Laporan praktek belajar lapangan farmasi UNSOED
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Laporan praktek belajar lapangan farmasi UNSOED

on

  • 847 views

 

Statistics

Views

Total Views
847
Slideshare-icon Views on SlideShare
847
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
17
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Laporan praktek belajar lapangan farmasi UNSOED Laporan praktek belajar lapangan farmasi UNSOED Document Transcript

    • BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus di wujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, sebagai mana di maksudkan dalam pembangunan UUD 1945 melalui pembangunan Nasional yang berkesinambungan. Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari pembangunan Nasional bertujuan untuk mempertinggi derajat kesehatan termasuk keadaan gizi masyarakat dan penyediaan obat-obatan di Apotek dalam rangka peningkatan kualitas dan taraf hidup serta kecerdasan dan kesejahteraan pada umumnya. Pendidikan tenaga kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional bidang kesehatan yang diarahkan untuk mendukung upaya pencapaian derajat kesehatan secara optimal. Dalam hal ini, pendidikan tenaga kesehatan diselenggarakan untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang bermutu, mampu mengemban tugas untuk mewujudkan perubahan, pertumbuhan dan pembaharuan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Mahasiswa Farmasi Unsoed diharapkan dapat terampil, terlatih dan dapat mengembangkan diri baik sebagai pribadi maupun sebagai tenaga kerja profesional berdasarkan nilai-nilai yang dapat menunjang upaya pembangunan kesehatan. Untuk itu, penyelenggaraan pendidikan terutama proses belajar mengajar perlu ditingkatkan secara terus menerus baik kualitas maupun kuantitas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengalaman kepada mahasiswa melalui latihan belajar dan kerja langsung ke lapangan yang disebut Praktek Belajar Lapangan (PBL). Praktek Belajar Lapangan (PBL) sebagai salah satu mata kuliah untuk memberikan bekal mahasiswa dalam pelayanan klinik dan komunitas. Model pembelajaran ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan bekal ketrampilan kepada mahasiswa farmasi untuk lebih awal mengenal permasalahan-permasalahan yang ada dalam praktek farmasi klinik dan komunitas. Melalui PBL mahasiswa diharapkan mengetahui berbagai kegiatan terpadu di apotek meliputi bidang manajemen, bidang administrasi, dan bidang pelayanan. Bidang manajemen meliputi cara penerimaan obat, cara pencatatan obat dibuku obat, cara penataan obat, dan cara penyimpanan obat. Bidang administrasi meliputi kelengkapan resep, cara penyimpanan resep, cara pembuatan copy resep dan etiket. Bidang pelayanan meliputi cara penyiapan dan peracikan obat, Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) apoteker kepada konsumen, melakukan problem solving untuk kasus DRP pada resep. 1
    • Farmasis adalah tenaga ahli yang mempunyai kewenangan dibidang kefarmasian melalui keahlian yang diperolehnya selama pendidikan tinggi kefarmasian. kewenangan yang berlandaskan ilmu Sifat pengetahuan ini memberinya semacam otoritas dalam berbagai aspek obat atau proses kefarmasian yang tidak dimiliki oleh tenaga kesehatan lainnya. Farmasi sebagai tenaga kesehatan yang dikelompokkan profesi, telah diakui secara universal. Lingkup pekerjaannya meliputi semua aspek tentang obat, mulai penyediaan bahan baku obat dalam arti luas, membuat sediaan jadinya sampai dengan pelayanan kepada pemakai obat atau pasien (ISFI, 2004). B. TUJUAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN 1. Meningkatkan pengetahuan dan skills mahasiwa sebagai calon tenaga teknis kefarmasian khususnya dibidang farmasi klinik dan komunitas 2. Meningkatkan kemampuan problem solving mahasiswa dalam masalah-masalah praktek farmasi klinik dan komunitas. 3. Meningkatkan interaksi mahasiswa dengan praktisi farmasi klinik dan komunitas C. MANFAAT PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN 1. Dapat memahami pekerjaan kefarmasian khususnya dalam bidang manajemen, administrasi, dan pelayanan kepada pasien. 2. Menambah pengetahuan tentang pelayanan perbekalan farmasi kepada masyarakat secara langsung. 3. Menambah wawasan tentang resep yang ditulis oleh dokter secara langsung 4. Dapat membandingkan antara teori yang yang didapat di Kampus dengan Praktek Lapangan yang sebenarnya di Apotek. 2
