Tasyri' abad 2-4 H.

18,365 views
18,771 views

Published on

1 Comment
5 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
18,365
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
10,248
Actions
Shares
0
Downloads
358
Comments
1
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Insert a picture of one of the geographic features of your country.
  • Insert a map of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of an animal and or plant found in your country.
  • Insert a map of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Insert a picture of the head leader of your country.
  • Tasyri' abad 2-4 H.

    1. 1. Periode ini disebut sebagai periode gemilang dengan munculnya berbagai mazhab, khususnya mazhab yang empat: Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Mazhab Hanbali ••••••••••••••••••••••••••••••••••
    2. 2. PROLOG <ul><li>Masa Tabi' Tabi'in pada awal abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 hijriah terkenal dengan masa keaktifan dan era keemasan dalam bidang Fiqih, penyusunan ilmu pengetahuan, banyaknya para mujtahid, timbul dan berkembangnya mazhab-mazhab Fiqih dan munculnya istilah-istilah Fiqih yang baru. </li></ul><ul><li>Para khalifah era Abbasiah memberi perhatian yang besar terhadap fiqh dan fuqaha’. Hal itu disebabkan dekatnya para khalifah dengan ulama dan selalu meminta fatwa atau pengarahan tentang fiqih kepada para fuqaha’. </li></ul><ul><li>Kondisi ini menjadikan para mujtahid kian berkembang dan meluas sampai ke negara-negara Islam, ditambah lagi dengan bebasnya berfikir dan berijtihad sehingga semakin banyak masalah-masalah baru yang disebabkan berbedanya tempat dan kondisi negara-negara Islam lainnya, maka para mujtahid berfatwa dengan ijtihadnya, kemudian muncullah aliran-aliran mazhab. </li></ul>
    3. 3. Faktor Pendorong Perkembangan Tasyri’Abad ke-2 hingga 4 Hijriah <ul><li>Luasnya wilayah. Sebagian orang yang daerahnya dikuasai umat Islam menjadi penganut Islam. Kemudian mereka belajar agama Islam dibawah bimbingan para imam. Mereka mulai memasuki persaingan dalam pengembangan ilmu, diantaranya ilmu kedokteran, ilmu logika karya Aristoteles dan sebagainya. </li></ul>Luasnya ilmu pengetahuan. Dalam bidang ilmu kalam terjadi berbagai perdebatan : setiap kelompok memiliki cara berpikir tersendiri dalam memahami akidah Islam. Selain itu, terjadi pula pertarungan pemikiran antara mutakallimin, muhaditsin, dan fuqoha’.   Adanya upaya umat Islam untuk melestarikan Alqur’an, baik yang dicatat, termasuk yang dikumpulkan dalam satu mushaf, maupun yang dihafal. Pelestarian alqur’an melalui hafalan dilakukan dengan mengembangkan cara membacanya, sehingga saat ini dikenal corak – corak bacaan alqur’an. 
    4. 4. Perkembangan ahl-Hadits & ahl-Ra’yi <ul><li>Pertentangan antara  Madrasah al-hadits  dengan  Madrasah ar-ra’yu  semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra’yu dalam berijtihad. </li></ul><ul><li>Menurut Muhammad Abu Zahrah, guru besar fiqh di Universitas al-Azhar Mesir, bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama, karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain. Selanjutnya, kitab-kitab fiqh banyak berisi ra’yu dan hadits. Hal ini menunjukkan adanya titik temu antara masing-masing kelompok. </li></ul><ul><li>Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani , ulama dari Mazhab Hanafi yang dikenal sebagai  Ahlurra’yu  (Ahlulhadits dan Ahlurra’yu), datang ke Madinah berguru kepada Imam Malik dan mempelajari kitabnya,  al-Muwaththa’  (buku hadits dan fiqh). Imam Syafi’i , salah seorang tokoh ahlulhadits, datang belajar kepada Muhammad bin Hasan asy-Syaibani . Imam Abu Yusuf , tokoh ahlurra’yu, banyak mendukung pendapat ahli hadits dengan mempergunakan hadis Rasul Saw. </li></ul>
