak dibanding karang batu kategori Acropora 416,5 cm, dengan diameter koloni rata-rata mencapai 59,6 cm. Akibat diameter koloni karang batu rata-rata yang cukup besar itu menyebabkan kepadatan karang batu pada areal terumbu ini tergolong rendah yaitu mencapai 2,9 koloni per m2. Dua jenis karang yang memiliki diameter koloni rata-rata yang besar dan memberikan kontribusi yang nyata terhadap kepadatan koloni karang batu yang rendah itu adalah Acropora microphythalma (190,6 cm) dan Acropora brueggemani (107,5 cm). Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Kultubai mencapai 60 spesies yang tergolong dalam 42 genera dan 24 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Kultubai yang cukup luas dibanding areal terumbu lainnya dalam kawasan Cagar Alam Laut Aru Tenggara. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Kultubai adalah Pomacentridae (13 jenis), Labridae (5 jenis) dan Lutjanidae (5 jenis). Selain itu, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 61
    •  sebanyak 21 famili ikan karang lainnya memiliki variasi jenis yang rendah (< 5 jenis) bahkan 7 famili diantaranya memiliki satu spesies yakni Blenidae, Centropomidae, Carangidae, Pomacanthidae, Mullidae, Atherinidae, dan Dasyatidae. Ikan karang dari genus Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini, sebanyak 40 genera lainnya memiliki jumlah spesies < 3, bahkan 28 genera diantaranya hanya memiliki satu spesies. Rendahnya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Kultubai relatif kurang baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Kultubai lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan hias relatif lebih rendah dibanding ikan konsumsi. Data yang didapat menyatakan bahwa kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Kultubai termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang Major Categories species memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang Target Species dan Indicator Species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu lebih rendah dibanding Ikan Hias. Hasil estimasi menunjukan ikan karang kategori Target Species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki biomassa (berat basah) relatif cukup rendah per Ha di terumbu karang P. Kultubai ini. Nilai sediaan cadang (sanding stock), perkiraan pemanfaatan secara lestari (MSY) dan perkiraan pemanfaatan secara berkelanjutan (JTB) dari sumberdaya ikan karang di perairan karang P. Kultubai termasuk rendah dihubungkan dengan dimensi dan kondisi terumbu karang sebagai habitat hidupnya. Hasil-hasil analisis secara terpisah memperlihatkan nilai sediaan cadang dan MSY dari ikan karang kelompok Major categories species jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Target species dan Indicator spesies. Sementara sediaan cadang dan MSY dari sumberdaya ikan karang yang termasuk kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi lebih rendah dari kelompok ikan hias. Tingginya nilai sediaan cadang dari Major Categories Species disebabkan oleh kehadiran jenis ikan Atherinomorus endrachtensis dengan kelimpahan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 62
    •  individu yang besar atau sebagai jenis ikan karang yang predominan. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Kultubai sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Kultubai yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Atherinomorus endrachtensis sangat predo-minan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan hias, maka Atherinomorus endrachtensis memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Siganus canaliculatus. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Atherinomorus endrachtensis sebagai Major Categories Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Siganus canaliculatus yang termasuk Target Species dan Chaetodon kleini sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Perikanan Tangkap Perairan yang termasuk dalam wilayah P. Kutubai Selatan merupakan daerah penangkapan yang baik bagi nelayan. “Saaru” yang banyak di perairan pesisir menjadikannya potensial bagi aktifitas penangkapan ikan secara tradisional. Wilayah ini lebih sering di akses oleh nelayan dari Desa Longgar terutama memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut yang tersedia di sana. Masyarakat lainnya yang turut mengakses ke wilayah ini berasal dari Desa Apara. Aktifitas penangkapan ikan di perairan sekitar P. Kultubai oleh nelayan lokal sekitarnya masih sangat terbatas. Kondisi ini diakibatkan karena teknologi penangkapan yang dimiliki oleh mereka juga masih tradisional. Aktifitas penangkapan dilakukan menggunakan pancing tangan (hand line), bubu (trap net) dan jaring insang hanyut (drift gill net). Selain itu, terkadang nelayan menangkap (mengumpulkan) teripang dan moluska di daerah pasang surut wilayah ini. Nelayan sekitar yang menyelam untuk mencari siput mutiara (Pinctada maxima) sangat jarang dilakukan dibandingkan dengan nelayan dari luar kawasan ini. Daerah penangkapan sebelah Timur perairan P. Kultubai, banyak beroperasi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 63
    •  kapal-kapal trawler untuk menangkap udang penaeid dengan menggunakan pukat udang (shrimp trawl). Produksi hasil tangkapan ikan oleh nelayan lokal dari wilayah ini, pada umumnya terdiri dari ikan demersal dan ikan karang yang ditangkap dengan menggunakan pancing tangan(hand line) dan bubu (trap net). Sepanjang musim Timur dan musim pancaroba, 1 (satu) unit pancing tangan hanya beroperasi sebanyak 48 trip dengan hasil tangkapan 1-5 kg/trip atau rata-rata 2,5 kg/trip. Produksi 10 unit pancing tangan milik nelayan sekitarnya yang beroperasi di perairan P. Kultubai dalam setahun rata-rata sebesar ± 1.200 kg. Alat tangkap bubu (trap net) yang biasanya dioperasikan di perairan ini sebanyak 15 unit. Sepanjang tahun setiap unit alat tangkap ini hanya dioperasikan sebanyak 32 trip dan 1 unit bubu (trap net) rata-rata menghasilkan ikan tangkapan sebanyak 3 kg/trip. Dengan demikian, produksi per tahun ikan demersal dan ikan karang oleh alat tangkap bubu (trap net) dari perairan P. Kultubai sebanyak ± 1.440 kg Di perairan P. Kultubai ha-nya beroperasi satu unit jaring insang hanyut (drift gill net) untuk menangkap ikan hiu (Carcharhinus spp.) yang dimiliki oleh nelayan lokal. Alat tangkap ini dioperasikan dengan menggunakan kapal motor berme-sin dalam yang dapat menghasilkan sirip hiu kering sebanyak ± 168 kg/tahun. Makro Bentos Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Kultubai dan laut sekitarnya me-nyimpan sejumlah potensi sumberdaya mak-ro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekino-dermata (teripang). Jenis-jenis makrobentos yang dite-mukan pada lokasi perairan P. Kultubai adalah dari kelompok moluska yang secara keseluruhan berjumlah 27 jenis dan diantaranya terdapat 7 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Berdasarkan hasil perhitungan ditemukan bahwa tingkat kepadatan makrofauna bentos (moluska) dari spesies-spesies yang bernilai ekonomis penting tertinggi yaitu dari jenis Strombus mutabilis, dengan nilai kepadatan 0,08 ind/m2 dan terendah untuk jenis Turbo agryrostoma dengan nilai kepadatan yaitu 0,01 ind/m2. Sumberdaya Non Hayati MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 64
    •  Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Topografi pulau Kultubai berdataran rendah seperti halnya pulau-pulau lainnya di kepulauan Aru. Pulaunya terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pulau ini memiliki zona pasang surut yang sangat lebar dan luas seperti halnya dengan P. Kultubai Utara, P. Ararkula dan Karawaira. Luas total zone pasang surut pulau Kultubai berda-sarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 98,99 km². Zona ini membentuk dangkalan laguna yang sangat luas. Subtratnya bervariasi dari pasir hingga fragmen koral dan bongkahan karang, yang ditumbuhi oleh vegetasi lamun dan alge. Pada bagian pesisir utara pulau ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Sebagaimana P. Kultubai Utara, P. Kultubai memiliki bentuk yang unik. Bentuk pulau agak melengkung ke utara dengan bagian barat hampir sama panjang dengan bagian timur, dan membentuk teluk. Luas daratan pulau adalah 0,6271 km². P. Kultubai lebih dinamik akibat proses geomorfologis yang digerakkan gelombang dan arus musim. Pada dasarnya pulau ini merupakan suatu dataran yang melengkung, namun terpotong oleh kuatnya tenaga gelombang dan membentuk laguna di bagian utara pulau. Pintu masuk (inlet) ke laguna mengalami dinamika musiman. Pada musim Barat, inlet akan tertutup oleh akumulasi pasir yang sangat luas, sementara pada musim Timur akumulasi pasir akan mengalami deformasi, dan massa air dari bagian selatan dapat menjangkau laguna. Lereng gisik bervariasi dari 8 – 18° dengan lebar 19 – 40 m. Proses abrasi sangat intensif terjadi pada sisi selatan hingga timur pulau dan ditunjukkan oleh tumbangnya vegetasi pantai seperti pandan dan vegetasi lainnya. Sementara pada kedua sisi pulau yang menjorok ke utara mengalami proses deposisional yang intensif membentuk spit, dan dataran pantainya ditumbuhi vegetasi kasuarina. Rataan pasut dengan material pasir cukup lebar ( 0,5 – 2,0 km) dan polanya memanjang melingkari pulau Kultubai sampai pulau Jeudin. Hal ini menunjukkan bahwa proses deposisional berlangsung efektif dan berpotensi melebarkan dataran pulau dan membentuk profil laguna yang luas. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Kultubai sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 65
    •  curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan Sepetember-Nopember. Pasang surut (Pasut) di P. Kultubai terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar perairan P. Kultubai didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pada kondisi perairan tenang pada zona pasut cukup lemah dan berkisar dari 5,9 – 15,8 cm/detik tetapi saat air bergerak pasang kecepatan arus cukup tinggi yakni 28 – 55 cm/detik. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi Timur dan Barat pulau dengan kisaran 16 – 59 cm/detik yang mengarah ke Selatan hingga Barat Daya. Gelombang di perairan P. Kultubai merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Gelombang pecah di pantai Kultubai yaitu plunging. Gelombang pecah tersebut sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai di sisi Timur, Barat dan Selatan pulau. Proses abrasi oleh gelombang dan arus menyebabkan pantai Selatan - Timur mengalami abrasi intensif. Perairan bagian utara pulau relatif tenang dari bagian lainnya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Suhu rata-rata di perairan sekitar Pulau Kultubai pada bulan Desember 2005 berkisar antara 29,0– 30,0 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai pertengahan perairan P. Kultubai pada bulan yang sama berkisar dari 33,5 - 34 ppt. Kecerahan air disekitar P. Kultubai memiliki tingkat kecerahan tinggi < 9 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Kultubai sebesar 0,004 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Kultubai. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penangkapan udang dengan trowl terutama pada bagian Barat pulau. Sedangkan pada bagian Timur dari P. Kultubai sumber utama partikel tersuspensi berasal MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 66
    •  dari daerah di sekitar ekosistem mangrove yang tipe substrat dasarnya lumpur, terutama pada Musim Barat. Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Kultubai, yang merupakan salah satu pulau kecil perbatasan diukur pada bulan Desember 2005 sebesar 6,50 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Kultubai pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,19 - 8,50. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Kultubai sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat pada bulan Desember 2005, sebesar 0,04 mg/ltr, nitrit 0,007 mg/ltr), sementara kadar nitrat sebesar 1,00 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Konservasi Salah satu batasan dan karakteristik pulau-pulau kecil adalah memiliki sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi. Oleh karena itu, kebijakan pemberlakuan daerah konservasi pada pulau-pulau kecil akan bernilai positif dalam melindungi keanekaragaman hayati (kelangkaan/kekhasan organisme) yang dimiliki oleh pulau-pulau kecil, karena pulau kecil sering menjadi tempat yang langka tetapi ekosistemnya peka sehingga banyak spesies yang punah akibat kurangnya kebijakan dalam bidang konservasi. Keberadaan beberapa jenis penyu, yang menetaskan telurnya dan mencari makan pada pesisir pantai P. Kultubai, adalah patut untuk dilindungi. Kebijakan ini patut dilakukan untuk melindungi spesies ini dari kepunahan mengingat semakin meningkatnya MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 67
    •  intensitas aksi perburuan dan pembantaian penyu yang dilakukan pada sejumlah pulaupulau perbatasan Kepulauan Aru. Sosialisasi daripada pemberlakukan kebijakan ini sangat perlu untuk digencarkan mengingat seringkali yang menjadi penyebab terjadinya pelanggaran ini adalah bukan hanya karena kelalaian dan tuntutan ekonomi, melainkan karena kurangnya informasi/pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Walaupun P. Kultubai memiliki keberadaan komunitas mangrove yang tidak terlalu padat, namun keberadaan komunitas ini tetap memiliki fungsi ekologis yang sangat penting dalam ekosistem. Oleh karena itu, penetapan daerah hutan mangrove P. Kultubai sebagai kawasan konservasi, juga penting dilakukan. Pariwisata Kondisi perairan pesisir dan laut P. Kultubai serta berbagai organisme yang ada di dalamnya, dapat menjadi prospek yang menjanjikan bagi dunia pariwisata untuk dikembangkan, khususnya bagi pengembangan wisata ilmiah dan wisata bahari. Sebagaimana sejumlah pulau-pulau perbatasan lainnya pada Kabupaten Kepulauan Aru, pesisir pantai P. Kultubai juga merupakan tempat yang disenangi oleh penyu untuk bertelur. Fenomena ini merupakan fenomena yang cukup langka yang dapat memiliki nilai jual yang tinggi baik bagi para ilmuan, masyarakat umum maupun pencinta wisata ilmiah lainnya. Di lain sisi, keadaan alam laut P. Kultubai juga tidak kalah indah dan dapat menjadi andalan sektor wisata bahari (terutama snorkling/scuba diving dan fishing sports). Hal ini disebabkan karena pemandangan bawah air P. Kultubai cukup indah untuk ditelusuri. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 68
    •  KULTUBAI UTARA Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Pulau Kultubai Utara yang merupakan salah satu pulau kecil terluar yang ada di Kabupaten Kepulauan Aru. Berdasarkan perhitungan menggunakan citra satelit, total luas daratan P. Kultubai Utara adalah 0,6271 km2, dengan keliling pulau ini 84,867 km. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no 099A dan titik referensi (TR) no. 099. Pulau Kultubai Utara secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Secara geografis, pulau ini terletak pada koordinat 06o 41’ 13” LS – 134o 47’ 31” BT. Masyarakat setempat memberi nama pulau ini Kultubai kecil. Kata Kultubai berasal dari kata Kult yang artinya pasir dan ubai yang artinya baru timbul. Pulau Kultubai Utara tidak berpenghuni, tetapi masyarakat yang berasal dari Desa Mesiang serta Gomo-gomo menjadikan pulau dan perairan sekitarnya sebagai tempat mencari nafkah. Sarana transportasi umum atau reguler yang menghubungkan P. Kultubai Utara maupun Desa Mesiang dan Desa Gomo-gomo dengan ibukota Kabupaten Kepulauan Aru (Dobo), sehingga untuk mencapai P. Kultubai Utara harus mencarter Speed Boat. Untuk mencapai P. Kultubai Utara pada saat musim Timur maupun musim Barat, perjalaan dari Dobo dengan menggunakan speed boat ditempuh melewati rute selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun, kemudian menuju P. Kultubai Utara dengan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 69
    •  waktu tempuh antara 4 jam 30 menit hingga 5 jam. Sarana lain yang dapat digunakan adalah sarana yang dimiliki masyarakat Desa Mesiang dan Desa Gomo-gomo berupa “Katinting” yang digunakan untuk menangkap ikan maupun untuk pergi ke ibukota kecamatan atau kabupaten, namun waktunya tidak menentu, tergantung kebutuhan masyarakat. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Jenis-jenis vegetasi yang teridentifikasi di pulau ini antara lain mangrove (85,04%) dan sisanya sebanyak 34,96% ditutupi oleh semak belukar. Hutan mangrove mendominasi bagian selatan pulau, semen-tara semak belukar berada pada bagian tengah pulau. Jenisjenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain kangkung laut (Ipomea pescapre), Kasuari (Casuarina sp), berbagai jenis mangrove dan lain-lain. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan. Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir diduga mempengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Kultubai Utara memiliki beberapa jenis fauna. Jenis fauna dimaksud adalah beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta kadal. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Mangrove P. Kultubai utara adalah pulau terluar di Kepulauan Aru yang telah ditetapkan Pemerintah dengan Peraturan Pemerintah No 75 Tahun 2005 pada kordinat 06038”50” S dan 134050”12” T memiliki vegetasi mangrove, pada daerah ini dijumpai beberapa jenis mangrove yang tumbuh dengan baik, dimana luas daerah mangrove pada pulau ini adalah 2858 km2. Mangrove dari famili Rhizophoraceae merupakan famili yang mendominasi dalam jumlah spesies dan merupakan famili yang mempu-nyai jumlah individu terbanyak baik untuk katagori pohon (P), sapihan (S) maupun anakan (A). Jumlah spesies mangrove MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 70
    •  yang ditemui saat survei lapangan sebanyak 9 spesies, tergolong sedikit dimana hal ini merupakan ciri penting dari ekosistem mangrove. Famili Rhizophoraceae biasanya memiliki variasi jenis yang lebih dibanding-kan dengan famili lainnya yang masing-masing diwakili satu jenis. Mangrove dari jenis Rhyzophora apiculata unggul dalam jumlah individu untuk katagori pohon dengan nilai kerapatan pohon sebesar 4,75 ind/100 m2, sedangkan jenis R. mucronata nilai kerapatan sebesar 3,86 ind/100 m2 Katagori sapihan mangrove jenis Ceriops tagal memiliki nilai kerapatan sebesar 7 ind/25 m2 Untuk katagori anakan, jumlah individu terbanyak diwakili oleh mangrove jenis C. tagal, dengan nilai kerapatan 9 ind/m2 Dari hasil pengamatan mangrove jenis C. tagal jarang dijumpai dalam katagori pohon (P) dalam jumlah yang besar hal ini disebabkan pada fase sapihan (S) jenis ini sudah berproduksi, hal yang sama tidak dijumpai pada mangrove jenis R. apiculata. Kerapatan total vegetasi mangrove dari 9 spesies mangrove pada P. Kultubai Utara adalah sebesar 1,0270 tegakan/m2 atau mencapai 10270 tegakan/Ha dimana kerapatan untuk katagori pohon 0,0874 tegakan/m2 atau 874 tegakan/Ha, sapihan 0,3495 tegakan/m2 atau 3495 tegakan/Ha dan kerapatan untuk katagori anakan adalah 0,5901 tegakan/m2 atau sekitar 5901 tegakan/Ha. Diameter rata-rata untuk kategori pohon tergolong kecil namun ada jenis mangrove yang mempunyai diameter yang cukup besar yaitu mangrove jenis S. alba yang mencapai 57,5 cm. Data yang telah diuraikan memberikan indikasi bahwa mangrove di P. Kultubai Utara memiliki perkembangan yang baik terutama mangro-ve dari famili Rhizophoraceae. Padang Lamun Di pulau ini terdapat 4 jenis lamun pada stasiun pengamatan di P. Kultubai Utara. Dari ke empat jenis lamun yang ada, spesies Cymodocea rotundata memiliki kehadiran tertinggi pada setiap kuadran pengamatan dan kehadiran terendah diwakili oleh spesies Enhallus acoroides. Kerapatan lamun di P. Kultubai Utaraberdasarkan hasil pengamatan ditemu-kan sebesar 59,0 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymo-docea rotundata sebesar 23 tegakan/m2 dengan persen penutupan relatif sebesar 38.98%; sedangkan kerapatan terendah diwakili oleh jenis Halophilla ovalis yaitu 13 ind/m2 dengan persen penutupan relatif 22.03%. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 71
    •  Terumbu Karang Data hasil pengukuran lapangan yang diverifikasi menggunakan data citra satelit menghasilkan informasi yaitu panjang terumbu karang pada perairan pesisir P. Kultubai Utara mencapai 3,6 km dengan lebar terumbu rata-rata sekitar 587 m. Terumbu karang pulau kecil ini berkembang mengelilingi pulau. Areal terumbu karang di bagian timur dan Utara dari pulau kecil terluar ini tergolong lebar dibanding Selatan dan Barat. Terumbu karang pada perairan pesisir P. Kultubai Utara ini memiliki 60 spesies karang batu yang termasuk dalam 20 genera dan 12 famili. Variasi jenis karang ini tergolong tidak tinggi dihubungkan dengan sebaran dan luas areal terumbu yang relatif cukup besar, walaupun ukuran pu pulau yang relatif kecil disertai kondisi perairan dimusim barat yang umumnya relatif keruh akibat aksi gelombang yang menaikan partikel halus substrat dasar perairan sekitar terumbu karang sehingga menjadi pembatas bagi kehadiran sejumlah jenis karang polip kecil yang umumnya peka terhadap tekanan sedimentasi. Famili karang batu dengan kelimpahan jenis yang tinggi adalah Acroporidae (18 spesies), Faviidae (15 spesies), dan Poritidae (6 spesies). Karang batu Acropora “branching” (bercabang) memilki jumlah jenis lebih banyak dibanding jumlah jenis karang dari bentuk tumbuh Acropora yang lain. Sementara karang batu Non-Acro-Non-Acropora dengan kelimpahan jenis terbanyak adalah karang masif (CM) yaitu sebanyak 16 jenis dan karang bercabang (CB) sebanyak 8 jenis. Karang batu dari bentuk tumbuh Acropora yang memiliki variasi jenis tergolong rendah di perairan. P.Kultubae Utara adalah Acropora ebcrusting (ACE) dan Acropora submasif (ACS), dimana masing-masing hanya diwakili oleh satu spesies karang. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Kultubai Utara mencapai 53 spesies yang tergolong dalam 37 genera dan 21 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Kultubai Utara yang tidak luas dibanding areal terumbu lainnya seperti P. Kultubai Selatan. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Kultubai Utara ada lah Pomacentridae (13 jenis), Labridae (5 jenis) dan Lutjanidae (5 jenis). Selain itu, ada sebanyak 18 famili ikan karang lainnya memiliki variasi jenis terendah (< 5 spesies), bahkan 10 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Blenidae, MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 72
    •  Centropomidae, Haemulidae, Dasyatidae, Apogonidae, Nemipteridae, Scaridae, Mullidae, Atherinidae dan Balistidae. Ikan karang dari genus Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini, sedangkan sebanyak 35 genera lainnya memiliki variasi jenis yang tergolong rendah (< 3 spesies), bahkan 25 genera diantaranya hanya memiliki satu spesies. Rendahnya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Kultubai Utara relatif kurang baik. Kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Kultubai Utara lebih tinggi dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara ber-dasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan konsumsi relatif lebih tinggi dibanding ikan hias. Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Kultubai Utara termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang Major Categories species memiliki kepadatan dan kelimpahan individu ter-tinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang Target Species dan Indicator Species. Dilihat dari aspek pemanfaatan, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu lebih rendah dibanding Ikan Hias. Hasil estimasi menunjukan ikan karang kategori Target Species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki biomassa (berat basah) relatif rendah per Ha di terumbu karang P. Kultubai Utara ini. Nilai sediaan cadang (standing stock), perkiraan pemanfaatan secara lestari (MSY) dan perkiraan pemanfaatan secara berkelanjutan (JTB) dari sumberdaya ikan karang di perairan karang P. Kultubai Utara termasuk besar dihubungkan dengan dimensi dan kondisi terumbu karang sebagai habitat hidupnya. Hasil-hasil analisis secara terpisah memperlihatkan nilai sediaan cadang dan MSY dari ikan karang kelompok Target species jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indicator spesies tetapi lebih rendah dari Major categories species. Sediaan cadang dan MSY dari sumberdaya ikan karang yang termasuk kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi lebih rendah dari kelompok ikan hias. Tingginya nilai sediaan cadang dari Major Categories Species tersebut disebabkan oleh kehadiran jenis ikan Atherinomorus endrachtensis dengan kelimpahan individu yang besar atau sebagai jenis ikan karang yang predominan. Kelimpahan stok (Stock Abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Kultubai Utara, juga tergolong relatif tinggi. Ikan karang dari kriteria pemanfaatan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 73
    •  sebagai ikan konsumsi memiliki nilai kelimpagan stok, MSY dan JTB relatif lebih tinggi dibanding kelompok ikan karang dari kategori Target Species karena ikan konsumsi merupakan gabungan dari sebagian kelompok ikan Major Categories Species dan Target Species Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Kultubai Utara sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Kultubai Utara yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Atherinomorus endrachtensis sangat predominan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain. Sesuai kriteria pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi, maka Lutjanus carponotatus memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih rendah dari Chromis viridis. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Atherinomorus endrachtensis sebagai Major Categories Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadat-an individu, sediaan cadang, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis ikan predominan lainnya yaitu Lutjanus carponotatus yang termasuk Target Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sedia-an cadang jauh lebih tinggi dari ikan konsumsi. Selain data hasil analisis yang telah disajikan, maka dari gambar-gambar yang ditampilkan menunjukan bahwa terumbu karang P. Kultubai Utara menyimpan potensi jenis ikan hias laut yang bernilai tinggi untuk industri akuarium. Selain itu perairan karang pulau kecil perbatasan ini me-nyimpan potensi jenis-jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu dan ekor kuning, maupun ikan yang dikonsumsi masyarakat lokal (nelayan). Perikanan Tangkap Pulau Kultubai Utara dan perairannya merupakan wilayah yang sering diakses oleh masyarakat Desa Mesiang dan Desa Gomo-Gomo. Masyarakat di kedua desa ini secara bersama memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Perairan sekitar P. Kultubai Utara lebih dominan memiliki kedalaman yang rendah karena ter-dapat banyak “saaru” di sana. Pada waktu tertentu disaat air laut surut, perairan pantai Pulau Kultubai Utara dikelilingi oleh perairan yang sangat dangkal (< 1 m) yang berjarak mencapai lebih MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 74
    •  dari 1 km dari daratannya. Kondisi ini menyebabkan kapal-kapal maupun perahu sulit untuk menjangkau daratan Pulau Kultubai Utara. Aktifitas penangkapan ikan lebih dominan dilakukan di perairan di luar batas “saaru” tersebut. Nelayan lokal dari Desa Mesiang dan Gomo-Gomo serta beberapa desa lainnya di sekitar P. Kultubai Utara menangkap ikan hanya pada musim Barat dan musim pancaroba, yakni bulan September sampai bulan April. Alat tangkap yang digunakan adalah panah (arrow), pancing tangan (hand line) dan perangkap ikan/”bubu” (trap net). Operasi penangkapan ikan di perairan sekitar P. Kultubai Utara dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja. Perairan di sekeliling P. Kultubai Utara, dimanfaatkan oleh nelayan pencari siput mutiara (Pinctada maxima) yang menangkapnya dengan cara menyelam. Per-airan sebelah Timur Pulau Kultubai Utara merupakan daerah penangkapan yang ideal bagi kapal-kapal penangkap udang penaeid. Kapal-kapal ini, secara komersial beroperasi menggunakan pukat udang (shrimp trawl). Di perairan ini juga beroperasi kapal-kapal penangkap ikan berskala industri dengan menggunakan pukat ikan (fish trawl). Selain itu, beberapa kapal penampung ikan juga terlihat berlabuh di perairan ini untuk membeli ikan hasil tangkapan sampingan dari kapal-kapal pukat udang. Makro Benthos Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Kultubai Utara dan laut sekitarnya menyimpan sejumlah potensi sumberdaya makro benthos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro benthos di-maksud antara lain moluska (siput dan kerang) serta ekinodermata (teripang). Jenis-jenis makrobenthos yang ditemukan pada lokasi perairan Pulau Kultubai Utara adalah dari kelompok moluska yang secara keseluruhan berjumlah 26 jenis dan diantaranya terdapat 7 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Berdasarkan hasil perhitungan ditemukan bahwa tingkat kepadatan makro-fauna benthos (moluska) dari spesies-spesies yang bernilai ekonomis penting tertinggi yaitu dari jenis Gafrarium tumidum dan Trochus niloticus, dengan nilai kepadatan masing-masing 0,05 ind/m2 dan terendah untuk jenis Conus marmoreus, Cypraea tigris, Tridacna gigas dan Turbo bruneus dengan nilai masing-masing kepadatan yaitu 0,01 ind/m2.. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 75