    • BAB II TINJAUAN UMUM A. PENGERTIAN Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 13 tentang pekerjaan kefarmasian, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Apotek merupakan salah satu tempat penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat (pasien). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1332/ MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 992 / MENKES/PER/X/1993 yang dimaksud dengan Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran Sediaan farmasi, Perbekalan Kesehatan lainnya kepada masyarakat. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Izin apotek diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pengelolaan apotek menurut Permenkes nomor 1332/Menkes/SK/X/2002 yakni: 1. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat. 2. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya 3. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi Apoteker merupakan tenaga kesehatan yang profesional yang banyak berhubungan langsung dengan masyarakat sebagai sumber informasi obat. Oleh karena itu, informasi obat yang diberikan pada pasien haruslah informasi yang lengkap yang mengarah pada orientasi pasien terdidik bukan pada orientasi produk. Dalam hal sumber informasi obat, seorang apoteker harus mampu memberi informasi yang tepat dan benar sehingga pasien memahami dan yakin bahwa obat yang digunakannya dapat mengobati penyakit yang dideritanya dan merasa aman menggunakannya. Dengan demikian peran seorang apoteker di apotek sungguhsungguh dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. 3
    • B. MANAJEMEN APOTEK Manajemen dapat diartikan sebagai salah satu usaha atau kegiatan yang dilaksanakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan bantuan orang lain. Fungsi-fungsi manajemen dalam mengelola apotek yaitu : 1. Perencanaan (planning), menyusun program kerja untuk mencapai sasaran. 2. Pengorganisasian (organizing), membagi-bagi pekerjaan yang ada diapotek sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab pada setiap fungsi. 3. Kepemimpinan (actuating), melaksanakan program kerja sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggung jawab pekerjaannya serta sasaran yang akan dicapainya selama satu periode tertentu. 4. Pengawasan (controlling), melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan sistem operasional dan sasaran yang dicapai melalui indikator tingkat keberhasilan pada setiap fungsi (pembelian, gudang, pelayanan, keuangan dan pembukuan) (Anief, 1995) Apotek mempunyai 5 (lima) kegiatan penting yaitu : 1. pembelian (purchasing), untuk memperoleh harga beli yang efisien dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. 2. gudang (ware house), untuk mencegah resiko kerugian sekecil mungkin dari kehilangan kerusakan dan barang yang tidak laku. 3. pelayanan (servicing), untuk dapat memeberikan kepuasan kepada konsumen dan memeperoleh keuntungan yang optimal. 4. keuangan (financing), untuk mencegah resiko kerugian sekecil mungkin dari kehilangan kerusakan dan adanya uang palsu serta menjaga aliran kas (cash flow). 5. pembukuan (accounting), untuk dapat menyajikan laporan khususnya keuangan yang tepat isi dan tepat waktu (Anief,1995) C. PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI 1. Pembelian Pembelian perbekalan farmasi didasarkan atas kebutuhan penjualan melalui resep dan penjualan bebas. Pembelian harus direncanakan dengan baik untuk mencegah terjadinya kekosongan ataupun penumpukan barang sehingga perputaran barang tidak mengalami hambatan. 4
    • Dalam proses pembelian, banyak pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan untuk menentukan keputusan yang terbaik. Salah satu pertimbangan tersebut tentunya adalah dari visi farmasis yakni pengadaan yang mengarah pada terjaminnya ketersediaan obat yang tepat baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Misalnya perlu diperhatikan keabsahan sumber, jaminan kualitas, pelayanan purna jual, jangka waktu pelayanan dan sebagainya. 