    5. 5. Penyusunan Kitab-Kitab Fiqh <ul><li>Kitab-kitab fiqh mulai disusun pada periode ini, dan pemerintah pun mulai menganut salah satu mazhab fiqh resmi negara, seperti dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah yang menjadikan fiqh Mazhab Hanafi sebagai pegangan para hakim di pengadilan. </li></ul><ul><li>Disamping sempurnanya penyusunan kitab fiqh dalam berbagai mazhab, dalam periode ini juga disusun kitab-kitab ushul fiqh, seperti kitab  ar-Risalah  yang disusun oleh Imam Syafi’i sebagai kitab Ushul Fiqh pertama.  </li></ul><ul><li>Sebagaimana periode ke-3 sebelumnya, pada periode ini  fiqh iftirâdî  (hipotesis/pengandaian) semakin berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi pendekatan aktual di kala itu, tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoritis. Oleh sebab itu, hukum untuk permasalahan yang mungkin akan terjadi pun sudah ditentukan, padahal belum ada kasusnya. </li></ul>
    6. 6. Kemunculan Mazhab & Tokohnya <ul><li>Mazhab Ahlu Sunnah: 1. Hanafi 2. Maliki 3. Syafi'i 4. Hanbali 5. Mazhab al-Dhahiri 6. Ibn Hazm 7. Mazhab al-Auza’i 8. Sofyan Al-Tsauri 9. Al-Laits bin Saad 10. Hasan Al-Bashri 11. Ishak bin Rohawiyah 12. Sufyan bin 'Uyainah 13. Ibn Jurair Al Thabari 14. Mazhab Abu Tsaur </li></ul>Mazhab Syi’ah:   1. Syiah Zaidiah: Zaid bin Ali bin Zaid Al Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib tahun 80-122H. 2. Syiah Ja'fari: Imam Ja'far bin Shadiq bin Muhammad Al Bagin bin Ali bin Zaid Al Abidin bin Husain bin Ali bin Thalib tahun 80-148H. 3. Syiah Imamiah. 4. Syiah Itsna 'asyariyah (Imam yang dua belas) 5. Syiah Isma’iliyah. <ul><li>Mazhab Khawarij: </li></ul><ul><li>Abadhiyah: Abdullah bin Abadh Al-Tamimi. Wafat tahun 86H  </li></ul><ul><li>Al-Azzariqah: Pengikut Abi Rasyid Nafi' bin Azraq.  </li></ul><ul><li>Shufriyah: Pengikut Ziyad bin Al-Ashfar.  </li></ul>
    7. 7. Sebab-sebab Hilangnya Mazhab <ul><li>Faktor-faktor penyebab berkurangnya bahkan hilangnya ajaran-ajaran imam mujtahid & mazhabnya, antara lain: </li></ul><ul><li>Faktor Generasi Tidak adanya pengikut atau muridnya yang meneruskan ajaran-ajaran imamnya sehingga ajaran tersebut hilang dengan meninggalnya para murid-murid imam mazhab </li></ul><ul><li>Penyusunan kitab-kitab Tidak semua imam mujtahid mengumpulkan dan menyusun hasil ijthihad atau pemikirannya dalam sebuah buku. Sehingga hasil pemikirannya tidak bisa dibaca dan dinikmati oleh orang lain. </li></ul><ul><li>Musnahnya hasil karya imam mazhab yang telah disusun rapi dalam sebuah buku, sehingga habis dan hilanglah hasil karya imam mazhab tersebut. </li></ul>
    8. 8. Faktor yang menyebabkan berkembangannya 4 mazhab <ul><li>Pendapat-pendapat imamnya itu dikumpulkan dan dibukukan, hal ini tidak terdapat pada salah satu imam salaf atau mazhab-mazhab yang lain. </li></ul><ul><li>Adanya murid-murid mereka yang berusaha menyebarluaskan pendapat-pendapat mereka. </li></ul><ul><li>Adanya kecendrungan imam-imam muslim (penguasa) agar keputusan suatu perkara diberikan oleh hakim yang berasal dari imam mazhab </li></ul>
