Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
12,241
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
269
Comments
3
Likes
4

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MATA KULIAH METODOLOGI ILMU POLITIK DOSEN : Drs. MUCTARIA M. NOCH, M.Si TUGAS TERSTRUKTUR “ RESUME” OLEH : RENI MURENI
  • 2. PRESENTASI MATERI
    • Penelitian ilmiah dan politik sebagai ilmu
    • APA ITU PENELITIAAN ??
    • Penelitian adalah setiap usaha yang sifatnya objektif, dilakukan secara sistematis untuk mengkaji sesuatu masalah berkenaan dengan hakikat hubungan antarvariabel dengan cara mengumpulkan dan menganalisis keterangan-keterangan (informasi) sesuai dengan dan dalam batas-batas ruang lingkup masalah yang dikaji.
  • 3. Apa yang membedakan studi yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah?
    • Suatu studi disebut sebagai ilmiah jika sistematis, tepat, dan informasi yang dikumpulkan bersifat subjektif yang penuh dengan muatan-muatan perasaan dan emosi dan ini tergolong penelitian yang bersifat stereotipikal, etnosentris, chauvinistik.
    • Metode ilmiah adalah suatu kerangka landasan untuk menciptakan pengetahuan ilmiah, dimana teori menjadi landasan untuk menciptakan pengetahuan ilmiah, di mana teori menjadi bagian utama dari metode ilmiah, sedangkan penelitian ilmiah memberikan jawaban yang berpijak pada prinsip empiris .
  • 4. Prinsip-prinsip dalam metode ilmiah
    • Ilmuwan harus mendekati segala sesuatu dengan keraguan penuh dan skeptik;
    • ilmuwan harus objektif, bisa membebaskan diri dari sikap-sikap pribadinya, keinginan-keinginannya, dan kecenderungan untuk menolak atau menyukai data yang diperolehnya;
    • ilmuwan harus netral dan terbebas untuk tidak membuat penilaian-penilaian apa pun dari hasil temuannya, kecuali memberikan penilaian pada data yang diperolehnya sebagai data yang benar atau salah;
    • Simpulan tidak boleh dianggap sebagai data akhir atau sebagai kebenaran mutlak/universal.
  • 5. Prinsip Metode Ilmiah menurut para ahli
    • Charles Hyneman (1956) bahwa ilmu politik menggunakan metode ilmiah jika ia membuat usaha secara sadar, hati-hati, dan sistematis untuk menemukan sesuatu yang benar-benar ada dan kontinu. Ilmu adalah seperangkat prinsip-prinsip khusus yang menjelaskan bagaimana memperoleh fakta-fakta itu.
  • 6. B. Konsep-Konsep Dan Hubungan Antara Konsep Dalam Ilmu Politik
    • Dalam kata ilmu politik mensyaratkan adanya metodologi, karena itu dalam ilmu politik menunjuk pada metode-metode yang dipergunakan dalam ilmu politik. Metodologi mempunyai peranann penting dalam bidang ilmu politik dikarenakan metodologi menunjuk pada sejauh mana apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh ilmu politik, dan kata politik sendiri mengandung makna yang luas.
  • 7.
    • Konsep-konsep dalam ilmu politik digunakan untuk menggambarkan fenomena politik. Konsep sangat penting bagi pengembangan ilmu politik serta untuk membuat penggolongan, pembandingan, dan pengukuran terhadap masalah yang diamati, diteliti. Hubungan antara konsep dalam ilmu politik menjadi metode untuk dapat memahami realitas politik yang ada.
  • 8.
    • Ada konsep-konsep yang berfungsi sebagai klasifikasi, komparasi, dan kuantifikasi. Beberapa konsep memberi landasan bagi klasifikasi dengan menempatkan tindakan-tindakan politik, sistem-sistem, dan lembaga-lembaga ke dalam kategori-kategori. Ini merupakan cara yang dipakai ilmuwan untuk memulai analisisnya. Misalkan bagaimana kita bisa menggolong-golongkan suatu bangsa sebagai komunitas dan demokrasi, maka ilmuwan politik merumuskan dulu apa itu konsep demokrasi dan komunis, setelah itu penggolongan bisa dilakukan. Ini merupakan salah satu contoh klasifikasi dikotomi sebagai suatu konsep yang paling sederhana.
  • 9. Untuk mengkaji hubungan antarkonsep, maka perumusan masalah penelitian harus benar-benar jelas. Perumusan masalah dapat dilakukan dengan membuat proposisi (teori, hipotesis yang belum dikaji kebenarannya), asumsi-asumsi, etika, norma yang menjadi aturan-aturan standar yang dipergunakan untuk menafsirkan dan menyimpulkan data penelitian, di dalamnya termasuk kriteria untuk menilai kuantitas hasil penelitian (Baley, 1987).
