Tugas 2 : PPMA




                          PERANCANGAN PABRIK MINYAK ATSIRI
                                            ...
Tugas 2 : PPMA


                         TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI
                               MINYAK ATSIRI

PENDAHUL...
Tugas 2 : PPMA


c. Tenaga kerja.
   Yaitu tenaga kerja yang tersedia memiliki ketrampilan untuk melakukan
   proses produ...
Tugas 2 : PPMA



A. PENYULINGAN (Distillation)



    Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu...
Tugas 2 : PPMA

Macam-macam metode penyulingan :

   1. Distilasi Sederhana, prinsipnya memisahkan dua atau lebih komponen...
Tugas 2 : PPMA

1. PENYULINGAN DENGAN AIR

    Penyulingan dengan air (water destilation) dilaksanakan dengan cara bahan
 ...
Tugas 2 : PPMA

2. PENYULINGAN DENGAN AIR DAN UAP

    Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation) merupa...
Tugas 2 : PPMA

3. PENYULINGAN DENGAN UAP LANGSUNG

    Dilakukan dengan mengalirkan uap tekanan tinggi ke dalam bahan yan...
Tugas 2 : PPMA


Ada beberapa faktor yang menentukan mutu hasil penyulingan, seperti :
        1. Jenis dan penanganan bah...
Tugas 2 : PPMA


2. Ketel Uap/Boiler
   Ketel uap adalah pembangkit uap/dimana air dipanaskan di bawah tekanan,
   dimana ...
Tugas 2 : PPMA



B. EKSTRAKSI



    Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) komponen yang
diinginka...
Tugas 2 : PPMA

Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari
bijinya, baru kemudian dilakukan ...
Tugas 2 : PPMA


      mempunyai aroma hampir sama denga aslinya. Minyak atsiri banyak yang
      dipungut dengan cara ini...
Tugas 2 : PPMA


   d. Hypercritical CO2 extraction
      Cara ini relatif baru dan mahal, tetapi menghasilkan minyak atsi...
Tugas 2 : PPMA



C. METODE MEKANIK



    Sering disebut dengan expression, yaitu dengan cara cold pressing tidak ada
pan...
Tugas 2 : PPMA


  b. Equelle a piquer
     Cara ini lebih hemat tenaga daripada sponge. Metode ini tidak lagi
     dilaku...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Tugas 2 Ppma Murliadi Palham Tikm B

1,966

Published on

Proses pengambilan minyak atsiri

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,966
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
78
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas 2 Ppma Murliadi Palham Tikm B

