1
EVALUASI
PENDIDIKAN
Oleh :
SUDJANI, DRS.,M.PD.
2
PERSAINGAN
TUNTUTAN
KOMPETENSI
INTER
PERSONAL
SKILL
QUALITY
THINKING
SKILL
GLOBALISASI
PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI
...
Kurikulum Lama KBK
1. PERENCANAAN TIU/TUP Kompetensi
Dasar
TIK/TKP Indikator
2. PELAKSANAAN (PROSES) Pencapaian
Target
Kur...
4
1. PENGERTIAN EVALUASI
2. TUJUAN DAN KEGUNAAN EVALUASI
3. PROSEDUR DAN EVALUASI
4. PERENCANAAN EVALUASI
5. PENGOLAHAN HA...
5
PENGUKURAN
(MEASUREMENT)
EVALUASI
(EVALUATION)
PERTIMBANGAN
(JUDGEMENT)
• Bersifat Kuantitatif
• Mengkonstruksi
• Mengad...
6
Asesmen adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang
prestasi atau kinerja seseorang yang hasilnya...
1. Keputusan Pengajaran
 Pretes
 Formatif Test
 Apa yang harus diajarkan
 Apa yang harus dipelajari
2. Keputusan Hasil...
8
1. PERENCANAAN
1. TUJUAN PEMBELAJARAN
a. Domain Kognitif
• Tingkat Pengetahuan
• Tingkat Pemahaman
• Tingkat Aplikasi
• ...
9
PROSEDUR EVALUASI (Lanjutan)
2. PENGUMPULAN DATA
3. VERIFIKASI DATA
4. ANALISIS DATA
5. INTERPRETASI DATA
1. Pemeriksaan...
1. Pengetahuan
(Knowledge)
Kesadaran Dalam Bidang Kognitif
2. Pemahaman
(Understanding)
Kedalaman Kognitif dan Afektif yan...
11
PERUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN
 TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM GBHN
 TUJUAN INSTITUSIONAL TUJUAN MASING-MASING LEM BAG...
LANGKAH-LANGKAH DALAM
MERUMUSKAN TKP
 MEMBUAT SEJUMLAH TUP
KATA KERJA OPRASIONALNYA BERAKHIRAN I MISALNYA
MEMAHAMI, MENGE...
1.1. PENGETAHUAN (KNOWLEDGE) (C-1)
BERUPA TUNTUTAN UNTUK MENGENALI ATAU MENGINGAT KEMBALI
(MEMORY) PENGETAHUAN YANG TELAH ...
2. DOMAIN AFEKTIF HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN
SIKAP (ATTITUDE)  SEBAGAI
MANIFESTASI DARI MINAT
(INTEREST), MOTIVASI
(MOTI...
KOMPETENSI
Nilai dan Sikap
(Affective)
Kemampuan
Berpikir
(Cognitive)
Keterampilan
(Psychomotor)
C6 Kreasi
(creation)
C5 E...
16
Pengertian KOMPETENSI :
 Merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai
dan sikap yang direfleksikan dalam k...
17
KOGNITIF
PSIKOMOTORAFEKTIF
PENGERTIAN
KOMPETENSI
DALAM
PEMBELAJARAN
 Menilai kompetensi yg dicapai siswa yg mencakup ranah kognitif, afektif dan
psikomotor dan Berfokus kepada hasil
 Hasil...
 Menekankan pada pencapaian kompetensi dasar
 Kompetensi yg telah dicapai dibandingkan dengan
standar yg telah ditetapka...
STRATEGI PENGEMBANGAN
ASESMEN
Langkah Pengembangan Asesmen
 menentukan kompetensi lulusan
 menjabarkan kompetensi menjad...
Langkah Pengembangan
Intrumen Asesmen
1. Penyusunan kisi-kisi
Tabel Kisi-kisi Asesmen Berbasis Kompetensi
21
Kom
Petensi
I...
22
LANGKAH- LANGKAH PENYUSUNAN TES
1.TENTUKAN TUJUAN MENGADAKAN TES
2.BUAT BATASAN BAHAN YANG AKAN DITESKAN
3.RUMUSKAN TKP...
23
CONTOH TABEL SPESIFIKASI UNTUK EVALUASI PENDIDIKAN
MISALNYA JENIS SOAL OBYEKTIF TES SEJUMLAH 50 SOAL
PERTIMBANGKAN :
1....
24
CONTOH LAIN UNTUK SOAL ESSAY
NO
ASPEK INTELEKTUAL TINGKAT KOGNITIF JUMLAH TARAP KESUKARAN JUMLAH SOAL
SCOPE YANG DIUJI ...
25
2. Pengembangan Instrumen
2.1. Pengembangan item tes tertulis
– Mengacu pada karakteristik indikator
kompetensi yang di...
2.2. Pengembangan item tes keterampilan
1). Hal yang harus diperhatikan dalam
mengembangkan item tes keterampilan
a. Jenis...
27
2). Langkah pengembangan instrumen keterampilan
a. Tes Identifikasi
 menentukan jenis kemampuan kinerja yang akan diid...
28
2.3. Pengembangan Instrumen Observasi
1). Mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan
2). Mengidentifikasi langkah k...
3. Telaah dan Revisi Instrumen
Setelah penyusunan instrumen asesmen selesai, hasilnya
tidak dapat digunakan atau diterapka...
RENCANA PEMBELAJARAN
30
KOMPETENSI DASAR
INDIKATOR
PEMBELAJARAN
ASESMEN
RAGAM ASESMEN
 Performance assessment (asesmen kinerja) merupakan
asesmen yg menghendaki siswa untuk
mendemonstrasikan ha...
ASESMEN KINERJA
 Sinonim dengan otentik asesmen
 Merupakan kemampuan untuk menunjukkan
penguasaan bahan yg telah dipelaj...
BENTUK TUGAS DALAM ASESMEN
KINERJA
 Computer Adaptive testing
 Tes pilihan ganda yg diperluas
 Tes uraian
 Melakukan p...
LANGKAH ASESMEN KINERJA
 TAHAP PERSIAPAN
 PELAKSANAAN
 PENILAIAN
34
TAHAP PERSIAPAN
•Mengidentifikasi pengetahuan dan k...
KONSTRUKSI ASESMEN KINERJA
 Konstruksi asesmen kinerja terdiri dari:
1. Tugas yg harus dikerjakan siswa (task)
2. Kriteri...
CONTOH RUBRIC HOLISTIC UNT MENILAI KETERAMPILAN …
SEKOR DESKRIPSI ASPEK YG DINILAI
4
3
Penggunaan prosedur tepat dan teram...
TAHAP PELAKSANAAN
 Pengajar memotivasi siswa
 Dalam pembelajaran pengajar mendiskusikan
bagaimana cara menyelesaikan tug...
TAHAP PENILAIAN …
 Gunakan kriteria penilaian dng konsisten, jika ada
perubahan diskusikan bersama siswa
 Beri kesempata...
KEUNGGULAN ASESMEN KINERJA …
 Dapat mengevaluasi hasil belajar yg kompleks
dan keterampilan yg tidak dapat dievaluasi
den...
KELEMAHAN ASESMEN KINERJA …
 Membutuhkan banyak waktu
 Adanya unsur subjektivitas dalam pemberian sekor
 Reliabilitas k...
41
JENIS-JENIS ALAT EVALUASI
BENTUK
TES TERTULIS
TES
TES TINDAKAN
TES ESSAY
TES OBYEKTIF
BENAR SALAH PILIHAN
GANDA
MEMASAN...
42
KUALITAS ALAT EVALUASI YANG BAIK
ALAT BUATAN PENGAJAR
ALAT TERSTANDAR
PERLU DIBUAT KISI-KISI
TES
VALIDITAS LOGIK
TERPEN...


























 
  

2222 YYnXXn
Y)X)((XYn
rXY
43
VALIDITAS
Keseluru...
Contoh 1 : KORELASI PRODUK MOMENT DENGAN ANGKA KASAR
Misalkan menghitung validitas tes matematika
• Kriterium adalah nilai...
75,0
)44.40702.4105)(42554260(
41474173
)44.4070)1052.410)(422542610(
)8.6365(3.41710







XY
XY
XY
r
r
r
...
46
CONTOH : VALIDITAS BUTIR SOAL
No Subyek Nomor Soal TOTAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Y Yi
2
1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 ...
CONTOH 2 : TENTUKAN VALIDITAS BUTIR SOAL NOMOR 5
No Subyek No Soal 5
(X)
X2 Skor Total
(Y)
Y2 XY
1 A 1 1 10 100 10
2 B 1 1...
   
     
   
     
TinggiSangatyaValiditasn93.0
67505106610
676)51(10
22
2222






...
TEKNIK BELAH DUA  TES YENG TELAH DIBERIKAN KEPADA
SEKELOMPOK SUBYEK DIBELAH MENJADI
DUA BAGIAN, KEMUDIAN TIAP-TIAP BAGIAN...
NO SUBYEK NOMOR
GANJIL
X1
NOMOR
GENAP
X2
X1. X2 X1
2 X2
2
1 A 5 5 25 25 25
2 B 5 4 20 25 16
3 C 5 4 20 25 16
4 D 5 3 15 25...







 










2
2
11
1 t
iit
S
qpS
n
n
r
51
RELIABILITAS (Lanjutan)
Jika jumlah soal ganjil dicari...
CONTOH 3 : PENGGUNAAN RUMUS KR 20
No Subyek Nomor Soal TOTAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 10
...
Untuk mencari varian total
tinggiasnyaReliabilit63.0
61.5
39.261.5
112
12
1
61.5
100
67)505(10
)(
2
2
2
2
2
22
2




...













