80+ Variabel Key performance indicators

21,718
-1

Published on

Apabila anda tertarik dengan materi ini, silahkan email ke miradzji@yahoo.com... :)

99 Comments
71 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
21,718
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
99
Likes
71
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

80+ Variabel Key performance indicators

  1. 1. Key Performance Indicators 80+ Rumus dan contoh kasus dari sebagian besar indikator serta pemetaan penggunaannya dalam unit kerja Rahmat Taufiq Sigit, SKom., MMCopyright@ikhwanseadanya 2012 1
  2. 2. KPI (Key Performance Indicators) KPI (Key Performance Indicator) sering disebut sebagai landasan untukmenjaga agar perusahaan sesuai dengan tujuan dan visi misinya. Dalam bahasaIndonesia KPI dikenal dengan target kinerja yang terbagi menjadi beberapa bagianyaitu kinerja perusahaan, kinerja unit kerja maupun kinerja individu. Untuk lebihjelasnya fungsi KPI dapat dilihat pada gambar berikut : Gambaran Perusahaan tanpa KPI yang Jelas dan Tepat Sasaran Gambaran Perusahaan KPI yang Jelas dan Tepat Sasaran Melihat definisi dan jenis dari KPI maka dapat dibayangkan bahwa penyusunansebuah KPI bukanlah hal yang mudah, KPI tidak bisa ditentukan hanya oleh bagiantertentu saja tetapi KPI membutuhkan koordinasi antar unit kerja dalam penentuanvariabelnya sesuai dengan kesiapan/ada tidaknya data yang akan diolah menjadisebuah nilai variabel. Selain itu penentuan variabel KPI juga harus berdasar padavisi misi perusahaan dalam jangka waktu tertentu. variabel KPI yang terbentuk harusmerupakan penjabaran/breakdown dari Visi dan Misi Perusahaan, sehingga 2
  3. 3. pemenuhan KPI sejalan dengan pemenuhan visi misi perusahaan. Gambaranbreakdown sebuah KPI seperti pada pada gambar dibawa ini : Master Improvement Story oleh Prof Dr. Vincent Gaspersz CSSMBBDari setiap PPK (Program Peningkatan Kinerja) diatas ditentukan KPI unit kerjauntuk menilai keberhasilan dari setiap PPK.Ada beberapa unsur yang harus dipenuhi dalam penentuan variabel KPI yangdikenal dengan (SMART):1. SCIENTIFIC Seperti yang dijabarkan sebelumnya bahwa pemenuhan KPI sejalan dengantujuan-tujuan perusahaan, jadi memungkinkan bahwa KPI bersifat unit antara satuperusahaan dengan perusahaan lainnya. KPI yang menggambarkan secara langsung pemenuhan tujuan-tujuanperusahaan disebut KPI organisasi. KPI organisasi kemudian di breakdown menjadiKPI unit kerja dan KPI individu.dalam hal ini unit kerja yang bersangkutan. 3
  4. 4. 2. MEASUREABLE Variabel KPI tidak dapat diukur secara objektif bila tidak memiliki value (Nilai)satuan. misalnya jumlah komplain, jumlah produksi dalam unit, ton persentase dll.selain itu variabel KPI juga harus menunjukkan indikasi tingkat keberhasilan, apakahsangat bagus, bagus, kurang, atau tidak bagus. Mengingat unsur ini sangatlah penting maka, dalam menentukan variabel KPIdiperlukan sistem monitoring dan pendukung untuk mendokumentasikan datarealisasi KPI. Hanya dengan dukungan skema monitoring inilah, pencapaian KPIsetiap bulan atau setiap triwulan bisa dikelola dan dikendalikan dengan optimal3. ACHIEVEABLE Variabel KPI harus bersifat achieveable (dapat dicapai) bagi setiap individudalam perusahaan untuk mengindikasikan efektifitasnya. KPI tidak perlu banyak,realistis dan tidak terlalu rendah juga tidak terlalu tinggi . Karena KPi yang terlalu rendah akan mengakibatkan kurangnya motivasidalam menggapainya, begitu pula KPI yang terlalu tinggi dapat mengakibatkankeputusasaan bagi individu-individu yang dinilai. 4
  5. 5. KPI sebaiknya diterapkan secara bertahap setiap tahunnya untuk menjagamotivasi karyawan sebagai contoh untuk tahun 2008 Penigkatan penjualan 20% danuntuk tahun 2009 sebesar 30%, asalkan masih bersifat achievable maka tidak adasalahnya mempertimbangkan Inilah yang menjadi alas an utama mengapa seluruhlevel dan unit kerja di dalam perusahaan perlu dilibatkan. dalam penyusunannya Tanpa sistem monitoring yang baik, penilaian kinerja pada akhirnya bisaberujung pada apa yang saya sebut permainan nilai KPI.ini rentan terjadi padabagian administrasi. Harus diakui dimensi KPI untuk bagian administrasi biasanya bermuara padadua hal yakni : tingkat akurasi penyusunan laporan dan ketepatan waktu penyusunanlaporan. Tanpa sistem monitoring yang rapi, data pencapaian KPI untuk dua haldiatas bisa diisi dengan sekenanya. Alhasil, yang sering terlihat data pencapaian KPImereka cenderung selalu “bagus” (misal tingkat akurasi selalu 100%, dan ketepatanwaktu selalu dinyatakan on time; padahal kriteria ketepatan waktu sendiri merekamungkin belum punya standarnya yang baku). Jika demikian yang terjadi dimanaskor KPI bagian-bagian support dan administrasi selalu cenderung tinggi.4. RELIABLE KPI harusnya Reliable (dapat diandalkan). Maksud dan unsur ini adalah KPIdapat benar-benar esensial bagi perusahaan dalam mencapai tujuan-tujuannya. KPIyang terbentuk diharapkan menggambarkan progress dari pencapaian tujuanperusahaan, selain itu bagi karyawan, KPI dapat pula memberikan informasi tentangapa saja yang harus dilakukan untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan.5. TIME BOUND Yang tidak kalah penting KPI harus memiliki Time Bound untuk menetapkanperhitungan target waktu pencapaiannya. Satuan waktu yang digunakan bisa perhari/jam.bulan ataupun tanggal. (misalnya deadline pembuatan laporan keuanganharus dikumpulkan per tanggal 1 setiap bulannya). Melihat uraian persyaratan persyaratan KPI diatas, untuk itu dalammembangun sebuah sistem penilaian kinerja khususnya penilaian kinerja berbasisbalance scorecard dibutuhkan sebuah direcroty KPI agar dapat memberikanmemudahkan dalam penentuan varibel KPI yang akan dinilai. 5
  6. 6. perspektif KEUANGAN 6
  7. 7. 1. Net Profit Keuntungan sangat penting untuk semua bisnis terlepas dari apakah mereka berada di swasta atau sektor publik. Secara sederhana: sifat bisnis adalah untuk menghasilkan barang atau jasa dan Perusahaan dapat menjual untuk mendapatkan uang ataupun penghargaan lain serta meminimalisasi biaya produksi barang/jasa Indikator ini merupakan indicator yang paling sederhana karena perolehan data untuk menghitung besarannya sangatlah mudah dan dapat di gunakan kedalam setiap jenis perusahaan. Net Profit = Pendapatan penjualan - Biaya total Contoh : PT. Ikhwanseadnya adalah perusahaan yang melakukan kegiatan usahanya melalui kegiatan jual beli Air Mineral isi ulang, Harga air mineral untuk setiap galonnya adalah Rp. 4.000 dengan biaya produksi total Rp.3000 untuk kategori Air Mineral biasa dan Rp.8.000 untuk Air Mineral Oxi dengan biaya produksi total Rp. 5.500. Berikut ini Data Penjualan dari PT. Ikhwanseadanya selama 1 bulan. Jenis Produk Harga Pokok Penjualan Total Penjualan Air Mineral Biasa 4.000 254 Galon 1.016.000 Air Mineral OXI 5.000 156 Galon 780.000 Total Penjualan 1.796.000 Berikut ini data biaya produksi dari PT. Ikhwanseadanya selama 1 bulan Jenis Produk Biaya Produksi Penjualan Biaya Produksi Air Mineral Biasa 3.000 254 Galon 762.000 Air Mineral OXI 5.500 156 Galon 8.58.000 Total By. Produksi 1.620.000 Net Profit = 1.796.000 – 1.620.000 = 176.000 Dari hasil perhitungan diatas, data diketahui bahwa PT. ikhwanseadanya masih mendapatkan keuntungan dari kegiatan produksinya selama 1 bulan sebesar 176.000, 7
  8. 8. 2. Net Profit margin Net Profit margin adalah Rasio antara (EAT) laba setelah pajak dengan penjualan, yang mengukur laba bersih (EAT) yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Rasio ini juga dibandingkan dengan rata-rata industry merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan Rumus yaitu : Net Profit Margin = Laba Setelah Pajak (EAT) / Penjualan. NPM menunjukkan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan (Hanafi dan Halim, 2005). Rasio ini digunakan untuk menghitung sejauh mana kemampuan bank yang bersangkutan dalam menghasilkan laba bersih (net income) ditinjau dari sudut total penjualannya. Selain itu, rasio NPM juga memiliki hubungan positif dengan laba bersih, di mana semakin meningkat nilai rasio ini, semakin baik peningkatan perolehan laba bersih suatu bank, demikian juga sebaliknya. Perlu diingat bahwa NPM dihitung dengan cara membagi antara jumlah laba bersih dengan total penjualan selama setahun. Total penjualan bagi perusahaan manufaktur berupa produk barang dan bagi perusahaan jasa, total penjualan berasal dari jenis jasa yang ditawarkan. Lain halnya dengan jasa perbankan, di mana total enjualan berasal dari bunga pinjaman atas kredit yang disalurkan ke masyarakat. Dengan demikian, pendapatan utama/total penjualan sektor perbankan yang dihitung dalam NPM dapat dikatakan berasal dari bunga pinjaman atas kredit yang disalurkan selama satu periode/tahun penuh. Contoh : Laba/Rugi Sebelum Pajak = Rp. 100.800.000,00 Pajak Pendapatan = 25% Penjualan = 412.500.000 Maka besarnya Net Income tahun 2003 = Rp. 100.800.000 x (100-25%) = Rp. 75.600.000,00 NPM = (75.000.000/412.500.000) x 100% = 18, 3% 8
  9. 9. 3. Gross Profit Margin Gross Profit Margin adalah rasio antara penjualan dikurang dengan harga pokok penjualan (laba kotor) dengan penjualan. Rasio ini mengukur laba kotor yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Gross Profit Margin yang rendah dari rata-rata industri menunjukkan bahwa harga jual perusahaan relative lebih rendah atau harga pokok penjualan yang relative lebih tinggi atau keduanya. Gross Profit Margin = (Penjualan – Harga Pokok Penjualan) / Penjualan Contoh: Variabel L/R 2005 2006 Penjualan 5.950 5550 Harga Pokok Penjualan 4.050 3.850 Tahun 2005 GPM = (5.950-4.050)/5.950 = 0,319 = 32% Tahun 2006 GPM = (5.550-3.850)/5.550 = 0,306 = 31% Jika rata-rata industri untuk Gross Profit Margin adalah 30% margin laba perusahaan tahun 2005 dan tahun 2006 baik karena berada di atas rata-rata industri.4. Operating Profit Margin Operating Profit Margin adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Operating profit margin merupakan perbandingan antara keuntungan operasi perusahaan dibandingkan dengan penjualan perusahaan. Keuntungan operasi dihitung dari laba kotor perusahaan dikurangi dengan biaya penjualan, biaya umum dan administrasi, serta biaya-biaya lainnya.. Pada umumnya semakin tinggi rasio ini maka semakin baik. Operating Profit Margin = Laba Usaha / Operasi Penjualan Bersih5. EBITDA (Earning Before Income Tax, Depreciation, dnd Amortization) 9
