• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Tasyri'  masa nabi Muhammad Saw
 

Tasyri' masa nabi Muhammad Saw

on

  • 14,658 views

 

Statistics

Views

Total Views
14,658
Views on SlideShare
8,726
Embed Views
5,932

Actions

Likes
2
Downloads
383
Comments
1

5 Embeds 5,932

http://marhamahsaleh.wordpress.com 5920
http://webcache.googleusercontent.com 6
https://www.google.com 3
http://translate.googleusercontent.com 2
https://www.google.com.my 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Tasyri'  masa nabi Muhammad Saw Tasyri' masa nabi Muhammad Saw Presentation Transcript

    • Presentasi Ke-3 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA T ASYRI’ M ASA N ABI S AW: P ERIODE MEKKAH, P ERIODE MADINAH, S UMBER HUKUM, P ENETAPAN HUKUM
    • PROLOG Fase Tasyri’ masa Kerasulan dimulai ketika Allah mengutus Nabi Muhammad Saw membawa wahyu berupa Al-Quran saat beliau di Gua Hira’ pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun 13 sebelum hijrah (611 M.)
      • Wahyu turun kepada Rasulullah Saw di Mekkah selama 13 tahun.
      • Wahyu terus berlangsung ketika Rasul Saw. berada di Madinah dan di tempat-tempat lain setelah hijrah selama 10 tahun, sampai Rasul Saw wafat pada tahun 11 H.
      • Wahyu kadang turun kepada Rasul Saw dalam bentuk ayat al-Quran dengan makna dan lafaznya. Terkadang wahyu hanya berupa makna, sementara lafaznya dari Rasulullah Saw (hadis qudsi).
      • Tasyri’ masa Rasul mengalami 2 periode istimewa: Perundang-undangan era Mekkah (al-Tasyri’ al-Makki) Perundang-undangan era Madinah (al-Tasyri’ al-Madani)
    • SUMBER TASYRI’ FASE NABI
      • Al-Quran al-Karim (al-matluw)
      • Al-Sunnah al-Nabawiyyah (ghairu matluw)
      • Ijtihad. Yang dimaksud ijtihad Nabi adalah mengeluarkan hukum syariat yang tidak ada nash-nya. Para Ulama berbeda pendapat:
      • Kalangan Asy’ariyah dari Ahli Sunnah dan mayoritas Mu’tazilah, mereka berpegang teguh bahwa Nabi tidak boleh berijtihad. QS. Al-Najm : 3-4. وما ينطق عن الهوى إن هو الا وحي يوحى
      • Mayoritas (Jumhur) ulama Ushul mengatakan boleh bagi Rasul untuk berijtihad dalam setiap urusan yang tidak ada nash-nya. Faktanya, Nabi pernah melakukan ijtihad dengan metode qiyas, seperti hukum boleh badal haji, ketika seorang lelaki dari kabilah Ju’tsum bertanya kepada Rasul, ia ingin menghajikan ayahnya yang tua renta. Kata Rasul, “Apakah yang akan kamu lakukan jika ayahmu ada utang, lalu kamu membayarnya, apakah itu boleh? Ia, menjawab, “tentu”. Nabi bersabda, “Hajikan ayahmu”. Nabi menqiyaskan haji dengan utang untuk diwakilkan dalam pelaksanaannya.
      • Pendapat tengah, dapat saja Nabi berijthad dalam masalah keduniaan seperti taktik perang dsb, tapi tidak dalam masalah hukum syara’.
    • METODE PENSYARI’ATAN
      • Nabi Saw menyampaikan perundang-undangan melalui beberapa cara:
      • Memberikan ketentuan hukum terhadap permasalahan atau kejadian yang muncul atau ditanyakan oleh para sahabat, lalu beliau memberi jawaban terkadang dengan satu ayat atau beberapa ayat al-Quran. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah ayat 215 dan 217.
      • يسئلونك ما ذا ينفقون  قل ما انفقتم من خير فللوالدين والاقربين واليتمى والمساكين وابن السبيل   وما تفعلوا من خير فان الله به عليم
      • يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ وَصّدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجِ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ
      • Terkadang Rasul memberi jawaban dengan ucapan dan perbuatannya, seperti sabda Rasul Saw kepada sebagian sahabat ketika ada yang bertanya, “Kami menyeberangi lautan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?” , lalu Rasul menjawab, “ia suci airnya dan halal bangkainya”. Dalam kesempatan lain, Rasul bersabda perihal haji, “Ambillah dariku tentang cara manasik kalian”.
    • KARAKTERISTIK TASYRI’ MASA NABI
      • Sumber perundang-undangan zaman itu hanya berasal dari wahyu, baik yang terbaca (al-Quran) maupun yang tidak terbaca (hadis).
      • Referensi utama untuk mengetahui hukum-hukum syara’ saat itu hanya Rasulullah Saw sendiri, sebab Allah telah memilihnya untuk menyampaikan risalah (QS. Al-Maidah ayat 67 dan 99). يأيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك # ما على الرسول الا البلاغ
      • Syariat Islam telah sempurna hukumnya, telah dikukuhkan kaidah dan dasarnya (QS. Al-Maidah: 3). Kitabullah dan Sunnah Rasul memuat beberapa kaidah dan dasar yang kokoh dan membuka pintu ijtihad.
      • Fiqh Islam dalam terminologi kini belum muncul pada zaman itu.
      • Pada zaman Rasul, jika ada yang bertanya tentang hukum sesuatu maka Rasul menjawabnya, dan ketika Rasul sedang tidak ada di tempat maka para sahabat akan berijtihad sendiri kemudian mengembalikan keputusannya kepada Rasul untuk ditetapkan atau dibatalkan.
      • Belum terlihat ada masalah-masalah yang bersifat iftiradhiyah (hipotesis), semua masalah lahir dari realitas hidup yang perlu dijelaskan hukumnya.
      • TA’RIF AL-QURAN
      • bentuk mashdar dari fi’il madhi qara`a yang berarti bacaan. Menurut istilah, al-Quran berarti kalam (perkataan) Allah yang diturunkan-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw dengan bahasa Arab serta dianggap beribadah membacanya.
      TASYRI’ ERA MEKKAH Terhitung sejak diangkatnya Nabi Saw. Sebagai Rasul sampai beliau hijrah ke Madinah.
      • Tasyri’ periode Mekkah lebih fokus pada upaya membersihkan masyarakat agar dapat menerima hukum-hukum agama.
      • Membersihkan akidah dari menyembah berhala (paganisme) kepada menyembah Allah Swt.
      • Menanamkan akhlak mulia agar memudahkan jiwa untuk dapat menerima segala bentuk pelaksanaan syariat.
    • Informasi tentang al-Quran
      • Mulai diturunkan di Mekkah, tepatnya di Gua Hira` pada tahun 611 M., dan berakhir di Madinah pada tahun 633 M. dalam rentang waktu 22 tahun lebih beberapa bulan.
      • Al-Quran turun secara berangsur-angsur, tidak secara sekaligus. Mengapa? Untuk menguatkan hati (menghujamkan makna serta hukum-hukumnya) dan mentartilkan al-Quran, seperti dikisahkan dalam al-Quran surat al-Furqan ayat 32
      • وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا
      • Ayat pertama diturunkan adalah ayat 1 sampai 5 dari Surat al-’Alaq. Sedangkan ayat terakhir diturunkan ada ikhtilaf ulama. Pendapat yang dipilih oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran yang dinukilnya dari Ibnu ‘Abbas adalah Surat al-Baqarah ayat 281. واتقوا يوما ترجعون فيه الى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لايظلمون Setelah ayat ini diturunkan Rasulullah Saw masih hidup sembilan malam, kemudian beliau wafat pada hari Senin 3 Rabi’ al-awwal, dan berakhirlah turunnya wahyu. Ada pula yang mengatakan bahwa ayat terakhir turun adalah Surat al-Maidah ayat 3 اليوم أكملت لكم دينكم
    • AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH
      • Al-Quran turun dalam dua periode: Pertama , periode Mekkah, yaitu sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, dikenal dengan ayat-ayat Makkiyyah. Kedua , periode setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, dikenal dengan ayat-ayat Madaniyyah.
