02 hidayat r perencaan keg maintenance_layout final-new

819 views
691 views

Published on

Published in: Technology, Business
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
819
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
22
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

02 hidayat r perencaan keg maintenance_layout final-new

  1. 1. MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 PERENCANAAN KEGIATAN MAINTENANCE DENGAN METODE REABILITY CENTERED MAINTENANCE II Rachmad Hidayat*), Nachnul Ansori, dan Ali Imron Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Trunojoyo, PO BOX 2, Madura 16912, Indonesia *) E-mail: dr.rachmad.mt@gmail.com AbstrakPenelitian ini membahas perencanaan kegiatan maintenance dengan metode reability centered maintenance (RCM) IIuntuk menilai risiko kerusakan fungsi pada compresor screw. Perhitungan waktu maintenance optimal dilakukandengan memperhatikan biaya maintenance dan biaya perbaikan. Hasil penilaian risiko dengan risk priority number(RPN) menunjukkan bahwa komponen kritis yang perlu mendapatkan prioritas utama dalam memberikan maintenancepada compresor screw adalah kerusakan fungsi pada piston yang aus, dan pada spon filter udara keluar rusak yangmendapatkan RPN 45. Penentuan waktu maintenance optimal diberikan pada komponen yang mengalami scheduledrestoration dan scheduled discard task agar tindakan tersebut menjadi technically feasible untuk menurunkankonsekuensi kerusakan. Nilai waktu maintenance optimal yang diperoleh untuk mencegah kerusakan pada compresorscrew lebih kecil dari nilai mean time to failure (MTTF) yang menunjukkan bahwa waktu maintenance optimal akanberusaha untuk menghindari terjadinya kerusakan fungsi komponen sebelum kerusakan terjadi. AbstractMaintenance Activity Planning by Reability Centered Maintenance II Method. This research discussesmaintenance activity planning using the RCM II method to evaluate failure function risk on compresor screw. Thecalculation of maintenance time is performed by considering maintenance and repair costs. The risk evaluation resultwith RPN shows that the critical component that needs to get the main priority in applying maintenance on compresorscrew is function disorder on timeworn piston and on the broken outgoing air sponge’s filter that receives RPN 45. Theoptimum maintenance time calculation is applied on components that undergo scheduled restoration and scheduleddiscard task so that this action becomes technically feasible in decreasing the consequence of damage. The optimummaintenance time value that is acquired to prevent damage on compresor screw is lower than the value of its MTTF,which demonstrates that optimum maintenance time will be significant in avoiding component function damage beforethe damage happens.Keywords: Compresor screw, maintenance activity schedule plan, optimum time maintenance interval, RCM II, risk assessment1. Pendahuluan atau untuk alasan keselamatan (safety). Kegiatan maintenance pada dasarnya terbagi menjadi duaKegiatan perawatan (maintenance) ditujukan untuk kategori, yaitu preventive maintenance dan correctivemeyakinkan bahwa aset fisik yang dimiliki dapat terus maintenance. Pemilihan kegiatan maintenance tersebutberlanjut memenuhi apa yang diinginkan oleh pengguna didasari atas sifat dari kerusakan pada peralatan, apakahterhadap fungsi yang dijalankan oleh aset tersebut [1]. bersifat terprediksi atau tidak terprediksi. Selain itu,Maintenance merupakan salah satu cara efektif untuk pemilihan tersebut juga didasari atas biaya yang harusmeningkatkan keandalan suatu sistem [2]. Kegiatan dikeluarkan untuk kegiatan maintenance tersebut.tersebut dapat bersifat terencana (planned) dan tidak Maintenance seringkali dihubungkan sebagai akar dariterencana (unplanned). Hanya ada satu bentuk kegiatan suatu keandalan (reliability). Hal ini dikarenakanmaintenance yang tidak terencana, yakni emergency seringkali masalah keandalan datangnya dari bagianmaintenance, dimana tindakan maintenance tersebut maintenance. Oleh karena itu, perlu adanya strategidibutuhkan sesegera mungkin untuk mencegah maintenance yang baik untuk meningkatkan reliabilitykerusakan yang lebih parah seperti loss of production dari suatu sistem produksi [3].   7