  10. 10. Rasio EBITDA umum digunakan (disamping rasio PER) untuk menilai valuasi dari suatu perusahaan. Formula perhitungan adalah membagi Enterprise Value dengan EBITDA. Investor sering menggunakan rasio EV atau EBITDA karena pendapatan (kerugian) non operasional dan/atau luar biasa beserta pendapatan (beban) bunga tidak diperhitungkan. Sehingga factor pembagi dari rasio ini adalahmurni pendapatan dalam bentuk kas dari operasiperusahaan pada tahun berjalan. EBITDA = Laba Bersih + Bunga + Pajak + Penyusutan + Amortisasi6. Revenue Growth Rate Revenue Growth Rate merupakan indikator seberapa baik sebuah perusahaan mampu meningkatkan pendapatan penjualannya selama periode waktu tertentu. Sementara pendapatan adalah jumlah aktual, tingkat pertumbuhan pendapatan hanya membandingkan angka penjualan saat ini (total pendapatan) dengan periode sebelumnya (biasanya kuartal ke kuartal atau tahun ke tahun). Ini memberikan indikator yang memungkinkan perbandingan lebih mudah antara perusahaan yang berbeda (terutama dalam industri yang sama atau pasar) dan memberikan ukuran sejauh mana perusahaan mampu tumbuh. Revenue Growth Rate = Pendapatan periode ini / pendapatan periode sebelumnya Contoh: Variabel L/R 2009 2010 Pendapatan 200.000.000 290.000.000 Revelue Growth Rate 2010 = 290.000.000/200.000.00 = 1,45 Dari perhitungan diatas data diketahui bahwa pertumbuhan pendapatan perusahaan pada tahun 2010 sebesar 1,45 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Semkin besar nilai pertumbuhan menunjukkan indikator pertumbuhan yang semakin baik.7. Total Shareholder Return (TSR) 10
  11. 11. Total Shareholder Return (TSR) adalah indikator untuk mengukur pendapatan saham yang diperoleh pemegang saham dengan memperhatikan pergerakan harga saham (saham atau perubahan harga net) ditambah dividen yang dibayar selama suatu periode tertentu (biasanya satu tahun). Menggunakan TSR sebagai ukuran kinerja memungkinkan investor untuk membandingkan perusahaan-perusahaan di sektor yang sama. TSR hanya relatif berarti bagi perusahaan lain karena akan berfluktuasi dengan pasar saham. TSR = (Hrg Saham Akhir Periode – Hrg Saham Awal Periode + Deviden)/ Hrg Saham Awal Periode8. Economic Value Added (EVA) Alat ukur kinerja perusahaan yang dikembangkan oleh Stern Stewart & Co. EVA. EVA dihitung dengan rumus: EVA = EBIT(1-T)-(total modal operasi) (estimasi biaya modal setelah pajak)  EVA > 0 (positif) Hal ini menandakan bahwa NOPAT yang dihasilkan melebihi biaya modal. Keadaan ini menunjukkan bahwa perusahaan telah berhasil menciptakan nilai (Value Creation) bagi pemilik modal.  EVA < 0 Hal ini menandakan bahwa NOPAT yang dihasilkan dibawah biaya modal atau kurang dari biaya modal. Keadaan ini menandakan bahwa nilai perusahaan berkurang sebagai akibat dari NOPAT yang dihasilkan lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang dituntut oleh investor.  EVA = 0 Hal ini menandakan bahwa NOPAT yang dihasilkan sama dengan biaya modal. Keadaan ini menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi impas karena seluruh laba digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana. Dalam artian bahwa perusahaan tidak mampu menghasilkan tingkat kembalian operasi yang melebihi biaya modal, dengan kata lain meskipun perusahaan mampu menghasilkan laba bersih yang tinggi, akan tetapi perusahaan sebenarnya mengalami penurunan/penghancuran nilai. 11
  12. 12. 9. Return On Investment (ROI) Rasio antara laba setelah bunga dan pajak (EAIT) dengan total aktiva. Rasio ini mengukur tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi total. Rasio ini menunjukkan hasil (return) atas jumah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektifitas manajemen dari keseluruhan operasi perusahaan. Semakin rendah ratio ini maka akn semakin tidak baik, begitu pula sebaliknya. Return On Investment = Laba Setelah Bunga dan Pajak (EAIT) / Total Assets Contoh: Komponen Laporan Keuangan 2005 2006 Laba Setelah Bunga dan Pajak 1,296 904 Total Aktiva 4,200 4,000 Untuk tahun 2005: ROI = 1,296/4,200 = 0,308 dibulatkan 31% Untuk tahun 2006: ROI = 904/4,000 = 0,226 dibulatkan 23% Perhitungan ROI tahun 2005 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperolehnya sebesar 31% dan turun ditahun 2006 sebesar 23%. Hal ini menunjukkan ketidak mampuan manajemen untuk memperoleh ROI.10. Return On Capital Employed (ROCE) ROCE singkatan Return on Capital Employed dan merupakan ukuran dari pengembalian perusahaan menghasilkan dari modal yang diinvestasikan dalam bisnis. Ukuran dasarnya membandingkan laba dengan modal yang digunakan untuk memberikan wawasan ke seberapa baik bisnis telah menggunakan investasi modal untuk menghasilkan pendapatan. ROCE menggunakan (akhir periode) melaporkan angka modal. Sebuah variasi dari metrik ini adalah Return in Average Capital Employed (ROACE) yang menggunakan rata-rata modal pembukaan dan penutupan untuk periode. 12
  13. 13. ROCE = EBIT / Jumlah modal yang digunakan11. Return On Assets (ROA) Return On Asset (ROA) adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan atas keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktivitas yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang terpenting di antara rasio profitabilitas yang ada (Ang, 1997). Return On Asset (ROA) atau yang sering disebut juga Return On Investment (ROI) diperoleh dengan cara membandingkan Net Income After Tax (NIAT) terhadap average total asset. Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut: ROA = N I A T Average Total Asset NIAT merupakan pendapatan bersih sesudah pajak. Average Total asset merupakan rata-rata total assets awal tahun dan akhir tahun. Semakin besar ROA atau ROI menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat pengembalian yang semakin besar (Ang, 1997 : 18.33). Contoh: Variabel L/R 2005 2006 Laba Bersih (L/R) 7.850 8.550 Total Asset (Laporan Keuangan) 4.040 6.850 untuk tahun 2005: ROA = 7.850/4.040 = 1,94 = 19% untuk tahun 2006 ROA = 8.550/6.850 = 1,24 = 124% Perhitungan ROA tahun 2005 menunjukkan bahwa perolehnya sebesar 19% dan turun ditahun 2006 sebesar 124%. Hal ini menunjukkan meningkatnya kemampuan manajemen untuk memperoleh ROA.12. Return On Equity (ROE) 13
  14. 14. Return On Equity (ROE) atau sering disebut juga dengan Return On Equity. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering juga diterjemahkan sebagai rentabilitas modal sendiri (Hanafi dan Halim,2000: 179). ROE merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penyertaan modal saham sendiri yang berarti juga merupakan untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian (prosentase) dari saham sendiri yang ditanamkan dalam bisnis (Widiyanto, 1993:53). Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. cara menghitung ROE sebagai berikut: ROE = EAIT (Earning After Interest and Tax) Equity Atau ROE=ROA x (Total Aktiva/Ekuitas) Contoh: Komponen Laporan Keuangan 2005 2006 EAIT 1,296 904 Total Ekuitas (Equity) 2,250 2,100 Untuk tahun 2005: ROE = 1,296/2,250 = 57,6 dibulatkan 58% Untuk tahun 2006: ROE = 904/2,100= 43% Perhitungan ROI tahun 2005 menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi yang diperolehnya sebesar 58% dan turun ditahun 2006 sebesar 43%.13. Debt-To-Equity (D/E) Ratio Debt To Equity Rasio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang. 14
  15. 15. Bagi bank (kreditor) semakin besar ratio ini akan semakin tidak menguntungkan karena akan semakin besar resiko yang ditanggung atas kegagalan yang mungkin terjadi pada perusahaan. Namun, bagi perusahaan justru semakin besar ratio akan semakin baik. Karena semakin tinggi tingkat pendanaan yang disediakan pemilik dan semakin basar batas pengamanan bagi peminjan jika kerugian atau penyusutan terhadap nilai dari aktiva. Debt to Equity Ratio untuk sebuah perusahaan tentu berbeda-beda, tergantung karakteristik bisnis dan keberagaman arus kasnya. Perusahaan yang arus kasnya stabil biasanya memiliki ratio yang lebih tinggi dari ratio kas yang kurang stabil. Rumus untuk Debt to Equity Ratio (D/E Ratio) adalah sebagai berikut: Debt to Equity ratio = Total Utang (Debt) / Ekuitas (Equity). Contoh : Komponen Laporan Keuangan 2005 2006 Total Utang (Debt) 2,050 1,900 Total Ekuitas (Equity) 2,250 2,100 Untuk tahun 2005 : Debt to Equity ratio = 2,050/2,250 = 0,911 atau 91% Untuk tahun 2006 : Debt to Equity ratio = 1,900/2,100 = 0,904 atau 90,4% Ratio ini menunjukkan bahwa tahun 2005 kreditor menyediakan Rp. 91,00 untuk setiap Rp. 100,00 yang disediakan pemegang saham. Atau perusahaan dibiayai oleh utang sebanyak 91%. Demikian pula untuk tahun 2006 tidak jauh berbeda dengan tahun 2005 yaitu 90,4% mendekati 91%.14. Cash Conversion Cycle (CCC) Cash Conversion Cycle (CCC) atau siklus konversi kas adalah waktu yang dibutuhkan perusahaan mulai dari saat perusahaan mengeluarkan uang untuk membeli bahan baku sampai dengan perusahaan mengumpulkan uang dari penjualan barang/jasa. Secara teori, semakin pendek waktu yang diperlukan, semakin baik bagi perusahaan. Sebaliknya semakin panjang waktu yang diperlukan, semakin banyak modal yang harus ditanamkan. Parameter-parameter yang dihitung di dalam siklus konversi kas adalah : 15
  16. 16. CCC = DSO + DSI – DPOdimana :DSO = Days of sales outstandingDSO atau hari edar penjualan (Days Sales Outstanding) adalah sebuahmetoda pengukuran yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pengelolaanpiutang suatu perusahaan atau bisa juga digunakan untuk mengetahui jumlahrata-rata hari yang diperlukan pelanggan untuk melakukan pembayaran.Dihitung dalam satuan hari, yang mencerminkan waktu yang dibutuhkanuntuk mendapatkan cash dari hasil penjualan yang dilakukan secara kredit(piutang).DSI=Days of sales in InventorySebuah ukuran kinerja kuangan perusahaan yang memberikan investor suatuinformasi tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untukmengubah persediaan (termasuk barang-barang yang work in progress, jikaberlaku) menjadi penjualan. Umumnya, (pendek) rendah DSI lebih baik, tetapipenting untuk dicatat bahwa DSI rata-rata bervariasi dari satu industri yanglain.DPO = Days of payables outstandingDPO atau hari perputaran utang (Days Payable Outstanding) yaitu nilai rata-rata periode pembayaran dari suatu perusahaan. Nilai DPO terbentuk daripos-pos Account Payable atau hutang usaha dan Pembelian (Purchase).Ketiga variabel tersebut dapat dicari dengan menggunakan formula berikutini:DSO = Piutang/(Sales/365)DSI = Persediaan/(Harga Pokok/365)DPO = Hutang/(Harga Pokok/365)Contoh :Hitunglah Cash Conversion Cycle dari CV. Wista Pradaya berdasarkan dariLaporan keuangan selama periode 2004-2007.Variable L/R 2004 2005 2006 2007Piutang 9.063 13.958 14.214 32.980 16
