9. kaidah masyaqqah, al dharar yuzal

5,782
-1

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,782
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
150
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

9. kaidah masyaqqah, al dharar yuzal

  1. 1. المشقة تجلب التيسير الضرر يزال Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. المشقة تجلب التيسير - المشقة بالتحريك وتشديد القاف مصدر : شق ّ، والجمع : مشاق ومشقات Al-Masyaqqah  menurut ahli bahasa (etimologis) adalah  al-ta’ab   التعب yaitu kelelahan, kepayahan, kesulitan, dan kesukaran, seperti terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 7: ﻮﺘﺤﻤﻞ ﺃﺛﻘﺎ لكم ﺇﻟﻰ ﺒﻠﺪ ﻟﻢ ﺘ كو ﻨﻮﺍ بَا ﻠﻐﯿﻪ ﺇﻻ ﺒﺸﻖ ﺍﻷﻨﻔﺲ “ Dan ia memikul beban-bebanmu kesuatu negeri yang tidak sampai ketempat tersebut kecuali dengan kelelahan diri (kesukaran)”. al-Taysir berarti kemudahan, hadits Nabi ﺍﻟﺪﻴﻦ ﻴﺴﺮ ﺍﺤﺐ ﺍﻟﺪﻴﻦ ﺍﻠﻰ ﺍﷲ ﺍﻟﺤﻧﻔﻴﺔ ﺍﻠﺴﻤﺤﺔ ﴿ﺮﻮﺍﻩﺍﻟﺑﺧﺮﻰ﴾ “ Agama itu memudahkan, agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah”   Adapun arti kaidah ini: “kesulitan itu menjadi alasan munculnya kemudahan”. والمعنى الاصطلاح لها : إن الأحكام التي ينشأ عن تطبيقها حرج على المكلف ومشقة في نفسه أو ماله فالشريعة تخففها بما يقع تحت قدرة المكلف دون عسر أو إحراج . Pengertian secara istilah adalah bahwa hukum syari’at yang berlaku, apabila dalam pelaksanaanya terdapat kesusahan, kesulitan bagi diri atau harta benda mukallaf, maka syari’at memberikan keringanan untuk melaksanakan sesuai dengan batas kemampuan mukallaf tanpa adanya kesulitan maupun kesusahan. Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa kesulitan yang ditemukan oleh mukallaf dalam melaksanakan perintah syara’ menjadi sebab syar’i adanya kemudahan baginya.
  3. 3. أدلة القاعدة الفقهية وأهميتها <ul><li>الدليل من الكتاب العزيز قال تعالى   يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر . </li></ul><ul><li>QS. al-Baqarah: 185 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. QS. al-Hajj: 78 “Dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. QS. al-Maidah: 6 “Allah tidak menghendaki membuat kesulitan bagi kamu sekalian”. QS. al-Nisa’: 28 “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”. </li></ul><ul><li>Hadis الدّيْنُ يُسْرٌ اَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ . أخرجه البخارى عن أبى هريرة “ Agama itu mudah, agama yang disenangi Allah agama yang benar & mudah”. يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا . أخرجه البخارى عن أنس “ Mudahkanlah dan jangan mempersukar”. إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ . رواه الشيخان “ Kalian semua (kaum muslimin dengan perantara Nabi SAW) diutus untuk memberi kemudahan; tidak untuk menyulitkan”. (HR. Bukhari dan Muslim) قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ دِيْنَ اللهِ يُسْرٌ، ثَلاَثًا “ Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya agama Allah adalah agama yang mudah’. (Kata-kata itu) diucapkan tiga kali.” (HR. Ahmad) مَا خُيِّرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ اخْتاَرُ أَيْسَرُهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا “ Tidaklah Rasulullah diberi pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yg lebih mudah / ringan, selama yg lebih mudah itu bukan perbuatan dosa.” </li></ul>
