Your SlideShare is downloading. ×

Makalah penguatan

604

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
604
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN DALAM PEMBELAJARAN 1. Pendahuluan Semua usaha yang dilakukan guru di dalam pembelajaran mengacu pada bagaimana menfasilitasi anak mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Pencapaian kompetensi tidak mungkin terjadi tanpa melibatkan secara langsung di dalam pembelajran. Oleh sebab itu guru mestinya merencanakan pembelajaran yang mendorong berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembelajaran. Partisipasi siswa di dalam pembelajaran sebaiknya diberikan tanggapan balik oleh duru, siswa termotivasi untuk mengulangi aktivitas tersebut dengan kualitas yang lebih baik. Tanggapan yang diberikan guru sesaat setelah anak berpartisipasi disebut penguatan atau reinforcement. Berbagai bentuk reinforcement dapat dikombinasikan oleh guru, sehinng tidak terkesan mengada- ada atau tidak alami atau tidak spontan. 2. Komponen-komponen Keterampilan Memberikan Penguatan a. Penguatan verbal Salah satu bentuk penguatan yang bisa diberikan oleh guru untuk memotivasi anak agar berpartisipasi dalam pembelajaran adalah lewat ucapan, segala ungkapan kata-kata yang dilontarkan guru menanggapi balik aktivitas anak termasuk ke dalam penguatan verbal. Berapa contoh pemberian penguatan: 1) Guru bertanya : “Konsep apa yang diterapkan pada kapal laut?” Beny mengacungkan tangan dan menjawab “ “hukum Archimedes Bu!! Guru menanggap balik, “ya, benar, Bagaimana bunyi hukum Newton? Beny “setiap benda padat yang dimasukan ke dalam zat cair akan mendapat gaya ke atas seberat zat cair yang dipisahkan. Gaya ke atas itulah yang membuat kapal terapung di dalam air.” Guru menanggapi “hebat, beny kita beri tepuk tangan buat Beny” 2) Pada saat belajar tentang tekanan guru mengajukan pertyaan “Kenapa ujung paku dibuat runcing?” Santi menjawab “supaya paku lebih mudah menembus benda saat digunakan, ujung paku yang runcing memiliki luas penampang kecil, sehingga tekanan terhadap benda menjadi besar” Guru menanggap balik “ii ya, lengkap sekali jawaban Santi” atau “betul, tepat sekali !!”
  • 2. 2 3) Pada saat belajar tentang pemuaian guru meminta anak untuk menyebutkan aplikasi konsep pemuaian di sekitar anak. Salah satu siswa menyebutkan “penyambungan rel kereta api bu!! Guru menaggap balik “bagaiman dengan penyambungan rel kereta api?” Anak tersebut menjelaskan “pada daerah sambungan diberi jarak antara batang satu dengan lainnya, sehingga pada saat panas batang tersebut memiliki tempat untuk memuai. Guru memberikan tanggapan balik “tepat sekali, kamu memang pintar nak!!” Beragam ucapan-ucapan lain yang bisa dilontarkan guru secara spontan, kata yang digunakan diusahakan bervariasi agar ttap segar dan bersemangat. Dengan ucapan atau tanggapan balik tersebut siswa merasa terpuji, dihargai, diberikan perhatian, dan yang tidak kurang pentingnya adalah siswa merasa bahwa belajar tersebut sangat bermanfaat bagi dia. b. Penguatan Non Verbal Memberikan tanggapan balik yang bertujuan agar siswa terdorong untuk lebih berprestasi, tidak terbatas dalam bentuk ucapan saja. Banyak bentuk pemberian penguatan yang dapat dipilih oleh guru, sehingga tidak membosankan bagi anak. Bentk-bentuk perbuatan tersebut dapat dibefakan dalam kategori berikut: 1) Mimik dan Gerak Badan Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila dua orang atau lebih yang berinteraksi saling berhadapan. Selama proses interaksi trsebut dipertahankan agar mimik muka atau wajah tidak cemberut, dingin, tanpa ekspresi dan tampilan-tampilan lain yang menimbulkan kesan tidak simpatik. Selama proses pembelajaran, interaksi antara siswa dengan guru berlangsung terus menerus selama waktu 2 x 40 menit atau 2 x 45 menit. Selama selang waktu yang relatif panjang tersebut diharapkan siswa berpartisipasi secara aktif dan untuk mempertahankan kondisi positif tersebut guru secara berkesinambungan memberikan berbagai penguatan. Salah satu bentuk penguatan tersebut adalah mimik. Senyuman, anggukan, gelengan yang mengisyaratkan rasa takjub dengan tanggapan anak, mengangkat kedua alis, acungan jempol, dan lain-lain dapat dipilih dan divariasikan guru selama proses pembelajaran berlangsung.