 2
2
1
1
11
t
i
S
S
n
n
r
54
RELIABILITAS (Lanjutan)
2. KOEFISIEN RELIABILITAS SOAL ESSAY
n = ...
SUBYE
K
NOMOR SOAL SKOR TOTAL
1 2 3 4 5 (Xt) (Xt)2
A 10 10 20 25 35 100 10000
B 10 8 15 18 25 76 5776
C 8 5 10 12 18 53 28...
BA
BA
JSJS
JBJB
TK



56
3. TINGKAT KESULITAN (DIFFICUTLY INDEX)
TK = Tingkat Kesulitan
JBA = Jumlah Siswa Kelompok Ata...
DARI DATA TABEL DI SEBELAH, MAKA DAPAT
DIHITUNG
UNTUK SOAL NOMOR 1
5 + 5
TK = ----------- = 1 SANGAT MUDAH
10
SOAL NOMOR 7...
DAYA PEMBEDA (DISCRIMINATING POWER)
Untuk membedakan Testi berkemampuan tinggi dengan testi berkemampuan rendah
Klasifikas...
No Subyek Nomor Soal TOTAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1
0
100
2 B 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 9 81...
ekSangat Jel
5
4-2
6noSoal
Baik
5
1-4
4noSoal
ekSangat Jel1noSoal





40.0
60.0
0
5
55
Dp
Dp
Dp
60
CONTOH 5...
EFEKTIVITAS OPTION
SUATU OPTION DIKATAKAN EFEKTIF JIKA SETIAP OPTION SOAL TEREBUT MEMPUNYAI KEMUNGKINAN YANG
SAMA UNTUK DI...
1.UNTUK OPTION PENGECOH
JPA < JPB
1
PA + JPB > 0,25 X ---------------- X (JSA + JSB)
2 ( N – 1 )
N = BANYAK OPTION
ATAU ...
OBYEKTIVITAS
MAKSUDNYA BAHWA HASIL TES HARUS SELALU SAMA HASILNYA MESKIPUN
DIPERIKSA OLEH ORANG YANG BERLAINAN
SKOR KUNCI ...
)BJ(JS SB 
)B(JS B
1

n
JS
  
)B(JS B
11 21 

nn
JS
BJS B 
64
PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan)
2. ...
65
PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (LANJUTAN)
1. CARA-CARA MENSKOR TES ESSAY
 Nilailah jawaban soal essay dalam hubunganny...
66
PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan)
3. PENSKORAN TES LISAN
 Penguji harus menguasai pertanyaannya
 Kemungkinan ...
ITEM SS S N TS STS
POSITIF 5 4 3 2 1
NEGATIF 1 2 3 4 5
67
PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan)
5. PENSKORAN BENTUK NO...
_
X
68
PENDEKATAN ACUAN PENILAIAN
1. Penilaian acuan patokan (Criterion Referenced Test)
a. Batas lulus telah ditentukan t...
69
CONTOH
Suatu tes evaluasi pendidikan terdiri dari 10 butir bentuk B – S, 20 butir bentuk P – G dengan 4 option,
5 butir...
70
CONTOH :lanjutan tingkat penguasaan
1. PRESANTASI TINGKAT PENGUASAAN
Paling sering digunakan, misalkan guru memberikan ...
71
CONTOH : SKALA PENILAIAN
MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI NORMAL
2
3
4
5
6
7
8
9 10
X-2.25S
X-1.75S
X-1.25S
X-0.75S
X-...
KONVERSI SKALA 11 KONVERSI SKALA 5
X + 2.25 S ≤ 10 X + 1.5 S ≤ A
X + 1.75 S ≤ 9 < X + 2.25 S X + 0.5 S ≤ B < X + 1.5 S
X +...
73
CONTOH : SKALA PENILAIAN (Lanjutan)
MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI NORMAL
Misal soal obyektif SMI = 100
X = ½ (100) ...
Misalkan datanya didapat sebagai berikut :
56 60 76 49 72
76 65 67 58 90
84 83 72 79 85
32 72 75 65 83
97 43 87 62 74
46 3...
75
CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN
PAP
• Tepat digunakan jika butir-butir soal telah distandarkan (baku)
• Dilihat d...
76
CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN (Lanjutan)
Misalkan tes Fisika diperoleh skor terendah aktual = 80 dan SMI = 100
...
77
CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN (Lanjutan)
KOMBINASI PAP DAN PAN
Langkahnya sebagai berikut :
Cari rerata dan sim...
78
CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN
CARA KEDUA
Yaitu dengan menggunakan batas lulus (Passing Grade)
Tentukan Batas lu...
SKALA LIMA
SKALA LIMA DISEBUT JUGA SKALA HURUF KARENA NILAI AKHIR TIDAK DINYATAKAN DENGAN ANGKA
(BILANGAN), TETAPI DENGAN ...
CONTOH :
UNTUK 50 ORANG SISWA DARI CONTOH DATA SEBELUMNYA MISALNYA ATAS LULUS DIBERI
NILAI D YAITU UNTUK PROSENTASE TINGKA...
SKALA BAKU (Z)
KEGUNAAN SKALA BAKU UNTUK MENENTUKAN KEDUDUKAN SEORANG TESTI DALAM KELOMPOKNYA
X - Xrata-rata
Z = ---------...
MATA KULIAH MATE-
MATIKA
FISIKA PANCASILA AGAMA KEWIRAAN JUMLAH PERINGKAT
NAMA
A 90 30 40 45 48 253 I
B 70 40 45 47 49 251...
X
90 -50
UNTUK SISWA A  ZM = ------------ = 1,26 DAN SETERUSNYA
31,84
TERNYATA JIKA DIOLAH DENGAN ANGKA BAKU (Z), MAKA SI...
LIHAT KEMBALI CONTOH UNTUK KASUS PERINGKAT 5 ORANG SISWA JIKA DIOLAH DENGAN T-SKOR
MATA
KULIAH
MATEMATIKA FISIKA PANCASILA...
85
TERIMA KASIH
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Evaluasi Pendidikan

1,138

Published on

Evaluasi Pendidikan
Materi Perkuliahan Evaluasi Pendidikan _ Evaluasi Pembelajaran

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,138
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
122
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Evaluasi Pendidikan

