Your SlideShare is downloading. ×
Sejarah singkat pulau tidung
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Sejarah singkat pulau tidung

1,075
views

Published on


0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,075
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Sejarah Singkat Pulau Tidung Pulau Tidung diambil dari nama tempat yang ada di daerah Kalimantan Timur desa malinau yaitu "tana tidung" diambilnya nama "tidung" karena yang memberi nama adalah seorang Raja dari suku Tidung yang diusir oleh kolonial belanda karena tidak mau diajak kerjasama. nama dari Raja tersebut adalah Raja Pandita alias Kaca alias Sapu. setelah diusir dari tanah tidung Raja Pandita melanglang buana sampai ke Jepara lalu beliau hijrah hingga akhirnya sampai di sebuah pulau yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Tidung.Dari sekian ratus Tahun masyarakat Pulau Tidung tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa RajaPandita adalah seorang Raja dari Kalimantan Timur karena selama beliau singgah di Pulau Tidung beliau tidakpernah membawa gelarnya sebagai raja beliau hanya dikenal dengan sebutan "Kaca". Sampai meninggalnyapun Kaca hanya dikenal sebagai masyarakat biasa yang tidak beda dengan masyarakat lainnya.Pada suatu hari datanglah sekelompok keluarga Raja Pandita dari Kalimantan dan mencari tahu tentang pulauini mengapa bernama Pulau Tidung? singkat cerita keluarga Raja Pandita dari Kaltim bertemu dengan keluargaKaca di Pulau Tidung ketika keluarga Raja Pandita Bertanya kepada keluarga Kaca dan ternyata menurutkelurga Raja Pandita bahwa Kaca adalah nama kecil Raja Pandita sebelum diangkat dari Raja. dan akhirnyakeduanya mengambil kesimpulan bahwa nama Pulau Tidung di beri nama dari Raja Pandita yang berasal daritanah tidung Kalimantan Timur.Pesisir PantaiNotion, Moan, Story« Hah! Sudah Tujuh Tahun!Jembatan Cinta Tidung yang Babak Belur »Haji Dja’far Arsy, “Ajimat” Pulau Tidung [Bagian Satu] Panglima Hitam, Sultan Banten, dan Pulau TidungAlamsyah M. Dja’far
  • 2. Di pertemuan terakhir kami, suatu malam menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun lalu, tepatnya9 September 2010, usianya sudah 80 tahun. Kondisi tubuhnya tampak makin lemah dansering sakit-sakitan digerogoti usia. Pendengarannya juga sudah sedikit berkurang. Namun,ingatannya tak bisa dibilang tumpul. Dalam obrolan santai kami malam itu di teras rumahsalah seorang kemenakannya di Pulau Tidung yang diselingi suara takbiran dari pengerassuara masjid, jelas sekali ia masih mengingat baik waktu dan peristiwa penting dalam babak-babak sejarah hidupnya. Mendengar banyak kisah yang diceritakan, lelaki yang punya hobimusik gambus ini sungguh sumber sejarah penting melihat denyut perubahan di pulau seluas50-an hektar ini, sejak era pendudukan Belanda hingga era dimana Pulau Tidung jadi tujuanwisata terfavorit di Jakarta. Bagi saya, ia ―ajimat‖ Pulau seluas 50 hektar yang kini dihuni4000 jiwa itu yang masih tersisa.Nama lengkapnya Muhammad Dja’far Arsy. Orang Pulau Tidung biasa memanggilnya HajiDja’far Arsy. Gelar haji yang disandang Dja’far Arsy disematkan usai menunaikan rukunkelima itu tahun 1987. ―Ongkos haji saat itu Rp 5.7 juta,‖ kenangnya.Saat saya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, orang Pulau memangmemanggilnya dengan lengkap: ―Haji Dja’far Arsy‖. Sebab jika hanya ―Dja’far‖, bisa bikinbingung. Dja’far mana? Di Pulau ada dua nama ―Dja’far‖. Selain Haji Dja’far Arsy, adaMuhammad Dja’far HF, yang tak lain Bapak saya. ―HF‖ akronim dari Haji Fathullah, kakeksaya. Dari segi usia, keduanya masih sezaman. Bapak saya lahir pada 1934, selisih tiga tahundengan Haji Dja’far Arsy. Pada tahun 40-an, kedunya sama-sama mengenyam pendidikanpesantren yang sama di Jakarta. Bapak sayaa meninggal tahun 1997 di Mekkah saat pergihaji.Haji Dja’far Arsy lahir pada tahun 1930. Arsy, nama bapaknya. Ibunya bernama Fatimah.Kakek dari jalur bapak bernama Haji Hamidun asal Banjar Kalimantan. Dari jalur ibu,kakeknya bernama Zaidan dari suku Mandar Pambusuang, sebuah desa yang sekarang inimasuk Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Desa itu dikenalsebagai salah satu sentra produksi perahu sandeq yang terkenal, perahu bercadik denganmodel yang ujungnya lancip dan biasanya dicat warna putih.Bagi ―orang-orang dulu‖, Haji Midun dan Zaidan dikenal sebagai saudagar sukses baik hatiyang memiliki banyak tanah. Tak heran Haji Djafar Arsy seringkali menjadi sumber rujukanuntuk melihat asal-asal sebagian