  2. 2. 8 MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 Mesin juga akan mengalami penurunan tingkat mengenai konsekuensi kerusakan terhadap keselamatankeandalan (reliability) apabila digunakan secara terus- dan lingkungan dalam penentuan kebijakan kegiatanmenerus. Keandalan merupakan peluang suatu unit atau maintenance melalui decision diagram [1]. Tujuansistem berfungsi normal jika digunakan menurut kondisi penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi kerusakanoperasi tertentu untuk periode waktu tertentu [4]. dan menilai risiko kerusakan pada compresor screwMeskipun demikian, tingkat keandalan dapat dijaga dan ingersoll rand P375 WD, (2) menentukan jadwalmasa pakai mesin dapat diperpanjang dengan kegiatan maintenance yang tepat untuk mengantisipasimelakukan penjadwalan perawatan mesin dengan baik terjadinya kerusakan (failure) dengan memperhatikandan teratur [5]. Pemeliharaan merupakan aktivitas konsekuensi yang ditimbulkan oleh kerusakanmenjaga sistem peralatan dan mesin selalu tetap compresor screw ingersoll rand P375 WD, (3)konsisten dalam proses produksi. Secara umum, menentukan waktu maintenance dari kegiatanmasalah pemeliharaan sering terabaikan sehingga maintenance yang diberikan pada compresor screwkegiatan pemeliharaan tidak teratur, yang pada akhirnya ingersoll rand P375 WD.dapat mempengaruhi kapasitas produksi. Dengandemikian, kegiatan pemeliharaan harus dilakukan secara 2. Metode Penelitiantepat dan konsisten [6]. Pengolahan data dilakukan dengan membuat functionalReability centered maintenance (RCM) adalah teknik block diagram (FBD). Langkah pendeskripsian sebuahyang lebih maju untuk menentukan aktivitas preventive sistem diperlukan untuk mengetahui komponen-maintenance, menjamin aset beroperasi dengan desain komponen yang terdapat dalam sistem dan bagaimanaasli dan menjalankan fungsinya sesuai keinginan komponen tersebut bekerja sesuai fungsinya. Datapemakai. Failure mode and effects analysis (FMEA) fungsi peralatan dan cara beroperasinya dipakai untukadalah kunci RCM yang menerapkan proses pada membuat definisi dan dasar untuk menentukan kegiatanmasing-masing aset ditinjau dari fungsi dan maintenance pencegahan [1]. FMEA merupakan salahperformance yang diinginkan [7]. RCM merupakan cara satu metode sistematis yang digunakan untukuntuk mengembangkan strategi perawatan dan desain menganalisis kerusakan. FMEA pertama kalialternatif, berdasarkan pada operasional, ekonomi dan dikembangkan oleh para reliability engineers pada akhirkeselamatan serta ramah lingkungan [8]. tahun 1950-an untuk menentukan masalah yang muncul pada malfungsi sistem peralatan militer ketika itu [2].Pendapat lain menyatakan RCM adalah metode yang Teknik FMEA digunakan sebagai bagian integral darimenawarkan strategi terbaik bagi perawatan pelaksanaan analisis RCM. Ide utama RCM adalahpencegahan. Cara-cara RCM yang mendasar diuraikan untuk mencegah kerusakan dengan mengeliminasi ataudalam: (1) preserve function (pemeliharaan fungsi), mengurangi penyebab kerusakan. Analisis FMEA(2) identifity failure modes that can defeat the function, memfokuskan pada penyebab kerusakan dan(3) priotize function need, (4) select only applicable and mekanisme terjadinya kerusakan [1]. Ketika penyebabeffective preventive maintenance (PM) tasks [9]. Setelah dan mekanisme kerusakan telah diidentifikasi untukmaintenance task dirumuskan dalam step logic tree setiap failure mode, selanjutnya dapat diberikan sarananalysis and maintenance task selections, langkah untuk waktu pelaksanaan preventive maintenance, atauselanjutnya adalah merangkum tasks tersebut agar perencanaan tindakan monitoring untuk menurunkanmudah dipahami dan lebih terstruktur. Tasks failure rate. Setelah rating ditentukan selanjutnya tiapdikelompokkan berdasarkan jenisnya (on condition task, pokok persoalan dikalkulasi dengan mengalikanrestoration task). Perbandingan antara task hasil RCM severity, occurrence, dan detection [11] (Pers. 1):dengan task exiting PM dilakukan untuk memutuskanapakah task yang ada pada exiting PM perlu RPN = Severity x Occurrence