0
NIKAH BEDA AGAMA Membahas tentang pernikahan lintas agama dalam tinjauan fiqh, Terminologi ahli kitab, hukum nikah beda ag...
agenda Terminologi Ahli Kitab   Hukum Pernikahan Beda Agama Ragam Pendapat dan Fatwa MUI Syarat Menikahi Wanita Ahli Kitab
Prolog <ul><li>Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang sama akidahnya, akhlak d...
Pernikahan Beda Agama <ul><li>Hukum pernikahan beda agama, ada 2 kategori. </li></ul><ul><li>1. Perempuan beragama Islam m...
Pernikahan Beda Agama <ul><li>2. Laki-laki beragama Islam menikah dengan perempuan non-Islam.  Ada 2 macam: </li></ul><ul>...
Menikahi Wanita Ahli Kitab <ul><li>Perkawinan beda agama antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim dari ahli Kitab,...
Syarat Menikahi Wanita Ahli Kitab <ul><li>Meskipun DR. Yusuf Qardhawi mengharamkan menikahi wanita ahli kitab, tapi beliau...
Madharat dan Rukhshah <ul><li>Al-Qardhawi mengingatkan banyaknya madharat yang mungkin terjadi karena perkawinan dengan ki...
Ragam Pendapat <ul><li>Jumhur Ulama mengatakan bahwa wanita kitabiyah (zaman dulu) itu boleh dinikahi, meski ada perbedaan...
Fatwa MUI <ul><li>MUI mengharamkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan non-muslimah (termasuk ahli kitab) dengan ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Presentasi nikah beda agama

12,429

Published on

2 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
12,429
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
644
Comments
2
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Presentasi nikah beda agama"