tanah di kampung kami. Sebab tanah-tanah itu umumnyamilik keluarganya yang lalu berpindah tangan karena jual beli atau hibah.Jika ditarik ke atas, asal-usul kakek Haji Dja’far Arsy dari jalur bapak berasal dari Malaysia.Salah satunya yang dipanggil ―Panglima Hitam‖. Menurut cerita yang didengar dari bapakdan kakeknya, tokoh legendaris itu datang ke Pulau ini menggondol tujuan menumpas paralamun alias bajak laut yang biasa beroperasi di Selat Malaka. Panglima Hitam adalah sebuahsebutan untuk jabatan atau posisi semacam panggilan jenderal saat ini yang memiliki anakbuah atau prajut. Karenanya Panglima Hitam ini sesungguhnya tak hanya seorang.Kisah itu masuk akal. Sebab dalam The Malay art of self-defense : silat seni gayong yangditulis Sheikh Shamsudddin tahun 2005, dijelaskan jika Panglima Hitam juga merupakanpanggilan untuk Daeng Kuning, seorang Raja Bugis tersohor di Sulawesi. Tokoh ini dikenalsebagai salah satu keturunan dari Keluarga yang sebut ―Pahlawan Gayong‖, keluargapendekar ternama di kalangan masyarakat Makassar, Siak, dan Riau. Gayong sendiri tradisipencak silat yang konon diwariskan oleh legenda Hang Tuah.
  • 3. Pada 1800-an, Daeng Kuning pergi ke Malaysia demi mendapatkan penghidupan yang layakbersama beberapa saudaranya: Daeng Jalak,Daeng Celak, Daeng Merawak, DaengMempawah, Daeng Telani, dan Daeng Pelonggi. Setelah itu mereka berpisah.Daeng Kuning akhirnya menetap di Kuala Larut, kini dikenal sebagai Air Kuning, Taiping,Perak, Malaysia. Pada 17 Agustus 1875 ia meninggal dan dikubur di sana. Datuk Meor AbdulRahman, mahaguru Silat Seni Gayong Malaysia, salah seorang keturunan Daeng Kuning ini.Sumber lain menyebutkan. Selain Daeng Kuning, nama Panglima Hitam juga disematkan diantaranya kepada Daeng Ali yang dikenal sebagai pengawal pribadi Sultan Abdul Samad,Sultan Selangor keempat. Di Muar ada orang yang sebut juga Panglima Hitam. Namanya,Zahiruddin asal Padang Pariaman, Sumatera. Zahirudin dikenal sebagai pendiri Silat Lintaudi abad ke-16.Singkatnya, Panglima Hitam merupakan sebutan untuk mereka yang dianggap sebagaipendekar dan memiliki sifat berani dan setia kepada raja dan negara. Di Malaysia, PanglimaHitam diabadikan menjadi nama Pasukan Khas Laut (Paskal)Tentara Laut Diraja Malaysia(TLDM), yaitu Kapal Diraja (KD) Panglima Hitam.Nah, salah satu keturunan Haji Dja’far Arsy yang disebut sebagai Panglima Hitam itubernama Turu asal Sulawesi. Entah dari jalur Panglima Hitam yang mana. Sebagai bentukpenghormatan, orang pulau biasanya menambahkan panggilan ―Nek‖ di depannya: Nek Turu.Nek Turu beristerikan perempuan bernama Arma. Mereka memiliki anak di antaranyabernama Raisah dan Hamidun. Nama terakhir adalah kakek Haji Dja’far Arsy dari jalurBapak.Sementara itu, dari jalur ibu, silsilah Haji Dja’far Arsy konon sampai pada Sultan AbdulKahar, seorang raja Banten. Dari silsilah penguasa Banten yang tercantum di berbagaisumber yang ada –salah satunya karya indonesianis asal Monash University, Australia, MerleCalvin Ricklefs: Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 —nama Abdul Kahar tercatat sebagaipenguasa Banten pada tahun 1682-1687, putera Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa pada1651-1680. Nama lengkap penguasa yang juga disebut Sultan Haji ini: Abu Nasr AbdulKahhar. Pergantian kekuasaan di masanya diwarnai perang anak-bapak.Penyebabnya, kebijakan Sultan Haji yang berusaha menjalin kerjasama dengan perusahandagang Belanda VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ditentangnya sang ayah, SultanAgeng Tirtayasa. Sultan Ageng yang disebut juga sebagai ―Sultan Tua‖ itu dikenal sebagaimusuh tangguh Belanda. Pertentangan itu memuncak dalam konflik berkepanjangan. Untukmelawan sang ayah, ―Sultan Muda‖ meminta dukungan VOC. VOC mau membantu dengansyarat. Di antaranya, para budak pelarian dan para desertir yang ada di Banten dan dilindungidi sana dikembalikan ke Batavia meski sebagian mereka sudah masuk Islam. Syarat lainnya,para lanun harus dihukum; Eropa saingan VOC seperti Inggris harus diusir dari PelabuhanBanten; termasuk syarat adanya jaminan tak ada gangguan hubungan Batavia dan Mataram.Meski berpotensi menimbulkan masalah baru, syarat itu akhirnya ditandatangani pada 1682.Posisi Sultan Haji saat itu memang lemah karena tak didukung elis muslim yang masih loyaldengan sang ayah.Dengan kekuatan VOC yang dipimpin François Tack and Isaac de Saint-Martin, Sultan Hajiberhasil diselamatkan saat ia tengah dikepung di istananya oleh para pendukung ayahnya.
