Your SlideShare is downloading. ×
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Agama Einstein
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Agama Einstein

1,815

Published on

Published in: Education, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,815
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
51
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Brought By: Mazizaacrizal a.k.a Dewa ng’Asmoro Mudhun Bumi Visit me at : www.mazizaacrizal.blogspot.com : www.facebook.com/mazizaacrizal E-mail : mazizaacrizal@yahoo.com
  • 2. BAB I PENDAHULUAN Albert Einstein adalah ahli fisika berpengaruh di zamannya, bahkan semua karya-karyanya masih tetap di jadikan sumber ilmu pengetahuan hingga zaman masa kini, dan yang akan datang. Disamping ahli fisika dia juga merupakan orang yang religious dalam bidang keagamaan walaupun masih menimbulkan tanda tanya di banyak kalangan akan agama yang sebenarnya yang dia yakini, karena hingga sekarang tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan jelas akan agama yang ia anut. Sehingga penulis mengambil kesimpulan dari tulisan ini bahwa Einstein mempunyai keyakinan tersendiri akan agama dan Tuhan yang ia percayai. Maka dalam kesempatan ini Penulis akan sedikit banyak akan menjelaskan tentang agama-agama yang pernah dia anut - dalam segi ritual ataupun ibadah - bahkan semua kepercayaan Einstein tentang Tuhan akan sering berubah-berubah seiring perjalanan dia ketika menemukan teori-teori baru dalam bidang fisika dan salah satunya yang paling terkenal adalah teorinya yang fenomenal tentang ruang dan waktu di alam semesta raya ini, dan sampai sekarang masih tetap hangat di perbincangkan di antara para fisikawan dunia.
  • 3. BAB II PEMBAHASAN A. Riwayat Hidup. Albert Einstein adalah fisikawan berpengaruh diabad ke-20 (menurut Majalah Times) dia dilahirkan tanggal 14 maret 1879 in Ulm, sebuah kota di Jerman Selatan. Orang tuanya, Hermann Einstein dan Pauline Koch bukan seorang yahudi yang fanatik walaupun mereka masih menjaga tradisi ke-Yahudian dan oleh karena itu Einstein tidak diberi nama seperti nama kakeknya, Abraham. Di sepanjang tahun kelahirannya keluarga Einstein berpindah ke kota Munich yang mana Einstein muda ketika itu masih menempuh pendidikan di sekolah dasar Katolik. Dan untuk mengantisipasi pelajaran Katolik di sekolahnya, maka orang tuanya meminta saudara jauhnya untuk datang dan mengajari Einstein muda tentang Agama Yahudi di sore harinya. Di tahun 1894 orang tuanya pindah lagi ke kota Milan dan Pavia, Italia, bersama anak perempuannya, Maja yang lahir di tahun 1881 dan meninggalkan Einstein di Munich. Setelah gagal diterima di sekolah dasar The Eidgenössiche Technische Hochschule (ETH: Federal Institute of Technology), Zürich, dia menyelesaikan sekolah tingkat lanjutannya di Aarau tahun 1896. Dalam kesempatan keduanya untuk masuk di sekolah The Eidgenössiche Technische Hochschule, akhirnya dia diterima dan berhasil lulus di tahun 1900. Di tahun 1902 adalah salah satu tahun yang penting bagi Albert Enistein, di bulan Januari dia mempunya anak dari istrinya yang bernama Mileva Marić, yang kemudian dinikahi tahun 1903, dan bersamanya dia mempunyai tiga orang
  • 4. anak, tapi akhirnya mereka bercerai di tahun 1919, dan kemudian menikahi sepupunya yang bernama Elsa Löwenthal. Di bulan Juni dia mulai bekerja di Federal Office For Intellectual Property di Berne, karena dia tidak menghabiskan banyak waktu di kantor tersebut akhirnya dia menulis beberapa artikel tentang Theoretical Physics yang lalu dia kumpulkan di dalam jurnalnya yang terbaru Annalen der Physik. Lima tulisan yang dikeluarkan di tahun 1905 adalah artikel yang sangat penting dalam sejarah fisika, yang terkenal dengan sebutan Einstein’s anus mirabilis (miracle year). Artikel - artikel tersebut sejalan dengan artikel lainnya seperti The Determination Of Molecular Dimensions (yang terinspirasi dari karya Boruch Spinoza), Brownian Motion, The Hypothesis Of Light Quanta, The Special Theory of Relativity, And The Energy-Mass Equivalence. sedangkan di bulan Oktober ayahnya meninggal dalam keadaan bangkrut di Milan. Di tahun 1922 Einstein mendapatkan penghargaan nobel atas usahanya dalam mempelajari Theoretical Physics dan khususnya atas penemuannya dibidang The Law of The Photoelectric Effect. setelah tinggal dalam waktu yang singkat di Belgia dan Inggris, akhirnya dia diterima sebagai Profesor di Institute for Advance Study