Your SlideShare is downloading. ×
0
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Bab 4
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab 4

274

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
274
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
13
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB 4 ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN
  • 2. Dalam BAB ini akan kita bahas tentang pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan yang disebut Aliran Pendidikan, yaitu : A. Aliran pendidikan, yang terbagi kedalam 2 bagian • Aliran Klasik • Aliran Modern B. Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap Pelaksanaan di Indonesia C. Lembaga-lembaga pendidikan yang berjiwa nasional di Indonsia sebelum kemerdekaan.
  • 3. A. Aliran Pendidikan 1. Aliran Klasik Ada beberapa pendapat berbeda tentang aliran klasik, oleh sebab itu aliran klasik pun terbagi atas empat aliran yaitu :  Aliran Empirisme  Aliran Nativisme  Aliran Naturalisme  Aliran Konvergensi
  • 4.  Aliran Empirisme
  • 5. Menurut konsepsi empirisme ini pendidikan adalah maha kuasa dalam membentuk anak didik menjadi apa yang diinginkannya. Pendidikan dapat berbuat sekehendak hatinya, seperti ahli patung yang memahat patung dari kayu, batu atau bahan lainnya menurut sesuka hatinya. Contoh : Anak kembar yang dipisahkan oleh orang tuanya sejk kecil pada lingkungan keluarga yang berbeda. Oleh karena itu aliran ini dinamakan aliran “optimis” dalam pendidikan.
  • 6.  Aliran Nativisme Nativisme berasal dari bahasa Latin, asal katanya “natives” berarti terlahir. Aliran ini dipelopori oleh Sckophenhauer seorang filosof kebangsaan Jermanyang hidup dalam tahun 1788-1880. Dia berpendapat “Pendidikan ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan pembawaannya. Seseorang akan berkembang berdasarkan apa yang dibawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baikdan ada yang buruk, oleh karena itu manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun pembawaan yang buruk yang dibawanya dari lahir.
  • 7. Bagi nativisme lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan, dan pendidikan tidak bepengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang.
  • 8.  Aliran Naturalisme
  • 9.  Aliran Konvergensi Konvergensi berasal dari bahasa inggris asal katanya “convergency” artinya pertemuan pada satu titik. Aliran ini dipelopori oleh William Stern seorang ahli pendidikan bangsa Jerman dalam tahun 1871- 1937. Aliran ini mempertemukan atau mengawinkan dua aliran yang berlainan antara nativisme dan empirisme. Dengan kata lain pembawaan dan lingkungan mempengaruhi perkembangan seseorang.
  • 10. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan digambarkan sebagau berikut :  Pembawaan  Hasil pendidikan  Lingkungan
  • 11. Jadi menurut teori kKonvergensi : a. Pendidikan mungkin dilaksanakan b. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan pada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang buruk c. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
  • 12. Pengaruh Aliran Klasik terhadap pemikiran dan Praktek Pendidikan di Indonesia Aliran pendidikan klasik mulai dikenal melalui upaya pendidikan, utamanya persekolahan dari penguasa penjajah Belanda dan disusul oleh orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda pada masa penjajah. Raka Joni (1983 : 29) Sulo Lipu La Sulo, 1984 Hubungan pendidik dan peserta didik seyogyanya adalah hubungan yang setara antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembang dari yang lain.
  • 13. Hubungan kesetaraan dalam interaksi edukatif tersebut seyogyanya diarahkan menjadi suatu hubungan yang transaksional, suatu hubungan antar pribadi yang memberi peluang baik peserta didik yang belajar, maupun pendidikan yang ikut yang belajar ( colearner ). Cita-cita pendidikan seumur hidup diwujudkan melalui belajar seumur hidup. Hubungan tersebut sesuai dengan azas Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani, serta pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam UU-RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, peran peserta didik dalam pengembangan bakat, minat dan kemampuannya itu telah diakui dan dilindungi.
  • 14. B. Gerakan baru Pendidikan dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan di Indonesia. Beberapa dari gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar-belajar pada sistem persekolahan, seperti : pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek dan sebagainya ( Suparlan, 1984 dan Soejono, 1959).