x Detection (1)dimodifikasi, karena tujuan yang akan dicapai dalamRCM adalah bagaimana mendapatkan maintenance task Nilai RPN yang dihasilkan menunjukkan tingkatyang efektif. Modifikasi dapat berupa pengurangan atau prioritas perbaikan untuk area/komponen yang terdapatpenambahan task [10]. dalam sistem. FMEA menghasilkan nilai RPN, sedangkan RCM II decision worksheet untukPenelitian ini mengkaji kegiatan maintenance pada menentukan kebijakan kegiatan maintenance yangcompresor screw ingersoll rand P375 WD dengan sesuai dengan penggunaan RCM II decision diagram.mengimplementasikan metode RCM II. RCM II Uji distribusi dilakukan terhadap waktu antar kerusakanmerupakan metode kualitatif yang digunakan untuk (TTF) dan waktu lama perbaikan (TTR) yang ada padamenentukan jenis kegiatan maintenance yang tepat maintenance record komponen mesin produksi denganuntuk menjaga aset fisik perusahaan agar dapat bantuan software Weibull version 6.0. Kemudianberfungsi sebagaimana mestinya, sesuai dengan standar ditentukan waktu maintenance optimal ditinjau dari segiperformansi yang telah ditetapkan. Selain itu RCM II minimasi biaya. Selanjutnya dilakukan perhitunganjuga telah memasukkan pertimbangan-pertimbangan MTTF dan MTTR, perhitungan biaya maintenance
  3. 3. MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 9 ∞(CM) dan biaya perbaikan (CR) serta perhitungan waktu ∫t Γ (γ) = Fungsi gamma = γ −1 −t (12)maintenance optimal (TM). e dt 0Model laju kerusakan konstan untuk sistem beroperasisecara kontinyu mengarah pada distribusi eksponensial. Distribusi ini digunakan untuk menggambarkanRumusan yang digunakan pada distribusi eksponensial 1 distribusi kerusakan untuk kondisi yang bervariasi. Timeparameter adalah: to failure (t) dari suatu komponen disana diasumsikan memiliki distribusi Lognormal bila y = ln (t), mengikutiFungsi kepadatan : f (t) = λe-λt, 0 ≤ t < ∞ (2) distribusi normal dengan rata-rata µ dan variansinya -λ t adalah s. Fungsi padat peluang (pdf) dari distribusiFungsi keandalan : R(t) = e (3) Lognormal:Fungsi kumulatif : F(t) = 1 – R(t) (4) 1 ⎧ 1 2⎫ f (t ) = exp ⎨− 2 [ln t − µ ] ⎬ (13) f (t ) t.s 2π ⎩ 2s ⎭Fungsi kerusakan : λ(t) = (5) R(t ) Fungsi keandalan distribusi lognormal: MTTF = 1/ λ (6) ⎡ 1 ⎛ t ⎞⎤ R (t ) = 1 − φ ⎢ ln⎜ ⎟⎥ (14)dengan ⎜ ⎟ ⎣ s ⎝ µ ⎠⎦λ = Failure rate (konstan)MTTF = waktu rata-rata antar kerusakan (jam) Laju kerusakannya:Selain distribusi eksponensial yang sering dipakai dalam f (t ) λ (t ) = (15)mengevaluasi keandalan sistem, distribusi Weibull juga R (t )banyak dipakai karena distribusi ini memiliki bentukparameter sehingga distribusi mampu untuk MTTF distribusi Lognormal:memodelkan berbagai data. Jika time to failure dari MTTF = exp ( µ + (0.5 x s 2 )) (16)suatu komponen adalah T mengikuti distribusi Weibulldengan tiga parameter β, η, dan γ maka fungsi padatdistribusi dapat diekspresikan: Distribusi normal digunakan untuk menggambarkan β β −1 ⎛ t −γ ⎞ pengaruh pertambahan waktu ketika dapat β ⎛t −γ ⎞ −⎜ ⎜ η ⎟ ⎟ (7) menspesifikasikan waktu antar kerusakan denganf (t ) = ⎜ ⎟ e ⎝ ⎠ η⎜ η ⎟ ⎝ ⎠ ketidakpastian [13]. Distribusi ini juga digunakan untuk menggambarkan ketergantungan terhadap waktu.Jika nilai γ = 0, maka akan diperoleh distribusi Weibull Distribusi normal mempunyai rumus:dengan dua parameter. Beberapa karakteristik dari Fungsi kepadatan:distribusi Weibull adalah: untuk 0 < β < 1, laju ⎡ 1 ⎛ t −µ ⎞2 ⎤kerusakan (failure rate) akan berkurang seiring 1 ⎢− ⎜ ⎟ ⎥ σ ⎠ ⎥ , - ∞ <t< ∞ ⎢ 2⎝bertambahnya waktu. Untuk β = 1, maka failure rate- F(t) = e⎣ ⎦ (17)nya adalah konstan. Untuk β > 1, laju kerusakan (failure σ 2πrate) akan bertambah seiring bertambahnya waktu. Fungsi kumulatif:Sedangkan fungsi reliability-nya adalah [12]: t ⎡ 1 ⎛ t −µ ⎞2 ⎤ ⎢− ⎜ ⎟ ⎥ 1 ⎢ 2⎝ σ ⎠ ⎥ ⎛ t −γ ⎞ −⎜ ⎜ η ⎟ ⎟ β F(t) σ 2π = ∫ e ⎣ ⎦ dt (18)R(t ) = e ⎝ ⎠ (8) −∞ MTTF = µSehingga untuk mean time to failure diperoleh: ∞ Dengan mengasumsikan bahwa scheduled preventiveMTTF = ∫ R(t )dt (9) maintenance akan memulihkan sistem seperti kondisi 0 baru. Untuk menentukan total biaya operasi β menggunakan rumus sebagai berikut: ∞ ⎛ t− y ⎞ (t − R(t ) ) Cf −⎜ ⎜ η ⎟ ⎟ = ∫e ⎝ ⎠ tR (t ) t dt (10) Tc = Cp + ∞ 0 T (19) = γ + ηΓ(1/β + 1) (11) ∫ R(t )dt 0 ∫ R(t )dt 0denganγ = gamma = location parameter Untuk menentukan waktu penggantian yang dapatη = eta = scale parameter meminimalkan total biaya operasi tersebut dapatβ = beta = shape parameter digunakan metode kalkulus standar [14]. UntukMTTF = waktu rata-rata antar kerusakan (jam) distribusi Weibull 3 parameter diperoleh:
  4. 4. 10 MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14  1 isap, langkah kompresi, langkah buang. KeempatT ≈ γ + η ⎡ 1 x CM ⎤ (20) β ⎢ β − 1 CR − CM ⎥ langkah ini harus bekerja sama untuk dapat ⎣ ⎦ menghasilkan udara yang bertekanan sehingga bisaUntuk distribusi Weibull 2 parameter diperoleh: digunakan untuk proses painting, blasting pada badan 1 kapal. Terjadinya kerusakan pada salah satu bagianT ≈ η ⎡ 1 x CM ⎤ β ⎢ β − 1 CR − CM ⎥ (21) komponen utama dapat mengganggu kinerja pada ⎣ ⎦ compresor screw saat beroperasi. FMEA atau pada RCM II information worksheet dapat mengetahui3. Hasil dan Pembahasan beberapa bentuk kerusakan (failure modes) yang mengakibatkan kerusakan pada komponen compresorFunctional block diagram (FBD) digunakan untuk screw dalam memenuhi fungsinya (functional failure).menggambarkan beberapa fungsi komponen dalam satu Berdasarkan dampak (effect) yang ditimbulkan, makakesatuan blok yang saling berhubungan antara fungsi dapat diketahui bahwa terdapat beberapa dampak yangkomponen satu dengan komponen lain hingga secara keseluruhan mengganggu proses operasi/kinerjamembentuk satu kesatuan fungsi sistem kerja. Input dan compresor screw. Pertama adalah kerusakan yangoutput pada masing-masing variabel/komponen dapat ditimbulkan oleh komponen compresor screw. Yangdikoneksikan dengan blok-blok yang lain dengan mengakibatkan shut down pada compresor screw sepertimenggunakan garis penghubung. low pressure pada piston, valve bocor dan liner aus. Kondisi ini mengakibatkan proses produksi painting danHubungan antar fungsi komponen yang membentuk blasting tidak dapat dilakukan atau terhambat yangsuatu sistem kerja dalam kasus ini adalah sistem kerja mengakibatkan kehilangan fungsi pada beberapapada compresor screw. Hubungan tersebut komponen compresor screw. Kedua, kerusakan padamenggambarkan perpindahan dari material, energi serta komponen compresor screw yang tidak sampaicontrol signals dengan melewati elemen-elemen yang mengakibatkan proses produksi pada berhenti (shutberbeda pada sebuah sistem kerja.  Gambar 1 diagram down) namun mengakibatkan turunnya gangguanblok komponen compresor screw menunjukkan sistem operasi pada compresor screw dalam melakukan proseskerja pada compresor screw terdiri dari beberapa bagian painting dan blasting sehingga output yang dihasilkannyautama, yakni langkah gerak pada crankshaft, langkah akan mengalami penurunan. Jenis kerusakan yang Air Inlet Udara masuk Filter Udara Air Valve Inlet Valve Penyaring udara Klep udara Pegas klep terhadap debu/ masuk/isap udara isap kotoran Main Bearing Piston Pin Con Rod Bearing Unloader Valve Cylinder Block Cylinder Head Bantalan crankshaft Pengunci antara Menerima beban Tempat Rumah silinder penyetelan (Tempat lewat Tutup silinder agarar tetap pada connecting rod dari piston supaya dan rumah klep posisi sumbu dengan piston tidak makan As tekanan udara) Piston & Ring Liner Crankshaft Connecting Rod Piston Sebagai tempat Penggerak Penghubung Pengisap & gerak piston connecting rod crankshaft terhadap penekanan piston sebagai lengan udara Valve pendorongMinyak Pelumas Menahan kompresi Outket Valve Outklet Valve Filter Udara Keluar Katub buang Pegas katub buang Penyaring udara (klep) terhadap kandungan air Air Outlet Udara yang bertekanan Gambar 1. Functional Block Diagram (FBD) Compresor Screw