  17. 17. Hutang 5.182 3.051 2.200 29.120Persediaan 2.736 3.171 2.195 2.024Harga Pokok 65.865 67.010 96.787 137.287Penjualan 74.522 82.619 116.123 169.906Days of sales outstanding (DSO)Tahun 2004 = 9.063/(74.522 / 365 ) =44,3895Tahun 2005 = 13.958/(82.619 / 365 ) =61,6646Tahun 2006 = 14.214/(116.123 / 365 ) =44,6777Tahun 2007 = 32.980/(169.906 / 365 ) =70,8492Days of sales in inventory (DSI)Tahun 2004 = 2.736/(65.865 / 365 ) =15,1619Tahun 2005 = 3.171/(67.010 / 365 ) =169,7868Tahun 2006 = 2.195/(96.787 / 365 ) =8,2777Tahun 2007 = 2.024/(137.287 / 365 ) =376,1287Days of Payables outstanding (DPO)Tahun 2004 = 5.182/(65.865 / 365 ) = 5.182/180,4520 =28,7167Tahun 2005 = 3.051/(67.010 / 365 ) = 3.051/183,5890 =16,6186Tahun 2006 = 2.200/(96.787 / 365 ) = 2.200/265,1698 =8,2965Tahun 2007 = 29.120/(137.287 / 365 ) = 29.120/376,1287=77,4203Cash Conversion Cycle (CCC) :Days of sales outstanding (DSO) + Days of sales in inventory (DSI) - Days ofPayables outstanding (DPO)Tahun 2004 = 44,3895 + 15,1619 -28,7167 = 30,8347 = 31 HariTahun 2005 = 61,6646 + 169,7868 -16,6186 = 214,8328 = 215 HariTahun 2006 = 44,6777 + 8,2777 -8,2965 = 44,6589 = 45 HariTahun 2007 = 70,8492 + 376,1287 -77,4203 = 369,5576 = 370 HariDari hasil perhitungan diatas data dilihat bahwa posisi CCC yang paling baikada pada tahun 2004, dan yang paling buruk yaitu pada tahun 2007.Cash Convesion Cycle (CCC) dihutung dalam periode tahunan dan dapatpula dalam periode tertentu, apabila CCC dihitung dalam periode tahunan 17
  18. 18. perhitungan DSO,DSI dan DPO dibagi dengan jumlah hari dalam 1 tahun, namum apabila CCC dihitung dalam periode tertentu saja, maka DSO,DSI dan DPO dibagi berdasarkan pada jumlah hari dari priode perhitungan.15. Cash-to-Cash Cycle Supply Chain Management berpotensi untuk memperbaiki tiga komponen penggerak dari performansi finansial, yaitu pertumbuhan, keuntungan dan utilisasi kapital. Performansi Supply Chain Management sangat tergantung dari kebijakan dan prosedur pengukuran cash-to-cash cycle yang berfungsi untuk menunjukkan tingkat efisiensi dari extended value stream dalam beroperasi. Dengan demikian, dapat dilakukan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan dan prosedur yang terkait dengan pergerakan piutang, persediaan dan hutang perusahan. Untuk mengetahui tingkat likuiditas perusahaan perlu dilihat dari masingmasing komponen dengan memperhitungkan jumlah hari dimana kas diinvestasikan dalam persediaan, ditambah hari pendapatan / piutang yang belum terbayar, dikurangi dengan hari dimana kas yang tersisa masih dapat digunakan (avaiable) di bisnis perusahaan (karena perusahaan belum membayar hutang / tagihan ke supplier). Informasi yang diperoleh dari financial statement PT XYZ pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebagai berikut : Perhitungan cash-to-cash cycle PT XYZ dapat dijelaskan sebagai berikut: 18
  19. 19. Dari hasil perhitungan cash-to-cash cycle PT XYZ dalam tabel di atas, dapat diketahui bahwa cash-to-cash cycle PT XYZ adalah 41.89 hari (42 hari) yang berarti operating capital / uang kas PT XYZ tertahan selama 42 hari sebelum dapat digunakan kembali untuk meningkatkan value / mengembangkan bisnis PT XYZ memulai siklus produksi yang baru.16. Working Capital Turn Over Ratio Working Capital Turn Over Ratio dipergunakan untuk mengukur latau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. dalam arti berapa banyak modal kerja berputs dalam satu periode tertentu. Dari hasil penilaian ratio ini, apabila perputaran modal kerja rendah dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan sedang kelebihan modal kerja,. hal ini kemungkinan disebabkan karena rendahnya perputaran persediaan atau piutang atau saldo kas yang terlalu besar. Demikian pula sebaliknya, jika modal kerja tinggi ada kemungkinan disebebkan tingginya perputaran piutang dan atau saldo kas yang terlalu kecil. Rumus yang digunakan: WCTR = Penjualan Bersih/Modal Kerja Rata-Rata atau WCTR = Penjualan Bersih/Modal Kerja Contoh : Komponen Lap. Keuangan 2005 2006 Penjualan Bersih (Net Sales) 5.950 5.550 Total Aktiva Lancar 1.640 1.340 Modal Kerja Rata-rata 1.500 1.300 19
  20. 20. untuk tahun 2005 WCTR = 5.950 / 1.640 = 3,62 kali (3,7) Perputaran modal tahun 2005 3,7 artinya setiap Rp.1,00 modal kerja dapat mengkhasilkan Rp. 3,7 Penjualan. untuk tahun 2006 WCTR = 5.550/1.340 = 4,14 atau 4,2 Perputaran modal kerja tahun 2006 sebanyak 4,2 kali artinya setiap Rp. 1 modal kerja dapat menghasikan Rp. 4,2 penjualan.17. Operating Expense Ratio (OER) OER menurut kamus keuangan adalah kelompok rasio yang mengukur efisiensi dan efektivitas operasional suatu perusahaan dengan jalur membandingkan satu terhadap lainnya. OER juga sering disebut dengan BOPO (Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional). Berbagai angka pendapatan dan pengeluaran dari laporan rugi laba dan terhadap angka-angka dalam neraca. Rasio biaya operasional adalah perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bak dalam melakukan kegiatan operasi (Lukman D Wijaya, 2000, 120). Semakin rendah BOPO berarti semakin efisien bank tersebut dalam mengendalikan biaya operasionalnya, dengan adanya efisiensi biaya maka keuntungan yang diperoleh bank akan semakin besar. Peringkat Predikat Besaran nilai OER/ BOPO Rasio Beban Operasi merupakan indikator seberapa baik perusahaan adalah mengelola biaya berkelanjutan dari operasi bisnis. Dibutuhkan pengeluaran operasional (OPEX) dan membaginya dengan penjualan dalam suatu periode tertentu. Operasi Beban Ratio = (OPEX pada periode t / Pendapatan Penjualan pada periode t) x 100 Contoh: Apabila property Adiharapkan menghasilkan pendapatan kotor tahunan Rp.50.000.000, dan Rp.22.000.000 darinya digunakan untuk biaya operasi, Maka OER=..? 20
  21. 21. OER=0,44, artinya bahwa dari setiap Rp.1 pendapatan kotor yang diperoleh, maka Rp.0,44 darinya digunakan untuk biaya operasi.18. CAPEX To Sales Ratio Capex adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh ataupun meng-upgrade aset tetap seperti tanah, bangunan, dan mesin produksi. Secara langsung nilai dari capex akan berpengaruh terhadap besarnya pos PPE (property, plant & equipment) di bagian non current assets. Pada umumnya, agar dapat berekspansi, perusahaan harus mengeluarkan capex untuk memperbesar kapasitas produksi. Besar kecilnya capex bergantung pada perkembangan usaha ataupun target yang ingin dicapai oleh manajemen. CAPEX To Sales Ratio adalah indikator untuk mengukur tingkat investasi perusahaan dalam menghadapi masa depan dengan membandingkan belanja modal (CAPEX) terhadap penjualan dalam suatu periode tertentu. CAPEX Terhadap Penjualan = (CAPEX pada periode t / Penjualan Bersih pada periode t) x 10019. Price Earnings Ratio (P/E Ratio) Price Earning Ratio (PER) adalah salah satu ukuran paling dasar dalam analisis saham secara fundamental. Secara mudahnya, PER adalah „perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan’, dimana harga saham sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang dihasilkan oleh emiten tersebut dalam setahun. Karena yang menjadi fokus perhitungannya adalah laba bersih yang telah dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah emiten, kita bisa mengetahui apakah harga sebuah saham tergolong wajar atau tidak secara real dan bukannya secara future alias perkiraan. PER = Harga Saham/ Earning Per Share (EPS) Dimana EPS : EPS = Laba Setelah Pajak/Jumlah Lembar Saham 21
  22. 22. Menghitung PER yaitu dengan membagi harga saham dengan earning pershare (EPS) perusahaan yang ditampilkan pada laporan keuangan terakhirperusahaan. MisalnyaContoh :Harga saham ADRO saat artikel ini ditulis adalah 1,990. EPS ADRO padalaporan keuangan 1Q10 adalah Rp 26.9 per saham. Karena angka 26.9tersebut adalah EPS ADRO dalam satu kuartal (3 bulan), maka EPS-nya di-annualized-kan alias disetahunkan terlebih dahulu dengan cara dikali empat(3 bulan x 4 = 12 bulan = 1 tahun), sehingga hasilnya 26.9 x 4 = 107.6. Maka,PER ADRO adalah 1,990 dibagi 107.6, dan hasilnya adalah 19.1 kali.Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa „harga saham ADRO adalah19.1 kali laba bersih yang dihasilkan perusahaan‟. Semakin besar nilai PERsebuah saham, maka semakin mahal saham tersebut. 22
  23. 23. perspektifpelanggan 23
  24. 24. 20. Net Promoter Score (NPS) Net Promoter Score di populerkan oleh Fred Reichheld dalam buku The Ultimate Question: Driving Good Profits and True Growth. NPS adalah salah satu metode paling sederhana dalam mengukur loyalitas pelanggan. Pelanggan akan ditanya “Seberapa besar niat dari pelanggan untuk merekomendasikan produk kita kepada teman atau rekan?” dan digambarkan kedalam bentuk rating dari 0 (sama sekali tidak mungkin) sampai dengan 10 (sangat mungkin). Cara perhitungan ini disebut “Net Promoter Score”, karena skor dari pencela diurangi dengan skor dari promoter. untuk mengetahui seberapa besar pencela dan promoter yang dimiliki dalam sebuah organisasi. Pencela dikenal sebagai responden yang memiliki nilai kemungkinan untuk merekomenasikan lebih kecil atau sama dengan 6, sedangkan promotor adalah responden yang memiliki nilai kemungkinan untuk merekomenasikan 9 atau 10 (responden yang memilih 7 atau 8 adalah responden yang bersifat netral). Pengukuran NPS dapat berjalan dari -100% (0% Promotor, 100% Pencela) sampai dengan 100% (100% promoter, 0% Pencela). untuk lebih jelasnya dapat dilihat Gambar dibawah ini. Teori dibelakang NPS adalah Perusahaan akan mengalami pertumbuhan jangka panjang dan berkelanjutan jika persentasi promotornya lebih besar dari pada persentasi pencelanya.21. Customer Retention Rate Customer Retention Rate adalah metrik yang menunjukkan proporsi pelanggan yang telah tinggal untuk sementara waktu. Tingkat retensi dapat 24
  25. 25. dihitung setiap tahun, bulanan atau mingguan. Periodisitas tergantung pada siklus pembelian dan frekuensi di mana pembelian umumnya dilakukan. Pelanggan tingkat retensi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: CRR = Jumlah Pelanggan Pada Awal Periode / Jumlah Pelanggan Pada Akhir Periode CRR memberikan perusahaan indikasi kinerja perusahaan dalam hal sejauh mana perusahaan mampu menjaga pelanggan tetap senang. Hal ini diketahui bahwa memperoleh pelanggan baru, 5 kali lebih mahal dari pada mempertahankan yang sudah ada. Ini berarti bahwa mempertahankan tingkat retensi yang tinggi bisa menyelamatkan perusahaan setiap tahun.22. Customer Satisfaction Index Pada dasarnya pengertian kepuasan pelanggan mencakup perbedaan antara tingkat kepentingan dan kinerja atau hasil yang dirasakan. Engel (1990) dan Pawitra (1993) mengatakan bahwa pengertian tersebut dapat diterapkan dalam penilaian kepuasan terhadap satu perusahaan tertentu karena keduanya berkaitan dengan konsep kepuasan pelanggan, sebagaimana dapat dilihat pada diagram berikut ini: Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepuasan pelanggan didasarkan pada kinerja dan harapan yang dirasakan pelanggan 25