  1. 1. 1 EVALUASI PENDIDIKAN Oleh : SUDJANI, DRS.,M.PD.
  2. 2. 2 PERSAINGAN TUNTUTAN KOMPETENSI INTER PERSONAL SKILL QUALITY THINKING SKILL GLOBALISASI PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI HAKEKATNYA SASARAN PEMBELAJARAN ► To Know Tahu ► To Do Mampu Berbuat ► To Be Mampu Membangun Jati Diri ► To Live Together Mampu Hidup Bersama PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPETENSI
  3. 3. Kurikulum Lama KBK 1. PERENCANAAN TIU/TUP Kompetensi Dasar TIK/TKP Indikator 2. PELAKSANAAN (PROSES) Pencapaian Target Kurikulum Mastery Learning 3. EVALUASI Tengah dan Akhir Proses dan Akhir 3 PERUBAHAN PEMBELAJARAN
  4. 4. 4 1. PENGERTIAN EVALUASI 2. TUJUAN DAN KEGUNAAN EVALUASI 3. PROSEDUR DAN EVALUASI 4. PERENCANAAN EVALUASI 5. PENGOLAHAN HASIL EVALUASI PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PEMBELAJARAN DOSEN/PENGAJAR HARUS MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP EVALUASI PEMBELAJARAN
  5. 5. 5 PENGUKURAN (MEASUREMENT) EVALUASI (EVALUATION) PERTIMBANGAN (JUDGEMENT) • Bersifat Kuantitatif • Mengkonstruksi • Mengadministrasik an • Penskoran Diperlukan Patokan Sebagai Pembanding • Pengolahan Skor • Penafsiran • Bersifat Kualitatif dan Kuantitatif
  6. 6. 6 Asesmen adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja seseorang yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi Evaluasi merupakan tindakan untuk menetapkan keberhasilan peserta didik dalam program pendidikan yang dikuti Fungsi Asesmen 1. Mengetahui tingkat pencapaian kompetensi 2. Membantu siswa mencapai kompetensi yang diharapkan
  7. 7. 1. Keputusan Pengajaran  Pretes  Formatif Test  Apa yang harus diajarkan  Apa yang harus dipelajari 2. Keputusan Hasil Belajar  Sumatif Test Laporan Hasil Belajar  Pengetahuan  Sikap  Keterampilan 3. Keputusan Diagnosis  Tes Diagnosis  Sebab-sebab kesulitan belajar  Bagaimana Mengatasinya 4. Keputusan Penempatan  Placement Test  Tes Bakat Untuk pengelompokan/Penempatan 5. Keputusan Seleksi Untuk Produktivitas yang baik 6. Keputusan Bimbingan dan Konseling  Bakat, minat, kepribadian  Kesulitan belajar 7 TUJUAN DAN KEGUNAAN EVALUASI
  8. 8. 8 1. PERENCANAAN 1. TUJUAN PEMBELAJARAN a. Domain Kognitif • Tingkat Pengetahuan • Tingkat Pemahaman • Tingkat Aplikasi • Tingkat Analisis • Tingkat Sintesis • Tingkat Evaluasi b. Domain Afektif • Penerimaan • Respon • Penilaian • Organisasi c. Domain Psikomotor • Peniruan • Mekanisme • Respon yang Komplek • Adaptasi • Naturalisme 2. KISI-KISI ALAT UKUR 3. KUALITAS ALAT EVALUASI a. Validitas b. Reliabilitas c. Tingkat Kesulitan d. Daya Pembeda PROSEDUR EVALUASI
  9. 9. 9 PROSEDUR EVALUASI (Lanjutan) 2. PENGUMPULAN DATA 3. VERIFIKASI DATA 4. ANALISIS DATA 5. INTERPRETASI DATA 1. Pemeriksaan Hasil 2. Pemberian Skor 1. PAP 2. PAN 3. Kombinasi PAP dan PAN Kesimpulan Apa ?
  10. 10. 1. Pengetahuan (Knowledge) Kesadaran Dalam Bidang Kognitif 2. Pemahaman (Understanding) Kedalaman Kognitif dan Afektif yang Dimiliki Individu 3. Kemampuan (Skill) Sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas/pekerjaan yang dibebankan kepadanya 4. Nilai (Value) Sesuatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dengan seseorang 5. Sikap (Attitude) Suatu rangsangan dari luar (senang – tidak senang) 6. Minat (Interest) Kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan 10 RANAH ASPEK KONSEP KOMPETENSI (GORDON)
  11. 11. 11 PERUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN  TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL DALAM GBHN  TUJUAN INSTITUSIONAL TUJUAN MASING-MASING LEM BAGA MISALNYA  SMA, SM  ADA PADA KURIKULUM  TUJUAN KURIKULER TUJUAN BIDANG STUDI, MISALNYA FISIKA,  MATEMATIK DLL.  ADA PADA KURIKULUM  TUJUAN PEMBELAJARAN TUJUAN YANG MENGGAMBARKAN PENGETAHUAN,  KEMAMPUAN, SIKAP SEBAGAI HASIL PENGAJARAN  YANG DINYATAKAN DALAM BENTUK TINGKAH LAKU  YANG DAPAT DIAMATI DAN DIUKUR  DIRUMUSKAN OLEH GURU  TUP TUJUAN YANG MASIH UMUM DAN MASIH PERLU DIJABARKAN SUPAYA LEBIH MUDAH DIUKUR  TKP TUJUAN YANG RUMUSANNYA LEBIH MUDAH DIUKUR BERUPA PERUBAHAN TINGKAH LAKU
  12. 12. LANGKAH-LANGKAH DALAM MERUMUSKAN TKP  MEMBUAT SEJUMLAH TUP KATA KERJA OPRASIONALNYA BERAKHIRAN I MISALNYA MEMAHAMI, MENGETAHUI, MENGERTI, MENGHARGAI DSB.  TUP DIJABARKAN MENJADI SEJUMLAH TKP, USAHAKANMMENCAKUP TIGA KOMPONEN, YAITU : – TINGKAH LAKU AKHIR – KONDISI DEMONSTASI (CONDITION OF DEMONSTRATION OR TESTI)  STANDAR KEBERHASILAN (STANDARD OF PERFORMANCE DOMAIN TINGKAH LAKU MENURUT BLOOM ADA TIGA YAITU : 1. DOMAIN KOGNITIF BERUPA KEMAMPUAN BERPIKIR YAITU KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN INTELEKTUAL (AKAL) 12
  13. 13. 1.1. PENGETAHUAN (KNOWLEDGE) (C-1) BERUPA TUNTUTAN UNTUK MENGENALI ATAU MENGINGAT KEMBALI (MEMORY) PENGETAHUAN YANG TELAH DIIMPAN DALAM STRUKTUR KOGNITIFNYA 1.2. PEMAHAMAN (COMPREHENSION) ( C-2) TAHAP PENGETAHUAN YANG LEBIH KOMPLEKS KARENA HARUS TAHU DAHULU KONSEPNYA 1.3. APLIKASI (APLICATION) (C-3) BERUPA TUNTUTAN KEMAMPUAN MEMILIH; MENGGUNAKAN DAN MENERAPKAN PADA SITUASI BARU 1.4. ANALISIS (ANALYSIS) (C-4) KEMAMPUAN UNTUK MERINCI ATAU MENGURAIKAN SUATU MASALAH MENJADI BAGIAN-BAGIAN YANG LEBIH KOMPLEKS SERTA UNTUK MEMAHAMI HUBUNGAN DIANTARA BAGIAN-BAGIAN TERSEBUT 13 1.5. SINTESIS (SYNTESIS) (C-5) KEMAMPUAN BERPIKIR YANG MERUPAKAN KEBALIKAN ANALISIS YAITU SUATU PROSES YANG MEMADUKAN BAGIAN/UNSUR SECARA LOGIS SEHINGGA MENJELMA MENJADI BENTUK POLA BARU 1.6. EVALUASI (EVALUATION) (C-6) MERUPAKAN KEMAMPUAN SESEORANG UNTUK DAPAT MEMBERIKAN PERBANDINGAN(JUDGEMENT) TERHADAP SITUASI, IDE, METODA BERDASARKAN SUATU PATOKAN ATAU KRITERIA DAN SETELAH PERTIMBANGAN DILAKUKAN DENGAN MATANG MAKA KESIMPULAN DIAMBIL BERUPA KEPUTUSAN
  14. 14. 2. DOMAIN AFEKTIF HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN SIKAP (ATTITUDE)  SEBAGAI MANIFESTASI DARI MINAT (INTEREST), MOTIVASI (MOTIVATION), KECEMASAN (ANXIETY), APRESIASI PERASAAN (EMOTIONAL APPREATUTION), PE- NYESUAIAN DIRI (SELF AJUSMENT), BAKAT (APTITUDE) DSB. 3. DOMAIN PSIKOMOTOR HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN KERJA OTOT SEHINGGA MENYEBABKAN GERAKNYA TUBUH ATAU BAGIAN-BAGIANNYA
  15. 15. KOMPETENSI Nilai dan Sikap (Affective) Kemampuan Berpikir (Cognitive) Keterampilan (Psychomotor) C6 Kreasi (creation) C5 Evaluasi (evaluation) C4 Analisis (analysis) C3 Penerapan (application) C2 Pemahaman (comprehension) C1 Ingatan (knowledge) A5 Menjadikan pola hidup (characterization) A4 Mengatur diri (organization) A3 Menghargai (valuing) A2 Menanggapi (responding) A1 Menerima (receiving) P5 Naturalisasi (naturalization) P4 Perangkaian (articulation) P3 Ketepatan (precision) P2 Penggunaan (manipulation) P1 Peniruan (imitation)
  16. 16. 16 Pengertian KOMPETENSI :  Merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. ( Mulyana 2000 ).  Knowledge, skill and attitude needed to perform an ability to do a certain job / profession ( Tillman, 1996 ).  A statement which describe integrated demonstration of a cluster of related skills and attitude that are measurable and observable necessary to perform a job independently ( Hamlin, 1994 ).  Specification of knowledge and skill and the application of that knowledge and skill to the standard of performance required by the standards or learning outcomes. (Jones J, Malcohm,2000).  Seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. ( SK. Mendiknas No.045/U/2002 ).