  • 15. 1. Pengajaran Alam Sekitar
  • 16. d. Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kokoh dan tidak verbalitas. Yang dimaksud dengan apersepsi intelektual ialah segala sesuatu yang baru dan masuk dalam intelek anak, harus dapat luluh menjadi satu dengan kekayaan pengetahuan yang sudah dimiliki anak. e. Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak. Sedangkan
  • 17. Sedangkan J. Linghthart mengemukakan pegangan dalam het Volleleven (kehidupan senyatanya). Sebagai berikut :  Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya, tidak kebalikannya, sebab kata itu hanya suatu tanda dari pengertian tentang barang itu.  Pengajaran sesungguhnya itu harus mendasaru pengajaran selanjutnya, atau mata pelajaran yang lain harus dipusatkan atas itu.  Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya kesemua jurusan agar murid paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya (pengajaran alam sekitar).
  • 18. Langkah-langkah Pokok Pengajaran Alam Sekitar a. Menetapkan tujuan, yang harus diperhatikan ialah kemampuan dan tingkat perkembangan anak. b. Persiapan perlu dilakukan, baik persiapan guru maupun murid. c. Jika langkah persiapan telah ditangani dengan baik, pelaksanaan pengamatan biasanya dapat berjalan dengan lancar. d. Langkah pengolahan tidak harus dilakukan diluar proses kegiatan pengamatan itu sendiri.
  • 19. Perkembangan Pengajaran Alam Sekitar Salah seorang tokoh alam sekitar ialah J.Linghthart (1859-1916) seoarang ahli pendidikan bangsa Belanda. Pengajaran alam sekitar ini dinamakan “pengajaran barang sesungguhnya”. J. Linghthart menekankan bahwa didalam pelaksanaan pengajaran yang amat penting ialah suasananya, yaitu ketulus- ikhlasan, kasih sayang, persaudaraan dan kepercayaan.
  • 20. 2. Pengajaran Pusat Perhatian Pengajran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly (1871-1932) dari Belgia. Dengan pengajaran melalui pusat minat (Cetres d’interest). Pendidikan menurut Decorly berdasarkan pada semboyan : Ecole pour la vie, par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup). Oleh karena itu anak harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri (tentang hasrat dan cita-cita) dan pengetahuan tentang dunianya (lingkungnnya, tempat hidup dihari depannya). Menurut Decroly dunia ini terdiri dari alam dan kebudayaan.
  • 21. Dari penelitian secara tekun, Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yang merupakan dua hal yang khas dari Decroly : a. Metode Global (keseluruhan). Dari hasil yang di dapat dari observasi dan tes, dapatlah ia menetapkan bahwa anak-anak mengamati dan mengingat secara global (keseluruhan). Jadi ini berdasar atas prinsip psikologi Gestal. Metode ini bersifat ideo visual sebab arti suatu kata yang di ajarkan itu selalu diasosiasikan dengan tanda (tulisan),atau gambar yang dapat dilihat.
  • 22. Sedangkan minat terhadap masyarakat (biososial) ialah : a. Dorongan sibuk bermain-main b. Dorongan meniru orang Dorongan-dorongan inilah yang digunakan sebagai pusat minat. Sedangkan pendidikan dan pengajaran harus selalu dihubungkan dengan pusat-pusat minat tersebut.
  • 23. Azas-azas pusat perhatian Azas-azas tertentu yang tampaknya lebih menonjol dalam kaitannya dengan pengajaran pusat perhatian, yaitu : a. Pengajaran ini didasarkan atas kebutuhan anak dalam hidup dan perkembangannya. b. Setiap bahan pengajaran harus merupakan suatu keseluruhan (totalitas) tidak mementingkan bagian tetapi mementingkan keberartian dari keseluruhan katan bagian itu.
  • 24. Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J.A Comenius (1592-1670) menekankan agar pendidikan mengembangkan : pikiran, ingatan, bahasa dan tangan (keterampilan kerja tangan). J.H Pestalozzi (1746-1827) mengajarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukangan di sekolahnya. Namun yang sering di pandng sebagai Bapak sekolah kerja adalah G. Kereschensteiner (1854-1932) dengan Arbeitesschule (sekolah kerja ) di Jerman.