    •  Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Kultubai Utara merupakan pulau kecil dengan bentuk yang unik. Bentuk pulau agak melengkung ke utara dengan bagian baratnya lebih panjang dari bagian timur, dan membentuk teluk. Luas daratan pulau adalah sekitar 0,6271 km². Topografi P. Kultubai Utara berdataran rendah seperti halnya pulau-pulau lainnya di kepulauan Aru. Secara geologi, pulau ini terbentuk dari jenis batuan gamping koral dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir putih dan pantai berbatu. Pantai Kultubai memiliki lebar yang bervariasi dari 50 – 100 m dan letaknya pada bagian Timur–Barat pulau. Secara geomorfologis P. Kultubai Utara sedang dalam proses pertumbuhan-nya terutama di bagian barat. Abrasi intensif terjadi di sepanjang pantai yang disebabkan oleh gempuran gelombang musim terutama musim Timur dan musim Barat. Pulau ini memiliki zone pasang surut yang sangat lebar dan luas seperti halnya dengan P. Ararkula dan Karaweira. Luas total zone pasang surut P. Kultubai Utara berdasarkan data Landsat 7 ETM+ adalah 48,74 km². Zone ini membentuk dangkalan yang sangat luas. Subtratnya bervariasi dari pasir hingga fragmen koral dan bongkahan karang, yang ditumbuhi oleh vegetasi lamun dan alge. Proses akumulasi pasir koral terjadi secara intensif membentuk zone pasiran yang cukup luas. Proses ini sangat berpotensi menjadi pulau baru. Tidak ada aktivitas pengambilan pasir di kawasan ini dan sehingga secara geomorfologis proses pertum-buhan pulau akan terjadi secara cepat. Namun demikian akumulasi pasir koral dan pertumbuhan karang yang cepat dapat menjadi ancaman bagi pelayaran kapal niaga maupun kapal perikanan jika tidak dilengkapi sistem sonar dan peta batimetri terbaru. Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P. Kultubai Utara sesuai klasifi-kasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 de-ngan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 76
    •  Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan Sepetember-Nopember. Pasang surut (Pasut) di Pulau Kultubai Utara terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Kultubai Utara didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut cu-kup lemah dan berkisar dari 5,9 – 15,8 cm/detik setapi saat air bergerak pasang kecepatan arus cukup tinggi yakni 35 – 52 cm/detik. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi timur dan barat pulau dengan kisaran 17 – 58 cm/detik yang mengarah ke Selatan hingga Barat Daya. Gelombang di perairan P. Kultubai Utara merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Terdapat 2 tipe gelombang pecah di pantai P. Kultubai Utara yaitu spilling, dan plunging dengan dominasi plunging. Kedua tipe gelombang tersebut sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai di sisi timur, barat dan utara P. Kultubai. Proses abrasi oleh gelombang dan arus menyebabkan beberapa bagian pan-tai tebing di bagian utara Barat dan Tenggara mengalami abrasi. Secara umum bagian utara pulau memiliki perairan yang relatif tenang dari bagian lainnya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Suhu rata-rata di perairan sekitar Pulau Kultubai Utara pada bulan Desember 2005 berkisar antara 29,1 – 29,4 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai per-tengahan perairan P. Kultubai Utara pada bulan yang sama berkisar dari 34 - 35 ppt. Kecerahan air disekitar P. Kultubai Utara memiliki tingkat kecerahan tinggi < 7 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Kultubai Utara berkisar dari 0,011 – 0,042 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Kultubai Utara. Sumber utama partekel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penangkapan udang dengan troul terutama pada bagian barat pulau. Sedangkan pada bagian timur dari P. Kultubai Utara sumber utama partikel tersuspensi berasal dari daerah di sekitar ekosistem mangrove yang tipe substrat dasarnya lumpur, terutama pada musim Barat. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 77
    •  Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Kultubai Utara, yang merupakan salah satu pulau kecil perbatasan ini antara 6,0 – 7,9 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Kultubai Utara pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,09 - 8,47. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Kultubai Utara sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat pada bulan Desember 2005, sebesar 0,01 mg/ltr, nitrit 0,004 mg/ltr), sementara kadar nitrat sebesar 0,5 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisa-ta bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Pesisir pantai P. Kultubai Utara merupakan tempat penyu bertelur. ni untuk. Hal ini mem-berikan indikasi Hal ini menunjukkan bahwa P. Kultubai Utara perlu direkomendasikan untuk dijadikan kawasan konservasi bagi perlindungan penyu. Kawasan lainnya yang juga dapat dijadikan kawasan konservasi adalah kawasan hutan mangrove. Seperti telah diuraikan di atas bahwa luas hutan mangrovenya yang mencapai 2858 km2 memberikan indikasi bahwa lingkungan pesisir pantai P. Kultubai Utara sangat mendukung pertumbuhan daripada ekosistem khas tropis ini. Perlindungan hutan mangrove pulau ini perlu dilakukan karena pentingnya fungsi ekologis hutan mangrove terhadap organisme-organisme lain yang berasosiasi dengannya. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 78
    •  PANAMBULAI Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN KEPULAUAN ARU Kecamatan : ARU TENGAH Koordinat : Gambaran Umum Penambulai yang merupakan salah satu dari 8 pulau kecil terluar (perbatasan) di Kabupaten Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 099 dan titik referensi (TR) no 099. Luas Pulau Penambulai mencapai 130,5 km2 ADMINISTRATIF Secara administratif pulau ini termasuk dalam wilayah Desa Warabal (Rabal), Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. GEOGRAFI Secara geografis pulau ini terletak antara 06o 22’ 54” LS – 134o 46’ 24” BT. Pada masa lampau di P. Penambulai, terdapat dua buah desa yaitu Desa Warabal (Rabal) dan Desa Jambu Air, namun sekarang masyarakat Desa Jambu Air telah berpindah ke P. Barakan tetapi tetap mengakses pulau tersebut hingga kini. AKSESIBILITAS Pada saat ini, tidak ada transportasi umum atau reguler yang menghubungkan Desa Warabal dengan ibukota Kabupaten Kepulauan Aru, Dobo maupun dengan ibukota Kecamatan Aru Tengah, Benjina, sehingga untuk mencapai P. Penambulai harus mencarter speed boat dari Dobo. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 79
    •  Perjalanan menujuju P. Penambulai menggunakan speed boat ditempuh dengan dengan melewati selat antara P. Kobror dan P. Maekor hingga P. Baun kemudian menuju P. Penambulai dengan waktu tempuh antara 6 jam hingga 7 jam. Sarana transportasi laut yang dimiliki masyarakat Desa Warabal berupa “Katinting” yang digunakan untuk menangkap ikan maupun untuk pergi ke ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten, namun waktunya tidak menentu karena tergantung kebutuhan masyarakat Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Pulau Penambulai sekarang ditempati oleh masyarakat desa Warabal, dengan jumlah pen-duduk sebanyak 240 jiwa, laki-laki berjumlah 116 jiwa dan perempuan 124 jiwa. Berdasakan kelom-pok umur, penduduk usia produktif di Warabal sebesar 62,08 %. Distribusi penduduk usia produk-tif ini seharusnya menjadi kekuatan bagi desa ini untuk mengembangkan ekonomi masyarakatnya. Distribusi kepala keluarga di desa ini sebanyak 59 KK, kepala keluarga laki-laki 51 orang dan kepala keluarga perempuan 8 orang. Berdasarkan distribusi tingkat kesejahteraan keluarga menurut kriteria BKKBN, Warabal hanya memiliki keluarga sejahtera sebesar 13,56 %. Hal ini berarti masyarakat yang mengakses Pulau Penambulai masih memiliki kelompok masyarakat di bawah garis kemiskinan lebih dari 86 %. Kondisi ini tidak seharusnya terjadi apabila masyarakat dapat meningkatan akses mereka dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dimiliki. Dengan demikian sangat diharapkan adanya upaya pengembangan kapasitas masyarakat dalam kegiatan produksi dan akses terhadap distribusi hasil produksinya. Pengembangan konservasi pada P. Penambulai diarahkan pada konservasi kawasan hutan mangrove. Hal ini dilatarbelakangi oleh keberadaan hutan mangrove pada bagian timur pulau ini dengan kepadatan yang cukup tinggi. Namun akan sangat disayangkan jika keberadaan hutan mangrove ini lama kelamaan akan semakin tereduksi akibat tekanan aktifitas manusia. Hal ini dapat terjadi karena P. Penambulai merupakan satu-satunya pulau yang berpenghuni dari sejumlah pulau-pulau perbatasan pada Kabupaten Kepulauan Aru. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan kawasan hutan mangrove P. Penambulai sebagai kawasan konservasi dan perlindungan hutan mangrove, sehingga fungsi ekologis ekosistem ini tetap terjaga. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 80
    •  Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Vegetasi terestrial di lingkungan ekosistem P. Penambulai mempunyai heterogenitas flora yang kompleks. Ini ditunjukkan dengan adanya tumbuhan-tumbuhan rakyat yang ditanam maupun maupun yang sudah ada dari dulu. Jenis-jenis tumbuhan yang teridentifikasi yang merupakan tanaman rakyat yaitu mangga, kelapa, jambu dan tumbuhan perkebunan lainnya seperti ketela pohon maupun yang sudah ada dari dulu. Jenis-jenis tumbuhan yang teridentifikasi yang merupakan tanaman rakyat yaitu mangga, kelapa, jambu dan tumbuhan perkebunan lainnya seperti ketela pohon, ubi kayu, ubi jalar dll. Sementara itu pohon-pohon pandan juga mendominasi vegetasi teresterial pada P. Penembulai tersebut. Hutan mangrove mendominasi bagian timur pulau. Jenis-jenis vegetasi pantai yang terdapat di pulau ini antara lain, Kasuari, Kayu Besi serta berbagai jenis tanaman lainnya. Substrat dasar lahan P. Penambulai terdiri dari tanah berpasir hingga berlumpur. Berkaitan dengan sebaran vegetasi menurut tanah lahan, maka bagian lahan pesisir didominasi oleh jenis-jenis vegetasi kasuari, dan pandan. Data vegetasi teresterial memberikan indikasi bahwa bila ada gangguan yang cukup berarti terhadap ekosistem teresterial, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk pemulihan. Kondisi flora yang terdapat di lingkungan ekosistem daratan maupun pesisir diduga mempengaruhi keanekaragaman jenis fauna di kawasan ekosistem tersebut. Lingkungan teresterial P. Penambulai memiliki beberapa jenis fauna liar dari kelompok burung (termasuk burung laut), serta fauna peliharaan masyarakat seperti anjing, unggas dan ayam. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove P. Penambulai memiliki komunitas mangrove yang cukup padat. Pada daerah ini dijumpai beberapa spesis mangrove yang tumbuh dan berkembang pada substrat pasir berlumpur maupun lumpur. Mangrove dari famili Rhizophoraceae merupakan famili yang menduduki urutan pertama dalam jumlah spesies dan merupakan famili yang mempunyai jumlah individu terbanyak baik untuk kategori pohon (P), sapihan (S) maupun anakan (A). Jumlah spesies mangrove pada P. Penambulai memiliki keragaman yang rendah, jenis MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 81
    •  mangrove yang teridentifikasi sebanyak 11 spesies, tergolong sedikit dimana hal ini merupakan ciri penting dari ekosistim mangrove. Kesebelas spesies mangrove yang teridentifikasi terdiri dari 7 famili, 5 spesis dari famili Rhizophoraceae dan biasanya famili ini memiliki variasi jenis yang lebih dibandingkan dengan famili lainnya, famili lainnya masing-masing diwakili satu jenis. Mangrove dari jenis Rhyzophora apiculata unggul dalam jumlah individu untuk kategori pohon dengan nilai kerapatan pohon sebesar 4,75 ind/100 m2 diikuti jenis Bruguiera gymnorrhiza nilai kerapatan sebesar 3,86 ind/100 m2. Untuk kategori sapihan, mangrove jenis Ceriops tagal memiliki nilai kerapatan sebesar 7 ind/25 m2. Untuk kate-gori anakan, jumlah individu terbanyak diwakili oleh mangrove jenis C. tagal, dengan nilai kerapatan 6 ind/m2 diikuiti B. gymnorrhiza 2 ind/m2. Dari hasil pengamatan, mangrove jenis C. tagal dan B. gymnorrhiza merupakan jenis dengan tingkat adaptasi terhadap kondisi substrat berlumpur relatif baik. Kerapatan total vegetasi mangrove dari 11 spesies mangrove pada P. Penambulai adalah sebesar 0.9287 tegakan/m2 atau mencapai 9287 tegakan/Ha dimana kerapatan untuk katagori pohon 0,0814 tegak-an/m2 atau 814 tegakan/Ha, sapihan 0,3491 tegakan/m2 atau 3491 tegakan/Ha dan kerapatan untuk katagori anakan adalah 0,5982 tegakan/m2 atau sekitar 5982 tegak-an/Ha. Diameter rata-rata untuk katagori pohon lebih didominasi oleh mangrove jenis R. apiculata dan jenis B. gymnorrhiza yang tergolong kecil, Sedangkan jenis mangrove yang mempunyai diameter yang cukup besar dari jenis S. alba yang menca-pai 57 cm. Data yang telah diuraikan memberikan indikasi bahwa proses regenerasi mangrove di P. Penambulai memiliki perkembangan yang baik terutama mangrove dari famili Rhizophoraceae. Terumbu Karang Data hasil analisa data citra satelit yang diverifikasi dengan pengukuran lapangan memberikan informasi yaitu panjang terumbu karang di pesisir P. Penambulai mencapai 14,54 km dengan lebar terumbu 1,45 km. Karang ditemukan tumbuh dan berkembang baik pada zona pertengahan terumbu hingga zona tepi tubir. Hasil analisis terhadap kom-ponen penyusun terumbu karang P. Penambulai menunjukan komponen biotik mendominasi substrat dasar dari terumbu karang P. Penambulai nilai persen tutupan komponen bio-tik lebih tinggi di-banding kompo-nen abiotiknya (Tabel 4). Kenyataan tersebut mengindikasikan terumbu karang pulau kecil ini masih tergo-long baik walaupun persen tutupan karang batu hanya mencapai 42,04%. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 82
    •  Akan tetapi nilai persen tutupan karang batu, maka gabungan nilai persen tutupan biota pembentuk terumbu (coraline algae dan turf algae) yang tinggi memberi suatu indikasi bahwa terumbu karang P. Penambulai berada dalam proses pembentukan menuju terumbu karang yang ideal dan kokoh. Pada bagian lain, komponen abiotik yang menonjol nilai persen tutupannya adalah pasir, kemudian diikuti oleh karang mati yang ditutupi alga, serta patahan karang mati dengan persen tutupan substrat dasar terumbu yang relatif kecil. Bila diamati secara terpisah, maka untuk komponen biotik, ternyata karang batu memiliki persen tutupan substrat dasar relatif lebih tinggi dari biota laut lain. Karang batu dari kategori Non-Acropora memiliki persen tutupan dasar terumbu lebih tinggi dibanding karang batu kategori Acropora. Berdasarkan nilai persen tutupan substrat dasar terumbu oleh karang batu menurut bentuk tumbuh koloni (Tabel 5), ternyata hanya karang batu kategori Acropora dari bentuk tumbuh tabulate atau meja (ACT) me-miliki persen tutupan substrat dasar di areal terumbu P. Pe-nambulai (Gambar 4) dan ter-golong rendah, sementara ben-tuk tumbuh koloni lainnya ti-dak ditemukan. Pada bagian lain untuk karang batu kategori Non-Acropora, ternyata bentuk tumbuh masif (CM) memiliki persen tutupan substrat dasar lebih tinggi dari karang batu dari bentuk-bentuk tumbuh karang batu Non-Acropora lainnya di areal terumbu pesisir pulau kecil ini. Bentuk-bentuk tumbuh karang batu dari kategori NonAcropora lebih bervariasi diban-ding bentuk tumbuh karang batu kate-gori Acropora. Terumbu karang P. Penambulai hanya memiliki 51 jenis karang batu (hard coral) yang seluruhnya termasuk dalam 22 genera dan 10 famili. Famili karang batu dengan jumlah jenis terbanyak adalah Faviidae (18 jenis) dan famili Poritidae (5 jenis). Famili karang dengan jumlah jenis terendah adalah Helioporidae dan Oculinidae yang masingmasing hanya memiliki 1 jenis karang. Kekayaan atau variasi jenis karang di areal terumbu P. Penambulai ini tergolong cukup baik dan kemungkinan akan terus bertambah jenis karangnya karena proses pembentukan terumbu masih terus berlangsung untuk menyediakan substrat dasar yang ideal dan sesuai bagi juvenile karang muda. Karang batu dari kategori Non-Acropora memiliki jumlah jenis lebih banyak dibanding karang batu kategori Acropora (Tabel 5). Karang masif memiliki jumlah je-nis lebih menonjol dibanding 5 bentuk tumbuh koloni karang batu kategori Non-Acropora yang lain. Sementara untuk karang batu dari kategori Acropora, ternyata hanya Acropora bercabang (ACB) yang memiliki jumlah jenis relatif lebih banyak di-banding Acropora tabulate (ACT), Acropora digitate (ACD) maupun Acropora submasif (ACS). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 83
    •  Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai kisaran diameter koloni karang pada areal terumbu Penambulai adalah 7.8 – 286,5 cm, dengan diameter koloni rata-rata mencapai 47,8 cm. Akibat diameter koloni karang batu rata-rata yang cukup besar itu menyebabkan kepadatan karang batu pada areal terumbu ini tidak tinggi dan hanya mencapai 3,4 koloni per m2. Jenis karang yang memiliki diameter koloni rata-rata relatif besar yaitu Porites lutea dan Acropora tenuis memberikan kontribusi yang nyata terhadap kepadatan koloni karang batu tersebut di atas. Ikan Karang Ikan karang yang menempati areal terumbu P. Penambulai mencapai 69 spesies yang tergolong dalam 43 genera dan 24 famili. Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong relatif tinggi dengan dimensi areal terumbu P. Penambulai yang tidak luas dibanding areal terumbu lainnya seperti P. Kultubai Selatan. Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang P. Penambulai adalah Pomacentridae (13 jenis), Chaetodontidae (7 jenis), Labridae (6 jenis), dan Lutjanidae (6 jenis). Selain itu, sebanyak 20 famili ikan karang lainnya memiliki variasi jenis rendah (< 5 spesies) bahkan 9 famili diantaranya hanya memiliki satu spesies yakni Cirrhitidae, Centropomidae, Haemulidae, Mullidae, Pseudochromidae, Synodontidae, Dasyatidae, Balistidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus Lutjanus, Chaetodon, Pomacentrus, Epinephelus, Lethrinus, dan Abudefduf memiliki variasi jenis ter- golong tinggi di perairan karang ini, sedangkan sebanyak 37 genera lainnnya memiliki jumlah spesies spesies < 3, bahkan 28 genera diantaranya hanya memiliki satu spesies. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chaetodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Penambulai relatif masih baik. Didasari pengelompokannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori Major Categories Species perairan karang P. Penambulai lebih tinggi dibanding dibanding kategori Target Species dan Indicator Species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan konsumsi relatif lebih tinggi dibanding ikan hias . Kepadatan ikan karang di areal terumbu P. Penambulai termasuk tinggi bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang ka-rang Target Species memiliki kepadatan dan kelimpahan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 84
    •  individu tertinggi dibanding-kan dengan kelompok ikan Major Categories Species dan Indicator Species. Berda-sarkan kriteria pemanfaatannya, maka ikan karang yang termasuk kelompok Ikan Konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibanding Ikan Hias. Hasil estimasi menunjukan ikan karang kategori Target Species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan kon-sumsi memiliki biomassa (berat basah) cukup tinggi per Ha di terumbu karang P. Penambulai ini. Nilai sediaan cadang (standing stock), perkiraan pemanfaatan secara lestari (MSY) dan perkiraan pemanfaatan secara berkelanjutan (JTB) dari sumberdaya ikan karang di perairan karang P. Penambulai termasuk besar dihubungkan dengan dimensi dan kondisi terumbu karang sebagai habitat hidupnya. Hasil-hasil analisis secara terpisah memperlihatkan nilai sediaan cadang dan dan MSY dari ikan karang kelompok Target species jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Indicator spesies dan Major categories species. Sementara sediaan cadang dan MSY dari sumberdaya ikan karang yang termasuk kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi lebih tinggi dari kelompok ikan hias. Tingginya nilai sediaan cadang dari Target Species dan Ikan Konsumsi ter-sebut disebabkan oleh kehadiran jenis ikan Caesio teres dengan kelimpahan individu yang besar atau sebagai jenis ikan karang yang predominan. Kelimpahan stok (stock abundance) sumberdaya ikan di perairan terumbu karang P. Penambulai, juga tergolong relatif tinggi. Ikan karang dari kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki nilai kelimpagan stok, MSY dan JTB relatif lebih tinggi dibanding kelompok ikan karang dari kategori Target Species karena ikan konsumsii merupakan gabungan dari sebagian kelompok ikan Major Categories Species dan Target Species. Gambaran nilai sediaan cadang serta kelimpahan stok ikan karang tersebut menunjukan bahwa perairan karang sekitar P. Penambulai sebagai pulau kecil terluar atau perbatasan ini menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar. Setidaknya terdapat empat jenis ikan karang di perairan P. Penambulai yang termasuk kategori predominan di dalam komunitasnya. Jenis ikan Caesio teres sangat predo-minan dibanding tiga jenis ikan karang yang lain (Tabel 9). Sesuai kriteria peman-faatannya sebagai ikan konsumsi, maka Caesio teres memiliki nilai sediaan cadang, MSY dan JTB lebih tinggi dari Abudefduf vaigiensis. Sementara untuk kriteria monitoring, jenis ikan Caesio teres (ekor kuning) sebagai Target Species adalah jenis ikan yang predominan dengan kepadatan individu, sediaan cadang, kelimpahan stok, nilai MSY dan JTB yang sangat menonjol dibanding dua jenis MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 85
    •  ikan predominan lainnya yaitu Abudefduf vaigiensis yang termasuk Major Categories Species dan Chaetodon kleinii sebagai ikan yang termasuk dalam kategori Indicator Species. Bila keempat jenis ikan yang tergolong predominan itu dikelompokan menurut tujuan pemanfaatan, maka ikan hias memiliki kepadatan individu dan sediaan cadang lebih rendah dari ikan konsumsi. Selain data hasil analisis yang telah disajikan, maka Gambar 7 dan 8 menun-jukkan bahwa terumbu karang P. Penambulai menyimpan potensi jenis ikan hias laut yang bernilai tinggi untuk industri akuarium. Selain itu, Gambar 9 memberi petunjuk bahwa perairan karang pulau kecil perbatasan ini menyimpan potensi jenis-jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu dan ekor kuning, maupun ikan yang dikonsumsi masyarakat lokal (nelayan). Gambar Jenis-jenis ikan karang kategori spesies umum di P. Penambulai. Gambar Kiri Abudefduf vaigiensis, Gambar Kanan Apogon endekaetania (Foto by NR). Perikanan Tangkap Daerah penangkapan ikan (fishing ground) pada perairan di sekitar kawasan Pulau Penambulai potensial bagi nelayan karena memiliki kekayaan biota laut yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan. Di pesisir utara hingga barat P. Penambulai ditumbuhi bakau (mangrove) yang di dalamnya terdapat kepiting bakau (dina-makan oleh masyarakat “karaka datu/tou ma”) dan belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya oleh mereka. Sebelah barat sampai selatan dan sedikit di sebelah timur perairan pantai, ditumbuhi lamun (seagrass) yang dinamakan “pama” oleh masya-rakat setempat yang di dalamnya hidup teripang. Perairan pantai sebelah timur hingga selatan ditemukan karang yang menjadi habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan karang, udang karang (lobster), lola, siput mutiara (Pinctada maxima) dan kerang mata tujuh (Haliotis sp.). Sedikitnya di 2 (dua) lokasi pada wilayah sebelah timur P. Penambulai, menjadi tempat bertelur bagi penyu yang pada waktu-waktu tertentu ditemukan di pulau tersebut. Perairan ini diakses terutama oleh nelayan yang bermukim di P. Penambulai yakni dari Desa Warabal sendiri, serta dari desa/dusun Jambu Air, Mariri dan Lola dengan menggunakan berbagai peralatan tangkap yang masih tergolong tradisional. Nelayan dari luar kawasan ini juga turut memanfaatkannya sebagai daerah penangkapan oleh nelayan lokal sekitarnya, terutama para penyelam siput mutiara (Pinctada maxima), juga nelayan dari luar dengan menggunakan peralatan tangkap yang moderen. Di musim barat, kapal- MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 86
    •  kapal penangkap udang dan ikan dengan mengguna-kan pukat udang (shrimp trawl) dan pukat ikan (fish net) berukuran besar (> 30 GT) secara kontinu terlihat beroperasi di perairan sebelah timur P. Penambulai hingga perairan pada batas wilayah < 12 mil laut dari daratan. Musim Timur hingga Musim Pancaroba II yakni pada bulan Mei sampai Oktober, kondisi perairan di kawasan P. Penambulai berombak sehingga tidak me-mungkinkan nelayan atau masyara-kat lainnya secara tradisional dapat melaut. Namun, selama Musim Barat dan Musim Pancaroba I yang berlangsung 6 (enam) bulan merupakan waktu yang baik bagi mereka untuk melakukan aktifitas penang-kapan di perairan sekitar pulau ini. Alat penangkapan ikan yang digunakan oleh masyarakat di kawasan P. Penambulai masih tergolong tradisional. Pada saat air surut pada waktu-waktu tertentu sebanyak 80 orang mengguna-kan gancu/tombak (spear gun) untuk menangkap ikan demersal, gurita (octopus), kerang, dan sebagainya (bameti). Di perairan ini hanya ada 1 (satu) nelayan yang secara rutin menggunakan panah (arrow) untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat tangkap lainnya yaitu pancing tangan (hand line) sebanyak 2 unit, jaring insang dasar (bottom gill net) sebanyak 7 unit, jaring insang hanyut (drift gill net) sebanyak 10 unit dan rawai hanyut (drift long line) sebanyak 10 unit. Masyarakat Desa Warabal yang mendiami P. Penambulai mampu membuat perahu dan kapal penangkap ikan untuk dipergunakan oleh mereka sendiri. Armada penangkapan yang diguna-kan oleh nelayan di Desa Warabal terdiri dari perahu tanpa motor sebanyak 10 unit, perahu bermesin ketinting sebanyak 1 unit dan kapal motor (bermesin dalam) sebanyak 20 unit. Perahu tanpa motor digunakan untuk mengo-perasikan alat tangkap pancing (hand line) dan jaring insang dasar (bottom gill net), perahu bermesin ketinting digunakan untuk menyelam siput mutiara dan kapal motor bermesin dalam digunakan untuk mengoperasikan jaring insang hanyut (drift gill net) dan rawai hanyut (drift long line). Secara rinci, jenis alat dan metode penangkapan yang dipergunakan oleh nelayan di sekitar P. Penambulai yang melakukan aktifitas penang-kapan di sana, serta jenis hasil tangkapan dan estimasi rata-rata produksi yang dapat dicapai. Pada musim Barat di waktu-waktu tertentu, masyarakat Desa Warabal mengumpulkan kerang-kerangan (siput), teripang dan ikan-ikan demersal yang ditemukan pada saat air surut dengan menggunakan tombak dan panah maupun tanpa menggunakan alat tangkap. Pancing tangan (hand line), terutama digunakan untuk me-nangkap ikan demersal dan ikan karang di perairan sebelah Timur P. Penambulai. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 87
    •  Jaring insang dasar (bottom gill net) yang digunakan oleh nelayan setempat terbuat dari bahan monofilament dan dioperasikan di perairan pantai untuk menang-kap ikan demersal dan ikan karang. Alat dioperasikan dengan menggunakan perahu tanpa motor dan bahkan ada yang dioperasikan tanpa menggunakan perahu. Beberapa unit alat tangkap ini dioperasikan dengan cara memasangnya secara tetap di perairan yang dangkal (kedalaman 0,5 – 1,5 m). Ikan-ikan yang terjerat dilepas dari mata jaring tanpa diangkat (hauling) dan alat tangkapnya dibiarkan terpasang selama musim Barat. Jaring insang hanyut (drift gill net) yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan di perairan sekitar P. Penambulai terbuat dari bahan multifilament dan monofilament yang berukuran mata jaring 6 inchi. Alat tangkap ini dioperasikan dengan tujuan menangkap ikan tenggiri (Scomberomorus spp.) dan ikan hiu (Carcharhinus spp.). Operasi penangkapan dengan menggunakan alat tangkap ini dilakukan 6 - 10 trip/bulan atau 1 trip penangkapan membutuhkan 3 – 5 hari selama musim Barat. Alat tangkap rawai hanyut (drift long line) dioperasikan dengan menggunakan kapal berukur-an ( 15 GT untuk menangkap ikan hiu (Carcharhinus spp.), terutama untuk diambil siripnya. 1 (satu) trip penangkapan untuk mengoperasikan alat tangkap ini membutuhkan waktu 3 – 5 hari dan dapat menangkap ikan hiu sebanyak 20 – 150 ekor atau rata-rata 30 ekor/trip. Masyarakat Desa Warabal di P. Penambulai mengemukakan bahwa pada waktuwaktu ter-tentu, kapal-kapal Thailand dan kapal-kapal penangkap udang penaeid dan ikan berbendera Indone-sia, sering melakukan aktifitas penangkapan sampai di jalur tangkap tradisional. Selain itu, mereka sering pula membuang ikan hasil tangkapan sampingan (by catch) dan alat tangkap yang rusak ke laut yang kemudian terdampar di pantai P. Penambulai sehingga mencemarkan pantai. Penduduk Desa Warabal sangat mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk mengawasi aktifitas penangkap-an yang dilakukan secara komersial di wilayah ini dengan cara menempatkan pos keamanan laut di P. Penambulai. Makro Bentos Perairan pesisir (daerah intertidal) P. Penambulai dan laut sekitarnya menyim-pan sejumlah potensi sumberdaya makro bentos yang dapat dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan potensial. Sumberdaya makro bentos dimaksud antara lain moluska (siput dan kerang) dan ekinodermata (teripang). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 88
