1                         Brought By: Mazizaacrizal                                   a.k.a                      Dewa ng’A...
2                                            BAB I                                    PENDAHULUANA.     Latar Belakang.   ...
3yang dikenal sebagai “pembunuh filsafat” di dunia Islam, Bahkan gelar hujjatulislam, selalu melekat dengan kebesarannya, ...
4                                           BAB II                                     PEMBAHASANA.     Riwayat Hidup.    ...
5          Al-Farabi dengan cemas hati melihat perpecahan khalifah dankemunduran masyarakat Islam. Sebagaimana sudah disin...
6          Baghdad merupakan kota yang pertama kali dikunjunginya. Di sini iaberada selama dua puluh tahun, kemudian pinda...
7didengarkan dalam perbendaharaan lagu sufi musik India 9 . Al-Farabi telahmengarang ilmu musik dalam lima bagian. Buku-bu...
8dalam kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika,matematika dan politik 11 . Kebanyakan pemik...
9sejarahnya. Hasilnya terkadang spekulatif dan terkadang pula hasil pengembanganpemikiran yang sudah ada.         Metafisi...
10(yang diciptakan). Tetapi bagaimana yang banyak keluar dari yang Ahadmemunculkan diskusi yang mendalam.        Masuknya ...
11yang tidak disebutkan namanya dalam al-Quran 15 . Oleh karena itu ia berusahauntuk mendamaikan filsafat Aristoteles deng...
12masalah falsafi yang telah menjadi tema pembahasan utama dalam kalanganfilosof Yunani. Masalah ini juga telah menduduki ...
13             Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yangbanyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan...
14                              ------ dirinya=JupiterWujud VI/Akal V               ------ Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam    ...
15harus dibaca ulang, karena fondasai teoritiknya sudah terbantah. Namun sebagaieksplorasi metafisika ini merupakan bahan ...
16Pertama pengadaan keharmonisan antara filsafat Aristoteles dan Plato sehingga iasesuai dengan dasar-dasar Islam dan kedu...
17dalam tiga dimensi. Konsep tersebut tidak mesti diperlukan pada setiap konsep,melainkan harus berhenti       pada suatu ...
18         2. Pokok utama segala yang maujud.         3. Prinsip utama tentang gerak dasar menurut ilmu pengetahuan.      ...
19artinya yang tidak tergantung pada hal-hal lain. Segala sesuatu yang lainnyamempunyai nilai nisbi27.              Al-Far...
20                                    BAB III                                KESIMPULAN        Dari pemaparan di atas dapa...
21                              DAFTAR PUSTAKAAbdullah, M. Amin, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme, Yogyakarta:     Pus...
22Madkour, Ibrahim, “Al-Farabi” dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM.     Syarif, alih bahasa Ilyas Hasan, Para Filo...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Paradigma Al-Farabi dalam Epistemologi Metafisika

2,838 views
2,683 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,838
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Paradigma Al-Farabi dalam Epistemologi Metafisika

  1. 1. 1 Brought By: Mazizaacrizal a.k.a Dewa ng’Asmoro Mudhun BumiVisit me at : www.mazizaacrizal.blogspot.com : www.facebook.com/mazizaacrizalE-mail : mazizaacrizal@yahoo.com
  2. 2. 2 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang. Al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengankompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebihtinggi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti katayang sebenarnya, maka al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasarpiramida studi falsafah dalam Islam, yang sejak itu terus dibangun dengan tekun1.Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannyaAristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin “Harmonisasipendapat Plato dan Aristoteles”. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yangmemadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atauAbunaser2. Maka pada kesempatan kali ini, penulis ingin mencoba mengupas lebihdalam pemikiran al-Farabi tentang metafisika. Yang mana pemikiran beliaudisadari atau tidak telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yunanikuno, yang pada akhirnya tulisan-tulisan beliau akan mendapat kritikan-kritikandan pertentangan dari semisal Imam al-Ghozali (1058 M/450 H – 1111 M/505 H),1 Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang,1984), 30.2 Nadim al-Jisr, Qissatul Iman, alih bahasa A. Hanafi, Kisah Mencari Tuhan (Jakarta: BulanBintang, 1966), Jilid I., 56.
  3. 3. 3yang dikenal sebagai “pembunuh filsafat” di dunia Islam, Bahkan gelar hujjatulislam, selalu melekat dengan kebesarannya, berkat prestasi Tahafut al-Falasifahdan Ihya’ ‘ulum al-Din.
