Tasyri' istilah-istilah fiqh & manhaj 4 imam

26,631 views

Published on

Published in: Spiritual, Technology
4 Comments
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
26,631
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
11,082
Actions
Shares
0
Downloads
798
Comments
4
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tasyri' istilah-istilah fiqh & manhaj 4 imam

  1. 1. TarikhTasyri’<br />Istilah-istilah Fiqh danManhaj Imam Mujtahid<br />••••••••••••••••••••••••••••••••••<br />Oleh: Marhamah Saleh, Lc.MA.<br />
  2. 2. Istilah-istilah Fiqh<br />ADÂ'. Pengerjaan ibadah di dalam waktunya yang telah dibatasi oleh syara'. Contoh: Mengerjakan puasa ramadlan di bulan ramadlan, atau sholat shubuh di dalam waktunya yang telah dibatasi oleh syara’.<br />QADLÂ ‘. Mengerjakan ibadah wajib diluar waktunya yang telah dibatasi oleh syara'. Biasanya karena terlupa atau tertidur, atau karena uzur syar’i. Qadlā' ini sifatnya wajib, baik terlewatkannya pengerjaan ibadah tersebut karena 'udzur atau tidak. Perbedaannya, jika ada udzur, maka tidak menimbulkan dosa, sementara bila tanpa 'udzur dapat mengakibatkan dosa. Misalnya ayat: فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ<br />I'ĀDAH. Mengerjakan ibadah di dalam waktunya untuk kedua kalinya karena alasan ingin mendapatkan pahala yang lebih. Contohnya adalah seseorang yang telah melaksanakan sholat shubuh sendirian (munfarid), kemudian ia melihat ada jama'ah didirikan, maka ia disunnahkan untuk I'ādah sholat shubuh bersama jama'ah demi mendapatkan keutamaan shalat berjama'ah.<br />MUKALLAF. Seseorang yang terkena taklif / terkena pembebanan hukum syaria't. Jika seseorang telah dinyatakan sebagai mukallaf, berarti ia wajib melaksanakan seluruh perintah agama.<br />
  3. 3. Istilah-istilah Fiqh<br />TAQLID. fi`ilnya adalah qallada, yuqallida, taqliidan, artinya mengalungi, meniru, mengikuti. Taqlid berarti penerimaan perkataan seseorang sedangkan Anda tidak mengetahui dari mana asal kata itu. Menurut Muhammad Rasyid Ridha, taqlid ialah mengikuti pandapat orang lain yang dianggap terhormat dalam masyarakat serta dipercaya tentang suatu hukum agama Islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya, baik atau buruknya, manfaat atau mudharat hukum itu.<br />ITTIBA`. Berasal dari kata ittaba`a, yattabi`u, ittibaa`an, muttabi`un  yang berarti “menurut” atau “mengikut”. Ittiba` adalah mengikuti atau menuruti semua yang diperintahkan, yang dilarang, dan dibenarkan Rasulullah SAW. Definisi lainnya, ittiba` ialah menerima pendapat seseorang sedangkan yang menerima mengetahui darimana asal pendapat itu. Ittiba’ ditetapkan berdasarkan hujjah/nash. <br />TALFIQ. Berarti “manyamakan” atau “merapatkan dua tepi yang berbeda”. Talfiq ialah mengambil atau mengikuti hukum dari suatu peristiwa atau kejadian dengan mengambilnya dari berbagai macam madzhab. Contoh Menurut mazhab Hanafi, sah nikah tanpa wali, sedangkan menurut madzhab Maliki, sah akad nikah tanpa saksi. Talfiq dibolehkan dalam agama, selama tujuan melaksanakan talfiq itu semata-mata untuk melaksanakan pendapat yang paling benar setelah meneliti dasar hukum dari pendapat itu dan mengambil yang lebih kuat dasar hukumnya. Ada talfiq yang tujuannya untuk mencari yang ringan-ringan saja, yaitu mengikuti pendapat yang paling mudah dikerjakan sekalipun dasar hukumnya lemah. Talfiq semacam ini dicela para ulama. Jaditalfiq hakekatnya pada niat.<br />