  1. 1. Tugas 2 : PPMA PERANCANGAN PABRIK MINYAK ATSIRI Konsentrasi Teknologi Industri Kecil dan Menengah Magister Sistem Teknik, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2010 Dosen Pengampuh Ir. Supranto, M.Sc. Ph.D Technical Visibility TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI METODE FISIKA-KIMIA MEKANIK Oleh MURLIADI PALHAM TIKM –B Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 1|Hal
  2. 2. Tugas 2 : PPMA TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI PENDAHULUAN Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri dari tanaman dapat berasal dari batang (kulit cendana, masoi); dari daun (cengkeh, sereh wangi, nilam), dari akar (akar wangi), dari bunga (cengkeh, kenanga), dan dari buah misalnya pala. Sekarang ini, teknologi pengolahan/pembuatan minyak atsiri telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dari segi metode maupun peralatannya. Terdapat berbagai macam cara yang dilakukan untuk memproduksi minyak atsiri, yaitu : 1. Cara Kimia-Fisika, meliputi a. penyulingan (destilasi) seperti penyulingan dengan air (water destilation) :penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation), dan penyulingan dengan uap langsung (steam destilation) b. solvent Solven extraction, seperti maceration dan hypercritical CO2 extraction 2. Cara Mekanik, meliputi : Sponge, Ecuelle a piquer (=basin, to prick/prod), dan machine abrasion Agar kita dapat menentukan teknologi apa yang akan digunakan ada baiknya kita haraus mempelajari terlebih dahulu masing-masing alternatif teknologi yang tersedia Dalam pemilihan teknologi beberapa faktor yang harus dipertimbangkan adalah : a. Kebutuhan modal. Untuk menyediakan mesin-mesin, perlatan dan fasilitas-fasilitas lainnya. b. Kondisi pasar. Yaitu berapa volume penjualan yang direncanakan. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 2|Hal
  3. 3. Tugas 2 : PPMA c. Tenaga kerja. Yaitu tenaga kerja yang tersedia memiliki ketrampilan untuk melakukan proses produksi. d. Bahan mentah. Jenis bahan mentah yang akan diproses sangat menentukan tipe teknologi yang akan digunakan. e. Kemajuan teknologi. Perusahaan harus mempertimbangkan kemajuan teknologi yang berkembang dalam industri minyak atsiri. f. Kualitas produk. Perlu dipertimbangkan kualitas produk yang diinginkan apakah juga ditentukan oleh berbagai alternatif teknologi yang ada. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 3|Hal
  4. 4. Tugas 2 : PPMA A. PENYULINGAN (Distillation) Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu campuran yang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran tersebut adalah mampu-campur dan mudah menguap, selain itu komponen- komponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan uap dan hasil dari pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau kelompok-kelompok komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap, maka dapat dikatakan pula proses penyulingan merupakan proses pemisahankomponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didihnya. Pada operasi distilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa bila campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan uapnya, komposisi uap dan cairan berbeda. Uap akan mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap, sedangkan cairan akan mengandung lebih sedikit komponen yangmudah menguap. Bila uap dipisahkan dari cairan, maka uap tersebut dikondensasikan, selanjutnya akan didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama, dengan lebih banyak komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan cairan yang tidak teruapkan. Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut diuapkan lagi sebagian, akan didapatkan uap dengan kadar komponen yang lebih mudah menguap lebih tinggi. Gambar 1. Bagan perlengkapan distilasi di laboratorium Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 4|Hal