  17. 17. 17 KOGNITIF PSIKOMOTORAFEKTIF PENGERTIAN KOMPETENSI DALAM PEMBELAJARAN
  18. 18.  Menilai kompetensi yg dicapai siswa yg mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor dan Berfokus kepada hasil  Hasil penilaian harus dapat memberikan informasi yg akurat dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran  Sistem penilaian yg dapat mendorong peningkatan kualitas pembelajaran adalah sistem penilaian berkelanjutan  Prinsip penilaian berkelanjutan: menilai kompetensi dasar, menganalisis hasil dan melakukan tindak lanjut berupa remidi / pengayaan shg siswa dapat mencapai kompetensi dasar secara bertahap  Dilaksanakan untuk setiap individu  Mengacu pada criteria standar (PAP)  Memungkinkan siswa melakukan evaluasi diri  Bersifat autentik, terbuka, holistic dan integrative  Kelulusan diperoleh jika semua kompetensi sudah dicapai  hasilnya lulus atau tidak lulus KARAKTERISTIK PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI
  19. 19.  Menekankan pada pencapaian kompetensi dasar  Kompetensi yg telah dicapai dibandingkan dengan standar yg telah ditetapkan  Sistem penilaian berkelanjutan  Hasil penilaian: lulus / belum  Yg belum lulus: remidi dan diuji lagi sampai mencapai kompetensi dasar  Alat ukurnya: valid dan reliabel  Cara penilaian: midtes, ulangan harian, wawancara, pengamatan, tugas, portofolio dsb PENGEMBANGAN SISTEM PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI
  20. 20. STRATEGI PENGEMBANGAN ASESMEN Langkah Pengembangan Asesmen  menentukan kompetensi lulusan  menjabarkan kompetensi menjadi sejumlah subkompetensi  menjabarkan subkompetensi menjadi sejumlah indikator pencapaian  menentukan metode asesmen dan bentuk instrumen sesuai dengan indikator pencapaian  menyusun profil hasil belajar siswa 20
  21. 21. Langkah Pengembangan Intrumen Asesmen 1. Penyusunan kisi-kisi Tabel Kisi-kisi Asesmen Berbasis Kompetensi 21 Kom Petensi Indikator pencapaian Strategi Asesmen Metode Bentuk Intrumen No. Item Instrumen
  22. 22. 22 LANGKAH- LANGKAH PENYUSUNAN TES 1.TENTUKAN TUJUAN MENGADAKAN TES 2.BUAT BATASAN BAHAN YANG AKAN DITESKAN 3.RUMUSKAN TKP DARI TIAP BAHAN (JIKA BELUM ADA) TABEL SPESIFIKASI (KISI-KISI) TABEL YANG MEMUAT PERICIAN MATERI DAN PROPORSI TINGKAH LAKU YANG DIKEHENDAKI SUPAYA TES YANG DISUSUN TIDAK MENYIMPANG DARI MATERI DAN TINGKAH LAKU YANG DIKEHENDAKI DALAM TUJUAN PEMBELAJARAN TES MEMENUHI VALIDITAS LOGIS (TEORITIK) TER-UTAMA VALIDITAS ISI DAN VALIDITAS TINGKAHLAKU LANGKAHNYA : 1. DAFTAR POKOK-POKOK MATERI YANG AKAN DITESKAN 2. BERIKAN BOBOT PADA MASING-MASING MATERI 3. TENTUKAN BOBOT ASPEK YANG AKAN DINILAI
  23. 23. 23 CONTOH TABEL SPESIFIKASI UNTUK EVALUASI PENDIDIKAN MISALNYA JENIS SOAL OBYEKTIF TES SEJUMLAH 50 SOAL PERTIMBANGKAN : 1. WAKTU YANG TERSEDIA 2. SIFAT MATERI YANG DITESKAN 3. CAKUPAN ASPEK BERPIKIR 4. KONSTRUKSI SOAL, APAKAH UARAIAN ATAU OBYEKTIF TES ASPEK YANG DIUNGKAP INGATAN PEMAHAMAN APLIKASI JUMLAH POKOK MATERI 50% 30 % 20 % 100 % PENGERTIAN EVALUASI 14 % A B C 7 FUNGSI EVALUASI 21 % D 4 E 2 F 1 10 MACAM CARA EVALUASI 36 % G H I 18 PERSYARATAN EAVALUASI 29 % J K L 15 JUMLAH 50 SOAL DARI TABEL DI ATAS DAPAT DITENTUKAN JUMLAH SOAL TIAP SEL ADALAH : SEL A = 50/100 X 7 SOAL = 3,5 4 SOAL SEL B = 50/100 X 7 SOAL = 2,1 2 SOAL SEL C = 20/100 X 7 SOAL = 1,4 1 SOAL
  24. 24. 24 CONTOH LAIN UNTUK SOAL ESSAY NO ASPEK INTELEKTUAL TINGKAT KOGNITIF JUMLAH TARAP KESUKARAN JUMLAH SOAL SCOPE YANG DIUJI FAKTA APLIKASI ANALISIS MUDAH SEDANG SULIT 1 BAB I 20 % MUDAH 1 1 SEDANG 1 SUKAR 2 BAB II 40 % MUDAH 1 1 2 SEDANG 1 SUKAR 1 3 BAB III 40 % MUDAH 1 1 1 2 SEDANG SUKAR 1 JUMLAH ITEM 3 2 1 2 2 5 PROSENTASE ASPEK INTELEKTUAL 60 % 40 % 20 % 40 % 40% 100 %
  25. 25. 25 2. Pengembangan Instrumen 2.1. Pengembangan item tes tertulis – Mengacu pada karakteristik indikator kompetensi yang ditargetkan – Memilih bentuk instrumen yang sesuai dengan indikator, apakah bentuk tes isian,uraian, pilihan ganda atau lainnya – Memperhatikan persyaratan penyusunan instrumen , baik dari aspek materi/isi/konsep, kontruksi maupun bahasa – Membuat kunci Jawaban atau pedoman penyekoran
  26. 26. 2.2. Pengembangan item tes keterampilan 1). Hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan item tes keterampilan a. Jenis tes keterampilan yang dipakai tes identifikasi  untuk mengukur kinerja seseorang atas dasar tanda-tanda atau per syaratan penyusunan instrumen keterampilan, baik dari aspek materi/isi/ konsep, kontruksi maupun bahasa b. sinyal saat diberikan tes simulasi  untuk mengukur kinerja dalam situasi yang mirip dengan situasi sebenarnya uji petik kerja/work sampel test  mengukur kinerja dalam situasi yang sebenarnya atau tes tulis keterampilan untuk menghasilkan disain/rangkaian, gambar dll. c. Indikator kompetensi yang ditargetkan d. Pedoman penyekoran
  27. 27. 27 2). Langkah pengembangan instrumen keterampilan a. Tes Identifikasi  menentukan jenis kemampuan kinerja yang akan diidentifikasi  menentukan bayaknya hal/aspek yang akan didentifikasi  membuat pedoman penskoran yang dilengkapi dengan kategorisasi keberhasilan identifikasi b. Uji petik kerja/simulasi  mengidentifikasi aspek kinerja yang dinilai  menentukan model skala yang dipakai untuk penskoran yaitu rating scale atau check list  membuat pedoman penskoran yangdilengkapidengan kategoriasi keberhasilan kinerja c. Tes tulis keterampilan  menentukan cara penskoran secara holistik atau nalitik  menentukan bobot skor  menentukan aspek produk yang akan dinilai  menentukan klasifikasi
  28. 28. 28 2.3. Pengembangan Instrumen Observasi 1). Mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan 2). Mengidentifikasi langkah kerja yang diobservasi 3). Menentukan model skala yang dipakai untuk menskor, yaitu rating scale atau check list 4). Membuat pedoman penskoran yang dilengkapi dengan kategorisasi keberhasilan kompetensi yang dikembangkan 2.4. Pengembangan Instrumen penugasan 1). Mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan 2). Mengacu pada jenis tugas yang dikerjakan 3). Mengidentifikasi aspek tugas yang dikerjakan 4). Menentukan model skala yang dipakai untuk menskor 5). Membuat pedoman penskoran yang dilengkapi kategorisasi keberhasilan tugas 2.5. Pengembangan Item Instrumen Nontes  Bentuknya dapat berupa : observasi, wawancara, inventori dan self report biasanya digunakan untuk mengukur ranah afektif
  29. 29. 3. Telaah dan Revisi Instrumen Setelah penyusunan instrumen asesmen selesai, hasilnya tidak dapat digunakan atau diterapkan, melainkan perlu ditelaah lagi, dan atas hasil telaah itu dilakukan revisi untuk memperbaiki item instrumen yang kurang baik. Beberapa hal yang perlu ditelaah terutama dari segi :  Subtansi isi, konsep dan bahasa  Persyaratan item sesuai bentuk instrumen  Indikator pencapaian kompetensi 4. Uji Coba Instrumen  Meski sudah ditelaah dan direvisi, belum berarti instrumen asesmen tersebut siap digunakan, tetapi perlu diuji coba terlebih dahulu. 5. Analisis Empiris Kualitas Instrumen  Hasil analisis empiris digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki instrumen yang tidak memenuhi syarat. 29
  30. 30. RENCANA PEMBELAJARAN 30 KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PEMBELAJARAN ASESMEN
