Your SlideShare is downloading. ×
Hadis Sebagai sumber Ajaran islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Hadis Sebagai sumber Ajaran islam

11,459
views

Published on

Mencoba sekedar berbagi tulisan sederhana

Mencoba sekedar berbagi tulisan sederhana

Published in: Education

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
11,459
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
105
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB IIHADIS SEBAGAI SUMBER AJARAN AGAMASudah menjadi kesepakatan di kalangan jumhur muhadisin danushuliyyin, bahwa al hadis menjadi sumber rujukan hukum yang kedua setelah alqur’an. Andaikata al hadis hanyalah berupa laporan-laporan sejarah sebagaimanakitab sirah-nya ibnu Hisyam, atau sekedar sejarah perjuangan bersenjata nabisebagaimana kitab al maghaziy-nya al Waqidiy, tentunya para ulama tidak begitumemperhatikan dan mempedulikan pengunaan sanad di dalamnya.Kenyataannya laporan al hadis haruslah didasarkan pada sejumlah nama yangbisa dijadikan dasar pijakan validitas informasi tersebut. Suatu hal yang tidakbegitu dibutuhkan oleh laporan yang bersifat ilmu kesejarahan.Kedudukan al hadis sebagai sumber kedua hukum islam itu tentunyamenimbulkan kenskuensi logis bagi terus dikembangkannya kajian yang intensifdan kritis serta tidak henti-hentinya, baik berkaitan dengan nilai-kualitas sanadatau matannya, maupun yang berkaitan dengan makna yang dikandungnya. Olehkarenanya pembahasan tentang al hadis sebagai dasar dan dalil bagi hukum-hukum syari’at telah dilakukan secara meluas dalam semua kitab ushul fiqh dandari semua mazhab. Sedemikian pentingnya sampai-sampai al Auza’iy (wafat 157H) menyatakan bahwa “Al Qur’an lebih membutuhkan as sunnah dibandingkandengan kebutuhan as sunnah kepada al qur’an” sebagaimana dikatakan oleh asSyaukani (Tt:33).Hal ini mengingat bahwa al hadis merupakan penjelas bagi al qur’an . Iamemerinci terhadap segala ketentuan yang ada dalam al qur’an, hal mana alqur’an seringkali menginformasikan ketentuan-ketentuan itu dalam bentuk yangmasih bersifat global. Itulah sebabnya banyak orang mengatakan bahwa al hadisberwenang (‫القاضية‬) atas al qur’an. Maksudnya al hadis berwenang untukmemutuskan apa yang dimaksud oleh al qur’an. Hal senada juga diungkapkanoleh Musthofa as Shiba’iy (1975:378) beliau mengatakan :‫روى‬‫عن‬‫بعض‬‫العلماء‬‫من‬‫أن‬‫السنة‬‫قاضيه‬‫على‬‫الكتاب‬‫إذ‬‫هى‬‫تبين‬‫مجمله‬‫وتقيد‬‫مطلقه‬‫وتخصيص‬‫عامه‬‫فيرجع‬‫إليها‬‫ويترك‬‫ظاهرالكتاب‬‫و‬‫قد‬‫يحتمل‬‫نص‬‫الكتاب‬‫أمرين‬‫فأكثر‬‫فتعين‬‫السنة‬‫أحدهما‬‫فيعمل‬‫بها‬‫ويترك‬‫مقتضى‬‫الكتاب‬‫أل‬‫ترى‬‫أن‬‫اية‬‫السرقة‬‫قاضية‬‫بقطع‬‫كل‬‫سارق‬‫فخصتها‬‫السنة‬‫بمن‬‫سرق‬‫نصابا‬‫محرزا‬‫وهي‬‫تفيد‬‫قطع‬‫اليد‬‫و‬‫اليد‬‫تصدق‬‫من‬‫الصابع‬‫إلى‬‫المرفقين‬‫فخصتها‬‫السنة‬‫بالكوعين‬‫وكذالك‬‫ايات‬‫الزكاة‬‫شاملة‬‫لكل‬‫مال‬‫فخصتها‬‫السنة‬‫بأموال‬‫مخصوصة‬Akan tetapi Imam Ahmad tidak menyukai ungkapan seperti itu. Beliaumengatakan “Saya tidak berani mengatakan seperti itu, saya hanya akan berkatabahwa al hadis menjelaskan kandungan al qur’an” . Pendapat imam Ahmad inidikemukakan oleh ibn abdil barr dalam kitab jami’ bayan al ‘ilm wa fadhluhu.Barangkali ini adalah pendapat yang lebih bijaksana. Sebab al hadis dalam satu13