  5. 5. Tugas 2 : PPMA Macam-macam metode penyulingan : 1. Distilasi Sederhana, prinsipnya memisahkan dua atau lebih komponen cairan berdasarkanperbedaan titik didih yang jauh berbeda. 2. Distilasi Fraksionasi (Bertingkat), sama prinsipnya dengan dis.sederhana, hanya dis.bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan. 3. Distilasi Azeotrop, memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tsb, atau dengan menggunakan tekanan tinggi. 4. Distilasi Kering : memanaskan material padat untuk mendapatkan fasa uap dan cairnya. Biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau batu bata. 5. Distilasi vakum: memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motede yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, shg titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi. Dalam industri minyak atsiri dikenal 3 macam metode penyulingan (destilasi sederhana), yaitu : 3. Penyulingan dengan air (water destilation). 4. Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation) 5. Penyulingan dengan uap langsung (steam destilation) Tidak semua bahan dapat diambil minyak atsirinya dengan cara ini, terutama bahan-bahan yang bersifat thermolabile (heat sensitive). Contoh: jasmine/melati, rose. Dengan cara distilasi, suhu dan waktu distilasi sangat penting untuk menghindari kerusakan minyak atsiri. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 5|Hal
  6. 6. Tugas 2 : PPMA 1. PENYULINGAN DENGAN AIR Penyulingan dengan air (water destilation) dilaksanakan dengan cara bahan baku tercelup dalan air di dalam ketel lalu dididihkan. Air akan menguap membawa minyak atsiri. Molekul air melindungi minyak atsiri dari over heating. Uap air yang membawa minyak atsiri diembunkan, setelah dingin minyak atsiri dipisahkan dari air (Skema pada gambar 1 dan 2). Air yang terpisah disebut floral water (hydrosol/sweet water). Gambar 2. Skema penyulinngan minyak atsiri dengan air . Gambar 3. Penyulinngan minyak atsiri dengan air Prinsip Kerja  Ketel penyulingan diisi air sampai volume hampir separuh, lalu dipanaskan.  Sebelum air mendidih bahan baku dimasukkan dalam ketel.  Bahan baku biasanya yang tidak rusak oleh panas uap air misalnya buanga atau daun yang mudah bergerak dalam air. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 6|Hal
  7. 7. Tugas 2 : PPMA 2. PENYULINGAN DENGAN AIR DAN UAP Penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation) merupakan cara yang paling banyak digunakan. Cara ini hanya cocok untuk jenis minyak atsiri yang tidak rusak oleh panas uap air. Umunya kualitas hasil penyulingan dengan air dan uap ini lebih baik dari pada penyulingan dengan air. suhunya tidak terlalu tinggi. Hanya saja membutuhkan waktu distilasi yang lebih panjang untuk yield yang lebih besar. Prinsip Kerja  Ketel diisi air sampai batas saringan/angsang.  Bahan baku diletakkan diatas angsang sehingga tidak kontak langsung dengan air yang mendidih tetapi dengan uap air.  Air yang menguap akan membawa partikel minyak atsiri dan dialirkan ke alat pemisah. Untuk memudahkan proses penguapan, bagian ketel untuk bahan baku harus diberi ruang yang cukup. Bahan tidak boleh dipadatkan. Gambar 4. Skema penyulinngan minyak atsiri dengan air dan uap Gambar 5. Penyulinngan minyak atsiri dengan air dan uap Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 7|Hal
  8. 8. Tugas 2 : PPMA 3. PENYULINGAN DENGAN UAP LANGSUNG Dilakukan dengan mengalirkan uap tekanan tinggi ke dalam bahan yang akan didistilasi. Steam generator (ketel perebus air untuk menghasilkan steam) terpisah dari ketel yang berisi bahan. Uap panas yang kontak dengan bahan membantu melepaskan molekul aromatik dari bahan. Molekul minyak atsiri yang lepas menguap bercampur dengan steam. Temperatur steam harus dikontrol agar hanya cukup untuk memaksa bahan melepas minyak atsirinya dan tidak membakar bahan. Steam yang dipakai bertekanan > 1 atm dan bersuhu > 100oC, sehingga waktu distilasi bisa lebih cepat mengurangi kemungkinan rusaknya minyak atsiri. Cara ini menghasilkan minyak atsiri dengan mitu yang tinggi. Gambar 6. Skema penyulinngan minyak atsiri uap langsung Gambar 7. Penyulinngan minyak atsiri dengan uap langsung Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 8|Hal
