Your SlideShare is downloading. ×

Remote control alarm sepeda motor

15,679

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
15,679
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
223
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.idREMOTE CONTROL ALARMSEPEDA MOTORQuad Edisi 3quad@brawijaya.ac.id Lisensi Dokumen Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.id PERINGATAN!!! Seluruh Artikel di quad.brawijaya.ac.id dapat digunakan, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas untuk tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali mendapatkan ijin terlebih dahulu dari quad.brawijaya.ac.id Banyak cara melindungi sepeda motor dari jahilnya tangan pencuri, ada sebagian yangmenggunakan kunci ganda, ada yang menggunakan saklar rahasia, ada yang menggunakan sist emalarm. Alat ini dirancang untuk memberikan alternatif dalam usaha pengamanan sepeda motor. Pengaman ini dapat dikendalikan dari jarak jauh, dan menggunakan sensor getaran yang apabilatergoncang sedikit akan mengaktifkan alarmnya. Rangkaian pengontrol pengaman sepeda motor ini pada prinsipnya adalah denganmenumpangkan beberapa frekuensi isyarat pada trasmitter 35 MHz. Frekuensi isyarat tadiditumpangkan ke transmitter dengan pemodulasian amplitudo. Frekuensi isyarat yangditransmisikan tersebut diterima oleh receiver 35 Mhz, dan dideteksi oleh tone dekode. Tone dekodebertugas untuk mengubah frekuensi isyarat tersebut menjadi logika rendah atau tinggi. Tone dekodeini bila diberi frekuensi masukan yang sama dengan free running frequency dari VCO (VoltageControl Oscillator)- nya maka keluarannya akan mendekati nol Volt (logika rendah). Dan bilafrekuensi yang masuk tidak sama dengan free running frequency VCO-nya keluarannya mendekatiVCC-nya (logika tinggi). Dalam perancangan ini dibangkitkan tiga frekue nsi isyarat sehinggadibutuhkan tiga buah rangkaian tone decode. Ketiga keluaran dari tone dekode tersebut digunakanuntuk mengontrol tiga keadaaan dari sistem pengaman sepeda yaitu alarm aktif atau non aktif danmenghidupkan sepeda motor jarak jauh.Diagram blok sistem pengaman ini bisa dilihat dalam Gambar 1.
  • 2. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.idUntuk lebih jelasnya tentang bagaimana cara kerja rangkaian ini akan dijelaskan prinsip kerjarangkaian per blok.1. Rangkaian Pembangkit Frekuensi Isyarat Rangkaian pembangkit frekuensi isyarat ini berguna untuk menghasilkan sinyal yang mempunyai frekuensi tertentu yang akan did eteksi oleh tone decode. Komponen utamanya adalah IC 555 yang dioperasikan pada mode stabil. Frekuensi keluarannya ditentukan oleh C1, R1, dan Rm dengan persamaan : 1 F0 = 0,369( Rm + 2R1 )C1 Karena diinginkan ada tiga frekuensi berbeda yang harus dihasilkan oleh IC 555 ini maka diadakan pilihan untuk Rm pada masing- masing frekuensi. Frekuensi yang dihasilkan ditentukan sebesar 500, 750 dan 1000 Hz, maka untuk masing-masing frekuensi nilai resistansi Rm adalah Rm1 = 2,7 K ohm, Rm2 = 1,7 K ohm, Rm3 = 1,2 K ohm. Ketiga resistor tersebut disambungkan dengan saklar pilih, apabila yang dipilih saklar pertama maka keluarnya adalah frekuensi 500 Hz,. Demikian juga untuk saklar kedua dan ketiga. Keluaran IC 555 ini yang berupa gelomba ng kotak ini diumpankan ke transmitter 35 Mhz yang selanjutnya di modulasi secara amplitudo, gambar lengkapnya bisa dilihat pada Gambar 2.