di Princeton, New Jersey. di tahun 1940, dia menjadi warga Amerika, dan ketika di tahun 1952 dia menolak tawaran untuk menjadi Presiden Negara Israel, dan dia meninggal tanggal 17 April 1955. B. Kontribusinya dalam Ilmu Pengetahuan. Daftar-daftar kontribusi Ilmu Pengetahuan Einstein sungguh sangat mengejutkan. teorinya tentang relativitas telah benar-benar mengubah konsep kita tentang ruang dan waktu, bukan hanya dari sudut pandang ilmuwan tapi juga dari sudut pandang filsafat. diantaranya banyaknya konsekuensi atas teori relativitas adalah Energi-Mass Equivalence (persamaan energI dan berat) The Retardation Of Moving Clocks (keterlambatan dalam pergerakan jam) The Deflaction 0f Light
  • 5. By Grafity (penyimpangan cahaya yang di sebabkan oleh gaya berat) dll. Einstein menggunakan persamaan bidang gravitasi untuk membangun model yang spesifik tetapi tak terbatas oleh karakter alam semesta yang statis yang akan mengungkap isi dari alam semesta ini yang akhirnya teori ini disebut dengan Cosmological Constant Theory dia juga berperan besar dalam meningkatkan Teori Fisika Quantum. Kemasyhuran Einstein atas teori relativitasnya banyak mengundang para filsafat, ilmuwan profesional, dan orang biasa untuk menyerang Einstein. serangan tersebut diintensifkan oleh paham nazi. ketika fisikawan Jerman - yang bergabung dengan pergerakan fisikawan Belanda - menolak akan validitas dari teori relativitas tersebut dan terus berjalan sampai sekarang walaupun dengan berbagai alasan yang berbeda, seperti: tuduhan akan plagiat, serta teorinya dianggap berasal dari orang lain, seperti: Henri Poincaré, Hendrik Lorentz, David Hilbert, and istri pertamanya, Mileva Marić. sumber dari banyaknya serangan ini adalah berdasarkan kebencian pribadi yang mana kadang-kadang di tambahkan suatu prasangka untuk melawan keaslian Yahudinya Einstein. Einstein berjuang keras dan lama dalam kesendiriannya untuk menginterprestasikan akan quantum mechanics (gaya gerak quantum), yang mana dia bisa mendapatkan hasil untuk mendeskirpsikan dunia micro-fisika yang tentu saja menghasilkan kepastian akan hukum sebab akibat yang merupakan suatu tugas yang mustahil di zamannya. Di dalam pendapatnya suatu kemungkinan alami akan deskripsi quantum mechanics dalam micro-fisika adalah dalam kaitannya tidak bisa dipisahkan atas ketidak-lengkapan quantum mechanics. C. Theology dan Cosmology.
  • 6. Einstein bukanlah pemikir yang religius, maka hal itu tidak akan adil untuknya jikalau kita menilai pendapatnya dan sikapnya ke arah dalam kaitan religius konsistensi diri atau bahkan evolusi intelektual. Tetapi orang dapat pasti membedakan atau melihat di dalam dirinya, bahwasannya ia berusaha untuk memadukan dua sektor utama hidup manusia, yaitu religius (irrasional) dan science (rasional) yang Meskipun demikian ia tidak pernah berkata dengan tegas akan motivasinya untuk memformulasikan suatu titik unik dalam menggabungkan dua aspek tersebut. Einstein bukanlah seorang Atheis tapi ia juga menolak segala sesuatu yang abstrak (dalam hal ini Tuhan tentunya). Sebagai bukti bahwa dia bukan seorang Atheis adalah dari perkataanya: Science tanpa Agama sesat, dan Agama tanpa Science Buta. Hingga saat ini, masih banyak orang dari ilmuwan maupun filosof, mereka-reka akan keyakinan agama yang dianut oleh Einstein hingga pada akhirnya penulis mencoba memberikan penilaian bahwa Einstein adalah penganut Pantheisme (kemauan untuk menerima semua agama tanpa harus menjadi seseorang yang fanatik terhadap satu agama saja). Pengaruh pemikiran Einstein akan filsafat disebabkan banyaknya buku- buku filsafat yang telah ia baca seperti Boruch Spinoza, David Hume, Ernst March, Immanuel Kant, dan lain-lain. Pemikiran Einstein tentang agama dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan membuahkan beberapa artikel-artikel penting yang didalamnya berisi penjelasan bahwasannya Einstein menolak eksistensi dari suatu pertentangan yang tak dapat ditanggulangi antara Ilmu Pengetahuan dan Agama, dan mengklaim bahwasannya konflik yang terjadi antara keduanya lebih disebabkan oleh masalah non substansial. Sedangkan dalam karya artikelnya yang berjudul “The World As I See It”, dengan tegas Einstein menolak doktrin akan Tuhan personal, karena dia menganggap bahwa Tuhan lebih bersifat Maha Hadir dan tak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga merupakan suatu hal yang naïf jikalau Tuhan digambarkan dengan wujud akan pikiran manusia.