  • 2. segi memang menjelaskan apa yang ada dalam al qur’an, tetapi dalam segi yanglain ia hanya berputar dalam orbit al qur’an dan tidak keluar daripadanya.As Syaukaniy (Tt:33) pada akhirnya berkesimpulan bahwa keberadaan alhadis sebahai hujjah (sumber hukum syari’at) serta wewenangnya dalampenetapan hukum, sudah merupakan suatu keharusan dalam agama, takseorangpun berbeda faham tentangnya, kecuali mereka yang tidak memiliki cukupilmu dalam islam. Musthofa as Shiba’iy (1975:376) mengatakan :‫اتفق‬‫المسلمون‬‫قديما‬‫وحديثا‬‫إل‬‫من‬‫شذ‬‫من‬‫بعض‬‫الطوائف‬‫المتحرفة‬‫على‬‫أن‬‫السنة‬‫رسول‬‫ا‬‫صلى‬‫ا‬‫عليه‬‫وسلم‬‫من‬‫قول‬‫أو‬‫فعل‬‫أو‬‫تقرير‬‫هى‬‫من‬‫مصادر‬‫التشريع‬‫السلمى‬‫الذي‬‫ل‬‫غنى‬‫لكل‬‫متشرعى‬‫عن‬‫االرجوع‬‫إليها‬‫فى‬‫المعرفة‬‫الحلل‬‫و‬‫الحرام‬Siapa saja yang membaca dan mempelajari kitab-kitab fiqh dari mazhabmanapun, pasti Ia akan mendapati suatu kenyataan bahwa pendapat para fuqahaitu sarat dengan dalil-dalil yang berasal dari al hadis, baik yang berupa perkataan,perbuatan maupun taqrir dari rasulullah. Sama saja dalam hal ini apakahpengarangnya dikenal –dalam sejarah ilmu fiqh- sebagai tokoh atau pengikutmadrasah Hadis maupun madrasah ar Ra’yi.Sesungguhnya jika terdapat anggapan bahwa ummat islam tidakmembutuhkan penjelasan hadis dalam kehidupan beragama maka pendapat inipastilah muncul ari orang yang tidak pernah mendalami ilmu-ilmu agama secaramendalam. Siapapun orang akan menyadari bahwa ayat-ayat al qur’an tidaklahsebegitu detail untuk menjelaskan beberapa ketentuan hukum-hukumnya.Hal ini disebabkan al qur’an diturunkan bukanlah berisi seperangkatteori-teori atau kaedah-kaedah hukum murni atau semisal dengan undang-undangmodern yang didalamnya diatur segala tindak tanduk perbuatan manusia. Alqur’an adalah pedoman yang lengkap bagi manusia untukberkehidupan,bermasyarakat dan bernegara dengan cita-cita islam. Dan sangatlogis jika al qur’an tidak membahas dan tidak detail terhadap beberapa ketentuan-ketentuan yang erat kaitannya dengan seluruh perbuatan manusia. Akandibutuhkan berlembar-lembar halaman kertas untuk memuat segala ketentuanyang berkaitan dengan perbuatan manusia. Tentunya ini akan memberatkanmanusia itu sendiri, sehingga al qur’an memberikan wewenang penafsiran ,penambahan dan penjelasan hukum yang tidak diatur dalam al qur’an, kepadaNabi SAW.A. DALIL-DALIL KEHUJJAHAN AL HADISSesungguhnya kehujjahan al hadis sebagi sumber ajaran islam tidakhanya berasal dari kesepakatan para ulama belaka. Akan tetapi lebih dari itukedudukan yang istimewa tersebut mendapat dukungan dari al qur’an. Dengankata lain proses penetapan al hadis sebagai sumber ajaran islam mendapatkandua dukungan baik dari dalil aqliy maupun dari dalil naqliy.Ayat-ayat berikut baik secara tegas maupun samar-samarmengindikasikan adanya kewajiban untuk taat pada beliau :14
