Your SlideShare is downloading. ×
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani

10,134

Published on

Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani. Semoga berguna.

Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Unjani. Semoga berguna.

Published in: Education
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
10,134
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
216
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK DAN INSTRUMENTASI Laporan Ini Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Kimia Dasar Oleh : Kelompok X 1" XXXX 26131XXXXX 2" XXXX 26131XXXXX 3" XXXX 26131XXXXX 4" XXXX 26131XXXXX 5" XXXX 26131XXXXX
  • 2. LABORATORIUM KIMIA DAN KOROSI JURUSAN TEKNIK METALURGI UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI BANDUNG 201X Laporan Akhir Praktikum Kimia DasarPage 2
  • 3. KATA PENGANTAR Alhamdulillahhi rabbil’alamin. Puji senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Suci, syukur kita panjatkan kepada Allah Yang Maha Ghofur, Yang Maha Pengasih tanpa pilih kasih, Maha Penyayang tanpa pandang sayang. Yang karena limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya lah sehingga penulis mampu menyelesaikan praktikum kimia dasar berikut penyusunan tugas laporan akhir praktikum kimia dasar dengan lancar. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu berpesan kepada umatnya untuk selalu mencari ilmu dan menerapkannya, sekalipun harus di cari hingga negri Cina. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus di penuhi oleh mahasiswa yang telah melaksanakan praktikum kimia dasar. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan, mengingat keterbatasan waktu dan penguasaan materi dari penulis. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar menjadi bahan acuan bagi penulis dalam penyusunan laporan atau karya tulis yang lain dimasa yang akan datang. Semoga amal baik dari bapak/ibu dan saudara/i sekalian mendapat balasan pahala yang setimpal dari Allah SWT, dan semoga laporan ini bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca. Amin. Bandung, Desember 201x Penyusun DAFTAR ISI Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 4. KATA PENGANTAR......................................................................................i DAFTAR ISI....................................................................................................ii DAFTAR TABEL............................................................................................v DAFTAR GAMBAR.......................................................................................vi BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1 1.1; Latar Belakang.....................................................................................1 1.2; Teori Dasar Pembuatan Larutan dan Pelapisan...................................1 1.3; Maksud dan Tujuan.............................................................................3 1.4; Sistematika Penulisan..........................................................................4 BAB II PEMBUATAN LARUTAN...............................................................5 2.1 Tujuan..................................................................................................5 2.2 Teori Dasar..........................................................................................5 2.3 Skema Proses.......................................................................................7 2.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................7 2.5 Gambar Skema Proses.........................................................................8 2.6 Alat dan Bahan....................................................................................10 2.7 Data Pengamatan.................................................................................10 2.8 Perhitungan..........................................................................................10 2.9 Reaksi..................................................................................................12 2.10Analisa (Pembahasan).........................................................................12 2.11 Kesimpulan.........................................................................................13 BAB III PENGUKURAN pH........................................................................14 3.1 Tujuan..................................................................................................14 3.2 Teori Dasar..........................................................................................14 3.3 Skema Proses.......................................................................................15 3.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................16 3.5 Gambar Skema Proses.........................................................................16 3.6 Alat dan Bahan....................................................................................18 3.7 Data Pengamatan.................................................................................18 3.8 Perhitungan..........................................................................................19 3.9 Analisa (Pembahasan).........................................................................20 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 5. 3.10Kesimpulan..........................................................................................21 BAB IV PERSIAPAN PERMUKAAN LOGAM.........................................22 4.1 Tujuan..................................................................................................22 4.2 Teori Dasar..........................................................................................22 4.3 Skema Proses.......................................................................................24 4.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................24 4.5 Gambar Skema Proses.........................................................................24 4.6 Alat dan Bahan....................................................................................25 4.7 Data Pengamatan.................................................................................27 4.8 Perhitungan..........................................................................................27 4.9 Reaksi..................................................................................................29 4.10Analisa (Pembahasan).........................................................................29 4.11 Kesimpulan.........................................................................................30 BAB V PELAPISAN TEMBAGA.................................................................31 5.1 Tujuan..................................................................................................31 5.2 Teori Dasar..........................................................................................31 5.3 Skema Proses.......................................................................................33 5.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................34 5.5 Gambar Skema Proses.........................................................................35 5.6 Alat dan Bahan....................................................................................36 5.7 Data Pengamatan.................................................................................36 5.8 Perhitungan..........................................................................................36 5.9 Analisa (Pembahasan).........................................................................39 5.10Kesimpulan..........................................................................................39 BAB VI PELAPISAN SENG.........................................................................40 6.1 Tujuan..................................................................................................40 6.2 Teori Dasar..........................................................................................40 6.3 Skema Proses.......................................................................................44 6.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................44 6.5 Gambar Skema Proses.........................................................................45 6.6 Alat dan Bahan....................................................................................46 6.7 Data Pengamatan.................................................................................46 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 6. 6.8 Perhitungan..........................................................................................47 6.9 Analisa(Pembahasan)..........................................................................48 6.10Kesimpulan..........................................................................................49 BAB VII ANODISASI ALUMINIUM...........................................................50 7.1 Tujuan..................................................................................................50 7.2 Teori Dasar..........................................................................................50 7.3 Skema Proses.......................................................................................53 7.