      • Inti Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya berbicara seputar masalah akidah untuk meluruskan keyakinan umat di masa Jahiliyah dan menanamkan ajaran tauhid. Selain itu juga menceritakan kisah umat-umat masa lampau sebagai pelajaran bagi umat Nabi Muhammad Saw. Dalam masalah hukum belum banyak ayat yang diturunkan di Mekkah kecuali beberapa hal, seperti menjaga kehormatan (faraj) QS. al-Mukminun: 5-7, diharamkan memakan harta anak yatim QS. al-Nisa`: 10, larangan mubazir QS. al-Isra`: 26, larangan mengurangi timbangan QS. Hud: 85, larangan membuat kerusakan di muka bumi QS. al-A’raf: 56, dan ayat tentang kewajiban shalat QS. Hud: 114. Rahasia mengapa di Mekkah belum banyak ayat hukum, karena di Mekkah belum terbentuk satu masyarakat atau komunitas Islam seperti halnya di Madinah setelah Rasulullah Saw hijrah.
    • TASYRI’ ERA MADINAH
      • Rasul memilih kota Yatsrib atau Madinah sebagai lokasi hijrah dengan beberapa alasan: Jauh sebelum Nabi berencana hijrah, sudah ada beberapa orang Yatsrib yang memeluk Islam dan berbai’at kepada Nabi, selain pula Yatsrib merupakan kota transito (persinggahan) di jalur perdagangan Yaman-Mekkah-Syam, sehingga memiliki nilai strategis.
      Berlangsung sejak hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah hingga beliau wafat.
      • Informasi dari al-Quran yg berkaitan dengan bai’at ada dalam surat al-Fath: 10, al-Taubah: 111, dan surat al-Mumtahanah: 12.
      • Dalam sejarah ada Bai’at ‘Aqabah 1 tahun 621 M di bukit ‘aqabah. Bai’at (janji setia) ini antara Nabi dengan 12 orang suku Khazraj dan Aus dari Yatsrib (Madinah) yang membai’at kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, berzina, membunuh anak2, menuduh dengan tuduhan palsu, tidak mendurhakai Nabi didalam kebaikan.
      • Bai’at ‘Aqabah II pada tahun 622 M. antara Nabi dengan 75 orang Yatsrib (2 diantaranya wanita), disebut juga bai’at kubra . Mereka berbai’at untuk taat dan selalu mengikuti Nabi baik pada waktu kesulitan maupun dalam kemudahan, tetap berbicara benar, tidak takut celaan orang didalam membela kalimah Allah.
    • AYAT MADANIYYAH
      • Banyak terkait dengan hukum dan berbagai aspeknya.
      • Perintah membayar zakat, QS. al-Baqarah: 43
      • Kewajiban puasa Ramadhan, QS. al-Baqarah: 183
      • Kewajiban haji, QS. al-Baqarah: 196
      • Pengharaman riba, QS. al-Baqarah: 275
      • Larangan memakan harta orang lain secara batil, al-Baqarah: 188
      • Wanita-wanita yang haram dinikahi, QS. al-Nisa`: 23
      • Hukum thalaq dan ‘iddah, QS. al-Thalaq: 65
      • Pembagian warisan, QS. al-Nisa`: 11-12
      • Cara pembagian harta rampasan perang, QS. al-Anfal: 1
      • Qishash & ‘uqubat (sanksi hukum), QS. al-Baqarah: 178
      • Larangan merampok & mengacau keamanan, QS. al-Maidah: 33
      • Memutuskan hukum secara adil, QS. al-Nisa`: 58
      • Dan lain sebagainya.
    • HUKUM-HUKUM DALAM AL-QURAN
      • Al-Quran sebagai petunjuk hidup secara umum mengandung 3 doktrin: Akidah, akhlak, dan hukum-hukum amaliyah.
      • Hukum-hukum amaliyah dalam al-Quran terdiri dari dua cabang: Hukum ibadah dan muamalah.
      • Abdul Wahab Khallaf memerinci macam hukum bidang muamalah dan jumlah ayatnya.
      • Hukum keluarga, mulai dari pernikahan, talak, rujuk, ‘iddah, hingga masalah warisan, seluruhnya ada 70 ayat.
      • Hukum perdata ada sekitar 70 ayat.