  • 3. -‫وانزلنا‬‫اليك‬‫الذكر‬‫لتبين‬‫للناس‬‫ما‬‫نزل‬‫اليهم‬‫و‬‫لعلهم‬‫يتفكرون‬)‫النحل‬:44(-‫فل‬‫وربك‬‫ليؤمنون‬‫حتى‬‫يحكموك‬‫فيما‬‫شجر‬‫بينهم‬‫ثم‬‫ل‬‫يجدوا‬‫فيانفسهم‬‫حرج‬‫مما‬‫قضيت‬‫ويسلموا‬‫تسليما‬)‫النساء‬:65(-‫وما‬‫اتاكم‬‫الرسول‬‫فخذوه‬‫وما‬‫نهاكم‬‫عنه‬‫فانتهوا‬)‫الحشر‬:7(-‫وأطيعوا‬‫ا‬‫والرسول‬‫لعلكم‬‫ترحمون‬)‫ال‬‫عمران‬:132(-‫يايها‬‫الذين‬‫امنوا‬‫اطيعوا‬‫ا‬‫و‬‫اطيعوا‬‫الرسسول‬‫و‬‫اولى‬‫المر‬‫منكم‬)‫النساء‬:59(-‫يايها‬‫الذين‬‫امنوا‬‫استجيبوا‬‫وللرسول‬‫إذا‬‫دعاكم‬‫لما‬‫يحييكم‬)‫النفال‬:34(-‫من‬‫يطع‬‫الرسول‬‫فقد‬‫أطاع‬‫ا‬)‫النساء‬:80(-‫قل‬‫إن‬‫كنتم‬‫تحبون‬‫ا‬‫فاتبعونى‬‫يحببكم‬‫ا‬‫ويغفرلكم‬‫ذنوبكم‬)‫ال‬‫عمران‬:31(-‫قل‬‫اطيعوا‬‫ا‬‫والرسول‬‫فإن‬‫تولوا‬‫فإن‬‫ا‬‫ل‬‫يحب‬‫الكافرين‬)‫ال‬‫عمران‬:32(-‫وما‬‫كان‬‫لمؤمن‬‫ول‬‫مؤمنة‬‫إذا‬‫فضى‬‫ا‬‫و‬‫رسوله‬‫أمرا‬‫ان‬‫يكون‬‫لهم‬‫الخيرة‬‫من‬‫أمرهم‬‫ومن‬‫يعص‬‫ا‬‫رسوله‬‫فقد‬‫ضل‬‫ضلل‬‫مبينا‬)‫الحزاب‬:36(Sederetan ayat di atas menyajikan suatu bukti yang amat sulit untukdibantah bahwa menjadi suatu kewajiban bagi ummat islam untuk senantiasamengikuti dan taat kepada Nabi. Pengingkaran terhadap ketentuan-ketentuanyang diajarkan oleh rasulullah itu sama saja merupakan pengingkaran terhadapketentuan Allah Swt. Dan itu merupakan suatu kenyataan bahwa al hadismenjadi suatu pegangan bersama bahwa sebagai sumber hukum ia mendapatkandukungan penuh dari al qur’an.Kehujahan al hadis memiliki sisi perbedaannya dengan al qur’an.Musthofa as Shiba’iy (1975:377) menjelaskan bahwa tidak dapat diragukan lagikandungan al hadis dari segi penyampaiannya memiliki kualitas qath’iy as subut.Sementara dari segi dalalah mengandung kemungkinan antara qath’iy dandhanniy. Adapun sunnah, terhadap hadis-hadis yang termasuk kategori mutawatirmaka ia memiliki Qathiy as Subut dan yang tidak mutawatir, kualitasnya dhanniyas subut. Adapun dari segi dalalah, sunnah ada yang qathiy dalalah dan yangdhanniy dalalah. Dengan kata lain setiap al qur’an pasti qath’iy as subut sementarauntuk al hadis ada yang qat’iy dan yang dhanniy as subut. Perbedaan dari segi inimengakibatkan al hadis menduduki peringkat yang kedua dibanding al qur’andalam proses rujukan setiap persoalan dalam agama islamDali-dalil di atas dapat dikategorikan sebagai dalil naqliy, mengingat daliltersebut adalah berupa nash-nash al qur’an. Secara logika, sangat rasional jika alhadis merupakan salah satu diantara sumber hukum dalam syari’at islam.Sebagaimana yang sudah difahami oleh banyak orang ayat-ayat al qur’an turun15
  • 4. tidak dalam redaksi yang detail ketika membicarakan berbagai persoalan umatmanusia. Seringkali ayat dikomunikasikan dalam bentuk yang masih sangatumum sehingga memerlukan kegiatan penafsiran dan pengkhususan untukmemperoleh makna yang dimaksud oleh al qur’an tersebut. Penafsiran dankegiatan ilmiah lainnya yang bertujuan untuk menyingkap makna al qur’an itutentunya tidak akan memeperoleh hasil yang maksimal jika tidak bersumber padarujukan-rujukan yang sah.Salah satu rujukan yang paling valid dari sekian metode rujukan yangdikembangkan oleh para fuqaha adalah pengunaan as sunnah untuk menafsirkan,menta’wilkan, mengkhususkan, membatasi dan mengecualikan apa-apa yangtidak jelas dalam ayat-ayatnya. Perintah solat, zakat, puasa dan lain sebagainya,tentunya tidak akan bisa dikerjakan secara sempurna oleh umat islam jikaternyata mereka menolak untuk menggunakan as sunnah sebagai dasar hukum.Hal ini disebabkan oleh adanya fakta bahwa terhadap ketentuan-ketentuan yang sifatnya sangat detail dan terperinci, ayat al qur’an tidakmenyediakan