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................53 7.5 Gambar Skema Proses.........................................................................54 7.6 Alat dan Bahan....................................................................................55 7.7 Data Pengamatan.................................................................................55 7.8 Perhitungan..........................................................................................56 7.9 Analisa (Pembahasan).........................................................................57 7.10Kesimpulan..........................................................................................57 BAB VIII PENYARINGAN AIR...................................................................59 8.1 Tujuan..................................................................................................59 8.2 Teori Dasar..........................................................................................59 8.3 Skema Proses.......................................................................................61 8.4 Penjelasan Skema Proses.....................................................................61 8.5 Gambar Skema Proses.........................................................................62 8.6 Alat dan Bahan....................................................................................63 8.7 Data Pengamatan.................................................................................63 8.8 Analisa (Pembahasan).........................................................................64 8.9 Kesimpulan..........................................................................................65 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................66 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Karakteristik NaOH..........................................................................6 Tabel 2.2 Pengamatan Pembuatan Larutan.......................................................10 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 7. Tabel 3.1 Pengamatan dengan Kertas lakmus..................................................18 Tabel 3.2 Pangamatan dengan Indikator universal...........................................18 Tabel 4.1 Pengamatan Sebelum Diamplas........................................................27 Tabel 4.2 Pengamatan Sesudah Diamplas........................................................27 Tabel 5.1 Pengamatan Palapisan Tembaga.......................................................36 Tabel 6.1 Pengamatan Pelapisan Seng..............................................................46 Tabel 7.1 Pengamatan Anodisasi Aluminium...................................................55 Tabel 8.1 Identitas Sampel................................................................................63 Tabel 8.2 Pengamatan Penyaringan Air I..........................................................63 Tabel 8.3 Pengamatan Penyaringan Air II........................................................63 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 8. DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Skema Proses Pembuatan Larutan................................................7 Gambar 2.2 Gambar Skema Proses 1...............................................................8 Gambar 3.1 Skema Proses Pengukuran pH......................................................15 Gambar 3.2 Gambar Skema Proses 2...............................................................17 Gambar 4.1 Korosi Sebagai Pengotor Material................................................23 Gambar 4.2 Skema Proses Persiapan Permukaan Logam................................24 Gambar 4.3 Gambar Skema Proses 3...............................................................26 Gambar 5.1 Skema Proses Pelapisan Tembaga................................................33 Gambar 5.2 Proses Pelapisan Tembaga............................................................34 Gambar 5.3 Gambar Skema Proses 4...............................................................35 Gambar 6.1 Skema Proses Pelapisan Seng.......................................................44 Gambar 6.2 Gambar Skema Proses 5...............................................................46 Gambar 7.1 Skema Proses Anodisasi Aluminium............................................53 Gambar 7.2 Gambar Skema Proses 6...............................................................55 Gambar 8.1 Skema Proses Penyaringan Air.....................................................61 Gambar 8.2 Gambar Skema Proses 7...............................................................62 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar i
  • 9. Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya praktikum Kimia analitik ini adalah pelapisan logam yang dimulai dari pembuatan pereaksi, pengecekan pH, persiapan permukaan logam dan pelapisan baik pelapisan tembaga (Cu) dan pelapisan seng (Zn) serta anodisasi aluminium dan ditambah dengan penyaringan air. Latar belakang kami menyusun makalah ini yaitu dikarenakan sangat menyadari akan pentingnya praktikum kimia dasar 1 khususnya tentang pelapisan ini. Dengan demikian pengetahuan kami tentang palapisan menjadi bertambah. Mudah-mudahan kelak dikemudian hari ilmu yang telah kami dapatkan dalam menyusun makalah ini dapat bermanfaat. 1.2 Teori Dasar Pembuatan Larutan dan Pelapisan Larutan adalah suatu zat homogen yang konsentrasinya disembarang tempat sama. Namun larutan ditentukan oleh zat terlarut yang dominan dan air merupakan zat pelarut yang sering digunakan. Tipe larutan ada beberapa macam namun yang paling umum adalah cairan dalam caira, gas dalam cairan dan padatan dalam padatan ; sedangkan jenis zat terlarut ada 2 macam, yaitu : larutan elektrolit dan larutan non elektrolit. pH adalah derajat keasaman yang didasarkan pada ion-ion yang terdapat dalam larutan tersebut : didasarkan atas pengukuran Daya Gerak Listrik (DGL) suatu sel Galvani Volta yang terdiri dari sebuah elektroda indikator (elektroda kaca) dengan elektroda pembanding. pH-meter adalah seperangkat alat pengukur potensial elektroda tanpa aliran arus dan sekaligus menguatkan sinyal yang ditimbulkan pada elektroda gelas dengan suatu tabung vakum elektrik. Proses persiapan permukaan dilakukan untuk menghilangkan kotoran pada permukaan logam baik itu lemak maupun karat. Proses persiapan permukaan logam terdiri dari : rinsing (pencucian spesimen dengan aquadest), degreasing Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 9
  • 10. Bab I Pendahuluan (pencucian spesimen dengan larutan basa) dan pickling (pencucian spesimen dengan larutan asam). Proses pelapisan termasuk kedalam reaksi elektrolisa, dimana reaksi elektrolisa dapat digambarkan dengan sel yang berisi garam cair dan hanya terdapat dua macam ion, yaitu : positif dan negatif, sehingga tidak ada pengaruh dari ion yang lain. Katoda dan anoda dicelupkan kedalam larutan tersebut dan diberikan sumber arus listrik searah sebagai sumber elektron. Dikatoda terjadi reaksi reduksi dan dianoda terjadi reaksi oksidasi. Adapun tujuan dari pelapisan logam ini antara lain: 1. Memperbaiki tampak rupa; 2. Melindungi logam dari korosi; 3. Meningkatkan ketahanan produk; 4. Memperbaiki kehalusan/bentuk permukaan dan toleransi logam dasar; 5. Membentuk benda kerja dengan cara pengendapan. Aluminium adalah logam lunak, liat dan mudah ditempa serta mempunyai sifat afinitas yang besar terhadap oksigen yang akan membentuk lapisan tipis, tetapi karena lapisan tipis yang terbentuk dialam ini tipis maka untuk memperbaikinya dilakukan proses anodisasi alumunium. Anodisasi alumunium adalah proses pembentukan oksida pada alumunium secara elektrolisa. Pada proses ini pori-pori pada alumunium lebih dibuka dimana untuk memudahkan alumunium bereaksi dengan oksigen sehingga dapat dengan mudah terbentuk lapisan yang tahan terhadap korosi. Proses anodisasi ini dipengaruhi beberapa faktor seperti rapat arus, jenis larutan elektroit, pH larutan, konsentrasi larutan, temperatur operasi, dan lain-lain. Sifat dasar lapisan antikorosi ini secara simultan memberikan tiga mekanisme perlindungan korosi, yaitu: 1. Pasifasi degradasi logam dengan mengontrol pelepasan inhibitor. 2. Menyangga perubahan pH pada daerah korosi oleh lapisan polielektronik. 3. Memperbaiki sendiri efek pada film (lapisan). Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 10
  • 11. Bab I Pendahuluan 1.3 Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini adalah untuk menunjang teori yang didapatkan di bangku kuliah sehingga dapat mengaplikasikannya. Tujuan utama praktikum ini: ; Mengenal alat dan bahan yang digunakan serta bagaimana cara menggunakannya ; Mengenal dan mengetahui material atau bahan yang digunakan dan kaitannya dengan perkembangan industri yang ada. ; Dengan melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui pentingnya praktikum ; Pada modul 1 mengenai Pembuatan Larutan, tujuannya untuk mengetahui cara pembuatan larutan kimia melalui analisa perhitungan sehingga diperoleh larutan kimia yang diinginkan. ; Pada modul 2 mengenai Pengukuran pH, tujuannya untuk mengukur pH suatu larutan dengan menggunakan indikator secara visual dan instrumental sehingga dapat mengetahui dapat mengetahui derajat keasaman suatu larutan. ; Pada modul 3 mengenai Persiapan Permukaan Logam, tujuannya untuk memperoleh logam yang halus dan bersih melalui proses persiapan logam, baik secara mekanis maupun kimia. ; Pada modul 4 mengenai Pelapisan Tembaga, tujuannya untuk melapisi logam dengan tujuan sebagai lapisan antara (dasar), lapisan dengan daya hantar dan arus listrik yang baik dan digunakan sebagai proses electroforming. ; Pada modul 5 mengenai Pelapisan Seng, tujuannya untuk menahan korosi, lapisan seng sebagai anoda karbon dan untuk memperindah permukaan. ; Pada modul 6 mengenai Anodisasi Alumunium, tujuannya untuk isolasi yang tahan karat terhadap korosi dalam lingkungan atmosfir dan air garam, tahan korosi serta adhesi terhadap cat juga agar lebih bersifat kedap. ; Pada modul 7 mengenai Penyaringan Air, tujuannya untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat didalam air, mengetahui bagaimana proses penyaringan air, juga untuk mendapatkan air murni yang berkualitas yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 11
  • 12. Bab I Pendahuluan 1.4 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini berisi latar belakang praktikum ini dilaksanakan,maksud dan tujuan praktikum ini dilaksanakan, dan sistematika penulisan didalam laporan ini. BAB II PEMBUATAN LARUTAN Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul satu ini. BAB III PENGUKURUN pH Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul dua ini. BAB IV PERSIAPAN PERMUKAAN Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul tiga ini. BAB V PELAPISAN TEMBAGA Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul empat ini. BAB VI PELAPISAN SENG Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul lima ini. BAB VII ANODISASI ALUMUNIUM Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul enam ini. BAB VIII PENYARINGAN AIR Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 12
