Artikel Keefektifan Blended Learning
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Artikel Keefektifan Blended Learning

on

  • 1,923 views

Keefektifan Blended Learning

Keefektifan Blended Learning

Statistics

Views

Total Views
1,923
Views on SlideShare
1,923
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
65
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Artikel Keefektifan Blended Learning Artikel Keefektifan Blended Learning Document Transcript

  • KEEFEKTIFAN PENERAPAN BLENDED LEARNING DITINJAU DARI MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPA SMAN 1 KOTA BIMA PADA MATERI LAJU REAKSI Masyhudin 1 , Surjani Wonorahardjo, Srini M. Iskandar 2 1 SMA Negeri 1 Kota Bima. Jl. Soekarno Hatta No. 29. Telp (0374) 43197 Kota Bima NTB Indonesia. E-mail: mone349@gmail.com; nauril_507@yahoo.com. 2 Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Jl. Semarang No. 5 Telp. (0341) 551312 Malang Jawa Timur Indonesia. E-mail: S_wonorahardjo@yahoo.com; srini.iskandar@yahoo.com. ABSTRAK Kata kunci: blended learning, motivasi belajar, hasil belajar, laju reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah motivasi dan hasil belajar siswa pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan dengan motivasi dan hasil belajar penerapan model pembelajaran konvensional. Model blended learning dalam penelitian ini berupa penggabungan antara metode pembelajaran tatap muka (real class) dengan metode pembelajaran online (virtual class), sedangkan model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang keseluruhan pembelajarannya dilaksanakan secara tatap muka pada waktu dan ruang yang sama (real class). Penelitian ini menggunakan rancangan pretest-posttest. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Kota Bima. Data penelitian berupa skor motivasi dan skor hasil belajar. Data motivasi dikumpulkan dengan menggunakan instrumen angket motivasi model ARCS sejumlah 36 item sedangkan data hasil belajar diambil dengan menggunakan instrumen tes berbentuk objektif tes sejumlah 25 item. Data motivasi dan hasil belajar dianalisis dengan menggunakan teknik statistik uji-t satu pihak dan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Motivasi belajar siswa pada pembelajaran materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan motivasi belajar dengan penerapan model pembelajaran konvensional, 2) Hasil belajar siswa pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional.
  • PENDAHULUAN Faktor penyebab rendahnya pemahaman siswa terhadap materi laju reaksi adalah adanya konsep-konsep yang bersifat abstrak (Farida, 2010; Sirhan, 2007), rendahnya motivasi belajar siswa (Febrianti, 2010; Sirhan, 2007) serta cenderung tidak berani bertanya kepada guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, meskipun mereka belum memahami materi yang dipelajari (Sari & Purtadi, 2010). Temuan Sari & Purtadi (2010) ini menjadi salah satu kelemahan pembelajaran tatap muka, walaupun pembelajaran tatap muka tetap menjadi model utama pendidikan (Dasna & Sutrisno, 2005). Untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah perbaikan metode pembelajaran. Pada pembelajaran konsep abstrak, Herron (1996:135) menyarankan penggunaan animasi atau simulasi komputer. Hal ini disebabkan animasi komputer dapat mengkonkritkan konsep yang bersifat abstrak (Sanger & Greenbowe, 2000). Penelitian Sanger & Greenbowe (2000) melaporkan bahwa aplikasi animasi komputer sangat potensial untuk digunakan sebagai strategi yang efektif dalam pembelajaran, indikasinya adalah adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang diperlihatkan animasi dengan yang tidak melihat animasi pada pembelajaran materi larutan elektrolit, disamping itu animasi juga dapat menarik perhatian siswa sehingga meningkatkan motivasi belajar mereka (Feryandi, 2004), meningkatkan efisiensi pembelajaran (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Dengan demikian penggunaan gambar dan animasi komputer diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam mempelajari konsep abstrak dalam materi laju reaksi. Animasi dan gambar yang digunakan pada pembelajaran konsep abstrak ini bisa diupload ke internet untuk digunakan pada pembelajaran online. Selain bersifat abstrak, konsep dalam materi laju reaksi dapat berupa konsep terdefinisi (Gagne & Briggs dalam Jacka, 1985) seperti pengertian/hukum laju reaksi, energi aktivasi, persamaan reaksi dan orde reaksi serta konsep berdasarkan proses (penentuan laju reaksi, penentuan persamaan laju reaksi, faktor yang mempengaruhi laju reaksi) (Iriany et al, 2009; Suyanti, 2010). Konsep terdefinisi pada umumnya merupakan konsep yang menyangkut definisi (Gagne & Briggs dalam Jacka, 1985), bersifat hafalan dan menuntut penguasaan makna oleh siswa secara verbalistik (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Metode pembelajaran untuk konsep terdefinisi sebaiknya dilakukan dengan penyampaian secara lisan atau tulisan dalam bentuk definisi (Gagne & Briggs dalam Jacka, 1985). Pembelajaran konsep ini juga disarankan oleh Herron (1996) untuk dilakukan dengan menghadirkan contoh dan non contoh. Karena bersifat hafalan dan menuntut penguasaan makna secara verbalistik, maka pembelajaran konsep ini bisa dilakukan dengan metode pembelajaran online dengan memberikan definisi secara tertulis disertai contoh dan non contoh dari konsep yang dipelajari melalui gambar, grafik atau animasi pada media online. Penelitian yang dilakukan oleh Cox, Carr & Hall (2004) melaporkan bahwa metode pembelajaran online dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa yang terindikasi dengan meningkatnya partisipasi siswa. Sementara Patron & Lopez (2011) menemukan terjadinya peningkatan motivasi yang signifikan (α = 0,01) dengan penerapan pembelajaran online terhadap 212
  • siswa. Hal yang sama juga diperoleh Lim (2004) dalam Bannier (2009), bahwa terjadi peningkatan motivasi melalui pembelajaran online yang berupa relevansi, pengaturan diri, feedback dan perhatian terhadap pembelajaran. Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran online dalam pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan harapan mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam bertanya atau berinteraksi dalam pembelajaran sehingga meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Upaya perbaikan metode pembelajaran juga bisa dilakukan untuk konsep yang berdasarkan proses. Herron (1996:127-135) menyarankan pembelajaran konsep ini sebaiknya dilakukan melalui eksperimen dengan membandingkan proses tersebut dengan proses yang lain. Hal ini dikarenakan pengalaman yang diperoleh dari eksperimen merupakan pengalaman yang tak tergantikan dalam pembelajaran IPA (Herron, 1996:114), disamping itu implementasi eksperimen dalam pembelajaran berpotensi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Ashadi, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Herron (1996) melaporkan adanya perbedaan hasil belajar antara siswa yang melakukan eksperimen dengan yang tidak melakukan eksperimen. Pembelajaran konsep yang berdasarkan proses juga menuntut adanya penguasaan keterampilan proses tertentu (Suyanti, 2010). Penilaian terhadap penguasaan keterampilan melakukan percobaan dan keterampilan proses matematis tidak bisa dilakukan secara online, karena membutuhkan keterlibatan tindakan siswa yang bisa diamati (Angelo & Cross dalam Beebe, Vonderwell & Boboc, 2010), dengan demikian menuntut adanya pembelajaran tatap muka baik melalui eksperimen untuk faktor yang mempengaruhi laju reaksi, maupun melalui latihan soal untuk konsep penentuan persamaan laju reaksi dan orde reaksi karena menuntut penguasaan proses secara matematis (Sunyono, 2009). Berdasarkan sifat konsep dalam materi laju reaksi dan hasil-hasil penelitian terkait yang dikemukakan di atas, maka pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan pembelajaran online yang digabungkan dengan pembelajaran tatap muka. Model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online ini disebut sebagai blended learning (Little John & Pegler, 2007; Harriman, 2004). Blended learning akan semakin bermakna jika diikuti dengan pemanfaatan teknologi yang maksimal dari pendidik, jadi pembelajaran tidak sekedar online saja tetapi juga ada media-media di dalamnya yang juga memanfaatkan teknologi yang ada, antara lain penggunaan gambar dan animasi yang tepat (Harriman, 2004). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan blended learning dapat meningkatkan kepuasan dan prestasi siswa dalam mempelajari kimia anorganik (Williams, Bland & Christie, 2007), membantu siswa untuk lebih aktif dalam memperoleh pengetahuan secara mandiri yang berakibat pada peningkatan indeks prestasi siswa (Wong, 2007) dan siswa mendapatkan keuntungan berupa otonomi diri dan pengaturan diri melalui penerapan blended learning (Shih, 2010) Berdasarkan analisa materi dan hasil penelitian-penelitian tersebut, maka penerapan blended learning pada pembelajaran materi laju reaksi dapat dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
  • METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan desain pretest-posttest. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN I Kota Bima, sedangkan sampel penelitian adalah kelas XI IPA 6 dan XI IPA 7 yang dipilih dengan pertimbangan (purposive sampling), memiliki skor rata-rata kimia yang hampir sama pada semester sebelumnya dan sebagian besar siswa mempunyai laptop/PC. Data penelitian berupa skor motivasi dan skor hasil belajar. Data motivasi dikumpulkan dengan menggunakan instrumen angket motivasi belajar model ARCS yang terdiri dari 36 item sedangkan data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes objektif sejumlah 25 item. Hasil validasi konstruk terhadap angket motivasi diperoleh bahwa konstruksi angket semuanya valid, dengan tingkat validitas tinggi sebanyak 21,4% dan validitas sangat tinggi sebanyak 78,57%, sedangkan hasil validasi konstruk terhadap instrumen tes menunjukkan seluruh soal valid, dengan tingkat validitas cukup sebanyak 4%, validitas tinggi sebanyak 8% dan validitas sangat tinggi sebanyak 88%. Sebelum digunakan, instrumen diujicobakan pada siswa kelas XII IPA 7 SMAN 1 Kota Bima. Pada hasil uji coba terhadap instrumen angket motivasi, diperoleh validitas isi yang dihitung dengan Korelasi Bivariat Pearson semua item angket berkriteria valid, dengan tingkat validitas cukup sebanyak 19% (7 item), validitas tinggi 75% (27 item) dan validitas sangat tinggi 6% (2 item), sementara koefisien reliabilitas yang dihitung dengan metode Cronbach’s Alpha sebesar 0,97. Hasil uji coba terhadap instrumen tes diperoleh validitas isi yang dihitung dengan Korelasi Bivariat Pearson semua butir soal berkriteria valid, dengan tingkat validitas cukup sebanyak 76% (19 soal) dan validitas tinggi sebanyak 24% (6 soal), sementara koefisien reliabilitas sebesar 0,90. Selanjutnya data motivasi dan hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan teknik statistik uji-t satu pihak dan teknik persentase. Untuk keperluan pembelajaran online, digunakan Software Moodle versi 1.9 dengan web server apache versi 5.2.x. Kapasitas server yang dipakai sebesar 500 MB serta bandwidth 50 GB. Spesifikasi ini diperlukan untuk menghindari server down. Disamping itu, user memiliki koneksi internet dengan kecepatan minimal 40 Kbps setara 5 KBps. HASIL PENELITIAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Motivasi belajar siswa pada pembelajaran materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan motivasi belajar dengan penerapan model pembelajaran konvensional, 2) Hasil belajar siswa pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran konvensional. Secara lengkap hasil penelitian disajikan dalam Tabel 1 dan 2 sebagai berikut: Tabel 1 Perbandingan Rata-rata Skor Motivasi Model Motivasi Awal Motivasi Akhir Selisih Blended Learning 116.88 143,53 26,65 Konvensional 117 135,12 18,12
  • Dalam satuan persentase (dengan skor maksimal 180), persentase peningkatan skor motivasi pada penerapan blended learning sebesar 14,8% sedangkan persentase peningkatan skor motivasi pada penerapan model pembelajaran konvensional sebesar 10,1%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan blended learning lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional pada peningkatan motivasi belajar siswa. Tabel 2 Perbandingan Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Model Pretest Posttest Selisih Blended Learning 23.29 68.71 45.41 Konvensional 23.41 56.59 33.18 Dalam satuan persentase (dengan skor maksimal 100), persentase peningkatan skor tes pada penerapan model blended learning sebesar 45,4% sedangkan persentase peningkatan skor tes pada penerapan model pembelajaran konvensional sebesar 33,2%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan blended learning lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional pada peningkatan hasil belajar siswa. PEMBAHASAN Bahasan dalam bab ini berupa analisis mengenai temuan-temuan penelitian yang merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian. Hal -hal yang akan dibahas pada bagian ini adalah: 1) Peningkatan motivasi belajar dan, 2) Peningkatan hasil belajar. Peningkatan Motivasi Belajar Motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang dapat menggerakkan dirinya untuk mencapai tujuan tertentu dalam hal ini hasil belajar yang lebih baik. Aspek-aspek motivasi dalam penelitian ini berupa perhatian, relevansi, percaya diri dan kepuasan. Aspek Perhatian Perhatian siswa muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu, oleh karena itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan atau stimulus. Strategi yang merangsang perhatian siswa antara lain: penggunaan metode penyampaian materi yang bervariasi, penggunaan media untuk melengkapi materi, pemberian contoh- contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, dan teknik pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif (Keller dalam Poulsen et al, 2008). Beberapa temuan lain dalam penelitian ini sebagai penyebab ketertarikan siswa pada penerapan blended learning yang terungkap melalui kolom komentar pada angket dan diskusi online, antara lain:  Adanya sumber belajar yang beragam dan gambar/animasi lain yang disediakan melalui link sumber belajar. Beberapa responden mengatakan bahwa adanya sumber-sumber belajar lain yang disediakan membuat mereka
