• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
4. mujmal, mubayyan, musykil, mutasyabih
 

4. mujmal, mubayyan, musykil, mutasyabih

on

  • 5,458 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,458
Views on SlideShare
4,956
Embed Views
502

Actions

Likes
0
Downloads
138
Comments
0

2 Embeds 502

http://marhamahsaleh.wordpress.com 501
https://www.google.com.eg 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    4. mujmal, mubayyan, musykil, mutasyabih 4. mujmal, mubayyan, musykil, mutasyabih Presentation Transcript

    • Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA M UJMAL, M UBAYYAN, M USYKIL, M UTASYABIH
      • تعريف المجمل : المجمل لغة : المبهم والمجموع . واصطلاحاً : ما يتوقف فهم المراد منه على غيره، إما في تعيينه أو بيان صفته أو مقداره .
      • M ujmal secara bahasa mubham (yang tidak diketahui) dan yang terkumpul. Secara istilah, "Apa yang dimaksud darinya ditawaqqufkan terhadap yang selainnya, baik dalam ta'yinnya (penentuannya) atau penjelasan sifatnya atau ukurannya.“
      • مثال ما يحتاج إلى غيره في تعيينه : قوله تعالى : وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ ( البقرة : من الآية 228). فإن القرء لفظ مشترك بين الحيض والطهر، فيحتاج في تعيين أحدهما إلى دليل .
      • ومثال ما يحتاج إلى غيره في بيان صفته : قوله تعالى : وَأَقِيمُوا الصَّلاة ( البقرة : الآية 43) ، فإن كيفية إقامة الصلاة مجهولة تحتاج إلى بيان .
      • ومثال ما يحتاج إلى غيره في بيان مقداره : قوله تعالى : وَآتُوا الزَّكَاةَ ( البقرة : الآية 43) ، فإن مقدار الزكاة الواجبة مجهول يحتاج إلى بيان .
      الـمُجْمَلُ والـمبَيَّن
      • تعريف المبيَّن : المبيَّن لغة : المظهر والموضح . واصطلاحاً : ما يفهم المراد منه، إما بأصل الوضع أو بعد التبيين .
      • Mubayyan secara bahasa: yang ditampakkan & yg dijelaskan. Secara istilah: "Apa yang dapat di p ahami maksudnya, baik dengan asal peletakannya atau setelah adanya penjelasan.“
      • مثال ما يفهم المراد منه بأصل الوضع : لفظ سماء، أرض، جبل، عدل، ظلم، صدق، فهذه الكلمات ونحوها مفهومة بأصل الوضع، ولا تحتاج إلى غيرها في بيان معناها .
      • ومثال ما يفهم المراد منه بعد التبيين قوله تعالى : وَأَقِيمُوا الصَّلاة وَآتُوا الزَّكَاةَ ( البقرة : الآية 43) ، فإن الإقامة والإيتاء كل منهما مجمل، ولكن الشارع بيَّنهما، فصار لفظهما بيِّناً بعد التبيين .
      الـمبَيَّن
      • العمل بالمجمل :
      • يجب على المكلف عقد العزم على العمل بالمجمل متى حصل بيانه .
      • والنبي صلّى الله عليه وسلّم قد بيَّن لأمته جميع شريعته أصولها وفروعها، حتى ترك الأمة على شريعة بيضاء نقية ليلها كنهارها، ولم يترك البيان عند الحاجة إليه أبداً .
      • وبيانه صلّى الله عليه وسلّم إما بالقول، أو بالفعل، أو بالقول والفعل جميعاً .
      • مثال بيانه بالقول : إخباره عن أنصبة الزكاة ومقاديرها كما في قوله صلّى الله عليه وسلّم : " فيما سقت السماء العشر“؛ بياناً لمجمل قوله تعالى : ) وَآتُوا الزَّكَاةَ )( البقرة :  الآية 43).
      • ومثال بيانه بالفعل : قيامه بأفعال المناسك أمام الأمة بياناً لمجمل قوله تعالى : ) وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْت )( آل عمران :  الآية 97)
      • وكذلك صلاته الكسوف على صفتها، هي في الواقع بيان لمجمل قوله صلّى الله عليه وسلّم : " فإذا رأيتم منها شيئاً فصلوا“ .
      • ومثال بيانه بالقول والفعل : بيانه كيفية الصلاة، فإنه كان بالقول كما في حديث المسيء في صلاته حيث قال صلّى الله عليه وسلّم : " إذا قمت إلى الصلاة، فأسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر ..." ، الحديث .
      • وكان بالفعل أيضاً، كما في حديث سهل بن سعد الساعدي رضي الله عنه أن النبي صلّى الله عليه وسلّم قام على المنبر فكبر، وكبر الناس وراءه وهو على المنبر ... ، الحديث، وفيه : ثم أقبل على الناس وقال : " إنما فعلت هذا؛ لتأتموا بي، ولتعلموا صلاتي“ .
      • MUJMAL berarti menghimpun (al-jam’u) , juga berarti al-muhashal = kesimpulan. Secara istilah (terminologi), mujmal berarti sesuatu yang menunjukkan terhadap beberapa makna (lebih dari satu makna) yang tidak ada kelebihan (keutamaan) bagi salah satu dari makna-makna itu terhadap (makna) yang lainnya, dan untuk mengamalkan salah satunya membutuhkan penjelasan terlebih dahulu. MUBAYYAN : lafaz mujmal yang disertai dengan penjelasan tentangnya, baik bersambung ataupun terpisah. Penjelasan tersebut ada pada dalil itu sendiri atau pada dalil lain yang terpisah dari dalil yang didalamnya terdapat lafaz mujmal.