    •  Jenis-jenis makrobentos yang ditemukan pada lokasi perairan P. Penambulai adalah dari kelompok moluska yang secara keseluruhan berjumlah 28 jenis dan diantaranya terdapat 9 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting. Berdasarkan hasil perhitungan ditemukan bahwa tingkat kepadatan makrofauna bentos (moluska) dari spesies-spesies yang bernilai ekonomis penting yang mempunyai nilai kepadatan tertinggi yaitu dari jenis Trochus niloticus, dengan nilai kepadatan 0,09 ind/m2 dan terendah untuk jenis Turbo argyrostoma dengan nilai kepadatan yaitu 0,01 ind/m2. Potensi Pariwisata Pulau Penambulai merupakan salah satu pulau yang berpenghuni, memiliki peluang untuk dikembangkannya pariwisata bahari. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pantai kering (Upper littoral zone) P. Penambulai dengan pasir putih yang sangat panjang dan halus yang ditunjang dengan profil dasar perairan yang berpasir pada zona upper dan middel littoral dan berkarang pada zona lower littoral relatif cukup baik untuk kegiatan selam dan renang. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan FISIOGRAFI Penambulai merupakan pulau terluar yang cukup besar. Topografi P. Penambulai relatif sama dengan pulau-pulau kecil lainnya yang terdapat di gugus Kepulauan Aru yaitu berdataran rendah. Pulaunya terbentuk dari jenis batuan induk aluvium dengan jenis tanah berupa Rensina dan Hidromorfik kelabu. Pesisir pantainya didominasi oleh pantai berpasir putih yang terdistribusi dari Utara timur laut hingga selatan pulau. Lebar pantai berpasir bervariasi dari 40 – 66 m dan letaknya pada bagian Timur – Utara Timur Laut pulau. Partikelnya berukuran sangat halus hingga sedang, warnanya putith, dengan lereng pantai datar hingga landai. Pantai ini berpotensi sebagai kawasan wisata. Secara geomorfologis pulau Penambulai telah mengalami proses abrasi intensif di sepanjang pantai yang disebabkan oleh gempuran gelombang musim Timur (Pulau ini MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 89
    •  tidak memiliki rataan pasang surut yang lebar dan luas seperti halnya dengan P. Ararkula dan Karawaira. Rataan pasut yang lebar terdapat hanya pada sisi utara – utara timur laut pulau dengan luas 17,99 km. Sebaran komponen penyusun substrat dasar zona pantai kering hingga zona pasang surut cukup bervariasi. Zona pantai kering di pulau ini didominasi oleh pantai pasir dengan kemiringan datar. Zona pasut P. Penambulai didominasi oleh substrat lunak yang tersusun dari komponen pasir dengan agihan sangat luas. Sementara pada bagian lainnya memiliki substrat keras yang tersusun oleh komponen karang dan hancuran karang yang ditumbuhi oleh laun dan algae. IKLIM Iklim di gugusan Kepulauan Aru, termasuk P.Penambulai sesuai klasifikasi Schmid dan Ferguson (1951) termasuk tipe iklim C dengan nilai Q = 0,19 dengan curah hujan tahunan bervariasi dari 2000 - 3000 mm. Jumlah hari hujan rata-rata adalah 105 hari, dan curah hujan tertinggi terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Jumlah rata-rata bulan basah 9 bulan dan bulan kering 1,7 bulan. Keadaan iklimnya sangat dipengaruhi oleh Laut Arafura dan dibayangi oleh P. Irian bagian selatan serta bagian utara Australia. Musim Timur optimum berlangsung antara bulan Juni hingga Agustus. Musim Barat berlangsung antara bulan Desember hingga Pebruari. Sedangkan Musim peralihan atau pancaroba antara kedua musim utama itu terjadi pada bulan Maret-Mei dan Sepetember-Nopember. OCEANOGRAFI Pasang Surut dan Arus Pasang surut (Pasut) di P. Penambulai terjadi dua kali sehari (tipe harian ganda). Jangkauan pasang surut mencapai 2 – 2.5 m. Arus yang terjadi di sekitar P. Penambulai didominasi oleh arus pasut, dan juga oleh arus non pasut dari Laut Arafura. Kecepatan arus pada kondisi perairan tenang pada zone pasut di bagian timur cukup lemah dan berkisar dari 7,5 – 20,5 cm/detik setapi saat air bergerak pasang kecepatan arus cukup tinggi yakni 25 – 58 cm/detik. Arus pasang bergerak ke arah barat daya - Selatan, sementara arah angin dari Barat – Barat Laut. Di luar zone pasut, kecepatan arus lebih kuat pada sisi timur dengan kisaran 21 – 53 cm/detik yang mengarah ke Selatan hingga Barat Daya. Di bagian MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 90
    •  barat pulau kecepatan arus relatif kuat daripada bagian timur, disebabkan lintasan arus melewati celah sempit pulau Mimien dan Lelamtuti. Gelombang Gelombang di perairan P. Penambulai merupakan gelombang angin (variasi sea dan swell), dimana angin sebagai pembangkit utama yang bervariasi secara musiman. Terdapat 2 tipe gelombang pecah di pantai P. Penambulai yaitu “spilling”, dan “plunging” dengan dominasi “plunging”. Energi gelombang “plunging” sangat berperan terhadap pembentukan morfologi pantai di sisi timur dan barat P. Penambulai. Perairan bagian timur lebih dinamik selama musim Timur dibandingkan dengan bagian barat yang relatif terlindung oleh P. Lelamtuti dan P. Mimien. Proses abrasi pantai oleh gelombang dan arus menyebabkan beberapa bagian garis pantai berpasir di bagian timur mengalami kemunduran. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang musim timur sangat dominan pengaruhnya terhadap pantai P. Penambulai. Bagian utara pulau merupakan kawasan estuari yang relatif terlindung dan dibentuk oleh alur sungai, dan di sepanjang pantai estuari itu ditemukan vegetasi mangrove dengan agihan yang cukup luas. Pada musim Barat bagian Timur P. Penambulai relatif tenang sehingga dimanfaatkan oleh nelayan untuk berlindung, penambatan perahu dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan. Kualitas Air Suhu rata-rata di perairan sekitar P. Penambulai pada bulan Desember 2005 berkisar antara 28,4 – 29,4 0C. Nilai salinitas di lapisan permukaan sampai pertengahan perairan P. Penambulai pada bulan yang sama berkisar dari 33 - 34 ppt. Kecerahan air di sekitar P. Penambulai memiliki tingkat kecerahan tinggi < 10 meter. Konsentrasi padatan tersuspensi di perairan sekitar P. Penambulai berkisar dari 0,002 – 0,008 mg/600 ml/det. Tinggi rendahnya variasi nilai padatan tersuspensi disebabkan ada perbedaan laju konsentrasi materi tersuspensi dan jarak lokasi dengan sumber asal sedimen di perairan sekitar P. Penambulai. Sumber utama partikel tersuspensi di perairan ini berasal dari aktivitas penangkapan udang dengan trowl terutama pada bagian Barat pulau. Sedangkan pada bagian timur dari P. Penambulai sumber utama partikel tersuspensi berasal dari daerah di sekitar ekosistem mangrove yang tipe substrat dasarnya lumpur, terutama pada Musim Barat. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 91
    •  Kandungan oksigen terlarut di lapisan permukaan perairan P. Penambulai, yang merupakan salah satu pulau kecil perbatasan ini antara 6,9 – 7,30 ppm. Nilai pH rata-rata di perairan sekitar P. Penambulai pada bulan Desember 2005 berkisar antara 8,12 - 8,56. Sedangkan nilai zat hara di perairan sekitar P. Penambulai sangat bergantung pada input yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Selain pasang surut, tampaknya faktor musim memberi kontribusi yang nyata terhadap besarnya fluktuasi kandungan fosfat, nitrit dan nitrat. Kandungan fosfat pada bulan Desember 2005 berkisar antara 0,07 – 0,11 mg/ltr, nitrit berkisar dari 0,004 – 0,005 mg/ltr), sementara kadar nitrat dari 0,90 - 1,00 mg/ltr. Kisaran nilai suhu, salinitas, kadar oksigen terlarut, pH, dan zat hara tersebut berada dalam batas normal dan layak untuk berbagai kepentingan pengembangan perikanan, terutama perikanan budidaya, terhadap komoditas tertentu (pilihan), wisata bahari, dan konservasi. Bahkan nilai-nilai kualitas perairan tersebut tergolong optimal bagi perikanan pelagis kecil maupun pelagis besar. Sarana dan Prasarana Fasilitas pendidikan di Warabal terdapat satu buah SD. Untuk SMP terdapat di pulau lain yang terdekat, misalnya desa Mariri yang berjarak tempuh sekitar 6 jam dengan speed boat. Sarana peribadatan terdapat satu masjid untuk keperluan beribadat penduduk. Pulau ini tidak memiliki fasilitas kesehatan, sehingga masyarakat yang sakit harus dirujuk ke puskesmas pembantu di Desa Mairiri. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru memiliki salah satu Pos Pengawasan Perikanan, sekitar 100 meter dari pemukiman. Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 92
    •  KISAR Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : WONRELI Koordinat : Gambaran Umum Pulau Kisar merupakan salah satu pulau terluar yang berpenduduk. Namun penyebarannya tidak merata yaitu terkonsentrasi di tengah-tengah pulau. Wilayah Administrasi dan Geografis Pulau Pulau Kisar secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Wonreli Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku. Sedangkan secara geografis pulau ini terletak pada koordinat 8o 6’ 10” LS/127o 8’ 36” BT. Pulau ini di sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Romang, sebelah Selatan dengan selat Timor, sebelah Barat dengan Pulau Wetar dan sebelah Timur dengan Pulau-Pulau Leti, Moa dan Lakor. Luas keseluruhan Pulau Kisar adalah 81, 83 km2, dengan panjang garis pantai 37, 36 km. Panjang sisi Barat Pulau Kisar adalah 7, 3 Km, sisi Timur 12, 08 km, sisi Utara 7, 83 km dan sisi Selatan 10, 15 km. Aksesibilitas Transportasi Laut Untuk mencapai Pulau Kisar dapat menggunakan transportasi laut dan udara melalui Kota Saumlaki. Di kota ini terdapat pergerakan penduduk dari/menuju Kota Wonreli (Pulau Kisar). Sebagian besar akses ke pulau tersebut melalui transportasi laut dan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 93
    •  dilayani oleh kapal-kapal PELNI, ASDP dan perusahan swasta (perintis). Rute-rute pelayaran laut yang melayani wilayah ini, termasuk Pulau Kisar meliputi:  Trayek Kapal Perintis : KM Mentari 2 : Ambon – Tual – Larat – Saumlaki – Adaut – Dawera – Kroing – Marsela – Tepa – Lelang/Mahaleta – Lakor – Moa – Leti – Wonreli/Kisar – Ilwaki – Urisela – Kupang (PP); KM Iramawa : Ambon – Tual – Larat – Saumlaki – Adaut – Dawelor/ Dawera – Kroing – Marsela – Tepa – Sermata – Lakor – Moa – Leti – Wonreli/Kisar – Ilwaki – Kupang (PP); KM Lestari : Tual – Dobo – Benjina – Kalar-Kalar – Batu Goyang – Tual – Molu – Larat – Saumlaki – Kroing – Marsela – Tepa – Bebar/Wulur – Romang – Kisar – Arwala – Relokib – Eray/Esulit – Kisar/Patotere/Biringkasi (PP) KM R27 : Tual – Dobo – Larat – Saumlaki – Tepa – Moa – Leti – Kisar – Kalabahi – Surabaya (PP); KM Tan. Permai : Saumlaki – Ambon – Saumlaki – Tepa – Bebar/Wulur – leti – Kisar/Wai – Wonreli – Kisar/Kerokis – Kalabahi – Surabaya (PP);  Trayek Kapal Daerah (Kapal Cepat) : KM Terun Narhitu : Ambon - Tual - Saumlaki – Serwaru – Babar – Damar Romang – Wonrelli (Kisar)–Ilwaki- Kupang (PP); Transportasi Udara Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki 2 (dua) lapangan terbang, yakni lapangan terbang Olilit di Kota Saumlaki dan lapangan terbang Wonreli di Kota Wonreli. Ketersediaan lapangan terbang ini, relatif telah dapat memperlancar akses ke wilayah ini dan sekaligus menopang aktifitas dan mempercepat pertumbuhan perekonomiannya. Transportasi udara melayani kota kecamatan Wonreli (P. Kisar) yang memiliki posisi dan jarak terjauh dari ibu kota Kabupaten/Kota Saumlaki. Penerbangan reguler ke kota Kecamatan Wonreli disediakan oleh PT. Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan menggunakan pesawat CN 212 dari Kota Kupang (Propinsi NTT) menuju Kota Ambon dan sebaliknya Transportasi dengan pesawat terbang ini masih bersifat terbats yaitu berlangsung sekali dalam seminggu. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 94
    •  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Pulau Kisar merupakan kawasan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk relatif padat pada bagian pertengahan pulau sehingga dibutuhkan kebijakan distribusi penduduk pada wilayah pesisir dengan tujuan menciptakan keseimbangan dalam pemanfaatan ruang untuk kepentingan pemerataan penduduk dalam wilayah dan pengembangan pusat-pusat pemukiman. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya tahun 2010 tercatat jumlah penduduk 15.296 jiwa atau 2.848 kepala keluarga. Penduduk Kisar ada yang bekerja sebagai PNS, TNI/POLRI, Guru, Berdagang, Nelayan, Petani, dan lain-lain. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Hutan Mangrove Jumlah spesies mangrove di pesisir bagian Utara P. Kisar lebih menonjol dibanding tiga pulau yang lain. Sementara jumlah spesies mangrove di pesisir bagian Barat P. Kisar tergolong rendah. Jenis mangrove Hibiscus tiliaceus menyebar pada keempat bagian pesisir P. Kisar ini dibanding spesies mangrove yang lain. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa ekosistem mangrove memiliki berbagi peran dan fungsi penting bagi ekosistem perairan pesisir dan laut, diantaranya adalah fungsi produksi. Kenyataan ini dirasakan dan diakui oleh masyarakat pesisir P. Kisar, khususnya para nelayan yang sebagian pekerjaannya sebagai nelayan. Padang Lamun Padang lamun sebagai ekosistem penting perairan pesisir tropis menyebar pada wilayah ekologis P. Kisar dan sekiarnya, walaupun dengan kondisi komunitas yang berbeda antar wilayah. Kehadiran padang lamun di perairan pesisir P. Kisar ini mencapai luas ± 15 km2. Di perairan pesisir P. Kisar ditemukan 6 spesies lamun, yaitu Enhalus acoroides, Thallasia hemprichii, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata dan Syringodium isoetofolium. Keragaman lamun ini merupakan 50% dari kekayaan spesies lamun Indonesia maupun di perairan pesisir Maluku. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 95
    •  Terumbu Karang Perairan pesisir P. Kisar memiliki ekosistem terumbu karang yang menyebar hampir merata pada semua bagian pulau. Melalui hasil analisis, diperoleh data panjang terumbu karang di perairan pesisir mencapai 36 km, dengan lebar rata-rata mencapai 75 m. Panjang terumbu di pesisir utara mencapai 8 km, pesisir selatan 10, 5 km, pesisir timur 12, 7 km dan di pesisir barat mencapai 7, 6 km. Bentuk-bentuk tumbuh karang batu yang ditemukan di perairan pesisir Pulau Kisar. A. Karang masif, B. Karang bercabang, C. Karang Submasif, D. Karang foliouse Jumlah spesies karang batu di perairan pesisir P. Kisar lebih rendah diban-dingkan dengan P. Wetar dan P. Kisar. Hasil analisis persen tutupan karang batu (Tabel 3) menunjukan kondisi terumbu karang di perairan pesisir P. Kisar termasuk dalam kategori kurang baik hingga sangat baik. Dalam hal ini areal terumbu P. Kisar bagian Utara memiliki kondisi terumbu karang termasuk kategori sangat baik dengan persen tutupan karang batu mencapai ³ 75%. Sementara di perairan pesisir pulau ba-gian barat tergolong baik, dimana nilai persen tutupan karang batu mencapai ³ 65%. Akan tetapi hasil analisis menunjukan perairan pesisir bagian selatan dan timur P. Kisar memiliki kondisi terumbu karang termasuk kategori kurang baik Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik pada perairan pesisir Selatan dan Timur P. Kisar tersebut disebabkan oleh adanya kematian karang batu dari bentuk tumbuh Acropora bercasang, Non Acropora bercabang dan Acropora tabulate. Hal tersebut diindikasikan oleh nilai persen tutupan patahan karang mati yang menonjol pada kedua bagian perairan pesisir tersebut dibandingkan dengan dua bagian terumbu karang lain dengan kategori sangat baik dan baik. Penurunan kualitas terumbu karang di perairan pesisir P. Kisar. A-B. Patahan karang mati akibat aktivitas pemanfaatan sumberdaya hayati, C-D. Koloni karang mulai memutih akibat dimangsan predator karang (Acanthaster plancii) Perikanan Secara umum sumberdaya ikan di perairan pesisir dan laut Kawasan P. Kisar terdiri atas empat kelompok utama yaitu ikan karang dan demersal, ikan pelagis kecil, serta ikan pelagis besar. Potensi sumberdaya ikan karang itu sendiri terdiri atas ikan komponen hias dan ikan konsumsi yang potensial untuk dimanfaatkan dan/atau dikembangkan. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 96
    •  Ditinjau dari aspek perikanan perairan pesisir Kawasan P. Kisar me-miliki sejumlah spesies sumberdaya ikan karang dan ikan demersal bernilai ekonomis tinggi terutama ikan kerapu (famili Seranidae), kakap merah (famili Lutjanidae), ikan lencam (famili Lehrinidae), ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), ikan beronang (famili Siganidae). Sumberdaya ikan karang ekonomis penting ini baru dimanfaatkan oleh sekelompok kecil masyarakat yang umumnya bermukim di bagian pedalaman pulau dengan teknologi yang sangat sederhana, mengingat mata pencaharian masyarakat di P. Kisar umumya bertani. Spesies ikan karang dan demersal di perairan pesisir Utara dan Barat P. Kisar lebih bervariasi dari perairan pesisir Selatan dan Timur. Sementara kelimpahan spesies ikan pelagis kecil di perairan pesisir dan laut bagian Selatan dan Timur P. Kisar relatif lebih menonjol dari dua bagian perairan lainnya. Untuk sumberdaya ikan pelagis besar, ternyata jumlah spesies di perairan pesisir dan Laut Utara dan Barat relatif lebih banyak dari bagian Selatan dan Timur. Wilayah penangkapan ikan karang oleh sebagian kecil masyarakat P. Kisar ini berlangsung di perairan pesisir bagian Selatan dan Timur. Fakta lain menunjukan sumberdaya ikan karang yang ekonomis penting, ternyata terdapat potensi sumber-daya ikan hias laut yang besar dan belum dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan masyarakat maupun daerah. Makro Bentos Dengan adanya kondisi geomorfologis pesisir, hamparan terumbu karang, serta adanya vegetasi mangrove dan padang lamun di perairan pesisir P. Kisar menyediakan habitat yang baik untuk sumberdaya moluska. Sebanyak 14 spesies moluska memiliki kemampuan menyebar yang luas yaitu bisa ditemukan di setiap bagian perairan pesisir P. Kisar. Bila dilihat dari aspek perikanan, maka perairan pesisir P. Kisar ini juga menyimpan potensi sumberdaya Lola (Trochus niloticus) dan Batu Laga (Turbo marmoratus) dari klas Gastropoda sebagai komoditi perikanan potensial. Siput lola dapat dikatakan menyebar hamir merata di perairan pesisir P. Kisar, tetapi potensinya sangat menonjol di perairan pesisir Utara dan Barat. Sumberdaya batu laga bisa ditemukan di perairan pesisir bagian barat, dan dapat dikatakan tidak menyebar merata di semua bagian perairan pesisir MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 97
    •  P. Kisar. Jenis sumberdaya perikanan potensial ini menempati perairan pesisir dengan geomorfologi batuan agak terjal dan berelief. Perairan pesisir P. Kisar, juga menyimpan potensi spesies sumberdaya moluska yang potensial sebagai bahan baku industri kerajinan dan dekorasi seperti spesies moluska dari famili Cypraeinidae, Conidae, Neritidae, Olividae, Strombidae, Terebridae dan Turbinidae. Perairan pesisir P. Kisar, juga menyimpan potensi spesies sumberdaya moluska yang potensial sebagai bahan baku industri kerajinan dan dekorasi seperti spesies moluska dari famili Cypraeinidae, Conidae, Neritidae, Olividae, Strombidae, Terebridae dan Turbinidae. Spesies moluska dari famili Strombidae, selain cangkangnya cukup penting sebagai bahan dalam usaha kerajinan dan dekorasi, maka dagingnya dapat dikonsumsi oleh masyarakat sebagai bahan pangan tambahan. Jika ditinjau dari aspek perlindungan sumberdaya alam, maka perairan pesisir P. Kisar memiliki sedikitnya 4 spesies kima yaitu Tridacna crocea, Tridacna derasa, Tridacna squamosa dan Hyppopus hyppopus. Sebaran dari keempat spesies kima tersebut hampir merada di perairan pesisir P. Kisar ini dan memiliki potensi yang memadai tetapi menghkhawatirkan karena juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan. Sebagai sumberdaya pesisir dan laut yang dilindungi, maka konservasi terhadap keempat spesies kima ini menjadi penting. Pariwisata Bahari Potensi wisata di Wilayah P, Kisar memiliki ciri umum yang dimiliki oleh Kabupaten MTB, dimana potensi wisata yang menjadi andalan ialah wisata alam dan budaya. Pembinaan wisata di wilayah Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, termasuk di P. Kisar membutuhkan upaya pembenahan dan promosi yang kuat untuk menarik wisatawan untuk mengunjungi wilayah ini. Potensi wisata yang baru teridentifikasi untuk wilayah P. Kisar meliputi wilayah pesisir dan laut. Untuk perairan pesisir, kegiatan wisata bahari yang potensial adalah Skin Diving dan Scuba Diving. Sementara untuk wilayah perairan lautnya sangat potensial untuk wisata pancing tonda (Trolling) karena wilayah perairan ini menyimpan sumberdaya ikan pelagis besar seperti ikan layaran, ikan setuhuk dan ikan pedang, serta ikan tuna dan cakalang. Pada bagian lain, dapat dikembangkan wisata pancing untuk ikan dasar atau ikan demersal yang juga tergolong potensial. Letak Pulau Kisar sangat strategis, yaitu pada jalur MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 98
    •  migrasi paus yang melewati perairan Selat Tomor, sehingga menjadi lokus wisata lautan yang cukup penting. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Kisar berukuran relatif kecil, berupa bukit-bukit rendah dengan titik tertinggi 250 meter dari permukaan laut. Umumnya berlereng relatif landai. Pebukitan ini umumnya menempati bagian tengah pulau sedangkan dibagian tepinya berupa daerah pedataran. Bagian utama pulau ini tersusun dari batuan metamorf yang berupa sekis bersisipan genes, filit dan batugamping terubah; yang diduga berumur Pra Perm. Bagian utama pulau ini dikelilingi oleh batuan termuda yang menumpang secara tidak selaras pada batu-batuan tersebut, sedangkan bagian atas adalah batu gamping koral yang berumur kuarter. Batu gamping koral berupa batu gamping terumbu, setempat mengandung kuarsa dan membentuk undak-undak, sisipan tufa gampingan berbatu apung, mudah diremas. Secara geologi, struktur yang terdapat di daerah ini diperki-rakan berupa patahan (sesar) mendatar yang umumnya ke arah Barat Daya-Timur Laut. sedangkan struktur lipatan bersifat setempat. Sungai yang terdapat di Pulau Kisar sebagian besar merupakan sungai tadah hujan yaitu sungai yang hanya berair pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemaru kering. Sungai-sungai yang berair sepanjang tahun walaupun debit airnya menurun drastis pada musim kemarau adalah Meta Sakir, Meta Naumatang dan Meta Amau. Debit tahunan dari ketiga sungai tersebut belum diketahui. Dibagian tengah P. Kisar terdapat telaga Nhui dengan potensi airnya belum diketahui. Untuk kondisi air tanah, berdasarkan bentuk topografi dan geologinya daerah P. Kisar ini dapat dibagi menjadi 3 wilayah air tanah. Bagian utama pulau ini tersusun dari batuan malihan (metamorf) yang berupa sekis bersisipan genes, filit dan batugamping terubah; yang diduga berumur Pra Perm, umumnya bersifat kompak dan mempunyai permeabilitas yang sangt kecil atau bahkan kedap air, sehingga air tanah kemungkinan tidak djimpai, kecuali pada daerah lembah dan pada Zona pelapukan yang relatif tebal serta pada daerah retakan-retakan. Sedangkan pada endapan batugamping kuarter yang mengelilingi pulau ini, diharapkan dapat menjadi tempat MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 99
    •  akumulasinya air tanah, karena batuan ini bersifat mudah melarutkan dan meresapkan air. Pada daerah batugamping ini biasanya mempunyai muka air tanah dalam, tergantung dari tebalnya batuan tersebut. Klimatologi Curah hujan tahunan di P. Kisar berkisar antara 900 mm – 1200 mm dan pada daerah pegunungan dibagian tengah pulau mempunyai curah hujan yang relatif tinggi yaitu 3000 mm - 4000 mm. Sarana dan Prasarana Fasilitas yang ada antara lain: tugu perbatasan, dermaga, kantor pemerintahan, kantor pos, sarana komunikasi, Masjid, Gereja, Puskesmas, gedung sekolah dasar, gedung sekolah menengah pertama, gedung sekolah menengah keatas. Kebutuhan energi listrik dilayani PT PLN Wilayah IX, Cabang Kabupaten MTB, ranting Wonreli. Tenaga pembangkit berupa tenaga diesel (PLTD) yang menyala pada sore sampai subuh. Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Upaya Pengembangan Dalam hal konservasi, masyarakat di P. Kisar juga telah menerapkan sistem pengelolaan lingkungan pesisir dan laut dengan baik. Di lokasi-lokasi tertentu di wilayah telah lama diterapkan sistem “sasi” terhadap sumberdaya pesisir dan laut sebagai upaya untuk memperta-hankan sumberdaya agar tetap tersedia dalam jumlah yang cukup. Sistem “sasi” sum-berdaya itu difokuskan pada komoditi lola dan perairan pesisir tertebtu yang memliki terumbu karang. Dengan adanya indikasi penurunan kualitas terumbu karang maka upaya konservasi dan rehabilitasi perlu dilakukan. Kebijakan kecamatan diseuaikan dengan rencana pengembangan Kabupaten serta rencana percepatan pengembangan P. Wetar sebagai sebuah otorita. Arahannya disesuaikan dengan rencana yang berkaitan dengan pengembangan orientasi wilayah lokal, nasional, regional (Timor Leste dan Australia). Dinamika pada kawasan ini direncanakan berkembang sesuai dengan volume interaksi antar wilayah. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 100
    •  Pulau Kisar merupakan kawasan yang memiliki tingkat kepadatan penduduk relatif padat pada bagian pertengahan pulau sehingga dibutuhkan kebijakan distribusi penduduk pada wilayah pesisir dengan tujuan menciptakan keseimbangan dalam pemanfaatan ruang untuk kepentingan pemerataan penduduk dalam wilayah dan pengembangan pusat-pusat pemukiman. Lembaga dan kelembagaan adat yang ada di kawasan pulau Kisar adalah menyerupai “Latupati”, dan “Soa” serta memiliki sistem “Sasi adat” telah yang telah terdegradasi. Hal ini mengakibatkan nilai-nilai budaya lokal telah bergeser dari pendekatan adat yang semestinya diberlakukan, ke pendekatan adat yang telah dikomersialkan. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 101
    •  LETI Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : WETAR Koordinat : Gambaran Umum Pulau Leti merupakan salah satu pulau yang secara administratif termasuk dalam Keca-matan Wetar. Secara geografis, pulau ini terletak antara 08o14’20’’ Lintang Selatan dan 127o30’50’’ Bujur Timur. Di Pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 110 dan titik referensi (TR) no 110. Administratif Luas total wilayah Kecamatan Wetar adalah 3.914,16 km2, yang meliputi luas daratan sebesar 93,502 km2 dan luas laut untuk wilayah kelola Kabupaten (0-4 mil) sebesar 385,56 km2 dan luas wilayah keloaala Provinsi (4-12 mil) sebesar 1.133,41 km2. Di kecamatan ini terdapat 7 desa dengan total jumlah penduduk sebanyak 10.548 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.262 jiwa dan perempuan sebanyak 7.286 Jiwa. Aksesibilitas Untuk mencapainya kita dapat memilih beberapa rute:  Jalur Laut Trayek Kapal Pelni : Kapal Kelimutu (Surabaya - Ende - Waingapu - Larantuka Kupang - Saumlaki - Dobo - Timika - Merauke), Kapal Tatamailau (Surabaya Kupang - Saumlaki - Tual - Ambon). MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 102
    •  Trayek Kapal Perintis: KM Mentari (Ambon - Tual - Larat - Saumlaki - adaut Dawera - Kroing - Marsela - Tepa - Lelang/Mahaleta - Lakor - Moa - Leti Wonreli/Kisar - Ilwaki - Urisela - Kupang), KM Iramawa (Ambon - Tual - Larat Saumlaki - Adaut - Dawelor/Dawera - Kroing - Masela - Tepa - Sermata - Lakor Moa - Leti - wonreli/Kisar - Ilwaki - Kupang), KM Lestari (Tual - Dobo - Benjina Kalar-kalar - Batu Goyang - Tual - Molu - Larat - Saumlaki - Kroing - Marsela Tepa - Bebar/Wulur - Romang - Kisar - Arwala - Relokib - Eray/Esulit Kisar/Patotere/Biringkasi)  Jalur Udara Dari Ambon - Kisar dengan menggunakan pesawat reguler. Dari Kisar - Pulau Leti dengan kapal cepat dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Pulau memiliki penghuni yang berjumlah 7.945 jiwa (1.807 KK). Warga tersebar di tujuh desa dengan mata pencaharian di sektor kelautan dan pertanian. Di sini terdapat sarana dan prasarana, seperti 12 SD, 3 SMP, 1 SMA, serta 1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Data Bakosurtanal, 2007) Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Padang Lamun Lamun sebagai salah satu Ekosistem pantai mempunyai peranan penting bagi kehidupan organisme di laut. Ada jenis-jenis ikan yang hidup menetap pada komunitas lamun dan ada juga yang hanya datang mencari makanan (Siganus dan Dugong dugon) atau sekedar mencari tempat perlindungan. Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar dan menjernihkan perairan. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedimen sehingga terhindar dari kemungkinan abrasi. Karena fungsi-fungsi tersebut, maka manusia memanfaatkan padang lamun untuk mencari biota laut yang terdapat di dalamnya dengan cara-cara yang tidak tertanggungjawab. Kerapatan lamun dapat berkurang akibat dirusak manusia yang ingin memanfaatkan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 103
    •  biota laut yang berlindung di dalamnya. Untuk memulihkan padang lamun yang hilang, dapat dilakukan dengan jalan transplantasi dan melindungikomunitas tersebut dari aktivitas manusia. Kondisi lamun yang baik akan diikuti dengan masuknya sejumlah biota laut yang biasa hidup berasosiasi dengan lamun tersebut. Kehadiran lamun dapat menyuburkan dan meningkatkan produktivitas perairan. Dari stasiun pengamatan lamun di P. Leti dijumpai enam spesies lamun diantaranya Thalassia hemprichii: Halophyla ovata; Cymodocea rotundata; Halodule pinifolia; Halodule uninervis dan Syringodium isoetifolium. Luasan tutupan lahan lamun pada lokasi pengamatan sebesar 43.17 %. Kerapatan lamun ditemukan sebesar 2448 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Syringodium isoetifolium sebesar 59,64 tegakan/m2; dan terendah pada jenis Halophila ovata sebesar 12,36 tegakan/m2. Nilai kerapatan jenis yang ada berbanding terbalik dengan tingkat persen tutupan untuk beberapa jenis lamun yang dijumpai. Frekwensi kehadiran tertinggi ditemukan pada jenis Cymodecea rotundata sedangkan terendah pada jenis Halodule pinifolia dan Halophila ovata. Terumbu Karang Pada Pulau Leti pengambilan data ekosistem terumbu karang dilakukan pada satu titik pengamatan yakni di Pantai Serwaru. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir Pulau P. Leti, khususnya di Serwaru sebanyak 66 spesies, seluruhnya termasuk dalam 41 genera dan 15 famili. Famili karang batu dengan kekayaan spesies tertinggi adalah Acroporidae dan Faviidae. Kamposisi taksa karang tersebut memberikan suatu indikasi bahwa areal terumbu P. Leti ini memiliki kekayaan spesies karang relatif rendah dibanding areal-areal terumbu karang Pulau lainnya. Data yang didapat memperlihatkan bahwa komponen biotik yang menutupi dasar perairan di Pulau ini memiliki persen penutupan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Walaupun demikian kondisi terumbu karangnya berada pada kategori kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 42,98%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini dipengaruhi oleh persen tutupan kompoen biotik lainnya yakni Algae dengan persen penutupan sebesar 22,10% (terutama berasal dari alge halus/turf algae) dan komponen abiotik (20,80%) yang sebagian MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 104