  4. 4. Istilah-istilah Fiqh Syafi’i<br />Qaul Qadim, Yaitu fatwa atau pendapat Imam Syafi’i ketika berada di Iraq pada zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid. Di antara para fuqaha’ yang meriwayatkan pendapat ini adalah Karabisi, Za’faroni, Abu Tsaur, dan Ahmad ibnu Hanbal.<br />Qaul Jadid, Yaitu fatwa atau pendapat Imam Syafi’i setelah kepindahannya ke Mesir. Adapun di antara para fuqaha’ yang masyhur meriwayatkan perkataan ini adalah al-Mazani, Buwaithy, Rabi’ al-Muradi, dan Rabi’ al-Jizi. Pada tataran realitanya, qaul  (pendapat) ini mendapat prioritas yang lebih daripada qoul qodim, kecuali pada 18 masalah dimana qaul Qadimnya masih di anggap kuat dan di pakai, kemudian imam syafi’i telah meninggalkan pesannya: Apabila sah hadis maka itulah Mazhabku. Ini untuk menghindari kekeliruan dari para pengikut mazhabnya.<br />Aqwal ; istilah ini berarti perkataan Imam Syafi’i. <br />Awjah ; adalah perkataan pengikut madzhab Syafi’i. <br />Azhhar ; istilah yang dilontarkan Imam Syafi’i apabila terdapat perbedaan antara dua pendapat yang sama-sama kuat, maka yang lebih kuat dinamakan azhhar. <br />Masyhur ; adalah pendapat yang kurang kuat menurut Imam Syafi’i. <br />Ashah ; istilah yang dikemukakan pengikut Syafi’i apabila terdapat perbedaan dua pendapat yang sama-sama kuat, maka pendapat yang lebih kuat dinamakan ashah. <br />Shahih ; ialah pendapat yang kurang kuat dari perbedaan pendapat di atas. <br />Nash ; bila ada kata nash, maka yang dimaksud adalah nash/teksnya Imam Syafi’i dalam suatu masalah. <br />Wa qila kadza ; adalah pendapat lemah dari pengikut madzhab Imam Syafi’i. <br />Wa fi qauli kadza ; pendapat Imam Syafi’i yang lemah menurut pengikutnya.<br />
  5. 5.
  6. 6. Hukum Taklifi dan Wadh’i<br />HUKUM TAKLIFI adalah hukum yang mengandung perintah, larangan, atau memberi pilihan terhadap seorang mukallaf untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat.<br />ما اقتضى طلب فعل من المكلف او كفه عن فعل او تخييره بين الفعل والكف عنه<br /> Misalnya, hukum taklifi menjelaskan bahwa shalat 5 waktu wajib, khamar haram, riba haram, makan-minum mubah.<br />وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة ... /// وكلوا واشربو ...<br />HUKUM WADH’I adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur tentang sebab, syarat, dan māni’ (sesuatu yang menjadi penghalang kecakapan untuk melakukan hukum taklifi).<br />ما اقتضى وضع شيء سببا لشيئ او شرطا له او مانعا منه<br /> Misalnya, hukum wadh’i menjelaskan bahwa waktu matahari tergelincir di tengah hari menjadi sebab tanda bagi wajibnya mukallaf menunaikan shalat zuhur. Wudhu’ menjadi syarat sahnya shalat. Atau, kedatangan haid menjadi penghalang/māni’ seorang wanita melakukan kewajiban shalat dan puasa.<br />
  7. 7. Bentuk-bentuk Hukum Taklifi<br /> WAJIB. Secara etimologi berarti tetap atau pasti. Secara terminologi, sesuatu yang diperintahkan Allah dan RasulNya untuk dilaksanakan oleh mukallaf, jika dilaksanakan mendapat pahala, sebaliknya jika tidak dilaksanakan diancam dengan dosa.<br />MANDUB. secara bahasa berarti sesuatu yang dianjurkan. Secara istilah, suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Allah dan RasulNya dimana akan diberi pahala orang yang melaksanakannya, namun tidak dicela orang yang tidak melaksanakannya. Mandub atau nadb disebut juga sunnah, nafilah, mustahab, tathawwu’, ihsan, dan fadhilah.<br />HARAM. Secara bahasa berarti sesuatu yang dilarang mengerjakannya. Secara istilah, sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya, dimana orang yang melanggarnya diancam dengan dosa, dan orang yang meninggalkannyakarena menaati Allah akan diberi pahala. Misal: larangan zina.