  5. 5. MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 11 terjadi misalnya kekuatan main bearing sebagai Penilaian RPN yang telah dihasilkan pada masing- bantalan crankshaft tidak maksimal, con rod bearing masing bentuk kerusakan (failure mode) dari komponen abrasive dan filter udara masuk buntu. Kerusakan ini compresor screw serta mengacu pada Gambar 2, maka mengakibatkan proses produksi painting dan blasting dapat diketahui bahwa potential failure modes & cause tidak akan maksimal sehingga compresor screw yang memiliki prioritas risiko tertinggi dengan nilai mengalami penurunan performansi. Ketiga, kerusakan RPN 45 adalah kerusakan pada piston disebabkan aus pada komponen/equipment compresor screw yang tidak (umur pemakaian pada material tersebut), dan spon berpengaruh terhadap proses produksi painting dan filter yang kaku atau rusak sehingga berpotensi blasting, akan tetapi berpengaruh terhadap keselamatan/ menyebabkan terjadinya ledakan, yang pada akhirnya safety saat compresor screw beroperasi sehingga dapat berpengaruh terhadap keselamatan kerja operator dan mengakibatkan dampak terhadap keselamatan operator. operasional. Prioritas yang kedua dari kerusakan Kerusakan pada komponen compresor screw yang dapat komponen compresor screw adalah kompresi bocor mengakibatkan hal tersebut adalah gangguan pada pada piston, filter udara masuk buntu karena banyak kinerja filter udara keluar karena rusak dalam debu, con rod bearing tidak maksimal untuk menerima menyuplai udara yang bertekanan tinggi sehingga tekanan/beban dari piston disebabkan abrasive (terkikis terjadi sebuah ledakan. oleh debu/pengaruh lingkungan kerja), valve mengalami low pressure. Kondisi ini menyebabkan valve RPN merupakan penilaian risiko yang diberikan setelah mengalami kebocoran dan konsumsi oli pada liner dilakukan identifikasi kerusakan pada komponen terlalu banyak sehingga menyebabkan udara bercampur compresor screw dengan menggunakan metode FMEA. dengan oli. Masing-masing equipment mendapatkan Nilai RPN yang diperoleh menunjukkan tingkat RPN 30. Prioritas yang ketiga adalah liner sebagai kepentingan terhadap perhatian atau prioritas risiko tempat gerak piston aus sehingga berbentuk oval dengan yang diberikan untuk komponen-komponen yang ada di RPN 24. Prioritas keempat adalah filter udara masuk dalam sistem compresor screw. Nilai RPN yang telah berkarat dan permukaan bearing aus sehingga diperoleh akan dipresentasikan ke dalam histogram, kinerjanya tidak maksimal dengan RPN 20. Prioritas untuk membantu memberikan visualisasi/gambaran kelima adalah body filter udara keluar berkarat sehingga tingkat risiko adanya potensi kerusakan (potential menyebabkan masa pakai turun, dengan RPN 15. failure modes) pada compresor screw (Gambar 2). RCM II decission worksheet digunakan untuk menentukan dampak atau konsekuensi yang akan timbul 100% jika kerusakan terjadi, dan tindakan proactive 300.00 maintenance untuk mencegah atau meminimalisir dampak yang timbul ketika kerusakan terjadi. Untuk menentukan concequence dan proactive task pada setiap 80% komponen dengan failure mode yang berbeda, maka digunakan decission diagram yang merupakan diagram 200.00 dalam RCM II untuk menentukan concequence dan proactive task yang akan diberikan. Evaluasi terhadap Percent 60%RPN consequence dan proactive task yang diberikan terhadap peralatan compresor screw yang akan digunakan. 40% failure mode dari compresor screw adalah filter udara 100.00 keluar yang gagal berfungsi, sehingga akan memberikan Need most attention dampak terhadap keselamatan (safety) dan operasional. 20% Spon filter yang kaku atau rusak, akan menyebabkan terjadi ledakan dan udara akan bercampur dengan air 45.00 45.00 sehingga tidak bisa digunakan untuk proses painting 0.00 30.00 30.00 30.00 30.00 30.00 24.00 20.00 20.00 15.00 0% dan blasting pada badan kapal. Kolom consequence 2 7 9 3 11 8 1 10 4 5 6 evaluation decission worksheet untuk kerusakan pada Case Number spon filter udara keluar adalah Y (yes) untuk H (hidden Keterangan: 1. Kompresi bocor, 2. Piston aus, 3. Filter udara function) dan S (safety). Body filter yang berkarat akan masuk kotor, 4. Filter udara masuk berkarat, 5. Main bearing menyebabkan umur pakai compresor screw menurun aus, 6. Body filter udara keluar berkarat, 7. Spon filter udara sehingga berdampak terhadap operasional compresor keluar rusak, 8. Con rod bearing abrasive, 9. Valve bocor, 10. screw. Kolom consequence evaluation decission Liner aus, 11. Konsumsi oli terlalu banyak worksheet untuk body filter yang berkarat adalah Y Gambar 2. Pareto Diagram pada Failure Mode Compresor (yes) untuk O (operational) H (hidden fuction). Screw