  • 10. Ilmu-ilmu sosial merupakan ilmu berparadigma banyak (multi paradigma science). Paradigma dalam ilmu-ilmu sosial bisa dikelompokan menjadi tiga paradigma, yang merupakan penyederhanaan dari konstelasi paradigma yang ada, yaitu :
    • Paradigma klasik (yang mencakup positivism dan postpositivisme)
    • Paradigma kritis/teori-teori kritis (critical paradigm)
    • Paragima konstruktivisme (constructivism paradigm)
  • 11. Hidayat (2000) menunjukan perbedaan paradigma yang dapat dibahas dari empat dimensi, yaitu :
    • Epistemologis , menyangkut asumsi tentang hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses memperoleh pengetahuan mengenai objek yang diteliti. Semuanya menyangkut teori pengetahuan yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi.
    • Ontologis, berkaitan dengan asumsi tentang objek atau realitas yang diteliti.
    • Metodologis, berisi asumsi-asumsi mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan mengenai suatu objek pengetahuan.
    • Aksiologi, berhubungan dengan posisi value judgement, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian.
  • 12. C. Konsep ilmiah dalam Ilmu Politik
    • Konsep-konsep dalam penelitian perlu dibatasi dan diberikan arti sehingga dengan cara ini konsep-konsep tersebut dapat diteliti. Misal, konsep keadilan, kekuasaan, dan yang lainnya, arti konsep itu tidak diberikan, tetapi sifat esensialnya ditemukan. Seorang ilmuwan politik mungkin saja mempunyai definisi sendiri tentang kekuasaan, keadilan, dan kita tidak bisa menolaknya atas dasar bahwa definisi itu bukan tentang kekuasaan menurut keadaan yang sebenarnya, karena kekuasaan tidak mempunyai arti yang nyata. Sekumpulan sifat yang telah dikemukakan bisa diceritakan secara jelas dan diharapkan berhubungan dengan konsep-konsep lain, tetapi ilmu politik tidak akan pernah menemukan esensinya yang benar. Bagaimanapun, kita dapat menegaskan bahwa definisi yang dibuat ilmuwan lain berdasar alasan-alasan tertentu. Artinya, semua konsep tidak mempunyai nilai alamiah sama, sekalipun tidak ada sebuah konsep yang lebih nyata dari konsep-konsep lainnya.
  • 13. D. Metode Penelitian Kualitataif dalam Ilmu Politik
    • Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif bisa dipakai secara bersamaan, tetapi tetap tidak bisa disetarakan. Penelitian kuantitatif merupakan suatu jenjang – dari penelitian yang sekedar menggunakan data kuantitatif sampai penelitian yang mempergunakan kriteria data kuantitatif, tetapi mempergunakan tolok ukur kualitatif. Sebaliknya, sering pula dijumpai penelitian kualitatif yang mempergunakan data kuantitatif.
  • 14. Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dalam Ilmu Politik No Jenis Penelitian Jenis/sifatnya Langkah Penelitian Alat penelitian 1 Kualitatif menelaah bagaimana mendekati persoalan secara fenomenologi, aritnya bagaimana cara mengumpulkan data dalam bentuk kata-kata (lisan, dan tulis), ucapan, isyarat, pengalaman dan perilaku yang dapat dipahami. Wawancara mendalam Daftar pertanyaan berstruktur / tidak berstruktur dan terfokus pada upaya mencari kebenaran umum terhadap fenomena yang diteliti, check list 2 Kuantitatif analisis perindividual, menanyakan hal-hal yang bersifat objektif, yang bisa diukur, dan tidak menanyakan tentang opini atau sikap Survei Kuesioner, angket.
  • 15. Karakteristik penelitian kualitatif adalah :
    • Menggunakan analisis induktif
    • Menelaah proses-proses yang terjadi.
    • Berusaha menelaah makna dibalik tingkah laku manusia
    • Peneliti aktif di lapangan (banyak melibatkan diri dalam aktivitas di lapangan)
    • Orang yang diteliti dianggap sebagai partisipan, kolega dan bukan dianggap sebagai subjek ataupun objek penelitian.
    • Temuan belum dianggap final sejauh belum ada bukti kuat atau ada bukti penyanggah.
  • 16. E. Penutup
    • Dalam menentukan judul penelitian politik, unsur politik dan pendekatan yang digunakan oleh peneliti harus sudah kelihatan jelas. Ini menjadi sangat penting, karena dalam judul penelitian setiap masalah bisa didekati secara interdisipliner.
    • Dalam menentukan satuan analisis (individu, kelompok, organisasi, dan sebagainya) tergantung pada konsep yang dipergunakan serta bagaimana konsep tersebut secara operasional didefinisikan. Konsep partisipasi politik, bisa menunjuk pada kelompok atau organisasi dan individu.