  4. 4. 4 BAB II PEMBAHASANA. Riwayat Hidup. Ia adalah Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, suatu desa diFarab (Transoxania) pada tahun 870 M3. Al-Farabi dalam sumber-sumber Islamlebih akrab dikenal sebagai Abu Nasr. Ia berasal dari keturunan Persia. AyahnyaMuhammad Auzlagh adalah seorang Panglima Perang Persia yang kemudianmenetap di Damaskus, sedangkan Ibunya berasal dari Turki. Oleh karena itu iabiasa disebut orang Persia atau orang Turki. Sebagai pembangun sistem filsafat, Iatelah mengabdikan diri untuk berkontemplasi, menjauhkan diri dari dunia politik,walaupun Ia juga menulis karya-karya politik yang monumental. Filsafatnyamenjadi acuan pemikiran ilmiah bagi dunia Barat dan Timur, lamasepeninggalnya4. Al-Farabi hidup ditengah kegoncangan masyarakat dan politik Islam.Pemerintah pusat Daulah Abbasiyah di Baghdad sedang berada di dalamkekacauan karena pada saat itu bermunculan negara-negara di daerah yang inginmengambil alih kekuasaan.3 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 26.4 Ibrahim Madkour, “Al-Farabi” dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM. Syarif, alih bahasaIlyas Hasan, Para Filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1992), 55.
  5. 5. 5 Al-Farabi dengan cemas hati melihat perpecahan khalifah dankemunduran masyarakat Islam. Sebagaimana sudah disinggung di atas, Ia tidakaktif dalam bidang politik, tetapi memberikan kontribusi pemikiran denganmenulis buku politik untuk memperbarui tata negara. Pembaruan itu menurutnyahanya dapat berhasil bila berakar kokoh dalam pondasi filsafat. Walaupun al-Farabi merupakan ahli metafiska Islam yang pertama terkemuka, namun Ia lebihterkenal dikalangan kaum Muslimin sebagai penulis karya-karya filsafat politik5.Para ahli sepakat memberikan pujian yang tinggi kepadanya, terutama sebagaiahli logika yang masyhur dan juru bicara Plato dan Aristoteles pada masanya. Iabelajar logika kepada Yuhanna ibn Hailan di Baghdad. Ia memperbaiki studilogika, meluaskan dan melengkapi aspek-aspek rumit yang telah ditinggalkan al-Kindi. Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua, yaitu pertama bermuladari sejak lahir sampai usia lima tahun. Pendidikan dasarnya ialah keagamaan danbahasa, Ia mempelajari Fiqh, Hadis, dan Tafsir al-Qur‟an. Ia juga mempelajariBahasa Arab, Turki dan Persia. Periode kedua adalah periode usia tua dankematangan intelektual. Baghdad merupakan tempat belajar yang terkemuka padaabad ke-10M. Disana Ia bertemu dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranyapara filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantaraahli logika paling terkemuka adalah Abu Bisyr Matta ibn Yunus6.5 Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 30.6 Majid Fakhry, SA., History of Islamic Philosophy, alih bahasa R. Mulyadi Kartanegara, SejarahFilsafat Islam (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), 162
  6. 6. 6 Baghdad merupakan kota yang pertama kali dikunjunginya. Di sini iaberada selama dua puluh tahun, kemudian pindah ke Damaskus. Di sini iaberkenalan dengan Gubernur Aleppo, Saifuddaulah al-Hamdani. Gubernur inisangat terkesan dengan al-Farabi, lalu diajaknya pindah ke Aleppo dan kemudianmengangkat al-Farabi sebagai ulama istana. Kota kesayangannya adalah Damaskus. Ia menghabiskan umurnya bukandi tengah-tengah kota, akan tetapi di sebuah kebun yan terletak di pinggir kota.Di tempat inilah ia kebanyakan mendapat ilham menulis buku-buku filsafat 7 .Begitu mendalam penyelidikanya tentang filsafat Yunani terutama mengenaifilsafat Plato dan Aristoteles, sehingga ia digelari julukan al-Mu‟ alim ats-Tsani(Guru Kedua), karena Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles, disebabkanusaha Aristoteles meletakkan dasar ilmu logika yang pertama dalam sejarahdunia8.B. Karya-karyanya. Al-Farabi menunjukkan kehidupan spiritual dalam usianya yang masihsangat muda dan mempraktekkan kehidupan sufi. Ia juga ahli musik terbesardalam sejarah Islam dan komponis beberapa irama musik, yang masih dapat7 Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam: Sedjarah dan Perkembangannya di Dunia Internasional(Jakarta: Bulan Bintang, 1964), 89.8 Abdullah Siddik, Islam dan Filsafat (Jakarta: Triputra Masa, 1984), 90.
