Presentasi syirkah & mudharabah

22,165
-1

Published on

Published in: Sports, Technology
1 Comment
41 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
22,165
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
41
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi syirkah & mudharabah

  1. 1. Presentasi Ke-8<br />SYIRKAH & MUDHARABAH<br />Membahas Terminologi Syirkah, Dalil, Bentuk-bentuk Syirkah, Rukun dan Syarat Syirkah, Musyarakah dan Mudharabah.<br />Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA<br />
  2. 2. Definisi Syirkah (Kerjasama)<br />Secara etimologi al-syirkah berarti al-ikhtilath (percampuran) dan persekutuan, yaitu percampuran antara sesuatu dengan yang lainnya, sehingga sulit dibedakan.<br />Secara terminologi, menurut ulama Malikiah:<br />إذن في التصرف لهما مع أنفسهما في مال لهما<br /> Izin untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang bekerjasama terhadap harta mereka.<br /> Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah:<br />ثبوت الحق في شيئ لإثنين فأكثر على جهة الشيوع<br />Penetapan hak bertindak hukum bagi dua orang atau lebih pada sesuatu yang mereka sepakati.<br /> Menurut ulama Hanafiah:<br />عقد بين المتشاركين في رأس المال والربح<br />Akad yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerjasama dalam modal dan keuntungan.<br />Kesimpulan: Syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam sebuah usaha dengan konsekuensi keuntungan dan kerugiannya ditanggung secara bersama.<br />
  3. 3. Dasar Hukum (Dalil) Syirkah<br />QS. Al-Nisa’: 12<br />فهم شركاء في الثلث…<br />Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang,maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu <br />QS. Shad: 24<br />وإن كثيرا من الخلطاء ليبغي بعضهم على بعض إلا الذين امنو وعملوا الصالحات<br />Sesungguhnya kebanyakan dari orang yang berserikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh.<br />Hadis riwayat Abu Dawud, dari Abu Hurairah, Rasul Saw bersabda:<br />أنا ثالث شريكين مالم يخن أحدهما صاحبه فإذا خانه خرجت من بينهما<br /> Aku jadi yang ketiga antara dua orang yang berserikat selama yang satu tidak khianat kepada yang lainnya, apabila yang satu berkhianat kepada pihak yang lain, maka keluarlah aku darinya<br />
  4. 4. Macam-Macam Syirkah<br />
  5. 5. Macam-macam Syirkah<br />Syirkah al-amlak (perserikatan dalam pemilikan)<br />Syirkah al-‘uqud (perserikatan berdasarkan suatu akad)<br />SYIRKAH AL-AMLAK<br /> Menurut Sayyid Sabiq, syirkah al-amlak adalah bila lebih dari satu orang memiliki suatu jenis barang tanpa didahului aqad, baik bersifat ikhtiari atau jabari. Syirkah al-amlak terbagi dua :<br />Ikhtiari (perserikatan yang dilandasi pilihan orang yang berserikat), yaitu perserikatan yang muncul akibat tindakan hukum orang yang berserikat, seperti dua orang sepakat membeli suatu barang, atau mereka menerima harta hibah secara berserikat. Maka barang atau harta tersebut menjadi harta serikat bagi mereka berdua.<br />Jabari (perserikatan yang muncul secara paksa, bukan atas keinginan orang yang berserikat), seperti harta warisan, menjadi milik bersama orang-orang yang berhak menerima warisan.<br />Status harta dalam syirkah al-amlak adalah sesuai hak masing-masing, bersifat mandiri secara hukum. Jika masing-masing ingin bertindak hukum terhadap harta serikat itu, harus ada izin dari mitranya. Hukum yang terkait dengan syirkah al-amlak dibahas secara luas dalam bab wasiat, waris, hibah dan wakaf.<br />