  • 3. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.id2. Transmitter 35 Mhz Subsistem ini bertugas untuk membangkitkan gelombang radio berfrekuensi 35 MHz dengan daya sekitar 200 mW yang bertugas untuk mentransmisikan sinyal informasi dari pembangkitan frekuensi isyarat. Sistem pemodulasian yang digunakan adalah modulasi amplitudo (AM). Rangkaian lengkap dari transmitter ini bisa dilihat pada Gambar 3. Rangkaian pertama dari subsistem ini adalah osilator. Dalam pembuatan osilator harus diperhatikan persyaratan-persyaratan penting diantaranya stabilitas frekuensi, kecilnya ayunan frekuensi, dan terbebas dari gelombang atas dan frekeunsi harmonisa. Untuk itu osilator harus diusahakan menghasilkan gelombang sinus yang sempurna dengan daya kecil. Frekuensi kerja osilator ini ditentukan oleh L1, C1, C3 dan C5 yang hubungannya dapat dinyatakan dengan rumus : 1 f = 2 π L1 Ceq dimana Ceq adalah hubungan seri antara C1, C3, C4 dan paralel dengan C5, sehingga didapat Ceq sebesar 110,27 pF dengan diinginkan fo sebesar 35 MHz maka L sebesar 0,188 uH. 1 Kapasitor C2 adalah kapasitor kopel umpan balik ke basis. Agar osilator ini tidak terbebani yang berakibat terpengaruhnya kestabilan frekuensi kerjanya maka perlu diberi buffer sebelum dimasukkan ke transistor penguat RF akhir (Tr3). Tr4 berfungsi sebagai modulator, yang akan menyebabkan perubahan amplitudo keluaran Tr3 sesuai dengan amplitudo masukan pada basis Tr4. Induktor L4, L5 dan kapasitor C11 berfungsi sebagai filter dan penyesuai impedansi keluaran dengan antena sehingga didapatkan penyaluran daya maksimal.3. Receiver 35 MHz Receiver 35 MHz ini prinsipnya sama seperti rangkaian penerima superheterodyne yang lama telah kita kenal. Frekuensi osilatornya dibangkitkan oleh kristal yang mempunyai frekuensi dasar 34,595 MHz. Frekuensi dari osilator lokal ini akan dicampur dengan frekuensi dari hasil penerimaan yang sebelumnya telah ditala oleh bagian penala yaitu sebesar 35 m sehingga Hz
  • 4. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.id menghasilkan frekuensi IF sebesar 455 KHz. Kemudian dikuatkan oleh bagian penguat IF1, IF2 dan IF3 kemudian oleh dioda detektor D1 dan C11 frekuensi informasi akan dideteksi dan dipisahkan dari frekuensi pembawanya sehingga keluarannya merupakan sinyal informasi. R6 dan R9 berfungsi sebagai umpan balik yang akan mengatur penguatan yang biasanya disebut AGC (Automatic Gain Control). Gambar lengkapnya bisa dilihat dalam Gambar 4.4. Tone Decoder Bagian ini berfungsi untuk membedakan frekuensi isya rat yang masuk. Komponen utama untuk mendeteksi frekuensi masukan tersebut adalah IC LM 567. IC ini menggunakan prinsip kerja Phase Locked Loop yaitu untuk mendekodekan suatu frekuensi pada masukannya dan menghasilkan keadaan logika tertentu pada keluarannya. Rangkaian PLL yang demikian itu disebut sebagai penyidik nada (tone decoder) Fungsi PLL pada IC LM 567 adalah untuk mengunci fasa sinyal masukan, tahanan R1 dan C1 berfungsi sebagai komponen penentu free running frequency (fo) dari VCO, dimana fo menentukan frekuensi yang akan dideteksi. Hubungan ini dinyatakan dengan persamaan : 1 fo = 1,1 R1 C1 nilai maksimum dari fo untuk LM 567CN adalah 500 KHz, apabila sinyal masukan yang berada dalam bidang kunci disekitar fo maka PLL akan mengunci sinyal masukan tersebut. Lebar pita bidang kunci ini ditentukan oleh tegangan Vin dan C2. Agar didapatkan lebar pita yang sesuai dengan persyaratan untuk LM 567 maka ditentukan C2 sebesar 2,2 mF 16 Volt. Suatu rangkaian tone decoder ditunjukkan dalam Gambar 5. kapasitor C3 berfungsi untuk memperhalus sinyal masukan. Dan jika nilai kapasitor ini diperbesar, akan memberikan suatu penundaan (delay) fungsi kerja saat menerima suatu frekuensi. Nilai yang ideal untuk C3 adalah 2 kali C2 sehingga nilai C3 adalah 4,7 mF.
