Tokoh Jurnalistik
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tokoh Jurnalistik

on

  • 13,820 views

materi pelatihan jurnalistik buat anak sekolah

materi pelatihan jurnalistik buat anak sekolah

Statistics

Views

Total Views
13,820
Views on SlideShare
8,659
Embed Views
5,161

Actions

Likes
2
Downloads
225
Comments
0

3 Embeds 5,161

http://mataharitimoer.blogdetik.com 5148
http://webcache.googleusercontent.com 7
http://www.slideshare.net 6

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tokoh Jurnalistik Tokoh Jurnalistik Presentation Transcript

  • TOKOH
    Jurnalistik
    Selalu Terlibat Dalam Perubahan!
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • SELALU DIBUTUHKAN
    • Setiap zaman, para jurnalis selalu dibutuhkan. merekalah yang turut memengaruhi masyarakat agar mau berubah menuju kehidupan yang lebih baik.
    • Setiap zaman, para jurnalis selalu mendapatkan tantangan, terutama dari penguasa. Tapi mereka selalu eksis mempertahankan prinsip hidupnya!
    • Setiap zaman, para jurnalis mencerahkan masyarakat, bahkan menjadi pahlawan bagi rakyat yang dibelanya.
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • JURNALIS = IDEALIS
    • Para jurnalis adalah orang-orang yang idealis. Mereka selalu berusaha menjadi orang yang mau belajar dari dinamika kehidupan.
    • Kadang para jurnalis dianggap “keras kepala” oleh orang-orang yang tidak suka dikritik. Tapi mereka tak pernah takut menghadapi tantangan.
    • Para jurnalis bukannya “keras kepala”, tetapi lebih tepat dibilang “keras hati” karena tak akan goyah pendiriannya dalam memegang teguh kebenaran yang diyakininya.
    • Para jurnalis cenderung “dialogis” tidak “egois”
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Sejarah Jurnalis Indonesia
    Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
    Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
    Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.
    Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
    Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.
    Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers. AJI juga mengeluarkan Kode Etik Jurnalistik-nya.
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Tokoh –Tokoh Jurnalis Indonesia
    • Banyak tokoh jurnalistik Indonesia, kita tidak bisa mengurai semuanya di sini. Anda yang mau belajar, silakan kunjungi website tokoh indonesia di http://www.tokohindonesia.com/profesi/wartawan/index.shtml
    • Kita hanya akan belajar dari beberapa profil jurnalis saja. Dari merekalah kita akan terinspirasi untuk menjadi jurnalis pada zaman kita masing-masing!
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • PK. OJONG
    • Nama :Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong)
    • Nama Asli: Peng Koen Auw Jong
    • Lahir:Bukittinggi, 25 Juli 1920
    • Meninggal:Jakarta, 1980
    • Agama:Katolik
    • Ayah:Auw Jong Pauw
    • Pendidikan:- Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah dasar khusus warga Cina) Payakumbuh- Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK, sekolah guru)
    • Pekerjaan:Wartawan Senior, Pendiri Kompas-Gramedia
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Cuplikan Kehidupan...
    Sejak lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Peng Koen Auw Jong, Ojong sudah dikaruniai anugerah tak terkira. Yakni sang ayah, Auw Jong Pauw, sejak dini giat membisikkan kata hemat, disiplin, dan tekun ke telinganya. Jong Pauw yang petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan) selalu memimpikan kehidupan yang lebih baik. Maka ia merantau ke Sumatra, tepatnya Sumatra Barat.
    Kelak, meski sudah menjadi juragan tembakau, trilogi hemat, disiplin, dan tekun tetap dipedomani keluarga besar (11 anak dari dua istri; istri pertama Jong Pauw meninggal setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua) yang menetap di Payakumbuh ini. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.
    Artinya, mereka hidup berkecukupan. Tapi, Jong Pauw selalu berpesan, nasi di piring harus dihabiskan sampai butir terakhir. Sampai akhir hayat, Peng Koen tak pernah menyentong nasi lebih dari yang kira-kira dapat dihabiskan.
    Bahkan setelah menjadi bos Kompas – Gramedia, Ojong tak berubah. "Uang kembalian Rp 25,- pun mesti dikembalikan kepada Papi,“
    Namun, ia tak "pelit" pada orang atau badan sosial yang benar-benar membutuhkan, bahkan rela menyumbang sampai puluhan juta dolar. Tapi, jangan minta duit untuk pesta kawin, atau perayaan Natal sekalipun. "Kalau tidak punya uang, jangan bikin pesta," kilahnya selalu.