  4. 4. Klasifikasi Kesulitan <ul><li>Kesulitan Mu’tadah, adalah kesulitan yang alami, dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. Karena itu Ibnu Abdi al-Salam mengatakan bahwa kesulitan semacam ini tidak mengugurkan ibadah dan ketaatan juga tidak meringankan, karena hal itu diberi keringanan berarti akan mengurangi kemaslahatan syariah itu sendiri. Sedang Ibnu Qayyim menyatakan bahwa bila kesulitan berkaitan dengan kepayahan, maka kemaslahatan dunia akhiran dapat mengikuti kadar kepayahan itu. </li></ul><ul><li>Kesulitan Ghairu Mu’tadah, adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan, dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu, karena jika dia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya, dan kesulitan-kesulitan itu dapat diukur oleh kriteria akal sehat, syariat sendiri serta kepentingan yang dicapainya. Kesulitan ini diperbolehkan menggunakan dispensasi (rukhshah). Seperti wanita yang selalu istihadhah, maka wudhunya cukup untuk shalat wajib serta untuk shalat sunah yang lainnya tidak diwajibkan, dan diperbolehkan shalat khauf bagi mereka yang sedang berperang, dan sebagainya. </li></ul>
  5. 5. Tingkatan Kesulitan Dalam Ibadah <ul><li>Para ulama membagi  masyaqqah  ini menjadi tiga bagian : </li></ul><ul><li>al-Masyaqqah al-‘Azhimah  ( kesulitan yang sangat berat), seperti kekhawatiran yang akan hilangnya jiwa dan/atau rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa dan /atau anggota badan mengakibatkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Masyaqqah semacam ini membawa keringanan. </li></ul><ul><li>al-Masyaqqah al-mutawasithah  (kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat juga tidak ringan). Masyaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada masyaqqah  yang sangat berat, maka ada kemudahan disitu. Apabila lebih dekat kepada masyaqqah  yang ringan, maka tidak ada kemudahan disitu. </li></ul><ul><li>al-Masyaqqah al-Khafifah  ( kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar waktu puasa, terasa capek waktu tawaf dan sa’i, terasa pening waktu rukuk dan sujud, dsb.  Masyaqqah semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah yaitu dengan cara sabar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemaslahatan dunia dan akhirat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada  masyaqqah  yang ringan ini. </li></ul>
  6. 6. Kesulitan yang membawa kpd kemudahan ada tujuh macam <ul><li>Sedang dalam perjalanan ( al-safar ). Misalnya, boleh buka puasa, meng -qashar shalat, dan meninggalkan shalat jumat. </li></ul><ul><li>Keadaan sakit (maradh). Misalnya, boleh tayamum ketika sulit dan sakit terkena air, shalat sambil duduk. </li></ul><ul><li>Keadaan terpaksa ( ikrah) yang membahayakan kepada kelangsungan hidupnya. </li></ul><ul><li>Lupa ( al-nisyan ). Misalnya, seorang lupa makan pada waktu puasa, lupa memberi utang. </li></ul><ul><li>Ketidaktahuan ( al-jahl ). Misalnya, orang yang baru masuk islam tidak tahu, kemudian makan makanan yang diharamkan. </li></ul><ul><li>Kesulitan (‘umum al-Balwa) . Misalnya, kebolehan bai’ al-salam . Kebolehan dokter melihat kepada yang bukan mahramnya demi untuk mengobati. </li></ul><ul><li>Tidak memiliki cakap hukum atau kekurangan (al-nuqshan). Misalnya, orang gila, anak kecil. </li></ul>
