Quran Sebagai sumber Ajaran Islam
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Quran Sebagai sumber Ajaran Islam

on

  • 11,865 views

 

Statistics

Views

Total Views
11,865
Views on SlideShare
11,760
Embed Views
105

Actions

Likes
2
Downloads
452
Comments
0

2 Embeds 105

http://marhamahsaleh.wordpress.com 96
http://manbaulilmiwalhikami.blogspot.com 9

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Quran Sebagai sumber Ajaran Islam Quran Sebagai sumber Ajaran Islam Presentation Transcript

  • Al-Quran Sebagai Sumber Ajaran Islam Presentasi Kuliah | Marhamah Saleh | Pengantar Studi Islam
  • Definisi Dalil & al-Quran
    • DEFINISI DALIL
    • Secara bahasa adalah “yang menunjukkan terhadap sesuatu”. Dalil diartikan pula dengan ما فيه دلالة وإرشاد artinya perkara yang di dalamnya terdapat petunjuk. Ulama Ushul mendefinisikan dalil dengan istilah الذي يمكن ان يتوصّل بصحيح النظر فيه الى العلم بمطلوب خبري artinya sesuatu yang dengan penelaahan yang shahih bisa menghantarkan kepada pengetahuan terhadap mathlub khabari (hukum suatu perkara yang sedang dicari status hukumnya).
    • TA’RIF AL-QURAN
    • bentuk mashdar dari fi’il madhi qara`a yang berarti bacaan. Menurut istilah Ushul Fiqh, al-Quran berarti kalam (perkataan) Allah yang diturunkan-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw dengan bahasa Arab serta dianggap beribadah membacanya.
  • Sumber Hukum Islam
    • Sumber hukum Islam sering disebut dengan istilah dalil-dalil syara’. Dalil-dalil hukum (adillat al syar’iyyah) merupakan teks-teks hukum yang digunakan sebagai landasan ditetapkannya suatu ketentuan hukum. Ahli ushul fiqih menjelaskan “sumber hukum Islam” mengunakan istilah dalil syar’iyyah (al-adillah al-syar’iyyah) atau mashadir al-ahkam.
    • SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN:
    • Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui 3 cara yaitu: bisikan (atau mimpi), dari balik tabir, dan melalui perantara yaitu malaikat Jibril.
    • Al-Qur’an diturukan melalui tiga tahap:
      • Pertama , Al-Qur’an diturunkan ke Lauh Mahfuz .
      • Kedua , Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia secara sekaligus.
      • Ketiga , Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur, selama kurang lebih 23 tahun (610-632 M).
    • Hikmah diturnkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur:
    • 1. Menguatkan hati Nabi Muhammad dalam menerima wahyu.
    • 2. Membina umat secara bertahap.
  • Fungsi Al-Quran
    • Petunjuk bagi manusia (QS. al-dzariyat, 51:56) berupa:
    • doktrin atau pengetahuan tentang struktur kenyataan dan posisi manusia di dalamnya, seperti: petunjuk moral dan hukum yang menjadi dasar syari’at, metafisika tentang Tuhan dan kosmologi alam, dan penjelasan tentang sejarah dan eksistensi manusia.
    • ringkasan sejarah manusia baik para raja, orang-orang suci, nabi, kaum dsb.
    • mukjizat , kekuatan berbeda dengan apa yang dipelajari.
    • Sumber ajaran islam. (QS. Al-An’am,6:38 , al-Nahl, 16:89)
    • Sebagai peringatan dan penyejuk. (QS. Al-qashas,28-77 dan al-Isra’ 17:82)
    • Pemisah antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
  • Kodifikasi atau Pengumpulan Al-Qur’an:
    • Masa Rasulullah Al-Qur’an ditulis di pelepah kurma, kulit binatang secara tidak teratur.
    • Masa Abu Bakar: memerintahkan pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf atas inisiatif Umar Ibn Khattab . Proyek ini dipimpin oleh Zaid Ibn Tsabit.
    • Masa Usman: dilakukan penyempurnaan bacaan Al-Qur’an dan penggandaannya. Mushaf induknya dinamakan dengan mushaf utsmani .
  • ULUMUL QUR’AN
    • Pengertian : Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an
    • Tujuan perumusan Ulumul Qur’an adalah:
      • Untuk dapat memahami Al-Qur’an sesuai dengan penjelasan Nabi dan keterangan sahabat.
      • Untuk mengetahui metode penafsiran Al-Qur’an.