  • tidak merasa bosan untuk melihat materi pelajaran secara berulang-ulang, meski semuanya dalam bahasa inggris.  Penyediaan media chatting sebagai ruang diskusi synchronous. Mereka merasa senang dengan adanya ruang diskusi, dimana mereka bisa kapan saja berdiskusi dengan temannya seperti pada media jejaring sosial lainnya.  Mereka bisa dengan mudah mengirim pertanyaan ke teman melalui fasilitas e- mail (diskusi asynchronous), jika mereka mengalami kesulitan.  Urutan penyajian informasi dalam website sangat mudah, sehingga mereka merasa dituntun seperti dalam kelas tatap muka. Temuan ini menjadi indikasi bagi peningkatan presentase siswa yang menyatakan setuju/sangat setuju serta penurunan presentase siswa yang menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju terhadap penerapan blended learning pada aspek perhatian. Terhadap masih adanya siswa yang menyatakan ketidak setujuan mereka terhadap penerapan blended learning adalah ketiadaan fasilitas dalam hal ini laptop atau PC serta lambatnya akses jaringan internet. Berkaitan dengan lambatnya akses jaringan internet, siswa beralasan bahwa pemakaian website membuat mereka merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya dalam berdiskusi ketika ada di rumah. Hal ini bisa dipahami karena siswa yang beralasan seperti ini, umumnya bertempat tinggal di pemukiman yang tidak memiliki fasilitas warung internet (warnet), sehingga mereka hanya bisa memanfaatkan waktu untuk berdiskusi ketika ada di sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian yang dilakukan Means et al (2008). Mereka melaporkan bahwa penerapan model blended learning dapat meningkatkan perhatian siswa dalam organisasi topik pembelajaran pada 35 sekolah dasar di Amerika. Hal senada juga ditemukan oleh Waddoups & Howell (2002) bahwa pembelajaran dengan model blended learning telah meningkatkan tingkat perhatian peserta didik pada desain instruksional pembelajaran. Aspek Relevansi Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pelajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi siswa akan terpelihara jika siswa menganggap bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat (Keller dalam Poulsen et al, 2008). Strategi untuk menunjukkan relevansi materi pelajaran antara lain: menjelaskan tujuan instruksional, menjelaskan manfaat pengetahuan yang dipelajari dan penerapannya, dan memberikan contoh yang berkaitan dengan kondisi siswa. Temuan lain dalam penelitian ini sebagai penyebab meningkatnya motivasi pada aspek relevansi yang terungkap melalui kolom komentar pada angket, yaitu:  Siswa merasa penggunaan website sebagai media pembelajaran telah memberi pengalaman baru bagi mereka.  Adanya animasi membantu mereka dalam memahami materi  Fasilitas e-mail, menjadi media yang dimanfaatkan oleh siswa yang takut bertanya untuk berdiskusi dengan siswa lain. Hal ini menjadi indikasi bagi peningkatan presentase siswa yang menyatakan setuju/sangat setuju serta penurunan presentase siswa yang menyatakan tidak setuju/sangat tidak setuju terhadap penerapan blended learning pada aspek relevansi. Temuan yang sama juga didapatkan oleh Temuan ini memperkuat apa
  • yang ditemukan oleh Schmidt (2007) dan Martyn (2003) bahwa adanya lingkungan belajar yang fleksibel dalam metode blended learning dapat memberi pilihan bagi siswa untuk mengatur dirinya, sehingga meningkatkan kontrol belajar mereka, juga meningkatkan motivasi dan kesuksesan dalam belajar mereka. Aspek Percaya Diri Kepercayaan diri berkaitan dengan merasa diri kompeten dan mampu untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam belajar antara lain: meningkatkan harapan siswa untuk berhasil, menyusun penyampaian materi dalam bagan-bagan yang lebih kecil, menyampaikan tujuan pembelajaran, membantu siswa mengetahui hal-hal yang sudah dikuasainya dan hal-hal yang masih perlu diperhatikan, dan memberi umpan balik yang konstruktif selama pembelajaran. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan fitur latihan soal/kuis dengan feedback secara langsung membuat siswa lebih percaya diri dan semakin semangat untuk belajar bagi siswa yang mendapat skor tinggi pada kuis dan melahirkan pengaturan diri bagi siswa yang mendapat skor rendah. Hal yang sama juga dilaporkan Lim (2004) dalam Bannier (2009), bahwa terjadi peningkatan motivasi melalui pembelajaran online yang berupa relevansi, pengaturan diri, feedback dan perhatian terhadap pembelajaran. Aspek Kepuasan Kepuasan terjadi apabila kebutuhan-kebutuhan individu sudah terpenuhi dan terkait dengan derajat kesukaan dan ketidaksukaan (Robins, 2005). Strategi untuk meningkatkan kepuasan antara lain: memberikan pujian verbal dan umpan balik yang informatif, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan ketrampilan atau pengetahuan yang baru diperoleh, meminta siswa yang telah menguasai pengetahuan untuk membantu siswa yang masih belum menguasai dan membandingkan prestasi siswa dengan prestasinya dimasa lalu dengan standar tertentu. Kepuasan siswa dalam penelitian ini, umumnya diungkapkan oleh siswa karena penggunaan kuis dengan feedback langsung dan penggunaan media chatting. Mereka merasa puas dengan adanya skor yang langsung dilihat, sehingga melahirkan proses pengaturan diri dan kemandirian dalam belajar. Pada penggunaan media chatting, mereka merasa puas karena bisa berinteraksi dengan teman lain kapan saja mereka mau seperti pada media social network lainnya. Hal yang sama juga ditemukan oleh Martyn (2003), Zitting & Krause (2005), mereka melaporkan bahwa terjadi pengaturan diri melalui feedback langsung dan aktivitas siswa meningkat dengan penggunaan latihan mingguan berbasis tugas, sementara Riffell & Sibley (2003), juga melaporkan bahwa penerapan model blended learning dapat meningkatkan motivasi khususnya pada self-efficacy dan pengaturan diri serta ketrampilan pengaturan waktu melalui pekerjaan rumah (PR). Hal yang senada juga ditemukan oleh Williams, Bland & Christie (2007) bahwa penerapan model blended learning juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kepuasan diri siswa sebagai aspek motivasi dan Piskurich (2004) juga mendapatkan hasil bahwa penerapan model blended learning memberikan kepuasan dengan pengalaman yang lebih tinggi dibandingkan pengajaran tatap muka.