  26. 26. 23. Customer Profitability Score Customer Profitability (CP) adalah ukuran tingkat kontribusi keuntungan tiap pelanggan terhadap total keuntungan perusahaan. Atau dengan kata lain seberapa menguntungkan seorang pelanggan di mata perusahaan. Pelanggan yang menguntungkan harus dijaga agar loyal. Jika belum menguntungkan, hubungan dengan pelanggan perlu dikembangkan sampai menguntungkan. Jika tetap tidak menguntungkan, tidak ada salahnya mengurangi intensitas bahkan memutuskan hubungan daripada menjadi beban bagi perusahaan. Jika data CP dikaitkan dengan data interaksi perusahaan terhadap pelanggan, maka kita bias mendapatkan informasi dampak dari suatu interaksi terhadap CP pelanggan. Dengan kata lain, kita bias mendapatkan informasi dampak dari praktik CRM terhadap keuntungan perusahaan. Perhitungan CP sangat sederhana : total pendapatan dari seorang nasabah dikurangi total pengeluaran perusahaan untuk menjaga hubungan dengan pelanggan terkait. Dalam praktek, perhitungan CP dihadapkan pada tantangan berikut :  Integrasi data dari berbagai aplikasi CRM untuk mendapatkan gambaran utuh tentang seluruh interaksi perusahaan dengan pelanggan  Dengan sistem akuntansi yang umum digunakan saat ini, biaya riil setiap interaksi sulit didapatkan. Perkembangan Activity Based Costing menjadi solusi untuk kelemahan ini Akibat 2 faktor di atas, semakin detail perhitungan CP makin akurat hasil perhitungan CP. Tapi akurasi perhitungan bukanlah segalanya. Hal ini tergantung pada jenis keputusan yang memanfaatkan informasi CP [3]. Setidaknya, perhitungan tersebut bias membedakan nilai satu pelanggan relatif terhadap pelanggan lainnya [4]. Maka tak heran bila detail rumus perhitungan CP bisa bervariasi. Perhitungan CP harus dilakukan secara berkala (biasanya bulanan) sehingga laju perkembangan CP terpantau setiap saat. Analisa CP disebut sebagai customer profitability analysis. Dalam analisa ini dihitung revenue (pendapatan) yang dilakukan oleh seorang customer sepanjang dia menjadi pelanggan produk perusahaan itu (lifetime value of customer). Kemudian estimasi revenue ini dibandingkan dengan biaya 26
  27. 27. akuisisi (customer acquisition cost) dan juga biaya pemeliharaan supaya pelanggan loyal (maintenance cost). Jika potensi revenue lebih tinggi, berarti pelanggan itu menguntungkan. Namun jika lebih rendah, maka pelanggan itu tidak memberikan sumbangan profit bagi perusahaan. Analisa Customer Profitability memberikan informasi yang penting bagi perusahaan untuk menentukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Analisa ini akan membantu perusahaan dalam menentukan: 1. Berapa banyak pelanggan yang menguntungkan bagi perusahaan 2. Seberapa tergantungnnya perusahaan terhadap pelanggan yang menguntungkan tersebut 3. Berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk pelanggan yang menguntungkan tersebut 4. Biaya untuk melayani pelanggan tersebut termasuk iklan, maketing, administrasi dan layanan after sales 5. Pelanggan yang mana yang menjadi target dari kompetitor perusahaan24. Customer Lifetime Value (CLV) CLV memperkenalkan sebuah dimensi baru untuk memahami nilai dari pemeliharaan pelanggan. Margin berdasarkan kalkulasi fokus pada profit yang dihasilakan pada periode sekarang sama hasilnya dengan pembelian- pembelian oleh customer pada periode berikutnya. CLV memiliki pendekatan yang berbeda. CLV memperlakukan customer sebagai aset perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan CLV mengakui bahwa biaya-biaya untuk menarik customer saat ini dianggap sebagai investasi untuk jangka panjang. Perusahaan-perusahaan tersebut juga mengakui bahwa investasi tersebut bisa diekspektasikan untuk menghasilkan pendapatan tambahan di masa depan dalam jangka panjang. Lifetime value of the customer merefleksikan net present value dari semua ekpektasi cash flow perusahaan yang diasosiasikan dengan customer. Salah satu formula sederhananya adalah : CLV = m (r / 1 + i – r) m : adalah net margin per pelanggan untuk periode tertentu, i : adalah discounting rate untuk memperoleh present value. R : adalah retention rate, yaitu, berapa persen pelanggan yang dapat diretensi selama periode tertentu 27
  28. 28. CLV pada dasarnya adalah nilai pelanggan hari ini, sedangkan margin yang diperoleh oleh perusahaan adalah di masa mendatang. Jadi, diperlukan i untuk membuat perhitungan present value Contoh : Perusahaan memiliki 100 ribu pelanggan di awal bulan Januari 2010. Kemudian, pada akhir Desember, dari 100 ribu pelanggan ini, ternyata 90 ribu yang bertahan. Artinya, nilai r atau retention rate adalah 90 persen. Asumsikan, dari perhitungan yang perusahaan lakukan, net margin yang diperoleh selama satu tahun untuk per pelanggan adalah Rp 100 ribu. Ini adalah semua revenue per pelanggan dikurangi semua biaya per pelanggan. Nilai i atau besarnya discouting rate, dapat dipilih antara bunga deposito atau bunga pinjaman komersial. Asumsikan saja, nilai i adalah 10 persen. Dengan nilai-nilai di atas, maka CLV adalah = Rp 100.000 (0.9 / 1 + 0.1 – 0.9) atau Rp 450.000, kemudian bandingkan dengan biaya akuisisi. Bila biaya akuisisi ternyata sudah lebih besar dari Rp 450.00025. Customer Turnover Rate (CTR) Turnover rate adalah sebuah angka, baru kemudian berharga ketika dibandingkan dengan angka lainnya. Apabila perusahaan bisa mendapatkan data turnover rate kompetitor atau industri maka akan lebih bermakna. Jumlah Pelanggan yang mengundurkan diri x 100 (Jumlah Pelanggan diawal tahun + Jumlah Pelanggan diakhir tahun) / 2 Contoh : Sebuah perusahaan pada tanggal 1 januari 2012 memiliki 100 palanggan. Pada tanggal 31 Desember 2012 bertambah hingga 120 pelanggan. Selama tahun 2012 ada 5 orang pelanggan yang mengundurkan diri. Maka turnover rate perusahaan tersebut adalah 4,5% 5 x 100 = 4,5 (100 + 120) / 226. Customer Engagement 28
  29. 29. Customer Engagement adalah indikator untuk mengukur level keterlibatan pelanggan dalam merek bisnis. Pengukuran kinerja dilakukan melalui metode survei berbasis pada kekuatan hubungan antara pelanggan dengan organisasi.27. Customer Complaints Customer Complaints adalah ungkapan ketidakpuasan terhadap suatu produk baik berupa barang atau jasa. Tidak semua keluhan pelanggan terungkap dengan jelas. Ada juga yang berdampak langsung terhadap kinerja perusahaan tetapi biasanya dampaknya tidak langsung dirasakan. Hampir semua usaha atau bisnis pernah menerima atau mendapati keluhan pelanggan atas produk baik berupa penjualan barang atau jasa dari pelanggannya, keluhan bisa datang dari pelanggan yang sudah eksis ataupun dari pelanggan baru, bahkan sangat memungkinkan keluhan juga datang dari mereka yang belum menjadi pelanggan. Pada umumnya keluhan pelanggan datang dikarenakan oleh lemahnya penangan komunikasi, sehimgga imformasi tidak dapat diterima secara maksimal dan banyak yang mungkin saja menjadi janggal di benak konsumen. Untuk itu, dibutuhkan team untuk menangani keluhan konsumen dengan pengetahuan yang cukup agar keluhan pelanggan dapat di kelola secara benar. Menangani keluhan pelanggan secara lebih dini adalah suatu sikap yang bijaksana dan tepat karena perusahaan akan lebih mampu mengantisipasi hal-hal yang dapat merugikan. Sekecil apapun kekecewaan pelanggan adalah merupakan keluhan yang harus segera ditangani. 29
  30. 30. perspektif pasar danpenjualan 30
  31. 31. 28. Market Growth Rate (Pertumbuhan Pasar) Pertumbuhan Pasar digunakan sebagai alat untuk mengukur market attractiveness (daya tarik pasar). Pasar disebut tumbuh bila jumlah total keseluruhan pasar lebih besar nilainya dibanding periode terdahulu. Tidak ada jaminan bahwa jika pasar tumbuh berarti perusahaan juga tumbuh. Tetapi hal ini mengisyaratkan bahwa akan lebih mudah bagi perusahaan untuk tumbuh bila pasar tumbuh. Perusahaan bisa melakukan riset dengan mengamati perkembangan pasar yang ada saat ini. Amati trend yang sedang banyak dicari masyarakat, dan amati pula produk-produk yang sudah ada di pasaran. Hasil pengamatan bisa perusahaan jadikan sebagai bahan pertimbangan, sebelum akhirnya melemparkan sebuah produk ke pasaran. Sebelum memasarkan produk sebaiknya perusahaan mengetahui tingkat persaingan yang ada di pasaran. Tawarkan inovasi baru untuk memasuki pasar yang sudah dipenuhi para pesaing. Agar produk perusahaan tidak kalah saing di tengah-tengah pasar yang sudah ramai. Mengingat adanya riset pasar sangatlah penting dalam memasarkan produk. Maka sebisa mungkin lakukan riset, sebelum melangkah. Agar strategi pemasaran yang digunakan tepat sasaran, dan memberikan hasil yang maksimal.29. Relative Market Share Pangsa pasar relative (Relative Market Share), merupakan pembandingan antara penjualan perusahaan terhadap pesaing terkuat, agar perusahaan mengetahui posisinya dalam pasar.30. Sales Opportunity Index Sales Opportunity Index adalah indicator yang menunjukkan seberapa sukses sebuah organisasi dapat menumbuhkan prospek untuk produk dan layanan yang dijualnya. Sales Opportunity Index = (Jumlah Kontak Pelanggan yang prospek bulan lalu) / 2 X (Rata per bulan jumlah kontak pelanggan prospek selama 12 bulan) 31
  32. 32. Pelanggan bisa dikatakan sebagai pelanggan yang prospek berdasarkan kontak dengan perusahaan baik secara langsung ataupun tidak langsung misalnya, memasuki toko, menyanyakan informasi produk,dan lain-lain.31. Sales Cycle Index Sales Cycle Index adalah indicator yang berfungsi untuk mengatur durasi dari proses penjualan. Sebuah pelacakan proses penjualan diperlukan untuk merekam saat kontak awal dengan prospek/pelanggan terjadi sampai dengan tanggal penutupan penjualan (apakah sukses atau gagal). Sales Cycle Index = Rata-rata durasi (dalam hari kalender) antara tanggal kontak pertama kali dengan pelanggan sampai dengan tanggal penutuoan transaksi penjualan.32. Contract Value Index Rasio pemesanan, tetapi pendapatan yang belum diakui terhadap total pendapatan tahunan untuk periode sebelumnya. Contract Value Index = (Total Nilai Kontrak – Pendatan Yang Telah Diakuit Dalam Periode Kontrak)/Total Pendapatan Terbaru Yang Dilaporkan pada Tahun Tentu33. Sales Close Index Sebuah indikator yang menunjukkan seberapa sukses bagian penjualan dalam merubah prostek menjadi sebuah pelanggan. Calculation: Sales Close Index = (Total Pelanggan Prospek yang menjadi pelanggan) / (Total Pelanggan Prospek).34. Brand Equity Menurut David A. Aaker, definisi dari merek itu adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu. Dengan demikian suatu merek membedakannya dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh kompetitor. Jadi, dapat disimpulkan bahwa merek mempunyai dua unsur, yaitu brand name yang terdiri dari huruf-huruf atau kata-kata yang dapat terbaca, serta brand mark yang berbentuk simbol. Merek adalah nama, terminologi, tanda, simbol, atau 32