  • 5. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.id Selama frekuensi masukan berada dalam bidang kunci maka keluaran tone decoder mendekati nol Volt, dan bila frekuensi masukan tidak berada dalam bidang kunci atau tidak sama dengan frekuensi yang dihasilkan oleh IC LM 567 akan membuat keluarannya mendekati tegangan Vcc.5. Rangkaian Penggerak Rangkaian ini terdiri dari beberapa transistor yang berfungsi sebagai saklar dan IC flip-flop tipe D yang berfungsi sebagai rangkaian penahan. Rangkaian ini dihubungkan dengan keluaran tone decoder pertama dan kedua. Bila keluaran tone decoder pertama berlogika rendah maka keluaran rangkaian penahan berlogika tinggi, sehingga rangkaian alarm diijinkan. Bila keluaran decoder kedua yang berlogika rendah maka keluarannya berlogika rendah, sehingga rangkaian alarm off. Rangkaian alarm dilengkapi dengan sensor goyang yang dibuat dari kawat yang mudah bergetar(bisa dipakai pegas ballpoint bekas). Dimana di sekelilingnya dilingkari dengan kawat yang dihubungkan dengan tegangan 12 Volt. Bila terjadi hubung singkat diantara keduanya maka C13 akan terisi, hal ini akan membuat sirine aktif bila rangkaian penahan mengijinkan. R5 berguna untuk menentukan lamanya sirene berbunyi. Keluaran tone decoder ketiga dihubungkan
  • 6. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.id dengan transistor darlington untuk menggerakkan relay yang nantinya digunakan sebagai driver starter electronic.6. Perakitan dan Pengujian Rangkaian Pertama yang perlu dibuat adalah rangkaian pembangkitan frekuensi isyarat. Dengan menggunakan frekuensi counter, besar frekuensi yang dibangkitkan untuk masing- masing Rm bisa diketahui langsung. Bila tidak ada frekuensi counter bisa digunakan cara lain yaitu dengan menyelesaikan pembuatan tone decoder. Keluaran dari pembangkit frek uensi dimasukkan ke masukan tone decoder. Keluaran tone decoder diukur tegangannya dengan voltmeter. Bila frekuensi masukan sesuai dengan fo dari VCO decoder maka keluarannya akan nol Volt. Demikian selanjutnya sehingga untuk masing-masing frekuensi isyarat bisa dideteksi dengan masing-masing tone decoder. Selanjutnya pe mbuatan receiver, T1 adalah osilator coil yang sering digunakan dalam SW untuk IF trafo T2, T3, T4 adalah satu set trafo IF yang sering digunakan dalam penerimaan AM. Untuk pengetesan hubungkan keluarannya ke amplifier audio. Set T1, T2, T3, T4 sehingga di apatkan d desah yang paling keras. Langkah selanjutnya adalah pembuatan transceiver, L1 adalah 6 lilit kawal email koker berinti ferit 5 mm. Setelah semuanya terpasang, hubungkan keluaran pembangkit frekuensi isyarat ke dalam input pemancar Q4 dan trim osilator sehingga frekuensi yang dipancarkan bisa diterima di receiver denga n baik. Selanjutnya hubungkan decoder ke dalam keluaran penerimaan dan coba pilih salah satu Rm sehingga keluaran tone decoder 0 Volt. Bila keluaran tone decoder tidak nol Volt, set kembali tone decoder hingga didapatkan keluaran 0 Volt. Setelah semuanya selesai bisa dilanjutkan dengan pembuatan bagian penggerak dan keseluruhan sistem bisa langsung dicoba, tombol satu dan dua untuk mengaktifkan atau nonaktifkan alarm, tombol tiga untuk menghidupkan sepeda motor. Selamat Mencoba!!Daftar Komponen: R10 = 560 Ohm C1 = 68 pFPembangkit frekuensi isyarat C2 = 1 nFRm1, R1 = 2K7 C3,C4 = 10 pFRm2 = 1K5 C6 = 30 pFRm3 = 1K2 C7 = 100 pFC1 = 2,2 uF C8 = 33 pFC2 = 0,1 uF C10 = 1 nFIC NE 555 C11 = trimer capasitor 0-60 pF Q1 = C717Transceiver 35 MHz Q2 = C930R1 = 1K2 Q3 = 2N3053R2 = 5K6 Q4 = BC141R3 =1K L1 = 8 lilit kawat 0,4 pada koker 5 mmR4 = 47 K L2 = 7 lilit kawat 0,7 mm denganR5 = 5K7 diameter 6 mmR6 = 100 Ohm L3 = Rfc 1 mHR7 = 4K7 L4,L5 = 5 lilit kawat 0,6 mm denganR8 = 1K5 diameter lingkaran 7 mmR9 = 10 Ohm
  • 7. Copyright © 2007 quad.brawijaya.ac.idPenerima 35 Mhz R6,R8 = 10 KT1 = antena loopstlok R7 = 22 KT2 = osilator coil SW R9 = 3,3 KT3 = input IF transformerT4 = interstage IF transformer Tone Decoder dan Rangkaian PenggerakT5 = output IF transformerX = kristal 34,545 MHz R1, R2, R3 = 2K7C1 = 20-60 pF R4,R6 = 1 KC2,C3,C10,C12 = 10 nF C1,C2,C3,C4,C5,C6 = 0,1 uF 16 VC3 = 2 nF C7,C8,C9,C13 = 2,2 uF 16 VC6 = 30 nF C10, C11, C12 = 4,7 uF 16 VC7, C8, C10 = 10 pF Q1 = BC158C9 = 10 pF Q2 = BD138R1 = 15 K Q4 = BC828R2 = 4,7 K Q5 = BD313R3 =1K IC1, IC2, IC3 = LM567R4 = 18 K IC4 = 4011R5 =1K IC 5 = 7475

×