  1. 1. NIKAH BEDA AGAMA Membahas tentang pernikahan lintas agama dalam tinjauan fiqh, Terminologi ahli kitab, hukum nikah beda agama, Fatwa MUI tentang perkawinan beda agama, syarat menikahi wanita ahli kitab. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-4
  2. 2. agenda Terminologi Ahli Kitab Hukum Pernikahan Beda Agama Ragam Pendapat dan Fatwa MUI Syarat Menikahi Wanita Ahli Kitab
  3. 3. Prolog <ul><li>Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang sama akidahnya, akhlak dan tujuannya, disamping cinta dan ketulusan hati. </li></ul><ul><li>Perkawinan beda agama akan menimbulkan berbagai konflik dalam pelaksanaan ibadah, pendidikan anak, pengaturan makanan, pembinaan tradisi keagamaan, muamalah dengan keluarga kedua belah pihak, dsb. </li></ul><ul><li>Yang menjadi ikhtilaf ulama: Pernikahan laki-laki muslim dengan perempuan non-muslimah dari ahli kitab. </li></ul><ul><li>Imam Syafi’i dalam Al-Umm, mendefinisikan, “Yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari keturunan bangsa Israel asli. Adapun umat-umat lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, maka mereka tidak termasuk dalam kata ahlul kitab. Sebab, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tidak diutus kecuali untuk Israil dan dakwah mereka juga bukan ditujukan bagi umat-umat setelah Bani israil.” </li></ul>
  4. 4. Pernikahan Beda Agama <ul><li>Hukum pernikahan beda agama, ada 2 kategori. </li></ul><ul><li>1. Perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non-Islam. Hukumnya dilarang (haram). Dalilnya QS. al-Baqarah: 221 dan QS. Al-Mumtahanah: 10. </li></ul><ul><li>وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ </li></ul><ul><li>Khitab pada ayat tsb ditujukan kepada para wali nikah untuk tidak menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki bukan Islam. Keharamannya bersifat mutlak, baik laki-laki Musyrik atau Ahlul Kitab. </li></ul><ul><li>Hadits Jabir bahwa Nabi bersabda: </li></ul><ul><li>نَتَزَوَّجُ نِسَاءَ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ يَتَزَوُّجُوْنَ نِسَائَنَا </li></ul><ul><li>“ Kita boleh menikah dengan wanita ahli kitab, tetapi mereka tidak boleh nikah dengan wanita kita”. </li></ul>
  5. 5. Pernikahan Beda Agama <ul><li>2. Laki-laki beragama Islam menikah dengan perempuan non-Islam.  Ada 2 macam: </li></ul><ul><li>Lelaki Muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Yang dimaksud dengan Ahli Kitab adalah agama asli Nasrani dan Yahudi (agama samawi), karena berasal dari sumber yg sama dengan Islam, maka jumhur ulama memperbolehkan pernikahan jenis ini. QS. al-Maidah: 5 </li></ul><ul><li>الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ   </li></ul><ul><li>Lelaki Muslim dengan perempuan bukan Ahli Kitab. Yang dimaksud dengan musyrik adalah penyembah berhala, api, dsb. Hukumnya haram, QS. al-Baqarah: 221. Agama Hindu, Budha, Konghuchu tidak termasuk agama samawi (langit) tapi agama ardhi (bumi). </li></ul>
  6. 6. Menikahi Wanita Ahli Kitab <ul><li>Perkawinan beda agama antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim dari ahli Kitab, ada 3 pendapat: </li></ul><ul><li>1. Pendapat yang membolehkan dengan wanita Yahudi dan Nasrani, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal. </li></ul><ul><li>2. Membolehkan dengan syarat, yaitu boleh mengawini perempuan Yahudi/Nasrani dengan syarat orang tua (nenek moyang) perempuan itu harus orang Yahudi/Nasrani juga, bukan penyembah berhala. Ini qaul mu’tamad mazhab Syafi’i. Karena dalam QS. Al-Maidah ayat 5 ada kata من قبلكم (dari sebelum kalian) yg menjadi qayid bagi ahlul kitab yg dimaksud. </li></ul><ul><li>3. Pendapat yang melarang atau mengharamkan pernikahan beda agama (Kitabiyah), seperti diungkapkan oleh DR. Yusuf Qardhawi. Ibnu Umar termasuk golongan ini. Dalilnya QS. Al-Baqarah: 221. </li></ul>
  7. 7. Syarat Menikahi Wanita Ahli Kitab <ul><li>Meskipun DR. Yusuf Qardhawi mengharamkan menikahi wanita ahli kitab, tapi beliau membolehkan dalam keadaan tertentu dengan syarat yang ketat: </li></ul><ul><li>Kitabiyah itu benar-benar berpegang pada ajaran samawi, tidak atheis, tidak murtad, tidak musyrik. </li></ul><ul><li>Kitabiyah yang muhshanah (memelihara kehormatan diri dari perbuatan zina). </li></ul><ul><li>Perempuan itu bukan kitabiyah yang kaumnya berada pada status permusuhan dan peperangan dengan kaum muslimin. Dzimmiyah boleh dinikahi, tetapi harbiyah dilarang untuk menikahinya. </li></ul><ul><li>Dibalik pernikahan dengan kitabiyah itu tidak akan terjadi fitnah, yaitu mafsadah atau kemadharatan. Makin besar kemungkinan terjadinya kemadharatan, makin besar tingkat larangan. لاضرر ولا ضرار </li></ul>
  8. 8. Madharat dan Rukhshah <ul><li>Al-Qardhawi mengingatkan banyaknya madharat yang mungkin terjadi karena perkawinan dengan kitabiyah: </li></ul><ul><li>Akan banyak terjadi perkawinan dengan wanita non-muslimah, yang berpengaruh kepada perimbangan antara perempuan Islam dengan laki-laki muslim. </li></ul><ul><li>Suami mungkin terpengaruh oleh agama istrinya, demikian pula anak-anaknya. </li></ul><ul><li>Perkawinan dengan kitabiyah akan menimbulkan kesulitan hubungan suami istri dan pendidikan anak-anak. </li></ul><ul><li>Al-Qardhawi menegaskan adanya rukhshah kawin dengan kitabiyah harus diimbangi dengan 2 keharusan: </li></ul><ul><li>Perempuan kitabiyah itu benar-benar beragama samawi. </li></ul><ul><li>Istri kitabiyah itu harus berada dibawah naungan dan pengaruh suami muslim yang teguh berpegang pada ajaran Islam, berada di lingkungan kekuasaan masyarakat Islam. </li></ul>
  9. 9. Ragam Pendapat <ul><li>Jumhur Ulama mengatakan bahwa wanita kitabiyah (zaman dulu) itu boleh dinikahi, meski ada perbedaan dalam tingkat kebolehannya. Jika ada kekhawatiran pria muslim terhadap akidah anak yang lahir nanti, serta apabila jumlah pria muslim sedikit sementara wanita muslimah banyak, dalam kondisi demikian ada yang berpendapat haram bagi pria muslim menikahi wanita non muslim. </li></ul><ul><li>Ibnu Umar berpendapat bahwa hukum perkawinan pria Muslim dengan wanita ahlul kitab adalah haram. Sama haramnya dengan perempuan musyrik. Ibnu Hazm bahkan mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa. Alasannya karena perempuan ahlul kitab juga berlaku syirik dengan menuhankan Isa. Alasan lain karena ayat yang membolehkan perkawinan ini Q.S. Al-Maidah/5:5 dianulir (naskh) dengan Q.S. Al-Baqarah/2:221. (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz II:36). </li></ul>
  10. 10. Fatwa MUI <ul><li>MUI mengharamkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan non-muslimah (termasuk ahli kitab) dengan tujuan sad li al-dzari’ah. </li></ul><ul><li>Pada Munas VII MUI di Jakarta 29 Juli 2005, MUI menfatwakan tentang perkawinan beda agama sbb.: 1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah. 2. Perkawinan laki-laki muslim dgn wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah. </li></ul><ul><li>Dallilnya QS. al-Baqarah: 221, QS. Al-Mumtahanah: 10. Juga hadis Rasulullah Saw bahwa: Wanita itu (boleh) dinikahi karena 4 hal : (i) karena hartanya; (ii) (asal-usul) keturunannya; (iii) kecantikannya; (iv) karena agama. Maka hendaklah kamu berpegang teguh (dengan perempuan) yang menurut agama Islam; (jika tidak) akan binasalah kedua tangan-mu (Hadis riwayat muttafaq ‘alaih dari Abi Hurairah r.a); Selain itu ada qa’idah fiqh : درء المفاسد مقدم على جلب المصالح </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×