    9. 9. Mazhab Hanafi <ul><li>Imam Hanafi  ( 80 – 150 H / 699-767 M). Nama lengapnya Al-Nu’man ibn Tsabit ibn Zuhthi, disebut Abu Hanifah. Secara politik, Abu Hanifah hidup dalam dua generasi. Ia dilahirkan di Kufah pada 80 H. pada zaman Dinasti Umayyah, tepatnya khalifah Abd Al-Malik ibn Marwan. Beliau meninggal pada zaman Abbasiyah saat beliau berumur 70 tahun. </li></ul><ul><li>Guru Imam Hanafi : H ammad bin A bbas S ulaiman . Beliau juga belajar kepada tabi’in seperti ‘A tha ’ bin A bi R abah dan N afi’ M a w la I bnu U mar. Diantara m urid nya yang terkenal: Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, Zufar bin Huzail. </li></ul><ul><li>Sumber-sumber hukum madzhab hanafi : Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ sahabat, Pendapat sahabat pribadi, Qiyas, Istihsan, ‘Urf. </li></ul><ul><li>Pendapat Abu Hanifah telah dibukukan oleh muridnya, antara lain al-Syaibani dengan judul Zahir ar-Riwayah . Buku ini terdiri dari 6 bagian: Pertama diberi nama al-Mabsuth, kedua al-Jami’ al-Kabir, ketiga al-Jami’ as-Saghir, keempat as-Siyar al-Kabir, kelima as-Siyar as-Saghir, bagian keenam az-Ziyadah. Keenam bagian ini ditemukan secara utuh dalam kitab al-Kafi, hingga ada yang mensyarahnya dan diberi judul al-Mabsuth yang dianggap sebagai kitab induk dalam Mazhab Hanafi. </li></ul>
    10. 10. Mazhab Hanafi <ul><li>Metode Ijtihad: “ Aku (Abu Hanifah) merujuk kepada Al-Quran apabila aku mendapatnya, jika tidak ada dalam Al-Quran, aku merujuk kepada Sunnah Rasul Saw dan Atsar yang Shahih yang diriwayatkan oleh orang-orang Tsiqah. Jika tidak mendapatkan dalam Quran dan sunnah, aku merujuk kepada Qaul Sahabat, (apabila sahabat ikhtikaf), aku mengambil pendapat sahabat yang mana saja yang kukehendaki, aku tidak akan pindah dari pendapat yang satu ke pendapat sahabat yang lain. Apabila didapatkan pendapat Ibrahim, al-Sya’bi, al-Hasan, Ibn Sirin, dan Sa’id al-Musayyab, aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad .” C ara berijtihad tambahan adalah: </li></ul><ul><li>Dilalah lafa z umum ( ‘ am) adalah qa th’i seperti lafadz k hash; </li></ul><ul><li>P endapat sahabat yang tidak sejalan dengan pendapat umum adalah bersifat Khusus </li></ul><ul><li>B anyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat (Rajih) </li></ul><ul><li>A danya penolakan terhadap m afhum (makna tersirat) syarat dan sifat </li></ul><ul><li>A pabila perbuatan Rawi menyalahi riwayatnya , yang dijadikan dalil adalah perbuatannya, bukan riwayatnya, </li></ul><ul><li>M endahulukan Qiyas Jali atas Khabar Ahad yang dipertentangkan </li></ul><ul><li>M enggunakan Istihsan dan meninggalkan Qiyas apabila diperlukan. </li></ul>
    11. 11. Contoh Ijtihad Abu Hanifah <ul><li>Benda wakaf masih tetap milik wakif. Kedudukan wakaf dipandang sama dengan ‘Ariyah (pinjam-meminjam). Karena masih tetap milik wakif, benda wakaf dapat dijual, diwariskan, dan dihibahkan oleh wakif kepada yang lain, kecuali wakaf untuk masjid, wakaf yang ditetapkan berdasarkan keputusan hakim, wakaf wasiat, dan wakaf yang diikrarkan secara tegas bahwa itu terus dilanjutkan meskipun wakif telah meninggal dunia. Adapun alasan yang digunakan adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi : “ Nabi Muhammad SAW telah menjual benda wakaf ”. </li></ul><ul><li>Perempuan menjadi hakim di pengadilan yang tugasnya khusus menangani perkara perdata, bukan perkara pidana. Karena perempuan tidak dibolehkan menjadi saksi pidana, ia hanya dibenarkan menjadi saksi perkara perdata. Karena itu, menurutnya perempuan boleh menjadi hakim yang menagani perkara perdata. Dengan demikian metode ijtihad yang digunakannya adalah Qiyas dengan menjadikan kesaksian sebagai al-Ashl dan menjadikan hakim perempuan sebagai far’i. </li></ul><ul><li>Sholat gerhana matahari dan bulan dilakukan dua rakaat sebagaimana sholat ‘id , tidak dilakukan dua kali ruku’ dalam satu rakaat. </li></ul>
