<ul><li>Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc.MA. </li></ul>
Klasifikasi Ilmu  Menurut Ibnu Khaldun
Ragam Ilmu Menurut  Ibnu Khaldun <ul><li>Dalam kitab Muqaddimah, ada 2 macam ilmu pengetahuan: </li></ul><ul><li>Sifatnya ...
Macam Ilmu Tradisional <ul><li>Hukum-hukum Allah Swt berasal dari al-Quran dan Sunnah, baik dari teks (nash) atau melalui ...
Macam Ilmu Tradisional <ul><li>6. Lalu, beban2 tanggung jawab  (takālīf)  ada yang bersifat badani dan qalbi. Taklīf yang ...
<ul><li>Klasifikasi keilmuan dalam Islam menurut  al-Ghazali  dalam al-Risalah al-Laduniyyah-nya:  fardh ’ain  dan  fardh ...
<ul><li>Model Berpikir Kajian Islam </li></ul><ul><li>EPISTEMOLOGI BAYANI. Pendekatan dengan cara menganalisis teks dan be...
<ul><li>Burhān jamaknya barāhin, artinya bukti, argumen. Sumbernya:  Realitas (al-wāqi')  baik dari alam, sosial, dan huma...
<ul><li>JENIS ARGUMEN  dalam nalar burhani adalah  demonstratif,  baik secara eksploratif,  verifikatif, dan eksplanatif. ...
<ul><li>BAYĀNI  (explanatory),  secara etimologis,  mempunyai pengertian  penjelasan, pernyataan, ketetapan. Secara termin...
<ul><li>Corak berpikir bayāni cenderung mengeluarkan makna yang ber tolak dari lafadz, baik yg bersifat 'ām, khāsh, musyta...
<ul><li>SUMBER IRFANI : </li></ul><ul><li>Experience </li></ul><ul><li>Al-Ru’yah al-Mubāsyirah </li></ul><ul><li>Direct Ex...
Teori Pengetahuan (epistemologi) bayani menekankan kajian dari teks (nash) ijma' dengan ijtihad sebagai referensi dasarnya...
Perbandingan Bayani-Irfani-Burhani
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

6. pengelompokan keilmuan dalam islam

5,324

Published on

3 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
5,324
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
558
Comments
3
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

6. pengelompokan keilmuan dalam islam

  1. 1. <ul><li>Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc.MA. </li></ul>
  2. 2. Klasifikasi Ilmu Menurut Ibnu Khaldun
  3. 3. Ragam Ilmu Menurut Ibnu Khaldun <ul><li>Dalam kitab Muqaddimah, ada 2 macam ilmu pengetahuan: </li></ul><ul><li>Sifatnya alami bagi manusia yaitu melalui bimbingan pikirannya, yaitu ilmu-ilmu filsafat. Manusia memperoleh ilmu itu melalui kemampuannya untuk berpikir dan dengan persepsi2 manusiawinya ia terbimbing kepada objek2 dengan problema argumen, dan metode pengajaran sehingga mengetahui perbedaan antara yang benar dan yang salah. </li></ul>2. Bersifat tradisional konvensional (al-’ulum al-naqliyah al-wadl’iyyah) dimana manusia memperolehnya dari orang yang menciptakan, yang semuanya bersandar kepada informasi berdasarkan otoritas syari’at yang diberikan. Dasar dari semua ilmu ini adalah materi sah dari al-Quran dan Sunnah. Macamnya banyak…
  4. 4. Macam Ilmu Tradisional <ul><li>Hukum-hukum Allah Swt berasal dari al-Quran dan Sunnah, baik dari teks (nash) atau melalui konsensus umum (ijma’) atau melaui analogi (qiyas). Maka harus diadakan pengkajian terhadap al-Quran dengan menerangkan lafaz-lafaznya. Inilah ILMU TAFSIR. </li></ul><ul><li>Kemudian dengan menyandarkan naql dan riwayah -nya kepada Nabi Muhammad Saw yang telah membawa Kitab itu dari sisi Allah Swt, serta menerangkan perbedaan riwayat2 para pembaca didalam membaca al-Quran. Inilah ILMU QIRAAT. </li></ul><ul><li>3. Kemudian, dengan menyandarkan Sunnah kepada Nabi Saw dan membicarakan perawi-perawi yang menukilkannya, mengetahui ihwal serta keadilan mereka untuk menemukan kebenaran objektif mengenai informasi2 mereka. Inilah ILMU-ILMU HADIS. </li></ul><ul><li>4. Lalu, dari prinsip2 dasarnya harus ditarik kesimpulan hukum2 melalui aspek hukum legal yang berguna untuk sampai kepada kesimpulan (istimbath). Inilah USHUL FIQH. </li></ul><ul><li>5. Setelah itu, dicapailah pengetahuan hukum2 Allah Swt pada perbuatan mukallaf. Itulah FIQH. </li></ul>