  • 25. 3. Sekolah Kerja
  • 26. Tujuan Sekolah Kerja Menurut G. Kereschensteriner, tujuan Sekolah Kerja adalah : a. Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang didapat dari buku atau orang lain, dan yang dapat dari pengalaman sendiri. b. Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu. c. Agar anak dapat memiliki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam mengabdi pada negara.
  • 27. Kereschensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama sekolah adalah mempersiapkan anak-anak untuk dapat bekerja. Karena banyaknya macam pekerjaan yang menjadi pusat pelajaran, maka dibagi menjadi tiga golongan besar. a. Sekolah-sekolah perindustrian (tukang cukur, tukang cetak, tukang kayu, tukang daging, masinis, dll). b. Sekolah Perdagangan (makanan, pakaian, bank, asuransi, dll) c. Sekolah rumah tangga, bertujuan mendidik para calon ibu yang diharapkan akan menghasilkan warga negara yang baik.
  • 28. Pengikut G.Kereschensteiner antara lain : Leo de Paeue, seorang Dirjen pengajaran normal di Belgia, yang mendirikan sekolah kerja di negaranya. Ia membuka lima sekolah kerja yaitu : 1. Sekolah teknik kerajinan 2. Sekolah dagang 3. Sekolah pertanian bagi anak laki-laki 4. Sekolah rumah tangga kota 5. Sekolah rumah tangga desa.
  • 29. Peranan sekolah kejuruan pada tingkat menengah merupakan tulang punggung penyiapan tenaga terampil yang diperlukan oleh negara-negara yang sedang membangun seperti Indonesia. Dalam rangka wajib belajar 9 tahun di Indonesia, akan dikembangkan pula paket program yang memberi peluang lulusannya untuk memasuki lapangan kerja, dengan tidak mengabaikan pendidikan umum yang akan melanjutkan ke SLTA. Pengaruh terbesar gagasan ini adalah pada jalur pendidikan luar sekolah (seperti kursus, balai latihan kerja dan sebagainya).
  • 30. Dasar-dasar Sekolah Kerja a. Di dalam sekolah kerja anak aktif berbuat, mengamati sendiri, mencari jalan sendiri, memikirkan dan memecahkan sendiri setiap persoalan yang dihadapi. b. Pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran ialah anak, bukan guru, metode ataupun bahan pelajaran. c. Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri sendiri dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang baik.
  • 31. Macam-macam seklah kerja a. Sekolah kerja sosiologis di gerakan oleh G.Kereschensteiner (1854-1932), bangsa Jerman. Tokoh ini lebih cenderung pada aliran pendidikan sosial ektsrim yang berpendapat bahwa masyarakatlah yang primer. Tugas pendidikan adalah memimpin anakmenjadi warga negara yang baik. Penekanan khusus ini menyebabkan sekolah Kereschensteiner ini diberi sifat sebagai pendidikan kewarganegaraan.
  • 32. b. Sekolah kerja yang didasarkan atas konsepsi O.Deckroly dinamakan sekolah kerja psikologis karena menekankan perkembangan anak didik. Bahan pelajaran ditentukan berdasarkan pusat perhatian anak. c. John Dewey mengikuti aliran pendidikan sosial modern yang menekankan secara seimbang peranan individu dan masyarakat. Sekolah kerja yang didasarkan atas konsepsinya itu disebut sekolah kerja sosiologis-psikologis. d. Sekolah kerja yang dipelopori oleh H.Gaudig (1890-1923), bangsa Jerman, lebih menekankan pengembangan kepribadian anak. Sekolh Gaudig dinamakan sekolah kerja kepribadian.
  • 33. 4. Pengajaran Proyek
  • 34. Langkah-langkah pengajaran proyek a. Persiapan. Langkah ini ialah penetapan masalah yang akan di bahas. b. Kegiatan belajar. Kegiatan belajar ini pada dasarnya merupakan usaha mencari jawaban atas pertanyaan atau hipotesis yang telah dikemukakan terdahulu. c. Penilaian. Bentuk penilaian yang sering dilakukan ialah dengan mengadakan pameran.
  • 35. Pengaruh gerakan baru dalam pendidikan terhadap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun dasar pemikirannya tentulah menjangkau semua segi dari pendidikan, baik aspek konseptual maupun operasional.
