0
Tarikh Tasyri’ : Terminologi, Ruang Lingkup Presentasi Kuliah  |  Marhamah Saleh  |  Maret 20 1 1
Terminologi <ul><li>Tarikh  artinya catatan tentang perhitungan tanggal, hari, bulan dan tahun.  Juga  diartikan sebagai s...
<ul><li>Tarikh al-tasyri’  menurut  Muhammad Ali al- S ayis  :  “Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada masa kerasula...
URGENSI MEMPELAJARI TARIKH TASYRI’ <ul><li>D apat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam. </li></ul><ul><li>D apat me...
RUANG LINGKUP TARIKH TASYRI’ <ul><li>Periodisasi hukum  </li></ul><ul><li>Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri-ciri sp...
MACAM-MACAM TASYRI’ <ul><li>Secara umum tasyri’ dapat dibedakan menjadi dua yaitu: dilihat dari sudut sumbernya, dan dari ...
ISLAM A COMPREHENSIVE WAY OF LIFE (K Ā MIL & SY Ā MIL) ISLAM AQIDAH SYARIAH AKHLAQ MUAMALAH IBADAH
Hakekat Beragama Islam SYARIAH  - FIQH   AKHLAQ (Ihsan) AQIDAH (iman) SYARIAH  (Islam) SYARIAH (Islam)   SYARIAH  - FIQH
ALUR  PEMBENTUKAN FIQH <ul><li>(1) Sumber hukum Islam:  al-Quran dan hadits , (2) lalu muncul  USHUL FIQH  sebagai metodol...
PRINSIP-PRINSI TASYRI’ <ul><li>Tidak Mempersulit  (   عدم الحرج   ) لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا … .  (QS. ...
<ul><li>B.  Mengurangi Beban (   تقليل التكاليف   ) </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَ...
<ul><li>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ .  قَالَ :  خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ   ” أَيُّهَا النَّاسُ  !  قَ...
<ul><li>C. Penetapan Hukum secara Periodik /Berangsur-angsur (   التدريج في التشريع   ) </li></ul><ul><li>H ukum syariat d...
<ul><li>C.  Lanjutan  Penetapan Hukum secara Periodik / Berangsur-angsur  (   التدريج في التشريع   ) </li></ul><ul><li>Ked...
<ul><li>D. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal </li></ul><ul><li>Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Quran diperuntukka...
<ul><li>Prinsip  Persamaan dan Keadilan  (al-Musāwāh wa al-’Adālah)  </li></ul><ul><li>Persamaan hak adalah salah satu pri...
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>‘ Abdul Qadir ‘Audah  dalam bukunya  “Al-Tasyri’ Al-Jina-i fi Al-Is...
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>2.   Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan, ...
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>3.   Hukum wadh’i  memiliki prinsip-prinsip yang terbatas, diawali ...
<ul><li>4.   Hukum wadh’i  hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan s...
SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>5.   Hukum wadh’i  mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap ...
SELAMAT BELAJAR Selamat membaca, menulis, searching, Googling, diskusi, dan presentasi. Keaktifan dan kesungguhan Anda ada...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Presentasi terminologi Tarikh Tayri'

12,049

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
12,049
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
225
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Presentasi terminologi Tarikh Tayri'"

  1. 1. Tarikh Tasyri’ : Terminologi, Ruang Lingkup Presentasi Kuliah | Marhamah Saleh | Maret 20 1 1
  2. 2. Terminologi <ul><li>Tarikh artinya catatan tentang perhitungan tanggal, hari, bulan dan tahun. Juga diartikan sebagai sejarah atau riwayat. </li></ul><ul><li>T asyri’ berarti penetapan atau pemberlakuan syariat yang berlangsung sejak diutusnya Rasulullah saw dan berakhir hingga wafat beliau. P ara ulama kemudian memperluas pembahasan tarikh (sejarah) tasyri’ sehingga mencakup pula perkembangan fiqh Islami dan proses kodifikasinya serta ijtihad-ijtihad para ulama sepanjang sejarah umat Islam. Tasyri’ juga bermakna legislation, enactment of law, penetapan undang-undang dalam agama Islam. </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Tarikh al-tasyri’ menurut Muhammad Ali al- S ayis : “Ilmu yang membahas keadaan hukum Islam pada masa kerasulan (Rasulullah SAW masih hidup) dan sesudahnya dengan periodisasi munculnya hukum serta hal-hal yang berkaitan dengannya, (membahas) ciri-ciri spesifikasi keadaan fuqaha’ dan mujtahid dalam merumuskan hukum-hukum tersebut”. </li></ul><ul><li>Menurut Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf , tasyri’ adalah pembentukan dan penetapan perundang-undangan yang mengatur hukum perbuatan orang mukallaf dan hal-hal yang terjadi tentang berbagai keputusan serta peristiwa di kalangan mereka. Jika sumbernya dari Allah dengan perantaraan Rasul dan kitab-kitabnya, maka dinamakan a l -Tasyri’ al- Ilahiyah. J ika sumbernya dari manusia baik secara individual maupun kolektif, maka dinamakan perundang-undangan buatan manusia (a l -Tasyri’ a l - Wadh’iyah) . </li></ul>