  5. 5. Macam Ilmu Tradisional <ul><li>6. Lalu, beban2 tanggung jawab (takālīf) ada yang bersifat badani dan qalbi. Taklīf yang bersifat qalbi berkenaan dengan keimanan, aqidah mengenai esensi (Zat) dan sifat2, persoalan hari kiamat, masalah surga, siksa dan masalah taqdir. Memberikan pembuktian terhdap persoalan2 ini berdasar dalil2 logis, itulah ILMU KALAM. </li></ul><ul><li>7. Sebelum memulai pengkajian thd. al-Quran dan Hadis, seseorang harus lebih dulu membekali diri dengan ilmu bahasa, sebab keberhasilan dan kebenaran pengkajian amat bergantung kepada ilmu2 tsb. Ilmu bahasa bermacam2, diantaranya ILMU AL-LUGHAH, AL-NAHW, dan ILMU AL-ADAB (sastra).  </li></ul><ul><li>Dalam istilah kontemporer, pembagian ilmu menurut Islam ada dua bagian: </li></ul><ul><li>Prennial knowledge, atau ilmu abadi, yaitu ilmu yang langsung berasal dari wahyu Ilahi-Rabbi yang diperjelas oleh sunnah Nabi Muhammad Saw yang sekarang dapat dikaji dari al-Quran dan kitab-kitab hadis yang shahih. </li></ul><ul><li>Acquired knowledge atau ilmu pengetahuan perolehan, yaitu ilmu yang diperoleh dengan akal manusia melalui penelitian dan penalaran yang dilakukan para ahli yang memenuhi syarat. </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Klasifikasi keilmuan dalam Islam menurut al-Ghazali dalam al-Risalah al-Laduniyyah-nya: fardh ’ain dan fardh kifayah </li></ul><ul><li>al-Khawarizmi dalam Mafatih al-'Ulum-nya: maqalah satu, al-fiqh, al-kalam, al-nahw, al-kitabah, al-syi’r wa’l-’arudl, al-akhbar; dan maqalah dua, al-falsafah, al-mantiq, al-tibb, al-aritmatiqi, al-handasah, ’ilm al-nujum, al-musiqi, al-hail, al-kimiya </li></ul><ul><li>Ibn Nadim dalam al-Fihrist berisi indeks ilmu yang ada pada abad keemasan. </li></ul><ul><li>Konferensi Internasional tentang pendidikan Islam di Pakistan, Makkah dan Jakarta menyepakati mengelompokkan ilmu dalam Islam menjadi dua kategori , yaitu ilmu yang diwahyukan (revealed knowledge) dan ilmu yang diperoleh atau dikembangkan oleh nalar manusia (acquired knowledge). </li></ul><ul><li>Muhammad ‘Abed al-Jabiri , pemikir muslim kontemporer asal Maroko membuat klasifikasi ilmu dalam Islam secara epistemologis, yaitu epistemologi bayani, 'irfani, dan burhani. Pemikiran al-Jabiri tersebut dituangkan dalam karyanya Takwin / Bunyah al-'Aql al-'Arabi. </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Model Berpikir Kajian Islam </li></ul><ul><li>EPISTEMOLOGI BAYANI. Pendekatan dengan cara menganalisis teks dan bersumber pada teks. Secara umum teks disini dapat dibedakan menjadi dua yakni; </li></ul><ul><li>Teks nash (al qur’an dan sunnah nabi SAW) </li></ul><ul><li>Teks non-nash berupa karya para ulama </li></ul><ul><li>Objek kajian yang umum dengan pendekatan bayani adalah: Gramatika dan sastra  (nahwu dan balagah), Hukum dan teori hukum (fiqh dan ushul fiqih), Teologi, Masalah yang ada dalam al qur’an dan hadits. </li></ul><ul><li>  </li></ul><ul><li>EPISTEMOLOGI BURHANI adalah bahwa untuk mengukur benar atau tidaknya sesuatu berdasarkan komponen kemampuan alamiah manusia. Perpaduan dari epistemologi bayani dan burhani muncul nalar abduktif yakni mencoba memadukan model berpikir deduktif dan