Limbah Cair Peternakan

4,633 views
4,520 views

Published on

Published in: Education, Business, Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,633
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
62
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Limbah Cair Peternakan

  1. 1. LIMBAH CAIR PETERNAKAN BERBAHAYA BAGI KESEHATAN MASYARAKAT Markus T Lasut (Pemerhati Lingkungan & Pengelolaan Wilayah Pesisir) Berbahaya memang apabila ada buangan limbah cair dari kegiatan manusia ke lingkungan karena akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat, apalagi buangan tersebut masuk ke perairan umum (pantai, sungai, danau, dan kolam) dimana masyarakat menggunakan perairan tersebut untuk berbagai keperluan hidup sehari-hari. Salah satu kegiatan yang menghasilkan banyak limbah cair adalah kegiatan peternakan babi. Limbah cair dari kegiatan ini ditambah dengan dari kegiatan lain (rumah makan/retoran, rumah sakit, hotel, dsb.) dan dari permukiman pendudukan merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan lingkungan masyarakat di Kota Manado. Khusus limbah (padat dan cair) dari kegiatan peternakan babi, limbah ini mengandung bahan-bahan hayati (organik) yang sangat tinggi, baik berasal dari sisa- sisa makanan maupun kotoran (feces) dari hewan peliharaan tersebut. Limbah buangan tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak negatif dari yang berat sampai yang sedang dan ringan bagi kesehatan manusia. Dampak negatif yang berat terjadi karena buangan limbah cair tersebut mengandung bahan yang bersifat menimbulkan penyakit (patogenis) yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian pada manusia. Virus dan bakteri dan mikroorganisme lainnya akan selalu ada pada semua buangan limbah cair dan mengkontaminasi perairan umum dan selanjutnya menimbulkan infeksi dan penyakit pada manusia. Masyarakat dapat terkontaminasi virus dan bakteri melalui 2 cara, yaitu: (1) manakala limbah cair yang di dalamnya selalu terdapat virus dan bakteri masuk keperairan yang langsung digunakan/ dikonsumsi oleh masyarakat; (2) manakala limbah cair yang di dalamnya selalu terdapat virus dan bakteri dibuang ke perairan dan mengkontaminasi ikan-ikan dan biota lainnya yang dikonsumsi/dimakan oleh masyarakat. Beberapa penyakit yang dapat muncul akibat buangan limbah cair baik secara langsung maupun tidak, adalah misalnya diare, tipus, kolera, gangguang pencernaan, penyakit kulit. Dampak negatif yang sedang dan ringan terjadi karena buangan limbah cair dari kegiatan tersebut mengandung bahan padatan halus, bahan hayati (organik). Buangan bahan padatan halus masuk ke perairan, khususnya perairan pantai dapat merusak kehidupan biota laut dan kondisi tempat hidup biota laut. Sedangkan bahan hayati (organik) dapat menyebabkan kekurangan oksigen di perairan. Kerugian dari kedua dampak tersebut adalah selain menyebabkan lingkungan berbau dan terlihat kotor juga yang paling merugikan adalah menyebabkan berkurangnya jumlah biota perairan (sungai dan pantai) yang menjadi sumber bahan makanan (protein) masyarakat. Dengan demikian, melihat dampak-dampak negatif tersebut di atas maka, kegiatan peternakan babi, baik skala kecil dan besar, yang membuang limbah (padat dan cair) ke lingkungan perairan umum dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dampak negatif limbah cair dari kegiatan peternakan pada umumnya tidak terjadi di sekitar kegiatan tersebut melainkan di daerah jauh dari kegiatan, apalagi kalau kegiatannya berada di daratan yang agak tinggi. Karena limbah cair yang dibuang akan teralirkan melalui selokan, sungai, dan drainage menuju daerah dibawahnya. Sehingga
  2. 2. dampak negatifnya akan selalu dirasakan oleh masyarakat yang tidak mempunyai hubungan sama sekali (mendapatkan keuntungan) dengan kegiatan tersebut. Dengan kata lain, kegiatan yang membuang limbah cair seperti itu dapat merugikan orang lain. Hal-hal yang menyangkut penggunaan/eksploitasi lingkungan untuk mendapatkan keuntungan telah banyak dilakukan, dan penggunaan/eksploitasi lingkungan untuk mendapatkan keuntungan dan sekaligus merugikan lingkungan itu sendiri (termasuk di dalamnya manusia) juga telah banyak dilakukan. Hal yang terakhir (penggunaan lingkungan untuk mendapatkan keuntungan dan sekaligus merugikan lingkungan itu sendiri) banyak dibahas dan dihubungkan dengan etika lingkungan. Secara singkat mengenai etika lingkungan dihubungkan dengan kegiatan peternakan yang dibahas di atas adalah apabila suatu kegiatan peternakan yang mendapatkan keuntungan bagi pemiliknya (sekelompok orang) menggunakan lingkungan sebagai tempat buangan limbah cairnya yang dapat merusak lingkungan (masyarakat/banyak orang) maka kegiatan tersebut harus melakukan upaya pengelolaan dampak (pencegahan, mengurangi, dan/atau perbaikan) dari kerusakan lingkungan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan tersebut. Itulah etikanya. Untuk dampak negatif limbah cair secara umum di Kota Manado, sebenarnya tanpa disadari dampak negatif yang dijelaskan di atas sudah dan sedang terjadi di masyarakat. Dari survei beberapa penyakit menonjol di beberapa puskesmas di Kota Manado (khususnya diwilayah kecamatan yang berada di pesisir pantai Teluk Manado) menunjukkan bahwa penyakit seperti diare, tipus, kolera, gangguan pencernan masuk dalam 10 penyakit yang menonjol. Walaupun kasus-kasus penyakit tersebut pada umumnya tidak sampai menimbulkan kematian (karena kemajuan teknologi kedokteran) tetapi berdampak pada ekonomi masyarakat dimana biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pengobatan/penyembuhan bagi penyakit-penyakit di atas banyak dan akan semakin banyak lagi karena buangan limbah cair semakin banyak pula. Selain itu, dampak negatif sedang dan ringan yang disebutkan pada bagian sebelumnya juga dapat menggangu ekonomi masyarakat dimana masyarakat harus mengeluarkan biaya lagi untuk membeli ikan yang biasanya mereka dapatkan ikan dengan cara sederhana, seperti menangkap atau memancing. Banyak contoh dimana akibat pencemaran dan dampak negatif buangan limbah cair dari kegiatan peternakan babi, suatu negara harus mengeluarkan peraturan yang sangat ketat. Negara seperti Malaysia, khususnya Johor (1975), Trengganu (1976), Malacca dan Negeri sembilan (1980), dan Selangor (1984) telah lama mengeluarkan peraturan yang sangat ketat untuk mengontrol pemeliharaan/peternakan babi termasuk didalamnya limbah cair yang dibuang dari kegiatan tersebut. Hal seperti ini juga dapat dilakukan di Sulawesi Utara, khususnya Manado. Dengan ditetapkannya UU No. 22, 1999 tetantang otonomi daerah dan Agenda 21 Sulut akan semakin memungkinkan untuk dikeluarkannya peraturan-peraturan seperti itu@

×