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • “ idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan, kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Jika tidak, bersiap-siaplah menjadi martir.”
    PK. Ojong
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • H. ADAM MALIK
    Nama: H. Adam Malik
    Lahir : Pematang Siantar, 22 Juli 1917
    Meninggal: Bandung, 5 September 1984
    Agama: Islam
    Pendidikan: SD (HIS) dan Madarasah IbtidaiyahOtodidak
    Jabatan:Wakil Presiden RI (23 Maret 1978-1983)Ketua MPR/DPR 1977-1978Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26Wakil Perdana Menteri II/Menteri Luar Negeri RI (1966-1977)Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin (1965)Ketua delegasi Indonesia-Belanda (1962)Duta besar di Uni Soviet dan Polandia (1959)Anggota DPA (1959)Anggota Parlemen (1956)Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (1945-1947)
    ProfesiWartawan (Pendiri LKBN Antara tahun 1937)
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Cuplikan Kehidupan...
    Jangan kaget, ia pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, Juga sebagai salah satu pendiri LKBN Antara, sebagai duta besar, menteri, Ketua DPR hingga menjadi wakil presiden... Padahal ia hanyalah OTODIDAK tamatan SD/MI
    Ketika usianya masih belasan tahun, ia pernah ditahan polisi Dinas Intel Politik di Sipirok 1934 dan dihukum dua bulan penjara karena melanggar larangan berkumpul.
    Pada usia 20 tahun, Adam Malik bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armin Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna, mendirikan kantor berita Antara tahun 1937 berkantor di JI. Pinangsia 38 Jakarta Kota. Dengan modal satu meja tulis tua, satu mesin tulis tua, dan satu mesin roneo tua, mereka menyuplai berita ke berbagai surat kabar nasional.
    Di zaman Jepang, Adam Malik aktif bergerilya dalam gerakan pemuda memperjuangkan kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 1945, bersama Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana, Adam Malik pernah menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, memaksa mereka memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
    Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967.
    Tahun 1977, ia terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Tiga bulan berikutnya, dalam Sidang Umum MPR Maret 1978 terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-3 menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang secara tiba-tiba menyatakan tidak bersedia dicalonkan lagi.
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • “Siapapun Anda, Jika rajin membaca berbagai buku yang memperkaya pengetahuan dan wawasan,
    dapat berubah menjadi ORANG BESAR!”
    H. Adam Malik
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • M. Jusuf Ronodipuro
    Nama:Mohamad Jusuf Ronodipuro
    Lahir:Salatiga, 30 September 1919
    Meninggal:Jakarta, 27 Januari 2008
    Isteri:Siti Fatma Rassat
    Jabatan:- Kepala RRI 1945-1947 dan 1949-1950- Dirjen Penerangan Dalam dan Luar Negeri, Deppen- Duta Besar RI di Argentina
    Alamat Keluarga:Jalan Talang Betutu, Jakarta
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Cuplikan Kehidupan...
    Seorang pendiri RRI pada masa revolusi.
    Orang yang pertamakali membacakan naskah Proklamasi 17-08-45 di Radio. Dia pula yang merekam suara Bung Karno saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan RI tersebut yang menjadikan rekaman itu sebagai satu-satunya dokumen audio otentik pembacaan proklamasi.
    Dia adalah pemekik awal semboyan kebanggaan setiap penyiar RRI untuk “sekali di udara tetap di udara”. Dia juga menjadi sumber inspirasi penciptaan lagu “Berkibarlah Benderaku” berdasar peristiwa pada malam 21 Juli 1945.
    Dirut RRI Parni Hadi mengemukakan akan mengabadikan nama Jusuf menjadi salah satu nama ruang di kantornya karena jasa Jusuf kepada negara. "Pak Jusuf dulu sembunyi-sembunyi mengabarkan naskah proklamasi yang pagi harinya dibacakan Pak Karno di kantor radio yang telah diduduki Jepang," katanya. Karena keberaniannya itu, lanjut Parni, Jusuf dianiaya tentara Jepang yang menjaga stasiun radio tersebut.
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • “Kalau memang bendera harus turun, maka dia akan turun bersama bangkai saya!”
    M. Jusuf Ronodipuro
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Inke Maris
    Nama: Inke Maris
    Lahir : Bogor, 7 Desember 1950
    Agama : Islam
    Pendidikan :-British General Certificate of Education, Commerce-Cambridge University, Proficiency in English-M.A. Program, Centre for Mass Communication Research, University of Leicester, Inggris