  • 36. C. Lembaga pendidikan yang berjiwa Nasional sebelum kemerdekaan Beberapa lembaga pendidikan yang berjiwa Nasional sebelum kemerdekaan di antaranya :  Perguruan Taman Siswa  Perguruan Muhammadiyah  Ruang INS Kayu Tanam  Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang
  • 37. 1. Perguruan Taman Siswa Perguruan Taman Siswa didirikan pada tanggal 3 Juli tahun 1922 oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei tahun 1889 dengan nama kecil Suwardi Suryaningrat. Perguruan ini berbentuk yayasan. Berdirinya sekolah ini karena sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda tidaklah diperuntukkan bagi kepentingan dan kemajuan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan politik kolonial Belanda meskipun Mr. C. Th. Van Den Venter mengatakan bahwa Belanda ingin menebus dosa kepada Rakyat Indonesia (Majelis Luhur Taman Siswa, 1976).
  • 38. a. Azas Taman Siswa 1. Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. 2. Pendidikan yang diberikan hendaklah dapat menjadikan manusia yang merdeka batinnya, fikirannya dan merdeka tenaganya dan bermanfaat untuk kepentingan bersama. 3. Pendidikan didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia yang selaras dengan kodrat kita.
  • 39. 4. Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali 5. Untuk dapat mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai dengan kemampuan sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain. 6. Karena kita bersandar pada kekuatan sendiri maka haruslah kita memikul semua beban belanja dengan uang sendiri. 7. Pendidik hendaknya mendidik anak dengan dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas tidak meminta sesuatu hak tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak.
  • 40. b. Dasar Taman Siswa (1947) Pada tahun 1947 azas Taman Siswa disesuaikan dengan kondisi bangsa yang telah merdeka, sehingga kata-kata “azas” di ganti dengan kata “dasar”. Dasar ini disebut dengan “Panca Darma” yang terdiri dari : 1. Kebudayaan 2. Kemerdekaan 3. Kodrat Alam 4. Kemanusiaan 5. Kebangsaan
  • 41. c. Tujuan Perguruan Taman Siswa Tujuan Pendidikan Taman Siswa adalah menciptakan manusia merdeka lahir dan batin (Majlis Luhur Taman Siswa, 1976) yakni manusia yang mampu untuk senantiasa membudayakan diriya demi kebahagiaan dan kedamaian kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata (masyarakat harmonis) dengan kata lain manusia merdeka lahir dan batin adalah manusia yang mampu untuk senantiasa mewujudkan kemanusiaannya.
  • 42. d. Semboyan Taman Siswa 1. Suci Tata Ngesti Tunggal, artinya dengan kesucian batin teraturnya hidup lahiriyah kita mengejar kesempurnaan. 2. Bibit, bebet, bobot : menganjurkan pemilihan yang seksama dalam menentukan calon anak menantu, anak menyehatkan keturunan. 3. Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani.
  • 43. 4. Lebih baik mati terhormat dari pada hidup nista, artinya tingkah laku dan budi luhur harus ditumbuhkan. 5. Rawe-rawe Rantas Malang-malang Putung, artinya segala sesuatu yang merintangi akan hancur jika mempunyai kemauan yang teguh. 6. Neng-Ning-Nung-Nang, artinya menimbulkan fikiran jernih yang menuju kepuasan batin dan membawa kemenangan.
  • 44. e. Jenis-jenis Pendidikan Taman Siswa 1. Taman Indriya ( Taman kanak-kanak, umur sekitar 5 tahun). 2. Taman anak ( Kelas I - III SD, umur 8 – 10 tahun. 3. Taman Muda (Kelas IV – VI SD, umur 11 – 14 tahun). 4. Taman Dewasa (SLTP, umur 15 – 18 tahun) 5. Taman Dewasa Raya/ Taman Madya (SLTA, umur 19 – 21 tahun) 6. Taman Guru (B1, B2,B3 dan Taman Guru
  • 45. f. Hasil-hasil yang dicapai Taman Siswa Perguruan Taman Siswa sejak didirikan sampai sekarang telah mencapai berbagai hal diantaranya : 1. Gagasan/ pemikiran tentang pendidikan nsional (kebangsaan) 2. Lembaga-lembaga pendidikan dari Taman Indriya sampai Sarjana Wiyata 3. Sejumlah alumni perguruan yang telah menjadi tokoh nasional seperti, Ki Hajar Dewantara, Ki Mangunsarkoro dan Ki Suratman.