  • 13. Bab II Pembuatan Larutan Pada bab ini berisi tentang teori-teori dan hasil pengamatan yang kami pelajari dan kami dapat selama praktikum pada modul tujuh ini.BAB II PEMBUATAN LARUTAN 2.1 Tujuan Untuk mengetahui cara pembuatan larutan kimia melalui perhitungan sehingga diperoleh larutan kimia yang diinginkan. 2.2 Teori Dasar Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu. Asam klorida merujuk pada larutan HCl dalam air, untuk senyawa HCl dalam keadaan murni (gas), lihat Hidrogen klorida Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif. Asam klorida pernah menjadi zat yang sangat penting dan sering digunakan dalam awal sejarahnya. Ia ditemukan oleh alkimiawan Persia Abu Musa Jabir bin Hayyan sekitar tahun 800. Senyawa ini digunakan sepanjang abad pertengahan oleh alkimiawan dalam pencariannya mencari batu filsuf, dan kemudian digunakan juga oleh ilmuwan Eropa termasuk Glauber, Priestley, and Davy dalam rangka membangun pengetahuan kimia modern. Sejak Revolusi Industri, senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan, meliputi produksi massal senyawa kimia Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 13
  • 14. Bab II Pembuatan Larutan organik seperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah, produksi gelatin, dan aditif makanan. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. Pada percobaan kali ini larutan yang digunakan sebagai larutan baku sekundere adalah NaOH. Larutan NaOH tergolong dalam larutan baku sekunder yang bersifat basa. Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. NaOH bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbondioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. NaOH juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. NaOH tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non polar lainnya. Tabel 1.1 karakteristik NaOH NaOH Nama sistematis Nama lain Rumus Molekul Natrium hidroksida Soda kaustik NaOH Densitas Titik leleh Titik didih Kelarutan dalam air Massa molar Penampilan Titik nyala 2,1 g/ cm3, padat 318oC (591 K) 1390oC (1663 K) 111 g/ 100 mL (20oC) 39,9971 g/mol zat padat putih tidak mudah terbakar Indikator asam basa sebagai zat penunjuk derajat keasaman kelarutan adalah senyawa organik dengan struktur rumit yang berubah warnanya bila pH larutan berubah. Indikator dapat pula digunakan untuk menetapkan pH dari suatu larutan. Indikator merupakan asam lemah atau basa lemah yang memiliki warna cukup tajam, hanya dengan beberapa tetes larutan encer-encernya, indikator dapat Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 14
  • 15. Bab II Pembuatan Larutan digunakan untuk menetapkan titik ekivalen dalam titrasi asam basa ataupun untuk menentukan tingkat keasaman larutan. 2.3 Skema Proses Gambar 2.1 Skema Proses Pembuatan Larutan 2.3.1 Penjelasan Skema Proses 1) Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk pembuatan larutan. 2) Menghitung berapa banyak NaOH, dan HCl yang akan dibuat menjadi larutan. 3) Melakukan proses pembuatan larutan dengan langkah-langkah yang telah ditentukan. 4) Menganalisa apa yang terjadi saat pembuatan larutan, lalu membahasnya. 5) Menyimpulkan sesuai dengan data yang didapat ketika praktikum. 2.3.2 Gambar Skema Proses Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 15
  • 16. Bab II Pembuatan Larutan Sampel Gambar 2.2 Gambar Skema Proses 1 2.4 Alat dan Bahan Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 16
  • 17. Bab II Pembuatan Larutan Alat : 1" Bahan pengaduk 6" Tissue 2" Botol semprot 7" Gelas ukur 3" Gelas kimia 8" Timbangan digital 4" Spatula 9" Kaca arloji 5" Corong pendek 10" Pipet tetes Bahan: 1" NaOH 15% 4" HCl 1M 2" NaOH 1M 5" Aquadest 3" HCl 5% 2.5 Data Pengamatan Tabel 2.1 Pengamatan Pembuatan Larutan Zat / larutan NaOH 15% NaOH 1M HCl 5% HCl 1M Warna Sebelum Sesudah dilarutkan dilarutkan Putih Bening Wujud Sebelum Sesudah dilarutkan dilarutkan Padat Cair Tidak Putih Bening Padat Cair Tidak Bening Bening Bening Bening Cair Cair Cair Cair Menyengat Menyengat Bau 2.6 Perhitungan 1. ; ; ; ; Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 17
  • 18. Bab II Pembuatan Larutan 1. 2. ; ; ; ; Karena HCl berbentuk cair jadi harus dikonversi dari gram ke ml 3. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 18
  • 19. Bab II Pembuatan Larutan 4. 2.7 Reaksi NaOH Na + OH NaOH +H2O NaOH + H2O HCl H+ + Cl- HCl + H2O HCl + H2O 2.8 Analisa (Pembahasan) Zat NaOH 1M yang dilarutkan oleh H 2O (air) sebanyak 100 ml. NaOH sebelum dilarutkan berwarna putih dan berupa padatan kemudian setelah dilarutkan menjadi cairan bening. NaOH saat dilarutkan ke dalam H2O (air) terjadi reaksi, maka terjadi perubahan suhu yang asalnya dingin menjadi panas. Zat NaOH 15% yang dilarutkan oleh H2O (air) sebanyak 100 ml. NaOH sebelum dilarutkan berupa padatan dan berwarna putih kemudian setelah dilarutkan berubah menjadi cairan bening. NaOH saat d larutkan ke dalam H 2O (air) terjadi reaksi, maka terjadi perubahan suhu yang asalnya dingin menjadi panas. 1M HCl yang di larutkan oleh H2O (air) sebanyak 100 ml. HCl sebelum dilarutkan berupa cairan bening dan berbau menyengat. Kemudian setelah dilarutkan tetap berupa cairan bening dan hanya volumenya yang berubah, larutannya tetap berbau menyengat. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 19
  • 20. Bab II Pembuatan Larutan 5% HCl yang dilarutkan oleh H2O (air) sebanyak 100 ml. HCl sebelum dilarutkan berupa cairan bening dan berbau menyengat kemudian setelah dilarutkan tetap berupa cairan bening dan hanya volumenya yang berubah, larutannya tetap berbau menyengat. 2.9 Kesimpulan 1" Larutan asam dan basa ditentukan dari hasil perhitungan dan berapa banyak zat asam dan basa yang akan digunakan. 2" Makin banyak zat asam yang digunakan maka semakin asam larutan yang akan dibuat. Begitu pula dengan larutan basa. Makin banyak zat basa yang digunakan maka semakin basa larutan yang akan dibuat. 3" 1 Molar NaOH dalam 100 ml larutan memilki berat sebesar 4 gr. 15 % NaOH dalam 100 ml larutan memiliki berat 15 gr . pH kedua larutan tersebut berbeda tingkat ke basaanya. 4" 1Molar Hcl dalam 100 ml larutan memilikai volume 3,09 ml. 5% Hcl dalam 100 ml larutan memiliki volume 5 ml. pH kedua larutan tersebut berbeda tingkat keasamanya. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 20
  • 21. Bab III Pengukuran pH BAB III PENGUKURAN PH 3.1 Tujuan Untuk mengukur pH suatu larutan dengan mengguanakan indikator secara visual dan instrumental sehingga dapat mengetahui derajat kesamaan suatu larutan. 3.2 Teori Dasar Pada umumnya semua asam dan basa mempunyai sifat-sifat tertentu, tidak semua asam mempunyai sifat yang sama demikian juga pada basa. Kita juga sudah mengenal bahwa asam terbagi menjadi dua yaitu asam lemah dan asam kuat, demikian juga basa, ada basa kuat dan basa lemah. Kekuatan asam atau basa tergantung dari bagaimana suatu senyawa diuraikan dalam pembentukan ion-ion jika senyawa tersebut dalam air. Asam atau basa juga bersifat elektrolit, daya hantar larutan elektrolit bergantung pada konsentrasi ion-ion dalam larutan. Elektrolit kuat jika dapat terionisasi secara sempurna sehingga konsentrasi ion relatif besar, elektrolit lemah jika hanya sebagian kecil saja yang dapat terionisasi, sehingga konsentrasi ion relatif sedikit. Untuk mengetahui suatu larutan termasuk elektrolit atau bukan dapat menggunakan alat penguji elektrolit atau juga dapat menggunakan alat pH meter, dan Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 21
  • 22. Bab III Pengukuran pH indikator universal untuk mengetahui pH suatu larutan secara langsung sehingga dapat diketahui apakah larutan tersebut termasuk asam, basa atau garam. Nilai pH ditunjukkan dengan skala, secara sistematis dengan nomor 0-14. Kertas Lakmus adalah suatu kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan kedalam larutan asam/basa. Warna yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kadar pH dalam larutan yang ada. Warna kertas lakmus dalam larutan asam, larutan basa, dan larutan bersifat netral berbeda. Ada dua macam kertas lakmus, yaitu lakmus merah dan lakmus biru. Sifat dari masing-masing kertas lakmus tersebut sebagai berikut. a. Lakmus merah dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa berwarna biru dan dalam larutan netral berwarna merah. b. Lakmus biru dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa berwarna biru dan dalam larutan netral berwarna biru. c. Metil merah dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa berwarna kuning dan dalam larutan netral berwarna kuning. d. Metil Jingga dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa berwarna kuning dan dalam larutan netral berwarna kuning. e. Fenolftalin dalam larutan asam berwarna dan dalam larutan basa berwarna merah dan dalam larutan netral berwarnapercobaan kali ini indikator yang akan digunakan adalah indikator phenolphtalein atau sering disebut dengan indikator PP. Indikator PP memiliki warna asam tak berwarna, rentang pH perubahan warna antara 8,3 – 10,0 dan warna basa merah. Indikator universal adalah gabungan dari beberapa indikator. Larutan indikator universal yang biasa digunakan dalam laboratorium terdiri dari metal jingga (trayek : 2,9-4,0), metal merah (trayek : 4,2-6,3), bromtimol biru (trayek : 6,0-7,6), dan fenolftalein (trayek : 8,3-10,0). Indikator-indikator itu memberi warna yang berbeda bergantung pada pH larutan. 3.3 Skema Proses Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 22
  • 23. Bab III Pengukuran pH Gambar 3.1 Skema Proses Pengukuran pH 3.3.1; Penjelasan Skema Proses 1" Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2" Lakukan pengukuran pH terhadap larutan menggunakan indikator universal, kertas lakmus, pH meter. 3" Menganalisa data dan lakukan pembahasan sesuai dengan bahasan praktikum. 4" Simpulkan hasil pengamatan praktikum pengukuran pH. 3.3.2; Gambar Skema Proses 1" Dengan kertas lakmus lakmus biru lakmus biru & merah & merah dimasukkan ke dimasukkan ke dalam larutan dalam larutan NaOH 15% HCl 5% lakmus biru lakmus biru & merah & merah dimasukkan ke dimasukkan ke dalam larutan dalam larutan Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 23