  7. 7. 7didengarkan dalam perbendaharaan lagu sufi musik India 9 . Al-Farabi telahmengarang ilmu musik dalam lima bagian. Buku-buku ini masih berupa naskahdalam bahasa Arab, akan tetapi sebagiannya sudah diterbitkan dalam bahasaPerancis oleh D‟ Erlenger. Teorinya tentang harmoni belum dipelajari secaramendalam. Pengetahuan estetika al-Farabi bergandengan dengan kemampuanlogikanya. Ia meninggal pada tahun 950 M dalam usia 80 tahun. Ia meninggalkan sejumlah besar tulisan penting. Karya al-Farabi dapatdibagi menjadi dua, satu diantaranya mengenai logika dan mengenai subyek lain.Tentang logika, al-Farabi mengatakan bahwa filsafat dalam arti penggunaan akalpikiran secara umum dan luas adalah lebih dahulu daripada keberadaan agama,baik ditinjau dari sudut waktu (temporal) maupun dari sudut logika. Dikatakan“lebih dahulu” dari sudut pandang waktu, karena al-Farabi berkeyakinan bahwamasa permulaan filsafat, dalam arti penggunaan akal secara luas bermula sejakzaman Mesir Kuno dan Babilonia, jauh sebelum Nabi Ibrahim dan Musa.Dikatakan lebih dahulu secara logika karena semua kebenaran dari agama harusdipahami dan dinyatakan, pada mulanya lewat cara-cara yang rasional, sebelum 10kebenaran itu diambil oleh para Nabi . Karya al-Farabi tentang logikamenyangkut bagian-bagian berbeda dari karya Aristoteles “Organon”, baik dalambentuk komentar maupun ulasan panjang. Kebanyakan tulisan ini masih berupanaskah dan sebagain besar naskah-naskah ini belum ditemukan. Sedang karya9 Seyyed Hossen Nasr, Theology, Philosopy, and Spirituality Word Spirituality, alih bahasaSuharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam, Teolog, Filsafat dan Gnosis (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996), 35.10 M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995), 151.
  8. 8. 8dalam kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika,matematika dan politik 11 . Kebanyakan pemikiran yang dikembangkan oleh al-Farabi sangat berafiliasi dengan system pemikiran Hellenik berdasarkan Plato dan 12Aristoteles. Diantara judul karya al-Farabi yang terkenal adalah : Maqalah fiAghradhi ma Ba‟ da al-Thabi‟ ah, Ihsha‟ al-Ulum, Kitab Ara‟ Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kitab Tahshil al-Sa‟ adah, „ U‟ yun al-Masa‟ il, Risalah fi al-Aql, danmasih banyak lagi.C. Pemikiran Beliau Tentang Metafisika. Menyibukkan diri di bidang filsafat bukanlah suatu kegiatan yang hanyadilakukan oleh segelintir orang saja, melainkan merupakan salah satu cirikemanusiaan kita. Berfilsafat merupakan salah satu kemungkinan yang terbukabagi setiap orang., seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan sehari-hari.Salah satu cabang filsafat adalah metafisika. Kebutuhan manusia akan metafisika merupakan dorongan yang munculdari hidup manusia yang mempertanyakan hakikat kenyataan13. Manusia adalahproduk masyarakat tertentu. Ia adalah anak zamannya. Manusia tidak membentukdiri sendiri. Opini-opini pribadi dibentuk oleh masyarakat tempat tinggalnya.Setiap pemikiran selalu mewakili zamannya dan hasil dialektika dengan11 Ibrahim Madkour, “Al-Farabi” dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM. Syarif, alih bahasaIlyas Hasan, Para Filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1992), 59.12 Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islami (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). 2813 Lorens Bagus, Metafisika (Jakarta: Gramedia, 1991), 2-3.