  • 3. 3 2) Mendekati Setiap anak memiliki kecendrungan yang sangat mungkin berbeda dengan temannya. Ada anak yang senang dipuji dan dibesarkan hatinya dengan kata-kata manis dan simpatik, ada anak yang puas hanya dengan senyuman atau tatapan bangga sesaat dari gurunya. Tapi ada anak yang berharap lebih dari itu. Mereka lebih senang kalau guru berada sampingnya waktu memberikan penguatan. Tipe anak yang lebih suka didekati tersebutguru sebaiknya memenuhinya. Karena tidak berat bagi guru untuk berpindah dari depan ke kedat anak yang baru saja member tanggapan atau jawaban pertanyaan, atau member penjelasan. Mendekati di sini bukan sekedar berdekatan secara fisik, tapi digabung dengan bentuk penguatan yang lain, sehingga tidak terkesan hambar atau dingin. 3) Sentuhan Kontak fisik atau sentuhan memberikan dengan guru memberikan suatu kebanggan tersendiri bagi sekelompok siswa. Bagi siswa yang sudah memberikan jawaban pertanyaan, melengkapi jawaban temannya, atau memberi penjelasan, tanggapan bahkan kritikan atau meralat argument temannya, guru dapat memberikan penguatan dengan menyalami, menepuk-nepuk pundak anak, membelai kepala anak atau sentuhan lain yang membuat anak bangga dan ingin tampil lebih baik lagi. 4) Kegiatan yang menyenangkan hati siswa Guru yang profesional berusaha mengenal kecendrungan dan karakter semua siswanya. Guru berusaha mengetahui hal-hal seperti apa yang lebih disenangi oleh siswa. Sehingga apa bila diberikan suatu tugas mereka merasa senang melakkukannya. Sehubungan dengan pemberian penguatan di dalam pembelajaran fisika guru juga dapat memilih aktivitas yang membuat siswa senang. Misalnya mengajukan pertanyaan yang bersifat konpetisi dalam menjawab, meberikan tugas berupa menyusun puzzle, memperagakan sesuatu di depan kelas, mengerjakan latihan berbetuk teka-teki silang, melakukan studi tour, atau memberikan tugas proyek dan banyak lagi aktivitas lain yang dapat dipilih dan divariasikan. Bentuk kegiatan yang dipilih oleh guru disesuaikan dengan ksenangan anak di dalam belajar fisika. Misalnya bila kelas tersebut dinominasi oleh anak yang senang berolahraga. Pada saat mempelajari gerak dalam bidang guru membawa anak ke lapangan untuk
  • 4. 4 memperagakan berbagai bentuk gerak parabola, gerak melingkar ataupun gerak pada bidang miring. 5) Simbol atau benda Bentuk lain dari penguatan non-verbal adalah symbol atau pemberian hadiah berbentuk benda. Misalnya guru mempersiapkan mainan kecil dan lucu atau alat tulis, atau mungkin hanya permen untuk dibagikan kepada siswa yang berprestasi atau ber[artisipasi secara aktif di dalam pembelajaran. Bagi siswa yang mendapatkan hadiah, pemberian tersebut tersebut akan mendorong dia untuk tampil lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan siswa yang lain menjadi lebih bersemangat, juga ingin mendapat hadiah. Karena hadiah tersebut melambangkan prestasi mereka dalam belajar fisika. Jadi hadiah yang member kebanggaan dan mendorong semangat mereka untuk lebih baik lagi pada kesempatan berikutnya. 3. Prinsip Pemberian Penguatan Supaya penguatan yang diberikan oleh guru tepat sasaran, pemberian penguatan di dalam pembelajaran harus memperhatikan beberapa prinsip pemberian penguatan berikut: a. Hangat dan Antusias Guru adalah pemberi semangat bagi siswanya. Semangat tentu saja tidak mampu diberikan oleh orang yang kurang atau tidak bersemangat. Aktivitas yang bertujuan memberikan semangat tersebut juga tidak akan sampai pada sasaran, apabila pemberiannya dilakukan tanpa dukungan kehangatan. Kehangatan yang ditampilkan oleh guru secara psikologis berdampak positif terhadap anak. Kehangatan tersebut dapat mencairkan suasana kaku, diam, ramai, dan tegang menjadi kondusif. Sikap antusias dalam batas kewajaran atau tidak berlebihan punya makna sendiri di hati anak. Melihat gurunya antusias, anak yang tadinya malas, mengantuk, capek, atau melakukan aktivitas lain menjadi tertarik ikut di dalam pembelajaran. Jadi bila sebelumnya hanya sebagian siswa yang aktif di dalam pembelajaran, antusiasme yang ditampilkan guru dapat menarik yang belum aktif menjadi aktif. b. Kebermaknaan Penguatan yang diberikan oleh guru sangat berarti bagi siswa. Mereka merasa lebih percaya diri, merasa dihargai, merasa diperhatikan, merasa berhasil dalam belajar, merasa terpuji dan tersanjung. Perasaan ini berdampak terhadap mental mereka. Siswa jadi lebih berani mengemukakan pendapatnya,