  4. 4. URGENSI MEMPELAJARI TARIKH TASYRI’ <ul><li>D apat mengetahui prinsip dan tujuan syariat Islam. </li></ul><ul><li>D apat mengetahui kesempurnaan dan syumuliyah (integralitas) ajaran Islam terhadap seluruh aspek kehidupan . </li></ul><ul><li>D apat menghargai usaha dan jasa para ulama, mulai dari para sahabat Rasulullah saw hingga para imam dan murid-murid mereka dalam mengisi khazanah ilmu dan peradaban kaum muslimin. </li></ul><ul><li>Dapat tumbuh dalam diri kita kebanggaan terhadap Syariat Islam sekaligus optimisme akan kembalinya siyadah al-syari’ah (kepemimpinan syariat) dalam kehidupan umat di masa depan. </li></ul><ul><li>Dapat melahirkan sikap hidup toleran, dan untuk mewarisi pemikiran ulama klasik serta langkah-langkah ijtihadnya agar dapat mengembangkan gagasan-gagasannya. </li></ul>
  5. 5. RUANG LINGKUP TARIKH TASYRI’ <ul><li>Periodisasi hukum </li></ul><ul><li>Faktor-faktor yang mempengaruhi dan ciri-ciri spesifikasinya </li></ul><ul><li>Fuqaha’ dan mujtahid </li></ul><ul><li>Pemikiran para mujtahid serta sistem pemikiran yang dipakai atau sistem istinbath. </li></ul>
  6. 6. MACAM-MACAM TASYRI’ <ul><li>Secara umum tasyri’ dapat dibedakan menjadi dua yaitu: dilihat dari sudut sumbernya, dan dari sudut kekuatannya. </li></ul><ul><li>Tasyri’ dilihat dari sudut sumbernya dibentuk pada periode Rasulullah SAW yaitu al-Qur’an dan Sunah . </li></ul><ul><li>Tasyri’ yang dilihat dari kekuatan dan kandungannya mencakup ijtihad sahabat, tabi’in dan ulama sesudahnya . Tasyri’ tipe kedua ini dalam pandangan Umar Sulaiman al-Asyqar dapat dibedakan menjadi dua bidang: ibadah dan mu’amalat. </li></ul>
  7. 7. ISLAM A COMPREHENSIVE WAY OF LIFE (K Ā MIL & SY Ā MIL) ISLAM AQIDAH SYARIAH AKHLAQ MUAMALAH IBADAH
  8. 8. Hakekat Beragama Islam SYARIAH - FIQH AKHLAQ (Ihsan) AQIDAH (iman) SYARIAH (Islam) SYARIAH (Islam) SYARIAH - FIQH
  9. 9. ALUR PEMBENTUKAN FIQH <ul><li>(1) Sumber hukum Islam: al-Quran dan hadits , (2) lalu muncul USHUL FIQH sebagai metodologi dalam penarikan hukum menggunakan pola pikir deduktif, (3) selanjutnya menghasilkan hukum FIQH dengan materi yang beragam dalam kitab yang sangat banyak. Setelah diteliti persamaan hukum fiqh menggunakan pola pikir induktif, kemudian dikelompokkan dari masalah-masalah yang serupa, (4) akhirnya disimpulkan menjadi QAWA’ID FIQHIYYAH yang memudahkan ulama dalam menentukan hukum fiqh terhadap persoalan baru. (5) setelah melalui pengujian dan dengan dukungan ushul fiqh, maka natijahnya adalah terbentuknya hukum FIQH BARU, QANUN , maupun fatwa terhadap permasalahan kontemporer. </li></ul>SUMBER HUKUM (Al-Quran dan Hadits) 1 USHUL FIQH (+ Kaidah Ushul) 2 FIQH (hasil dari pola istinbath al-ahkam)) 3 QAWA’ID FIQHIYYAH (Kaidah Fiqh) 4 FIQH BARU (QANUN) 5
  10. 10. PRINSIP-PRINSI TASYRI’ <ul><li>Tidak Mempersulit ( عدم الحرج ) لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا … . (QS. Al-Baqarah: 286). </li></ul><ul><li>وما جعل عليكم فى الدين من حرج (QS. Al-Hajj: 78) </li></ul><ul><li>بُعِثتُ بالحَنِيفَةِ السَمْحَة (Aku diutus dengan agama yang ringan) </li></ul><ul><li>Dalam menetapkan syariat , Islam senantiasa memperhitungkan kemampuan manusia dalam melaksanaknnya. Itu diwujudkan dengan mamberikan kemudahan dan kelonggaran (tasamuh wa rukhsah) kepada manusia, agar menerima ketetapan hukum dengan kesanggupan yang dimiliknya. Contoh: Boleh berbuka puasa bagi musafir, diperbolehkannya sesuatu yang diharamkan ketika terpaksa, bolehnya bertayammum dalam keadaan tertentu. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>B. Mengurangi Beban ( تقليل التكاليف ) </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ . المائدة 101 </li></ul><ul><li>إِنَّ اللهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودَاً فَلا تَعْتَدُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلا تَبْحَثُوا عَنْهَا . حديث حسن رواه الدارقطني وغيره . </li></ul><ul><li>Prinsip ini merupakan akibat logis bagi tidak adanya hal menyulitkan, karena didalam banyaknya bebanan berakibat menyempitkan (haraj). Juga sebagai langkah prenventif (penanggulangan) terhadap mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam kewajiban agama. Hal ini guna memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum tanpa ddasari parasaan terbebani yang berujung pada kesulitan. Contoh: Ketika Rasul ditanya tentang haji “apakah setiap tahun?”, beliau bersanda: </li></ul>