  33. 33. desain, atau kombinasi diantaranya, yang ditujukan untuk mengidentifikasibarang atau jasa dari penjual satu dengan penjual yang lain.Sekelompok pembeli kebiasaan (habitual buyers) mempunyai nilai yang tinggikarena mereka mewakili keuntungan yang bisa diharapkan terus mengalirdalam waktu lama. Loyalitas merek secara kualitatif berbeda dari dimensi-dimensi utama lainnya, karena loyalitas merek terkait erat denganpengalaman menggunakan. Loyalitas merek dari kelompok pelanggan seringmerupakan inti dari ekuitas merek. Apabila para pelanggan tidak tertarik padamerek dan membeli karena karakteristik produknya, harga, dan kenyamanandengan sedikit memperdulikan merek maka berarti kemungkinan ekuitasnyakecil. Sebaliknya, apabila para pelanggan melanjutkan untuk membeli merektersebut kendati dihadapkan pada para kompetitor yang menawarkankarakteristik produk yang lebih unggul dari segi harga dan kepraktisannya,berarti ada nilai yang sangat besar dalam merek tersebut dan barangkali jugadalam simbol dan slogannya.Menurut David A. Aaker, Brand Equity atau ekuitas merek adalah satu setbrand asset dan liabilitas yang berkaitan dengan suatu merek, nama dansimbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan olehsebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelangganperusahaan.Merek meningkatkan sense of value konsumen sehingga memberikan insentifuntuk menjadikan produk atau jasa yang ditawarkan sebagai pilihan, walauuntuk itu mereka harus merogoh saku lebih dalam. Kesediaan konsumenuntuk membayar lebih inilah yang membuat merek memiliki nilai yang dapatditerjemahkan ke dalam dolar (atau rupiah). Ekuitas merek dikomunikasikanmelalui simbol visual dan pesan konsisten yang memungkinkan konsumendengan mudah membedakan katakanlah, Visa dan MasterCard. Merekdengan persepsi nilai tinggi selalu disertakan dalam pertimbangan konsumentersebut. Kalau ekuitas tangible dan intrinsik satu merek secara konsistenlebih tinggi ketimbang merek lain dari kategori yang sama, merek tersebutakan merebut loyalitas konsumen sehingga mereka akan membeli, membeliulang, dan merekomendasi orang lain untuk membeli.Ada beberapa cara mengukur nilai intrinsik atau ekuitas merek. Ekuitasmerek dapat diukur pada tingkat korporasi maupun tingkat kategori dandengan menggunakan data internal maupun data eksternal. Pada tingkatkorporasi, ekuitas merek dapat dihitung berdasarkan data keuangan internaldari sistem akunting perusahaan atau menggunakan data kinerja keuangan 33
  34. 34. perusahaan lain yang mirip, alias menggunakan data keuangan eksternal.Sementara itu, pada tingkat kategori, perusahaan dapat mengukur ekuitasmerek yang dimiliki dengan membandingkan unit profit margins dan unitmarketing costs, dan membandingkan biaya produk lain di kategori yangsama. Perusahaan tersebut dapat pula melakukan survei konsumen untukmengukur nilai persepsi produk atau jasanya dibanding produk atau jasa laindari kategori yang sama.SDR Consulting menjagokan cara pengukuran nilai merek dan ekuitas merekmelalui survei pelanggan pada tingkat kategori. Info yang didapat laludigunakan buat menghitung nilai agregat merek pada tingkat korporasi.Menurut Brand Value Model yang dikembangkan SDR, brand value atau nilaimerek berkorelasi langsung dengan loyalitas pelanggan. Alhasil, denganmengubah-ubah kombinasi komponen nilai merek yaitu ekuitas merek, fiturproduk, dan harga melalui simulasi komputer, nilai merek dan loyalitaskonsumen dapat ditingkatkan.Cara lain memperkirakan nilai finansial suatu merek adalah denganperhitungan statistik terhadap data pembelian aktual terhadap produk yangditeliti. Kurva orisinal dari data tersebut memang akan menunjukkan fluktuasitajam (yang disebabkan oleh promosi dan investasi pemasaran lainnya).Namun, dengan regresi, tren yang terjadi tetap akan terlihat. dan, denganmemperhitungkan data lain, akan terlihat pula efek dari upaya pemasaranyang dilakukan. Dengan demikian, data ini dapat digunakan untukmengevaluasi ROI dari berbagai insisiatif brand marketing, walau belummemberikan gambaran tentang nilai merek.Ada pula model EQUITYMAP sebagai alat bantu untuk mengukur danmerencanakan strategi peningkatan ekuitas merek. EQUITYMAPmenggunakan data yang diperoleh dari perilaku konsumen, tenaga ahliindustri, dan data keuangan perusahaan yang berbentuk laporan keuangan.EQUITYMAP mendefinisikan bahwa ekuitas merek adalah penambahan nilaikeuntungan per tahun (incremental profit per year) dari perusahaan akibatmerek (peran merek). Penambahan keuntungan ini disebabkan adanyapeningkatan probabilitas pemilihan merek dibandingkan dengan merek dasar(merek yang melakukan usaha minimal dalam pembangunan merek).Peningkatan probabilitas pemilihan merek ini ditimbulkan dari tiga sumber,yaitu (1) peningkatan kesadaran merek, (2) peningkatan persepsi atributproduk, dan (3) preferensi kesesuaian non atribut. Peningkatan persepsiatribut produk dan preferensi kesesuaian non atribut digabung menjadi citra 34
  35. 35. merek (brand image). Dari ketiga sumber data ini akan diperoleh ekuitas merek tingkat konsumen dan perusahaan. Pengukuran yang simultan dengan menggunakan EQUITYMAP dapat mengevaluasi hasil investasi yang telah dilakukan terhadap peningkatan ekuitas merek. Untuk perencanaan investasi, EQUITYMAP dapat membantu dalam mengevaluasi perencanaan strategi pemasaran dengan cara melakukan berbagai simulasi dari berbagai alternatif strategi pembangunan merek menggunakan analisis bagaimana-jika (what-if analysis).35. Cost Per Lead Cost Per Lead (CPL) digunakan dalam iklan online. CPL mendefinisikan berapa banyak pendapatan penerbit menerima ketika ia menciptakan memimpin untuk pengiklan. Misalnya, penerbit dapat menempatkan iklan untuk situs investasi di situsnya. Jika pengguna mengklik pada link iklan, dia diarahkan ke situs web pengiklan di mana ia dapat mendaftar untuk sebuah akun investasi. Jika dia memilih untuk mendaftar, memimpin yang telah dibuat dan penerbit yang dibayar sejumlah tertentu berdasarkan CPL tersebut.36. Concersion Rate Conversion Rate adalah persentase pengunjung yang mau mengikuti atau melakukan apapun yang perusahaan ingin mereka lakukan. Dengan kata lain, conversion rate adalah jumlah pengunjung yang melakukan suatu langkah sesuai keinginan perusahaan dibagi dengan jumlah pengunjung keseluruhan. Jadi rumusan dasarnya adalah: Conversion Rate = Jumlah Pengunjung yang Melakukan Kehendak Perusahaan/Jumlah Seluruh Pengunjung Mari sedikit berandai-andai. Katakanlah perusahaan ingin menghitung tingkat konversi subscriber feed atau newsletter jejaring nya, dimana keinginan perusahaan adalah pengunjung mendaftar dan menjadi pelanggan feed atau newsletter, dengan asumsi kegiatan pendaftaran langganan dilakukan pada satu halaman khusus, biasa disebut sebagai landing page. Hal yang pertama harus dilakukan adalah membuka statistik atau analytics web yang digunakan (misalnya Google Analytics) untuk mengetahui berapa banyak pengunjung 35
  36. 36. yang mengunjungi halaman tersebut dalam satu periode tertentu. Misalnya, Perusahaan ingin menghitung conversion rate kemarin, dan jumlah pengunjung pada hari itu adalah 700. Selanjutnya, lihat statistik pendaftaran feed atau newsletter pada service yang digunakan (misalnya FeedBurner dan MailChimp) dan cek berapa jumlah pendaftar atau pelanggan baru pada hari yang sama. Sebut saja jumlahnya adalah 40 pendaftar baru. Untuk mengetahui conversion rate (tingkat konversi) pada hari itu, bagi jumlah pendaftar/pelanggan dengan jumlah total pengunjung pada landing page, kita dapatkan 40/700 = 0,057, atau jika dipersentasekan berarti sekitar 5%. Tentu perusahaan dapat melakukan penghitungan yang sama pada berbagai jenis landing page, misalnya halaman sales/penjualan untuk menghitung conversion rate pada jumlah pengunjung yang melakukan transaksi. Perlu diperhatikan bahwa contoh di atas hanya diambil dalam satu hari, dan satu hari adalah periode yang sangat pendek untuk mengambil tingkat konversi yang akurat. Idealnya, pengukuran ini dilakukan dalam periode sekurang- kurangnya satu minggu, agar tingkat konversi yang dihitung jauh lebih akurat dan bisa menjadi gambaran.37. Page Views And Bounce Rates Bounce Rate adalah suatu nilai dalam persentase yaitu jumlah pengunjung yang langsung meninggalkan blog / website perusahaanf setelah membuka sebuah halaman. dapat diketahui dengan menggunakan tools statistik, contohnya Google Analytics. Jika perusahaan menggunakan Google Analytics maka disana akan mendapatkan laporan Bounce Rate sebuah website perusahaan. Nilainya biasanya berkisar dari 0% hingga 100%. Semakin kecil nilai Bounce Rate berarti semakin bagus karena berarti semakin sedikit pengunjung yang langsung meninggalkan website setelah membaca / membuka sebuah halaman di website tersebut.38. Online Share Of Voice (OSOV) Online Share of Voice (OSOV) adalah jenis perhitungan kinerja yang berdasarkan pada pendapat-pendapat positif, negatif dan netral dari pelanggan atau pengunjung melalui media sosial atau website perusahaan secara online. Banyak orang percaya bahwa pengumpulan data ini sulit, namun semua dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan bentuan beberapa tools seperti 36