      • Suatu lafazh yang tidak mempunyai kemungkinan makna lain disebut mubayyan atau nash . Bila ada dua makna atau lebih tanpa diketahui yang lebih kuat disebut mujmal . Namun bila ada makna yang lebih tegas dari makna yang ada disebut zhahir . Dengan demikian yang disebut mujmal adalah lafazh yang cocok untuk berbagai makna, tetapi tidak ditentukan makna yang tidak dikehendaki, baik melalui bahasa maupun menurut kebiasaan pemakaiannya .
      • Sifat mujmal itu dapat terjadi pada kosa kata (mufradat), seperti lafazh quru’ bisa berarti suci dan haid, dapat juga terjadi pada kata majemuk (munkkab) seperti mukhathab yang terdapat pada surat Al-baqarah: 237, yang bisa berarti suami atau wali. Terdapat juga pada kata kerja seperti lafazh asas yang bisa berarti menghadap dan membelakangi, pada huruf seperti pada waw ‘athaf bisa berarti memulai dan menyambungkan (dan).
      • Lafazh mujmal adalah lafazh yang global, masih membutuhkan penjelasan (bayan) atau penafsiran (tafsir). Untuk memberikan penjelasan atau penafsiran terhadap lafazh yang mujmal maka tidak ada jalan lain kecuali harus kembali kepada S y ār i ’, karena memang Dia - lah yang menjadikannya sebagai lafaz yg mujmal.
      • Mubayyan : lafazh yang sudah dijelaskan dari keglobalannya. Klasifikasi Mubayyan berdasarkan sumber yg menjelaskannya:
      • 1. Mubayyan Muttashil , adalah mujmal yang disertai penjelasan yang terdapat dalam satu nash. Misal , dalam QS A l -Nisa’: 176, lafazh “kalalah” adalah mujmal yang kemudian dijelaskan dalam satu nash; “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka …dst. Kalalah adalah orang yang meninggal dunia yang tidak mempunyai anak. Makna inilah yang diambil oleh Umar bin Khtattab, bahwa : “Kalalah = orang yang tidak mempunyai anak.”
      Mujmal dan Mubayyan
      • 2. Mubayyan Munfashil , adalah bentuk mujmal yang disertai penjelasan yang tidak terdapat dalam satu nash. Dengan kata lain, penjelasan tersebut terpisah dari dalil mujmal. B isa berupa : a. Dari ayat Al-Qur’an yang lain, misalnya dalam QS Ali Imran: 7 وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَ ٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا
      • Kalimat “Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya” adalah mujmal karena ambigutias huruf waw, yaitu kata “dan”. Bisa berkonotasi kata penghubung (‘athaf) atau Kata depan permulaan kalimat baru (isti’naf). Jika kata “dan” dianggap sebagai kata penghubung, maka konotasi kalimat tersebut adalah “hanya Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya yang mengetahui takwilnya”. Namun, jika kata “ dan ” dianggap sebagai permulaan kalimat baru, maka konotasinya adalah “hanya Allah yang mengetahui takwilnya” sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya –yang notabene tidak tahu takwilnya- berkata, “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih”. . H al ini memerlukan penjelasan. Maka p enjelasannya tidak terdapat dalam satu nash, diantaranya QS An-Nahl: 89 “Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.”
      • Ayat ini menunjukkan Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelasan segala sesuatu kepada manusia, termasuk ayat-ayat yang mutasyabih. Jadi berdasarkan petunjuk (qarinah) dari ayat ini huruf “dan” pada QS Ali-Imran: 7 adalah sebagai kata penghubung sehingga konotasinya adalah “yang mengetahui ta’wil ayat-ayat mutasyabih hanyalah Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.”. Demikian pendapat kelompok yang berpendapat demikian. b. Dari Sunnah (hadits), contohnya pada QS Al-Anfal 60 : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi … “ وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ Kata “kekuatan” pada ayat diatas masih mujmal, yang penjelasannya ada datang dari sunnah, yaitu hadits riwayat Muslim dari Uqbah bin Amir: “Saya mendengar Rasulullah bersabda, -sementara itu beliau masih berada diatas mimbar- ‘Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah. Ingatlah, sesungguhnya kekuatan itu adalah panah.’