    12. 12. Mazhab Maliki <ul><li>Imam Malik (93-179 H), nama lengkapnya Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 H / 721M di Madinah dan wafat pada tahun 179 H, hanya berbeda 29 tahun dengan Abu Hanifah, walaupun pada zaman yang sama, tetapi tempatnya berbeda. Imam Malik tumbuh besar di kalangan ulama  Ahlu Al-Hadist , hal itu ikut mempengaruhi pemikirannya. Imam Malik diakui oleh ulama di Madinah sebagai  Ahli hadis , beliau hafal hadis sebanyak 100.000 ribu hadis. Pemikiran fiqh dan ushul fiqh Imam Malik dapat dilihat dalam kitabnya al-Muwaththa’ . </li></ul><ul><li>Gurunya : Abdurrahman bin Hurmuz, Nafi’ Mawla ibnu Umar, Abu Shihab Az-Zuhri, dsb. Muridnya : Abu Muhammad Abdullah bin Wahab, Imam Syafi’i, Muhammad bin ibrahim, Abu Abdillah Abdurrahman bin Qasim. </li></ul><ul><li>Dasar Mazhab Maliki dapat dijumpai dalam kitab al-Furuq oleh Imam al-Qarafi yaitu al-Qur’an, sunnah Nabi SAW, Ijma’, Tradisi (‘amal) penduduk Madinah, Qiyas, Fatwa sahabat, al-Maslahah al-Mursalah, ‘Urf, Istihsan, Istishab, Sadd az-Zari’ah, dan Syar’u Man Qablana. Dalam Mazhab Maliki qiyas jarang digunakan karena mereka lebih mendahulukan tradisi penduduk Madinah daripada qiyas. Imam Malik juga banyak menggunakan ijma’ dalam menentukan sebuah hukum, khususnya hukum-hukum baru yang tidak terdapat didalam al-qur’an dan hadis. </li></ul>
    13. 13. Metode Ijtihad Imam Malik <ul><li>‘ Amal (perbuatan) Penduduk Madinah, adalah sebagai hujjah bagi Imam Malik dan didahulukan daripada Qiyas dan Khabar Ahad. </li></ul><ul><li>Mashlahah Mursalah (Istishlah) yaitu kemaslahatan-kemaslahatan yang tidak diperlihatkan oleh syara’ kebatalannya dan tidak pula disebutkan oleh nash tertentu dan dikembalikan pada pemeliharaan maksud syara’ yang keadaan maksudnya dapat diketahui dengan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan tidak diperselisihkan mengikutinya kecuali ketika terjadi pertentangan dengan maslahat lain. Maka ketika seperti ini Malik mendahulukan ber ‘amal dengannya. </li></ul><ul><li>Perkataan Sahabat </li></ul><ul><li>Al-Sunnah </li></ul><ul><li>Beliau berpendapat bahwa pelaksanaan Qishash harus menghadirkan beberapa orang saksi dan sumpah; hanya saja Malik tidak meluaskan dalam pendapatnya tidak seperti madzhab Hanafi. </li></ul>
    14. 14. Mazhab Syafi’i <ul><li>Imam Syafi’i (150-204 H) nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin Abbas bin Syafi’i, dijuluki Imam Syafi’i karena kakeknya bernama Syafi’i, Beliau lahir di Gaza (Palestina) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi mazhab pertama. </li></ul><ul><li>Gurunya: Muslim bin Khalid, Imam Malik, Waqi’ bin Jarra, Mathraf bin Mazin. Muridnya di Bagdad: Abu Ali Al-Hasan, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rabuyah. Di Mesir : Abu Usman, Abu Bakr Al Khumaini, dsb. </li></ul><ul><li>Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam: 1. Qaul Qadim , yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak. 2. Qaul Jadid , yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak. </li></ul><ul><li>Dasar-dasar Mazhab Syafi’i dalam mengistinbath hukum syara’ adalah: Al-Quran, Sunnah Mutawatirah, al-Ijma’, Khabar Ahad, Qiyas, Istishab. </li></ul><ul><li>Kitab bidang Fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya yaitu Al-Umm. Pokok pikiran ini kemudian disebarluaskan dan dikembangkan oleh ketiga muridnya yang terkemuka seperti Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani, dan ar-Rabi bin Sulaiman al-Marawi. </li></ul>