2. Penyimpanan dan Penataan Obat Kegiatan penyimpanan difokuskan pada tujuan agar tetap terjaminnya kualitas obat sekaligus mendukung jalannya proses pelayanan sesuai yang ditetapkan. Hal ini memerlukan wawasan pendukung yang memadai serta tenaga yang cukup terlatih. Prosedur dan administrasi penyimpanan barang persediaan diatur dengan memperhatikan sistem First In First Out (FIFO), First Expired First Out (FEFO), bentuk dan jenis obat. 3. Pelayanan di apotek Menurut Umar (2004) dalam mengelola perbekalan farmasi (khususnya obat) di apotek terdapat 2 jenis pelayanan yaitu : 1. Pelayanan disaat penjualan (sales service) Yaitu: palayanan yang diberikan oleh apotek kepada konsumen pada saat konsumen sedang membeli obat di apotek. Jenis pelayanan ini antara lain : Keramahan, petugas apotek saat menyambut kedatangan konsumen. Keamanan dan kenyaman, petugas apotek selalu menjaga keamanan dan kenyamanan fasilitas konsumen yang berupa ruang tunggu, toilet, musholla, halaman parkir yang aman, sehingga dapat memberikan perasaan tenang dan nyaman bagi konsumen. Kelengkapan obat, yaitu : petugas apotek harus menjaga kelengkapan barang (stock), sehingga dapat meringankan biaya dan tenaga konsumen, karena tidak harus berpindah ke apotek lain. Kecepatan pelayanan, yaitu : petugas apotek harus selalu bekerja teliti dan cepat agar waktu tunggu memperoleh obat tidak lama. Harga yang sesuai dengan kualitas barang dan pelayanan. 5
    • Informasi, yaitu : petugas apotek baik diminta ataupun tidak, harus selalu proaktif memberi informasi tentang obat dan waktu penggunaan obat, jumlah pemakaian dalan sehari, cara penyimpanan, efek samping, sehingga membuat konsumen merasa aman dengan obat yang dibeli. 2. Pelayanan sesudah penjualan (After sales service) yaitu pelayanan yang diberikan oleh apotek kepada konsumen setelah membeli dan menggunakan obat. Jenis pelayanan ini berupa : Pelayanan informasi data penggunaan obat konsumen yaitu : mengenai nama, alamat, umur, status, waktu membeli obat, jenis obat yang dibeli dan alamat dokter penulis resep. Peduli terhadap penggunaan obat oleh konsumen yaitu setelah 3-4 hari, petugas menanyakan efek obat terhadap penyakitnya. Jaminan, yaitu : petugas apotek siap menukarkan obat yang rusak, kurang atau tidak sesuai dengan permintaan resep dan mengantar kerumah konsumen tanpa ada biaya tambahan. 4. Administrasi di Apotek Administrasi yang dilakukan di apotek meliputi: 1. Administrasi pembukuan yaitu pencatatan seluruh informasi mengenai arus uang dan barang meliputi buku kas, bank, pembelian, penjualan, biaya dan lain-lain. 2. Administrasi pelaporan yaitu pencatatan seluruh kegiatan yang mencakup obat-obat narkotika dan psikotropika (umar,2004). D. SWAMEDIKASI Definisi swamedikasi atau pengobatan sendiri berdasar permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993 adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala penyakit tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Lebih dari 60% dari masyarakat melakukan swamedikasi dan 80% di antaranya mengandalkan obat modern. Meningkatnya tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat, serta mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh pasien adalah menjadi penyebab meningkatnya praktek swamedikasi. Akibatnya, penggunaan obat bebas maupun obat bebas terbatas oleh masyarakat juga semakin meningkat. peran profesi apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (sebagai tim farmasi) sangatlah penting, yakni tidak sekedar menjual obat (obat sebagai komoditas), namun harus mampu berperan “klinis” dengan memberikan asuhan kefarmasian 6
    • (pharmaceutical care). Farmasis harus memberikan informasi lebih kepada pasien daripada hanya menyampaikan produk obat. Filosofi utama dari pelayanan swamedikasi adalah mengamankan pasien dari bahaya penyakit dan obat. Oleh karena itu pemahaman tim farmasi tentang obat dan penyakit merupakan hal yang harus dikuasai dan tidak bisa ditawar. Tim farmasi harus selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan klinis dalam menanggapi gejala penyakit, termasuk ketrampilan berkomunikasi, agar dapat berperan aktif dalam pelayanan swamedikasi (endang, 2011) E. DRUG RELATED PROBLEM (DRP) Drug Related Problem (DRP) dapat didefinisikan sebagai kejadian tidak di inginkan yang menimpa pasien yang berhubungan dengan terapi obat dan secara nyata maupun potensial berpengaruh terhadap perkembangan pasien yang diinginkan. Suatu kejadian dapat disebut DRP bila memenuhi dua komponen berikut : 1. Kejadian tidak diinginkan yang dialami pasien Kejadian ini dapat berupa keluhan medis, gejala, diagnosis penyakit, ketidakmampuan (disability) atau sindrom; dapat merupakan efek dari kondisi psikologis, fisiologis, sosiokultural atau ekonomi. 