  9. 9. 9sejarahnya. Hasilnya terkadang spekulatif dan terkadang pula hasil pengembanganpemikiran yang sudah ada. Metafisika, menurut al-Farabi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama14 : 1. Bagian yang berkenaan dengan eksistensi wujud-wujud, yaitu ontologi. 2. Bagian yang berkenaan dengan substansi-substansi material, sifat dan bilangannya, serta derajat keunggulannya, yang pada akhirnya memuncak dalam studi tentang “suatu wujud sempurna yang tidak lebih besar daripada yang dapat dibayangkan”, yang merupakan prinsip terakhir dari segala sesuatu yang lainnya mengambil sebagai sumber wujudnya, yaiu teologi. 3. Bagian yang berkenaan dengan prinsip-prinsip utama demonstrasi yang mendasari ilmu-ilmu khusus. Ilmu filosofis tertinggi adalah metafisika (al-ilm al-ilahi) karena materisubyeknya berupa wujud non fisik mutlak yang menduduki peringkat tertinggidalam hierarki wujud. Dalam terminology religius, wujud non fisik mengacukepada Tuhan dan malaikat. Dalam terminology filosofis, wujud ini merujukpada Sebab Pertama, sebab kedua, dan intelekaktif. Dalam kajian metafisika salahsatu tujuannya adalah untuk menegakkan tauhid secara benar. Karena tauhidmerupakan dasar dari ajaran Islam. Segala yang ada selain Allah adalah makhluk14 Majid Fakhry, SA. History of Islamic Philsopy, alih bahasa R. Mulyadi Kartanegara, SejarahFilsafat Islam (Jakarta : Pustaka Jaya, 1986), 173.
  10. 10. 10(yang diciptakan). Tetapi bagaimana yang banyak keluar dari yang Ahadmemunculkan diskusi yang mendalam. Masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam tentu saja menimbulkanberbagai persoalan, karena para apparatus ilmu/ulama merespons dengan ilmumereka masing-masing. Filsafat dan ilmu pengetahuan timbul sebagai produkpemikiran manusia. Akal yang dianugerahakan Tuhan kepada manusia itulah yangmenghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan. Dalam kebudayaan Yunani dan Persia akal mempunyai kedudukanpenting. Sementara di dalam Islam, akal juga mempunyai kedudukan yang tinggi.Akal mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam al-Quran dan Hadis. Ayat yangpertama turun memerintahkan umat untuk membaca yang berarti berpikir. Pandangan luas dari ulama pada zaman itu membuat para filosof Islamseperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih, Ibn Tufail dan Ibn Rusyddapat menerima filsafat Pytagoras, Plato, Aristoteles, dan lain-lain, walaupunsesungguhnya menurut Harun filosof-filosof Yunani itu bukan orang yangberagama, seperti yang dikenal dalam Abrahamic Religion. Filsafat merekadengan mudah dapat disesuaikan oleh filosof-filosof Islam itu dengan ajaran dasardalam al-Quran. Idea Tertinggi Plato, Penggerak Pertama Aristoteles, dan YangMaha Satu Plotinus. mereka identikkan dengan Allah SWT. Bahkan al-Farabiberpendapat bahwa Plotinus dan Aristoteles termasuk dalam jumlah Nabi-Nabi
  11. 11. 11yang tidak disebutkan namanya dalam al-Quran 15 . Oleh karena itu ia berusahauntuk mendamaikan filsafat Aristoteles dengan gurunya Plato. Ada beberapa respons akan kedatangan filsafat Yunani ini. Pertama,respons yang sangat antusias di kalangan para filosof. Kedua, sikap yang gembirayaitu oleh para ahli Kalam. Mereka menggunakan metode-metode filsafat untukilmu kalam yang berguna mempertahankan akidah dari serangan musuh yangmenggunakan metode filsafat Yunani. Ketiga, respos yang sangat kritis yaitu olehpara fukaha‟ dan ahli bahasa yang tidak senang dengan kedatangan filsafat Yunaniini. Sedangkan sikap yang cenderung tenang adalah para sufi. Dari berbagai sikap ini tentu saja karena ada perbedaan pandangantentang kebenaran yang dibawa oleh filsafat Yunani. Karena selama ini semenjakRasulullah meninggal mereka hidup dengan mempedomani ajaran al-Qur‟ an danHadis. Para ahli Fiqh yang menguasai mayoritas wacana umat merasaberkewajiban untuk membela pandangan al-Qur‟an dan Hadist. Merekaberpendapat bahwa kebenaran hanyalah yang terdapat dalam al-Quran. Titik debat ini dikarenakan selama ini umat hanya mengenal kebenarandengan paradigma wahyu sementara para filosof membawa pandangan tentangkebenaran dengan paradigma filsafat. Al-Kindi memang telah berusaha menelaahwacana Neo-Platonisme akan tetapi Ia belum secermat al-Farabi. Misalnya,masalah hubungan “Yang Esa” dengan “alam yang pluralis” ini merupakan15 Harun Nasition, “Tinjauan Filosofis Tentang Pembentukan Kebudayaan dalam Islam” dalam Al-Quran & Pembinaan Buidaya Dialog dan Transformasi, ed. Abdul Basir Solissa (Yogyakarta:LSFI, 1993), 23.