    •  besar berasal dari persen penutupan pasir. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu pada titik pengamatan ini berasal dari karang Non Acropora. Alga Hasil inventarisasi jenis makro algae pada perairan Pulau Leti dijumpai sebanyak 8 spesies, yang dapat diklasifikasikan ke dalam 6 genus, 5 famili, 4 ordo dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi utama yaitu alga hijau (Chloro-phyta) terdiri dari 4 spesies, alga coklat (Phaeo-phyta) terdiri dari 2 spesies dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 2 spesies. Dari jenis-jenis yang ditemukan tersebut, ada jenis- yang memiliki nilai ekonomis penting diantaranya adalah yang berasal dari genus Gracilaria dan Caulerpa Fauna Benthos Pengumpulan data organisme bentos di Pulau Leti dilakukan di desa Serwaru. Organisme makrofauna bentos yang berhasil dikumpulkan pada Pulau Pulau Leti desa Serwaru ini sebanyak 15 spesies, dimana dari kelompok ekinodermata hanya 1 spesies yaitu Holothuria atra. Dari ke-15 spesies tersebut dijumpai 4 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting, yaitu Barbatia amygdalumtustus, Haliotis varia, Holothuria atra dan Turbo bruneus. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Pengambilan data ikan karang pada perairan pantai di P. Leti dilakukan pada satu titik pengamatan yakni di Desa Serwaru. Pada titik pengamatan ini dijumpai sebanyak 124 spesies ikan yang tergolong ke dalam 67 genera dan 26 famili. Jumlah spesies ikan hias (74 spesies) lebih tinggi dari jumlah spesies ikan konsumsi (50 spesies). Data yang diperoleh menyebutkan bahwa kepadatan ikan karang di perairan ini sebesar 5,27 individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka kepadatan ikan konsumsi (3,36 individu/m2) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan hias (1,91 individu/m2). Perikanan Tangkap Dari lokasi pengamatan yang dilakukan, dijumpai berbagai jenis alat tangkap seperti jaring insang hanyut, jaring insang dasar, bagan sero, pancing tonda, hand line, multiple hand line dan panah. Jenis-jenis ikan hasil tangkapan yang ditemukan adalah MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 105
    •  cakalang, tuna, tatihu, piskada, tengiri, lalosi, gutana, ikan merah, samandar, momar, bubara, kerong-kerong serta bulana. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Secara topografi, wilayah Pulau Leti dibagi atas 2 kelas, yaitu: (1) daerah Rendah (R) dengan ketinggian 0 – 100 m; dan (2) daerah Tengah (M) dengan ketinggian 100 – 500 m, dengan lima kelas kemiringan lereng yaitu datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), dan bergelombang (8-15%). Sedang bentuk lahan makro dibagi atas tiga kelas yaitu dataran, berbukit dan bergunung dengan lereng datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), dan agak curam (15-30%). Bentuk lahan utama di kawasan ini merupakan bentuk lahan asal karst yang tersebar meluas sepanjang pesisir dan bentuk lahan asal denudasional pada kawasan perbukitan. Batuan tersingkap di daerah P. Leti tersusun dalam empat formasi batuan utama yakni formasi Gamping Koral, Malihan, Serpih dan Brancuh. Gamping koral tersebar luas sepanjang pesisir pulau Leti. Batuan Malihan tersebar luas di bagian tengah pulau memamnjang arah timur barat. Serpih menyebar timur barat di bagian tengah pulau yang berdampingan dengan batuan Malihan. Formasi Brancuh menyebar setempat di bagian utara pulau dan berada antara formasi Gamping koral dan Malihan. Tenaga geomorfik yang berperan terhadap perubahan geomorfologi sepanjang pesisir Pulau ini adalah tenaga marin yakni gelombang, pasang surut dan arus. Proses geomorfologi di kawasan ini meliputi proses destruksional (pelapukan sepanjang garis pantai dan erosi pantai), dan proses kontruksional (pergerakan dan deposisi sedimen). Satuan bentuk lahan hasil proses marin meliputi pantai bergisik, pantai bertebing terjal (cliff), platform pantai, rataan pasut berbatu, rataan terumbu karang, tubir dan saaru. Agihan pantai berpasir dapat ditemukan sepanjang pulau Lakor dengan agihan terluas di kawasan Serwaru. Saaru terdapat di bagian selatan pulau Leti. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 106
    •  Oceanografi Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003 tentang bathymetri perairan Pulau Leti, ditemukan bahwa kedalaman perairan pesisir relatif dangkal dengan rataan terumbu yang luas kecuali pada beberapa wilayah perairan pesisir seperti pantai selatan dan timur laut Pulau Leti. Kedalaman perairan lepas pantai berkisar antara 825-2.286 meter. Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter mengin-dikasikan bahwa kelandaian perairan Pulau Leti berkisar antara 10-20% atau dikategorikan sebagai tipe perairan landai sampai sedang. Iklim Iklim dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, tergantung pada musim. Curah hujan secara umum di P. Leti kurang dari 1000 mm per tahun. Sedangkan suhu rata-rata adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8 ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Rata-rata kelembaban udara relative 80,2%; dengan penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana Pulau P. Leti termasuk dalam kategori Zone E3: bulan basah lebih dari 3 bulan dan kering 4 – 6 bulan. Kualitas Perairan Pasang surut dan Arus Pasang surut di perairan Pulau Leti memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide) . Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 3 meter . Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti perairan pesisir pantai timur Laitutun, pantai utara Serwaru, Tembra dan Nuwewan. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 107
    •  kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang yang tidak mampu beradaptasi terhadap keadaan yang ekstrim tersebut. Arus atau perpindahan massa air di perairan Pulau ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini bergerak dari arah timur laut dan timur dan mengalami peredaman kecepatan di utara kepulauan dengan kecepatan dapat mencapai 1 m.s-1. Kecepatan arus pasut yang terekam berkisar antara 0,09 – 0,29 m.s-1 dengan nilai rerata kecepatan 0,19 ms-1. Kecepatan arus minimum dijumpai pada perairan Serwaru dan mencapai maksimum pada perairan Nuwewan saat air bergerak surut. Arus pasut dengan intensitas kuat dapat terjadi pada perairan Selat Moa yang terletak antara Pulau Leti dengan Pulau Moa. Gelombang Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan Pulau Leti. Berdasarkan letak posisi pulau terhadap arah datangnya angin tenggara maka bagian perairan pantai selatan dan timur pulau serta Selat Moa akan mengalami tekanan gelombang yang kuat, sementara kawasan perairan bagian utara relatif tenang dari gempuran gelombang. Kualitas Air Suhu permukan laut perairan Pulau Leti berkisar antara 26,78 – 26,90 °C dengan nilai rerata 26,84 °C. Suhu minimum di perairan ini dijumpai pada perairan sekitar Nuwewan sedangkan suhu maksimum terkonsentrasi di perairan sekitar Selwaru. Suhu kawasan perairan yang hangat ini diduga dipengaruhi oleh massa air Laut Timor yang hangat dan mendominasi perairan. Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi dengan nilai sebesar 35 ppt ditemukan baik pada perairan pesisir Serwaru maupun Nuwewan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa massa air yang mendominasi perairan ini adalah massa air oseanik yang berkadar garam tinggi. Pengenceran air laut oleh massa air tawar yang masuk melalui sungai dan bermuara di perairan ini sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar salinitas perairan. Tingkat kecerahan perairan Pulau Leti dikategorikan atas tingkat kecerahan tinggi. Kecerah-an perairan bervariasi antara 15 - 17 meter dengan nilai rerata 16 meter. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 108
    •  Kecerahan minimum berada pada perairan pesisir Nuwewan sedangkan kecerahan maksimum dijumpai pada perairan Serwaru. Tingginya tingkat kecerahan ini dimungkinkan oleh rendahnya kandungan padatan tersuspensi, sehingga penetrasi cahaya bisa jauh masuk ke dalam kolom air dan mengakibatkan proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,45 – 0,63 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,54 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan pantai Nuwewan sedangkan konsentrasi TSS maksimum berada pada perairan Serwaru. Tingkat kesadahan air laut atau pH perairan Pulau Leti dikategorikan tinggi berkisar antara 8,48 – 8,51 dengan nilai rerata 8,50. Nilai pH minimum dijumpai pada perairan pantai Nuwewan sementara nilai pH maksimum ditemukan pada perairan pantai Serwaru. Kondisi ini menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Pengenceran air laut oleh massa air tawar asal daratan sangat kecil pengaruhnya. Nilai pH pada bulan Oktober masih berada diatas kisaran nilai pH perairan pada umumnya. Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan Pulau berkisar antara 14–14,25 mg/l dengan nilai rerata 14,13 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan Serwaru sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan pantai Nuwewan. Nilainilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988. Dari analisis unsur hara yang dilakukan, yaitu analisis fosfat, nitrit dan nitrat, ditemukan konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan berkisar antara 0,68 – 0,72 mg/l dengan nilai rerata 0,70 mg/l. Distribusi kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Nuwewan sedangkan kadar maksimum terkonsentrasi di perairan Serwaru. Konsentrasi nitrit di lapisan permukaan perairan memiliki kadar yang cukup tinggi dan ditemukan memiliki nilai konsentrasi yang sama baik di perairan Serwaru maupun Nuwewan. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi dengan nilai berkisar antara 1,0 – 1,5 mg/l dengan nilai rerata 1,25 mg/l. Konsentrasi minimum senyawa ini ditemukan pada perairan pesisir Serwaru sementara konsentrasi maksimum berada di perairan Nuwewan. Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berasal dari sumbangan zat hara melalui seresah bakau dari ekosistem bakau yang hidup dipesisir pantai Serwaru dan Nuwewan serta sumbangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 109
    •  massa air Laut Banda yang kaya akan zat hara dari sisa hasil taikan selama bulan JuliAgustus di perairan ini. Di perairan Pulau Leti keberadaan unsur Cr dan Cu cukup signifikan dalam kolom air laut permukaan perairan. Kandungan Cr di perairan berkisar antara 0,01-0,03 mg/l dengan nilai rerata 0,02 mg/l. Konsentrasi minimum unsur ini dijumpai pada perairan Serwaru sedangkan konsentrasi maksimum berada pada perairan Nuwewan. Kadar Cu di perairan berkisar antara 0,31-0,50 mg/l dengan nilai rerata 0,41 mg/l dengan pola distribusi yang cenderung sama dengan Cr.Kehadiran unsur Cr dan Cu dalam kolom air permukaan laut pada perairan Pulau Leti diduga kuat keberadaannya sangat berhubungan dengan batuan dasar yang menyusun pulau tersebut Analisis kandungan Klorofil-a di perairan, dengan menggunakan sensor satelit MODIS liputan tanggal 06 November 2006 yang diperoleh melalui situs http://www.edu.colorado/, memperlihatkan bahwa klorofil-a fitoplankton di perairan Pulau Leti memiliki kandungan yang lebih tinggi dari perairan Pulau Moa Lakor yang berdekatan dengan nilai berkisar antara 0,38–0,6 mg/m3. Pola distribusi klorofil-a di perairan ini memperlihatkan bahwa kandungan maksimum menyebar di perairan bagian barat Pulau Leti sementara konsentrasi klorofil-a mengalami penurunan di perairan pantai utara dengan konsentrasi berkisar antara 0,4–0,49 mg/m3. Konsentrasi yang rendah dengan nilai berkisar antara 0,2–0,28 g/m3 menyebar pada perairan pantai selatan. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 110
    •  LIRAN Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : WETAR Koordinat : Gambaran Umum Liran salah satu diantara empat pulau di Kecamatan Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku yang terletak di sebelah Barat Pulau Wetar (08°00’58”LS – 125°44’38”BT ). Batas-batas wilayah Liran: Utara dibatasi dengan Laut Banda, Timur dengan Pulau Romang, Selatand engan Laut Timor, dan Barat dengan Pulau Flores. Rute Pelayaran yang malayani transportasi ke wilayah ini dapat diakses masyarakat Pulau Liran. Kapal KM Tan. Permai memiliki rute Saumlaki-Ambon-Saumlaki-TepaBabar/Wulur-Leti-Kisar/Wai-Wonreli-Lirang/Kerokis-Kalabahi-Surabaya (PP). Kota Saumlaki, Ibukota Kabupaten dapat dijangkau secara reguler melalui udara dan laut. Penerbangan reguler disediakan Merpati Nusantara Airlines dengan pesawat CN 250 dari kota Ambon, provinsi Maluku, dan CN 212 dari Kota Kupang, Provinsi NTT, yang menyinggahi kota Wonreli, Pulau Kisar. Transportasi dengan pesawat udara dari Kota Ambon ke Saumlaki berjadwal tiga kali seminggu dan penerbangan perintis dari kota Kupang melalui kota Wonreli berlangsung sekali seminggu. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Pulau Liran merupakan salah satu pulau terluar berpenduduk di Kecamatan Wetar. do Pulau in ada satu desa, yaitu Ustutun, penduduk 200 kepala keluarga atau 817 jiwa (Dinas kelautan dan Perikanan Maluku Barat Daya, 2010). Penduduk Ustutun mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, hanya sebagian kecil yang mengembangkan usaha ternak kambing. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Hasil estimasi menunjukan luas hutan mangrove di pesisir Liran mencapai 1,43 kilometer persegi. Spesies mangrove yang menonjol diantaranya: Sonneratia alba, Baringtonia asiatica, Hibiscus tilaceus, Nypa fructicans, dan Acanthus licifolius. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 111
    •  Ekosistem mangrove memiliki berbagai peran dan fungsi bagi ekosistem perairan pesisir dan laut. Kenyataan ini dirasakan dan diakui masyarakat pesisir Liran yang menyangkut dengan pengalaman akan produksi perikanan (ikan maupun non ikan). Hasil analisis persen tutupan karang batu Pulau Liran menunjukkan tutupan yang masih termasuk sangat baik dengan persen tutupan karang batu (hard coral) di atas 75 persen. Meski kondisinya masih tergolong sangat baik, telah terjadi perunan kualitas terumbu karang akibat tekanan pemanfaatan sumberdaya ikan karang dengan bahan peledak. Khusus untuk perairan Liran, jumlah spesies ikan karang dan ikan demersal mencapai 156 spesies, ikan pelagis kecil: 24 spesies dan ikan pelagis besar: 15 spesies. Hasil estimasi nilai potensi sumberdaya ikan karang, Liran memiliki jumlah spesies mencapai 195 jenis. Terumbu karang menyimpan potensi sumberdaya ikan karang yang cukup besar, dengan potensi ikan yang bernilai ekonomis, terutama ikan kerapu, kakap merah, ikan lencam, ikan napoleon, ikan beronang. Sumberdaya ikan karang ekonomis penting ini baru dimanfaatkan masyarakat Desa Ustutun dengan teknologi yang sederhana. Selain sumberdaya ikan karang, terdapat potensi besar sumberdaya ikan hias yang belum dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan masyarakat. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Di Pulau dengan luas 23,62 km persegi ini terdapat hamparan pasir putih hampir di seluruh bagian pulau yang dominan pada sisi Timur - Selatan - dan Barat Laut. Pantai itu berasosiasi dengan tiga ekosistem: mangrove, lamun, dan terumbu karang. Sarana dan Prasarana Selain listrik tenaga surya berasal dari Dit. Kelautan dan Perikanan 2005, ada juga sarana pos jaga perbatsan, mercusuar, fasilitas pendidikan dari SD sampai SMP, jalan desa, dermaga, puskesmas pembantu serta sarana air bersih. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 112
    •  Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 113
    •  MASELA Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : BABAR TIMUR Koordinat : Gambaran Umum Pulau Masela merupakan salah satu pulau terluar di Kepulauan Aru. Di pulau ini terdapat titik dasar no. TD.108 dan titik referensi no. TR.108. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Babar Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Secara geografis, pulau ini terletak pada koordinat 08o 13’ 29’’ LS dan 129o 49’ 32’’ BT. Untuk mencapainya, kita terlebih dahulu menumpang pesawat perintis dari Ambon menuju Saumlaki. Tiba di Saumlaki perjalan berlanjut dengan menggunakan kapal laut selama tiga jam. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Penduduk berjumlah 2.879 jiwa dengan taraf hidup yang masih rendah. Mereka memiliki mata pencaharian utama di bidang perikanan juga sektor pertanian dan perdagangan. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 114
    •  Potensi Sumberdaya Teresterial Penggunaan lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di P. Masela meliputi hutan primer, hutan sekunder, semak belukar dan alang-alang, ladang/tegalan, kebun campuran, dan pemukiman. Penggunaan lahan di kawasan ini didominansi oleh hutan belukar, hutan primer dan sekunder, sisanya merupakan kebun campuran, ladang, tegalan, perkampungan dan tanah kosong. Semak belukar, ladang/tegalan, dan kebun campuran terdistribusi sepanjang pesisir utara pulau Babar. Hutan sekunder dan hutan primer terdistribusi setempat setempat di pesisir timur laut Babar, pulau Wetan dan Dawelor. Pemukiman terkonsentrasi di pesisir timur pulau Babar, pulau Wetan dan Dawelor. Penggunaan lahan perairan pesisir di P. Masela sampai pada batas zone kelola kabupaten (4 mil laut) meliputi pantai bergisik, pantai berbatu, rataan pasut berpasir, terumbu karang, saaru dan perairan penangkapan dan budidaya laut. Pantai bergisik yang tersusun oleh material pasir – kerikil dan kerakal merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang terdistribusi secara luas di pesisir, juga merupakan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Panjang garis pantai wilayah Kec. Babar Timur berdasarkan hasil perhitungan ditemukan panjang total garis pantai sejauh 126.01 km. Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, alge dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan alge yang bervariasi. Di luar zone pasang surut, yang merupakan perairan oseanis dimanfaatkan untuk pe-nangkapan ikan dan budidaya perairan. Jenis penangkapan ikan meliputi penangkap-an ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang tetapi belum dikembangkan. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove Pulau Masela dari imformasi masyarakat bahwa daerah ini pernah terjadi gempa, terletak pada posisi 129o 51,303 dan -7o 53,663 kondisi substrat adalah Pasir bercampur patahan karang, komunitas mangrove cukup baik dan merupakan daerah sasi ontuk sumberdaya teripang nanas, ditengah kominitas mangrove ini juga dijumpai komunitas lamun. Persen penutupan lahan Anakan (17,11 %), Sapihan (34,21 %) Pohon (48,68 %), MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 115
    •  Jenis mangrove yang dijumpai adalah Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Xylocarpus molucensis, Avicennia marina, Lumnitzera risomosa, Phempis acidula. Padang Lamun Komunitas lamun di perairan P. Masela dijumpai sebanyak 5 jenis yakni, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovata, Halop Halodule uninervis hila uninervis dan Siringodium isoetifolium, yang mana Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata adalah dua jenis yang dominan dengan tingkat kerapatan jenis yang sangat tinggi dibandingkan dengan tiga jenis lainnya.Karakteristik pulau-pulau dengan pantai yang dominansi karang dan berbatu di P. Masela merupakan salah satu faktor bagi distribusi ekosistem lamun. Total Kerapatan lamun di P. Masela sebesar 230,33 tegakan/m2 dengan kerapatan terting ditemukan pada jenis lamun Thalassia hemprichii sebesar 114,6 tegakan/m2, selanjutnya jenis, Cymodocea rotundata sebesar 84,33 tegakan/m2, Halodule uninervis sebesar 17,67 tegakan/m2 Halophila ovata sebesar 8,00 tegakan/m2, dan terkecil ditemukan pada jenis Siringodium isoetifolium sebesar 5,67 tegakan/m2. Nilai kerapatan ini hampir berbanding lurus dengan nilai persen tutupan dari masing masing jenis, kecuali pada jenis Halodule uninervis yang mana memiliki persen tutupan yang lebih kecil dari Halophila ovata karena ukuran daun yang relatif lebih kecil seperti jarum (Tabel 2). Ekosistem lamun juga mempunyai peranan penting bagi kehidupan beberapa biota laut. Ada jenis-jenis ikan yang hidup menetap pada komunitas lamun dan ada juga yang hanya datang mencari makanan (Siganus dan Dugong dugon) atau sekedar mencari tempat perlindungan Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar dan menjernihkan perairan. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedimen sehingga terhindar dari kemungkinan abrasi.. Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan sub-strat dasar dan menjernihkan perair-an. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedi-men sehingga terhindar dari ke-mungkinan abrasi. Karena fungs-fungsi tersebut, maka manusia meman-faatkan padang lamun untuk mencari biota laut yang terdapat di dalamnya dengan cara-cara yang tidak tertanggung-jawab. Kerapatan lamun dapat berkurang akibat dirusak manusia yang ingin memanfaatkan biota laut yang berlindung di dalamnya. Untuk memulihkan padang lamun yang hilang, dapat dilakukan dengan jalan transplantasi dan melindungi komunitas tersebut MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 116
    •  dari aktivitas manusia. Kondisi lamun yang baik akan diikuti dengan masuknya sejumlah biota laut yang biasa hidup berasosiasi dengan lamun tersebut. Kehadiran lamun dapat menyuburkan dan meningkatkan produktivitas perairan. Terumbu Karang Luas terumbu karang Pulau Masela berdasarkan hasil analisis data citra satelit mencapai 0,68 km2. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir pulau ini sebanyak 67 spesies, seluruhnya termasuk dalam 34 genera dan 12 famili. Komposisi taksa karang tersebut memberikan suatu indikasi bahwa areal terumbu lokasi ini memiliki kekayaan spesies karang relatif rendah. Dari 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik, di perairan pulau ini dijumpai sebanyak 18 kategori bentuk tumbuh yang terdiri dari 15 bentuk tumbuh komponen biotik dan 3 kategori komponen abiotik (patahan karang mati, batuan/karang papan dan pasir). Kategori bentuk tumbuh komponen biotik terdiri dari bentuk tumbuh karang keras (Hard Corals) sebanyak 10 kategori (4 kategori bentuk tumbuh karang Acropora dan 6 kategori bentuk tumbuh karang Non Acropora), karang mati (Dead Corals) 1 bentuk tumbuh, Algae dan fauna bentik lainnya (Other Faunas) masing-masing 2 bentuk tumbuh. Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di kecamatan ini relatif tinggi dengan persen penutupan substrat sebesar 77,06%, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Walaupun komponen biotik memiliki persen penutupan yang tinggi, tetapi kondisi terumbu karangnya berada pada kondisi kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 46,74%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini dipengaruhi oleh persen tutupan Algae terutama oleh alga halus (turf algae) sebesar 26,02% dan batuan/karang papan sebesar 12,54%. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu berasal dari karang Non Acropora (36,52%). Alga P. Masela memiliki keragaman jenis makro algae sebanyak 7 spesies yang dapat dimasukan ke dalam 4 genus, 4 famili, 3 ordo, dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi uta-ma yaitu alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 3 spesies, alga coklat (Phaeophyta) yang ter-diri dari 1 spesies dan alga merah (Rhodo-phyta) yang terdiri dari 3 spesies. Dari jenis-jenis yang tersebut, terdapat beberapa spesies yang memiliki nilai ekonomis yang berasal dari genus Caulerpa, Hypnea dan Gracilaria. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 117
    •  Makro Benthos Spesies makrofauna bentos yang dijumpai di perairan pasang surut P. Masela sebanyak 19 spesies, dimana 6 spesies diantaranya memiliki nilai ekonomis penting. Spesies-spesies ekonomis tersebut yaitu Anadara granosa, Barbatia antiquate, Gafrarium tumidum, Isognomon isognomon, Telenota ananas, dan Holothuria atra. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Perairan Pulau Masela memiliki 196 spesies ikan karang yang tergolong dalam 97 genera dan 32 famili. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ke-196 spesies ikan karang tersebut dapat dikelompokkan menjadi ikan konsumsi sebanyak 93 spesies dan ikan hias sebanyak 103 spesies. Empat famili ikan yang memiliki jumlah spesies tertinggi masing-masing sebagai berikut: Pomacentridae (35 spesies), Labridae (31 spesies), Chaetodontidae dan Acanthuridae masing-masing sebanyak 15 spesies. Sedangkan generagenera yang memiliki jumlah spesies tertinggi adalah: Chaetodon (12 spesies), Acanthurus (8 spesies), Pomacentrus dan Scarus masing-masing sebanyak 7 spesies. Potensi ikan karang di perairan P. Masela diperoleh besar sumber 34 individu yang terdiri dari ikan konsumsi 25 individu dengan biomassa sebesar 0,01 ton dan ikan hias 10 individu. Berdasarkan SK Mentan No. 995 tahun 1999, maka potensi lestari dari ikan karang di perairan ini adalah 17 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 12 individu dan ikan hias 5 individu. Berdasarkan SK tersebut juga maka potensi ikan karang yang boleh dimanfaatkan di perairan ini adalah 14 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 10 individu dan ikan hias 4 individu. Perikanan Tangkap Di P. Masela, setidaknya ada 6 jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan di perairan sekitarnya. Mereka menggunakan jaring insang hanyut (drift gill net) untuk menangkap ikan pelagis kecil seperti ikan terbang (Chypsilurus sp), selar (Selar sp; Selaroides sp), tongkol (Auxis thazard) dan beberapa jenis lainnya. Beberapa jenis ikan pelagis kecil ini, juga tertangkap oleh nelayan dengan menggunakan pukat pantai (beach seine), jaring insang lingkar (surrounding gill net), dan pancing tangan (hand line). Operasi penangkapan ikan dengan pukat pantai (beach seine) dapat menangkap berbagai jenis ikan demersal/karang dan ikan pelagis kecil. Jaring insang lingkar MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 118
    •  (surrounding gill net) dioperasikan untuk menangkap ikan-ikan yang sering bergerombol seperti ikan kembung (Rastrelliger sp) dan lemuru/”make” (Sardinella sp) jika diapungkan di permukaan laut dan ikan lalosi (Caesio sp) jika ditenggelamkan di dasar laut. Penggunaan pancing tonda (troll line) diperuntukan untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar, terutama cakalang (Katsuwonus pelamis), madidihang (Thunnus albacares), tongkol (Euthynnus affinis), dan tuna (Thunnus sp). Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan FISIOGRAFI Pulau Masela memiliki topografi perbukitan, dengan ketinggian puncaknya mencapai 450-800 m dari permukaan laut. Pulau ini umumnya berlereng landai, setempat agak terjal. Pola aliran sungai memancar dan hanya berair pada waktu musim hujan. Bentuk lahan makro di wilayah ini dibagi atas tiga kelas yaitu dataran, dan berbukit dengan lereng datar (0-3%), dan landai/berombak (3-8%) bergelombang (8-15%), dan agak curam (15-30%). Satuan bentuk lahan asal di kawasan kecamatan ini meliputi bentuk lahan asal karst dan denudasional. Bentuk lahan asal karst terdistribusi pada seluruh pulau sedangkan bentuk lahan asal denudasional terdistri-busi pada daerah tengah pulau Babar. Batuan tersingkap di daerah ini tersusun dalam lima formasi batuan yakni formasi Gamping Koral, Aluvium, Konglomerat, Batupasir Kuarsa, dan Brancuh. Batuan yang tersingkap pada alur-alur sungai yang mengalir ke arah selatan, yaitu sungai Lawang dan di hulu sungai Meterietan berupa serpih yang diperkirakan berumur Yura (Pra Tersier). Pada bagian tengah pulau dijumpai batuan “melange” yang diduga berumur Miosen Akhir hingga Pliosen; terdiri dari bongkahan batuan yang beranekaragam seperti batuan malihan, batu gamping, serpih, dimana batuan-batuan tersebut berasal dari batuan yang lebih tua. Batuan “melange” ini juga tersingkap pada aliran sungai Waikukna dan sungai yang terdapat di utara sungai Popora. Kemudian bagian barat, timur dan sedikit di bagian selatan dijumpai batuan pasir kuarsa yang berumur pilosen. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 119
    •  Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003, Batimetri perairan P. Masela memiliki kedalaman perairan yang bervariasi antara 7 – 500 meter. Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter menunjukkan bahwa kelandaian perairan berkisar antara 3 – 40 %, dapat dikategorikan sebagai perairan dengan kemiringan landai sampai curam. Bagian pantai Utara dan Selatan memiliki kelandaian sedang dengan tingkat kemiringan 20%. Pantai timur Pulau Masela memiliki tipe perairan yang landai sampai sedang, dengan tingkat kemiringan berkisar antara 8 - 20%. Kelandaian minimum dijumpai pada pantai timur sedangkan kelandaian maksimum terkonsentrasi pada pantai utara pulau. Kelandaian perairan Pulau Dawera dan Daweloor dikategorikan sebagai pantai landai dan curam dengan kemiringan di pantai selatan sebesar 8 % sementara di pantai utara kemi-ringan dapat mencapai 40%. IKLIM Iklim dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, yang tergantung pada musim. Curah hujan secara umum antara 1000 – 2000 mm pertahun dengan suhu rata-rata untuk tahun 2006 adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Sedang rata-rata kelembapan udara relative 80.2%; penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana P. Masela termasuk dalam kategori Zone D3 yakni: bulan basah 3 – 4 bulan dan kering 4 – 6 bulan. OCEANOGRAFI Pasang Surut dan Arus Pasang surut di perairan P. Masela memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 120