2. hubungan antara kejadian tersebut dengan terapi obat Bentuk hubungan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat maupun kejadian yang memerlukan terapi obat sebagai solusi maupun preventif. Menurut Koda-Kimble (2005), DRPs diklasifikasikan, sebagai berikut : 1. Kebutuhan akan obat (drug needed) Obat diindikasikan tetapi tidak diresepkan Problem medis sudah jelas tetapi tidak diterapi Obat yang diresepkan benar, tetapi tidak digunakan (non compliance) 2. Ketidaktepatan obat (wrong/inappropriate drug) Tidak ada problem medis yang jelas untuk penggunaan suatu obat Obat tidak sesuai dengan problem medis yang ada Problem medis dapat sembuh sendiri tanpa diberi obat Duplikasi terapi Obat mahal, tetapi ada alternatif yang lebih murah Obat tidak ada diformularium 7
    • Pemberian tidak memperhitungkan kondisi pasien 3. Ketidaktepatan dosis (wrong / inappropriate dose) Dosis terlalu tinggi Penggunaan yang berlebihan oleh pasien (over compliance) Dosis terlalu rendah Penggunaan yang kurang oleh pasien (under compliance) Ketidaktepatan interval dosis 4. Efek buruk obat (adverse drug reaction) Efek samping Alergi Obat memicu kerusakan tubuh Obat memicu perubahan nilai pemeriksaan laboratorium 5. Interaksi obat (drug interaction) Interaksi antara obat dengan obat/herbal Interaksi obat dengan makanan Interaksi obat dengan pengujian laboratorium Sebagai pengemban tugas pelayanan kefarmasian, seorang farmasis memiliki tanggung jawab terhadap adanya DRP yaitu dalam hal: 1. Mengidentifikasi masalah 2. Menyelesaikan masalah 3. Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya DRP Kegiatan farmasis memiliki karakteristik, antara lain : berorientsi kepada pasien; terlibat langsung dalam perawatan pasien; bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberikan informasi jika diperlukan; bersifat aktif, dengan memberikan masukan kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan pengobatan pasien; bertanggung jawab terhadap setiap saran yang diberikan, menjadi mitra sejajar dengan profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat dan tenga kesehatan lainnya). 8
    • BAB III KEGIATAN DAN HASIL A. BIDANG MANAJEMEN APOTEK 1. Perencanaan Perencanaan perbekalan farmasi merupakan kegiatan dalam merencanakan pengadaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan Apotek dan pada periode selanjutnya. Perencanaan ini dilakukan berdasarkan kombinasi antara : a) Pola Konsumsi Yaitu perencanaan perbekalan farmasi yang sesuai hasil analisis data konsumsi obat pada periode sebelumnya yang dapat dilihat dari resep-resep yang masuk setiap hari. jika obat atau barang yang habis atau laku keras maka dilakukan perencanaan pemesanan obat tersebut. b) Pola Penyakit Yaitu perencanaan perbekalan farmasi yang sesuai data jumlah pengunjung dan jenis penyakit yang banyak di keluhkan atau di konsultasikan dengan APA atau TTK di Apotek, hal ini juga dapat di lihat dari data-data yang sesuai, contohnya data UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri) atau data HV (Obat Bebas). 2. Pengadaan Setelah dilakukan perencanaan maka kegiatan selanjutnya adalah pengadaan. Tujuan pengadaan perbekalan farmasi adalah untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi di Apotek sesuai dengan data perencanaan yang telah di susun sebelumnya. Pengadaan dilakukan dengan mencari dan menemukan penyalur masing-masing perbekalan farmasi yang dalam hal ini penyalurnya adalah Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan di lengkapi dengan nama, alamat, nomor telepon, daftar harga masing-masing penyalur dan penentuan waktu pembeliannya. Pengadaan yang dilakukan di apotek Farrel dengan cara mengirimkan Surat Pesanan (SP) ke PBF yang dituju melalui perantara sales. 9