  • 24. Bab III Pengukuran pH NaOH 1M HCl 1M 2" Dengan Indikator Universal Indakator universal dimasukkan ke dalam larutan HCl 5%. HCl 5% Indakator universal dimasukkan ke dalam larutan HCl 1M. HCl 1M Indakator universal dimasukkan ke dalam larutanNaOH 15%. NaOH 15% Indakator universal dimasukkan ke dalam larutan NaOH 1M. NaOH 1M Setelah kertas indikator dicelupkan pada masing-masing larutan, maka cocokkan warnanya dengan warna yang ada pada standar indikator di samping untuk mengetahui pHnya. Gambar 3.2 Gambar Skema Proses 2 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 24
  • 25. Bab III Pengukuran pH 3.4 Alat dan Bahan Alat: 1" Gelas kimia 7" Timbangan digital 2" Batang pengaduk 8" Kertas lakmus biru 3" Gelas ukur 9" Spatula 4" Corong pendek 10" Tissue 5" pH meter 11" Botol semprot 6" Indikator universal Bahan: 1" NaOH 15% 4" HCl 1M 2" NaOH 1M 5" Aquadest 3" HCl 5% 3.5; Data Pengamatan Tabel 3.1 Pengamatan dengan Kertas lakmus Larutan NaOH 15% HCl 5% Lakmus merah Biru Merah Lakmus biru Biru Merah Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 25
  • 26. Bab III Pengukuran pH Tabel 3.2 Pangamatan dengan Indikator Universal Larutan NaOH 15% HCl 5% PH 14 1 Sifat larutan Basa Asam 3.6 Perhitungan ; ; ; ; ; ; Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 26
  • 27. Bab III Pengukuran pH 3.8 Analisa (Pembahasan) Kertas lakmus. Larutan asam dan basa yang sudah dibuat di tes dengan menggunakan kertas lakmus warna merah dan warna biru.larutan asam mengandung HCl 5% dan larutan basa yang mengandung NaOH 15%, masing masing kertas d celupkan ke dalam lrutan asam dan basa. Pada saat kertas lakmus merah di celupkan ke dalam larutan HCl 5% tidak terjadi perubahan warna tetap berwarna merah, sedangkan kertas lakmus merah di celupkan ke dalam larutan NaOH 15% terjadi perubahan warna yaitu kertas lakmus yang berwarna merah menjadi warna biru. Pada saaat kertas lakmus biru di celupkan ke dalam larutan HCl 5% terjdi perubahan warna yaitu kertas lakmus yang asalnya berwarna biru menjadi merah, sedangkan kertas lakmus biru dicelupkan ke dalam larutan NaOH 15% tidak terjadi perubahan tetap berwarna biru. Untuk Indikator universal. Larutan yang telah dtes dengan kertas lakmus dites lagi dengan menggunakan indikator universal. Indikator universal dicelupkan ke dalam larutan HCl 5% menunjukan warna pada angka , berarti larutan tersebut Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 27
  • 28. Bab III Pengukuran pH bersifat asam. Sedangkan indikator universal yang dicelupkan ke larutan NaOH 15% menunjukan warna pada angka14, berarti larutan tersebut bersifat basa. 3.9 Kesimpulan 1" Jadi larutan asam dan basa ditentukan dengan pengujian menggunakan kertas lakmus, indikator universal, pH meter. 2" Jadi kertas lakmus dan indikator universal cara mudah untuk menentukan larutan yang dibuat. Dan menentukan berapa keasaman dan kebasaan larutan. Tetapi cara ini tidak akurat karena kertas lakmus dan indikator universal hanya menentukan asam basa dan di titik berapa asam basa larutan, kurang lebihnya tidak diketahui. Sedangkan dengan menggunakan pH meter pengukuran pH sangat akurat asalkan penggunaannya tepat dan benar. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 28
  • 29. Bab III Pengukuran pH Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 29
  • 30. Bab IV Persiapan Permukaan Logam BAB IV PERSIAPAN PERMUKAAN LOGAM 4.1 Tujuan Untuk mengetahui permukaan logam yang halus dan bersih melalui proses persiapan logam, baik secara mekanis maupun kimia. 4.2 Teori Dasar Proses “Pengolahan Awal” adalah proses persiapan permukaan dari benda kerja yang akan mengalami proses pelapisan logam. Pada umumnya proses pelapisan logam itu mempunyai dua tujuan pokok adalah sifat dekorasi, sifat ini untuk mendapatkan tampak rupa yang lebih baik dari benda asalnya, dan aplikasi teknologi, sifat ini misalnya untuk mendapatkan ketahanan korosinya, mampu solder, kekerasan, sifat listrik dan lain sebagainya.Keberhasilan proses pengolahan awal ini sangat menentukan kualitas hasil pelapisan logam, baik dengan cara listrik, kimia maupu dengan cara mekanis lainnya. Proses pengolahan awal yang akan mengalami proses pelapisan logam pada umumnya meliputi proses-proses pembersihan dari segala macam pengotor (cleaning proses) dan juga termasuk proses-proses pada olah permukaan seperti poleshing, buffing,dan proses persiapan permukaan yang lainnya.Untuk mendapatkan daya lekat pelapisan logam (adhesi) dan fisik permukaan benda kerja yang baik dari suatu lapisan logam, maka perlu diperhatikan cara olah permukaan dan proses pembersihan permukaan. Ketidaksempurnaan kedua hal tersebut di atas dapat menyebabkan adanya garisan-garisan pada benda kerja dan pengelupasan hasil pelapisan logam. Keberadaan Zat Pengotor Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya reaksi reduksi tambahan sehingga lebih banyak atom logam yang teroksidasi. Sebagai contoh, adanya tumpukan debu karbon dari hasil pembakaran BBM pada
  • 31. Bab IV Persiapan Permukaan Logam permukaan logam mampu mempercepat reaksi reduksi gas oksigen pada permukaan logam. Dengan demikian peristiwa korosi semakin dipercepat. Gambar 4.1 Korosi Sebagai Pengotor Material Temperatur Temperatur mempengaruhi kecepatan reaksi redoks pada peristiwa korosi. Secara umum, semakin tinggi temperatur maka semakin cepat terjadinya korosi. Hal ini disebabkan dengan meningkatnya temperatur maka meningkat pula energi kinetik partikel sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan efektif pada reaksi redoks semakin besar. Dengan demikian laju korosi pada logam semakin meningkat. Efek korosi yang disebabkan oleh pengaruh temperatur dapat dilihat pada perkakas-perkakas atau mesin-mesin yang dalam pemakaiannya menimbulkan panas akibat gesekan (seperti cutting tools ) atau dikenai panas secara langsung (seperti mesin kendaraan bermotor).
  • 32. Bab IV Persiapan Permukaan Logam 4.3 Skema Proses Gambar 4.2 Skema Proses Persiapan Permukaan Logam 4.3.1 Penjelasan Skema Proses 1" Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2" Mengukur dimensi dengan jangka dan timbang beratnya dengan timbangan digital. 3" Dilakukan pengamplasan untuk menghilangkan karat pada logam. 4" Mengukur dimensi dengan jangka sorong dan timbang beratnya dengan timbangan digital.
  • 33. Bab IV Persiapan Permukaan Logam 5" Membersihkan logam dengan mencelupkan dalam air. 6" Keringkan logam. 7" Membersihkan logam dengan mencelupkannya dalam NaOH. Lalu ke dalam air. 8" Keringkan logam. 9" Membersihkan logam dengan mencelupkannya ke dalam HCl. Lalu ke dalam air. 10" Keringkan logam. 11" Menganalisa apa yang terjadi pada saat proses dan pembahasannya. 12" Simpulkan hasil yang didapat pada saat praktikum. 4.3.2 Gambar Proses Kaca arloji Timbang spesimen. Plat logam Timbangan digital Ukur dimensinya menggunakan jangka sorong. Ampelas spesimen dengan ampelas C240 secara horizontal.
  • 34. Bab IV Persiapan Permukaan Logam Ampelas spesimen dengan ampelas C800 secara vertikal. Ampelas spesimen dengan ampelas C1200 secara horizontal. Masukkan spesimen pada air (proses rinsing). Degreasing Rinsing Rinsing Keringkan plat Gambar 4.3 Gambar Skema Proses 3 4.4 Alat dan Bahan Alat : 1" Gelas piala 2" Penjepit 3" Alat pengering Pickling
  • 35. Bab IV Persiapan Permukaan Logam 4" Timbangan digital 5" Tissue 6" Kaca arloji 7" Eksikator 8" Amplas C 240 9" Amplas C 800 10" Amplas C 1200 11" Jangka sorong 12" Kawat Bahan: 1" Plat logam 2" NaOH 15% 3" HCl 5% 4" H2O 4.5 Data Pengamatan Tabel 4.1 Pengamatan Sebelum Diamplas Plat baja st-37 Panjang (cm) Spesimen 1 5,05 Spesimen 2 5,07 Lebar (cm) 3,03 2,97 Tebal (cm) 0,07 0,07 Berat (gr) 8,06 8,06 Tebal (cm) 0,07 0,07 Berat (gr) 7,96 7,96 Tabel 4.2 Pengamatan Sesudah diamplas Plat baja st-37 Panjang (cm) Spesimen 1 5,02 Spesimen 2 5,02 4.6 Perhitungan Sebelum diamplas Lebar (cm) 3,02 3,03
  • 36. Bab IV Persiapan Permukaan Logam Plat 1 Plat 2 Sesudah di hamplas Plat 1
  • 37. Bab IV Persiapan Permukaan Logam Plat 2 cm 4.7 Reaksi Rinsing : M + H2O M + H2O Degreasing : M + lemak NaOH M + garam Na asam lemak + gliserol + Na3PO4 + amina Pickling : M + Fe2O3 + 6HCl M + 2FeCl + 3H2O 4.8 Analisa (Pembahasan) Sebelum dilakukan pengamplasan dilakukan pengukuran. Plat baja tersebut di ukur dengan menggunkan jangka sorong, plat baja tersebut melalui proses pengamplasan dengan 3 jenis hamplas yaitu: ; Hamplas yang ukuranya 240, cara pengamplasanya dengan arah horizontal supaya pengamplasanya teratur. ; Hamplas yang ukuranya 800, cara pengamlasanya dengan arah vertikal. ; Hamplas yang ukuranya 1200, cara pengamplasanya denga arah horizontal kembali.
  • 38. Bab IV Persiapan Permukaan Logam Plat baja setelah dihamplas menjadi lebih halus permukaannya dan tampak ada goresan yang sangat kecil permukaan platnya. Plat baja setelah melalui proses pengamplasan dilakukan proses pencucian yaitu: ; Rinsing : proses pencucian plat dengan menggunakan larutan H2O (air). ; Degreasing : proses pencucian plat dengan menggunakan larutan basa NaOH 15% bertujuan untuk menghilangkan lemak, oli pada plat. ; Rinsing : proses pencucian dengan menggunakan larutan H2O (air) bertujuan untuk membersihkan sisa larutan NaOH yang menemoel pada plat. ; Pickling : proses pencucian dengan menggunakan larutan HCl bertujuan untuk menghilangkan karat pada plat. ; Rinsing : proses pencucian dengan menggunakan larutan H2O bertujuan menghilangkan sisa larutan yang menempel pada plat. Setelah melalui proses pencucian logam tersebut sudah bersih dari pengotor pengotor. Siap untuk dilakukan proses selanjutnya. 4.9 Kesimpulan 1" Tujuan dari pengamplasan untuk membersihkan dari pengotor pengotor, meratakan permukaan dan membuka pori pori platnya. Sehingga pada saat dilakukan pelapisan tembaga dan seng menempel lebih kuat. 2" Adapun persiapan plat ini ada 2 yaitu, dengan cara pengamplasan dan dengan cara kimia pencucian dengan beberapa larutan yaitu, larutan NaOH, larutan HCl, dan air H2O.