  6. 6. SYIRKAH AL-‘UQUD<br /> Akad yang disepakati dua orang atau lebih untuk mengikatkan diri dalam perserikatan modal dan keuntungannya.<br />Syirkah al-‘uqud terbagi lima:<br />1. Syirkah al-‘inan (شركة العنان), yaitu perserikatan dalam modal (harta) antara dua orang atau lebih, yang tidak harus sama jumlahnya. Keuntungan dan kerugian dibagi dua sesuai prosentase yang telah disepakati. Sedangkan kerugian menjadi tanggung jawab orang-orang yang berserikat sesuai dengan prosentase penyertaan modal/saham masing-masing. Para ulama sepakat, hukumnya boleh.<br />2. Syirkah Mufawadhah ( شركة المفاوضة ), perserikatan dua orang atau lebih pada suatu obyek, dengan syarat masing-masing pihak memasukkan modal yang sama jumlahnya, serta melakukan tindakan hukum (kerja) yang sama pula. Jika mendapat keuntungan dibagi rata, dan jika berbeda tidak sah. Masing-masing pihak hanya boleh melakukan transaksi jika mendapat persetujuan dari pihak lain (sebagai wakilnya), jika tidak, maka transaksi itu tidak sah. Ulama Hanafiah dan Zaidiyah menyatakan bentuk perserikatan seperti ini dibolehkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menyatakan tidak boleh, karena sulit untuk menentukan prinsip kesamaan modal, kerja dan keuntungan dalam perserikatan itu, disamping tidak ada satu dalilpun yang shahih yang bisa dijadikan dasar hukum. Tetapi mereka membolehkan Mufawadhah seperti pandangan Malikiyah, yaitu boleh mufawadhah jika masing-masing pihak yang berserikat dapat bertindak hukum secara mutlak dan mandiri terhadap modal kerja, tanpa minta izin dan musyawarah dengan mitra serikatnya. <br />
  7. 7. 3. Syirkah Abdan/A’mal ( شركو الأعمال ), perserikatan yang dilakukan oleh dua pihak untuk menerima suatu pekerjaan, seperti kerjasama seprofesi antara dua orang arsitek atau tukang kayu dan pandai besi untuk menggarap sebuah proyek. Hasil atau imbalan yang diterima dibagi bersama sesuai kesepakatan. Menurut ulama Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah dan Zaidiyah hukumnya boleh. Ulama Malikiyah mengajukan syarat, yaitu bahwa kerja yang dilakukan harus sejenis, satu tempat, serta hasil yang diperoleh dibagi menurut kuantitas kerja masing-masing. Menurut ulama Syafi’iyah, Syi’ah Imamiyah, perserikatan seperti ini hukumnya tidak sah, karena yang menjadi obyek perserikatan adalah harta/modal, bukan kerja, disamping pula, kerja seperti ini tidak dapat diukur, sehingga dapat menimbulkan penipuan yang membawa kepada perselisihan.<br />Syirkah Wujuh (شركة الوجوه ), serikat yang dilakukan dua orang atau lebih yang tidak punya modal sama sekali, dan mereka melakukan suatu pembelian dengan kredit serta menjualnya dengan harga tunai; sedangkan keuntungannya dibagi bersama. Mirip seperti kerja makelar barang, bukan makelar kasus (markus). Ulama Hanafiah, Hanabilah dan Zaidiyah menyatakan hukumnya boleh, karena masing-masing pihak bertindak sebagai wakil dari pihak lain, sehingga pihak lain itupun terikat pada transaksi yang dilakukan mitra serikatnya. Sedangkan ulama Malikiyah, Syafi’iyah menyatakan tidak sah dan tidak dibolehkan, karena modal dan kerja dalam perserikatan ini tidak jelas.<br />5. Syirkah al-Mudharabah ( شركة المضاربة ), persetujuan antara pemilik modal dengan pengelola untuk mengelola uang dalam bentuk usaha tertentu, keuntungannya dibagi sesuai kesepakatan bersama, sedangkan kerugian menjadi tanggungan pemilik modal saja.<br />