  12. 12. 12masalah falsafi yang telah menjadi tema pembahasan utama dalam kalanganfilosof Yunani. Masalah ini juga telah menduduki tempat yang khusus dalampemikiran filosof Islam. Dalam filsafat Yunani, problema ini dibahas dalamtingkat fisika, sedangkan dalam filsafat Neo-Platonisme dan Islam, ia dikajisebagai problema keagamaan. Kendati cara pengkajian masalah tersebut tidakberbeda dalam dua mazhab tersebut, namun tujuannya tidak sama. Dalam mazhabNeo-Platonisme dan filsafat Islam, tujuan pembahasan metafisika adalah untukmembangun suatu sistem alam semesta yang dapat memadukan ajaran agamadengan tuntutan akal 16 . Dalam sistem yang semacam ini, masalah hubungan“Yang Esa” dengan “pluralitas alamiah” ini merupakan titik berangkat atau dasarutama dalam membangun filsafat seluruhnya. Alam semesta muncul dari yang Esadengan proses emanasi. Bertentangan dengan dogma ortodoks tentang penciptaan,filsafat Islam mengemukakan doktrin kekekalan alam.Hierarki wujud menurut al-Farabi adalah sebagai berikut17 : 1. Tuhan yang merupakan sebab keberadaan segenap wujud lainnya. 2. Para Malaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial. 3. Benda-benda langit atau benda-benda angkasa (celestial). 4. Benda-benda bumi (teresterial).16 M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995), 154.17 Osman Bakar, Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu (Bandung: Mizan,1997),118.
  13. 13. 13 Dengan filsafat emanasi al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yangbanyak bisa timbul dari Yang Esa. Tuhan bersifat Maha Esa, tidak berubah, jauhdari materi, Maha Sempurna dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikianhakikat sifat Tuhan bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yangMaha Satu. Emanasi seperti yang disinggung di atas merupakan solusinya bagi al-Farabi18. Proses emanasi itu adalah sebagai berikut: Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran initimbul satu wujud lain. Tuhan merupakan wujud pertama dan dengan pemikiranitu timbul wujud kedua, dan juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama(First Intelligent) yang tak bersifat materi. Wujud kedua ini berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran initimbullah wujud ketiga, disebut Akal Kedua. Wujud II atau Akal Pertama itu jugaberpikir tentang dirinya dan dari situ timbul langit pertama.Wujud III/Akal II ------ Tuhan = Wujud IV/Akal Ketiga ------ dirinya = Bintang-bintangWujud IV/Akal III ------ Tuhan = Wujud V/Akal Keempat ------ dirinya=SaturnusWujud V/Akal IV ------ Tuhan =Wujud VI/Akal Kelima18 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 27.
  14. 14. 14 ------ dirinya=JupiterWujud VI/Akal V ------ Tuhan=Wujud VII/Akal Keenam ------ dirinya=MarsWujud VII/AkalVI ------ Tuhan=Wujud VIII/Akal Ketujuh ------ dirinya=MatahariWujud VIII/Akal VII ------ Tuhan=Wujud IX/Akal Kedelapan ------ dirinya=VenusWujud IX/AkalVIII ------ Tuhan=Wujud X/Akal Kesembilan ------ dirinya=MercuryWujud X/Akal IX ------ Tuhan=Wujud XI/Akal Kesepuluh ------ dirinya=Bulan Pada pemikiran Wujud IX/Akal Kesepuluh ini berhenti, terjadi timbulnyaakal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materipertama yang menjadi dasar dari keempat unsur yaiti api, udara, air dan tanah19.Sepuluh lingkaran geosentris yang disusun oleh al-Farabi berdasarkan sistemPtolomeus20 (Kalau dibanding dengan kosmologi modern tentu saja gagasan ini19 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973, 28.20 JMW. Bakker SY., Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1986). 35.