  • Peningkatan Hasil Belajar Beberapa temuan dalam penelitian ini yang mendukung adanya peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi pada penerapan blended learning dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional, antara lain: Interaksi pada Sesi Online Penggunaan media diskusi online synchronous (chatting), telah meningkatkan keaktifan siswa dalam berinteraksi pada proses pembelajaran. Hal ini diketahui dari ungkapan siswa pada saat diskusi, antara lain: “enak ya chatting begini, semuanya jadi mau ngomong, tidak seperti di kelas”. “asyik juga, kita bisa diskusi materi kapan saja, seperti di FB” Penggunaan media chatting dalam penelitian ini juga memberikan fleksibilitas bagi siswa untuk belajar kapan dan dimanapun mereka mau. Hal ini menimbulkan pengaturan diri sehingga mendorong prakarsa diri untuk belajar secara mandiri. Kemandirian dalam belajar terungkap pada diskusi online, dimana siswa menyatakan bahwa mereka telah melakukan diskusi sebelum pembelajaran online dilakukan. Adanya kemandirian dalam belajar yang ditemukan dalam penelitian ini sama seperti yang ditemukan oleh Ariyanto (2009) bahwa penerapan blended learning dapat meningkatkan peran dan kemandirian peserta didik dalam proses pembelajaran, selain itu pembelajaran akan lebih interaktif karena materi ajar yang disampaikan dapat ditampilkan dalam bentuk text, audio maupun video (multimedia). Pada penggunaan fitur e-mail (diskusi asynchronous) beberapa responden merasa terbantu dengan adanya fitur ini, karena dapat dipakai untuk berdiskusi dengan siswa lain dalam mendiskusikan soal. Hal ini diungkapkan oleh beberapa siswa yang takut bertanya pada media synchronous. Berkaitan dengan interaksi siswa terhadap topik pembelajaran, dalam report disetiap topik yang diberikan untuk pembelajaran online, menunjukkan bahwa rata-rata akses tiap topik lebih dari 50 kali dengan persentase akses tertinggi disetiap topik terdapat pada latihan soal dan sumber belajar lain. Peningkatan interaksi dengan penerapan model blended learning dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dziuban, Moskal & Hartman (2004), bahwa pembelajaran dengan model blended learning telah meningkatkan interaksi sebagai indikator kepuasan dalam kesuksesan model blended learning. Sementara penelitian yang dilakukan oleh Wu & Hiltz (2004), juga menemukan telah terjadi peningkatan kepuasan dan hasil belajar siswa dengan penggunaan media asynchronous terhadap 116 siswa. Bertindak berdasarkan umpan balik Pada penggunaan media online berbasis web dengan program Moodle, dapat disajikan ruang penilaian dalam bentuk latihan soal atau kuis. Pada penelitian ini, kuis yang diberikan diatur sedemikain rupa sehingga feedback berupa skor yang diperoleh dapat langsung diketahui termasuk jawaban soal yang salah dan benar. Feedback yang secara langsung ini dapat membantu siswa untuk mengetahui kesulitan materi yang mereka hadapi sebelum mereka memulai proses diskusi. Beberapa responden menyatakan bahwa adanya skor yang langsung
  • disajikan setelah pengerjaan soal telah memacu mereka untuk belajar lebih giat lagi. Hal yang sama juga ditemukan oleh Martyn (2003), Zitting & Krause (2005) bahwa aktivitas siswa meningkat dengan penggunaan latihan mingguan berbasis tugas. Penelitian oleh Hopper (2003) dan Strambi & Bouvet (2003) juga melaporkan bahwa fitur kursus pembelajaran online yang paling berpengaruh pada hasil pembelajaran adalah feedback yang terjadwal. Hopper juga menambahkan bahwa penggunaan media online dalam blended learning berperan besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Temuan lain yang juga mendukung terjadinya hasil belajar yang lebih tinggi pada penerapan blended learning dibandingkan hasil belajar pada penerapan model pembelajaran konvensional terlihat pada laporan praktikum. Penjelasan siswa kelas eksperimen lebih baik dibandingkan penjelasan siswa kelas kontrol tentang pengaruh luas permukaan dan suhu terhadap laju reaksi. Pada kelas eksperimen, siswa mampu menggabungkan pengamatan makroskopis melalui praktikum dengan pemahaman secara teoritis, seperti yang disajikan pada Tabel 3 berikut: Tabel 3 Perbandingan Penjelasan Siswa Faktor Laju Reaksi Penjelasan Siswa Kelas Eksperimen Penjelasan Siswa Kelas Kontrol Luas permukaan sentuh Bila luas permukaan untuk bersentuhan bertambah luas, maka kemungkinan untuk terjadinya tumbukan dengan spesies pereaksi lain semakin besar. Akibat lebih lanjut, persentase tumbukan dengan posisi yang tepat makin besar dan menghasilkan energi yang lebih besar dari energi aktivasi reaksinya Semakin banyak luas permukaan yang disentuh oleh zat pelarut, maka semakin singkat waktu yang diperlukan. Konsentrasi Bila konsentrasi suatu zat makin tinggi, maka jumlah partikelnya makin banyak akibatnya jumlah tumbukan persatuan waktu semakin banyak, memperbanyak persentase tumbukan yang posisinya tepat dan menghasilkan energi yang lebih besar dari energi aktivasi reaksinya Semakin besar tingkat konsentrasi zat pelarut akan semakin singkat waktu yang diperlukan untuk menghabiskan zat terlarut PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Motivasi belajar siswa pada pembelajaran materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan motivasi belajar dengan penerapan model pembelajaran konvensional. 2. Hasil belajar siswa pada materi laju reaksi dengan penerapan model blended learning lebih tinggi dibandingkan hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran konvensional.
  • Saran Beberapa saran yang dapat diberikan untuk perbaikan dan penelitian lebih lanjut adalah: 1. Dalam merancang model blended learning, hendaknya diperhatikan keanekaragaman sumber belajar seperti sumber materi yang lain, animasi, gambar. 2. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa fitur dalam sesi online yang paling banyak dipakai adalah fitur sumber belajar, latihan soal dengan feedback serta ruang diskusi synchronous (chatting), oleh sebab itu hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi perancangan media online yang digunakan dalam blended learning. 3. Sumber daya lain yang perlu diperhatikan adalah kecepatan akses jaringan internet di sekitar lingkungan siswa. Untuk user sebanyak 34 orang, kapasitas server disarankan lebih dari 500 MB dengan bandwidth minimal 50 GB untuk menghindari server down, disamping itu user harus memiliki koneksi internet dengan kecepatan minimal 40 Kbps setara 5 KBps, agar tidak mengganggu proses diskusi online. DAFTAR RUJUKAN Ariyanto, R. 2009. Penerapan Blended Learning dalam Proses Pembelajaran (online) (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6208167178.pdf) diakses 20 Juli 2011. Bannier, B. J. 2009. Motivating and Assisting Adult,Online Chemistry Students: A Review of Literature. LLC:Springer Science and Bussines Media. Beebe, R, Vonderwell, S & Boboc, M. 2010. Emerging Patterns in Transferring Assessment Practices from F2f to Online Environments. Electronic Journal of e-Learning.Vol 8 (1) 2010. Cox, G. Carr, T & Hall, M. 2004. Evaluating the Use of Synchronous Communication in Two Blended Courses. Journal of Computer Assisted Learning, 20, 183-193. Dasna, I .W. & Sutrisno (ed). 2005. Model-model Pembelajaran Konstruktif dalam Pengajaran Sains/Kimia. Malang: FMIPA UM. Dziuban, C. D, Hartman, J. L, & Moskal, P. D. 2004. Blended Learning. ECAR Research Buletin USA: Educause. No 7 Vol. 2004. Farida, I. 2010. The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia. (online) (http://faridach.wordpress.com/2010/10/13/the-importance-of-development-of- representational-competence-in-chemical-problem-solving-using-interactive-multimedia/), diakses 27 September 2011 Febrianti, D. N. 2010. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Pemahaman Konsep Siswa dalam Materi Laju Reaksi Kelas XI-IPA Semester 1 SMA Negeri 6 Malang. Skripsi Tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM. Feryandi, D. 2004. Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dengan Menerapkan Program Macromedia Flash pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris SDN Sumbersari 1 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS UM. Herron, J. D. 1996. The Chemistry Classroom. Formulas for Successful Teaching. Washington, DC: American Chemical Society.