  6. 6. 12 MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 Oleh karena kerusakan pada spon filter udara keluar maintenance yang diberikan pada setiap kerusakanberdampak pada hidden fuction, keselamatan dan fungsi komponen compresor screw dapat dilihat padaoperasional, maka kegiatan maintenance yang dilakukan Tabel 1.adalah dengan cara melakukan perpaduan antara duakegiatan maintenance (combination task), yaitu inspeksi Dalam penyusunan task-task tersebut, dilakukansecara rutin (scheduled on condition task) dan penggantian brainstorming dengan petugas dan manajer engineering.komponen (scheduled discard task). Oleh karena itu, Task yang telah disusun secara keseluruhan dapatpada kolom S4 yang merupakan kolom default action dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu (1) Scheduleddiisikan Y (yes) yang berarti tindakan maintenance yang discard task, kegiatan maintenance ini diambil jikadiberikan adalah combination task, dan pada body filter komponen yang mengalami kerusakan tidak dapatudara keluar yang berkarat, kegiatan maintenance diperbaiki lagi, atau biaya perbaikan sama atau melebihiadalah pemulihan komponen (scheduled restoration biaya penggantian sehingga diputuskan untuktask,), sesuai dengan waktu maintenance optimal. Jenis melakukan penggantian (discard) komponen. Misalnyamaintenance ini dirasa sangat tepat dengan harapan kerusakan pada piston, (2) Scheduled restoration task,tindakan tersebut dapat secara signifikan menurunkan kegiatan maintenance dilakukan jika komponen yangkonsekuensi kerusakan yang ditimbulkan. Decission mengalami kerusakan fungsi masih memungkinkan Tabel 1. Propased Task pada Compresor Screw Ingersoll Rand P375 WDNo Equipment Function Functional Failure Failure Mode Proposed Task1 Piston Sebagai pengisap Low pressure Kompresi bocor Scheduled restoration task: tindakan & penekan udara preventif dilakukan dengan mengencangkan top ring yang mengalami kelonggaran dan pemberian pelumas (oli/grease) Terdengar suara ketokan Kerusakan pada Scheduled discard task: tindakan preventif pada saat operasi piston (aus) dilakukan penggantian piston sesuai dengan waktu maintenance optimalnya2 Filter Udara Sebagai penyaring Tidak bisa menyaring Terlalu banyak Scheduled restoration task: tindakan Masuk udara dari kotoran udara dengan optimal/ kotoran (berdebu) preventif dilakukan dengan membersihkan buntu kotoran/debu Filter berkarat Scheduled discard task: tindakan preventif dilakukan penggantian filter sesuai dengan waktu maintenance optimalnya.3 Main Bearing Sebagai bantalan Kekuatan untuk menahan Permukaan Metal/ Scheduled discard task: tindakan preventif crankshaft beban (bantalan) tidak bearing aus dilakukan penggantian main bearing sesuai maksimal dengan waktu maintenance optimalnya4 Filter Udara Menjaga udara Tidak bisa menyaring Body filter berkarat Scheduled restoration task: tindakan Keluar keluar agar tidak kandungan air preventif dilakukan dengan membersihkan lembab karat dan pemberian grease pada body Spon filter kaku/ Combination of task rusak Scheduled on condition task: dengan teknik primary effect monitoring, yaitu dengan pemeriksaan secara manual pada kondisi Spon filter secara periodik setiap beberapa hari oleh operator Scheduled discard task: tindakan preventif dilakukan penggantian filter sesuai dengan waktu maintenance optimalnya5 Con Rod Bearing Menerima beban/ Beban/tekanan yang Terkikis karena Scheduled discard task: tindakan preventif tekanan dari piston dihasilkan tidak dapat debu ikut masuk/ dilakukan penggantian con rod bearing bekerja secara maksimal pengaruh lingkung- sesuai dengan waktu maintenance an kerja (Abrasif) optimalnya6 Valve Menahan kompresi Low pressure Valve bocor (worn) Scheduled discard task: tindakan preventif dilakukan penggantian Valve sesuai dengan waktu maintenance optimalnya7 Liner Sebagai tempat Piston bergetar sehingga Liner aus sehingga Scheduled discard task: tindakan preventif gerak piston putus berbentuk oval dilakukan penggantian liner sesuai dengan waktu maintenance optimalnya Gerak piston trouble Konsumsi oli Scheduled restoration task: tindakan dalam proses mengisap terlalu banyak/ preventif dilakukan dengan membersihkan & menekan udara encer oli pada liner dan ganti oli