  • 39. Bab V Proses Pelapisan Tembaga BAB V PROSES PELAPISAN TEMBAGA 5.1 Tujuan Untuk melapisi logam dengan tujuan sebagai lapisan antara (dasar), lapisan dengan daya hantar dan arus listrik yang baik dan digunakan sebagai proses electroforming. 5.2 Teori Dasar Proses pelapisan tembaga terhadap logam sebagai logam yang dilapis adalah satu cara untuk melindungi logam terhadap serangan korosi dan untuk mendapatkan sifat dekoratif. Cara pelapisan tembaga dengan metode elektroplating pelapisan menggunakan arus searah. Cara kerjanya mirip dengan elektrolisa, dimana logam pelapis bertindak sebagai anoda,sedangkan logam dasarnya sebagai katoda. Cara terakhir ini yang disertai dengan perlakuan awal terhadap benda kerja yang baik mempunyai berbagai keuntungan dibandingkan dengan cara-cara yang lain. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : a. Lapisan relatif tipis b. Ketebalan dapat dikontrol c. Permukaan lapisan lebih halus d. Hemat dilihat dari pemakaian logam khrom. Proses elektroplating ini terdapat tiga jenis proses pelapisan yaitu yang pertama adalah pelapisan logam dengan Tembaga, lalu dilanjutkan dengan pelapisan Nikel dan yang terakhir benda dilapis dengan Khrom. Pelapisan tembaga Tembaga atau Cuprum (Cu) merupakan logam yang banyak sekali digunakan, karena mempunyai sifat hantaran arus dan panas yang baik. Tembaga digunakan untuk pelapisan dasar karena dapat menutup permukaan bahan yang Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 39
  • 40. Bab V Proses Pelapisan Tembaga dilapis dengan baik. Pelapisan dasar tembaga dipelukan untuk pelapisan lanjut dengan nikel yang kemudian yang kemudian dilakukan pelapisan akhir khrom. Aplikasi yang paling penting dari pelapisan tembaga adalah sebagai suatu lapisan dasar pada pelapisan baja sebelum dilapisi tembaga dari larutan asam yang biasanya diikuti pelapisan nikel dan khrom. Tembaga digunakan sebagai suatu lapisan awal untuk mendapatkan pelekatan yang bagus dan melindungi baja dari serangan keasaman larutan tembaga sulfat. Alasan pemilihan plating tembaga untuk aplikasi ini karena sifat penutupan lapisan yang bagus dan daya tembus yang tinggi. Sifat-sifat Fisika Tembaga 1. Logam berwarna kemerah-merahan dan berkilauan. 2. Dapat ditempa, dibengkokan dan merupakan penghantar panas dan listrik. 3. Titik leleh : 1.0830C, titik didih : 2.3010C 4. Berat jenis tembaga sekitar 8,92 gr/cm3. Sifat-sifat Kimia Tembaga 1. Dalam udara kering sukar teroksidasi, akan tetapi jika dipanaskan akan membentuk oksida tembaga (CuO) 2. Dalam udara lembab akan diubah menjadi senyawa karbonat atau karat basa. 3. Tidak dapat bereaksi dengan larutan HCl encer maupun H 2SO4encer 4. Dapat bereaksi dengan H2SO4 pekat maupun HNO3 encer 5. Pada umumnya lapisan Tembaga adalah lapisan dasar yang harus dilapisi lagi dengan Nikel atau Khrom. Pada prinsipnya ini merupakan proses pengendapan logam secara elektrokimia,digunakan listrik arus searah (DC). Jenis elektrolit yang digunakan adalah tipe alkali dan tipe asam. Larutan Strike menghasilkan lapisan yang sangat tipis. Larutan strike dapat pula dipakai sebagai pembersih dengan pencelupan pada larutan sianida yang ditandai dengan keluarnya gas yang banyak pada benda kerja sehingga Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 40
  • 41. Bab V Proses Pelapisan Tembaga kotoran-kotoran yang menempel akan mengelupas. Larutan ini terutama digunakan pada komponen-komponen dari baja sebagai lapisan dasar, untuk selanjutnya dilakukan pelapisan tembaga dengan logam lain. Formula kecepatan tinggi atau efisiensi tinggi digunakan untuk plating tembaga tebal, smentara proses Rochelle digunakan untuk menghasilkan pelapisan yang bersifat antara strike dan kecepatan tinggi. Garam-garam Rochelle tidak terdekomposisi dan hanya berkurang melalui drag-out yaitu terikutnya larutan pada benda kerja pada saat pengambilan dari tanki tinggi disbanding larutan strike sebab kerapatan arus katoda dan efisiensi penting dalam kecepatan plating. Larutan Rochelle dan kecepatan tinggi dapat dioperasikan pada temperatur relatif tinggi. 5.3 Skema Proses Gambar 5.1 Skema Proses Pelapisan Tembaga Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 41
  • 42. Bab V Proses Pelapisan Tembaga Proses pelapisan tembaga adalah sebagai berikut - + B A Keterangan : A = Plat baja (katoda) B = Plat Cu (anoda) C = Larutan elektrolit CuSO4 C Gambar 5.2 Proses Pelapisan Tembaga 5.3.1 Penjelasan Skema Proses 1: Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum 2: Amplas ST 37 dengan amplas C 240, C 800, dan C1200 3: Ukur dimensinya dengan mengunakan jangka sorong 4: Timbang ST 37 dengan menggunakan timbangan digital 5: Siapkan larutan HCL 5% untuk proses pickling 6: Lakukan proses pelapisan Cu, keringkan di udara terbuka Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 42
  • 43. Bab V Proses Pelapisan Tembaga 7: Lakukan penimbangan dan ukur dimensinya 8: Menganalisa data dan membahas apa yang terjadi pada saat proses pelapisan Cu 9: Simpulkan dari hasil pengamatan praktikum pelapisan Cu. 5.3.2 Gambar Proses Ampelas Ampelas Ampelas dengan C 240 dengan C 800 dengan C1200 Timbang spesimen Ukur dimensinya Cu ST 37 Rectifier Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar stopwatch 43
  • 44. Bab V Proses Pelapisan Tembaga Pickling Rinsing Dikeringkan Ditimbang kembali. Gambar 5.3 Gambar Skema Proses 4 5.4 Alat dan Bahan Alat: 1: Gelas piala 2: Thermometer 3: Penjepit 4: Rectifier 5: Kompor listrik 6: Plat logam 7: Plat Cu Bahan: 1: CuSO4 220 gpl 2: H2SO4 50 ml 3: Cu-60 50 ml 4: Brightener 5: Air (aqua DM) 1 liter 5.5 Data Pengamatan Tabel 5.1 Pengamatan Palapisan Tembaga Plat baja Panjang Lebar Tebal Berat A (cm2) T (s) st-37 Awal (cm) 3,02 (cm) 0,07 (cm) 7,96 31,42 - (cm) 5,02 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 44
  • 45. Bab V Proses Pelapisan Tembaga Akhir 5,05 2,99 0,09 8,1 31,36 60 5.6 Perhitungan ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 45
  • 46. Bab V Proses Pelapisan Tembaga Cu yang menempel pada plat baja yang dilapis Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 46
  • 47. Bab V Proses Pelapisan Tembaga . 5.7 Analisa (Pembahasan) Plat baja sebelum di masukan ke dalam larutan elektrolit memiliki panjang 5,02 cm, lebar 3,02 cm, Tebal 0,07, berat 7,96 gr, dan mempunyai luas permukaan 31,42 cm2. Kemudian sesudah diukur masuk ke proses pencucian,yaitu: rinsing, degreasing, pickling. ; Rinsing yaitu pencucian dengan menggunakan air H2O ; Degreasing yaitu pencucian dengan menggunakan larutan basa NaOH, bertujuan untuk menghilangkan lemak minyak pada logam. ; Pickling yaitu pencucian dengan menggunakan larutan asam HCl, bertujuan untuk membersihkan karat pada logam. Plat baja dicelupkan ke dalam larutan CuSO 4, dengan mengaliri arus listrik sebesar 2A selama 60 s. yang dijadikan korban di sini adalah Cu, karena Cu dijadikan pelapis. Setelah proses pelapisan telah mencapai waktu yang ditentukan maka plat tersubut d angkat dan dikeringkan. Setelah itu plat tersebut diukur kembali, yang memilikai panjang 5,05 cm, lebar 2,99 cm, tebal 0,09, mempunyai berat 8,1 gr, dan mempunyai luas permukaan 31,36 cm2. Lalu dihitung berapa Cu yang menempel pada plat tersebut, dan menghasilkan 0,001 cm Cu yang menempel pada plat tersebut. Terjadi perubahan pada plat setelah dilakukan pelaisan Cu yaitu terjadi perubahan panjang, lebar, tebal, berat, dan luas permukaan. 5.8 Kesimpulan 1: Pada plat baja dilakukan pelapisan Cu sebagai pelapis antara atau pelapis dasar sebelum menghadapi pelapisan berikutnya. 2: Ketebalan Cu yang menempel pada plat sebesar 0,001 cm. Warna pada plat baja juga berubah menjadi warna pelapisnya. 3: Faktor yang mempengaruhi bagus tidaknya pelapisan tersebut ditentukan dari persiapan permukaan, karena logam yang benar-benar bersih dari pengotor dan permukaannya bagus maka hasil pelapisanya juga akan lebih bagus. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 47