  • Harriman, G. 2004. What is Blended Learning? E-Learning Resources. (online) (http://www.grayharriman.com/blended_learning.htm), diakses tanggal 20 Agustus 2011. Hopper, K. 2003. Reasons to Go Hybrid. Distance Education Report. Vol. 7(24).7, dalam Karen Vignare Michigan State University. Iriany, Liliasari & Setyabudi, A. 2009. Model Pembelajaran Inquiry Laboratorium Berbasis Teknologi Informasi pada Konsep Laju Reaksi Untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMU (online) (http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI. PENDIDIKAN_IPA /194909271978032- LILIASARI/iriany_2009.pdf) diakses 27 Maret 2012. Jacka, B. 1985. The Teaching of Defined Concepts: A Test of Gagne and Briggs’ Model of Instructional Design. The Journal of Educational Research. Vol. 78. No. 4 (Mar. - Apr., 1985), pp. 224-227. Little John, A. & Pegler, C. 2007. Preparing for e-Blended Learning. (e-Book), USA: Routledge. Martyn, M. 2003. The Hybrid Online Model: Good Practice. Educause Quarterly Journal. No. 1.2003.18 – 23. Means, M. Toyama, Y. Murphy, R. Bakia, M & Jones, K. 2008. Evaluation of Evidence-Based Practices in Online Learning: A Meta-Analysis and Review of Online Learning Studies. (online) (http://www2.ed.gov/rschstat/eval/ tech/evidence-based-practices/ finalreport. Pdf), diakses 12 Februari 2012. Mukhan, S. 2010. Angket Motivasi Siswa terhadap Pelajaran. (online) (http://www.ziddu.com/download/9437020/AngketPengukurMinatdanMotivasiBelajarModel ACRS.pdf.html). diakses 25 Mei 2011. Patron, H & Lopez, S. 2011. Student Effort, Consistency, and Online Performance The Journal of Educators Online. Vol 8 (2). July 2011. Piskurich, R. 2004. Web-Assisted Courses for Business Education: An Examination Of Two Sections Of Principals Of Marketing. Journal of Marketing Education, 26(2), 161-173. Poulsen, A. Lam, K. Cisneros, S & Trust, T. 2008. ARCS Model of Motivational Design. (online) (http://www.torreytrust.com/images/ITH_Trust.pdf), diakses 20 Februari 2012. Riffell, S.K., & Sibley, D.F. 2003. Student Perceptions of A Hybrid Learning Format: Can Online Experiences Replace Traditional Lectures? Journal of College Science Teaching. 32. 394- 399. Robins, S. 2005.Organizational Behavior (online) (http://som.csudh.edu/depts/ management/bchrispin/mgt312/pp%20Slides/OB11_03in.ppt) diakses 5Juli 2011. Sanger, M.J. & Greenbowe, T.J. 2000. Addressing Student Misconceptions Concerning Electron Flow in Electrolyte Solutions with Instruction Including Computer Animations and Conceptual Change Strategies. International Journal of Science Education. No. 22, 521-537. Sari, P.L & Purtadi, S. 2010. Pembelajaran Tematik pada Mata Kuliah Kimia Dasar sebagai Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Cakrawala Pendidikan. No. 3 Tahun XXIX November 2010. Schmidt, J. 2007. Blogging practices: An analytical framework. Journal of Computer-Mediated Communication. 12(4), article 13. Shih, R. C. 2010. Blended Learning Using Video-Based Blogs: Public Speaking For English As A Second Language Students. Australasian Journal of Educational Technology. 26 (6) 883- 897.2010. Strambi, A & Bouvet, E. 2003. Flexibility and Interaction At A Distance: A Mixed-Mode Environment For Language Learning Language Learning & Technology. Vol. 7(3) September 2003, pp. 81-102. Suyanti, R. D. 2010 Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Waddoups, G.L & Howell, S.L. 2002. Bringing Online Learning to Campus: The Hybridization of Teaching and Learning at Brigham Young University. International Review of Research in Open and Distance Learning. 2(2). dalam Karen Vignare Michigan State University. Williams, N. A, Bland, W. & Christie, G. 2007. Improving Student Achievement and Satisfaction by Adopting a Blended Learning Approach to Inorganic Chemistry. Journal of Chemistry Education Research and Practice. Vol. 9. 2008. (43-50). Wong, N.G. 2007. Kajian Blended Learning. (Online). (http://eprints.lib.ui.ac.id /4313 /7/126293- T-647-Kajian%20blended-Abstrak.pdf), diakses 26 Agustus 2011. Wu, D. & Hiltz, S. R. 2004. Predicting Learning From Asynchronous Online Discussions. Journal of Asynchronous Learning Networks. 8(2). 139-151. Zitting, E & Krause, A.O.I. 2005. Blended Learning In Chemical Processes Education. (online) (http://www.igi-global.com/ viewtitlesample.aspx?id= 52543), diakses 29 September 2011.
  • THE EFFECTIVENESS OF BLENDED LEARNING UPON MOTIVATION AND LEARNING OUTCOMES OF GRADE XI SCIENCE STUDENTS OF SMAN 1 KOTA BIMA ON RATE OF REACTION TOPIC Masyhudin 1 , Surjani Wonorahardjo, Srini M. Iskandar 2 1 SMA Negeri 1 Kota Bima. Jl. Soekarno Hatta No. 29. Telp (0374) 43197 Kota Bima NTB Indonesia. E-mail: mone349@gmail.com; nauril_507@yahoo.com. 2 Chemistry Department. Universitas Negeri Malang. Jl. Semarang No. 5 Telp. (0341) 551312 Malang Jawa Timur Indonesia. E-mail: S_wonorahardjo@yahoo.com; srini_iskandar@yahoo.com. ABSTRACT This study aimed to test whether motivation and learning outcomes of students XI IPA SMAN 1 Kota Bima on the reaction rate to the application of blended learning models is higher than the motivation and learning outcomes of the application of conventional models. Blended learning model in this study a combination of face-to-face teaching methods (real class) with online learning methods (virtual class), while the conventional models is that the overall learning model implemented in a face-to-face learning at the same time and space (real class ). This research uses pretest-posttest design. Subjects were students in grade XI Science SMAN I Bima City. Research data are motivation score and learning outcomes score. Motivation data was collected by questionnaire motivation instruments ARCS models with 36 items, and learning outcomes data was collected by objective tes with 25 items. Motivation and student learning outcomes data were analyzed using statistical t-test technique and the percentage technique. Research results showed: 1) Student’s learning motivation on reaction rate material with implementing blended learning model is higher than conventional learning model, 2) Student’s learning outcomes on reaction rate material with implementing blended learning model is higher than conventional learning model. INTRODUCTION Factors causing the low of student’s understanding on reaction rate material is the presence of abstract concepts (Farida, 2010; Sirhan, 2007), low of student’s learning motivation (Febrianti, 2010; Sirhan, 2007) and tend do not have courage to asks a question during the lesson, although they do not understand the material being studied (Sari & Purtadi, 2010). Sari & Purtadi (2010) finding is one of the weaknesses of learning face to face, although face-to-face learning remains the primary model of education (Dasna & Sutrisno, 2005). To solve those problems, one thing you can do is to improve teaching methods. On learning of abstract concepts, Herron (1996:135) suggests the use of
  • animation or computer simulations. This is due to a computer animation can concrete the abstract concepts (Sanger & Greenbowe, 2000). Sanger & Greenbowe research (2000) reported that the potential applications of computer animation to be used as an effective strategy in learning, the indication there is a significant difference in learning outcomes between students who are not shown in the animation to see the animation on learning materials electrolyte solution, in addition to the animation can also attract the attention of students thereby increasing their motivation to learn (Feryandi, 2004), increase the efficiency of learning (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Thus the use of images and computer animation is expected to increase motivation and learning outcomes of students in learning abstract concepts in the material the reaction rate. Animations and images used in teaching abstract concepts can be uploaded to the internet for use in online learning. In addition to abstract, the concept in reaction rate material can be either undefined concepts (Gagne & Briggs in Jacka, 1985) as the define/law reaction rate, activation energy, reaction equations and reaction order and the concept is based on the process of (determination of reaction rates, the determination of the rate equation reaction, factors affecting the rate of reaction) (Iriany et al, 2009; Suyanti, 2010). Defined concept in general is a concept relating to the definition (Gagne & Briggs in Jacka, 1985), is rote and require mastery of meaning by students verbalistic (Iriany, Liliasari & Setyabudi, 2009). Learning methods for defined concept of delivery should be performed with oral or written in the form definition (Gagne & Briggs in Jacka, 1985). This concept of learning is also suggested by Herron (1996) to be done by presenting examples and non examples. Because they are rote and require mastery of the verbalistic meaning, then the concept of learning is done through online learning methods to provide a definition in writing accompanied by examples and non examples of concepts learned through the pictures, graphics or animation on online media. Research conducted by Cox, Carr & Hall (2004) reported that online learning methods can enhance students' learning outcomes and the activity indicated by the increased participation of students. While Patron & Lopez (2011) found a significant increase in motivation (α = 0.01) with the implementation of online learning for 212 students. The same was obtained by Lim (2004) in Bannier (2009), that an increase in motivation through relevance of online learning, self-regulation, feedback and attention to learning. Thus the implementation of online learning materials in the learning rate of the reaction can be carried out in the hope of increasing the activity in question or interact with students in learning to improve motivation and learning outcomes.. Efforts to improve teaching methods can also be done for concept-based processes. Herron (1996:127-135) suggests the concept of learning is best done through an experiment by comparing the process with another process. This is because the experience gained from the experiment is an irreplaceable experience in learning science (Herron, 1996:114), in addition to the implementation of experiments in learning has the potential to enhance students' understanding of subject matter (Ashadi, 2009). Research conducted by Herron (1996) reported a difference in learning outcomes between students who do not experiment with the experiment.