    • 3. Penerimaan Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima perbekalan farmasi yang diserahkan dari unit-unit pengelola yang lebih tinggi (PBF) kepada unit pengelola dibawahnya (Apotek). Perbekalan farmasi yang telah dikirim ke Apotek Farrel Farma disertai faktur dan di terima oleh apoteker atau petugas. Petugas atau apoteker melakukan pengecekkan terhadap barang yang datang disesuaikan dengan surat pesanan (SP) dan diperiksa nama sediaan, jumlah, ED, nomor batch, dan kondisi sediaan. Setelah pengecekkan selesai faktur di tanda tangani dan diberi stampel Apotek oleh petugas penerima atau apoteker. Setiap penerimaan perbekalan farmasi dicatat pada masingmasing kartu stok dan buku penerimaan barang berdasarkan faktur yang telah dicocokkan pada saat penerimaan barang. Jika barang yang datang tidak sesuai dengan surat pesanan (SP) atau ada kerusakan fisik maka dilakukan retur barang tersebut ke PBF yang bersangkutan untuk di tukar dengan barang yang sesuai. Pembayaran dilakukan saat jatuh tempo atau secara cash. Pembayaran barang saat jatuh tempo (inkaso) merupakan pembayaran yang dilakukan saat tanggal jatuh tempo dibulan berikutnya. Tahapan inkaso di Apotek Farrel Farma adalah : a. Penagih (sales) datang dan memberikan faktur asli kepada apoteker b. Copy faktur dicari dan disesuaikan (tanggal faktur, nomer faktur, dan jumlah barang) dengan yang asli c. Jika sudah sesuai maka dilakukan proses pembayaran d. Faktur yang sudah dibayar diberi tanda lunas dan tanggal pelunasan disertai tanda tangan dari penagih e. Faktur asli diberikan untuk Apotek Gambar 1 : faktur penerimaan barang 10
    • 4. Penyimpanan Hal-hal yang diperhatikan dalam penyimpanan obat di Apotek Farrel Farma, yaitu: Penyimpanan obat tidak boleh langsung menyentuh lantai, karena dilantai kelembapannya tinggi sehingga akan mempengaruhi kestabilan obat-obatan tersebut. Obat-obat disimpan terpisah berdasar bentuk sediaannya Bahan yang mudah terbakar disimpan terpisah dari bahan yang lain narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus yang memiliki dua pintu dan kunci ganda serta berat sehingga lemari susah untuk dipindahpindah obat-obatan yang bersifat thermolabil seperti insulin, vaksin atau serum, supositoria disimpan dalam lemari pendingin. Gambar 2: penyimpanan obat digudang Gambar 3 : penyimpanan psikotropika dan narkotika 11
    • 5. Penataan Penataan obat di Apotek Farrel berdasarkan bentuk sediaan, obat-obatan ditata secara alfabetis diurutkan berdasarkan nama obat. Penataan obat mengikuti prinsip FIFO (first in first out) dan FEFO (first expired first out) yaitu barang yang lebih dulu masuk akan dikeluarkan terlebih dahulu juga. Barang dagangan yang terdapat di etalase depan adalah obat-obatan yang dapat dijual bebas tanpa resep dokter, obat tradisional, sediaan kosmetik dan alat- alat kesehatan lainnya. pada ruang peracikkan obat-obatan di tempatkan pada kotak obat dimana tertulis nama dan harga obat. Untuk obat narkotik dan obat psikotropik disimpan dilemari khusus, sedangkan obat-obatan seperti serum, vaksin, insulin, dan suppositoria disimpan dilemari es. bahan baku obat disimpan dalam wadah tertutup rapat, diberi label dan etiket yang jelas. Gambar 4 : penataan obat 6. Pencatatan Barang yang diterima dari PBF kemudian dicatat di buku penerimaan barang. Dalam buku penerimaan barang tercantum tanggal penerimaan, nama PBF (distributor), nomor dan tanggal faktur, ED, nomor batch, nama dan jumlah barang, harga satuan, diskon (%), total harga+PPN. Setelah dicatat dibuku penerimaan barang kemudian jumlah barang yang masuk dan barang yang keluar dicatat di kartu stok. Hal tersebut dilakukan untuk mendokumentasikan dan mengontrol barang yang masuk dan keluar. Apabila stok barang digudang sudah berkurang atau kosong maka harus dicatat dibuku order yang digunakan untuk memesan barang ke PBF. Komponen yang dicatat dibuku order meliputi nama obat yang akan dipesan, jumlah stok diluar dan jumlah stok digudang, distributor yang akan dituju. 12
    • Diapotek Farrel Farma faktur yang diberikan dari PBF jika melakukan pembelian barang dikelompokan tempat penyimpanannya. Pengelompokan berdasarkan faktur yang sudah lunas dan faktur yang belum lunas. Penyimpanan faktur berdasarkan nama distributor/PBF yang tercantum di lembar faktur tersebut. Faktur diurutkan berdasarkan tanggal faktur untuk mempermudah mencari faktur yang harus dilunasi terlebih dahulu. Gambar 5 : buku penerimaan barang Gambar 6 : kartu Stok 13