    •  Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 2,5 meter. Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti di Pulau Masela, Kroing, Dawera dan Daweloor. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga dapat berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang. Arus atau perpindahan massa air di perairan kecamatan ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini dapat mencapai 1 m.s-1 dominan bergerak dari arah timur menuju perairan bagian barat. Intensitas arus yang maksimum terjadi pada perairan antara Babar Timur dengan Pulau Daweloor-Dawera. Arus pasut memiliki kecepatan bervariasi antara 0,23 -0,31 m.s-1 dengan kecepatan rerata 0,27 m.s-1. Kecepatan Arus minimum terjadi di perairan sekitar Teluk Kroing sementara maksimum dijumpai pada perairan pantai Utara Pulau Masela. Gelombang Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan P. Masela. Berdasarkan letak posisi Pulau Babar terhadap arah datangnya angin maka perairan sepanjang pantai timur Pulau Masela dan Babar Timur mengalami tekanan gelombang yang intensif, terindikasi lewat tingkat abrasi yang kuat terjadi sepanjang pesisir pantai timur kedua pulau tersebut. Kualitas Air Suhu permukan laut Pulau Masela seperti wilayah lainnya di Kecamatan Babar Timur relatif rendah berkisar antara 26,40 – 26,70 °C dengan nilai rerata 26,55 °C. Suhu perairan rendah dijumpai pada perairan sekitar Pulau Masela sedangkan suhu maksimum dijumpai pada perairan pantai Kroing. Rendahnya suhu permukaan perairan di kecamatan ini masih berhubungan dengan proses taikan yang terjadi di Laut Banda dan Arafura pada bulan Juli – Agustus dan melemah pada bulan Oktober. Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi berkisar antara 34,5 – 35 ppt dengan nilai rerata 34,75 ppt. Salinitas minimum ditemukan pada perairan pantai Pulau Kroing sementara nilai maksimum ditemukan pada perairan Pulau Masela. Rendahnya MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 121
    •  kadar salinitas di perairan Teluk Kroing disebabkan oleh pengenceran air air tawar oleh sungai yang bermuara pada perairan tersebut. Tingkat kecerahan perairan di P. Masela dikategorikan atas tingkat kecerahan tinggi. Kecerahan perairan bervariasi antara 16 - 17 meter dengan nilai rerata 16,5 meter. Kecerahan minimum dijumpai pada perairan Teluk Kroing sedangkan kecerahan maksimum ditemukan pada perairan Pulau Masela. Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,31 – 0,54 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,54 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan Teluk kemudian meningkat maksimum di perairan pantai Pulau Masela. Nilai-nilai TSS yang diperoleh ini masih dapat digolongkan rendah sehingga memungkinkan bagi penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Kec. Babar Timur relatif tinggi berkisar antara 8,93 – 8,99 dengan nilai rerata 8,93. Nilai pH minimum dijumpai pada perairan pantai Pulau Masela sementara nilai pH maksimum ditemukan pada perairan Teluk Kroing. Kondisi nilai pH demikian menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Nilai pH pada bulan ini masih berada diatas kisaran nilai pH perairan umumnya. Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan kecamatan berkisar antara 13,70 – 14,56 mg/l dengan nilai rerata 14,13 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan pantai Teluk Kroing sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Pulau Masela. Nilai-nilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988. Unsur hara berupa fosfat, nitrat dan nitrit di perairan pulau ini juga bervariasi. Konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan berkisar antara 0,08 – 0,31 mg/l dengan nilai rerata 0,08 mg/l. Kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Pulau Masela sedangkan kadar maksimum fosfat terkonsentrasi di perairan Teluk Kroing. Konsentrasi nitrit di perairan cendrung tinggi baik di perairan Pulau Masela maupun Teluk kroing dengan nilai sebesar 0,009 mg/l. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi dengan nilai berkisar antara 1,4 – 1,5 mg/l dengan nilai rerata 1,45 mg/l. Distribusi konsentrasi nitrat dengan kadar minimum dijumpai pada perairan Pulau Masela sedangkan konsentrasi nilai maksimum dijumpai pada perairan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 122
    •  Teluk Kroing. Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan kedua unsur tersebut melalui seresah yang berasal dari ekosistem bakau yang ditemukan tumbuh disekitar perairan teluk. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 123
    •  MEATIMIARANG Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : MDONA HIERA Koordinat : Gambaran Umum Pada seluas 13,29 km2 ini menjadi teras depan yang berbatasan dengan Timor Leste. Meatimiarang menjadi bagian wilayah Desa Luang Barat, Kecamatan Mdona Hiera, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Secara geografis, pulau ini terletak antara 08o 21’ 09’’ LS dan 128o 30’ 52’’ BT. Untuk mencapainya, kita bertolak dari Ambon, Ibukota provinsi Maluku, menuju Saumlaki (Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat) menggunakan pesawat perintis. Perjalanan berlanjut menggunakan perahua atau kapal kecil selama tiga sampai empat jam perjalanan. Rute Saumlaki - Meatimiarang belum dilayani oleh kapal laut perintis. Alasannya, belum ada dermaga atau pelabuhan untuk sandar kapal laut berukuran besar. Topografi perairan dangkal turut mempengaruhi. Pulau dikelilingi karang landai dan cukup luas sehingga menyulitkan apabila kapal besar akan merapat. Bahkan, nahkoda kapal kecilpun harus mengetahui kapan saat terjadinya air laut surut untuk menghindari kapal kandas. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Meatimiarang berpenghuni sekitar 16 kepala keluarga (40 jiwa). Umumnya penduduk berasal dari Desa Luang Barat yang terletak di Pulau Luang yang terletak di Pulau Luang. Permukiman disini bersifat non permanen, yang terbuat dari bagian-bagian pohon kelapa. Warga bermukim hanya sementara waktu, saat menangkap ikan dan hasil MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 124
    •  laut lainnya yang banyak ditemukan di sekitar pulau. Mereka mengumpulkan hasil tangkap disini, lalu membawanya ke Pulau Luang untuk dijual. Adakalanya sebelum dijual ikan dikeringkan terlebih dahulu sebelum dijual. Penduduk musiman itu memiliki kecenderungan menetap di pulau. Hal ini tampak pada kualitas bangunan rumah yang menjadi semi permanen, bahkan sudah ada yang membangun dengan bahan baku semen. Rumah non permanen terbuat dari bahan pohon kelapa, terutama atap rumah, dan jarak antar rumah rata-rata 10 sampai 25 meter. Rumah semi permanen dan permanen berada di pantai barat. Selain itu, lama singgah menjadi lebih dari enam bulan. Keturunan warga ada yang terlahir dan mereka membangun sarana beribadah disana. Warga yang bermukim memberikan dampak positif terhadap pulau yang menjadi teras depan. Mereka mengukuhkan tapak Nusantara. Akan tetapi pemerintah dan lembaga terkait harus memperhatikan mereka, terutama sektor ekonomi dan pendidikan. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Penggunaan lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di Pulau Meatimiarang meliputi hutan primer, hutan sekunder, semak belukar, hutan bakau dan alang-alang serta lahan kosong (tandus). Di kawasan ini ditemukan agihan semak belukar, dan tanah kosong, mendominasi penutupan lahan. Di pulau pulau kecil ini tidak ditemukan hutan sekunder dan hutan primer. Penggunaan lahan perairan pesisir di Pulau Meatimiarang sampai pada batas zone kelola kabupaten (4 mil laut) meliputi pantai bergisik, pantai berbatu, rataan pasut berpasir, terumbu karang, perairan penangkapan dan budidaya laut. Pantai bergisik tersusun atas material pasir – kerikil dan kerakal, merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak dan hutan bakau. Lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pantai berbatu mencakup platform pantai, dan bongkahan batu karang terdistribusi secara luas di pesisir, juga merupakan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Atol di kecamatan ini terdistribusi pada dua region, yaitu di region pulau Luang dan sekitarnya dan region pulau Amortaun, Meaterialam dan Miatimiarang. Pada dua region atol tersebut terdistribusi terumbu karang, rataan pasut berpasir dan padang lamun yang luas yang berasosiasi dengan alge dan berbagai jenis biota. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 125
    •  Terumbu karang dengan agihan yang luas ditemukan sepanjang pesisir pulau Luang, dan sebagian di pulau Sermata, pulau pulau Amortaun, Meaterialam dan Miatimiarang. Pada kawasan perairan Atol, yang di dalamnya terdapat laguna, dimanfaatkan sebagai lahan penangkapan ikan demersal dan pelagis. Hutan mangrove juga ditemukan di wilayah ini. Demikian juga perairan oseanis di luar zone pasang surut dimanfaatkan untuk penangkapan ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang belum dikembangkan secara baik di kawasan atol maupun di luar atol. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove Komunitas mangrove Pulau Meatimiarang terletak pada posisi 128o 23,886 dan -8o 11,525 hanya dijumpai dua jenis mangrove yaitu Pemphis acidula, Rhyzophora mucronata dengan persen penutupan Anakan (6,90 %), Sapihan (24,14 %) Pohon (68,96 %) substrat pada daerah ini adalah pasir dengan vegetasi pantai jenis kasuari juga terdapat perkebunan penduduk terutama kelapa. Padang Lamun Komunitas lamun merupakan suatu ekosistem dengan susunan flora dan fauna yang khas, berkembang pada lingkungan yang khusus pula yaitu lingkungan perairan pantai yang landai atau dangkal (Phillips and Mc Roy, 1980 dalam Huliselan, 1982). Ekosistem lamun mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu sebagai daerah pembesaran, tempat mencari makan, tempat berlindung berbagai fauna juga berperan sebagai penangkap sedimen, pencegah erosi dan pelindung pantai (Nontji, 1987). Komunitas lamun secara ekologis mempunyai peranan dalam menunjang keseimbangan ekosistem perairan pantai, namun penyebarannya tidak merata disemua daerah pesisir pantai sebab terdapat perbedaan karakteristik perairan dimana substrat dasar suatu perairan merupakan salah satu parameter lingkungan utama yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan ekosistem tanaman lamun. Jenis dan kedalaman substrat berperan dalam menjaga stabilitas sedimen yang mencakup 2 hal, yaitu sebagai pelindung tanaman dari gerakan air laut (arus dan ombak), dan tempat pengolahan serta pemasok nutrient. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 126
    •  Di pulau ini terdapat 5 jenis lamun pada stasiun pengamatan Pulau Meatimiarang yang meliputi Thallasia hemprichii, Cymodecea rotundata., Cymodecea serulata, Halodule pinifolia dan Thallassiadenrom ciliatum. Dari ke lima jenis lamun yang ada, spesies Cymodecea rotundata memiliki kehadiran terbanyak pada setiap kuadran pengamatan diikuti oleh Thalassodendrom ciliatum, Thalassia hemprichii, Cymodecea serulata, dan paling sedikit kehadirannya adalah Halodule pinifolia. Kerapatan lamun di Pulau Meatimiarang, ditemukan sebesar 186,28 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi pada jenis Thalassodendrom ciliatum sebesar 74,72 tegakan/m2; dan terendah pada jenis Cymodecea serulata sebesar 8,89 tegakan/m2 . Untuk nilai persen tutupan lamun, jenis Thalassodendrom ciliatum memiliki nilai tutupan yang sangat besar yakni 80 % dan terendah persen tutupannya adalah Thalassia hemprichii dengan nilai sebesar 20%. Terumbu Karang Pada Pulau Metimiarang pengambilan data ekosistem terumbu karang hanya dilakukan pada satu titik pengamatan. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir Pulau Metimiarang, sebanyak 69 spesies, termasuk dalam 39 genera dan 15 famili. Kekayaan taksa karang tersebut menunjukan variasi spesies karang pada lokasi ini kurang variatif atau rendah kekayaan spesiesnya dibandingkan dengan areal-areal terumbu karang lainnya Dari 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik, di perairan pulau ini dijumpai sebanyak 14 kategori bentuk tumbuh yang terdiri dari 13 bentuk tumbuh komponen biotik dan 1 kategori komponen abiotik yakni batuan/karang papan (Rock). Kategori bentuk tumbuh komponen biotik terdiri dari bentuk tumbuh karang keras (Hard Corals) sebanyak 9 kategori (4 kategori bentuk tumbuh karang Acropora dan 5 kategori bentuk tumbuh karang Non Acropora), Algae dan fauna bentik lainnya (Other Faunas) masing-masing 2 bentuk tumbuh. Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di kecamatan ini memiliki persen penutupan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Kondisi terumbu karangnya berada pada kategori kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 25,72%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini (hampir mencapai ambang atas kategori buruk) dipengaruhi oleh persen tutupan komponen abiotik MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 127
    •  yang sangat tinggi yakni sebesar 56,76% dan seluruhnya berasal batuan/karang papan (Rock). Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu pada titik pengamatan ini berasal dari karang Non Acropora. Secara ringkas dikemukakan pada Tabel 2 berikut ini. Alga Jumlah jenis makro algae yang ditemukan pada Pulau Meatimi-arang adalah sebanyak 9 spesies yang dapat dimasukan ke dalam 5 genus, 4 famili, 4 ordo, dan 2 devisi. Penge-lompokannya dalam 2 devisi utama yaitu alga hijau (Chlorophyta) yang terdiri dari 3 spesies dan alga coklat (Phaeophyta) yang terdiri dari 6 spesies. Dari jenis-jenis yang ditemukan tersebut, terdapat jenis makro algae yang memiliki nilai ekonomis yaitu dari genus Caulerpa. Fauna Bentos Iventarisasi makrofauna bentos pada Pulau Meatimiarang dijumpai sebanyak 13 spesies, dimana 5 spesies diantaranya teridentifikasi memiliki nilai ekonomis penting. Spesies-spesies yang bernilai ekonomis tersebut yaitu, Hyppopus hyppopus, Tridacna crosea, Trochus niloticus, Turbo burneus, dan Pinctada margaritifera. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Hasil sensus visual yang dilakukan di perairan P. Meatimiarang dijumpai sebanyak 180 spesies ikan karang yang tergolong dalam 84 genera dan 28 famili. Berdasarkan kriteria pemanfataannya, maka dari 180 spesies ikan karang tersebut dapat dikelompokkan menjadi ikan konsumsi sebanyak 84 spesies dan ikan hias sebanyak 96 spesies. Empat famili ikan yang memiliki jumlah spesies tertinggi masing-masing sebagai berikut: Labridae (32 spesies), Pomacentridae (28 spesies), Chaetodontidae (19 spesies) dan Acanthuridae (18 spesies). Sedangkan empat genera yang memiliki jumlah spesies tertinggi adalah: Chaetodon (16 spesies), Scarus (9 spesies), Acanthurus (7 spesies) dan Naso (7 spesies). Kepadatan ikan karang di perairan pulau ini sebesar 10,28 individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka kepadatan ikan konsumsi (6,52 individu/m2) lebih tinggi dari kepadatan ikan hias (3,76 individu/m2). Jumlah individu ikan karang di perairan ini mencapai 102.800 individu/Ha, dimana berat ikan konsumsi mencapai 16,29 ton/Ha. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 128
    •  Hasil estimasi potensi ikan karang di perairan P. Meatimiarang dan sekitarnya diperoleh besar sumber sebesar 51 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebesar 33 individu dengan biomassa sebesar 0,01 ton dan ikan hias sebesar .19 individu. Berdasarkan SK Mentan No. 995 tahun 1999, maka potensi lestari dari ikan karang di perairan ini sebesar 26 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 16 individu dan ikan hias sebesar 10 individu. Berdasarkan SK tersebut juga maka potensi ikan karang yang boleh dimanfaatkan di perairan ini sebesar 21 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 13 individu dan ikan hias sebesar 8 individu (Tabel 4). Perikanan Tangkap Nelayan desa Luang Barat dan Luang Timur mengoperasikan sedikitnya 5 jenis alat tangkap di Pulau Meatimiarang yakni jaring insang dasar (bottom gill net), jaring insang lingkar (surrounding gill net), bagan perahu (boat lift net), pancing tangan (hand line) dan bubu (traps net). Jenis ikan demersal/karang antara lain lalosi (Caesio sp), kulit pasir (Zabrasoma scopas), belanak (Mugil sp), samandar (Siganus sp) dan lainnya tertangkap dengan jaring insang dasar (bottom gill net), jaring insang lingkar (surrounding gill net) dan bubu (traps net). Jenis ikan demersal/karang lainnya juga tertangkap dengan pancing tangan (hand line). Ikan pelagis kecil seperti teri (Stolephorus sp), lemuru/”make” (Sardinella sp), layang (Decapterus sp), selar (Selar sp; Selaroides sp) dan lainnya ditangkap dengan menggunakan pancing tangan (hand line). Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Pulau Meatimiarang memiliki topografi datar, dengan terumbu karang yang luas disekelilingnya. Di atas pulau ini tumbuh vegetasi hutan dan vegetasi pantai yang cenderung homogen. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 129
    •  Iklim Iklim di sekitar pulau dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, tergantung pada musim. Curah hujan secara umum di Kec. Mdona Hiera antara 1000 – 2000 mm pertahun. Suhu rata-rata 27.6 ºC., dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8 ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Sedangkan rata-rata kelembapan udara relative 80,2%; penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana Pulau Meatimiarang dikategorikan dalam Zone D3: bulan basah 3 – 4 bulan dan kering 4 – 6 bulan. OCEANOGRAFI Pasang surut dan Arus Pasang surut di perairan Pulau Meatimiarang memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 3 meter . Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti perairan Pulau Meatimiarang, Luang, Kelapa dan beberapa bagian perairan Pulau Sermata. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang yang tidak mampu beradaptasi terhadap keadaan yang ekstrim tersebut. Arus atau perpindahan massa air di perairan ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini bergerak dari arah timur laut dan timur dengan kecepatan dapat mencapai 1 m.s-1. Arus pasut dengan intensitas kuat terjadi pada perairan selat antara Pulau Sermata dengan Pulau Kelapa saat air bergerak surut. Kecepatan arus pasut berkisar antara 0,06 – 0,15 m.s-1 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 130
    •  dengan kecepatan rerata 0,09 m.s-1. Kecepatan maksimum ditemukan pada perairan Pulau Meatimiarang. Gelombang Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan Pulau Meatimiarang. Berdasarkan letak posisi pulau terhadap arah datangnya angin maka bagian timur dan selatan Pulau Sermata akan mengalami tekanan gelombang yang kuat. Hal yang sama juga terjadi pada Pulau Kelapa dan Pulau Luang namun pulau-pulau ini memiliki Barier Reef yang luas dan mampu meredam ombak sebelum menghantam daratan. Kualitas Air Suhu permukan laut Pulau Meatimiarang berkisar antara 26,30 – 27,10 °C dengan nilai rerata 26,70 °C. Suhu perairan kelihatan rendah pada perairan sekitar Tg. Wahar di Pulau Sermata dan meningkat hangat dan homogen sampai kedalaman 30 meter di Pulau Meatimiarang. Fenomena ini diduga sebagai akibat penyusupan massa air Laut Timor yang hangat melalui selat sempit antara kedua pulau. Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi dengan nilai sebesar 35 ppt baik di Pulau Sermata, Kelapa dan Pulau Meatimiarang. Tingginya kadar salinitas ini mengindikasikan bahwa massa air yang melingkupi perairan tersebut adalah massa air oseanik yang berkadar garam tinggi. Pengenceran air laut oleh massa air tawar sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar salinitas perairan. Tingkat kecerahan perairan di Pulau Meatimiarang dikategorikan atas tingkat kecerahan tinggi, bervariasi antara 15 - 17 meter dengan nilai rerata 16 meter. Kenyataan ini didukung oleh kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan yang tergolong rendah, berkisar antara 0,62 – 0,73 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,67 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan Pulau Sermata kemudian meningkat maksimum di perairan pantai Pulau Kelapa. Kondisi ini memungkinkan bagi penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Kecamatan Mdona Heira dikategorikan tinggi berkisar antara 8,54 – 8,57 dengan nilai rerata 8,56. Nilai pH MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 131
    •  minimum dijumpai pada perairan pantai Pulau Meatimiarang sementara nilai pH maksimum ditemukan pada perairan Pulau Sermata. Kondisi nilai pH demikian menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Nilai pH pada bulan ini masih berada diatas kisaran nilai pH perairan umumnya. Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan berkisar antara 13,40 – 14,40 mg/l dengan nilai rerata 13,95 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan Pulau Meatimiarang sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Tg.Wahar di Pulau Sermata. Nilai-nilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988. Dari analisis unsur hara perairan yang dilakukan, konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan berkisar antara 0,21 – 0,23 mg/l dengan nilai rerata 0,22 mg/l. Kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Pulau Sermata kemudian meningkat diperairan Pulau Meatimiarang sedangkan kadar maksimum fosfat terkonsentrasi di perairan Pulau Kelapa. Konsentrasi nitrit cukup tinggi yaitu berkisar 0,007 – 0,021 mg/l dengan nilai rerata 0,014 mg/l. Distribusi nitrit dengan konsentrasi minimum dijumpai pada perairan Pulau Sermata kemudian sedikit mengalami peningkatan pada perairan Pulau Meatimiarang dan mencapai nilai maksimum pada perairan Pulau Kelapa. Sedangkan konsentrasi nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi berkisar antara 1,4 – 1,90mg/l dengan nilai rerata 1,65 mg/l. Konsentrasi minimum berada pada perairan Pulau Sermata dan Pulau Meatimiarang sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Pulau Kelapa. Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berasal dari massa air Laut Banda hasil taikan selama bulan Juli – Agustus yang kaya akan unsur hara jika dibandingkan dengan kemampuan ekosistem mangrove yang mengindrodusir zat hara ke perairan keberadaanya sangat jarang dan hanya ditemukan pada pantai timur Pulau Sermata, dan Pulau Meatimiarang di kecamatan ini. Analisa yang dilakukan terhadap keberadaan logam berat, ternyata unsur Cr tidak ditemukan dalam kolom air permukaan sementara konsentrasi kadar nilai Cu berkisar antara 0,01 - 0,57 mg/l dengan nilai rerata 0,29 mg/l. Konsentrasi nilai minimum dijumpai pada perairan pesisir Pulau Sermata kemudian meningkat maksimum di perairan Pulau Kelapa. Keberadaan unsur Cu cukup signifikan dalam kolom air permukaan laut. diduga kuat keberadaan unsur ini berhubungan dengan batuan dasar yang menyusun pulau-pulau MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 132
    •  tersebut. Sarana dan Prasarana Dengan keberadaan penduduk, pulau telah memiliki bangunan rumah yang bertipe semi permanen, Gereja, Jalan setapak, armada, alat penangkapan ikan, dan lain-lain. Disini terdapat mercusuar yang terbangun pada masa penjajahan Belanda. Bangunan mercusuar mempunyai konstruksi besi, ditopang oleh 7 pondasi beton kuat, tinggi mercusuar kurang lebih 25 meter, dan berada di pantai sisi Barat. Sumber tenaga sinar lampu mercusuar memakai solar sel sehingga secara otomatis menyala saat malam hari. Di sekitar mercusuar berdiri beberapa bangunan rumah yang berfungsi sebagai kantor dan tempat bagi karyawan penjaga mercusuar. Namun selama beberapa tahun terakhir kantor tersebut kosong sehingga tidak ada yang menjaga fasilitas dan fungsi mercusuar. Dari informasi penduduk setempat, beberapa penjaga yang bertugas mengalami sakit sehingga harus meninggalkan pulau ini untuk melakukan pengobatan. Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 133
    •  WETAR Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA Kecamatan : WETAR Koordinat : Gambaran Umum Inilah salah satu pulau terdepan Nusantara yang berada di wilayah Laut Banda. Pulau seluas 2.622,35 kilometer persegi ini termasuk administrasi Kecamatan Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Selain Wetar, kecamatan dengan 23 desaq ini memiliki pulau kecil lain, seperti Babi, Lirang/Liran, dan Redong. Wetar yang menjadi teras negara dengan Republik Demokratik Timor Leste berada di antara perairan Banda (batas Utara), Selat Wetar dan Pulau Timor (Selatan), dan Pulau Flores di bagian Barat. Secara spesifik, Wetar berada di 7° 48′ 19″ LS, 126° 15′ 58″ BT. Untuk mencapai pulau, kita harus menumpang KM Pangrango, kapal perintis milik Pelni yang memiliki rute Kupang-Ilwaki-Kisar-Leti-Tepa-Saumlaki-Ambon (pergipulang). Pilihan moda transportasi udara dapat ditempuh melalui Ambon menuju Saumlaki selama sekitar 2 jam. Dari Saumlaki perjalanan melalui laut menuju Ilwaki dengan waktu tempuh kurang lebih 20 jam. Pesawat udara Ambon - Saumlaki beroperasi dua kali dalam satu minggu. Pilihan lainnya, bertolak dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, kita memilih rute Atambua - Kisar dengan jalur udara. Penerbangan perintis ini beroperasi satu kali dalam seminggu. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 134
    •  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Sensus penduduk 2010 menunjuk jumlah penduduk pulau sebesar 7.937 jiwa. Sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, petani, pedagang, PNS dan TNI. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Di Wetar telah terbangun sejumlah fasilitas, seperti bangunan sekolah (SD-SMPSMA), kesehatan (puskesmas), dan jalan penghubung serta dermaga kapal. Perusahaan Daerah Air Minum telah melayani air bersih dan sumber sir yang ada digunakan untuk kepentingan bersama. Sementara itu, kebutuhan listrik masih menggunakan generator diesel. Komunikasi yang ada hanya mengandalkan gelombang SSB (yang menjangkau seluruh desa di Wetar) dan GSM (hanya radius sekitar 100 meter di Ilwaki - Ibukota Kecamatan. Di wilayah pesisir terdapat mangrove sebanyak 15 spesies yang tergolong dalam 15 genera dan 12 famili. ekosistem mangrove dapat dijumpai di bagian selatan, tenggara dan barat. Keragaman jenis mangrove yang paling tinggi dapat ditemukan di pesisir barat (14 jenis), sementara itu di bagian tenggara hanya memiliki tujuh spesies. Spesies Mangrove yang menyebar di wilayah ekologis pesisir Pulau Wetar yaitu Senneratia alba, Baringtonia asiatica, Hibiscus tiliaceus, Nypa fructicans dan Acanthus licifolius. Para peneliti telah menemukan kesamaan spesies mangrove yang ada di Nusa Tenggara dan Timor Leste. Sementara itu, kesamaan spesies antara pesisir Pulau Wetar dengan Pulau Yamdena sebesar 80%. di perairan dangkal, lumun ditemukan sebanyak tujuh jenis dan merupakan 63,6% dari kekayaan spesies lamun di perairan pesisir Maluku. Wetar memiliki ekosistem terumbu karang yang menyebar hampir merata di seluruh bagian pulau. Panjang terumbu karang cukup menonjol di perairan pesisir selatan dan utara. Beberapa jenis ikan dapat dijumpai antara lain ikan kembung, Acanthurus, kerapu, tuna dan ikan ekor kuning. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 135
    •  Lingkungan Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 136
    •  ASUTUBUN Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Kecamatan : TANIMBAR SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Asutubun merupakan salah satu pulau terluar yang terdapat di Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Di pulau ini terdapat titik dasar no TD.105C dan titik referensi no TR.105 sebagai acuan penarikan batas dengan Negara Australia. Secara administratif, Pulau Asutubun termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku. Sedangkan secara geografis pulau ini terletak antara 08o 03’ 07’’ LS dan 131o 18’ 02’’ BT. Sebelah Selatan, Timur dan Barat pulau ini, berbatasan dengan perairan Laut Aru, sedangkan sebelah Utara berbatasan dengan wilayah daratan Kecamatan Wertamrian dan Wermaktian. Akses untuk menuju Pulau Asutubun cukup sulit, karena tidak ada transportasi umum atau reguler yang menuju ke pulau ini. Untuk menuju ke pulau ini dapat ditempuh dengan menggunakan speed boat yang dapat disewa dari Kota Saumlaki. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Penutup lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di Kecamatan Tanimbar Selatan meliputi hutan primer, hutan sekunder, semak dan alang-alang, belukar, ladang/tegalan, kebun campuran, tanah kosong, dan pemukiman. Luas areal pemukiman di MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 137