      • Untuk mengetahui syarat2 dalam penafsiran Al-Qur’an.
    • Cabang-cabang Ulmul Qur’an antara lain:
      • Ilmu Asbabun Nuzul , yaitu ilmu yang membahas tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
      • Ilmu I’jazul Qur’an , yaitu ilmu yang membicarakan tentang mukjizat yang terdapat dalam Al-Qur’an.
      • Ilmu Nasikh wa mansukh , yaitu ilmu yang membahas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang menghapus atau membatalkan ketentuan dalam ayat Al-Qur’an yang lain.
  • Wilayah Kajian al-Qur’an
    • Topik-topik bahasan ilmu al-Qur’an mencakup:
    • Sejarah ilmu al-Qur’an, Ilmu tentang latar belakang turunnya ayat-ayat, Ilmu makki wa al-madani, Sekitar kalimat yang dipaka untuk pembukaan surat (fawatihu al-suwar), Ilmu cara-cara membaca al-Qur’an (ilmu qira’at), Ilmu yang menerangkan ayat-ayat penghapus hukum dan ayat-ayat yang dihapus hukumnya (ilmu nasikh wa al-mansukh), Tentang ilmu cara-cara menulis lafaz-lafaz al-Qur’an  (ilmu rasm al-Qur’an), Ilmu yang menerangkan ayat-ayat muhkam & mutasyabih, Ilmu perumpamaan yang digunakan al-Qur’an, Ilmu tentang sumpah dalam al-Qur’an, Ilmu tentang kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an, Ilmu jadal al-Qur’an, Ilmu tafsir, Metode yang diperlukan mufassir, Ilmu tentang kemu’jizatan dalam al-Qur’an.
  • Klasifikasi Tafsir Quran :
      • Pengertian : Tafsir adalah ilmu yang membahas tentang Al-Qur’an dari segi pengertiannya, penjelasan makna-maknanya, dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya .
      • 1. Tafsir bil ma’tsur , yaitu penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan ayat Al-Qur’an atau dengan hadis Nabi atau keterangan sahabat . Contoh kitab tafsir jenis ini adalah: Tafsir al-Thabari, Tafsir Ibnu Kasir, dan Tafsir as-Suyuti .
      • 2. Tafsir bil-ra’y , yaitu penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara ijtihad, bertitik tolak dari akal para penafsir, ketentuan-ketentuan ilmu Al-Qur’an, dan kaidah-kaidah bahasa Arab . Contoh kitab tafsir jenis ini: Tafsir Ar-Razy, Tafsir Jalalain, Tafsir Al-Baidhawi.
    • 3. Tafsir Isyari , yaitu menafsirkan al-Qur’an berdasarkan isyarat atau petunjuk halus, yang berlainan dengan makna lahir . Tujuannya adalah untuk mengungkap rahasia-rahasia Al-Qur’an dibalik ayat-ayat yang tersurat. Contoh kitab tafsir jenis ini: Ruhul Ma’ani karya Al-Baghdadi, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim karya Al-Tustani.
  • Jenis-Jenis Tafsir
    • 1. TAFSIR TAHLILI
    • Dapat disebut model kajian yang digunakan dalam mengkaji al-Qur’an sebagai sumber ajaran islam. Maksudnya adalah metode kajian al-Qur’an dengan menganalisis secara kronologis dan memaparkan berbagai aspek yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan urutan bacaan yang terdapat dalam urutan mushaf utsmani.
    • Tafsir tahlili oleh al-Farmawi dikelompokkan menjadi tujuh jenis tafsir, yakni:
    • a. Al-Tafsir bi al-Ma’tsur (riwayat), menafsirkan nash dengan nash, baik al-Qur’an dengan al-Qur’an maupun al-Qur’an dengan sunnah nabi Muhammad saw (hadis).
    • b. Al-Tafsir bi al-Ra’y , tafsir dengan menekankan ijtihad & menggunakan akal sebagai pokok dalam menfsirkan.
    • c. Al-Tafsir al-Shufi  atau tafsir isyari (isyarah), Tafsir dgn menekankan pada aspek dan dari sudut esoterik atau isyarat-isyarat yg tersirat dari ayat oleh para ahli tasauf.
    • d. Al-Tafsir fiqhi, Menekankan tinjauan hukum dari ayat.
    • e. Al-Tafsir al-Falsafi, Menafsirkan ayat al-Qur’an dengan pendekatan filsafat, baik yang berusaha melakukan sintesis dan siskretisasi antara teori-teori filsafat dengan  ayat-ayat al-Qur’an maupun yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan denagn al-Qur’an.
    • f. Al-Tafsir al-Ilmi, Menfsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan ilmiah, menggali kandungan nya dengan menggunakan teori-teori ilmu pengetahuan.