  12. 12. <ul><li>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ . قَالَ : خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” أَيُّهَا النَّاسُ ! قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحَجُّوْا ” فَقَالَ رَجُلٌ : أَكُلَّ عَامٍ ؟ يَا رَسُوْلَ اللهِ ! فَسَكَتَ . حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا . فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم”  “لَوْ قُلْتُ : نَعَمْ . لَوَجَبَتْ . وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ” . ثُمَّ قَالَ “ذَرُوْنِي مَا تَرَكْتُكُمْ . فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ . فِإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ . وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ </li></ul><ul><li>Rasulullah Saw. pernah berpidato di hadapan kami, beliau berkata: Wahai manusia! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kamu sekalian, maka berhajilah! Seorang lelaki bertanya: Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah? Beliau diam tidak menjawab. Sehingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Rasulullah S aw kemudian menjawab: Jika aku katakan “ya”, niscaya akan wajib setiap tahun dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya. Beliau melanjutkan: Biarkanlah apa yang telah aku katakan kepada kamu sekalian! Sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah binasa karena mereka banyak bertanya dan berselisih dengan nabi-nabinya. Maka apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu sekalian, laksanakanlah sesuai dengan kemampuanmu dan jika aku melarang sesuatu kepada kamu sekalian, janganlah kamu kerjakan! </li></ul>
  13. 13. <ul><li>C. Penetapan Hukum secara Periodik /Berangsur-angsur ( التدريج في التشريع ) </li></ul><ul><li>H ukum syariat dalam al-Quran tidak diturunkan secara serta merta dengan format yang final, melainkan secara bertahap, dengan maksud agar umat tidak merasa terkejut dengan syariat yang tiba-tiba. Karenanya, wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan kondisi dan realita yang terjadi pada waktu itu. </li></ul><ul><li>C ontoh, untuk menetapkan keharaman minuman khamr . </li></ul><ul><li>Sebagai langkah pertama , yang dilakukan Nabi saw adalah mendiamkan kebiasaan buruk, akan tetapi Nabi sendiri menghindarinya. </li></ul>
  14. 14. <ul><li>C. Lanjutan Penetapan Hukum secara Periodik / Berangsur-angsur ( التدريج في التشريع ) </li></ul><ul><li>Kedua, menyinggung manfat ataupun madlaratnya secara global. (QS. Al-Baqarah : 219) </li></ul><ul><li>يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا </li></ul><ul><li>K emudian segera disusul dengan menyinggung efek khamr bagi pelaksanaan ibadah ( al-Nisa ’ : 43) </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ </li></ul><ul><li>Ketiga , menetapkan hukum tegas. Dalam contoh tersebut, Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menetapkan hukum haram minum khamr secara tegas, sebagai langkah yang paling akhir (QS. al-Maidah : 90) </li></ul><ul><li> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ </li></ul>
  15. 15. <ul><li>D. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal </li></ul><ul><li>Seluruh hukum yang terdapat dalam al-Quran diperuntukkan demi kepentingan dan perbaikan kehidupan umat, baik mengenai jiwa, akal, keturunan, a gama, maupun pengelolaan harta benda, sehingga penerapan hukumnya al-Quran senantiasa memperhitungkan lima kemaslahatan tsb . </li></ul><ul><li>‘ Abd al-Wahab Khalaf berkata, “Dalam membentuk hukum, Syãri’ (Allah dan Rasul-Nya) selalu membuat ‘ illat (ra s io logis) yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia, juga menunjukkan beb e rapa bukt i bahwa tujuan legislasi hukum tersebut untuk mewujudkan kemas h lahatan manusia. Disamping itu, Syãri’ menetapkan hukum-hukum itu sejalan dengan tiadanya ‘ illat yang mengiringinya. Oleh karena itu, Allah mensyariatkan sebagian hukum kemudian merevisinya karena ada kemaslahatan yang sebanding dengan hukum t sb . </li></ul>