  • 46. 2. Perguruan Muhammadiyah Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal 8 dzulhijjah 1330Hijriyah di Yogyakarta. Pendirinya adalah Kiyai Haji Achmad Dachlan. Muhammadiyah merupakan gerakan Islm Amar ma’ruf nahi mungkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah serta bertujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga tercipta masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang di ridhai Allah.
  • 47. a. Latar belakang berdirinya Pendidikan Muhammadiyah
  • 48. Oleh sebab itu maka umat islam melakukan kegiatan-kegiatan yang mencakup : 1. Membersihkan Islam dari pengaruh-pengaruh dan kebiasaan-kebiasaan bukan Islam 2. Memformulasikan kembali doktrin Islam menurut alam fikiran modern 3. Reformasi ajaran dan pendidikan Islam 4. Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan dari luar 5. Melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan (Rusli Karim, 1985)
  • 49. B. Azas Pendidikan Muhammadiyah Azas Pendidikan Muhmmadiyah adalah Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah C. Tujuan Dan Target Pendidikan Muhammadiyah Tujuan pendidikan Muhammadiyah ialah membentuk manusia muslim, berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri dan berguna untuk masyarakat dan negara.
  • 50. D. Cita-cita Pendidikan Cita-cita pendidikan Muhammadiyah meliputi tiga aspek, sebagai berikut : 1. Baik budi, alim dan beragama 2. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (ilmu-ilmu umum) 3. Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya Aspek tersebut sangan relevan dengan keinginan untuk mencerdaskan umat islam.
  • 51. 3. Aktivitas e. Dasar Pendidikan Muhammadiyah 1. Tajdid 4. Kreativitas 2. Kemasyarakatan 5. Optimisme 3. Aktivitas f. Pendidikan Muhammadiyah 1. Alat dakwah 2. Tempat Pembibitan kader 3. Gerakan amal anggota
  • 52. 1. Gagasan/ pemikiran tentang pembaharuan pendidikan 2. Lembaga-lembaga pendidikan dari TK sampai Pasca Sarjana 3. Sejumlah alumni perguruan yang telah menjadi tokoh nasional seperti Kasman, Singodimedjo, Panglima Jendral Sudirman.
  • 53. 3. Ruang INS Kayu Tanam Pendiri INS (Indonesians Nederlandsche School0 adalah Muhammad pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam. Beliau dilahirkan di Mantan, Kalimantan Barat tahun 1893. Awal nya INS di pimpin oleh Bapak angkatnya Marah Sutan kemudian oleh Muhammad Syafei sendiri. Pada saat itu muhammad syafei adalah satu- satu nya guru di sekolah tersebut.
  • 54. a. Riwayat Hidup Muhammad Syafei
  • 55. 5. Ia di serahi tugas memimpin INS pada tanggal 31 Oktober 1926, hingga akhirnya sekolah tersebut diserahkan seluruhnya pada Beliau. 6. Muhammad Syafei berpedoman pada prinsip berdiri sendiri. 7. Pada tahun 1946 ia diangkat menjadi Menteri PP dan K dalam Kabinet Syahrir yang kedua, kemudian ia menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung. 8. Pada tahun 1950 Muhammad Syafei menjadi anggota parlemen. Ia meninggal di Padang dalam usia 73 tahun. (Navis, 1996; Ahmadi, 1987)
  • 56. b. Azas Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam 1. Berfikir logis dan rasional 2. Keaktifan atau kegiatan 3. Pendidikan masyarakat 4. Memperhatikan pembawaan anak 5. Menantang Intelektual
  • 57. d. Usaha-usaha Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam 1. Pada zaman Belanda INS menyelenggarakan berbagai ruang pendidikan seperti : ruang rendah (7 tahun, setara dengan SD), Ruang antara (1 tahun), ruang Dewasa ( 4 tahun, setara Sekolah Menengah), Ruang Masyarakat (1 tahun). 2. Pada zaman kemerdekaan atas izin pemerintah Belanda, INS mendirikan Ruang pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (RPPK) DI Padang Panjang.