<br />MAKRUH. Secara bahasa berarti sesuatu yang dibenci. Secara istilah, sesuatu yang dianjurkan syariat untuk meninggalkannya, dimana jika ditinggalkan akan mendapat pujian dan pahala, dan jika dilanggar tidak berdosa. Misal, dalam mazhab Hanbali makruh berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (المضمضة والإستنشاق) secara berlebihan ketika wudhu di siang hari Ramadhan.<br />MUBAH. Secara bahasa berarti sesuatu yang dibolehkan atau diizinkan.Secara istilah, sesuatu yang diberi pilihan oleh syariat kepada mukallaf untuk melakukan atau tidak, dan tidak ada hubungannya dengan dosa sertapahala. Misal: jika terjadi puncak cekcok suami-istri, maka boleh(mubah) bagi istri membayar sejumlah uang kepada suami danmeminta suami menceraikannya (QS. Al-Baqarah: 229).<br />
  8. 8. Istilah-istilah Fiqh<br />FARDHU dan WAJIB mempunyai makna yang sama menurut jumhur ulama selain kalangan Hanafiyyah. Menurut mazhab Hanafi, pengertian FARDHU adalah kewajiban yang dituntut dengan dalil yang Qath’i (pasti), semisal shalat, haji dan zakat. Sedangkan WAJIB adalah kewajiban yang dituntut dengan dalil zhanni (ada kesamaran) seperti khitan, akikah dll.<br />Jumhur ulama selain kalangan Malikiyyah menyamakan istilah SUNNAH dengan mandub, nafilah,mustahab, tathawu’, murghab fih, ihsan, dan husn. SUNNAH menurut istilah Hanafiyah adalah sesuatu yang terus dilakukan oleh Rasulullah saw. Namun kadang-kadang beliau meninggalkannya tanpa uzur. Mandub dan mustahab adalah sesuatu yang beliau tidak terus menerus mengerjakannya, meskipun beliau tidak mengerjakannya sesudah menggemarkannya pada orang lain. <br />Menurut Mazhab Hanafi, MAKRUH terbagi menjadi dua, yaitu makruh tahrim dan makruh tanzih. Makruh tahrim yaitu makruh yang dilarang dengan dalil yang tidak pasti, contohnya : bertunangan dengan tunangan orang lain.  Sedangkan makruh tanzih yaitu larangan melalui larangan yang tidak pasti dan tidak mengisyaratkan adanya hukuman, seperti memakan daging kuda dan berwudhu dari bejana. Sedangkan jumhur ulama memandang makruh hanya satu jenis saja.<br />RUKUN menurut ulama Hanafi adalah sesuatu yang kewujudan sesuatu yang lain adalah bergantung pada kewujudannya, dan ia merupakan bagian dari hakikat itu. Menurut jumhur, RUKUN ialah perkara yang menjadi asas bagi kewujudan sesuatu, meskipun ia berada diluar hakikat sesuatu itu.<br />
  9. 9. Pembagian WAJIB (1)<br />
  10. 10. Pembagian WAJIB (2)<br />
  11. 11. Pembagian WAJIB (3)<br />
  12. 12. Pembagian MANDUB<br />
  13. 13. Pembagian HARAM<br />
  14. 14. Pembagian MAKRUH<br />
  15. 15. Pembagian MUBAH<br /> Abu Ishaq al-Syatibi dalam kitab Muwafaqat membagi mubah menjadi 3 macam:<br />Mubah yg berfungsi untuk mengantarkan seseorang kepada sesuatu hal yg wajib dilakukan. Misal: makan dan minum adalah sesuatu yg mubah, namun berfungsi untuk menggerakkan seseorang mengerjakan kewajiban shalat dsb.<br />Sesuatu dianggap mubah hukumnya jika dilakukan sekali-sekali, tetapi haram hukumnya jika dilakukan setiap waktu. Misal: bermain dan mendengar musik, jika menghabiskan waktu hanya untuk bermain dan bermusik maka menjadi haram.<br />Sesuatu yg mubah yg berfungsi sebagai sarana mencapai sesuatu yg mubah pula. Misal: membeli perabot rumah untuk kepentingan kesenangan.<br />