  • 4. VOC kemudian mengakuinya sebagai sultan. Sultan Ageng lantas diusir VOC darikediamannya ke pedesaan dan pada akhirnya menyerah pada 1683.Berdasarkan sejarah ini, rasanya masuk akal pula jika anak keturunan Abdul Kahar ―mampir‖atau menetap di Pulau Tidung. Alasannya, VOC yang memiliki kapal-kapal yang bersandardi pelabuhan Jakarta dan pulau-pulau terdekat memungkinkan adanya ―orang-orang‖ SultanHaji ke Pulau Tidung. Bagaimana kisah rincinya sampai saat ini masih gelap.Di antara keturanan Abdul Kahar yang tinggal di Pulau Tiudng adalah Lidin dan Jamad.Jamad sendiri memiliki anak bernama Kamis yang lalu punya anak bernama Karim. Kari mini lalu memiliki anak bernama Zaidan, kakek Haji Dja’far Arsy dari jalur ibu.Kembali ke Nek Turu. Tokoh legendaries itu menurut Haji Dja’far Arsy meninggal sebelumGunung Krakatau meletus pada 1883. Itu berarti sebelum bencana yang mengakibatkan36.417 orang tewas, menimbulkan gelombang pasang setinggi lebih dari 30 meter danmerusak pulau-pulau di Selat Sunda serta sepanjang pantai Lampung Selatan dan Jawa Baratitu, Pulau Tidung sudah dihuni manusia.―Ada yang selamat dari bencana letusan Krakatau?,‖ tanya saya penasaran. Menurut HajiDja’far Arsy, sebagian penduduk pulau ada yang selamat. Di antara mereka selamat dengancara naik ke atas pohon kelapa. Tapi, saya masih bertanya-tanya, dengan ketinggiangelombang lebih dari 30 meter dan dahsyatnya daya rusak letusan Krakatau, mungkinkahmereka masih bisa menyelematkan diri? Menurut ahli, ledakan Krakatau kala itu 21.574 kalilipat lebih dahsyat dari bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945.Nek Turu sendiri dimakamkan di ujung Pulau Tidung Kecil, pulau seluas 20 hektar. Sekarangmakam itu sudah dipugar plus dengan bangunan komplek pemakamannya. Lokasi ini ramaidikunjungi para wisatawan yang datang berlibur ke Pulau Tidung.Kisah penemuan makam itu unik. Mulanya ada sepasang suami isteri asal Jakarta yangberdinas di Pulau Tidung suatu ketika tengah mandi laut di bagian timur ujung Pulau Tidungkecil. Usai mandi mereka naik ke daratan, lantas menyusuri pantai. Saat itu salah seorang diantara mereka melihat laki-laki tua, yang tiba-tiba menghilang ke dalam hutan. Padahalseperti biasanya pulau tak berpenghuni itu sedari tadi sepi.Dari mulut ke mulut kisah itu kemudian sampai ke telinga Haji Ja’far Arsy. Iapun sempatbercerita kepada orang dari Jakarta itu jika di sana memang ada makam nenek moyangnya.Informasi inilah yang kemudian mendorong muncul ide pemugaran. Orang Jakarta itu lantasmeminta bantuan ―orang pintar‖ yang didatangkan dari Banten agar menemukan lokasipekuburan yang sudah puluhan tahun ―menghilang‖.Dalam proses pencarian itu, Haji Dja’far juga terlibat. ―Tapi, tak ketemu di mana letakpersisnya,‖ katanya. Posisi kuburan yang sekarang adalah hasil ―terawangan‖ orang pintarasal Banten tadi. Haji Dja’far sendiri tak yakin kalau posisi itu lokasi yang benar. Ketika iamasih beberapa tahun, ia mengaku sempat melihat makam nenek moyangnya itu.[]