    15. 15. Metode Ijtihad Mazhab Syafi’i <ul><li>Metode induktif  (Istiqra’i). Metode ini lebih menekankan kepada penelitian fakta lapangan, cara ini pernah dilakukan oleh Imam Syafi’i dalam menentukan waktu terpanjang dan terpendek bagi wanita yang lagi haid, dalam menentukan waktu tersebut Imam Syafi’i melakukan penelitian kepada beberapa wanita yang ada di Mesir, hasil penelitian tersebut dihasilkan data yang beragam, ada yang satu hari satu malam, ada yang sepuluh hari dan lima belas hari. Dari data tersebut Imam Syafi’i menyimpulkan bahwa paling cepat masa haid adalah satu hari dan paling lama adalah lima belas hari. </li></ul><ul><li>Metode dialektika  (Jadali). Terkait dengan hukum menikahi anak dari hasil perzinaaan, dalam menetapkan hukum ini Imam Syafi’i merujuk kepada firman Allah yaitu surat An-Nisa’ ayat 23, “ Diharamkan kepada kamu menikahi ibu-ibumu, anak-anak (perempuanmu )”. Imam Syafi’i memberi definisi bahwa yang diharamkan adalah anak dari istri yang telah kamu kawini dengan halal bukan dengan perbuatan haram, jadi kamu boleh menikahi anak istrimu dari hasil perbuatan zina antara kamu dan istrimu, dikarenakan dia bukan anak istrimu yang sah, dan dia tidak memiliki nasab dengan kamu(suami), tetapi kebolehan yang diberikan oleh Imam Syafi’i adalah kebolehan dalam arti Makruh. </li></ul>
    16. 16. Mazhab Hanbali <ul><li>Imam Ahmad bin Hanbal lahir dan wafat di Bagdad pada tahun 164 H, wafat tahun 241 H. Nama lengkapnya Abu Abdillah Ahmad ibn Hambal ibn Hilal Ibn Asad al-Syaibani al-Marwazi. </li></ul><ul><li>Gurunya: Muhammad ibn Idris Al-Syafi’I, Hasyim, Abu Yusuf, Ibrahim Ibn Sa’ad, Sufyan Ibn Uyainah. Muridnya:  Shalih ibn Ahmad Ibn Hambali, Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hambali, Ahmad ibn Muhammad ibn Hani abu Bakar, Abdul malik Ibn Abd Al-Hamid, Ahmad Ibn Muhammad Ibn Al-Hajjaj. </li></ul><ul><li>Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam kitab i’lamul Muwaqi’in, prinsip dasar Mazhab Hanbali adalah sebagai berikut: 1. Nash Al-Qur’an dan atau nash hadits, 2. Fatwa sebagian sahabat, 3. Pendapat sebagian sahabat, 4. Hadits Mursal atau hadits daif, 5. Qiyas. </li></ul><ul><li>Para pengembang Mazhab Hanbali diantaranya: al-Atsram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani, Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj, Abu Ishaq Ibrahim al-Harbi, dan lain-lainnya. </li></ul>
    17. 17. Penjelasan Sumber Hukum Madzhab Hambali <ul><li>Pendapat Ahmad ibn Hambal dibangun atas lima dasar : </li></ul><ul><li>Al-Nushush dari Al-qur’an dan Sunnah. Apabila telah ada ketentuan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, ia berpendapat sesuai dengan makna yang tersurat, makna yang tersiratnya ia abaikan. </li></ul><ul><li>Apabila tidak didapatkan dalam Al-qur’an dan Sunnah ia menukil fatwa sahabat, memilih pendapat sahabat yang disepakati sahabat lainnya. </li></ul><ul><li>Apabila fatwa sahabat berbeda-beda ia memilih salah satu pendapat yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. </li></ul><ul><li>Imam Ahmad mengambil hadist mursal dan dha’if sekiranya tidak ada dalil yang menghalanginya. Dimaksud dengan dha’if disini bukan dha’if yang batil dan yang mungkar. Tetapi dha’if yang tergolong sahih atau hasan. Dalam pandangan Imam Ahmad, hadis itu tidak terbagi atas sahih, hasan dan dhaif, tetapi terbagi atas dua yaitu shahih dan dhaif saja. Pembagian hadist menjadi shahih, hasan dan dhaif dipopulerkan oleh al-Tirmidzi (209-279 H). Karenanya tidak mengherankan kalau di masa Imam Ahmad pembagian hadis masih kepada shahih dan dha’if. Hadist dhaif ada bertingkat-tingkat. Yang dimaksud dhaif tadi adalah pada tingkat yang paling atas. Menggunakan hadist semacam ini lebih utama daripada menggunakan Qiyas. </li></ul><ul><li>Qiyas adalah digunakan dalam keadaan dharurat yaitu bila tidak ada “senjata” yang disebut sebelumnya. </li></ul>

    ×