  16. 16. Pembagian Hukum WADH’I<br />SEBAB. Secara bahasa berarti sesuatu yg bisa menyampaikan seseorang kepada sesuatu yg lain. Secara istilah, sebab yaitu sesuatu yg dijadikan oleh syariat sebagai tanda bagi adanya hukum, dan tidak adanya sebab sebagai tanda bagi tidak adanya hukum.<br />SYARAT. Secara bahasa berarti sesuatu yang menghendaki adanya sesuatu yg lain, atau sebagai tanda. Secara istilah, syarat yaitu sesuatu yg tergantung kepadanya ada sesuatu yg lain, dan berada di luar hakikat sesuatu itu.<br />MĀNI’. Secara bahasa berarti penghalang dari sesuatu. Secara istilah, maksudnya adalah sesuatu yg ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum, atau penghalang bagi berfungsinya suatu sebab.<br />
  17. 17. PENGERTIAN SYARAT DAN RUKUN<br />SYARAT adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Atau, perkara yang keberadaan suatu hukum tergantung dengannya. Contoh: jika tidak ada thaharah maka shalat tidak ada (yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajib dan menghindari hal-hal yang membatalkannya.RUKUN adalah unsur fardhu / bagian dari perbuatan itu sendiri, seperti ruku’ dan sujud dalam shalat. Sedangkan syarat, diluar bagian dari inti perbuatan.<br />الشرط هو: ما يلزم من عدمه عدم المشروط ولا يلزم من وجوده عدم ولا وجود لذاته.<br />والركن هو: جزء الماهية وإن شئت جزء الذات كالركوع والسجود بالنسبة للصلاة. <br />والفرق بينهما أن الشرط خارج عن الماهية والركن جزءٌ منها قال: والركن في ماهية قد ولجا === والشرط عن ماهية قد خرجا. <br />
  18. 18. Peta Penyebaran Mazhab<br />
  19. 19. Manhaj & Penyebaran Mazhab<br />Manhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbath hukum: Al-Quran, Sunnah, Pendapat Sahabat, Qiyas, Istihsan, Ijma’ dan ‘Urf. Mazhab Hanafi mulai tersebar di Kufah, kemudian Baghdad, Mesir, Syam, Persia, Romawi, Yaman, India, China, Bukhara, Kaukasus, Afghanistan, Turkistan.<br />Dasar Mazhab Imam Maliki: Al-Quran, Sunnah, Amalan penduduk Madinah, Fatwa Sahabat, Qiyas, Mashalih Mursalah, Istihsan, Sadd al-dzarai’, ‘Urf. Mazhab Imam Malik tersebar di negeri Hijaz, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Tripoli, Sudan, Bashrah dan Baghdad.<br />Sumber hukum Imam Syafi’i: Nash-nash (Al-Quran dan Sunnah), Ijma’, Pendapat para sahabat, Qiyas. Penyebaran mazhab Syafi’i di Irak, Mesir, kawasan Khurasan, Palestina, Hadramaut (Yaman), Persia, Pakistan, Srilanka, India, Indonesia, Australia.<br />Dasar mazhab Hanbali: Nash Al-Quran dan sunnah, Fatwa sahabat yang tidak ada penentangnya (belia tidak menamakannya sebagai ijma’, tapi belaiu menamakannya wara’), jika sahabat berbeda pendapat maka beliau memilih salah satunya jika sesuai dengan Quran dan Sunnah, kemudian menggunakan hadis mursal dan hadis dha’if jika tidak ada dalil lain yang menguatkannya dan didahulukan daripada qiyas (Hadis Dha’if yang diterima adalah jika orang/rawi yang belum mencapai derajat tsiqah tapi tidak sampai dituduh berdusta). Sumber lainnya adalah qiyas. Penyebaran mazhab Hanbali: Irak, Mesir, Semenanjung Arab dan Syam, dan menjadi mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia.<br />
  20. 20. Terminologi ISTIHSAN (إستحسان)<br />Istihsan berasal dari kata إستحسن – يستحسن – إستحسانا yang berarti “mencari kebaikan”. Istihsan juga berarti “sesuatu yang dianggap baik”, diambil dari kata al-husnu (baik).<br />Secara terminologi, Imam Abu Hasan al-Karkhi mengatakan bahwa istihsan ialah “penetapan hukum dari seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yang serupa, karena ada alasan yang lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpangan itu.”<br />DASAR ISTIHSAN: QS. al-Zumar: 17-18 disebutkan:<br />وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِي* الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ<br /> Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.<br />Rasul Saw juga bersabda: مارءاه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن<br />