  15. 15. 15harus dibaca ulang, karena fondasai teoritiknya sudah terbantah. Namun sebagaieksplorasi metafisika ini merupakan bahan pengkajian yang selalu menarik untukditelaah) Teori ini kemudian dilanjutkan oleh Ibn Sina21. Teori pengetahuan danjuga filsafat manusia serta filsafat keNabian diturunkan dari teori emanasi ini. Dalam risalahnya yang terkenal dengan klasifikasi ilmu pengetahuanberjudul Ihsha‟ al-Ulum, al-Farabi memandang kosmologi sebagai cabangmetafisika. Ia juga berpendapat bahwa kosmologi mungkin diturunkan dariprinsip-prinsip sains partikular22. Al-Farabi juga berpandangan bahwa penguasaanmatematika tidak dapat dikesampingkan dalam upaya memiliki pengetahuan yangtepat mengenai pengetahuan-pengetahuan spiritual. Kemampuan al-Farabi dibidang matematika inipun mendapatkan posisi terkemuka di kalangan filosofIslam. Sebagaimana al-Kindi, al-Farabi juga berkeyakinan bahwa antara agamadan filsafat tidak ada pertentangan. Berbeda dengan al-Kindi, jika terdapatperbedaan antara akal dan wahyu maka al-Farabi memilih hasil akal sedangkan al-Kindi memilih wahyu23. Menurut pendapatnya kebenaran yang dibawa wahyu dankebenaran hasil spekulasi filsafat hakikatnya satu, sungguhpun bentuknyaberbeda. Al-Farabi merupakan filosof Islam pertama yang mengusahakankeharmonisan antara agama dan filsafat. Dasar yang dipakainya untuk itu dua.21 Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam Sedjarah dan Perkembangannya di Dunia Internasional(Jakarta: Bulan Bintang, 1964), 103.22 Osman Bakar, “Tawhid and Science : Essasy on the History and Philosophy Of Islamic Science”,alih bahasa: Yuliani Liputo, Tauhid dan Sain:s Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam(Jakarta: Pustaka Hidayah, 1994), 85.23 CA Qadir, Philosophy and Science in Islamic World, alih bahasa: Yayasan Obor Indonesia,Filsafat dan Pengetahuan dalam Islam (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), 84.
  16. 16. 16Pertama pengadaan keharmonisan antara filsafat Aristoteles dan Plato sehingga iasesuai dengan dasar-dasar Islam dan kedua, pemberian tafsir rasional terhadapajaran-ajaran Islam.58 Sikap ini tentu untuk mendukung apresiasi terhadappemikiran Yunani. Al-Farabi berkeyakinan bahwa Aristoteles secara kategoris telah menolakkeberadaan ide-ide Plato, tetapi ketika Aristoteles tiba pada masalah teologi dangagasan tentang “sebab pertama” alam semesta, dia menemukan dirinyaberhadapan dengan masalah sulit menyangkut bentuk-bentuk Ilahiyah, yangeksistensinya, tak syak lagi mesti diperanggapkan dalam Akal Tertinggi WujudPertama 24 . Eksplorasi dari sikap ini nampak dari wacana tentang ketauhidan.Tentang Tuhan misalnya al-Kindi sebelumnya sudah membicarakan tentangTuhan sebagai sebab pertama, akan tetapi ia tidak menerangkan bagaimana alamini dijadikan. Al-Farabi menjelaskan hal ini dengan teori emanasi. Disini iamenjelaskan munculnya segala sesuatu dengan tidak melalui Kun-Fayakun sepertipemahaman tradisional25. Al-Farabi membagi ilmu kepada dua, yaitu konsepsi tasawwur mutlakdan konsep yang disertai keputusan pikiran (judgment-tasdiq). Diantara konsep ituada yang baru sempurna apabila didahului oleh yang sebelumnya sebagaimanatidak mungkin menggambarkan benda tanpa menggambarkan panjang, lebar dan24 Mehdi Ha‟iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosopy, Knowledge byPresence, alih bahasa: Ahsin Muhammad, Ilmu Hudhuri: Prinsip-prinsip Epistemology dalamFilsafat Islam (Bandung: Mizan, tanpa tahun), 30.25 Majid Fakhry, SA. History of Islamic Philosophy, alih bahasa: R. Mulyadi Kartanegara, SejarahFilsafat Islam (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), 177.