    • B. BIDANG ADMINISTRASI 1. Kelengkapan Resep Kelengkapan resep adalah nama dan spesialis dokter, alamat tempat praktek, no telp, no SIP, jam praktek, tempat dan tanggal penulisan resep, tanda R/, nama obat beserta jumlah dan cara penggunaannya, nama dan umur pasien, alamat pasien, BB dan tekanan darah pasien (dewasa), serta tanda tangan dokter. Resep dari dokter swasta berbeda dengan resep dari dokter rumah sakit misalnya untuk resep dokter RS ada nama dan alamat instansi RS beserta kelengkapannya. Tetapi biasanya dokter RS tidak mencantumkan no SIP sehingga apoteker harus hati-hati untuk menangani resep dari RS terutama yg mengandung psikotropika/ narkotika. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan biasanya apoteker menelpon dokter yang memberikan resep tersebut untuk mengklarifikasi mengenai resep yang dituliskan terutama jika dokter tersebut meresepkan obat psikotropika atau narkotika. 2. Kelengkapan Copy Resep Copy resep memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli, ada tulisan Copy Resep, nama dokter, nama dan umur pasien, tanggal dan nomor resep, ex copy resep beserta tangal dan nomornya, tanda R/, pcc, nama, logo, nomor telepon dan alamat apotek, nama dan nomor SIPA apotek, tanda tangan atau paraf APA, tanda det atau detur untuk obat yang sudah diserahkan; tanda nedet atau nedetur untuk obat yang belum diserahkan, tempat dan tanggal pembuatan copy resep. Copy resep digunakan untuk resep obat yang pemberiannya diulang (iter). 3. Kelengkapan Surat Pesanan Surat pesanan di Apotek Farrel Farma ada 3 jenis yaitu surat pesanan narkotika, surat pesanan psikotropika, dan surat pesanan obat-obat bebas,otc, obat keras biasa. a) Surat Pesanan Narkotika Surat pesanan terdiri dari 4 rangkap yang ditujukan untuk PBF, Dinkes, BPOM, arsip apotek. Komponen yang ada didalam SP narkotik yaitu rayon, nomor SP, pemesan (APA yang bertanggung jawab di Apotek), Distributor yang dituju, tujuan pemesanan, nama APA, SIPA, tanda tangan APA, dan stempel Apotek. 14
    • Gambar 7: Surat Pesanan Narkotika b) Surat Pesanan Psikotropika Surat pesanan psikotropika terdiri dari 2 rangkap. Dengan komponen nomor surat pesanan, nama dan SIPA Apoteker, alamat Apotek, jabatan Apoteker di apotek, distributor yang dituju, jenis psikotropika yang dipesan, tujuan pemesanan, jumlah obat yang dipesan, stempel apotek. Gambar 8: Surat Pesanan Psikotropika c) Surat Pesanan non-narkotik/psikotropik (obat bebas, otc, obat keras biasa) SP terdiri dari 2 rangkap yang satu ditujukan untuk PBF dan yang satu lagi disimpan untuk arsip apotek. Komponen dari SP tersebut yaitu logo apotek, nama dan alamat apotek, nama dan SIPA apoteker, distributor yang dituju, nomor SP, nama dan jumlah barang yang akan dipesan, Stempel apotek. 15
    • Gambar 9: Surat Pesanan Obat-Obat Bebas 4. Penyimpanan Resep dan Copy Resep Penyimpanan resep dan copy resep di Apotek Farrel Farma Banyumas dikelompokkan berdasarkan tanggal penerimaan resep. Resep yang telah dikerjakan diurutkan berdasarkan tanggal dan nomor urut penerimaan resep untuk mempermudah penelusuran resep. Resep dan copy resep disimpan minimal tiga tahun, setelah tiga tahun resep dan copy resep dapat dimusnahkan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh APA bersama sekurang-kurangnya seorang petugas apotek, dan dibuat berita acara pemusnahan. Resep yang mengandung narkotika atau psikotropika dipisahkan dari resep umum lainnya. Untuk resep yang berisi obat psikotropik dan narkotik, obat psikotropik di resep diberi tanda dengan garis berwarna biru sedangkan untuk obat narkotik diberi tanda dengan garis warna merah. Penyimpanan berdasarkan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. 5. Penyimpanan Surat Pesanan Surat Pesanan (SP) di apotek Farrel Farma disimpan bersama dengan faktur dimana faktur dikelompokkan menurut nama PBF serta diurutkan tanggal fakturnya. Untuk faktur yang sudah lunas maka diberi keterangan tanda lunas, kemudian dimasukkan ke dalam kelompok faktur lunas. 6. Pembuatan Etiket Apotek Farrel Farma menyediakan dua bentuk etiket yaitu etiket kertas dan plastik. Etiket warna putih digunakan untuk obat-obat dalam, sedangkan etiket warna biru digunakan untuk obat-obat luar. Etiket dibuat dengan kelengkapan komponen seperti nama dan alamat apotek, nama dan SIPA apoteker, nomor urutan penggunaan obat biasanya untuk obat anti 16