    •  
    • TINGKATAN LAFAZH DARI SEGI KEJELASANNYA. Ada dua kelompok pendapat tentang tingkat dilalah Lafazh dari segi kejelasan, Golongan Hanafiyah dan Golongan Mutakalimin.
    • MUSYKIL & MUTASYABIH MUSYKIL menurut bahasa ialah sulit , atau sesuatu yang tidak jelas perbedaannya , sedangkan menurut istilah, ” suatu lafazh yang tidak jelas artinya dan untuk mengetahuinya diperlukan dalil dan qarinah”. (As-Sarakhsi, I, 1372 H : 168). ” yang dimaksud musykil adalah suatu lafazh yang tidak jelas maksudnya karena ada unsur kerumitan, sehingga untuk mengetahui maksudnya diperlukan adanya qarinah yang dapat menjelasan kerumitan itu,dengan jalan pembahasan yang mendalam.” (Muhammad Adib Salih,1982,I:254). Musykil lebih tinggi kadar kemubhamannya daripada khafi. Sebagai contoh kata an-na pada surat Al Baqarah : 223 yang berarti: kaifa, aina, dan mata . Mana yang lebih cocok dari ketiga makna tersebut. Para ulama ada yang mengambil pengertian kaifa, seperti Ibnu Abbas dan Ikrimah dll. Mereka mengartikan ayat itu adalah boleh menggauli istri bagaimana maunya, kecuali pada dubur dan diwaktu haid . Ada yang mengartikan, selagi ia menghendakinya . Hukum musykil adalah wajib membahas dan memikirkan tentang makna yang dimaksud dari lafadz yang samar kemudian mengamalkan dengan penjelasan yang dimaksud dengan indikasi dan adillahnya.
    • MUTASYABIH . menurut bahasa adalah sesuatu yang mempunyai kemiripan dan atau simpang siur . Atau lafazh yang tidak ditunjukkan oleh lafazhnya itu sendiri kepada maksudnya itu dan tidak terdapat qarinah luar yang menerangkannya. Menurut istilah, berdasarkan pendapat sebagian ulama adalah ”suatu lafazh yang maknanya tidak jelas dan juga tidak ada penjelasan dari syara, baik Al-Quran maupun Sunah, sehingga tidak bisa diketahui oleh semua orang, kecuali orang- orang yang mendalam ilmu pengetahuannya ” (Asy-Syarakhsi, I, 1372 H.: 169). Lafa z jenis ini adalah lafa z yang paling tinggi kadar ketidakjelasan maknanya. Lawannya adalah muhkam dari segi kejelasan maknanya. Berdasarkan pembacaan yang teliti lafa z mutasyabih dengan makna sebagaimana disebutkan tidak ditemukan dalam teks-teks syariah, baik Alquran maupun hadits, yang berkaitan dengan hukum-hukum praksis. Menurut Ibnu Hazm tidak ada ayat-ayat mutasyabih kecuali dalam duat tempat, yaitu pada huruf-huruf yang terputus-putus ( huruuf muqaththa’ah ) yang terdapat pada awal-awal surat, dan pada sumpah Allah. Menurut ulama lain, teks-teks syariah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang mengandung penyerupaan dengan makhluk, seperti tangan Allah, mata Allah, tempat turun dan lain sebagainya termasuk ayat-ayat mutasyabih .
    • HUKUM LAFAZ MUTASYABIH Menurut ulama' salaf  lafal-lafal mutasyabih harus diserahkan kepada Allah maknanya yang tepat dengan tetap mengimani makna lahir lafal tersebut serta tidak boleh melakukan pembahasan untuk mencari-cari ta’wil nya (menentukan makna suatu lafal dengan makna lain, bukan dengan makna lahiriyah lafal). Sedangkan menurut ulama’ khalaf , lafal-lafal mutasyabih harus dicari ta’wil nya yang sesuai dengan keagungan Allah. Sebab tidak mungkin memaknai kata yadullah dengan tangan Allah karena itu mengandung arti serupanya Allah dengan makhlukNya. Padahal hal tersebut mustahil terjadi pada Allah swt. Pada dasarnya kedua golongan tersebut sepakat akan wajibnya menyucikan Allah dari penyerupaan dengan makhluk-makhlukNya. Maka pendapat ulama salaf lebih selamat dan lebih utama sedangkan pendapat ulama khalaf hanya memuaskan akal.