  31. 31. RAGAM ASESMEN  Performance assessment (asesmen kinerja) merupakan asesmen yg menghendaki siswa untuk mendemonstrasikan hasil belajarnya  Authentic assessment merupakan asesmen yg menghendaki siswa utk menunjukkan hasil belajar dalam kehidupan nyata  Portfolio assessment merupakan asesmen hasil belajar siswa yg didasarkan pada kumpulan hasil belajar peserta didik dari waktu ke waktu  Performance assessment, Authentic assessment, Portfolio disebut Alternative Assessment 31
  32. 32. ASESMEN KINERJA  Sinonim dengan otentik asesmen  Merupakan kemampuan untuk menunjukkan penguasaan bahan yg telah dipelajari oleh siswa dan keterampilan serta proses yg diperlukan untuk menyelesaikan tugas yg diberikan (http://www.smallschoolsproject.org) 32
  33. 33. BENTUK TUGAS DALAM ASESMEN KINERJA  Computer Adaptive testing  Tes pilihan ganda yg diperluas  Tes uraian  Melakukan pengamatan atau wawancara  Mengerjakan suatu proyek atau pameran  Tugas mandiri atau kelompok  Portofolio 33
  34. 34. LANGKAH ASESMEN KINERJA  TAHAP PERSIAPAN  PELAKSANAAN  PENILAIAN 34 TAHAP PERSIAPAN •Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yg harus dimiliki siswa •Merancang tugas yg memungkinkan siswa menunjuk- kan kemampuan berpikir dan keterampilannya •Bersama siswa menetapkan kriteria keberhasilan yg cukup rinci sehingga setiap aspek kinerja mempunyai kriteria tersendiri
  35. 35. KONSTRUKSI ASESMEN KINERJA  Konstruksi asesmen kinerja terdiri dari: 1. Tugas yg harus dikerjakan siswa (task) 2. Kriteria pemberian sekor (rubric) 35 RUBRIC DLM ASESMEN KINERJA  Buatlah kriteria penilaian (rubric) bersama siswa  Rubric dapat bersifat umum (holistic): berlaku umum atau bersifat khusus (analitic): berlaku untuk topik tertentu  Rubric terdiri dari: 1. Rincian aspek atau indikator yg akan dinilai 2. Gradasi mutu dari yg baik sampai ke yang kurang baik
  36. 36. CONTOH RUBRIC HOLISTIC UNT MENILAI KETERAMPILAN … SEKOR DESKRIPSI ASPEK YG DINILAI 4 3 Penggunaan prosedur tepat dan terampil Menunjukkan fungsi dr masing-masing langkah dalam prosedur Memodifikasi prosedur pd kondisi yg menantang Prosedur digunakan tetapi ada keragu-raguan Menunjukkan langkah-langkah prosedur secara umum Modifikasi prosedur tetapi atas bantuan instruktur 36 2 1 Prosedur digunakan dengan benar tetapi lambat dan canggung Langkah-langkah yg ditunjukkan terbatas Modifikasi prosedur tetapi setelah diberi contoh instruktur Prosedur tidak digunakan Langkah-langkah yg ditunjukkan kurang dipahami Penggunaan uji coba banyak menyalahi prosedur
  37. 37. TAHAP PELAKSANAAN  Pengajar memotivasi siswa  Dalam pembelajaran pengajar mendiskusikan bagaimana cara menyelesaikan tugas tersebut  Berikan umpan balik secara berkesinambungan 37
  38. 38. TAHAP PENILAIAN …  Gunakan kriteria penilaian dng konsisten, jika ada perubahan diskusikan bersama siswa  Beri kesempatan self assessment berdasar kriteria yg telah disepakati  Hasil penilaian dijadikan sebagai perbaikan pembelajaran berikutnya 38
  39. 39. KEUNGGULAN ASESMEN KINERJA …  Dapat mengevaluasi hasil belajar yg kompleks dan keterampilan yg tidak dapat dievaluasi dengan cara tradisional  Menyajikan evaluasi yg lebih hakiki, langsung dan lengkap  Memotivasi peserta didik untuk belajar karena mereka terlibat dalam perumusan tujuan dan kriteria penilaian  Mendorong pembelajaran pada situasi kehidupan nyata 39
  40. 40. KELEMAHAN ASESMEN KINERJA …  Membutuhkan banyak waktu  Adanya unsur subjektivitas dalam pemberian sekor  Reliabilitas kurang 40
  41. 41. 41 JENIS-JENIS ALAT EVALUASI BENTUK TES TERTULIS TES TES TINDAKAN TES ESSAY TES OBYEKTIF BENAR SALAH PILIHAN GANDA MEMASANGKAN ISIAN SINGKAT BENTUK NON TES ANGKET WAWANCARA OBSERVASI DAFTAR CEK
  42. 42. 42 KUALITAS ALAT EVALUASI YANG BAIK ALAT BUATAN PENGAJAR ALAT TERSTANDAR PERLU DIBUAT KISI-KISI TES VALIDITAS LOGIK TERPENUHI PERLU DIBUAT KISI-KISI TES VALIDITAS LOGIK VALIDITAS EMPIRIK PERLU DIANALISIS DARI DATA TES VALIDITAS TERPENUHI VALID (TEPAT) VALIDITAS KESELURUHAN SOAL VALIDITAS BUTIR SOAL
  43. 43.                                 2222 YYnXXn Y)X)((XYn rXY 43 VALIDITAS Keseluruhan Soal X = Skor tes Y = Rata-rata ulangan harian N = Banyak Testi Butir Soal X = Skor Masing-masing Butir Y = Skor Total No Nama X Y X2 Y2 XY n ∑X ∑Y ∑X2 ∑Y2 ∑XY RUMUS UNTUK MENCARI VALIDITAS TES TABEL PERSIAPAN UTK VALIDITAS
  44. 44. Contoh 1 : KORELASI PRODUK MOMENT DENGAN ANGKA KASAR Misalkan menghitung validitas tes matematika • Kriterium adalah nilai rata-rata harian • Nilai yang dicari adalah validitasnya (X) • Rata-rata harian (Y) No Nama X Y X2 Y2 XY 1 A 6.5 6.3 42.25 39.69 40.95 2 B 7 6.8 49 46.24 47.6 3 C 7.5 7.2 56.25 51.84 54.0 4 D 7 6.8 49 46.24 47.6 5 E 6 7 36 49 42 6 F 6 6.2 36 38.44 37.2 7 G 5.5 5.1 30.25 26.01 28.05 8 H 6.5 6 42.25 45.5 39 9 I 7 6.5 49 36 45.5 10 J 6 5.9 36 34.81 35.4 JUMLAH 65.0 63.8 426.0 410.52 417.3 Tabel persiapan untuk mencari validitas
  45. 45. 75,0 )44.40702.4105)(42554260( 41474173 )44.4070)1052.410)(422542610( )8.6365(3.41710        XY XY XY r r r                                 2222 YYnXXn Y)X)((XYn rXY CONTOH : KORELASI PRODUK MOMENT DENGAN ANGKA KASAR (Lanjutan) Hasil rXY Dikonversikan Pada : 0.08 < rXY ≤ 1.00 Validitas Sangat Baik 0.60 ≤ rXY < 0.80 Validitas Tinggi 0.40 ≤ rXY < 0.60 Validitas Sedang 0.20 ≤ rXY < 0.40 Validitas Rendah 0.00 ≤ rXY < 0.20 Validitas Sangat Rendah rXY < Tidak Valid
  46. 46. 46 CONTOH : VALIDITAS BUTIR SOAL No Subyek Nomor Soal TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Y Yi 2 1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 10 2 B 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 9 81 3 C 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 9 81 4 D 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 8 64 5 E 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 8 64 6 F 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 7 49 7 G 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 5 25 8 H 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 9 I 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 10 J 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 9 Jumlah 10 8 8 5 6 6 5 4 4 6 3 2 67 (∑Yi) Jumlah Kuadrat 10 8 8 5 6 6 5 4 4 5 3 2 505(∑Yi 2)
  47. 47. CONTOH 2 : TENTUKAN VALIDITAS BUTIR SOAL NOMOR 5 No Subyek No Soal 5 (X) X2 Skor Total (Y) Y2 XY 1 A 1 1 10 100 10 2 B 1 1 9 81 9 3 C 1 1 9 81 9 4 D 1 1 8 64 8 5 E 1 1 8 64 8 6 F 1 1 7 49 7 7 G 0 0 5 25 0 8 H 0 0 4 16 0 9 I 0 0 4 16 0 10 J 0 0 3 9 0 Jumlah 6 6 67 505 51 Tentukan validitas butir soal no 5 • Skor masing-masing butir soal (Variabel X) • Skor Total (Variabel Y)
  48. 48.                     TinggiSangatyaValiditasn93.0 67505106610 676)51(10 22 2222             xy xy xy r r YYnXXn YXXYn r RELIABILITAS SUATU ALAT EVALUASI DIKATAKAN RELIABEL APABILA ALAT TERSEBUT MEMBERIKAN HASIL YANG RELATIF TETAP (KONSISTEN) ADA TIGA CARA : TES ULANG SEPERANGKAT TES YANG DILA-KUKAN TERHADAP KELOMPOK SUBYEK SEBANYAK DUA KALI. RELIABILITASNYA DIHITUNG DENGAN MENGKORELASIKAN HASIL PERTAMA DAN KEDUA. TES TUNGGAL DILAKSANAKAN HANYA SEKALI PELAKSANAAN SEHINGGA DIPEROLEH DATA DAN SELANJUTNYA DITENTUKAN KOEFISIEN RELIABILITASNYA TES EKIVALEN TES YANG TERDIRI DARI DUA PERANGKAT SOAL YANG EKIVALEN (MEMUAT KONSEP-KONSEP YANG SAMA TETAPI SOAL TIDAK PERSIS SAMA) RELIABILITAS DIHITUNG DE-NGAN CAR MENGKORELASIKAN HASIL TES UNTUK SOAL PERANGKAT PERTAMA DAN KEDUA