  • 48. Bab VI Proses Pelapisan Seng BAB VI PROSES PELAPISAN SENG 6.1 Tujuan Untuk menahan korosi, lapisan seng (Zn) sebagai anoda karbon dan untuk memperintah permukaan. 6.2 Teori Dasar Seng (bahasa Belanda: zink) adalah unsur kimia dengan lambang kimia Zn, nomor atom 30, dan massa atom relatif 65,39. Ia merupakan unsur pertama golongan 12 pada tabel periodik. Beberapa aspek kimiawi seng mirip dengan magnesium. Hal ini dikarenakan ion kedua unsur ini berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga memiliki keadaan oksidasi +2. Seng merupakan unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki lima isotop stabil. Bijih seng yang paling banyak ditambang adalah sfalerit (seng sulfida). Seng merupakan zat mineral esensial yang sangat penting bagi tubuh. Terdapat sekitar dua milyar orang di negara-negara berkembang yang kekurangan asupan seng. Defisiensi ini juga dapat menyebabkan banyak penyakit. Pada anakanak, defisiensi ini menyebabkan gangguan pertumbuhan, memengaruhi pematangan seksual, mudah terkena infeksi, diare, dan setiap tahunnya menyebabkan kematian sekitar 800.000 anak-anak di seluruh dunia. Konsumsi seng yang berlebihan dapat menyebabkan ataksia, lemah lesu, dan defisiensi tembaga. Dalam bahasa sehari-hari, seng juga dimaksudkan sebagai pelat seng yang digunakan sebagai bahan bangunan. Seng adalah logam yang termurah yang dapat dipakai untuk melindungi Biasanya proses baja/besi dari serangan korosi. dilaksanakan dengan cara celup panas (galvanisasi). Substrat baja dapat dilapis secara listrik dengan menggunakan seng sebagai pelapis (elektro galvanizing), tetapi perlakuan larutan elektrolitnya terhitung kurang begitu penting dalam hubungannya dengan celup panas/galvanisasi pada ketahanan logam. Meskipun demikian para ahli yakin bahwa elektro Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 48
  • 49. Bab VI Proses Pelapisan Seng galvanisasi mempunyai kemungkinan- kemungkinan dalam penggunaannya di kemudian hari. Sifat fisik Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat diamagnetik. Walau demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal.Lehto 1968, hal. 826 Logam ini keras dan rapuh pada kebanyakan suhu, namun menjadi dapat ditempa antara 100 sampai dengan 150 °C.[2] Di atas 210 °C, logam ini kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukul-mukulnya. Seng juga mampu menghantarkan listrik. Dibandingkan dengan logam-logam lainnya, seng memiliki titik lebur (420 °C) dan tidik didih (900 °C) yang relatif rendah. Dan sebenarnya pun, titik lebur seng merupakan yang terendah di antara semua logam-logam transisi selain raksa dan kadmium. Terdapat banyak sekali aloi yang mengandung seng. Salah satu contohnya adalah kuningan (aloi seng dan tembaga). Logam-logam lainnya yang juga diketahui dapat membentuk aloi dengan seng adalah aluminium, antimon, bismut, emas, besi, timbal, raksa, perak, timah, magnesium, kobalt, nikel, telurium, dan natrium. Walaupun seng maupun zirkonium tidak bersifat feromagnetik, aloi ZrZn2 memperlihatkan feromagnetisme di bawah suhu 35 K. Sifat kimiawi Seng memiliki konfigurasi elektron [Ar]3d104s2 dan merupakan unsur golongan 12 tabel periodik. Seng cukup reaktif dan merupakan reduktor kuat. Permukaan logam seng murni akan dengan cepat mengusam, membentuk lapisan seng karbonat, Zn5(OH)6CO3, seketika berkontak dengan karbon dioksida. Lapisan ini membantu mencegah reaksi lebih lanjut dengan udara dan air. Seng yang dibakar akan menghasilkan lidah api berwarna hijau kebiruan dan mengeluarkan asap seng oksida. Seng bereaksi dengan asam, basa, dan nonlogam lainnya. Seng yang sangat murni hanya akan bereaksi secara lambat dengan asam pada suhu kamar. Asam kuat seperti asam klorida maupun asam sulfat dapat menghilangkan lapisan pelindung seng karbonat dan reaksi seng dengan air yang ada akan melepaskan gas hidrogen. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 49
  • 50. Bab VI Proses Pelapisan Seng Seng secara umum memiliki keadaan oksidasi +2. Ketika senyawa dengan keadaan oksidasi +2 terbentuk, elektron pada kelopak elektron terluar s akan terlepas, dan ion seng yang terbentuk akan memiliki konfigurasi [Ar]3d 10. Hal ini mengijinkan pembentukan empat ikatan kovalen dengan menerima empat pasangan elektron dan mematuhi kaidah oktet. Stereokimia senyawa yang dibentuk ini adalah tetrahedral dan ikatan yang terbentuk dapat dikatakan sebagai sp3. Pada larutan akuatik, kompleks oktaherdal, [Zn(H 2O)6]2+, merupakan spesi yang dominan. Penguapan seng yang dikombinasikan dengan seng klorida pada temperatur di atas 285 °C mengindikasikan adanya Zn2Cl2 yang terbentuk, yakni senyawa seng yang berkeadaan oksidasi +1. Tiada senyawa seng berkeadaan oksidasi selain +1 dan +2 yang diketahui. Perhitungan teoritis mengindikasikan bahwa senyawa seng dengan keadaan oksidasi +4 sangatlah tidak memungkinkan terbentuk. Sifat kimiawi seng mirip dengan logam-logam transisi periode pertama seperti nikel dan tembaga. Ia bersifat diamagnetik dan hampir tak berwarna. Jarijari ion seng dan magnesium juga hampir identik. Oleh karenanya, garam kedua senyawa ini akan memiliki struktur kristal yang sama. Pada kasus di mana jari-jari ion merupakan faktor penentu, sifat-sifat kimiawi keduanya akan sangat mirip. Seng cenderung membentuk ikatan kovalen berderajat tinggi. Ia juga akan membentuk senyawa kompleks dengan pendonor N- dan S-. Senyawa kompleks seng kebanyakan berkoordinasi 4 ataupun 6 walaupun koordinasi 5 juga diketahui ada. Fungsi pelapisan seng adalah sebagai anoda terhadap l o g a m ferro merupakan cara untuk melindungi logam tersebut terhadap serangan korosi dan menambah keindahan permukaan logam. Mengingat sifat seng lebih anodik dari pada logam ferro, maka sistem perlindungan dengan menggunakan seng mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan bila dibandingkan dengan yang tidak dilindungi. Adapun logam ferro yang dilindungi dengan logam seng keuntungannya sebagai berikut : 1. Sebagai pelindung terhadap serangan korosi. 2.Mendapat sifat permukaan benda yang lebih menarik dari pada permukaan logam dasarnya. 3. Memperbaiki permukaan benda yang dilapis. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 50
  • 51. Bab VI Proses Pelapisan Seng Metoda pelapisan seng dengan cara listrik adalah pelapisan yang menggunakan arus listrik searah. Cara kerjanya mirip dengan poles elektrolisa, dimana logam pelapis (seng) bertindak sebagai sedang ini logam mempunyai dasarnya berbagai sebagai anoda, katoda. keuntungan Cara disamping k e r u g i a n . Keuntungan tersebut antara lain - Lapisan relatif tipis - Ketebalan dapat dikontrol -Tidak memerlukan temperatur yang tinggi sehingga struktur dan phasa dari benda dasar tidak berubah. - Permukaan lapisan lebih halus - Hemat dilihat dari pemakaian logam seng Kerugian-kerugian dalam proses lapis listrik seng antara lain - Ukuran dan desain terbatas - Memerlukan sumber listrik arus searah - Terbatas pada benda-benda kerja yang konduktor -Perlu diperhatikan adan ya pencemaran dari larutan atau g a s yang ditimbulkan. Pelapisan seng secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 (tiga)kelas besar yaitu : 1. Bak larutan sianid 2. Bak larutan alkali 3. Bak larutan asam Ketiganya dipergunakan untuk tujuan dan maksudmaksud tertentu baik untuk keperluan dekorasi tujuan proteksi dan proteksi fungsionil. Bak asam sering digunakan pada b a r a n g keras, kawat dan lebih digunakan untuk tujuan fungsionil. Bakalkali dan bak sianid mempunyai kegunaan selain untuk protektif juga dekoratif. M a s i n g - m a s i n g mempunyai larutan tersebut b e b e r a p a keuntungan dan kekurangan. Untuk larutan alkalin sianid ini adabeberapa keuntungan dibanding jenis elektrolit yang lain yaitu: - mudah dikontrol- mudah perawatannya - berdaya lontar tinggi Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 51
  • 52. Bab VI Proses Pelapisan Seng - kondisi operasi luwes Sedang kekurangannya adalah limbah pekat sianid yang amat beracun dan merusak lingkungan hidup. 6.3 Skema Proses Gambar 6.1 Skema Proses Pelapisan Seng 6.3.1 Penjelasan Skema Proses 1: Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum 2: Amplas ST 37 dengan amplas C 240, C 800, dan C 1200 3: Ukur dimensinya dengan mengunakan jangka sorong 4: Timbang ST 37 dengan menggunakan timbangan digital 5: Lakukan proses pencucian plat baja (degreasing, pickling, rinsing) 6: Lakukan proses pelapisan Zn dengan larutan elektrolit ZnCl2, lalu keringkan di udara terbuka. 7: Lakukan penimbangan dan ukur dimensinya Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 52
  • 53. Bab VI Proses Pelapisan Seng 8: Menganalisa data dan membahas apa yang terjadi pada saat proses pelapisan Zn 9: Simpulkan dari hasil pengamatan praktikum pelapisan Zn. 6.3.2 Gambar Skema Proses Ampelas Ampelas Ampelas dengan C 240 dengan C 800 dengan C 1200 Timbang spesimen Ukur dimensinya degreasing Zn pickling rinsing ST 37 Rectifier Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar Stopwatch 53