  16. 16. <ul><li>Prinsip Persamaan dan Keadilan (al-Musāwāh wa al-’Adālah) </li></ul><ul><li>Persamaan hak adalah salah satu prinsip utama syariat Islam, baik yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah. Persamaan hak tersebut tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tapi juga bagi seluruh agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan hukum sesuai dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau mereka dengan sukarela meminta keputusan hukum sesuai hukum Islam. </li></ul><ul><li>وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ… (QS. Al-Nisa ’ : 58) </li></ul>
  17. 17. SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>‘ Abdul Qadir ‘Audah dalam bukunya “Al-Tasyri’ Al-Jina-i fi Al-Islam” (Hukum Pidana dalam Islam) menyebutkan beberapa keunggulan syariat Islam atas hukum dan undang-undang buatan manusia, di antaranya: </li></ul><ul><li>1.   Hukum wadh’i tidak mengandung keadilan yang hakiki karena dibuat oleh manusia yang memiliki hawa nafsu serta kepentingan. Sedangkan syariat Islam bersumber dari Allah Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya sehingga keadilan­nya adalah sebuah kepastian. </li></ul>
  18. 18. SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>2.   Manusia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di masa depan, maka hukum dan peraturan yang dibuatnya hanya mempertimbangkan ‘kekinian’ dan ‘kesinian’ serta pasti perlu diubah dan diperbaiki di lain tempat dan waktu. Berbeda dengan syariat Islam yang ber­sumber dari Dzat yang Maha Mengetahui masa lalu, kini dan masa depan, pasti mampu menjawab tantangan setiap tempat dan zaman. </li></ul>
  19. 19. SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>3.   Hukum wadh’i memiliki prinsip-prinsip yang terbatas, diawali kemunculannya dari aturan keluarga, kemudian berkembang menjadi aturan suku atau kabilah dst. Dan baru memiliki teori-teori ilmiahnya pada abad ke-19. Berbeda dengan syariat Islam yang sejak masa kehidupan Rasulullah saw telah menjadi undang-undang yang lengkap dan sempurna memenuhi segala kebutuhan individu, keluarga, masyarakat, negara serta hubungan internasional. Syariat Islam tidak terbatas hanya untuk kaum atau bangsa tertentu melainkan untuk semua manusia sepanjang zaman </li></ul>
  20. 20. <ul><li>4.   Hukum wadh’i hanya mengatur hubungan sesama manusia tanpa memiliki konsep aqidah tauhid yang menghubungkan semua itu dengan Allah. Sedangkan syariat Islam dilandasi oleh tauhid dan keimanan kepada Allah dan hari akhir yang menjadi motivasi utama ketaatan seorang hamba kepada syariat Allah. Hukum wadh’i hanya mengandalkan sangsi hukum semata dan ini memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mencari celah kelemahan hukum dan menggunakan berbagai tipu muslihat agar lepas dari jeratan hukum. Sedangkan syariat Islam, sanksi hukum hanyalah salah satu faktor untuk membuat masyarakat menjadi baik dan tertib. Motivasi spiritual, berupa pengawasan Allah, rasa harap akan ridha-Nya dan takut akan murka-Nya menjadi faktor utama ketaatan warga negara terhadap hukum. </li></ul>
  21. 21. SYARIAT ISLAM vs. HUKUM WADH’I (HUKUM POSITIF) <ul><li>5.   Hukum wadh’i mengabaikan faktor-faktor akhlaq dan menganggap pelanggaran hukum hanya terbatas pada hal-hal yang membahayakan individu atau masyarakat secara langsung. Namun hukum wadh’i tidak memberi sangsi atas perbuatan zina, misalnya, kecuali jika ada unsur paksaan dari salah satu pihak. Sedangkan syariat Islam adalah syariat akhlaq yang memperhatikan kebaikan mental dan fisik masyarakat secara umum, memperhatikan kebahagiaan dunia akhirat sekaligus. Islam melarang dan menetapkan sangsi atas zina karena ia adalah perbuatan keji yang diharamkan Allah Swt, meskipun dilakukan suka sama suka. </li></ul>
  22. 22. SELAMAT BELAJAR Selamat membaca, menulis, searching, Googling, diskusi, dan presentasi. Keaktifan dan kesungguhan Anda adalah kunci kesuksesan studi.
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×