  9. 9. Tugas 2 : PPMA Ada beberapa faktor yang menentukan mutu hasil penyulingan, seperti : 1. Jenis dan penanganan bahan baku yang akan disuling 2. Jenis, distribusi dan debit uap yang digunakan 3. Bahan penyusun ketel penyulingan 4. Dimensi alat penyuling 5. Metode penyulingan yang digunakan Pada umumnya, untuk mendapatkan rendemen yang tinggi dan mutu minyak atsiri yang baik diperlukan usaha-usaha seperti : (1) suhu penyulingan dipertahankan serendah mungkin dengan mengingat bahwa kecepatan serta besarnya jumlah minyak ditentukan oleh suhu; (2) pada penyulingan uap, jumlah air yang kontak langsung dengan bahan yang disuling, diusahakan sesedikit mungkin (3) perajangan bahan dimaksudkan agar pengisian bahan ke dalam ketel suling sehomogen mungkin (Guenther, 1987). Peralatan Penyulingan Alat-alat yang diperlukan dalam penyulingan tergantung pada banyaknya bahan dan metode penyulingan yang dilakukan. Ada tiga bagian alat yang merupakan peralatan dasar, yaitu : ketel suling (retor), pendingin (kondensor), dan penampung hasil kondensasi (receiver), sedangkan untuk penyulingan uap diperlukan bagian tambahan yaitu ketel uap. 1. Ketel Suling Ketel suling digunakan sebagai tempat air atau uap untuk mengadakan kontak langsung dengan bahan, serta untuk menguapkan Eteris. Pada bentuk sederhana ketel suling berbentuk silinder atau tangki, yang mempunyai diameter sama atau lebih kecil dari tinggi tangki. Tangki tersebut dilengkapi dengan tutup yang dapat dibuka dan diapitkan pada bagian atas penampang ketel. Pada atau dekat penampang atas tangki dipasang pipa berbentuk leher angsa untuk mengalirkan uap ke kondensor (Guenther, 1947). Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 9|Hal
  10. 10. Tugas 2 : PPMA 2. Ketel Uap/Boiler Ketel uap adalah pembangkit uap/dimana air dipanaskan di bawah tekanan, dimana uap ini berfungsi sebagai zat pemindah tenaga kaloris. Melalui api dan gas asap kalor dipindahkan dari bahan bakar ke air dan uap melalui dinding bidang pemanas, kemudian uap dapat disalurkan ke pemakai sesuai dengan tujuan penggunaannya (Tambunan dan Karo-karo dalam Sunarto, 1992). 3. Kondensor (Pendingin) Pendingin berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan uap minyak menjadi fase cair. Jumlah panas yang dikeluarkan pada peristiwa kondensasi sebanding dengan panas yang diperlukan untuk penguapan uap minyak dan uap air serta jumlah kecil panas tambahan dikeluarkan untuk mendinginkan hasil kondensasi, yang berguna untuk menjaga supaya suhunya di bawah titik didih (Guenther, 1947). Kondensor yang paling umum digunakan adalah kondensor berpilin (coil condenser) yang dimasukkan ke dalam tangki berisi air dingin yang mengalir. Arah aliran air pendingin berlawanan dengan arah uap air dan uap minyak. 4. Oil Separator Alat ini digunakan untuk memisahkan minyak dari air suling. Jumlah volume air suling selalu lebih besar dari jumlah minyak, dalam hal ini diperlukan agar air suling tersebut terpisah secara otomatis dari Eteris. Eteris dan air suling tidak melarut; karena perbedaan bobot jenis maka larutan tersebut akan terpisah dimana minyak tersebut berada di atas lapisan air, hal ini yang merupakan prinsip kerja dasar dari alat ini (Guenther, 1947). Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 10 | H a l
  11. 11. Tugas 2 : PPMA B. EKSTRAKSI Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) komponen yang diinginkan (solute) dari cairan (solvent) dengan mengeksploitasi perbedaan sifat kelarutan dari masing-masing komponen campuran terhadap jenis pelarut tertentu.. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Teknik ekstraksi banyak digunakan dalam proses produksi, seperti : minyak goreng (terutama dari biji-bijian), aroma dan minyak atsiri, kopi bebas kafein, dan gula. Teknik ekstraksi lainnya misalnya menggunakan air untuk mengambil pigmen alami dari tumbuhan, seperti: daun, dan lain-lain Dalam kaitannya dengan minyak atsiri, teknik ekstraksi ini biasanya digunakan pada bahan atau minyak atsiri yang mudah rusak oleh panas, kandungan minyak atsirinya sangat rendah, serta pada bahan yang bersifat thermolabile, dalam hal ini adalah minyak bunga-bungaan seperti melati, mawar, atau sedap malam. Gambar 8. Peralatan dan proses pengambilan minyak atsiri dengan ekstraksi Untuk melarutkan minyak atsiri yang terdapat pada bunga-bungaan tersebut, maka dibutuhkan pelarut yang biasanya adalah pelarut organik yang bersifat non- polar. Contoh lain misalnya ekstraksi minyak atsiri dari biji pala (Myristica fragrans). Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 11 | H a l
  12. 12. Tugas 2 : PPMA Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan pemurnian untuk mendapat-kan minyak esensial atsirinya saja. Terdapat empat metode ekstraksi yang dapat dilakukan, yaitu : a. Maceration Bahan terutama bunga direndam dalam minyak panas untuk memecah sel- sel yang mengandung minyak atsiri kemudian minyak panas akan menyerap minyak atsiri. Minyak yang mengandung minyak atsiri dipisahkan dari bahan dengan penyaringan atau dekanter. b. Enfleurage Kaca dalam frame (disebut chassis) dilapisi dengan lemak binatang/ tumbuhan yang tidak berbau dan murni. Kemudian bunga segar yang baru dipetik ditempelkan pada lemak lalu ditutup. Minyak atsiri akan terserap oleh lemak, bunga diganti dengan yang segar lagi sampai lemak menjadi jenuh dengan minyak atsiri. Setelah jenuh bunga diambil (defleurage). Campuran lemak dan minyak atsiri ini disebut Pomade. Pamade dicuci dengan alkohol hingga minyak atsiri larut dalam alkohol. Dengan cara distilasi akan diperoleh minyak atsiri. Cara ini sangat mahal dan memerlukan tenaga yang cukup banyak. Bahan yang diproses dengan cara ini contohnya tuberose dan jasmine. c. Volatile Solvent Yaitu ekstraksi minyak atsiri dengan pelarut menguap. Semua minyak yang diekstraksi dengan pelarut menguap mempunyai warna gelap, karena mengandung pigmen alamiah yang bersifat tidak dapat menguap. Sebaliknya minyak hasil penyulingan uap umumnya berwarna cerah dan bersifat larut dalam alkohol 95 %. Minyak atsiri dapat diekstraksi memakai hexan, metanol, etanol, petrloleum eter, atau benzen. Benzen sekarang tidak dipakai lagi karena bersifat carcinogenic (bisa menyebabkan kanker). Minyak atsiri yang diambil dengan cara ini Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 12 | H a l
  13. 13. Tugas 2 : PPMA mempunyai aroma hampir sama denga aslinya. Minyak atsiri banyak yang dipungut dengan cara ini, akan tetapi banyak yang tidak mau memakainya untuk aroma terapi?? Karena ada sisa solvent pada produk akhir minyak atsiri. Solvent yang tertinggal 6 – 20%. Dengan memakai hexan, solven yang tersisa hanya 10 ppm. Hasil akhir cara ini disebut concrete. Concrete dapat dilarutkan dalam alkohol untuk memisahkan solvennya. Bila alkohol diuapkan akan dihasilkan absolute. Absolute atau concrete dapat dipakai untuk perfume tapi tidak untuk skin care. Contoh tanaman yang diproses dengan cara ini adalah jasmine, hyacinth, narcissus, tuberose. Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana, yaitu dengan cara memasukkan bunga yang akan diekstraksi ke dalam ketel ekstraktor khusus, dan kemudian ekstraksi berlangsung secara sistematik pada suhu kamar, dengan menggunakan pelarut menguap. Pelarut akan berpentrasi ke dalam bahan (bunga) dan melarutkan minyak bunga beserta beberapa jenis lilin dan albumin serta zat warna. Larutan tersebut selanjutnya dipompa ke dala evaporator dan minyak dipekatkan pada suhu rendah. Setelah semua pelarut diuapkan dalam keadaan vakum, maka diperoleh minyak bunga yang pekat. Dan suhu harus dijaga tetap rendah selama proses ini berlangsung. Dengan demikian uap aktif yang terbentuk tidak akan merusak persenyawaan minyak bunga. Keuntungan dari metode ini adalah minyak bunga yang dihasilkan lebih mendekati bau bunga alamiah bila dibandingkan dengan mutu minyak bunga hasil penyulingan. Sedangkan kerugian ekstraksi dengan pelarut memerlukan alat yang rumit dan mahal dan juga membutuhkan tenaga kerja yang terlatih. Biaya ekstrakksi relatif mahal dan sedikit saja kesalahan dalam proses dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Hilangnya pelarut sela proses berlangsung akan menambah biaya produksi minyak bunga alamiah dan kehilangan pelarut ini tidak dapat dihindarkan. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut baik digunakan untuk bahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi terutama minyak bunga. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 13 | H a l