sejumlah ayat yang cukup untuk membahas permasalahan tersebut.Ketentuan apa yang dikehendaki oleh al qur’an itu, hanya bisa diketahui daripenelusuran terhadap preseden-preseden yang ditinggalkan oleh nabi, yangtersebar dalam bermacam-macam kitab hadis karya para ulama yang munculkemudian.B. FUNGSI HADIS TERHADAP AL QUR’ANMengingat sebagian besar kandungan al qur’an bersifat global tidaksecara terperinci, maka dimungkinkan bagi as sunnah untuk memainkanfungsinya terhadap jenis ayat-ayat tersebut. Sesungguhnya literatur ushul fiqhtelah secara panjang lebar membahas masalah ini. Berikut ini adalah ringkasandari apa yang telah dikemukakan didalam kajian-kajian ushul fiqh tersebut.Secara umum fungsi al hadis terhadap al aur’an meliputi tiga hal berikut ini :1. al Hadis berfungsi sebagai penguat (Ta’kid) terhadap hukum-hukumyang diaturdi dalam al qur’an. Dengan kata lain al qur’an memiliki fungsi ta’kid, yaknimatan-matan yang dikandung oleh al hadis kadangkala sesuai, sepadan,memiliki semangat yang sama dengan al qur’an dari segi mujmal dantafshilnya. al Hadis mendukung dan membenarkan pernyataan hukum yangdiatur dalam al kitab baik dalam pengertian umum maupun dalam pengertianyang lebih terperinci. Contoh yang bisa disebutkan untuk membenarkanpernyataan ini adalah ayat-ayat yang mengatur tentang puasa sholat, zakat,haji yang tidak dibarengi dengan penjelasan tentang syarat dan rukunnyasesungguhnya ia memiliki kesesuaian makna dengan hadis sebagaimana yangtertera di bawah ini :‫بنى‬‫السلم‬‫على‬‫خمش‬‫شهادة‬‫أن‬‫ل‬‫إله‬‫إل‬‫ا‬‫وأن‬‫محمدا‬‫رسول‬‫ا‬‫و‬‫إقام‬‫الصلة‬‫و‬‫إيتاء‬‫الزكاة‬‫و‬‫صوم‬‫رمضان‬‫وحج‬‫البيت‬‫من‬‫استطاع‬‫إليه‬‫سبيل‬)‫متفق‬‫عليه‬(Begitu juga terhadap kandungan ayat berikut ini :16
  • 5. ‫يايها‬‫الذين‬‫امنوا‬‫لتأكلوا‬‫اموالكم‬‫بينكم‬‫بالباطل‬‫إل‬‫ان‬‫تكون‬‫تجارة‬‫عن‬‫تراض‬‫منكم‬)‫سورة‬‫النساء‬19(ia memiliki kesesuaian makna dengan hadis berikut ini :‫ل‬‫يحل‬‫مال‬‫امرئ‬‫مسلم‬‫إل‬‫بطيب‬‫من‬‫نفسه‬2. Fungsi yang kedua adalah al hadis membatasi (taqyied) pengertian al qur’an yangtersusun dalam redaksi yang mutlak, atau memerinci (tafshiel) pengertian yangmasih bersifat global (mujmal), atau juga mengkhususkan (takhshish) pengertian alqur’an yang tersusun dalam kalimat yang umum (‘am). Hadis-hadis yangmemiliki muatan tentang hukum-hukum sholat, zakat, puasa, haji, jual beli danmuammalah lainnya datang dengan misi untuk menjelaskan keglobalan maknayang ada dalam kalimat-kalimat al qur’an.3. Fungsi ketiga dari al hadis adalah menetapkan hukum yang tidak ditetapkan olehal qur’an. Dengan kata lain al hadis berfungsi sebagai bayan at tasyri’ terhadap hal-hal yang didiamkan oleh al qur’an. Artinya ada beberapa peristiwa hukum terjadidi kalangan sahabat dan al qur’an tidak memberikan keputusan hukum tentangmasalah tersebut sementara al hadis memberikan ketentuannya secara jelas. Dantidak didapatkan adanya koreksi dari al qur’an terhadap ketentuan hukum yangdiciptakan oleh nabi menyangkut masalah tersebut. Seperti kasus larangan nabibagi ummat islam untuk tidak menikahi dalam waktu bersamaan antara seorangwanita dengan bibi dari fihak laki-laki (‘Ammat) maupun bibi dari fihakperempuan (Kholat), juga tentang hak mendahulukan syarikat ( teman dagang,partner, tetangga ) ketika seseorang hendak menjual harta benda yang dimilikinyasecara kongsi (hak syuf’ah), begitu pula tehadap kasus hukuman rajam bagi pezinamuhson dan pengasingan 1 tahun bagi pezina ghair al muhson dan lain-lain.Semua ketentuan tersebut sesungguhnya tidak terdapat dalam al qur’an dan tidakada nash yang melarang atau bahkan mewajibkannya. Ulama sepakat bahwaterhadap ketentuan hukum yang dimunculkan oleh nabi dan didiamkan oleh alqur’an berarti hal itu menunjukkan perkenan al qur’an terhadap fungsi nabisebagai syari’, Meskipun sesungguhnya yang namanya syari’ hanyalah Allah swt.Mengomentari ketiga fungsi al hadis terhadap al qur’an sebagaimanatersebut di atas, para ulama umumnya sepakat pada dua poin awal danmempermasalahkanya pada poin ketiga, yakni mengenai kewenangan al hadisuntuk menetapkan hukum baru yang tidak didapatkan ketentuannya dalam alqur’an. Ulama berbeda pendapat dalam hal cara dan bentuk-bentuk yang dilaluioleh nabi ketika menetapkan hukum yang baru tersebut. Sebagian ulamaberpendapat bahwa keputusan nabi itu murni merupakan hasil dari aktifitas nalarbeliau tanpa adanya bimbingan wahyu di dalamnya. Akan tetapi sebagian ulamayang lain berpendapat bahwa ketetapan nabi itu haruslah berada dibawahsemangat atau ruh al qur’an dan tidak boleh menyimpang sama sekali dari nashal qur’an, betapapun cara yang ditempuh oleh nabi adalah sekedar ta’wilterhadap makna yang dikandung oleh sebuah ayat-ayat-Nya.Di samping itu ada beberapa perilaku nabi yang memang menjadikekhususan tersendiri bagi beliau seperti menikah lebih dari 4 wanita. Kebolehanpoligami melebihi batasan yang diperkenankan oleh al qur’an itu merupakan hakistimewa yang hanya dimiliki oleh nabi. Demikian pula ada beberapa tindakannabi yang menjadi ajang perdebatan apakah ia merupakan contoh yang harus17
  • 6. diikuti ataukah ia hanya sekedar hal-hal yang berasal dari keinginan pribadi nabi.Perilaku yang dimaksud umpamanya terdapat dalam hadis berikut ini :‫قصوا‬‫الشارب‬‫واعفوا‬‫للحي‬Sebagian ulama beranggapan bahwa hadis di atas mengandung perintahbagi umat islam untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot sebagaibentuk ketaatan perintah hadis nabi tersebut. Akan tetapi sebagian ulama justrumenganggap perintah hadis di atas hanya mengandung anjuran yang sifatnyahukum kebiasaan saja atau bahwa perintah nabi diatas sekedar anjuran untukmenunjukkan identitas diri agar berbeda dengan kebiasaan orang kafir yahudi dannasrani yang lebih suka mencukur jenggot dan memelihara kumis. Sama sekalibukan hadis yang bernilai sebagai sebuah dalil.Demikianlah secara ringkas pembahasan tentang fungsi hadis terhadapal qur’an sesungguhnya pembahasan yang panjang lebar dan cukup memadailebih banyak dibahas dalam kitab-kitab ushul fiqh. Secara lebih mendalam ulamamengkaji fungsi hadis tersebut beserta dalil naqli maupun aqlinya.Kesimpulannya adalah bahwa as sunnah kaitannya dengan al qur’andari segi bahwa ia adalah wahyu ghair matlu dan sebagai sumber penetapanhukum islam, maka wajib bagi umat islam untuk beramal dengannya. Hal ini dikarenakan as sunnah