    • muntah diberikan urutan nomor satu setelah itu baru penggunaan obat yang lain, tanggal pembuatan etiket, nama pasien, aturan dan cara penggunaan obat, bentuk sediaan obat, keterangan lain (misalnya kocok dahulu, keterangan “habiskan” untuk obat antibiotik, keterangan diminum jika panas untuk obat penurun panas). Pada obat luar ( etiket biru ) perlu ditulis pada bagian bawah : “ Obat Luar”. Gambar 10 : Etiket 7. Pelaporan Psikotropika dan Narkotika Apotek Farrel Farma tidak memiliki narkotika sehingga hanya melakukan pelaporan psikotropika. Pelaporan penggunaan psikotropika selama satu bulan dilakukan secara online melalui alamat web http.//sipnap.binfar.depkes.go.id paling lambat tanggal 10 periode bulan berikutnya. Tahap selanjutnya Apoteker melakukan pengisian form yang berisikan keterangan pelaporan pada bulan berapa, nama dan alamat apotek, Apoteker penanggung jawab, nama obat psikotropik yang digunakan, satuannya, saldo awal, pemasukan (distributor, jumlah), penggunaan (untuk siapa, jumlah berapa), saldo terakhir. Pelaporan prekursor dilakukan secara manual yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten, yang berisikan lampiran daftar pemakaian prekursor di apotek. Surat ditanda tangani langsung oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan diberi stempel Apotek. 17
    • Gambar 11 : pelaporan psikotropika dan prekursor C. BIDANG PELAYANAN 1. Penyiapan Obat Penyiapan obat dilakukan setelah resep datang dan telah dilakukan skrining resep. Obat-obatan yang telah diresepkan kemudian disiapkan dan dilengkapi dengan etiket, obatobatan yang berbentuk sirup harus dilengkapi dengan sendok takar atau drop. Sebelum obatobatan diberikan kepada pasien harus di cek kembali kelengkapan jumlah dan kesesuaian dengan resep. Untuk menghindari kesalahan dalam pengobatan. 2. Peracikan Obat Standar prosedur peracikan obat di Apotek Farrel Farma adalah: a) Alat yang akan digunakan disiapkan dan meja yang digunakan untuk meracik harus dibersihkan b) Etiket dan wadah obat disiapkan bersama obat dan instruksi jumlah puyer/kapsul/pot/botol untuk meracik c) Cuci tangan bila perlu gunakan sarung tangan atau masker d) Menyiapkan obat sesuai resep dan cocokan dengan yang tertera pada resep e) Pastikan hasil racikan sesuai dengan instruksi f) Masukan obat yg telah diracik kedalam wadah yang telah disediakan dan diberi etiket 18
    • g) Bersihkan peralatan dan meja meracik setelah selesai digunakan h) Cuci tangan sampai bersih Gambar 12 : meja peracikan obat 3. Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) KIE yang biasanya diberikan kepada pasien oleh Apoteker di Apotek farrel farma meliputi cara penggunaan obat, kapan saja obat tersebut harus diminum, efek samping yang mungkin ditimbulkan, cara penyimpanan obat, terapi non farmakologi seperti banyak beristirahat dan banyak minum air putih. Apoteker biasanya memberikan nomor telpon yang bisa dihubungi pasien apabila ada keluhan atau hal-hal yang kurang dimengerti mengenai pengobatannya. KIE yang diberikan apoteker kepada pasien yang mendapatkan resep zinkid dan ferriz syrup. Ferriz syrup mengandung zat besi (Fe) yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Fe dalam tubuh, sedangkan zinkid sirup mengandung Zn yang berfungsi untuk menggantikan zinc yang hilang akibat diare. Ada interaksi obat jika keduanya diminum secara bersamaan karena Zn akan menghambat absorpsi dari Fe . Sehingga apoteker menyarankan kepada pasien agar meminum Zinkid sirup terlebih dahulu yaitu beberapa jam sebelum meminum Fe. Dan zinkid sirup harus diminum selama 10 hari untuk menggantikan kandungan Zn di dalam tubuh yang hilang karena diare (anonim,2013) 19
    • 4. Swamedikasi Kasus 1 Pasien datang ke Apotek meminta obat pengencer dahak untuk batuk pilek serta badan panas untuk anaknya yang berusia 4 tahun dengan BB 21 Kg. Swamedikasi yang diberikan apoteker yaitu apoteker memberikan siladex 3 x sendok takar untuk pengencer dahaknya. Sedangkan untuk penurun panas diberikan Itramol 120mg/5ml, diberikan dengan dosis 3 x 1 sendok takar karena BB anak tersebut 21 Kg. Apoteker memberikan penjelasan Itramol diminum jika badan panas saja, dan apoteker juga menjelaskan cara penggunaan obat. Memberikan informasi kepada pasien bahwa obat harus diminum sesuai anjuran dan jangan melebihi dosis yang dianjurkan. Kasus 2 Seorang ibu berusia 30 tahun datang ke Apotek mengeluhkan gusi bengkak. Kemudian apoteker menanyakan riwayat penyakit dan alergi antibiotik kepada pasien. Pasien menjawab kalau dia mempunyai riwayat sakit maag dan tidak memiliki alergi obat. Swamedikasi yang diberikan apoteker adalah: Na-diklofenak 50mg diminum 3 x 1 tablet Prednisolon diminum 3 x 1 tablet Amoxcicilin 10 tablet diminum 3 x 1 tablet Dihabiskan Ranitidin 4 tablet diminum 2 x 1 tablet sebelum makan. Diminum jika sakit perut Apoteker memberikan informasi kepada pasien agar antibiotik amoxcicilin diminum sampai habis untuk menghindari resistensi terhadap antibiotik. Sedangkan ranitidin yang diberikan untuk mencegah kambuhnya maag atau gastritis akibat pemberian prednisolon dan Na-diklofenak. 20