  49. 49. TEKNIK BELAH DUA  TES YENG TELAH DIBERIKAN KEPADA SEKELOMPOK SUBYEK DIBELAH MENJADI DUA BAGIAN, KEMUDIAN TIAP-TIAP BAGIAN DIHITUNG DATANYA 1. KOEFISIEN RELIABILITAS OBYEKTIF TES                   2222 2211 2121 2 1 2 1 XXnXXn XXXXn r Dilanjutkan Dengan : 2 1 2 1 2 1 2 1 1 2 11 r r r    n = Banyaknya Subyek X1 = Kelompok Data Belahan Pertama X2 = Kelompok Data Belahan Kedua
  50. 50. NO SUBYEK NOMOR GANJIL X1 NOMOR GENAP X2 X1. X2 X1 2 X2 2 1 A 5 5 25 25 25 2 B 5 4 20 25 16 3 C 5 4 20 25 16 4 D 5 3 15 25 9 5 E 4 4 16 16 16 6 F 5 2 10 25 4 7 G 3 2 6 9 4 8 H 1 3 3 1 9 9 I 1 3 3 1 9 10 J 2 1 2 4 1 JUMLAH 36 31 120 156 109 10 (120) – (36) (31)R 1/2 1/2 = --------------------------------------------------------------------------------------- (10) (156) - 362 ) ( 10 (109) -961 ) = 0,455 KOEFISIEN RELIABILITAS SELURUH TES 2 (0,455) R 11 = ------------------- = 0,63  RELIABILITAS TINGGI 1 + 0,455
  51. 51.                    2 2 11 1 t iit S qpS n n r 51 RELIABILITAS (Lanjutan) Jika jumlah soal ganjil dicari dengan rumus KR R-20 n = Banyaknya Butir Soal Pi = Proporsi yang menjawab benar qi = Proporsi yang menjawab salah St 2 = Varians Skor Total Koefisien Realibilitas : r11 < 0.20 Reliabilitas Sangat Rendah 0.20 ≤ r11 < 0.40 Reliabilitas Rendah 0.40 ≤ r11 < 0.60 Reliabilitas Sedang 0.60 ≤ r11 < 0.80 Reliabilitas Tinggi 0.80 ≤ r11 < 1.00 Reliabilitas Sangat Tinggi
  52. 52. CONTOH 3 : PENGGUNAAN RUMUS KR 20 No Subyek Nomor Soal TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 10 10 2 B 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 9 81 3 C 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 9 81 4 D 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 8 64 5 E 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 8 64 6 F 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 1 1 7 49 7 G 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 5 25 8 H 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 9 I 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 10 J 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 9 Np 10 8 8 5 6 6 5 4 4 6 3 2 67 (∑Xi) Nq 0 2 2 5 4 4 5 6 6 4 7 8 505(∑Xi 2) Pi 1 0.8 0.8 0.5 0.6 0.6 0.5 0.4 0.4 0.6 0.3 0.2 qi 0 0.2 0.2 0.5 0.4 0.4 0.5 0.6 0.6 0.4 0.7 0.8 ∑piqi Pi qi 0 0.16 0.16 0.25 0.24 0.24 0.25 0.24 0.24 0.24 0.21 0.16 2.39
  53. 53. Untuk mencari varian total tinggiasnyaReliabilit63.0 61.5 39.261.5 112 12 1 61.5 100 67)505(10 )( 2 2 2 2 2 22 2                                                        ii ii t iit ii t ii t r r S qpS n n r S n XXn S No Xi Xi2 1 10 100 2 9 81 3 9 81 4 8 64 5 8 64 6 7 49 7 5 25 8 4 16 9 4 16 10 3 9 67 (∑Xi) 505 (∑Xi 2) Untuk mencari varian, N = 10  banyak siswa (∑Xi) = 67 (∑Xi2) = 505 Untuk mencari rumus korelasi N = 12  banyak butir soal St2 = 5,61 ∑piqi = 2.39
  54. 54.               2 2 1 1 11 t i S S n n r 54 RELIABILITAS (Lanjutan) 2. KOEFISIEN RELIABILITAS SOAL ESSAY n = Banyaknya Butir Soal Si 2 = Jumlah varians skor tiap item St 2 = Varians Skor total Koefisien Realibilitas : r11 < 0.20 Reliabilitas Sangat Rendah 0.20 ≤ r11 < 0.40 Reliabilitas Rendah 0.40 ≤ r11 < 0.60 Reliabilitas Sedang 0.60 ≤ r11 < 0.80 Reliabilitas Tinggi 0.80 ≤ r11 < 1.00 Reliabilitas Sangat Tinggi •Menentukan skor bentuk soal uraian Tiap soal harus diberi bobot (misalnya berdasarkan tingkat kesulitannya •Rumus untuk mencari koefisien reliabilitas digunakan untuk rumus alpha
  55. 55. SUBYE K NOMOR SOAL SKOR TOTAL 1 2 3 4 5 (Xt) (Xt)2 A 10 10 20 25 35 100 10000 B 10 8 15 18 25 76 5776 C 8 5 10 12 18 53 2809 D 7 3 12 10 10 42 1764 E 9 8 18 20 20 75 5625 F 5 5 10 15 30 65 4225 Xi 49 39 85 100 138 411 30199 Xi 2 419 287 1293 1818 3574 Si 1.77 2.36 3.85 5.02 8.16 18.46 Si 2 3.14 5.58 14.81 25.22 66.67 115,42 55 CONTOH 4 : MENCARI RELIABILITAS BENTUK SOAL URAIAN (Lanjutan) Misalnya ada 5 item (soal) dan diikuti 6 subyek Dari data tabel n = 5 ; ∑Si 2 = 3.14 + 5.58 + 14.81 + 25.22 + 66.67 = 115.42 ; St 2 = 340.92 Tabel persiapan mencari Koefisien Reliabilitas Soal Bentuk Uraian TinggiasnyaReliabilit83.0 92.340 42.115 1 15 5              iir
  56. 56. BA BA JSJS JBJB TK    56 3. TINGKAT KESULITAN (DIFFICUTLY INDEX) TK = Tingkat Kesulitan JBA = Jumlah Siswa Kelompok Atas Yang Menjawab Benar JBB = Jumlah Siswa Kelompok Bawah Yang Menjawab Benar JSA = Jumlah Siswa Kelompok Atas JSB = Jumlah Siswa Kelompok Bawah TINGKAT KESULITAN: TK < 0.00 Soal Terlalu Sulit 0.00 ≤ TK < 0.30 Soal Sulit 0.30 ≤ TK < 0.70 Soal Sedang 0.70 ≤ TK < 1.00 Soal Mudah TK = 1.00 Soal Terlalu Mudah TINGKAT KESULITAN SUATU SOAL MENYATAKAN MUDAH ATAU SULITNYA SUATU SOAL. INDEKS KESULITAN 0,00 BERARTI SOAL TERLALU SULIT INDEKS KESULITAN 1,00 BERARTI SOAL TERLALU MUDAH
  57. 57. DARI DATA TABEL DI SEBELAH, MAKA DAPAT DIHITUNG UNTUK SOAL NOMOR 1 5 + 5 TK = ----------- = 1 SANGAT MUDAH 10 SOAL NOMOR 7 4 + 1 TK = ---------- = 0,50 SEDANG 10 SOAL NOMOR 12 1 + 1 TK = ------------- = 0,20 SULIT 10 SUB YEK NOMOR SOAL 1 7 12 A 1 1 0 B 1 1 0 C 1 1 1 D 1 1 0 E 1 0 0 F 1 1 1 G 1 0 0 H 1 0 0 I 1 0 0 J 1 0 0 JBA 10 5 2 JBB 0 5 8
  58. 58. DAYA PEMBEDA (DISCRIMINATING POWER) Untuk membedakan Testi berkemampuan tinggi dengan testi berkemampuan rendah Klasifikasi Daya Pembeda : DP = 0.00 Sangat Jelek 0.00 ≤ DP < 0.20 Jelek 0.20 ≤ DP < 0.40 Cukup 0.40 ≤ DP < 0.70 Baik 0.70 ≤ DP < 1.00 Sangat Baik A BA JS JBJBDP _  UNTUK BESAR N > 30 ORANG. MISALNYA HASIL UJI COBA KEPADA 32 ORANG URUTKAN DATA SKOR HASIL UJI COBA KELOMPOK TERSEBUT DARI SKORNYA YANG PALING TINGGI KE SKOR PALING RENDAH AMBIL 27 % KELOMPOK ATAS (SKOR TINGGI)  8 ORANG AMBIL 27 % KELOMPOK BAWAH (SKOR RENDAH)  8 ORANG
  59. 59. No Subyek Nomor Soal TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 A 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 0 100 2 B 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 9 81 3 C 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 9 81 4 D 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 8 64 5 E 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 8 64 6 F 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 7 49 7 G 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 5 25 8 H 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 9 I 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 4 16 10 J 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 9 JBA 5 5 5 4 5 2 4 4 3 4 2 1 67 (EX) JBB 5 3 3 1 1 4 1 0 1 2 1 1 505 (EX2) CONTOH 5 : MENCARI KELOMPOK ATAS DAN KELOMPOK BAWAH Untuk kelompok n < 30 orang Kelompok atas = 50 % Kelompok bawah 50 % Berdasarkan urutan pengelompokkan skornya
  60. 60. ekSangat Jel 5 4-2 6noSoal Baik 5 1-4 4noSoal ekSangat Jel1noSoal      40.0 60.0 0 5 55 Dp Dp Dp 60 CONTOH 5 : MENCARI KELOMPOK ATAS DAN KELOMPOK BAWAH (Lanjutan)
  61. 61. EFEKTIVITAS OPTION SUATU OPTION DIKATAKAN EFEKTIF JIKA SETIAP OPTION SOAL TEREBUT MEMPUNYAI KEMUNGKINAN YANG SAMA UNTUK DIPILIH; JIKA TESTI MENJAWAB DENGAN CARA MENEBAK (SPEKULASI) SUPAYA OPTION EFEKTIF MAKA USAHAKAN HARUS HOMOGEN (SERUPA) BAIK DARI SEGI ISI (MATERI), NOTASI MAUPUN PANJANG PENDEKNYA KALIMAT DUA JENIS OPTION OPTION KUNCI (KEY OPTION)  MERUPAKAN JAWABAN BENAR OPTION PENGECOH (DISTRACTOR OPTION)  OPTION LAINNYA YANG BUKAN MERUPAKAN KUNCI JWB KRITERIA UNTUK OPTION YANG EFEKTIF ADALAH : 1.UNTUK OPTION KUNCI JPA > JPB JPA = JUMLAH PEMILIH DARI KELOMPOK ATAS JPB = JUMLAH PEMILIH DARI KELOMPOK BAWAH JPA + JPB JSA = JUMLAH SISWA KLP ATAS 0,25 < ------------------- < 0,75 . JSB = JUMLAH SISWA KLP BAWAH JSA + JSB