  14. 14. Tugas 2 : PPMA d. Hypercritical CO2 extraction Cara ini relatif baru dan mahal, tetapi menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang baik. CO2 menjadi hypercritical pada 33oC dan tekanan 200 atm, pada kondisi ini tidak benar-benar gas atau cair. CO2 pada kondisi ini merupakan solven terbaik karena suhunya rendah dan waktunya sangat singkat/ instan. CO2 bersifat inert dan dengan menurunkan tekanan akan segera dapat memisahkan minyak atsiri dari solvennya. Pemilihan pelarut Faktor yang paling menentukan berhasilnya proses ekstraksi adalah mutu dari pelarut yang dipakai. Pelarut yang ideal harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti lilin, pigmen, senyawa albumin dengan perkataan lain pelarut harus bersifat selektif. 2. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu tinggi. Namun titik didih pelarut tadi tidak boleh terlalu rendah karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya sebagian pelarut akibat penguapan pada musim panas. 3. Pelarut tidak boleh larut dalam air. 4. Pelarut harus bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak bunga. 5. Pelarut harus mempunyai titk didih yang seragam dan jika diuapkan tidak akan tertinggal di dalam minyak. Pelarut dengan titik didih tinggi akan tertinggal dalam minyak setelah proses penguapan sehingga mempengaruhi aroma minyak bunga yang dihasilkan. 6. Harga pelarut harus serendah mungkin dan tidak mudah terbakar. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah: Tipe persiapan sampel Waktu ekstraksi Kuantitas pelarut Suhu pelarut Tipe pelarut Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 14 | H a l
  15. 15. Tugas 2 : PPMA C. METODE MEKANIK Sering disebut dengan expression, yaitu dengan cara cold pressing tidak ada panas yang dibutuhkan pada cara ini. Prosesnya adalah penekanan/pemerasan (squeezing) Kacang-kacangan dan biji-bijian bisa diambil minyaknya dengan pengepresan secara mekanik. Gambar 9. Proses pengambilan minyak atsiri dengan metode mekanik Minyak atsiri yang dipungut dengan cara ini adalah citrus oil (bergamot, grapefruit, lemon, lime, mandarin, orange, dan tangerine). Ada 3 cara yang berbeda untuk memungut citrus oil, yaitu: Sponge Ecuelle a piquer (=basin, to prick/prod) Machine abrasion a. Sponge, Dulu dilakukan secara manual (dengan tangan). Daging buah dipisahkan, kulit buah dan biji direndam dalam air panas. Setelah lebih elastis kemudian sponge/busa ditempelkan pada kulit buah lalu diperas/ditekan. Minyak atsiri yang keluar akan terserap oleh sponge. Setelah jenuh, dikumpulkan dengan cara memeras sponge. Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 15 | H a l
  16. 16. Tugas 2 : PPMA b. Equelle a piquer Cara ini lebih hemat tenaga daripada sponge. Metode ini tidak lagi dilakukan dengan cara manual tapi dengan alat yang yang diputar dan dilengkapi paku-paku pada pinggirnya untuk menusuk oil cells pada kulit buah. Minyak atsiri dan pigmen dapat dikeluarkan dari kulit buah, kemudian minyak atsirinya dapat dipisahkan. Gambar 10. Peralatan pengambilan minyak atsiri dengan metode mekanik c. Machine abrasion Hampir sama dengan cara (b). Mesin dapat melepaskan kulit buah dan memasukkannya ke dalam centrifuge dengan menambahkan air. Pemisahan secara sentrifugal ini berjalan sangat cepat, tetapi karena minyak atsiri bercampur dengan zat-zat lain, kemungkinan dapat terjadi perubahan karena pengaruh enzim. Gambar 11. Pengambilan minyak atsiri dengan metode mekanik Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B 16 | H a l

×