    •  kecamatan Tanimbar Selatan 8,10 km2, Semak belukar 36,35 km2, tanah kosong 4,49 km2, hutan mangrove 13,09 km2. Pantai bergisik merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak dan formasi Pescaprea, dengan material gisik berukuran kerikil hingga lempung. Lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang. Lahan ini juga merupakan lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Stack merupakan satuan morfologi dari berbagai jenis batuan yang terisolasi, terpisah dari batuan induk di daratan setelah mengalami proses erosi permukaan oleh gelombang dan arus, serta proses pelarutan (khusus batuan gamping). Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, alge dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan alge yang bervariasi. Agihan terumbu karang cukup luas di wilayah ini yakni 47,28 km2, Lamun 1,79 km2, Saaru 0.32 km2, Laguna 10,4040 km2 dan Hutan mangrove 13,10 km2. Penutupan padang lamun dan alge 1,79 km2. Di luar zone pasang surut, yang merupakan perairan oseanis dimanfaatkan untuk penangkapan ikan dan budidaya perairan. Jenis penangkapan ikan meliputi penangkapan ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang. Padang Lamun Ekosistem lamun di P. Asutubun tidak diketemukan, hal ini dikarenakan kondisi substrat pantai yang sangat berbatu sehingga menjadi faktor pembatas bagi tumbuh dan berkembangnya ekosistem ini. Ada beberapa pohon lamun yang ditemukan di danau Asutubun (ditengah pulau) yang dilakukan melalui penanaman sehingga tidak memberikan peluang untuk tumbuh dengan baik. Teridentifikasi hanya dua jenis lamun yakni Cimoducea rotundata dan Thallassia hemprivhii. Terumbu Karang Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir P. Astubun, sebanyak 58 spesies, termasuk dalam 34 genera dan 12 famili. Kekayaan taksa karang tersebut menunjukan variasi spesies karang pada lokasi ini kurang variatif atau rendah kekayaan spesiesnya dibandingkan dengan areal-areal terumbu karang lainnya. Dari 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik, di perairan P. ini dijumpai sebanyak 16 kate-gori bentuk tumbuh yang terdiri dari 14 bentuk tumbuh komponen biotik dan 2 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 138
    •  kategori kompo-nen abiotik yakni patahan karang mati (Rubble) dan pasir. Kategori bentuk tumbuh komponen biotik terdiri dari bentuk tumbuh karang keras (Hard Corals) sebanyak 12 kategori (4 kategori ben-tuk tumbuh karang Acropora dan 8 kategori bentuk tumbuh karang Non Acropora), Algae dan fauna bentik lainnya (Other Faunas) masingmasing 1 bentuk tumbuh. Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di kecamatan ini memiliki persen penutupan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Kondisi terumbu karangnya berada pada kategori kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 36,46%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini dipengaruhi oleh persen tutupan komponen abiotik yang cukup tinggi terutama berasal dari pasir yakni sebesar 32,96% dan komponen biotik lainnya yaitu karang lunak (Soft Corals) sebesar 26,36%. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu pada titik pengamatan ini berasal dari karang Non Acropora. Alga Jumlah keragaman jenis makro algae yang ditemukan pada Asutubun adalah sebanyak 7 spesies yang dapat dikelompokan ke dalam 6 genus, 5 famili, 4 ordo, dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi utama yaitu alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 3 spe-sies, alga coklat (Phaeophyta) yang terdiri dari 3 spesies dan alga merah (Rhodophyta) terdiri dari 1 spesies. Substrat perairan didominasi oleh pasir berlumpur. Penyebaran makro algae di perairan ini pun sangat kurang bahkan agak jarang ditemukan. Dari jenis-jenis yang ditemukan tersebut, ada yang bernilai ekonomi yaitu dari genus Caulerpa dan Gracilaria. Fauna Benthos Pulau Asutubun memiliki 8 spesies bentos, dimana dari keseluruhan spesies tersebut ternyata setengahnya atau 3 spesies diantaranya memiliki nilai ekonomis penting. Speses-speseis tersebut antara lain Gafrarium tumidum, Saccostrea echinata dan Holothuria scabra. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Pulau Astubun memiliki 93 spesies ikan karang yang tergolong dalam 58 genera dan 21 famili. Berdasarkan kriteria pemanfataannya, maka ke-93 spesies ikan karang MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 139
    •  tersebut dapat dikelompokkan menjadi ikan konsumsi sebanyak 39 spesies dan ikan hias sebanyak 54 spesies. Lima famili ikan yang memiliki jumlah spesies tertinggi masingmasing sebagai berikut: Pomacentridae (19 spesies), Labridae (18 spesies), Chaetodontidae (8 spesies) serta Acanthuridae dan Scaridae masing-masing sebesar 7 spesies. Sedangkan genera-genera yang memiliki jumlah spesies tertinggi adalah: Chaetodon (7 spesies), Scarus (4 spesies) sedangkan Acanthurus, Pomacentrus, Parupeneus, Dascyllus dan Halichoeres masing-masing memiliki 3 spesies. Kepadatan ikan karang di perairan Pulau ini sebesar 3,89 individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka kepadatan ikan konsumsi (2,44 individu/m2) lebih tinggi dari kepadatan ikan hias (1,45 individu/m2). Jumlah individu ikan karang di perairan ini mencapai 38.880 individu/Ha, dimana berat ikan konsumsi mencapai 6,09 ton/Ha. Jenis ikan yang ditangka di P. Matakus dan P. Asatubun antara lain ikan make, puri, parang-parang, ikan merah, ikan bendera, ikan biji nangka, ikan samandar, ikan raja bau, ikan gutana, ikan gurara, ikan mata bulan, ikan kerong-kerong, ikan momar, ikan komu, ikan bubara, ikan cakalan, ikan tuna, ikan piskada, ikan tengiri, sontong dan lainlain. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Topografi wilayah Pulau Asutubun dibagi atas 2 kelas, yaitu daerah rendah dengan ketinggian antara 0 - 100 meter dan daerah tengah dengan ketinggian antara 100-500 meter. Selain itu terbagi atas 5 kelas kemiringan lereng yaitu datar (0-3), landai atau berombak (3-8), bergelombang (8-15), agak curam (15-30), dan sangat curam (>30). Daerah daratan sangat luas dan tersebar di kawasan pesisir Teluk Saumlaki, sedangkan lereng yang curam memiliki area sempit yang berada di bagian timur Pantai Wowonda. Terdapat tiga golongan material bebatuan penyusun Pulau Asutubun yaitu material gamping kapak, gamping pasiran dan material klastik yang terususun dalam 4 formasi batuan yakni formasi Saumlaki, Batufamudi, Kompleks Molu, dan Batu Lembuti. Formasi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 140
    •  Saumlaki merupakan perselingan lempung coklat kemerahan dan kelabu dengan tufa kaca putih kotor. Ke bagian atas terdapat sisipan batu gamping coklat kemerahan sempai kelabu, pasir gampingan dan batu pasir kuarsa. Komplek Molu terdiri dari bermacammacam batuan yakni batuan beku, malihan dan batuan sedimen yang umumnya berbedabeda. Bantuan ini diduga terbentuk oleh adanya aktivitas tektonik pada awal neogen yang merupakan batuan melange. Berdasatkan klesifikasi agroklimate menurut Oldeman, Irsal dan Muladi (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana Kecamatan Tanimbar Selatan termasuk juga didalamnya Pulau Asutubun dikategorikan dalam zona C3 dengan bulan basah sebanyak 5-6 bulan dan bulan kering sebanyak 4-5 bulan. Keadaan iklim di pulau ini sangat dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura, dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh pulau Irian bagian timur dan Benua Australia bagian selatan sehingga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan sesuai pergantian musim. Curah hujan antara 1000 - 2000 mm pertahun dengan suhu rata-rata 27,6°C dimana suhu minimum absolute rata-rata 21,8 °C dan suhu maksimum 33,0°C. Sedangkan rata-rata kelembaban udara relatif 80,2%, penyinaran matahari rata-rata 71,0% dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Pasang surut di perairan Pulau Asutubun memiliki tipe yang sama dngan daerah lainnya di Maluku, yaitu tergolong dalam pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang yang kedua. Tunggang air (tidar range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2-2,5 meter dan dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul ke permukaan seperti di Olilit, Wowonda, Pulau Matakusu, Pulau Anggarmasa dan Latdalam. Kejadian meti kei selama bulan Oktober memberikan dampak sehingga dapat berakibat fatal bagi organisme termasuk juga terumbu karang. Arus atau perpindahan massa air di perairan kecamatan ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Arus angin mendominasi perairan ini, kecuali di teluk dan selat sempit yang didominasi oleh arus pasut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini dapat mencapai 1 m.s-1 yang dominan bergerak dari arah timur menuju perairan bagian barat melalui Selat Egeron. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 141
    •  Kecepatan arus pasang surut yang terekam bervariasi antara 0,06 – 0,26 m.s-1 dengan nilai kecepatan rerata 0,17 m.s-1. Kecepatan arus minimum terekam pada perairan pesisir P. Asutubun kemudian meningkat pada perairan pantai Olilit Lama sebesar 0,20 m.s-1 Gelombang yang datang di perairan Kecamatan Tanimbar Selatan cenderung dan dominan menggempur perairan pantai bagian timur kecamatan. Energi gelombang yang tinggi dapat terjadi di perairan pesisir pantai Olilit karena memiliki daerah dataran terumbu yang luas mengarah ke arah Laut Arafura. Tinggi gelombang yang ekstrim dapat terjadi pada Selat Egeron sementara bagian perairan Teluk Soumlaki dan pantai bagian barat kecamatan lebih terlindung dan cenderung lebih tenang. Suhu permukan laut di Kecamatan Tanimbar Selatan relatif rendah bervariasi antara 25,80 – 26,20 °C dengan nilai rerata 26 °C. Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi yaitu sebesar 35 ppt Berdasarkan acuan ini maka tingkat kecerahan perairan di Keca-matan Tanimbar Selatan dikategorikan atas tingkat kecerahan sedang sampai tinggi. Kecerahan perairan bervariasi antara 6-15 meter dengan nilai rerata 7,5 meter. Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,61 – 0,79mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,68 mg/l. Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Kecamatan Tanimbar Selatan relatif tinggi berkisar antara 8,09 – 8,44 dengan nilai rerata 8,32. Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan Kecamatan Tanimbar Selatan bekisar antara 13,51 – 14,01 mg/l dengan nilai rerata 13,84 mg/l.Konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan cukup tinggi dimana nilai berkisar antara 0,83 – 0,87 mg/l dengan nilai rerata 0,84 mg/l. sementara kandunganklorofil-a di perairan P. Asutubun sedikit menurun dengan nilai berkisar antara 0,35 – 0,4 mg/m3. Konsentrasi klorofil-a fitoplankton rendah menyebar sepanjang pesisir pantai timur kecamatan dengan nilai berkisar antara 0,15 – 0,25 mg/m3. Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 142
    •  Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 143
    •  BATARKUSU Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Kecamatan : TANIMBAR SELATAN Koordinat : Gambaran Umum Pulau Batarkusu merupakan salah satu pulau terluar yang tidak berpenghuni, terletak di Laut Timor dan berbatasan langsung dengan Negara Australia. Oleh masyarakat sekitar, pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Matakus. Secara administratif, pulau Batarkusu termasuk dalam wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, provinsi Maluku. Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 107 dan titik referensi (TR) no. 107 A. Akses menuju Pulau Batarkusu cukup sulit, karena tidak ada transportasi reguler atau umum yang menuju ke pulau ini. Untuk mencapai pulau ini dapat menggunakan perahu kecil atau speed boat yang dapat disewa dari pulau Selaru. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Penggunaan lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di Kecamatan Tanimbar Selatan meliputi hutan primer, hutan sekunder, semak dan alang-alang, belukar, ladang/tegalan, kebun campuran, tanah kosong, dan pemukiman. Luas areal pemukiman di MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 144
    •  kecamatan Tanimbar Selatan 8,10 km2, Semak belukar 36,35 km2, tanah kosong 4,49 km2, hutan mangrove 13,09 km2. Penggunaan lahan perairan pesisir di kecamatan Tanimbar Selatan sampai pada batas zone pengelolaan kabupaten (4 mil laut) meliputi pantai berpasir, pantai berbatu, pantai tebing terjal, pantai berteras, stack, rataan pasut berpasir, rataan pasut berlumpur, rataan pasut bervegetasi mangrove, lamun dan alge, rataan terumbu karang, tepi terumbu, laguna, perairan penangkapan dan budidaya laut. Pantai bergisik merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak dan formasi Pescaprea, dengan material gisik berukuran kerikil hingga lempung. Lahan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang. Lahan ini juga merupakan lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Stack merupakan satuan morfologi dari berbagai jenis batuan yang terisolasi, terpisah dari batuan induk di daratan setelah mengalami proses erosi permukaan oleh gelombang dan arus, serta proses pelarutan (khusus batuan gamping). Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, alge dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan alge yang bervariasi. Agihan terumbu karang cukup luas di wilayah ini yakni 47,28 km2, Lamun 1,79 km2, Saaru 0.32 km2, Laguna 10,4040 km2 dan Hutan mangrove 13,10 km2. Penutupan padang lamun dan alge 1,79 km2. Di luar zone pasang surut, yang merupakan perairan oseanis dimanfaatkan untuk penangkapan ikan dan budidaya perairan. Jenis penangkapan ikan meliputi penangkapan ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Hutan Mangrove Pada P. Batarkusu Kecamatan Tanimbar Selatan (Kab. MTB) yang terletak pada posisi 131o 11,445 dan -8o 03,682 hanya dijumpai empat jenis mangrove yaitu Sonneratia alba, Rhyzophora mucronata, Avicennia alba, Aegealitis annulata dengan persen penutupan Anakan (23,19 %), Sapihan (24,64 %) Pohon (52,17 %) substrat pada daerah ini adalah pasir berlumpur. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 145
    •  Padang Lamun Komunitas lamun secara ekologis mempunyai peranan dalam menunjang keseimbangan ekosistem perairan pantai, namun penyebarannya tidak merata disemua daerah pesisir pantai sebab terdapat perbedaan karakteristik perairan dimana substrat dasar suatu perairan merupakan salah satu parameter lingkungan utama yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan ekosistem tanaman lamun. Jenis dan kedalaman substrat berperan dalam menjaga stabilitas sedimen yang mencakup 2 hal, yaitu sebagai pelindung tanaman dari gerakan air laut (arus dan ombak), dan tempat pengolahan serta pemasok nutrient. Di Kecamatan Tanimbar Selatan terdapat 3 jenis lamun; Cymodecea rotundata, Cymodecea serulata, dan Halodule pinifolia. Dari ke 3 jenis lamun yang ada, spesies Cymodecea rotundata memiliki frekwensi kehadiran tertingi sedangkan terendah kehadirannya adalah Halodule pinifolia. Terumbu Karang Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir P. Batarkusu sebanyak 90 spesies, seluruhnya termasuk dalam 48 genera dan 17 famili. Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di pulau ini secara umum, lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Secara umum kondisi terumbu karang di kecamatan ini berada pada kategori kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 49,75%, tetapi bila dilihat berdasarkan titik pengamatan maka kondisi terumbu karang di P. Batarkusu tergolong kategori baik (Good) dengan persen penutupan sebesar 63,14%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik di Pantai Weluang (yang mendekati ambang batas kategori baik/Good) dipengaruhi oleh persen tutupan komponen abiotik yakni sebesar 30,34%, terutama berasal dari pasir dan patahan karang mati, sedangkan untuk P. Asutubun kondisinya dipengaruhi oleh tutupan komponen abiotik terutama pasir dan persen penutupan fauna lainnya, yang seluruhnya berasal dari persen tutupan karang lunak (soft coral). Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu di kecamatan ini secara keseluruhan maupun berdasarkan titk pengamatan berasal dari karang Non Acropora kecuali untuk titik pengamatan di P. Batarkusu berasal dari karang Acropora. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 146
    •  Alga Jumlah jenis makro algae yang ditemukan pada P. Batarkusu sebanyak 7 spesies yang dapat dikelompokan ke dalam 6 genus, 6 famili, 5 ordo, dan 3 devisi. Secara rinci ketiga devisi tersebut adalah alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 2 spesies, alga coklat (Phaeophyta) yang terdiri dari 2 spesies dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 4 spesies. Dari jenis-jenis yang ditemukan tersebut, ada beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis penting yaitu dari genus Caulerpa, Gracilaria dan Hypnea. Fauna Benthos Dari keseluruhan spesies yang ada, teridentifikasi ada 10 spesies baik dari kelompok moluska maupun ekinodermata yang bernilai ekonomis penting. Kesepuluh spesies tersebt antara lain; Gafrarium tumidum, Barbatia amygdalumtostum, Maleus maleus, Lambis lambis, Melo melo, Pinctada margaritifera, Tridacna squamosa, Holothuira scabara dan Bohadschie argus. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Hasil sensus visual yang dilakukan di perairan Pulau Batarkusu dijumpai sebanyak 110 spesies ikan karang yang tergolong dalam 67 genera dan 24 famili. Berdasarkan kriteria pemanfataannya, maka ke-110 spesies ikan karang tersebut dapat dikelompokkan menjadi ikan konsumsi sebanyak 49 spesies dan ikan hias sebanyak 61 spesies. Empat famili ikan yang memiliki jumlah spesies tertinggi masing-masing sebagai berikut: Labridae (23 spesies), Pomacentridae (18 spesies), Chaetodontidae (10 spesies) serta Acanthuridae (9 spesies). Sedangkan genera-genera yang memiliki jumlah spesies tertinggi adalah: Chaetodon (8 spesies), Acanthurus dan Scarus (masing-masing memiliki 5 spesies) serta Pomacentrus (4 spesies). Berdasarkan SK Mentan No. 995 tahun 1999, maka potensi lestari dari ikan karang di perairan ini sebesar 10 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 6 individu dan ikan hias sebesar 4 individu. Berdasarkan SK tersebut juga maka potensi ikan karang yang boleh dimanfaatkan di perairan ini sebesar 8 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 5 individu dan ikan hias sebesar 3 individu. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 147
    •  Perikanan Tangkap Untuk penangkapan ikan, jenis alat tangkap yang dijumpai antara lain: bagan, jaring dasar, bubu, panah, hand line, multiplr hand line, huhate, pancing tunda namun pada Desa Olilit juga masih dijumpai nelayan yang mempergunakan racun/tuba untuk dapat memabukan ikan. Jenis ikan yang ada di Pulau Batarkusu antara lain ikan make, puri, parang-parang, ikan merah, ikan bendera, ikan biji nangka, ikan samandar, ikan raja bau, ikan gutana, ikan gurara, ikan mata bulan, ikan kerong-kerong, ikan momar, ikan komu, ikan bubara, ikan cakalan, ikan tuna, ikan piskada, ikan tengiri, sontong dan lain-lain. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan Topografi wilayah Kecamatan Tanimbar Selatan dibagi atas 2 kelas, yaitu: (1) daerah Rendah (R) dengan ketinggian 0 – 100 m; dan (2) daerah Tengah (M) dengan ketinggian 100 – 500 m, dengan lima kelas kemiringan lereng yaitu datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), agak curam (15-30%) dan sangat curam (>30%). Terdapat tiga golongan material batuan penyusun wilayah kecamatan Tanimbar Selatan yaitu material gamping kompak, gamping pasiran dan material klastik yang tersusun dalam 4 formasi batuan yakni formasi Saumlaki, Batumafudi, kompleks Molu, Batu Lembuti dan formasi Batumafudi anggota Napal. Formasi Saumlaki merupakan perselingan lempung coklat kemerahan dan kelabu, dengan tufa kaca putih kotor; ke arah bagian atas terdapat sisipan batu gamping coklat kemerahan sampai kelabu, pasir gampingan dan batu pasir kuarsa; Komplek Molu terdiri dari bermacam-macam batuan yakni batuan beku, malihan, dan batuan sedimen yang umumnya berbeda-beda. Batuan ini diduga terbentuk oleh adanya aktivitas tektonik pada awal neogen yang merupakan batuan “melange”. Di atas formasi Tangustabun dan Komplek Molu, diendapkan secara tidak selaras batuan dari formasi Batimafudi yang terdiri dari perselingan batugamping pasiran, napal dan batu pasir gampingan; berumur Miosen. Dalam formasi Batimafudi terdapat anggota MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 148
    •  napal yang batuannya terdiri dari napal bersisipkan batu gamping pasiran, formasi ini ditindih tak selaras oleh formasi Batilembuti yang berumur Pliosen; yang hampir seluruhnya terdiri dari napal, berwarna putih kotor sampai kelabu muda dan bersifat pejal, kaya akan fosil plankton dan benthos; bagian atasnya berupa batu gamping yang sangat rapuh, setempat napal kapuran berwarnah putih dan ringan. Tenaga geomorfik yang berperan terhadap perubahan geomorfologi sepanjang pesisir kecamatan Tanimbar selatan adalah tenaga marin yakni gelombang, pasang surut dan arus. Proses geomorfologi di kawasan ini meliputi proses destruksional (pelapukan sepanjang garis pantai dan erosi pantai), dan proses kontruksional (pergerakan sedimen dan deposisi sedimen). Proses deposisi terjadi pada hulu teluk Saumlaki, sedangkan pada bagian timur, barat dan inlet teluk, proses destruksi lebih dominan. Secara keseluruhan satuan bentuklahan hasil proses tersebut adalah gisik, rataan pasut berlumpur, rataan pasut bervegetasi mangrove, terumbu karang, rataan pengikisan gelombang (platform), tebing terjal (cliff), tebing menggantung (notch) dan stack. Pantai bergisik merupakan pantai tipe deposisional, terdistribusi pada sisi timur dan barat Yamdena juga pada kawasan sekitar Bomaki, dan pulau-pulau kecil (Angwarmase, Asutubun, Nustabun, dan Batarkusu). Proses akumulasi pasir di pantai sangat bergantung pada arah datang dan sudut jangkauan gelombang dengan pantai. Pantai yang letaknya berhadapan langsung dengan arah gelombang datang mengalami erosi yang sangat kuat. Pantai abrasi ditemukan pada kawasan Olilit, Wermatan, dan sekitar Marantul, sedangkan pantai berlumpur ditemukan sekitar Sifnana. Rataan terumbu karang, rataan pasut berpasir yang luas ditemukan di Teluk Saumlaki, sisi timur dan barat Yamdena dan pada pulau pulau kecil. Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003, tentang bathymetri perairan Kecamatan Tanimbar Selatan, ditemukan bahwa distribusi kedalaman perairan yang dangkal menyebar pada perairan pantai timur (Olilit dan Sangliat), selatan (Batarkusu) dan pantai barat (Sangliat). Berdasarkan perhitungan, total panjang garis pantai wilayah Kecamatan sebesar 134.25 Km. Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter menunjukkan bahwa kelandaian perairan berkisar antara 1 – 4 %, dapat dikategorikan sebagai perairan dengan kemiringan landai. Perairan dengan kelandaian 1 % ditemukan pada perairan pantai Latdalam kemudian diikuti oleh Sangliat dengan kelandaian 2% dan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 149
    •  Batarkusu dengan kelandaian 3 %. Kelandaian maksimum terkonsentrasi pada perairan Olilit. Iklim Iklim dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, sesuai dengan musim. Curah hujan secara umum antara 1000 – 2000 mm pertahun. Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi dan Geofisika Saumlaki, suhu rata-rata untuk tahun 2006 adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8 ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Sedangkan rata-rata Kelembapan Udara relative 80,2%, dengan penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana di Kecamatan Tanimbar Selatan dikategorikan dalam Zone C3: bulan basah 5 – 6 bulan dan kering 4 – 5 bulan. Pasang Surut dan Arus Pasang surut di perairan Kecamatan Tanimbar Selatan memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 2,5 meter. Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti di Olilit, Wowonda, Pulau Batarkusuu, Pulau Anggarmasa, dan Latdalam. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga dapat berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang. Arus atau perpindahan massa air di perairan kecamatan ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Arus angin mendominasi perairan kecuali di teluk dan selat sempit didominasi oleh arus pasut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 150
    •  perairan ini dapat mencapai 1 m.s-1 dominan bergerak dari arah timur menuju perairan bagian barat melalui Selat Egeron. Kecepatan arus pasang surut yang terekam bervariasi antara 0,06 – 0,26 m.s-1 dengan nilai kecepatan rerata 0,17 m.s-1. Kecepatan arus minimum terekam pada perairan pesisir Pulau Asutubun kemudian meningkat pada perairan pantai Olilit Lama sebesar 0,20 m.s-1 sementara kecepatan masimum terekam pada perairan Pulau Batarkusu yang terletak antara outlet Teluk Soumlaki dan Adaut di pantai utara Pulau Selaru. Gelombang Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan Kabupaten MTB. Besarnya tinggi gelombang dan energi yang dihasilkan diasumsikan sama untuk seluruh kawasan perairan kecamatan yang ada di kabupaten ini. Gelombang yang datang di perairan Kecamatan Tanimbar Selatan cenderung dan dominan menggempur perairan pantai bagian timur kecamatan. Energi gelombang yang tinggi dapat terjadi di perairan pesisir pantai Olilit karena memiliki daerah dataran terumbu yang luas mengarah ke arah Laut Arafura. Tinggi gelombang yang ekstrim dapat terjadi pada Selat Egeron sementara bagian perairan Teluk Soumlaki dan pantai bagian barat kecamatan lebih terlindung dan cenderung lebih tenang. Kualitas Air Suhu permukan laut di Kecamatan Tanimbar Selatan relatif rendah bervariasi antara 25,80 – 26,20 °C dengan nilai rerata 26 °C. Sedangkan kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi yaitu sebesar 35 ppt dijumpai pada perairan Pulau Batarkusu, Pulau Asutubun dan perairan sekitar Olilit Lama. Tingkat kecerahan perairan di Kecamatan Tanimbar Selatan dikategorikan atas tingkat kecerahan sedang sampai tinggi. Kecerahan perairan bervariasi antara 6 - 15 meter dengan nilai rerata 7,5 meter dengan kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,61 – 0,79mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,68 mg/l. Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Kecamatan Tanimbar Selatan relatif tinggi berkisar antara 8,09 – 8,44 dengan nilai rerata 8,32 dan konsentrasi MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 151
    •  oksigen terlarut di permukaan perairan Kecamatan Tanimbar Selatan bekisar antara 13,51 – 14,01 mg/l dengan nilai rerata 13,84 mg/l. Dari hasil pengukuran unsur fosfat, nitrait dan nitrat di perairan Pulau Batarkusu, ditemukan konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan cukup tinggi dimana nilai berkisar antara 0,83 – 0,87 mg/l dengan nilai rerata 0,84 mg/l. Tingginya kandungan fosfat pada perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan zat hara melalui serasah yang berasal dari ekosistem bakau yang banyak ditemukan di Kecamatan ini seperti di Teluk Soumlaki dan pantai barat. Kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Olilit dan Pulau Batarkusu sedangkan kadar maksimum di perairan pesisir Pulau Asutubun. Konsentrasi nitrit di perairan Kecamatan Selaru cenderung tinggi bervariasi antara 0,006 – 0,007 mg/l dengan nilai rerata 0,008 mg/l. Konsentrasi nitrit minimum ditemukan pada perairan sekitar pantai Pulau Batarkusu sementara konsentrasi maksimum dijumpai di perairan Olilit dan Asutubun. Sedangkan konsentrasi nitrat di permukaan perairan tinggi bervariasi antara 1,20 – 1,40 mg/l dengan nilai rerata 1,30 mg/l. Distribusi konsentrasi nitrat dengan konsentrasi minimum dijumpai pada perairan Pulau Batarkusu kemudian sedikit meningkat pada perairan Pulau Asutubun sementara nilai konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Olilit. Tingginya nilai konsentrasi nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan kedua unsur ini kelalui serasah yang berasal dari ekosistem bakau yang banyak tumbuh disekitar perairan pantai Kecamatan Tanimbar Selatan. Hasil pengukuran kandungan Cr dan Cu di perairan Kecamatan Tanimbar selatan ditemukan cukup signifikan dalam kolom air permukaan laut dan diduga kuat berhubungan dengan sumbangan kedua unsur melalui batuan dasar yang menyusun Pulau Selaru dan sisa buangan limbah minyak dari kapal yang berlabuh di Teluk Soumlaki. Konsentrasi kadar nilai Cr diperairan berkisar antara 0,02 – 0,03 mg/l dengan nilai rerata 0,02 mg/l. Konsentrasi minimum unsur ini dijumpai pada perairan pesisir Pulau Batarkusu sementara konsentrasi maksimum berada pada perairan pesisir Olilit dan Pulau Asutubun. Konsentrasi kadar nilai Cu berkisar antara 0,50 - 0,60 mg/l dengan nilai rerata 0,54 mg/l. Konsentrasi nilai minimum dijumpai pada perairan pesisir Olilit kemudian meningkat dengan konsentrasi 0,53 mg/l di perairan Pulau Batarkusu sementara nilai maksimum dijumpai pada perairan Pulau Asutubun. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 152
    •  Sarana dan Prasarana Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 153
    •  LARAT Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Kecamatan : TANIMBAR UTARA Koordinat : Gambaran Umum Pulau Larat merupakan salah satu pulau terluar yang terdapat di Kecamatan Tanimbar Utara Kabupaten Maluku Tenggara Barat dab berisikan tujuh desa: Ridol, Ritabel, Watidal, Kelaan, Lamdesar Barat dan Lamdesar Timur. Setiap desa memiliki struktur pemerintahan sendiri mulai dari kepala desa, badan perwakilan desa, kepalakepala urusan hingga RT dan RW. Tujuh desa di pulai ini terletak di pesisir pantai. Ridol dan Ritabel merupakan dua desa dengan luas wilayah terbesar. Letak dua desa itu berdekatan sehingga membentuk pusat kota Larat sebagai Ibukota kecamatan Tanimbar Utara. Dari tujuh desa yang ada, hanya Ridol, Ritabel, dan Watidal yang berkembang maju, sedangkan empat lainnya masih tertinggal. GEOGRAFIS Secara geografis, pulau ini terletak antara 07o14’26’’ LS dan 131o58’49’’ BT. Di Pulau ini terdapat titik dasar (TD) no.104 dan titik referensi (TR) no. 104. Kecamatan Tanimbar Utara, sebelah Timur dan Barat berbatasan dengan laut, sedangkan sebelah Selatan dengan Kec. Wuarlabobar dan sebelah Utara dengan kec. Yaru. Luas total wilayah Di Kec. Tanimbar Utara adalah 3,613.58 Km2 meliputi luas daratan sebesar 483.69 km2 dan luas laut untuk wilayah kelola Kabupaten (0-4 mil) sebesar 1.075.87 Km2 dan luas wilayah kelola Provinsi (4-12 mil) sebesar 2.054.02 Km2. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 154