      • Hukum jinayat (pidana) ada 30 ayat.
      • Hukum murafa’at (acara atau peradilan) ada 13 ayat.
      • Hukum ketatanegaraan ada 10 ayat.
      • Hukum antara bangsa (internasional) ada 25 ayat.
      • Hukum ekonomi dan keuangan ada sekitar 10 ayat.
    • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
      • Dari segi rinci atau tidaknya ayat-ayat hukum dalam al-Quran, Muhammad Abu Zahrah menjelaskan sbb.:
      • Ibadah, dalam Quran dikemukakan secara mujmal (global) tanpa merinci kaifiyatnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Untuk menjelaskan tatacaranya dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw dengan sunnahnya.
      • Kaffarat, yaitu semacam denda yang bermakna ibadah, karena merupakan penghapus bagi sebagian dosa. Ada 3 bentuk kaffarat, yaitu: Kaffarat zihar (seperti ungkapan suami kepada istrinya “kau bagiku bagaikan punggung ibuku”). Istri yang sudah di zihar tidak boleh digauli oleh suaminya kecuali setelah membayar kaffarat, QS. Al-Mujadilah: 3-4.
      • وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ * فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
      • Kaffarat sumpah , QS. Al-Maidah: 89.
      • لا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
      • Kaffarat qatl al-khata` (membunuh mukmin secara tersalah). al-Nisa`: 92
      • وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
    • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
      • Hukum mu’amalat. Al-Quran hanya memberikan prinsip-prinsip dasar, sunnah berperan merincinya, dan ijtihad para ulama berperan dalam mengembangkan perinciannya. Seperti larangan memakan harta orang lain secara tidak sah, QS. Al-Nisa`: 29, dan larangan memakan riba, QS. Al-Baqarah: 275
      • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ …
      • الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ...
      • Hukum Keluarga, Al-Quran berbicara agak rinci, misalnya penjelasan wanita-wanita yang haram dinikahi, QS. Al-Nisa`: 23
      • حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ …
      • Masalah thalaq (QS. Al-thalaq: 1), rujuk (QS. Al-Baqarah: 228), ‘iddah karena meninggal suami (QS. Al-Baqarah: 234) dan ‘iddah karena terjadinya perceraian (QS. Al-Baqarah: 228)
      • يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا
      • وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
      • وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
    • CONTOH AYAT-AYAT HUKUM
      • Hukum pidana. Al-Quran melarang tindak kejahatan secara umum. Seperti larangan pembunuhan (Al-An’am: 151), larangan minum khamar (QS. Al-Maidah: 90) dan rincian hukumannya dijelaskan oleh sunnah dengan cambuk 40 kali sesuai hadis جلد النبي ص م أربعين وجلد أبو بكر أربعين وعمر ثمانين وكلْ سنة , larangan berzina (Al-Nur: 2), hukuman bagi pencuri (Al-Maidah: 38), hukuman pelaku qazaf atau menuduh orang lain berzina tanpa saksi (QS. Al-Nur: 4)
      • وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
      • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
      • الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
      • وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
      • وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
      • Hukum yang mengatur hubungan penguasa dengan rakyat (QS. Al-Nahl: 90 dan Ali ‘Imran: 159).
      • إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
      • فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ
      • Hukum yang mengatur hubungan muslin dan non-muslim (QS. Al-Hujurat: 13 dan al-Baqarah: 194).
      • يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
      • الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ ..
    • SUNNAH
      • Sunnah secara bahasa berarti “perilaku seseorang tertentu, termasuk perilaku yang baik atau perilaku yang buruk”. Secara istilah, sunnah adalah “segala perilaku Rasulullah Saw yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan (sunnah qawliyyah), perbuatan (sunnah fi’liyyah), atau pengakuan (sunnah taqririyyah).
      • Contoh sunnah qawliyyah, sabda Rasul Saw لاضرر ولا ضرار . Contoh sunnah fi’liyyah seperti hadis tentang rincian tatacara shalat, haji, dsb. Contoh sunnah taqririyyah ialah pengakuan Rasul Saw atas perilaku dua sahabat ketika dalam perjalanan mereka tidak menemukan air, lalu mereka bertayamum dan mengerjakan shalat. Kemudian mereka mendapatkan air, sedang waktu shalat masih berlanjut. Lalu salah satunya berwudhu’ dan mengulangi shalat, satunya lagi tidak. Keduanya diakui oleh Rasul Saw.
      • Dalil keabsahan sunnah, QS. Al-Nisa`: 59, Al-Ahzab: 21, Al-Nisa`: 80
      • يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
      • لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
      • مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    • FUNGSI SUNNAH TERHADAP AYAT HUKUM
      • Secara umum fungsi sunnah sebagai bay ā n (penjelasan) atau taby ī n (menjelaskan ayat-ayat hukum dalam al-Quran). Secara khusus fungsi sunnah:
      • Menjelaskan isi al-Quran, antara lain dengan merinci ayat-ayat global. Disamping itu berfungsi mentakhshish ayat-ayat yang sifatnya umum.
      • Membuat aturan tambahan yang bersifat teknis atas sesuatu kewajiban yang disebutkan pokok-pokoknya dalam al-Quran.
      • Menetapkan hukum yang belum disinggung dalam Al-Quran. Misalnya hadis كل ذي ناب من السباع فأكله حرام artinya semua jenis binatang buruan yang mempunyai taring dan burung yang mempunyai cakar, maka hukum memakannya adalah haram. (HR. Nasa`i)
    • FUNGSI SUNNAH TERHADAP AL-QURAN
      • Bayan Tafsir, yaitu menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal dan musytarak. Seperti hadits : “Shallu kamaa ra-aitumuni ushalli” (Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat) adalah merupakan tafsiran daripada ayat Al-Qur’an yang umum, yaitu : “Aqimush-shalah” (Kerjakan shalat). Demikian pula hadits: “Khudzu ‘anni manasikakum” (Ambillah dariku perbuatan hajiku) adalah tafsir dari ayat Al-Qur’an “Wa atimmul hajja” ( Dan sempurnakanlah hajimu ).
      • Bayan Taqrir , yaitu As-Sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al-Qur’an. Seperti hadis yang berbunyi: “Shumu liru’yatihi wafthiru liru’yatihi” (Berpuasalah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya) adalah memperkokoh ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah : 185.
      • Bayan Taudhih, yaitu menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat Al-Qur’an, seperti pernyataan Nabi : “Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati”, adalah taudhih (penjelasan) terhadap ayat Al-Qur’an dalam surat at-Taubah: 34, yang artinya sebagai berikut : “Dan orang-orang yang menyimpan mas dan perak kemudian tidak membelanjakannya dijalan Allah maka gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih”. Pada waktu ayat ini turun banyak para sahabat yang merasa berat untuk melaksanakan perintah ini, maka mereka bertanya kepada Nabi yang kemudian dijawab dengan hadits tersebut.