  62. 62. 1.UNTUK OPTION PENGECOH JPA < JPB 1 PA + JPB > 0,25 X ---------------- X (JSA + JSB) 2 ( N – 1 ) N = BANYAK OPTION ATAU DENGAN RUMUS YANG LEBIH SEDERHANA JPA + JPB > 5 % X (JSA + JSB) JIKA PESERTA TES MENGABAIKAN SEMUA OPTION (TIDAK MEMILIH) DISEBUT “OMIT” OPTION DIKATAKAN EFEKTIF JIKA OMIT TIDAK MELEBIHI 10 % DARI JUMLAH SISWA KELOMPOK ATAS (JSA) DAN JUMLAH SISWA KELOMPOK BAWAH (JSB) OMIT < 10 % (JSA + JSB)
  63. 63. OBYEKTIVITAS MAKSUDNYA BAHWA HASIL TES HARUS SELALU SAMA HASILNYA MESKIPUN DIPERIKSA OLEH ORANG YANG BERLAINAN SKOR KUNCI JAWABAN, TERMASUK LANGKAH-LANGKAH JAWABAN DAN BOBOT SETIAP LANGKAH HARUS DITENTUKAN TERLEBIH DAHULU PRAKTIBILITAS SUATU TES YANG BAIK HARUS BERSIFAT PRAKTIS, DALAM ARTI MUDAH DILAKSANAKAN DAN EFISIEN DARI SEGI BIAYA DAN WAKTU PENGERTIAN SKOR DAN NILAI 1. SKOR : ADALAH BILANGAN YANG MERUPAKAN DATA MENTAH HASIL EVALUASI  BERSIFAT KUANTITATIF BERGANTUNG PADATINGKAT KOGNITIF YANG DITANYAKAN TIAP SOAL KEMUNGKINAN BOBOTNYA TIAK SAMA SEHINGGA SKORNYA BISA BERLAINAN 2. NILAI ADALAH SKOR YANG DIOLAH LEBIH LANJUT DENGAN MENGGUNAKAN ATURAN DAN KRITERIA TERTENTU MISALNYA MENGGUNAKAN PENILIAN ACUAN PATOKAN (PAP) ATAU PENILAIAN ACUAN NORMA (PAN) PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI
  64. 64. )BJ(JS SB  )B(JS B 1  n JS    )B(JS B 11 21   nn JS BJS B  64 PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan) 2. CARA MENSKOR TES OBYEKTIF  Bentuk benar – salah  Pilihan Ganda  Memasangkan  Bentuk Isian JB = JUMLAH JAWABAN BETUL JS = JUMLAH JAWABAN SALAH B = BOBOT TIAP SOAL n = JUMLAH OPTION JAWABAN N1 = JUMLAH ALTERNATIF JAWABAN N2 = JUMLAH SOAL MEMASANG- KAN
  65. 65. 65 PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (LANJUTAN) 1. CARA-CARA MENSKOR TES ESSAY  Nilailah jawaban soal essay dalam hubungannya dengan hasil belajar yang sedang diukur  Siapkan garis-garis besar jawaban yang dikehendaki terlebih dahulu sebelum penskoran dilakukan  Gunakan metode penskoran yang tepat  Faktor-faktor yang tidak ada hubungannya dengan hasil belajar dihindarkan  Jangan melihat nama atau identitas  Selesaikan satu pertanyaan untuk seluruh siswa sebelum pindah ke jawaban selanjutnya  Jika mungkin diskor oleh dua orang atau lebih
  66. 66. 66 PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan) 3. PENSKORAN TES LISAN  Penguji harus menguasai pertanyaannya  Kemungkinan skor setiap kemungkinan jawaban sudah dipersiapkan dahulu  Skor mentah akhir seseorang sama dengan jumlah skor mentah butir-butir soal form yang ditanyakan kepada testi 4. PENSKORAN TES TINDAKAN  Menetapkan skala berdasarkan teori tertentu  Perilaku yang diukur tidak ada yang skornya nol  Skor mentah akhir adalah jumlah skor dari semua aspek perilaku yang diamati
  67. 67. ITEM SS S N TS STS POSITIF 5 4 3 2 1 NEGATIF 1 2 3 4 5 67 PENGOLAHAN DATA HASIL EVALUASI (Lanjutan) 5. PENSKORAN BENTUK NON TES Misalnya gunakan skala Likert ITEM POSITIF ADALAH BERUPA PERNYATAAN YANG SESUAI DENGAN NORMA/ATURAN YANG BERLAKU DIMASYARAKAT. MISALNYA : SAYA TIDAK PERNAH TERLAMBAT MASUK SEKOLAH SAYA TERBIASA BANGUN PAGI ITEM NEGATIF ADALAH BERUPA PERNYATAAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN NORMA/ATURAN YNG BERLAKU DI MASYARAKAT MISALNYA : SAYA TERBIASA BANGUN KESIANGAN
  68. 68. _ X 68 PENDEKATAN ACUAN PENILAIAN 1. Penilaian acuan patokan (Criterion Referenced Test) a. Batas lulus telah ditentukan terlebih dahulu (Dipatok) 2. Penilaian acuan norma (PAN) a. Batas lulus berdasarkan hasil yang diperoleh siswa dalam kelompoknya 3.Kombinasi PAP dan PAN a. Cara I • Dicari dan S kombinasi • Konversi pada tabel skala b. Cara II • Tentukan batas lulus • Cari dan S dari kelompok yang lulus • Konversikan pada tabel skala _ X _ X
  69. 69. 69 CONTOH Suatu tes evaluasi pendidikan terdiri dari 10 butir bentuk B – S, 20 butir bentuk P – G dengan 4 option, 5 butir bentuk memasangkan dengan 7 alternatif jawaban dan 10 butir bentuk isian. Bobot tiap bentuk sebagai berikut : •Bentuk BS =1 Bentuk P – G =3 Bentuk memasangkan = 1.5 Bentuk isian = 2 Dimisalkan seorang siswa dapat menjawab tiap bentuk sebagai berikut : Bentuk B – S = 7 soal, bentuk P – G = 15 soal, bentuk memasangkan = 2 soal, bentuk isian = 8 soal. Berapa skor yang diperoleh siswa tersebut dan hitung tingkat penguasaan siswa tersebut terhadap materi tes. Jawab: Skor bentuk B – S = (7 – 3) x 1 = 4 Skor bentuk P – G = {15 – 5/(4-1)} x 3 = 40 Skor bentuk memasangkan = {2 – 3/(4x6)} x 1,5 = 2,8 Skor bentuk isian = 8 x 2 = 16 Skor total = 4 + 40 + 2,8 + 16 = 62,8 Skor maksimal ideal  B – S = 10 x 1 = 10 P - G = 20 x 3 = 60 Memasangkan = 5 x 1,5 = 7,5 Isian = 10 x 2 = 20  Jadi SMI = 10 + 60 + 7,5 + 20 = 97,5 Tingkat Penguasaan terhadap materi tes = (62,8/97,5) x 100 % = 64,8 %
  70. 70. 70 CONTOH :lanjutan tingkat penguasaan 1. PRESANTASI TINGKAT PENGUASAAN Paling sering digunakan, misalkan guru memberikan tes fisika bentuk uraian sebanyak 5 soal. Kadar kesukaran → Bobot tiap soal : No 1 bobotnya =5, no 2 bobotnya=10, no3 bobotnya=15, no 4 bobotnya = 10, no 5 bobotnya=20 Jadi skor maksimal ideal (SMI)=5+10+15+10+20=60 Misalkan siswa Y, mendapat skor sebagai berikut : No 1 = 5, no 2 = 10, no 3 = 15, no 4 = 5, no 5 = 0 Jadi skor aktualnya = 5 + 10 + 15 + 5 + 0 = 35 Jadi nilai siswa = (35/60)x100%=58 % → nilai = 6 Nilai 6 sebagai tolak ukurnya menggunakan SMI sehingga hasilnya menunjukkan tingkat penguasaan siswa terhadap seluruh materi tes yang disajikan.
  71. 71. 71 CONTOH : SKALA PENILAIAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI NORMAL 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X-2.25S X-1.75S X-1.25S X-0.75S X-0.25S X+0.25S X+2.25S X+1.75S X+1.25S X+0.75S X Gambar batas interval untuk skala 11 Dari gambar diatas dapat dibuat tabel konversi sebagai berikut : X + 2.25 S ≤ 10 X + 1.75 S ≤ 9 < X + 2.25 S X + 1.25 S ≤ 8 < X + 1.75 S X + 0.75 S ≤ 7 < X + 1,25 S X + 0.25 S ≤ 6 < X + 0.75 S X – 0.25 S ≤ 5 < X + 0.25 S X – 0.75 S ≤ 4 < X – 0.25 S X – 1.25 S ≤ 3 < X – 0.75 S X – 1.75 S ≤ 2 < X – 1.25 S X – 2.25 S ≤ 1 < X – 1.75 S 0 < X – 2.25 S 10 Dengan menggunakan sistem PAP, karena kurva berdistribusi normal, maka : X=1/2SMI, S=1/3X Jika menggunakan sistem PAN, maka nilai X dan S dapat dicari dengan rumus statistik
  72. 72. KONVERSI SKALA 11 KONVERSI SKALA 5 X + 2.25 S ≤ 10 X + 1.5 S ≤ A X + 1.75 S ≤ 9 < X + 2.25 S X + 0.5 S ≤ B < X + 1.5 S X + 1.25 S ≤ 8 < X + 1.75 S X – 0.5 S ≤ D < X – 0.5 S X + 0.75 S ≤ 7 < X + 1.25 S X – 1.5 S ≤ D < X – 0.5 S X + 0.25 S ≤ 6 < X + 0.75 S E < X – 1.5 S X - 0.25 S ≤ 5 < X + 2.25 S X – 0.75 S ≤ 4 < X - 0.25 S X – 1.25 S ≤ 3 < X - 0.75 S X – 1.75 S ≤ 2 < X - 1.25 S X – 2.25 S ≤ 1 < X - 1.75 S 0 < X - 2.25 S 72 SKALA PENILAIAN (Lanjutan)
  73. 73. 73 CONTOH : SKALA PENILAIAN (Lanjutan) MENGGUNAKAN PENDEKATAN DISTRIBUSI NORMAL Misal soal obyektif SMI = 100 X = ½ (100) = 50 S = 1/3 (50) = 16.67 PAP Jadi didapatkan tabel konversinya sebagai berikut : 87.51 ≤ 10 45.83 ≤ 5 < 54.17 79.17 ≤ 9 < 87.51 37.50 ≤ 4 < 45.83 70.84 ≤ 8 < 79.17 29.16 ≤ 3 < 37.5 62.50 ≤ 7 < 70.84 20.83 ≤ 2 < 29.16 54.17 ≤ 6 < 62.50 12.49 ≤ 1 < 20.83 0 < 12.49