induktif. </li></ul><ul><li>c) EPISTEMOLOGI ‘IRFANI adalah pendekatan yang bersumber pada intuisi (kasyaf/ilham), dari ‘irfani muncul illuminasi (illuminatif). </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Burhān jamaknya barāhin, artinya bukti, argumen. Sumbernya: Realitas (al-wāqi') baik dari alam, sosial, dan humanities. Karena itu, lebih sering disebut sebagai al-'ilm al-husûlī , yakni ilmu yang dikonsep, disusun, disistematisasikan lewat premis2 logika atau al-manthiq , bukannya lewat otoritas teks atau intuisi. Premis ini disusun lewat kerjasama antara proses abstraksi dan pengamatan inderawi yang sahih atau dengan menggunakan alat-alat yang dapat membantu dan menambah kekuatan indera seperti alat-alat laboratorium, proses penelitian lapangan dan penelitian literer mendalam. Peran akal dalam nalar epistemologi sangat besar sebab ia diarahkan untuk mencari sebab akibat. </li></ul>Pendekatan nalar ini adalah filosofis dan saintifik . Nalar ini lebih menekankan pada pemberian argumen dalam mencermati berbagai fenomena empirik sekaligus memberikan alternatif pemecahan. Fenomena sosial dan alam tidak sekedar diterima sebagai hukum sunnatullah yang tiada makna, namun ia menuntut kreatifitas manusia untuk merenungkan tentang tujuan ia diciptakan dan apa manfaat yang dapat diambil oleh manusia . Kelompok ilmuwan pendukung Burhāni adalah Falasifah (fakkar), Ilmuwan (Alam, Sosial, Humanitas).
  9. 9. <ul><li>JENIS ARGUMEN dalam nalar burhani adalah demonstratif, baik secara eksploratif, verifikatif, dan eksplanatif. Dalam nalar ini, lebih banyak dituntut untuk menunjukkan bukti dan penjelasan tentang suatu pemahaman atau fenomena. Nalar ini dipenuhi dengan argumen yang bersifat pembuktian, deskripsi dan elaborasi tentang sesuatu. </li></ul><ul><li>PRINSIP DASAR: </li></ul><ul><li>idrāk al-sabab (nidhām al-sababiyyah al-thābit), </li></ul><ul><li>prinsip kausalitas ; </li></ul><ul><li>al-hatmiyah (kepastian, certainty); </li></ul><ul><li>al-muthābaqah bayna al-'aql wa al-nidhām al-tabi'ah . </li></ul>Prinsip-prinsip tersebut berpandangan bahwa apa yang terjadi dalam realitas empirik dan fenomena alam pada dasarnya berlaku hukum sebab akibat. Untuk memahaminya diperlukan upaya untuk mencari akar penyebab dengan mengkaji penyebab dan akibat sekaligus, sebab akibat yang sama belum tentu penyebabnya sama. Sebaliknya, sebab yang sama belum tentu menyebabkan akibat yang sama. DISIPLIN ILMU: falsafah, ilmu-ilmu alam seperti fisika, matematika, biologi, dan kedokteran, ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, psikologi, dan sejarah. IMPLIKASI BERPIKIR: sistematis, obyektif, kritis, proaktif, logis. 
  10. 10. <ul><li>BAYĀNI (explanatory), secara etimologis, mempunyai pengertian penjelasan, pernyataan, ketetapan. Secara terminologis, Bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ijma`, dan ijtihad. DISIPLIN ILMU: • Filologi, </li></ul><ul><li>• Ilmu hukum (fikih), </li></ul><ul><li>• ‘ Ulum al-Qur'an (interpretasi, hermeneutika, dan eksegesis), • Teologi dialektis (kalam) dan • Teori sastra non-filosofis. </li></ul><ul><li>SUMBER epistemologi bayāni : Nash/Teks/Wahyu  otoritas teks </li></ul><ul><li>Al-Khabar, ijma’  otoritas salaf </li></ul><ul><li>Al-’ilm al-Tauqīfy </li></ul><ul><li>Corak berpikir lebih mengandalkan pada otoritas teks, tidak hanya teks wahyu namun juga hasil pemikiran keagamaan yg ditulis oleh para ulama terdahulu. </li></ul><ul><li>Pendekatan / Approach epistemology Bayāni = Lughawiyah (Bahasa)  Dalālah Lughawiyyah. </li></ul><ul><li>Tolok