  • 54. Bab VI Proses Pelapisan Seng rinsing Dikeringkan ditimbang Gambar 6.3 Gambar Skema Proses 5 6.4 Alat dan Bahan Alat: 1: Gelas piala 2: Penjepit 3: Rectifier 4: Plat baja 5: Plat Pb Bahan: 1: ZnCl2 = 15-25 g/L 2: NH4Cl = 100-150 g/L 3: Air 4: PH = 5,5 . 5,8 6.5 Data Pengamatan Tabel 6.1 Pengamatan Pelapisan Seng Plat Panjang baja st- 5,02 5,05 Tebal (cm) Berat (gr) A (cm2) T(s) 3,02 3,02 0,07 0,09 7,96 8,1 31,5 31,6 60 (cm) 37 Awal Akhir Lebar (cm) 6.6 Perhitungan Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 54
  • 55. Bab VI Proses Pelapisan Seng ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; ; Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 55
  • 56. (jadi lapisan Zn (seng) yang menempel pada plat baja yaitu 0,0018 cm) 6.7 Analisa (Pembahasan) Plat baja sebelum di masukan ke dalam larutan elektrolit memiliki panjang 5,05 cm, lebar 3,02 cm, Tebal 0,09, berat 7,96 gr, dan mempunyai luas permukaan 31,5 cm2. Kemudian sesudah di ukur masuk ke proses pencucian,yaitu: rinsing, degreasing, pickling. ; Rinsing yaitu pencucian dengan menggunakan air H2O ; Degreasing yaitu pencucian dengan menggunakan larutan basa NaOH, bertujuan untuk menghilangkan lemak minyak pada logam. ; Pickling yaitu pencucian dengan menggunakan larutan asam HCl, bertujuan untuk membersihkan karat pada logam. Plat baja di celupkan ke dalam larutan ZnCl 2, dengan mengaliri arus listrik sebesar 2A selama 60 s yang dijadikan korban disini adalah Zn, karena Zn dijadikan pelapis. Setelah proses pelapisan telah mencapai waktu yang ditentukan maka plat tersebut diangkat dan di keringkan. Setelah itu plat tersebut diukur kembali, yang memilikai panjang 5,05 cm, lebar 3,02 cm, tebal 0,09, mempunyai berat 8,1 gr, dan mempunyai luas permukaan 31,6 cm2. Lalu di hitung berapa Zn yang menempel pada plat tersebut, dan menghasilkan 0,0018 cm Zn yang menempel pada plat tersebut. Terjadi perubahan pda plat setelah di lakukan pelaisan Zn yaitu terjadi perubahan panjang, lebar, tebal, berat, dan luas luas permukaan. 6.8 Kesimpulan 1: Plat baja di lakukan pelapisan Zn sebagai pelapis antara atau pelapis dasar sebelum menghadapi pelapisa berikutnya. 2: Ketebalan Zn yang menempel pada plat sebesar 0,0018 cm. warna pada plat baja juga berubah menjadi warna pelapisnya. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 56
  • 57. 3: Faktor yang mempengaruhi bagus tidaknya pelapisan terdebut ditentukan dari persiapan permukaan, karena logam yang benar benar bersih dari pengotor dan permukaanya bagus maka hasil pelapisanya juga akan lebih bagus. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 57
  • 58. Bab VII Anodisasi Aluminium BAB VII ANODISASI ALUMINIUM 7.1 Tujuan Untuk isolasi yang tahan karat terhadap korosi dalam lingkungan atmosfir dan air garam, tahan korosi serta adhesi terhadap cat juga agar lebih bersifat kedap. 7.2 Teori Dasar Alumunium (Al) termasuk logam lunak, liat dan mudah ditempa. Alumunium mempunyai sifat ringan, bercahaya dan daya hantar listrik. Adaya sifat ringan ini membuat alumunium banyak digunakan pada industri pesawat terbang dan angkutan. Al mempunyai afinitas yang besar terhadap oksigen, membentuk lapisan oksida yang terbentuk dialumini tipis, maka melindungi korosi lapisan oksida ini harus tebal yang dapat dihasilkan dari proses anodisasi. Anodisasi alumunium adalah proses pembentukan oksida pada Al secara elektrolisa. Anodisasi Al bertujuan sebagai berikut: 1. Menigkatkan ketahanan korosi 2. Meningkatkan adhesi 3. Memperbaiki Penampilan Dekoratif 4. Sebagai dasar untuk pelapisan lain 5. Meningkatkan tahanan listrik atau sebagai isolasi listrik 6. Meningkatkan ketahanan abrasi Proses anodisasi ini di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti rapat arus, jenis larutan elektrolit, pH larutan, konsentrasi larutan, temperatur operasi. Disamping itu perlu juga diperhatikan pula proses persiapan permukaannya, karena apabila ada kotoran atau lemak yang terbawa pada permukaan, maka hasil anodisasi akan kurang baik terhadap daya lekat maupun sifat-sifatnya. Proses anodisasi Al juga disebut anodic oxidation yang prinsipnya hampir sama dengan proses pelapisan dengan cara lapis listrik (electroplating). Akan tetapi bedanya logam yang akan dioksidasi ditempatkan sebagai anoda di dalam larutan elektrolit.
  • 59. Bab VII Anodisasi Aluminium Perbedaan lain ialah larutan elektrolit yang digunakan bersifat asam dengan penyerah arus DC bertipe voltage dan ampere tinggi. Katoda disini hanya berfungsi sebagai penghantar arus listrik, jadi tidak larut. Katoda harus dari bahan logam yang tidak larut atau terkorosi di dalam larutan asam kuat misalnya stainless steel, alumunium, titanium dll atau bahan dari grafit. Perlatan utama dari proses anodisasi sama seperti yang digunakan pada proses pelapisan secara listrik yaitu penyerah arus rectifier, elektroda katoda dan anoda, rak serta bak pada proses anodisasi tidak menggunakan alat perndingin (thermostat). Fungsi dari alat-alat tersebut hampir sama dengan yang digunakan pada proses lapis listrik yang telah dijelaskan pada sebelumnya dilihat dari proses pemakaian dan kegunaannya. Proses anodisasi dapat dibagi menjadi 2 yaitu untuk keperluan dekoratif dan keperluan protektif. Untuk keperluan yang bersifat dekoratif harus tahan cuaca dan tahan warna. Jenis ini proses anodisasinya dilakukan diatas temperatur kamar, sedangkan untuk yang bersifat protektif yaitu tahan terhadap proses korosi dan abrasi biasa disebut anodisasi keras. Proses ini dilakukan di bawah temperatur kamar. Selain alumuniun dan paduaannya, logam-logam seperti stainless steel, titanium dan tembaga dapat juga dilakukan proses anodisasi, karena mempunyai sifat kedap air dan relatif stabil. Proses anodisasi pada umumnya dilakukan pada temperatur yang lebih rendah, karena akan menghasilkan lapisan yang keras, dan porositasnya rendah. Bila dilakukan pada temperatur tinggi lapisan yang akan terbentuk akan lebih poros sehingga daya tahan terhadap korosinya terutama pada udara terbuka akan menurun dan karena bagian luar lapisannya sangat rapuh dan mudah lepas. Pemakaian arus searah akan menghasilkan lapisan yang lebih keras dan tahan korosi, tapi lebih bersifat rapuh. Sifat ketahanan korosi akan bergantung pada proses pengerjaan akhir, terutama proses sealing. Proses sealing bertujuan untuk menutupi atau melapisi pori-pori yang tidak dapat di tutupi dengan proses anodisasi. Caranya mereaksikan lapisan hasil anodisasi dengan H 2O atau dengan larutan kimia lainnya.
  • 60. Bab VII Anodisasi Aluminium Proses sealing akan sangat efektif apabila dilakukan dengan air biasa pada temperatur didih atau larutan tertentu dengan pH yang tepat. Ke efektifan sealing akan berkurang jika lapisan oksida yang terbentuk tidak rata, tidak keras dan banyak terdapat cacat atau rusak. Tampak rupa, warna dan sifat-sifat lapisan oksida yang terbentk akibat pengaruh dari larutan elektrolit dan jenis bahan yang dioksidasi. Sifat-sifat Aluminium oksida adalah insulator (penghambat) panas dan listrik yang baik. Umumnya Al2O3 terdapat dalam bentuk kristalin yang disebut corundum atau α-aluminum oksida. Al2O3 dipakai sebagai bahan abrasif dan sebagai komponen dalam alat pemotong, karena sifat kekerasannya. Aluminium oksida berperan penting dalam ketahanan logam aluminium terhadap perkaratan dengan udara. Logam aluminium sebenarnya amat mudah bereaksi dengan oksigen di udara. Aluminium bereaksi dengan oksigen membentuk aluminium oksida, yang terbentuk sebagai lapisan tipis yang dengan cepat menutupi permukaan aluminium. Lapisan ini melindungi logam aluminium dari oksidasi lebih lanjut. Ketebalan lapisan ini dapat ditingkatkan melalui proses anodisasi. Beberapa alloy (paduan logam), seperti perunggu aluminium, memanfaatkan sifat ini dengan menambahkan aluminium pada alloy untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi. Al2O3 yang dihasilkan melalui anodisasi bersifat amorf, namun beberapa proses oksidasi seperti plasma electrolytic oxydation menghasilkan sebagian besar Al2O3 dalam bentuk kristalin, yang meningkatkan kekerasannya. 7.3 Skema Proses
  • 61. Bab VII Anodisasi Aluminium Gambar 7.1 Skema Proses Anodisasi Aluminium 7.3.1 Penjelasan Skema Proses 16 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum 26 Amplas plat Al dengan amplas C 800 36 Ukur dimensinya dengan mengunakan jangka sorong 46 Timbang plat Al dengan menggunakan timbangan digital dan hitung arusnya menggunakan multimeter 56 Lakukan proses pencucian plat Al (degreasing, pickling, rinsing) 66 Lakukan proses anodisasi dengan larutan elektrolit H2SO4 76 Keringkan plat Al 86 Lakukan penimbangan, ukur dimensinya dan ukur arusnya 96 Menganalisa data dan membahas apa yang terjadi pada saat proses anodisasi Al 106 Simpulkan dari hasil pengamatan praktikum anodisasi Al.