    •  AKSESIBILITAS Transportasi menuju pulau Larat cukup lancar. Dari Kota Saumlaki menuju Larat dapat ditempuh dengan kapal feri, speed boat, kapal PELNI maupun berkendara melalui jalan lintas Trans-Yamdena. Jadwal pelayaran feri berlangsung setiap minggu melayani rute kecamatankecamatan terdekat hingga sampai ke Kota Larat. Jalur pelayaran feri dari dan barat pulau Yamdena yang tergantung kondisi cuaca. Dapat juga berkendara lewat jalan Trans-Yamdena menuju Dusun Siwahan, kemudian menyeberang dengan ketinting menuju Pulau Larat. namun kondisi jalan TransYamdena masih berlapis pasir dan batu. Ada rencana untuk membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Yamdena dngan Pulau Larat, sehingga dapat ditempuh lewat jalur darat. Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Berdasarkan hasil pendataan adminstrasi wilayah Provinsi Maluku Tahun 2005 di Kec. Tanimbar Utara terdapat 8 desa dengan total jumlah penduduk sebanyak 19.765 jiwa yang terdiri dari laki-laki 6.654 jiwa dan perempuan sebanyak 13.111 Jiwa. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Teresterial Kondisi Air Tanah Banyak dijumpai sumber air tanah di daerah penelitian, bahkan banyak dijumpai air tanah dangkal. Hal ini didukung oleh sifat fisik dari litologinya sehingga sistem akifer di daerah ini umumnya memiliki sistem akifer melalui ruang antar butiran dan rekahan. Hasil analisa menunjukan bahwa kondisi fisik-kimia air tanah masih berada pada kisaran yang dapat dikonsumsi oleh manusia (Baku Mutu Fisik-Kimia Air Minum). Air yang terdapat di daerah permukaan umumnya berupa air sungai, baik air sungai yang besar maupun dari air sungai kecil. Pada sekitar daerah penelitian tidak dijumpai satupun sungai, bahkan yang kecil sekalipun. Sama halnya dengan air tanah, air permukaan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 155
    •  juga demikian masih berada pada kisaran yang dapat dikonsumsi manusia (Baku Mutu Fisik-Kimia Air Minum). Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Mangrove Komunitas mangrove yang ada pada Desa ini kenampakan secara visual di lapangan adalah Mangrove dengan substrat Lumpur, lumpur berpasir, Vegetasi pantai lainnya dan perkebunan kelapa yang berdekatan dengan perkampungan penduduk. Mangrove dari Famili Rhizophoraceae umumnya menempati zona awal dan merupakan famili yang mempunyai jumlah jenis yang lebih. Kondisi mangrove terutama yang berdekatan dengan pemukiman mengalami kerusakan akibat pemanfaatan, presentase tutupan Anakan (90,53 %), Sapihan (7,87 %) Pohon (1,51 %) jenis yang dijumpai pada desa ini adalah Sonneratia alba, Avicenia marina, Rhizophora apiculata, R. stylosa, Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Exocaria agaloca dan Acanthus ilicifolius Padang Lamun Ditemukan sebanyak 6 jenis lamun pada stasiun pengamatan di P. Larat yang meliputi Cymodecea rotundata, Cymodecea serulata, Thalasia hemprichii, Halodule uninervis, Halophila ovalis dan Enhalus acoroides. Dari ke 6 jenis lamun yang ada, spesies Halophila ovalis memiliki frekwensi kehadiran tertingi sedangkan terendah kehadirannya adalah Halodule uninervis Kerapatan lamun di di P. Larat berdasarkan hasil pengamatan ditemukan sebesar 133.30 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Halophila ovalis sebesar 36.20 tegakan/m2; dan paling terendah ditemukan pada jenis Halodule uninervis sebesar 11.50 tegakan/m2. Untuk nilai persen tutupan lamun, jenis Cymodecea rotundata memiliki nilai tutupan yang sangat besar yakni 60 % dan terendah persen tutupannya adalah Enhalus acoroides dengan nilai sebesar 15%. Terumbu Karang Pada di P. Larat pengambilan data ekosistem terumbu karang dilakukan pada tiga titik pengamatan yakni di perairan Pantai Ritabel, Ridol dan Lelengluang. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir di P. Larat sebanyak 76 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 156
    •  spesies, seluruhnya termasuk dalam 39 genera dan 15 famili. Kekayaan spesies karang pada perairan Pantai Ritabel lebih tinggi dari areal terumbu karang yang lainnya yakni sebanyak 49 spesies kemudian diikuti Ridol dengan 45 spesies dan terendah di Lelengluang (35 spesies). Karang batu famili Acroporidae, Faviidae dan Fungiidae memiliki jumlah spesies lebih tinggi dibanding 12 famili karang yang lain. Data yang disajikan pada Tabel 7 di atas, memperlihatkan bahwa komponen biotik yang menutupi dasar perairan di kecamatan ini secara umum, maupun berdasarkan titik pengamatan tergolong tinggi dengan persen penutupan substrat sebesar 83,87% jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Secara umum kondisi terumbu karang di kecamatan ini berada pada kategori baik (Good) dengan persen penutupan sebesar 58,99%, tetapi bila dilihat berdasarkan titik pengamatan maka kondisi terumbu karang di Ritabel tergolong kategori baik (Good) dengan persen penutupan sebesar 52,52%, sedangkan di Ridol berada pada kondisi kurang baik (Fair) dengan persen penutupan masing-masing sebesar 46,58% tetapi di Lelengluang berada pada kondisi sangat baik (Exellent) dengan persen penutupan sebesar 77,86%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik di Ridol dipengaruhi oleh persen tutupan komponen biotik lainnya yakni alge sebesar 28,32% (terutama berasal dari makro alge) serta komponen abiotik sebesar 18,72%. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu di kecamatan ini secara keseluruhan maupun berdasarkan titik pengamatan berasal dari karang Non Acropora. Alga Hasil pengamatan terhadap keragaman jenis makro algae di perairan di P. Larat ditemukan jenis-jenis makro algae yang sangat beragam yaitu sebanyak 7 spesies, yang dapat diklasifikasikan ke dalam 7 genus, 7 famili, 5 ordo, dan 3 devisi. Secara keseluruhan spesies yang ditemukan tersebut dapat dikelompokan kedalam 3 devisi utama yaitu alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 3 spesies, alga coklat (Phaeophyta) terdiri dari 2 spesies, dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 2 spesies. Dari semua jenis yang ditemukan, ada beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis penting yaitu berasal dari genus Caulerpa dan Galaxaura. Penyebaran makro algae di perairan ini pun tidak merata dan agak jarang. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 157
    •  Fauna Bentos Pengumpulan data organisme makrofauna bentos di di P. Larat dilakukan pada tiga titik pengamatan, yaitu di desa Ridol, Ritabel, dan Lenluang. Jumlah spesies makrofauna bentos tertinggi dijumpai di desa Ritabel yaitu sebanyak 31 spesies. Dari keseluruhan spesies yang ditemukan di kecamatan ini ternyata hanya 3 spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan dapat dikembangkan yaitu Gafrarium tumidum, Lambis scorpius, dan Saccostrea echinata. Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Pengambilan data ikan karang pada perairan pantai di di P. Larat dilakukan pada tiga titik pengamatan yakni Pantai Ridol, Ritabel dan Lelengluang. Secara keseluruhan pada kecamatan ini dijumpai sebanyak 81 spesies ikan yang tergolong ke dalam 47 genera dan 23 famili. Kelimpahan spesies tertinggi dijumpai pada titik pengamatan di Ridol yakni sebanyak 56 spesies dan terendah dijumpai pada titik pengamatan di Ritabel yakni sebanyak 50 spesies. Pada tingkat genera kelimpahan taksa pada titik pengamatan di Ridol yang tertinggi sedangkan terendah pada titik pengamatan di Ritabel dan Lelengluang, sedangkan pada tingkat famili kelimpahan taksa tertinggi di Ritabel dan terendah di Ridol dan Lelengluang. Data yang didapat memperlihatkan bahwa secara keseluruhan jumlah spesies ikan hias lebih tinggi dari jumlah spesies ikan konsumsi. Namun berdasarkan titik pengamatan jumlah spesies ikan hias dan ikan konsumsi di Ridol seimbang, di Ritabel ikan hias lebih tinggi dari ikan konsumsi sedankan di Lelengluang ikan konsumsi lebih tinggi dari ikan hias. Pada tabel di atas juga terlihat bahwa kepadatan ikan karang rata-rata di perairan kecamatan ini sebesar 4,68 individu/m2 dimana kepadatan ikan karang tertinggi dijumpai pada perairan Ridol yakni sebesar 5,95 individu/m2 dan kepadatan terendah dijumpai pada perairan Ritabel yakni sebesar 3,43 individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka secara keseluruhan kepadatan ikan konsumsi (2,88 individu/m2) lebih tinggi dari ikan hias (1,80 individu/m2). Pada titik pengamatan di Ritabel dan Lelengluang kepadatan ikan konsumsi lebih tinggi dari ikan hias, sedangkan di Ridol sebaliknya. Kepadatan ikan konsumsi tertinggi dijumpai di Lelengluang dan kepadatan ikan hias tertinggi di Ridol, sedangkan kepadatan ikan konsumsi dan ikan hias terendah dijumpai di Pantai Ritabel. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 158
    •  Perikanan Tangkap Di Kecamatan di P. Larat, alat tangkap yang secara rutin diopeasikan oleh nelayan adalah jenis alat tangkap jaring insang lingkar (surrounding gill net) dan pancing tonda (troll line). Nelayan Lelingluan dan Nelayan Ritabel yang termasuk wilayah administratif di P. Larat, juga secara rutin mengoperasikan jaring insang lingkar (surrounding gill net), pancing tonda (troll line) dan pancing tangan (hand line). Jaring insang lingkar (surrounding gill net) dioperasikan untuk menangkap ikan lalosi (Caesio sp; Paracaesio sp), dan beberapa jenis ikan demersal/karang yang juga turut tertangkap. Ikan-ikan pelagis besar, terutama beberapa jenis ikan tuna (Thunnus spp), madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Scomberomorus sp) dan tongkol (Euthynnus affinis), tertangkap dengan pancing tonda. Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan FISIOGRAFI Pada daerah pasang surut memiliki spesies tanah rendzina dengan bentuk wilayah datar sampai berombak. Sedangkan pada daerah daratan pesisir memiliki tanah yang kompleks (complex of soil) dengan topografi berbukit sampai bergunung (Anonimous, 1991). Dilihat dari batuan penyusun pulau, maka ditemukan ada dua macam batuan penyusun pulaupulau di daerah Maluku Tenggara Barat yang umumnya merupakan batuan dari berbagai periode geologis, yakni batuan kapur dan globeriro (Anonimous, 2000). Gambaran topografi dasar perairan Larat disajikan pada Gambar 1 dan 2. Sebaran titik kedalaman ditentukan menggunakan sistem sonar dan dipadukan dengan data peta batimetri Larat yang dikeluarkan Jahidros TNI AL tahun 2000 dan peta topografi dan batimetri Larat yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan tahun 1997. Pada tampilan morfologi dasar laut, terlihat bahwa dasar laut pada lokasi studi berbentuk lembah menyerupai “V). Pada zone intertidal terdapat beberapa lokasi yang kedalamannya antara MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 159
    •  0.2 – 0.3 m. Kemiringan lereng zone intertidal pada lokasi studi tergolong datar yakni 0.78 %, kemudian melandai hingga mencapai jarak 100 meter ke arah tenggara yakni 7.23 %. Kelerengan bawah laut sepanjang transek ini tergolong miring (berkisar dari 8 %-11.9 %) pada kedalaman 0 – 2.5 meter dan 0 – 7.5 m. Kemiringan lereng mengecil ketika mendekati kedalaman maksimum 17.0 m yakni 8.9 % (miring) dan kemudian datar sepanjang 100 meter dari batas kedalaman 17 m kearah barat. Sepanjang lintasan transek tersebut ditemukan biota antara lain lamun, algae, fauna makrobentos, karang dan nekton. Kedalaman laut maksimum terukur pada bagian selatan tenggara desa Lelingluan yakni sebesar 26.2 m (disurutkan dari rata-rata air rendah terendah 13 dm dibawah duduk tengah), dengan dasar berbentuk lembah “U”. Berdasarkan hasil interpretasi peta topografi, terdeteksi kemiringan lereng maksimum pada zone pantai kering di kawasan desa Ridol 15.83 (sangat miring) (diukur dari batas surut terendah). Zone intertidal pada sisi selatan ke arah desa Ritabel lebih luas dengan kemiringan lereng datar (0.62%). IKLIM Berdasarkan data rata-rata curah hujan selama lima tahun mulai 2001 sampai 2005, yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Saumlaki Maluku Tenggara Barat, dapat diketahui bahwa tipe iklim daerah Larat sama dengan daerah lain di Kabupaten MTB yakni tipe B (nilai Q = 0.250) dengan 8 bulan basah, 2 bulan kering dan 2 bulan lembab (Tabel 1). Curah hujan di daerah ini memiliki pola spesies Monsun (musiman) dengan ciri distribusi curah hujan bulanan berbentuk “V”. Musim Barat berlangsung pada bulan Desember hingga Pebruari, musim Timur pada Juni hingga Agustus, Peralihan1 pada bulan Maret hingga Mei dan Peralihan2 pada bulan September hingga Nopember. Pengurangan jumlah curah hujan terjadi saat pertengahan musim timur (Juli) hingga tengah musim Peralihan2 (Oktober), tetapi melimpah pada saat musim Barat hingga akhir Peralihan1. Nilai rata-rata curah hujan terendah dicapai pada akhir musim timur (Agustus) yakni 19.7 mm dan awal Peralihan 2 (September) yakni 4.2 mm. Dua bulan ini tergolong bulan sangat kering dengan jumlah hari hujan 2 hingga 5 hari. Secara umum terlihat bahwa saat musim Barat dan Peralihan1, curah hujan melimpah dengan rata-rata antara 160 – 430 mm dan hari hujan rata-rata 16 – 22 hari. Sebaliknya pada tengah musim Timur dan Peralihan curah hujan sangat rendah yakni < 60 mm dengan hari hujan 2 – 15 hari. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 160
    •  Kecepatan angin terbesar berkisar dari 8.7 hingga 14.9 m/detik (rata-rata 5 tahun 11 m/detik) dengan arah masing-masing 112 dan 2600 (rata-rata 5 tahun 1790, selatan). Pada musim Barat angin bertiup dari 260 – 3020 (Barat baratdaya – barat laut); musim peralihan 1 dari 102 – 284 (Timur Tenggara – Barat Barat Laut), musim Timur dari 104 – 1200 (Timur Tenggara) dan peralihan 2 dari 112 – 1640 (Timur Tenggara – Selatan Tenggara). Berdasarkan informasi itu diketahui bahwa dalam semua musim arah angin lebih stabil kecuali pada musim peralihan 1, dan kecepatan angin terbesar terjadi pada bulan Desember dan Pebruari (musim Barat). Informasi suhu udara siang hari berdasarkan data stasiun Meteorologi Larat disajikan pada Tabel 4. Suhu rata-rata terendah dalam tahun 2001-2005 ditemukan dalam bulan Agustus dan Juli (25.80 – 25.88 0C). Suhu tertinggi dicapai dalam bulan Nopember yakni 28.30 0C, dan pada bulan lainya berkisar dari 26.44 – 27.94 0C. Kelembaban udara nisbi rata-rata kerkisar dari 76.8 % (Agustus) hingga 85.8 % (Pebruari). Kelembaban udara cenderung rendah sejak Juli hingga Oktober. OCEANOGRAFI Pasang Surut dan Arus Pasang surut di perairan Larat berdasarkan hasil pengamatan, memiliki tipe ganda campuran, artinya dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Hal ini sesuai de-dengan laporan Pariwono (1985). Jangkauan pasut pada perairan ini dapat mencapai 2.5 m dalam bulan Nopember dan Desember, dengan nilai muka surutan (chart datum) adalah 13 dm dibawah duduk tengah (mean sea level) (Jahidros, 2002). Kecepatan arus permukaan di seluruh lokasi selama pengamatan berkisar dari 4.4 – 61 cm/detik (rata-rata 15.4 cm/detik) (Tabel 4 ). Kecepatan arus dekat dasar berkisar dari 2.0 – 13.0 cm/detik (rata-rata 12.6 cm/detik). Nilai kecepatan arus permukaan terbesar terukur pada stasiun 2. Terlihat bahwa rata-rata kecepatan arus di sisi utara dermaga Larat lebih tinggi dari lokasi di sisi selatan. Hal ini disebabkan daerah pada sisi selatan dermaga lebih terlindung dari tiupan angin. Faktor peredam angin yang utama adalah hutan mangrove dan perbukitan bervegetasi hutan di bagian selatan – timur. Pola arus permukaan maupun dekat dasar tidak persis sama dan selalu berubahubah menurut pola pasut dan angin. Pada stasiun 1 untuk permukaan dan dekat dasar, arah MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 161
    •  arus berkisar dari 215 – 350 derajat dan 255 – 295 derajat. Pada stasiun 2 berkisar dari 20 – 350 dan 125 – 330 derajat. Arah pergerakan floating material selama pengamatan pada stasiun 1 – 7 berdasarkan pendekatan metode Lagrangian adalah 225 – 340 derajat (Barat daya – Utara barat laut). Pola arus pada stasiun 7 yang letaknya di sisi selatan desa Lelingluan tampak bergerak melingkar (eddys) pada waktu air bergerak surut. Pola gerak arus seperti ini diduga akan mempengaruhi kecerahan perairan dan transport material dasar ke permukaan laut. Nilai kecerahan perairan di stasiun 7 jauh lebih kecil dari stasiun lainnya, dengan warna laut hijau keabuan. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan sel melingkar tersebut menyebabkan pengangkatan material dasar perairan yang didominasi oleh lumpur. Lumpur tersebut berasal dari vegetasi hutan mangrove di sekitarnya. Hal lain yang dapat diamati adalah bahwa pada lokasi 7 dan sekitarnya akibat pola arus melingkar tersebut menyebabkan kelimpahan plankton (fitoplankton maupun zooplankton) lebih kecil dari lokasi lainnya yang berasosiasi dengan komunitas karang. Gelombang Berdasarkan informasi kecepatan angin atas permukaan laut dapat diprediksi tinggi dan periode gelombang signifikan di perairan Larat, yakni sepertiga dari gelombang tertinggi yang dapat terjadi. Penentuan tinggi dan periode gelombang signifikan rata-rata dan harga terbesarnya dilakukan mengikuti prosedur yang direkomendasikan Newman dan Pierson (1966) yang telah direview oleh Bowden (1984). Dengan asumsi bahwa kondisi meteorologi Saumlaki adalah identik dengan Larat maka dapat diprediksi tinggi dan periode gelombang siginifikan. Hasil analisis tinggi (Hs) dan periode gelombang signifikan (Ts) dicantumkan pada Tabel 10 dan Tabel 11. Sedangkan rata-rata tinggi dan periode gelombang terbesar akibat kecepatan angin terbesar yang dapat terjadi berkisar dari 1.5 hingga 3.7 m, dengan periode 4.4 hingga 6.8 detik. Tinggi gelombang terbesar ditemukan dalam bulan Desember dan Pebruari, dan terkecil pada bulan Oktober dan Nopember (1.3 m). Informasi kecepatan angin dan gelombang di lokasi pengamatan dapat juga diestimasi menggunakan pendekatan non-instrumental berdasarkan skala Beaufort (Meteorological Office, 1977). Hasil estimasi menemukan tinggi gelombang di perairan Larat selama pengamatan berkisar dari Force 1 – Force 3 (Tinggi gelombang terbanyak 0.1 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 162
    •  m – 0.6 m dan tinggi maksimum 1.0 m), dengan rata-rata kecepatan angin permukaan pada ketinggian 10 m adalah 2 – 9 knot ( 1 – 4.63 m/detik). Kualitas Air Suhu permukaan laut di perairan Larat berkisar dari 25.4 – 27.0 0C dengan rata-rata 25.5 – 26.8 0C. Nilai suhu minimum terendah ditemukan pada stasiun 1 dan suhu tertinggi pada stasiun 6. Kisaran suhu yang ditemukan pada perairan ini cukup rendah, dan diduga merupakan massa air yang terintrusi masuk dari laut Arafura selama musim Timur (Juli – Agustus) melalui selat antara Larat dan Pulau Tanimbar – Lutur. Kekuatan pengaruh massa air dingin tersebut masih bertahan sampai bulan September. Hal ini didukung dengan data suhu udara pada stasiun meteorologi saumlaki yang rata-rata berkisar dari 25 – 26 0C. Sebaran suhu permukaan laut di perairan Larat identik dengan di perairan Teluk Saumlaki. Kecerahan perairan selama pengamatan berkisar dari 8.5 – 17.5 m. Kecerahan terendah terukur pada stasiun 7 dan tertinggi pada stasiun 3, 4 dan 5. Rendahnya kecerahan pada stasiun 7 diduga karena penyerapan sinar oleh materi sedimen tersuspensi dan plankton. Warna air pada stasiun 7 didominasi oleh warna hijau – hijau kecoklatan, sedangkan pada stasiun 3, 4 dan 5 ada variasi warna hijau kecoklatan saat surut hingga kebiruan saat pasang tinggi. Kedalaman air pada stasiun 7 relatif lebih dangkal dibandingkan stasiun lainnya, dan letaknya berdekatan dengan kawasan hutan mangrove dengan substrat dasar perairan didominasi oleh lumpur. Nilai salinitas permukaan laut berkisar dari 34.0 – 35 ppt dengan kisaran rata-rata 34.4 – 35.0 ppt saat air surut hingga pasang. Tingginya harga salinitas tersebut disebabkan tidak adanya pasokan air tawar ke perairan, dan diduga merupakan massa air aseanik dari Laut Arafura. Kandungan oksigen berkisar dari 6.45 – 6.72 mg/l. Nilai terendah ditemukan di stasiun 1 dan tertinggi di stasiun 2 dan 5. Nilai-nilai tersebut cukup tinggi sebagai suatu indikasi berlangsungnya proses difusi O2 dari udara dan fotosistensis. Hal itu didukung juga oleh rendahnya suhu permukaan laut. Nilai derajat keasaman air laut berkisar dari 7.4 – 7.9. Nilai terendah ditemukan pada stasiun 2, dan nilai tertinggi ditemukan pada stasiun 3 – 7. Kisaran nilai pH demikian berada dalam kisaran normal pH air laut yakni 7.8 – 8.3 (Skirrow, 1975). Hal ini berarti tidak ada pembiasan nilai pH di perairan sekitarnya selama pe-ngamatan, kecuali pada stasiun 1 dan 2. Pembiasan tersebut diduga ada kaitannya de-ngan radiasi matahari MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 163
    •  (Skirrow, 1975), defisiensi oksigen dekat dasar (Orr, 1947), dan konsentrasi susbstansi dalam kolom air akibat industri lokal (Hood, 1963). Kuatnya radiasi matahari menyebabkan aktivitas fotosintesis dan pemanfaatan CO2 meningkat. Konsentrasi materi tersuspensi di permukaan berkisar dari 4.04 mg/l – 8.89 mg/l. Konsentrasi tertinggi terukur pada stasiun 5 dan terendah pada stasiun 3. Stasiun 5 letaknya berdekatan dengan tanjung Lelingluan (sisi utara). Pada lokasi ini proses pergolakan air lebih intensif karena berhadapan langsung dengan arah tiupan angin timur – tenggara. Selain itu karena lokasi tersebut merupakan zone konvergensi gelombang atau pusat konsentrasi energi gelombang (Pethick, 1984). Selama pengamatan, angin bertiup dari arah 118 – 180 derajat tetapi lebih intensif dari arah 140 – 160 derajat (tenggara). BOD pada ke-4 stasiun penelitian relatif tinggi masing-masing berkisar antara 177193 (mg/l). Nilai BOD yang tinggi ini menunjukkan bahwa terdapat bahan organik yang cukup banyak pada perairan lokasi penelitian, sehingga aktivitas mikroba juga cukup tinggi. Sumber bahan organik pada perairan ini sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga. Nilai nitrit untuk semua stasiun tidak terdeteksi, sedangkan nilai nitrat untuk semua stasiun relatif normal berkisar antara 0,00012 – 0,00033 mg/. Sedangkan Kadar fosfat untuk keempat stasiun penelitian relatif normal berkisar antara 0,01130 -0,0258 mg/l. Sarana dan Prasarana Sarana Umum Pemerintahan dan Instansi Vertikal Kantor Camat (di dalamnya ada UPT dinas terkait, seperti: Kelautan dan Perikanan, Pendidikan, Pengelolaan Keuangan Daerah, Kehutanan, dan Perkebunan Tanaman Pangan), Kantor Polsek Tanimbal Utara, Kantor Koramil Larat, BRI unit Larat, PLN Unit Pelayanan Larat, PDAM Cabang Larat, PT POS Larat, PT Telkom Tbk Pendidikan Di Pulau Larat, perkembangan pendidikan tingkat dasar hingga menengah cukup tersedia namun tenaga pendidik dan sarana prasarana masih sangat terbatas. Jumlah sarana pendidikan yang tersebar pada setiap desa adalah 15 SD, 7 SMP, 3 SMA, dan 1 SMK. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 164
    •  Kesehatan Sarana Kesahatan belum tersebar merata di setiap desa. Jumlahnya adalah sebagai berikut; 1 unit RS, 1 Unit Puskesmas Rawat Inap, 1 Unit Puskesmas, 3 Unit Puskesmas Pembantu, 3 Unit Poskesdes. Sarana Perhubungan Sarana Prasarana yang mendukung perhubungan di pulau ini terdiri dari dermaga perhubungan laut, ruang tunggu di dermaga, dermaga penyeberangan feri, bandar udara perintis dan ruang tunggu bandara. Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Di Pulau Larat tersedia lahan yang potensial untuk bertani dan berkebun. Begitu pula perairan pesisir sampai dengan batas zona kelola kabupaten (4 mil) yang dapat dimanfaatkan untuk perikanan dan kegiatan lainnya. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 165
    •  SELARU Propinsi : MALUKU Kabupaten : KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT Kecamatan : PULAU SELARU Koordinat : Gambaran Umum Pulau Selaru merupakan salah satu pulau terluar (perbatasan) yang terdapat di Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Di pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 106 dan titik referensi (TR) no. 106A. Luas wilayah total pulau ini adalah 3.667,86 km2 yang meliputi luas daratan sebesar 353.87 km2 dan luas laut untuk wilayah kelola Kabupaten (0-4 mil) sebesar 1.015,51 km2 dan luas wilayah kelola Provinsi (4-12 mil) sebesar 2.298,48 km2. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku. Secara geografis, pulau ini terletak di perairan Laut Arafura pada koordinat 08o 11’ 02’’ LS dan 130o 57’ 43’’ BT. Pulau Selaru merupakan satu kecamatan tersendiri dari 10 kecamatan yang ada di Maluku Tenggara Barat, yang terdiri dari tujuh desa: Adaut, Namtabung, Kandar, Lingat, Werain, Fursuy, dan Eliasa. Desa Adaut merupakan Ibukota kecamatan Selaru. Desa-desa di Selaru terletak di pesisir pantai. Adaut merupakan desa yang terluas, 223,09 km2 atau sekitar 27% dari luas kecamatan Selaru. Sementara itu, Werain merupakan desa dengan luas terkecil yaitu 82,63 km2 atau sekitar 10% dari luas kecamatan Selaru. Dari tujuh desa yang ada, hanya Adaut yang tergolong maju, sedangkan enam desa lainnya masih tertinggal. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 166
    •  Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan Berdasarkan hasil pendataan adminstrasi wilayah Provinsi Maluku Tahun 2005 di wilayah P. Selaru terdapat 6 desa dengan total jumlah penduduk sebanyak 11.488 jiwa yang terdiri dari laki-laki 5.862 jiwa dan perempuan sebanyak 5.626 Jiwa. Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut Penggunaan lahan daratan pesisir di Pulau Selaru meliputi hutan primer, hutan sekunder, hutan pantai, semak dan alang-alang, belukar, ladang/tegalan, kebun campuran, tanah kosong, dan pemukiman. Luas pemukiman desa di Pulau Selaru 4,2103 km2, semak 4,84 km2, lahan kosong 4,80 km2, dan lain-lain (kebun campuran, ladang, tegalan dan hutan). Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang juga merupakan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, algae dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan algae yang bervariasi. Agihan terumbu karang cukup luas di wilayah ini yakni 60,22 km2. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang juga merupakan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, algae dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan algae yang bervariasi. Agihan terumbu karang cukup luas di wilayah ini yakni 60,22 km2, Lamun 14,24 km2, Saaru 33,24 km2, rawa 5,48 km2 dan hutan mangrove 11,34 km2. Di luar zone pasang surut, yang merupakan perairan oseanis dimanfaatkan untuk penangkapan ikan dan budidaya perairan. Jenis penangkapan ikan meliputi penangkapan ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang. Hutan Mangrove Komunitas mangrove Desa Adaud Pulau Selaru terletak pada posisi 131o 06’965’’ dan 08o 08’227’’ dengan luas total sebesar 11.3371 km2. Kenampakan seca-ra visual di lapangan tumbuh pa-da substrat lumpur, lumpur ber-pasir bercampur patahan karang memiliki dasar perairan yang landai. Jenis mangrove yang dijumpai dan lebih MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 167
    •  mendominasi adalah mangrove dari famili Rhisophoraceae sedangkan jenis-jenis yang ditemui adalah Rhizophora apiculata, R. mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Avicenia sp, presen penutupan lahan masing-masing adalah Anakan (24,59 %), Sapihan (45,9 %) Pohon (29,51 %). Padang Lamun Di Pulau Selaru, dijumpai enam spesies lamun diantaranya Thalassia hemprichii: Enhalus acoiroides; Halophyla ovata; Cymodocea rotundata; Halodule uninervis; Syringodium isoetifolium. Luasan tutupan lahan pada lokasi pengamatan sebesar 43.17 % tutupan lahan lamun. Luas lamun wilayah Pulau Selaru mencapai 14.236 km2, sementara panjang total padang lamun mencapai 98.071 km dan lebar rata-rata 0.1452 km. Secara umum perkembangan lamun di Pulau Selaru cukup baik karena disokong oleh kondisi fisik-kimia perairan yang sangat mendukung. Kerapatan lamun di Pulau Selaru berdasarkan hasil pengamatan ditemukan sebesar 230,29 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Cymodecea rotundata sebesar 42,67 tegakan/m2; dan terendah pada jenis Enhalus acoroides sebesar 21,33 tegakan/m2. Nilai kerapatan jenis yang ada berbanding terbalik dengan tingkat persen tutupan untuk beberapa jenis lamun yang dijumpai. Terumbu Karang Luas terumbu karang wilayah Pulau Selaru mencapai 60.2215 km2, sementara panjang total terumbu karang mencapai 299.6326 km dan lebar rata-rata 0.201 km. Secara umum perkembangan terumbu dan karang di Pulau Selaru cukup baik karena disokong oleh kondisi fisik-kimia perairan yang sangat menunjang perkembangan terumbu dan pertumbuhan karang. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan Pulau Selaru sebanyak 112 spesies 48 genera dan 16 famili. Karang batu famili Acroporidae dan Faviidae memiliki kekayaan spesies lebih tinggi dari famili karang yang lain. Kekayaan spesies karang batu di perairan Adaut (103 spesies) lebih tinggi dibanding lokasi Namtabung (83 spesies). Karang batu famili Acroporidae dan Faviidae memiliki kekayaan spesies lebih tinggi dari famili karang batu yang lain. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 168
    •  Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di Pulau ini secara umum sangat tinggi dengan persen penutupan substrat sebesar 96,50%, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik, maupun bila dilihat berdasarkan titik pengamatan. Secara umum kondisi terumbu karang di Pulau ini berada pada kategori baik (Good) dengan persen penutupan sebesar 62,52%, tetapi bila dilihat berdasarkan titik pengamatan maka kondisi terumbu karang di Adaut sangat baik (Exellent) dengan persen penutupan sebesar 78,10% sedangkan di Namtabun berada pada kondisi kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 46,94%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik di Namtabun dipengaruhi oleh persen tutupan hewan-hewan laut lainnya (other faunas) yakni sebesar 43,94% yang mendekati persen tutupan karang batu terutama berasal dari karang lunak (soft coral). Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu di Pulau ini secara keseluruhan maupun berdasarkan titik pengamatan berasal dari karang Non Acropora. Alga Jenis makro algae pada perairan Pulau Selaru dijumpai sebanyak 17 spesies, yang da-pat diklasifikasikan ke dalam 10 genus, 7 famili, 5 ordo dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi utama yaitu alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 3 spesies, alga coklat (Phaeophyta) yang terdiri dari 8 spesies dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 6 spesies. Dari jenis jenis yang ditemukan tersebut, ada jenis-jenis yang memi-liki nilai ekonomis penting diantaranya adalah yang ber-asal dari genus Hypnea, Gracilaria, Eucheuma dan Caulerpa Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias) Pengambilan data ikan karang pada perairan pantai di Pulau Selaru dilakukan pada dua titik pengamatan yakni: Desa Adaut dan Desa Namtabun. Secara keseluruhan pada Pulau ini dijumpai sebanyak 143 spesies ikan yang tergolong ke dalam 74 genera dan 27 famili. Kelimpahan spesies ikan karang tertinggi dijumpai pada titik pengamatan di Adaut yakni sebanyak 136 spesies dan terendah dijumpai pada titik pengamatan di Namtabun yakni sebanyak 102 spesies. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 169