menduduki posisi yang kedua setelah al qur’an sementara disisi yang lain ia adalah penjelas bagi ketentuan-ketentuan yang ada dalam alqur’an. Sebagaimana disinyalir dalam al qur’an surat an nahl ayat 44, yangberbunyi sebagai berikut :‫وأنزلنا‬‫إليك‬‫الذكر‬‫لتبين‬‫للناس‬‫ما‬‫نزل‬‫إليهم‬‫و‬‫لعلهم‬‫يتفكرون‬)‫النحل‬;44(Ayat di atas menjadi alasan yang paling kuat untuk melegitimasi fungsidan kedudukan as sunnah terhadap al qur’an. Sehingga tidak ada alasan bagisebagian umat islam untuk meragukan kewenangan as sunnah sebagai dasarhukum dan hujjah dalam agama. Meskipun pada kenyataannya ada juga sebagianumat islam yang menentang adanya fungsi yang sebagaimana tersebut dimuka,akan tetapi pendapat mereka secara umum mudah untuk dibantah. Pada bab-babberikutnya akan di bahas kemunculan sekelompok orang yang ingkar terhadap assunnah disertai alasan dan dalil-dalil yang mereka gunakan dan bantahan ulamaterhadap sikap mereka tersebut.18
  • 7. diikuti ataukah ia hanya sekedar hal-hal yang berasal dari keinginan pribadi nabi.Perilaku yang dimaksud umpamanya terdapat dalam hadis berikut ini :‫قصوا‬‫الشارب‬‫واعفوا‬‫للحي‬Sebagian ulama beranggapan bahwa hadis di atas mengandung perintahbagi umat islam untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot sebagaibentuk ketaatan perintah hadis nabi tersebut. Akan tetapi sebagian ulama justrumenganggap perintah hadis di atas hanya mengandung anjuran yang sifatnyahukum kebiasaan saja atau bahwa perintah nabi diatas sekedar anjuran untukmenunjukkan identitas diri agar berbeda dengan kebiasaan orang kafir yahudi dannasrani yang lebih suka mencukur jenggot dan memelihara kumis. Sama sekalibukan hadis yang bernilai sebagai sebuah dalil.Demikianlah secara ringkas pembahasan tentang fungsi hadis terhadapal qur’an sesungguhnya pembahasan yang panjang lebar dan cukup memadailebih banyak dibahas dalam kitab-kitab ushul fiqh. Secara lebih mendalam ulamamengkaji fungsi hadis tersebut beserta dalil naqli maupun aqlinya.Kesimpulannya adalah bahwa as sunnah kaitannya dengan al qur’andari segi bahwa ia adalah wahyu ghair matlu dan sebagai sumber penetapanhukum islam, maka wajib bagi umat islam untuk beramal dengannya. Hal ini dikarenakan as sunnah menduduki posisi yang kedua setelah al qur’an sementara disisi yang lain ia adalah penjelas bagi ketentuan-ketentuan yang ada dalam alqur’an. Sebagaimana disinyalir dalam al qur’an surat an nahl ayat 44, yangberbunyi sebagai berikut :‫وأنزلنا‬‫إليك‬‫الذكر‬‫لتبين‬‫للناس‬‫ما‬‫نزل‬‫إليهم‬‫و‬‫لعلهم‬‫يتفكرون‬)‫النحل‬;44(Ayat di atas menjadi alasan yang paling kuat untuk melegitimasi fungsidan kedudukan as sunnah terhadap al qur’an. Sehingga tidak ada alasan bagisebagian umat islam untuk meragukan kewenangan as sunnah sebagai dasarhukum dan hujjah dalam agama. Meskipun pada kenyataannya ada juga sebagianumat islam yang menentang adanya fungsi yang sebagaimana tersebut dimuka,akan tetapi pendapat mereka secara umum mudah untuk dibantah. Pada bab-babberikutnya akan di bahas kemunculan sekelompok orang yang ingkar terhadap assunnah disertai alasan dan dalil-dalil yang mereka gunakan dan bantahan ulamaterhadap sikap mereka tersebut.18

×