    Penguasaan Bahasa Aktif:Inggris, Jerman, Indonesia, dan Belanda
    Karir :-Reporter, Penyiar, Produser Radio BBC London, Seksi Indonesia (1969-1981) -Koresponden Sinar Harapan (1976-1982) -Reporter, Penyiar, Produser TVRI (1982-2001) -Public Relation Manager World Trade Centre, Jakarta (1984-1986) -Penterjemah Kantor Istana Presiden, (1979-1987)-Staf Ahli Bidang Komunikasi Menko Perekonomian (2000-2001)-Mendirikan dan Memimpin Inke Maris & Associates (1987-sekarang)
  • Cuplikan Kehidupan...
    Ia dikenal luas sebagai reporter, penyiar dan produser radio BBC London Seksi Indonesia (1969-1982) serta penyiar, reporter dan produser TVRI (1982-2001). Di TVRI dia mempunyai spesialisasi melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh terkemuka berkaliber dunia dan nasional.
    Bagi Inke, wawancara mempunyai satu tujuan utama, mewakili kepentingan masyarakat banyak untuk memperoleh informasi yang relevan bagi kehidupan masyarakat. Inke berpendapat seorang pewawancara atau penyiar mempunyai kewajiban untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang berbagai masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan hal itu merupakan suatu public service yang harus ditekuni dengan penuh tanggungjawab.
    Inke melihat Indonesia harus dijaga agar masyarakat melihat dirinya dari kacamata sendiri, tidak dari kacamata Amerika atau Inggris, ataupun negara lain. Karena kenyataan di dunia komunikasi dikuasai Inggris dengan Reuters-nya lalu Amerika dengan AP-nya (Associate Press), sudah berdiri tahun 1890-an, mempunyai sekaligus menguasai jaringan informasi di seluruh dunia.
  • “Seorang reporter harus memiliki sikap total professionalism; cara pendekatan ketika melobi untuk memperoleh waktu wawancara, dalam membahas substansi yang akan dibicarakan, dan ketika melaksanakan wawancara, harus bersikap obyektif. Mendalami latar belakang permasalahan, memelajari latar belakang tokoh yang akan diwawancarai, karirnya, pandangan-pandangannya, akan memberikan pewawancara ‘senjata’ yang ampuh”
    Inke Maris
  • Goenawan Muhammad
    Nama : Goenawan Susatyo Mohamad
    Lahir: Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
    Agama: Islam
    Pendidikan:- SR Negeri Parakan Batang, (1953)- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)- SMA Negeri Pekalongan, (1959)- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)
    Penghargaan:- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)
    Organisasi dan Karir:- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985) - Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)
  • Cuplikan Kehidupan...
    Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom "Catatan Pinggir" di Majalah Tempo.
    Masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair.  Bareng Taufik Ismail, Ia ikut menandatangani manifesto kebudayaan yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum
    Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI
    Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
  • “Pena lebih tajam daripada senjata”
    Goenawan Muhammad
  • Andy F. Noya
    Nama : Andy Flores Noya
    Lahir: Surabaya, Jawa Timur, 6 Nov 1960
    Agama: Islam
    Pendidikan:- STM 6 Jakarta- Sekolah Tinggi Publisistik, Lenteng Agung
    adalah wartawan dan presentertelevisiIndonesia. Selama ini, Ia lebih dikenal sebagai wartawan cetak. Lebih dari lima belas tahun dia bergumul dengan dunia jurnalistik untuk media cetak. Pertama kali terjun sebagai reporter ketika pada 1985 Andy membantu Majalah Tempo untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Saat itu pemuda berdarah Ambon, Jawa, dan Belanda ini masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta.
    Pada saat harian ekonomi Bisnis Indonesia hendak terbit (1985), Andy diajak bergabung oleh Lukman Setiawan, pimpinan di Grafitipers, salah satu anak usaha Tempo. Maka Andy tercatat sebagai 19 reporter pertama di harian itu. Baru dua tahun di Bisnis Indonesia, Andy diajak oleh Fikri Jufri wartawan senior Tempo untuk memperkuat majalah Matra yang baru diterbitkan oleh Tempo. Andy tertarik lalu bergabung.
    Matra agaknya bukan pelabuhan terakhirnya. Pada 1992 datang tawaran dari Surya Paloh, pemilik surat kabar Prioritas yang waktu itu dibreidel, untuk bergabung dengan koran Media Indonesia yang mereka kelola. Maka sejak itulah Andy kembali ke surat kabar.
    Kini sebagai host acara Kick Andy di MetroTV
  • “Sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya.”
    Andy F. Noya
  • Cuplikan Kehidupan...
    (c) mataharitimoer | Okt 2008
  • Terinspirasikah Anda?
    Mulai detik ini, tentukan! mau jadi apa Anda!
    (c) mataharitimoer | Okt 2008