  37. 37. Radian 6, Brandwatch dan Lithium yang memungkinkan Perusahaan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.39. Social Networking Footprint Ledakan penggunaan alat jaringan sosial seperti Twitter, Facebook dan LinkedIn, telah menciptakan kebutuhan bagi perusahaan untuk menjadi cerdas dan strategis tentang cara kita menggunakan alat ini. Tapi keterlibatan di media sosial tidak lagi pilihan. Pertimbangkan bahwa di pasar elektronik hari ini, seorang pengusaha kecil mungkin risiko "kredibilitas" tanpa kehadiran online. Sementara itu, menghubungkan di LinkedIn atau memiliki Fan Page Facebook telah menjadi setara dengan bertukar kartu nama. Dan di pasar kerja saat ini, memiliki profil di LinkedIn diposting cepat menjadi alat yang sangat berharga bagi pencari kerja saat ini. Tujuan dari Footprints Media Sosial adalah untuk membantu individu dan pengusaha kecil dalam mengoptimalkan pengalaman media sosial mereka. Apakah perusahaan menggunakan media sosial untuk meningkatkan kenikmatan sosialnya, mencari untuk memajukan karir profesional sesorang.40. Klout Score Klout adalah Kumpulan aktifitas individu/perusahaan di sosial media, segala aktifitas yang lakukan di sosial media secara online, baik berupa tweet, retweet, like, content, resharing, share, update social network akan menjadi data yang dikumpulkan Klout untuk mengukur;True Reach, Amplification, Network Impact.  True Reach : Seberapa besar pengaruh individu/perusahaan, diukur dari jumlah orang yang dipengaruhi melalui content di sosial media perusahaan, dan respon terhadap content tersebut.  Amplification : Seberapa besar individu/perusahaan mempengaruhi mereka, setiap aktifitas disosial media bagaimana respon mereka terhadap apa yang individu/perusahaan lakukan di sosial media.  Network Impact : Pengaruh perusahaan terhadap sosial network, berapa banyak pengaruh perusahaan terhadap apa yang perusahaan share di sosial media, semakin banyak yang merespon atau reshare, atau retweet akan meningkatkan score perusahaan di sosial media. Score Network perusahaan akan meningkat, apabila perusahaan mempunyai banyak orang yang dipengaruhi, singkatnya semakin aktif perusahaan di 37
  38. 38. sosial media semakin tinggi scorenya, dan setiap score Network akan diberigelar oleh KLOUT. Semuanya berdasarkan analisis dari sosial media yangperusahaan gunakan.Untuk menggunakan indikator klout score maka terlebih dahulu sebuahindividu ataupun perusahaan memiliki media social seperti Twitter, Facebook,LinkedIn, Google Plus dan lainya. Kemudian silahkan masuk ke klout.comdan tidak usah mendaftar, cukup dengan masukkan username dan passwordsosial network seperti Twitter, Facebook, LinkedIn, Google Plus dan lainya,maka akan segera mengetahui berapa score individu/perusahaan danseberapa besar pengaruh perusahaan di jejaring sosial. 38
  39. 39. perspektifproses operasi & supply chain 39
  40. 40. 41. Six Sigma Level Six Sigma adalah metodologi menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui fase DMAIC (Define, Measure, Analyze, Imrove, Control). DMAIC merupakan jantung Six Sigma yang menjamin voice of customer memuaskan keinginan pelanggan.  Define adalah fese menentikan masalah, menetapkan persyaratan- persyaratan pelanggan dan membangun Tim.  Measure adalah fase mengukur tingkat kepercayaan pelanggan  Analyze adalah fase menganalisis sebab-sebab masalah pada proses (X)  Improve adalah fase meningkatkan proses (X) dan menghilangkan sebab cacat.  Control adalah fase mengontrol kinerja proses(X) dan menjamin cacat tidak muncul. Sigma Level diukur pada tahap Measure dan pada tahap setelah improvement. Dalam mengukur sigma level, terlebih dahulu dilakukan identifikasi data, artinya data jenis apa yang akan diolah, data disktrit atau data contious. Identifikasi jenis data ini sangat penting karena dalam pengukuran Sigma level menggunakan cara yang berbeda antara Data Discreate dan Data Continous. Contoh : PT. Ikhwanseadanya adalah perusahaan pengangkutan laut, telah melakukan pengukuran selama tiga bulan, dan diperoleh informasi bahwa proses pengangkutan sebanyak 24 ribu penumpang diketahui jenis-jenis keluhan dari penumpang seperti tabel berikut : No Jenis Kegagalan Sumber Data Frekuensi Cacat 1 Keberangkatan Terlambat Log Kapal 1.915 2 Kedatangan Terlambat Log Kapal 10.550 3 Kendaraan yg diangkut rusak Customer service 26 4 Kecelakaan penumpang Customer service 54 5 Kelebihan pembayaran tiket Complaint 32 40
  41. 41. Miskomunikasi dalam 6 Complaint 67 pelayanan 7 Petugas tidak sopan Complaint 29 Total Frekuensi Keluhan (Total Cacat) 12.673 Defect Per Opportunity (DPO) 0,075435 Defect Per Milion Object (DPMO) 75,435 Kapabilitas Proses (Sigma Level) 2,936469 Keterangan :  Terdapat 7 jenis kesempatan kegagalan per penumpang, sehingga Defect Per Opportunities = 24.000 x 7 = 168.000.  Defect Per Opportunity = 12.673/168.000 = 0,075435  Defect Per Million Opportunity = DPO x 1.000.000 = 0,075435 x 1.000.000 = 75435  Kapabilitas Proses (Sigma Level) = normsinv((1000000- DPMO)/1000000)+1,5 = normsinv((1000000-75435)/1000000)+1,5 = 2,94. (Menggunakan Rumus Excel) Dari hasil perhitungan diatas diketahui level pelayanan PT. Ikhwanseadanya yaitu sebesal 2,94 Sigma dengan 75.435 kesalahan(Cacat) dari setiap 1 juta kesempatan.42. Capacity Utilization Rate (CUR) Capacity Utilization Rate adalah indikator yang mengukur perubahan dari sumber daya yang dimiliki oleh sektor industri, pertambangan dan pertanian. Index ini juga terkait dengan kenaikan CPI (Consumer Price Index) dan berbagai macam index yang terkait dengan inflasi. Jika nilai Capacity Utilization Rate disuatu negara naik maka nilai mata uang negara tersebut juga akan mengalami kenaikan. Dimana CPI adalah Indikator yang mengukur tingkat kenaikan barang dan jasa yang dikenakan kepada konsumen. Dalam perekonomian, CPI biasa diistilahkan sebagai index biaya hidup karena pengukurannya yang menyentuh tingkat konsumen (berbeda dengan Producers Price Index yang hanya mengukur di tingkat produsen). CUR merupakan data pelengkap dari Industrial Production. Data capacity utilization mengukur atau menghitung „tingkat penggunaan modal‟ yang 41
  42. 42. dipakai dalam proses produksi. Data ini dapat meningkat atau menurun, sesuai dengan siklus bisnis dalam suatu negara. Naik tingkat produksi. Naiknya tingkat produksi akan menyebabkan naik tingkat penggunaan modal. Kelemahan data capacity utility adalah tingginya tingkat kesulitan dalam menghitung data ini, sehingga menyebabkan market kurang mempercayai tingkat akurasinya. Sama hal nya dengan industrial production, apabila terjadi peningkatan yang melebihi forecasting para ekonom diartikan sebagai meningkatkatnya tingkat inflasi yang pada gilirannya menyebabkan turunnya harga-harga obligasi dan naiknya tingkat suku bunga.43. Process Waste Level Process Waste Level adalah indikator untuk mengukur seberapa besar tingkat pemborosan yang terjadi pada setiap proses yang ada pada kegiatan operational sebuah perusahaan. Semakin tinggi indikator tersebut maka akan semakin buruk, karena hal ini menandakan bahwa dalam kegiatan operationalnya, terdapat beberapa kegiatan yang tidak efektif dan tidak efisien, dan begitu pula sebaliknya semakin rendah nilai indikator ini, maka akan semakin baik. Mengukur limbah tergantung pada metrik yang digunakan untuk setiap jenis limbah, tetapi biasanya terdiri dari menghitung sederhana atau pengukuran.44. Order Fulfiment Cycle Time (OFCT) Salah satu jenis pemborsan (Waste) dalam perusahaan adalah pemborosan rantai pasok. untuk itu indikator Order Fulfiment Cycle Time digunakan untuk mengukur Jumlah waktu (hari) yang dibutuhkan sejak dari order diterima sampai produk diterima di tempat pelanggan. Indikator ini digunakan untuk mengukur Kecepatan sistem supply untuk menyediakan produk/jasa. Semakin besar nilai indikator ini maka akan semakin buruk kinerja dari system supply sebuah perusahan.45. Delivery In Full, On Time (DIFOTAI) Rate DIFOTAI adalah istilah dalam Supply Chain yang menggambarkan kualitas layanan logistik. suatu kedaan dapat dikatakan DIFOTAI jika produk dikirim ke pelanggan sesuai dengan prinsip-prinsipnya, yaitu : D : Delivered (produk telah disampaikan) IF : Dalam Rupiah Penuh (pengiriman itu secara penuh, tidak ada produk yang dipesan hilang) 42
  43. 43. OT : On Time (dalam periode waktu yang disepakati)AI : Akurat Faktur (Faktur identik dengan daftar produk dan kuantitas)DIFOTAI =Jumlah unit yang terkirim ontime dan sesuai dengan faktur/Totaljumlah unit yang dikirimContoh :PT. Ikhwanseadanya adalaj perusahaan yang bergerak dibidang jual beliasesoris computer secara online, PT.Ikhwanseadanya memiliki komitmendalam pengiriman barang pesanan pelanggan dengan lama pengiriman 3Hari, berikut ini daftar transaksi PT. Ikhwanseadanya.Kode Nama Barang Nama Lama KeteranganPenanan Pelanggan Kirim001 Ipad Case Tn. A 3 OK002 Netbook Lenovo Tn. B 3 Warna S10-3, Hitam Pesanan Biru003 Mouse Logitech Mrs. C 5 OK Infrared004 Monitor LG 17” Flat Mr D 3 OK005 Keyboard Logitech Mrs. E 3 Rusak Wireles007 Laser Pointer Mrs. F 3 OKDari data pemesanan barang diatas dapat diketahui A : Jumlah barang terkirim yang sesuai dengan faktur dan tidak mengalami keterlambatan adalah 3 Pesanan dengan kode pesanan 007,004,dan 001 B : Jumlah barang terkirim yang tidak sesuai dengan faktur adalah 2 pesanan dengan kode pasanan 005 dan 002 C : Jumlah barang terkirim yang sesuai dengan faktur, namun mengalami keterlambatan adala , dengan kode pemesanan 003DIFOTAI = A/ (A+B+C) = 3 / (3+2+1) = 0,5 atau sekitar 50%, 43
  44. 44. Ini berarti bahwan kualitas layanan logistik yang dilakukan oleh PT. Ikhwanseadanya terjadi 50% kesalahan baik berupa keterlambatan maupun barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi pesanan. Semakin kecil nilai dari indicator ini maka akan menggambarkan kualitas layanan logistic yang semakin baik, begitu pula sebaliknya semakin besar nilai DIFOTAI maka akan menggambarkan kualitas layanan logitik yang buruk.46. Inventory Shrinkage Rate (ISR) Inventory Shrinkage Rate adalah perbandingan antara Jumlah/Nilai barang yang tercatat pada buku persediaan dikurangi dengan jumlah/nilai dari hasil perhitungan fisik barang. Indikator ini digunakan untuk mengukur kinerja dari penggunaan barang, apakah barang yang telah dipesan digunakan sesuai dengan kebutuhan atau tidak. 44