  21. 21. Ikhtilaf Mengenai Istihsan<br />Mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa istihsan dapat dijadikan landasan dalam menetapkan hukum, dengan menggunakan dalil-dalil yang menjadi dasar istihsan.<br />Imam Syafi’i menolak istihsan sebagai landasan hukum. Menurut beliau, menetapkan hukum berlandaskan istihsan sama dengan membuat-buat syariat baru dengan hawa nafsu. QS. Al-Maidah: 49.<br />وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ<br /> Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. <br /> Ayat ini memerintahkan manusia untuk mengikuti petunjuk Allah Swt dan RasulNya, dan larangan mengikuti kesimpulan hawa nafsu. Hukum yang dibentuk melalui istihsan adalah kesimpulan hawa nafsu, jadi tidak sah dijadikan landasan hukum.<br />
  22. 22. ISTISHHAB<br />Kata istishhab secara etimologi berarti “meminta ikut serta secara terus-menerus”. Secara terminologi, istishhab ialah “menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaannya semula, selama belum terbukti ada sesuatu yang mengubahnya.<br />Contoh istishhab: Seseorang yang diketahui masih hidup pada masa tertentu, tetap dianggap hidup pada masa sesudahnya selama belum terbukti bahwa ia telah wafat. Begitupula seseorang yang telah berwudhu’, jika ia ragu, dianggap tetap wudhu’nya selama belum terjadi hal yang membuktikan batal wudhu’nya.<br />
  23. 23. Ikhtilaf Ulama Mengenai Istishhab<br />Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa tiga macam istishhab (point pertama hingga ketiga) adalah sah dijadikan landasan hukum.<br />Mereka berbeda pendapat pada jenis istishhab al-washf:<br />Kalangan Hanabilah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa istishhab al-washf dapat dijadikan landasan hukum secara penuh, baik dalam menimbulkan hak yang baru maupun dalam mempertahankan haknya yang sudah ada. Misalnya, seseorang yang hilang tidak ketahuan rimbanya, tetap dianggap hidup sampai ada bukti bahwa ia telah wafat. Jadi harta dan istrinya masih dianggap kepunyaannya, dan jika ahli warisnya wafat, dia turut mewarisi harta peninggalan dan kadar pembagiannya langsung dinyatakan sebagai hak miliknya.<br />Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa istishhab al-washf hanya berlaku untuk mempertahankan haknya yang sudah ada, bukan untuk menimbulkan hak yang baru. Dalam contoh orang hilang tsb meskipun harta dan istrinya masih dianggap sebagai kepunyaannya, tapi jika ada hali waris yang wafat maka khusus kadar bagiannya disimpan dan belum dapat dinyatakan sebagai haknya sampai terbukti ia hidup.<br />
  24. 24. MASHLAHAH MURSALAH<br />Kata mashlahah menurut bahasa berarti “manfaat”. Kata mursalah berarti “lepas”. Secara istilah, menurut Abdul Wahab Khalaf, mashlahah mursalah berarti “sesuatu yang dianggap mashlahat namun tidak ada ketegasan hukum untuk merealisasikannya dan tidak ada pula dalil tertentu baik yang mendukung maupun yang menolaknya”, sehingga disebut mashlahat yang lepas.<br />MACAM-MACAM MASHLAHAH:<br />Al-mashlalah al-mu’tabarah, yaitu mashlahah yang secara tegas diakui syariat dan telah ditetapkan ketentuan2 hukum untuk merealisasikannya. Misal: Diwajibkan hukum qishash untuk menjaga kelestarian jiwa, ancaman hukuman zina bertujuan untuk memelihara kehormatan dan keturunan, dsb.<br />Al-mashlahah al-mulghah, yaitu sesuatu yang dianggap mashlahah oleh akal pikiran, tetapi dianggap palsu karena kenyataannya bertentang dengan ketentuan syariat. Misal: ada asumsi menyamakan pembagian warisan anak laki-laki dan wanita adalah mashlahah, padahal itu bertentang dengan QS. Al-Nisa`: 11.<br />Al-Mashlahah al-mursalah. Banyak terdapat dalam masalah-masalah muamalah. Misal: Peraturan dan rambu lalu lintas.<br />