    •  Sumberdaya Non Hayati Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan FISIOGRAFI Gugusan Pulau Selaru memiliki 5 pulau kecil yaitu P. Selaru, P. Riama, P. Batarkusu, P. Adanar, dan P. Nuyanat, dengan pulau Selaru sebagai pulau terbesar. Topografi pulau Selaru dan pulau pulau kecil lainnya relatif rendah, dengan ketinggian umumnya < 100 m. Morfologi daerah ini dikelompokkan atas dua satuan morfologi yakni morfologi dataran dan perbukitan. Daerah dataran terdistribusi di Selaru bagian selatan, sedangkan daerah berbukit terdistrubusi di Selaru Utara Timur dan sebagian kecil area di Selaru Selatan (bagian Timur Erain). Satuan bentuklahan asal di pulau ini adalah karst dan marin. Daerah ketinggian pada wilayah Pulau Selaru dibagi atas 2 kelas, yaitu: (1) daerah Rendah (R) dengan ketinggian 0 – 100 m; dan (2) daerah Tengah (M) dengan ketinggian 100 – 500 m, dengan tiga kelas lereng yakni kemiringan lereng datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), dan bergelombang (8-15%). Secara geologi, batuan yang tersingkap di wilayah Selaru adalah perselingan lempung coklat kemerahan dan kelabu, dengan tufa kaca putih kotor; ke arah bagian atas terdapat sisipan batu gamping coklat kemerahan sampai kelabu, pasir gampingan dan batu pasir kuarsa; batuan ini termasuk dalam formasi Tangustabun yang berumur Paleogen (tersier awal). Batuan ini tersebar luas di pualu Yamdena bagian tengah, membentuk perbukitan yang memanjang dengan arah barat daya – timur laut; tebal minimum 600 m. Daerah ini juga terdapat batuan yang terdiri dari bermacam-macam batuan baik batuan beku, malihan, dan batuan sedimen yang umumnya berbeda-beda; batuan campuran ini dikelompokan dalam Komplek Molu, ini diduga terbentuk oleh adanya aktivitas tektonik pada awal neogen yang merupakan batuan “melange”. Sebaran batuan ini cukup luas, meliputi pulau kecil di utara P. Yamdena. Hubungan dengan formasi Tangustabun tidak jelas. Di atas formasi Tangustabun dan Komplek Molu, di endapkan secara tidak selaras batuan dari Batimafudi yang terdiri dari perselingan batugamping pasiran, napal dan batu pasir gampingan; berumur Miosen. Batuan dari formasi ini tersebar luas di P. Yamdena MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 170
    •  bagian timur, berupa perbukitan dengan arah peggunungan barat daya – timur laut. Dalam formasi Batimafudi terdapat anggota napal yang batuannya terdiri dari napal bersisipkan batu gamping pasiran, tersebar luas dari P. Yamdena bagian barat dan utara, membentuk perbukitan bergelombang rendah dan juga di beberapa pulau sekitarnya. Formasi ini ditindih takselaras oleh formasi Batilembuti yang berumur Pliosen; yang hampir seluruhnya terdiri dari napal, berwarna putih kotor sampai kelabu muda dan bersifat pejal, kaya akan fosil plankton dan bentos; bagian atasnya berupa batu gamping yang sangat rapuh, setempat napal kapuran berwarnah putih dan ringan. Sebarannya cukup luas di P. Yamdena bagian barat dan utara P. Selaru, P. Larat dan pulau-pulau kecil lainnya. Tenaga berperan terhadap perubahan geomorfologi sepanjang pesisir Pulau Selaru adalah tenaga marin yakni gelombang, pasang surut dan arus. Proses geomorfologi di kawasan ini meliputi proses destruksional (pelapukan sepanjang garis pantai dan erosi pantai), dan proses kontruksional (pergerakan sedimen dan deposisi sedimen). Satuan bentuklahan hasil proses tersebut adalah gisik, rataan pasang surut, terumbu karang, rataan pengikisan gelombang (platform), tebing terjal (cliff), tebing menggantung (notch), stack dan saaru. Pantai bergisik merupakan pantai tipe deposisional musiman dengan distribusi yang tidak merata di sepanjang pulau Selaru. Pada sisi lain akumulasi material pasir di pantai sangat bergantung pada arah datang dan sudut jangkauan gelombang dengan pantai. Pantai yang letaknya berhadapan langsung dengan arah gelombang datang yang materialnya adalah gamping koral mengalami erosi yang sangat kuat sehingga memiliki ciri pantai abrasi. Tingkat abrasi sangat kuat pada hampir sepanjang pantai, terutama bagian timur dan barat pulau (daerah Linget) yang dipengaruhi musim barat dan timur. Platform pantai kawasan ini cukup lebar, banyak tebing terjal, goa-goa karang dan hancuran batu karang. Kedudukan pesisir Pulau Selaru relatif terbuka, hanya bagian utara timur laut (Adaut dan Kore) yang relatif terlindung (teluk). Saaru di kawasan ini berjumlah 18 buah, diantaranya 8 buah di barat daya Selaru, 7 buah di bagian barat, dan 4 buah di bagian timur. Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003 menunjukkan bahwa distribusi kedalaman perairan pesisir di Pulau Selaru cenderung dangkal. Perairan dangkal di dominasi oleh rataan terumbu yang luas terutama di kawasan perairan bagian utara Adaut, timur, Lingat, selatan Tg. Araousu dan bagian barat daya Nangtabung di Pulau Selaru. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 171
    •  Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter menunjukkan bahwa kelandaian perairan berkisar antara 1 – 3,33 % dapat dikategorikan sebagai perairan dengan kemiringan yang landai. Perairan dengan kemiringan 1 % ditemukan pada perairan pantai Namtabung kemudian diikuti oleh perairan bagian selatan Pulau Selaru dan Lingat di bagian timur dengan kemiringan bervariasi antara 1,08 – 1,33 % sementara kelandaian maksimum ditemukan pada perairan pantai Adaut. IKLIM Iklim di wilayah P. Seluru dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan. Iklim di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh pergantian musim, baik musim Timus, musim Barat maupun musim pancaroba (peralihan). Keadaan curah hujan secara umum di Pulau Selaru berkisar antara 1000 – 2000 mm pertahun. Suhu rata-rata adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8 ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC, sedangkan ratarata kelembapan udara relative adalah 80,2%; penyinara matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Berdasarkan klasifikasi agroklimat menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana Pulau Selaru dikategorikan dalam Zone C3: bulan basah 5 – 6 bulan dan kering 4 – 5 bulan. OCEANOGRAFI Pasang Surut dan Arus Panjang garis pantai wilayah Pulau Selaru berdasarkan hasil perhitungan ditemukan pan-jang total garis pantai wilayah Pulau sebesar 150.02 km. Pasang surut di perairan Pulau Selaru memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang cam-puran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua. Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 2,5 meter. Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti di perairan pantai Namtabung, Lengat, Werain, Riama dan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 172
    •  Kandar. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga dapat berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang. Arus atau perpindahan massa air di perairan Pulau ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini dapat mencapai 1 m.s-1 dominan bergerak dari arah timur menuju perairan bagian barat. Kecepatan arus pasang surut yang terekam bervariasi antara 0,21 – 0,34 m.s-1 dengan nilai kecepatan rerata 0,27 m.s-1. Kecepatan arus minimum dijumpai di perairaian pantai Adaut sedangkan kecepatan maksimum di perairan sekitar Namtabung pada saat air bergerak surut. Gelombang Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan Kabupaten MTB. Besarnya tinggi gelombang dan energi yang dihasilkan diasumsi-kan sama untuk seluruh kawasan perairan Pulau yang ada di Kabupaten ini. Gelombang yang datang di perairan Pulau Selaru cenderung dan dominan menggempur perairan pantai bagian utara sampai selatan Pulau Selaru. Dengan topografi dasar perairan yang landai, tinggi dan energi gelombang dapat meningkat tajam sampai pada kondisi yang membaha-yakan bagi aktivitas pelayaran maupun kegiatan “bameti”. Sementara di bagian barat pulau yaitu perairan pantai Adaut dan Namtabung, kondisi perairan relatif lebih tenang karena energi angin telah mengalami peredaman yang signifikan. Kualitas Air Suhu permukan laut di Pulau Selaru relatif rendah bervariasi antara 26,80 – 27,40 °C de-ngan nilai rerata 27,10 °C. Suhu minimum dijumpai pada perairan sekitar Adaut sedangkan maksi-mum di perairan Namtabung. Rendahnya suhu permukaan perairan di Pulau ini berhubungan de-ngan proses taikan yang terjadi serempak di Laut Banda dan Arafura pada bulan Juli – Agustus. Kadar salinitas permukaan perairan bervariasi antara 34 – 35 ppt dengan nilai rerata 34,50 ppt. Nilai kadar minimum salinitas dijumpai pada bagian perairan Namtabung MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 173
    •  dimana air laut sedikit mengalami pengenceran oleh massa air tawar melalui sungai yang bermuara di sekitar per-airan tersebut sementara nilai maksimum dijumpai pada perairan pantai Adaut. Transparansi atau kecerahan perairan adalah kemampuan perairan untuk meloloskan caha-ya matahari ke dalam kolom air sangat bergantung dari kandungan padatan tersuspensi, sudut mata-hari dan jenis awan. Tingkat kecerahan perairan dikategorikan atas: (1) Buruk (0 – 5 m); (2) Sedang (6 -10 m) dan (3); Baik (> 11 m). Berdasarkan acuan ini maka tingkat kecerahan perairan di Pulau Selaru dikategorikan atas tingkat kecerahan buruk sampai sedang dimanan kecerahan perairan ber-variasi antara 4 11 meter dengan nlai rerata 7,5 meter. Kecerahan perairan terendah berada di perairan Namtabung sedangkan yang tertinggi ditemukan pada perairan pantai Adaut. Rendahnya nilai transparansi ini disebabkan oleh kekeruhan yang tinggi sebagai akibat turbulensi yang intensif di perairan pantai Namtabung. Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan Pulau Selaru berkisar antara 0,56 – 0,65 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,61 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan Adaut sementara maksimum di perairan Namtabung. Rendahnya TSS di Adaut berhubungan dengan keda-laman perairan yang dalam serta posisi yang terbuka sehingga sirkulasi massa air berjalan dengan baik, sedangkan perairan Namtabung relatif dangkal dilingkupi oleh dataran terumbu yang luas yang berbentuk semi tertutup. Nilai-nilai TSS yang diperoleh ini masih dapat digolongkan cukup rendah memungkinkan penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Pulau Selaru relatif tinggi berkisar antara 8,35 – 8,66 dengan nilai rerata 8,51. Nilai pH minimum terkonsentrasi di perairan pantai Adaut sedangkan perairan dengan konsentrasi maksimum berada pada perairan Namtabung. Kondisi nilai pH demikian menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Kisaran nilai pH masih berada dan bahkan melampaui kisaran nilai pH (7,5-8,4) menurut Mayunar et al. (1995). Sumber utama oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / D.O.) di laut berasal dari atmosfir dan hasil fotosintesis fitoplankton dan berbagai jenis tanaman laut lainnya. Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan Pulau Selaru bekisar antara 11,30 - MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 174
    •  13,50 mg/l dengan nilai rerata 12,40 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan Namtabung sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Adaut. Nilai-nilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988. Unsur hara seperti posfor, nitrat dan nitrit memiliki kecenderungan bervariasi. Konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan cukup tinggi dimana nilai berkisar antara 0,32 – 0,40 mg/l dengan nilai rerata 0,36 mg/l. Tingginya kandungan fosfat pada perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan zat hara melalui seresah yang berasal dari ekosistem bakau yang banyak ditemukan di Pulau Selaru. Kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Adaut sedangkan kadar maksimum di perairan pesisir Namtabung. Seperti halnya fosfat, nitrit dan nitrat berfungsi sebagai indikator tingkat kesuburan perair-an, tetapi di permukaan perairan kadar nitrit sangat kecil karena di oksidasi menjadi nitrit. Kon-sentrasi nitrit akan meningkat kecuali pada daerah perairan neritik yang relatif dekat dengan buang-an limbah industri. Konsentrasi nitrit di perairan Pulau Selaru cenderung tinggi bervariasi antara 0,006 – 0,009 mg/l dengan nilai rerata 0,008 mg/l. Konsentrasi nitrit minimum ditemukan pada perairan sekitar pantai Namtabung sementara kandungan maksimum dijumpai di perairan Adaut. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi nitrat di permukaan perairan tinggi bervariasi antara 0,5 – 0,9 mg/l dengan nilai rerata 0,70 mg/l. Distribusi nilai nimum dan maksimum kandungan nitrat di perairan ini memiliki kesamaan pola dengan nitrit. Tingginya nilai konsentrasi nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan kedua unsur ini kelalui seresah yang berasal dari ekosistem bakau yang banyak tumbuh disekitar perairan Pulau Selaru. Selain kadar unsur hara oraganik, beberapa kandungan senyawa logam juga ditemukan di perairan P. Selaru. logam Kandungan Cr dan Cu di perairan Pulau Selaru ditemukan cukup signi-fikan dalam kolom air permukaan laut dan diduga kuat berhubungan dengan sumbangan kedua unsur melalui batuan dasar yang menyusun Pulau Selaru. Konsentrasi kadar nilai Cr diperairan ber-kisar antara 0,01-0,03 mg/l dengan nilai rerata 0,02 mg/l. Konsentrasi minimum unsur ini dijumpai pada perairan pesisir Namtabung sementara konsentrasi maksimum berada pada perairan pesisir Adaut. Konsentrasi kadar nilai Cu berkisar antara 0,56 - 0,65 mg/l dengan nilai rerata 0,61 mg/l. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 175
    •  Konsentrasi nilai minimum ditemukan pada perairan sekitar Adaut sedangkan konsentrasi maksimum di perairan Namtabung. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang ada di Pulau Selaru antara lain: Sarana umum pemerintahan di Adaut (meliputi kantor camat, kantor UPTD Pendidikan Pemuda dan Olahraga, kantor Polsek, dan kantor Koramil), Sarana pendidikan (TK, SD, SMP, SMA cukup tersedia namun tenaga pendidik cukup terbatas), Sarana kesehatan penyebarannya belum merata di semua desa, Perikanan, dan sarana prasarana pendukung perikanan di Pulau Selaru (kapal penangkap ikan dan alat penangkap ikan). Peluang Investasi Potensi dan Arahan Pengembangan Potensi Sumberdaya Alam dengan luas 3.256,074 hektar, tersedia lahan daratan yang potensial untuk bertani dan berkebun. Begitu pula dengan lahan perairan pesisir sampai dengan zona kelola kabupaten yang dapat dimanfaatkan untuk perikanan dan kegiatan lainnya. Pertanian dan Perkebunan merupakan salah satu sektor strategis di Pulau Selaru yang dikembangkan untuk memenuhi konsumsi lokal. Potensi pertanian diklasifikasikan ke dalam delapan jenis tanaman pangan (padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang hijau, kacang-kacangan dan umbi-umbian lainnya). Potensi perkebunan terdiri dari jenis tanaman seperti kelapa, jambu mete, dan kemiri. Berdasarkan data BPS 2011 lausan area untuk beberapa jenis tanaman perkebunan yaitu kelapa 3.218 hektar, jambu mete 721 hektar. Produksi 2011, 5.294 ton kepala dan 465 ton jambu mete. Peternakan Potensi ternak berupa sapi, kambing, ayam dan babi namun pengembangannya masih bersifat tradisional. Populasi ternak terdiri dari: sapi 28 ekor, kambing 5 ekor, babi 3.164 ekor, dan ayam 2.432 ekor. MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 176
    •  Kondisi Perairan Kondisi perairan Selaru sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Hal ini didukung faktor biokimia perairan seperti: kadar oksigen, kandungan fosfat dan nitrat serta klorofil-a sebagai indikator kesuburan perairan. Konsentrasi fosfat pada permukaan perairan cukup tinggi dengan kisaran 0,05 - 0,9 mg/l. Tingginya kandungan fosfat ini diduga berhubungan dengan sumbangan zat hara melalui seresah dari ekosistem bakau di Pulau Selaru. Konsentrasi nitrit di perairan cenderung tinggi, bervariasi antara 0,0001 - 0,0009 mg/l. Hasil liputan citra MODIS memperlihatkan klorofilia fitoplankton memiliki kandungan yang tinggi dengan nilai antara 75 - 1 mg/m3, menyebar di sekitar pantai Utara Pulau Selaru, yaitu perairan Adaut dan perairan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kendala Pengembangan MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 177
    •  ARARKULA 1 GAMBARAN UMUM 1 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 2 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 2 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 2 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 3 TERUMBU KARANG 3 LAMUN 4 IKAN KARANG 4 PERIKANAN TANGKAP 5 SUMBERDAYA MAKRO BENTOS 6 SUMBERDAYA NON HAYATI 7 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 7 LINGKUNGAN 7 SARANA DAN PRASARANA 9 PELUANG INVESTASI 9 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 9 KENDALA PENGEMBANGAN 9 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 178
    •  BATUGOYANG 10 GAMBARAN UMUM 10 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 11 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 11 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 11 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 11 IKAN KARANG 11 PERIKANAN TANGKAP 12 SUMBERDAYA NON HAYATI 13 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 13 LINGKUNGAN 13 SARANA DAN PRASARANA 16 PELUANG INVESTASI 16 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 16 KENDALA PENGEMBANGAN 16 ENU 17 GAMBARAN UMUM 17 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 18 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 179
    •  EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 21 SUMBERDAYA NON HAYATI 21 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 21 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 22 HUTAN MANGROVE 22 PADANG LAMUN 23 TERUMBU KARANG 24 IKAN KARANG 25 PERIKANAN TANGKAP 27 MAKRO BENTOS 29 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 30 LINGKUNGAN 30 KUALITAS AIR 31 SARANA DAN PRASARANA 32 PELUANG INVESTASI 32 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 32 PERIKANAN BUDIDAYA 32 KENDALA PENGEMBANGAN 35 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 180
    •  KARANG 36 GAMBARAN UMUM 36 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 37 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 37 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 37 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 38 HUTAN MANGROVE 38 LAMUN 38 TERUMBU KARANG 39 IKAN KARANG 41 PERIKANAN TANGKAP 42 SUMBERDAYA NON HAYATI 44 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 44 LINGKUNGAN 44 SARANA DAN PRASARANA 46 PELUANG INVESTASI 46 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 46 KONSERVASI 46 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 181
    •  PARIWISATA 47 KENDALA PENGEMBANGAN 48 KARAWEIRA / KAREREI 49 GAMBARAN UMUM 49 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 50 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 50 LAMUN 51 TERUMBU KARANG 51 IKAN KARANG 52 PERIKANAN TANGKAP 52 MAKROBENTOS 53 SUMBERDAYA NON HAYATI 53 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 53 LINGKUNGAN 53 SARANA DAN PRASARANA 56 PELUANG INVESTASI 56 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 56 KENDALA PENGEMBANGAN 56 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 182
    •  KULTUBAI SELATAN 57 GAMBARAN UMUM 57 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 58 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 58 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 58 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 59 HUTAN MANGROVE 59 PADANG LAMUN 60 TERUMBU KARANG 60 IKAN KARANG 61 PERIKANAN TANGKAP 63 MAKRO BENTOS 64 SUMBERDAYA NON HAYATI 64 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 65 LINGKUNGAN 65 SARANA DAN PRASARANA 67 PELUANG INVESTASI 67 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 67 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 183
    •  KONSERVASI 67 PARIWISATA 68 KENDALA PENGEMBANGAN 68 KULTUBAI UTARA 69 GAMBARAN UMUM 69 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 70 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 70 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 70 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 70 MANGROVE 70 PADANG LAMUN 71 TERUMBU KARANG 72 IKAN KARANG 72 PERIKANAN TANGKAP 74 MAKRO BENTHOS 75 SUMBERDAYA NON HAYATI 76 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 76 LINGKUNGAN 76 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 184
    •  SARANA DAN PRASARANA 78 PELUANG INVESTASI 78 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 78 KENDALA PENGEMBANGAN 78 PANAMBULAI 79 GAMBARAN UMUM 79 ADMINISTRATIF 79 GEOGRAFI 79 AKSESIBILITAS 79 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 80 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 81 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 81 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 81 HUTAN MANGROVE 81 TERUMBU KARANG 82 IKAN KARANG 84 PERIKANAN TANGKAP 86 MAKRO BENTOS 88 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 185
    •  POTENSI PARIWISATA 89 SUMBERDAYA NON HAYATI 89 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 89 LINGKUNGAN 89 FISIOGRAFI 89 IKLIM 90 OCEANOGRAFI 90 PASANG SURUT DAN ARUS 90 GELOMBANG 91 KUALITAS AIR 91 SARANA DAN PRASARANA 92 PELUANG INVESTASI 92 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 92 KENDALA PENGEMBANGAN 92 KISAR 93 GAMBARAN UMUM 93 WILAYAH ADMINISTRASI DAN GEOGRAFIS PULAU 93 AKSESIBILITAS 93 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 186
    •  TRANSPORTASI LAUT 93 TRANSPORTASI UDARA 94 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 95 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 95 HUTAN MANGROVE 95 PADANG LAMUN 95 TERUMBU KARANG 96 PERIKANAN 96 MAKRO BENTOS 97 PARIWISATA BAHARI 98 SUMBERDAYA NON HAYATI 99 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 99 LINGKUNGAN 99 KLIMATOLOGI 100 SARANA DAN PRASARANA 100 PELUANG INVESTASI 100 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 100 UPAYA PENGEMBANGAN 100 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 187
    •  KENDALA PENGEMBANGAN 101 LETI 102 GAMBARAN UMUM 102 ADMINISTRATIF 102 AKSESIBILITAS 102 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 103 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 103 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 103 PADANG LAMUN 103 TERUMBU KARANG 104 ALGA 105 FAUNA BENTHOS 105 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 105 PERIKANAN TANGKAP 105 SUMBERDAYA NON HAYATI 106 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 106 LINGKUNGAN 106 OCEANOGRAFI 107 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 188
    •  IKLIM 107 KUALITAS PERAIRAN 107 PASANG SURUT DAN ARUS 107 GELOMBANG 108 KUALITAS AIR 108 SARANA DAN PRASARANA 110 PELUANG INVESTASI 110 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 110 KENDALA PENGEMBANGAN 110 GAMBARAN UMUM 111 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 111 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 111 SUMBERDAYA NON HAYATI 112 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 112 LINGKUNGAN 112 SARANA DAN PRASARANA 112 PELUANG INVESTASI 113 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 113 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 189
    •  KENDALA PENGEMBANGAN 113 MASELA 114 GAMBARAN UMUM 114 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 114 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 114 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 115 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 115 HUTAN MANGROVE 115 PADANG LAMUN 116 TERUMBU KARANG 117 ALGA 117 MAKRO BENTHOS 118 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 118 PERIKANAN TANGKAP 118 SUMBERDAYA NON HAYATI 119 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 119 LINGKUNGAN 119 FISIOGRAFI 119 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 190
    •  IKLIM 120 OCEANOGRAFI 120 PASANG SURUT DAN ARUS 120 GELOMBANG 121 KUALITAS AIR 121 SARANA DAN PRASARANA 123 PELUANG INVESTASI 123 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 123 KENDALA PENGEMBANGAN 123 MEATIMIARANG 124 GAMBARAN UMUM 124 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 124 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 125 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 125 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 126 HUTAN MANGROVE 126 PADANG LAMUN 126 TERUMBU KARANG 127 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 191
    •  ALGA 128 FAUNA BENTOS 128 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 128 PERIKANAN TANGKAP 129 SUMBERDAYA NON HAYATI 129 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 129 LINGKUNGAN 129 IKLIM 130 OCEANOGRAFI 130 PASANG SURUT DAN ARUS 130 GELOMBANG 131 KUALITAS AIR 131 SARANA DAN PRASARANA 133 PELUANG INVESTASI 133 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 133 KENDALA PENGEMBANGAN 133 WETAR 134 GAMBARAN UMUM 134 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 192
    •  KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 135 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 135 SUMBERDAYA NON HAYATI 135 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 135 LINGKUNGAN 136 SARANA DAN PRASARANA 136 PELUANG INVESTASI 136 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 136 KENDALA PENGEMBANGAN 136 ASUTUBUN 137 GAMBARAN UMUM 137 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 137 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 137 PADANG LAMUN 138 TERUMBU KARANG 138 ALGA 139 FAUNA BENTHOS 139 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 139 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 193
    •  SUMBERDAYA NON HAYATI 140 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 140 LINGKUNGAN 140 SARANA DAN PRASARANA 142 PELUANG INVESTASI 142 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 142 KENDALA PENGEMBANGAN 143 BATARKUSU 144 GAMBARAN UMUM 144 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 144 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 144 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 144 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 145 HUTAN MANGROVE 145 PADANG LAMUN 146 TERUMBU KARANG 146 ALGA 147 FAUNA BENTHOS 147 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 194
    •  IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 147 PERIKANAN TANGKAP 148 SUMBERDAYA NON HAYATI 148 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 148 LINGKUNGAN 148 IKLIM 150 PASANG SURUT DAN ARUS 150 GELOMBANG 151 KUALITAS AIR 151 SARANA DAN PRASARANA 153 PELUANG INVESTASI 153 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 153 KENDALA PENGEMBANGAN 153 LARAT 154 GAMBARAN UMUM 154 GEOGRAFIS 154 AKSESIBILITAS 155 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 155 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 195
    •  EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 155 POTENSI SUMBERDAYA TERESTERIAL 155 KONDISI AIR TANAH 155 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 156 MANGROVE 156 PADANG LAMUN 156 TERUMBU KARANG 156 ALGA 157 FAUNA BENTOS 158 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 158 PERIKANAN TANGKAP 159 SUMBERDAYA NON HAYATI 159 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 159 LINGKUNGAN 159 FISIOGRAFI 159 IKLIM 160 OCEANOGRAFI 161 PASANG SURUT DAN ARUS 161 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 196
    •  GELOMBANG 162 KUALITAS AIR 163 SARANA DAN PRASARANA 164 SARANA UMUM PEMERINTAHAN DAN INSTANSI VERTIKAL 164 PENDIDIKAN 164 KESEHATAN 165 SARANA PERHUBUNGAN 165 PELUANG INVESTASI 165 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 165 KENDALA PENGEMBANGAN 165 SELARU 166 GAMBARAN UMUM 166 KEPENDUDUKAN, SOSIAL BUDAYA DAN KELEMBAGAAN 167 EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA HAYATI 167 POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT 167 HUTAN MANGROVE 167 PADANG LAMUN 168 TERUMBU KARANG 168 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 197
    •  ALGA 169 IKAN (IKAN DEMERSAL, IKAN KARANG DAN IKAN HIAS) 169 SUMBERDAYA NON HAYATI 170 AKTIVITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA 170 LINGKUNGAN 170 FISIOGRAFI 170 IKLIM 172 OCEANOGRAFI 172 PASANG SURUT DAN ARUS 172 GELOMBANG 173 KUALITAS AIR 173 SARANA DAN PRASARANA 176 PELUANG INVESTASI 176 POTENSI DAN ARAHAN PENGEMBANGAN 176 POTENSI SUMBERDAYA ALAM 176 PERTANIAN DAN PERKEBUNAN 176 PETERNAKAN 176 KONDISI PERAIRAN 177 MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 198
    •  KENDALA PENGEMBANGAN MONEV P2KSN DAN REKOMENDASI DUKUNGAN INFRASTRUKTUR KE-PU-ANPADA KSN PERBATASAN MALUKU 177 199