  45. 45. 47. Project Schedule Variance (PSV) Project Schedule Variance digunakan untuk menghitung penyimpangan antara BCWS dengan BCWP. Nilai positif menunjukkan bahwa paket-paket pekerjaan proyek yang terlaksana lebih banyak dibanding rencana. Sebaliknya nilai negative menunjukkan performa pekerjaan yang buruk karena paket-paket pekerjaan yang terlaksana lebih sedikit dan jadwal yang direncanakan. Variabel yang menunjukkan apakah jadwal yang lebih lama/lebih lambat dari yang direncanakan. PSV = BCWP – BCWS Dimana : Budgeted Cost For Work Performed (BCWP) adalah biaya rencana pekerjaan yang telah dilaksanakan selama periode waktu tertentu. BCWP dinilai berdasarkan prosentase pekerjaan yang telah dilaksanakan yang dinilai dengan suatu ukuran kemajuan pekerjaan yang telah ditetapkan dan merupakan akumulasi dari pekerjaan-pekerjaan yang telah diselesaikan. BCWP biasa juga disebut dengan EV (Earned Value) Budgeted Cost for Work Scheduled (BCWS) merupakan anggaran biaya yang dialokasikan verdasarkan rencana kerja yang telah disusun terhadap waktu. Indikator Nilai Penilaian Status Project Schedule Positif Lebih Capat dari Rencana, BCWP > Variance BCWS Nol Rencana = Aktual Negatif LEbih Lambat dari Rencana, BCWP < BCWS48. Project Cost Variance (PCV) Project Cost Variance merupakan selisih antara nilai yang diperoleh setelah menyelesaikan paket-paket pekerjaan dengan biaya aktual yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Cost variance positif menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh setelah menyelesaikan paket-paket pekerjaan Iebih besar dan biaya yang dikeluarkan untuk mengerjakan paket-paket pekerjaan tersebut. Sedangkan nilal negative menunjukkan nilai yang didapat setelah 45
  46. 46. menyelesaikan paket-paket pekerjaan lebih kecil dibanding biaya yang sudah dikeluarkan. Variabel ini menunjukkan apakah kinerja biaya sudah melebihi atau masih kurang dari biaya yang sudah direncanakan PCV = BCWP – ACWP dimana: BCWP (Budgeted Cost For Work) adalah biaya rencana pekerjaan yang telah dilaksanakan selama periode waktu tertentu. ACWP (Actual Cost for Work Performed) adalah representasi dan keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam periode tertentu. Indikator Nilai Penilaian Status Project Cost Variance Positif Penghemantan, BCWP > ACWP Nol Biaya Rencana = Biaya Aktual Negatif Pemborosan, BCWP < ACWP Contoh :49. Earned Value (EV) Metric Dalam EV Matric terdapat banyak unsur yang dapat diukur, sesuai dengan gambar berikut : Unsur Formula Keterangan Schedule Performance BCWP/BCWS) Matriks ini digunakan Index (SPI) untuk mengukur efisiensi jadwal. Matriks ini menggambarkan seberapa cepat realisasi sebuah project/kegiatan terhadap progress yang direncanakan. Apabila hasilnya kurang dari 1.0, maka proyek terlambat dari jadwal yang ditentukan 46
  47. 47. Apabila hasilnya lebih dari 1.0, maka proyek lebih cepat dari jadwal yang ditentukan ETC (Estimate Total (BAC-BCWP)/CPI Mencatat perkiraan Cost) Dimana : biaya dari total BAC(Budget At Cost) = pekerjaan yang tersisa Biaya yang dari sebuah proyek. ETC dianggarkan pada saat yang rinci akan proyek selesai. menggambarkan sisa CPI (Cost Performance pekerjaan, estimasi Index) = sumber daya, dan biaya BCWP/ACWP untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut EAC (Estimate Cost At BAC/CPI atau Mencatat perkiraan total Complesion) ACWP+ETC biaya dari pekerjaan pada saat proyek telah selesai50. Innovation Pipeline Strength (IPS) Innovation Pipeline Strength (IPS) merupakan indikator seberapa kuat pipa inovasi perusahaan. Indikator ini mengukur potensi pendapatan masa depan proyek-proyek inovasi potensial yang sedang berlangsung. IPS = Jumlah (Proyek Inovasi x Potensi Pendapatan Masa Depan)51. Return On Innovation Investment (ROI2) Sebuah ukuran kinerja digunakan untuk mengevaluasi efektivitas investasi perusahaan dalam produk baru atau jasa. Laba atas investasi inovasi dihitung dengan membandingkan keuntungan dari penjualan produk atau layanan baru untuk penelitian, pengembangan dan belanja langsung lainnya dihasilkan dalam menciptakan produk-produk baru atau jasa. Fokus dari metrik ini tidak hanya untuk menentukan seberapa baik sebuah perusahaan mengubah investasi dalam produk baru atau jasa menjadi keuntungan tambahan bagi perusahaan, tetapi juga seberapa efisien dalam R&D pengeluaran. Perusahaan yang lebih baik adalah mampu meramalkan 47
  48. 48. permintaan penawaran baru, serta seberapa efisien dalam mengalokasikan sumber daya, semakin baik pengembalian atas investasi inovasi seharusnya.52. Time To Market Index Kemampuan fungsi pengembangan produk untuk merilis produk baru atau jasa secara tepat waktu. Time to Market Index = Rata-rata (waktu dari persetujuan manajemen sampai dengan memulai peluncuran dari setiap produk).53. Return of Marketing Invesment (ROMI) Return of Marketing Invesment adalah kontribusi yang dihasilkan dari investasi pemesaran yang beresiko. ROMI merupakan ukuran yang relative baru dalam manajemen pemasaran. Tujuan dari ROMI adalah mengukur kontribusi dari pengeluaran pemasaran terhadap keuntungan. Manfaat penggunaan indeks ROMI, indeks mROMI dan Marketing ROI akan memberikan manfaat sebagai berikut:  Dapat digunakan sebagai model untuk mendefinisikan potensi penjualan tambahan yang diperoleh dari media atau teknik promosi tertentu.  indeks-indeks ROMI dapat digunakan untuk meramalkan perubahan- perubahan anggaran pemasaran terhadap penjualan.  Marketing ROI dapat digunakan untuk memprediksi tingkat pengembalian dari investasi dalam bidang pemasaran. indeks ROMI biasa dihitung sebagai berikut: indeks ROMI = Penjualan/Penerimaan tambahan karena upaya/investasi pemasaran (Rp) / Pengeluaran Pemasaran. selanjutnya indeks marjin ROMI (mROMI) dapat dihitung sebagai berikut: indeks mROMI = ROMI x Contribution Margin (%) untuk perhitungan Marketing ROI adalah sebagai berikut: Marketing ROI = (indeks mROMI-1,00)x100% Contoh : 48
  49. 49. Variabel Teknik Promosi 1 Teknik Promosi 2 Pertambahan Penjualan 250 juta 70 juta Biaya Tambahan 50 juta 20 juta Contribution Margin 30% 50% Hitung indeks ROMI, indeks mROMI dan Marketing ROI untuk kedua teknik promosi diatas. Teknik promosi mana yang memiliki Marketing ROI lebih baik? Teknik Promosi 1: indeks ROMI = 250 juta/ 50 juta = 5,0 indeks mROMI = 5,0 x 30% = 1,50 Marketing ROMI = (1,50-1,00)x 100% = 50% Teknik Promosi 2: indeks ROMI = 70 juta/ 20 juta = 3,5 indeks mROMI = 3,5 x 50% = 1,75 Marketing ROMI = (1,75-1,00)x 100% = 75% Berdasarkan marketing ROI, diketahui teknik promosi 2 lebih baik dari pada teknik promosi 1, karena setiap rupiah yang diinvestasikan dalam teknik promosi 2, memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp. 3,5 dan tingkat pengembalian sebesar Rp. 1,75 atau 75% dalam bentuk marketing ROI. dibandingkan Teknik Promosi 1 hanya sekitar 75%.54. First Pass Yield (FPY) First Pass Yield adalah hasil bebas cacat pertama kali tanpa dikerjakan ulang. Jika: A : jumlah barang/jasa yang berhasil dihasilkan dari proses kita tanpa sama sekali kerja ulang (rework) B : jumlah barang/jasa yang dihasilkan dari proses kita dengan minimal satu kali rework C : jumlah barang/jasa yang di reject. Maka: 49
  50. 50. n = jumlah total barang/jasa yang diproses = A+B+C Yield = (A+B)/n Dan, yang disebut First Pass Yield (FPY) = A/n Contoh: Diketahui Nilai Jumlah Barang/Jasa yang dihasilkan tanpa cacat/gagal (A) 2500 Jumlah Barang/Jasa yang dihasilkan dengan pengerjaan 256 ulang/Perbaikan (B) Jumlah Barang/Jasa yang ditolak (Reject) dan tidak dapat dikerja 56 ulang (C) n = 2500+256+56 = 2.812 FPY = 2500/2.812 = 0.88955. Rework Level PT.Ikhwanseadanya harus melakukan Rework (Pengerjaan Ulang) terhadap produk yang telah dihasilkan sebanyak 500 unit Kalkulator. Tenaga Kerja yang di lembur-kan untuk mengerjakan Rework sebanyak 10 orang. Menurut Perhitungan Process Engineer, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework adalah 5 menit per unit. Berapakah Waktu Kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework tersebut ? Penyelesaiannya : Diketahui : ST (Standard Time) = 5 menit Tenaga Kerja = 10 orang Target Output = 500 unit Dicari : Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework? Waktu Kerja = (ST x Output) / Tenaga Kerja Waktu Kerja = (5 menit x 500) / 10 orang Waktu Kerja = 250 menit Maka berdasarkan perhitungan diatas, Untuk menyelesaikan Rework tersebut PT. Ikhwanseadanya memerlukan waktu kerja sebanyak 250 menit. 50
  51. 51. 56. Quantity Index Menunjukkan perubahan kuantitas (misalnya volume penjualan, jumlah produksi, dsb.) dari satu periode ke periode lain. Indeks Kuantitas = (Qn/Q0) * 100% Keterangan: Qn : jumlah produk pada tahun ke-n. Q0 : jumlah produk pada tahun dasar. Contoh: Tahun Jumlah produk (Q) o: 1981 (th. dasar) 200 n: 1986 250 Indeks Kuantitas = (Qn/Q0) * 100% = (250/200)*100% = 125%57. Overall Equipment Effectiveness (OEE) Metode pengukuran yang berfungsi untuk mengetahui efektifitas penggunaan dan pemanfaatan mesin, peralatan, waktu serta material dalam sebuah sistem operasi di industri menufaktur OEE = Avilability X Performance X Quality Dimana : Availability = Waktu Operasi / Waktu Produksi yang direncanakan Performance = (Standard Cycle Time x Total Pieces)/Operating Time Quality = First Past Yield (%) Pieces / Total Pieces Contoh : Diketahui Nilai Availability Jadwal Operasi Mesin 8 Jam (480 Menit) Istirahat 30 Menit Downtime 60 Menit Waktu Jadwal 480-30 = 450 (Menit) 51
  52. 52. Realisasi Waktu 450-60=390 (Menit) Availability (A) =390/450=0.867 =86,7% Performance Produksi Unit/Jam =40 (unit)/60 (menit) =1,5 menit/unit Prosuksi Mesin per shiftnya. 242 unit Waktu Produksi = 242/1.5 = 363 menit Performance (P) = 363/390 = 0.931 = 93,1% Quality Produksi Mesin untuk barang 230 unit berkualitas baik pertama kali (FYP) Quality (Q) = 230/242 = 0.950 = 95% OEE (AxPxQ) = 86,7 x 93,1 x 95 Sekiranya, kita perlu membanding, maka saya perkenalkan nilai OEE standar World Class Manufacturing sebagai berikut.:  Availability = 90,0%  Performance = 95,0%  Quality = 99,9%  OEE = 85,0%58. Process Or Machine Downtime Level Kita semua tahu bahwa hanya dengan satu menit dari downtime dapat berarti kehilangan produktivitas, kehilangan keuntungan, limbah meningkat, keselamatan dikompromikan dan reputasi rusak. Tapi solusi Proses sementara otomatisasi berbuat banyak untuk mempercepat, mengoptimalkan dan melindungi proses manufaktur, perangkat lunak itu sendiri harus dilindungi dari downtime atau kehilangan. Untuk itu banyak perusahaan khususnya perusahaan manufaktur menjadikan downtime sebagai sebuah KPI, sehingga perhatian terhadap masalah downtime ini menjadi sangat serius oleh sebuah unit kerja. indikator yang digunakan disebut Downtime Level baik untuk pengukuran proses kerja maupun mesin. Downtime Level mengukur sejauh mana proses operasional tersedia dan berjalan. Downtime Level = (TA t / t PPT) x 100 52