  17. 17. 17dalam tiga dimensi. Konsep tersebut tidak mesti diperlukan pada setiap konsep,melainkan harus berhenti pada suatu konsep yang penghabisan yang tidakmungkin dibayangkan adanya konsep yang sebelumnya, seperti konsep tentangwujud, wajib dan mungkin. Kesemuanya ini tidak memerlukan adanya konsepyang sebelumnya, karena konsep-konsep tersebut adalah pengertian-pengertianyang jelas dan benar dan terdapat dalam pikiran. Adapun keputusan pikiran (judgment-tasdiq), maka diantaranya ada yangtidak bisa diketahui, sebelum diketahui hal-hal sebelumnya. Seperti pengetahuanbahwa alam ini baru. Untuk itu diperlukan terlebih dahulu adanya putusan bahwaalam ini tersusun, dan tiap yang tersusun berarti baru. Ini adalah hukum-hukum pikiran dasar dan yang jelas dalam akal,seperti halnya dengan hukum yang mengatakan bahwa keseluruhan lebih besardari sebagian. Kesemuanya ini adalah pikiran-pikiran yang terdapat dalam akaldan yang bisa dikeluarkan sebagai pengingatan karena tidak ada sesuatu yanglebih terang dari padanya dan tidak perlu dibuktikan karena sudah jelas dengansendirinya. Juga hukum-hukum tersebut memberikan keyakinan dan jugamerupakan dasar aksioma26. Ada tiga hal pokok yang menjadi persoalan metafisika, yaitu ; 1. Segi esensi (zat) dan eksistensi (wujud) sesuatu.26 B. Delfgaauw, “Ontologia dan Metafisika” dalam Berpikir Secara Kefilsafatan, ed. SoejonoSoemargono (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1988), 223.
  18. 18. 18 2. Pokok utama segala yang maujud. 3. Prinsip utama tentang gerak dasar menurut ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Aristoteles hakikat sesuatu terdiri dari materi (hule)dan bentuk (form). Materi tidak akan dapat diketahui hakikatnya kalau belum adabentuknya. Namun antara materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Misalnyapapan tulis yang dibikin dari kayu. Kayu adalah materinya dan bangunan papanbersegi empat itulah bentuknya. Dengan adanya bentuk dapat diketahui hakikat.Sepintas lalu dapat dikatakan bahwa bentuk berubah-ubah, tetapi sebenarnyamaterilah yang berubah-ubah dalam arti berubah untuk mendapatkan bentuk-bentuk tertentu. Dalam Fushus al-Hikmah al-Farabi membedakan antara zat (esensi)dan wujud (eksistensi). Zat menanyakan apanya sesuatu, sedangkan wujud adanyasesuatu. Terdapat dua macam zat ;Pertama yang wajib ada.64 Aristotelesmembagi obyek metafisika kepada dua yaitu: Yang Ada sebagai yang Ada danYang Ilahi. Pengaruh Aristoteles kepada al-Farabi kelihatan. Pembahasanmengenai yang ada, yang ada dalam keadaannya yang wajar, menunjukkan bahwailmu pengetahuan semacam ini berusaha untuk memahami yang ada itu dalambentuk semurni-murninya. Dalam hal ini yang penting ialah bukannya apakahyang ada itu dapat terkena oleh perubahan atau tidak, bersifat jasmani atau tidakmelainkan apakah barang sesuatu itu memang sungguh-sungguh ada. Jika kitaikuti cara berpikir demikian berarti kita akan sampai pada pendapat bahwa hanyaTuhanlah yang sungguh-sungguh ada, dalam arti kata yang semutlak-mutlaknya,
  19. 19. 19artinya yang tidak tergantung pada hal-hal lain. Segala sesuatu yang lainnyamempunyai nilai nisbi27. Al-Farabi seperti Aristoteles membedakan antara materi (zat) dan bentuk(shurah). Materi sendiri berupa kemungkinan. Sebagai contoh ia mengemukakan:Kayu sebagai materi mengandung banyak kemungkinan, mungkin menjadi kursi,lemari dan sebagainya. Kemungkinan itu baru terlaksana jika sudah menjadikenyataan kalau diberi bentuk, misalnya bentuk kursi, lemari, meja dansebagainya. Dengan cara berpikir demikian, al-Farabi mengecam pandangan paraahli tafsir pada zamannya. Ciri rasionalismenya jelas terlihat dari jalan pikirannyayang mengatakan, bahwa suatu kesimpulan yang diambil di atas dasar-dasar yangkokoh adalah lebih berhak untuk hidup daripada kepercayaan taklid seluruh umatIslam yang sama sekali tidak didasari oleh dalil-dalil28. Jadi argumentasi itupenting sekali dari pada hanya mengandalkan emosi keagamaan semata-mataseperti yang banyak terjadi di kalangan umat Islam.27 Ibid., 23.28 Abdullah Siddik, Islam dan Filsafat (Jakarta: Triputra Masa, 1984), 91.