  • 5. 5 meningkat rasa ingin tahunya, dan lebih percaya diri. Dengan demikian diharapkan partisipasinya menjadi lebih baik pada kesempatan berikutnya. Bila guru melakukan penguatan secara tepat dan terus menerus, rasa ingin tahu siswa terpenuhi, akibatnya mereka merasakan bahwa belajar fisika membuat mereka jadi tahu banyak hal. Apa yang mereka ketahui tersebut membantu mereka menjawab pertanyaan tentang suatu kejadian, yang mungkin sebelumnya membuat mereka penasaran atau bingung. c. Menghindari respon negatif Kadang kala siswa kurang baik dalam mengungkapkan buah pikirannya di dalam kelas, atau bahkan bisa jadi pendapat tersebut keliru. Seorang guru professional brusaha membesarkan hati anak dengan tanggapan yang positif. Tidak langsung menyalahkan atau menghakimi anak di hadapan teman-temanya. Contoh :  Guru baru saja mendemontrasikan cara menggunakan jangka sorong, lalu memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, bila ada yang kurang dipahami. Namun tidak ada siswa yang bertanya.  Guru tahu ada anak yang kurang memperhatikan pada saat memperagakan. Guru berpikir mungkin si anak sudah paham, jadi demonstrasi itu tidak menarik buat dia.  Guru menganggap semua anak sudah paham dan bersiap untuk memberi kesempatan kepada anak untuk berlatih menggunakan jangka sorong.  Untuk meyakinkan diri bahwa memang kondisinya seperti yang diperkirakan, guru menggunakan jangka sorong untuk mengukur kedalaman tabung reaksi.  Guru menunjuk anak yang tadinya tidak memperhatikan untuk membaca hasil pengukuran dan menyampaikan kepada teman- temannya.  Siswa tersebut tidak tahu cara membacanya, sehingga kebingungan. Pada kejadian seperti ini, seorang guru professional guru tidak langsung menyalahkan atau memarahi anak karena tidak memperhatikan sewaktu guru menerangkan pelajaran. Guru bisa menunjuk siswa lain untuk melaksanakan tugas itu dan anak tadi disuruh memperhatikan. Kepada anak yang menggantikan tugas tadi guru memberi penguatan dan kepada anak pertama guru membri dorongan agar belajar lebih tekun atau
  • 6. 6 lebih serius dari sebelumnya. Guru tidak perlu mengeluarkan ucapan, “makanya perhatikan saat saya menerangkan, jangan sok tahu!!” Ucapan atau tanggapan negatif dapat merusak kondisi kelas. Tidak hanya anak yang mendapat perlakuan tidak enak saja yang terpengaruh, anak laun akan ikut terkena dampaknya. Perasaan tenang yang dirasakan anak-anak lain bisa berubah menjadi tertekan, takut, cemas, dan was-was akan menghantui mereka. Suasana yang tadinya santai dan nyaman bagi sebagian anak berubah menjadi menegangkan. Akibatnya mereka tidak kosentrasi lagi mengikuti pelajaran. Khawatir hal yang sama menimpa mereka. Anak yang menerima perlakuan atau tanggapan yang tidak mengenakan atau bersifat negatif, bukannya akan menjadi bersemangat. Tetapi malah semakin mundur. Dia malu dengan guru dan teman- temannya. Merasa diadili dan persalahkan, merasa dinilai tidak mampu dan berbagai perasaan lainya. Ini dapat berakibat tumbuhnya rasa antipasti terhadap guru dan pelajaran fisika. Sama buruknya bagi anak yang mendapat tanggapan negatif dari guru dan anak yang lemah mentalnya. Menimbulkan ketidaknyamanan dan lebih ekstrim lagi menimbulkan dendam dan rasa benci atau antipasti. Jadi sebaiknya guru tidak pernah memberikan tanggapan negatif terhadap siswa. Guru boleh menghukum atau memarahi siswa, tapi harus dengan santun dan penuh rasa kasih orang tua kepada anaknya. d. Variasi bentuk penguatan Proses pembelajaran yang bersifat tatap muka berlangsung 1 atau 2 jam pelajaran, sekitar 40 atau 45 sampai 80 atau 90 menit. Waktu yang cukup lama untuk menjaga interaksi positif berlangsung secara terus menerus, atau untuk mempertahankan semangat belajar. Banyak aktivitas dan tugas yang bisa diberikan guru selama selangwaktu tersebut. Tentu saja beragam pula pertisipasi yang bisa diberikan oleh siswa. Setiap sumbangan pikiran siswa layak diberikan penghargaan, semua anak berhak mendapatkan penguatan. Agar tidak membosankan dan selalu hidup, guru harus pintar menvariasikan berbagai bentuk penguatan. Kadang kala mengatakan bagus, pada kesempatan lain mengacungkan jempol, berikutnya tersenym sambil mengangukan kepala, lalau mendekati anak, begitu seterusnya. Sehingga ucapan atau tanggapan yang sama tidak keluar brulang-ulang dalam waktu terbatas.
  • 7. 7 DAFTAR PUSTAKA http://xa.yimg.com/kq/groups/23082406/200191175/name/modul-3-kuat.docx diakses pada tanggal 06 Juni 2013 Pukul 14.00 WIB.

×