  • 58. 3. Tahun 1952, ia mendirikan percetakan dan penerbitan yang diberi nama “sridharma” dan menebitkan majalah bulanan bernama “Sendi” dan buku bacaan yang dikenal dengan “Kunci 13”. 4. Tahun 1953 ia mendirikan program khusus untuk menjadi guru yaitu tambahan satu tahun setelah ruang dewasa untuk pembekalan kemampuan mengajar dan praktek mengajar. 5. Mencetak buku-buku pelajaran Semua usaha tersebut dilakukan atas dasar mandiri.
  • 59. 4. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang Perguruan ini didirikan pada tanggal 1 November 1923 di Padang Panjang oleh Rahmah El Yunusiah dengan panggilan “Etek Amah”. Rahmah di lahirkan tanggal 29 Desember 1900 bertepatan dengan 1 Rajab 1318 Hijriah. Ibunya bernama Rafiah sedangkan ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus.
  • 60. a. Latar belakang berdirinya Diniyah Putri Rahmah El Yunusiah mendirikan Diniyah Putri di latar belakangi oleh rasa ketidakpuasan terhadap Diniyah School yang didirikan pada tahun 1915 oleh kakak kandungnya Zainuddin Labay. Rahmah juga tidak puas dengan kondisi pemahaman agama yang di monopoli oleh kelompok laki- laki saja pada hal menurut Rahmah pemahaman agama tidak hanya untuk kaum laki-laki tapi juga kewajiban kaum wanita untuk bersungguh-sungguh melakukan kajian tersebut yang bakal melahirkan ahli agama di kalangan wanita.
  • 61. a. Tujuan Pendidikan Diniah Putri Pendidikan Diniyah Putri bertujuan melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan Islam dengan tujuan membentuk putri yang berjiwa Islam dan ibu pendidikan yang cakap, aktif, serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • 62. c. Dasar Pendidikan Diniyah Putri Pendidikan Diniyah Putri didasarkan pada ajaran Islam dengan berpedoman pada Al- Qur’an dan Sunnah. Itu berarti segala kegiatan pendidikan yang ada dalam lingkungan perguruan ini seluruhnya didasarkan atas hikmah ajaran Islam yang pokok-pokoknya telah termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
  • 63. d. Cara mencapai Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan yang telah dirumuskan di wujudkan melalui program pendidikan sebagai berikut : 1. Program pendidikan umum (general eduction) untuk mengembangkan kemampuan dan sikap ilmiah pada diri peserta didik. 2. Program pendidikan yang bertujuan agar anak didik memiliki cabang ilmu pengetahuan bidang keahlian agama Islam 3. Program pendidikan yang mengarahkan mereka pada tujuan untuk menjadi ibu pendidik yang baik. 4. Program pendidikan keterampilan.
  • 64. e. Progrm pendidikan asrama Asrama sebagai wahana membina para santri mempunyai program melatih anak didik untuk hidup bermasyarakat, memimpin, serta dipimpin dan mempraktekkan semua ilmu yang diperoleh pada pagi hari. f. Sikap perguruan terhadap pemerintah Hindia- Belanda Beliau tidak mmau dibujuk bahkan kompromi dengan pemerintah Belanda, sehingga tawaran untuk menjadikan sekolah tersebut menjadi negeri di tolak.
  • 65. g. Jenis Penidikan 1. Sekolah menyesal, sekolah ini pertama didirikan dengan murid 71 orang. Dinamakan Sekolah Menyesal karena ada nya ketertinggalan kaum wanita dalam hal pendidikan. Murid-murid sekolah ini terdiri dari ibu-ibu dan remaja putri. 2. Sekolah taman kanak-kanak 3. Sekolah Diniyah Putri Rendah (7 tahun setara SD) 4. Sekolah Diniyah Putri bagian A, yang diterima adalah anak-anak yang belum tamat SD, lama belajar 5 tahun, sederajat
  • 66. 1. Taman Kanak-kanak Rahmah El Yunusiyah 2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) 3. Sekolah Diniyah Putri Menengah Pertama (DMP) 4. Kuliyatul Mu’alimat El Islamiyah (KMI) 5. Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam (PGTKI) 6. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)

×