  20. 20. 20 BAB III KESIMPULAN Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Farabi sebagaifilosof Islam yang pertama kali membawa wacana filsafat secara lebih mendalam.Ia mendirikan tonggak-tonggak filsafat Islam yang kemudian banyak diikuti olehfilosof Islam yang lain. Gelar Guru Kedua terhadap dirinya membuktikankeseriusannya dalam membina filsafat Islam walaupun harus berjuang keras untukitu. Walaupun pemikiran metafisikanya banyak dikritik oleh pemikir muslimbelakangan seperti al-Ghazali, terutama dalam metafisika emanasi, figur al-Farabimasih menarik untuk didiskusikan. Sumbangannya dalam bidang fisika,metafiska, ilmu politik, dan logika telah memberinya hak untuk menempati posisiterkemuka yang tidak diragukan lagi diantara filosof-filosof Islam.
  21. 21. 21 DAFTAR PUSTAKAAbdullah, M. Amin, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.Bagus, Lorens, Metafisika, Jakarta: Gramedia, 1991.Bakar, Osman, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung: Mizan,1997.Bakar, Osman, “Tawhid and Science : Essasy on the History and Philosophy Of Islamic Science”, alih bahasa: Yuliani Liputo, Tauhid dan Sains Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1994.Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islami, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.Delfgaauw, B., “Ontologia dan Metafisika” dalam Berpikir Secara Kefilsafatan, ed. Soejono Soemargono, Yogyakarta: Nur Cahaya, 1988.Hoesin, Oemar Amin, Filsafat Islam: Sejarah dan Perkembangannya di Dunia Internasional, Jakarta: Bulan Bintang, 1964.Madjid, Nurcholis, Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1984. al-Jisr, Nadim, Qissatul Iman, alih bahasa A. Hanafi, Kisah Mencari Tuhan, Jakarta: Bulan Bintang, 1966, Jilid I.
  22. 22. 22Madkour, Ibrahim, “Al-Farabi” dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM. Syarif, alih bahasa Ilyas Hasan, Para Filosof Muslim, Bandung: Mizan, 1992.Nasr, Seyyed Hossen, Theology, Philosopy, and Spirituality Word Spirituality, alih bahasa: Suharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam, Teolog, Filsafat dan Gnosis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.Nasution, Harun, Falsafat dan Mistisisme, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.Nasution, Harun, “Tinjauan Filosofis Tentang Pembentukan Kebudayaan dalam Islam” dalam Al-Quran & Pembinaan Budaya Dialog dan Transformasi, ed. Abdul Basir Solissa, Yogyakarta: LSFI, 1993.Qadir, CA., Philosophy and Science in Islamic World, alih bahasa: Yayasan Obor Indonesia, Filsafat dan Pengetahuan dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991.SA., Majid Fakhry, History of Islamic Philosophy, alih bahasa R. Mulyadi Kartanegara, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.Siddik, Abdullah, Islam dan Filsafat, Jakarta: Triputra Masa, 1984.SY., JMW. Bakker, Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1986.Yazdi, Mehdi Ha‟iri, The Principles of Epistemology in Islamic Philosopy, Knowledge by Presence, alih bahasa: Ahsin Muhammad, Ilmu Hudhuri: Prinsip-prinsip Epistemology dalam Filsafat Islam, Bandung: Mizan, tanpa tahun.

×