ukur validitas keilmuan Bayāni = Keserupaan / kedekatan antara teks atau Nash dengan Realitas. </li></ul><ul><li>PRINSIP BAYANI </li></ul><ul><li>infishāl (diskontinu) atau atomistik, </li></ul><ul><li>tajwīz (keserba-bolehan / tidak ada hukum kausalitas), </li></ul><ul><li>muqārabah (keserupaan atau kedekatan dengan teks). </li></ul><ul><li>Analogi Deduktif; Qiyas </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Corak berpikir bayāni cenderung mengeluarkan makna yang ber tolak dari lafadz, baik yg bersifat 'ām, khāsh, musytarak, haqīqat, majāz, muhkam, mufassar, zāhir, khafi, musykil, mujmal, mutasyābih. Metode pengembangan corak berpikir ini adalah dengan cara ijtihadiyah dan qiyas . Yang termasuk proses berpikir ijtihādiyah adalah istinbāthiyah, istintājiyah, dan istidlāliyah, sementara yang dimaksud qiyās adalah qiyās al-ghayb 'ala al-Syāhid. </li></ul><ul><li>Kerangka & Proses Berpikir: </li></ul><ul><li>al-Ashlu – al-Far’u. </li></ul><ul><li>Istinbāthiyyah (pola pikir deduktif yang berpangkal pada teks). </li></ul><ul><li>Qiyās al-’illah (Fiqih). </li></ul><ul><li>Qiyās al-Dalālah (Kalam)  al-Lafadh – al-ma’na. </li></ul>Fungsi Akal model Bayani: • Akal berfungsi sebagai pengekang/pengatur hawa nafsu • Akal cenderung menjalankan fungsi justifikatif, repetitif, taqlidy. • Otoritas ada pada teks, sehingga hasil pemikiran apa pun tidak boleh bertentangan dengan teks. Karena itu, dalam penalaran ini jenis argumen yang dibuat lebih bersifat dialektik (jadaliyah) dan al-'uqul al-mutanasifah, sehingga cenderung defensif, apologetik, polemik, dan dogmatik. Kelompok Pendukung Bayani = Kalam (Teologi), Fiqih (Jurisprudensi), Nahwu (Grammar), Balaghah.
  12. 12. <ul><li>SUMBER IRFANI : </li></ul><ul><li>Experience </li></ul><ul><li>Al-Ru’yah al-Mubāsyirah </li></ul><ul><li>Direct Experience = ‘ilm al-Hudhuri </li></ul><ul><li>Preverbal; Prelogical Knowledge </li></ul><ul><li>METODE (PROSES DAN PROSEDUR) IRFANI </li></ul><ul><li>Al-Dzauqiyah (al-Tajribah al-Bathiniyyah) </li></ul><ul><li>Al-Riyadhah </li></ul><ul><li>Al-Mujahadah </li></ul><ul><li>Al-Kasyfiyyah </li></ul><ul><li>Al-Isyraqiyyah </li></ul><ul><li>Al-Laduniyyah </li></ul><ul><li>Penghayatan bathin  Tasawuf </li></ul><ul><li>Approach (pendekatan) Irfani = Psiko-Gnosis; intuitif; Dzauq (Qalb); La ‘aqlaniyyah. </li></ul><ul><li>Kerangka teori ‘Irfani = antara Dzahir dan Bathin, Tanzil dan Takwil, Nibuwah dan Walayah. </li></ul><ul><li>Fungsi dan Peran akal dalam Irfani = </li></ul><ul><li>Partisipatif. </li></ul><ul><li>Al-Hads wa al-wijdan </li></ul><ul><li>Bila washithah; bila hijaab </li></ul><ul><li>Types of Argument Irfani = </li></ul><ul><li>‘ atifiyyah – wijdaniyyah </li></ul><ul><li>Spirituality (esoteric). </li></ul><ul><li>Kelompok ilmuwan Pendukung Irfani = Al-Mutashawwifah (Tasawuf), Ashhab al-Irfan / Ma’rifah (esoterik), Hermes. </li></ul>
  13. 13. Teori Pengetahuan (epistemologi) bayani menekankan kajian dari teks (nash) ijma' dengan ijtihad sebagai referensi dasarnya dalam rangka menjustifikasi aqidah tertentu; Sedangkan irfani dibangun di atas semangat intuisi (kashshf) yang banyak menekankan aspek kewalian (al-wilayah) yang inheren dengan ajaran monisme atau kesatuan dengan Tuhan, dan Epistemologi burhani menekankan visinya pada potensi bawaan manusia secara naluriyah, inderawi, eksperimentasi, dan konseptualisasi (al-hiss, al tajribah wa muhakamah 'aqliyah).
  14. 14. Perbandingan Bayani-Irfani-Burhani
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×