  • 7. Menurut Einstein, tidak ada hal yang kontras antara Agama dan Ilmu Pengetahuan jika masing-masing benar-benar diperlukan. Ilmu Pengetahuan adalah pembelajaran tentang apakah ini, dan hal itu tidak bisa ditetapkan menjadi bagaimana seharusnya, sedangkan Agama adalah sebaliknya – yang lebih menitik-beratkan pada etika antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhan – sudut pandang Agama lebih berbeda dan lebih independen dibandingkan Ilmu Pengetahuan yang mencakup nilai-nilai keseimbangan yang mana hal tersebut diluar ranah ke-ilmuan seseorang. Kepastian arah suatu agama adalah untuk menumbuhkan prinsip-prinsip etika untuk mencari akhir dari nilai kehidupan ini. Tidak ada suatu pertimbangan yang masuk akal. Untuk etika, akhir kehidupan dan nilai, sebenarnya, dalam agama, kita tidak perlu mencari pertimbangan rasional. Dalam analisis Einstein untuk mencari kesinambungan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, Einstein mengidentifikasikan tiga konsep ke-Tuhanan yang berbeda, yang kira-kira sesuai dengan tiga fase berbeda akan evolusi pemikiran religi. Yang pertama adalah sebelum manusia sadar akan hukum-hukum yang mengatur hubungan sebab-akibat antara fenomena alam. Begitu mereka menemukan hal-hal yang gaib yang mengawasi keadaan dan peristiwa fenomena alam, maka otomatis mereka langsung meng-anthropomorphic-kan (me-makhluk- kan) hal tersebut, sebagai suatu hal yang bertanggung jawab akan fenomena yang mereka alami. Konsep yang pertama ini disebut konsep “Ketakutan”. Yang kedua adalah konsep “Ke-Tuhanan, Sosial ataupun Moral”. Karena pusat perhatian dari sosial dan moral adalah sumber utama atas praktek keagamaan. Disini Tuhan digambarkan sebagai seorang ayah yang melindungi, memberikan hadiah, memberikan kenyamanan, bahkan memberikan hukuman bagi anak-anakNya yang melanggar nilai-nilai sosial dan moral. Yang ketiga adalah “Cosmic Religious Felling” (perasaan religius akan alam semesta). Jikalau kedua konsep diatas adalah menggambarkan Tuhan sebagaimana pikiran manusia, maka dikonsep ketiga ini Einstein menolak akan ke-Tuhanan yang anthropomorphic
  • 8. dalam hal indrawi. Tuhan tidak dipengaruhi oleh hukum alam, Tuhan lebih luas dan lebih besar dari pada itu. Einstein percaya akan Tuhan yang impersonal yang mana tidak berkaitan dengan takdir manusia, tapi Dia mengungkapkan diriNya sendiri dengan tujuan memberikan keharmonisan di dalam alam semesta ini. Pemikiran Einstein akan Tuhan yang impersonal dipengaruhi oleh teori fisikanya tentang relativitas, yang mana ketika dalam penelitiannya Einstein mendapatkan bahwasannya ruang dan waktu tidak bersifat statis tetapi selalu berubah dan bergerak. Dari hal inilah Einstein mulai mengambil kesimpulan bahwa setiap benda yang bergerak, pasti ada yang menggerakkannya, karena tidak mungkin pergerakkan benda mendahului benda itu sendiri. Dari kesimpulan yang sederhana ini, akhirnya Einstein mulai membuka fikirannya tentang hal-hal yang abstrak (Tuhan), karena hanya dialah yang mampu menembus serta mengisi ruang dan waktu di dalam saat yang bersamaan. Walaupun pemikiran ini kontras dengan pemikirannya yang meyakini akan hal-hal yang kongkrit, tapi baginya hal ini lebih masuk akal dari pada pemikiran akan Tuhan personal yang dianut oleh Agama Yahudi, Kristiani, dan Budha. Hingga akhir hayatnya, Einstein