  25. 25. Ikhtilaf Ulama pada Mashlahah<br />Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa mashlahah mursalah tidak sah menjadi landasan hukum dalam BIDANG IBADAH, karena bidang ibadah harus diamalkan sebagaimana adanya diwariskan oleh Rasul Saw, makanya bidang ibadah tidak berkembang.<br />Mereka berbeda pendapat dalam bidang muamalah.<br />Kalangan Zahiriyah, sebagian Syafi’iyah dan hanafiyah tidak mengakui mashlahah mursalah sebagai landasan pembentukan hukum, karena menganggap syariat Islam tidak lengkap dengan asumsi ada mashlalah yang belum tertampung dalam hukum-hukumnya.<br />Kalangan hanafiyah dan Malikiyah serta sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa mashlahah mursalah secara sah dapat dijadikan landasan penetapan hukum. Alasannya, kebutuhan manusia selalu berkembang, yang tidak mungkin semuanya dirinci Quran dan sunnah, selama tidak bertentangan dengan Quran dan sunnah maka mashlahah mursalah dapat diterima.<br />
  26. 26. Al-’Urf al-’am yaitu adat kebiasaan mayoritas dari berbagai negeri di satu masa. Seperti ucapan engkau telah haram aku gauli sebagai ucapan talak kepada istri.<br /> Al-’Urf al-Khash yaitu adat yang berlaku pada masyarakat atau negeri tertentu. Seperti kebiasaan masyarakat Irak menggunakan kata al-dabbah hanya kepada kuda.<br /> Adat yang benar (shahih) yaitu suatu hal baik yg menjadi kebiasaan suatu masyarakat, seperti anggapan bahwa apa yg diberikan pihak laki-laki kepada calon istri ketika khitbah dianggap hadiah, bukan mahar.<br /> Adat yang salah (fasid) yaitu sesuatu yang menjadi adat yang sampai menghalalkan yang diharamkan Allah atau sebaliknya. Seperti tari perut di Mesir saat pesta perkawinan.<br />Macam-macam ‘Urf (Adat)<br />
  27. 27. SYAR’U MAN QABLANA<br />Yaitu syari’at atau ajaran nabi-bani sebelum Islam yang berhubungan dengan hukum, seperti syari’at nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa. Apakah syariat-syariat yang diturunkan kepada mereka itu berlaku pula bagi umat Nabi Muhammad Saw.<br />Para ulama ushul Fiqh sepakat bahwa syariat para Nabi terdahulu yang tidak tercantum dalam Quran dan Sunnah Rasul Saw, tidak berlaku lagi bagi umat Islam. Karena kedatangan syariat Islam telah mengakhiri berlakunya syariat terdahulu.<br />Para ulama juga sepakat bahwa syariat sebelum Islam yang dicantumkan dalam al-Quran adalah berlaku bagi umat jika ada ketegasan bahwa syariat itu berlaku bagi umat Nabi Muhammad Saw. Contoh: Syariat puasa, QS. Al-Baqarah: 183<br />يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ<br />
  28. 28. SYAR’U MAN QABLANA<br />Para ulama berbeda pendapat tentang hukum-hukum syariat nabi terdahulu yang tercantum dalam al-Quran, tetapi tidak ada ketegasan bahwa hukum-hukum itu masih berlaku bagi umat Islam dan tidak ada pula penjelasan yang membatalkannya.<br />Misal: hukuman qishash dalam syariat Nabi Musa dalam QS. Al-Maidah: 45<br />وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأنْفَ بِالأنْفِ وَالأذُنَ بِالأذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ <br />Dari sekian banyak bentuk qishash dalam ayat tsb, yang ada ketegasan berlakunya bagi umat Islam hanyalah qishash karena pembunuhan. QS. Al-Baqarah: 178<br />يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ <br />

×