  • Learning concept is based on the process also requires a certain mastery of process skills (Suyanti, 2010). Assessment of mastery of the skills to do the experiment and mathematical process skills can’t be done online, because it requires the involvement of student actions that can be observed (Angelo & Cross in Beebe, Vonderwell & Boboc, 2010), thus demanding a face-to-face learning through experiments for the factor that affect reaction rates, as well as through practice questions for the concept of determination of the rate equation for the reaction and the reaction order requires the mastery of mathematical processes (Sunyono, 2009). Based on the concept of the material properties of the reaction rate and the related research results presented above, the reaction rate of learning materials can be done with online learning combined with face-to-face learning. Learning model that combines face-to-face learning and online learning is called blended learning (Little John & Pegler, 2007; Harriman, 2004). Blended learning will be more meaningful if accompanied by a maximum utilization of education technology, so learning is not just online but also media in it who also take advantage of existing technology, such as the use of appropriate images and animations (Harriman, 2004) . Several studies have shown that the application of blended learning to increase student satisfaction and achievement in the study of inorganic chemistry (Williams, Bland & Christie, 2007), helping students to be more active in acquiring knowledge independently, resulting in increased student achievement index (Wong, 2007) and students get the advantage of self-autonomy and self- regulation through the application of blended learning (Shih, 2010) Based on the analysis of the material and the results of these studies, the application of blended learning at the rate of learning materials can be done with a view to improving students' motivation and learning outcomes. METHODS This research uses pretest-posttest design. The study population was a class XI science student SMAN I Bima city, while the sample is a class XI IPA 6 and 7 are chosen with consideration of (purposive sampling), had average scores are almost the same chemical in the previous semester and most students have laptop/PC. Research data are motivation score and learning outcome scores. Motivation data were collected using an instrument of motivation questionnaire ARCS model of motivation to learn which consists of 36 items while learning outcome data was collected using a 25 objective test items. The results of construct validation of motivation questionnaire it was found that construction of valid questionnaires, with a high level of validity as much as 21.4% and high validity as much as 78.57%, while the results of construct validation of the tes instrument shows all valid tes, with a sufficient level of validity of 4 %, 8% of high validity and validity is very high as much as 88%. Before use, the instrument was tested in IPA 7 class XII students of SMAN 1 Bima City. On the test results of the questionnaire instrument of motivation, which is obtained content validity was calculated with Pearson’s Bivariate Correlation all items are valid with a
  • sufficient level of validity as much as 19% (7 items), the validity of the high 75% (27 items) and the validity of the very high 6% (2 items), while the reliability coefficient is calculated by the method of Cronbach's Alpha of 0.97. The results of tests on instrument content validity of tes obtained are calculated with Pearson’s Bivariate Correlation all tes items are valid, with the level of validity is quite as much as 76% (19 questions) and high validity as much as 24% (6 questions), while the reliability coefficient is calculated by the method of Cronbach's Alpha of 0.90 . Furthermore, the data of motivation and student learning outcomes were analyzed using t-test statistical technique and the percentage of engineering. For the purposes of online learning, use Moodle Software version 1.9 with apache web server version 5.2.x. Used server capacity of 500 MB and 50 GB bandwidth. These specifications are necessary to avoid the server down. In addition, the user has an Internet connection with minimum speed of 40 Kbps equivalent to 5 KBps. RESEARCH RESULTS The results showed that: 1) student motivation in learning the material the reaction rate with the application of blended learning models is higher than the motivation to study the application of conventional learning models, 2) the results of student learning at the rate of material to the application of blended learning models is higher than the results of learning students with the application of conventional learning models. Complete results are presented in Tables 1 and 2 as follows: Table 1 Comparison of Average Score Motivation Model Pre Motivation Post Motivation Gain Blended Learning 116.88 143,53 26,65 Conventional 117 135,12 18,12 In units of percentage (with a maximum score 180), the percentage increase in scores on the application of blended learning motivation of 14.8% while the percentage increase in motivation scores on the application of conventional models of 10.1%. This indicates that the application of blended learning is more effective than the application of conventional models on increasing student’s motivation. Table 2 Comparison of Average Score Pretest and Posttest Model Pretest Posttest Gain Blended Learning 23.29 68.71 45.41 Conventional 23.41 56.59 33.18
  • In units of percentage (with a maximum score of 100), the percentage increase in test scores on the application of blended learning models by 45.4% while the percentage increase in test scores on the application of conventional models for 33.2%. This indicates that the application of blended learning is more effective than the application of conventional models on improving student learning outcomes. DISCUSSION The discussion in this chapter in the form of an analysis of research findings that the answer to the formulation of research problems. Matters to be discussed in this section are: 1) Increased motivation to learn and, 2) Improvement of learning outcomes. Increased Motivation Motivation to learn is impulse or force in students who can drive themselves to achieve a specific goal in this case a better learning outcomes. Motivational aspects in the study of attention, relevance, confidence and satisfaction. Aspects of Attention Attention of students emerged, driven by curiosity, because it is this curiosity to get a stimulus or stimulus. Strategies that stimulate student’s attention include: the use of a variety of delivery methods, the use of media to complement the material, giving examples that are close to student’s lives, and learning techniques that involve students actively (Keller et al in Poulsen, 2008). Several other findings in this study as the cause of the student’s interest in the application of blended learning are revealed through the comments on the questionnaires and online discussion, among others:  There is a variety of learning resources and images / animations other learning resources available through the link. Some respondents said that the presence of other learning resources provided to them from being bored to see the lesson material over and over again, although everything in English.  Provision of media chat as synchronous discussion space. They are pleased with the discussion room, where they can discuss with friends at any time as on other social networking media.  They can easily send a question to a friend via e-mail facilities (asynchronous discussion), if they run into trouble.  The order of presentation of information in the website is very easy, so they feel guided as in face to face classes. This finding is an indication for an increase in the percentage of students who had agreed / strongly agreed and reduced the percentage of students who claim to disagree/strongly disagree on the application of blended learning in
  • aspects of attention. Against the persistence of students who expressed their disagreement with the application of blended learning is the lack of facilities in this laptop or PC and network access than the Internet. Associated with the slow network access the Internet, students argued that the use of websites to make them feel left behind compared to his friends in the discussions when there are at home. This is understandable because students who reasoned like this, generally residing in residential facilities do not have internet cafes, so that they can only take the time to discuss when it is in school. The results of this study showed similar results with studies conducted Means et al (2008). They found that the application of blended learning models can enhance student’s interest in the topic of organizational learning in 35 primary schools in America. The same thing was also found by Waddoups & Howell (2002) that learning is a model of blended learning has increased the level of the learner’s attention on learning instructional design. Aspects of Relevance The relevance of the subject matter suggests a connection with student’s needs and conditions. Motivated students will be maintained if students think that what is learned to meet personal needs or beneficial (Keller et al in Poulsen, 2008). Strategies to demonstrate the relevance of subject matter include: explaining the instructional goals, explain the benefits and application of knowledge learned, and provide examples relating to the student. Another finding in this study as a cause of increased motivation on the aspect of relevance is revealed through the comments on the questionnaire, namely:  Students find the use of websites as a medium of learning has given a new experience for them.  An animated assists them in understanding the material.  e-mail facility, to be exploited by the media who are afraid to ask students to discuss with other students. This is an indication for an increase in the percentage of students who had agreed / strongly agreed and reduced the percentage of students who claim to disagree / strongly disagree on the application of blended learning on aspects of relevance. The same findings obtained by these findings reinforce what was found by Schmidt (2007) and Martyn (2003) that the existence of a flexible learning environment in the blended learning method can provide options for students to organize themselves, thereby increasing control of their learning, it also increases the motivation and success in their learning. Aspects of Confidence Confidence associated with the feel competent and capable to be able to interact positively with the environment. Strategies that can used to increase the confidence of students in the study include: raising expectations for student success, develop the delivery of material in the charts of smaller, convey the purpose of learning, helping students to know the things that have been mastered and the things that still need attention, and provide constructive feedback during learning.