  7. 7. Bentuk Keringanan Karena Masyaqqah <ul><li>Takhfif isqath/rukhsah isqath,  yaitu keringanan dalam bentuk penghapusan seperti tidak shalat bagi wanita yang sedang menstruasi atau nifas. Tidak wajib haji bagi yang tidak mampu (Istitha’ah). </li></ul><ul><li>Takhfif tanqish,  yaitu keringanan berupa pengurangan, seperti shalat Qashar dua rakaat yang asalnya empat rakaat. </li></ul><ul><li>Takhfif ibdal,  yaitu keringanan yang berupa penggantian, sepertu wudhu dan/atau mandi wajib diganti tayamum, atau berdiri waktu shalat wajib diganti dengan duduk karena sakit. </li></ul><ul><li>Takhfif taqdim,  yaitu keringanan dengan cara didahulukan, seperti  jama’ taqdim  di Arafah; mendahulukan mengeluarkan zakat sebelum haul (batas waktu satu tahun); mendahulukan mengeluarkan zakat fitrah di bulan Ramadhan; jama’ taqdim  bagi yang sedang bepergian yang menimbulkan masyaqqah dalam perjalanannya. </li></ul><ul><li>Takhfif  ta’khir,  yaitu keringanan dengan cara diakhirkan, seperti shalat  jama’ ta’khir  di Muzdalifah,  qadha  saum Ramadhan bagi yang sakit,  jama’ ta’khir  bagi orang yang sedang dalam perjalanan yang menimbulkan  masyaqqah  dalam perjalanannya. </li></ul><ul><li>Takhfif tarkhis,  yaitu keringanan karena rukhsah, seperti makan dan minum yang diharamkan dalam keadaan terpaksa, sebab bila tidak, bisa membawa kematian. </li></ul><ul><li>Takhfif taghyir,  yaitu keringanan dalam bentuk berubahnya cara yang dilakukan, seperti shalat pada waktu khauf (kekhawatiran), misalnya pada waktu perang. </li></ul>
  8. 8. Turunan Kaidah Masyaqqah <ul><li>إذا ضاق الأمر إتسع و إذ ا إتسع ضاق </li></ul><ul><li>&quot;Apabila suatu perkara menjadi sempit maka hukumnya meluas dan Apabila suatu perkara menjadi meluas maka hukumnya menyempit&quot; </li></ul><ul><li>كل ما تجاوز عن حده إ ن عكس إلي ضده </li></ul><ul><li>&quot; Setiap yang melampaui batas maka hukumnya berbalik kepada yang sebaliknya&quot;. </li></ul><ul><li>ما جاز لعذر بطل بزواله </li></ul><ul><li>&quot;Apa yang di bolehkan karena uzur, maka batal dengan hilangnya halangan tadi&quot;. </li></ul><ul><li>إذ ا تعذر الأصل يصار إلى البد ل </li></ul><ul><li>&quot;Apabila yang asli sukar di kerjakan maka berpindah kepada penggantinya&quot; </li></ul><ul><li>Misalnya, tayamum sebagai pengganti wudhu. </li></ul>
  9. 9. <ul><li>ما لا يمكن التحرز منه معفو عنه </li></ul><ul><li>&quot;Apa yang tidak mungkin menjaganya (menghindarkannya), maka hal itu dimaafkan&quot;. </li></ul><ul><li>Misalnya, berkumur pada waktu shaum, darah pakaian yang sulit di hilangkan. </li></ul><ul><li>ا لرخص لا تناط با لمعصى </li></ul><ul><li>&quot;Keringanan itu tidak dikaitkan dengan kemaksiatan&quot; </li></ul><ul><li>إ ذا تعذرت ا لحقيقة يصار إلى المجا ز </li></ul><ul><li>&quot; Apabila suatu kata sulit diartikan dengan arti yang sesungguhnya, maka kata tersebut berpindah artinya kepada arti kiasannya&quot;. </li></ul><ul><li>Contohnya: seseorang berkata:&quot; Saya wakafkan tanah saya kepada anak kyai Ahmad&quot;. Padahal semua tahu bahwa anak kyai Ahmad sudah lama meninggal, yang ada hanya cucunya, yaitu kata kiasannya, bukan kata sesungguhnya. Sebab tidak mungkin mewakafkan harta kepada yang sudah meninggal. </li></ul><ul><li>إ ذا تعذر إعما ل الكلام يهمل </li></ul><ul><li>&quot; Apabila sulit mengamalkan suatu perkataan, maka perkataan tersebut ditinggalkan&quot;. </li></ul><ul><li>Contohnya: apabila seseorang menuntut warisan dan mengaku bahwa dia adalah anak dari orang yang meninggal, kemudian setelah diteliti dari akta kelahirannya, ternyata dia lebih tua dari orang yang meninggal yang diakuinya sebagai ayahnya. Maka perkataan orang tersebut ditinggalkan dalam arti tidak diakui perkataannya. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الإبتداء </li></ul><ul><li>&quot;Bisa dimaafkan pada kelanjutan perbuatan dan tidak bisa dimaafkan pada permulaanya&quot;. </li></ul><ul><li>Contohnya: Orang yang menyewa rumah yang diharuskan membayar uang muka oleh pemilik rumah. Apabila sudah habis pada waktu penyewaaan dan ingin memperpanjang sewanya, maka dia tidak perlu membayar uang muka lagi . </li></ul><ul><li>يغتفر في الإ بتداء ما لا يغتفر في الدوام </li></ul><ul><li>“ Dimaafkan pada permulaan tapi tidak dimaafkan pada kelanjutannya &quot;. </li></ul><ul><li>Contohnya, orang yang baru masuk Islam minum-minuman keras seperti kebiasaan sebelum Islam. Maka orang tersebut dimaafkan untuk permulaan karena ketidaktahuan. </li></ul><ul><li>يغتفر في التوابع ما لا يغتفر في غيرها </li></ul><ul><li>&quot;Dapat dimaafkan pada hal yang mengikuti dan tidak dimaafkan pada yang lainnya&quot; </li></ul>
  11. 11. Al-Masyaqqah Dalam Bidang Muamalah <ul><li>‘ Umum al-Balwa (kesukaran umum yang tidak dapat dihindarkan). </li></ul><ul><li>Misalnya bai al-salam (uangnya dulu, barangnya belum ada). Kebolehan muamalat ini karena ia diperlukan. </li></ul><ul><li>&quot; Apabila yang asli sukar dikerjakan, maka berpindah kepada penggantinya&quot; . Misalnya sesorang meminjam suatu benda, kemudian benda itu rusak atau hilang (misalnya buku), sehingga tidak mungkin dikemablikan kepada pemiliknya, maka ia wajib menggantinya dengan buku yang sama baik judul, penerbit maupun cetakannya, atau diganti dengan harga buku tersebut dengan harga di pasaran. </li></ul><ul><li>&quot;Apabila suatu kata sulit diartikan dengan arti yang yang sesungguhnya, maka kata tersebut berpindah artinya kepada arti kiasannya&quot;. </li></ul><ul><li>Misalnya, seseorang berkata “Saya wakafkan tanah saya ini kepada anak kyai Ahmad”. Padahal semua tahu anak kyai tersebut telah lama meninggal, yang ada adalah cucunya. Maka dalam hal ini, kata anak harus diartikan cucunya, yaitu kata kiasannya bukan arti sesungguhnya. Sebab tidak mungkin mewakafkan harta kepada orang yang sudah meninggal. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>&quot;Apabila sulit mengamalkan suatu perkataan, maka perkataan tersebut ditinggalkan&quot; </li></ul><ul><li>Misalnya seseorang menuntut warisan dan mengaku bahwa dia adalah anak dari orang yang meniggal, kemudian setelah diteliti dari akta kelahirannya, ternyata dia lebih tua dari orang yang meninggal, yang diakui sebagai ayahnya. Maka perkataan orang tersebut ditinggalkan dalam arti tidak diakui perkataannya. </li></ul><ul><li>&quot;Bisa dimaafkan pada kelanjutan perbuatan dan tidak bisa dimaafkan pada permulaannya&quot;. </li></ul><ul><li>Misalnya orang yang menyewa rumah diharuskan membayar uang muka oleh pemilik rumah. Apabila sudah habis pada waktu penyewaan dan dia ingin memperbaharui sewaannya dalam arti melanjutkan sewanya, maka dia tidak perlu membayar uang muka lagi. Demikian pula halnya, untuk memperpanjang izin perusahaan, seharusnya, tidak diperlukan persyaratan-persyaratan yang lengkap seperti halnya waktu mengurus izin pertama dulu. </li></ul><ul><li>&quot; Dapat dimaafkan pada hal yang mengikuti dan tidak dimaafkan pada yang lainnya&quot;. </li></ul><ul><li>Misalnya penjual boleh menjual kembali karung bekas tempat beras, karena karung mengikuti kepada beras yang dijual. Demikian pula boleh mewakafkan kebun yang sudah rusak tanamamnya, karena tanaman mengiktuti tanah yang diwakafkan. </li></ul>