  7. 7. MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 13dilakukan perbaikan untuk mengembalikan fungsinya Tabel 2. Rekap Hasil Perhitungan TM dan Nilai MTTFseperti semula. Misalnya filter udara masuk terlalu Equipment Jenis Kerusakan TM MTTFbanyak kotoran sehingga dilakukan pembersihan pada (hour) (hour)kotoran-kotoran filter, (3) Combination of task, tindakan Piston Kompresi bocor 1567,600 3857,320ini merupakan langkah antisipasi dalam menghadapi Kerusakan pada 1505,700 3006,786kerusakan yang memiliki dampak terhadap keselamatan piston (aus)(safety) atau lingkungan (environment). Hal ini Filter Terlalu banyak 1567,589 4428,233dilakukan karena scheduled discard task, scheduled Udara kotoran (berdebu)restoration task dan scheduled on condition task tidak Masuk Filter berkarat 2692,815 3587,320dapat ditemukan untuk dapat mengurangi risiko Main Permukaan metal/ 695,889 2232,144kerusakan pada level yang dapat diterima. Sehingga Bearing bearing ausdengan pemberian tindakan kombinasi (combination Filter Body filter berkarat 2370,917 8916,778task), scheduled on condition task dan scheduled Udara Spon filter kaku/ 1066,105 4009,789discard task diharapkan dapat mencegah kerusakan Keluar rusakkomponen yang memiliki dampak terhadap keselamatan Con Rod Terkikis karena 1659,349 4876,271operator. Misalnya tindakan maintenance yang Bearing debu ikut masukdiberikan pada komponen filter udara keluar dengan (abrasif)failure mode berupa spon filter rusak sehingga bisa Valve Valve bocor 571,754 4180,248 Liner Liner aus sehingga 4215,004 4463,072menyebabkan terjadi ledakan dan udara bercampur berbentuk ovaldengan air. Konsumsi oli 1612,640 3657,409 terlalu banyakPerhitungan kuantitatif yang telah dilakukan akanmembantu proses analisis dalam RCM II. RCMmerupakan langkah untuk mengambil keputusan dalammemberikan maintenance terhadap bentuk kerusakan dapat diketahui bahwa besarnya nilai TM lebih rendahyang terjadi sehingga metode RCM ini lebih cenderung dari nilai MTTF-nya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2menggunakan analisis kualitatif. Perhitungan kuantitatif mengenai rekap hasil perhitungan TM dengan nilaiperlu dilakukan untuk mengetahui waktu maintenance MTTF-nya yang menunjukkan bahwa waktu maintenanceoptimal (TM). Waktu maintenance optimal, maka optimal (TM) bertujuan untuk menghindari dandiharapkan komponen tersebut mampu mempertahankan mencegah terjadinya kerusakan (failure) padakehandalannya dalam memenuhi fungsi yang komponen sebelum kerusakan tersebut terjadi. Dengandimilikinya. Dimana perhitungan kuantitatif dimulai menentukan waktu maintenance optimal (TM), makadengan melakukan uji distribusi terhadap waktu perbaikan pada komponen menjadi lebih efektif dankerusakan dan selang lamanya perbaikan komponen efisien sehingga dapat meminimalisir biaya yangsehingga diperoleh parameter distribusi dengan dikeluarkan untuk kegiatan maintenance.menggunakan software Weibull version 6. Parameterdistribusi yang telah diperoleh akan digunakan dalam 4. Simpulanpenentuan MTTF dan MTTR. Hasil perhitungan MTTFmenunjukkan bahwa semakin besar nilai MTTF dari Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditariksuatu komponen maka hal ini menunjukkan bahwa beberapa simpulan yaitu terdapat 11 bentuk kerusakanperalatan tersebut memiliki rentang waktu kerusakan (failure modes). Dampak yang ditimbulkan dapat dibagiyang lama. Sebaliknya jika nilai MTTF pada suatu menjadi 3 kriteria diantaranya: kerusakan yangkomponen kecil, maka hal ini berarti komponen tersebut berdampak hingga proses produksi terhenti (shut down),semakin rentan untuk mengalami kerusakan. Hasil dari kerusakan yang berdampak pada menurunnya kuantitasperhitungan MTTF menunjukkan bahwa komponen maupun kualitas produk serta kerusakan yangyang memiliki nilai waktu antar kerusakan tertinggi berpengaruh terhadap keamanan operasi compresoradalah filter udara keluar yaitu 8916,778 jam, screw. Hasil penilaian risiko dengan RPN menunjukkansedangkan komponen yang nilai MTTF-nya paling bahwa komponen kritis yang perlu