    • 5. Problem Solving DRP Gambar 13 : resep DRP 1 Resep tersebut berisikan Lacto-B yang mengandung bakteri lactobacillus dan Biotichol yang mengandung thiampenikol yang merupakan antibakteri. Jika obat tersebut diminum secara bersamaan maka akan mematikan bakteri lactobacillus yang terdapat di lacto-B sehingga pemberian lacto-B tidak akan menimbulkan efek farmakologis. Solusi yang diberikan adalah meminum biothicol terlebih dahulu 1 jam sebelum penggunaan lacto-B. Gambar 14 : resep DRP 2 Resep tersebut berisikan zinkid sirup dan ferriz sirup. Terdapat interaksi antara ferriz yang berisikan Fe dengan zinkid sirup yang berisikan Zn. Apabila keduanya diminum secara bersamaan maka akan terjadi interaksi obat yang bersifat kompetensi yang dikarenakan Fe dan Zn memiliki sifat fisik dan kimia mineral yang mirip. Mekanismenya satu mineral yang dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan menggunakan “alat transport” mineral lain sehingga akan terjadi kekurangan salah satu mineral. Transferin merupakan “alat transport” bagi Fe, transferin juga dapat digunakan oleh Zn sehingga jika Zn dan Fe digunakan secara bersamaan akibatnya tubuh bisa mengalami kekurangan Fe (anemia) (Anonim, 2013). 21
    • BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Manejemen apotek Farrel Farma telah berjalan cukup baik tetapi masih perlu diadakan penyempurnaan dalam hal pencatatan secara komputerisasi, karena kekurangan tenaga kerja yang mengerti mengenai komputerisasi. 2. Penyimpanan dan penataan perbekalan farmasi sudah sesuai dengan bentuk sediaan, jenis obat, dosis, sifat fisik dan kimia yang kemudian disusun secara alfabetis sesuai dengan namanya. 3. Pelayanan konseling Pasien di apotek Farrel Farma yang dilakukan oleh APA sudah cukup baik. 4. Pelayanan obat kepada pasien di apotek Farrel Farma berjalan dengan baik dan lancar. 5. Hubungan antar apotek Farrel Farma dengan pemasok, apotek relasi dan dokter sudah terjalin dengan baik sehingga pengadaan dan pelayanan obat kepada pasien/ pelanggan lebih efektif dan efisien. B. SARAN 1. Saran untuk Apotek Farrel Farma Apotek Farrel Farma diharapkan menjalankan sistem komputerisasi agar mempermudah sistem administrasi di Apotek Diharapkan lebih meningkatkan lagi pelayanan terhadap pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. 2. Saran untuk pihak penyelenggara PBL Untuk kedepannya diharapkan waktu yang diberikan untuk PBL tidak hanya 2 minggu karena masih banyak hal yang harus dipamahami mengenai apotek Perlu adanya pembekalan atau semacam melaksanakan PBL dan untuk membuat laporan PBL 22 bimbingan sebelum
    • DAFTAR PUSTAKA Anief, M., (1995), Manajemen Farmasi. Edisi I, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Anonim,2013, http://smac.promomedika.com/product.php?module=product&id=96 . diakses pada tanggal 19 februari 2013 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004. Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Endang, susilowati, 2011, teknik pelayanan swamedikasi, http://www.putraindonesiamalang.or.id/teknik-pelayanan-swamedikasi.html . diakses pada tanggal 19 februari 2013 ISFI, standar kompetensi farmasi indonesia,2004 Koda-Kimble, A.N., Lee Young, L., Kradjan, W.A., Guglielmo, B.J., ., 2005, Applied Therapeutics : The Clinical Use of Drugs, Eighth Ed., Lippincot William & Wilkins, Philadelphia Rani A., Aziz, (2003), penyakit Kronik dan Degeneratif, Pusat Informasi dan Penerbitan bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran UI. Seto, Soerjono, dkk, (2004), “Manajemen Farmasi”, Cetakan I, Airlangga University Press, Surabaya. Umar, M, (2004), “Manajemen Apotik Praktis”, Cetakan I, Penerbit Ar Rahman. 23
    • LAMPIRAN 24