  • 62. Bab VII Anodisasi Aluminium 7.3.2 Gambar Skema Proses Ampelas ditimbang dengan ampelas C 800 Ukur dimensinya Pb Pengukuran arus Al Degreasing Pickling Rectifier Rinsing Stopwatch
  • 63. Bab VII Anodisasi Aluminium Rinsing ditimbang dikeringkan Ukur dimensinya Gambar 7.2 Gambar Skema Proses 6 7.4 Alat dan Bahan Alat: 16 Gelas piala 26 Rectifier 36 Timbangan digital 46 Multimeter 56 Stopwatch 66 Jangka sorong Bahan: 16 Plat Al Pengukuran arus
  • 64. Bab VII Anodisasi Aluminium 26 Plat Pb 36 Air panas 46 H2SO4 56 HCl 5% 66 NaOH 15% 76 H2O 7.5 Data Pengamatan Tabel 7.1 Pengamatan Anodisasi Aluminium Al Berat Awal Akhir 3,01 3,04 Panjang 4,63 4,683 Lebar 3,598 3,57 Tebal Luas Ω t( 0,09 0,135 permukaan A () 34,797 36,65 0 1 240 7.6.Perhitungan Luas permukaan Awal Dik ; ; Dit A ?? Jawab : A A A A Luas permukaan Akhir Dik ; ; ; ;
  • 65. Bab VII Anodisasi Aluminium Dit A?? Jawab : A A A A
  • 66. Bab VII Anodisasi Aluminium 7.7 Analisa (Pembahasan) Alumunium adalah termasuk logam lunak, liat, dan mudah d tempa. Al mempunyai afinitas yang besar terhadap oksigen, membentuk lapisan yang tahan korosi. Sesudah di amplas. Plat Al awal sebelum mengalami proses mempunyai berat 3,01 , panjang 4,63 , lebar 3,589 , tebal 0,09 , dan mempunyai luas permukaan 34,797 . Plat Al memiliki hambatan 0 . Lalu plat Al melalui proses pencucian yaitu sebagai berikut: 16 Rinsing 26 Degreasing 36 Rinsing 46 Pickling 56 Rinsing Plat Al setelah melalui proses pencucian di masukan ke proses sealing dalam larutan elektrolit H2SO4 dan dialiri arus listrik sebesar 2 selama 4 menit (240 s) pada proses ini terjadi reaksi oksidasi dan menghasilkan bau yang menyengat. lalu plat Al di angkat dan di celupkan ke dalam air panas yang bertujuan untuk menutup pori pori pada plat yang telah d kikis oleh Pb saat proses sealing, lalu plat baja di angkat dan d keringkan. Plat baja yang sudah kering lalu d hitung lagi yang mempunyai berat 3,04 , panjang 4,683 , lebar 3,57 , tebal 0,135 , dan mempunyai luas permukaan 36,65 . Mempunyai hambatan 1 . Plat Al menjadi lebuh kuat tidak lunak. 7.8 Kesimpulan 16 Pada proses anodisasi Aluminium, ukuran, hambatan dan berat awal berbeda dengan ukuran hambatan, dan berat akhir. 26 Sebelum diproses sealing mempunyai berat 3,01 , panjang 4,63 , lebar 3,598 , tebal 0.09 , mempunyai luas permukaan 34,797 , hambatan 0 . Plat Al sebelum di proses sealing mengkilat. Setelah diproses plat Al menjadi lebih keras karena terbentuknya Al2O3. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 66
  • 67. Bab VII Anodisasi Aluminium 36 Sesudah diproses sealing mempunyai 3,04 , panjang 4,683 , lebar 3,57 , tebal 0,135 , mempunyai luas permukaan 36,65 , mempunyai hambatan 1 . Plat Al sesudah diproses sealing menjadi kusam karena pada permukaan plat Al terjadi pelapisan alumina. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 67
  • 68. Bab VIII Penyaringan Air BAB VIII PENYARINGAN AIR 8.1 Tujuan Untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat di dalam air, mengetahui bagaimana proses penyaringan air, juga untuk mendapatkan air yang berkualitas yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. 8.2 Teori Dasar Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyekobyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Europa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengelolaan sumber daya air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air, monopolisasi serta privatisasi dan bahkan menyulut konflik. Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur sumber daya air sejak tahun 2004, yakni Undang Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sifat-sifat kimia dan fisika Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 68
  • 69. Bab VIII Penyaringan Air oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fasa berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen. Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-). Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 69
  • 70. Bab VIII Penyaringan Air adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. 8.3 Skema Proses Gambar 8.1 Skema Proses Penyaringan Air 8.3.1 Penjelasan Skema Proses 16 Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum 26 Ukur volume air kotor dan pH-nya 36 Amati warna dan baunya 46 Masukkan air kotor ke dalam alat penyaringan air yang disediakan 56 Lakukan lima kali penyaringan 66 Analisa dan bahas data yang terjadi setiap satu kali penyaringan 76 Simpulkan dari hasil pengamatan praktikum penyaringan air. 8.3.2; Gambar Skema Proses Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 70
  • 71. Bab VIII Penyaringan Air Sampel air kotor 1 sampel air kotor 2 Pengamatan fisik seperti volume air, pH, bau dan warna Penyaringan 1 & sampel 1 Penyaringan 2 & sampel 2 Pasir aktif Zeolit busa busa Zeolit Pasir aktif Pasir aktif Zeolit Zeolit Karbon Kerikil + lumut Kerikil Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 71
  • 72. Bab VIII Penyaringan Air Air bersih Air bersih Gambar 8.2 Gambar Skema Proses 7 Setiap pergantian dari zeolit ke pasir atau sebagainya terdapat busa 8.4 Alat dan Bahan Alat: 16 Gelas piala 26 Tabung reaksi 36 Ember 46 Rak tabung 56 Penyaringan sederhana 66 Pipet 76 Indikator universal Bahan: 16 Air kotor 26 Pasir aktif 36 Zeolit 46 Busa/injuk 56 Karbon aktif 66 Kerikil Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 72
  • 73. Bab VIII Penyaringan Air 8.5 Data Pengamatan Tabel 8.1 Identitas Sampel Identitas sampel 04 desember 2011 Air comberan Kampus unjani bandung Air berwarna, bau, keruh. Tanggal sampling Nama sampel Lokasi sampling Ciri ciri Tabel 8.2 Pengamatan Penyaringan Air I Bahan/penyaringan I Tahap 1 Warna Bau pH Endapan Berwarna Bau 6 Ada Tahap 2 Tidak Tidak 6 Ada Tahap 3 Tahap 4 Tahap Tidak Tidak 6 Ada Tidak Tidak 6 sedikit 5 Tidak Tidak 7 Sedikit Tahap 3 Tahap 4 Tahap Tidak Tidak 6 sedikit 5 Tidak Tidak 7 Sedikit Tabel 8.3 Pengamatan Penyaringan Air II Bahan/penyaringan II Warna Bau pH Endapan Tahap 1 Tidak Tidak 6 Ada Tahap 2 Tidak Tidak 6 Ada Tidak Tidak 6 Ada 8.6 Analisa (Pembahasan) Air adalah suatu zat yang berbentuk cair yang mengandung unsur hydrogen, oksigen dan mineral dengan kadar tertentu. Percobaan 1 dengan Penyaringan A yang Memiliki Satu Lapis Karbon Aktif Air comberan yang memiliki volume 900 ml mengandung bau, berwarna, keruh, memiliki banyak endapan dan mempunyai pH 6. Di saring dengan 5 tahap penyaringan: 16 Penyaringan pertama. Air masih memilikai bau, masih ada endapan, masih berwarna, memiliki pH 6. 26 Penyaringan ke dua. Air tidak berbau, masih ada endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 73
  • 74. Bab VIII Penyaringan Air 36 Penyaringan ke tiga. Air tidak berbau, masih ada endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 46 Penyaringan ke empat. Air tidak bau, sedikit endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 56 Penyaringan ke lima. Air tidak bau, sedkit endapan, tidak berwarna, memiliki pH 7 Hasil penyaringan air yang asalnya memiliki volume 900 ml menjadi 500 ml. Percobaan 2 dengan Penyaringan B yang Memiliki Dua Lapis Karbon Aktif Air comberan yang memiliki volume 900 ml mengandung bau, berwarna, keruh, memiliki bnyak endapan dan mempunyai pH 6. Di saring dengan 5 tahap penyaringan: 16 Penyaringan pertama. Air tidak memiliki bau, masih ada endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 26 Penyaringan ke dua. Air tidak berbau, masih ada endeapan, tidak berwarna, memiliki pH 6. 36 Penyaringan ke tiga. Air tidak berbau, masih ada endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 46 Penyaringan ke empat. Air tidak bau, sedikit endapan, tidak berwarna, memiliki pH 6 56 Penyaringan ke lima. Air tidak bau, sedikit endapan, tidak berwarna, memiliki pH 7 Hasil penyaringan air yang asalnya memiliki volume 900 ml menjadi 500 ml, mungkin hasil ini tidak akurat karena masih banyak air yang tumpah. 8.7 Kesimpulan 16 Pada proses penyaringan yang memiliki dua alat penyaringan, penyaringan A mempunyai karbon aktif hanya satu lapis sedangkan alat penyaringan B mempunyai karbon aktif dua lapis. 26 Pada alat penyaringan A dalam sekali penyaringan masih berbau, tetapi alat penyaringan B dalam sekali penyaringan sudah tidak memiliki bau. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 74
  • 75. Bab VIII Penyaringan Air 36 Tetapi air ini walaupun sudah terlihat jernih dan bersih masih belum layak untuk di minum. Air ini belum memenuhi standar air minum. Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 75
  • 76. DAFTAR PUSTAKA 16 http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan [18 Desember 2011] 26 http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_klorida [18 Desember 2011] 36 http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/26/penentuan- [18 Desember 2011] 46 http://www.scribd.com/doc/34108769/Pelapisan-Logam [18 Desember 2011] 56 http://rumahcor.com [18 Desember 2011] 66 http://samadaranta.wordpress.com/2011/10/29/tembaga/ [18 Desember 2011] 76 http://fuadmje.wordpress.com/2011/11/06/kimia-pelapisan/ [18 Desember 2011] 86 http://www.scribd.com/doc/34607639/Teknologi-Seng-Plating [18 Desember 2011] 96 http://id.wikipedia.org/wiki/Seng#Sifat_fisik [18 Desember 2011] 106 http://rdsujono.blogspot.com/2011/03/anodisasi-alumunium.html [18 Desember 2011] 116 http://id.wikipedia.org/wiki/Air [18 Desember 2011] Laporan Akhir Praktikum Kimia Dasar 76

×