mendapatkanrendah adalah main bearing yaitu 2232,144 jam. prioritas utama atau memiliki tingkat kepentingan tinggi untuk diperhatikan (need most attention) adalahPenentuan TM dilakukan dengan mempertimbangkan kerusakan fungsi (functional failure) pada piston yangbiaya yang dikeluarkan untuk maintenance (CM), biaya aus, dan pada spon filter udara keluar yang rusakuntuk perbaikan (CR), serta nilai dari waktu antar dengan nilai RPN masing-masing adalah 45. Kompresiperbaikan (MTTR). Oleh karena itu besarnya biaya bocor pada piston, filter udara masuk kotor, con rodyang dikeluarkan untuk maintenance dan perbaikan bearing abrasive, velve bocor, dan konsumsi oli terlaluharus ditentukan terlebih dahulu sebelum menghitung banyak pada liner dengan nilai masing-masing RPN 30.nilai waktu maintenance optimal (TM). Berdasarkan Liner aus dengan RPN 24. Filter udara masuk berkarat,perhitungan waktu maintenance optimal (TM), maka main bearing aus mendapatkan RPN 20, dan yang
  8. 8. 14 MAKARA, TEKNOLOGI, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 7-14 terakhir pada body filter udara keluar yang berkarat [3] R.T. Anderson, L. Neri, Reliability Centereddengan RPN 15. Maintenance: Management and Engineering Methods, Elsevier Science Publishers Ltd., NewKebijakan maintenance yang diberikan untuk York, 1990, p.122.menghadapi kerusakan fungsi (functional failures) pada [4] B.S. Dhillon, Engineering Maintenance: A Modernkomponen compresor screw adalah: (a) Scheduled Approach, CRC Pres LLC, N.W. Corporate Blvd.,discard task, komponen pada compresor screw yang Boca Raton, Florida, 2007, p.153.perlu task/jenis maintenance ini diantaranya adalah [5] B.T. Cahyono, Manajemen Produksi, IPWI,piston yang aus, filter udara masuk berkarat, main Jakarta, 2005, p. 115.bearing, con rod bearing, valve, liner; (b) Scheduled [6] M.P. Tampubolon, Manajemen Operasional,restoration tas, low pressure pada piston, filter udara Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004, p.98.masuk kotor, body filter udara keluar berkarat, dan [7] D. Berger, Advanced Failure Analysiskonsumsi oli terlalu banyak pada liner; (c) Combination Methodologies and Techniques,of task, tindakan kombinasi maintenance ini diberikan http://www.plantservices.com/articles/2007/073.htpada komponen yang tidak dapat ditemukan dengan ml?page=print, 2007.salah satu task untuk menurunkan risiko dari kerusakan [8] Anon., Reliability Centered Maintenance, Detyang dimiliki. Combination of task diberikan pada Norske Veritas (DNV) Managing Risk,komponen compresor screw adalah spon filter udara www.dnv.com, 2006.keluar yang rusak. [9] A.M. Smith, G.R. Hoinchcliffe, Reliability Centered Maintenance, McGraw-Hill Inc., NewWaktu maintenance optimal dengan mempertimbangkan York, USA, 2004, p.223.biaya maintenance dan biaya perbaikan, maka dapat [10] Jamasri, C.A. Pinto, Prosiding Seminar Nasionaldiketahui nilai waktu maintenance optimal yang Industrial Service, Teknik Industri, Universitasdiperoleh untuk mencegah kerusakan pada compresor Sultan Ageng Tirtayasa, 2009, p.III-151.screw. Komponen yang memiliki nilai waktu [11] B.S. Blanchard, D. Verma, E.L. Peterson,maintenance optimal tertinggi adalah filter udara keluar Maintainability, John Wiley & Sons Inc., Newdengan jenis kerusakan body filter berkarat yaitu York, 1994, p.127.2370,917 jam, sedangkan komponen dengan nilai waktu [12] C.E. Ebeling, An Intruduction to Reliability andmaintenance optimal paling rendah adalah main bearing Maintainability Engineering, The McGraw-Hillyaitu 695,889 jam. Companies, Inc., New York, 1997, p.23. [13] A. Stagliano, A. Rath, Strong’s Six SigmaDaftar Acuan Advanced Tools Pocked Guide, ANDI, Yogyakarta, 2005, p.29.[1] J. Moubray, Introduction Reliability Centered [14] Haryono, Perencanaan Suku Cadang berdasarkan Maintenance, International Edition, Industrial Analisis Reliabilitas, Laporan Penelitian, Jurusan Press Inc., New York, 2001, p.135. Statistika, FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh[2] I. Setyana, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Industri, November, Indonesia, 2004. FTI, Institut Teknologi Sepuluh November, Indonesia, 2007.

×