  8. 8. 5a. MUDHARABAH MUTHLAQAH: Mudharabah untuk kegiatan usaha yang cakupannya tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis sesuai permintaan pemilik dana.<br />5b. MUDHARABAH MUQAYYADAH: Mudaharabah untuk kegiatan usaha yang cakupannya dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis sesuai permintaan pemilik dana.<br />Hikmah Syirkah<br />Manusia tidak dapat hidup sendirian, pasti membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan. Ajaran Islam mengajarkan agar kita menjalin kerjasama dengan siapapun terutama dalam bidang ekonomi dengan prinsip saling tolong-menolong dan saling menguntungkan (mutualisme), tidak menipu dan tidak merugikan. Tanpa kerjasama maka kita sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. <br />Syirkah pada hakikatnya adalah sebuah kerjasama saling menguntungkan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki baik berupa harta atau pekerjaan. Oleh karena itu Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja sama sesuai prinsip di atas. Hikmahnya adalah adanya saling tolong-menolong, saling membantu dalam kebaikan, menjauhi sifat egoisme, menumbuhkan saling percaya, menyadari kelemahan dan kekurangan, dan menimbulkan keberkahan dalam usaha jika tidak berkhianat. QS. Al-Maidah: 2 وتعاونوا على البر والتقوى...<br />
  9. 9. Rukun dan Syarat Syirkah<br />RUKUN Syirkah adalah sesuatu yang harus ada ketika syirkah itu berlangsung. Menurut ulama Hanafiah, rukun syirkah hanya ijab dan qabul atau serah terima. Sedangkan orang yang berakad dan obyek akad bukan termasuk rukun, tapi syarat.<br />Menurut jumhur ulama, rukun syirkah meliputi shighat (lafaz) ijab dan qabul, kedua orang yang berakad, dan obyek akad.<br />SYARAT Syirkah merupakan perkara penting yang harus ada sebelum dilaksanakan syirkah. Jika syarat tidak terwujud, maka akad syirkah batal. <br />Syarat-syarat umum syirkah (termasuk untuk syirkah ‘inan dan wujuh):<br />Syirkah itu merupakan transaksi yang boleh diwakilkan, artinya salah satu pihak jika bertindak hukum terhadap obyek syirkah itu, dengan izin pihak lain, dianggap sebagai wakil seluruh pihak yang berserikat. Juga, anggota serikat saling mempercayai.<br />Prosentase pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak yang berserikat dijelaskan ketika akad berlangsung.<br />Keuntungan diambil dari hasil laba harta perserikatan, bukan dari harta lain.<br />Syarat khusus dalam syirkah al-’uqud: modal perserikatan itu jelas dan tunai, bukan berbentuk utang dan bukan pula berbentuk barang.<br />Syarat khusus untuk syirkah al-mufawadhah, menurut ulama Hanafiah:<br />Kedua belah pihak cakap dijadikan wakil.<br />Modal yang diberikan masing-masing pihak harus sama, kerja yang dilakukan juga sama, keuntungan yang diterima semua pihak kuantitasnya juga harus sama.<br />Semua pihak berhak untuk bertindak hukum dalam seluruh obyek perserikatan itu.<br />Lafaz yang digunakan dalam akad adalah lafaz al-mufawadhah. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, maka akadnya tidak sah, dan berubah menjadi syirkah al-’inan.<br />
  10. 10. Musyarakah<br />Istilah Musyarakah berkonotasi lebih terbatas daripada istilah syirkah. Istilah ini tidak banyak digunakan dalam fiqh, tetapi sering dipakai dalam skim pembiayaan syariah. Musyarakah merupakan akad bagi hasil ketika dua atau lebih pengusaha pemilik dana/modal bekerjasama sebagai mitra usaha, membiayai investasi usaha baru atau yang sudah berjalan. Mitra usaha pemilik modal berhak ikut serta dalam manajemen perusahaan, tetapi itu tidak merupakan keharusan. Para pihak dapat membagi pekerjaan mengelola usaha sesuai kesepakatan, dan mereka juga dapat meminta gaji untuk tenaga dan keahlian yang mereka curahkan untuk usaha tersebut.