tetap mencari keselarasan dan tetap berusaha untuk memadukan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, akan tetapi sayangnya, hal tersebut belum dapat diungkap oleh Einstein hingga akhir hayatnya. Menurut pendapat penulis hal tersebut disebabkan bahwa ruang lingkup Agama dan Ilmu Pengetahuan masing-masing mempunyai porsinya sendiri- sendiri. Secara substansi Agama dan Ilmu Pengetahuan tidak akan pernah berjalan selaras, karena pikiran manusia masih terlalu dangkal untuk mendalam jejak-jejak ke-Agamaan dalam hal ini Agama Islam. Sedangkan pemikiran Einstein akan Tuhan, tidak akan pernah dapat menyingkap tabir Tuhan yang sesungguhnya. Karena Dia Maha Lebih dari semua yang ada di alam semesta ini, baik yang empiris maupun metafisis.
  • 9. BAB III KESIMPULAN Dari semua keterangan diatas jelas bahwa Einstein tetap mencari perpaduan dan keselarasan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, dan menganggap bawa pasti diantara keduanya terdapat kesinambungan dan selalu saling terkait antara yang satu dan lainnya, hal serupa juga pernah dikaji oleh al-Farabi dan al- Kindi yang mencoba memadukan pemikiran Aristoteles yang dengan gurunya yaitu Plato. Ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan, maka Tuhan niscaya lebih dan Maha Sempurna dari ciptaa-NYA. Bagi Einstein Tuhan selalu menyeliputi alam semesta, dan bahkan Tuhan melebihi dari segalanya, itulah kenapa Einstein menolak mentah-mentah akan deskripsi Tuhan seperti manusia atau makhluk hidup lainnya di bumi ini Kepercayaan Einstein akan Tuhan yang tidak bisa dideskripsikan seperti makhluk ciptaan-Nya ini agaknya sedikit banyak mirip seperti kepercayaan yang dimiliki oleh umat Islam, bahkan mungkin jika dia dapat menyelesaikan teori Quantum Fisikanya maka ia mungkin akan menganut kepercayaan umat Islam akan ketuhanan mereka. Wallahu ‘Alam bis-Shawab.
  • 10. Daftar Pustaka Brian, Dennis, Einstein: A Life (Wiley, New York, 1996). Einstein, Albert, The World As I See It. New York: Covici-Friede (translation, with revisions, of Mein Weltbild, Amsterdam: Querido, 1934). Einstein, Albert, Ideas and Opinions,. Ed. Alan Lightman. Trans. And rev. Sonja Bergmann. (Modern Library, New York, 1954). History of Physics Newsletter, Max Jammer Wins 2007 Pais Prize (University of California, Santa Cruz, California, Volume X, No. 1 Fall 2006). http://princetontheologicalreview.org/issues., (18 november 2009) http://www.aps.org/units/fhp/newsletters., (02 desember 2009). http://manjappaibella.multiply.com/journal/item/Tuhan_dalam_Perbincangan_Par a_Fisikawan., (28 november 2009). Jammer, Max, Agama Einstein: Teologi dan Fisika (Yayasan Relief Indonesia, Yogyakarta, 2004). Pais, Abraham, Subtle is the Lord: The Science and the Life of Albert Einstein (Oxford University Press, New York, 2005).
  • 11. Makalah Albert Einstein on Philosophy Teologycal And Science Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Modern Dosen Pembimbing Prof. A. Kadir Riyadhi. Pemakalah Mas Ishaq Rizal Nim: F05408141 PROGRAM PASCA SARJANA KONSENTRASI PEMIKIRAN ISLAM
  • 12. IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2010 Nama : Mas Ishaq Rizal Semester : III Konsentrasi : Pemikiran Islam Makalah : Agama Einstein (REVISI) Dosen Pengampu : Prof. A. Kadir Riyadhi Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya

×