  13. 13. الضرر يزال <ul><li>أصل القاعدة : أصلها قوله لله : ( لا ضرر ولا ضرار ) وهو حديث أخرجه مالك في الموطأ عن عمرو بن يحيى عن أبيه مرسلاً . وأخـرجـه الحاكم في المستدرك والبيهقي،والدارقطني من حديث أبي سعيد الخـــــدري، وأخرجه ابن ماجه من حديث ابن عباس وعبادة بن الصامت ـ رضي الله عنهم . </li></ul><ul><li>معنى الحديث : الضرر : إلحاق مفسدة بالغير مطلقاً . الضرار : مقابلة الضرر بالضرر . والحــديث يفيد تحريم الضرر بشتى أنواعه؛ لأنه نوع من أنواع الظلم؛ ويشمل ذلك دفعه قبل وقوعه بالطرق الممكنة، ورفعه قبل وقوعه بالتدابير والإجراءات اللازمة . ولا يجوز أيضاً مقابلة الضرر بالضرر؛ لأنه توسيع لدائرة الضرر؛ فالإضرار لا يُلجأ إليه إلا لـضـــرورة، ويستثنى من ذلك ما خُصّ بدليل وكان عقوبة شرعية مثل الحدود والعقوبات الأخرى كالقصاص . </li></ul>
  14. 14. ما يبنى عليها من أبواب الفقه <ul><li>يبني الفقهاء على هذه القاعدة كثيراً من أبواب الفقه، منها : الرد بالعيب، وجميع أنواع الخيارات من اختلاف الوصف المشروط والتعزير وإفلاس المشتري والحجر بأنواعه، والشفعة؛ لأنها شرعت لدفع ضرر القسمة، والقصاص والحدود والكفارات، وضمان المتلف والقسمة، ونصب الأئمة والقضاة، ودفع الصائل وقتال المشركين والبغاة، وفسخ النكاح بالعيوب أو الإفساد أو غير ذلك </li></ul>
  15. 15. قواعد تتعلق بهذه القاعدة <ul><li>يتفرع عن هذه القاعدة ويندرج تحتها ويتعلق بها قواعد، منها : </li></ul><ul><li>الضرورات تبيح المحظورات : هذه القاعدة مستفادة من استثناء القرآن الكريم في حالات الاضطرار الطارئة في ظروف استثنائية بقوله ـ تعالى ـ : (( إلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إلَيْهِ )) [ الأنعام : 119] بعد ذكر طائفة من المحرمات، لذا جاز للطبيب الكشف على عورات الأشخاص إذا توقفت عليها مداواتهم، وجاز أكل الميتة عند المخمصة، وإساغة اللقمة بالخمر عند الغصة، والتلفّظ بكلمة الكفر للإكراه، وكذا إتلاف المال وأخذ مال الممتنع من أداء الدين بغير إذنه، ودفع الصائل ولو أدى إلى قتله بشرط عدم نقصان الضرورة في نظر الشرع عن المحظور الذي اقتضت إباحته كما اشترط الشافعية وغيرهم فلو كان الميت نبياً فلا يحل أكله للمضطر؛ لأن حرمته أعظم في نظر الشرع من مهجة المضطر؛ وكذا لو دفن الميت بلا تكفين فلا ينبش منه؛ لأن مفسدة هتك حرمته أشد من عدم تكفينه الذي قام التراب بالستر مقامه . </li></ul>
  16. 16. الضرورات تقدر بقدرها <ul><li>هذه القاعدة تعتبر قيداً لسابقتها؛ فالاضطرار إنما يبيح من المحظورات مقدار ما يدفع الخطر؛ فلا يجوز الاسترسال؛ ومتى زال الخطر عاد الحظر؛ فالطبيب يكشف من العورة لمداواتها بالقدر الذي يحتاج إليه كشفه فقط، والمرأة لا يجوز أن يطلع على عورتها للتطبيب أو التوليد رجل إذا وجدت امرأة تحسن ذلك؛ لأن اطلاع الجنس على جنسه أخف محظوراً، وتقبل شهادة النساء في المجالات التي لا يمكن اطلاع الرجال عليها؛ وذلك بسبب الضرورة، ولكن لا تقبل شهادة النساء فقط دون أن يكون معهن أحد من الرجال في المحال التي يمكن اطلاع الرجال عليها؛ لأن ما جاز للضرورة يُقدّر بقدرها . </li></ul>