<br />Proporsi keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang ditentukan sebelumnya dalam akad, sesuai proporsi modal yang disertakan (pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i), atau dapat pula berbeda dari proporsi modal yang mereka sertakan (pendapat Imam Ahmad). Sementara Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat berbeda dari proporsi modal pada kondisi normal. Namun demikian, mitra yang memutuskan menjadi sleeping partner (pasif), proporsi keuntungannya tidak boleh melebihi proporsi modal.<br />Jika terjadi kerugian, maka ditanggung bersama sesuai dengan proporsi penyertaan modal masing-masing.<br />Kesimpulan: Dalam musyarakah, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan para pihak, sedangkan kerugian ditanggung bersama sesuai dengan proporsi penyertaan modal masing-masing pihak.<br />
  11. 11. MITRA USAHA <br />MITRA USAHA <br />SKEMA MUSYARAKAH<br />Akad Musyarakah<br />Modal & Skill<br />Modal & Skill<br />PROYEK (Kegiatan Usaha)<br />Bagian Keuntungan X<br />Bagian Keuntungan Y<br />Keuntungan (Bagi hasil keuntungan sesuai porsi kontribusi modal/nisbah)<br />Bagian Modal X<br />Bagian Modal Y<br />MODAL<br />
  12. 12. Mudharabah<br />Yaitu akad bagi hasil ketika pemilik dana (pemodal/shahibul mal/rabbul mal) menyediakan modal 100% kepada pengusaha sebagai pengelola (mudharib), untuk melakukan aktivitas produktif dengan syarat bahwa keuntungan yang dihasilkan akan dibagi bersama menurut kesepakatan yang ditentukan sebelumnya dalam akad (misal 60:40).<br />Pemilik dana hanya menyediakan modal dan tidak ikut campur dalam manajemen usaha yang dibiayainya. Pengelola tidak ikut menyertakan modal, tetapi memberikan konstribusi tenaga dan keahliannya.<br />Jika terjadi kerugian karena proses normal dari usaha, dan bukan karena kelalaian atau kecurangan pengelola (mudharib), maka kerugian modal ditanggung sepenuhnya oleh pemodal (shahibul mal), sedangkan pengelola telah kehilangan tenaga, pikiran dan keahlian yang telah dicurahkan saat menjalankan usaha. Jika kerugian itu disebabkan kelalaian atau kecurangan pengelola, maka pengelola bertanggung jawab sepenuhnya.<br />Ulama Hanabilah menganggap mudharabah termasuk salah satu bentuk syirkah/perserikatan. Tapi jumhur ulama (Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyah, Zaidiyah, Imamiyah) tidak memasukkan mudharabah sebagai salah satu bentuk syirkah. Karena mudharabah menurut jumhur merupakan akad tersendiri.<br />
  13. 13. PEMODAL (SHAHIBUL MAL)<br />PENGUSAHA (MUDHARIB)<br />SKEMA MUDHARABAH<br />Akad MUDHARABAH<br />SOFT SKILL<br />MODAL 100%<br />Kegiatan Usaha<br />Bagian Keuntungan X<br />Bagian Keuntungan Y<br />Keuntungan<br />Modal 100%<br />MODAL / Kerugian<br />
  14. 14. Mudharabah Muqayyadah<br />1.Proyek Tertentu<br />BANK<br />Mudharib<br />(Pengelola)<br />SPECIAL <br />PROJECT<br />4.Penyaluran Dana<br />5. Bagi Hasil<br />2. HubungiInvestor<br />6. Bagi<br /> Hasil<br />3. Invest<br /> dana<br />INVESTOR<br />Shahibul Mal<br />(Pemilik modal)<br />
  15. 15. Alur Kerja<br />Bank Syariah<br />Menerima pendapatan<br />Pembayaran bagi hasil<br />Tergantung pendapatan / hasil yg diterima<br />Hanya dana mudharabah<br />Bagi hasil / Margin<br />Mudharib<br />Shahibul maal<br />Mudharib<br />Shahibul Maal<br />Penyaluran <br />dana<br />Penghimpunan<br />dana<br />Bank<br />Deposan<br />Nasabah <br />debitur<br />Menerima bunga tetap<br />Membayar bunga tetap<br />Tidak ada pengaruh pendapatan yang diterima<br />BANK KONVENSIONAL<br />

×