    • g. Al-Tafsir al-Adabi al-Ijtima’i, Tafsir yang menekankan pada analisis redaksi ayat dan dihubungkan dengan hukum yang berlaku dalam masyarakat.
    • 2. TAFSIR MUQARAN, Tafsir muqaran (perbandingan) adalah metode penafsiran terhadap ayat al-Qur’an yang berbicara satu masalah denagn cara membandingkan antara ayat dengan ayat dan antara ayat dengan sunnah Nabi Muhammad SAW., baik dari segi isi maupun redaksi atau antara pendapat ulama tafsir denagn menonjolkan segi-segi perbedaan dari obyek yang dibandingkan.
    • 3. TAFSIR IJMALI (GLOBAL), Metode tafsir dengan cara menafsirkan secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar.
    • 4. TAFSIR MAUDHU’I (TEMATIK), Tafsir tematik berdasar surah al-Qur’an, Zarkashi (745-794/1344-1392), dengan karyanya al-Burhan, misalnya adalah salah satu contoh yang paling awal menekankan pentingnya tafsir bahasan surah demi surah. Dalam sejarah,tafsir tematik secara umum dapat dibagi menjadi dua, yakni: 1) tematik berdasarkan subyek, dan 2) tematik berdasar surat Qur’an.
    • 5. TAFSIR KULLI (HOLISTIK), Secara prinsip tidak terlalu berbeda dengan metode tematik berdasarkan subjek. Metode tematik maupun holistik sama-sama menekankan pada pentingnya pemahaman al-Qur’an dengan metode silang (cross-referential) / induktif (al-manhaj al-istiqra’i).
    • 6. KOMBINASI TEMATIK DAN HOLISTIK, Keduanya sama-sama menekankan pentingnya memahami al-Qur’an secara menyeluruh ketika membahas satu masalah (satu tema). Maksudnya adalah mendiskusikan satu masalah tertentu, misalnya perkawinan sebagai kajian dalam tulisan ini secara tematik, harus dipantulkan dengan nilai universal  al-Qur’an . Metode ini disebut dengan metode induktif, dalam arti setiap masalah tertentu harus dibahas secara menyeluruh dari seluruh nash lengkap dengan pengetahuan latar belakang (sabab al-nuzul dan warud).
    • Pengunaan metode tematik untuk menemukan nilai dasar dari masing-masing tema/subjek. Metode holistik untuk menemukan nilai dasar antar subjek, yang pada gilirannya menyatukan nilai dasar antar subyek menjadi satu kesatuan yang utuh dan menyatu.
  • Informasi tentang al-Quran
    • Mulai diturunkan di Mekkah, tepatnya di Gua Hira` pada tahun 611 M., dan berakhir di Madinah pada tahun 633 M. dalam rentang waktu 22 tahun lebih beberapa bulan.
    • Al-Quran turun secara berangsur-angsur, tidak secara sekaligus. Mengapa? Untuk menguatkan hati (menghujamkan makna serta hukum-hukumnya) dan mentartilkan al-Quran, seperti dikisahkan dalam al-Quran surat al-Furqan ayat 32
    • وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا
    • Ayat pertama ditunkan adalah ayat 1 sampai 5 dari Surat al-’Alaq. Sedangkan ayat terakhir diturunkan ada ikhtilaf ulama. Pendapat yang dipilih oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran yang dinukilnya dari Ibnu ‘Abbas adalah Surat al-Baqarah ayat 281. واتقوا يوما ترجعون فيه الى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لايظلمون Setelah ayat ini diturunkan Rasulullah Saw masih hidup sembilan malam, kemudian beliau wafat pada hari Senin 3 Rabi’ al-awwal, dan berkahirlah turunnya wahyu. Ada pula yang mengatakan bahwa ayat terakhir turun adalah Surat al-Maidah ayat 3 اليوم أكملت لكم دينكم
  • AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH
    • Al-Quran turun dalam dua periode: Pertama , periode Mekkah, yaitu sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, dikenal dengan ayat-ayat Makkiyyah. Kedua , periode setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, dikenal dengan ayat-ayat Madaniyyah.