  53. 53. dimana: T PPT adalah waktu produktif direncanakan bahwa proses harus tersedia dalam periode waktu t tertentu. TA t adalah waktu produktif yang sebenarnya yang telah tersedia dalam waktu t periode tertentu. Contoh: Downtime Level Diketahui Nilai Jadwal Operasi Mesin 8 Jam (480 Menit) Istirahat 30 Menit Downtime 60 Menit Waktu Jadwal 480-30 = 450 (Menit) Realisasi Waktu 450-60=390 (Menit) Downtime Level =390/450=0.867 =86,7%59. Process Cycle Efficiency Process Cycle Efficiency (PCE). Metode ini memudahkan untuk menentukan apakah proses yang dilakukan tersebut memiliki value-add. Untuk itu dimembutuhkan beberapa hal : 1. Memetakan proses 2. Mengidentifikasi langkah-langkah value-add, non value-add, dan langkah penting namun tergolong non value-add 3. Menstratakan maping sesuai point nomer 2 4. Tambahkan dimensi waktu pada langkah-langkah proses Setelah langkah-langkah tersebut selesai, maka dapat dengan mudah menghitung seberapa banyak persentasi dari value-add. Waktu dari keseluruhan proses disebut cycle time. Untuk mengidentifikasi PCE, cukup membagi waktu value-add time dengan cycle time. PCE = (value-add time / cycle time) x 100 Contoh: Berikut kami berikan contoh PCE pada suatu perusahaan manufaktur 53
  54. 54. Proses di atas memiliki cycle time 860 detik dan value-add time 182 detik. Maka setelah menghitung PCE dari proses keseluruhan bernilai 21%.dari hasil perhitungan (182.860)x 100 Dengan kata lain hanya 21% dari keseluruhan proses yang memberikan value-add kepada customer. Dengan penghitungan data PCE, sebuah perusahaan dapat meningkatkan persentase value-add mereka kepada customer dengan mengeliminasi atau mereduksi waste in waiting dalam proses mereka. Jika perusahaan melakukan cara ini maka perusahaan akan menjadi perusahaan yang mengutamakan kepentingan customer sehingga bukan tidak mungkin perusahaan akan mendapatkan order lebih banyak lagi.60. First Contact Resolution (FCR) Dalam Customer Relationship Management (CRM), resolusi panggilan pertama adalah menangani masalah pelanggan saat meminta bantuan untuk pertama kali, sehingga menghilangkan kebutuhan bagi pelanggan untuk menindaklanjuti dengan panggilan kedua. Waktu bicara (waktu rata-rata agen 54
  55. 55. menghabiskan pada setiap panggilan) adalah kinerja FCR. Secara umum,rata-rata bicara untuk setiap panggilan pertama tinggi tanda bahwa panggilanpelanggan tidak dijawab dengan memuaskan.Manajer call center biasanya dengan hati-hati memonitor tindak lanjutpanggilan karena selain menjadi indikasi ketidakpuasan pelanggan, tindaklanjut panggilan membuat volume panggilan meningkat secara keseluruhanyang, dan pada gilirannya akan memerlukan lebih banyak agen. 55
  56. 56. perspektifkaryawan 56
  57. 57. 61. Human Capital Value Added (HCVA) Rasio dari VA terhadap HC. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi:  Output (OUT) : Total penjualan dan pendapatan lain.  Input (IN) : Beban dan biaya-biaya (selain beban karyawan).  Value Added (VA) : Selisih antara Output dan Input VA = OUT – IN Rasio dari VA terhadap HC. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi:  Human Capital (HC) : Jumlah karyawan. HCVA = VA/HC62. Revenue Per Employee (RPE) Sebuah rasio penting yang terlihat pada penjualan sebuah perusahaan dalam kaitannya dengan jumlah karyawan yang mereka miliki. Hal ini dihitung sebagai: RPE = Pendapatan Sebelum Pajak (EBIT)/Jumlah Karyawan Rasio ini sangat berguna bila dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama. Idealnya, sebuah perusahaan ingin pendapatan tertinggi per karyawan mungkin, karena itu menandakan produktivitas yang lebih tinggi. Contoh : Tahun EBIT Jumlah Karyawan RPE A B C B/C 2009 200.000.000 156 1.282.051 2010 240.000.000 150 1.600.000 2011 360.000.000 210 1.714.285 57
  58. 58. Dari data diatas dapat diketahui bahwa pendapatan tiap karyawan selama tahun 2009 sampai dengan 2011 mengalami kenaikan.63. Employee Satisfaction Index Kesuksesan suatu organisasi akan sangat tergantung pada pengetahuan, keterampilan, kreativitas, motivasi dan latar belakang dari organisasi tersebut. Menghargai karyawan dan menjamin bahwa karyawan itu puas bekerja dalam perusahaan adalah sangat penting. Untuk itu banyak perusahaan yang menjadikan Employee satisfaction index sebagai alat ukur prestasi perusahaan dalam mengelola Sumber Daya Manusianya.64. Employee Engagement Level Employee Engagement amat penting diterapkan didalam organisasi jasa, karena organisasi jasa memiliki hubungan people to people yang harus diimbangi dengan kualitas SDM yang unggul. DDI (Development Dimension International) sebagai konsultan Manajemen Sumber Daya Manusia terbesar di dunia pada tahun 2009 menyatakan membangun keunggulan bersaing melalui inovasi produk saat ini sudah mulai ditinggalkan karena mereka menyadari betapa mudahnya meniru sebuah produk yang biaya R&D nya tidak sedikit. Susanto (2004) beranggapan bahwa memilih jalan yang efisien dan efektif dalam memenangkan persaingan di industri jasa menjadi impian banyak pengusaha saat ini. Salah satu alternatif adalah dengan mengimplementasikan employee engagement, dimana sebuah keunggulan bersaing diterapkan melalui SDM yang unggul dalam melayani konsumen. McBain (2007) menyatakan bahwa employee engagement berdampak bagi organisasi dalam hal penciptaan hasil yang berhubungan dengan konsumen (customer related outcomes) seperti peningkatan layanan, kepuasan dan loyalitas konsumen. Institute of Employee Studies (2004) mendefinisikan employee engagement adalah suatu sikap positif dari karyawan terhadap organisasi tempat dirinya bekerja. Karyawan yang “terpacu” akan peduli dan rasa memiliki atau mengabdikan diri terhadap bisnis organisasi secara maksimal dan bekerja secara tim untuk meningkatkan performansi bagi organisasi. Benthal melalui DDI (2005) mengartikan employee engagement adalah suatu keadaan dimana manusia merasa dirinya menemukan arti diri secara utuh, memiliki motivasi dalam bekerja, mampu menerima dukungan dari orang lain 58
  59. 59. secara positif, dan mampu bekerja secara efektif dan efisien di lingkungan kerjanya.65. Overall Labour Efectiveness (OLE) Overall Labour Efectiveness (Efektifitas Tenaga Kerja Keseluruhan) adalah indikator tenga kunci (KPI) untuk mengukur utilitas, kinerja dan kualitas ternaga kerja beserta dampaknya terhadap produktifitas. Mirip dengan Efektifitas Peralatan Keseluruhan (Overall Equipment Effectiveness = OEE), OLE mengukur ketersediaan (Availability), Kinerja (Performance) dan Kualitas (Quality).  Ketersediaan (Availability) adalah persentase waktu yang dihabiskan karyawan dalam memberikan kontribusi efektif.  Kinerja (Performance) adalah jumlah produk yang disediakan.  Kualitas (Quality) adalah persentase produk tanpa cacat (sempurna) yang diproduksi dan dapat dijual. OLE membantu produsen untuk memahami kesaling ketergantungan dan trade off produktifitas di lantai pabrik dan profitabilitas melalui mengukur kontribusi tenaga kerja. OLE = Availability x Performance x Quality Contoh : Misalkan ada seorang karyawan memiliki standar pekerjan sebagai berikut: Satu minggu harus bekerja selam 40 jam produktif, menghasilkan 200 unit output dengan tingkat kualitas bebas cacat (zero defect) Selama waktu satu minggu, diakukan pengukurn terhadap kinerja budi, dan memberikan data actual sebagai berikut:  Dalam 1 minggu, budi hanya bekerja 35 jam (5 jam absen), Availability = 35/40 = 0,875 = 87,5%  Output yang dihasilkan oleh budi dari 35 jam bekerja itu 150 unit produk, Performance = Aktual/Standar = 150/200 = 0,750 atau 75%  Dari 150 produk yang dihasilkan, terdapat cacat/rework 10 unit, Quality = (150-10)/150 = 0,933 atau 93,3%  Maka OLE = A x P x Q = 0,875 x 0,750 x 0,933 = 0, 6123 atau 61,23% Dari perhitungan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Budi hanya mempu mengkonversi 61,23% potensinya untuk menjadi output yang menguntungkan bagi perusahaan. 59
  60. 60. 66. Staff Advocacy Score Staff Advocacy Score adalah ukuran sejauh mana karyawan pendukung bisnis. Hal ini dapat diukur dengan menanyakan pertanyaan sederhana: "Seberapa besar kemungkinan bahwa Anda akan merekomendasikan perusahaan ini sebagai tempat yang baik untuk bekerja kepada teman?" Indikator ini biasanya sudah termasuk dalam salah satu pertanyaan dalam Survey Kepuasan Karyawan.67. Employee Turnover Rate Dalam sebuah perusahaan sumber daya menusia merupakan hal yang paling utama, untuk itu menjadi sangat penting untuk menjaga/mengendalikan tingkat turn over karyawan.Jika setiap tahun banyak pegawai yang keluar, maka akan ada biaya yang tinggi untuk melakukan rekrutmen. Selain itu perlu juga ada biaya untuk training, proses adaptasi, dan pengembangan kompetensi para pegawai baru. Employee Turn Over = Jml Karyawan Keluar periode tertentu/jumlah karyawan pada awal periode tertentu. Contoh: Jumlah karyawan yang keluar dalam periode Januari s/d Desember 2011; kemudian dibandingkan jumlah karyawan pada bulan Januari. Jadi misalnya, jumlah karyawan yang keluar sepanjang periode Januari – Desember 2011 ada 20 orang. Sementara jumlah karyawan pada bulan Januari 2011 adalah 800 karyawan. Jadi angka persentase turn overnya adalah : 20/800 = 0,025 atau kalau di-persentasekan menjadi 2,5 %. Jika angka turn over diatas 10 % maka itu tergolong sangat tinggi. Pada sisi lain, ada beberapa industri tertentu yang angka turn over-nya cenderung lebih tinggi, dibanding industri lainnya. Misalnya industri retail, angka turn over pegawainya cenderung relatif lebih tinggi dibanding industri lainnya.68. Average Employee Tenure (Rata-Rata Masa Jabatan Karyawan) Average Employee Tenure adalah indikator yang mengunjukkan seberapa besar tingkat loyalitas karyawan dalam sebuah perusahaan.Semakin tinggi nilai dari rata-rata masa jabatan karyawan maka akan semakin baik. Indikator 60
  61. 61. ini juga menunjukkan seberapa besar pemborosan dalam perekrutan karyawan. Average Employee Tenure = Total masa kerja seluruh staff /Total Staff Contoh: No Nama Karyawan Masa Kerja 1 Karyawan A 5 2 Karyawan B 3 3 Karyawan C 7 4 Karyawan D 2 5 Karyawan E 5 6 Karyawan F 5 7 Karyawan G 7 8 Karyawan H 1 Total Masa Kerja Karyawan 35 Jadi Average Employee Tenure = 35/8 = 3,475 Indikator ini juga dapat menjadi pertimbangan kinerja dari efektifitas dari kegiatan perekrutan karyawan oleh Bagian HRD.69. Absenteeism Bradford Factor KPI ini mencoba mengukur tingkat kehadiran karyawan; dimana angka targetnya adalah sebaiknya 100 %. Artinya tidak ada karyawan yang mangkir dan tidak masuk tanpa alasan. S = jumlah kesempatan ketidakhadiran dalam 52 minggu terakhir D = jumlah hari absen dalam 52 minggu terakhir Contoh: Karyawan A Memiliki 9 sickdays dalam setahun, 4 adalah absen hari dan 5 berada dalam blok. S = 1 (1) + 1 (1) + 1 (1) + 1 (1) + 1 (5) = 5 D=1+1+1+1+5=9 skor = 5 x 5 x 9 = 225 61

×