    • Peneliti harus tahu data dengan instrumen yang dipelajarinya, tidak seperti dokter atau mantri yang bisa mendiagnosis penyakit dengan menggunakan stateskop, termometer.
    • Dalam menetapkan tujuan penelitian, yang perlu dipertimbangkan ialah tujuan penelitian harus mantap, tidak dirumuskan dengan ragu.
  • 17.
    • Implikasi teori merupakan kumulatif ilmiah untuk menjaring teori-teori yang memang masih relevan untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti.
    • Peneliti tidak hanya berhenti pada pemaparan (deskripsi) atau narasi, tetapi juga menjelaskan secara teoritis. Teori mana yang kuat dalam menjelaskan fenomena tertentu dan data yang diperoleh dari lapangan sebenarnya mengomentari teori dan bisa bolak balik.
    • Teori semakin bermanfaat jika diturunkan dalam hipotesis, dan semakin kuat jika terus dikupas, diteliti kembali, dan teori bisa dibilang kuat hingga menjadi hukum sosial, seperti teori hukum beli oligarki dari Robert Michels. Bagaimanapun, penjelasan teoritis yang penting untuk membedakan dengan penelitian yang tidak ilmiah (tidak mengaitkannya dengan teori).
  • 18.
    • Hipotesis, tesis, teori, asumsi, aksioma adalah proposisi-proposisi bentuk lanjut yang dikontruksi dari banyak konsep. Konsep bisa dibedakan menjadi dua pengertiannya, pertama konsep eksistensial dan konsep idealis. Konsep eksistensial memaparkan empiris atau fenomena dan dibangun dari generalisasi empiris, seperti otonomi daerah yang seluas-luasnya, civil society yang kuat. Konsep idealisasi diwarnai oleh pandangan moral manusia.
    • Menentukan metode atau desain penelitian yang akan dipergunakan untuk menjaring satuan analisis, peneliti dihadapkan pada sejumlah pilihan, apakah itu eksperimen, studi kepustakaan, survei studi kasus, metariset, dan sebagainya.
    • Dalam menentukan metode pengumpulan data untuk menjaring data dari satuan-satuan pengamatan, peneliti bisa memilih wawancara mendapat tidak berstruktur, wawancara berstruktur, observasi terlibat, focus group diskusion, dan sebagainya. Selain itu, dalam menentukan metode penelitian juga tergantung pada permasalahan yang diteliti, jenis data yang akan dikumpulkan, serta satuan-satuan analisis yang dipergunakan dan sumber daya dan keahlian yang dimiliki peneliti dalam menerapkan metode penelitian itu.
  • 19. Selesai
  • 20. LAmpiran
  • 21. Empiris adalah proposisi yang menunjuk kepada dan didasarkan pada dunia pengalaman dan pengamatan. Ilmuwan politik jika tertarik pada suatu aspek dilingkungan sekitarnya maka ia harus yakin bahwa penjelasan-penjelasan tentang politik itu empiris yang didukung oleh fakta.
  • 22. Karena itu jika suatu pernyataan mengenai gejala alamiah diterima sebagai kebenaran maka gejala-gejala tersebut harus dapat diverifikasi secara empiris, dan setiap hukum ilmiah harus dibuat berdasar bukti empiris. Jadi, fakta empiris sangat penting dalam metode ilmiah, tetapi kumpulan fakta-fakta empiris itu tidak bisa menciptakan ilmu. Fakta-fakta nyata bisa menjadi ilmu kalau ditata, diklasifikasi berdasar metode yang berlaku, dianalisis, digeneralisasi, dan dikaitkan antara satu dengan yang lain.
  • 23.
    • Paradigma klasik (yang mencakup positivism dan postpositivisme)
    • Dalam paradigma ini ilmu sosial ditempatkan sebagai ilmu-ilmu alam dan fisika. Sebagai metode terorganisasi yang menyatukan logika deduktif dengan melakukan pengamatan empiris, dan secara probabilistik untuk menemukan atau mencari konfirmasi – hukum kausal yang bisa digunakan memprediksi pola-pola umum dari gejala sosial tertentu.
    • Paradigma kritis/teori-teori kritis (critical paradigm)
    • Menurut paradigma kritis, ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap struktur nyata di balik ilusi, false needs yang ditampakkan oleh dunia meteri dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial untuk memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia.
    • Paragima konstruktivisme (constructivism paradigm)
    • Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningfull action melalui pengamatan langsung terhadap pelaku sosial dalam setting yang alamiah untuk memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial itu menciptakan dan memelihara dunia sosial mereka.
  • 24.  
  • 25.