  • The findings in this study indicate that use of the features exercises / quizzes with feedback directly to make students more confident and more eager to learn (students who score high on the quiz) and gave birth to self-regulation for students who score low. The same was obtained by Lim (2004) in Bannier (2009), that an increase in motivation through relevance of online learning, self- regulation, feedback and attention to learning. Aspect of Satisfaction Satisfaction occurs when individual needs are met and associated with the degree of likes and dislikes (Robins, 2005). Strategies to improve satisfaction among others: providing verbal praise and informative feedback, provides the opportunity for students to use new skills or knowledge acquired, ask the students who have mastered the knowledge to help students who still have not mastered and compare student performance with past performance with certain standards. Student satisfaction in this study, is generally expressed by the students because of the use of a quiz with immediate feedback and chat media. They were satisfied with the score of the directly viewed. hey were satisfied with the score immediately visible, so the delivery process of self-regulation and independence in learning. On the use of chat media, they feel satisfied because they can interact with other friends whenever they want to be like on other social network media. The same was found by Martyn (2003), Zitting & Krause (2005), they found that self-regulation occurs through direct feedback and increased student activity with the use of task-based exercises weekly, while Riffell & Sibley (2003), also found that the application can enhance blended learning model of motivation, especially in self-efficacy and self-regulation and time management skills through homework (PR). Similar things were also found by Williams, Bland & Christie (2007) that the application of blended learning models can also improve self-confidence and self-satisfaction as an aspect of student motivation and Piskurich (2004) also obtain the result that the application of blended learning models providing more satisfaction with the experience higher than face to face teaching. Improved Learning Outcomes Some of the findings in this study support an increase in higher learning outcomes in the implementation of blended learning compared to non-application of blended learning models, among others: Interaction in Online Session The use of online discussion media synchronous (chat), has increased the activity of the students to interact in the learning process. It is known from students during discussion of the phrase "nice chatting like this, everything is so willing to talk, not like in the classroom". "Fun, we can at discussion any the material, like on FB"
  • The use of media chat in this study also provides flexibility for students to learn whenever and wherever they want. This gives rise to self-regulation that encourages self-initiative to learn independently. Independence in learning is revealed in online discussions, where students stated that they have had discussions before the online learning done. The existence of independence in learning were found in this study is the same as found by Ariyanto (2009) that the application of blended learning to enhance the role and independence of learners in the learning process, otherwise it will be more interactive learning as teaching materials presented can be displayed in the form of text, audio and video (multimedia). On the use of e-mail feature (asynchronous discussion) some respondents feel that the feature, as it can be used to discuss with other students in discussing the matter. This was expressed by some students who are afraid to ask synchronous media. Related to the interaction of students towards learning topics, each topic in a report given to online learning, shows that the average access each topic for more than 50 times with the highest percentage of access to each topic found in exercises and other learning resources. Increased interaction with the application of blended learning models in this study is in line with research conducted by Dziuban, Moskal & Hartman, (2004), that learning to blended learning models have increased interaction as an indicator of satisfaction in the success of blended learning models. While the research conducted by Wu & Hiltz (2004), also found there has been increased student satisfaction and learning outcomes with the use of asynchronous media to 116 students. Acting on feedback On the use of web-based online media with the Moodle program, can be served room assessment given in the form of exercises or quizzes. In this study quizzes are given arranged in such a way that the feedback in the form of scores obtained can be immediately known, including answers about right and wrong. This direct feedback can help students to learn the material difficulties they face before they begin the process of discussion. Some respondents stated that the score is immediately presented after processing problem has spurred them to study harder. The same thing is found by Martyn (2003), Zitting & Krause (2005) that the student activity increased with the use of task-based exercises weekly. The same was found by Hopper (2003) and Strambi & Bouvet (2003), online learning courses that feature the most influence on learning outcomes is scheduled feedback. Hopper also added that the use of online media in a blended learning plays a major role in improving the quality of learning. Other findings also support the result of higher learning in the application of blended learning than learning outcomes on the application of conventional models seen in lab reports. Explanation of students of experimental class better than explanation the control class on surface area and the influence of temperature on reaction rate. In the experimental class, students are able to combine macroscopic observations through a experiment with theoretical understanding, as presented in Table 3 below:
  • Table 3 Comparison of Student Explanations The Reaction Rate Factors Explanation of Student Class Experiments Explanation of Student Class Control Contact area If the surface area for increased contact area, then the possibility for the occurrence of collisions with other species of the reagent increases. Further result, the percentage of collisions with the exact position of the greater and greater energy yield of the reaction activation energy The more surface area that is touched by the solvent, then the shorter the time required Concentrate When the higher concentration of a substance, then the number of particles is more a result the number of collisions per time more and more, multiply the appropriate percentage of collisions that position and generate greater energy than the activation energy of reaction The greater the degree of concentration of solvent would be the shorter time needed to spend the solute CLOSING Conclusion Based on the results of research conducted, the conclusion as follows: 1. Students' motivation in learning the material the reaction rate with the application of blended learning models is higher than the motivation to study the application of conventional learning models. 2. Student learning outcomes at the rate of material to the application of blended learning models is higher than the results of studying the application of conventional learning models. Suggestion Some suggestions can be given for improvement and further research is: 1. In designing a model of blended learning, learning resource diversity should be considered as another source of material, animation, drawing. 2. In this study, it appears that the features in the online sessions are the most widely used features of learning resources, practice questions with feedback and discussion rooms synchronous (chat), so this could be one of the considerations for the design of online media that is used in blended learning . 3. Another resource to consider is the network access speed internet in the student neighborhood. For the user as many as 34 people, recommended server capacity more than 500 MB with a minimum bandwidth of 50 GB to avoid the server down. In addition, the user must have an internet connection with minimum speed of 40 Kbps equivalent to 5 KBps, so as not to interfere with the process of online discussions. materials on the reaction rate or even to replace face to face meetings with online learning.