  17. 17. الضرر لا يزال بمثله ( أو بالضرر ( <ul><li>هذه القاعدة تعتبر قيداً لقاعدة : ( الضرر يزال ) التي أوجبت إزالة الضرر قبل وقوعه ودفعه بعد وقوعه؛ فإزالة الضرر لا يجوز أن تكون بإحداث ضرر مثله؛ لأن هذا ليس إزالة؛ ومن باب أوْلى أن لا يزال الضرر بضرر أعظم منه؛ فالشرط أن يزال الضرر بلا إضرار بالغير، فإن أمكن وإلا فبأخف منه . </li></ul><ul><li>وعلى ذلك لا يجوز لإنسان محتاج إلى دفع الهلاك عن نفسه جوعاً أن يأخذ مال محتاج مثله، كما لا يجوز لمن أُكره على القتل أن يقتل إذا كان المراد قتله مسلماً بغير وجه حق . * وإذا ظهر في المبيع عيب قديم وحدث عند المشتري عيب جديد امتنع رد المبيع بالعيب القديم لتضرر البائع بالعيب القديم إلا أن يرضى . </li></ul>
  18. 18. الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف . اختيار أهون الشرين أو أخف الضررين . إذا تعارضت مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما <ul><li>هذه القواعد الثلاث ممتدة المعنى؛ أي أن الأمر إذا دار بين ضررين أحدهما أشد من الآخر فيتحمل الأخف ولا يرتكب الأشد . والأصل في هذه القواعد قولهم : ( إن من ابتلي ببليتين وهما متساويتان يأخذ بأيتهما شاء، وإن اختلفتا يختر أهونهما؛ لأن مباشرة الحرام لا تجوز إلا للضرورة، ولا ضرورة في حق الزيادة ) فلو كان برجل جرح لو سجد سال دمه فإنه يومـئ ويصلـي قاعـداً؛ لأن تـرك السجود مع المحدث أهون من ترك الصلاة مع المحدث، وترك السجود هنـا أيضاً يدفـع عن الجريح ضرر خروج الدم ونزفه، وكذا لو أن مصلياً لو صلى قائمـاً فإنه ينكشـف من عورتـه ما يمنع جواز الصلاة، ولو صلى قاعـداً فلا ينكشـف منه شيء فإنه يصلي قاعداً؛ لأن ترك القيام أهون . ولو ابتلعت دجاجة شخصٍ لؤلؤة ثمينة لغيره؛ فلصاحب اللؤلؤة أن يمتلك الدجاجة بقيمتها ليذبحها، وكذا جاز شق بطن المرأة الميتة لإخراج الجنين إذا كانت ترجى حياته . </li></ul>
  19. 19. يتحمّل الضرر الخاص لدفع الضرر العام <ul><li>هذه القاعدة مبنية على المقاصد الشرعية في مصالح العباد؛ واستخرجها المجتهدون من الإجماع ومعقول النصوص؛ فالشرع جاء ليحفظ على الناس دينهم وأنفسهم وعقولهم وأنسابهم وأموالهم؛ فكل ما يؤدي إلى الإخلال بواحد منها فهو مضرة يجب إزالتها ما أمكن؛ تأييداً للمقاصد الشرعية بدفع الضرر الأعم بارتكاب الأخص؛ ولهذه الحكمة شرعت الحدود وشرع القصاص . </li></ul><ul><li>ومن فروع هذه القاعدة : جواز رمي كفار تترسوا بالأسرى من المسلمين أو صبيانهم أو نسائهم لدفع ضرر زحفهم عن العموم </li></ul>
  20. 20. درء المفاسد أوْلى من جلب المنافع <ul><li>فإذا تعارضت مفسدة ومصلحة قُدّمَ رفع المفسدة؛ لأن اعتناء الشرع بالمنهيات أشد من اعتنائه بالمأمورات، والمراد بدرء المفاسد ورفعها وإزالتها لما يترتب على المفاسد من ضرر جسيم ينافي حكمة الشارع في النهي . ودليل هذه القاعدة قوله لله : ( ما نهيتكم عنه فاجتنبوه، وما أمرتكم به فائتوا منه ما استطعتم ) </li></ul><ul><li>ومن أمثلة هذه القاعدة : منع التجارة في المحرمات من خمر ومخدرات وخنزير، ولو أن فيها أرباحاً ومنافع اقتصادية . منع مالك الدار من فتح نافذة تطل على مقر نساء جاره؛ ولو كان فيها منفعته . منع الجار من التصرف في ملكه تصرفاً يضر بجيرانه؛ كاتخاذ معصرة أو فرن يؤذي الجيران بالرائحة أو الدخان . ومثل هذه القاعدة قولهم : ( إذا تعارض المانع والمقتضي يُقدّم المانع، إلا إذا كان المقتضي أعظم ) والمراد بالمقتضي هنا : الأمر الطالب للفعل؛ فوجود المانع يمنع من الفعل غالباً . وقولهم أيضاً : ( إذا اجتمع الحلال والحرام أو المبيح والمحرم غلب الحرام ( </li></ul>
  21. 21. الحاجة تنزل منزلة الضرورة ( عامة أو خاصة ( <ul><li>ومن هذا القبيل جوزت الإمارة على خلاف القياس؛ لأن المعقود عليه وهو المنفعة معدوم؛ والقياس البطلان؛ </li></ul><ul><li>ومنه تجويز السّلَم على خلاف القياس؛ لكونه بيع معدوم دفعاً لحاجة المفاليس، ومنه جواز الاستصناع، والدخول إلى الحمام بأجرة مع جهالة مكثه فيه وجهالة ما يستعمل من الماء . </li></ul><ul><li>ومنه أيضاً تجويز بيع الوفاء لـمّا كثرت الديون على أهالي بخارى ومست الحاجة إلى ذلك مع أن بيع الوفاء غير جائز أصلاً . </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×