    • Inti Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya berbicara seputar masalah akidah untuk meluruskan keyakinan umat di masa Jahiliyah dan menanamkan ajaran tauhid. Selain itu juga menceritakan kisah umat-umat masa lampau sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad Saw. Dalam masalah hukum belum banyak ayat yang diturunkan di Mekkah kecuali beberapa hal, seperti menjaga kehormatan (faraj) QS. al-Mukminun: 5-7, diharamkan memakan harta anak yatim QS. al-Nisa`: 10, larangan mubazir QS. al-Isra`: 26, larangan mengurangi timbangan QS. Hud: 85, larangan membuat kerusakan di muka bumi QS. al-A’raf: 56, dan ayat tentang kewajiban shalat QS. Hud: 114. Rahasia mengapa di Mekkah belum banyak ayat hukum, karena di Mekkah belum terbentuk satu masyarakat atau komunitas Islam seperti halnya di Madinah setelah Rasulullah Saw hijrah.
  • AYAT MADANIYYAH
    • Banyak terkait dengan hukum dan berbagai aspeknya.
    • Perintah membayar zakat, QS. al-Baqarah: 43
    • Kewajiban puasa Ramadhan, QS. al-Baqarah: 183
    • Kewajiban haji, QS. al-Baqarah: 196
    • Pengharaman riba, QS. al-Baqarah: 275
    • Larangan memakan harta orang lain secara batil, al-Baqarah: 188
    • Wanita-wanita yang haram dinikahi, QS. al-Nisa`: 23
    • Hukum thalaq dan ‘iddah, QS. al-Thalaq: 65
    • Pembagian warisan, QS. al-Nisa`: 11-12
    • Cara pembagian harta rampasan perang, QS. al-Anfal: 1
    • Qishash & ‘uqubat (sanksi hukum), QS. al-Baqarah: 178
    • Larangan merampok & mengacau keamanan, QS. al-Maidah: 33
    • Memutuskan hukum secara adil, QS. al-Nisa`: 58
    • Dan lain sebagainya.
  • HUKUM-HUKUM DALAM AL-QURAN
    • Al-Quran sebagai petunjuk hidup secara umum mengandung 3 doktrin: Akidah, akhlak, dan hukum-hukum amaliyah.
    • Hukum-hukum amaliyah dalam al-Quran terdiri dari dua cabang: Hukum ibadah dan muamalah.
    • Abdul Wahab Khallaf memerinci macam hukum bidang muamalah dan jumlah ayatnya.
    • Hukum keluarga, mulai dari pernikahan, talak, rujuk, ‘iddah, hingga masalah warisan, seluruhnya ada 70 ayat.
    • Hukum perdata ada sekitar 70 ayat.
    • Hukum jinayat (pidana) ada 30 ayat.
    • Hukum murafa’at (acara atau peradilan) ada 13 ayat.
    • Hukum ketatanegaraan ada 10 ayat.
    • Hukum antara bangsa (internasional) ada 25 ayat.
    • Hukum ekonomi dan keuangan ada sekitar 10 ayat.
  • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
    • Dari segi rinci atau tidaknya ayat-ayat hukum dalam al-Quran, Muhammad Abu Zahrah menjelaskan sbb.:
    • Ibadah, dalam Quran dikemukakan secara mujmal (global) tanpa merinci kaifiyatnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Untuk menjelaskan tatacaranya dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan sunnahnya.
    • Kaffarat, yaitu semacam denda yang bermakna ibadah, karena merupakan penghapus bagi sebagian dosa. Ada 3 bentuk kaffarat, yaitu: Kaffarat zihar (seperti ungkapan suami kepada istrinya “kau bagiku bagaikan punggung ibuku”). Istri yang sudah di zihar tidak boleh digauli oleh suaminya kecuali setelah membayar kaffarat, QS. Al-Mujadilah: 3-4.
    • وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ * فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
    • Kaffarat sumpah , QS. Al-Maidah: 89.
    • لا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
    • Kaffarat qatl al-khata` (membunuh mukmin secara tersalah). al-Nisa`: 92
    • وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
  • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
    • Hukum mu’amalat. Al-Quran hanya memberikan prinsip-prinsip dasar, sunnah berperan merincinya, dan ijtihad para ulama berperan dalam mengembangkan perinciannya. Seperti larangan memakan harta orang lain secara tidak sah, QS. Al-Nisa`: 29, dan larangan memakan riba, QS. Al-Baqarah: 275
    • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ …
    • الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ...
    • Hukum Keluarga, Al-Quran berbicara agak rinci, misalnya penjelasan wanita-wanita yang haram dinikahi, QS. Al-Nisa`: 23
    • حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ …
    • Masalah thalaq (QS. Al-thalaq: 1), rujuk (QS. Al-Baqarah: 228), ‘iddah karena meninggal suami (QS. Al-Baqarah: 234) dan ‘iddah karena terjadinya perceraian (QS. Al-Baqarah: 228)
    • يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا
    • وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
    • وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
  • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
    • Hukum pidana. Al-Quran melarang tindak kejahatan secara umum. Seperti larangan pembunuhan (Al-An’am: 151), larangan minum khamar (QS. Al-Maidah: 90) dan rincian hukumannya dijelaskan oleh sunnah dengan cambuk 40 kali sesuai hadis جلد النبي ص م أربعين وجلد أبو بكر أربعين وعمر ثمانين وكلْ سنة , larangan berzina (Al-Nur: 2), hukuman bagi pencuri (Al-Maidah: 38), hukuman pelaku qazaf atau menuduh orang lain berzina tanpa saksi (QS. Al-Nur: 4)
    • وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
    • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    • الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
    • وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    • وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
    • Hukum yang mengatur hubungan penguasa dengan rakyat (QS. Al-Nahl: 90 dan Ali ‘Imran: 159).
    • إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
    • فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ
    • Hukum yang mengatur hubungan muslin dan non-muslim (QS. Al-Hujurat: 13 dan al-Baqarah: 194).
    • يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    • الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ ..
  • DALALAH AL-QURAN
    • Dalalah berkaitan dengan bagaimana pengertian atau makna yang ditunjukkan oleh nash dapat dipahami. Menurut istilah Muhammad al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat disebut dengan Kaifiyah dalalah al-lafdz ‘ala al-ma’na .
    • Dalam kajian Ushul Fiqih, untuk dapat memahami nash apakah pengertian yang ditunjukkan oleh unsur-unsur lafalnya itu jelas, pasti atau tidak. Para ulama ushul menggunakan pendekatan apa yang dikenal dengan istilah qath’iy dan zanniy . Tentang terma qath’iy dan hubungannya dengan nash, maka ulama ushul membaginya kepada dua macam yaitu :
    • Qath’iy al-Wurud yaitu Nash-nash yang sampai kepada kita adalah sudah pasti tidak dapat diragukan lagi karena diterima secara mutawatir.
    • Qath’iy al-Dalalah yaitu Nash-nash yang menunjukkan kepada pengertian yang jelas, tegas serta tidak perlu lagi penjelasan lebih lanjut.
    • Sedangkan terma Zanniy dan hubungannya dengan nash, terbagi dua pula:
    • Zanniy al-Wurud yaitu Nash-nash yang masih diperdebatkan tentang keberadaannya karena tidak dinukil secara mutawatir
    • Zanniy al-Dalalah yaitu Nash-nash yang pengertiannya tidak tegas yang masih mungkin untuk ditakwilkan atau mengandung pengertian lain dari arti literalnya.
  • DALALAH AL-QURAN
    • Bila dihubungkan dengan al-Qur’an dari segi keberadaannya adalah qat’iy al-Wurud karena al-Qur’an itu sampai kepada kita dengan cara mutawatir yang tidak diragukan kebenarannya. Bila al-Qur’an dilihat dari segi dalalahnya, maka ada yang qat’iy dalalah dan zanniy dalalah .
    • Umumnya nash-nash al-Qur’an yang dikategorikan qat’iy al-dalalah ini, lafal dan susunan kata-katanya menyebutkan angka, jumlah atau bilangan tertentu serta sifat nama dan jenis. Contoh ayat yang qat’iy al-dalalah :
    • ولكم نصف ما ترك ازواجكم ان لم يكن لهن ولد ...
    • Disamping qat’iy al-dalalah ada juga nash al-Quran yang zanniy al-dalalah . Yang dikategorikan pada kelompok ini adalah bila lafal-lafalnya diungkapkan dalam bentuk ‘am , musytarak , dan mutlaq . Ketiga bentuk lafal ini dalam kaidah ushuliyah mengandung makna atau pengertian yang banyak dan tidak tegas. Dalam penelitian ulama ushul ternyata banyak nash-nash al-Qur’an yang dikategorikan zanniy al-dalalah ini, dan pada bagian ini banyak menimbulkan perdebatan di kalangan ulama ushul. Contohnya والمطلقات يتربصن بانفسهن ثلاثة قروء ...