  • REFERENCES Ariyanto, R. 2009. Penerapan Blended Learning dalam Proses Pembelajaran (online) (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6208167178.pdf) diakses July 20th 2011. Bannier, B. J. 2009. Motivating and Assisting Adult, Online Chemistry Students: A Review of Literature. LLC: Springer Science and Bussines Media. Cox, G. Carr, T & Hall, M. 2004. Evaluating the Use of Synchronous Communication in Two Blended Courses. Journal of Computer Assisted Learning, 20, 183-193. Dasna, I .W. & Sutrisno (ed). 2005. Model-model Pembelajaran Konstruktif dalam Pengajaran Sains/Kimia. Malang: FMIPA UM. Dziuban, C. D, Hartman, J. L, & Moskal, P. D. 2004. Blended Learning. ECAR Research Buletin USA: Educause. No 7 Vol. 2004. Farida, I. 2010. The Importance of Development of Representational Competence in Chemical Problem Solving Using Interactive Multimedia. (online) (http://faridach.wordpress.com/2010/10/13/the-importance-of-development-of- representational-competence-in-chemical-problem-solving-using-interactive-multimedia/), access September 27th 2011 Febrianti, D. N. 2010. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Pemahaman Konsep Siswa dalam Materi Laju Reaksi Kelas XI-IPA Semester 1 SMA Negeri 6 Malang. Skripsi Tidak diterbitkan. Malang: FMIPA UM. Feryandi, D. 2004. Pengembangan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer dengan menerapkan Program Macromedia Flash pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris SDN Sumbersari 1 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS UM. Herron, J. D. 1996. The Chemistry Classroom. Formulas for Successful Teaching. Washington, DC: American Chemical Society. Harriman, G. 2004. What is Blended Learning? E-Learning Resources. (online) (http://www.grayharriman.com/blended_learning.htm), access tanggal August 20th 2011. Hopper, K. 2003. Reasons to Go Hybrid. Distance Education Report. Vol. 7(24).7. in Vignare Michigan State University. Iriany, Liliasari & Setyabudi, A. 2009. Model Pembelajaran Inquiry Laboratorium Berbasis Teknologi Informasi pada Konsep Laju Reaksi Untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMU (online) (http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI. PENDIDIKAN_IPA /194909271978032- LILIASARI/iriany_2009.pdf) access March 27th 2012. Little John, A. & Pegler, C. 2007. Preparing for e-Blended Learning. (e-Book), USA: Routledge. Martyn, M. 2003. The Hybrid Online Model: Good Practice. Educause Quarterly Journal. No. 1. 2003 (18 – 23). Means, M. Toyama, Y. Murphy, R. Bakia, M & Jones, K. 2008. Evaluation of Evidence-Based Practices in Online Learning: A Meta-Analysis and Review of Online Learning Studies. (online) (http://www2.ed.gov/rschstat/eval/ tech/evidence-based-practices/ finalreport. Pdf), access on February 12th 2012. Mukhan, S. 2010. Angket Motivasi Siswa terhadap Pelajaran. (online) http://www.ziddu.com/download/9437020/AngketPengukurMinatdanMotivasiBelajarModel ACRS.pdf.html. access on May 25th 2011. Patron, H & Lopez, S. 2011. Student Effort, Consistency, and Online Performance The Journal of Educators Online. Volume 8, Number 2, July 2011. Piskurich, R. 2004. Web-Assisted Courses for Business Education: An Examination Of Two Sections Of Principals Of Marketing. Journal of Marketing Education, 26(2), 161-173.
  • Poulsen, A. Lam, K. Cisneros, S & Trust, T. 2008. ARCS Model of Motivational Design. (online) (http://www.torreytrust.com/images/ITH_Trust.pdf), access on February 20th 2012. Riffell, S.K., & Sibley, D.F. 2003. Student Perceptions of A Hybrid Learning Format: Can Online Experiences Replace Traditional Lectures? Journal of College Science Teaching, 32. 394- 399. Robins, S. 2005.Organizational Behavior (online) (http://som.csudh.edu/depts/ management/bchrispin/mgt312/pp%20Slides/OB11_03in.ppt) access on July 5th 2011. Sanger, M.J. & Greenbowe, T.J. 2000. Addressing Student Misconceptions Concerning Electron Flow in Electrolyte Solutions with Instruction Including Computer Animations and Conceptual Change Strategies. International Journal of Science Education. 22. 521-537. Sari, P.L & Purtadi, S. 2010. Pembelajaran Tematik pada Mata Kuliah Kimia Dasar sebagai Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Cakrawala Pendidikan No. 3 XXIX November 2010. Schmidt, J. 2007. Blogging Practices: An Analytical Framework. Journal of Computer-Mediated Communication. 12(4), article 13. Shih, R. C. 2010. Blended Learning Using Video-Based Blogs: Public Speaking For English As A Second Language Students. Australasian Journal of Educational Technology. 26 (6) 883- 897.2010. Strambi, A & Bouvet, E. 2003. Flexibility and Interaction At A Distance: A Mixed-Mode Environment For Language Learning. Language Learning & Technology. Vol. 7(3) September 2003, pp. 81-102. Suyanti, R. D. 2010 Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta: Graha Ilmu. Waddoups, G.L & Howell, S.L. 2002. Bringing Online Learning to Campus: The Hybridization Of Teaching and Learning at Brigham Young University. International Review of Research in Open and Distance Learning, 2(2), in Karen Vignare Michigan State University. Williams, N. A, Bland, W. & Christie, G. 2007. Improving Student Achievement and Satisfaction by Adopting a Blended Learning Approach to Inorganic Chemistry. Journal of Chemistry Education Research and Practice .Vol. 9. 2008. (43-50). Wong, N.G. 2007. Kajian Blended Learning. (Online). (http://eprints.lib.ui.ac.id /4313 /7/126293- T-647-Kajian%20blended-Abstrak.pdf), access on August 26 th 2011. Wu, D. & Hiltz, S. R. 2004. Predicting Learning From Asynchronous Online Discussions. Journal of Asynchronous Learning Networks. 8 (2), 139-151. Zitting, E & Krause, A.O.I. 2005. Blended Learning In Chemical Processes Education. (online) (http://www.igi-global.com/ viewtitlesample.aspx?id= 52543), access on September 29th 2011.