  74. 74. Misalkan datanya didapat sebagai berikut : 56 60 76 49 72 76 65 67 58 90 84 83 72 79 85 32 72 75 65 83 97 43 87 62 74 46 35 90 61 83 21 37 65 50 29 37 42 58 49 38 66 36 57 55 40 70 69 62 43 52 74 CONTOH : SKALA PENILAIAN JIKA MENGGUNAKAN PAN Jadi didapatkan tabel konversinya sebagai berikut : 102.57 ≤ 10 56.45 ≤ 5 < 65.67 93 ≤ 9 < 102.57 47.22 ≤ 4 < 56.45 84.12 ≤ 8 < 93.35 37.99 ≤ 3 < 47.22 74.89 ≤ 7 < 84.12 28.77 ≤ 2 < 37.99 65.57 ≤ 6 < 74.89 19.55 ≤ 1 < 28.77 0 < 19.55 Dari data tersebut dengan menggunakan kalkulator didapat X = 61.06 S = 18.45 Misalkan skor siswa = 89.6 • Tanpa menggunakan tabel konversi mendapatkan nilai 9 (PAP) • Menggunakan tabel konversi dengan PAP , maka nilainya 10 • Menggunakan sistem PAN dari tabel konversi, maka siswa tersebut mendapatkan nilai 8
  75. 75. 75 CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN PAP • Tepat digunakan jika butir-butir soal telah distandarkan (baku) • Dilihat dari tingkat kesukaran → jika butir soal tes kurang baik maka nilai siswa kurang mencerminkan kemampuan sebenarnya, sehingga dapat memberi gambaran yang keliru • Jika soal terlalu sukar maka yang pandai mendapat nilai rendah • Jika soal terlalu mudah maka yang bodoh mendapatkan nilai baik PAN • Jika siswa yang dites adalah siswa yang kemampuannya kurang, maka akan didapat sebagian siswa yang mendapat nilai baik • Tepat digunakan jika distribusi skor aktualnya membentuk kurva normal, meskipun soal yang diteskan belum dibakukan → jika tidak membentuk kurva normal, maka gambaran penilainya tidak akan tepat • Jika siswa yang dites terdiri dari siswa yang berkemampuan tinggi (pandai) maka sebagian dari mereka akan memperolah nilai jelek.
  76. 76. 76 CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN (Lanjutan) Misalkan tes Fisika diperoleh skor terendah aktual = 80 dan SMI = 100 • PAP 80/100 x 100 % = 80 % (Yaitu mendapat nilai 8 dan jika menggunakan tabel konversi bisa mendapat nilai 9, sebab berada pada interval : X + 1.75 S dan X + 2.25 S dengan X=50, S=16.67 • PAN Skor tersebut bisa mendapatkan paling jelek sebab merupakan skor terendah diantara kelompoknya
  77. 77. 77 CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN (Lanjutan) KOMBINASI PAP DAN PAN Langkahnya sebagai berikut : Cari rerata dan simpangan baku dengan cara PAP maupun PAN dan kemudian cari rerata kombinasinya. PAP X=1/2SMI=1/2 x 100 = 50 S=1/3X = 1/3 x 50 = 16.67 PAN X=61.06 S=18.54 Jadi nilai X dan S untuk norma kombinasi sebagai berikut : XKOM=1/2(50+61.06)=55.53 Skom =1/2(16.67+18.45=17.56 Maka untuk skala 11 didapat tabel konversi sebagai berikut : Cari dengan rumus statistik atau kalkulator 95.04 ≤ 10 51.14 ≤ 5 < 59.92 86.26 ≤ 9 < 95.04 42.36 ≤ 4 < 51.14 77.48 ≤ 8 < 86.26 33.58 ≤ 3 < 42.36 68.70 ≤ 7 < 77.48 24.80 ≤ 2 < 33.58 59.92 ≤ 6 < 68.70 16.02 ≤ 1 < 24.80 0 < 16.02
  78. 78. 78 CONTOH : SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN CARA KEDUA Yaitu dengan menggunakan batas lulus (Passing Grade) Tentukan Batas lulus Misalnya : 60 % x SMI = (60/100)x100=60 • Jadi siswa yang skor dibawah 60, dinyatakan gagal (tidak lulus) dan tiddak perlu dioleh lebih lanjut (misalnya 22 siswa) • Skor ≥ 60 perlu diolah lebih lanjut (28 siswa) Tabel konversinya (lihat sebelumnya untuk nilai PAN) 102.57 ≤ 10 93.35 ≤ 9 < 102.57 84.12 ≤ 8 < 93.35 74.89 ≤ 7 < 84.12 60.00 ≤ 6 < 74.89
  79. 79. SKALA LIMA SKALA LIMA DISEBUT JUGA SKALA HURUF KARENA NILAI AKHIR TIDAK DINYATAKAN DENGAN ANGKA (BILANGAN), TETAPI DENGAN HURUF : A; B; C; D; E SKALA LIMA DIANGGAP LEBIH BAIK DARI SKALA BILANGAN KARENA : -BAGAIMANAPUN PENILAIAN TERHADAP SISWA BERSIFAT RELATIF. HAL INI KARENA PERBEDAAN YANG ADA PADA SETIAP SISWA TIDAK BISA DINYATAKAN SECARA CERMAT (RINCI) -PEBEDAAN KEMAMPUAN INDIVIDU SISWA ANTARA YANG SATU DENGAN YANG LAINNYA TIDAK BISA DIBAN- DINGKAN ECARA KUANTITATIF. OLEH KARENA DENGAN SKALA HURUF LEBIH TEPAT TABEL KONVERSI SKALA LIMA X + 1.5 S ≤ A X + 0.5 S ≤ B < X + 1.5 S X – 1.5 S ≤ D < X – 0.5 S E < X – 1.5 S MENGGUNAKAN PROSENTASE TINGKAT PENGUASAAN 90 % ≤ A < 100 %  ISTIMEWA, SANGAT BAIK 75 % ≤ B < 90 %  BAIK 55 % ≤ C < 75 %  SEDANG, CUKUP 40 % ≤ D < 55 %  KURANG 0 % ≤ E < 40 %  JELEK (TL)
  80. 80. CONTOH : UNTUK 50 ORANG SISWA DARI CONTOH DATA SEBELUMNYA MISALNYA ATAS LULUS DIBERI NILAI D YAITU UNTUK PROSENTASE TINGKAT PENGUASAAN 40 %; MAKA BATAS LULUSNYA ADALAH = 40 % X SMI = 40 % X 100 = 40. JADI SKOR-SKOR YANG KURANG DARI 40 TIDAK DIOLAH LAGI DAN DINYATAKAN TIDAK LULUS (E). JADI SKOR-SKOR YANG DI ATAS 40 ADA 42 ORANG 56 72 65 50 40 76 43 58 49 52 84 83 42 57 55 97 69 62 43 46 76 49 72 66 67 58 90 70 72 79 85 60 75 65 83 65 87 62 74 83 90 61 DENGAN CATATAN SEBELUMNYA CARI DAHULU X DAN S MENGGUNAKAN CARA PAN. ADALAH : X = 61,06 S = 18,45 DENGAN DEMIKIAN TABEL KONVERSINYA ADALAH 88,74 ≤ A 70,29 ≤ B < 88,74 51,84 ≤ C < 70,29 40,00 ≤ D < 51,84 E < 40,00 MENURUT TABEL KONVERSI DI ATAS, MAKA DENGAN SISTEM KOMBINASI PAP DAN PAN DENGAN BATAS LULUS 40 %, MAKA BANYAK SISWA YANG NILAI A = 3 ORANG; NILAI B = 15 ORANG; NILAI C = 15 ORANG DAN NILAI D = 9 ORANG
  81. 81. SKALA BAKU (Z) KEGUNAAN SKALA BAKU UNTUK MENENTUKAN KEDUDUKAN SEORANG TESTI DALAM KELOMPOKNYA X - Xrata-rata Z = -------------------------------------- S CONTOH : MISALKAN SEORANG SISWA MENGIKUTI DUA JENIS TES, YAITU METEMATIKA DAN FISIKA, TES MATEMATIKA SISWA TERSEBUT MENDAPAT SKOR 65 DAN PADA FISIKA SKORNYA 75. DIMISALKAN RATA-RATA DAN SIMPANGAN BAKUNYA : Xf = 65 Xm = 50 Sm = 7,52 Sf = 12,10 TENTUKAN PADA TES MANAKAH DIA MENEMPATI POSISI LEBIH BAIK DIANTARA TEMAN-TEMANNYA ? 65 – 50 75 - 65 ZM = ------------- = 1,99 ZF = ------------ = 0,83 7,52 12,10 Zm > ZF  MAKA KEDUDUKAN PADA TES METEMATIKA LEBIH BAIK PADA DALAM TES FISIKA MISALKAN ADA 5 ORANG SISWA DENGAN DATA DI BAWAH. DARI DATA TERSEBUT SIAPAKAH YANG MENDUDUKI PERINGKAT TERTINGGI ?
  82. 82. MATA KULIAH MATE- MATIKA FISIKA PANCASILA AGAMA KEWIRAAN JUMLAH PERINGKAT NAMA A 90 30 40 45 48 253 I B 70 40 45 47 49 251 II C 50 50 50 50 50 250 III D 30 60 55 53 51 249 IV E 10 70 60 55 52 247 V STANDAR DEVIASI 31,84 14,14 7,07 3,69 1,41 APAKAH BETUL SISWA A YANG MENJADI PERINGKAT KE I DAN SISWA E SEBAGAI PERINGKAT KE V ? BILA DIOLAH DENGAN ANGKA BAKU (Z) MAKA DIDAPAT SBB: MATA KULIAH MATEMATIKA FISIKA PANCASILA AGAMA KEWIRAAN JUMLAH PERING- KAT NAMA A 1,26 - 1,41 - 1,41 - 1,36 - 1,42 - 4,34 V B 0,63 - 0,71 - 0,71 -0,81 - 0,71 - 2,31 IV C 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 III D -0,63 0,71 0,71 0,81 0,71 2,31 II E -1,26 1,41 1,41 1,36 1,42 4,34 I JUMLAH 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
  83. 83. X 90 -50 UNTUK SISWA A  ZM = ------------ = 1,26 DAN SETERUSNYA 31,84 TERNYATA JIKA DIOLAH DENGAN ANGKA BAKU (Z), MAKA SISWA E SEBAGAI PERINGKAT KE I DAN SISWA A PERINGKAT KE V SKALA SERATUS ( T-SKOR) GUNA SKALA SERATUS SAMA SEPERTI Z SKOR, YAITU UNTUKMEMBANDINGKAN KEDUDUKAN SISWA DALAM KELOMPOKNYA. SKALA SERATUS LEBIH CERMAT DALAM MEMBERIKAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM SUATU TES. X - Xr T = 10 Z + 50 ATAU T = 50 + 10 ( -------------- ) S CONTOH : LIHAT KEMBALI PERBANDINGAN SKOR MATEMATIKA DAN FISIKA PADA PERHITUNGAN Z SKOR, JIKA DIHITUNG DENGAN T SKOR, MAKA 65 - 50 TM = 50 + 10 ( ---------- ) = 70 7,52 75 - 65 TF = 50 + 10 ( ------------) = 58 12,10 JADI TM > TF  MAKA SISWA TERSEBUT LEBIH BAIK DALAM TES MATEMATIKA DIBANDING DENGAN TES FISIKA
  84. 84. LIHAT KEMBALI CONTOH UNTUK KASUS PERINGKAT 5 ORANG SISWA JIKA DIOLAH DENGAN T-SKOR MATA KULIAH MATEMATIKA FISIKA PANCASILA AGAMA KEWIRAAN JUMLAH PERINGKAT NAMA A 63 36 36 36 36 207 V B 56 43 43 42 43 237 IV C 50 50 50 50 50 250 III D 44 57 57 58 57 273 II E 37 64 64 64 64 289 I JUMLAH 250 250 250 250 250
  85. 85. 85 TERIMA KASIH
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×